Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.
‫وبركاته‬ ‫هللا‬ ‫ورحمه‬ ‫عليكم‬ ‫السالم‬
‫الشيخ‬‫البانجاري‬
We wil present about syeikh
muhammad arsyad al-banjari
Muh. N...
Lahir: di desa Lok Gabang pada hari
kamis dinihari 15 Shofar 1122 H,
bertepatan 19 Maret 1710 M.
Anak pertama dari keluarg...
Sejak masa kecilnya Allah SWT telah menampakkan
kelebihan pada dirinya yang membedakannya dengan
kawan sebayanya. Dimana d...
Pada suatu hari, tatkala Sultan Kerajaan Banjar (Sultan Tahmidullah)
mengadakan kunjungan ke kampung-kampung, dan sampaila...
Setelah dewasa beliau dikawinkan dengan seorang perempuan
yang solehah bernama tuan “BAJUT”, seorang perempuan yang
ta’at ...
Di Tanah Suci, Muh. Arsyad mengaji kepada masyaikh terkemuka pada
masa itu. Diantara guru beliau adalah Syekh ‘Athoillah b...
Menurut riwayat, Khalifah al Sayyid Muhammad al Samman di
Indonesia pada masa itu, hanya empat orang, yaitu Syekh Muh.
Ars...
Sultan Tamjidillah (Raja Banjar) menyambut kedatangan
beliau dengan upacara adat kebesaran. Segenap
rakyatpun mengelu-eluk...
Dalam menyampaikan ilmunya Syekh Muh.
Arsyad mempunyai beberapa metode, di mana
antara satu dengan yang lain saling menunj...
karya:
1. sabilil muhtadin
2. tuhfaturragibin
3. dll
THANK YOU
‫وبركاته‬ ‫هللا‬ ‫ورحمه‬ ‫عليكم‬ ‫السالم‬
muh. arsyad al-banjari
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

