Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Musni Umar: Aktualisasi Nilai Nilai Pembauran untuk Kebersamaan dan Persatuan

672 views

Published on

Pembauran dalam bidang sosial, ekonomi dan lain sebagainya merupakan keniscayaan karena menurut Ibnu Khaldun, manusia menurut tabiat dan fitrahnya memerlukan masyarakat. Bermasyarakat adalah sarana mewujudkan kebersamaan dan persatuan.

Published in: Education
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Musni Umar: Aktualisasi Nilai Nilai Pembauran untuk Kebersamaan dan Persatuan

  1. 1. Aktualisasi Nilai-nilai Pembauran untuk Mewujudkan Kebersamaan dan Persatuan Oleh Musni Umar Sociologist and Researcher Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Hubungan Antar Lembaga Universitas Ibnu Chaldun (UIC) Jakarta
  2. 2. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk (plural) dari aspek suku (etnis) dan agama. Selain itu, bangsa Indonesia majemuk pula dilihat dari aspek struktur sosial seperti dalam aspek sosial keagamaan, kita kenal dengan istilah priyayi, santri dan abangan.
  3. 3. Begitu pula ditinjau dari aspek sosial ekonomi, dikenal dengan istilah wong elit, wong gedhe dan wong cilik. Ada pula istilah high class, middle class, lower class dan lower-lower class. Itu semua menunjukkan bahwa bangsa Indonesia memiliki banyak perbedaan (pluralitas).
  4. 4. Masing-masing golongan mempunyai budaya tersendiri, yang berbeda antara satu dengan yang lain. Priyayi mempunyai budaya tersendiri, begitu pula santri, dan abangan. Juga masyarakat yang tergolong high class, middle class dan lower class.
  5. 5. Para pendiri negara kita (founding fathers) sangat memahami struktur bangsa Indonesia yang heterogen (majemuk), sehingga di dalam lambang negara kita Garuda Pancasila ditulis dibawahnya “Bhinneka Tunggal Ika” (Berbeda-beda tetapi tetap satu/ Unity in diversity). Motto “Bhinneka Tunggal Ika” mudah diucapkan, tetapi sulit diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari karena kita dipisahkan dengan berbagai perbedaan. Perbedaan yang kita bawa sejak lahir seperti suku/etnis. Tidak seorangpun diantara kita yang bisa menentukan atau dapat merubah mau jadi suka/etnis tertentu, apakah Jawa, Betawi, Sunda dan sebagainya.
  6. 6. Suku sudah given (pemberian) dari Tuhan kepada setiap orang. Begitu juga kita majemuk dalam bidang agama. Agama merupakan hidayat Tuhan yang paling tinggi yang diberikan kepada setiap orang. Maka, bangsa Indonesia yang memegang sila Ketuhanan Yang Maha Esa, wajib mengamalkan ajaran agamanya masing-masing. Perbedaan suku/etnis dan agama jangan menjadi penghalang untuk berkomunikasi, dan bersama dalam membangun kehidupan sosial, ekonomi serta persatuan dan kesatuan.
  7. 7. Cara Aktualisasi Pembauran Ibnu Khaldun, sosiolog terkemuka di dunia Islam dan dikenal luas di Barat, dalam bukunya yang berjudul “Mukaddimah” menegaskan “Al insaanu madaniyun bitthab’i (manusia sudah merupakan tabiatnya hidup bermasyarakat). Oleh karena sudah menjadi tabiat manusia hidup bermasyarakat, maka di dalam bermasyarakat, jangan dibatasi karena perbedaan suku/etnis dan bahkan perbedaan agama, apalagi perbedaan struktur sosial keagamaan dan struktur sosial ekonomi.
