ISSN : 0216-7743, Vol. VII No. 1 Maret 2011.      PENGARUH INFLASI, SUKU BUNGA DAN KURS TERHADAP INDEKS HARGA             ...
Jika suku bunga ini lebih tinggi daripada return yang diarapkan maka investor akanmemilih deposito sebagai pilihan investa...
Berdasarkan uraian tersebut maka peneliti tertarik untuk menelaah lebih lanjut mengenai  bagaimana pengaruh inflasi, suku ...
6. Intepretasi hasil model regresi berganda.Dalam regresi linear berganda, prinsip-prinsip yang mendasarinya tidaklah berb...
regresi yang baik adalah distribusi data normal atau mendekati normal. Berdasarkan sampel data(n = 72), keadaan tersebut d...
Tabel 2. Nilai Varians Inflation Factor (VIF)                       Collinearity Statistics Model                 Toleranc...
Dependent Variable: IHSG                                     2  Regression Studentized Residual                           ...
X1 : InflasiX2 : Tingkat Suku Bunga SBIX3 : Nilai Tukar Rupiah/US$ε : disturbance error (faktor pengganggu/residual)Dari m...
factor lain yang tidak diteliti. Nilai Adjusted R² untuk IHSG yang besar akan membuat modelregresi semakin tepat dalam mem...
inflasi yang terjadi masih tergolong normal. Kenaikan biaya diikuti kenaikan harga produk,sehingga menyebabkan pendapatan ...
signifikan antara Inflasi, Tingkat Suku Bunga SBI dan Nilai Tukar Rupiah/US$ terhadap IndeksHarga Saham Gabungan di Bursa ...
penelitian agar hasil yang diperoleh dapat lebih merefleksikan pergerakan IHSG di BEI       secara historikal.            ...
Muradoglu, G., Fatma Taskin, and Iike Bigan.2000. Causality Between Stock Returns and      Macroeconomic Variables in Emer...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Inf, sbi, kurs terhadap ihsg

4,109 views

Published on

Published in: Economy & Finance
0 Comments
4 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
4,109
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
5
Actions
Shares
0
Downloads
269
Comments
0
Likes
4
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Inf, sbi, kurs terhadap ihsg

  1. 1. ISSN : 0216-7743, Vol. VII No. 1 Maret 2011. PENGARUH INFLASI, SUKU BUNGA DAN KURS TERHADAP INDEKS HARGA SAHAM GABUNGAN DI BURSA EFEK INDONESIA The Influence of Inflation, Interest Rate, and Exchange Rate Toward To Composite Stock Price Index In Indonesia Stock Exchange Musdalifah Azis1ABSTRACT This research aim is to point out the influence of inflation, interest rate, and exchange ratetoward to Composite Stock Price Index in Indonesia Stock Exchange. This research used purposive sampling method, data were then analyzed using doubleregression analysis, F-test, and adjusted R-Square. The results show that the inflation, interestrate, and exchange rate measured simultaneously not give significant influence toward toComposite Stock Price Index in Indonesia Stock Exchange.Keywords : inflation, the rate of interest, the exchange rate, and Composite Stock Price IndexA. PENDAHULUAN IHSG merupakan cerminan dari kegiatan pasar modal secara umum. Peningkatan IHSGmenunjukkan kondisi pasar modal sedang bullish, sebaliknya jika menurun menunjukkan kondisipasar modal sedang bearish. Untuk itu, seorang investor harus memahami pola perilaku hargasaham di pasar modal. Moradoglu, et al. (2000), dikemukakan bahwa penelitian tentang perilaku harga sahamtelah banyak dilakukan, terutama dalam kaitannya dengan variabel makroekonomi, diantaranyaChen et al. (1986), dan Fama (1981). Hasil penelitian mereka mengatakan bahwa harga sahamdipengaruhi oleh fluktuasi makroekonomi. Beberapa variabel makroekonomi yang digunakanantara lain; tingkat inflasi, tingkat bunga, nilai tukar, indeks produksi industri, dan harga minyak. Inflasi adalah kecenderungan barang-barang naik secara umum dan dalam jangka waktuyang tertentu (Case dan Fair, 1999). Hubungan antara positif antara inflasi dan harga sahamadalah semakin tinggi inflasi maka semakin tinggi barang dan jasa yang pada akhirnyameningkatkan profit perusahaan dan harga sahamnya. Penelitian tentang tingkat inflasiberpengaruh terhadap tingkat pengembalian saham telah banyak dilakukan antara lain : Balduzzi(1994), Sitorus (2004), Schmeling dan Schrimpf (2008).1 Dosen Tetap Fakultas Ekonomi Universitas Mulawarman Samarinda
