Munakahat

1,143 views

Published on

0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
1,143
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
6
Actions
Shares
0
Downloads
67
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Munakahat

  1. 1. PERKAWINAN ALIKA MUTIARA MOY NADIA CAHYA SYFANI RIZQY XII IPA 3
  2. 2. NIKAH Munakahat merupakan bagian dari hukum islam yang mengatur pernikahan, menetapkan syarat-syarat dan rukun nikah dan menyebutkan kewajiban yang perlu ditaati suami/istri untuk membentuk keluarga Secara etimologi berarti berkumpul, bergaul, bercampur menjadi satu yang biasa disebut kawin. Secara terminologi berarti suatu akad (ikatan perjanjian) yang disertai dengan ijab qabul dan menyebabkan halalnya pergaulan seorang laki-laki dan seorang perempuan sebagai suami istri serta timbulnya hak dan kewajiban bagi keduanya.
  3. 3. TUJUAN NIKAH Tujuan nikah yang sejati dalam Islam dengan singkat adalah menuju kemaslahatan dalam rumah tangga,keturunan, dan kemaslahatan masyarakat. Artinya: Dan segala sesuatu itu Kami (Allah) jadikan berpasang- pasangan, agar kamu semua mau berpikir (QS.Adz-Dzariyat: 49) Artinya: Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang, Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kamu yang berfikir. (QS.Ar-Rum:21)
  4. 4.  Untuk menyalurkan dan memperoleh kasih sayang dari orang lain  Untuk mewujudkan rumah tangga yang sakinah, kata sakinah berarti diam atau tenang  Mengikuti dan melaksanakan sunah rasul, merupakan tradisi kemanusiaan yang diwarisi oleh para Rasul kepada generasi dan para pengikutnya  Mendapatkan keturunan yang sah dan baik-baik, disebut keturunan itu sah apabila lahir dari suami istri yang menikah menurut syariat agama  Menghindarkan diri dari perbuatan zina, dengan pernikahan dorongan birahi dapat tersalurkan secara sehat dan halal. Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (Q.S al-Isra : 32) “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. (QS An nur : 30)  Mempererat hubungan famili, dengan pernikahan diharapkan persaudaraan antara 2 keluarga menjadi erat silaturahim menjadi luas.
  5. 5. Hukum Nikah  Jaiz     Hukum dasar yang artinya boleh, maksudnya boleh menikah atau boleh tidak menikah Wajib Bagi orang yang sudah mampu melaksanakan pernikahan dan menafkahi pasangannya dan merasa takut terjerumus dalam perbuatan zina karena hawa nafsunya Sunah Bagi orang yang mampu melaksanakan pernikahan dan menafkahi pasangannya serta dapat menjaga diri walaupun tidak segera menikah. Makruh Apanila orang berkeinginan menikah namun belum dapat memenuhi nafkah baik lahir maupun batin Haram Apabila ada niat menyakiti wanita yang akan dinikahi dan balas dendam kepada keluarga wanita
  6. 6. Wanita yang Haram Dinikahi Dalam Islam tidak semua wanita dapat dinikahi, karena : Mahram Nasab : karena adanya hubungan keturunan  Ibu kandung dan seterusnya ke atas  Anak, cucu dan seterusnya ke bawah  Saudara perempuan  Bibi dari pihak ayah  Bibi dari pihak ibu  Anak perempuan dari saudara laki-laki (keponakan)  Anak perempuan dari saudara perempuan (keponakan)  -  Diharamkan atas kamu (menikahi) ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan, saudarasaudaramu yang perempuan, saudara-saudara ayahmu yang perempuan, saudarasaudara ibumu yang perempuan, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan, ibu-ibumu yang menyusui kamu, saudara-saudara perempuanmu sesusuan, ibu-ibu istrimu (mertua), anak-anak perempuan dari istrimu (anak tiri) yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu menikahinya, (dan diharamkan bagimu) istri-istri anak kandungmu (menantu), dan diharamkan mengumpulkan (dalam pernikahan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau[18]. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S an-Nisa : 23)
  7. 7. Mahram Radha’ah : karena adanya hubungan sesusuan  Ibu yang menyusui  Saudara perempuan tunggal susuan Mahram Mushaharah : karena adanya hubungan perkawinan  Ibu dari istri (mertua)  Ibu tiri  Anak tiri  Istri anak (menantu)  Saudara perempuan istri atau ipar Sesungguhnya orang-orang yang menuduh-nuduh perem-puan yang terbenteng budinya dan jujur hatinya tagi beriman, dikutuk Tuhan mereka di dunia dan di akhirat, dan bagi mereka adalah azab yang besar. (Q.S. an-Nur ayat 23) Sementara  Mengawini dua orang wanita bersaudara sekaligus  Mengawini wanita sekaligus dengan bibinya  Mengawini wanita bersama anak perempuan dari saudara lakilaki atau perempuan sekaligus
