Ahlussunnahwaljamaah

392 views

Published on

0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
392
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
9
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Ahlussunnahwaljamaah

  1. 1. Sabda Rasulullah saw memang benar dan sunnah Allah telah menjadi kenyataan bagimakhluk-Nya. Umat selalu terpecah belah sepeninggal rasul-Nya. Setelah datang ilmukepada mereka (namun mereka saling berlaku zalim) maka manusiapun berjalan mengikutihawa nafsunya. Mereka saling berbeda pendapat hingga timbullah berbagai mahdzab,aliran, bid’ah dan berbagai pandangan. Mereka meninggalkan kitab Rabbnya dan sunnahNabi. Akibatnya mereka terlempar dalam jurang-jurang kesesatan, mereka lebih mengikutikeinginannya daripada mengikuti petunjuk Allah dan Rasulullah.Namun disela-sela itu semua, sebagai realisasi sunnah Allah seperti yang disabdakan Rasul-Nya, ternyata bendera golongan yang selamat (Firqah an-Najiyah) tetap berkibar denganmegahnya. Di bawah panji inilah bernaung orang-orang yang menginginkan keselamatandan perlindungan Allah dari segala ajaran sesat. Mereka inilah yang berpegang pada al-jamaah, yaitu golongan yang senantiasa mengikuti jejak Rasul, para sahabat, dan generasisetelah itu.A. SEJARAH PENYIMPANGAN MANUSIA DARI JALAN YANG BENAR 1. Amanat Allah bagi manusia Allah swt telah menciptakan manusia dalam kehidupan ini untuk tujuan dan tugas tertentu. Dia telah menundukkan semua yang ada di muka bumi, berupa lautan, sungai, angin, hujan, gunung, lembah, binatang, tumbuhan hingga makhluk Allah lainnya, semata-mata untuk kepentingan manusia. Allah juga telah memberikan ilham kepada manusia agar dapat menangkap sebagian hukum alam dan berbagai peraturan hidup hingga manusia dengan mudah dapat mencapai tujuan yang penting ini. Tujuannya besar, tugas dan amanatnya berat hingga langit, bumi, dan gunung merasa takut serta tidak berani memikulnya. Sebagaimana Allah berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat* kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, tapi semuanya enggan memikulnua karena khawatir akan mengkhianatinya. Dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan bodoh” (Al Ahzab 33:72) *Menurut Ibnu Abbas, amanat adalah ketaatan, sedangkan menurut Ibnu Katsir, amanat adalah taklif(tugas), menerima perintah dan larangan dengan bersyarat. Syaratnya adalah jika ia melakukan ketaatan, akan mendapat pahala, dan jika meninggalkannya, ia akan mendapat siksa. (Tafsir Ibnu Katsir 6:477) Sesungguhnya tujuan besar, tugas dan amanat berat yang dipikul manusia ini tidak lain adalah sebagai khalifah Allah di bumi-Nya. Allah sebagai Rabb semua makhluk, Raja segala raja, serta Penguasa langit dan bumi telah menciptakan manusia sebagai khalifah di bumi dan menjadikannya agar bertanggung jawab kepada-Nya sehubungan dengan tugas kekhalifahannya.
  2. 2. Allah memberitahu para malaikat tentang tugas penting yang dibebankan kepada manusia, sebagaimana firman-Nya: “Dan ingatlah ketika Rabbmu berfirman kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (Al Baqarah 2:30) Imam Ath Thabari menafsirkan ayat di atas dengan, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi dari-Ku yang mewakili-Ku dalam memutuskan hukum di antara makhluk-Ku. Khalifah itu adalah Adam dan orang yang bersikap seperti dia dalam mentaati Allah serta memutuskan hukum dengan adil di antara makhluk-Nya.” (Tafsir Ibnu Katsir 1:70) Ibnu Katsir mengatakan, mereka memahami tentang khalifah, yakni orang yang memutuskan perselisihan di antara manusia dan mencegah melakukan perbuatan haram dan dosa. Demikian perkataan al-Qurthubi (Tafsir Ibnu Katsir 1:69). Selanjutnya Ibnu Katsir mengatakan, dengan ayat ini Al-Qurthubi dan yang lainnya menjadikan dalil atas wajibnya mengangkat seorang khalifah untuk memutuskan perselisihan di antara manusia, menolong orang yang teraniaya, dan dianiaya oleh orang zhalim, menegakkan hukum, mencegah perbuatan keji, melaksanakan perkara penting lainnya yang hanya bisa ditegakkan oleh seorang Imam.2. Kekhalifahan manusia di bumi dan syarat-syaratnya Kekhalifahan manusia di bumi memiliki syarat tertentu, yakni selalu iltizam dengan ketaatannya terhadap Rabb yang memiliki perintah dan larangan. Manusia senantiasa dituntut melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya karena takut siksaan-Nya. Oleh karena itu, masalah khilafah manusia di bumi ini tidak lain adalah masalah ibadah manusia kepada Allah. Seperti dalam firman-Nya pada surat Adz Dzariyat ayat 56 “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”3. Perjanjian fithrah Allah mengetahui betapa besar amanat dan berat beban taklif yang diemban manusia, sehingga Allah tidak membebani seseorang kescuali dengan kemampuannya. Allah telah menciptakan manusia dengan tabiat mengenal Rabbnya, mentauhidkan-Nya, mentaati-Nya, serta beribadah hanya kepada-Nya dengan tidak mempersekutukan-Nya. Allah berfirman: “Dan (ingatlah) ketika Rabbmu mengeluarkan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Rabbmu?’ mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi.’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar pada hari kiamat kelak kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini.’ Atau agar kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Rabb sejak dahulu, sedangkan kami ini adalah anak-anak keturunan yang
