Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Jurnal faktor yang mempengaruhi konsentrasi belajar

6,846 views

Published on

faktor yang mempengaruhi konsentrasi belajar

Published in: Health & Medicine
  • Be the first to comment

Jurnal faktor yang mempengaruhi konsentrasi belajar

  1. 1. 1STIKes Dharma Husada Bandung GAMBARAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KONSENTRASI BELAJAR ANAK USIA SEKOLAH DI SMP NEGERI 45 BANDUNG TAHUN 2017 Hj. Henti Sugesti, S.Kp., M.Kep1 , Jahidul Fikri Amrullah, M.Kep2 Veronika Natalia, S.Kep3 123 Program studi S1 Ilmu Keperawatan STIKes Dharma Husada Bandung Jl. Terusan Jakarta 75 Bandung ABSTRAK Pendidikan dapat terwujud dengan melakukan proses pembelajaran yang diarahkan dengan cara melakukan evaluasi hasil belajar. Salah satu tolak ukur dalam perwujudan belajar tersebut diperlukan konsentrasi belajar. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi konsentrasi belajar yaitu lingkungan fisik, guru, masyarakat, nutrisi sarapan pagi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran faktor yang mempengaruhi konsentrasi belajar anak di SMP Negeri 45 Bandung. Jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian sebanyak 102 siswa, dengan teknik total sampling sehingga diperoleh 102 responden. Instrumen pada penelitian ini menggunakan kuesioner. Hasil penelitian menunjukan konsentrasi belajar 29,4% yaitu kurang, lingkungan fisik kurang baik yaitu 82,4%, Hampir seluruhnya 98,0% siswa dipengaruhi oleh guru, sebagian besar 65,7% dipengaruhi oleh masyarakat yang tidak baik, asupan nutrisi yang tidak sarapan pagi yaitu 57,8%. Saran pihak sekolah dapat mengembangkan potensi guru yang lebih displin terhadap pembelajaran di kelas, sehingga anak dapat mempersiapkan diri untuk menerima materi pembelajaran yang akan disampaikan dan dapat meningkatan konsentrasi belajar. Education can be realized by making the learning process that is directed in a way to evaluate learning outcomes. One embodiment of the benchmark in the study required the concentrations studied. Factors that may affect the concentrations studied, namely the physical environment, teachers, communities, nutritional breakfast. This study aims to describe factors that affect children's learning concentration at SMP Negeri 45 Bandung. The type of this research descriptive with cross sectional approach. The study population of 102 students, with a total sampling technique in order to obtain 102 respondents. Instruments in this study using a questionnaire. The results showed that 29.4% of the concentrations studied less, poor physical environment that is 82.4%, 98.0% of students almost entirely influenced by teachers, 65.7% largely influenced by people who are not good, not nutrition breakfast is 57.8%. Suggestions school teachers can develop the potential of a more disciplined towards learning in the classroom, so that children can prepare to receive teaching materials that will be delivered and may increase the concentrations studied. Kata Kunci : Anak, Belajar, Konsentrasi, Usia Sekolah.
  2. 2. 2STIKes Dharma Husada Bandung PENDAHULUAN Salah satu pencapaian sumber daya manusia yang berkualitas, lebih di fokuskan untuk membentuk manusia yang bisa menikmati hidup sehat, mempunyai kesempatan meningkatkan ilmu pengetahuan dan hidup sejahtera. Peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia dilakukan secara terus menerus dengan tujuan meningkatkan harkat dan martabat manusia tidak saja untuk dirinya tetapi untuk bangsa dan negaranya (Purnakarya, 2010). Belajar diperlukan konsentrasi dalam perwujudan perhatian terpusat. Pemusatan perhatian tertuju pada suatu objek tertentu dengan mengabaikan masalah-masalah lain yang tidak diperlukan. Orang yang tidak dapat berkonsentrasi jelas tidak akan berhasil menyimpan atau menguasai bahan pelajaran. Oleh karena itu, setiap pelajar atau mahaanak berusaha dengan keras agar mempunyai konsentrasi tinggi dalam belajar (Syaiful Bahri, 2015). Eavaluasi hasil belajar yang baik slah satunya dengan diproduksi dari hasil konsumsi belajar anak yang baik selama di kelas (Slemeto, 2015). Pencapaian tujuan pendidikan dapat terwujud dengan melakukan proses pembelajaran yang diarahkan untuk merubah perilaku anak melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan. Salah satu alat yang dapat digunakan untuk mengetahui pencapaian pembelajaran yaitu dengan cara melakukan evaluasi hasil belajar (Pendiknas, 2014). Hasil belajar pada anak dapat dipengaruhi oleh faktor guru, seperti perilaku guru yang kurang memberikan simpatik terhadap anak didiknya dan kurang dapat menjadi teladan seorang guru, karena tugas utama seorang Guru adalah membelajarkan anak . Ini berarti bahwa bila Guru bertindak mengajar, maka diharapkan anak untuk mampu belajar. Hal- hal seperti berikut, diantaranya Guru telah mengajar dengan baik, ada anak yang belajar dengan giat, anak yang berpura-pura belajar, anak yang belajar dengan setengah hati, bahkan adapula anak yang sesungguhnya tidak belajar. Maka dari itu, sebagai Guru yang professional harus berusaha mendorong anak agar belajar dengan baik (Adi, 2015). Peningkatan konsentrasi belajar dapat dicapai dengan berbagai cara, salah satunya Lingkungan dapat mempengaruhi kemampuan dalam berkonsentrasi, kita akan dapat memaksimalkan kemampuan konsentrasi. Jika kita dapat mengetahui faktor apa saja yang berpengaruh terhadap konsentrasi, kita mampu menggunakan kemampuan kita pada saat dan suasana yang tepat. Faktor lingkungan fisik yang mempengaruhi konsentrasi belajar adalah suara, pencahayaan, temperatur, dan desain belajar (Slemeto, 2015). Menurut Slameto (2015) konsentrasi belajar dapat juga dipengaruhi oleh asupan nutrisi yaitu dengan makan pagi atau biasa disebut dengan