  8. 8. Khitbah Menyatakan permintaan untuk menikah dari seorang laki-laki terhadap seorang perempuan atau sebaliknya dengan perantara orang yang dipercayai.  Tidak boleh mahramnya  Tidak boleh sudah dipinang oleh orang lain terlebih dahulu  Tidak boleh yang masih dalam masa iddah
  9. 9. Kufu’ Bahasa: sama, sederajat, sepadan, sebanding Istilah: Laki-laki sebanding dengan calon istrinya, sama dalam kedudukan, sebanding dalam tingkat sosial dan sederajat dalam akhlak dan tingkat kekayaan.       Agama Merdeka atau hamba sahaya Perusahaan Kekayaan Kesejahteraan Akhlak
  10. 10. Mahar Wajib diberikan oleh suami kepada istri baik berupa uang, barang, dll ketika hendak melangsungkan pernikahan. Bersifat wajib bagi laki-laki namun tidak termasuk rukun nikah jadi jika tidak tersebut dalam akad masih bisa dianggap sah. Jumlah mahar tidak di tetapkan. Hanya harus disepakati oleh pihak perempuan dan mempelai laki-laki sanggup membayarnya karena akan dapat menjadi hutang.
  11. 11. Syarat Sah Nikah  Beragama islam Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintahperintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran. (Q.S. al-Baqarah ayat 221)
  12. 12.  Bukan Mahramnya Diharamkan atas kamu (menikahi) ibu-ibumu[7], anak-anakmu yang perempuan[8], saudara-saudaramu yang perempuan[9], saudara-saudara ayahmu yang perempuan[10], saudara-saudara ibumu yang perempuan[11], anak-anak perempuan dari saudarasaudaramu yang laki-laki, anak-anak perempuan dari saudarasaudaramu yang perempuan[12], ibu-ibumu yang menyusui kamu[13], saudara-saudara perempuanmu sesusuan[14], ibu-ibu istrimu (mertua), anak-anak perempuan dari istrimu (anak tiri) yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri[15], tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu menikahinya, (dan diharamkan bagimu) istri-istri anak kandungmu (menantu)[16], dan diharamkan mengumpulkan (dalam pernikahan) dua perempuan yang bersaudara[17], kecuali yang telah terjadi pada masa lampau[18]. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang
  13. 13.  Saling mengenal dan suka sama suka Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. (Q.S. an-Nisa ayat 3)  Ada mahar yang dikeluarkan oleh calon suami  Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.
  14. 14.  Tidak dalam ihram  Tidak bersuami dan tidak dalam iddah bagi calon istri  Suami tidak memiliki empat orang istri Syarat Dua Wali •Beragama islam •Baligh •Berakal •Merdeka •Laki-laki •Adil
  15. 15. Rukun Nikah  2 Orang mempelai  Wali mempelai wanita Hadits Rasulullah: “Barang siapa di antara perempuan yang menikah tidak dengan izin walinya, maka pernikahannya batal.” (Riwayat 4 ahli hadits kecuali nasa’i) Susunan wali:  Bapaknya  Kakeknya  Saudara laki-laki yang seibu sebapak  Saudaralaki-laki sebapak  Anak laki-laki dari saudara laki-laki seibu sebapak  Anak laki-laki dari saudara laki-laki sebapak  Saudara bapak yang laki-laki  Anak laki-laki paman dari bapak  Hakim
  16. 16.  2 Orang saksi  Sighat (akad) Yaitu perkataan dari wali perempuan (Ijab) seperti : “Saya nikahkan engkau dengan .....binti..... Dengan maskawin ...... Dibayar tunai” Dan dijawab dengan perkataan mempelai laki-laki (qabul) seperti: “Saya terima nikahnya ..... Binti..... Dengan maskawin..... Dibayar tunai” Tidak sah akad nikah kecuali dengan lafaz nikah, tajwij atau terjemahan dari keduanya. Sabda Rasulullah SAW.: “Takutlah kepada Allah dalam urusan perempuan. Sesungguhnya kamu ambil mereka dengan kepercayaan Allah, dan kamu halalkan kehormatan mereka dengan kalimat Allah.” (HR: Muslim)
  17. 17. Perayaan Setelah menikah mempelai sebaiknya melaksanakan perayaan. Sebagian ulama berpendapat bahwa perayaan itu wajib namun adapula yang berpendapat kalau itu sunah. Sabda Rasulullah. SAW: “Adakanlah perayaan meskipun hanya memotong seekor kambing” (HR. Bukhari Muslim) Menghadiri undangan perayaan pernikahan wajib bila diundang dan tidak berhalangan.