  3. 3. (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang sesat yang dahulu.’ Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu, agar mereka kembali (kepada kebenaran).” (Al A’raf 7:172-174) Dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik ra, Nabi saw bersabda: “dikatalan pada salah seorang penghuni neraka pada kari kiamat, ‘Bagaimanan pendapatmu jika kamu mempunyai sesuatu di muka bumi ini, apakah kamu akan menebus dirimu dengannya?’ Orang tersebut menjawab, ‘Ya.’ Allah berfirman, ‘Aku telah menghendaki dirimu sesuatu yang lebih ringan daripada itu. Aku telah menyuruhmu berjanji di punggung Adam untuk tidak menyekutukan sesuatu pun dengan-Ku. Namun, kamu tetap mempersekutukan Aku’.” (HR Bukhari dan Muslim) Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Allah mengambil janji dari mereka agar beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan sesuatu pun dengan- Nya. Diriwayatkan pula oleh Ubay bin Ka’ab, Abdullah bin Ahmad dalam musnad ayahnya, Ibnu Abi Hatim, Ibnu Jarir, dan Ibnu Mardawih bahwa Allah berfirman kepada mereka, “Aku jadikan ketujuh langit dan bumi serta bapak-bapakmu sebagai saksi agar kamu pada hari kiamat nanti tidak mengatakan, ‘Kami tidak mengetahui hal ini (eksistensi dan keesaan Allah).’ Ketahuilah bahwa tidak ada ilah selain Aku, tidak ada Rabb selain Aku, dan janganlah mempersekutukan Aku. Sesungguhnya Aku akan mengutur rasul kepadamu untuk mengingatkanmu akan janji-Ku dan Aku turunkan kitab-kitab-Ku kepadamu.” Mereka menjawab, ‘Kami bersaksi bahwa sesungguhnya Engkau adalah Rabb dan ilah kami, dan tiada Rabb bagi kami selain Engkau.’ Maka pada saat itu mereka menyatakan taat kepada-Nya. (Ma’arijul Qabul 1:34 dan seterusnya).4. Rahmat Allah : Allah tidak menyiksa seseorang, kecuali setelah ditegakkannya hujjah risalah Meskipun hujjah telah ditegakkan dan alasan telah dipathkan, namun sebagai rahmat dan karunia-Nya, Allah jelas tidak akan menyiksa bani Adam karena adanya perjanjian fithrah semata-mata. Dan Ia tidak akan meniksa seorangpun kecuali setelah ditegakkannya hujjah berupa risalah, sebagaimana firman-Nya: “...dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (Al Isra’ 17:15) Maka Allah mengutus rasul-Nya secara berkesinambungan untuk mengingatkan manusia akan janji mereka dan amanat besar yang dibebankan-Nya kepada mereka di bumi ini. Para rasul pun menyuruh manusia melaksanakan tugasnya sebagai khalifah di bumi dan menanggalkan alasan lain untuk membantah Allah sebagai Rabb mereka. Allah berfirman: “(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah
  4. 4. sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (An Nisa’ 4:165) Menurut Ibnu Qayyim, dalam akal manusia tidak ada sesuatu yang lebih jelas dan terang kecuali mengenal kesempurnaan Sang Pencipta serta membersihkannya dari kejelekan dan kekurangan. Para rasul pun diutus untuk mengingatkan dan menjelaskannya. Begitu pula fithrah manusia, terdapat pengakuan akan kebahagiaan dan kesengsaraan jiwa serta balasan yang akan diterima di akhirat nanti. Penjelasan mengenai hal ini tidak dapat diketahui kecuali melalui para rasul. Karena itu, akal yang tegas sesuai dengan naql (nash) yang shahih. Dan syariat sesuai dengan fithrah. Keduanya tidak saling bertentangan (Syifa’ul ‘Alil 301-302) Ibnu Taimiyah mengatakan hujjah tidak akan dijatuhkan kepada mereka yang berbuat dosa karena kebodohannya sebelum mereka mengetahui bahwa hal tersebut merupakan perbuatan dosa, sebelum diutusnya seorang rasul kepada mereka, dan sebelum ditegakkannya hujjah atas mereka. Allah tidak membiarkan manusia sendirian, mereka senantiasa dibimbing ajaran nabi sejak nabi Adam as. Allah menjadikan risalah tersebut beserta akal dan fithrahnya dengan tanda-tanda kekuasaan-Nya yang terbesar di alam semesta. Namun, manusia ternyata berselisih pendapat mengenai rasul-rasul mereka. Sebagaimana firman Allah: “Tapi, kebanyakan manusia tidak mau, kecuali mengingkarinya.” (Al Isra’ 17:89) Dan berimanlah prang yang mau beriman, tapi jumlahnya sangat sedikit. Itulah sunnatullah yang berlaku pada makhluk-Nya. “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah...” (Al An’am 6:116) “...dan sekali-kali kamu tidak akan mendapati perubahan pada sunnah Allah.” (Al Ahzab 33:62) Dalam ayat yang lain Allah berfirman: “Manusia itu umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih mengenai Kitab itu, melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan- keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.” (Al Baqarah 2:213)5. Kerusakan fithrah
  5. 5. Ketika fithrah manusia mulai rusak, dan ketika ‘manusia menjadi makhluk yangpaling banyak membantah’ (Al Kahfi 18:54), maka saat itulah setan menghiasi amalburuk manusia sehingga tampak bagus dan indah. Setan mencampuradukkan antarayang hak dan yang batil serta mengilhami manusia dengan berbagai perilaku burukhingga manusia bertahan dengan kebatilannya.“Tetapi orang-orang kafir membantah dengan yang batil agar dengan demikian itumereka dapat melenyapkan yang hak.” (Al Kahfi 18:56) Lantas manusia akan melihat kebatilan sebagai kebenaran, dan sebaliknyakebenaran menjadi kebatilan. Atau ia menyimpang sama sekali sehingga tak mampumelihat mana yang hak dan mana yang batil. Seperti pada firman Allah:“...maka Allah menyesatkan siapa saja yang dikehendaki-Nya, dan memberi petunjukkepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Yang Mahakuasa sertaMahabijaksana.” (Ibrahim 14:4)“...Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah maka dialah yang mendapat petunjuk, danbarangsiapa disesatkan-nya maka kamu tak aakan mendapatkan seorang pemimpinpun yang mampu memberi petunjuk kepadanya.” (Al Kahfi 18:17) Kelompok-kelompok utama yang bertentangan dengan Dinul Islam ada enam,yang masing-masing terpecah lagi menjadi beberapa golongan. Keenam golonagntersebut menurut tingkatannya, adalah: a) Golongan yang mengingkari adanya hakikat alam semesta. Golongan ini (oleh para mutakalimin) disebt kaum sofistis (sesat) b) Golongan yang mengakui adanya hakikat alam (dengan mengatakan sesungguhnya alam ini tetap ada) tetapi mereka tidak mengakui adanya pencipta dan pengaturnya. c) Golongan yang mengakui adanya hakikat alam dan berpendapat bahwa alam dan pengaturnya tetap ada. d) Golongan yang mengakui adanya hakikat alam. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa sesungguhnya alam itu tetap ada, sebagian lain berpendapat bahwa alam mempunyai pengatur yang tetap ada dan lebih dari satu. Namun, mereka berselisih mengenai jumlahnya. e) Golongan yang mengakui adanya hakikat alam dan berpendapat bahwa alam itu diciptakan oleh satu pencipta. Namun, mereka mengingkari seluruh kenabian. f) Golongan yang mengakui adanya hakikat alam dan berpendapat bahwa alam itu diciptakan oleh satu pencipta. Namun, mereka berbeda dalam mengakui sebagian nabi-nabi dan mengingkari sebagiannya...(Al-Fashl Fil Milal wal Ahwa’ wan-Nihal 1:3) Adapun mengenai penganut Dinul Islam adalah mereka yang mengikuti ajaranrasulnya. Sesungguhnya Allah mengutus seorang rasul pada setiap umat,sebagaimana firman-Nya:
  6. 6. “Sesungguhnya Kami telah mengutus seorang rasul pada setiap umat (untuk menyerukan): beribadahlah hanya kepada Allah dan jauhilah thaghut...” (An Nahl 16:36) Setiap rasul menyeru kaumnya pada Din Allah yaitu Al-Islam, yang berarti menyerahkan diri secara total hanya kepada Allah. Firman-Nya: “Sesungguhnya din (yang diridhai) Allah hanyalah Islam...” (Al Imran 3: 19) “Barangsiapa mencari din selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (din tersebut) dan di akhirat kelak ia termasuk orang yang rugi.” (Al Imran 3: 85) Menurut Ibnu Taimiyah “Adapun kitab-kitab samawi yang mutawatir dari para nabi as semuanya memastikan bahwa Allah tidak menerima din dari seseorang, kecuali Din yang benar (hanif), yaitu Al-Islam, yakni berarti beribadah hanya kepada Allah Yang Esa dan tidak mempersekutukan-Nya dengan yang lain, beriman kepada kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir.” (Al-Fatawa Al-Kubra 1:335) Firman Allah: “Katakanlah, ‘Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan.’ Dan (katakanlah), ‘Luruskan muka (diri)mu di setiap shalat dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu pada-Nya...” (Al A’raf 7:29) Yang dimaksud keadilan di sini adalah tauhid, yakni beribadah hanya kepada Allah, yang tiada sekutu bagi-Nya. Inilah dasar ad-din, sedangkan kebalikannya adalah dosa yang tak terampuni. Firman Allah: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain dari (syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya...” (An Nisa’ 4:48) Ibnu Taimiyah mengatakan, Islam sebagai Din Allah dibangun atas dua landasan. Pertama, mengabdi hanya kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya. Kedua, mengabdi kepada Allah dengan syariat yang ditetapkan-Nya melalui lisan rasul-Nya. Kedua landasan ini merrupakan hakikat syahadat. (Qa’idah Jalilah Fit Tawassul wal Wasilah: 162). Namun, setelah rasul meninggal dunia dan para sahabat berpencar-pencar, generasi datang silih berganti. Maka syubhat pun mulai timbul, hati pun menjadi keras, teladan mulai minim, sunnah mulai memudar, bid’ah makin merajalela, yang hak bercampur dengan yang batil. Kitab suci dan atsar nabawiyah bercampur dengan filsafat keberhalaan, dan keutamaan berpikir (bersih) terkalahkan oleh logika. Sehingga, umat yang bersatu di atas kebenaran, menjadi berselisih dan berpecah, sebagaimana firman Allah pada QS Yunus (10:19), QS Al Jatsiyah (45:17), QS Al Mu’minun (23:53), dan QS Al Baqarah (2:176).6. Penutup para Nabi dan Rasul saw Setelah manusia berada dalam kesesatan dan larut dalam berbagai ikhtilaf, Allah hendak memberi petunjuk dan menempatkan mereka atas kebenaran. Allah menutup risalah-Nya kepada semua manusia dengan risalah nabi penutup,
  7. 7. Muhammad Ibnu Abdillah saw, maka diturunkan-Nya kepada beliau kitabullah, Al Qur’anul Karim, yang berlaku untuk semua manusia hingga Allah mewariskan bumi beserta isinya. Allah berfirman: “...Maka Allah memberi petunjuk orang-orang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya...” (Al Baqarah 2:213) Allah azza wa jalla berjanji akan memelihara din ini dengan menjaga kitab-kitab- Nya hingga hari kiamat. Sebagaimana firman-Nya: “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Qur’an dan sungguh Kami benar- benar akan memeliharanya.” (Al Hijr 15:9) Allah memerintahkan rasul-Nya agar menjelaskan pada manusia –dengan sunnahnya- tentang Al Qur’anul Karim ini, sebagaimana firman allah pada QS An Nahl (16:44). Dan dengan risalah itu Allah membuka hati yang lupa dan telinga yang tuli, sebagaimana firman Allah pada QS Al Maidah (5:67). Rasullullah tidak wafat kecuali setelah kaumnya bersatu di atas jalan yang terang benderang. Malam bagaikan siang, terutama setelah Allah menurunkan firman-Nya QS Al Maidah (5:3). Rasulullah juga bersabda: “Aku tinggalkan dua perkara untuk kalian. Selama berpegang teguh kepada keduanya, kalian tidak akan tersesat. Dua perkara itu adalah Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya.” (HR Malik)7. Allah menyuruh kaum muslimin bersatu dan melarang berpecah-belah Allah azza wa jalla menyuruh pengikut Dinul Islam ini agar bersatu di atas kebenaran serta memperingatkan