Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Bunga Mawar Kuning Tercinta

794 views

Published on

Novel ini adalah karya Basuki Soejatmiko, pernah diterbitkan pada tahun 1978.

Published in: Lifestyle
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Bunga Mawar Kuning Tercinta

  1. 1. 1 Bunga Mawar Kuning Tercinta Oleh: Basuki Soedjatmiko Novel ini pernah diterbitkan pada tahun 1978. Tepuk tangan hadiri yang penuh sesak itu berlangsung lama ketika Nancy yang penyair itu selesai membacakan sajaknya yang diberi berjudul : The Lovely Yellow Rose Ia membawakan begitu anggun dan Basri yang duduk dideretan paling belakang itu sempat memperhatikan hadirin terpukau ketika sang penyair sampai pada baitnya She opened her eyes She was a little moved She looked at me gloomily I looked back at her Slowly I kissed her forehead “I love you dearie,” I said. “I do, too, sweetheart,” she breathed. The Lovely yellow rose was the eyewitness. Ketika hadirin satu persatu mulai meninggalkan tempat, karena acara pembacaan puisi oleh Nancy sudah selesai, Basri masih susuk membuka lembaran buku acara. Disana dibacanya secara tellilti keterangan tentang pribadi Nancy, sang penyair. Nancy, di lahirkan di pekalongan tanggal 21 September 1955….. Ketika ia hendak membaca lebih lanjut dilihatnya Nancy mengemasi map yang berisi lembaran2 puisinya. Basri segera beranjak dari tempat duduknya. Betul juga. Nancy segera hendak meninggalkan ruangan itu. “Nona Nancy,” panggilnya. Yang dipanggil menghentikan langkahnya menengok sejenak, lalu tersenyum sambil mengangguk. “Anda tentu, Basri, bukan? Terimakasih untuk kehadiran anda,” katanya sambil mengulurkan tanganya “Anda tahu nama saya?” tanya Basri terkejut. “Tadi seorang rekan penyair mengatakan bahwa yang duduk dibelakang adalah Basri Siregar, pengkritik seni yang paling terkenal dikota ini. Sampai gemetar membawakan puisi saya ketika tahu anda hadir. Namun demikian kehadiran anda merupakan kehormatan besar bagi saya……” Basri tertawa pendengar pujian itu. “Anda ada2 saja. Ada waktu kalau kita omong-omong?” tanyanya. “Anda ingin mengadakan wawancara?’’, tanya Nancy.“Kita sebut saja cuma sekedar omong- omong. Wawancara terlalu keren kedengarannya.” Anda ada waktu?” desak Basri. “Bagimana kalau kita omong2 ditempat lain sambil minum?” “Anda yang traktir?”
  2. 2. 2 “Oklah,, tapi jangan anggap traktiran itu sebagai pungli…” keduanya tertawa…. Basri, sebgai pengarang dan wartawan sudah banyak pengalaman. Sudah puluhan novelnya yang dibukukan dan ratusan essay yang ditulisnya. Mungkin pula sudah ribuan orang yang diwawancaainya selama sepuluh tahun pengalaman didunia surat kabar. Tapi berhadapan dengan penyair satu ini, ada rasa lain daidalam hatinya. Katakan perasaan suka pada pandangan pertma. Mungkin juga kesederhanaan Nancy yang menarik perhatiannya. Atau mungkinjuga Nancy adalah identik dengan tokoh wanita dalam ceritanya yang paling baru: Sepatu Tua Seorang Perjurit. Semula Nancy ingin mengajaknya minum dikedai dekat gedung pertemuan itu. Namun Basri mengajaknya kelapangan kotamadya. “Bakwan disana, enak,” katanya. “Ada yang jual kikil?.” tanya Nancy seraya memperhatikan Basri menstart scooternya. “Mungkin ada. Tapi percayalah, bakwan disana enak betul. Aku yang traktir dan kau yang traktir es campurnya.” Dalam sekejap mereka tidak sudah meras asing lagi. Rasanya sebagai dua sahabat yang sudah lama bertemu dan berkenalan. Dilapangan dekat pompa bensin Basri menghentikan kendaraannya. Ia segera menuju kerombong bakwan yang sudah jadi langgananya. Perempuan muda yang penjual bakwan menyambut Basri dengan ramah. “Sekarang aku tahu mengapa anda datang kesini,” ujar Nancy, O.K.?” “O.K.” Dua porsi bakwan yang sudah di pesan cepat terhidangkandimuka mereka dan es campur yang dipesan juga sudah datang. Di luar dugaan Basri, Nancy makan dengan lahapnya. Gadis ini segera memesan seporsi lagi…dan ….seporsi lagi. “Makanmu banyak,” kata Basri heran. “Ini karena kau yang bayar. Kau tahu, duit honorium baca puisi cuma sepuluh ribu. Itupun untuk keperluan lain. Yang sisa sekarang cuma ratusan logam dua buah ini,” lalu Nancy mengeluarkan dua keping logam dari saku gaunnya. Basri tersenyum. Ditatapnya gadis yang duduk di mukanya. Tidak begitu cantik sebagai seorang perempuan tetapi tetap menyenangkan untuk dipandang. Wajah itu serasa tersenyum terus menerus. “OK sekarang kau boleh tanya apa saja. Kalau perut kenyang, sampai jamberapa saja aku kuat bergadang”’ ujar Nancy seraya mengusap usap kedua belah tangannya. “Thank you untuk traktiranmu ini. Nikmat sekali. Kau betul, bakwan disini memang enak ….,” sambungnya. Keduanya tersenyum. Basri mengajak Nancy untuk duduk di dekat air mancur yang sudah tidak memencurkan airnya lagi. Scooter dititipkan kepada perempuan penjual bakkwan yang memandangi kepergian mereka berdua mungkin penuh dengan perasaan iri alam hati. “Mengapa kau bawakan puisi2mu dalam bahasa Inggris,” tanya Basri ketika mereka berdua duduk diatas rumput dekat air mancur. “Semua orang bertanya demikian. Aku memang lebih mampu membuat sajak dalam bahasa Inggris ketimbang bahasa Indonesia.” “Mengapa? Apakah bahasa kita miskin?” “Entahlah, Tapi serasa dalam bahasa Inggris, apa yang ingin kutuangkan lebih dapat diresapkan.” “Siapa bilang?” “Apa yang kau maksud?” “Siapa bilang kalau kita mengungkapkan sesuatu lebih dapat dirasakan kalau diungkapkan dalam bahasa Inggris. Aku kira dalam bahas Indonesia ia akan lebih indah…..”
  3. 3. 3 “Aku tak mampu.” “Apa semua sajak2mu dalam bahasa Inggris?” “Ya.” “Coba lihat yang tadi itu.” “Yang mana.” “Tentang bunga mawar kuning itu.” “Oh tentang The Lovely Yellow Rose?” “Ya.” Nancy lalu membuka mapnya, mengeluarkan lembaran kertas yang berisikan sajak yang dimaksud. Diberikan itu kepada Basri. “The lovely yellow Rose,” gumam Basri lalu katanya: “Apa salahnya kalau ia diberi judul : Bunga Mawar Kuning Tercinta. Lalu sambungnya: “She stood in a bedroom corner -Getting dressed - I Helped pull up the zipper Mengapa kita tidak mengatakan : Ia berdiri disudut kamar -berpakaian - aku bantu menarik naik ritsluitingnya lalu : Then I kissed here nape While whispering “Dearie….. Close your eyes, I’ ve got a present for you kita jadikan : Lalu kau cium bulu kuduknya seraya berbisik: “Sayang Pejamkan matamu, aku ada hadiah untukmu….” Apakah itu kurang bisa mengetengahkan apa yang kau maksud? Aku justru beranggapan bahwa ungkapan yang dalam bahasa Indonesia lebih kena…” “Teruskan.” Basri memandang heran. Tapi Nancy tak pernah sadar bahwa nada suaranya yang terakhir itu bernada memerintah. “Teruskan apa?” tanya Basri. “Teruskan kau terjemahkan sajak itu….” “She closed her eyes And bent submissively -I Turned her body - I brought the yellow rose in my hand Close to her face…. Kita jadikan : Ia memejamkan matanya menunduk pasrah -ku balik tubuhnya - Bunga mawar kuning yang kubawa kudekatkan ke wajahnya
  4. 4. 4 Then I Wishpered again : “Dearie, Take this My love to you menjadi: Aku lalu berbisik lagi: “Sayang” terimalah ini, tanda cintaku padamu….. Coba kau perhatikan : Take this , my love to you bukanlah lebih kena kalau kita ungkapkan dalam bahasa kita sendiri: Terimalah ini, tanda cintaku padamu…” Nancy tak memberikan reaksi. Hanya tanpa sadar ia berkata: “Teruskan” Lagi sekali Basri menatap wajah gadis ini yang memandang jauh kedepan. “She openedher eyes She was a little moved She looked at me gloomily Ilooked back at her Slowly Ikissed her forehead “I love you, diarie,” I said. “I do, too, sweethert,” she breathed The lovely yellow rose was the eyewitness…. Ia membuka matanya Ada secercah tanda haru dikalbunya Ia memandangku dengan sayu Aku balas menatapnya Perlahan kukecup keningnya “Aku cinta padamu, sayang,” kataku. “Aku juga, sayang, desisnya. Bunga mawar kuning tercinta jadi saksi….” Keduanya membisu. Basri sendiri terbawa oleh keindahan sajak itu. Terlalu sentimentil. Ia ingin mengetahui lebih lanjut tentang latar belakang penulisan itu. “Apa yang ingi kau ceritakan,” tanyanya. “Hem,” tiba2 saja Nancy menengoknya terkejut. “Apa sesungguhnya yang ingin kau ceritakan lewat sajak itu?” “Oh, itu. Cuma cerita tentang laki perempuan. Hidup kebersamaan menurut hematku bukan cuma asal keduanya sama2 puas. Saling bergelut dan saling berpeluh. Hidup kebersamaan bukan yang rutine. Selesai berbuat demikian yang perempuan berdiri, memakai pakaianya dan yang laki2 membalik mendengkur kecapaian. Mengapa tidak ada segi romantisnya yang lain seperti yang kutulis. Hidup kebersamaan menurut hematku lebih dari itu. Ada yang indah didalamnya, yakni cinta. Bukan cuma sekedar bertemunya dua badan…..” “Kau sudah bersuami?” “Pacarpun aku belum punya. Aku sebenarnya seorang pelukis. Namun rasanya aku lebih berhasil mengungkapkan lewat bait2 sajak. Aku menulis berdasarkan pengalaman istri2, perempuan2 yang bercerita tentang kebersamaan yang mereka alami secara rutine dan membosankan setelah keduanya jadi suami istri. Mungkin kau betul. Sajakku menjadi tambah indah ketika kau terjemahkan. Tapi aku tak mungkin mampu mengungkapkannya seindah apa yang kau ungkapkan tadi. Mengapa kau sendiri tidak menulis sajak, Basri. kau pasti mampu membuat sajak yang hebat2…”
  5. 5. 5 “Dulu akupun menulis sajak. Tapi dengan sajak kita tudak bisa hidup. Sajak tadi tidak bisa dijual di Indonesia. Aku lalu beralih menjadi pengarang dan wartawan. Orang harus hidup dan untuk itu perlu duit dan untuk mendapatkan duit orang orang tak bisa berkreasi semaunya tapi harus berkreasi apa yang laku… Mengapa kamu tak mampu mengungkapkannya dalam bahasa Indonesia?” “Sepuluh tahun aku di Amerika. Aku menghayati kehidupan disana. Aku berpikir seperti orang sana. Sebuah sajak disana bis alaku 50 dollar. Aku sudah biasa mengungkapkannya dalam bahasa asing. Disini, sebuah penerbitan pernah memberikan cuma 500 rupiah untuk sebuah sajak….” “Itulah sebabnya kukatakan tadi, sajak tak laku di Indonesia. Di jadikan bukupun lakunya payah.” “Sekalipun itu karya Rendra?” “Ya. Buku Rendra laku di luar negeri, laris tapi disini kembang kempis. Orang kadang membeli buku sajak2 nya Rendra bukan karena sajak2nya itu baik, tapi karena nama Rendra sendiri.” Nancy cuma manggut. Ia serasa tak percaya dengan apa yang didengarnya. Selama tiga tahun kembali di Indonesia ia mengalami kebenaran apa yang diucapkan Basri. Itu dulu juga sudah didengarnya di Amerika ketika ia menyatakan diri hendak pulang ke Indonesia. Seniman tak bisa hidup di Indonesia. Dulu ia tak mau percaya. Ia ingin berada ditengah rakyatnya sendiri. Seniman adalah bagian dari rakyatnya dan ia harus bisa hidup. Tapi apa yang hendak diungkapkan, tak mampu diungkapkan lewat goresan2 cat2nya diatas kanvas. Ia lebih mampu lewat bait2 sajaknya. Dua tahun ia tak pernah menghasilkan sebuah lukisanpun. Puluhan sajak lahir sebagai gantinya. Namun apa yang ia dapat dari puluhan sajak2 itu? Uang tabungan hasil lukisan tiap bulan tambah menipis sehingga akhirnya ia cuma mampu hidup dari hasil ceramah sana, ceramah sini, diskusi sana, diskusi sini, baca puisi sana, baca puisi disini, Bukan hidup dari hasil karyanya sendiri, tapi hidup dari hasil bicara tentang karyanya. Suatu ironi dalam kehidupannya sebagai seorang seniwati. Ini untuk pertama kalinya ia berhadapan pula dengan seorang seniman. Seorang pengarang, wartawan yang punya nama. Ia tadi sudah gemetar ketika orang mengatakan Basri Siregar hadir dalam pembacaan puisinya. Ia cuma mengenalri Siregar sebagai seorang pengarang. Untuk berterus terang, tidak satu novelpun yang dibacanya. Tak pernah terpikirkan bahwa Basri yang sudah punya nama besar adalah seorang laki2 yang menyenangkan. Masih muda lagi. Tiba2 lewat pengeras suara terdengar pengumuman yang meminta agar orang2 yang berada didalam halaman kotamadya keluar karena sudah larut malam. Basri menengok arlojinya. Persis jam 11 malam. Tak terasa waktu berjalan begini cepat. “Dimana kau bermalam?” tanyanya. “Aku segera pulang ke Malang malam ini juga….” “Malam ini juga?” “Ya. Ada bis aku naik bis. Ada colt naik colt, ada trukpun aku naik truk. Kau tahu Basri, aku pernah naik truk dari Denpasar sampai Surabaya…..” ujar Nancy tersenyum. “Kau bermalamlah di Surabaya malam ini?” “Kau gila. Tadi aku sudah bilang, uangku cuma tinggal sepuluh ribu dan dua ratus rupiah yang sudah habis untuk bayar es campur. Yang sepuluh ribu ini guna keperluan tersendiri. Antarkan saja aku ke terminal….” “Kau menginaplah ditempatku kalau kau tak keberatan” “Bermalam di tempatmu? Apa kata istrimu nanti? Aku tinggal sendirian? Sendirian?” “Ya.” “Kau belum beristri?” “Ayolah kita pulang….”
