Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Kelompok sik hipertensil

37 views

Published on

data hipertensi disukabumi

Published in: Healthcare
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Kelompok sik hipertensil

  1. 1. KEJADIAN HIPERTENSI DI SUKABUMI (Diajukan untuk Memehuni Salah Satu Tugas Makalah Sistem Informasi Kesehatan) Disusun Oleh : Kelas 4A Sarjana Keperawatan 1. ARDLYANSYA BAN A. NIM.C1AA16015 2. ERICK NIRWANA NIM.C1AA16029 3. MIRNAWATI NIM.C1AA16055 4. NENDEN HASANAH NIM.C1AA16071 5. RATU S. RAFIAH N. NIM.C1AA16079 SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATA SUKABUMI SARJANA KEPERAWATAN 2019
  2. 2. KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas Rahmat dan Hidayah-Nya yang telah memberikan kemudahan kepada kami sehingga kami bisa menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Kami mengucapkan terikamasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi sehingga dapat terselesakannya makalah ini dengan judul “Kejadian Hipertensi di Sukabumi”. Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan masih banyak kesalahan serta kekurangan didalamnya. Untuk itu kami mengharapkan kritik serta saran dari pembaca untuk makalah ini, supaya makalah ini nantinya dapat menjadi makalah yang baik lagi. Sukabumi, September 2019 Penyusun
  3. 3. DAFTAR ISI KATA PENGANTAR.................................................................................................... 2 DAFTAR ISI................................................................................................................... 3 BAB I............................................................................................................................... 5 PENDAHULUAN .......................................................................................................... 5 A. Latar Belakang................................................................................................... 5 B. Rumusan Masalah.............................................................................................. 6 C. Tujuan................................................................................................................. 6 BAB II ............................................................................................................................. 7 TINJAUAN PUSTAKA................................................................................................. 7 A. Pengertian Hipertensi........................................................................................ 7 B. Jenis Hipertensi.................................................................................................. 7 C. Patofisiologi ........................................................................................................ 8 D. Manifestasi........................................................................................................ 10 E. Penatalaksanaan............................................................................................... 11 BAB III.......................................................................................................................... 14 DATA TABEL DAN GRAFIK................................................................................... 14 A. Hipertensi di Sukabumi................................................................................... 14 B. Tabel Data Jumlah Lansia dan Lansia dengan Hipertensi di Kota Sukabumi Tahun 2018............................................................................................. 14 C. Diagram Data Lansia dengan Hipertensi di Kota Sukabumi Tahun 2018. 15 BAB IV.......................................................................................................................... 16 PEMBAHASAN ........................................................................................................... 16 A. Berdasarkan Data Tabel ................................................................................. 16 B. Berdasarkan Data Diagram ............................................................................ 16 BAB V ........................................................................................................................... 17 KESIMPULAN ............................................................................................................ 17 A. Kesimpulan....................................................................................................... 17
  4. 4. B. Saran ................................................................................................................. 17 DAFTAR PUSTAKA................................................................................................... 18
