Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Manajemen Perpustakaan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) Berdasarkan SNI 7496:2009

104 views

Published on

Manajemen Perpustakaan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) Berdasarkan SNI 7496:2009

Published in: Leadership & Management
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Manajemen Perpustakaan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) Berdasarkan SNI 7496:2009

  1. 1. Diterima tanggal: 28.11.2017 1 Manajemen Perpustakaan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) Berdasarkan SNI 7496:2009 Murad Maulana Dokumentasi Ilmiah, Perpustakaan Badan Pengawas Tenaga Nuklir, Jakarta Alamat E-mail: m.maulana@bapeten.go.id Abstrak Perpustakaan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) berdiri sejak tahun 2000. Ini berarti sudah berjalan dalam kurun waktu 17 tahun. Dari mulai awal berdiri hingga sekarang, Perpustakaan BAPETEN terus melakukan upaya manajemen perpustakaan yang lebih baik. Di usia yang cukup lama tersebut, seharusnya Perpustakaan BAPETEN mengalami perkembangan yang lebih pesat, baik dalam hal pengelolaan maupun dalam penyelengaraan layanan untuk para pemustaka BAPETEN. Namun demikian, kondisi nyata dilapangan menunjukan adanya layanan yang belum optimal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauhmana manajemen Perpustakaan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) berdasarkan SNI 7496:2009. Data diperoleh berbagai dokumen penting dan wawancara. Informan dalam penelitian ini adalah kepala sub bagian dokumentasi ilmiah, pustakawan dan staf perpustakaan. Hasil kajian menunjukan dari delapan faktor manajemen perpustakaan khusus intansi pemerintah berdasarkan SNI 7496:2009, maka ada dua faktor yang belum memenuhi standar yaitu koleksi dan sumber daya manusia. Kata kunci: Manajemen, SNI, Perpustakaan Khusus, BAPETEN
  2. 2. 2 1. PENDAHULUAN Perpustakaan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) adalah perpustakaan khusus lembaga pemerintah non kementerian (LPNK) yang menjadi pusat referensi dokumentasi ilmiah dalam rangka mendukung pengawasan pemanfaatan tenaga nuklir di Indonesia. Perpustakaan BAPETEN berdiri secara khusus untuk melayani para pemustaka yaitu pegawai BAPETEN guna memenuhi kebutuhan informasi dan pengetahuan seputar ketenaganukliran. Selain khusus untuk para pegawai, Perpustakaan BAPETEN juga terbuka untuk pemustaka diluar BAPETEN. Namun demikian, koleksi tercetak seperti halnya buku hanya bisa dibaca ditempat. Perpustakaan BAPETEN telah berdiri sejak tahun 2000. Ini berarti sudah berjalan dalam kurun waktu 17 tahun. Dari mulai awal berdiri hingga sekarang, Perpustakaan BAPETEN terus melakukan upaya manajemen perpustakaan yang lebih baik. Mulai dari layanan teknis, pemanfaatan teknologi, pengembangan koleksi dan manajemen lainya yang semuanya bertujuan untuk kepuasan para pemustaka ketika mencari informasi sesuai kebutuhannya dapat terpenuhi. Manajemen Perpustakaan BAPETEN yang lebih baik dari sebelumnya, tentu tidak selalu disertai dengan hasil yang sesuai dengan harapan. Kondisi dilapangan menunjukan masih adanya beberapa pengelolaan yang belum optimal seperti pengembangan koleksi yang masih berbasiskan pada format cetak. Dalam dua tahun terakhir tahun 2016-2017, pengadaan koleksi di Perpustakaan BAPETEN selalu membeli koleksi cetak dibanding yang digital. Padahal di era digital seperti sekarang ini pengembangan koleksi digital itu penting mengingat pengguna internet di Indonesia dari tahun ke tahun selalu meningkat. Merujuk pada hasil penelitian APJII tahun 2016, pengguna internet sebanyak 132, 7 juta yang sebelumnya pada tahun 2014 hanya 88 juta. Ini artinya pencarian informasi dan pemanfaatan koleksi digital saat ini berpotensi bagi para pemustaka. Apalagi alasan utama dalam penggunaan internet di Indonesia 25,3% adalah untuk mengakses informasi atau sekitar 31,3 juta pengguna. Sedangkan alasan mengakses internet terkait pekerjaan sebanyak 20,8% atau 27,6 juta pengguna. Hasil penelitian Maulana (2017) tentang perilaku pencarian informasi kepada pengawas radiasi di BAPETEN menunjukan sumber informasi yang banyak digunakan adalah internet. Berdasarkan kondisi tersebut, peneliti tertarik untuk mengkaji sejauh mana manajemen Perpustakaan BAPETEN secara keseluruhan meliputi delapan faktor seperti koleksi, pengorganisasian materi perpustakaan, sumber saya manusia, layanan perpustakaan, organisasi perpustakaan, gedung, anggaran serta teknologi informasi dan komunikasi berdasarkan Standar Nasional Indonesia Nomor 7496 tahun 2009 (SNI 7496:2009). 