  6. 6. 6 Sampai ditempat tinggal Basri dijalan Perak Timur, Basri segera mengeluarkan kunci pavilyun rumah yan disewanya dan di huninya sendirian. Pavilyun itu cuma terdiri dari dari dua ruangan. Sebuah ruang tamu merangkap ruang makan dan sebuah lagi kamar tidur yang tak ada tempat tidurnya. Cuma sebuah kasur, tergelar, bantal dan guling. Dua buah mesin tik ada di samping kasur itu. Di situlah Basri beristirahat da bekerja. Macam-macam buku berserakan diatas kasur dan diluarnya. “Maafkan tempatku tak karuan,” ujar Basri seraya mengambil gitar yang tergolek di lantai, di tengah jalan menuju kamar mandi. Di atas rak buku, satu-satunya tempat yang paling teratur dalam ruangan itu terletak hasil karya Basri yang sudah dibukukan. Nancy menghitungya. Semuanya dua puluh delapan buku saku. “Banyak benar yang sudah kau hasilkan,” ujarnya kemudian . “Ah, jumlahnya tak sebanyak yang kau hitung. Itu termasuk yang cetak ulang sampai lima kali. Total jendral baru dua puluh yang aku hasilkan, dan yangg satu ini belum selesai-selesai juga…,” jawab Basri seraya mengemasi kertas-kertas tiknya. “Biarkan saja disana. Aku tidur diluar, di kursi ujar Nancy. “Kita tidur bersama di sini. Apakah kau takut aku perkosa?” Basri kemudian membuka lemari pakaiannya. Mengambil piyama dan baju. “Kau pakailah untuk malam ini,” katanya seraya menyerahkan piyama dan baju itu pada Nancy. “Mandilah dulu,” katanya lagi. Seperti seorang anak yang penurut, Nancy mengiayakan kata-kata Basri. Ia beranjak menuju ke kamar mandi, dan menghidupkan lampu. Selesai menyiramkan siraman air yang terakhir ia berteriak: “Kau punya handuk, Basri?” Basri yang masih sibuk mengemasi tempat tidur segera mengambil handuk dan melemparkan ke tangan Nancy yang di ulurkan keluar. Ketika gadis itu keluar ia tertegun. Wajah itu sekarang nampak segar dan polos. Ia nampaknya jadi lucu dalam semua pakaian kebesaran. “Kau istirahatlah dulu,” kata Basri kemudian seraya melemparkan bantal guling ke sudut kasur di lantai. “OK,” jawab Nancy seraya mengikat rambutnya dengan gelang karet yang di dapatnya di tepi kasur. Ia segera merebahkan diri diatas kasur itu. Telentang seraya menyilangkan kedua belah tangannya sebagai alas kepala diatas bantalnya. Ia lalu bergumam sendiri : The lovely yellow Rose, bunga mawar kuning tercinta….hem…boleh juga. Bunga Mawar Kuning Tercinta. Tiba-tiba ia bangkit kembali. Mengambil map yang tadi diletakkan di muka, di ruang tamu. Diambilnya lembaran kertas yang ada sajaknya yang berjudul : The Lovely Yellow Rose. Kemudian di ambilnya sehelai kertas tik. Dicobanya mengingat semua terjemahan sajaknya yang tadi dilakukan Basri. Dua sampai tiga kali ia mencoba namun belum juga ia berhasil. Sampai keempat kalinya baru berhasil. Basri sendiri yang sudah ganti pakaian tidur, duduk disampingnya. “Begini bagus?” tanya Nancy. Basri menyambut kertas yang diulurkan kepadanya, membacanya sejenak lalu katanya: “Ya, begini kebih bagus, daripad bahasa Inggrisnya….” Ia lalu meletakkan kertas itu di atas kasur, merebahkan diri di sudut yang lain berbantalan selimut tebal warna merah. Nancy ikut merebahkan dirinya di tempatnya, terpisah setengah meter dari tubuh Basri yang terlentang.
  7. 7. 7 “Kau hidup seorang diri di sini, Basri?” tanyanya. “Ya.” “Kau tak kesepian?” “Yang kau maksudkan?” “Apakah kau tak memerlukan wanita sebagai temanmu?” Basri tersenyum. “Maksudmu soal sex?” “Ya.” “Sex bagiku adalah kebutuhan, sama seperti aku butuh mengertik untuk bisa hidup. Kau sendiri?” “Mengapa kau tak kawin?” tanya Nancy mengelak pertanyaan Basri yang terakhir. “Aku tanya kau sendiri. Apa pendapatmu soal sex?” desak Basri. Nancy tak memberikan jawaban. Ia tak itahu apa yang harus dijawabnya. “Kau masih perawan?” tanya Basri kemudian. “Apa arti keperawanan pada saat ini. Apa arti perkawinan kalau kehidupan perkawinan itu sendiritidak membahagiakan kita. Sex bagiku bukan apa-apa, Basri. Aku jenuh melihat sex…..” “Aku cuma tanya, kau masih perawan?” “Ya…” “Sudahlah, mari kita tidur….” Basri lalu membalik membelakangi Nancy yang masih terbengong. “Selamat malam,” katanya “Selamat malam,” Nampaknya apa yang terjadi sekarang ini pada diri Nancy dan Basri seolah pada mimpi. Kejadianya terlalu cepat. Mereka berkenalan dalam suatu pembacaan puisi, lalu jadi akrab di taman dimuka kotamadya Surabaya dan kemudian tidur bersama. Ini nampaknya satu hal yang mustahil. Justru di sinilah uniknya dunia seniman itu. Mreka hidup dengan serba bebas, jauh dari sikap munafik. Apa yang mereka rasakan dalam hati begitu saja dikerjakan tanpa tedeng aling-aling lagi. Keperawanan itu sendiri penting artinya bagi Basri. Mungkin selama ini sudah terlalu sering jatuh dalam pelukan perempuan yang satu ke perempuan yang lainnnya. Tapi salah satu hal yang yang masih dijunjungnya tinggi yakni : Soal keprawanan. Ia tak ingin menodai seorang gadis yang masih perawan….. Tengah malam, ketika Basri terjaga dari tidurnya ia membalik dan memperhatikan gadis yang tidur nyenyak didekatnya. Napas yang turun naik dengan teratur dan bibir yang merah tanpa lipstik itu membuat ia jadi terharu. Perlahan ia duduk. Selimut merah tebal itu kemudian perlahan-lahan diselimutkan ke tubuh nancy. Kemudian ia merebahkan dirinya kembali tanpa beralaskan apa-apa di kepalanya…… Keesokan harinya keduanya terbangun ketika mendengar pintu dimuka diketuk. Nancy yang pertama kali bangun. Dilihatnya jam dinding sudah, menunjukkan pukul setengah delapan. Ketika melihat Basri masih tidur dan ketukan diluar masih terdengar ia segera menjagakan Basri. “Ada orang mengetuk……” “Biarkan,” jawab Basri yang rupanya masih ngantuk. “Kau bangunlah, ada yang mengetuk sejak tadi….” “Siapa?” “Mana aku tahu, kau bukakan, aku mandi dulu.”
  8. 8. 8 Mau tak mau Basri bangkit menuju ke muka dan ketika gorden dibuka dilihatnya seorang wanita yang sudah terbiasa datang hampir setiap pagi ke rumahnya. Ia kemarin lupa melepaskan anak kunci pavilyunnya. Wanita itu segera masuk, menutup gorden kembali dan segera ia melingkarkan tanganya memeluk Basri. Mengecupnya dengan penuh kehangatan. Tapi ketika matanya beradu dengan setumpuk pakaian perempuan, ia segera melepaskan pelukannya lalu masuk kedalam. “Siapa di dalam?” tanyanya dengan nada cemburu. “Seorang sahabat yang kebetulan nginap semalam,” jawab Basri acuh. “Siapa dia?” “Perempuan. Tapi bukan seperti kau. Ia masih perawan!” jawab Basri kasar. Nyonya Santoso, namun perempuan itu nampaknya tidak tersinggung oleh jawaban Basri yang kasar. Ia cuma mendongkol ketika Basri mengemasi pakaian wanita itu dan membawanya ke kamar mandi. Mengetuk pintu dan mengulurkan pakaian itu kedalam. Nyonya Santoso sendiri sekarang mendongkol duduk di kursi tamu. Ketika dilihatnya Basri mendekat ia bertanya lagi: “Siapa dia?” “Ia seorang penyair yang kukenal kemarin, Ia terlambat untuk pulang ke Malang dan kuajak bermalam disini.” “Cantikkah dia?” “Kau lihat sendiri nanti.” Ada sebercik rasa cemburu pada hati perempuan yang satu ini. Ingin rasanya, seperti biasanya, ia menggeluti laki-laki itu dan kemudian menghempaskan dirinya setelah butir- butir keringat keluar dari seluruh pori-pori tubuhnya. Tapi sekarang? Ia tak bisa segera berbuat demikian dan ia harus mampu menghadapi kenyataan bahwa ada perempuan lain dalam kamar laki-laki yang dicintainya itu. Di saat keduanya terbenam dalam khayal masing-masing, Nancy muncul dengan rambut yang disisir sekenanya dan wajahnya yang cerah habis mandi. “Maafkan aku menggangu’, lalu ia menghampiri nyonya Santosa, mengulurkan tangannya memberi salam perkenalan. “Nancy.” “Nyonya Santoso.” “Aku berangkat sekarang,” kata Nancy seraya memandang Basri. “Nanti saja sesudah kita makan pagi,” jawab Basri. “Biarlah nanti aku jajan diluar. Sekarang masih kenyang akibat makan bakwan semalam,” Lagi-lagi senyum manis menghias wajah Nancy. Senyum yang memperlihatkan kepolosan hatinya yang membuat wajahnya jadi cerah dan sedap dipandang mata. “Kalau kalau boleh aku pinjam uang seribu rupiah,” kata Nancy kepada Basri. Basri tahu mengapa Nancy mau meminjam duit. Ia tak menanyakan lagi unatuk apa. “Kau pakailah ini,” katanya kemudian setelah kembali dari kamar mengambil uang lima ribuan dari dalam lemarinya. “Aku cuma butuh seribu.” “Sudahlah kau pakai saja” “Aku cuma butuh seribu.” “Sudahlah kau pakai saja” “Aku cuma butuh seribu! Nanti sore aku ada ceramah di sebuah SMA swasta di Malang. Mungkin aku bisa dapat duit lagi. Bukan mungkin, pasti!” Basri cuma menggelengkan kepala. Ia kembali lagi ke kamar tidur mengambil uang seribu. “Satu kehormatan bagiku untuk bertemu dengan Kau,
  9. 9. 9 Basri….,” ujar Nancy memandang wajah Basri, kemudian memandang wajah nyonya Santosa penuh arti. Ia sudah hendak keluar, tetapi kemudian kembali lagi untuk mengambil map dan kertas yang berisikan terjemahan sajaknya di atas kasur. “Kalau kau tiak keberatan tolong kau bubuhi namamu sebagai penterjemahan sajakku. Ini merupakan kehormatan bagiku bahwa seorang pengarang terkenal sudi menterjemahkan sajakku…” Basri tersenyum. Ia kembali kekamar tidurnya, mencari ballpoint dan kemudian membubuhkan namanya: Basri Siregar, di bawah sajak yang terjemahannya kemarin malam di ketik Nancy. “Terimakasih buat semuanya,” lalu dijabatnya tangan Basri dan nyonya Santosa yang duduk bengong melihat semua adegan keakraban itu. Basri mengantarkan di muka, memanggilakan sebuah becak langgananya yang beroprasi disekitar situ. Diberikanya becak seratus rupiah untuk membawa Nancy ke terminal bis kota. Ketika masuk kembali dan mengunci pintu pavilyunnya, Basri segera rebah kembali di atas kasurnya. Angan-angannya melayang jauh. Terasa kehadiran Nancy yang begitu singkat dalam hidupnya membekas dalam. Gadis itu sangat polos. Tiba-tiba ia merasakan kancing bajunya dibuka dan sebuah kecupan membara terasakan didadanya. Basri tersentak dari lamunanya ketika ciuman itu merayap terus ke lehernya. “Kau jangan tinggalkan aku, Basri,” desis perempuan itu. Basri diam membisu. Ia cuma membalas memeluknya, lalu keduanya bergumul jadi satu, saling berkulum lidah, meskipun Basri pagi jelas belum gosok gigi. * * * Hidup kebersamaan selesai dan ketika melihat perempuan itu tergolek lemas kepuasan, Basri teringat akan sajak Nancy: The Lovely Yellow Rose. Benar apa yang diutarakan penyiar itu. Cinta manusia sebenarnya bukanlah hanya terwujud pada hidup kebersamaan yang rutine seperti ini. Di mana sesedah peluj jadi satu dan kenikmatan tercapai lalu selesai. Titik. Mengapa tidak ada belaian mesra sesudah hidup kebersaman itu. Mengapa keduanya saling terkapar keletihan. Mengapa tidak ada segi romantisnya. Nancy mengutarakanya dengan persembahan sekuntum mawar kuning ketika sang lelaki melihat perempuan berpakaian. Alangkah romantisnya jika hidup bisa demikian. Alangkah tingginya nilai hidup kebersamaan jika bisa demikian. Tapi adakah manusia berbuat demikian seperti yang dikhayalkan seorang penyair? Angan-anganya menerawang jauh mengingat kembali perkenalannya dengan nyonya Santoso lima tahun yang lalu. Perempuan yang sekarang berusia 35 tahun ini dikenalnya di suatu pertunjukan drama untuk amal yang kebetulan memutuskan cerita yang diadopsi dari naskah novelnya yang sudah dibukukan. Ia sendiri waktu itu seorang pengarang yang karya-karyanya baru berhasil dibukukan dan laris. Tanpa terasakan, di pagi hari itu ada rasa keharuan dalam hati Basri. Hubungan kebersamaannya selama ini hanya berjalan begitu rutine. Mengakui kebenaran apa yang di tulis Nancy ia merasaka salah. Perempuan ini sudah terbiasa untuk tergolek begitu saja sampai sadar sendiri dari tidur yang lelap. Ia sekarang membalik memperhatikan tubuh terbujur lurus itu. Mata terpejam. Perlahan diraihnya selimut dan ditutupnya tubuh yang telanjang itu sebatas dada. Diciumnya kening perempuan itu dengan mesra. Terasa butiran keringat masih membasah di kening. Perempuan itu menggerakkan tubuhnya dan tangannya tiba-tiba saja memeluk laki-laki itu ketika dilihatnya laki-laki itu
  10. 10. 10 berada disampingnya. Waktu membuka matanya ia merasakan ada yang mencium keningnya. Keduanys bergumulan lagi dan adegan yang baru saja berlangsung kini terjadi lagi………. Dengan bis kota, Nancy berhasil sampai di Waru. Dari sana ia berusaha mendapatkan kendaraan lewat menyetop mobil preman yang lewat. Sebuah sedan dan yang ditumpangi laki perempuan , berbaik hati untuk berhenti melihat isyaratnya. “Bisa ikut ke Malang?” tanya Nancy tak lupa melempar senyum yang selalu menghias wajahnya yang polos. Laki-laki yang menyetir mobil menggelengkan kepala. “Kami hendak ke Jember,” katanya. “Maafkan,” jawab Nancy agak kecewa. Mimik wajahnya memperlihatkan kesedihannya. Orang ini suda begitu baik hati untuk berhenti, tapi sayang tujuan tidak sama. Perempuan yang duduk disebelah laki-laki itu, dan mereka nampaknya suami istri, segera berkata: “Ikutlah sampai Gempol’’. Nancy berfikir sejenak. Mungkin memangg lebih baik ia ikut sampai Gempol lalu dari sana ia bisa menyetop kendaraan lain. “Baiklah, terimakasih,” katanya seraya membuka pintu mobil setelah alat pengunci mobil ditarik oleh si lelaki. Ia duduk di sudut tak banyak bicara. Sedan itu melaju dengan cepatnya dan tak terasa, tak sampai serengah jam jembatan Porong terlewati dan Nancy turun di persimpangan jalan menuju ke arah Bangil. Kebetulan ada bia, ia segera ikut menuju ke Malang. Uang logam limapuluh diserahkan kepada kondektur tanpa meminta karcis. Pemraktekan satu kebudayaan yang jelek semestinya, tapi Nancy tak peduli. Duduk di bangku belakang, ia segera melayangkan pikirannya ke Nini, anak tetangganya di Malang yang paling manja padanya. Cacat, fisiknya. Sekarang ia mempunyai uang sepuluh ribu rupiah. Sekarang dapat membelikan boneka seperti yang diharapkan bocah cilik itu. Ah alangkah bahagia hati Nini jika ia datang membawa boneka, dan uang sepuluh ribu pastilah cukup. Sampai di Malang, masuk di sebuah toko yang khusus menjual mainan, Nancy kecewa. Harga boneka yang besar semuanya di atas sepuluh ribu. Ingin rasanya ia menjual sajak-sajaknya, seandainya saja laku, kepada si pemilik toko. Tapi tidak! Untung ini ia masih punya harga diri. Ia tak mau menjual sajak-sajaknya, pada orang-orang yang tak mengerti. Kepada penjaga toko itu akhirnya ia minta ditemukan dengan pemilik toko. “Saya menyukai boneka yang bapak jual, tapi uang saya kurang. Dapatkah sisanya saya bayar sore nanti. Ah, jangan sore, malam nanti.” Pemilik toko itu tidak segera memberikan jawaban, cuma dipandangnya perempuan yang menurut pendapatnya aneh ini. “Boneka yang mana?” akhirnya ia bertanya. “Boneka beruang.” “Berapa harganya?” “Enambelas setengah ribu. Saya baru punya uang sepuluh ribu…” “Tanggungannya?” Pertanyaan itu menyentak hati nuranu Nancy. Mungkin ia agak tersinggung.