sarapan. Makan pagi atau sarapan mempunyai peranan penting bagi anak sekolah usia 6-14 tahun, yaitu untuk pemenuhan gizi dipagi hari, dimana anak-anak berangkat kesekolah dan mempunyai aktivitas yang sangat padat di sekolah. Apabila anak-anak terbiasa sarapan pagi, maka akan berpengaruh terhadap kecerdasan/intelegensi otak, terutama daya ingat anak sehingga dapat mendukung Konsentrasi Belajar anak ke arah yang lebih baik. Sarapan pagi merupakan pasokan energi untuk otak yang paling baik agar dapat berkonsentrasi di sekolah. Ketika bangun pagi, gula darah dalam tubuh kita rendah karena semalaman tidak makan Sebagai usaha memenuhi peningkatan gizi tersebut pertama- tama anak di SMP perlu diberi pengetahuan tentang pemenuhan gizi yaitu manfaat makanan bagi tubuh, manfaat makan tercakup dalam tri guna makanan yang meliputi: (1) Memberi energi agar dapat belajar dengan baik dan melakukan aktivitas lain seperti olahraga, membuat kerajinan tangan dan praktik kerja secara optimal (2) Membangun agar anak tumbuh serta lincah dan pintar, serta (3) Mengatur dan melindungi badan agar tidak mudah sakit. (Kemenkes, 2014). Menurut Rohayati (2013), perilaku makan pagi anak di SMP harus mendapat perhatian yang serius karena hal ini berkaitan erat dengan status gizi dan kesehatan. Mengingat petingnya kebiasaan sarapan terutama pada kalangan anak di SMP menuntut anak lebih selektif dalam memilih makanan dan lebih memperhatikan pentingnya sarapan. Oleh karena itu perlu dikaji bagaimana pengetahuan, sikap dan kebiasaan sarapan pagi anak untuk tingkat SMP sebagai bentuk kepedulian mereka terhadap prestasi dan sebagai penerapan pengetahuan yang mereka peroleh. Anak SMP sudah punya banyak data atau informasi sebagai pembanding atau filter terhadap informasi yang ia terima dari
  3. 3. 3STIKes Dharma Husada Bandung lingkungan. Dengan demikian, mulai kecil hingga usia SMP adalah masa kritis untuk memasukkan informasi ke pikiran bawah sadar anak, dibandingkan pada anak SD yang masih berumur 8-10 tahun pikiran sadar anak mulai aktif. (Adi, 2015). Namun menurut Hurlock (2012) batasan dan perkembangan usia untuk anak SMP yaitu anak akan memiliki pikiran sadar dan cukup kuat ketika saat usia 11 atau 13 tahun yaitu anak SMP, selain itu pada usia tersebut tahap perkembangan pola fikir terhadap anak akan cenderung labil dan dapat memperhambat konsentrasi belajar. Studi pendahuluan yang telah dilakukan di SMP Negeri 45 Bandung terdapat 102 orang anak kelas I yang terdiri dari 62 Perempuan dan 40 orang laki-laki, berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan terhadap 10 orang, 8 dari 10 anak tersebut sering kali tidak konsentrasi dalam belajar, karena perut dalam keadaan kosong dan perut sakit, hal tersebut karena mereka tidak sarapan terlebih dahulu ketika berangkat kesekolah sehingga gizi yang berkembang dalam tubuh mereka berkurang selain itu mereka selalu terburu-buru dan tidak sempat untuk melakukan sarapan pagi dirumah. Peran orang tua juga tidak memprioritaskan anak untuk mengingatkan sarapan pagi dan sudah lepas dari pengawasan orang tua mereka, peran orang tua disini tidak terlibat dalam penelitian ini dan hanya dipandang untuk memotivasi anak dalam melakukan sarapan pagi, akan tetapi anak tidak mendapatkan peran dukungan tersebut dari orang tua mereka untuk melakukan sarapan pagi sebelum berangkat sekolah, alasannya para orang tua sibuk dalam pekerjaanya. Kemudian 1 orang mengatakan kepala selalu pusing dan perut menjadi sakit bahkan ada 1 orang anak yang pingsan waktu diadakan upacara bendera karena perut dalam keadaan kosong. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi diantaranya adalah faktor eksternal yang meiputi lingkungan, guru, masyarakat dan nutrisi sarapan pagi, sedangkan faktor internal diantaranya yaitu keturunan, bakat dan intelegensi anak (Slameto, 2015). Faktor lingkungan fisik mempunyai pengaruh besar terhadap konsentrasi belajar pada anak yaitu seperti kepadatan Ruang kelas yang tidak memiliki syarat kepadatan minimal 1,75 m2/anak, ruang gerak yang tidak cukup bagi anak-anak dan tidak terlalu padat akan membuat anak susah bergerak dan sulit untuk berkonsentrasi dalam belajar. Kemudian faktor guru yang kurang memotivasi terhadap anak untuk belajar, guru juga dapat mempengaruhi semangat belajar yang tinggi dan dapat juga mengendorkan keinginan belajar yang sungguh-sungguh. Anak yang baik berusaha mengatasi kesulitan ini dengan memusatkan perhatian kepada bahan pelajaran, bukan kepada kepribadian gurunya. Sebaliknya guru yang pandai mengajar yang dapat menimbulkan pada diri anak rasa menggemari bahan yang diajarkannya sehingga tanpa disuruh pun anak banyak menambah pengetahuannya dibidang itu dengan membaca buku-buku, majalah dan bahan cetak lainnya (Nugroho, 2016). Faktor yang lain yaitu faktor masyarakat dan kondisi lingkungan masyarakat tempat tinggal anak akan memengaruhi belajar anak . Lingkungan anak yang kumuh, banyak pengangguran dan anak terlantar juga dapat memengaruhi aktivitas belajar anak , paling tidak anak kesulitan ketika memerlukan teman belajar, diskusi, atau meminjam alat- alat belajar yang kebetulan belum dimilkinya (Nugroho, 2016) Konsentrasi belajar pada anak usia sekolah yaitu kemampuan untuk memusatkan pikiran terhadap suatu hal atau pelajaran itu pada dasarnya ada pada setiap orang, hanya besar kecilnya kemampuan itu berbeda-beda. Hal ini dipengaruhi oleh keadaan orang tersebut, lingkungan fisik, faktor guru, masyarakat, dan asupan nutrisi yaitu sarapan pagi pemusatan pikiran merupakan kebiasaan yang dapat dilatih, jadi bukan bakat/pembawaan. Berdasarkan fenomena tersebut penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul gambaran faktor yang mempengaruhi konsentrasi belajar anak di SMP Negeri 45 Bandung .
