Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Profil Pulau-Pulau Terluar Provinsi Maluku

2,127 views

Published on

sebuah dokumen dummy yang berisikan mengenai profil dan karakteristik dari 18 pulau terluar di provinsi Maluku,
meliputi Pulau Asutubun, Pulau Batarkusu, Pulau Larat dan Pulau Selaru di Kabupaten Maluku Tenggara Barat. Pulau Wetar, Pulau Kisar, Pulau Meaitimirang, Pulau Liran, di Kabupaten Maluku Barat Daya. Serta Pulau Batu Goyang, Pulau Enu dan Pulau Enu Karang untuk wilayah Kabupaten Kepulauan Aru

  • Be the first to comment

Profil Pulau-Pulau Terluar Provinsi Maluku

  1. 1.  ARARKULA Propinsi : MALUKU Kabupaten : KABUPATEN KEPULAUAN ARU Kecamatan : ARU TENGAH Koordinat : Gambaran Umum Pulau Ararkula yang merupakan salah satu dari 8 pulau kecil terluar di Kabupaten Kepulauan Aru. Di pulau ini terdapat titik dasar (TD) no. 097 dan titik referensi no (TR) 097. Masyarakat setempat menyebut pulau ini dengan nama P. Wanang, sedangkan Ararkula merupakan gosong pasir yang muncul pada saat air surut dan merupakan tempat penambangan pasir bagi masyarakat desa di sekitarnya. Pulau Ararkula termasuk dalam wilayah Kecamatan Aru Tengah, petuanan Desa Selmona, Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku. Secara Geografs Pulau Ararkula terletak antara 05o 35’ 42” LS – 134o 49’ 05” BT. Perhitungan menggunakan data lapang, hasil analisis peta dan data citra satelit, total luas dataran Pulau Ararkula adalah 0,1186 km2 dengan keliling pulau 1,271 km. Untuk mencapai P. Ararkula, perjalanan dimulai dari ibukota Kabupaten Kepulauan Aru (Dobo) menuju Desa Selmona. Tidak ada transportasi umum atau reguler yang menghubungkan Desa Selmona dengan Dobo, sehingga harus menyewa speed boat. Untuk mencapai Desa Selmona dibutuhkan waktu antara 4 jam hingga 5 jam. Dari Desa Salmona, perjalanan dilanjutkan menuju P. Ararkula, dengan waktu sekitar 5 hingga 6 jam, melewati selat (masyarakat di sana menyebut-nya sungai) antara P. Wokam dan P. Kola. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 1
  2. 2.  Kependudukan, Sosial Budaya dan Kelembagaan Masyarakat yang mengakses Pulau Ararkula berasal dari 3 desa masing-masing Selmona, Berdefan dan Kompane. Selmona memiliki jumlah penduduk sebanyak 403 jiwa, laki-laki berjumlah 198 jiwa dan perempuan 205 jiwa; desa Berdefan ber-penduduk 219 jiwa, laki-laki sebanyak 121 jiwa dan perempuan 98 jiwa; dan desa Kompane berpenduduk 338 jiwa, laki-laki sebanyak 157 jiwa dan perempuan 181 jiwa. Berdasakan kelompok umur, penduduk usia produktif di Selmona sebesar 63,52 %, di Berdefan 49,77 % dan di Kompane 63,02 %. Distribusi penduduk usia produktif ini seharusnya menjadi kekuatan bagi tiap desa untuk mengembangkan ekonomi masyarakatnya. Distribusi kepala keluarga di kedua desa ini masing-masing, di Selmona sebanyak 79 KK, kepala keluarga laki-laki 74 orang dan kepala keluarga perempuan 5 orang; di Berdefan jumlah kepala keluarga 69 KK, laki-laki 63 orang dan perempuan 6 orang; serta di Kompane jumlah kelapa keluarga 74 KK, laki-laki 55 orang dan perempuan 19 orang. Berdasarkan distribusi tingkat kesejahteraan keluarga menurut kriteria BKKBN, Selmona hanya memiliki keluarga sejahtera sebesar 2,53 %, Berdefan 2,90 % dan Kompane sebesar 4,05 %. Hal ini berarti masyarakat yang mengakses Pulau Ararkula masih memiliki kelompok masyarakat di bawah garis kemiskinan lebih dari 95 %. Kondisi ini tidak seharusnya terjadi apabila masyarakat dapat meningkatan akses mereka dalam pemanfaatan sumberdaya alam yang dimiliki. Dengan demikian sangat diharapkan adanya upaya pengembangan kapasitas masyarakat dalam kegiatan produksi dan akses terhadap distribusi hasil produksinya. Ekosistem dan Sumberdaya Hayati Potensi Sumberdaya Teresterial Keanekaragaman flora dan fauna di lingkungan ekosistem daratan Pulau Ararkula relatif kecil atau terbatas. Hal ini ditunjukkan dengan tidak ditemukannya kawasan hutan alam yang memiliki tingkat heterogen tumbuhan dan satwa. Jenis tumbuhan yang teridentifikasi kebanyakan merupakan vegetasi budidaya seperti kela-pa, pisang, bambu serta beberapa jenis tumbuhan kayu seperti ketapang, pandanus. Tumbuhan yang terkait dengan usaha pertanian seperti beberapa jenis sayuran. Keberadaan flora di pulau ini karena aktivitas masyarakat sekitar yang mempunyai akses ke pulau ini sering memanfaatkan pulau ini sebagai lahan pertanian maupun perkebunan. Jenis fauna yang MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 2
  3. 3.  ditemukan pada P. Ararkula diantaranya burung (elang dan burung dara), ular, kadal dan tikus. Potensi Sumberdaya Pesisir dan Laut Terumbu Karang Berdasarkan data hasil citra satelit diperoleh informasi dimensi terumbu karang P. Ararkula yaitu panjang terumbu karangnya mencapai 9,78 km dengan lebar terumbu yang relatif kecil yaitu antara 0,19 km. Pada batas sekitar areal surut rendah terdapat sejumlah batuan berupa limestone dan karang mati yang ditempati oleh organisme laut seperti alga dan biota bentik lain. Karang ditemukan tumbuh sepanjang areal-areal kanal yang dangkal setelah batas surut rendah dan sebaran karang batu hanya dite-mukan mencapai kedalaman sekitar 3 meter. Akibat pengaruh pasang surut dan gelombang laut yang menyebabkan kekeruhan secara periodik sehingga sangat mempengaruhi pertumbuhan karang serta perkembangan terumbu karang. Karang batu memiliki persen tutupan substrat dasar terumbu relatif lebih tinggi dari komponen biota laut lainnya. Selain itu, karang batu kategori Non-Acropora memiliki persen tutupan dasar lebih tinggi dari karang batu dari kategori Acropora. Secara rinci, data tentang komponen abiotik menunjukan persen tutupan dasar areal terumbu oleh pasir sangat besar dibanding karang mati ditutupi alga maupun patahan karang mati. Nilai persen tutupan karang Acropora dan Non-Acropora berpolip kecil rendah, demikian juga variasi bentuk tumbuh karang batu pada areal terumbu P. Ararkula juga rendah. Hal ini berkaitan erat dengan faktor kekeruhan air yang menghambat kehadiran dan pertumbuhannya. Karang batu dari kategori Non-Acropora memiliki jumlah jenis lebih banyak dibanding karang batu kategori Acropora. Karang masif memiliki jumlah jenis lebih menonjol dibanding 8 bentuk tumbuh koloni karang batu kategori Non-Acropora yang lain. Sementara untuk dua bentuk tumbuh koloni karang batu dari kategori Acropora yang ditemukan, ternyata jum-lah jenisnya sangat rendah yaitu masing-masing hanya diwakili oleh satu spesies karang. Nilai kisaran diameter koloni karang pada areal terumbu P. Ararkula adalah 4,2 – 62,8 cm, dengan diameter koloni rata-rata mencapai 38,6 cm. Akibat diameter koloni MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 3
  4. 4.  karang batu rata-rata yang kecil, maka seharusnya kepadatan koloni karang menjadi tinggi. Akan tetapi melalui hasil analisis diperoleh kepadatan koloni karang hanya mencapai 3,4 koloni per m2. Kondisi ini disebabkan oleh kehadiran dan per-tumbuhan karang yang jarang di dasar terumbu yang didominasi komponen substrat lunak (berpasir). Dua jenis karang yang memiliki diameter koloni rata-rata tergolong menonjol pada areal terumbu P. Ararkula ini adalah Platygyra sp. dan Porites lutea yang mempu hidup dan ber-kembang pada kondisi perairan yang relatif keruh. Berkaitan dengan susunan geologis pesisir pulau yang berada dalam fase atau proses perkembangan dengan batuan dan pasir seperti terlihat pada Gambar 3, menyebabkan kondisi perairan sekitar mengalami kekeruhan yang tinggi, akibat sedimentasi yang terjadi disaat perpindahan massa air pada periode pasang dan surut maupun akibat gelombang. Lamun Di perairan pulau ini terdapat 7 jenis lamun. Dari ke tujuh jenis lamun yang ada, spesies Cymodocea rotundata memiliki kehadiran tertinggi dan kehadiran terendah diwakili oleh spesies Enhallus acoroides. Kerapatan lamun di P. Ararkula, sebesar 49.33 tegakan/m2, dimana kerapatan tertinggi ditemukan pada jenis Cymodocea rotundata sebesar 30.00 tegakan/m2 dengan persen penutupan relatif sebesar 21.66%; sedangkan kerapatan terendah diwa-kili oleh jenis Enhallus acroides yaitu 0.43 ind/m2 dengan persen penutupan relatif 24.38%. Ikan Karang Ikan karang yang menempati areal terumbu P. Ararkula mencapai 51 spesies yang tergolong dalam 33 genera dan 24 famili. Kekayaan spesies ikan karang ini tergolong relatif tinggi dengan dimensi areal terumbu P. Ararkula yang tidak luas diban-ding areal terumbu lainnya seperti P. Kultubai Selatan, serta kondisi terumbu ka-rangnya yang buruk karena penyebarannya yang menyerupai patch reef dan jarak antar kumpulan koloni karang yang sangat jauh. Famili ikan karang dengan variasi jenis yang tinggi di perairan karang P. Arar-kula adalah Pomacentridae (6 jenis) dan Lutjanidae (5 jenis). Sebanyak 22 famili lain-nya memiliki jumlah spesies < 5, 10 famili diantaranya hanya memiliki satu spesies yakni Centropomidae, Atherinidae, Sphyraenidae, Dasyatidae, Pomacanthidae, Cirrhitidae, MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 4
  5. 5.  Gobiidae, Mullidae, Nemipteridae dan Syngnathidae. Ikan karang dari genus Lutjanus dan Chaetodon memiliki variasi jenis tergolong tinggi di perairan karang ini yakni masingmasing memiliki 5 dan 4 spesies, sedangkan sebanyak 31 genera lainnya memiliki jumlah spesies < 3, 20 genera diantaranya hanya memiliki 1 spesies. Rendahnya kekayaan jenis ikan karang famili Chatodontidae yang juga termasuk kategori spesies indikator memberikan indikasi bahwa kualitas terumbu karang P. Ararkula relatif kurang baik. Kekayaan jenis ikan karang kategori Major Categories Species perairan karang P. Ararkula relatif lebih rendah dari kategori Target Species dan jauh lebih tinggi dibanding Indicator Species. Sementara berdasarkan kriteria pemanfaatannya, kekayaan jenis ikan kon-sumsi jauh lebih tinggi dibanding ikan hias. Kelimpahan stok (stock abundance) sumberdaya ikan di perairan terumbu karang P. Ararkula, juga tergolong relatif tinggi. Gambaran nilai sediaan cadang serta kelimpahan stok ikan karang tersebut menunjukan bahwa perairan karang sekitar P. Ararkula sebagai pulau kecil terluar atau perbatasan ini menyimpan potensi sumberdaya ikan karang yang cukup besar. Setidaknya terdapat empat jenis ikan karang di perairan P. Ararkula yang termasuk kategori predominan di dalam komunitasnya. Jenis ikan Caesio teres sangat predominan dibanding tiga jenis ikan karang yang lain. Sesuai kriteria pemanfaatannya sebagai ikan konsumsi, maka Caesio teres memiliki nilai sediaan cadang, MSY dan JTB lebih tinggi dari Zebrasoma scopas. Sementara untuk kriteria monitoring, jenis ikan Caesio teres (ekor kuning) sebagai Target Species adalah jenis ikan yang predominan dengan kepadatan individu, sediaan cadang, kelimpahan stok, nilai MSY dan JTB yang sangat menonjol dibanding dua jenis ikan predominan lainnya yaitu Ctenochaetus strigosus yang termasuk Major Categories Species dan Chaetodon kleinii sebagai ikan yang termasuk dalam kategori Indicator Species. Bila keempat jenis ikan yang tergolong predominan itu dikelompokan menurut tujuan pemanfaatan, maka ikan hias memiliki kepadatan individu dan sediaan cadang lebih rendah dari ikan konsumsi. Perikanan Tangkap Perairan di sekitar kawasan P. Ararkula merupakan daerah penangkapan yang baik bagi nelayan untuk melakukan aktifitas penangkapan ikan. Perairan ini diakses oleh MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 5