muh. arsyad al-banjari

1,952 views

Published on

tugas ski tentang ulama terkemuka di indonesia by pondok pesantren al-ikhlas

Published in: Education
  • Login to see the comments

  • Be the first to like this

muh. arsyad al-banjari

  1. 1. ‫وبركاته‬ ‫هللا‬ ‫ورحمه‬ ‫عليكم‬ ‫السالم‬ ‫الشيخ‬‫البانجاري‬ We wil present about syeikh muhammad arsyad al-banjari Muh. Naufal fitrah Alfiqriansyah HS Aldhi hidayat Resky
  2. 2. Lahir: di desa Lok Gabang pada hari kamis dinihari 15 Shofar 1122 H, bertepatan 19 Maret 1710 M. Anak pertama dari keluarga muslim yang taat beragama , yaitu Abdullah dan Siti Aminah.
  3. 3. Sejak masa kecilnya Allah SWT telah menampakkan kelebihan pada dirinya yang membedakannya dengan kawan sebayanya. Dimana dia sangat patuh dan ta’zim kepada kedua orang tuanya, serta jujur dan santun dalam pergaulan bersama teman-temannya. Allah SWT juga menganugrahkan kepadanya kecerdasan berpikir serta bakat seni, khususnya di bidang lukis dan khat (kaligrafi).
  4. 4. Pada suatu hari, tatkala Sultan Kerajaan Banjar (Sultan Tahmidullah) mengadakan kunjungan ke kampung-kampung, dan sampailah ke kampung Lok Gabang alangkah terkesimanya Sang Sultan manakala melihat lukisan yang indah dan menawan hatinya. Maka ditanyakanlah siapa pelukisnya, maka dijawab orang bahwa Muhammad Arsyad lah sang pelukis. Mengetahui kecerdasan dan bakat sang pelukis, terbesitlah di hati sultan keinginan untuk mengasuh dan mendidik Muh. Arsyad kecil di istana yang ketika itu baru berusia ± 7 tahun. Sultanpun mengutarakan goresan hatinya kepada kedua orang tua Muh. Arsyad. Pada mulanya Abdullah dan istrinya merasa enggan melepas anaknya yang tercinta. Tapi demi masa depan sang buah hati yang diharapkan menjadi anak yang berbakti kepada agama, negara dan orang tua, maka diterimalah tawaran sultan tersebut. Kepandaian Muh. Arsyad dalam membawa diri, sifatnya yang rendah hati, kesederhanaan hidup serta keluhuran budi pekertinya menjadikan segenap warga istana sayang dan hormat kepadanya. Bahkan sultanpun memperlakukannya seperti anak kandung sendiri.
  5. 5. Setelah dewasa beliau dikawinkan dengan seorang perempuan yang solehah bernama tuan “BAJUT”, seorang perempuan yang ta’at lagi berbakti pada suami sehingga terjalinlah hubungan saling pengertian dan hidup bahagia, seiring sejalan, seia sekata, bersama-sama meraih ridho Allah semata. Ketika istrinya mengandung anak yang pertama, terlintaslah di hati Muh. Arsyad suatu keinginan yang kuat untuk menuntut ilmu di tanah suci Mekkah. Maka disampaikannyalah hasrat hatinya kepada sang istri tercinta. Meskipun dengan berat hati mengingat usia pernikahan mereka yang masih muda, akhirnya Siti Aminah mengamini niat suci sang suami dan mendukungnya dalam meraih cita-cita. Maka, setelah mendapat restu dari sultan berangkatlah Muh. Arsyad ke Tanah Suci mewujudkan cita-citanya.Deraian air mata dan untaian do’a mengiringi kepergiannya.
  6. 6. Di Tanah Suci, Muh. Arsyad mengaji kepada masyaikh terkemuka pada masa itu. Diantara guru beliau adalah Syekh ‘Athoillah bin Ahmad al Mishry, al Faqih Syekh Muhammad bin Sulaiman al Kurdi dan al ‘Arif Billah Syekh Muhammad bin Abd. Karim al Samman al Hasani al Madani. Syekh yang disebutkan terakhir adalah guru Muh. Arsyad di bidang tasawuf, dimana di bawah bimbingannyalah Muh. Arsyad melakukan suluk dan khalwat, sehingga mendapat ijazah darinya dengan kedudukan sebagai khalifah.
  7. 7. Menurut riwayat, Khalifah al Sayyid Muhammad al Samman di Indonesia pada masa itu, hanya empat orang, yaitu Syekh Muh. Arsyad al Banjari, Syekh Abd. Shomad al Palembani (Palembang), Syekh Abd. Wahab Bugis dan Syekh Abd. Rahman Mesri (Betawi). Mereka berempat dikenal dengan “Empat Serangkai dari Tanah Jawi” yang sama-sama menuntut ilmu di al Haramain al Syarifain. Setelah lebih kurang 35 tahun menuntut ilmu, timbullah kerinduan akan kampung halaman. Terbayang di pelupuk mata indahnya tepian mandi yang diarak barisan pepohonan aren yang menjulang. Terngiang kicauan burung pipit di pematang dan desiran angin membelai hijaunya rumput. Terkenang akan kesabaran dan ketegaran sang istri yang setia menanti tanpa tahu sampai kapan penentiannya akan berakhir. Pada Bulan Ramadhan 1186 H bertepatan 1772 M, sampailah Muh. Arsyad di kampung halamannya Martapura pusat Kerajaan Banjar pada masa itu.
  8. 8. Sultan Tamjidillah (Raja Banjar) menyambut kedatangan beliau dengan upacara adat kebesaran. Segenap rakyatpun mengelu-elukannya sebagai seorang ulama “Matahari Agama” yang cahayanya diharapkan menyinari seluruh Kerajaan Banjar. Aktivitas beliau sepulangnya dari Tanah Suci dicurahkan untuk menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang diperolehnya. Baik kepada keluarga, kerabat ataupun masyarakat pada umumnya. Bahkan, sultanpun termasuk salah seorang muridnya sehingga jadilah dia raja yang ‘alim lagi wara’.
  9. 9. Dalam menyampaikan ilmunya Syekh Muh. Arsyad mempunyai beberapa metode, di mana antara satu dengan yang lain saling menunjang. Adapun metode-metode tersebut, yaitu: Bil-hal Keteladanan yang baik (uswatun hasanah)yang direfleksikan dalam tingkah-laku, gerak-gerik dan tutur-kata sehari-hari dan disaksikan secara langsung oleh murid-murid beliau. Bil-lisan Dengan mengadakan pengajaran dan pengajian yang bisa diikuti siapa saja, baik keluarga, kerabat, sahabat dan handai taulan. Bil-kitabah Menggunakan bakat yang beliau miliki di bidang tulis-menulis, sehingga lahirlah lewat ketajaman penanya kitab-kitab yang menjadi pegangan umat. Buah tangannya yang paling monumental adalah kitab Sabilal Muhtadin Littafaqquh Fiddin, yang kemasyhurannya sampai ke Malaysia, Brunei dan Pattani (Thailand selatan). Metode dakwah AL- BANJARI
  10. 10. karya: 1. sabilil muhtadin 2. tuhfaturragibin 3. dll
  11. 11. THANK YOU ‫وبركاته‬ ‫هللا‬ ‫ورحمه‬ ‫عليكم‬ ‫السالم‬

×