Tugas pendidikan kesetaraan

7,044 views

Published on

0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
7,044
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
153
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Tugas pendidikan kesetaraan

  1. 1. KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat tuhan yang maha esa yang telah melimpahkan rahmat danridhonya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “PendidikanKesetaraan” Makalah ini berisikan tentang “Pendidikan Kesetaraan Kejar Paket A, B, dan C“dengan makalah ini diharapkan para pembaca dapat mengerti tentang pendidikan Kesetaraanyang menjadi sebuah alternatif pendidikan formal. Dalam penyusunan makalah ini kami sudah berusaha semaksimal mungkin, namunsesempurna apapun kami tetap mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca yangmembangun demi kesempurnaan pembuatan makalah selanjutnya. Semoga makalah ini dapatbermanfaat bagi kami khususnya dan bagi semua pihak/pembaca. Bandung, 9-Januari-2013 Penulis 1
  2. 2. DAFTAR ISIKATA PENGANTAR………………………………………………………......……………1DAFTAR ISI.………………………………………………………………………………....2BAB I PENDAHULUAN…................……………………………………………………....3BAB II PEMBAHASAN..........................................................................................................5A. Pengertian Pendidikan Kesetaraan…………………………………………………...........5B. Fungsi dan Tujuan....………………………………………………………………….....…6C. Sasaran Pendidikan Kesetaraan…………………………………………....……………….6D. Acuan Standart Penyelenggaraan Pendidikan Kesetaraan .........…………………………..7E. Karakteristik Pendidikan LuarSekolah …………………………….........………………..11F. Metode Pembelajaran……….……………………………………………………………..13G. Strategi Pembelajaran….....……………………………………………………………….15BAB III KESIMPULAN……………....................………………………………………… 19DAFTAR PUSTAKA………..………………………………………………………………20 2
  3. 3. BAB I PENDAHULUAN Menurut UU No. 20 tahun 2003, tentang Sisdiknas, dinyatakan bahwa pendidikannasional diselenggarakan melalui tiga jalur, yaitu: pendidikan formal, nonformal, daninformal. Melalui jalur pendidikan nonformal, pemerintah melalui Dirjen Pendidikan LuarSekolah (PLS), yang kini berubah nama menjadi Dirjen Pendidikan Nonformal dan Informal(PNFI) menyelenggarakan berbagai program yang salah satu diantaranya adalah PendidikanKesetaraan, yang terdiri atas (1) Program Paket A setara SD, (2) Program Paket B setaraSMP, dan (3) Program Paket C setara SMA. Pendidikan kesetaraan merupakan salah satu contoh yang saat ini banyak dikenal olehmasyarakat sebagai program PLS yang berperan sebagai alternatif pengganti pendidikanformal adalah Kelompok Belajar (Kejar) Paket A sebagai pengganti SD/MI, Paket B sebagaipengganti SMP/MTS, dan Paket C sebagai pengganti Pendidikan Sekolah Menengah Atas.Lulusan Kejar Paket C sama dengan lulusan SLTA dan diterima untuk mengikuti SeleksiMasu Perguruan Tinggi. Fungsi PLS sebagai pengganti pendidikan formal disebut sebagaisubstitusi yang diimplementasikan menjadi bentuk program kesetaraan (Elih Sudiapermanadalam Jurnal Pendidikan Luar Sekolah, 2004) Pendidikan kesetaraan dalam PLS sampai saat ini masih setingkat pendidikan dasardan menengah, yaitu tingkat SD/MI, SMP/M.Ts, dan SMA/MA. Kelompok Belajar yangdisingkat Kejar yang berarti pula mengejar (karena ketinggalan) melaksanakan pembelajarandengan cara yang fleksibel (Oong Komar, 2004 : 219) sebagai berikut :(a) Belajar sendiri dengan memanfaatkan pengetahuan dan pengalamannya sendiri.(b) Saling belajar antara warga belajar yang belum mengetahuan dengan yang sudahmengetahui.(c) Belajar bersama dengan tutor.(d) Kursus bidang pengetahuan dan ketrampilan.(e) Magang dengan cara ikut belajar, bekerja dan berusaha dibidang tertentu kepada orangyang sudah mahir dibidangnya. 3