  6. 6.  nelayan yang bermukim di sekitarnya dengan menggunakan peralatan tangkap tradisional, hingga nelayan dari luar kawasan bahkan dari luar negeri dengan menggu-nakan peralatan tangkap yang modern. Pada waktu-waktu tertentu, terutama di musim Barat, kapal-kapal penangkapan udang dan ikan dengan menggunakan pukat udang (shrimp trawl) dan pukat ikan (fish net), terlihat beroperasi di perairan sebelah timur P. Ararkula. Aktifitas penangkapan yang dilakukan oleh nelayan-nelayan ini masih banyak yang tidak resmi dan belum mendapat ijin dari pemerintah Indonesia, terutama oleh kapal-kapal penangkapan ikan dan udang yang berasal dari negara lain. Penangkapan ikan yang dilakukan oleh nelayan setempat, sebagian juga masih menggunakan bom ikan (explosive fishing). Masyarakat yang memanfaatkan sumberdaya alam yang ada di P. Ararkula, terutama berasal dari Desa Selmona karena mereka meyakininya sebagai hak adat (ulayat) mereka. Nelayan yang berasal dari Desa Selmona membangun rumah secara tradisional di P. Ararkula dan mendiaminya selama musim barat karena kondisi perairan baik untuk melakukan aktifitas penangkapan ikan. Walaupun demikian, nelayan-nelayan lainnya dari desa sekitar juga turut melakukan aktifitas penangkapan ikan di kawasan P. Ararkula, yakni dari Desa/dusun Mesidang, Mohongsel, Kolamar, Kompane, Leiting dan Monal. Musim Timur yakni pada bulan Mei sampai Agustus, kondisi perairan di kawasan P. Ararkula berombak sehingga tidak memungkinkan nelayan atau masyarakat lainnya dapat melaut. Hal ini disebabkan karena mereka masih menggunakan kapal/perahu yang tradisonal. Namun, selama Musim Barat dan Musim Pancaroba yang berlangsung 8 (delapan) bulan, merupakan waktu yang baik bagi mereka untuk melakukan aktifitas penangkapan di perairan sekitar pulau ini. Alat penangkapan ikan yang digunakan oleh masyarakat yang menangkap ikan di kawasan P. Ararkula masih tergolong tradisional yakni berupa Gancu/tombak (spear gun) pada saat air surut atau lazimnya disebut dengan istilah lokal “bameti“, panah (arrow), pancing tangan (hand line), bubu (trap net) dan jaring insang hanyut (drift gill net). Sumberdaya Makro Bentos Perairan pesisir (daerah intertidal) P. Ararkula dan laut sekitarnya menyimpan sejumlah potensi sumberdaya makro bentos yang dapat dikembangkan sebagai komoditi perikanan dan kelautan potensial. Sumberdaya makro bentos dimaksud antara lain moluska (siput dan kerang) dan ekinodermata (teripang). MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 6
  7. 7.  Sumberdaya Non Hayati Aktivitas Pengelolaan Sumberdaya Lingkungan Topografi pulau Ararkula relatif sama dengan pulau-pulau kecil lainnya yang terdapat di Kabupaten Kepulauan Aru yaitu datar. Pulaunya terbentuk dari jenis batuan gamping koral dengan jenis tanah berupa Rensina dan Hidromorfik kelabu. Pesisir pantainya terdiri atas pantai berpasir dan pantai berbatu dengan tebing terjal (cliff). Pantai berpasir memiliki lebar bervariasi dari 25 – 41 m dan letaknya pada bagian Utara pulau. Pantai tebing terjal terdapat pada hampir seluruh bagian pulau. Secara geomorfologis Pulau Ararkula mengalami proses abrasi intensif di sepanjang pantai yang disebabkan oleh gempuran gelombang musim. Pulau ini memiliki rataan pasang surut yang sangat lebar dan luas. Luas total rataan pasang surut Pulau Ararkula berdasarkan data Landsat 7 ETM+ adalah 15,49 km², dengan rataan pasang surut berpasir 3,38 km². Pada bagian Selatan maupun Utara Ararkula terjadi proses akumulasi pasir koral pada daerah dangkalan membentuk gosong pasir (sand bar). Akumulasi pasir koral sangat intensif dan berpotensi menjadi pulau baru. Namun intensifnya aktivitas pengambilan pasir di gosong pasir tersebut oleh sekelompok orang, diduga akan memperlambat proses pembentukan pulau. Sebaran komponen penyusun substrat dasar zona pantai kering hingga zona pasang surut bervariasi. Zona pantai kering terdapat di bagian barat, selatan dan utara P. Ararkula merupakan pantai berbatu gamping dengan tebing terjal. Zona pantai kering dengan substrat pasir relatif sempit di bagian timur pulau, tergolong pantai transisional yang selalu mengalami dinamika lebar pasir sepanjang musim. Pada umumnya zona pasut P. Ararkula didominasi oleh substrat lunak yang tersusun dari komponen pasir kasar hingga pasir halus yang ditumbuhi vegetasi lamun. Sementara pada bagian lainnya memiliki substrat keras yang tersusun oleh komponen batuan koral dan hancuran karang yang ditumbuhi oleh algae. Iklim di gugusan Kepulauan Aru, termasuk P. Ararkula sesuai klasifikasi Schmid dan Ferguson (1951) yakni tipe iklim C dengan nilai Q = 0,19 dengan curah hujan tahunan bervariasi dari 2000 - 3000 mm. Jumlah hari hujan rata-rata adalah 105 hari, dan curah MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 7
  8. 8.  hujan tertinggi terjadi antara bulan Januari hingga Maret. Jumlah rata-rata bulan basah 9 bulan dan bulan kering 1,7 bulan. Keadaan iklimnya sangat dipengaruhi oleh Laut Arafura dan dibayangi oleh P. Irian bagian Selatan serta bagian Utara Australia. Musim Timur optimum berlangsung antara bulan Juni hingga Agustus. Musim Barat berlangsung antara bulan Desember hingga Pebruari. Sedangkan Musim peralihan atau pancaroba antara kedua musim utama itu terjadi pada bulan Maret-Mei dan September-Nopember. Pasang surut (Pasut) di P. Ararkula terjadi dua kali sehari (tipe harian ganda). Jangkauan pasang surut mencapai 2 – 2.5 m. Arus yang terjadi di sekitar P. Ararkula didominasi oleh arus pasut, dan juga oleh arus non pasut dari Laut Arafura. Kecepat-an arus pada kondisi perairan tenang pada zone pasut cukup lemah dan berkisar dari 5,5 – 15,4 cm/detik saat pasang maupun surut. Di luar zone pasut, kecepatan arus lebih kuat pada sisi Timur dan Barat pulau dengan kisaran 10,0 – 62 cm/detik yang mengarah ke Selatan. Gelombang di seluruh wilayah pesisir dan laut P. Ararkula merupakan tipe gelombang angin (variasi sea dan swell), dimana angin sebagai pembangkit utama yang umumnya bervariasi sesuai musim. Terdapat 2 tipe gelombang pecah di pantai P. Ararkula yaitu “spilling” dan “plunging” dengan dominasi “plunging”. Energi gelombang “plunging” sangat berperan terhadap pembentukan morfologi tebing terjal pan-tai di sisi Timur dan Barat P. Ararkula. Proses abrasi oleh gelombang dan arus me-nyebabkan beberapa Bagian pantai tebing di bagian timur terpisah dari pulau induknya membentuk steak. Hal ini menunjukkan bahwa gelombang musim Timur sangat dominan pengaruhnya terhadap P. Ararkula. Suhu rata-rata di perairan sekitar P. Ararkula pada bulan Desember 2005 berkisar antara 28,2 – 28,7 0C. Nilai salinitas di lapisan permukaan sampai pertengah-an perairan P. Ararkula pada bulan yang sama sebesar 35 ppt. Kecerahan air di sekitar P. Ararkula memiliki tingkat kecerahan tinggi > 6 meter, dan tipe perairan adalah perairan dangkal dengan kedalaman maksimum 9 meter. Konsentrasi padatan tersuspensi di perairan sekitar P. Ararkula sebesar 0,03 mg/600 ml/det. Tinggi rendahnya variasi nilai padatan tersuspensi disebabkan ada perbedaan laju konsentrasi materi tersuspensi dan jarak lokasi dengan sumber asal sedimen di perairan sekitar P. Ararkula. Sumber utama partekel tersuspensi di perairan ini berasal MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 8
  9. 9.  dari aktivitas penambangan pasir, teruta-ma pada saat air surut yang dilakukan oleh masyarakat desa yang bermukim di pulau-pulau yang dekat dengan P. Ararkula. Kandungan oksigen terlarut di lapisan permukaan perairan P. Ararkula berki-sar antara 6,9 – 7,60 ppm. Nilai pH rata-rata di perairan sekitar P. Ararkula pada bulan Desember 2005 berkisar antara 8,28 - 8,75. Sedangkan nilai zat hara di perairan sekitar P. Ararkula sangat bergantung pada input yang diperoleh dari lingkungan sekitarnya. Selain pasang surut, tampaknya faktor musim memberi kontribusi yang nyata terhadap besarnya fluktuasi kandungan fosfat, nitrit dan nitrat. Kandungan fosfat pada bulan Desember 2005 adalah 0,42 mg/ltr, nitrit (0,11 mg/ltr), sementara kadar nitrat adalah sebesar 1,30 mg/ltr. Sarana dan Prasarana Peluang Investasi Potensi dan Arahan Pengembangan Melihat potensi yang dimiliki P. Ararkula, disamping pengembangan perikanan, ke depan pulau ini dapat dikembangkan sebagai daerah tujuan wisata, yang diarah-kan pada wisata bahari. Hal ini patut untuk dilakukan mengingat keindahan bentang-an alam pantai dan pemandangan bawah laut yang dimiliki oleh P. Ararkula. Wisata bahari yang dapat dikembangkan di daerah ini adalah Scuba Diving/Snorkling. Hal ini harus dimulai dengan penggalaan promosi pariwisata Kepulau Aru secara besar-besaran agar diketahui baik oleh wisatawan domestik maupun asing. Penyebaran in-formasi ini penting mengingat salah satu kunci keberhasilan dunia pariwisata adalah promosi. Untuk menjelmakan P. Ararkula menjadi suatu daerah tujuan wisata maka keberadaan sarana dan prasarana penunjang, jelas harus dipenuhi. Sarana dan prasa-rana dimaksud mulai dari transportasi, akomodasi sampai kepada suplai peralatan Scuba Diving/Snorkling. Kendala Pengembangan MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 9
  10. 10.  BATUGOYANG Propinsi : MALUKU Kabupaten : KABUPATEN KEPULAUAN ARU Kecamatan : ARU SELATAN Koordinat : Gambaran Umum Pulau Batugoyang yang merupakan salah satu dari 8 pulau kecil terluar di Kabupaten Kepulauan Aru. Di pulau ini terdapat titik dasar (TD) no. TD.102. Pulau Batugoyang tidak berpenghuni dan oleh masyarakat setempat dinamai Dimel. Secara administratif, Pulau Batugoyang termasuk dalam wilayah Desa Batugoyang, Kecamatan Aru Selatan, Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Maluku. Sedangkan secara geografis P. Batugoyang terletak antara 07o 57’ 01” LS dan 134o 11’ 38” BT. Luas pulau ini mencapai 0,006503 km2 dengan keliling pulau 0,3295 km. Tidak ada transportasi umum atau reguler yang menghubungkan P. Batugoyang dengan ibukota Kabupaten MTB (Dobo), sehingga untuk mencapai P. Batugoyang harus mencarter speed boat dari Dobo. Untuk mencapai P. Batugoyang, perjalanan dimulai dari Dobo dengan menggunakan speed boat dalam waktu 4 jam 30 menit. Rutenya adalah dengan menyusuri pantai barat Kepulauan Aru. Pada waktu musim angin barat, waktu tempuh menjadi bertambah lama karena harus melewati selat antara P. Kobror dan P. Maekor hingga P. Baun kemudian menuju P. Batugoyang, atau antara P. Kobror dan P. Maekor kemudian mengikuti selat pada P. Maekor menuju P. Trangan hingga ke Gomarmeti atau Karey kemudian menuju P. Batugoyang dengan waktu tempuh antara 7 hingga 9 jam. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 10
  11. 11.  Sarana transportasi lain yang dapat digunakan adalah sarana penangkap ikan dan transportasi laut yang dimiliki masyarakat Desa Batugoyang berupa “Katinting”, namun waktunya tidak menentu karena tergantung kebutuhan masyarakat. Untuk mencapai Kecamatan Jerol dari Dobo dapat dipergunakan sarana transportasi speed boat yang membutuhkan waktu antara 1 jam 30 menit hingga 2 jam. Waktu tempuh yang dibutuhkan untuk mencapai P. Batugoyang dari Desa Batugoyang dengan meng-gunakan speed boat adalah antara 5 hingga 10 menit, sedangkan dengan menggunakan katinting dapat ditempuh dalam waktu antara 20 – 30 menit. Kependudukan, Sosial Budaya dan Kelembagaan Ekosistem dan Sumberdaya Hayati Potensi Sumberdaya Teresterial Keanekaragaman flora di lingkungan ekosistem P. Batugoyang relatif sangat kecil bahkan hampir tidak ada. Hal ini ditunjukkan dengan tidak adanya kawasan hutan alam yang memiliki tingkat heterogenitas tumbuhan dan satwa. Minimnya keanekaragaman flora dipengaruhi oleh karakteristik pulau dengan permukaan lahan yang hanya ditumbuhi rerumputan, bervegetasi seperti semak belukar, disebabkan oleh proses pembentukan tanah yang tidak berlangsung secara efektif. Potensi Sumberdaya Pesisir dan Laut Ikan Karang Ikan karang yang menempati areal terumbu P. Batugoyang mencapai 26 spesies yang tergolong dalam 16 genera dan 12 famili. Kekayaan spesies ikan karang ini tergolong rendah walaupun dimensi areal terumbu P. Batugoyang sangat kecil dibanding areal terumbu pada 7 pulau perbatasan lainnya, karena profil dasar perairan pulaunya yang langsung “drop off”. Famili ikan karang dengan variasi jenis yang tinggi di perairan karang P. Batugoyang adalah Chaetodontidae (6 jenis), sedangkan 11 famili lainnya memiliki jumlah spesies < 5, bahkan 4 famili diantaranya memiliki variasi jenis terendah yakni hanya memiliki satu spesies, keempat famili tersebut adalah Labridae, Haemulidae, Serranidae MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 11