  2. 2. Jika suku bunga ini lebih tinggi daripada return yang diarapkan maka investor akanmemilih deposito sebagai pilihan investasinya. Dalam penelitiannya, Lee (1992) dan Gan et al(2006) telah ditemukan bahwa perubahan tingkat bunga (interest rate) mempunyai pengaruhyang signifikan terhadap indeks harga saham. Fabozzi dan Franco (1996:724) an exchange rate is defined as the amount of onecurrency that can be exchange per unit of another currency, or the price of one currency in itemsof another currency. Ajayi dan Mougoue (1996) juga menggunakan variabel makroekonomi nilaitukar dan harga saham. Mereka meneliti hubungan dinamis antara harga saham dan nilai tukarpada “Delapan Besar” pasar saham, yaitu kanada, Perancis, Jerman, Italia, Jepang, Belanda,Inggris, dan Amerika Serikat dengan menggunakan bivariate error correction model. Hasilpenelitian mereka menunjukkan hubungan yang signifikan antara nilai tukar dan harga saham(pasar modal dan pasar uang). Hasil ini kemudian didukung juga oleh Dimitrova (2005), Sudjono(2002) serta Sitinjak dan Kurniasari (2003) bahwa nilai tukar rupiah (kurs) mempunyai pengaruhyang signifikan terhadap IHSG. Selanjutnya Gupta (2000) yang mengadakan penelitian di Indonesia denganmenggunakan data periode 1993-1997 menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan kausalitasantara tingkat bunga, nilai tukar, dan harga saham. Hasil ini sama dengan yang ditemukan olehBudilaksono (2005). Tetapi hasil ini bertolak belakang dengan Sitinjak dan Kurniasari (2003)yang menemukan bahwa nilai tukar dan tingkat bunga SBI berpengaruh terhadap IHSG,sementara tingkat inflasi tidak berhubungan dengan IHSG. Namun Saadah dan Panjaitan (2006)kembali menunjukkan bahwa tidak ada interaksi dinamis yang signifikan antara harga saham dannilai tukar. Penelitian ini menggunakan alur pemikiran seperti yang tersaji pada gambar 1. Tingkat Inflasi Suku Bunga SBI IHSG KursGambar 1. Kerangka Pemikiran
  3. 3. Berdasarkan uraian tersebut maka peneliti tertarik untuk menelaah lebih lanjut mengenai bagaimana pengaruh inflasi, suku bunga, dan kurs terhadap IHSG dari perusahaan yang listing di Bursa Efek Jakarta.B. METODE PENELITIAN Dalam penelitian ini terdapat 4 (empat) variabel yang terdiri dari 1 (satu) variabel dependen dan 3 (tiga) variabel independen. Variabel dependen dalam penelitian ini yaitu IHSG (Y), sedangkan variabel independen terdiri atas Tingkat Inflasi (X1), Suku Bunga SBI (X2) dan Nilai Tukar Rupiah/US$ (X3). Penelitian ini juga menggunakan data-data seperti Inflasi, tingkat suku bunga SBI dan Kurs (http://www.bi.go.id) dan IHSG (http://www.idx.go.id) dengan periode 2003 hingga 2008. Untuk menguji hipotesis tentang kekuatan variabel independen (Tingkat Inflasi, Tingkat Suku Bunga SBI dan Nilai Tukar Rupiah/US$) terhadap IHSG, penelitian ini menggunakan teknik analisis regresi linear berganda (multiple regression analysis model) dengan persamaan kuadrat terkecil (Ordinary Least Square) dengan model dasar sebagai berikut: Y = α + 1X1 + 2X2 + 3X3 ................................................................................................... (1) Dimana : Rx = Return Saham X1 = Tingkat Inflasi X2 = Suku Bunga SBI X3 = Kurs Rupiah Terhadap US $ Sebelum melangkah lebih jauh bagaiman model yang akan dibentuk, terlebih dahulu harus mengetahui tahapan-tahapan dalam penyusunan model regresi berganda. Adapun tahapan- tahapan tersebut adalah sebagai berikut: 1. Menentukan variabel bebas (independent) dan variabel terikat (dependent). 2. Menentukan metode penyusunan model regresi 3. Mengamati ada tidaknya data yang ekstrim (outlier) 4. Menguji asumsi-asumsi pada regresi berganda, seperti Normalitas, Multikolinearitas dan Heterokedastisitas. 5. Menguji signifikansi model.