2. TINJAUAN PUSTAKA Manajemen dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring adalah penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran. Selanjutnya sumber daya yang dimaksud menurut KBBI daring dalam hal ini adalah segala sesuatu, baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud, yang digunakan untuk mencapai hasil, misalnya peralatan, sediaan, waktu, dan tenaga. Sumber daya perpustakaan menurut SNI 7496:2009 adalah segala kekayaan dan komponen lain perpustakaan baik berupa koleksi perpustakaan, tenaga pengelola
  3. 3. 3 perpustakaan, sarana dan prasarana, anggaran dan sarana teknologi informasi. Dalam lingkungan perpustakaan, sumber daya berwujud misalnya tenaga perpustakaan seperti kepala, staf dan pustakawan. Selain itu misalnya sarana dan prasarana dan anggaran. Sementara untuk sumber daya tidak berwujud seperti ide dan gagasan yang di implementasikan dalam perbuatan berupa program-program kerja. Sumber daya tidak berwujud juga pada soft skill dan hard skill pada seseorang. Manajemen perpustakaan adalah penggunaan sumber daya yang ada di perpustakaan secara efektif untuk mencapai tujuan lembaga dalam hal ini adalah sesuai visi dan misi lembaga induk. Perpustakaan BAPETEN sendiri adalah termasuk perpustakaan khusus pemerintah yang melayani khusus para pegawai BAPETEN. Menurut Undang-Undang Perpustakaan Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan, Bab 1, pasal 1 ayat 7, perpustakaan khusus adalah perpustakaan yang diperuntukkan secara terbatas bagi pemustaka di lingkungan lembaga pemerintah, lembaga masyarakat, lembaga pendidikan keagamaan, rumah ibadah, atau organisasi lain. Sedangkan menurut SNI 7496:2009, bahwa perpustakaan khusus instansi pemerintah yaitu salah satu jenis perpustakaan yang dibentuk oleh lembaga pemerintah yang menangani atau mempunyai misi bidang tertentu dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan materi perpustakaan/informasi di lingkungannya dalam rangka mendukung pencapaian misi instansi induknya. Sumber daya yang ada dalam perpustakaan khusus secara umum tersirat dalam SNI 7496:2009 meliputi delapan faktor yaitu koleksi, pengorganisasian materi perpustakaan, sumber daya manusia, layanan perpustakaan, organisasi perpustakaan, gedung, anggaran serta teknologi informasi dan komunikasi. 1) Koleksi Koleksi perpustakaan khusus instansi pemerintah itu bersifat khusus. Ada empat yang harus memenuhi standar yaitu sebagai berikut: a) Perpustakaan khusus instansi pemerintah memiliki koleksi buku sekurang- kurangnya 1.000 judul dalam bidang kekhususannya. b) Sekurang-kurangnya 80% koleksinya terdiri dari subyek/disiplin ilmu tertentu sesuai dengan kebutuhan instansi induknya. c) Perpustakaan menyediakan koleksi terbitan dari dan tentang instansi induknya. d) Perpustakaan melanggan minimal 10 judul majalah yang berkaitan dengan kekhususan instansi induknya. Adapun untuk jenis koleksi minimal harus terdiri dari empat jenis yaitu buku yang terkait di bidangnya, terbitan serial, koleksi referensi, dan laporan. Kegiatan pengembangan koleksi khususnya dalam penambahan koleksi buku sekurang-kurangnya 2 % dari jumlah judul per tahun atau minimal 100 judul per tahun dipilih mana yang paling besar. Kegiatan lainya terkait koleksi adalah pencacahan yang harus dilakukan sekurang-kurangnya 3 tahun sekali dan kegiatan penyiangan sekurang-kurangnya 1 tahun sekali. 2) Pengorganisasian Materi Perpustakaan Koleksi bahan pustaka dalam suatau perpustakaan harus diproses dan diorganisasikan, dikatalog dan klasifikasi serta disusun secara sistematis dengan menggunakan misalnya bagan klasifikasi, pedoman tajuk subyak dan sejenisnya. Pengorganisasian materi perpustakaan dilakukan agar dapat mudah ditemukan apabila ada pemustaka yang mencari informasi dan pengetahuan. 3) Sumber Daya Manusia