  12. 12.  dan Zanclidae. Ikan karang dari genus Chaetodon dan Lutjanus memiliki variasi jenis tergolong tinggi di perairan karang ini, sedangkan genera lainnya memiliki jumlah spesies < 3, dimana 10 genera diantaranya hanya memiliki 1 spesies. Rendah-nya kekayaan jenis ikan karang famili Chaetodontidae yang juga termasuk kategori spesies indikator memberikan indikasi bahwa kualitas terumbu karang P. Batugoyang relatif kurang baik. Kepadatan ikan karang di areal terumbu P. Batugoyang termasuk tinggi bila dikaitkan dengan kon-disi terumbu karangnya. Kelompok ikan karang “Target species” memiliki kepadatan dan kelimpahan individu tertinggi dibandingkan dengan kelompok ikan karang “Major Categories Species” dan “Indicator Species”. Setidaknya terdapat empat jenis ikan karang di perairan P. Batugoyang yang termasuk kategori predominan di dalam komunitasnya. Jenis ikan Caesio teres sangat predominan dibanding tiga jenis ikan karang yang lain (Tabel 4). Sesuai kriteria pemanfaatannya sebagai ikan konsumsi, maka Caesio teres memiliki nilai sediaan cadang, MSY dan JTB lebih tinggi dari Caesio xanthonota dan Selaroides leptolepis. Terumbu karang P. Batugoyang menyimpan potensi jenis ikan hias laut yang kurang bernilai tinggi untuk industri akuarium. Selain itu, Gambar 6 memberi petunjuk bahwa perairan karang pulau kecil perbatasan ini menyimpan potensi jenis-jenis ikan konsumsi yang bernilai ekonomis tinggi seperti ekor kuning dan selar maupun ikan yang dikonsumsi masyarakat lokal (nelayan). Perikanan Tangkap Sebagai konsekuensi dari kehadiran berbagai potensi sumberdaya hayati laut, maka kawasan perairan Aru tenggara, termasuk perairan pesisir dan laut P. Batugoyang ramai dikunjungi kapal-kapal nelayan yang beroperasi di sekitarnya, di samping sebagai tempat berlabuh, bongkar muat dan transaksi jual beli hasil-hasil laut. Kapal-kapal perikanan tangkap tersebut ada yang berasal dari masyarakat lokal yang bermukim dekat dengan pulau ini, ada memiliki izin operasi dari Pemerintah maupun dari masyarakat lokal (adat yang memiliki hak ulayat) untuk beroperasi di perairan sekitar pulau ini. Armada perikanan tangkap itu ada yang berpangkalan di Dobo dan Benjina, Wanem (Papua), Ambon dan Kendari. Sumberdaya perikanan dan kelautan yang diman-faatkan secara intensif di perairan pesisir dan laut sekitar P. Batugoyang adalah ikan hiu, dengan tujuan meng ambil bagianbagian siripnya yang bernilai ekonomi tinggi. Alat tangkap yang digunakan dalam kegiatan MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 12
  13. 13.  pe nangkapan ikan hiu adalah pancing dan jaring yang dikonstruksi secara khusus untuk menangkap sumber-daya perikanan ini. Kegiatan penangkapan dilakukan oleh nelayan pendatang dengan peralatan yang semi-moderen, serta masyarakat lokal dari pulau-pulau sekitar dengan armada dan peralatan yang relatif sederhana. Perairan sekitar P. Batugoyang merupakan fishing ground dari sebagian armada trawl yang beroperasi di perairan Aru untuk menangkap ikan demersal dan udang windu. Sasaran penangkapan ikan demersal dengan trawl ini adalah berbagai jenis ikan kakap. Sementara udang windu yang umum tertangkap dengan trawl pada perairan sekitar P. Batugoyang ini adalah Penaeus monodon dan Penaeus merguensis. Masalah yang ditimbulkan operasi trawl ini yaitu terjadi kekeruh an air di pesisir P. Batugoyang, dan sumberdaya ikan yang bukan target dibuang ke laut sehingga menyebab kan pencemaran bau dan perairan. Potensi sumberdaya udang barong yang bernilai ekonomis tinggi ini sering dimanfaatkan oleh nelayan lokal, maupun nelayan pendatang yang berlabuh di perairan sekitar P. Batugoyang untuk dikonsumsi dan/atau dijual ke nelayan pengumpul. Selain itu, penangkapan sumberdaya ikan, termasuk ikan kerapu yang bernilai ekonomis tinggi dilakukan oleh masyarakat lokal di perairan P. Batugoyang dengan hanya menggunakan peralatan sederhana seperti pancing dan jaring insang. Kegiatan perikanan tangkap lain yang dilakukan, terutama oleh masyarakat lokal di perairan sekitar P. Batugoyang adalah menyelam untuk mengambill atau mengumpul biota laut yang ekonomis penting yaitu jenis-jenis teripang, kerang mutiara, siput lola, batu laga, dan udang barong. Kegiatan menyelam masyarakat lokal ini dilakukan pada musim barat yaitu antara bulan Nopember – Maret, dimana perairan sekitar P. Batugoyang dan Aru Tenggara umumnya relatif tenang. Sumberdaya Non Hayati Aktivitas Pengelolaan Sumberdaya Lingkungan Pulau Batugoyang merupakan pulau kecil dengan bentuk yang unik. Dimensi pulau ini sangat kecil yakni 0,65 Ha. Secara geomorfologi, P.Batugoyang tergolong sea stack yang terpotong dari batuan induknya di tanjung Batugoyang pulau Trangan. Pulau ini MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 13
  14. 14.  memiliki struktur batuan sedimen yang rentan terhadap pengaruh tenaga gelombang, angin dan arus. Gempuran gelombang musim, arus dan angin secara intensif telah menyebabkan erosi batuan disekeliling pulau ini. Rataan pasut pulau ini terbentuk dari hasil erosi permukaan batuan yang menyebabkan hilangnya sebagian dinding batuan membentuk lahan datar yang kering selama surut, dan terendam air selama pasang. Diduga bahwa pulau Batugoyang akan mengalami erosi secara intensif sejalan dengan bekerjanya tenaga geomorfik sepanjang musim dan merendahkan reliefnya. Secara umum substrat dasar di perairan sekitar Batugoyang didominasi oleh pasir. Pada perairan ini terdeteksi 6 zona dangkalan dengan kedalaman 3 – 9 m yang berada antara kontur kedalaman 10 – 20 m. Adanya akumulasi pasir atas dasar ini memiliki konstribusi utama terhadap resuspensi sedimen karena adanya gerakan arus vertikal yang mendistristribusi sedimen ke bagian permukaan laut. Iklim di gugusan Kepulauan Aru, termasuk P. Batugoyang sesuai klasifikasi Schmid dan Ferguson (1951) termasuk tipe iklim C dengan nilai Q = 0,19 dengan curah hujan tahunan bervariasi dari 2000 - 3000 mm. Jumlah hari hujan rata-rata adalah 105 hari, dan curah hujan tertinggi terjadi antara bulan Januari hingga Maret. Jumlah rata-rata bulan basah 9 bulan dan bulan kering 1,7 bulan. Keadaan iklimnya sangat dipengaruhi oleh Laut Arafura dan dibayangi oleh P. Irian bagian selatan serta bagian utara Australia. Musim Timur optimum berlangsung antara bulan Juni hingga Agustus. Musim Barat berlangsung antara bulan Desember hingga Pebruari. Sedangkan Musim peralihan atau pancaroba antara kedua musim utama itu terjadi pada bulan Maret - Mei dan September - November. Pasang surut (Pasut) di P. Batugoyang terjadi dua kali sehari (tipe harian ganda) mengikuti pola pasut di pulau lainnya di Aru. Jangkauan pasut mencapai 2–2.5 m. Arus yang terjadi di sekitar perairan P. Kultubai Selatan didominasi oleh arus pasut, dan juga oleh arus non pasut dari Laut Arafura. Kecepatan arus pasut pada kondisi perairan tenang cukup lemah dan berkisar dari 15 – 25 cm/detik tetapi saat air bergerak pasang kecepatan arus sangat tinggi yakni > 65 m/detik. Oleh karena kuatnya arus yang melintasi P. Batugoyang yang kedalaman perairannya < 15 m menyebabkan resuspensi sedimen sangat intensif di perairan ini dan membentuk sedimen plume. Sedimen plume terbentuk pada batas kontur kedalaman 10 m. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 14
  15. 15.  Gelombang di perairan P. Batugoyang merupakan gelombang angin (variasi sea dan swell), dimana angin sebagai pembangkit utama yang bervariasi secara musiman. Gelombang pecah di pantai P. Batugoyang yaitu “plunging”. Gelombang pecah tersebut sangat berperan terhadap pembentukan morfologi pantai di sisi timur, barat dan selatan pulau. Proses abrasi oleh gelombang dan arus menyebabkan pantai selatan - timur mengalami abrasi intensif. Perairan bagian utara pulau relatif tenang dari bagian lainnya. Kondisi ini dimanfaatkan oleh nelayan untuk berlindung, penambatan perahu dan kegiatan pemanfaatan sumberdaya perikanan. Suhu rata-rata di perairan sekitar P. Batugoyang pada bulan Desember berkisar antara 27,5, – 30,4 0C. Nilai rata-rata salinitas di lapisan permukaan perairan P. Batugoyang pada bulan yang sama sebesar 35 ppt. Kecerahan air memiliki tingkat kecerahan < 4,5 meter. Konsentrasi padatan tersuspensi di perairan sekitar P. Batugoyang berkisar antara 0,007 - 0,013 mg/600 ml/det. Tinggi rendahnya variasi nilai padatan tersuspensi disebabkan ada perbedaan laju konsentrasi materi tersuspensi dan jarak lokasi dengan sumber asal sedimen di perairan sekitar P. Batugoyang. Sumber utama partikel tersuspensi di perairan ini berasal dari aktivitas penang kapan udang dengan menggunakan jaring trowl. Kandungan oksigen terlarut di lapisan permukaan perairan P. Batugoyang, yang merupa kan salah satu pulau kecil perbatasan ini antara 6,6 – 6,9 ppm. Nilai pH rata-rata di perairan sekitar P. Batugoyang pada bulan Desember berkisar antara 8,02 - 8,41. Sedangkan nilai zat hara di perairan sekitar P. Batugoyang sangat bergantung pada input yang diperoleh dari lingkungan seki tarnya. Selain pasang surut, tampaknya faktor musim memberi kontribusi yang nyata terhadap be sarnya fluktuasi kandungan fosfat, nitrit dan nitrat. Kandungan fosfat rata-rata pada bulan Desember adalah 0,06 mg/ltr, nitrit (0,004 mg/ltr), sementara kadar nitrat adalah sebesar 1,05 mg/ltr. Kisaran nilai suhu, salinitas, kadar oksigen terlarut, pH, dan zat hara tersebut berada dalam batas normal dan layak untuk berbagai kepentingan pengembangan perikanan, terutama perikanan budidaya, terhadap komoditas tertentu (pilihan), wisata bahari, dan konservasi. Bahkan nilai-nilai kualitas perairan tersebut tergolong optimal bagi perikanan pelagis kecil maupun pelagis besar. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 15
  16. 16.  Sarana dan Prasarana Peluang Investasi Potensi dan Arahan Pengembangan Kendala Pengembangan MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 16
  17. 17.  ENU Propinsi : MALUKU Kabupaten : KABUPATEN KEPULAUAN ARU Kecamatan : ARU TENGAH Koordinat : Gambaran Umum Pulau Enu, merupakan salah satu dari 92 pulau terluar yang termasuk ke dalam kategori pulau-pulau perbatasan. Luas total pulau ini adalah 16,74 km2 dan keliling pulau sekitar 21,76 km. P. Enu tidak berpenghuni dan terdapat ttik dasar (TD) no. TD.101 dan titik referensi (TR) no. TR101B. Pulau Enu secara administratif berada di wilayah Kecamatan Aru Tengah, Kabupaten Kepulauan Aru, Provinsi Maluku. Pulau yang berada di perairan Laut Aru ini terletak pada posisi 07º 06’14“ LS dan 134º 11’ 38“ BT. Untuk mencapai P. Enu dan desa-desa di Kawasan Aru Tenggara, tidak ada sarana angkutan reguler dari Kota Dobo sehingga harus menggunakan Speedboat carteran dengan tarif Rp. 1.000.000,- per hari (tidak termasuk BBM). Waktu tempuh yang dibutuhkan untuk mencapai P. Enu dengan menggunakan Speedboat bermesin ganda (masing-masing 40 PK/HP) antara 7 – 8 jam. Akan tetapi, waktu kembali ke Kota Dobo harus menyinggahi desa-desa di Aru Tenggara untuk mengisi BBM, khususnya minyak tanah. Dengan demikian, kendala utama terkait dengan kelancaran operasional ke P. Enu adalah bahan bakar bagi sarana transportasi yang perlu untuk dicari solusinya agar tidak menghambat rencana dan upaya pengembangan pulau kecil terluar perbatasan ini. Di lain sisi, waktu tempuh ke P. Enu bisa lebih cepat atau lambat tergantung pada beberapa faktor seperti ukuran dan tipe Speedboat, jumlah muatan (termasuk penumpang dan BBM cadangan), kondisi pasang surut serta pengetahuan dan ketrampilan pengemudi MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 17