  4. 4. 6. Intepretasi hasil model regresi berganda.Dalam regresi linear berganda, prinsip-prinsip yang mendasarinya tidaklah berbeda denganprinsip-prinsip dalam regresi linear sederhana. Akan tetapi dalam regresi linear berganda akandijumpai beberapa permasalahan, seperti Multikolinearitas dan Heterokedastis (ditemukan jugadalam regresi linear sederhana). Proses pembentukan model yang dilakukan secara berulang-ulang guna mendapatkan model terbaik yang sesuai dengan substansi yang ada. Setelah modelterbaik diperoleh, analisa dilanjutkan dengan melakukan uji terhadap hipotesis.C. PEMBAHASAN1. ANALISIS DATA Pada pengujian deskriptif ini untuk menguji seberapa besar nilai mean, standar deviasi,variance, nilai minimum, median dan maksimum. Tujuan dari statistic deskriptif ini untukmengetahui seberapa besar keakuratan data dan penyimpangan pada data tersebut. Untuk lebihjelasnya dapat dilihat pada table 1.Tabel 1. Descriptive Statistics N Minimum Maximum Mean Std. Deviation IHSG 72 388.44 2745.83 1359.0233 685.10250 INFLASI 72 4.60 18.38 8.8824 3.77606 SBI 72 7.32 12.75 9.3614 1.79991 KURS 72 7779.00 11651.00 8728.1389 628.52103 Valid N (listwise) 72Sumber : SPSS 15.00Dari tabel 1. menunjukkan bahwa nilai standar deviasi lebih kecil dari pada nilai rata-rata (mean)untuk variabel (IHSG, Inflasi, SBI dan Kurs). Hal ini berarti semua variabel penelitian tersebutmemiliki sebaran data yang normal (baik).2. UJI ASUMSI KLASIKa. NORMALITASUji normalitas ini dilakukan dengan tujuan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresivariabel dependen dan variabel independen mempunyai distribusi normal ataukah tidak. Model
  5. 5. regresi yang baik adalah distribusi data normal atau mendekati normal. Berdasarkan sampel data(n = 72), keadaan tersebut dapat dilihat dari Gambar 2. Dependent Variable: IHSG 1.0 Expected Cum Prop 0.8 0.6 0.4 0.2 0.0 0.0 0.2 0.4 0.6 0.8 1.0 Observed Cum Prob Gambar 2. Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual Dari Gambar 2, terlihat titik-titik menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garisdiagonal yang berarti bahwa model regresi terdistribusi normal. Dengan demikian model regresilayak digunakan untuk memprediksi IHSG berdasarkan masukan variable Inflasi, Tingkat SukuBunga SBI dan Nilai Tukar Rupiah/US$b. MULTIKOLINEARITAS Tujuan dari pengujian ini adalah untuk melihat apakah pada model regresi ditemukanadanya korelasi antar variabel bebas. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel bebasnya. Hasil pengujian dapat dilihat pada Tabel 2 di bawah ini. Pedoman suatu model regresi yang bebas multikolinieritas adalah nilai VIF (VariansInflation Factor) dan tolerance yang mendekati satu. Nilai VIF mendekati satu menunjukkantidak terjadinya multikolinieritas, sedangkan jika VIF mendekati lima, maka terdapat persoalanmultikolinieritas dengan variabel bebas lainnya.
