DASAR HUKUM PEMBUATAN   PERJANJIAN KERJA Nugraha Pranadita
HUBUNGAN KERJAHUBUNGAN ANTARA PENGUSAHA DENGANPEKERJA/ BURUH BERDASARKAN PERJANJIANKERJA YANG MEMPUNYAI UNSUR :           ...
PERJANJIAN KERJAPERJANJIAN KERJA ADALAH PERJANJIAN ANTARA PEKERJA/BURUHDENGAN PENGUSAHA ATAU PEMBERI KERJA YANG MEMUATSYAR...
DASAR PEMBUATAN PERJANJIAN KERJAa. PERJANJIAN KERJA DIBUAT SECARA TERTULIS ATAU LISAN   (BAB IX,     Pasal 51, Ayat 1. UU ...
ISI MATERI PERJANJIAN KERJA                            (YANG DIBUAT SECARA TERTULIS)A. NAMA, ALAMAT PERUSAHAAN, DAN JENIS ...
PERJANJIAN KERJA   A. WAKTU TERTENTU   B. WAKTU TIDAK TERTENTU   BAB IX, Pasal 56, Ayat 1   UU No. 13 Tahun 2003PERJANJIAN...
SYARAT PERJANJIAN KERJA WAKTU TERTENTUA.   PERJANJIAN KERJA UNTUK WAKTU TERTENTU DIBUAT SECARA     TERTULIS SERTA HARUS ME...
LARANGAN PERJANJIAN KERJA                 WAKTU TERTENTU      PERJANJIAN KERJA UNTUK WAKTU TERTENTU      TIDAK DAPAT DIADA...
JANGKA WAKTUA. PERJANJIAN KERJA WAKTU TERTENTU YANG DIDASARKAN ATAS  JANGKA WAKTU TERTENTU DAPAT DIADAKAN UNTUK PALING  LA...
JANGKA WAKTUC.   PEMBARUAN PERJANJIAN KERJA WAKTU TERTENTU HANYA DAPAT     DIADAKAN SETELAH MELEBIHI MASA TENGGANG WAKTU 3...
PERJANJIAN KERJA SECARA LISAN1.   PERJANJIAN        KERJA       UNTUK   WAKTU    TERTENTU       YANG   DIBUAT   TIDAK   TE...
PKWT UNTUK PEKERJAAN BERSIFAT                MUSIMAN1. Pekerjaan        yang      bersifat       musiman   adalah   pekerj...
PKWT UNTUK PEKERJAAN BERSIFAT               MUSIMAN3.   Pekerjaan‑pekerjaan yang harus dilakukan untuk memenuhi     pesana...
PKWT UNTUK PEKERJAAN BERSIFAT              MUSIMAN5. Pengusaha yang mempekerjakan pekerja/buruh berdasarkan PKWT   sebagai...
PKWT UNTUK PEKERJAAN YANG SEKALI                SELESAI ATAU SEMENTARA SIFATNYA1.   PKWT untuk pekerjaan yang sekali seles...
PKWT UNTUK PEKERJAAN YANG SEKALI           SELESAI ATAU SEMENTARA SIFATNYA5.   Dalam hal PKWT dibuat berdasarkan selesainy...
PKWT PEKERJAAN BERHUBUNGAN                   PRODUK BARU1.   PKWT      dapat      dilakukan       dengan   pekerja/buruh  ...
PKWT PEKERJAAN        BERHUBUNGAN PRODUK BARUPKWT sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 hanya bolehdiberlakukan    bagi  peke...
PERJANJIAN KERJA HARIAN LEPAS1.   Untuk pekerjaan‑pekerjaan tertentu yang berubah‑ubah dalam hal     waktu dan volume peke...
PERJANJIAN KERJA HARIAN LEPASPerjanjian kerja harian lepas yang memenuhi ketentuansebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat...
PERJANJIAN KERJA HARIAN LEPAS1.   Pengusaha yang mempekerjakan pekerja/buruh pada pekerjaan sebagaimana     dimaksud dalam...
PENCATATAN PKWTPKWT wajib dicatatkan oleh pengusaha kepada instansi yangbertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan kabupa...