  18. 18.  tentang jalur pelayaran. Salah satu faktor yang sangat menentukan waktu tempuh adalah pengetahuan serta ketrampilan pengemudi tentang jalur pelayaran karena banyak serta luasnya bagian laut yang kering atau hampir kering pada saat air surut dan kanal yang tidak buntu. Kependudukan, Sosial Budaya dan Kelembagaan Dari 187 buah pulau yang terdapat di dalam wilayah administratif Kabupaten Kepulauan Aru, ternyata hanya sebanyak 26 buah pulau yang berpenghuni, dengan 119 desa dan 2 kelurahan serta total jumlah penduduk mencapai 65.128 jiwa. Kabupaten Kepulauan Aru terdiri dari 3 kecamatan yakni Kecamatan Aru dengan ibukota Dobo membawahi 2 kelurahan dan 43 desa dengan jumlah penduduk 27.695 jiwa, Kecamatan Aru Tengah dengan ibukota Benjina membawahi 45 desa dengan jumlah penduduk 23.285 jiwa, serta Kecamatan Aru Selatan dengan ibukota Jerol yang membawahi 31 desa dengan jumlah penduduk tercatat sebanyak 14.148 jiwa. P. Enu yang termasuk dalam wilayah administratif Kecamatan Aru Tengah ini, tidak berpenghuni. Akan tetapi pada musim-musim tertentu (tangkap), masya-rakat membuat rumah-rumah sementara (pondok) di pulau tersebut untuk kegiatan melaut. Selain itu, kapal-kapal nelayan (bermesin dalam), juga selalu menggunakan perairan pantai P. Enu sebagai tempat untuk berlabuh, melakukan kegiatan jual beli hasil tangkapan, mauupun bongkar muat. Namun sejak September 2004 yang lalu, P. Enu mulai dihuni oleh 3 orang petugas Navigasi untuk mengawasi Lampu Mercu Suar yang dibangun di pulau ini. Para petugas Navigasi tersebut dirotasi setiap 3 bu-lan, sehingga sepanjang tahun minimal terdapat 3 orang penghuni tetap di pulau ini. Tekanan terhadap sumberdaya laut di perairan P. Enu yang berasal dari masyarakat lokal umumnya datang dari masyarakat yang bermukim dekat dengan pulau ini, yaitu dari Desa Longgar, Apara, Bemun, Karey dan Desa Batu Goyang. Kadang-kadang datang juga penduduk dari Desa Mesiang dan desa Gomu-gomu, tergolong jarang karena jaraknya yang cukup jauh, sehingga mereka yang dapat berakses ke P. Enu umumnya memiliki ”Katinting”. Tekanan terhadap sumberdaya laut di perairan P. Enu yang berasal dari masyarakat lokal umumnya datang dari masyarakat yang bermukim dekat dengan pulau ini, yaitu dari Desa Longgar, Apara, Bemun, Karey dan Desa Batu Goyang. Kadang-kadang datang juga penduduk dari Desa Mesiang dan desa Gomu-gomu, tergolong jarang karena MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 18
  19. 19.  jaraknya yang cukup jauh, sehingga mereka yang dapat berakses ke P. Enu umumnya memiliki „Katinting“. Jumlah penduduk yang mendiami 5 desa yang selalu mengakses P. Enu tersebut tersaji di bawah ini. Masyarakat di Kabupaten Kepulauan Aru, umumnya bermukim di pesisir pantai. Hal ini disebabkan kawasan perairan laut di kepualauan ini kaya akan berbagai sumberdaya hayati laut yang bernilai ekonomis tinggi, seperti siput mutiara, teripang, ikan hiu, kerang lola dan “bia” mata tujuh. Dengan demikian ketergantungan hidup masyarakat lokal terhadap hasil laut sangat tinggi. Fakta menunjukan bahwa masyara-kat yang berdiam di sekitar P. Karang mempunyai mata pencaharian utama sebagai nelayan. Pekerjaan sebagai petani hanya merupakan pekerjaan sampingan, dan bah-kan kebun yang diusahakan berukuran kecil yakni sekitar 20 x 40 m. Aktivitas perikanan di kawasan Aru tenggara mencapai puncaknya pada musim barat, terutama untuk menyelam siput mutiara, teripang dan rumput laut. Sedangkan kegiatan penangkapan jenis-jenis ikan, cumi, udang menggunakan jaring insang (gill net), jala dan pancing. Hasil yang diperoleh dijual di dalam desa sendiri dan desa tetangga (karena ada pedagang pengumpul), serta kadang-kadang dibawa ke Kota Dobo bila ada transportasi. Sebelum ada larangan terhadap nelayan-nelayan Bali yang membeli penyu hijau, maka penyu hijau merupakan salah satu komoditi yang cukup diandalkan. Tetapi akibat eksploitasi yang berlebihan, maka sekarang ini populasi penyu hijau sekarang telah berkurang. Sebagai contoh pada tahun 1997 – 1998, dalam semalam penyu yang naik bertelur di pantai kering P. Karang dapat mencapai 90 individu. Tetapi informasi yang diperoleh saat kajian untuk penyusunan profil ini, ternyata dalam seminggu hanya 3 ekor penyu yang naik bertelur dan setelah bertelur tidak kembali lagi ke laut karena langsung dibantai untuk dikonsumsi. Suatu kajian ekonomi terhadap kawasan Cagar Alam Laut Aru Tenggara telah dilakukan oleh Far Far (2004) bersamaan dengan kajian untuk Pulau Enu. Pendekat-an yang digunakan adalah Valuasi Ekonomi terhadap enam komoditi perikanan utamanya, yaitu Ikan karang, Ikan hiu, Teripang, Kerang Mutiara, Siput lola, dan Penyu. Ternyata nilai ekonomi dari kawasan konservasi ini mencapai Rp. 25,1 milyar. Komoditi dengan nilai valuasi ekonomi tertinggi adalah ikan hiu yang mencapai Rp.19,4 milyar, sedangkan penyu hanya sekitar Rp. 112,5 juta. Daerah tangkap utama dari kedua komoditi ini adalah Pulau Enu, Pulau Kultubai Selatan selain Pulau Karang serta perairan pesisir dan lautnya. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 19
  20. 20.  Teripang dan kerang mutiara juga memiliki nilai valuasi ekonomi relatif tinggi, yaitu Rp. 2,7 milyar dan Rp. 2,5 milyar. Nilai valuasi ekonomi ini belum dapat dikatakan besar karena pendekatan yang digunakan adalah komoditi perikanan, sementara pendekatan ekosistem dan jasa jasa lingkungan dari P. Karang dan kawasan Cagar Alam Laut Aru Tenggara pada umumnya belum dihitung nilai valuasi ekonominya. Tetapi referensi yang telah dikemukakan memberi gambaran bahwa perairan pesisir dan laut kawasan ini, terma-suk P. Karang memiliki potensi perikanan dan kelautan yang besar sehingga menjadi tumpuan kehidupan ekonomi utama masyarakat lokal dan bahkan nelayan atau pengusaha di dalam provinsi/kabupaten maupun dari luar. Setiap kali menjelang musim Barat, sebelum para “Deba” (penyelam siput mutiara) melaksanakan kegiatannya, mereka melakukan sesajian yang dibawa ke laut dan ditaruh pada tempat-tempat tertentu dalam petuanan mereka untuk “memberi makan para leluhur”, sekaligus meminta rejeki bagi para penyelam. Hak kepemilikan mereka terhadap tanah dan “meti” (areal pasang surut) masih melakat kuat, sehingga bila ada masyarakat tetangga yang melewati hak kepemilikan mereka dapat menimbulkan perkelahian antar kampung. Sampai seka-rang hal ini masih terjadi, dimana beberapa waktu yang lalu terjadi perkelahian antara Desa Karey dan Apara, karena ada masyarakat dari Desa Apara yang mencari siput mata tujuh (Abalone) hingga memasuki petuanan Desa Karey bahkan membolakbalik batu-batu tempat siput itu melekatkan dirinya. Masyarakat Aru juga mengenal sistem pela, seperti antara Desa Karey, Salarem dengan Desa Sia dan Desa Batu Goyang dengan Beltubur, dan masih dipe-gang erat masyarakat. Hal ini terbukti saat survei di Desa Batu Goyang, dimana ham-pir terjadi perkelahian antar masyarakat, karena ada pencurian sirip hiu milik seorang nelayan. Setelah diusut ternyata seorang warga Desa Beltubur (sementara tinggal di Batu Goyang) yang mengambil sirip hiu itu. Warga tadi kemudian dipukul, kemudian diantar kembali ke desanya, sementara setiap kepala keluarga di Batu Goyang membawa satu sirip hiu untuk mengganti sirip-sirip hiu yang telah dicuri. Selain pela, masyarakat Aru masih menganut sistem sasi. Sasi juga mengatur waktu penangkapan, alat yang digunakan serta ukurannya. Sasi umumnya dilakukan terhadap siput mutiara, teripang dan lola di laut serta sagu, kelapa dan buah-buahan di darat. Pada waktu buka sasi, masyarakat berduyun-duyun mengambil hasil-hasil laut yang disasi, MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 20
  21. 21.  walaupun air surut berlangsung pada malam hari. Hal ini dijumpai di Desa Apara, ketika akan melakukan pertemuan di malam hari, masyarakat meminta agar dilakukan pada sore hari karena akan pergi “bameti”di malam hari. Kegiatan “Bameti” (istilah lokal) merupakan salah satu cara pemanfaatan sumberdaya hayati laut yang dilakukan oleh masyarakat lokal secara tradisional pada saat air surut. Disaat air surut, masyarakat mengumpulkan berbagai biota laut di daerah pasut hingga sub-pasut untuk dikonsumsi. Jenis-jenis biota laut yang dikum-pulkan yaitu siput dan kerang, teripang, ikan dan gurita. Kegiatan penangkapan tradi-sional ini bersifat destruktif, karena seringkali bagian habitat pasut dan sub-pasut dihancurkan untuk memperoleh biota yang dicari. Ekosistem dan Sumberdaya Hayati Sumberdaya Non Hayati Potensi Sumberdaya Teresterial Sebagian besar daratan P. Enu vegetasi mangrove (58,53%) dan sisanya sebanyak 41,47% ditutupi oleh semak belukar. Hutan mangrove mendominasi bagian tengah pulau, sementara semak belukar hampir mengelilingi seluruh areal hutan mangrove. Jenis-jenis vegetasi pantai yang terdapat di pulau ini antara lain kangkung laut (Ipomea pescapre), Kasuari (Casuarina sp.), Ketapang (Terminalia catapa), Bintanggor (Canophyllum inophyllum), berbagai jenis mangrove dan lain-lain. Substrat dasar lahan P. Enu terdiri dari tanah berpasir hingga berlumpur. Berkaitan dengan sebaran vegetasi menurut tanah lahan, maka bagian lahan berpesisir didominasi oleh jenis-jenis vegetasi kasuari, ketapang dan pandan, sedangkan bagian tengah didominasi oleh jenis-jenis Semarah dan Madawal (nama lokal). Kerapatan total vegetasi pulau kecil terluar ini mencapai 0,964 tegakan/m2 atau sekitar 9.640 tegakan/ha. Kerapatan vegetasi untuk kategori pohon sebesar 0,265 tegakan/m2 (2653 tegakan/ha), semntara untuk kategori sapihan adalah 0,145 tegakan/m2 (1.453 tegakan/ha) dan untuk kategori anakan mencapai 0,553 tegakan/m2 atau mencapai 5.533 tegakan/ha. Jenis vegetasi yang memiliki diameter pohon rata-rata terkecil adalah Madawal dan terbesar adalah Kasuari. Sedangkan jenis yang memiliki diameter sapihan rata-rata terkecil adalah Jir dan terbesar adalah Kayu Susu. Data vegetasi teresterial memberikan indikasi MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 21
  22. 22.  bahwa bila ada gangguan yang cukup berarti terhadap ekosistem teresterial, dibutuhkan waktu yang relatif lama untuk pemulihan karena jumlah tegakan dari kategori sapihan hanya 54,77% dari jumlah tegakan untuk kategori pohon walaupun jumlah tegakan untuk kategori anakan jauh lebih besar dari tegakan untuk kategori pohon dan sapihan. Selain itu jenis-jenis vegetasi yang dominan itu, dijumpai beberapa jenis tumbuhan khas pesisir dan pulau-pulau kecil lainnya pohon kayu besi, pohon kayu nani, pohon mangga dan lain-lain. Karena tumbuhan mangga yang dapat tumbuh di pulau ini, maka beberapa jenis tanaman buah-buahan lainnya seperti pohon sukun dan kedondong dapat tumbuh dan berkemang di P. Enu. Selain kekayaan floranya, lingkungan teresterial P. Enu memiliki beberapa jenis fauna. Jenis fauna dimaksud adalah beberapa jenis burung (termasuk burung laut), serta salah satu reptilia yang termasuk kategori dilindungi yaitu biayak endemik Maluku (Varanus indicus). Potensi Sumberdaya Pesisir dan Laut Hutan Mangrove P. Enu memiliki 7 spesies mangrove yang tergolong dalam 6 genera dan 5 famili yang tumbuh dan berkembang pada substrat dasar pasir berlumpur. Tumbuhan mangrove dari famili Rhizophoraceae memiliki variasi jenis lebih banyak dibanding 4 famili lain nya yang masing-masing hanya diwakili oleh satu jenis tumbuhan mangrove. Genus Rhizopora memiliki dua spesies yang tumbuh di P. Enu. Dimana luas daerah mangrove pada P. Enu ini adalah 914 Ha. Jenis vegetasi mangrove yang tergolong dominan di P. Enu adalah Bruguiera gymnorrhiza untuk kategori pohon dan sapihan, serta Sonneratia alba untuk kategori anakan. Kerapatan total tumbuhan mangrove adalah 0,9760 tegakan/m2 atau mencapai 9.760 tegakan/ha, dimana kerapatan untuk kategori pohon 0,1285 tegakan/m2 atau 1.285 tegakan/ha. Sementara nilai kerapatan untuk kategori sapihan hanya sebesar 0,0650 tegakan/m2 atau 650 tegakan/ha dan kerapatan untuk kategori anakan tergolong menonjol yaitu bisa mencapai 0,7825 tegakan/m2 atau sekitar 7.825 tegakan/ha. Diameter rata-rata tumbuhan mangrove untuk kategori pohon tergolong kecil, tetapi masih ditemukan pohon mangrove berukuran besar yaitu mencapai 63,0 cm yaitu jenis Sonneratia alba. Selain itu, jenis mangrove yang memiliki diameter pohon terkecil adalah Aegiceras corniculatum. Untuk kategori sapihan, jenis mangrove yang memiliki diameter MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 22