  18. 18. Kewajiban Suami  Memberi Nafkah Nafkah: semua kebutuhan dan keperluan yang berlaku menurut keadaan dan tempat. Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencaricari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (Q.S. an-Nisa ayat 34)
  19. 19.  Memelihara mendidik dan memimpin istri dan anak-anaknya serta bertanggung jawab atas keselamatan dan kesejahteraan keluarga Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (Q.S. atTahrim ayat 6)  Berlaku sopan
  20. 20. Kewajiban Istri                 Mentatati perintah suami Diam ketika suaminya berbicara Berdiri ketika suaminya datang dan keluar rumah Memakai wangi-wangian Memelihara mulutnya Berhias dihadapan suaminya Tidak berhias ketika suaminya tidak dirumah Tidak berkhianat kepada suaminya Menghormati keluarga suaminya dan kerabatnya Merasa puas jika diberi sedikit oleh suaminya Tidak menjalankan puasa sunah tanpa izin suaminya Tidak keluar rumah tanpa izin suaminya Memelihara dan mendidik anak-anak suaminya Mengatur dan menjaga rumah tangganya Memelihara dan menjaga rahasia rumah tangganya Menjaga kehormatan diri dan keluarganya  Dari Kitab Uqudul Lujain
  21. 21. To Be Continued........
  22. 22. PERKAWINAN ALIKA MUTIARA MOY NADIA CAHYA SYFANI RIZQY XII IPA 3
  23. 23. Nusyuz Adalah durhaka atau meninggalkan kewajiban – kewajiban dalam pernikahan dengan tidak ada alasan yang dapat diterima menurut hukum syara’. Dapat diperingatkan seperti dalam QS. An-Nisa ayat 34 dengan: 1. Memberi nasihat dan peringatan pada istri yang nusyuz. Dan bersamanya maka hilanglah haknya untuk diberi nafkah. 2. Pisah ranjang 3. Dipukul dengan syarat: Tidak di wajah, Tidak ditempat yang akan terlihat, dan tidak untuk tujuan menykiti dan menimbulkan bekas.
  24. 24. Talaq Bahasa: Menceraikan atau melepaskan Istilah : Memutuskan tali perkawinan yang sah, Baik seketika atau dimasa mendatang oleh pihak suami dengan mengucapkan kata-kata tertentu atau cara lain yang menggantikan kedudukan kata-kata tersebut. Rasulullah.SAW bersabda: “Dari Ibnu Umar berkata: Rasulullah. SAW bersabda, perbuatan halal yang amat dibenci Allah adalah talaq.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah)
  25. 25. Syarat Talaq  Harus dijatuhkan oleh suami  Tidak ada jalan lain untuk rukun atau damai  Suami harus berakal, baligh, dan tidak dipaksa  Tidak dalam keadaan marah  Tidak dalam keadaan tidak sadar
  26. 26. Wanita yang Dapat Ditalaq  Yang masih dalam hubungan suami istri yang sah  Masih berada dalam iddah talaq raj’i atau iddah talaq ba’in sugro  Jika istri dalam keadaan berpisah Wanita yang Tidak Dapat Ditalaq  Istri sedang haid  Istri ssedang masa iddah karena fasakh  Ada syarat pernikahan tidak terpenuhi
  27. 27.  Makruh Hukum talaq Hukum asli talaq  Wajib Apabila terjadi perseliosihan antara suami dan istri dan dua hakim yang membantu menyelesaikan permasalahan memandang tidak ada jalan lain yang dapat ditempuh selain perceraian  Sunnah Apabila suami tidak sanggup lagi membayar kewajiban (nafkahnya) dan apabila istri sudah tidak dapat menjaga kehormatannya Seorang laki-laki telah datang pada Rasulullah SAW. Dia berkata, “ Istriku tidak menolak tangan orang yang menyentuhnya.” Jawab Rasulullah SAW, “ Hendaklah engkau ceraikan saja perempuan itu.” (Muhazzab Juz II, Hlm. 78)  Haram Apabila mentalaq istri ketika istri sedang dalam masa haid. Dan menjatuhkan talaq ketika dalam keadaan suci tapi sudah dicampuri. Sabda Rasulullah, SAW: “Suruhlah olehmu anakmu supaya dia rujuk (kembali) kepada istrinya itu, kemudian hendaklah ia teruskan pernikahan itu sehingga ia suci dari haid, kemudian ia haid kembali, kemudian suci pula dari haid yang kedua itu. Kemudian jika ia menghendaki, ceraikan ia sebelum dicampuri. Demikian iddah yang dipeerintahkan Allah supaya perempuan ditalak ketika itu.” (HR. Mutafaqun Alaihi)