  4. 4. Kelompok belajar paket A, B, dan C adalah kelompok belajar sebagai bentuk layananpendidikan umum oleh PLS. Kelompok belajar tersebut sudah cukup berkembang dimasyarakat sebagai bentuk layanan pendidikan kesetaraan. Program PLS adalah kegiatanpendidikan yang diselenggarakan oleh satuan PLS. Program PLS dapat diselenggarakan olehperorangan, maupun kelompok, dapat pula diselenggarakan oleh instansi pemerintah maupunmasyarakat atau swasta.Setara artinya sederajat yakni sama derajatnya; kesetaraan berartikesederajatan yakni kesamaan derajatnya. Pendidikan kesetaraan adalah program PLS yangsederajat dengan program Pendidikan Sekolah. Program PLS dalam bidang pendidikankesetaraan adalah program pendidikan umum Kejar Paket A yang setara dengan SD/MI,Kejar Paket B yang setara dengan SMP/MTs, dan Kejar Paket C yang setara denganSMA/MA. Pendidikan kesetaraan yang diselenggarakan oleh PLS sampai saat ini masih belummemenuhi makna hakiki dari pendidikan kesetaraan. Hal ini dapat diketahui dari pengakuanmasyarakat dan pemerintah terhadap lulusan Kelompok Belajar Paket A, B, dan C.Masyarakat masih menganggap bahwa Kejar Paket A, B, dan C adalah pendidikan kelas dua,yakni kelas dibawah pendidikan formal/ sekolah. Kejar Paket tersebut adalah pendidikanyang tidak bermutu dan ijazahnya tidak dapat dipergunakan untuk meneruskan studi dan atauuntuk mencari pekerjaan. Tidak jarang kita jumpai pendapat dari para petugas pemerintahanyang menganggap bahwa Kejar Paket tersebut merupakan pendidikan yang murahan dantidak memiliki kualitas yang memadai. Pada hakikatnya Pendidikan Kesetaraan mengandung makna bahwa lulusannyaadalah sederajat atau sama derajatnya. Artinya lulusan Kejar Paket memiliki kesamaanderajat dengan lulusan pendidikan sekolah. Lulusan Kejar Paket A sama derajatnya denganlulusan SD/MI, lulusan Kejar Paket B sama derajatnya dengan lulusan SMP/MTs, danlulusan Kejar Paket C sama derajatnya dengan lulusan SMA/MA. Berarti lulusan Kejar PaketA dapat diterima melanjutkan pendidikan di SMP/MTs. Begitu pula Kejar Paket B dan C dapat diterima melanjutkan pendidikan di SMA/MAdan di Perguruan Tinggi. Sebaliknya lulusan SD/MI dapat diterima pada program Kejar PaketB. Disamping itu para peserta didik pada jenjang pendidikan dasar dan menengah dapat pulaberpindah sesuai dengan kesetaraanya. Misalnya peserta didik pada Kejar Paket A seharusnyadapat berpindah ke SD/MI, peserta didik Kejar Paket B dapat berpindah ke SMP/MTs, danpeserta didik Kejar Paket C dapat berpindah ke SMA/MA. 4
  5. 5. BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Pendidikan Kesetaraan Pendidikan Kesetaraan merupakan pendidikan nonformal yang mencakup programPaket A setara SD/MI, Paket B setara SMP/MTs, dan Paket C setara SMA/MA denganpenekanan pada penguasaan pengetahuan, keterampilan fungsional serta pengembangansikap dan kepribadian profesional peserta didik. Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikanformal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk olehPemerintah atau pemerintah daerah dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan (UUNo 20/2003 Sisdiknas Pasal 26 Ayat (6). Setiap peserta didik yang lulus ujian kesetaraan Paket A, Paket B atau PaketCmempunyai hak eligibilitas yang sama dan setara dengan pemegang ijazah SD/MI,SMP/MTs, dan SMA/MA untuk dapat mendaftar pada satuan pendidikan yang lebih tinggi.Status kelulusan Paket C mempunyai hak eligibilitas yang sama dengan lulusan pendidikanformal dalam memasuki lapangan kerja. 1. Program Paket A. Program Paket A adalah program pendidikan dasar pada jalur pendidikan nonformalsetara SD/MI bagi siapapun yang terkendala ke pendidikan formal atau berminat dan memilihpendidikan kesetaraan untuk ketuntasan pendidikan. Pemegang ijazah Program Paket Amemiliki hak eligibilitas yang sama dengan pemegang ijazah SD/MI. 2. Program Paket B Program Paket B adalah program pendidikan dasar pada jalur pendidikan nonformalsetara SMP/MTs bagi siapapun yang terkendala ke pendidikan formal atau berminat danmemilih pendidikan kesetaraan untuk ketuntasan pendidikan dasar. Pemegang ijazah ProgramPaket B memiliki hak eligibilitas yang sama dengan pemegang ijazah SMP/MTs. 3. Program Paket C 5