  4. 4. 49STIKes Dharma Husada Bandung METODOLOGI PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif yaitu penelitian yang bertujuan untuk menemukan ada tidaknya hubungan (Sugiyono, 2014). Metode deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui tingkat hubungan antara dua variabel atau lebih. Tanpa melakukan perubahan, tambahan atau manipulasi terhadap data yang memang sudah ada (Sugiyono, 2014). Pada penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan kebiasaan sarapan pagi dengan Konsentrasi Belajar . Pendekatan waktu dalam pengumpulan data menggunakan pendekatan cross sectional, yaitu suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi yang dilakukan pada satu waktu dan satu kali, pada tempat dan waktu yang telah ditentukan dengan tujuan untuk mencari hubungan antara variabel independen (faktor risiko) dengan variabel dependen (efek) (point time approach) (Notoatmodjo, 2012). Pada penelitian ini yang digunakan yaitu untuk mengetahui hubungan kebiasaan sarapan pagi dengan Konsentrasi Belajar . Populasi Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti (Notoatmodjo, 2012). Berdasarkan data yang diperoleh populasi dalam penelitian ini adalah jumlah anak SMPN 45 Bandung yaitu kelas 1 sebanyak 102 orang. Sampel Sampling adalah suatu cara yang ditempuh dengan pengambilan sampel yang benar-benar sesuai dengan keseluruhan obyek penelitian (Nursalam, 2014). Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah total sampling. Total sampling adalah teknik pengambilan sampel dimana jumlah sampel sama dengan populasi (Sugiyono, 2014). Jumlah sampel pada penelitian ini yaitu 102 orang. Instrumen Instrumen penelitian adalah alat-alat yang digunakan untuk pengumpulan data. Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data kuantitatif dalam penelitian ini berupa kuesioner. Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan atau pernyataan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang diketahui (Notoatmodjo, 2012). Pada penelitian ini penulis menggunakan instrument atau alat ukur konsentrasi yaitu modul Grid Concentration Exercise yang diadopsi dari D.V Harris dan B.L Harris (1998) dalam jurnal Puspaningrum (2013). Berikut adalah bentuk instrument dari grid concentraton exercise: 84 27 51 97 78 13 100 85 55 59 33 52 04 60 92 61 31 57 28 29 18 70 49 86 80 77 39 65 96 32 63 03 12 73 19 25 21 23 37 16 81 88 46 01 95 98 71 87 00 76 24 09 50 83 64 08 38 30 36 45 40 20 66 41 15 26 75 99 68 06 34 48 62 82 42 89 47 35 17 10 56 69 94 72 07 43 93 11 67 44 53 79 05 22 74 54 58 14 02 91 Sumber : Puspaningrum (2013) Pelaksanaanya dari tes Concentration Grid Exercise dengan tujuan untuk mengukur tingkat konsentrasi belajar yaitu alat tulis seperti pulpen, dan Stopwatch (menggunakan HP). Kemudian untuk melakukan tes ini diperlukan sebuah gambar yang memiliki 100 kotak yang memuat angka dari 0 sampai 100 secara acak. Para anak dikumpulkan secara bersama dengan ruangan terpisah jarak satu meter. Instruksi yang diberikan berupa menghubungkan angka-angka tersebut secara berurutan atau tersusun dari mulai 0 sampai dengan 100 baik secara horizontal maupun vertikal dalam waktu satu menit. Anak hanya perlu memberi tanda ceklis (√) pada kotak angka yang mereka temukan secara berurut. Kegiatan ini dibantu oleh dua orang untuk melihat kejujuran anak dalam menceklis kotak angka, sedangkan Stopwatch adalah penentuan waktu, bilamana waktu dalam 60 detik atau sudah selesai maka penceklisan angka tersebut dihentikan yaitu 120 detik peneliti mengumpulkan kembali dengan jawaban seadanya, peneliti menentukan skor hasil tes yaitu hasil kotak angka yang berhasil didapat secara berurutan dan tersusun dengan benar dan dinilai sebagai ketentuan berikut :
  5. 5. 50 50STIKes Dharma Husada Bandung Tabel 3. 3 Kriteria Penilaian Konsentrasi belajar No Kriteria Kategori Nilai 1. >21 Konsentrasi Sangat baik A 2. 16-20 Konsentrasi Baik B 3. 11-15 Konsentrasi Cukup C 4. 