  11. 11. 11 Tapi di depannya segera terbayang wajah bocah perempuan kecil yang cacat. Ia membayangkan betapa gembiranya bocah itu seandainya ia berhasil memberikan sebuah boneka beruang seperti yang sudah lama diimpikannya. Bocah itu sudah begitu lama mendambakan beruang2an, karena ia tak bisa membayangkan bagaimana rupa beruang seperti yang sering diceritakan ibu atau dirinya kalau sedang bercerita pada Nini. Ingat semuanya itu, ia tak jadi tersinggung dan senyum yang cerah kembali menghiasi wajahnya. “Seandainya saya jaminkan nama saya, bapak tokh tidak akan mau. Saya jaminkan harga diri saya pada bapak sampai malam nanti, bagaimana,” katanya dengan senyum manis tetap menghias wajahnya yang polos. Pemilik toko itu memperlihatkan wajah sinis. Namun akhirnya ia memperbolehkan juga, setelah mencatat dan nama dan alamat Nancy. Malam hari, waktu toko itu mau tutup dan Nancy benar-benar datang, pemilik toko itu tak bisa berkata-kata lagi. Ia menerima tambahan yang enam setengah ribu rupiah berupa selembar uang puluhan ribu. Akhirnya, entah kenapa apa, ia mengembalikan lima ribu. Nancy juga tak berkata apa-apa. Cuma senyum manis menghias wajahnya yang polos. Tiga hari setelah pembacaa sajaknya di Surabaya Nancy menerima surat dari Basri yang mengatakan bahwa tanggal 25 Basri akan datang ke Malang dan mengharapkan Nancy tak pergi ken mana-mana. Melihat tanggalan pada jam dinding Nancy sadar bahwa justru hari ini tanggal 25. Siang itu khusus ia bekerja keras untuk menjadikan pavilyun yang disewanya, yang lebih kecil dari pavilyun yang disewa Basri, bersih dan teratur. Segalanya di bersuhkan dengan bulu-bulu dikebutnya semua debu yang melekat pada buku-buku dan barang-barangnya. Ia nampaknya jadi kikuk dengan keadaan tempat tinggalnya. Biasanya ia serba masa bodoh. Persetan dengan kebersihan! Entah mengapa, menerima surat itu ia ingin rumahnya jadi bersih dan teratur. Ia kemudian berusaha memilih pakaiannyang terbaik. Biasanya untuk memberikan ceramah atau membaca sajaknya ia tak pernah memilih pakaian. Biasanya apa yang nampak di muka matanya itu yang dipakainya. Ia tak pernah memilih lagi. Tapi kali ini, entah mengapa menerima surat dari Basri, ia nampaknya ingin semuanya serba indah, termasuk dirinya. Satu cuma yang tidak terlintas alam pikirannya, yaitu bersolek. Untuk yang satu ini ia tak pernah memikirkan. Atau mungkin juga ia sudah lupa bahwa perwmpuan untuk nampak cantik harus bersolek biarpun sedikit. Syuku, alam telah membekali dirinya cukup sempurna. Bibirnya selalu berwarna merah, meskipun tidak pernah bersentuhan dengan lipstik. Juga pipinya bersemu merah kena hangat matahari kota Malang, dan haw pegunungan yang sejuk. Rambutnya yang dikepang dua membuat wajahnya yang selalu terhias senyum manis seperti anak2. Sepintas orang takkan menduga bahwa ia sebenarnya seorang seniwati yang mungkin belum populer di negerinya sendiri tetapi berkat buku-bukunya yang sudah diterbitkan, sangat terkenal sebagai seorang penyair di luar negeri. Tidak seperti biasanya, hatinya gelisah menunggu kedatangan Basri. Maukah Basri benar-benar berkunjung ke rumahnya? Maukah Basri benar-benar datang ke kotanya? Apakah Basri datang khusus untuk dirinya? Untuk menengoknya? Bermacam-macam pertanyaan timbul dalam alam pikirannya. Tiba-tiba saj ia tertawa sendirian. Ia beranjak dari tempat duduknya dan berkaca sendiri sambil bergumam “Apakah aku jatuh cinta pada Basri?”
  12. 12. 12 Serentak terlintas dalam bayangan kaca itu wajah cantik dari nyonya Santoso. Ia sudah bisa menebak 100% siapa nyonya Santoso itu. Mereka berdua pasti sudah akrab sejak lama. Apa sekarang ini yang ia miliki untuk bersaing dengan nyonya yang satu itu? Bentuk badan? Ah, bentuk badanya cuma tinggi semampai, tidak padat berisi seperti bentuk tubuh nyonya Santoso. Ia kemudian memegang jedua payudaranya yang kecil, yang sangat berbeda jauh dengan bentuk payudara nyonya Santoso yang menantang. Akhirnya Nancy cuma hanya bisa menggigit bibirnya. “Tidak!” jeritnya dalam hati,”Basri pasti tak datang. Ia pasti cuma mau menyenangkan hatiku saja. Apa arti diriku bagi Basri? Basri sebagai seniman besar sudah terbiasa dikelilingi perempuan-perempuan cantik.” “Bibi Nancy,” tiba-tiba teriak seorang bocah dari luar. Nancy segera berlari ke muka. Dilihatnya Nini dalam dukungan ibunya sedang membawa boneka beruangnya yang besar. “Oh, sayangku,” kata Nancy seraya mengambil bocah kecil itu dari dukungan ibunya. Dikecupnya pipi bocah yang montok itu. “Mama nakal,” kata Nini manja. “Ada apa sayang?” tanya Nancy Bu Hardjo, ibu Nini yang dosen sejarah di IKIP Malang segera memotong : “Coba Nan, setelah ia punya boneka ini, kemana saja dibawa. ke kamar mandipin dibawa dan kalau tidak boleh dia menangis. Coba kau katakan kalau boneka ini mahal” Nancy tersenyum oleh jawaban itu. ”Bapaknya bilang, boneka ini paling murah duapuluh ribu,” tukas bu Hardjo lagi. “Ah, tidak semahal itu, kak,” jawab Nancy. “Bibi tidak marah pada Nini, bukan?” tanya Nini manja. “Tentu tidak sayang. Bibi pasti tidak marah padamu. Kau anak baik. Dan karena kau anak baik, kau harus turut kata ibumu…….” Bocah itu berusaha mendapatkan boneka yang dipegang oleh ibunya. Nancy menurunkan bocah itu dari dukungannya, dan bermainlah bocah usia delapan tahun yang masih tidak bisas berjalan itu dengan mesranya. Boneka dicium, ditarik telinganya, didorong dengan segala keriangannya. Kedua perempuan itu kemudian berbincang dengan akrab. “Kudengar kau kembali ke Amerika,” tanya bu Hardjo. “Itulah sulitnya, kak. Aku bisa hidupn disini. Aku tak bisa berkarya disini. Bahasa Inggris masih menjadi bahasa elite, sedangkan aku tak bisa mencipta sajak dalam bahasa Indonesia,” “Mengapa? Kau fasih berbicara bahasa Indonesia. Kau orang Indonesia. Mestinya lebih dapat kau resapi penghayatan lewat bahasa itu dan bukan bahsa Inggris…..” “Kadang aku berfikir bahasa Indonesia agak miskin, Ada ungkapan-ungkapan yang tidak bisa tepat diutarakan dalam bahasa Indonesia, tetapi yang bisa aku ungkapkan lewlat bahasa Inggris.” “Bukankah sajakmu The Lovely Yellow Rose tetap baik setelah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Aku kira: Bunga Mawar Kuning Tercinta tidak kalah puitisnya….” Mendengar omongan itu Nancy segera teringat lagi pada Basri. “Tapi itu bukan aku yang menterjemahka,” jawabnya lirih. “Adakah sesuatu yang kau risaukan Nan?” tanya bu Hardjo. Perempuan ini memang banyak melihat perubahan pada diri Nancy, tetangga dan sahabatnya yang akrab sejak Nancy tinggal di pavilyun itu. Perubahan itu menyolok sekali sejak terakhir Nancy mengadakan pembacaan puisi di Surabaya tiga hari yang lalu. Gadis yang riang gembira itu sekarang sering dililhatnya termenung. “Adakah sesuatu yang menyakitkan hatimu?” tanya Bu Hardjo lagi.
  13. 13. 13 Nancy menggelengkan kepalanya. Tiba-tiba terdengar bunyi rem becak yang panjang. Hati Nancy berdebar. Ia masih sempat berdoa : “Oh, Tuhan, mudah-mudahan itu Basri,” Aneh, meskipun sudah jarang ia berdoa, doanya kali ini dikabulkan Tuhan. Basri turun dari becak dan Nancy segera berlari menyambutnya, lupa akan kehadiran bu Hardjo dan Nini. Ia melompat begitu saja sampai lupa memakai sandalnya. “Oh, Basri ! Aku kira kau tak datang. Sudah lama aku menunggu”’ katanya seraya memegang lengan Basri dengan kasih sayang. Perempuan bagaimanapun juga tidaklah akan mampu menutupi jika ia sedang jatuh cinta. Apa yang terjadi itu diamati diam-diam oleh bu Hardjo dan ia pun tersenyum. Ia segera mengambil anaknya yang bermain di lantai, mendukungnya lalu berpamit pulang tanpa Nancy sempat mengenalkan Basri kepadanya. * * * “Kau terima suratku?” tanya Basri seraya meletkkan kopernya yang besar di atas meja. “Kawanmu memang brengsek. Baru tadi pagi ia menyampaikan surat itu kepadaku” “Aku khawatir kau ke luar kota. Perempuan seperti kau ini sulit di duga di mana berada,” jawab Basri seraya membuka kopernya. Didalamnya yang di lihat Nancy cuma ada bungkusan plastik dan ketika ia mengetahui isinya ia berteriak kegirangan. Ternyata yang di bawa Basri dalam kopernya yang besar itu cuma dua kuntum bunga mawar kuning yang sedang mekar-mekarnya. “Ini ku persembahkan untukmu, sebagai penyair, dan aku seorang pengagummu,” ujar Basri seraya menyerahkan bunga-bunga itu. “Oh, terimakasih. Terimakasih Basri !” Nancy tak dapat berkata apa-apa lagi. Bunga itu didekapkan ke dadanya dengan tangan kirinya dan dengan tangan kananya ia memegang bahu Basri lalu tiba-tiba saja ia mengecup pipi laki-laki itu. Basri jadi bengong sesaat. Tapi setelah kesadarannya pulih ia segra menarik tubuh gadis dimukanya itu, didekapnya lalu diciumnya dengan sepuas hati. Yang terdengar cuma gumam Nancy yang kalang kabut : Hem…hem…hem sambil mengelengkan kepala berusaha untuk membebaskan diri dari pagutan ciuman Basri yang membara. Tapi akhirnya ia tak membantah lagi. Tanpa disadarinya bunga yang dipegangnya terjatuh dan ia melingkarkan tangannya ke bahu Basri. Kini keduanya berpagutan dengan mesra, melepas rasa rindu berpisah tiga hari yang penu kenang-kenangan. Puas melepas rasa rindu keduanya diam membisu. Basri duduk di kursi, menutup wajahnya dengan kedua tangannya seraya berkata : “Maafkan, maafkan aku. Tak seharusnya aku berbuat demikian.” “Kenapa, kenapa Basri?” ujar Nancy berlutut di depan Basri berusaha melepaskan telapak tangan yang menutup wajah laki-laki itu. “Mengapa kau meminta maaf?” tanyanya dengan penuh haru. Basri memandangnya dengan syahdu.