  6. 6. Program Paket C adalah program pendidikan menengah pada jalur pendidikan nonformalsetara SMA/MA bagi siapapun yang terkendala ke pendidikan formal atau berminat danmemilih pendidikan kesetaraan untuk ketuntasan pendidikan menengah. Pemegang ijazahProgram Paket C memiliki hak eligibilitas yang sama dengan pemegang ijazah SMA/MA. B. Fungsi dan TujuanPendidikan Kesetaraan berfungsi mengembangkan potensi diri peserta didik denganpenekanan pada penguasaan pengetahuan akademik dan keterampilan fungsional danpengembangan sikap dan kepribadian profesional. Tujuan pendidikan kesetaraan adalahuntuk:1. Menjamin penyelesaian pendidikan dasar yang bermutu bagi anak yang kurang beruntung:putus sekolah, putus lanjut, tidak pernah sekolah, minoritas etnik, dan anak yang bermukimdi desa terbelakang, miskin, bermasalah secara sosial, terpencil atau sulit dicapai karena letakgeografi s dan atau keterbatasan transportasi dalam rangka memberi kontribusi terhadappeningkatan APM dan APK pendidikan dasar minimal 2% – 5% dalam mempercepatsusksesnya wajar sembilan tahun;2. Menjamin pemenuhan kebutuhan belajar bagi semua warga masyarakat usia produktifmelalui akses yang adil pada program-program belajar dan kecakapan hidup;3. Memberikan kontribusi terhadap peningkatan rata-rata lama pendidikan bagi masyarakatIndonesia minimal 9 tahun sehingga mampu meningkatkan Human Development Index(HDI) dan upaya menghapus ketidakadilan gender dalam pendidikan dasar dan menengah;4. Memberikan peluang kepada warga masyarakat yang ingin menuntaskan pendidikan setaraSD/MI dan SMP/MTs atau yang sederajat dengan mutu yang baik;5. Melayani peserta didik yang memerlukan pendidikan akademik dan kecakapan hidupsecara fleksibel untuk mengaktualisasikan diri sekaligus meningkatkan mutu kehidupannya. C. Sasaran Pendidikan KesetaraanProgram pendidikan kesetaraan memiliki keunikan tersendiri jika dibandingkan denganpendidikan formal (SD, SMP, dan SMA), selain waktu dan tempatnya yang fleksibel, 6
  7. 7. program pendidikan kesetaraan memiliki sasaran yang berbeda dengan pendidikan formal.Secara umum, sasaran dari program-program pendidikan nonformal adalah :1. Penduduk tiga tahun di atas usia SD/MI ( 13-15) Paket A dan tiga tahun di atas usiaSMP/MTS ( 16 -18 ) Paket B2. Penduduk usia sekolah yang tergabung dengan komunitas e-lerning,sekolahrumah,sekolahalternatif,komunitas berfotensi khusus seperti pemusik,atlet,pelukis dll3. Penduduk usia sekolah yang terkendala masuk jalur formal karena : a. Ekonomi terbatas b. Waktu terbatas c. Geografis ( etnik minoritas,suku terasing) d. Keyakinan seperti Ponpes e. Bermasalah,(sosial,hukum)4. Penduduk usia 15-44 yang belum tuntas wajar Dikas 9 tahun5. Penduduk usia SMA/MA berminat mengikuti program Paket C6. Penduduk di atas usia 18 tahun yang berminat mengikuti Program Paket C karena berbagaialasan. D. Acuan Standar Penyelenggaraan Pendidikan KesetaraanStandar Penyelenggaraan pendidikan kesetaraan ( PP No.19 TH.2005 ) meliputi :1. Standar IsiStandar isi mencakup kerangka dasar dan struktur kurikulum , beban belajar, dan kalenderpendidikan untuk penyelenggaraan pendidikan kesetaraan pada satuan pendidikan nonformalKurikulum kesetaraan lebih memuat konsep terapan,tematik,dan berorientasi kecakapanhidup.2. Standar Proses Pembelajaran 7
  8. 8. Sesuai dengan Permendiknas No. 3 tahun 2008 tentang Standar Proses, bahwa pembelajaranpendidikan kesetaraan meliputi; perencanaan, pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasilpembelajaran serta pengawasan program pembelajaran. Beberapa hal yang perlu diperhatikandalam proses pembelajaran pendidikan kesetaraan adalah sebagai berikut:1. Pembelajaran harus memperhatikan beberapa prinsip antara lain: a. memperhatikan perbedaan individual peserta didik, b. fokus pada pencapaian kompetensi, c. mendorong partisipasi aktif peserta didik, d. mengembangkan budaya membaca dan menulis, serta e. menerapkan teknologi informasi dan komunikasi.2. Beban belajar peserta didik Program Paket A, dan Paket B dinyatakan dalam SKK yangmenunjukkan bobot kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik dalam mengikutiprogram pembelajaran. 