  5. 5. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu peningkatan abnormal tekanan darah dalam pembuluh darah arteri secara terus-menerus lebih dari suatu periode. Menurut WHO, batasan tekanan darah yang masih dianggap normal adalah 140/90 mmHg, sedangkan tekanan darah ≥160/95 mmHg dinyatakan sebagai Hipertensi. Tekanan darah di antara normotensi dan Hipertensi disebut borderline hypertension (Garis Batas Hipertensi). Batasan WHO tersebut tidak membedakan usia dan jenis kelamin (Udjianti, 2010). Prevalensi Hipertensi yang tinggi tidak hanya terjadi di negara maju tetapi juga di negara berkembang seperti di Indonesia. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2018 menunjukkan angka prevalensi Hipertensi hasil pengukuran mencapai 34,1% meningkat tajam dari 25,8% pada tahun 2013, dengan angka prevalensi tertinggi di Provinsi Kalimantan Selatan sebesar 44,1% dan terendah di provinsi Papua sebesar 22,2%. Provinsi Gorontalo sendiri pada hasil Riskesdas 2013 mencapai 29,0% dan pada Riskesdas tahun 2018 menjadi 31,0% dan berada pada urutan ke 20 dari 34 Provinsi (Kemenkes RI, 2018). Beberapa faktor yang dapat menyebabkan Hipertensi antara lain kebiasaan hidup atau perilaku kebiasaan mengkonsumsi natrium yang tinggi, kegemukan, stres, merokok, dan minum alkohol (Padila, 2013). Adapun tingginya prevalensi Hipertensi menurut dikarenakan gaya hidup yang tidak sehat seperti kurangnya olahraga/aktivitas fisik, kebiasaan merokok, dan mengkonsumsi makanan yang tinggi kadar lemaknya (Ainun, Sidik, & Rismayanti, 2014). Hasil penelitian Badan Penelitian dan Kementrian Kesehatan RI tahun 2018 menyatakan Jawa Barat merupakan propinsi yang memiliki prevalensi tertinggi kedua dengan persentase (40.5%) setelah Kalimantan Timur (39.5%), Jawa Tengah (38.5%) dan Kalimantan Barat (37.5%). Terbesar di propinsi Kalimantan Selatan (44.1%), dan terendah pada propinsi Papua
  6. 6. (22.2%) Angka ini menunjukan bahwa di Jawa Barat angka kejadian hipertensi masih tergolong tinggi (Riskesdas, 2018). Berbagai data menunjukan bahwa hipertensi sebagian besar banyak diderita oleh lansia termasuk di Sukabumi, oleh karena itu kami akan membahas tentang hipertensi yang ada di Sukabumi dan bagaimana cara menanggulanginya. B. Rumusan Masalah Berdasarkan data dan uraian di latar belakang banyak sekali penderita hipertensi di dunia, maka kelompok akan menjelaskan tentang hipertensi dan berapa presentase penderita hipertensi yang ada di Sukabumi. C. Tujuan 1. Tujuan Umum Tujuan umum dalam penelitian ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas dari Mata Kuliah Sistem Informasi Kesehatan. 2. Tujuan Khusus Adapun tujuan khusus dari pembuatan masyarakat ini adalah : a. Mengidentifikasi gambaran tentang hipertensi b. Mengidentifikasi gambaran tentang bagaimana penatalaksaannya hipertensi c. Mengidentifikasi gambaran tentang bagaimana hipertensi itu terjadi d. Mengidentifikasi berapa presentase penderita hipertensi yang ada di Sukabumi.
  7. 7. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Hipertensi Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan pembunuh diam-diam karena pada sebagian besar kasus tidak menunjukkan gejala apapun. Hipertensi merupakan salah satu faktor resiko utama yang menyebabkan serangan jantung dan stroke, yang menyerang sebagian besar penduduk dunia. Hipertensi adalah suatu keadaan dimana dijumpai tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih untuk usia 13 – 50 tahun dan tekanan darah mencapai 160/95 mmHg untuk usia di atas 50 tahun. Pengukuran tekanan darah minimal sebanyak dua kali untuk lebih memastikan keadaan tersebut (WHO, 2005). Hipertensi dapat dikelompokan menjadi dua jenis, yaitu: Hipertensi primer atau essensial dan hipertensi sekunder. Hipertensi primer adalah hipertensi yang tidak atau belum diketahui penyebabnya. Hipertensi primer menyebabkan perubahan pada jantung dan pembuluh darah. Sedangkan hipertensi sekunder adalah hipertensi yang disebabkan atau sebagai akibat dari adanya penyakit lain dan biasanya penyebabnya sudah diketahui, seperti penyakit ginjal dan kelainan hormonal atau pemakaian obat tertentu (Anggraini, 2009). B. Jenis Hipertensi Berdasarkan infodation kementrian kesehatan RI klasifikasi hipertensi dibagi menjadi beberapa macam, yaitu : 1. Berdasarkan penyebab a. Hipertensi Primer/Hipertensi Esensial Hipertensi yang penyebabnya tidak diketahui (idiopatik), walaupun dikaitkan dengan kombinasi faktor gaya hid up seperti kurang bergerak (inaktivitas) dan pola makan. Terjadi pada sekitar 90% penderita hipertensi.