PERUBAHAN PKWT MENJADI PKWTT1.   PKWT yang tidak dibuat dalam bahasa Indonesia dan huruf latin berubah menjadi PKWTT     s...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Perjanjian kerja

8,424 views

Published on

0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
8,424
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
15
Actions
Shares
0
Downloads
223
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Perjanjian kerja

  1. 1. DASAR HUKUM PEMBUATAN PERJANJIAN KERJA Nugraha Pranadita
  2. 2. HUBUNGAN KERJAHUBUNGAN ANTARA PENGUSAHA DENGANPEKERJA/ BURUH BERDASARKAN PERJANJIANKERJA YANG MEMPUNYAI UNSUR : - PEKERJAAN - UPAH - PERINTAHBAB I, Pasal 1, Nomor 15 UU No. 13 Tahun 2003 2
  3. 3. PERJANJIAN KERJAPERJANJIAN KERJA ADALAH PERJANJIAN ANTARA PEKERJA/BURUHDENGAN PENGUSAHA ATAU PEMBERI KERJA YANG MEMUATSYARAT SYARAT KERJA, HAK, DAN KEWAJIBAN PARA PIHAKBAB I, Pasal 1, Nomor 14UU No. 13 Tahun 2003PERJANJIAN KERJA YANG DIBUAT OLEH PENGUSAHA DANPEKERJA/BURUH TIDAK BOLEH BERTENTANGAN DENGANPERJANJIAN KERJA BERSAMABAB XI, Pasal 127, Ayat 1UU No. 13 Tahun 2003 3
  4. 4. DASAR PEMBUATAN PERJANJIAN KERJAa. PERJANJIAN KERJA DIBUAT SECARA TERTULIS ATAU LISAN (BAB IX, Pasal 51, Ayat 1. UU No. 13 Tahun 2003).b. KESEPAKATAN KEDUA BELAH PIHAKc. KEMAMPUAN ATAU KECAPAKAPAN MELAKUKAN PERBUATAN HUKUMd. ADANYA PEKERJAAN YANG DIPERJANJIKANe. PEKERJAAN YANG DIPERJANJIKAN TIDAK BERTENTANGAN DENGAN KETERTIBAN UMUM, KESUSILAAN, DAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN YANG BERLAKU b, c, d & e BAB IX, Pasal 52, Ayat 1 4 UU No. 13 Tahun 2003
  5. 5. ISI MATERI PERJANJIAN KERJA (YANG DIBUAT SECARA TERTULIS)A. NAMA, ALAMAT PERUSAHAAN, DAN JENIS USAHAB. NAMA, JENIS KELAMIN, UMUR, DAN ALAMAT PEKERJA/BURUHC. JABATAN ATAU JENIS PEKERJAAND. TEMPAT PEKERJAANE. BESARNYA UPAH DAN CARA PEMBAYARANNYAF. SYARAT-SYARAT KERJA YANG MEMUAT HAK DAN KEWAJIBAN PENGUSAHA DAN PEKERJA/BURUHG. MULAI DAN JANGKA WAKTU BERLAKUNYA PERJANJIAN KERJAH. TEMPAT DAN TANGGAL PERJANJIAN DIBUATI. TANDA TANGAN PARA PIHAK DALAM PERJANJIAN KERJA 5 BAB IX, Pasal 54, ayat 1 UU No. 13 Tahun 2003
  6. 6. PERJANJIAN KERJA A. WAKTU TERTENTU B. WAKTU TIDAK TERTENTU BAB IX, Pasal 56, Ayat 1 UU No. 13 Tahun 2003PERJANJIAN KERJA WAKTU TERTENTU A. JANGKA WAKTU ATAU B. SELESAINYA SUATU PEKERJAAN TERTENTU BAB IX, Pasal 56, Ayat 2 UU No. 13 Tahun 2003 6
  7. 7. SYARAT PERJANJIAN KERJA WAKTU TERTENTUA. PERJANJIAN KERJA UNTUK WAKTU TERTENTU DIBUAT SECARA TERTULIS SERTA HARUS MENGGUNAKAN BAHASA INDONESIA DAN HURUF LATIN (BAB IX, Pasal 57, Ayat 1. UU No. 13 Tahun 2003).B. PERJANJIAN KERJA UNTUK WAKTU TERTENTU TIDAK DAPAT MENSYARATKAN ADANYA MASA PERCOBAAN KERJA (BAB IX, Pasal 58, Ayat 1. UU No. 13 tahun 2003). JENIS, SIFAT/KEGIATAN PEKERJAANNYAA. PEKERJAAN YANG SEKALI SELESAI ATAU SEMENTARA SIFATNYAB. PEKERJAAN YANG DIPERKIRAKAN PENYELESAIANNYA DALAM WAKTU YANG TIDAK TERLALU LAMA DAN PALING LAMA 3 (TIGA) TAHUNC. PEKERJAAN YANG BERSIFAT MUSIMAN, ATAUD. PEKERJAAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN PRODUK BARU, KEGIATAN BARU, ATAU PRODUK TAMBAHAN YANG MASIH DALAM PERCOBAAN ATAU PENJAJAKAN 7BAB IX, Pasal 59, Ayat 1UU No. 13 Tahun 2003