1 SKK setara dengan 1 jam pembelajaran tatap muka atau 2 jampembelajaran tutorial atau 3 jam pembelajaran mandiri. Ketentuan SKK adalah bahwa : a. merupakan ukuran kegiatan pembelajaran yang pelaksanaannya fleksibel. b. SKK dapat digunakan untuk alih kredit kompetensi yang diperoleh dari jalurpendidikan formal, informal, kursus, keahlian, dan pengalaman yang relevan. c. Program Paket A Tingkatan 1/Awal (Setara Kelas I – III) mempunyai beban 102 SKKsetara dengan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan minimal 17 SKK per semester. d. Program Paket A Tingkatan 2/Dasar (Setara Kelas IV – VI) mempunyai beban 102SKK setara dengan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan minimal 17 SKK per semester. e. Program Paket B Tingkatan 3/Terampil 1 (Setara Kelas VII – VIII) mempunyai beban68 SKK setara dengan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan minimal 17 SKK persemester. f. Program Paket B Tingkatan 4/Terampil 2 (Setara Kelas IX) mempunyai beban 34 SKKsetara dengan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan minimal 17 SKK per semester. 8
  9. 9. g. Program Paket C (IPA/IPS) Tingkatan 5/Mahir 1 (Setara Kelas X) mempunyai beban40 SKK setara dengan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan minimal 20 SKK persemester. h. Program Paket C (IPA/IPS) Tingkatan 6/Mahir 2 (Setara Kelas XI – XII) mempunyaibeban 82 SKK setara dengan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan minimal 21 SKK persemester.3. Setiap peserta didik wajib mengikuti kegiatan pembelajaran baik dalam bentuk tatap muka,tutorial, maupun mandiri sesuai dengan jumlah SKK yang tercantum dalam Standar IsiProgram Paket A, dan Paket B. Pengaturan kegiatan pembelajaran tersebut adalah tatap mukaminimal 20%, tutorial minimal 30%, dan mandiri maksimal 50%.4. Jumlah maksimal peserta didik per kelompok atau rombongan belajar adalah: a. Program Paket A setara SD/MI per kelompok : 20 peserta didik b. Program Paket B setara SMP/MTs per kelompok : 25 peserta didik.3. Standar Kompetensi LulusanSKL Pendidikan Kesetaraan sama dengan SKL pendidikan formal akan tetapi memilikikekhasan sendiri meliputi : a. Paket A lulusannya memiliki keterampilan dasar untuk memenuhi kebutuhan hidup b. Paket B ,memenuhi tuntutan dunia kerja c. Paket C, memiliki keterampilan berwirausaha.3.1. Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan Ketentuan tentang Pendidik dan Tenaga Kependidikan adalah sebagai berikut :a. Pendidik untuk pendidikan kesetaraan program Paket A dan Paket B adalah Tutor atauPamong Belajar dan Narasumber Teknis untuk pembelajaran keterampilan. 9
  10. 10. b. Tenaga Kependidikan sekurang-kurangnya meliputi tenaga pengelola atau penyelenggarapendidikan kesetaraan dan tenaga administrasi, serta dibantu dengan tenaga perpustakaan dantenaga laboran jika diperlukan. Pendidik pada pendidikan kesetaraan harus memiliki kompetensi pedagogik danandragogik karena mereka akan melakukan proses pembelajaran bagi peserta didik yang padaumumnya sudah dewasa. Selain itu juga harus menunjukkan kecakapan personal untukmemberikan contoh prilaku, teladan, akhlak mulia, sabar dan ikhlas. Memiliki kompetensi profesional dalam arti menguasai materi pembelajaran secarafasih. Serta memiliki kompetensi sosial untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara aktifdalam pergaulan sehari-hari. Kualifi kasi akademik tutor pendidikan kesetaraan yangdiharapkan adalah sebagai berikut :1. Pendidikan minimal D-IV atau S1 dan yang sederajat. Namun untuk daerah yang tidakmemiliki SDM yang sesuai, tutor Paket A dan Paket B minimal D2.2. Outsourcing dari guru formal dapat dilakukan yakni guru SD/MI untuk program Paket A,guru SMP/MTs untuk Paket B.3. Tokoh masyarakat, Kyai, ustadz dan pemuka masyarakat lainnya dengan kompetensi yangsesuai dapat dijadikan tutor pendidikan kesetaraan.4. Nara Sumber Teknis (NST) dengan kualifi kasi dan kompetensi yang sesuai untukmelakukan pembelajaran keterampilan kecakapan hidup (life skill)5. Standar Sarana dan PrasaranaProses belajar mengajar pendidikan kesetaraan dapat dilakukan di berbagai lokasi yangmemiliki standar Standar sarana pendukung meliputi :lahan dan bangunan,buku tekpelajaran,buku perpustakaan,alat peraga,media pembelajaran. 3.2.Standar PengelolaanStandar pengelolaan pendidikan kesetaraan merupakan standar minimal meliputi:perencanaan program,penyusunan KTSP,kegiatan pembelajaran,pengelolaan saranaprasarana,penilaian hasil belajar dan pengawasan.Pengelolaan pendidikan menerapkan,manajemen berbasis satuan pendidikan dengan ciri; kemandirian,kemitraan,partisipasi,keterbukaan dan akuntabilitas. 10