  23. 23.  terkecil yaitu Rhizophora stylosa dan jenis mangrove dengan diameter terbesar adalah Sonneratia alba. Data yang telah diuraikan memberi indikasi bahwa bila terjadi gangguan yang cukup berarti terhadap ekosistem mangrove maka dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk pemulihannya karena jumlah tegakan untuk kategori sapihan hanya sekitar 50% dari jumlah tegakan untuk kategori pohon, walaupun jumlah tegakan untuk kategori anakan jauh lebih besar dari tegakan untuk kategori pohon dan sapihan. Faktor lain yang juga akan memberikan kontribusi terhadap lambatnya pemulihan yaitu ukuran pulau yang kecil dan mudah rapuh bila mengalami tekanan, disertai struktur substrat dasar yang belum mencapai kematangan akibat secara geologis P. Enu masih dalam perkembangan. Akan tetapi sesuai data yang tersedia menunjukkan bahwa pemulihan jenis mangrove Bruguiera gymnorrhiza agak cepat karena jumlah tegakan untuk kategori sapihan mencapai 76% dari jumlah tegakan untuk kategori pohon. Karena jumlah tegakan untuk kategori anakan yang besar, maka dapat dikatakan bahwa komunitas mangrove di P. Enu memiliki kecenderungan untuk berkembang bila dikelola secara baik, dan tidak mengalami tekanan antropogenik. Padang Lamun Perairan pesisir P. Enu memiliki 4 jenis dari 12 jenis lamun yang tercatat di kawasan Kepulauan Aru Tenggara. Keempat jenis lamun itu tergolong dalam 4 genera dan 2 famili. Keempat jenis lamun itu adalah Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, dan Halophila ovalis dari famili Hydrocharitaceae, serta Halodule uninervis yang termasuk dalam famili Cymodoceaceae. Kekayaan jenis lamun ini tergolong rendah karena hanya mencapai 33,3% dari total 12 jenis lamun yang terdapat di kawasan perairan Aru Tenggara. Jenis yang mendominasi areal perairan P. Enu ini adalah Thalassia hemprichii, dengan substrat dasar areal padang lamun yang didominasi oleh pasir. Persen penutupan rata-rata lamun secara keseluruhan di areal padang lamun P. Enu tergolong besar. Jenis lamun Thalassia hemprichii memiliki persen penutupan substrat dasar tertinggi sementara yang terendah terwakili oleh jenis Halodule uninervis. Kerapatan total lamun di perairan pesisir P. Enu tergolong cukup tinggi. Jenis lamun Thalassia hemprichii memiliki kerapatan tertinggi dan jenis lamun dengan kerapatan yang rendah adalah Halodule uninervis. Ternyata secara linear, kedua jenis lamun tersebut memiliki nilai persen penutupan substrat dasar tertinggi dan terendah. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 23
  24. 24.  Secara keseluruhan, dapat dikatakan bahwa kerapatan dan persen penutupan lamun di perairan pesisir P. Enu tergolong tinggi, walaupun masih terdapat ruang di dasar perairan yang kosong dan ditempati oleh komponen pasir. Ruang dasar perairan yang kosong ini sebagian besar menunjukkan kondisi alamiah, tetapi juga ditemu-kan bekas areal makan dari dugong. Terumbu Karang Secara umum, komponen biotik mendominasi substrat dasar dari terumbu karang P. Enu dibanding komponen abiotiknya. Fakta ini menunjukkan bahwa terumbu karang dari pulau kecil perbatsan ini masih baik dengan variasi dan dominansi komponen biotik yang terdapat pada areal terumbunya. Bila diamati secara terpisah, maka untuk komponen biotik, ternyata karang batu memiliki persen tutupan substrat dasar lebih tinggi dari biota laut lain (moluska, ekhinodermata, algae, spons dan lain-lain). Karang batu kategori Acropora memiliki persen tutupan dasar terumbu lebih tinggi dibanding karang batu dari kategori NonAcropora. Sementara untuk komponen abiotik, ternyata batu karang dan pasir memiliki persen tutupan substrat dasar terumbu lebih tinggi dibanding komponen pasir dan patahan karang mati. Kategori bentuk pertumbuhan bentik yang dijumpai di terumbu karang P. Enu hanya sebanyak 20 kategori (kurang lebih 69%) dari total 29 kategori bentuk pertumbuhan bentik yang biasanya ditemukan di ekosis-tem terumbu karang. Ini me-nunjukkan terumbu karang P. Enu masih dalam proses per-kembangan menuju suatu sistem terumbu alami. Kondisi terumbu ka-rang P. Enu tergolong kurang baik dengan persen tutupan dasar terumbu oleh karang ba-tu yang hanya mencapai 43,92%. Karang batu Acropora dari bantuk tumbuh sub-masif dan Acropora „digitate“ memiliki persen tutupan substrat dasar lebih tinggi dari Acropora bercabang serta bentuk tumbuh dari Acropora „encrusting“. Karang batu Non Acropora dengan nilai persen penutupan substrat dasar yang tinggi adalah karang Heliopora. Karang batu Non Acropora dengan nilai persen tutupan substrat dasar terumbu yang rendah di P. Enu adalah karang bercabnag (CB), karang encrusting (CE) dan karang sub masif (CS). Rendahnya persen penutupan karang batu-batu Acropora bercabang (ACB), serta rendahnya persen penutupan karang bercabang (CB) menunjukan telah terjadinya kerusakan pada ekosistem terumbu karang P. Enu. Kerusakan tersebut bukan terjadi secara MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 24
  25. 25.  alamiah, tetapi disebabkan oleh kegiatan manusia (nelayan) yang melabuhkan perahuperahu bermotor yang digunakan untuk pemanfaatan sumberdaya perikanan dan lautan, serta operasi alat penangkapan gill net di sekitar pulau kecil terluar ini. Terumbu karang P. Enu memiliki 60 spesies karang batu yang termasuk dalam 20 genera dan 11 famili. Variasi jenis karang ini tergolong tinggi dihubungkan dengan sebaran areal terumbu karang yang relatif terbatas, serta kondisi perairan di musim barat yamg umumnya keruh akibat aksi gelombang yang menaikan partikel halus substrat dasar perairan sekitar terumbu karang sehingga menjadi pembatas bagi sebagfian karang polip kecil yang sangat peka terhadap tekanan sedimentasi. Famili karang batu dengan kelimpahan jenis yang tinggi adalah Acroporidae (24 spesies), Faviidae (15 spesies), dan Poritidae (7 spesies). Karang batu Acropora branching (bercabang) memilikijumlah jenis lebih banyak dibanding jumalah jenis karang dari bentuk tumbuh koloni Acropora yang lain. Sementara karang batu non-Acropora dengan kelimpahan jenis terbanyak adalah karang masif (MC) yaitu sebanyak 18 jenis dan karang bercabang (CB) sebanyak 6 jenis. tu dari bentuk tumbuh Acropora yang memiliki variasi jenis tergolong rendah di perairan P. Enu adalah Acropora ebcrusting (ACE). Acropora digitate, dan Acropora submasif (ACS)., dimana masing-masing hanya memilki satu spesies karang. Walaupun tidak tercatat persen penutupan karang batu Acropora tabulate, tetapi bentuk tumbah karang batu ini memiliki tiga jenis karang diperairan pesisir P. Enu, yaitu Acropora clatharata, A. cytherea, dan A. hyacintus. Karang batu famili Fungiidae biasanya memilki variasi jenis cukup menonjol pada arel terumbu karang yang mulai atau telah mengalami degradasi. Pada arel terumbu P. Enu hanya ditemukan dua jenis karang dari famili Fungiidae tersebut, yaitu Fungia (Veriilofungia) concina dan Fungia (Fungia) fungites. Melalui pendekatan biologis, kenyataan ini memberikan suatu indikasi bahwa terumbu karang P. Enu belum mengalami tekanan berarti yang dapat menyebabkan penurunan kualitasnya. Ikan Karang Ikan karang yang menempati areal terumbu P. Enu mencapai 68 spesies yang tergolong dalam 40 genera dan 19 famili. Kekayaan spesies ikan karang ini tergolong relatif rendah dengan dimensi areal terumbu P. Enu yang cukup luas dibanding areal terumbu lainnya dalam kawasan Cagar Alam Laut Aru Tenggara. Famili ikan karang MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 25
  26. 26.  dengan variasi jenis yang tinggi di perairan karang P. Enu adalah Pomacentridae (16 jenis), Chaetodontidae (9 jenis), Lutjanidae (5 jenis) dan Labridae (5 jenis). Selain itu, famili ikan karang dengan variasi jenis terendah atau hanya memiliki satu spesies adalah Blenidae, Haemulidae, Pomacanthidae, Siganidae, Synodontidae dan Zanclidae. Ikan karang dari genus Chaetodon, Lutjanus dan Pomacentrus memiliki variasi jenis tergolong tinggi di perairan karang ini. Tingginya kekayaan jenis ikan karang famili Chatodontidae yang juga termasuk kategori spesies indikator memberikan indikasi bahwa kualitas terumbu karang P. Enu relatif masih baik. Didasari pengelompokannya untuk tujuan monitoring, maka kekayaan jenis ikan karang kategori Major Categories Species perairan karang P. Enu lebih tinggi dibanding kategori Target Species dan Indicator Species. Sementara berdasarkan kriteria pemanfaatannya, ternyata kekayaan jenis ikan hias relatif lebih tinggi dibanding ikan konsumsi. Data yang disajikan pada Tabel 8 memperlihatkan bahwa kepadatan ikan karang di areal terumbu P. Enu termasuk tinggi bila dikaitkan dengan kondisi terumbu karangnya. Sesuai kategori monitoring, ternyata kelompok ikan karang “Target species” memiliki kepadatan dan kelimpahan individu tertinggi dibandingkan dengan kelompok ikan karang “Major Categories Species” dan “Indicator Species. Berdasarkan kriteria pemanfaatannya, maka ikan karang yang termasuk kelompok Ikan Konsumsi memiliki kepadatan dan kelimpahan individu tertinggi dibanding Ikan Hias. Hasil estimasi menunjukan ikan karang kategori Target Species dan kriteria pemanfaatan sebagai ikan konsumsi memiliki biomassa (berat basah) cukup tinggi per Ha di terumbu karang P. Enu ini. Nilai sediaan cadang (Standing Stock), perkiraan pemanfaatan secara lestari (MSY) dan perkiraan pemanfaatan secara berkelanjutan (JTB) dari sumberdaya ikan karang di perairan karang P. Enu termasuk besar dihubungkan dengan dimensi dan kondisi terumbu karang sebagai habitat hidupnya. Hasil-hasil analisis secara terpisah memperlihatkan nilai sediaan cadang dan MSY dari ikan karang kelompok Target species jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Indicator spesies dan Major categories species. Sementara sediaan cadang dan MSY dari sumberdaya ikan karang yang termasuk kriteria pemanfaatan sebagai ikan konsumsi lebih tinggi dari kelompok ikan hias. Tingginya nilai sediaan cadang dari Terget Species dan Ikan Konsumsi tersebut disebabkan oleh kehadiran jenis ikan Caesio teres dengan kelimpahan individu yang besar atau sebagai jenis ikan karang yang predominan. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 26