  8. 8. b. Hipertensi Sekunder/Hipertensi Non Esensial Hipertensi yang diketahui penyebabnya. Pada sekitar 5-10% penderita hipertensi, penyebabnya adalah penyakit ginjal. Pada sekitar 1-2%, penyebabnya adalah kelainan hormonal atau pemakaian obat tertentu (misalnya pil KB). 2. Berdasarkan bentuk Hipertensi Hipertensi diastolik {diastolic hypertension}, Hipertensi campuran (sistol dan diastol yang meninggi), Hipertensi sistolik (isolated systolic hypertension). 3. Hipertensi Pulmonal Suatu penyakit yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah pada pembuluh darah arteri paru-paru yang menyebabkan sesak nafas, pusing dan pingsan pada saat melakukan aktivitas. Berdasar penyebabnya hipertensi pulmonal dapat menjadi penyakit berat yang ditandai dengan penurunan toleransi dalam melakukan aktivitas dan gagal jantung kanan. Hipertensi pulmonal primer sering didapatkan pada usia muda dan usia pertengahan, lebih sering didapatkan pada perempuan dengan perbandingan 2:1, angka kejadian pertahun sekitar 2-3 kasus per 1 juta penduduk, dengan mean survival sampai timbulnya gejala penyakit sekitar 2-3 tahun. Kriteria diagnosis untuk hipertensi pulmonal merujuk pada National Institute of Health; bila tekanan sistolik arteri pulmonalis lebih dari 35 mmHg atau "mean"tekanan arteri pulmonalis lebih dari 25 mmHg pada saat istirahat atau lebih 30 mmHg pada aktifitas dan tidak didapatkan adanya kelainan katup pada jantung kiri, penyakit myokardium, penyakit jantung kongenital dan tidak adanya kelainan paru. C. Patofisiologi Tekanan arteri sistemik adalah hasil dari perkalian cardiac output (curah jantung) dengan total tahanan perifer. Cardiac output (curah jantung)
  9. 9. diperoleh dari perkalian antara stroke volume dengan heart rate (denyut jantung). Pengaturan tahanan perifer dipertahankan oleh sistem saraf otonom dan sirkulasi hormon. Empat sistem kontrol yang berperan dalam mempertahankan tekanan darah antara lain sistem baroreseptor arteri, pengaturan volume cairan tubuh, sistem renin angiotensin dan autoregulasi vaskular (Udjianti, 2011). Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak di vasomotor, pada medulla di otak. Pusat vasomotor ini bermula jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah korda spinalis dan keluar dari kolumna medulla spinalis ganglia simpatis di toraks dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk implus yang bergerak kebawah melalui sistem saraf simpatis ke ganglia simpatis. Titik neuron preganglion melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang serabut saraf paska ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya norepineprin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah (Padila, 2013). Berbagai faktor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap rangsangan vasokontriksi. Individu dengan hipertensi sangat sensitif terhadap norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi (Padila, 2013). Meski etiologi hipertensi masih belum jelas, banyak faktor diduga memegang peranan dalam genesis hiepertensi seperti yang sudah dijelaskan dan faktor psikis, sistem saraf, ginjal, jantung pembuluh darah, kortikosteroid, katekolamin, angiotensin, sodium, dan air (Syamsudin, 2011). Sistem saraf simpatis merangsang pembuluh darah sebagai respon rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang, mengakibatkan tambahan aktivitas vasokontriksi. Medulla adrenal mensekresi epinefrin, yang menyebabkan vasokontriksi. Korteks adrenal mensekresi kortisol dan steroid lainnya, yang dapat memperkuat respon vasokonstriktor pembuluh darah (Padila, 2013). Vasokonstriksi yang mengakibatkan penurunan aliran ke ginjal, menyebabkan pelepasan renin. Renin merangsang pembentukan
  10. 10. angiotensin I yang kemudian diubah menjadi angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan volume intra vaskuler. Semua faktor ini cendrung mencetuskan keadaan hipertensi (Padila, 2013). D. Manifestasi Hipertensi sulit dideteksi oleh seseorang sebab hipertensi tidak memiliki tanda/gejala khusus. Gejala-gejala yang mudah untuk diamati seperti terjadi pada gejala ringan yaitu pusing atau sakit kepala, cemas, wajah tampak kemerahan, tengkuk terasa pegal, cepat marah, telinga berdengung, sulit tidur, sesak napas, rasa berat di tengkuk, mudah lelah, mata berkunang-kunang, mimisan (keluar darah di hidung) (Fauzi, 2014 dalam Ignatavicius, Workman, & Rebar, 2017). Selain itu, hipertensi memiliki tanda klinis yang dapat terjadi, diantaranya adalah (Smeltzer, 2013): 1. Pemeriksaan fisik dapat mendeteksi bahwa tidak ada abnormalitas lain selain tekanan darah tinggi. 2. Perubahan yang terjadi pada retina disertai hemoragi, eksudat, penyempitan arteriol, dan bintik katun-wol (cotton-wool spots) (infarksio kecil), dan papiledema bisa terlihat pada penderita hipertensi berat. 3. Gejala biasanya mengindikasikan kerusakan vaskular yang saling berhubungan dengan sistem organ yang dialiri pembuluh darah yang terganggu. 4. Dampak yang sering terjadi yaitu penyakit arteri koroner dengan angina atau infark miokardium. 5. Terjadi Hipertrofi ventrikel kiri dan selanjutnya akan terjadi gagal jantung.