  11. 11. 3.3.Standar PembiayaanPembiayaan pendidikan kesetaraan terdiri atas :1. Biaya inverstasi2. Biaya oprasional3. Biaya personal4. Standar Penilaian pendidikanStandar penilaian pendidikan meliputi:1. Penilaian hasil belajar oleh pendidik2. Penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan3. Penilaian hasil belajar oleh pemerintahE. Karakteristik Pendidikan Luar SekolahUntuk memahami pendidikan luar sekolah, diperlukan pemahaman terhadap ciri-ciri yangdimiliki oleh pendidikan luar sekolah. Agar mudah mengetahui ciri PLS, maka berikut inidisajikan ciri umum PLS :1. Peserta didiknya heterogen. Dalam PLS terdapat peserta didik yang disebut dengan warga belajar (WB) dengannama yang bervariasi, misalnya: warga belajar, audience, trainee, peserta pelatihan, dansebagainya. Dari segi umur mereka heterogen; artinya dcalam program PLS umur merekaberbeda-beda tapi dapat bersatu bersama mengikuti suatu program PLS yang sama. Misalnyadalam satu kelas program pelatihan komputer, pesertanya (WB) nya dapat bervariasi usianya,anak usia 15 tahun, usia 20 atau usia berapa saja dapat berkumpul dalam satu kelas mengikutiprogram pelatihan komputer.2. Pendidik PLS tidak harus berpendidikan tinggi. Pendidik PLS tersebut tutor, instruktur, pelatih, fasilitator, dan sebagainya tidak harusmemiliki jenjang pendidikan formal yang tinggi. Syarat pendidik yang dipersyaratakan 11
  12. 12. adalah memiliki keahlikan tertentu yang dapat ditularkan kepada peserta didik, dan bersediaberperan sebagai pendidik PLS. Tutor atau instruktur dalam PLS dalam PLS dapatdiperankan oleh teman sebaya dari WB yang berasal dari masyarakat setempat, dengan syaratmemiliki kemampuan dan kesediaan.3. Tempat belajar fleksibel. Tempat belajar PLS tidak harus menetap dalam ruangan khusus. Kegiatan PLS dapatdilangsungkan di sembarang tempat asalkan sesuai dengan kondisi peserta didik danmemenuhi persyaratan kesehatan, misalnya di rumah penduduk, di balai desa, di musholla, diruang kelas, dan sebagainya. Bahkan tempat belajar PLS dapat berpindah-pindah secarabergilir di rumah WB sesuai dengan kehendak peserta didik.4. Bahan ajar/ materi pelajaran sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan lebih bersifatpraktis.PLS memberikan layanan pendidikan dengan materi ajar sesuai dengan kebutuhan wargabelajar, baik berupa pengetahuan maupun ketrampilan. Pengetahuan dan ketrampilan yangdisajikan oleh program PLS selalu dikaitkan dengan kebutuhan praktis warga masyarakat.5. Waktu pendidikan berjangka pendek.Program PLS bersifat jangka pendek, karena warga masyarakat menghendaki segeramemanfaatkan hasilnya. Dengan waktu yang tidak lama, misalnya 3 sampai 4 bulan ataubahkan 1 sampai 2 bulan suatu program PLS dapat diselesaikan. Misalnya pelatihanpembukuan sederhana bagi para pedagang kaki lima. Mungkin program semacam ini cukupdilaksanakan dalam waktu 1 bulan pedagang kaki lima sebagai peserta pelatihan sudah dapatmemanfaatkan hasil pelatihan yang diikutinya.6. Hasil belajar bersifat fungsional. Program PLS memberikan hasil pendidikan berupa pengetahuan atau ketrampilanyang fungsional. Maksudnya warga belajar yang mengikuti program PLS akan memperolehhasil pendidikan berupa pengetahuan atau ketrampilan yang bermanfaat langsung bagikehidupan sehari-hari. Pengetahuan atau ketrampilan yang didapat warga belajar dari keikutsertaannya dalam program PLS dapat dimanfaatkan langsung untuk memenuhi kebutuhanhidupnya. 12