  14. 14. 14 “Tidak Basri. Kau tak salah. Kalau ada diantara kita yang salah, maka yang bersalah adalah aku sendiri. Aku yang memulai mencium kau,” ujar Nancy kembali seraya merebahkan kepalanya ke pangkuan Basri. Basri mengusap rambutnya dengan sayang. Tiba-tiba saja basah mata laki-laki itu. Air mata menitik peralahan jatuh di rambut Nancy yang di kepang dua. Ada rasa haru dalan hatinya. Perasaan ini merupakan perasaan yang asing baginya. Biasanya wanita-wanita bersimpuh di hadapanya meratap memohon belasa kasihannya, agar di puasi napsu mereka. Sekarang ini keadaannya justru lain, secuilpun napsupun tak ada pada dirinya. Tak ada napsu untuk meniduri gadis yang bersimpuh dimukanya dan rambutnya ia belai dengan sayang. Ia takut kehilangan gadis ini. Untuk pertama kalinya sekaranh ini ia mengharapkan cinta kasih sepranh perempuan. Biasanya, perempuanlah yang mengharapkan cinta kasihnya. Untuk pertama kalinya sebagai lelaki ia sekarang ini betul-betul mengenal apa arti cinta itu yang sebenarnya. Dulunya, ia cuma sering menulis kisah2 cinta dalam novelnya. Cinta itu begini, cinta itu begitu. Sesudah mengalami sendiri baru tahu bahwa cinta itu adalah sesuatu yang lain daripada yang lain. Tak dapat diutarakan dengan kata-kata, hanya dapat dirasakan dalam hati. Satu cuma yang ia yakin kebenaranya bahwa cinta itu adalah sepahit empedu semanis madu. Ini ia rasakan sendiri selama tiga hari ini. Selama tiga hari ia terbenam dalam khayalalan sendiri. Tak sepotong kalimatpun yang dapat ditulis untuk meneruskan novel yang sudah lama terbengkelai. “Kau tahu hotel yang paling dekat dengan rumahmu ini?” tiba-tiba tanya Basri. Amboi, juga wajahnya penuh dengan air mata kebahagiaan. “Kau mau menginap di hotel?” “Seadanya saja, losmen juga boleh” “Seadanya?” “Ya” “Kalau demikian kau menginaplah di sini saja. Aku pernah menginap di rumahmu. Kau juga harus mau menginap di rumahku…… Ia lalu senyum lagi, justru senyum ini yang tidak bisa dilupakan Basri. Senyum yang tidak dibuat-buat. Senyum yang polos. “Di saat seperti sekarang ini aku bisa mencipta sebuah sajak,” katanya “Cobalah….” “Mau kau dengar?” Nancy kemudian memandang langit-langita rumah. Perlahan ia berkata: There are days full of bitterness There are days full of failures But, There are always days full of love At those moments the word looks beautiful Flowers seem to be blooming And Birds are call chirping At such moments When two people meet Everything looks intimate
  15. 15. 15 The touch of fingertips Is felt deep in the heart The touch of breath on the neck Makes the body limp At such moments When days are full of love And two people meet There is just one thing H A P P I N E S S Setelah mengucapkan sajaknya yang baru, yang muncul begitu saja karena kegembiraan hatinya, Nancy memandang wajah Basri tajam-tajam. Yang di pandang balas memandang. Dua pasang mata beradu pandang. Lalu keduanya tertawa sambil saling menggengam tangan. “Kau tulislah sajak itu biar tidak lupa,” ujar Basri dengan nada yang penuh kasih sayang. “Kau menterjemahkannya?” Basri mengangguk. Nancy segera berdiri, mengambil mesin tiknya dan ia segera mengetik setelah memasukan sehelai kertas. Apa yang tadi dibacanya diketiknya dengan cepat. Setelah selesai kertas itu segera dilepas. Sajak itu diberi judul : Days full of love. Menerima lembaran kertas itu Basri segera menuju ke tempat mesin ketik. Duduk dimukanya dan dan mulai mengetik. Dan dalam waktu yang singkat ia berhasil menterjemahkan sajak tersebut ke dalam bahasa Indonesia. Bukan karena ia mahir dalam bahasa Inggris, melainkan karena mampu meresapi isi sajak yang sangat melankolis itu. Setelah selelsai disodorkannya kepada Nancy yang segera membacanya: Hari-hari penuh cinta. Ada hari-hari penuh kegetiran Ada hari-hari penuh kegagalan Tetapi, selalu ada hari-hari penuh cinta Disaat itu dunia nampak indah Bunga- bunga seolah mekar dan burung-burung berkicau semua. Pada saat saat seperti itu Jika dua insan bertemu semua nampak mesra Pada saat-saat seperti itu di mana hari-hari penuh cinta dan dua insan bertemu Yang ada cuma satu K E B A H A G I A A N Selesai membacakan sajak terjemahan itu Nancy jadi sangat bahagia. “Oh, basri, sajakku jadi amat indah di tanganmu. Terima kasih,” lalu ia memeluk Basri dengan penuh perasaan dan merebahkan kepalanya kedada Basri yang bidang.
  16. 16. 16 Kau mau bukan bermalam di sini?” tiba-tiba ujar Nancy setelah keduanya hening sejenak. “Aku mungkin lama di kota ini, aku ingin menyelesaikan naskahku.” “Tambah lama kau disini, aku tambah senang. Mau, bukan? Cuma bagaimana dengan nyonya Santosomu?.” Pertanyaan itu sebenarnya biasa saja dan Nancy sama sekali tak ada maksud untuk menyakiti hati Basri. Hanya bagi Basri pertanyaan itu ibarat tombak yang menghujam ke ulu hatinya. Kenyataan itu memang merupakan noda hitam dalam penghidupannya dan itulah yang membuat hatinya risau selama tiga hari ini. Basri yakin bahwa Nancy sebagai seorang seniwati mengetahui apa makna kehadiran nyonya Santoso dipagi hari itu. Dari perkenalan yang sangat singkat ia mengetahui bahwa Nancy meskipun pernah hidup lama di Amerika tetapi tetap membatasi kebebasannya pada hal-hal yang positif. Nancy melihat kekecewaan hati Basri dengan pertanyaannya yang tidak disengaja itu. Ia merasa bersalah. “Mari aku kemasi pakaian-pakaianmu,” katanya akhirnya berusaha mengalihkan pembicaraan seraya membuka tas kecil yang tadi di bawa Basri. Koper tempat bunga mawar kuning itu ditutupnya lalu disimpan di dalam dan bunga mawar kuning itu diambilnya kembali, mengambil gelas minum, karena ia tak mempunyai tempat bunga, Basri masih termenung duduk. “Kita lupakan semuanya,” hibur Nancy mencoba menggembirakan Basri kembali, sambil duduk di sisi Basri. Basri mencoba semyum, tapi getir. “Kau menyesal karena hubunganku dengan nyonya Santoso?.” Tiba-tiba tanya Basri. “Mengapa aku harus menyesal. Aku baru mengenalmu tiga hari yang lalu. Sedang dengan nyonya Santoso kau tentunya sudah kenal lama. Apakah ia seorang janda?” “Tidak, ia masih bersuami dan mempunyai dua orang anak. Aku memang sudah mengenalnya sejak lama.” “Apakah kau mencintai perempuan itu?.” Di luar dugaan Nancy, Basri tidak marah mendengar pertanyaan itu. “Aku gembira kau mengajukan pertanyaan karena ia memberikan kesempatan bagiku untuk menjawabnya. “Katakan aku ini laki-laki yang buruk. Aku butuh pelampiasan sex untuk mampu menulis. Tanpa perempuan disekitarku aku tidak bisa menulis. Kepala ini terasa pusing. Selama ini silih berganti perempuan datang. Dalam prinsip hidupku, perempuan adalah mahluk yang cuma boleh dipandang indah dan dinikmati. Tidak pernah terpikirkan olehku untuk mencintai seorang perempuan. Tapi sejak aku mengenal kau, keadaanku menjadi lain. Memang, pada awalnya aku masih bisa lari pada perempuan lain, tapi selama tiga hari ini aku banyak menderita. Aku cuma ingin dekat dirimu. Tidak lebih dari itu. Aku merasakan kedamaian melihat senyummu….” “kau tidak ingin sama aku?” tanya Nancy menggoda. Basri diam. Sama sekali tidak ada keberaniannya untuk menggoda Nancy, entah apa sebabnya. “He, mengapa kau diam, karena aku jelek ya. Karena tidak montok seperti …….,” tapi sebelum ia menyelesaikan kalimatnya Basri menepuk-nepuk telapak tangannya. “Kau jangan menyakiti hatiku,” kata Basri perlahan. “Kita ini lucu ya. Jumpa tanpa ada orang yang memperkenalkan. Lalu tiba-tiba saja kita tidur sekasur tanpa terjadi apa-apa. Adakah orang yang percaya kau tidak berbuat apa-apa Basri?” “Kau sendiri, mengapa kau mau waktu kuajak bermalam di rumahku.”
  17. 17. 17 “Aku sudah biasa. Aku bisa tidur di mana saja dan dengan siapa saja. Aku tidak pernah peduli apa kata orang. Yang penting adalah pertanggungan jawabku atas tingkah lakuku sendiri. Sex bagiku bukan satu tuntutan mutlak. Lain dengan kau….” “Lalu mengapa kau berani mengundangku untuk bermalam di tempatmu?” “Karena aku percaya kau, Basri. Kau seorang seniman dan aku sendiri menggolongkan diriku sebagai seniwati. Bagi kita ini apa artinya norma-norma susila kalu kita sendiri bersikaf munafik. Selama kita bersikap wajar, maka semuanya juga akan berjalan dengan wjar. Aku sering menginap di rumah teman laki-laki. Tapi aku tidak pernah menggoda mereka dan merekapun tidak berani menggoda diriku, ada batas antara laki-laki dan perempuan, selama masing-masing tidak memberi kesempatan, maka tidak akan tejadi apa-apa. Tapi sudahlah, mari kita bicara soal lain,”ujar Nancy. Tiba-tiba muncul pembantu Bu Hardjo. Melihat kedatangannya Nancy segera menyambutnya di luar, karena dia sudah tahu apa maksud kedatangan pembantu rumah tangga bu Hardjo itu. Tak lain untuk mengajaknya makan malam. Persahabatnya dengan keluarga itu sudah sedemikian mendalamnya sehingga setiap siang dan malam hari ia selalu makan siang dan malam bersama mereka. Sebagai gantinya ia selalu menjaga Nini kalau kedua orang tuanya berangkat mengajar. Itulah sebabnya Nini lebih dekat kepada Nancy dari pada dengan ibunya sendiri. “Katakan kepada ibu, saya makan di luar sama tamu yang datang,” katanya. Si pembantu kemudian meminta diri dengan sopan. Sebelum Basri bertanya, Nancy menjelaskan : “Itu tadi pembantu rumah tangga ibu bersama anaknya yang ada disini ketika kau datang. Aku biasa makan malam di rumah mereka. Karena ada kau, maka aku kira kau akan traktir aku makan malam nanti?” “Marilah sekarang kita makan malam kalau ini sudah waktumu untuk makan malam?.” “Oh nanti saja, aku belum lapar.” Nancy kemudian bercerita banyak tntang keluarga Hardjo. Tentang anaknya yang cacat tak bisa jalan yang sangat manja kepadanya. “Jadi semua honormu kau belikan boneka untuknya?” tanya Basri. “Ya. Aku ingin membelikan boneka dengan uangku sendiri. Orang tuanya sudah terlalu memanjakan Nini. Tapi ia paling senang kalau aku yang membelikan sesuatu. Sudah sering ayah ibunya sendiri yang membelikan dikatakan aku sekedar agar ia lebih senang. Entah mengapa ia sangat dekat padaku.” “Kau mencintai Nini?.” “Ya. Kau sendiri pasti menyukainya kalau kau sudah mengenalny. Ia bocah yang lucu. Banyak sajak-sajak lahir diilhami kehadiranya. Ia cacat tetap riang gembira. Mungkin karena ia masih kecil. Aku mencoba untuk menjaga agar sifat itu menjadi wataknya sampai kelak ia jadi besar. Mungkin seluruh hidupnya kelak akan dilewatinya di atas kursi roda…… * * * Tiga hari sudah Basri ada di Malang. Selama itu mereka pergi menginap si Selecta, Songgoriti dan ke tempat rekreasi Wendit. Nampaknya sebagai dua sejoli yang saling mencinta. Bergandengan tangan dan berbicara sselalu hampir berbisik. Nancy banyak membuat sketsa. Di hari keempat ketika Basri menyatakan ingin kembali ke Surabaya mulailah awan gelap meliputi hati ke duanya. Orang yang mengenal Basri akan terkejut
  18. 18. 18 seandainya mengetahui selama itu Nancy tetap Nancy yang dulu. Seperti waktu Nancy menginap di rumah Basri, keduanya tidur satu ranjang. Tapi tak ada keinginan hati Basri untuk meniduri gadis ini. Ia sudah merasa bahagia dapat berada di dekat gadis ini dan karenanya ketika ia hendak kembali ke Surabaya timbul rasa hampa dalam dirinya. Kosong ! “Kau ikutlah aku ke Surabaya,” pintanya pada Nancy. Gadis itu didekapnya dengan sayang. “Aku ingin dapat memenuhi ajakanmu, Basri, tapi aku tak dapat. Untuk sementara aku harus berada terus di kota ini demi Nini. Kau lihat sendiri betapa akrapnya dia padaku. Ia akan sangat kehilangan seorang sahabat jika aku meninggalkan bocah cacat seperti ia mempunyai perasaan yang amat peka. Jika ia tahu aku ke Surabaya karena kau, maka ia akan benci padamu. Biarlah aku di sini dulu. Kapan-kapan aku pasti ke Surabaya lagi.” “Janji?.” “Janji!.” “Kapan?” “Aku tak berani janji,” “Aku memerlukan kau, Nancy. Aku cinta padamu……” kata-kata terakhir yang merupakan kata-kata yang paling tidak asing dalam novel Basri: kini akhirnya keluar juga dari mulut Basri sendiri. Sejak lama ia ingin mengeluarkan kata-kata itu, tapi terus saja tersimpan dalam hatinya. “Aku banyak berfikir selama tiga hari ini, Basri,” kata Nancy perlahan. “Kau adalah laki-laki yang paling baik yang pernah kukenal. Katakan juga aku mencintaidirimu. Tapi kau adalah milik perempuan lain……” Dekapan pada gadis itu tiba-tiba dilepas Basri. Seperti yang pernah ku katakan padaku, sex bagimu merupakan satu kebutuhan yang sama pentingnya seperti kebutuhanmu untuk menulis. Aku sama sekali tidak salahkan kau.” “Itu dulu, Nancy. Dulu ketika aku belum mengenalmu. Tapi sejak aku mengenalmu, aku mengenal sesuatu yang lebih indah dari sex yakni cinta. Semula kukira apa yang kurasakan itu cuma sebuah ilusi belaka. Aku berusaha untuk mencari pelepasan pada perempuan lain. Mulanya memeang dapat,tapi kemudian aku tak mampu melakukan kewajibanku sebagai seorang laki-laki. Aku tak mampu, karena aki selalu ingat pada bayang-bayangmu. Tiada ada gairah dalam diriku kepada perempuan lain. Satu keanehan, aku sudah merasa sangat bahagia kalau kita dekat bersama, berjalan bersama dan berbincang bersama. Aku jadi seperti anak muda yang sudah puas kalau begadang bersama tanpa melakukan hidup kebersamaan.” “Aku tahu semuanya itu Basri. Kau selama ini memperlakukan diriku sebagai bidadari. Kau tak berbuat lain kecuali menciumku dengan sayang …..” “Itu karena aku cinta padamu.” “Tapi dunia kita berbeda Basri. Aku memang seorang seniwati san kau seorang seniman. Tapi pandangan kita berbeda seni berlainan. Kau mencipta seperti mesin. Aku tidak. Aku mencipta sesuai dengan gejolak yang ada pada diriku….” “Tapi kita saling mencinta, bukan?” “Untuk berterus terang , ya. Tapi kau belum menyelami hidupku aku mengingini kebebasan dalam hidupku. Hidupku berkelana dari kota kekota dan hanya karena ada Nini aku meneatp di Malang ini. Ayahnya kukenal sewaktu ia study di Amerika kami kemudian bersahabat dan ketika ia tahu aku kembali ke Indonesia ia mengajakku tinggal di rumahnya. Aku menolak da sebagia gantinya aku sewa kamar di dekat rumahnya. Dengan anaknya aku kemudian bersahabat akrab. Aku menjaga dia kalau pagi kedua orang tuanya pergi mengajar…..” Nancy tahu bahw apa yang diutarakan itu merupakan peperangan dalam batinnya. Di satu pihak ia mengakui bahwa ia menyukai laki-laki ini, tetapi di lain pihak ia juga mengakui bahwa laki-laki ini adalah milik perempuan lain, sah atau tidak sah, resmi atau tidak resmi.