  11. 11. 6. Perubahan patologis bisa terjadi di ginjal (nokturia, peningkatan BUN, serta kadar kreatinin). 7. Terjadi gangguan serebrovaskular (stroke atau serangan iskemik transien [TIA] yaitu perubahan yang terjadi pada penglihatan atau kemampuan bicara, pening, kelemahan, jatuh mendadak atau hemiplegia transien atau permanen). E. Penatalaksanaan Penatalaksanaan pada hipertensi bertujuan mengurangi morbiditas dan mortalitas dan mengontrol tekanan darah dalam pengobatan hipertensi. Ada dua cara yaitu pengobatan non-farmakologi (perubahan gaya hidup) dan pengobatan farmakologi (Pudiastusti, 2011). 1. Nonfarmakologi Menjalani pola hidup sehat telah banyak terbukti dapat menurunkan tekanan darah, dan secara umum sangat menguntungkan dalam menurunkan risiko permasalahan kardiovaskular. Pada pasien yang menderita hipertensi derajat 1, tanpa faktor risiko kardiovaskular lain, maka strategi pola hidup sehat merupakan tatalaksana tahap awal, yang harus dijalani setidaknya selama 4 – 6 bulan. Bila setelah jangka waktu tersebut, tidak didapatkan penurunan tekanan darah yang diharapkan atau didapatkan faktor risiko kardiovaskular yang lain, maka sangat dianjurkan untuk memulai terapi farmakologi. Beberapa pola hidup sehat yang dianjurkan oleh banyak guidelines adalah : a. Penurunan berat badan. Mengganti makanan tidak sehat dengan memperbanyak asupan sayuran dan buah-buahan dapat memberikan manfaat yang lebih selain penurunan tekanan darah seperti menghindari diabetes dan dislipidemia. b. Mengurangi asupan garam. Di negara kita, makanan tinggi garam dan lemak merupakan makanan tradisional pada kebanyakan daerah.
  12. 12. Tidak jarang pula pasien tidak menyadari kandungan garam pada makanan cepat saji, makanan kaleng, daging olahan dan sebagainya. Tidak jarang, diet rendah garam ini juga bermanfaat untuk mengurangi dosis obat antihipertensi pada pasien hipertensi derajat ≥ 2. Dianjurkan untuk asupan garam tidak melebihi 2 gr/ hari c. Olah raga. Olah raga yang dilakukan secara teratur sebanyak 30 – 60 menit/ hari, minimal 3 hari/ minggu, dapat menolong penurunan tekanan darah. Terhadap pasien yang tidak memiliki waktu untuk berolahraga secara khusus, sebaiknya harus tetap dianjurkan untuk berjalan kaki, mengendarai sepeda atau menaiki tangga dalam aktifitas rutin mereka di tempat kerjanya. d. Mengurangi konsumsi alcohol. Walaupun konsumsi alcohol belum menjadi pola hidup yang umum di negara kita, namun konsumsi alcohol semakin hari semakin meningkat seiring dengan perkembangan pergaulan dan gaya hidup, terutama di kota besar. Konsumsi alcohol lebih dari 2 gelas per hari pada pria atau 1 gelas per hari pada wanita, dapat meningkatkan tekanan darah. Dengan demikian membatasi atau menghentikan konsumsi alcohol sangat membantu dalam penurunan tekanan darah. e. Berhenti merokok. Walaupun hal ini sampai saat ini belum terbukti berefek langsung dapat menurunkan tekanan darah, tetapi merokok merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit kardiovaskular, dan pasien sebaiknya dianjurkan untuk berhenti merokok. 2. Terapi Farmakologi Secara umum, terapi farmakologi pada hipertensi dimulai bila pada pasien hipertensi derajat 1 yang tidak mengalami penurunan tekanan darah setelah > 6 bulan menjalani pola hidup sehat dan pada pasien dengan hipertensi derajat ≥ 2. Beberapa prinsip dasar terapi farmakologi yang perlu diperhatikan untuk menjaga kepatuhan dan meminimalisasi efek samping, yaitu :