  13. 13. 7. Program belajar tidak harus berjenjang.Program PLS dapat dilaksanakan secara berjenjang dapat pula tidak berjenjang. Maksudnyaada program PLS yang bersifat berjenjang atau bertingkat, misalnya kursus bahasa inggristingkat dasar, tingkat menengah dan tingkat tinggi. Disamping itu ada pula program PLSyang bersifat tidak berjenjang, misalnya pelatihan pembuatan kue bagi ibu-ibu rumah tangga.8. Kegiatan belajar sedikit teori banyak praktek.Program PLS umumnya banyak dilaksanakan dalam bentuk praktek atau latihan ketrampilan.Karenyanya kegiatan warga belajar lebih banyak belajar atau belajar ketrampilan dan sedikitbelajar teori. Namun demikian tidak menutup kemungkinan belajar teori lebih dan prakteksedikit atau bahkan tanpa praktek, karena memang tujuan dari program yang dilaksanakanbersifat informatif teoritik.9. Kurikulum fleksibel.Kurikulum dalam PLS tidak harus baku atau tetap, tetapi bersifat luwes dan dapat berubahsesuai dengan kesepakatan warga belajar. Misalnya jadwal dan materi ajar yang semulasudah ditetapkan, ternyata dalam perjalanan warga belajar menghendaki perubahan; makaperubahan dapat dilaksanakan.10. Sistem pendidikan tidak harus formal/resmi.Sistem pendidikan terutama sistem pembelajaran dalam PLS tidak harus menggunakan sistemdisiplin ketat, tetapi disiplin longgar. Namun tetap memperhatikan kualitas dan hasilpembelajaran yang diharapkan. Misalnya warga belajar tidak harus menggunakan pakaianseragam. F. Metode Pembelajaran Sebagai bagaian dari Ilmu pendidikan PLS juga menggunakan metode pembelajaransebagaimana metode yang di gunakan oleh pendidikan. Metode Pembelajaran atau dahulusering di sebut metode mengajar dalam pendidikan pada umumnya di gunakan oleh guru dipendidikan sekolah. Dengan beberapa modifikasi, metode pembelajaran PLS dapat di pilihdari beberapa metode berikut ini : 13
  14. 14. 1. Ceramah Tanya Jawab. Metode ceramah sering di gunakan di sekolah formal, dengan di selingi satu sampaitiga kali pertanyaan dari guru,atau bahkan tanpa pertanyaan atau tidak diselingi tanya jawab.Untuk progam PLS cerama model pendidikan sekolah seperti itu kurang tepat. Yang tepatadalah sedikit cerama dan banyak tanya jawab. Artinya cerama dapat di pergunakan untuk memulai dan pada awal pembelajaran;kemudian di teruskan dengan tanya jawab. Instruktur / tutor memberikan kesempatan kepadapeserta untuk mengajukan pertanyaan, dan di teruskan dengan pertanyaan dari instruktur/tutor kepada peserta. Tanya jawab lebih menarik jika di kembakan kepada seluruh peserta.Maksudnya adalah pertanyaan dari peserta dimintakan jawaban kepada peserta yang lain. Jikaternyata peserta lain tidak ada yang bersedia menjawab atau ada jawaban peserta tetapi salah,maka instruktur /tutor meneruskan jawaban yang benar.2. Presentasi Multi Media.Metode presentasi biasanya disebut sebagai teknik presentasi. Penggunaan presentasi yangbaik untuk PLS hendaknya dilaksanakan dengan menggunakan media sama halnya denganpenyajian materi dengan metode ceramah.3. Diskusi.Metode diskusi dapat dipilih sebagai metode dalam pembelajaran PLS, jika peserta (WB)memiliki kesiapan untuk berdiskusi. Tidak tepat memaksakan menggunakan diskusi untukpembelajaran anak-anak atau remaja yang tidak memiliki kemampuan dan kesiapan untukberdiskusi. Disamping itu diskusi hanya tepat untuk pembelajran orang dewasa yang sedangmengkaji materi pengetahuan dan niali atau sikap. Diskusi cocok digunakan dalampembelajaran yang peserta (WB) nya tidak terlalu banyak. Diskusi tidak tepat untukpembelajaran yang peserta (WB) nya banyak (kelas besar). Diskusi tidak tepat untukpembelajaran dalam bidang psikomotorik atau ketrampilan.4. Demonstrasi/Peragaan.Metode demonstrasi lebih tepat digunakan untuk menyajikan materi pembelajaran yangberkaitan dengan perilaku dan atau pemahaman suatu proses. Penggunaan metodedemonstrasi memerlukan keahlian instruktur/tutor. 14
  15. 15. 5. Permainan/ Game. Metode permainan seringkali dianggap tidak tepat untuk pembelajaran. Karenapermainan dianggap bermain yang tidak memiliki unsur belajar. Namun pendapat yangdemikian itu, saat ini sudah mulai bergeser dan berganti dengan pendapat bahwa belajar yangefektif adalah belajar yang menyenangkan, tidak mustahil dengan menggunakan metodepermainan. Metode permainan memang lebih tepat untuk pembelajaran PLS bagi anak-anak,terutama pada Kelompok Bermain (KB) atau Play Group dan atau Tempat Penitipan Anak(TPA). Karena memang dunia anak adalah dunia bermain. Bahkan kebutuhan anak-anakadalh bermain. Oleh karena itulah metode pembelajaran bagi anak lebih tepat dengan metodebermain. Namun demikian tidak menutup