mereka agar tidak berpecah belah dan berselisih seperti yang terjadi pada umat terdahulu. Sebagaimana firman Allah pada QS Al Imran (3:103,105) dan Al An’am (6:159). Sedangkan apabila ada manusia yang bergolong-golong atau berpecah mengikuti aliran-aliran dan hawa nafsu serta kesesatan, maka allah telah membebaskan tanggungjawab Rasulullah dari apa yang mereka perbuat (Mukhtashar Ibnu Katsir 2:637-638)8. Perpecahan umat : semua masuk neraka, kecuali satu Kebanyakan manusia tetap berselisih dan berpecah belah kecuali yang diberi rahmat oleh Allah. mereka terpecah menjadi berbagai kelompok dan golongan, mereka menjadikan Al Qur’an terpilah-pilah*. Setelah datang ilmu dan keterangan yang jelas kepada mereka. Sebagaimana firman Allah pada QS Hud (11:118-119). *Ibnu Katsir menafsirkan ayat alladzina ja’alul Qur’aana ‘idlin (15:91), mereka memilah-milah semua kitab yang diturunkan kepada mereka. Maksudnya, sebagian diimani dan sebagian dikufuri. Menurutnya, Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang ayat tersebut, katanya: “Mereka adalah penganut Al-Kitab, tetapi mereka membagi-baginya dengan
  8. 8. mengimani sebagian dan mengkafiri sebagian.” (Mukhtashar Ibnu Katsir 2:319) Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya pengikut kedua kitab (Yahudi dan Nashrani) dalam hal agama mereka- terpecah belah menjadi 72 aliran. Dan sungguh umat (Islam) ini pun akan terpecah menjadi 73 aliran. Semuanya masuk neraka kecuali satu, yaitu al-jama’ah.” (HR Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam catatan kakinya atas syarah Ath-Thahawiyah, hlm 578, Al-Maktabul Islami). Dalam suatu riwayat disebutkan: “Para sahabat bertanya: ‘Siapakah golongan yang selamat itu, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘yaitu orang yang mengikuti jalanku dan para sahabatku.” (HR Turmudzi)9. Bendera sunnah tampak berkibar pada setiap masa dan generasi Ditengah-tengah perpecahan dan perselisihan, Allah menakdirkan ada orang- orang yang memelihara dan melaksanakan sebaik-baiknya din ini, sepeninggal Rasulullah saw. Dalam QS Al Ahzab (33:23) disebutkan bahwa mereka adalah ‘orang- orang yang menepati janji kepada Allah’. Rasulullah bersabda: “Akan senantiasa ada segolongan dari umatku yang tampil (membela kebenaran) hingga datang keputusan Allah kepada mereka, sedang mereka dalam keadaan unggul.” (HR Bukhari) Golongan yang selamat berbeda dengan golongan yang lain dalam hal aqidah dan fiqih maupun dalam hal akhlak dan perilaku. Salah seorang ulama salaf mengatakan, ‘Ahli Sunnah dalam Islam (jika dibandingkan dengan golongan lainnya) bagaikan penganut Islam dengan penganut agama-agama lain.’10. Keutamaan para sahabat Rasulullah saw. Pensyarah kitab Durratul Mudli’ah mengatakan, “Tidak ada umat Muhammad yang diunggulkan (karena keutamaannya) atas umat-umat lainnya, kecuali sahabat yang mulia. Mereka beruntung karena menjadi sahabat manusia terbaik (yakni Rasulullah saw). pendapat yang bisa dipertanggungjawabkan datangnya adri imam- imam sunnah yang menyebutkan bahwa semua sahabat berperilaku adil. Sebagaimana Allah berfirman pada QS Al Fath (48:29) “Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengannya keras terhadap orang kafir tetapi berkasih sayang sesama mereka.” Mengenai keutamaan sahabat dibanding dengan umat Muhammad lainnya, tersebut dalam dua hadits. Pertama, diriwayatkan dari Abi SA’id al-Khudri ra bahwa Rasulullah saw bersabda “Janganlah kamu mencaci maki sahabat-sahabatku, demi Allah yang diriku ada di tangan-Nya, seandainya salah seorang di antara kamu menginfakkan sebesar gunung Uhud, nilainya tidak mencapai satu mud yang diinfakkan mereka (para sahabat), bahkan setengahnya pun tidak.”. Kedua, hadits yang diriwayatkan oleh Imam Turmudzi dari Ibnu Mughaffal ra. katanya, “Saya mendengar Rasulullah saw bersabda ‘Hendaklah yang hadir menyampaikan pada
  9. 9. yang tidak hadir. Takutlah pada Allah, takutlah pada Allah mengenai sahabat- sahabatku. Janganlah kamu menjadikan mereka sebagai sasaran sepeninggalku nanti. Barangsiapa mencintai mereka, karena mencintai aku, maka aku mencintai mereka. Barangsiapa membenci mereka karena membenci aku, maka aku membenci mereka. Barangsiapa menyakiti mereka, ia menyakitiku, barangsiapa menyakitiku, ia menyakiti Allah. Barangsiapa menyakiti Allah, ia akan mendapat hukuman Allah. Dan barangsiapa dihukum Allah, ia tak akan lolos.’”. Dalam hal ketaatan terhadap hukum Allah dan Sunnah Nabi, tidak ada umat yang menyamai para sahabat. Merekalah yang paling konsekuen mengamalkan Al Qur’an dan sunnah nabi. Hal ini ditegaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad da’i Ibnu Mas’ud ra. “Barangsiapa hendak menjadikan teladan, teladanilahh para sahabat Rasulullah saw. Sebab, mereka itu paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit takallufnya (tidak suka mengada-ada), paling lurus petunjuknya, dan paling baik keadaannya. Mereka adalah kaum yang dipilih Allah untuk menemani Nabi-Nya dan menegakkan din-Nya. Karena itu, hendaklah kalian mengenali keutamaan jasa-jasa mereka dan ikutlah jejak mereka, sebab mereka senantiasa berada di atas jalan (Allah) yang lurus.”11. Cara para sahabat menerima Al Qur’an dan As Sunnah Ibnu Qayyim mengatakan bahwa cara Nabi saw menyampaikan Al Qur’an kepada para sahabat adalah langsung dengan lafazh dan maknanya. Tidak ada penyampaian lain, kecuali dengan cara tersebut. Firman Allah: “...Dan tiada lain kewajiban Rasul itu kecuali menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.” (An Nur 24:54) Ayat di atas