  6. 6. Tabel 2. Nilai Varians Inflation Factor (VIF) Collinearity Statistics Model Tolerance VIF 1 INFLASI .375 2.670 SBI .418 2.393 KURS .843 1.186Sumber : Hasil Pengujian-pengujian Hipótesis Pada model persamaan regresi tersebut, terlihat bahwa nilai VIF dan tolerance dari variabelSBI dan Kurs nilainya mendekati satu. Hal tersebut menunjukkan bahwa tiga variabel bebastidak saling berhubungan satu sama lain.c. HETEROKEDASTISITAS Pengujian ini bertujuan untuk melihat apakah dalam sebuah model regresi yang dibentukterjadi ketidaksamaan varians residual dari satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jikavarians dari residual dari suatu pengamatan ke pengamatan lainnya tetap, maka disebuthomoskedastisitas. Sedangkan jika varians berbeda, disebut heterokedastisitas. Model regresiyang baik adalah tidak terjadi heteroskedastisitas. Pengujian asumsi ini dilakukan dengan analisisgrafik scatterplot dengan IHSG sebagai variabel terikatnya. Menurut Singgih (2000), deteksi adanya heterokedastisitas dilihat dengan ada tidaknya polatertentu pada grafik tersebut, di mana sumbu X adalah Y (IHSG) yang telah diprediksi, dansumbu Y adalah nilai residualnya (Y prediksi – Y sesungguhnya). Dasar pengambilan keputusanadalah jika titik-titik pada output tersebut membentuk suatu pola tertentu yang teratur makaterjadi heterokedastisitas. Dari analisis Gambar 2. secara berurutan dari kiri ke kanan yaituInflasi, SBI dan Kurs, terlihat bahwa titik-titik menyebar secara acak, tidak membentuk polayang jelas, dan tersebar di atas maupun di bawah angka nol pada sumbu Y. Hal ini berarti tidakterjadi heteroskedastisitas pada model regresi berdasarkan variabel bebas yang dipilih.
  7. 7. Dependent Variable: IHSG 2 Regression Studentized Residual 1 0 -1 -2 -3 -2 -1 0 1 2 Regression Standardized Predicted ValueGambar 2. Scatterplot Inflasi, SBI, dan Kurs3. ANALISIS REGRESI Analisis ini digunakan untuk menghitung besarnya pengaruh Tingkat Suku Bunga SBI danNilai Tukar Rupiah/US$ terhadap IHSG di Bursa Efek Jakarta. Berdasarkan pembatasan masalahdan hipotesis yang telah dikemukakan sebelumnya maka diperoleh hasil pengolahan data denganpaket programkomputer statistik SPSS 15.0 yang tampak pada Tabel 3.Tabel3.Coefficients(a) Unstandardized Standardized Coefficients Coefficients 95% Confidence Interval for B Correlations Model B Std. Error Beta t Sig. Lower BoundUpper BoundZero-order Partial Part 1 (Constant) 953.003 1261.458 .755 .453 -1564.196 3470.202 INFLASI 55.858 34.223 .308 1.632 .107 -12.433 124.150 .062 .194 .188 SBI -149.217 67.974 -.392 -2.195 .032 -284.856 -13.577 -.130 -.257 -.253 ) KURS .150 .137 .137 1.093 .278 -.124 .423 .172 .131 .126 a. Dependent Variable: IHSGBerdasarkan tabel 3. di atas diperoleh model persamaan regresi linier berganda sebagai berikut :Y = 953.003 + 55.858X1 – 149.217 X2 + 0.150 X3 + ε ……………………………………… (2)Dimana:Y : IHSG (Indeks harga Saham Gabungan)
  8. 8. X1 : InflasiX2 : Tingkat Suku Bunga SBIX3 : Nilai Tukar Rupiah/US$ε : disturbance error (faktor pengganggu/residual)Dari model regresi tersebut diperoleh konstanta sebesar 953.003. Hal ini berarti bahwa tanpaadanya rasio Inflasi, Tingkat Suku Bunga SBI dan Nilai Tukar Rupiah/US$ akan terjadiperubahan IHSG sebesar 953.003. Inflasi mempunyai koefisien regresi sebesar 55.858, berartisetiap perubahan Inflasi satu persen dengan asumsi yang lainnya tetap maka IHSG akanmengalami perubahan sebesar 55,858 dengan arah yang sama. Tingkat Suku Bunga SBImempunyai koefisien regresi sebesar– 149.217 bertanda negatif berarti setiap perubahan TingkatSuku Bunga SBI satu persen dengan asumsi variabel lainnya tetap maka perubahan IHSG akanmengalami perubahan sebesar – 