kemungkinan metode bermain digunakan untukpembelajaran bagi pemuda dan orang dewasa. Dengan alasan bahwa bermain sebenarnyabukan hanya dibutuhkan oleh anak-anak. Pemuda dan orang dewasapun memerlukan bermainterutama untuk rekreasi.6. Simulasi.Simulasi adalah peniruan kehidupan nyata dalam skala kecil. Simulasi sebagai metodepembelajaran meliputi metode role playing (bermain peran). Ciri khas simulasi adalahmencontoh atau meniru kehidupan riel, dengan berpura-pura. Contoh sederhana simulasiadalah penugasan kepada anak-anak Kelompok Bermain untuk berpakaian seperti orangdewasa yang disenanginya pada saat Karnaval Peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan RI.Misalnya berpakaian seperti dokter, seperti tentara, dan sebagainya. G. Strategi Pembelajaran Beberapa istilah yang berkaitan dengan strategi adalah metode dan pendekatan. Metodeadalah cara yang dapat digunakan untuk melaksanakan strategi. Pendekatan (approach)adalah titik tolak atau sudut pandang terhadap proses pembelajaran. Sedangkan strategiadalah perencanaan untuk mencapai sesuatu. Strategi sering diartikan sebagai a plan ofoperation achieving something sedangkan metode adalah a way in achieving something. Padaumumnya dalam pembelajaran dikenal ada dua pendekatan yaitu: 15
  16. 16. 1. Teacher centered approach yaitu pendekatan yang berpusat pada guru yang kemudianmenurunkan strategi pembelajaran deduktif dan pembelajaran ekspositori.2. Student centered approach yaitu pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswayang kemudian menurunkan strategi pembelajaran discovery dan inkuiri serta strategipembelajaran induktif.Strategi pembelajaran termasuk untuk pendidikan luar sekolah secara umum dapatdiklasifikasikan berdasarkan beberapa segi sebagai berikut : 1. Dari segi peranan pendidik dan peserta didik.Dari segi peranan pendidik dan pesrta didik strategi pembelajaran dapat dibedakan menjadidua yaitu : a. Teacher oriented merupakan strategi pembelajaran yang berfokus pada pendidik (guru)maksudnya ditentukan oleh pendidik/guru. b. Student oriented merupakan strategi pembelajaran yang berfokus pada peserta didik(siswa/warga belajar) maksudnya seluruh aktivitas pembelajaran diarahkan untukkepentingan peserta didik (siswa/warga belajar). 2. Dari segi sistem pembelajaranDari segi pembelajaran dapat dikelompokkan menjadi empat yaitu : a. Content oriented yaitu strategi pembelajaran yang berorientasi pada materipelajaran/ajar/bahan ajar/pembelajaran, maksudnya adalah pelaksanaan pembelajaran selaluberpedoman pada isi atau materi pelajaran/bahan ajar yang sudah ditentukan sebelumnya. b. Process oriented yaitu pembelajaran yang berorientasi pada proses pembelajaranmaksudnya seluruh aktivitas pembelajaran ditekankan pada proses pembelajaran bukan padayang lain. c. Effect oriented yaitu strategi pembelajaran yang berorientasi pada tujuanpembelajaran maksudnya adalah seluruh aktivitas pembelajaran selalu berpedoman padatujuan pembelajaran yang sudah ditentukan sebelumnya. d. Out put oriented yaitu strategi pembelajaran yang berorientasi pada hasil yang akandicapai dalam pembelajaran maksudnya adalah seluruh aktivitas pembelajaran baik oleh 16
  17. 17. peserta didik maupun oleh pendidik selalu diarahkan pada pencapaian target atau tujuan yangsudah ditetapkan dengan mengabaikan proses, tujuan maupun yang lainnya. 3. Dari segi cara penyajian dan cara pengolahan materi pembelajaran.Dari segi ini strategi pembelajaran dapat dibedakan menjadi dua yaitu: a. Strategi pembelajaran deduktif adalah strategi pembelajaran yang dilakukan denganmempelajari konsep-konsep terlebih dahulu untuk kemudian dicari kesimpulannya.Materi/bahan pelajaran dikaji secara abstrak terlebih dahulu kemudian secara perlahan-lahanmenuju kepada hal-hal yang konkrit. b. Strategi pembelajaran induktif adalah pengkajian dimulai dari materi yang bersifatkonkrit. Strategi ini sering disebut dengan strategi pembelajaran dari khusus ke umum.Lebihkhusus Wina Sanjaya (2008) mengelompokkan jenis-jenis strategi pembelajaran menjadi duajenis strategi utama yaitu :1. Strategi penyampaian penemuan atau exposition-discovery learning2. Strategi