mengandung maksud bahwa penyampaian makna merupakan tingkat penjelasan tertinggi. Para ahli ilmu dan iman mengakui apa yang dinyatakan Allah, para malaikat dan generasi terbaik (sahabat) bahwa nabi saw telah menyampaikan secara jelas dan pasti mengenai makna-makna Al Qur’an dan Sunnah berikut lafazh-lafazhnya. Bahkan, porsi penyampaian makna lebih besar daripada penyampaian lafazh. Sebab, lafazh-lafazh Al Qur’an dan Sunnah hanya dihafal oleh orang-orang tertentu, sedangkan makna disampaikan Nabi untuk umum dan khusus. Hubaib bin Abdullah al-Bajali dan Abdullah bin Umar berkata, “Kami belajar beriman, kemudian belajar Al Quran. Maka bertambahlah iman kami.” Demikianlah para sahabat mengambil lafazh-lafazh Al Qur’an dan maknanya dari Rasulullah saw, bahkan perhatian mereka lebih besar terhadap pengambilan makna daripada lafazh. Mereka terlebih dahulu mengambil makna, baru lafaazh, agar makna tersebut tetap terpelihara dan tidak lepas dari mereka. Dalam hal menerima hadits juga demikian. Para sahabat langsung mendengarnya dari nabi saw. Mereka telah banyak menyaksikan dan mengetahui dengan hati mengenai tujuan dan dakwah rasulullah saw. Maka tidaklah sama orang
  10. 10. yang mendengar, mengetahui, dan melihat langsung keadaan Nabi dengan yang hanya mendengar melalui perantara. Sehubungan dengan itu Imam Ahmad mengatakan bahwa prinsip sunnah berpegang pada apa yang dijalankan para sahabat Rasulullah saw dengan i’tikad bahwa golongan yang selamat (ahli sinnah) adalah golongan yang mengikuti Rasulullah dan para sahabatnya, sebagaiman Rasul bersabda: “Mereka adalah orang- orang yang mengikuti jalanku dan para sahabatku.” Maka jelaslah dalam menafsirkan Al Qur’an serta mentakwilkannya wajib merujuk pada sahabat Nabi. Dan telah diketahui bahwa generasi sesudah mereka mengikuti jejak mereka dengan baik, yaitu mengambil sesuatu (pengetahuan Al Qur’an dan Sunnah) tanpa menyimpang seperti yang diajarkan Nabi pada mereka.” (Mukhtashar ash-Shawa’iqul Mursilah 2:335 dst)12. Hadits - hadits tentang perpecahan umat, golongan yang benar, dan kewajiban mengikuti jama’ah a. Riwayat dan alur hadits tentang perpecahan umat i. Dari Abu Hurairah ra. Ia berkata bahwa Rasulullah bersabda: “Kaum Yahudi terpecah belah menjadi tujuh puluh satu atau tujuh puluh dua golongan. Kaum Nashrani terpecah belah menjadi tujuh puluh satu atau tujuh puluh dua golongan. Begitu pun umatku terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan.” (HR. Abu Daud, Turmudzi, al-Hakim, Ahmad, dll) ii. Dari Amir Abdullah bin Luhai. Ia berkata, “kami berangkat haji bersama Mu’awiyah bin Abi Sufya. Ketika sampai di Makkah, Mu’awiyah berdiri –saat akan menunaikan shalat dzuhur- dan berkata, sesungguhnya Rasulullah saw telah bersabda: “Sesungguhnya pengikut dua kitab (Yahudi dan Nashrani) terpecah mengenai agama mereka menjadi tujuh puluh dua aliran, dan umat (Islam) ini akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga aliran, yakni al-ahwa (mnegikuti hawa nafsu). Semuanya masuk neraka, kecuali satu, yaitu al- jama’ah. Sungguh akan muncul di kalangan umatku golongan-golongan yang akan diikuti oleh hawa nafsu seperti anjing kejar-kejaran bersama kawanannya. Tidak ada urat dan persendian yang tidak dimasukinya. Demi Allah, wahai bangsa Arab! Jika kalian tidak menegakkan ajaran Nabi kalian, maka bangsa lain lebih pantas untuk tidak menegakkannya.” (HR. Ahmad, Abu Daud, al-Hakim, dll, hadits dishahihkan oleh Al-Hakim, Adz-Dzahabi, Al- Iraqi, Ibnu Hajar, Ibnu taimiyah, dan Al-Albani). iii. Dari Abdullah bin Amr. Ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabd: “ Sungguh akan terjadi pada umatku apa yang pernah terjadi atas Bani Israil, bagaikan sepasang sandal. Jika di antara mereka ada yang menggauli ibunya secara terang-terangan, maka umatku pun akan ada orang yang berbuat demikian. Sesungguhnya Bani Israil telah terpecah menjadi tujuh puluh dua aliran. Semuanga akan masuk neraka kecuali satu. Dan umatku pun akan terpecah
  11. 11. menjadi tujuh puluh tiga aliran, semuanya akan masuk neraka kecuali satu. Para sahabat bertanya,’Siapakah golongan itu ya Rasulullah?’, Beliau menjawab, ‘Yakni mereka yang mengikuti jalan hidupku dan para sahabatku.’” (HR Turmudzi, Al-Ajuri, Al-Lalaka’i, dll). Hadits tsb hasan dengan syahid-syahidnya. Tirmudzi menilai hasan, sedangakn Al-Iraqi dan Ibnu Taimiyah menuki;nya dari Turmudzi serta menjadikannya hujjah. iv. Dari Auf bin Malik. Ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Kaum Yahudi terpecah menjadi 71 golongan. Yang satu akan masuk surga, sedangkan yang 70 akan masuk neraka. Dan kaum Nashrani terpecah menjadi 72 golongan. Yang 71 akan masuk neraka sedangkan yang satu masuk surga. Demi Allah, yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, sesungguhnya umatku akan terpecah menjadi 73 golongan. Yang satu masuk surga, sedangkan yang 72 masuk neraka. Para sahabat bertanya,’Wahai Rasulullah, siapakah mereka yang masuk surga itu?’, Beliau menjawab, ‘Al- Jama’ah.’” (HR Ibnu Majah, Al-Lalaka’i, dan Ibnu Abi ‘Ashim) v. Dari Anas bin Malik. Ia berkata bahwa Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Bani Israil terpecah menjadi 71 golongan, dan umatku akan terpecah menjadi 72 golongan. Semuanya masuk neraka, kecuali satu yaitu al- jama’ah.” (HR Ibnu Majah, Ahmad, Al-Lalaka’i, dll) vi. Dari Abi Umamah, ia berkata: “Bani Israil terpecah menjadi 71 atau 72 golongan, sedangkan umat (Islam) lebih satu golongan dari jum;ah ini (menjadi 73 golongan). Semuanya masuk neraka kecuali golongan mayoritas (as-sawadul a’zham). Lalu ada seorang laki-laki bertanya,’Wahai Abi Umamah, apakah ini pendapatmu sendiri atau engkau mendengarnya dari Rasulullah saw?’, dia menjawab,’Jika ini pendapatku sendiri, berarti aku orang yang terlalu berani. Aku mendengarnya dari Rasulullah saw bukan hanya satu, dua, atau tiga kali.’” (HR. Ibnu Abi Hashim, Al-Lalaka’i, dan Thabrani)b. Hadis tentang golongan yang membela kebenaran i. Dari Mu’awiyah. Ia berkata, pernah mendengar Rasulullah bersabda: “Akan senantiasa ada segolongan dari umatku yang menjalankan perintah Allah. mereka tak peduli akan orang-orang yang merendahkan dan menentang mereka, hingga datang keputusan Allah. Dan mereka lebih unggul dari yang lainnya.” (HR Muslim) ii. “Barangsiapa dikehendaki kebaikan oleh Allah, ia pun akan difaqihkannya dalam soal agama. Dan akan selalu ada segolongan dari kaum muslimin yang membela kebenaran dan selalu unggul dalam menghadapi musuh- musuhnya, hingga datang hari kiamat.” (HR Muslim) iii. “Barangsiapa dikehendaki kebaikan oleh Allah, ia pun akan difaqihkannya dalam soal agama. Sesungguhnya aku adalah pembagi, sedangkan Allah
  12. 12. pemberi. Urusan (agama) umat ini akan senantiasa lurus hingga datangnya hari kiamat atau datangnya keputusan Allah.” (HR Bukhari) iv. “Kemudian berdiri Malik bin Yukhamir as-Saksaki dan berkata,’Wahai Amirul Mukminin, saya mendengar Mu’adz bin Jabal berkata, mereka adalah penduduk Syam.’ Lalu Mu’awiyah berkata dengan suara nyaring,’Inilah Malik yang mengaku bahwa ia mendengar Mu’adz berkata, mereka adalah penduduk Syam.’” (HR Ahmad, Ibnu Majah, Abu Daud ath-Thayalisi, dan Al- Lalaka’i) v. Dari Mughirah bin Syu’bah, dari Nabi saw, beliau bersabda: “Akan senantiasa ada segolongan dari umatku yang tampil membela kebenaran sehingga datang keputusan Allah kepada mereka dan mereka menang.” (HR Bukhari) vi. “Akan senantiasa ada sekelompok manusia dari umatku yang berjuang membela kebenaran dan mereka unggul sehingga datang keputusan Allah Azza wa Jalla kepada mereka.” (HR Ahmad, Ad-Darimi, dan Al-Lalaka’i)vii. Dari Jabir bin Abdullah ra. ia berkata, “Aku mendengar Nabi saw bersabda: ‘Akan selalu ada segolongan dari umatku yang membela kebenaran dengan tegas hingga hari kiamat. Kemudian Isa putera Maryam ra turun. Lalu pemimpin mereka berkata,’Marilah shalat untuk kami (mengimami kami).’ Isa menjawab,’Tidak. Sesungguhnya sebagian kamu adalah pemimpin sebagian lainnya. Itulah penghargaan Allah atas umat ini.’”viii. Dari Tsauban ra. ia mengatakan bahwa Rasulullah saw bersabda: “Akan senantiasa ada segolongan dari umatku yang tampil membela kebenaran. Mereka tidak peduli terhadap orang-orang yang merendahkan mereka, sehingga datang keputusan Allah, sedangkan mereka dalam keadaan seperti itu.” (HR Muslim) ix. Dalam satu lafazh disebutkan: “Sesungguhnya Allah mengerutkan (menyempitkan) bumi untukku (atau beliau mengatakan: sesungguhnya Rabbku mengerutkan bumi untukku). Lalu aku melihat bagian timur dan baratnya dan kekuasaan umatku akan mencapai apa yang ditampakkan kepadaku. Aku diberi dua perbendaharaan: yang merah dan yang putih. Dan aku meminta kepada Rabbku –untuk umatku- agar Dia tidak membinasakan mereka dengan bahaya kelaparan dan tidak menjadikan mereka dikuasai musuh yang bukan dari kalangan mereka sendiri, yang merampas kekayaan mereka. Sesungguhnya Rabbku Azza wa Jalla telah berfirman, ‘Wahai Muhammad, sesungguhnya jika Aku sudah menetapkan suatu perkara, maka ketetapan-Ku tak dapat ditolak (dan berkata Yunus: tidak bisa ditolak). Aku berikan (janji) kepadamu –untuk umatmu- bahwa Aku tidak akan membinasakan mereka dengan bahaya kelaparan. Aku tidak akan menjadikan mereka dikuasai oleh musuh yang bukan dari kalangan mereka sendiri, meskipun musuh-musuh itu telah mengepung mereka, sehingga sebagian mereka menawan sebagian yang lain.’ Sesungguhnya yang aku
  13. 13. khawatirkan atas umatku adalah para pemimpin yang menyesatkan. Jika telah diletakkan pedang pada umatku, maka ia tidak dapat diangkat lagi hingga hari kiamat. Dan tidaklah datang hari kiamat kecuali setelah ada beberapa golongan umatku yang berhadapan dengan orang-orang musyrik dan para penyembah berhala.” Selanjutnya beliau bersabda: “Sesungguhnya akan muncul tiga puluh orang pembohong di kalangan umatku yang masing-masing mendakwakan dirinya sebagai nabi, padahal akulah nabi terakhir. Tidak ada nabi lagi sesudahku. Dan akan senantiasa ada sekelompok umatku yang tampil membela kebenaran dan mereka selalu unggul (mendapat pertolongan Allah). mereka tak mempedulikan orang yang menentang mereka, hingga datang hari kiamat dan mereka tetap demikian.” (HR Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah, Al- Hakim) x. Dari Abdurrahman bin Syamasah al-Mahri. Ia berkata: “Aku sedang berada di sampingg Muslin bin Maklad dan di sebelahnya ada Abdullah bin Amr bin Ash. Lalu Abdullah berkata, ‘Tidak terjadi kiamat kecuali karena ulah jahat manusia. Mereka lebih jahat daripada orang jahiliah. Tidaklah mereka memohon sesuatu kepada Allah melainkan akan ditolaknya.’ (Ketika mereka sedang bercakap-cakap), tiba-tiba datang Uqbah bin Amir. Kemudian Maslamah berkata kepadanya, ‘Wahai Uqbah, dengarlah apa yang dikatakan Abdullah!’, Uqbah pun menjawab, ‘Dia lebih mengerti tapi aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: ‘Akan senantiasa ada segolongan dari umatku yang membela agama Allah dan mengalahkan musuh mereka. Mereka tak mempedulikan orang yang menentang mereka, sehingga datang hari kiamat, sedangkan mereka tetap dalam keadaan seperti itu.’ Lalu Abdullah berkata, ‘Benar! Kemudian Allah mengirim angin yang wangi bagai kesturi dan lembut bagaikan sutera. Maka Ia tak membiarkan jiwa seseorang yang di hatinya terdapat iman sebesar biji, melainkan dicabutnya, dan di atas mereka itulah terjadinya kiamat.’” (HR Muslim) xi. Dari Sa’ad bin Abi Waqqash ra. Ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Akan selalu ada penduduk kawasan barat (ahlul-gharbi)yang tegak membela kebenaran hingga datangnya hari kiamat.” (HR Muslim)xii. Dari Qurrah al-Muzani ra. ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Jika penduduk Syam telah rusak, maka tiada lagi kebaikan pada kalian. Dan akan senantiasa ada orang-orang dari umatku yang mendapat pertolongan. Mereka tidak mempedulikan orang-orang yang mengecewakan mereka, hingga datangnya kiamat.” (HR Ahmad, Turmudzi, Ibnu Majah, dan Al- Lalaka’i)xiii. Dari Jabir bin samurah ra. ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Ad- Din (islam) ini akan senantiasa berdiri dan dibelaoleh segolongan dari kaum muslimin sehingga datangnya hari kiamat.” (HR Muslim)
  14. 14. xiv. Dari Imran bin Hushai ra. ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Akan senantiasa ada segolongan dari umatku yang membela kebenaran dan mereka unggul atas musuh mereka, hingga orang terakhir dari mereka memerangi Al-masih Ad-Dajjal.” (HR Ahmad) xv. Dari Salamah bin Nufail al-Kindi ra. ia berkata, “Aku sedang duduk di samping Rasulullah saw. Tiba-tiba ada seorang laki-laki berkata, ‘Wahai Rasulullah, orang-orang telah menambatkan kuda dan meletakkan senjata, serta mereka mengatakan bahwa kini tidak ada lagi jihad karena perang telah usai.’ Maka Rasulullah saw. menoleh pada laki-laki itu seraya bersabda: ‘Mereka berdusta. Sekarang, sekarang ini sedang terjadi peperangan. Dan senantiasa ada segolongan dari umatku yang berjuang membela kebenaran serta Allah menundukkan hati kaum untuk mereka, memberi rizki pada mereka, hingga datang hari yang dijanjikan Allah (kiamat). Di punggung-punggung kuda terdapat kebaikan-hingga kiamat. Hal itu menandakan bahwa sebentar lagi aku akan wafat, dan kalian akan menyusul-ku sekelompok demi sekelompok. Sebagian kamu akan membunuh sebagian lainnya. Adapun tempat kaum mukmin adalah Syam.’” (HR Nasa’i)c. Hadits yang mewajibkan umat agar komitmen (iltizam) dengan jama’ah dan mengikuti sunnah i. Dari Ibnu Abbas ra. dari Nabi saw. Beliau bersabda: “Barangsiapa tidak menyukai sesuatu dari pemimpinnya, hendaklah ia bersabar. Karena barangsiapa keluar sejengkal saja dari ketaatan pemimpinnya, maka ia pun mati dalam keadaan jahiliah,” (HR Bukhari) ii. Dalam satu lafazh disebutkan: “Barangsiapa yang melihat sesuatu yang tidak menyenangkan dari pemimpinnya, maka hendaklah ia bersabar. Karena barangsiapa meninggalkan jama’ah sejengkal saja, lantas ia mati, maka matinya itu dalam keadaan jahiliah.” (HR Bukhari Muslim) iii. Dari Abdullah bin Umar ra. Ia berkata bahwa Umar bin Khattan ra. pernah berkhutbah di Al-Jabiyah. Kata beliau, “Rasulullah saw. pernah berdiri di tempatku ini kemudian bersabda: ‘Perlakukanlah para sahabatku dengan baik, kemudian orang-orang sesudah mereka, dan sesudahnya lagi. Kelak akan tersiar kebohongan, hingga ada orang yang mulai memberi kesaksian sebelum diminta. Maka barangsiapa di antara kamu menghendaki tengah- tengah surga, hendaklah ia komitmen dengan jama’ah. Sesungguhnya setan menyertai orang yang menyendiri dan lebih menjauhi dua orang...” (HR Ahmad, Turmudzi, Hakim, dan Ibnu Abi ‘Ashim) iv. Dari Abu Hurairah ra. ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Shalat fardhu hingga shalat fardhu berikutnya merupakan tebusan bagi dosa-dosa di antara keudanya. Begitu pun shalat Jum’at hingga shalat Jum’at berikutnya, bulan Ramadhan hingga Ramadhan berikutnya merupakan tebusan bagi dosa-dosa di antara keduanya.” Kemudian beliau bersabda,
  15. 15. “Kecuali tiga perkara. Tahukah kamu, apakah tiga perkara yang akan terjadi tersebut? Ketiga perkara itu adalah: mempersekutukan Allah, mengingkari jual beli, dan meninggalkan sunnah. Adapun mengingkari (meninggalkan) jual beli adalah engkau berbaiat kepada seseorang lalu engkau mengingkari dan memeranginya dengan pedangmu. Adapun meninggalkan Sunnah ialah keluar dari al-jama’ah.” (HR Ahmad dan al-Hakim) v. Dari Samurah bin Jundub ra. ia berkata: “Amma ba’du, sesungguhnya Nabi saw. menamakan kuda-kuda kami sebagai kuda-kuda Allah jika kami merasa takut. Dan jika kami merasa takut (dalam peperangan). Rasulullah saw. menyuruh kami beriltizam pada jama’ah, bersabar, dan bersikap tenang apabila kami berperang.” (HR Abu Daud) vi. Dari Ibnu Abbas ra. Ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Tangan Allah bersama al-jama’ah.” (HR Turmudzi, Thabrani, Abi ‘Ashim)vii. Dari Ibnu Umar ra. ia berkata Rasulullah saw. bersabda: “Allah tidak menyatukan umat ini –atau umatku- di atas kesesatan.” (HR Turmudzi, Al- Hakim, Ibnu Abi ‘Ashim, At-Thabrani, dan Al-Lalaka’i)viii. Dalam suatu lafazh dan sesudahnya disebutkan: “Dan ikutilah golongan mayoritas, karena barangsiapa menyendiri, ia akan menyendiri pula dalam neraka.” (HR Al-Hakim) ix. Dari Ibnu Mas’ud ra. ia berkata Rasulullah saw. bersabda: “Tidak halal darah seorang muslim yang bersyahadat bahwa tidak ada ilah selain Allah dan bahwa aku Rasulullah, kecuali dengan salah satu dari tiga perkara, yaitu: jiwa dibalas dengan jiwa (membunuh), duda dan janda yang berzina, serta orang yang meninggalkan din dan al-jama’ah.” (HR Bukhari) x. Dari Al Irbadl bin Sariyah ra. ia berkata: “Pada suatu