149.217 dengan arah yang berlawanan dan koefisien regresiNilai Tukar Rupiah/US$ sebesar 0.150, dan setiap perubahan Nilai Tukar Rupiah/US$ satupersen dengan asumsi variabel lainnya tetap maka perubahan IHSG akan mengalami perubahansebesar 0.150 dengan arah yang sama.Koefisien Determinasi (Adjusted R²)Berdasarkan output SPSS 15.0 nampak bahwa pengaruh secara bersama-sama 3 (dua) variabelindependen (Inflasi, Tingkat Suku Bunga SBI dan Nilai Tukar Rupiah/US$) terhadap IHSGseperti ditunjukkan pada Tabel 4. Tabel 4. Model Summary Model Summaryb Change Statistics Adjusted St d. Error of R Square Durbin- Model R R Square R Square the Estimate Change F Change df 1 df 2 Sig. F Change Wat son 1 .306a .094 .054 666.37430 .094 2.349 3 68 .080 .059 a. Predictors: (Const ant), KURS, SBI , INFLASI b. Dependent Variable: IHSG Sumber : SPSS 15.00 Koefisien determinasi digunakan untuk melihat berapa % dari variasi variabel dependen(IHSG) dijelaskan oleh variasi dari variabel independen (perubahan Nilai Tukar Rupiah/US$ danTingkat Suku Bunga SBI). Nilai koefisien determinasi (Adjusted R²) sebesar 0,054, berartivariasi variabel Inf[asi, Tingkat Suku Bunga SBI dan Nilai Tukar Rupiah/US$ dalammenjelaskan variasi variabel IHSG adalah sebesar 5,4 % dan sisanya 94,5 % dijelaskan oleh
  9. 9. factor lain yang tidak diteliti. Nilai Adjusted R² untuk IHSG yang besar akan membuat modelregresi semakin tepat dalam memprediksi IHSG di bursa Efek Jakarta. Dengan melihatkemampuan model dalam menjelaskan variasi perubahan nilai variabel IHSG, maka modelpersamaan regresi linier berganda tersebut dapat dinyatakan baik untuk dijadikan sebagaipenaksir nilai variabel IHSG yang akan datang. Untuk meyakinkan keakuratan model persamaanregresi, maka model persamaan regresi tersebut perlu diuji dengan pengujian hipotesis.4. PENGUJIAN HIPOTESIS Tabel 5. ANOVAb Sum of Model Squares df Mean Square F Sig. 1 Regression 3129227 3 1043075.520 2.349 .080 a Residual 30195720 68 444054.702 Total 33324946 71 a. Predictors: (Constant), KURS, SBI, INFLASI b. Dependent Variable: IHSG Pengujian hipotesis dilakukan dengan uji F seperti dalam Tabel 5.. Pengujian ini bertujuanuntuk melihat apakah variabel independen secara bersama-sama mempunyai pengaruh yangsignifikan terhadap variabel dependen. Dengan menggunakan signifikansi 5 % (α = 0,05) dandegree of freedom (k-1) dan (n-k), dihasilkan nilai Ftabel sebesar 2,76. Nilai Fhitung dalamTabel 5. sebesar 2,349 sehingga nilai Fhitung lebih kecil dari Ftabel (2,349 < 2,76). Nilaisignifikansinya juga sebesar 0,080 (sig. > 0,05) sehingga Ho diterima dan Ha ditolak. Hal iniberarti bahwa secara bersama-sama variasi variabel-variabel independen (Inflasi, Tingkat SukuBunga SBI dan Nilai Tukar Rupiah/US$) mempunyai pengaruh yang tidak signifikan terhadapvariasi variabel dependen IHSG. Dengan demikian Hipotesis yang menyatakan “Diduga bahwavariabel-variabel independen Inflasi (X1), Tingkat Suku Bunga SBI (X2) dan Nilai TukarRupiah/US$ (X3) secara bersama-sama mempunyai pengaruh yang tidak signifikan terhadapIHSG (Y) di Bursa Efek Indonesia tahun 2003-2008. Setelah diuji secara parsial, Tingkat Inflasi juga mempunyai pengaruh yang tidak signifikanterhadap IHSG karena nilai thitung < ttabel (1,632 < 1,980) dan nilai signifikansinya juga lebih besar dari0,05 yaitu sebesar 0,107. Kesimpulan ini bertolak belakang dengan penelitian bahwa tingkat inflasiberpengaruh terhadap tingkat pengembalian saham yang telah banyak dilakukan antara lain :Balduzzi (1994), Sitorus (2004), Schmeling dan Schrimpf (2008). Hal ini disebabkan tingkat