  19. 19. 19 Sekilas pandang ia dulu dapat melihat kehadiran nyonya Santoso besar artinya bagi Basri dan rupanya juga Basri mencintai perempuan itu. Basri sendiri menyadari bahwa kehadiran nyonya Santoso merupakan rintangan baginya untuk mendapatkan cinta kasih Nancy. Selama tiga hari ia berkumpul sudah berusaha sedapatnya untuk menerangkan duduk perkaranya yang sebenarnya. Tapi ia juga bis menipu dirinya sendiri. Sebelum kehadiran Nancy, nyonya Santoso adalah segalanya baginya. Ia mengasihi, bahkan mungkin juga mencintai perempuan itu biarpun istri orang lain. Sekarang, tiba-tiba saja ia jatuh cinta pada seorang gadis. Mungkinkah dalam waktu yang singkat ini ia bisa menghapus kenangan lamanya? Kenangan yang bukan cuma setahun-dua tahun , tapi lima tahun lebih. Ia akhirnya tak hendak berbantah dengan Nancy mengenai persoalan itu. Ia segera mengalihkan ke persoalan lain. “Kau benar-benar berjanji untuk datang ke Surabaya lagi?” tanyanya. “Aku janji !” “Boleh aku menciumu sebagai tanda selamat tinggal?” tanyanya pula. Nancy tersenyum Ia segera mengulurkan tangannya memeluk Basri. “Oh. Basri, andai kita tidak perlu berpisah …,” bisiknya. “Kita seharusnya memang bisa tidak berpisah,” jawab Basri sambil mengecuo kening Nancy. Sesaat kemudian Basri meninggalkan rumah itu. Sepeninggal Basri, suasana terasa kosong di dalam hati Nancy. Tiba-tiba saja ia berlari ke tempat tidurnya. Melempar tubuhnya dan menangis terisak-isak. “Aku cinta padamu, Basri. Aku cinta padamu,” jerit hatinya. Jeritan itu tak mungkin didengar oleh Basri yang juga merasakn suatu kekosongan, duduk dalam becak seorang diri. Kosong dan hampa sekali ia rasakan dalam hatinya. Ia seolah kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya…..’ * * * Nyonya Santoso memang mempunyai kunci pavilyun Basri. Hari itu hari keempat ia menunggu kedatangan Basri yang tak diketahui ke mana perginya. Surat-surat kabar dan majalah di mana Basri biasanya menulis didatangi untuk mencari keterangan di mana gerangan Basri berada. Namun demikian tak sebuah informasipun yang didapatnya. Semuanya tak ada yang tahu ke mana Basri pergi akhir-akhir ini. Nyonya Santoso biasanya datang pada pagi hari. Selama empat hari ini ia menunggu hingga sore. Hatinya berdetak keras ketika dilihatnya Basri turun dari Becak. Buku novel karangan Basri yang diambilnya dari rak buku, yang dibacanya untuk kesekian kalinya guna melewatkan sang waktu diletakkan di atas meja. Ia kemudain ke luar menyambut kedatangan Basri yang sama sekali tidak terkejut melihat kehadirannya. “Sudah lama kau di sini?” tanya Basri. Nyonya Santoso tidak memberikan jawaban, ia hanya memandang Basri dengan perasaan yang penuh tanda tanya. Apakah laki-laki ini marah padanya? Enam hari yang lalu ketika mereka hendak melakukan hidup kebersamaan, tiba-tiba Basri tak mempunyai kemampuan sama sekali. Ia waktu itu masih agak memaksa, meskipun pada akhirnya tokh juda Basri tak mampu melakukanny. Itu awal dari malapetaka yang menghantui hidup Basri. Kemarinnya ia masih mampu. Tapi hari itu dan keesokan harinya sama saja, Basri sama sekali tiak mempunyai kemampuan untuk melakukan tugasnya sebagai laki-laki. Saat itu pasa hari ke dua, nyonya Santoso mulai prihatin.
  20. 20. 20 Namun di saat ia sedang prihatin, Basri meninggalkannya begitu saja dan baru pada hari keempat ini ia pulang. “Kau marah padaku Basri?” tanya nyonya Santoso. Basri menggelengkan kepalanya. “Mengapa kau pergi tanpa pamit?” tanya nyonya Santoso duduk di samping Basri. “Aaku capai. Kau janganlah bertanya soal yang tidak-tiak. Tak ada persoalan apa-apa antara kita.” Lalu Basri menuju ke kasurnya dan merebahkan dirinya untuk tidur. “Kau membaliklah biar aku kupijat,” Basri menurut dan ia mebalik. Nyonya Santoso menyuruhnya membalik lagi telentang. Ikat pinggang dilepas dan kancing celana Basri dibukanya dan dengan susah payah ia apat lepas celana panjang itu. “Nah kini membaliklah,” ujarnya seraya menepuk paha Basri dengan sayang. Ia kemudian memijat dengan sepenuh perasaanya. Basri merasakan kenikmatannya. Akhirnya mungkin karena letih nyonya Santoso merebahkan tubuhnya di atas punggung Basri. “Kau marah padaku?” bisik nyonya Santoso lirih. Basri yang hampir terlelap tidur cuma mendengus : “Hemmm,” lalu ia membalikan tubuhnya. Nyonya Santoso mendapatkan dirinya di sisi Basri, tertelungkup dengan siku tangan menopang kepalanya sambil memandang Basri dengan penuh rasa cinta. “Aku capai…..” áku menunggumu bukan karena sex, Basri. Aku sangat khawatir akan dirimu.belum pernah aku serisau beberapa hari ini: sejak kepergianmu yang tanpa pamit. Mau kau janji tidak akan pergi tanpa pamit lagi?” lalu dibelainya wajah Basri yang kasar ditumbuhi kumis yang rupanya tidak dicukur selama beberapa hari ini. “Aku sayang, padamu Basri,” kata nyonya Santoso kembali ketika melihat Basri tetap diam sambil memejamkan matanya. “Mau kau janji, Basri?” Basri akhirnya membuka matanya dan memandang nyonya Santoso dengan tatapan hampa. “Mengapa kau sekarang begini dingin padaku, Basri?” tanya nyonya Santoso mengiba. Ditanya begitu Basri tak tahu apa yang harus dijawabny. Bencikah ia pada perempuan ini? Atau cintakah ia padanya? Lalu terbayang kembali wajah Nancy yang sangat polos. Tibap-tiba saja wajah nyonya Santoso baginya seolah wajah Nancy dan tanpa terasa ia mengulurkan tangannya mendekap perempuan itu, merebahkan kepalanya di dadanya yang bidang. Cuma sejenak bayangan itu muncul kemudian hilang kembali. Ia merasakan kekosongan dalam hidupnya biarpun dipeluknya rebah seorang perempuan penuh kemesraan. Nyonya Santoso merasakan perubahan itu. Kehangatan pelukan Basri cuma dirasakan sejenak dan sambutanya kemudian dingin sekali. Apakah betul gadis yang dulu dijumpai bermalam di rumah Basri yang membuat laki-laki ini berubah? “Kau sudah tidak suka padaku karena kau mencintai gadis lain, Basri?” tanya nyonya Santoso seraya duduk. “Katakan Basri. Katakan yang jujur padaku,” desaknya. Tapi Basri tetap diam. “Aku tahu kalau kau cuma menganggap aku ini perempuan murahan. Perempuan yang cari kesenangan dengan laki-laki lain selain suaminya. Aku memang tiak layak kau cintai, aku cuma layak kau nikmati,” lalu tanpa dapat dicegah lagi isak yang tertahan membuat tubuh nyonya Santoso berguncang. “Selama ini kau pergi menjumpai dia, bukan?” “Menjumpai siapa?” tanya Basri akhirnya. “Gadis yang dulu bermalam di rumah ini. Siapa namanya?
  21. 21. 21 Nan……Nancy, bukan?” Basri diam. “Kau jumpai dia bukan?” “Ya.” Lalu keadaan hening. Perempuan dimanapun juga sama. Meskipun jawaban Basri adalah untuk menjawab pertanyaan sendiri, namun kehadiran wanita lain dalam kehidupan laki-laki yang dicintai tetap membuat hatinya jadi cemburu. “Ia memang lebih muda dari dirikku,” katanya kemudian seraya berdiri hendk meninggalkan tempat tidur. “Mau kemana kau?” tanya Basri. “Pulang,” jawabnya agak ketus. Ketika nyonya Santoso membulatkan tekadnya untuk pulang dan baru membuka kunci pintu Basri ikut berdiri dan berseru memanggil perempuan itu dengan nama kecilnya : “Erna!” Nyonya Santoso tersentak diam dengan panggilan itu. “Kau duduklah dulu. Kita omong-omong secara baik-baik,” kata Basri lagi. “Buat apa? Apa artinya aku ini dalam hidupmu? Untuk seorang gadis lain kau bersedia menyakiti hatiku. Kau kejam! Kau kejam Basri!” isaknya tertahan di pintu. Ia menyandarkan kepalanya ke dan pintu seraya mengisak dengan hebatnya. Basri mendekatinya kemudian memegang bahunya yang bergetar karena isaknya. “Kau duduklah.” Katanya seraya membimbing tubuh nyonya Santoso duduk di kursi. Permpuan itu seolah tak mampu mengendalikan pikirannya. Ia mandah saja di papah duduk di kursi. Masih terisak. “Aku memang sampah. Aku tak ada artinya bagimu. Aku perempuan serong,” katanya. “Tidak. Kau salah menilai diriku kalau kau beranggapan aku menilai dirimu demikain.” “Lalu apa artinya aku ini sekarang bagimu?” Ditantang demikian Basri diam membisu lagi. “Apa artinya aku ini sekarang bagimu…, Basri?” tanya nyonya Santoso kembali. Kini dengan nada yang penuh emosi. “Aku tak ada artinya lagi sekarang, bukan?” tanyanya ketika Basri tetap membisu. “Kau telah banyak memberi arti pada hidupku,” ujar Basri akhirnya. “Aku tanya sekarang, sekarang, Basri ! apa yang mau kau katakan? Aku memang merasakan kehangatan cintamu. Tapi aku tanya sekarang, apa artinya aku bagimu sekarang!” “Kau jangan desak aku.” “Kau harus memberikan jawaban yang jujur. Jika memang kau tidak menyukai diriku. Ok, demi kepentinganmu aku akan menyingkir. Tapi aku ingin ketegasanmu. Aku tak mau kau permainkan seperti beberapa hari ini. Aku serara gila memikirkan dirimu.” “Aku tidak merasa mempermainkan dirimu.” Lalu apa namanya tindakanmu empat hari yang lalu itu?” “Aku malu padamu….” “Karena yang dulu itu?” “Ya!” “Kau salah kalau demikian Basri. Aku sama sekali tidak menyesali dirimu atashal itu. Aku tahu kau sendiri kaget pada waktu itu. Mungkin juga aku yang salah karena terlalu agresif. Tapi aku tahu dengan pasti bahwa apa yang menghinggapi dirimu itu bukan satu kelemahan. Kau hanya merasa jijik padaku dan kau pikirkan perempuan lain yang lebih sempurna, yang lebih pantas kau cintai. Itulah sebabnya kau lari padanya….”
  22. 22. 22 “Tidak, aku tidak lari. Aku datang kepadanya…..” Pengakuan ini lebih-lebih menyakitkan hati nyonya Santoso sebagai seorang perempuan . lima tahun yang lalu ia mengenal laki-laki. Perkenalan biasa tetapi kemudian berubah jadi memuja setelah dibaca novel-novelnya. Ia jadi gandrung kepadanya dan diam-diam ia mencintainya. Suatu hari ketika Basri mengajaknya ke Bali untuk sehari pulang balik dengan pesawat, mereka menyewa kamar untuk melepas lelah di siang hari di sebuah hptel di Sanur. Lalu terjadilah semuanya. Kesetiaanya kepada suaminya jatuh berkeping-keping saat itu. Celakanya, setelah mengenal Basri dan merasakan kenikmatan di hotel Sanur itu, kejadian itu terus berulang terus…….. dan itu berlangsung lima tahun lamanya. Ia seolah sudsah merasa milik Basri dan suaminya cumalah sekedar pelengkap sosial melulu. Lima tahun lamanya ia hidup dalam dunia ganda. Di satu pihak sebagai istri dan ibu yang baik, dan di lain pihak sebagai seorang kekasih pengarang. Tak pernah terlintas dalam hidupnya untuk mengawini Basri sebelumnya. Ia tahu bahwa usianya jauh lebih tua dan Basri yang baru duapuluh delapan, sedangkan dirinya sendiri sudah tigapuluh lima. Ia cuma tahu bahwa ia sangat mencintai Basri lebih dari ia mencintai suaminya. Bahkan lebih dari ia mencintai anak-anaknya. Menyadari bahwa sex bagi Basri adalah segalannya, ia sampai2 mengunkan jamu-jamuan kalau mau menstruasi. Masa yang seharusnya berlangsung 4 sampai 5 hari diiusahakannya sehingga cuma berlangsung dua hari saja. Itu semua di lakukannya bukan karena ia sendiri haus akan sex, melainkan karena ia tahu arti sex bagi Basri. Basri tak dapat berpikir jika ia belum melakukan hubungan sex dan tidak mampu berfikir bagi basri adalah sama dengan tidak mampu mencipta. Sebagian besar dari karya-karya Basri lahir setelah persahabatan mereka . bahkan novel-novelnya yang mendapat penghargaan negara : Kemelut di Bromo merupakan sebuah cerita yang dihayati bersama di tempat kejadian sesungguhnya. Ia ikut menghayati kehidupan rakyat di sana sampai tiga hari lamanya, karen aitulah batas waktu yang diutarakan kepada suaminya dengan alasan ikut tour. Mulanya memang ikut tour, tapi sampai di tempat tujuan ia bergabung dengan Basri, lalu ikut hidup di tengah rakyat di sana dengan segala suka-dukanya ; ia saeorang perempuan yang sudah terbiasa di manj aoleh kemewahan. Konsep naskah Basri ikut di koreksinya dan ia begitu bangga ketika Basri mendapat penghargaan negara karena atulisannya itu. Sedikitnya ia merasa punya andil atas kesuksesan Basri. Selama ini ia pun menyadari bahwa banyak wanita yang jatuh kepelukan Basri. Tapi selama itu tak pernah terbit rasa cemburunya. Lebih-lebih karena ia menyadari bahwa sex bagi Basri adalah segalanya untuk dapat melahirkan karyanya yang baik; meskipun kadang ia harus mengakui ia tak mampu mengatasinya. Ia tetap sadar bahwa pada akhirnya kalau kebosanan sudah menghinggapi diri Basri, laki-laki itu akan kembali lagi ke dalam pelukannya. Tapi kali ini tidak, dengan gadis yang bernama Nancy, persoalanya jadi lain. Menurut cerita Basri, mereka tidur sekamar dan Basri sama sekallil tildk menidurinya. Satu hal yalng luar biasa! Bahkan Basri mengejarnya sampai ke Malang selama empat hari . luar biasa daya tarik gadis it bagi Basri. Akhirnya ia cuma bertanya perlahan: “Kau masih cinta padaku, Basri?” “Kau tahu bahwa aku selalu mencintai dirimu. Kau tahu itu dan karenanya tak perlu kau tanya lagi.” “Apa yang kau kehendaki sekarng?”tanyanya. “Aku ingin kau duduk dan kita bicara baik-baik,” jawab Basri. Nyonya Santoso menurut. Ia duduk dan memandang Basri. “Apakah kita harus hidup begini terus?” tiba-tiba tanya Basri. “Apa yang kau maksud?”