  8. 8. LARANGAN PERJANJIAN KERJA WAKTU TERTENTU PERJANJIAN KERJA UNTUK WAKTU TERTENTU TIDAK DAPAT DIADAKAN UNTUK PEKERJAAN YANG BERSIFAT TETAPBAB IX, Pasal 59, Ayat 2 UU No. 13 Tahun 2003 8
  9. 9. JANGKA WAKTUA. PERJANJIAN KERJA WAKTU TERTENTU YANG DIDASARKAN ATAS JANGKA WAKTU TERTENTU DAPAT DIADAKAN UNTUK PALING LAMA 2 (DUA) TAHUN DAN HANYA BOLEH DIPERPANJANG 1 (SATU) KALI UNTUK JANGKA WAKTU PALING LAMA 1 (SATU) TAHUN. (BAB IX, Pasal 59, Ayat 4. UU No. 13 Tahun 2003)B. PENGUSAHA YANG BERMAKSUD MEMPERPANJANG PERJANJIAN KERJA WAKTU TERTENTU TERSEBUT, PALING LAMA 7 (TUJUH) HARI SEBELUM PERJANJIAN KERJA WAKTU TERTENTU BERAKHIR TELAH MEMBERITAHUKAN MAKSUDNYA SECARA TERTULIS KEPADA PEKERJA/BURUH YANG BERSANGKUTAN. (BAB IX, Pasal 59, Ayat 5. UU No. 13 Tahun 2003) 9
  10. 10. JANGKA WAKTUC. PEMBARUAN PERJANJIAN KERJA WAKTU TERTENTU HANYA DAPAT DIADAKAN SETELAH MELEBIHI MASA TENGGANG WAKTU 30 (TIGA PULUH) HARI BERAKHIRNYA PERJANJIAN KERJA WAKTU TERTENTU YANG LAMA, PEMBARUAN PERJANJIAN KERJA WAKTU TERTENTU INI HANYA BOLEH DILAKUKAN 1 (SATU) KALI DAN PALING LAMA 2 (DUA) TAHUN. (BAB IX, Pasal 59, Ayat 6. UU No. 13 Tahun 2003)D. PERJANJIAN KERJA UNTUK WAKTU TERTENTU YANG TIDAK MEMENUHI KETENTUAN SEBAGAIMANA DIMAKSUD DALAM AYAT (1), AYAT (2), AYAT (4), AYAT (5), DAN AYAT (6) MAKA DEMI HUKUM MENJADI PERJANJIAN KERJA WAKTU TIDAK TERTENTU. (BAB IX, Pasal 59, Ayat 7. UU No. 13 Tahun 2003) 10
  11. 11. PERJANJIAN KERJA SECARA LISAN1. PERJANJIAN KERJA UNTUK WAKTU TERTENTU YANG DIBUAT TIDAK TERTULIS BERTENTANGAN DENGAN KETENTUAN SEBAGAIMANA DIMAKSUD DALAM AYAT (1) DINYATAKAN SEBAGAI PERJANJIAN KERJA UNTUK WAKTU TIDAK TERTENTU. (BAB IX, Pasal 57, Ayat 2. UU No. 13 Tahun 2003).2. DALAM HAL PERJANJIAN KERJA WAKTU TIDAK TERTENTU DIBUAT SECARA LISAN, MAKA PENGUSAHA WAJIB MEMBUAT SURAT PENGANGKATAN BAGI PEKERJA/BURUH YANG BERSANGKUTAN. (BAB IX, Pasal 63, Ayat 1. UU No. 13 Tahun 2003).3. SURAT PENGANGKATAN SEBAGAIMANA DIMAKSUD DALAM AYAT (1), SEKURANG- KURANGNYA MEMUAT KETENTUAN: a. NAMA DAN ALAMAT PEKERJA/BURUH b. TANGGAL MULAI BEKERJA c. JENIS PEKERJAAN; DAN d. BESARNYA UPAH 11BAB IX, Pasal 63, Ayat 2UU No. 13 Tahun 2003
  12. 12. PKWT UNTUK PEKERJAAN BERSIFAT MUSIMAN1. Pekerjaan yang bersifat musiman adalah pekerjaan yang pelaksanaannya tergantung pada musim atau cuaca.2. PKWT yang dilakukan untuk pekerjaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) (nomor 1 diatas) hanya dapat dilakukan untuk satu jenis pekerjaan pada musim tertentu. BAB III, Pasal 4, ayat 1 & 2 Kep. Men. Tenaga Kerja Dan Transmigrasi No. Kep.100/MEN/VI/2004 12
  13. 13. PKWT UNTUK PEKERJAAN BERSIFAT MUSIMAN3. Pekerjaan‑pekerjaan yang harus dilakukan untuk memenuhi pesanan atau target tertentu dapat dilakukan dengan PKWT sebagai pekerjaan musiman.4. PKWT yang dilakukan untuk pekerjaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) (nomor 4 diatas) hanya diberlakukan untuk pekerja/buruh yang melakukan pekerjaan tambahan. BAB III, Pasal 5, Ayat 1 & 2 Kep. Men. Tenaga Kerja Dan Transmigrasi No. Kep.100/MEN/VI/2004 13
  14. 14. PKWT UNTUK PEKERJAAN BERSIFAT MUSIMAN5. Pengusaha yang mempekerjakan pekerja/buruh berdasarkan PKWT sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 harus membuat daftar nama pekerja/buruh yang melakukan pekerjaan tambahan. BAB III, Pasal 6. Kep. Men. Tenaga Kerja Dan Transmigrasi No. Kep.100/MEN/VI/20046. PKWT sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dan Pasal 5 (Kep. Men Tenaga Kerja Dan Transmigrasi No. Kep.100/MEN/VI/2004) tidak dapat dilakukan pembaharuan. BAB III, Pasal 7. Kep. Men. Tenaga Kerja Dan Transmigrasi No. Kep.100/MEN/VI/2004 14