  10. 10. inflasi yang terjadi masih tergolong normal. Kenaikan biaya diikuti kenaikan harga produk,sehingga menyebabkan pendapatan pun meningkat. Tingkat Suku Bunga SBI juga mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap IHSG karenanilai thitung > ttabel (2,195 > 1,980) dan nilai signifikansinya juga lebih kecil dari 0,05 yaitu sebesar0,032. Kesimpulan ini mempertegas penelitian Lee (1992) serta Sitinjak dan Kurniasari (2003) yangmenyimpulkan bahwa Tingkat Bunga berpengaruh signifikan terhadap indeks harga saham.Berdasarkan hasil tersebut berarti kenaikan tingkat suku bunga dapat meningkatkan bebanperusahaan (emiten) untuk memenuhi kewajiban/utang kepada bank sehingga dapat menurunkan labaperusahaan dan akhirnya harga saham pun turun. Kenaikan ini juga potensial mendorong investormengalihkan dananya ke pasar uang atau tabungan maupun deposito sehingga investasi di lantaibursa turun dan selanjutnya dapat menurunkan harga saham. Sedangkan sebaliknya, jika tingkat sukubunga turun, maka beban perusahaan pun menurun sehingga dapat meningkatkan laba perusahaanyang akhirnya dapat meningkatkan pembagian jumlah dividen kas kepada investor, kemudian hargasaham perusahaan pun meningkat. Nilai Tukar Rupiah/US$ mempunyai pengaruh yang tidak signifikan terhadap IHSG karenanilai thitung < ttabel (1,093 < 1,980) dan nilai signifikansinya lebih besar dari 0,05 yaitu sebesar 0,278.Hasil penelitian ini bertolak belakang dengan penelitian Ajayi dan Mougoue (1996) yangmenunjukkan adanya hubungan dinamis antara harga saham dan nilai tukar di 8 (delapan) negaramaju (Kanada, Perancis, Jerman, Italia, Jepang, Belanda, Inggris, dan Amerika Serikat). Demikianjuga penelitian Sudjono (2002), memiliki pendapat yang senada bahwa variabel ekonomi makro yangdirefleksikan dengan nilai rupiah mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap indeks harga saham.Hal ini dapat dijelaskan bahwa selama kurun waktu 2003-2008, nilai tukar rupiah/US$ tergolongstabil, sehingga dianggap tidak berpengaruh terhadap perubahan keadaan perekonomian secaraumum dan kinerja perusahaan. Tidak adanya fluktuasi yang signifikan dari nilai tukar rupiah/US$selama periode inilah yang menjadikannya tidak diperhatikan oleh investor dalam pengambilankeputusan investasi di pasar modal.D. KESIMPULAN1. SIMPULAN Dari penelitian mengenai analisis pengaruh Inflasi, Suku Bunga SBI dan Nilai TukarRupiah/US$ Tingkat terhadap Indeks Harga Saham Gabungan di Bursa Efek Jakarta tahun 2003-2008 dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: Secara bersama-sama ada pengaruh yang tidak
  11. 11. signifikan antara Inflasi, Tingkat Suku Bunga SBI dan Nilai Tukar Rupiah/US$ terhadap IndeksHarga Saham Gabungan di Bursa Efek Jakarta periode 2003-2008. Hal ini ditunjukkan daribesarnya nilai Fhitung lebih kecil dari Ftabel (2,349 < 2,76) dan signifikansi sebesar 0,080. DanNilai koefisien determinasi (Adjusted R²) sebesar 0,054, berarti variasi variabel Inf[asi, TingkatSuku Bunga SBI dan Nilai Tukar Rupiah/US$ dalam menjelaskan variasi variabel IHSG adalahsebesar 5,4 % dan sisanya 94,5 % dijelaskan oleh factor lain yang tidak diteliti.2. SARAN – SARANBerdasarkan kesimpulan di atas maka saran-saran yang dapat diberikan melalui hasil penelitianini baik kepada investor, perusahan maupun untuk pengembangan penelitian yang lebih lanjutadalah sebagai berikut: 1) Investor sebaiknya memperhatikan informasi-informasi mengenai Inflasi, Tingkat Suku Bunga SBI dan Nilai Tukar Rupiah/US$ yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia karena dengan adanya informasi tersebut dapat dimanfaatkan untuk memprediksi IHSG di BEI yang kemudian untuk mengambil keputusan yang tepat sehubungan dengan investasinya. 