  23. 23. 23 “Kau istri laki-laki lain . punya anak………” “Kenapa?” “Itulah masalahnya ! kita tidak bis hidup terus begini. Pada akhirnya suamimu pasti akan mencium perbuatan kita” “Mengapa kau baru merisaukan hal ini sekarang? Mengapa tidak dulu-dulu? Mengapa sesudah berlangsung lima tahun? lima tahun Basri, dan itu bukan waktu yang pendek !” “Aku tahu.” “Bagaiman sikapmu sendiri?” “Aku rela diceraikan. Tapi selama ini aku masih mampu mengatur semuanya sehingga ia sama sekali tidak mencurigai hubungan kita. Tapi seandainya benar2 ia menceraikan aku, maukah kau menikahi diriku?” Basri tidak menjawab. “Seandainya benar demikian, apakah kau mau menikahi diriku, Basri?” “Kau tahu aku tak menyukai lembaga perkawinan. Mengapa laki-laki dan perempuan harus diikat jadi satu hanya karena keduanya saling mencintai?” “Laki-laki mungkin dapat berfikir seperti cara berfikirmu itu. Tapi perempuan memerlukan sebuah status.” “Status yang gila !! kau istri orang. Kau terikat pada perkawinan tapi kau jatuh cinta pada laki-laki lain dan kami saling mencintai. Siapa yang salah? Tidak ada ! Tidak ada hukum apapun yang melarang orang saling jatuh cinta. Yang salah adalah lembaga perkawinan itu sendiri, dan karenanya aku tidak menyukainya……” “Kau akan terus begini, Basri? hidup dari pelukan wanita yang satu kewanita yang lain. Apakah seniman memang hidupnya harus demikian? apakah Tuhan memang menciptakan seniman untuk menodai mahluk yang lemah?” “Kau jangan bawa nama Tuhan dalam kasus ini!” “Lalu apa yang harus kita bicarakan Basri? Kau selalu marah-marah sejak tadi.Apa sekarng yang ingin kau bicarakan?” Kalau kau memang kau mencintaiku, mengapa sejak dulu-dulu kau tidak minta cerai?” “Karena aku tahu kau tidak akan menikahi diriku. Tapi seandainya kau bersedia, detik ini juga aku akan minta cerai?” usia kita pun berbed jauh. Aku lebih tau tujuh tahun dari kau. Aku bagimu cumalah satu kerikil dalam hidupmu, padahal besar artunya kau bagiku” “Kau jangan membohongi dirimu sendiri” “Tidak Basri, aku tidak membohongi diriku sendiri. Orang boleh menilai diriku tidak bermoral karena hubungan kita ini. Tapi aku tak pernah jatuh ke pelukan laki-laki lain. Cuma kau seorang” “Jika tokh kau anggap aku sering lari kepelukan laki-laki lain, itu cuma pelarianku. Aku benci meluhat kau berada dalam pelukan perempuan lain. Tapi demi Tuhan semuanya cuma terbatas pada persahabatan melulu. Tidak lebih dari itu. Kau pun pastimenyadari bahwa seandainya aku mau diajak ke pesta oleh rekan-rekan suamiku, itu semua karena pelarianku akibat tingkahh polahmu. Dan seandainya kelak suatu hari mereka berhasil mendapatkan diriku, maka mereka itu cuma dapat menikmati diriku dan tidak mungkin mendapatkan cintaku. Cintaku hanya untukmu, Basri dan itu kau pasti tahu.” Basri tunduk termenung. Apa yang diucapkan perempuan ini semuanya benar. Dengan perempuan2 lain ia tidak perduli. Mereka itu menurut prinsipnya pantas untuk dinikmati tubuhnya. Tapi dengan nyonya Santoso, lain halnya. Ia harus mengakui bahwa selama lima
  24. 24. 24 tahun ini ia sangat mencintai perempuan ini. Ini dirasakannya dengan adanya rasa cemburu kalau ia kebetulan menilpon rumah nyonya Santoso dan pembantu mengatakan nyonya Santoso pergi dengan seorang teman laki-laki. Mengapa ia merasa tidak tentram dalam hatinya kalau mendengar keterangan itu? Bukankah ini tanda cinta? Ia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke kamar tidurnya, lalu merebahkan dirinya di atas kasur. Nyonya Santoso mengikutinya dan duduk di sisi Basri. Pada diri perempuan itu sekarang timbul banyak kemelut. Terlampau banyak pertanyaan yang tidak mampu dijawab oleh Basri sebagai tanda bahwa Basri sebenarnya ragu-ragu dalam mengambil keputusannya. Melihat wajah Basri yang murung ia akhirnya jadi iba dalam hatinya. Ia mendekat dan mencium bibir Basri. “Kau maafkan aku” suaranya mengiba. “Tak ada yang perlu kumaafkan. Kau tidak salah apa-apa,” jawab Basriseraya melingkarkan tangannya memeluk leher nyonya Santoso yang kemudian merbahkan kepalanya di dada Basri yang bidang. “Aku bermalam di sini” bisiknya lirih “Suamimu?” “Ke luar kota.” Mendengar jawaban itu Basri tak heran lagi. Perempuan ini setiap suaminya ke luar kota selalu menginap di rumahnya. “Boleh aku menginap disini?” ?Mengapa kau tanya?” “Aku tak ingin menginap jika kau tidak suka…..” Mendengar jawaban itu dengan gemas Basri memeluk nyonya Santoso. Dalam rangsangan pelukan dan kecupan yang ketat itu sesaat kelaki-lakian Basri timbul lagi. Tapi cuma sesaat, kemudian terkulai lemas lagi waktu bayangan Nancy lewat di depannya. “Mengapa Basri?” tanya nyonya Santoso ketika pelukan Basri dikendorkan. “Aku sekarang memang tak sanggup, aku tak sanggup……! “Haruskah setiap kali kita berkumpul lita melakukan hal itu, Basri? Kau mungkin cuam capai. Tidurlah dulu…..” “Aku sekarang memang tak sanggup,” desis Basri seolah pada diri sendiri. “Aku mencintaimu Basri. Apabila aku suka kita melakukan hidup kebersamaan, itu disebabkan karena aku tau kau menyukainya. Tanpa itu akupun mencintaimu. Jika aku bianl dalam pelukanmu itu bukanlah karena sifatku memang demikian, tapi aku ingin memuaskan dirimu. Lain tidak.” “Aku tahu itu…..,” lalu dalam kemelut rasa harunya Basri meemluk kembali nyonya Santoso. Wajah perempuan yang dipeluknya sekarang ini dalam bayangan Basri bukan lagi perempuan yang bernama Erna atau nyonya Santoso, tapi wajah seoang gadis yang masih muda: Nancy. Menghayalkan bayangan gadis itu semangat kelaki-lakianya timbul kembali. Ia kemudian merebahkan nyonya Santoso, dan tangan nya mencari dada nyonya Santoso yang kencang. “Oh Basri,” desisi nyonya Santoso, yang kemudian dengan refleks membuka pakaiannya yang sesaat kemudian mereka bergumul jadi satu. “Oh , Basri kau masih mampu, kau ternyata tidak sakit,” batin nyonya Santoso. Ia sama sekali tidak pernah menduga bahwa bagi Basri perempuan yang digumulinya sekarang bukanlah ia, tetapi Nancy…… Tapi apa artinya semuanya itu baginya. Laki-laki dimana saja semua sama. Serba munafik, dalam kenikmatan bergumjul dengn istri mereka, kadang-kadang yang terlintas dalam otaknya bukanlah perempuan yang sedang digumulinya,tapi perempuan lain yang lebih dapat merangsang kelaki-lakiannya. Kemunafikan memang terjadi di mana-mana.
  25. 25. 25 Namun disaat kesadaranya pulih kembali akan kenyataaa bahwa perempuan yang digumulinya ini bukan Nancy, Basi tersentak dan tiba-tiba saja ia jadi lemas terkulai. Ia mencoba memulihkan kesadarannya, tapi tugas itu tak pernah dapat diselesaikannya. Ia terkulai lemas, membalik, membelakangi nyonya Santoso… menitikkan air mata. Ketika nyonya Santoso memeluk bahunya dan mencium pipinya Basri berkata: “Maafkan aku. Aku terlalu sering mengecewakan kau…” “Aku tak apa-apa, Basri. Betul-betul aku tidak kecewa, sayang,” bisik nyonya Santoso seraya mencium leher Basri. “Aku harus segera berobat,” ujar Basri perlahan. “Tidak. Kau tidak sakit. Cuma ada kemelut dalam pikiranmu. Kau tidak ingin menghianati cintamu pada gadis itu,” tiba-tiba jawab nyonya Santoso yang sangat mengejutkan hati Basri. Rahasianya kini terbongkar. Apa yang dikatakan perempuan ini seratus persen benar. Ia jadi merasa berdosa terhadap perempuan itu. Ia tahu apa artinya hidup kebersamaan yang tidak selesai bagi seorang perempuan. “Kau benar,” ujarnya membalik. Ditatapnya wajah perempuan itu dengan tatapan yang mesra. “Kau benar-benar tak salahkan aku?” tanyanya. Nyonya Santoso tersenyum. “Aku tidak apa-apa,” jawababnya. “benar?’ “Kau ini ada saja. Sudah tentu aku akan lebih senang jika kau mampu menyelesaikannya,” goda nyonya Santoso, lalu secara bertubi-tubi di ciuminya Basri. Untuk kesekian kalinya Basri hanyyut. Kini ia tak berani memejamkan matanya. Takut khayal bayangan Nancy lewat kembali. Ia membuka matanya terus menatap wajah nyonya Santoso yang sexy. Dan ketika semangat kelaki-lakiannya tombul kembali ia tetap tak memejamkan matanya . pandangannya terus diarahkan menatap wajah nyonya Santoso yang kemudian digumulinya dengan penuh napsu sampai titik yang terakhir…………. * * * Tuan Santoso melihat banyak perubahan pada istrinya akhir-akhir ini. Ia sudah lama mengetahu bahwa istrinya akrab denga seorang pengarang. Ia tahu semuanya itu, namun selama ini ia hanya berdiam diri menutup mata seolah tak tahu akan sepak terjang isterinya. Selama itu istrinya masih tetap melakukan tugas kewajibannya sebagai istri dan ibu yang baik… ia cuma beranggapan bahwa apa yang dilakukan oleh istrinya itu cumalah suatu petualangan seorang wanita yang mencapai umur tigapuluhlimaan. Masa ranum-ranumnya sebagai seorang permpuan. Tapi-tapi akhir ini tidak. Isterinya jarang sekali pulang siang hari dan selalu ada-ada saja alasanya. Alasan yang menurut pendapatnya terlalu dicar-cari. Mau tak mau, meskipun dalam hatinya ia tetap ingin mempertahankan lembaga perkawinan mereka, akhirnya tokh ia terpaksa menegur isterinya ketika dilihatnya baru sore isterinya pulang. Namun teguran itupun dilakukannya dengan sangat hati-hati. Betapapun juga ia tahu bahwa suksesnay di dunia bisnis sekarang ini adalah justru karena modal yang didapat isterinya dari orang tuanya. Memang ia mampu mengembangkan modal itu belipat ganda. Tapi bukanlah ia tidak boleh melupakan masa lalunya ketika hidupnya belum menikah, tak punya modal sepeserpun?