  27. 27.  Setidaknya terdapat empat jenis ikan karang di perairan P. Enu yang termasuk kategori predominan di dalam komunitasnya. Jenis ikan Caesio teres sangat predominan dibanding tiga jenis ikan karang yang lain. Sesuai kriteria pemanfaatannya sebagai ikan konsumsi, maka Caesio teres memiliki nilai sediaan cadang, MSY dan JTB lebih tinggi dari Cromis weberi. Sementara untuk kriteria monitoring, jenis ikan Caesio teres (ekor kuning) sebagai Target Species adalah jenis ikan yang predominan dengan kepadatan individu, sediaan cadang, kelimpahan stok, nilai MSY dan JTB yang sangat menonjol dibanding dua jenis ikan predominan lainnya yaitu Ctenochaetus strigosus yang termasuk Major Categories Species dan Chaetodon kleini sebagai ikan yang termasuk dalam kategori Indicator Species. Bila keempat jenis ikan yang tergolong predominan itu dikelompokan menurut tujuan pemanfaatan, maka ikan hias memiliki kepadatan individu dan sediaan cadang lebih rendah dari ikan konsumsi. Perikanan Tangkap Sebagai konsekuensi dari kehadiran berbagai potensi sumberdaya hayati laut, maka kawasan perairan Aru Tenggara, termasuk perairan pesisir dan laut P. Enu ramai dikunjungi kapal-kapal nelayan yang beroperasi di sekitarnya, di samping sebagai tempat ber-labuh, bongkar muat dan tran-saksi jual beli hasil-hasil laut. Kapal-kapal perikanan tangkap tersebut ada yang berasal dari masyarakat lokal yang bermukim dekat dengan pulau ini, ada memiliki ijin operasi dari Pemerintah maupun dari masyarakat lokal (adat yang memiliki hak ulayat) untuk beroperasi di perairan sekitar pulau ini. Armada perikanan tangkap itu ada yang berpangkalan di Dobo dan Benjina, Wanem (Papua), Ambon dan Kendari. Bahkan ada armada perikanan tangkap yang tidak memiliki ijin operasi di perairan ini yang umumnya berasal dari Benoa - Bali. Sumberdaya perikanan dan kelautan yang dimanfaatkan secara intensif di perairan pesisir dan laut sekitar Pulau Enu adalah ikan hiu, dengan tujuan mengambil bagian-bagian siripnya yang bernilai ekonomi tinggi. Alat tangkap yang digunakan dalam kegiatan penangkapan ikan hiu adalah pancing dan jaring yang dikonstruksi secara khusus untuk me-nangkap sumberdaya perikanan ini. Ke-giatan penangkapan dilakukan oleh nela-yan pendatang dengan peralatan yang semimoderen, serta masyarakat lokal dari pulau-pulau sekitar dengan armada dan peralatan yang relatif sederhana. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 27
  28. 28.  Perairan sekitar P. Enu merupakan fishing ground dari sebagian armada trawl yang beroperasi di perairan Aru untuk menangkap ikan demersal dan udang windu. Sasaran penangkapan ikan demersal dengan trawl ini adalah berbagai jenis ikan kakap. Sementara udang windu yang umum tertangkap dengan trawl pada perairan sekitar P. Enu ini adalah Penaeus monodon dan Penaeus merguensis. Masalah yang ditimbulkan operasi trawl ini yaitu terjadi kekeruhan air di pesisir P. Enu, dan sumberdaya ikan yang bukan target dibuang ke laut sehingga menyebabkan pencemaran bau dan perairan. Potensi sumberdaya udang barong yang bernilai ekonomis tinggi ini sering dimanfaatkan oleh nelayan lokal, maupun nelayan pendatang yang berlabuh di perairan sekitar P. Enu untuk dikonsumsi dan/atau dijual ke nelayan pengumpul. Selain itu, penangkapan sumberdaya ikan, termasuk ikan kerapu yang bernilai ekonomis tinggi dilakukan oleh masyarakat lokal di perairan P. Enu dengan hanya menggunakan peralatan sederhana seperti pancing dan jaring insang. Kegiatan perikanan tangkap lain yang dilakukan, terutama oleh masyarakat lokal di perairan sekitar P. Enu menyelam untuk mengambill atau mengumpul biota laut yang ekonomis penting yaitu jenis-jenis teripang, kerang mutiara, siput lola, batu laga, dan udang barong. Kegiatan menyelam masyarakat lokal ini dilakukan pada musim barat yaitu antara bulan November – Maret, dimana perairan sekitar P. Enu dan Aru Tenggara umumnya relatif tenang. Salah satu kegiatan pemanfaatan (penangkapan) sumberdaya laut yang tergolong ilegal dan masih berlangsung di P. Enu ini adalah penangkapan penyu. Kegiatan penangkapan dilakukan dengan cara menunggu penyu naik ke pulau untuk bertelur, serta menggunakan jaring insang yang dirancang khusus untuk menangkap penyu. Penangkapan penyu dengan cara tersebut dilakukan oleh nelayan-nelayan dari luar maupun masyarakat lokal yang bekerjasama dengan nelayan pengumpul untuk kemudian dibawa dan diperdagangkan di Bali. Selain penangkapan untuk tujuan perdagangan, nelayan dari luar maupun masyarakat nelayan lokal yang menangkap hiu atau menyelam di P. Enu dan berlabuh atau tinggal selama waktu tangkap, juga memburu penyu yang naik bertelur di pesisir pulau untuk dikonsumsi. Bahkan telur-telur penyu yang telah diletakan disarangnya, ikut dimanfaatkan oleh nelayan-nelayan tersebut untuk dikonsumsi. Tiap hari sekitar 5 – 17 kapal motor penangkap ikan menyinggahi P. Enu yang menjadikan penyu dan telur penyu sebagai makanan tambahan mereka, dimana konsumsi telur rata-rata mencapai 200 – 300 MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 28
  29. 29.  butir/kapal. Kegiatan penangkapan ilegal lainnya yang mesih dilakukan oleh masyarakat lokal di perairan pesisir P. Enu, serta kawasan Cagar Alam Laut Aru Tenggara adalah memburu dugong untuk dikonsumsi dan diambil taringnya. Nelayan lokal yang memanfaatkan sumberdaya perikanan pada musim menyelam, penangkapan hiu, penangkapan ikan dan penyu di P. Enu ini umumnya berasal dari 6 Desa sekitar kawasan Cagar Alam Laut Aru Tenggara, yairu Longgar, Apara, Batu Goyang, Karey, Bemun dan Desa Gomu Gomu. Daerah peruntukan perikanan tangkap dari tiap desa dalam pemanfaatan sumberdaya perikanan di sekeliling pesisir dan laut P. Enu tersebar tidak merata, atau tidap berpola. Tampak-nya hal ini berkaitan erat dengan areal sebaran komoditi perikanan yang menjadi tujuan penangkapan. Fakta menunjukan telah terjadi tekanan pemanfaatan sumberdaya hayati laut pada perairan sekitar P. Enu, baik dengan peralatan dan teknologi moderan oleh perusahaan besar maupun peralatan, serta teknologi standar dan tradisional oleh nelayan lokal. Dilain pihak, P. Enu termasuk kawasan Cagar Alam Laut Aru Tenggara. Untuk mengatasi masalah yang kontradiktif itu, maka diusulkan dua strategi dan program penting yaitu : (1). Membatasi atau menghentikan pemberian izin penang-kapan di sekitar P. Enu bagi perusahaan besar yang disertai dengan peningkatan pe-ngawasan, dan (2). Meningkatkan kapasitas dan kualitas nelayan lokal untuk meman-faatkan sumberdaya ikan (pelagis kecil dan besar) di luar P. Enu dan Cagar Alam Laut Aru Tenggara. Makro Bentos Salah satu kelompok organisme terpenting dan hidup pada ekosistem intertidal adalah makrobentos yaitu seluruh organisme makro yang hidup di dasar perairan dimana organisme ini melekatkan diri atau beristirahat sementara pada dasar perairan. Komunitas makrobentos memiliki peranan penting dalam bidang ekologi, yaitu sebagai komponen yang dapat menunjang kehidupan organisme serta mengontrol organisme lain dalam sistem aliran energi atau rantai makanan suatu ekosistem, selain peranan pada bidang ekologis juga dapat dimanfaatkan manusia untuk dipasarkan dan dikonsumsi. Perairan pesisir (daerah intertidal) P. Enu dan laut sekitarnya menyimpan sejumlah potensi sumberdaya makro bentos yang dapat dikembangkan sebagai komoditi perikanan dan kelautan potensial. Sumberdaya makro bentos dimaksud antara lain moluska (siput dan kerang) dan ekinodermata (teripang). Jenis-jenis makrobentos yang ditemukan pada lokasi perairan Pulau Enu adalah dari kelompok moluska dan Holothuridea yang secara MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 29
  30. 30.  keseluruhan berjumlah 52 jenis dan diantaranya terdapat 17 spesies yang memiliki nilai ekonomis penting. Aktivitas Pengelolaan Sumberdaya Lingkungan P. Enu memiliki topografi yang datar-landai tanpa adanya bukit dan gunung. Di pulau kecil ini tidak terdapat sistem sungai. Pantai di P. Enu bertipe landai, terutama di bagian Barat dan Selatan pulau, serta tidak terdapat kanal (kalorang istilah masyarakat sekitarnya). Dengan demikian karakteristik P. Enu relatif berbeda dengan pulau-pulau yang letaknya dekat dengan pulau-pulau besar yang memiliki banyak kanal sebagai alur pelayaran masyarakat setempat. Sebaran komponen penyusun substrat dasar zona pantai kering hingga zona pasang surut tergolong variatif. Zona pantai kering di bagian Barat, Timur, Selatan, dan beberapa bagian tertentu di bagian Utara P. Enu adalah berpasir kasar, serta pasir kasar bercampur patahan karang. Zona pantai kering dengan kondisi substrat dasar pada bagian-bagian pulau tersebut sangat ideal sebagai tempat bertelur atau peletakan telur (Nesting Area) dari penyu, khususnya penyu hijau. Di antara zona pantai kering yang berpasir itu, terdapat areal dengan substrat dasar yang tersusun oleh batuan pasir dan batu cadas. Sementara sebagian besar areal pantai kering di bagian utara pulau memiliki substrat dasar yang terdiri dari pasir halus menyerupai lumpur dan berlumpur. Sebagian zona pasang surut (Pasut) ke arah pantai kering P. Enu umumnya bersubstrat lunak, yaitu tersusun dari komponen pasir kasar hingga pasir halus. Sementara bagian pertengahan zona pasut hingga berbatasan dengan zona subpasut memiliki substrat keras yang tersusun oleh komponen batuan koral yang dominan. Iklim di gugusan Kepulauan Aru, termasuk P. Enu sesuai klasifikasi Schmid dan Ferguson (1951) termasuk tipe iklim C dengan nilai Q = 0,19 dengan curah hujan tahunan bervariasi dari 2000 - 3000 mm. Jumlah hari hujan rata-rata adalah 105 hari dan curah hujan tertinggi terjadi antara bulan Januari hingga Maret. Jumlah rata-rata bulan basah 9 bulan dan bulan kering 1,7 bulan. Hujan biasanya terjadi pada musim Barat, tetapi pada musim Timur juga sering turun hujan yakni pada bulan Mei dan Agustus. Kadang-kadang terjadi pergeseran musim, baik musim Timur maupun musim Barat. Nilai curah hujan rata-rata berkisar antara 2.000 MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 30
  31. 31.  – 3000 mm/tahun dengan jumlah hari hujan rata-rata adalah 105 hari. Nilai curah hujan tertinggi terjadi antara bulan Januari hingga Maret. Pasang surut (Pasut) di P. Enu terjadi dua kali sehari (Tipe Harian Ganda). Jangkauan pasang surut mencapai 1-2 m dengan MSL sekitar 11,5 m. Arus yang terjadi di sekitar P. Enu didominasi oleh arus pasut, kecuali di antara P. Enu dan P. Karang serta antara P. Enu dan P. Trangan yang sedikit dipengaruhi oleh arus laut Arafura. Kecepatan arus bervariasi antar bagian dari P. Enu ini dengan kisaran antara 7,8 – 30,4 cm/detik saat surut dan 8,5 – 52,7 cm/detik. Kecepatan arus terbesar ditemukan di bagian timur arah utara, barat dan selatan dari pulau, sehingga terdeteksi adanya fenomena gerakan melingkar masa air (Eddys) pada daerah tanjung dari ketiga bagian P. Enu tersebut. Gelombang di seluruh wilayah pesisir dan laut P. Enu merupakan tipe gelombang angin (Variasi Sea dan Swell), dimana angin sebagai pembangkit utama yang umumnya bervariasi sesuai musim. Sesuai letaknya maka bagian utara pulau umumnya relatif tenang ketika bertiup angin timur, angin barat maupun angin barat daya, dibandingkan dengan posisi pulau bagian barat, timur dan selatan. Pulau bagian barat relatif tenang bila bertiup angin timur dan sebaliknya bagian timur pulau relatif tenang bila bertiup angin barat. Kondisi ini dimanfaatkan oleh nelayan untuk berlindung dan kegiatan pemanfaatan sumberdaya perikanan di sekitar P. Enu dapat dilakukan sepanjang musim. Terdapat 3 tipe gelombang pecah di pantai P. Enu yaitu “spilling”, “plunging” dan “surgin”. Dominasi gelombang pecah berbeda-beda di tiap bagian pulau ini. Di pantai bagian barat, timur dan selatan pulau didominasi oleh gelombang pecah tipe plunging dan surgin, tetapi pada bagian-bagian pulau yang relatif dangkal lebih didominasi oleh gelombang pecah tipe spilling. Kualitas Air Suhu di seluruh perairan pesisir dan laut sekitar P. Enu bervariasi secara musiman. Suhu terendah terjadi di musim timur yaitu berkisar antara 24,5 -25,60C, dan tertinggi dalam musim barat yaitu 27,8 – 300C. Sepanjang musim, suhu permukaan berkisar antara 26,2 – 300C. Nilai rata-rata salinitas di lapisan permukaan perairan P. Enu pada musim barat berkisar antara 34,0 – 35 ppt, sementara di musim timur mencapai 31,2 – 34,8 ppt. Kecerahan air bervariasi antar bagian pulau, dimana pada bagian barat, timur dan selatan pulau memiliki tingkat kecerahan air yang tinggi > 6 m. Sebagian perairan di utara pulau juga cerah, tetapi pada bagian perairan yang didominasi vegetasi bakau biasanya MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 31