6-10 Konsentrasi Kurang D 5. <5 Konsentrasi Sangat kurang E Sumber : Puspaningrum (2013) Kerangka Konsep Kerangka konsep penelitian adalah suatu hubungan atau kaitan antara konsep satu terhadap konsep yang lainnya dari masalah yang ingin diteliti (Notoatmodjo, S. 2012). Kerangka konsep pada penlitian ini yaitu : Pada penelitian ini kerangka konsep yang diteliti yaitu hanya faktor eksternal diantaranya lingkungan, guru, masyarakat dan nutrisi sarapan pagi. Akan tetapi untuk faktor internal tidak dilakukan penelitian dengan alasan, karena pada dasarnya menurut Slameto (2013) bahwa faktor internal tersebut dapat dimodifikasi dan di perbaharui tergantung anak yang ingin berungguh-sungguh belajar dengan baik dan tekun. Bagan 3.1 Kerangka Konsep Gambaran faktor yang mempengaruhi Konsentrasi Belajar Anak di SMP Negeri 45 Bandung Variabel penelitian Variabel pada penelitian ini terdapat 1 variabel yang digunakan : Variabel Independen Variabel independen merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen. Variabel independen pada penelitian ini yaitu faktor lingkungan fisik , guru, masyarakat dan nutrisi sarapan pagi, Konsentrasi Belajar Uji Konten Pada penelitian ini dilakukan uji konten atau validitas isi artinya peneliti menanyakan item pertanyaan kepada ahli tentang Kuesioner Konsentrasi Belajar diantaranya faktor lingkungan fisik, guru, masyarakat yaitu kepada ahli komunitas adalah Drs. H. Supriadi, S.Kp.,M.Kep.,Sp.Kom, sehingga dinyatakan sudah relevan dan sudah layak digunakan untuk penelitian. Adapun hasil dan masukan kontennya (Terlampir). Teknik Pengolahan dan Analisa Data Teknik Pengolahan data ini melalui tahap- tahap sebagai berikut : Editing (Pengeditan Data), Data Entry (Pemasukan Data), Cleaning Data (Pembersihan Data) Analisis Data Pada analisis data ini terdiri dari dua analisis yaitu sebagai berikut : Analisi Univariat Analisa yang digunakan pada penelitian ini yaitu analisis univariat yang selanjutnya dideskripsikan dalam bentuk tabel dan dipaparkan sesuai harga persentase. Adapun analisis dalam penelitian ini yaitu menggunakan rumus persentase frekuensi yaitu untuk mengetahui hasil persentase dalam setiap kategori dari jawaban responden digunakan rumus sebagai berikut: 𝑷 = 𝒇 𝑵 𝟏𝟎𝟎% Keterangan : P = presentase untuk setiap kategori f = jumlah setiap kategori N = jumlah total responden Pada analisis univariat ini dilakukan dengan cara menentukan nilai. Setelah terlihat dari suatu kategori kemudian dilakukan analsis berdasarkan distribusi frekuensi tersebut dan menghasilkan data hasil output data dan hasilnya ditentukan berdasarkan nilai persentase pada setiap kategori Nilai persantase pada tiap kategori tafsiran harga kategori yaitu 0=Tidak ada, 1-25 =Sebagian kecil, 26-49=Hampir separuhnya, 50=Separuhnya, 51-75=Sebagian besar, 76- 99=Hampir seluruhnya, 100=Seluruhnya(Arikunto, 2010)
  6. 6. 51 51STIKes Dharma Husada Bandung Hasil Penelitian Tabel 4.1 Konsentrasi belajar pada anak Di SMP Negeri 45 Bandung (n=102) Konsentrasi Belajar f % Sangat Baik 4 3.9 Baik 20 19.6 Cukup 27 26.5 Kurang 30 29.4 Sangat Kurang 21 20.6 Tabel 4.1 terlihat bahwa konsentrasi belajar pada anak di SMP negeri 45 Bandung didapatkan dari 102 anak menunjukan sebagian besar 29,4% yaitu kurang. Tabel 4.2 Lingkungan Fisik yang mempengaruhi Konsentrasi Belajar Di SMP Negeri 45 Bandung (n=102) Lingkungan Fisik f % Kurang baik 84 82.4 Baik 18 17.6 Berdasarkan tabel 4.2 diketahui bahwa dari 102 anak , sebagian besar 82,4% menunjukan lingkungan fisik kurang baik terhadap konsentrasi belajar Tabel 4.3 Guru yang mempengaruhi Konsentrasi Belajar Di SMP Negeri 45 Bandung (n=102) Guru f % Ya 2 2.0 Tidak 100 98.0 Berdasarkan tabel 4.3 diketahui bahwa hampir seluruhnya 98,0% bahwa konsentrasi belajar pada anak dipengaruhi oleh guru Tabel 4.4 Masyarakat yang mempengaruhi Konsentrasi Belajar Di SMP Negeri 45 Bandung (n=102) Masyarakat f % Baik 35 34.3 Tidak Baik 67 65.7 Berdasarkan tabel 4.4 diketahui bahwa sebagian besar konsentrasi belajar pada anak dipengaruhi oleh masyarakat yang tidak baik yaitu 65,7% 1. Nutrisi sarapan pagi yang mempengaruhi Konsentrasi Belajar Tabel 4.5 Nutrisi Sarapan Pagi yang mempengaruhi Konsentrasi Belajar Di SMP Negeri 45 Bandung (n=102) Nutrisi Sarapan Pagi f % Sarapan Pagi 43 42.2 Tidak sarapan pagi 59 57.8 Berdasarkan tabel 4.5 diketahui bahwa sebagian besar konsentrasi belajar pada anak dipengaruhi oleh asupan nutrisi yang tidak sarapan pagi yaitu 57,8% Pembahasan Konsentrasi Belajar Anak Di SMP Negeri 45 Bandung Berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan bahwa menunjukan konsentrasi belajar pada anak di SMP negeri 45 Bandung dari 102 siswa sebagian besar 29,4% yaitu kurang. Hal ini dipengaruhi perkembangan intelektual yang menghasilkan kemampuan untuk memahami makna yang sebelumnya tidak dimengerti, memperhatikan suatu rangsangan, dalam jangka waktu yang lama, dan memutuskan ketegangan emosi pada satu objek. Demikian pula kemampuan mengingat dan menduga mempengaruhi reaksi emosional. Dengan demikian anak-anak menjadi reaktif terhadap rangsangan yang tadinya tidak mempengaruhi mereka pada usia yang lebih muda. Peran