  15. 15. PKWT UNTUK PEKERJAAN YANG SEKALI SELESAI ATAU SEMENTARA SIFATNYA1. PKWT untuk pekerjaan yang sekali selesai atau sementara sifatnya adalah PKWT yang didasarkan atas selesainya pekerjaan tertentu.2. PKWT sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dibuat untuk paling lama 3 (tiga) tahun.3. Dalam hal pekerjaan tertentu yang diperjanjikan dalam PKWT sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat diselesaikan lebih cepat dari yang diperjanjikan maka PKWT tersebut putus demi hukum pada saat selesainya pekerjaan.4. Dalam PKWT yang didasarkan atas selesainya pekerjaan tertentu harus dicantumkan batasan suatu pekerjaan dinyatakan selesai. BAB II, Pasal 3, Ayat 1 - 4 Kep. Men. Tenaga Kerja Dan Transmigrasi No. Kep.100/MEN/VI/2004 15
  16. 16. PKWT UNTUK PEKERJAAN YANG SEKALI SELESAI ATAU SEMENTARA SIFATNYA5. Dalam hal PKWT dibuat berdasarkan selesainya pekerjaan tertentu namun karena kondisi tertentu pekerjaan tersebut belum dapat diselesaikan, dapat dilakukan pembaharuan PKWT.6. Pembaharuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (5) dilakukan setelah melebihi masa tenggang waktu 30 (tiga puluh) hari setelah berakhirnya perjanjian kerja.7. Selama tenggang waktu 30 (tiga puluh) hari sebagaimana dimaksud dalam ayat (6) tidak ada hubungan kerja antara pekerja/buruh dan pengusaha.8. Para pihak dapat mengatur lain dari ketentuan dalam ayat (5) dan ayat (6) yang dituangkan dalam perjanjian. BAB II, Pasal 3, Ayat 5 - 8 Kep. Men. Tenaga Kerja Dan Transmigrasi No. Kep.100/MEN/VI/2004 16
  17. 17. PKWT PEKERJAAN BERHUBUNGAN PRODUK BARU1. PKWT dapat dilakukan dengan pekerja/buruh untuk melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan produk baru, kegiatan baru, atau produk tambahan yang masih dalam percobaan atau penjajakan.2. PKWT sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya dapat dilakukan untuk jangka waktu paling lama 2 (dua) tahun dan dapat diperpanjang untuk satu kali paling lama 1 (satu) tahun.3. PKWT sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak dapat dilakukan pembaharuan. BAB IV, Pasal 8, Ayat 1 - 3 17 Kep. Men. Tenaga Kerja Dan Transmigrasi No. Kep.100/MEN/VI/2004
  18. 18. PKWT PEKERJAAN BERHUBUNGAN PRODUK BARUPKWT sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 hanya bolehdiberlakukan bagi pekerja/buruh yang melakukanpekerjaan di luar kegiatan atau di luar pekerjaan yangbiasa dilakukan perusahaan.BAB IV, Pasal 9Kep. Men. Tenaga Kerja Dan TransmigrasiNo. Kep.100/MEN/VI/2004 18
  19. 19. PERJANJIAN KERJA HARIAN LEPAS1. Untuk pekerjaan‑pekerjaan tertentu yang berubah‑ubah dalam hal waktu dan volume pekerjaan serta upah didasarkan pada kehadiran, dapat dilakukan dengan perjanjian kerja harian lepas.2. Perjanjian kerja harian lepas sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan dengan ketentuan pekerja/buruh bekerja kurang dari 21 (dua puluh satu) hari dalam 1 (satu) bulan.3. Dalam hal pekerja/buruh bekerja 21 (dua puluh satu) hari atau lebih selama 3 (tiga) bulan berturut‑turut atau lebih maka perjanjian kerja harian lepas berubah menjadi PKWTT. BAB V, Pasal 10, Pasal 1 - 3 Kep. Men. Tenaga Kerja Dan Transmigrasi No. Kep.100/MEN/VI/2004 19