  4. 4. 4 Jumah sumber daya manusia dalam suatu perpustakaan khusus sekurang- kuragnya adalah 3 orang terdiri dari kepala perpustakaan, 1 staf pegawai dan 1 pustakawan. Sedangkan untuk perbandingannya adalah 1:2 artinya 1 tenaga pustakawan dan 2 tenaga teknis. Khusus untuk kualifikasi kepala perpustakaan minimal berijazah strata 1 (S1) di bidang ilmu perpustakaan atau S1 bidang lain akan tetapi harus ditambah dengan diklat penyetaraan bidang perpustakaan. Sedangkan kualifikasi untuk tenaga teknis misalnya khusus dalam bidang komputer, audio visual atau tata usaha. Selain itu, pengembangan sumber daya manusia harus diberikan baik melalui pendidikan formal ataupun non formal. 4) Layanan Perpustakaan Standar layanan perpustakaan mencakup dua. Pertama, jumlah jam layanan sekurang-sekurangnya 37,5 jam per minggu. Kedua, layanan meliputi layanan baca di tempat, sirkulasi, kesiagaan informasi, referensi, penelusuran informasi, dan bimbingan pengguna. 5) Organisasi Perpustakaan Organisasi perpustakaan dipimpin oleh kepala perpustakaan yang bertanggung jawab langsung ke kepala induknya. Unit layanan perpustakaan sekurang-kurangnya terdiri dari dua yaitu unit layanan teknis dan pembaca. 6) Gedung Gedung perpustakaan minimal terdiri dari tiga yaitu ruang untuk koleksi, tenaga perpustakaan dan pemustaka. Luas gedung sekurang-kurangnya 100 M2. 7) Anggaran Anggaran perpustakaan berasal dari lembaga induk atau dari sumber pendanaan lain yang sah dan tidak mengikat. 8) Teknologi Informasi dan Komunikasi Dalam upaya mengikuti perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, maka perpustakaan harus menggunakannya seperti dalam kegiatan pengadaan dan pengorganisasian materi perpustakaan, layanan sirkulasi dan informasi termasuk akses internet. 3. METODE Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode deskriptif dimana analisis dan interpretasi data dilakukan dengan melibatkan pengembangan sebuah deskripsi dan tema-tema (Emzir, 2016). Metode pengumpulan data diakukan dengan cara analisis dokumen dan wawancara kepada tiga informan, yakni kepala subbagian dokumentasi ilmiah, pustakawan dan staf perpustakaan. Wawancara dilakukan tidak terstruktur. Hasil temuan dilapangan dianalisis dengan menggunakan SNI 7496:2009. 4. HASIL DAN PEMBAHASAN Temuan dari kajian di Perpustakaan BAPETEN ini terbagi ke dalam sub-sub pokok bahasan berdasarkan SNI 7496:2009 meliputi delapan faktor yaitu koleksi, pengorganisasian materi perpustakaan, sumber daya manusia, layanan perpustakaan, organisasi perpustakaan, gedung, anggaran, serta pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi. 4.1. Koleksi Pengembangan koleksi Perpustakaan BAPETEN terdiri dari tiga jenis yaitu dari pembelian yang bersumberkan dari anggaran APBN, hibah atau
  5. 5. 5 Bahasa Indonesia (3.218) Bahasa Inggris (2.198) Bahasa Jepang (1) Bahasa Jerman (5) hadiah baik yang bersifat persnoal maupun institusi dan menerbitkan sendiri. Jumah koleksi Perpustakaan BAPETEN hingga 2017 berjumlah 5.422 judul, 5828 eksemplar. Koleksi terdiri dari koleksi cetak dan non cetak seperti CD, VCD, e-book dan kliping elektronik. Jumlah terbanyak adalah pada koleksi cetak berupa buku sebanyak 4.530 eksemplar. Adapun bahasa koleksi terdiri dari Bahasa Indonesia 3.218 judul, Bahasa Inggris 2198 Judul, Jepang 1 judul, dan Jerman 5 Judul. Gambar 1. Perbandingan Koleksi Cetak dan Non cetak Gambar 2. Bahasa Koleksi Perpustakaan BAPETEN Dari total judul koleksi tersebut, jumlah judul koleksi yang sesuai dengan tema lembaga induk adalah 2.512 judul (46%), yakni bertema tentang ketenaganukliran. Sedangkan tema lainya diuar ketenaganukliran yaitu 2.910 judul (54%). Koleksi yang berasal dari pembelian setiap tahun menurut kepala perpustakaan tidak ada dasar kebijakan pengembangan koleksi misalnya dari sisi persentase subyek dan formatnya. Sehingga setiap tahun pembelian koleksi selalu yang berformat cetak tidak pernah berformat digital. Dasar dalam pembelian koleksi hanya menggunakan kuesioner usulan para pemustaka yang dibagikan ke setiap unit kerja. Gambar 3. Persentase Koleksi Perpustakaan BAPETEN Tahun 2017 Ketenaganukliran (46%) Non Ketenaganukliran (56%) Koleksi Cetak (1.298) Koleksi Non Cetak (4.530)