Belajar Kegiatan belajar turut menunjang pola perkembangan emosi pada anak. metode belajar apa saja yang ada dan bagaimana metode tersebut menunjang perkembangan emosi anak (Hurlock, 2012). Perkembangan sosial mengikuti suatu pola, yaitu suatu urutan perilaku sosial yang teratur, dan pola ini sama pada semua anak di dalam suatu kelompok budaya. Umur sosialisasi yang benar dimulai dengan masuknya anak secara resmi ke sekolah, yaitu ke kelas 1 sekolah dasar ataupun taman kanak-kanak. Anak yang tadinya selalu berbuat atas dorongan hati sekarang berusaha menggunakan tolak ukur orang dewasa untuk menilai orang atau situasi. Secara normal, semua anak menempuh beberapa tahap sosialisasi pada umur yang kurang lebih sama. Sebagaimana pada jenis perkembangan yang lain, anak yang pandai mengalami percepatan,
  7. 7. 52 52STIKes Dharma Husada Bandung sedangkan yang tidak cerdas mengalami perlambatan. Kurangnya kesempatan untuk melakukan hubungan sosial dan belajar bergaul secara baik dengan orang lain juga memperlambat perkembangan yang normal. Setelah anak memasuki sekolah dan melakukan hubungan yang lebih banyak dengan anak lain dibandingkan dengan ketika masa prasekolah, minat pada kegiatan keluarga berkurang. Pada saat yang sama permainan yang bersifat individual menggantikan permainan kelompok (Hurlock, 2012) Pada dasarnya konsentrasi merupakan kemampuan seseorang untuk mengendalikan kemauan, pikiran, dan perasaan. Melalui kemampuan tersebut, seseorang akan mampu memusatkan sebagian besar perhatian pada objek yang dikehendaki. Pengendalian kemauan, pikiran, dan perasaan dapat tercapai apabila seseorang mampu menikmati kegiatan yang sedang dilakukan (Hakim, 2012), Lingkungan Fisik yang mempengaruhi Konsentrasi Belajar Di SMP Negeri 45 Bandung Berdasarkan hasil penelitian didapatkan sebagian besar 82,4% menunjukan lingkungan fisik kurang baik terhadap konsentrasi belajar. Hal tersebut bahwa faktor lingkungan fisik lingkungan sekolah adalah kurang. Tidak sejalan dengan hasil penelitian Wiguna (2016) menyatakan dari hasil penelitianya bahwa ada Pengaruh yang positif dan signifikan antara lingkungan sekolah dengan konsentrasi belajar Akhlak anak, semakin baik lingkungan sekolah maka semakin baik konsentrasi belajar Akhlak anak . Hal ini ditunjukkan dengan koefisien korelasi sebesar 0,590 sementara rtabel 5% sebesar 0,972 maka dapat disimpulkan Ha diterima dan Ho ditolak. Angka sig. (2-tailed) 0,000<0.005 maka Ho ditolak, sehingga bisa dikatakan bahwa Pengaruh kedua variabel tersebut signifikan antara lingkungan sekolah dengan konsentrasi belajar Akhlak anak kelas VIII. Adapun kontribusi lingkungan sekolah terhadap konsentrasi belajar akhlak anak adalah sebesar 34,8%. Berdasarkan hasil kuesioner pada penelitian ini bahwa menunjukan dari beberapa jawaban pertanyaan dari anak lingkungan fisik memiliki lingkungan sekolah bersih, rindang dan nyaman, sehingga faktor lingkungan fisik tidak ada Pengaruh terhadap konsentrasi belajar pada anak . Menurut Supriadi (2015) menyatakan bahwa syarat lingkungan fisik yang baik yaitu itu adalah harus memiliki kepadatan Ruang kelas memiliki kepadatan minimal 1,75 m2/anak bertujuan untuk memberikan kenyamanan dan ruang gerak yang cukup bagi anak-anak, selain itu kondisi kelas yang tidak terlalu padat semakin memudahkan saat prosedur evakuasi darurat dilakukan, Tingkat kebisingan maksimal. Sebuah ruang belajar atau kelas yang dikatakan baik hanya diperbolehkan memiliki tingkat kebisingan maksimal 45 dB. Kebisingan ini setara dengan suara normal dari orang yang sedang mengobrol, kebisingan di atas 45 desibel dikhawatirkan akan mengganggu konsentrasi belajar anak . Menurut pandangan peneliti bahwa tidak ada Pengaruh yang signifikan terhadap konsentrasi belajar artinya lingkungan fisik sudah memenuhi syarat yaitu memberikan kenyamanan dan ruang gerak yang cukup bagi anak-anak untuk kegiatan belajar mengajar di lingkungan sekolah, selain itu pencahayaan kelas cukup terang sehingga mereka tidak kesulitan untuk belajar di sekolah. Guru yang mempengaruhi Konsentrasi Belajar Di SMP Negeri 45 Bandung Didapatkan hasil penelitian hampir seluruhnya 98,0% bahwa konsentrasi belajar pada siswa dipengaruhi oleh guru. Hal tersebut guru sudah dapat memberikan perhatian kepada anak , sehingga jika ada anak yang mengalami kesulitan dalam pelajaran guru mampu menjawab pertanyaan anak mengenai materi yang diajarkan dan anak tersebut mengerti atas jawaban tersebut. Hasil penelitian Cahya (2014) menunjukan hasil penelitianya anak sebelum diberi layana bimbingan kelompok oleh guru memiliki pengaruh yang signifikan terhadap konsentrasi belajar dibandingkan sesudah dilakukan bimbingan kelompok oleh guru. Artinya faktor guru dapat mempengaruhi yang signifikan terhadap konsentrasi belajar diketahui tingkat konsentrasi belajar (47,33%), dan setelah diberi layanan bimbingan kelompok termasuk dalam kategori sedang (70,41%) Adanya peningkatan sebesar 27,19%. Dan hasil uji wilcoxon, menunjukkan bahwa nilai Zhitung 0 < Ztabel 14, atau memiliki arti bahwa Ho penelitian ditolak dan Ha penelitian