  32. 32.  agak keruh pada saat terjadi arus pasang surut dan gelombang dengan tingkat kecerahan ≤ 10 - 15 m. Hal ini disebabkan sedimen dasar perairan yang halus terangkat ke kolom air sehingga perairan relatif keruh. Kandungan oksigen terlarut di lapisan permukaan perairan pulau kecil perbatasan ini antara 5,23 – 7,35 ppm. Pada perairan dangkal sekitar komunitas lamun dan mangrove di bagian utara pulau, tercatat kandungan oksigen terlarut berkisar antara 5,1 – 6,4 ppm. Nilai pH di perairan sekitar P. Enu bervariasi menurut lokasi dengan perbedaan yang relatif kecil. Pada bagian timur, barat dan selatan dari pulau, nilai pH dari kolom air permukaan berkisar antara 8,15 – 8,61. Sementara di bagian utara dari pulau, nilai pH berkisar antara 7,9 – 8,58. Fluktuasi nilai hara di perairan P. Enu sangat bergantung pada input yang diperoleh dari lingkungan sekitarnya. Selain pasang surut, tampaknya faktor musim memberi kontribusi yang nyata terhadap besarnya fluktuasi kandungan fosfat, nitrit dan nitrat. Perairan bagian barat, timur dan selatan memilki kandungan fosfat antara 0,09 – 0,52 mg/ltr, nitrit berkisar antara 0,001 – 0,005 mg/ltr, sementara kadar nitrat di perairan bagian utara antara 0,9 – 1,30 mg/ltr. Kisaran nilai suhu, salinitas, kadar oksigen terlarut, pH, dan zat hara tersebut berada dalam batas normal dan layak untuk berbagai kepentingan pengembangan perikanan, terutama perikanan budidaya, terhadap komoditas tertentu (pilihan), wisata bahari, dan konservasi. Bahkan nilai-nilai kualitas perairan tersebut tergolong optimal bagi perikanan pelagis kecil maupun pelagis besar. Sarana dan Prasarana Peluang Investasi Potensi dan Arahan Pengembangan Perikanan Budidaya Perikanan budidaya menduduki posisi penting dalam menunjang ketahanan pangan, menciptakan lapangan kerja dan pendukung pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Pengembangan perikanan saat ini menjadi sangan urgent karena ada kecen-derungan terjadi peningkatan permintaan ikan konsumsi oleh masyarakat. Di sam-ping itu, perikanan MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 32
  33. 33.  budidaya juga dapat menjadi solusi bagi permasalahan-permasa-lahan yang mungkin ditimbulkan akibat peningkatan intensitas perikanan tangkap. Berdasarkan parameter kualitas air untuk peruntukkan kegiatan perikanan dan hasil pengumpulan data lapangan terhadap organisme-organisme perikanan yang bernilai komersil dan dapat dikembangkan melalui kegiatan budidaya, maka dapat dikatakan bahwa perairan pesisir P. Enu memiliki potensi untuk dikembangkannya kegiatan budidaya perikanan. Potensi budidaya perikanan yang dapat dikembangkan di perairan pesisir P. Enu antara lain budidaya Ikan Kerapu, Ikan Beronang, Rumput Laut, Kepiting Bakau dan Teripang. Namun ada satu hal yang menjadi kendala pengembangan kegiatan perikanan budidaya pada P. Enu, sebagaimana dialami juga oleh pulau-pulau terluar lainnya di Kepulauan Aru ini. Kondisi laut pada Musim Timur yang mengalami gelombang yang cukup besar sehingga tidak memungkinkan untuk dilakukannya kegiatan budi-daya. Tetapi kondisi akan berbeda di Musim Barat karena kondisi perairan menjadi tenang dan tidak berombak sehingga memungkinkan untuk dilakukan pengembangan budidaya perikanan. Pengembangan kegiatan perikanan budidaya pada Musim Barat ini menjadi sangat penting sehingga dapat mengurangi tekanan eksploitasi sumber-daya hayati laut oleh masyarakat. Dengan demikian dapat mereduksi kerusakan ekosistem yang ditimbulkan di P. Enu dan sekitarnya yang termasuk kawasan Cagar Alam Laut Aru Tenggara. Pengembangan kegiatan budidaya perikanan ini hendaknya didahului dengan sejumlah program penguatan kapasitas sumberdaya manusia, dalam hal ini pening-katan pengetahuan dan ketrampilan masyarakat menjadi utama. Hal ini dilakukan dengan tujuan memprakondisikan masyarakat nelayan tradisional sehingga program ini dapat dijalankan dengan sukses. Setelah itu, baru diikuti dengan pemberian paket-paket bantuan berupa fasilitas budidaya laut, disamping tetap mengadakan kegiatan pendampingan. Salah satu upaya pengembangan pengelolaan sumberdaya pesisir secara berkelanutan adalah dengan menerapkan konsep konservasi yang memberikan perlin-dungan bagi sumberdaya pesisir dimaksud. Sumberdaya pesisir ini salah satunya harus memenuhi persyaratan kelangkaan, berperan penting dalam ekosistem, tetapi juga memiliki daya tarik tersendiri bagi pengembangan kawasan ekowisata. Setidaknya terdapat empat jenis organisme yang dilindungi (terdiri dari tiga jenis mamalia laut dan satu jenis reptilia) yang ditemukan pada perairan pesisir dan laut sekitar P. Enu, yang dapat dilindungi. Mamalia laut yang dimaksud adalah Lumba-Lumba, MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 33
  34. 34.  Dugong (Duyung) dan Paus. Lumba-Lumba sering terlihat berenang pada perairan laut P. Enu yang agak dalam sebagai jalur migrasinya untuk berbagai tujuan hidup, terutama untuk mencari makan. Jenis Lumba-Lumba yang dimaksud adalah Pseudorca crassidens, dan Globicephalla macrorhynchus. Sementara jenis dugong yaitu Dugong dugon sering hadir pada perairan pesisir P. Enu berkaitan dengan tujuan memanfaatkan jenis-jenis lamun sebagai sumber makanannya. Pengamatan di lapangan menunjukkan adanya bekas-bekas jalur makan dari dugong. Sementara itu, secara temporal jenis paus yaitu Physeter catodon (Sperm Whale) sering juga terlihat melintasi perairan pesisir dan laut sekitar P. Enu yang relatif dalam. Di lain pihak, hasil-hasil penelitian memberikan informasi bahwa sebanyak 4 jenis penyu yang menggunakan pantai kering P. Enu untuk bertelur atau perairan pesisir sebagai tempat mencari makan. Jenis-jenis penyu itu adalah penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu sisik semu (Lepidochelys olivacea) dan penyu pipih (Natator depressa). Hampir seluruh areal pantai kering P. Enu merupa-kan tempat bertelur yang ideal bagi penyu-penyu tersebut. Ironisnya, hasil penelitian la-pangan menunjukkan bahwa hampir di sepanjang pantai P. Enu ditemukan bangkai-bang-kai penyu yang berserakan. Hasil wawancara dan penga-matan langsung di lapangan, ternyata bahwa banyak anggota masyarakat yang bermu-kim di dekat P. Enu, yang karena ketidaktahuan dan tuntutan ekonominya membuat mereka memburu dan membantai reptilia ini. Perilaku menyimpang masyarakat ini kemudian semakin mewabah karena muncul pihak-pihak ketiga yang siap membeli dengan harga yang mahal daging penyu yang berhasil ditangkap oleh masyarakat. Kenyataan-kenyataan di atas ini semakin mengukuhkan pentingnya dilakukan pengembangan dan pengelolaan kegiatan konservasi di P. Enu. Namun hal tersebut harus dimulai dengan kegiatan penyadaran masyarakat melalui pendekatan dengan tokoh-tokoh masyarakat, meningkatkan intensitas penyuluhan-penyuluhan perikanan dan kelautan serta sejumlah kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan-pelatihan di bidang perikanan tangkap dan perikanan budidaya. Kemudian perlu juga dilakukan sosialisasi peraturan-peraturan perikanan, penguatan kapasitas kelembagaan dan peningkatan kapabilitas fungsi pengawasan terhadap berbagai pelanggaran yang terjadi. Seperti telah dikemukakan, bahwa pantai kering P. Enu merupakan tempat yang sangat disenangi oleh penyu untuk bertelur, maka peristiwa ini merupakan sesuatu yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai tempat wisata ilmiah. Peristiwa ini merupakan MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 34
  35. 35.  peristiwa yang langka dan akan menjadi daya tarik tersendir baik bagi masyarakat umum, ilmuan maupun pencinta alam lain Kendala Pengembangan MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 35
  36. 36.  KARANG Propinsi : MALUKU Kabupaten : KABUPATEN KEPULAUAN ARU Kecamatan : ARU SELATAN Koordinat : Gambaran Umum Pulau Karang yang merupakan salah satu dari 8 pulau kecil terluar di Kabupaten Kepulauan Aru. Berdasarkan perhitungan menggunakan data citra satelit, luas Pulau Karang mencapai 1,419 km2 dengan keliling pulau adalah 4,381 km, sedangkan total luas rataan pasang surut adalah 15,49 km², dengan rataan pasang surut berpasir 3,38 km². Di pulau ini terdapat titik dasar (TD) no. TD.100A dan TD.100B dan titik referensi (TR) no. TR.100 dan TR100B. Pulau Karang termasuk dalam wilayah Kecamatan Aru Selatan, Kabupaten Kepulauan Aru dan berada dibawah pengawasan dua desa terdekat dengan pulau ini yaitu Desa Longgar dan Desa Apara. Pulau Karang merupakan pulau kecil yang terletak di bagian timur laut pulau Enu. Luas daratanya 3,827 km², dengan bentuk pulau agak bulat. Secara geografis Pulau Karang terletak antara 07o 01’ 08” LS – 134o 41’ 26” BT. Pulau Karang dapat dicapai dari Dobo dengan menggunakan speed boat atau sarana transportasi dan penangkap ikan yang dimiliki masyarakat yaitu “katinting”. Pada saat musim timur maupun musim barat perjalanan menuju pulau ini tidak menyusuri pantai barat P. Trangan (karena jaraknya yang cukup jauh) tetapi melewati selat antara P. Kobror dan P. Maekor hingga P. Baun kemudian menuju P. Karang, atau antara P. Kobror dan P. Maekor kemudian mengikuti selat menuju P. Trangan hingga ke Gomarmeti atau Karey kemudian menuju P. Karang dengan waktu tempuh antara 6 hingga 7 jam. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 36
  37. 37.  Kependudukan, Sosial Budaya dan Kelembagaan Ekosistem dan Sumberdaya Hayati Potensi Sumberdaya Teresterial Jenis-jenis vegetasi yang teridentifikasi mangrove (65,04%) dan sisanya sebanyak 34,96% ditutupi oleh semak belukar dan tumbuhan jangka panjang. Hutan mangrove mendominasi bagian tengah pulau, sementara semak belukar hampir mengelilingi seluruh areal hutan mangrove. Jenis-jenis vegetasi pantai yang terdapat di pulau ini antara lain kangkung laut (Ipomea pescapre), Kasuari (Casuarina sp), berbagai jenis mangrove dan lain-lain. Substrat dasar lahan P. Karang terdiri dari tanah berpasir hingga berlumpur. Berkaitan dengan sebaran vegetasi menurut tanah lahan, maka bagian lahan pesisir didominasi oleh jenis-jenis vegetasi kasuari, dan pandan. Jenis vegetasi lainnya adalah Kayu Mata Ikan, Kayu Sesel Pantai, Kayu Kakoya dan terbesar adalah Kayu Kasuari Data vegetasi teresterial memberikan indikasi bahwa bila ada gangguan yang cukup berarti terhadap ekosistem teresterial, dibutuhkan waktu yang relatif lama untuk pemulihan. Untuk kategori pohon, pemulihan jenis Kayu Besi akan berlangsung lama karena jumlah-nya lebih sedikit dan memiliki pertumbuhan yang lama. Selain itu jenis-jenis vegetasi yang dominan itu, dijumpai beberapa jenis tumbuhan khas pesisir dan pulau-pulau kecil lainnya diantaranya pohon kayu besi, pohon kayu nani, pohon kelapa dan lain-lain. Didasarkan pada jumlah pohon vegetasi untuk kategori pohon yang demikian besar, dapat dikatakan komunitas teresterial P. Karang ini memiliki kecenderungan untuk berkembang bila dikelola secara baik. Kondisi flora yang terdapat di lingkungan ekosistem daratan maupun pesisir diduga mem-pengaruhi keanekaragaman jenis fauna di kawasan ekosistem tersebut. Lingkungan teresterial P. Karang memiliki beberapa jenis fauna. Jenis fauna dimaksud adalah beberapa jenis fauna liar dari kelompok burung (termasuk burung laut), serta salah satu reptilia yang termasuk kategori dilindungi yaitu biawak endemik Maluku (Varanus indicus) dan Penyu Hijau. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 37