  28. 28. Lafaz Talaq  Sarih (terang) Yaitu kalimat perceraian yang diucapkan tanpa diragukan lagi maknanya adalah memutuskan ikatan perkawinan, seperti kata-kata “Engkau tertalak.” atau “Saya ceraikan engkau.” Kalimat ini tidak perlu diucapkan dengan niat. Artinya apabila terucap sengaja atau tidak sengaja keduanya harus bercerai.  Kinayah (sindiran) Adalah kalimat talaq yang masih ragu-ragu. Bisa berarti perceraian pernikahan bisa berarti yang lain bergantung pada niat pengucapan awalnya seperti “pulanglah engkau ke rumah keluargamu” “pergi dari sini”
  29. 29. Macam-macam talaq  Talaq Munjaz artinya perceraian kontan (sekaligus) ialah talaq yang diucapkan tanpa syarat atau penangguhan waktu. Seperti kata-kata “saya ceraikan kamu” atau “kamu lepas”.  Talaq Mudhof artinya perceraian bertangguh ialah talaq yang dikaitkan dengan waktu dan apabila waktunya tiba maka talaq jatuh seperti “kamu lepas besok” “kamu tertalak minggu depan”  Talaq Mu’allaq artinya talaq bersyarat ialah talaq yang belum jatuh ketika talaq diucapkan namun akan jatuh apabila suatu syarat tertentu dilakukan seperti “jika kamu pergi ke ..... Maka kamu saya ceraikan”
  30. 30.  Talaq raj’i Bilangan talaq talaq ini tergolong talaq yang masih boleh dirujuk kembali selama masih dalam masa iddahnya. Di dalamnya tercakup talaq 1 dan talaq 2  Talaq Ba’in sughro adalah talaq 1 atau 2 namun dilakukan dengan khulu’ atau dengan inisiatif istri dimana istri membayar kembali mahar yang pernah diberikan oleh sang suami. Disini suami tidak dapat rujuk kembali kecuali dengan mengulang akad nikah  Talaq Ba’in kubro talaq ini bisa disebut juga talaq 3 dimana suami yang menceraikan tidak dapat rujuk kembali kecuali sang istri telah menikah dan digauli oleh suami keduanya dan kemudian diceraikan kembali oleh suami keduanya dan telah habis masa iddah keduanya.
  31. 31. Zhihar Berasal dari kata zhar yang artinya punggung. Dimana sang suami menyamakan istrinya dengan punggung mahramnya dengan maksud menalaq. “engkau bagiku seperti punggung ibuku”. Namun di mata islam, zhihar tidak berarti istri tertalaq dan sang suami harus membayar kafarat dengan memerdekakan hamba sahaya atau berpuasa 2 bulan berturut turut atau memberi makan 60 fakir miskin masing ¼ sa’ fitrah (3/4 L).
  32. 32. Fasakh Secara bahasa berarti rusak atau batal. Menfasakh akad nikah artinya membatalkan ikatan suami istri.Fasakh terjadi apabila ada syarat-syarat yang tidak terpenuhi saat akad nikah atau karena hal-hal lain yang datang kemudian sehingga membatalkan pernikahan. Contoh:  Setelah akad berlangsung diketahui bahwa ternyata kedua mempelai merupakan saudara sepersusuan  Setelah akad ada salah seorang mempelai yang murtad dan tidak mau kembali lagi.
  33. 33. Li’an Menurut bahasa berarti mengutuk atau melaknat. Sedangkan menurut istilah artinya pengutukan diri/sumpah yang diucapkan oleh suami sebagai saksi untuk memperkuat tuduhan bahwa istrinya telah berbuat zina, berbuat serong dengan laki-laki lain, mengotori tempat tidurnya, dan menginjak-injak martabatnya tanpa mendatangkan saksi. Apabila suami menuduh istri berbuat zina dengan bersumpah 4 kali dan diikuti sumpah ke-5 berupa Li’an untuk melaknat dirinya apabila berdusta maka suami tidak akan terkena hukum qadzaf (hukum menuduh zina orang baik-baik) dan istrinya akan terkena hukum dera (hukum zina). Namun, hukuman untuk sang sitri akan batal apabila sang istri juga bersumpah 4 kali menolak sumpah sang suami dan yang ke-5 dengan Li’an. Perceraian akibat Li’an ini sama golongannya dengan cerai ba’in Kubro.