  26. 26. 26 Bukankah pada awal kemajuan usahanya itu juga ditopang oleh kelincahan isterinya bergaul dalam masarakat sehingga akhirnya ia berhasil menangani proyek2 besar? “Kau dari mana?” tanyany perlahan. “Dari Basri,” jawab nyonya Santoso jujur. Jawaban ini benar-benar diluar dugaan tuan Santoso. Tidak pernah terpikirkan olehnya bahwa isterinya akan memberikan jawaba begitu terbuka. “Lalu apa kerjamu di sana?” tanyanya. “Aku tidur. Tak ada apa-ap yang kukerjakan disana. Aku hanya merasa damai dalam ruamah Basri.” “Adakah kekurangan dalam rumah tangga kita?” “Tidak” “Lalu mengapa kau sering meninggalkan rumah ini?” “Aku butuh kedamaian ……” “Mengapa kau mencari di rumah orang lain?” nyonya Santoso tidak memberikan jawaban. Ia menatap wajah suaminya seolah menantang. “Kau cinta padanya?” tanya tuan Santoso. “Kau tentu tahu apa artinya bagi seorang perempuan jika ia merasa tentram di dekat seorang laki-laki.” “Jadi kau benar-benar cinta padanya?” “Ya!” kata terakhir ini diucapkan nyonya Santoso dengan menahan emosi hatinya. Sekarang sudah tiba baginya untuk berterus -terang kepada suaminya bahwa ia telah mencintai laki-laki lain. Ia harus mendapat kepastian bagi hidupnya. Ia tidak ingin hidup terombang-ambing tak keruan. Bisa gila rasanya. Apakah pergaulanmu sudah melewati batas-batas kesopanan?” “Kau tak perlu tanya demikian, karena jawabannya akan menyakitkan hatimu.” “Aku tanya apakah kau sudah menodai kesucian perkawianan kita?” “Apakah kau sendiri tidak pernah menodai kesucian perkawinan kita?” balas nyonya Santoso menantang. Keduanya membisu, hening. “Lima tahun Santoso, lima tahun aku menunggu ketegasanmu seperti ini. Tapi kau tidak pernah bertindak sebagai laki-laki jantan. Kau membiarkan. Dan setelah aku larut kedalamnya kau baru sekarang mengur. Andai saja pada awalnya kau menegur aku, maka keadaan kita tidak akan separah ini,” cetus nyonya Santoso, membuat suaminya menunduk. Laki-laki ini memang merasa salah. Dulu, pada awal persahabatan isterinya dengan Basri, banyak sahabat sudah menegurnya. Tapi ia tak mempunyai keberanian untuk menegur isterinya. “Itu karena aku terlalu cinta padamu. Aku takut kehilangan kau,” jawabnya kemudain. “Tidak. Kau bukan cinta padaku. Kau cuma mencintai hartaku. Kau takut kehlangan harta. Diluar tahuku, kau, kau sering bermain dengan perempuan lain.” “Itu karena kau yang memulai dulu.” “Tidak. Jauh sebelum aku mengenal Basri aku sudah tahu akan keadaan dirimu. Kau memelihara sekretarismu. Kau belikan rumah dengan perabotan lengkap. Aku tahu semuanya itu. Tapi aku diam saja. Aku cuam ingin tahu sampai di mana ketegasanmu sebagai seorang laki-laki kalau tahu isterinya bersahabat dengan laki-laki lain….” Ketika melihat suaminya diam nyonya Santoso melanjutkan:
  27. 27. 27 “Persahabatanku dengan Basri pad awalnya cumalah pelarianku gara-gara tingkah polahmu. Tapi kemudian aku mengenal laki-laki itu jauh lebih baik daripada dirimu. Aku kemudian mencintainya…………” “Kau pergilah kepadanyajika ia sudi mengawinimu?” bentak tuan Santoso marah, kehilangan kontrol dirinya. “Ia sudi mengawini aku atau tidak itu bukan urusanmu.” Tiba-tiba tuan Santoso menempeleng isterinya dengan penuh emosi. Nonya Santoso menjadi kaget. Ini adalah yang pertama kalinya, sejak perkawinan mereka yang sudah lebih dari empat belas tahun itu, ia ditempeleng oleh suaminya. “Kau pengecut ! kau cuma berani sama perempuan! Mengapa kau tidak pernah berani mandatangi Basri dan secara terang-terangan menegurnya karena ia merebut wanita yang jadi istrimu. Kau pengecut!” lalu nyonya Santoso lari kekamarnya terisak. Ketika mendengar suaminya mengetuk pintu kamarnya yang dikuncinya, ia diam saja. Hatinya sakit karena tamparan suaminya. Meskipun dalam hati ia harus mengakui bahwa dalam kasus ini dirinya yang salah. Ia terlalu membakar rasa cemburu hati suaminya. Tapi dalam hubungannya dengan Basri ia tak merasa dalah. Ia terlalu mencintai laki-laki itu. Suaminya yang terlebih dahulu menyakiti hatinya. Ingat semuanya ini ia kemudian membuka lemari pakaiannya lalu memasukan kedalam tas. Bulat tekadnya untuk meninggalkan rumah malam ini juga. Bagaimana nanti dengan anak-anaknya? Tegakah ia meninggalkan mereka? Akh, soal ini dapat diurusnya nanti. Anak-anaknya tokh mempunyai suster yang merawat dan mengasuh mereka. Malam ini juga ia harus meninggalkan rumah ini. Ia sudah muak dengan segalanya. Ketika ia keluar membuka pintu dilihatnya suaminya yang berdiri di muka pintu nampak terkejut melihat ia keluar ddengan mwmbawa sebuah tas. “Kau hendak pergi kemana?” “Itu bukan urusanmu!” teriak nyonya Santoso histeris. “Aku suamimu ! Aku berhak tahu ke mana kau pergi!” “Sejak saat ini kau kuanggap bukan lagi sebagai suamiku. Kau cuma patung! Beri aku surat cerai dan kau boleh ambil semua harta benda selama perkawinan kita. Aku akan keluar dengan keadaan seperti ini….” “Kau ampunilah sikapku tadi,” mohon tuan Santoso seraya memegang bahu istrinya. Tapi istrinya segera menepiskan tangannya. “Biarkan aku pergi !” bentaknya. Lalu ia beranjak untuk memaksa lewat, tetapi suaminya segera memegang bahunya dan menariknya. “Maafkan. Aku tak sengaja menempelengmu. Aku sungguh menyesal…..” “Tidak . Aku memang berhak kau tempeleng. Aku memang istri yang tidak setia…..” “Aku akan menceraikanmu jika Basri memang benar-benar mau mengawinimu,” tiba-tiba tuan Santoso berkata. Ia sendiri sampai terkejut akan apa yang dikatakan itu. “Basri mau mengawini aku atau tidak, itu bukan urusanmu. Mengapa tidak kau tanyakan sendiri kepadanya?” “Aku akan menanyakan besok….” “Sekali lagi Santoso, Basri mau atau tidak, itu bukan urusanmu. Urusanmu adalah untuk menceraikan diriku. Katakan saja aku telah derong dan aku akan mengakui di depan sidang pengadilan. Besok kau uruslah sama notaris untuk membalik semua nama perusahaan atas namamu sendiri . aku relakan semuanya.”
  28. 28. 28 “Kau bersungguh hati ingin bercerai?” tanya tuan Santoso masih tak percaya akan kebulatan tekad istrinya. Lalu sambungnya: “Apakah karena aku tanya ke mana saja kau, lalu kau ingin minta cerai?” “Buat apa kita saling menipu diri sendiri. Kau membiarkan aku lari ke pelukan laki-laki lain agar supaya lau sendiri bebas mengeluti sekretarismu. Aku tak suka laki-laki yang pengecut sebagai kau.” Lalu dengan tergesa-gesa ia meninggalkan rumah itu, hendak memanggil sebuah becak. Kali ini yang hendak dituju bukanlah rumah Basri tetapi sebuah hotel. Tapi ia tak sempat melaksanakan niatnya itu, kaena tuan Santoso segera mengejarnya dan menariknya masuk kembali ke rumah. Terjadi saling tarik menarik yang seru. Melihat kenekadanya tuan Santoso naik pitam lagi. Untuk kedu kalinya pipi istrinya ditampar kanan kiri. Kini dengan amarah yang meluap-luap. “Kau wanita iblis!” bentaknya seraya menarik tubuh istrinya masuk kembali ke rumah. Tidak pernah menerima perlakuan suaminya yang begini kasarnya, nyonya Santoso jadi bengong dan terpaku. Ia kemudian ikut masuk dan sudah siap untuk menerima nasib apa saja yang bakal menimpanya. Kini, untuk matipun siap. Ketika melihat istrinya duduk tegak di kursi tamu, tuan Santoso berkata: “Kau boleh tuduh aku apa saja. Pengecut, laki-laki tak punya guna, da apa saja semaumu. Tapi kau harus ingat bahwa aku sekarang ini tetap suamimu dan kau adalah istriku yang sah. Kau tidak bisa berbuat semaumu…..” Nyonya Santoso diam. Kini untuk pertama kalinya ia melihat suaminya marah. Sejak lama ia sebenarnya mengharapkan amarah suaminya ini. Harapan itu justru dinantikannya pada awal persahabatanya dengan Basri. Kini masalahnya sudah terlambat. Apa yang terjalin antara dirinya dan Basri sekarang ini sudah demikian mendalamnya. Tak mungkin dipisahkan lagi dan iapun tak mungkin kembali. Andai saja hal ini terjadi awal persahabatannya, tentunya semuanya mudah diatur. “Lima tahun aku berdiam diri. Karena selama itu kau masih tetap melakukan tugasmu sebagai seorang ostri dan ibu. Tapi akhir-akhir ini, kau pikir sendiri tentang kelakuanmu. Kalau aku bepergian, kau tidak pernah berdiam diri di rumah. Aku di rumahpun kau baru sore, kadang-kadang malam, baru pulang,” ujar tuan Santoso mencoba berlaku sabar, meskipun dalam hati masih mendidih amarahnya. “Tapi sudah kaukatakan, buat apa diulang-ulang kembali?” bentak nyonya Santoso. “Kau bisa diajak berunding atau tidak?” “Apakah begitu caranya orang berunding. Aku sudah bilang padamu =, aku mencintai laki- laki lain. Aku ingin cerai!” “Perceraian terlalu mengenakkan dirimu. Kau tidak akan kuceraikan !” Nyonya Santoso kaget oleh keputusan suaminya. “Apa maumu?” tanyanya. “Kau telah berlaku kejam terhadap diriku, suamimu sendiri. Akupun bisa berbuat yang sama. Mulai sekarang aku larang kau keluar rumah seorang diri.” “Kau tidak berhak melarangku, “ teriak nyonya Santoso. “Aku punya hak, karena aku suamimu dan kau istriku.” “Tidak. Kau tidak berhak menyebut dirimu sebagai suamiku. Kau laki-laki pengecut. Kau pengecut!” “Persetan dengan segala pendapatmu. Tapi ini sudah keputusanku. Hendaknya kau sadari, jika skandal rumah tangga ini sampai bocor ke luar, maka nama baik Basri sebagai pengarang akan tersangkut pula…..”
  29. 29. 29 “Kau jangan mengancam aku,. Seujung rambut sajakau sakiti Basri, aku akan membunuh kedua anakmu dan kemudian aku sendiri akan bunuh diri. Kau camkan baik-baik omonganku ini. Aku bukan cum asok mengertak. Jika kau larang aku keluar rumah…..” “Kau benar-benar wanita berhati iblis,” tukas tuan Santoso memotong omongan istrinya. Apa yang dikatakan istrinya itu benar-benar berada di luar dugaannya. Tak disangka bahwa istrinya akan mau berbuat sekekam itu. “Aku memang wanita iblis karenanya ceraikan aku…..!” “Cerai? cerai? oh, tidak ! kau tidak akan mendapat apa yang kau kehendaki itu.” Habis bicara demikian tiba-tiba saja tuan Santoso tertawa menyeramkan…… * * * Malam itu selesai makan bersama, Nancy diajak duduk di ruang tamu oleh pak Hardjo. Laki- laki yang berusia hampir setengan abad ini sudah menganggap Nancy sebagai anaknya sendiri. Apalagi ketika mereka dulu pertama kali berkenalan di Amerika, Nancy baru berusia 17 tahun. Dari istrinya ia mendapat laporan bahwa keadaan Nancy tambah lama menjadi tambah parah. Suka melamun, terutama setelah kedatangan pengarang yang bernama Basri seminggu yang lalu. “Coba kau ceritakan, apa masalahmu akhir-akhir ini?” ujar pak Hardjo memulai pembicaraan. “Tidak apa-apa” jawab Nancy seraya tersenyum. “Kau jangan mengelabuhi kami berdua. Kami melihat perubahan yang menyolok pada dirimu.” “Aku betul2 tak apa-apa. Besok aku akan ke Semarang.” “Untuk membaca puisi lagi?” “Ya dan diskusi sastra dengan mahasiswa jurusan sastra Indonesia di sana.” “Lalu bagaimana hubungan dengan sahabatmu itu. Siapa namanya, Basri?.” “Betul. Tidak ada apa-apa antara kami, cuma sekedar sahabat baik.” “Ia mwnulis tentang dirimu bagus sekali. Apakah kau tersinggung dengan kritiknya terhadap sajak-sajakmu?” “Itu memang haknya untuk mengulas. Aku sama sekali tidak tersinggung.” “Apakah ia sudah beristri?” “Belum” “Nah tunggu apa lagi? Kaupun sudah tiba waktunya untuk menikah.” “Kok segampang itu,” jawab Nancyy tersenyum cerah. “Lalu mau tunggu apa lagi? kau tidak dapat menipu mata kami berdua. Kau jatuh cinta padanya.” “Ajaklah ia kemari lagi, biar kami yang mengatur semuanya,” ujar bu Hardjo tiba-tiba ikut menimbrung dalam pembicaraan. “Kau jangan menipu kami Nan. Aku tahu kau sangat mencintai nya. Sepanjang hari kau melamun terus” sambung bu Hardjo. “Aku bukan melamun, aku mencari ilham.’ Jawaban itu membuat kedua suami-istri itu tertawa. Nancy jadi kikuk dengan sendirinya. “Kau mampirlah ke Surabaya kalau mau ke Semarang. Mungkin ia dapat mengawanimu. Siapa tahu dengan saling mengenal lebih akrab kalian bisa saling mengetahui persaan masing-msing.,” ujar pak Hardjo. Nancy sangat berterimakasih kepada suami istri yang sangat memperhatikan dirinya ini.
  30. 30. 30 Di sinilah hatinya selalu berontak. Mengapa suami -istri yang begini baik oleh Tuhan diberi percobaan yang maha berat dengan dikarunia seorang anak cacat. Ia tak habis mengerti di mana letak keadilan Tuhan itu. “Nancy, tahukah bahwa sebenarnya kau adalah seoang gadis yang cantik?” tiba-tiba kat pak Hardjo. “Siapa bilang Nancy jelek? bantah bu Hardjo. “Karena itulah aku bilang Nancy sebenarnya seorang gadis yang cantik,” ujar pak Hardjo, lalu sambungnya: “Cuma, kau terlalu masa bodoh dalam merawat dirimu. Kau kenakan pakaian seenakmu sendiri. Pakai jeans, kaos, sudah. Pada hal kita ini hidup di bumi Indonesia dimana wanita diukur dari kecantikannya dan bukan dari kepandaian otaknya. Kau harus memaklumi keadaan di sini. Kau berhiaslah sedikit-sedikit.” Nancy tersenyum. “Apakah artinya kecantikan bagi seorang gadis seperti aku ini? Selalu gelisah. Aku ingin menghayati kehidupan ini seperti apa adanya….” “Tapii kau mencintai seoang laki-laki dan itu berarti kau terjun ke dalam kancah persaingan,” ujar pak Hardjo. “Manusia seperti Basri pasti dikerubuti banyak wanita. Ia masih muda, punya nama dan wajah yang cakap lagi,” tambah bu Hardjo. “Lalu apa yang harus saya perbuat? jawab Nancy seolah putus asa. “Cinta itu memang datangnya seperti pencuri di malam hari. Ia datang dengan tiba-tiba saja. Kita tidak bisa menduga terlebih dahulu. Meskipun demikian untuk mendapatkan cinta kit aharus berjuang, merebutnya, dan karena itu kita harus menghadapi lawan-lawan kita,” ujar pak Hardjo seraya menatap wajah Nancy dengan penuh pengertian. “Mengapa kau menolak ketika ia mengajakmu pindah ke Surabaya?” tiba-tiba tanya bu Hardjo. “Seperti yang kukatakan, ada wanita lain,” jawab Nancy. “Tapi wanita itu punya suami; berarti istri laki-laki lain. Apa yang ada sekarang ini cuma sekedar keisengan melulu. Kau jangan terlalu memeikirkan masalah itu. Apalagi Basri memang orang pengarang. Kelemahan seniman adalah justru dalam masalah sex. Kau harus dapat memaklumi hal itu,” ujar bu Hardjo. “Aku tak sependapat jika masalah sex menjadi masalah yang utama bagi setiap seniman. Yang terang tidak padaku sendiri. Sex bagiku adalah sesuatu yang suci yang tidak bisa diobrak begitu saja. Sex memiliki keluruhan tersendiri,” bantah Nancy. “Kau boleh berpendapat demikian. Tapi yang kau hadapi dalah seorang seniman yang sudah jadi. Basri sudah membangun dirinya dan ia sudah terbentuk. Ia tak mungkin lagi mengikuti jalan pikiranmu. Kau yang harus menuruti jalan pikirannya. Inilah memang nasib kaum wanita. Harus berdiri di belakang jalan pikiran sang lelaki,” ujar bu Hardjo dengan sabar. “Mungkin aku memang mencintai Basri. Tapi dunia kita saling berbeda…..,” ujar Nancy. “Mengapa bisa demikian. Yang satu seniman yang satu seniwati. Apa bedanya?’ bantah pak Hardjo. “Di situlah justru problemnya. Kami mempunyai kegiatab masing-masing. Ia beanggapan bahwa manusia seperti diriku ini harus berkarya, mencipta terus-meneerus untuk bis hidup. Sedangkan menurut pendapatku, seniman tidak seharusnya bebuat demikian. Apa artinya uang jika kita tidak merasa bahagia?” jawab Nancy. Pak Hardjo tidap dapat berkata apa-apa lagi. Alasan itu sudah diketahui lewat istrinya. Nancy sudah pernah bercerita yang demikian pada istrinya. Dalam hati kecilnya ia sebenarnya membenarkan apa yang diutarakan oleh Basri. Seniman betapapun juga adalah manusia dan sebagai manusia ia butuh hidup dan untuk bisa hidup orang memerlukan uang.