  8. 8. 53 53STIKes Dharma Husada Bandung diterima, artinya konsentrasi belajar anak dapat ditingkatkan melalui layanan bimbingan kelompok. Hasil kuesioner yang didapatkan dari penelitian ini yaitu guru mampu menjelaskan setiap materi pelajaran yang diajarkan kepada anak , sehingga anak tidak merasa kesulitan dengan materi yang guru ajarkan di sekolah, sehingga guru memberi semangat belajar kepada anak dan kegiatan belajar sesuai dengan jam pelajaran yang ditetapkan. Menurut Nugroho (2016) Guru dapat menimbulkan semangat belajar yang tinggi dan dapat juga mengendorkan keinginan belajar yang sungguh-sungguh. Anak yang baik berusaha mengatasi kesulitan ini dengan memusatkan perhatian kepada bahan pelajaran, bukan kepada kepribadian gurunya. Sebaliknya guru yang pandai mengajar yang dapat menimbulkan pada diri anak rasa menggemari bahan yang diajarkannya sehingga tanpa disuruh pun anak banyak menambah pengetahuannya dibidang itu dengan membaca buku-buku, majalah dan bahan cetak lainnya Terkait dengan faktor eksternal, bahwa guru mempunyai peranan penting dalam mempengaruhi prestasi belajar anak . Tugas utama guru tentunya mendidik, mengajar, dan menyampaikan ilmu yang sesuai dengan bidang kompetensinya. Dari hal tersebut maka proses pembelajaran dapat dikatakan sangat penting atau tidak dapat dipisahkan dengan prestasi belajar dikarenakan hampir sebagian ilmu yang diserap dan diterima didapat anak melaui proses pembelajaran guru dikelas. Bagaimana guru mengajar, mengelola kelas, penggunaan media, dan pemahaman karakteristik anak merupakan hal yang penting dalam suatu proses pembelajaran di kelas supaya materi dapat diterimadengan baik dan dipahami. Guru merupakan elemen kunci dalam sistem pendidikan,disebabkan guru merupakan titik sentral dalam pembaharuan dan peningkatan mut pendidikan. Peranan guru menurut Suparlan (2012), status guru mempunyai implikasi terhadap peran dan fungsi yang menjadi tanggung jawabnya. Guru memiliki satu kesatuan peran dan fungsi yang tidak terpisahkan, antara kemampuan mendidik, membimbing, mengajar, dan melatih. Keempat kemampuan tersebut merupakan kemampuan integratif, antara yang satu dengan yang lain tidak dapat dipisahkan. Ada 2 peranan penting sebagai seorang guru ialah sebagai seorang pendidik dan pengajar yang harus mampu membangun dan menerapakan informasi pengetahuan dan teknologi secara logis, kritis, kretif, dan inovatif secara mandiri dengan menunjukan sikap kompetitif, sportif, dan etos kerja untuk mendapatkan hasil yang terbaik dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Pandangan peneliti terhadap penelitian ini yaitu guru mata pelajaran di sekolah hendaknya dapat lebih memahami bagaimana tingkat konsentrasi belajar para anak ketika kegiatan belajar berlangsung dan dapat memotivasi anak nya untuk aktif dalam belajar, karena konsentrasi belajar anak di kelas dapat mempengaruhi kualitas proses pembelajaran dan pemahaman anak terhadap pelajaran yang berpengaruh pada hasil belajar anak . Masyarakat yang mempengaruhi Konsentrasi Belajar Di SMP Negeri 45 Bandung Didapatkan hasil penelitian sebagian besar konsentrasi belajar pada siswa dipengaruhi oleh masyarakat yang tidak baik yaitu 65,7%. Hal tersebut dipengaruhi oleh masyarakat lingkungan sekolah sekitar seperti masyarakat lingkungan sekolah sangat berisik dan dapat menggangu konsentrasi belajar. Sejalan dengan penelitian Haryatni (2014) menunjukan faktor lingkungan masyarakat didapatkan sebesar (53.88%) dan uji chi square menunjukan terdapat Pengaruh yang signifikan antara faktor lingkungan masyarakat terhadap konsentrasi belajar. Hasil kuesioner pada penelitian ini yaitu sebagian besar orang di mengatakan bahwa lingkungan masyarakat tidak membimbing saya untuk berprestasi baik, sehingga sangat memengaruhi kegiatan belajar. Ketegangan keluarga orang tua anak dan sifat-sifat orangtua, demografi keluarga (letak rumah), pengelolaan keluarga, semuannya dapat memberi dampak terhadap aktivitas belajar anak . Pengaruh anatara masyarakat yang harmonis akan membantu anak melakukan aktivitas belajar dengan baik. Menurut Nugroho (2016) Lingkungan sosial masyarakat yaitu kondisi lingkungan masyarakat tempat tinggal anak akan memengaruhi belajar anak . Lingkungan anak