  38. 38.  Potensi Sumberdaya Pesisir dan Laut Hutan Mangrove Ekosistem mangrove pada daerah ini terutama pada zona-zona awal dijumpai jenis mangrove dari famili Rhizophoraceae yang tumbuh dan berkembang dengan baik pada substrat berlumpur. Luas daerah mangrove pada pulau ini adalah 1,419 km2. Jenis-jenis mangrove dari famili Rhizophoraceae mendominasi mangrove P. Karang. Jumlah spesies mangrove yang teridentifikasi sebanyak 9 spesies. Famili Rhizophoraceae biasanya memiliki variasi jenis yang lebih dibanding-kan dengan famili lainnya, pada P. Karang ada 5 spesies dari famili Rhizophoraceae. Mangrove dari jenis Rhyzophora apiculata unggul dalam jumlah individu untuk katagori pohon dengan nilai kerapatan pohon sebesar 5.603 ind/100 m2 Sedangkan jenis R. mucronata nilai kerapatan sebesar 3,16 ind/100 m2 Katagori sapihan mangrove jenis Ceriops tagal memiliki nilai kerapatan sebesar 8,7 ind/25 m2. Untuk katagori anakan, jumlah individu terbanyak diwakili oleh mangrove jenis C. tagal, dengan nilai kerapat-an 9 ind/ m2. Dari hasil survey dapat dikemukakan bahwa dari 9 spesies mangrove pada P. Karang sebagaimana telah dikemukakan, kerapatan total vegeta-si mangrove adalah sebesar 1,0927 tegakan/m2 atau mencapai 10927 tegakan/Ha dimana kerapatan untuk katagori pohon 0,0970 tegakan/m2 atau 970 tegakan/Ha, sapihan 0,3495 tegakan/m2 atau 3495 tegakan/Ha dan kerapatan untuk katagori anakan adalah 0,7462 tegakan/m2 atau sekitar 7462 tegakan/Ha. Diameter rata-rata untuk katagori pohon adalah 28,2 cm dan lebih didominasi oleh mangrove jenis Bruguiera dan Rhyzophora namun ada jenis mangrove yang mempunyai diameter yang cukup besar yaitu mangrove jenis Avicennia marina yang mencapai 47,5 cm. Data yang telah diuraikan memberikan indikasi bahwa mangrove di P. Karang memiliki perkembangan yang baik dalam proses regenerasi terutama mangrove dari famili Rhizophoraceae, perkembangan ini juga ditunjang oleh kondisi substrat yang berlumpur yang merupakan habitat utama mangrove. Tidak ada peman-faatan mangrove pada Pulau ini, hal ini turut menunjang perkembangan mangrove Pulau Karang. Lamun Ekosistem lamun menempati areal yang cukup luas di lingkungan perairan P. Karang dan memiliki penyebaran yang sangat luas yang hampir mengelilingi P. Karang MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 38
  39. 39.  dengan ketebalan yang cukup baik dengan adanya terumbu karang sehingga menghambat gerakan-gerakan ombak menuju pantai. Di pulau ini terdapat 3 jenis lamun pada stasiun pengamatan di P. Karang. Dari ke tiga jenis lamun yang ada, spesies Siringodium isoetifilium memiliki kehadiran tertinggi pada setiap kuadran penga-matan dan kehadiran terendah diwakili oleh spesies Enhallus acoroides. Kerapatan lamun di Pulau Karang berdasarkan hasil pengamatan ditemukan sebesar 76 tegakan/m2, dimana kerapatan tertinggi ditemukan pada jenis Syringodium isoetifilium sebesar 49.78 tegakan/m2 dengan persen penutupan relatif sebesar 37.26%; sedangkan kerapatan terendah diwakili oleh jenis Enhallus acoroides yaitu 1.69 ind/m2 dengan persen penutupan relatif 28.52% Terumbu Karang Berdasarkan pengukuran di lapangan yang diverifikasi dengan hasil analisis data citra satelit ternyata panjang terumbu karang pada perairan pesisir P. Karang mencapai 19,04 km dengan lebar terumbu rata-rata sekitar 665 m. Areal terumbu karang pada bagian barat hingga barat daya tergolong lebar dibanding bagian utara dan timur dari P. Karang. Secara umum, komponen biotik mendominasi substrat dasar dari terumbu karang P. Karang dibanding komponen abiotiknya. Fakta ini menunjukan terumbu karang pada pulau kecil perbatasan ini masih baik dengan variasi dan dominansi kom-ponen biotik yang terdapat pada areal terumbunya. Persen tutupan komponen biotik lebih tinggi pada areal terumbu bagian utara dibanding bagian barat pulau. Bila komponen biotik diamati terpisah, maka karang batu memiliki persen tutupan substrat dasar lebih tinggi dari biota laut lain (moluska, ekhinodermata, algae, spons dan lain-lain). Karang batu kategori Acropora memiliki persen tutupan dasar terumbu lebih tinggi dibanding karang batu dari kategori Non-Acropora. Sementara untuk komponen abiotik, ternyata patahan karang mati (rubbles) memiliki persen tutupan substrat dasar terumbu lebih tinggi dibanding komponen pasir dan karang mati di areal terumbu bagian barat. Sementara untuk areal terumbu bagian utara dari P. Karang ini, ternyata karang mati merupakan komponen abiotik yang menonjol nilai persen tutupan substrat dasarnya. Kategori bentuk pertumbuhan bentik yang dijumpai di terumbu karang P. Karang hanya sebanyak 11 kategori (± 38%) dari total 29 kategori bentuk pertumbuhan bentik MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 39
  40. 40.  yang biasanya ditemukan di ekosistem terumbu karang. Ini menunjukan terumbu karang P. Karang masih dalam proses perkembangan menuju suatu sistem terumbu alami. Kondisi terumbu P. Karang bagian utara tergolong baik, sementara di bagian barat pulau termasuk kategori kurang baik sesuai nilai persen tutupan substrat dasar terumbu oleh karang batu. Karang Acropora dari bentuk tumbuh berca-bang Acropora “digitate” (Gambar. 6 dan Gambar. 7) memiliki persen tutupan subsubstrat dasar lebih tinggi dari Acropora “tabulate” serta bentuk tumbuh dari Acropora “submasif” di perairan pesisir bagian barat. Sementara di perairan pesisir utara pulau ini, ternyata Acropora bercabang dan Acropora “tabulate” memiliki nilai persen tutupan substrat dasar lebih tinggi dari 2 bentuk tumbuh karang Acropora yang lain. Karang batu Non-Acropora di perairan pesisir barat P. Karang tidak bervariasi dengan persen tutupan yang rendah. Sementara di bagian utara pulau kecil ini, ternyata karang batu Non- Acropora dengan nilai persen tutupan yang tinggi adalah karang masif dan submasif. Karang batu Non-Acropora dengan nilai persen tutupan substrat dasar terumbu yang rendah dibagian utara pulau adalah karang bercabang (CB). Terumbu karang pada perairan pesisir P. Karang ini memiliki 65 spesies karang batu yang termasuk dalam 22 genera dan 12 famili. Variasi jenis karang ini tergolong tinggi dihubungkan dengan sebaran dan luas areal terumbu yang relatif terbatas, serta kondisi perairan dimusim barat yang umumnya keruh akibat aksi gelombang yang menaikan partikel halus substrat dasar perairan sekitar terumbu karang sehingga menjadi pembatas bagi kehadiran sejumlah jenis karang polip kecil yang umumnya peka terhadap tekanan sedimentasi. Famili karang batu dengan kelimpahan jenis yang tinggi adalah Acroporidae (20 spesies), Faviidae (17 spesies), dan Poritidae (6 spesies). Karang batu Acropora “branching” (bercabang) memilki jumlah jenis lebih banyak dibanding jumlah jenis karang dari bentuk tumbuh Acropora yang lain. Sementara karang batu Non-Acropora yang memiliki kelimpahan jenis terbanyak adalah karang masif (CM) yaitu sebanyak 17 jenis dan karang bercabang (CB) sebanyak 7 jenis. Karang batu dari bentuk tumbuh Acropora yang memiliki variasi jenis tergolong rendah di perairan Pulau Karang adalah Acropora encrusting (ACE) dan Acropora submasif (ACS), dimana masing-masing hanya memiliki satu spesies karang. Pada areal terumbu Pulau Karang tidak terdapat nilai tutupan karang batu dari bentuk tumbuh Soliter. Akan tetapi diperairan pesisir pulau kecil perbatasan ini ditemukan MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 40
  41. 41.  6 spesies karang batu famili Fungiidae yaitu Fungia (Verillofungia) concina, Fungia (Fungia) fungites, Fungia repanda, Fungie echinata, Herplitha limax, dan Polyphyllia talpina. Kenyataan ini terkait erat dengan metode pengamatan, dimana jenis-jenis karang baru dari bentuk tumbuh soliter tersebut tidak dipotong oleh garis transek. Ikan Karang Ikan karang yang menempati areal terumbu P. Karang mencapai 77 spesies yang tergolong dalam 47 genera dan 22 famili. Kekayaan spesies ikan karang ini tergolong sangat tinggi dengan dimensi areal terumbu P. Karang yang tidak terlalu luas dibanding areal terumbu lainnya dalam kawasan Cagar Alam Laut Aru Tenggara. Famili ikan karang dengan variasi jenis yang tinggi di perairan karang P. Karang adalah Pomacentridae (13 jenis), Chaetodontidae (10 jenis), Labridae (9 jenis), Serranidae (5 jenis), Lutjanidae (5 jenis) dan Acanthuridae (5 jenis). Selain itu, sebanyak 16 famili ikan karang memiliki jumlah spesies < 5, bahkan 4 famili diantaranya hanya memiliki satu spesies yakni Balistidae, Mullidae, Synodontidae dan Zanclidae. Ikan karang dari genus Chaetodon, Lutjanus, Pomacentrus dan Abudefduf memiliki variasi jenis tergolong tinggi di perairan karang ini. Selain itu sebanyak 43 genera lainnya memiliki jumlah spesies < 3, bahkan 29 diantaranya hanya memiliki 1 spesies. Tingginya kekayaan jenis ikan karang famili Chaetodontidae yang juga termasuk kategori spesies indikator memberikan indikasi bahwa kualitas terumbu karang P. Karang relatif masih baik. Didasari pengelompokannya untuk tujuan monitoring, maka kekayaan jenis ikan karang kategori Major Categories Species perairan karang P. Karang lebih tinggi dibanding kategori Target Species dan Indicator Species. Sementara berdasarkan kriteria pemanfaatannya, ternyata kekayaan jenis ikan konsumsi lebih tinggi dibanding ikan hias. Kepadatan ikan karang di areal terumbu P. Karang termasuk tinggi bila dikaitkan dengan kondisi terumbu karangnya. Sesuai kategori monitoring, ternyata ikan karang ’’target species’’ memiliki kepadatan dan kelimpahan individu tertinggi dibandingkan dengan kelompok ikan karang “Major Categories Species” dan “Indicator Species. Berdasarkan kriteria pemanfaatannya, maka ikan karang yang termasuk kelompok Ikan Hias memiliki kepadatan dan kelimpahan individu lebih rendah dibanding Ikan Konsumsi. Kelimpahan stok (stock abundance) sumberdaya ikan di perairan terumbu karang P. Karang, juga tergolong tinggi. Ikan karang dari kriteria pemanfaatan sebagai ikan konsumsi memiliki nilai kelimpagan stok, MSY dan JTB lebih tinggi dibanding kelompok MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 41
  42. 42.  ikan karang dari kategori Target Species karena ikan konsumsi merupakan gabungan dari kelompok ikan Major Categories Species dan Target Species. Gambaran nilai sediaan cadang serta kelimpahan stok ikan karang tersebut menunjukan bahwa perairan karang sekitar P. Karang sebagai pulau kecil terluar atau perbatasan ini menyimpan potensi sumberdaya ikan karang yang besar. Setidaknya terdapat empat jenis ikan karang di perairan P. Karang yang termasuk kategori predominan di dalam komunitasnya. Jenis ikan Caesio teres sangat predominan dibanding tiga jenis ikan karang yang lain. Sesuai kriteria pemanfaatannya sebagai ikan konsumsi, maka Caesio teres memiliki nilai sediaan cadang, MSY dan JTB jauh lebih tinggi dari Abudefduf vaigiensis dan Chaetodon kleini yang merupakan spesies dengan jumlah individu tertinggi untuk ikan hias. Sementara untuk kriteria monitoring, jenis ikan Caesio teres (ekor kuning) sebagai Target Species adalah jenis ikan yang predominan dengan kepadatan individu, sediaan cadang, kelimpahan stok, nilai MSY dan JTB yang sangat menonjol dibanding dua jenis ikan predominan lainnya yaitu Abudefduf vaigiensis yang termasuk Major Categories Species dan Chaetodon kleinii sebagai ikan yang termasuk dalam kategori Indicator Species. Bila keempat jenis ikan yang tergolong predominan itu dikelompokan menurut tujuan pemanfaatan, maka ikan konsumsi memiliki kepadatan individu dan sediaan cadang jauh lebih tinggi dari ikan hias. Perikanan Tangkap Perairan sekitar P. Karang lebih sering dimanfaatkan oleh nelayan dari Desa Apara sebagai daerah pe-nangkapan. Walaupun demikian, nelayan lokal dari desa-desa sekitarnya juga memanfaatkan perairan ini sebagai daerah penangkapan. Selain itu, di perairan ini juga beroperasi kapal-kapal penangkap udang penaeid dengan mengguna-kan pukat udang (shrimp trawl)) karena perairan ini baik sebagai daerah penangkapan-nya. Nelayan lokal dari Desa Apara dan desa-desa di sekitarnya menangkap ikan di perairan Pulau Karang dengan menggunakan pancing tangan (hand line) untuk menangkap ikan pelagis kecil, ikan demersal dan ikan karang. Rawai hanyut (drift long line) juga digunakan terutama untuk menangkap ikan hiu (Carcharhinus spp) supaya diambil siripnya, tapi kadangkala ikan tenggiri (Scomberomorus sp) juga ikut tertangkap. Alat tangkap bubu (trap net) dioperasikan oleh mereka dengan menempatkannya di antara karang pada perairan pesisir P. Karang untuk menangkap ikan demersal dan ikan ka-rang. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 42

×