pembelajaran kelompok dan strategi pembealajaran individual atau groupindividual learning. Secara terinci jenis-jenis strategi pembelajaran tersebut diuraikan sebagaiberikut :a.) Strategi ekspositionAdalah strategi pembelajaran yang dilaksanakan oleh pendidik (gurua atau istruktur) denganmenyajikan materi/bahan ajar dalam bentuk bahan jadi kepada peserta didik (siswa atauwarga belajar) dan peserta didik dituntut untuk menguasai materi/bahan tersebut. Pesertadidik tinggal menerima apa adanya materi/bahan dari pendidik.b.) Strategi expositoryAdalah strategi pembelajaran yang dilaksanakan oleh pendidik (guru atau instruktur) dengancara menyampaikan informasi kepada peserta didik (siswa atau warga belajar) dan pesertadidik tinggal menerima semua informasi dari pendidik tanpa harus mempersoalkan ataumencarinya.c.) Strategi direct istruction 17
  18. 18. Adalah strategi pembelajaran yang dilaksanakan oleh pendidik (guru atau instruktur) dengancara memberikan materi ajar/bahan ajar secara langsung kepada peserta didik (siswa atauwarga belajar) dan peserta didik dituntut untuk menguasaianya secara penuh.d.) Strategi discovery Adalah strategi pembelajaran yang dilaksanakan oleh pendidik (guru atau instruktur)dengan cara menugaskan kepda peserta didik (siswa atau warga belajar) untuk mencarii danmenemukan materi/bahan ajar dengan berbagai aktivitas belajar. Misalnya mengkaji bahanpustaka mengadakan observasi terhadap objek tertentu dan sejenisnya. Pendidik (guru atauistruktur berperan sebagai fasilitator atau mediator yang melaksanakan pembimbinganterhadap aktivitas belajar peserta didik. Stategi discovery ini disebut pula sebagai indirectatau strategi pembelajaran tidak langsung. 18
  19. 19. BAB III KESIMPULAN Pendidikan Kesetaraan merupakan pendidikan nonformal yang mencakup programPaket A setara SD/MI, Paket B setara SMP/MTs, dan Paket C setara SMA/MA denganpenekanan pada penguasaan pengetahuan, keterampilan fungsional serta pengembangansikap dan kepribadian profesional peserta didik. Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikanformal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk olehPemerintah atau pemerintah daerah dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan (UUNo 20/2003 Sisdiknas Pasal 26 Ayat (6). Seperti paparan materi makalah yang saya buat tentang tujuan menyelenggarakanpendidikan kesetaraan, sama halnya dengan hasil wawancara yang telah saya lakukan yaituMemberikan peluang serta memfasilitasi para warga masyarakat yang ingin menuntaskanpendidikan setara SD/MI dan SMP/MTs atau yang sederajat dengan mutu yang baik. Yangpenyelenggaraanya mengacu pada standart kompetensi yang telah dibuat oleh Diknas. Proses pembelajaran serta bahan materi yang disediakan oleh fasilitator disesuaikandengan kebutuhan serta situasi dan kondisi mereka sebagai warga belajar sehingga antaratutor maupun penyelenggara dengan warga belajar harus ada kesepakatan yang disepakatioleh kedua belah pihak dalam melaksanakan suatu proses pembelajaran. Menyelenggarakan pendidikan kesetaraan merupakan tugas mulia dalam upaya ikutmencerdaskan bangsa. Agar hasilnya maksimal, penyelanggaraannya tidak boleh asal-asalan,tetapi harus benar-benar profesional. Tugas semua kalangan yang berkompeten denganprogram pendidikan kesetaraan untuk membenahi dan menyempurnakan penyelenggaraanpendidikan kesetaraan di lapangan. Jika pendidikan kesetaraan dilaksanakan secara profesional, memiliki nilai lebihdibandingkan dengan pendidikan formal, lulusannya dapat hidup mandiri, apalagi mampumenciptakan lapangan kerja, insya allah lulusan pendidikan kesetaraan tidak akan lagidipandang sebelah mata. 19
  20. 20. DAFTAR PUSTAKAhttp://pkbm.blogdetik.com/kebijakan pemerintah dalam pengembangan pendidikankesetaraan/http://pkbm.blogdetik.com/ kebijakan pemerintah dalam pengembanganpendidikan ksetaraan/sekolah kesetaraan pendidikan kesetaraanhttp://skbprobolinggo.web.id/?p=175Direkidikan kesetaraan. Pembelajaran pendidikankesetaraan paketA dan paketB.2010 AhmadZein,H,2011,Konsep Dasar Pendidikan LuarSekolah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Jember. 20

×