  9. 9. 54 54STIKes Dharma Husada Bandung yang kumuh, banyak pengangguran dan anak terlantar juga dapat memengaruhi aktivitas belajar anak , paling tidak anak kesulitan ketika memerlukan teman belajar, diskusi, atau meminjam alat-alat belajar yang kebetulan belum dimilkinya. Kegiatan anak dalam masyarakat, yakni kegiatan anak dalam masyarakat dapat menguntungkan terhadap perkembangan pribadinya. Tetapi kalau kegiatan anak terlalu banyak maka akan terganggu belajarnya, karena ia tidak bisa mengatur waktu. Media Massa, yang dimaksud dalam media massa adalah bioskop, radio, TV, surat kabar, buku- buku, komik. Dan lain-lain. Media massa yang baik akan memberi pengaruh yang baik terhadap anak dan juga terhadap belajarnya. Sebaliknya media massa yang jelek juga berpengaruh jelek terhadap anak . Selain itu pengaruh dari teman bergaul anak lebih cepat masuk dalam jiwanya. Teman yang baik membawa kebaikan, seperti membawa belajar bersama, dan teman pergaulan yang kurang baik adalah yang suka begadang, pecandu rokok, minum-minum maka berpengaruh sifat buruk juga. Bentuk kehidupan masyarakat, yakni apabila kehidupan masyarakat yang terdiri dari orang- orang berpendidikan, terutama anak-anaknya rata-rata bersekolah tinggi dan moralnya baik. Masyarakat yang terdiri dari orang-orang tidak terpelajar, penjudi, suka mencuri dan mempunyai kebiasaan yang tidak baik, akan berpengaruh jelek kepada anak yang berada dilingkungan itu (Sugihartono, 2013) Pandangan peneliti apabila dalam kehidupan masyarakat yang terdiri dari orang-orang berpendidikan, terutama anak-anaknya rata- rata bersekolah tinggi dan moralnya baik anak dalam lingkunganya akan berpengaruh fositif terhadap konsentrasi belajar, akan tetapi pada masyarakat yang terdiri dari orang-orang tidak terpelajar, penjudi, suka mencuri dan mempunyai kebiasaan yang tidak baik, akan berpengaruh negatif terhadap kepada anak sehingga dapat mempengaruhi konsentrasi belajar menjadi kurang fokus terhadap pelajaran yang diajarkan oleh guru di sekolah. Nutrisi Sarapan Pagi yang mempengaruhi Konsentrasi Belajar Di SMP Negeri 45 Bandung Didapatkan hasil penelitian sebagian besar konsentrasi belajar pada siswa dipengaruhi oleh asupan nutrisi yang tidak sarapan pagi yaitu 57,8%. Anak tidak melakukan sarapan pagi di rumah hal tersebut dipengaruhi oleh orang tua yang tidak selalu dan setiap saat tidak menyiapkan sarapan pagi di rumah karena para orang tua tersebut sibuk dalam pekerjaan di luar rumah sehingga ia tidak sempan untuk menyediakan sarapan pagi untuk anaknya, dan anak lebih memilih jajan di luaran yaitu lingkungan sekolah. Sejalan dengan hasil penelitian Andriane (2016) tentang Pengaruh Kebiasaan Sarapan dengan Prestasi Belajar pada Anak Kelas 4 dan 5 SD Pertiwi Kota Bandung Tahun 2016. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa terdapat Pengaruh yang signifikan (p<0,05) antara kebiasaan sarapan dengan prestasi belajar. Tidak sejalan dengan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Ismanto (2016) hasil penelitianya menyatakan tidak ada Pengaruh antara pengetahuan sarapan pagi dengan prestasi belajar anak, dengan pengetahuan sarapan pagi berada pada kategori baik dan memiliki prestasi belajar baik Menurut Kemenkes RI (2015) Kebiasaan sarapan merupakan asupan nutrisi yang dapat mempengaruhi konsentrasi belajar yaitu hendaknya di pertahankan dalam setiap orang. Makan pagi dapat menyumbang seperempat dari kebutuhan gizi sehari yaitu sekitar 450- 500 kalori dengan 8-9 gram protein. Kebiasaan makan pagi termasuk dalam dasar gizi seimbang. Bagi anak di SMP makan pagi dapat meningkatkan konsentrasi belajar dan mudah menyerap pelajaran sehingga meningkatkan Konsentrasi Belajar (Kemenkes, 2015). Hasil kuesioner didapatkan dari jawaban responden paling banyak jawaban yang tidak artinya anak tidak melakukan sarapan pagi di rumah sebelum berangkat sekolah, rata-rata anak melakukan sarapan jam 10.00 waktu istihat belajar. Menurut pandangan peneliti bahwa kebiasaan sarapan seseorang mempunyai pengaruh terhadap prestasi belajar yang akan didapat, karena sarapan menyediakan energi yang dibutuhkan dalam kegiatan belajar. Sarapan dapat meningkatkan konsentrasi, daya ingat, dan kemampuan memecahkan masalah dalam proses belajar yang pada akhirnya akan mempengaruhi prestasi belajar.