  8. 8. Perbedaan agama tidak menjadi sosial untuk bekerjasama dalam segala hal misalnya untuk memajukan pendidikan, kesehatan masyarakat dan lain sebagainya sangat dianjurkan untuk bersama dan bekerjama membangun demi kemajuan, kesejahteraan dan kemakmuran rakyat, bangsa dan negara, kecuali dalam masalah akidah (kepercayaan). Tidak boleh dengan alasan kebersamaan, pluralisme, toleransi, persatuan dan kesatuan, pada hari minggu bersama-sama ke gereja, begitu pula kalau hari Jum’at, bersama-sama (bareng) ke masjid.
  9. 9. Demikian juga dalam bidang ekonomi, tidak boleh ada rintangan untuk bersama dan bekerjasama untuk membangun kemajuan ekonomi, kesejahteraan, keadilan dan kemakmuran rakyat, bangsa dan negara. Juga dalam bidang pertahanan keamanan, seluruh warga negara tanpa membedakan suku/etnis, agama, dan golongan dalam struktur sosial dan ekonomi, wajib berpartispasi membangun persatuan untuk mewujudkan pertahanan keamanan.
  10. 10. Tuntunan Pancasila dan Agama Seluruh sila-sila dari Pancasila, mendorong warga negara Indonesia untuk hidup bersama dan harmoni. Pertama, mengamalkan Ketuhanan Yang Maha Esa, yaitu setiap warga negara Indonesia wajib menjalankan agama masing-masing sebagai wujud dari kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kedua, mengamalkan kemanusiaan yang adil dan beradab. Setiap manusia Indonesia sepatutnya memiliki sifat-sifat mulia dengan mengamalkan nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab.
  11. 11. Ketiga, mewujudkan persatuan Indonesia. Setiap warga negara Indonesia dari suku/etnis manapun dan agama apapun yang dianut, wajib menjaga, merawat dan membangun persatuan Indonesia. Keempat, setiap warga negara Indonesia dan seluruh lembaga negara yaitu eksekutif, legislatif dan yudikatif, wajib mengamalkan nilai-nilai kerakyatan, karena rakyat sejatinya adalah pemilik kedaulatan (kekuasaan).
  12. 12. Kelima, keadilan sosial merupakan persoalan yang sangat minus pengamalannya. Oleh karena itu, pemerintah wajib mewujudkan dan menegakkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Selain itu, agama memandu manusia dan orang-orang yang bertaqwa supaya mengamalkan prinsip-prinsip dasar yang terdapat dalam kitab suci.
  13. 13. Sebagai contoh, di dalam Alqur’an, Allah menegaskan dengan firmanNya: Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian- Nya kepadamu, Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kamu kembali semuanya, lalu diberitahukan- Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu (QS al-Maidah: 48).
  14. 14. Pada surat yang lain, Allah menegaskan dengan firmanNya: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal (QS al-Hujurat: 13).
  15. 15. Nurcholish Madjid (2000:159) membahasan firman Allah tersebut dengan berkata “tidak ada masyarakat yang betul-betul tunggal (unity),” dan andaipun ada, Al-Qur’an mensinyalir bahwa, ketunggalan yang tampak di permukaan seringkali menyembunyikan “hati yang terpecah-belah”, seperti juga diterangkan dalam Qs. Al-Hasyr ayat 14 sebagai berikut: Dari lima sila Pancasila dan kutipan firman Allah dalam Alqur’an yang dikemukakan diatas, dapat disimpulkan bahwa berbaur dan bekerja sama dengan sesama merupakan sunnatullah.
  16. 16. Maka setiap warga negara tanpa membedakan suku/etnis, agama, status sosial dan ekonomi, merupakan keniscayaan untuk berbaur dan bekerjasama sesuai kedudukan masing-masing. Hanya dengan berbaur, dapat diwujudkan kerjasama. Melalui kerjasama, akan kemajuan, persatuan dan kesatuan. • Makalah singkat ini merupakan pokok-pokok sebagai bahan dialog dalam program Kesbangpol Jakarta Selatan, 15/9/2014, di Hotel Naratas, Cisarua, Puncak, Jawa Barat.

×