  34. 34. Ilaa Artinya menolak mencmpuri istri dengan sumpah. Suami bersumpah untuk tidak mencampuri istri selama empat bulan. Dalam waktu empat bulan jika suami tidak kembali pada istrinya maka jatuhlah Talaq ba’in sughro. Apabila suami memutuskan untuk kembali pada istrinya maka harus membayar kafarat dengan berpuasa tiga hari berturut-turut dan memebri makan 10 fakir miskin ¼ sa’ fitrah.
  35. 35. Mut’ah Mut’ah adalah pemberian. Dalam fiqih mut’ah artinya pemberian seorang suami kepada istrinya yang akan diceraikan sebelum berkumpul sebagai penggembira. Mut’ah wajib dibayarkan kepada istri yang telah sempat digaulinya bagi yang maharnya telah ditentukan atau belum. Juga pada istri yang belum sempat digaulinya dan maharnya belum ditentukan. Untuk istri yang belum digauli dan maharnya telah ditentukan tidak perlu diberi mut’ah namun cukup separuh dari mahar yang telah ditentukan. Ukuran pemberian mut’ah disesusaikan dengan keadaan sang suami.
  36. 36. Hadhanah Hadhanah adalah hak mendidik dan merawat apabila pasangan yang bercerai memiliki anak yang belum mumayyiz. Dalam hal ini hadhanah jatuh pada sang istri selama sang istri belum menikah lagi. Meskipun begitu, nafkah sang anak masih wajib dibayarkan oleh mantan suaminya. Apabila anak sudah mumayyiz sebaiknya ditentukan yang lebih pantas merawat sang anak atau sang anak bisa memilih sendiri ingin ikut siapa.
  37. 37. Iddah Adalah masa menunggu yang diwajibkan atas istri yang ditalak cerai maupun yang ditinggal mati. Gunanya untuk mengetahui apakah sang sitri hamil atau tidak dan memberi kesempatan mantan suami untuk rujuk kembali. 1. Wanita yang tertalak 1 atau 2 dan masih berhaid, iddahnya tiga kali suci. 2. Wanita yang tertalak dan tidak haid lagi (menopause) masa iddahnya 3 bulan 3. Wanita yang tertalak dan hamil masa iddahnya sampai bayinya lahir 4. Wanita yang diceraikan namun belum semat digauli maka tidak ada masa iddah 5. Wanita yang ditinggal mati iddahnya 4 bulan 10 hari.
  38. 38. Hak Perempuan dalam Iddah  Perempuan yang menaati idaah Raj’i berhak menerima tempat tinggal , pakaian, dan segala keperluan hidupnya kecuali istri yang durhaka.  Perempuan dalam iddah bain kalu mengandung berhak pula untuk mendapat kediaman, nafkah, dan pakaian  Perempuan dalam iddah bain baik sughro atau kubro hanya berhak atas tempat tinggsl  Perempuan yang iddah wafat berhak atas pusaka suaminya
  39. 39. Rujuk Secara bahasa artinya kembali. Secara istilah suami kembali pada istrinya yang telah diceraikan untuk mewujudkan kembali pernikahan semula sesuai dengan ketentuan agama. Rujuk tidak memerlukan akad nikah kembali karena akad nikahnya belum putus.
  40. 40.  Wajib     Hukum Rujuk untuk suami yang menalak istrinya sebelum pembagian waktunya disempurnakan Haram apabila tujuannya hanya untuk menyakiti istri Makruh apabila perceraian akan mendatangkan hal yang lebih baik daripada rujuk Jaiz/Mubah hukum rujuk yang asli Sunah apabila suami bertujuan untuk memperbaiki keadaan istrinya atau rujuk akan lebih berfaedah daripada cerai
  41. 41. Rukun rujuk  Istri  Sudah dicampuri  Istri tertentu  Talaknya talak Raj’i  Terjadi sewaktu masih masa iddah  Suami Kehendak sendiri  Saksi 2 orang  Sigat  Terang-terangan  Sindiran
  42. 42. Hikmah Menikah  Kesempurnaan ibadah  Kelangsungan keturunan  Ketenangan batin  Meningkatkan ekonomi keluarga  Terpelihara dari dosa dan noda (zina)  Terjalin ukhuwah satu keluarga

×