  31. 31. 31 Sedangkan uang bagi seorang seniman baru didapat kalau ia berkarya. Kalau tidak, apa yang mau dijualnya? Tapi iapun tidak dapat menyalahkan sepenuhnya pendapat Nancy. Pengarang-pengarang novel di Indonesia sudah memberikan bukti. Mereka berkarya asal berkarya dan akibatnya novel-novel yang diterbitkan di Indonesia sangat miskin nilainya. Tidak ada bobot sama sekali. Missi yang dibawanya tidak jelas asal jadi. “Okelah besok aku mampir dulu ke Surabaya sebelum ke Semarang,” jawab Nancy akhirnya. Kedua suami-istri itu tersenyum penuh pengertian. * * * Ketika keesokan harinya jam sepuluh pagi Nancy sampai di rumah Basri, rumah itu kosong tertutup. Ia mengetuk, tak ada jawaban. “Basri pasti pergi,” keluhnya dalam hati. Ia kemudian duduk di teras muka menunggu. Konsep ceramah yang akan dibawakan di Semarang di bacanya untuk melewatkan waktunya. Sejam, dua jam sampai tiga jam ia menunggu, tapi Basri tak kunjung tiba. Ia masih hendak menunggu terus, tapi perutnya merasa lapar. Ia segera beranjak dari tempat duduknya di teras muka lalu berjalan melihat keadaan tetangga Basri. Tak ada seorangpun yang berjualan. Seorang tukang becak yang kebetulan lewat distopnya. “Bang , apa di dekat sini ada orang jual makanan?” tanyanya. Pertanyaan itu sudah barang tentu mengherankan bang becak. “dekat situ ada yang jual nasi pecel,” jawabnya masih diliputi rasa heran. “Jauh?” “Tidak. Paling-paling cuma sepuluh rumah dari sini. Yang cat hijau itu. Atau marilah naik,” ujar bang becak menawarkan jasa baiknya. “Biarlah aku jalan saja.” “Naik sajalah,” ujar bang becak menawarkan jasa bauknya. Nnancy tak membantah lagi. Ia duduk di becak dan bang becak mengayuhkan becaknya ke depan. Sebentar saja sudah sampai. “Nah di sini tempatnya,” katanya. “Berapa bang?” tanya Nancy. “Tak usahlah,” kata bang becak. Nancy cuma senyum, penuh perasaan terima kasih. Di kota besar seperti Surabya ini masih menjumpai orang-orang yang penuh dengan cinta kasih terhadap sesamanya. Justru itulah sebabnya ia kian merasa dekat dengan rakyat jelata dan ingin secara akrab mendalami kehidupan mereka. Memasuki warung nasi pecel itu Nancy segera memesan seporsi sambil makan ia bertanya: “Berapa seporsi ini, bu,” tanyanya “Enampuluh rupiah sama tehnya.” Jawaban ini benar-benar diluar dugaan Nancy, Ia semula menduga bahwa harga seporsi paling murah seratus limapuluh rupiah. Seporsi ia sudah merasa kenyang dan ia segera teringat akan anjuran hidup sederhana yang didengungkan oleh pejabat yang memerintah di republik ini. Seandainya semua orang memang mau hiduo sederhana, pastilah korupsi tidak membudaya di republik ini. Seandainya……… Selesai makan, Nancy kembali ke pavilyun Basri.
  32. 32. 32 Ia duduk di lantai bersandarkan dinding jendela. Sejam lagi ia menunggu, tapi Basri juga belum pulang. Sejam lagi ia juga pulang. Akhirnya ia diserang rasa ingin tidur yang luar biasa. Ia memejamkan matanya dan tanpa terasa ia tidur dengan lelapnya. * * * Basri hari ini baru pulang setengah lima sore. Ia sibuk sekali hari ini. Ia harus menyerahkan naskah untuk mengisi ruangan di hari-harian yang diasuhnya dan mengambil honorariumnya di berbagai surat kabar. Nampaknya memang cuma pekerjaan yang gampang, mengambil honorarium. Tapi dengan redaktur-redaktur surat kabar yang sudah dikenalnya dengan baik ia tak bisa meminta begitu saja lalu pulang. Alangkah terkejut hatinya ketika dilihatnya Nancy tertidur bersandar ke didinding jendela rumahnya begitu saja. Ia hendak segera memanggil gadis itu, tetapi ketika dilihatnya betapa lelapnya gadis itu ia tak tega membangunkan. Pintu pavilyunnya segera dibuka kemudian dengn sangat hati-hati didukungnya Nancy masuk lalu direbahkan di atas kasurnya. Gadis itu masih juga tidak terjaga. Alangkah lelapnya ia tertidur. Membuka map yang dibawa Nancy dilihatnya secarik karcis bis, dilihatnya jam berangkat dari Malang pukul setengah tujuh pagi. “Ia menunggu terlalu lama,” gumamnya seorang diri. Dengan hati-hati sekali ia melepas sepatunya takut membuat berisik yang bisa membuat gadis itu terjaga. Ia kemudian merebahkan diri di sisi gadis itu. Dipandanginga tanpa jemu-jemu wajah yang gadis yang dicintainya. Setengah jam kemudian Nancy mulai sadar. Ia sangat terkejut ketika dilihatnya Basri di dekatnya dan ia tertidur di kasur. Ia segera bangkit dan duduk sehingga membuat Basri terkejut. “Bagaiman aku bisa di sini?” tanyanya seolah pada diri sendiri. “Aku mendukungmu kemari. Kau tertidur di luar seperti orang bambungan tadi,” jawab Basri. “Oh,” cuma itu yang dapat dikatakan Nancy sambil lemudian ia merebahkan kembali tubuhnya. “Lama kau menunggu diluar?” “Aku tadi datang pukul sepuluh.” “Maaf aku membuat lama menunggu,” ujar Basri seraya memegang jari tangan Nancy. “Aku yang salah. Aku tak sempat mengabarimu. Tapi ini kan dalam rangka memenuhi janjiku bahwa aku pasti datang lagi ke Surabaya?” Basri tersenyum. Tiba-tiba Nancy bergerak duduk lagi. “jam berapa sekarang?’ tanyanya. Basri terkejut untuk kesekian kalinya. Sambil menengok arlojinya ia berkata : “Jam lima lewat lima menit. Menapa?’’ “Oh, aku harus cepat-cepat, kalau tidak aku terlambat pegi ke Semarang,” kata Nancy seraya melompat bangun. Ia berkaca untuk membetulkan letak rambutnya dan ketika hendak ke ruang muka mencari mapnya Basri menarik tangannya. “Kau mau kemana?” tanyannya. “Semarang.”
  33. 33. 33 “Gila kau. Masa datang ke Surabaya cuma sejam dua jam.” Aku memang cuma singgah sebentar di sini. Maksudku untuk melewatkan waktu sejak pagi tadi bersama kau. Tapi kau tidak pulang-pulang. Aku harus membeli karcis bis ke Semarang, kalau tidak aku bisa kehabisan tempat……” “Haruskah kau ke Semarang hari ini juga?’’ “Ya. Malam besok aku ada ceramah dan diskusi puisi” “Persetan dengan segala macam diskusi dan ceramah,” kata Basri seraya menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Ia tidak mencium gadis ini, melainkan mendekapkan kepala Nancy ke dadanya. “Aku gembira kau mau datang,” bisiknya. Nancy tetap diam. Ia tak tahu kemelut apa yang ada da;am hatinya. Haruskah ia gembira, bahagia ataukah menyesal telah datang ke tempat Basri? “Aku harus berangkat Basri,” bisiknya lirih. “Mengapa harus sekarang? kau berangkatlah besok. Kita sama-sama berangkat dengan pesawat. Bukankah ceramahmu malam hari?” “Kau benar-benar hendak mengantarkan aku ke Semarang?” “Tentu.” Lalu keduanya terbuai dalam pelukan dan kecupan yamg mesra. * * * Keesokan harinya mereka bangun pagi-pagi, karena informasi didapat mereka semalam, penerbangan ke Semarang cuma dua kli sehari. Pertama pukul tujuh lewat lima belas menit dan pukul empat sore hari. Jam lima Nancy sudah siap. Ketika mereka mau berangkat, tiba-tiba terdengar jeritan rem becak yang berhenti di depan rumah dan bang becak yang nampaknya ragu-ragu mendatangi mereka. “Ini betul alamat tuan Basri?” tanyanya. “Betul,” jawab Basri. “Ini ada surat buat tuan,” kata bang becak. “Dari?” “Dari nyonya Santoso……..” Baik Basri maupun Nancy terkejut. Basri terkejut karena sudah agak lama nyonya Santoso tidak muncul dan kini tiba-tiba saja mengirim surat. Sedangkan Nancy terkejut dan ia selalu selalu terkejut kalau mendengar nama itu. Basri segera menerima sura itu, membuka dan membacanya. Setelah membaca ia segera berkata: “Sampaikan pada nyonya Santoso suratnya sudah kuterima dan aku mengerti isinya.” Bank becak segera meninggalkan pavilyun itu. Wajah Basri beubah sesudah membaca surat itu. “Ada persoalan?” tanya Nancy. “Kau bacalah sendiri,” lalu surat itu dibeikan kepada Nancy. Mula-mula Nancy segan membaca, Tapi Basri mendesaknya sehingga akhirnya mau juga ia membaca : “Basri yang kucinta, Suamiku marah karena hubungan kita. Aku tidak diperbolehkan keluar akhir-akhir ini. Iapun tak mau menceraikan diriku sengaja untuk menyakiti hatiku. Sore nanti aku ke dokter gigi langganan kita itu. Jumpai aku disana, jangan tidak. Erna !
  34. 34. 34 Nancy jadi lemas setelah membaca surat itu. Namun sedapatnya ia berusaha menguasai gejolak hatinya. “biarlah aku beangkat sendiri. Kau uruslah dia,” katanyan memecah kesunyian. Basri ak segera memberikan reaksi. Ia masih bingung untuk memilih. Akhirnya berkata: “Kau berangkatlah dulu hari ini. Besok aku susul kau. Menginaplah di hotel Telomoyo” Nancy tersenyum getir. “Baiklah kau selesaikan urusanmu di Surabaya dulu,” katanya kemudian. Ketika dilihatnya Basri tetap membisu Nancy berkata lagi: “Kau sih ada-ada saja.” “Apanya yang ada-ada?” balas Basri bertanya. “Dengan nyonya Santosoitu. Padanya tentu kau perna berkata bahwa kau sangat mencintainya dan padaku kata-kata yang sama sudah terlalu banyak kauhamburkan.” “Aku memang benar-benar mencintaimu, Nancy” “Lalu nyonya Santoso itu mau kau apakan? Apapun sebutan nya untuk dirinya, tidak pantas kau cuma meninggalkannyabegitu saja. Lebih-lebih pada saat seperti sekarang ini di mana kemelut telah melanda rumah tangganya.” “Kau angan membingungkan aku.” “aku tidak membingungkan kau. Itu cuma soal kenyataan. Kau harus berani menghadapi kenyataan. Kau jangan sibukkan dirimu dalam soalku. Soalku gampang saja. Tidak ada kemelut.” Berkata sampai di situ Nancy menghentikan kalimatnya. Benarkah kau tidak ada kemelut dalam dirinya menghadapi laki-laki ini. Bukankah kemelut itu justru yang membuat hidupnya terombang-ambing akhir-akhir ini? Sesaat kemudian taxi yang kemarin dipesan tiba dimuka rumah. “Aku beangkat dulu,” kata Nancy, Ia hendak cepat-cepat pergi dari tempat yang penuh dengan kemelut ini. Tapi Basri segera berkata: “Aku antarkan kau ke airport.” “Biarlah aku pergi sendiri,” jawab Nancy. Ingin sebenarnya berangkat sendiri” agar ia bisa menentramkan diri. Tapi ia juga tahu bahwa Basri pasti akan mengantarkan karena ia memang tidak mempunyai uang intuk membeli tiket. Dan Basri janji akan membelikan Ah, mengapa ia kemarin mau ketika diusulkan untuk naik pesawat andai ia jadi berangkat kemarin dan tidak menunggu sampai Basri pulang, bukankah tidak akan terjadi seperti sekarang ini? Bukankah ia tidak akan tahu kalau ada kemelut pada diri nyonya Santoso? Sekarang ia mau tak mau harus tahu dan sebagai sesama wanita, lebih-lebih sebagai seorang seniwati, ia memaklumi bagaimana pusingnya menghadapi kemelut seperti yang dihadapi nyonya Santoso. Sampai saat ini ia masih tidak dapat memberikan keputusan yang tepat, apakah orang-orang seperti nyonya Santoso itu pantas dijuluki sampah masyarakat atau tidak. Menurut Basri, nyonya Santoso adalah seorang wanita yang kaya, punya suami dan anak, dari luar nampaknya bahagia, apa lagi sekarang yang dikejar oleh seorang perempuan kalau ia sudah punya rumah tangga, suami yang baik dan anak-anak yang sehat. Apalagi yang dicari perempuan itu pada Basri, perempuan itu telah memperolehnya dari suaminya. Apa sekarang? Kehangatan cinta. Basri dengan segala sifatnya yang masa bodoh, dengan bicaranya yang blak-blakan membuat wanita menyukainya. Kalau seandainya benar apa yang didambakan pada diri Basri cumalah sekedar satu kehangatan cinta, maka pantaskah

×