  13. 13. a. Bila memungkinkan, berikan obat dosis tunggal b. Berikan obat generic (non-paten) bila sesuai dan dapat mengurangi biaya c. Berikan obat pada pasien usia lanjut ( diatas usia 80 tahun ) seperti pada usia 55 – 80 tahun, dengan memperhatikan factor komorbid d. Jangan mengkombinasikan angiotensin converting enzyme inhibitor (ACE-i) dengan angiotensin II receptor blockers (ARBs) e. Berikan edukasi yang menyeluruh kepada pasien mengenai terapi farmakologi f. Lakukan pemantauan efek samping obat secara teratur Algoritme tatalaksana hipertensi yang direkomendasikan berbagai guidelines memiliki persamaan prinsip, dan dibawah ini adalah algoritme tatalaksana hipertensi secara umum, yang disadur dari A Statement by the American Society of Hypertension and the International Society of Hypertension2013;
  14. 14. BAB III DATA TABEL DAN GRAFIK A. Hipertensi di Sukabumi Kota Sukabumi merupakan salah satu kota di Jawa Barat yang memiliki penderita hipertensi. Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kota Sukabumi jumlah lansia dan lansia dengan hipertensi tahun 2018 dapat dilihat pada tabel berikut : B. Tabel Data Jumlah Lansia dan Lansia dengan Hipertensi di Kota Sukabumi Tahun 2018 No. Puskesmas Lansia dengan % Orang Hipertensi 1 Baros 1793 1161 64.7 2 Cipelang 1792 879 49.0 3 Selabatu 1866 912 48.8 4 Sukakarya 1463 712 48.6 5 Tipar 1758 850 48.3 6 Naggleng 1542 732 47.4 7 Gedong Panjang 1721 809 47.0 8 Pabuaran 1316 612 46.5 9 Limusnunggal 1737 809 46.5 10 Cikundul 2055 933 45.4 11 Ciberem Hilir 2131 833 39.0 12 Kab. Sukabumi 4076 1529 37.5 13 Karang Tengah 2699 1008 37.3 14 Lembursitu 1866 912 36.0 15 Benteng 2700 520 19.2
  15. 15. Total 30291 12891 42.5 Sumber : Dinas Kesehatan Kota Sukabumi, 2018 C. Diagram Data Lansia dengan Hipertensi di Kota Sukabumi Tahun 2018 7% 7% 6% 7% 6% 7% 5%7%8% 7% 13% 8% 8% 4% cipelang selabatu sukakarya tipar nanggleng gedong panjang pabuaran limus nunggal cikundul ciberem hilir sukabumi karang tengah
  16. 16. BAB IV PEMBAHASAN A. Berdasarkan Data Tabel Berdasarkan tabel pada BAB III menunjukan bahwa Puskesmas Baros merupakan Puskesmas dengan kejadian lansia hipertensi terbanyak yaitu sebesar 67.7% atau 1.161 jiwa kejadian lansia dengan hipertensi dari jumlah 1.793 jiwa dan puskesmas Benteng merupakan kejadian terendah penderita hipertensi sebesar 520 jiwa atau sekitar 19.2% dari jumlah penduduk 2.700 jiwa. B. Berdasarkan Data Diagram Dan jika dilihat dari diagram lingkaran dari total 12.891 jiwa yang menderita hipertensi terbanyak yaitu berada di Kabupaten Sukabumi sebesar 12% atau sebesar 1.529 jiwa, sedangkan posisi terendah yang menderita hipertensi berada di Benteng dengan persentase 4% atau sebesar 520 jiwa.
  17. 17. BAB V KESIMPULAN A. Kesimpulan Dari penjabaran diatas kita bisa menyimpulkan bahwa banyak sekali penderita hipertensi didunia terutama di sukabumi, dari permasalah tersebut hipertensi sebenarnya merupakan penyakit yang bisa diatasi dengan perilaku hidup sehat. Seorang dapat menghindari penyakit tersebut apabila dapat mengontrol pola makan, pola istirahat, pola aktivitas dengan baik dan juga menghindari hal-hal yang dapat merusak kesehatan semisal merokok, begadang, maupun makan makanan yang dapat memacu penyakit Hipertensi. B. Saran Kami menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih banyak kekurangannya, maka dari itu kami mohon kritik dan sarannya yang membangun agar makalah ini menjadi lebih baik lagi.
  18. 18. DAFTAR PUSTAKA Adam, L. (2019). DETERMINAN HIPERTENSI PADA LANJUT USIA. Jambura Health and Sport Journal, Vol. 1, No. 2. Puspitasari, D. I., Hannan, M., & Chindy, L. D. (2017). PENGARUH JALAN PAGI TERHADAP PERUBAHAN TEKANAN DARAH PADA LANJUT USIA DENGAN HIPERTENSI. Jurnal Ners LENTERA, Vol. 5, No. 1. Infodatin. 2014. Hipertensi. Jakarta: Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI Indonesia Kemenkes RI. 2013. Tekanan Darah Tinggi. Jakarta: Kementrian Kesehatan RI Riskesdas. 2018. Prevelensi Hipertensi. Jakata: Riset Kesehatan Dasar

×