hari ketika usai menunaikan shalat shubuh, Rasulullah saw menasihati kami dengan kata- kata yang sangat dalam dan mengesankan hingga kami meneteskan air mata serta hati kami merasa takut. Kemudian ada seorang lelaki berkata, ‘Sesungguhnya ini nasihat orang yang akan berpisah. Maka apakah yang engkau pesankan kepada kami, wahai Rasulullah?’, Beliau menjawab, “Kupesankan kepadamu agar bertakwa kepada Allah, mendengar dan mentaati (pemimpinmu) sekalipun dari budak Habsyi. Karena barangsiapa yang masih hidup di antara kamu, ia akan melihat banyak perselisihan. Jauhkanlah dirimu dari perkara yang diada-adakan (bid’ah), karena yang demikian itu adalah kesesatan. Barangsiapa di antara kamu mengalami jaman seperti itu, maka hendaklah berpegang teguh pada Sunnahku dan Sunnah para Khalifah ar-Rasyidin. Peganglah Sunnah itu erat-erat.’” (HR Turmudzi, Abu Daud, dan Ahmad) xi. Dari Jabir bin Abdullah ia berkata: “Jika Rasulullah saw berkhutbah, kedua matanya memerah, suaranya lantang, dan dengan nada penuh semangat, seakan beliau memberi peringatan kepada prajurit: awas ada musuh datang
  16. 16. pada saat pagi dan petang. ‘Aku diutus, sedangkan jarak antara diutusnya aku dengan hari kiamat seperti dua jari ini’, kata beliau sambil merapatkan jari telunjuk dan jari tengahnya. Kemudia beliau bersabda: ‘Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad. Adapun sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah), dan bid’ah adalah kesesatan.’ Kemudian beliau melanjutkan, ‘Aku lebih patut dicintai setiap mukmin daripada ia mencintai dirinya sendiri. Barangsiapa meninggalkan harta, maka keluarganyalah yang berhak memilikinya, dan barangsiapa meninggalkan hutang maka akulah yang mengurusi serta menanggungnya.’” (HR Muslim)d. Hadits Hudzaifah ra Hudzaifah ra. berkata: “Orang-orang bertanya kepada Rasulullah saw. tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya tentang kejelekan karena khawatir hal ini akan menimpa diriku. Pertanyaanku, ‘Wahai Rasulullah, kami dahulu hidup pada jaman jahiliah yang penuh kejelekan, lalu Allah mendatangkan kebaikan ini. Apakah sesudah kebaikan ini akan ada kejelekan?’ Beliau menjawab, ‘Ya.’ Aku bertanya lagi, ‘Apakah sesudah kejelekan itu akan ada kebaikan lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ya tapi di dalamnya terdapat kotoran.’ Aku bertanya lagi, ‘Apakah kotorannya itu?’ Beliau menjawab, ‘Kaum yang memberi petunjuk dengan selain petunjukku. Engkau mengenali mereka tapi mengingkarinya.’ Aku bertanya lagi, ‘Apakah sesudah kebaikan (yang terkena kekotoran itu) akan ada kejelekan lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ya, yaitu orang-orang yang mengajak ke pintu Jahannam. Barangsiapa mengikuti ajakan mereka, berarti ia telah dilemparkan ke neraka Jahannam.’ Aku bertanya lagi, ‘Ya Rasulullah terangkanlah kepada kami ciri-ciri mereka.’ Beliau menjawab, ‘Kulit mereka sama dengan kulit kita, bahasa mereka sama dengan bahasa kita.’ Aku bertanya, ‘Apakah yang engkau perintahkan jika aku mengalami jaman seperti itu?’ Beliau menjawab, ‘Beriltizamlah pada jama’ah muslim dan para Imam mereka.’ Aku bertanya lagi, ‘Bagaimana jika mereka tidak mempunyai jama’ah dan imam?’ Beliau menjawab, ‘Jauhilah semua golongan itu meskipun engkau harus mengigit akar pohon hingga engkau mati dalam keadaan seperti itu.’” (HR Bukhari dan Muslim)
  17. 17. B. DEFINISI PENTING 1. Definisi Sunnah As-sunnah, menurut bahasa Arab adalah ath-thariqah, berarti metode, kebiasaan, perjalanan hidup, atau perilaku, baik terpuji maupun tercela. Dalam sebuah hadits disebutkan: “Barangsiapa melakukan sunnah yang baik dalam Islam, maka selain memperoleh pahala bagi dirinya, juga mendapat tambahan pahala dari orang yang mengamalkan sesudahnya, dengan tanpa mengurangi sedikit pun pahala mereka. Dan barangsiapa melakukan sunnah yang jelek dalam Islam, maka selain memperoleh dosa bagi dirinya, juga mendapat tambahan dosa dari orang yang melakukan sesudahnya, dengan tanpa mengurangi sedikit pun dosa mereka.” (HR Muslim) Sunnah dalam istilah syara’, menurut para ahli hadits, adalah segala sesuatu yang diriwayatkan dari Nabi saw, yang berupa perkataan, perbuatan, ketetapan, karakter, akhlak, ataupun perilaku, baik sebelum maupun sesudah diangkat menjadi nabi. Dalam hal ini, pengertian sunnah menurut sebagian dari mereka, sama dengan hadits (As Sunnah wa Makanatuha Fit-Tasyri’il Islami, Mushthafa as Siba’i, hlm 47) Menurut ahli ushul, sunnah adalah sesuatu yang dinukil dari Nabi saw. secara khusus. Ia tidak ada nashnya dalam Al Quran, tetapi dinyatakan oleh Nabi saw dan sekaligus penjelasan awal dari isi Al Qur’an. (Asy-Syatibi, Al-Muwafaqat 4:47) Menurut fuqaha, sunnah adalah ketetapan dari Nabi saw. yang bukan fardhu dan bukan wajib. (Asy-Syaukani, Irsyadul Fuhul, hlm 31). Sunnah digunakan sebagai lambang pembeda antara ahli sunnah dan ahli bid’ah. (al Muwafaqat 4:4) Menurut ulama hadits muta’akhirin, sunnah ibarat ungkapan yang dapat menyelamatkan dari keragu-raguan tentang aqidah, khususnya perkara iman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, takdir, dan masalah keutamaan para shahabat. Istilah sunnah menurut ulama hadits muta’akhirin, lebih ditekankan pada aspek aqidah, karena dianggap penting. Namun jika diperhatikan dengan seksama, lafazh ini lebih mengacu pada pengertian jalan hidup Nabi saw dan para sahabatnya ra., baik ilmu, amal, akhlak, ataupun segi kehidupan lain. 2. Definisi Al-Jama’ah 3. Definisi Ahli Hadits 4. Definisi Salaf 5. Definisi Golongan yang Mendapat Pertolongan

×