  20. 20. PERJANJIAN KERJA HARIAN LEPASPerjanjian kerja harian lepas yang memenuhi ketentuansebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1) dan ayat(2) dikecualikan dari ketentuan jangka waktu PKWT padaumumnya.BAB V, Pasal 11Kep. Men. Tenaga Kerja Dan TransmigrasiNo. Kep.100/MEN/VI/2004 20
  21. 21. PERJANJIAN KERJA HARIAN LEPAS1. Pengusaha yang mempekerjakan pekerja/buruh pada pekerjaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 wajib membuat perjanjian kerja harian lepas secara tertulis dengan para pekerja/buruh.2. Perjanjian kerja harian lepas sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat dibuat berupa daftar pekerja/buruh yang melakukan pekerjaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 sekurang‑kurangnya memuat : a. nama/alamat perusahaan atau pemberi kerja; b. nama/alamat pekerja/buruh; c. jenis pekerjaan yang dilakukan; d. besarnya upah dan/atau imbalan lainnya.3. Daftar pekerja/buruh sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) disampaikan kepada instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan setempat selambat‑lambatnya 7 (tujuh) hari kerja sejak mempekerjakan pekerja/buruh. BAB V, Pasal 12 Kep. Men. Tenaga Kerja Dan Transmigrasi 21 No. Kep.100/MEN/VI/2004
  22. 22. PENCATATAN PKWTPKWT wajib dicatatkan oleh pengusaha kepada instansi yangbertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan kabupaten/kotasetempat selambat‑lambatnya 7 (tujuh) hari kerja sejakpenandatanganan. BAB VI, Pasal 13. Kep. Men. Tenaga Kerja Dan TransmigrasiNo. Kep.100/MEN/VI/2004Untuk perjanjian kerja harian lepas sebagaimana dimaksud dalamPasal 10 maka yang dicatatkan adalah daftar pekerja/buruhsebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (2). BAB VI, Pasal 13. Kep.Men. Tenaga Kerja Dan Transmigrasi No. Kep.100/MEN/VI/2004 22
  23. 23. PERUBAHAN PKWT MENJADI PKWTT1. PKWT yang tidak dibuat dalam bahasa Indonesia dan huruf latin berubah menjadi PKWTT sejak adanya hubungan kerja.2. Dalam hal PKWT dibuat tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2), atau Pasal 5 ayat (2), maka PKWT berubah menjadi PKWTT sejak adanya hubungan kerja.3. Dalam hal PKWT dilakukan untuk pekerjaan yang berhubungan dengan produk baru menyimpang dari ketentuan Pasal 8 ayat (2) dan ayat (3), maka PKWT berubah menjadi PKWTT sejak dilakukan penyimpangan.4. Dalam hal pembaharuan PKWT tidak melalui masa tenggang waktu 30 (tiga puluh) hari setelah berakhirnya perpanjangan PKWT dan tidak diperjanjikan lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3, maka PKWT berubah menjadi PKWTT sejak tidak terpenuhinya syarat PKWT tersebut.5. Dalam hal pengusaha mengakhiri hubungan kerja terhadap pekerja/buruh dengan hubungan kerja PKWTT sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2) ,ayat (3) dan ayat (4), maka hak‑hak pekerja/buruh dan prosedur penyelesaian dilakukan sesuai ketentuan peraturan perundang‑undangan bagi PKWTT. BAB VII, Pasal 15, Ayat 1 - 5 23 Kep. Men. Tenaga Kerja Dan Transmigrasi No. Kep.100/MEN/VI/2004

×