  10. 10. 55STIKes Dharma Husada Bandung SIMPULAN 1. Konsentrasi belajar pada anak di SMP negeri 45 Bandung didapatkan dari 102 siswa menunjukan sebagian besar 29,4% yaitu kurang. 2. Sebagian besar 82,4% menunjukan lingkungan fisik kurang baik terhadap konsentrasi belajar 3. Hampir seluruhnya 98,0% bahwa konsentrasi belajar pada siswa dipengaruhi oleh guru 4. Sebagian besar konsentrasi belajar pada siswa dipengaruhi oleh masyarakat yang tidak baik yaitu 65,7% 5. Sebagian besar konsentrasi belajar pada siswa dipengaruhi oleh asupan nutrisi yang tidak sarapan pagi yaitu 57,8% Saran 1. Bagi Pihak Sekolah Diharapkan untuk pihak sekolah dapat mengembangkan potensi guru yang lebih displin terhadap pembelajaran di kelas, sehingga anak dapat mempersiapkan diri untuk menerima materi pembelajaran yang akan disampaikan dan dapat meningkatan konsentrasi belajar. 2. Bagi Anak Diharapkan bagi anak untuk dapat membiasakan dalam melakukan sarapan pagi di rumah, karena dengan sarapan pagi merupakan asupan nutrisi yang dapat mempengaruhi konsentrasi belajar di sekolah. 3. Bagi Penelitian Selanjutnya Diharapkan bagi peneliti selanjutnya agar menemukan fenomena yang lain terkait konsentrasi belajar pada anak diantaranya pengaruh penyuluhan terhadap kebiasaan sarapan pagi, sehingga nantinya anak yang tidak melakukan sarapan dapat membiasakannya sarapan pagi di rumah. DAFTAR PUSTAKA Adi, 2015. Gizi Anak Sekolah. Jakarta.Kompas. Anwar Prabu, 2013. Perkembangan Intelegensi Anak dan Pengukuran IQnya, (Bandung : Angkasa Bandung Almatsier, 2013. Prinsip dasar ilmu gizi. Jakarta : Garmedia Pustaka Utama Almatsier, 2014. Prinsip dasar ilmu gizi. Edisi Revisi Jakarta : Garmedia Pustaka Utama Anas, 2010. Hubungan Kalori Sarapan Dengan Kemampuan Konsentrasi Anak Usia Sekolah Di SD Negeri 3 Canggu Diakses dari http://ojs.unud.ac.id/index.php/co ping. Diakses pada tanggal 20 November 2016. (Jurnal Tersedia Online) Anwar,2013. Sumber Daya Manusia,. Cetakan Ke Tujuh PT. Remaja Rosdakarya, Bandung. Arikunto, 2014. Prosedur penelitian : Suatu Pendekatan Praktik. (Edisi. Revisi). Jakarta : Rineka Cipta. Azwar, 2009. Metode Penelitian . Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Bukhari Umar. Baharudin, 2010. Teori Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta: Ar- Ruzz Media. D.V Harris dan B.L Harris (1998) dalam jurnal Puspaningrum, 2013. modul Grid Concentration Exercise. Penilaian Konsentrasi Belajar. Dimyati, 2013. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta. Elizabeth, 2013. Manfaat Sarapan Pagi bagi Anak. PT. Rajagrafindo. Jakarta. Elnovriza, 2008. Hubungan Kebiasaan Sarapan Pagi dan Jajan dengan Status Gizi Anak Sekolah Dasar.
  11. 11. 56 56STIKes Dharma Husada Bandung Engkoswara, 2012. Administrasi Pendidikan. Bandung: Alfabeta. Giam, 2012. Faktor Gizi terhadap konsentrasi pada anak. Jakarta. EGC. Hakim, 2012. Mengatasi Gangguan Konsentrasi. Jakarta: Puspa Swara. Hidayat, 2014. Pengantar Konsep Dasar Keperawatan, Jakarta: Salemba Medika. Jetvig, 2010. Sarapan Pagi. Jakarta. EGC Kemenkes, 2014. Peningkatan Konsentrasi Belajar. Khomsan, 2010. Sarapan Sehat Dan Unsur Empat Sehat Lima Sempurna. Jakarta. EGC Khomsan, 2012. Sarapan Sehat Dan Unsur Empat Sehat Lima Sempurna. Edisi Revisi Jakarta. EGC Leo, 2015. Hubungan Sarapan Pagi Dengan Konsentrasi Siswa Di Sekolah. Diakses dari http://ejournal.unesa.ac.id/article/ 17369/68/article.pdf. Diunduh pada tanggal 20 November 2016. (Jurnal Tersedia Online) Moehji, 2009. Ilmu Gizi 1 Pengetahuan Dasar Ilmu Gizi. PT Bhratara Niaga Media. Jakarta. Muhilal & Damayanti, 2006. Gizi Anak dan Remaja. EGC. Jakarta. Notoatmodjo, S. 2012. Pengantar Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Andi Offset. Yogyakarta. Nugroho, 2013. Belajar Mengatasi Hambatan Belajar. Surabaya: Prestasi Pustaka. Pendiknas, 2014. Perwujudan Tujuan Pendidikan.2014 Purnakarya, 2010. Pengaruh Zat Gizi pada Prestasi. Jakarta. Riyanto, 2011. Aplikasi Metodologi Penelitian Kesehatan. Nuha Medika. Yogyakarta. Rohani, 2010. Pengelolaan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta. Rohayati, 2013. Perilaku Makan Pagi dan Jajan Anak Sekolah Penerima PMTAS Di Daerah Pantai dan Pegunungan provinsi Nusa Tenggara Timur. Diunduh dari http://dokumen.tips/documents/p mtas.html. Diakses pada tanggal 20 November 2016 (Jurnal tersedia Online) Sardiman, 2011. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar: Bandung, Rajawali Pers Slameto,2015. Belajar dan Faktor- Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: PT Rineka Cipta. Sediaoetama, 2013. Ilmu Gizi untuk Mahasiswa dan Profesi. Jilid I. Jakarta: Dian Rakyat Soemantri, 2013. Pengaruh Suplementasi Tablet Besi Dan Vitamin C Terhadap Peningkatan Kadar Hemoglobin Pada Siswa. Diunduh dari http://lib.unnes.ac.id/2478/1/3435 .pdf. Diakses pada tanggal 12 Oktober 2016. (Jurnal Tersedia Online)
  12. 12. 57 57STIKes Dharma Husada Bandung Sopyudin, 2013. Statistik untuk Kedokteran dan Kesehatan: Deskriptif,. Bivariat, dan Multivariat. Edisi 5. Jakarta : Salemba Sugiyono, 2014. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan Kombinasi (Mixed Methods). Bandung : Alfabeta Sumadi Suryabrata, 2010. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Supariasa, 2012. Penilaian Status Gizi. Buku Kedokteran EGC. Jakarta. Supriadi, 2015. Modul Keperawatan Komunitas. Tidak Diterbitkan. Surya, 2013. Konsentrasi Belajar. Jakarta. Salemba. Susanto, 2006. Membangun Kompetensi Belajar. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. Syaiful Bahri, 2015. Psikologi Belajar, Jakarta : Rineka Cipta. Tonienase, 2012. Sistem Tutoring sebagai Upaya Perbaikan Hasil Belajar. Jakarta. EGC W.S.Winkel, 2012. Psikologi Pengajaran. Yogyakarta : Media Abadi. Yusnalaini, 2014. Gizi dan Kesehatan. Graha Ilmu. Yogyakarta

×