2) Perusahaaan sebelum melakukan kebijakan seperti ekspor atau impor, harus mengkaji terlebih dahulu faktor-faktor yang mempengaruhi besar kecilnya beban perusahaan yang dapat diakibatkan oleh Inflasi, Tingkat Suku Bunga SBI dan Nilai Tukar Rupiah/US$ sehingga dalam pelaksanaannya nanti manajemen perusahaan dapat mengambil kebijakan dalam rangka menarik investor di pasar modal. 3) Pemerintah sebaiknya juga memperhatikan faktor makroekonomi (Inflasi, Tingkat Suku Bunga SBI dan Nilai Tukar Rupiah/US$) melalui kebijakan-kebijakan yang diambil, yang selanjutnya untuk menarik minat investor baik domestic maupun asing di Bursa Efek Jakarta. 4) Adanya keterbatasan faktor makroekonomi yang digunakan sebagai dasar untuk memprediksi IHSG hanya terbatas pada Inflasi, Tingkat Suku Bunga SBI dan Nilai Tukar Rupiah/US$, diharapkan dalam penelitian selanjutnya untuk memperhatikan pengaruh faktor lain yang dapat mempengaruhi pergerakan IHSG. 5) Adanya keterbatasan dalam pengambilan periode penelitian yang hanya 5 tahun, diharapkan untuk pengembangan penelitian selanjutnya dapat memperpanjang periode
  12. 12. penelitian agar hasil yang diperoleh dapat lebih merefleksikan pergerakan IHSG di BEI secara historikal. DAFTAR PUSTAKAAjayi, R.A dan M. Mougoue. 1996. On The Dynamic Relation Between Stock Prices and Exchange Rate. Journal Of Finance Research. 19:193-207.Balduzzi, Pierluigi. 1994. Stock Return, Inflation, and The Proxy Hypothesis : A new Look at The Data. Working Paper Series.Budilaksono, Agung. 2005. Analisis Pengaruh Nilai Tukar Rupiah, Kepemilikan Saham Oleh Investor Asing, dan SBI Terhadap Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Jakarta (BEJ). Risetakuntansi4.blogspot.com.Case, K. E. dan R. C. Fair (1999), Principle of Economics, 5th Edition, Prentice Hall International, Inc., New JerseyChen, N.F., R.Roll and S.Ross (1986). Economic Forces and the Stock Market. Journal of Business, Vol.59, pp.383-403.Dimitrova, Desislava. 2005. The Relationship between Exchange Rate and Stock Price : Studied in A Multivariate Model. Issues in Political Economy, Vol. 14.Fabozzi, E.J. and Francis, J.C. 1996. Capital Markets and Institution and Instrument. Upper Saddle River New JerseyFama, E.F. dan K.R. French. 1992. The Cross Section Of Expected Stock Returns.Journal Of Finance. 47:427-465.Gan, Christopher, Minsoo Lee, Hua Hwa Au Yong, dan jun Zhang. 2006. Macroeconomic Variables and Stock Market Interactions : New Zealand Evidence, Investment Management and Financial Innovations, Vol. 3, Issues 4, 2006 : 89-101.Gupta, Jyoti P., Alain Chevalier and Fran Sayekt. 2000. The Causality Between Interest Rate, Exchange Rate and Stock Price in Emerging Market: TheCase Of The Jakarta Stock Exchange. Working Paper Series. EFMA 2000.Athens.Lee, SB. 1992. Causal Relations Among Stock Return, Interest Rate, Real Activity, and Inflation. Journal Of Finance,47:1591-1603.
  13. 13. Muradoglu, G., Fatma Taskin, and Iike Bigan.2000. Causality Between Stock Returns and Macroeconomic Variables in Emerging Markets. Russian and East European Finance and Trade. 36:35-53.Schmeling, Maik dan Andrew Schrimpf. 2008. Expected Inflation, Expected Stock Returns, and Money Illusion: What Can We Learn From Survey Expectation? SFB 649 Discussion Paper 2008-036.Sitorus Maurin. 2004. Pengaruh Variable Makroekonomi Terhadap Kinerja Saham Pertambangan Minyak Dan Gas Bumi Sebagai Emiten Di Bursa Efek Indonesia. www.yai.ac.id.Sudjono. 2002. Analisis Keseimbangan dan Hubungan Simultan Antara Variabel Ekonomi Makro Terhadap Indeks Harga Saham di BEJ dengan Metode VAR (Vector Autoregression) dan ECM ( Error Correction Model). Jurnal Riset Ekonomi dan Manajemen. Vol. 2. no. 3.Website Bank Indonesia. www.bi.go.idWebsite Jakarta Stock Exchange. www.jsx.co.id

×