  6. 6. 6 0 20 40 60 80 100 Penambahan Koleksi Pertahun (Judul) 2015 (0) 2016 (89) 2017 (19) Koleksi lokal konten yang diterbitkan oleh BAPETEN berupa jurnal, buku, rekaman unit kerja, modul pelatihan, prosiding, laporan kinerja, laporan keselamatan nuklir dan safety standard, dan perka (peraturan kepala). Koleksi terbitan berkala seperti majalah yang dilanggan dari anggaran APBN berjumlah dua eksemplar, yakni Tempo dan Gatra. Adapun koran meliputi Kompas, Jakarta Post, Indo Pos, Sindo, Republika, dan Media Indonesia. Beberapa terbitan berkala berupa jurnal dan buletin yang berkaitan dengan ketenaganukliran berasal dari instansi pemerintah seperti Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN), Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir (STTN) BATAN, dan Badan Penerapan dan Pengkajian Teknologi (BBPT) berjumlah 13 jenis. Untuk terbitan berkala lainya yang bertema diluar ketenaganukliran dan merupakan hibah berjumah 98 jenis meliputi jurnal, buletin, tabloid, dan majalah. Penambahan koleksi dalam tiga tahun terakhir dari mulai 2015 tidak melakukan pembelian buku. Pada 2016 sebanyak 89 judul dan pada 2017 hanya 19 judul. Kegiatan stock opname di Perpustakaan BAPETEN dilakukan setiap tiga tahun sekali dan penyiangan setiap setahun sekali. Gambar 4. Penambahan Jumlah Koleksi Pertahun Berdasarkan temuan dilapangan tersebut, maka ada tiga pokok bagian pada koleksi yang belum memenuhi standar yaitu jumlah subyek koleksi berdasarkan lembaga induknya yang hanya berjumlah 46%. Padahal dalam standar dikatakan bahwa sekurang-kurangnya 80%. Selanjutnya jumlah koleksi berupa majalah yang harus dilanggan sesuai kebutuhan lembaga induknya di Perpustakaan BAPETEN tidak ada. Sementara dua yang dilanggan bukan terkait dengan ketenaganukliran. Penambahan judul koleksi setiap tahun belum memenuhi seperti dalam standar karena di Perpustkaan BAPETEN dalam tiga tahun terakhir masih dibawah 100 judul. Bahkan untuk tahun 2015 tidak ada secara khusus dalam kegiatan pengadaan buku yang dilakukan melalui pembelian. 4.2. Pengorganisasian Materi Perpustakaan Kegiatan pengorganisasian materi perpustakaan di Perpustakaan BAPETEN selalu rutin dilakukan ketika ada koleksi terbaru. Setiap koleksi baru akan diolah mulai dari penentuan klasifikasi dan subyek yang dimasukan dalam database perpustakaan. Pedoman untuk klasifikasi yang digunakan adalah DDC. Koleksi bahan pustaka yang baru akan bisa dicari oleh pemustaka melalui
  7. 7. 7 katalog daring yang beralamat di http://perpustakaan.bapeten.go.id/opac. Koleksi bahan pustaka yang baru dimasukan dalam sistem juga otomatis tampil dalam website Perpustakaan BAPETEN. Sehingga pemustaka dapat melihat informasi singkat terbaru melalui wesbite tersebut. Kegiatan penyebaran informasi koleksi buku baru juga dilakukan oleh pustakawan melalui e-mail kepada semua pemustaka yang ada di BAPETEN. Gambar 5. Input Koleksi Buku Baru di SLiMS
  8. 8. 8 Gambar 6. Katalog Daring Perpustakaan BAPETEN (OPAC) Gambar 7. Website Perpustakaan BAPETEN Kondisi lapangan diatas menunjukan kegiatan pengorganisasian materi perpustakaan di Perpustakaan BAPETEN telah memenuhi SNI 7496:2009 dimana setiap koleksi bahan pustaka baru diolah dan disebarkan kepada para pemustaka baik melalui website dan email. 4.3. Sumber Daya Manusia Sumber daya manusia yang ada di Perpustakaan BAPETEN terdiri dari 4 orang terdiri dari kepala sub bagian dokumentasi ilmiah atau kepala perpustakaan, 2 pustakawan, dan 1 staf perpustakaan. Pendidikan terakhir kepala perpustakaan adalah sarjana ekonomi. Sedangkan untuk pustakawan, 1 berasal dari jurusan administasi negara dan diklat kepustakawanan dan 1 jurusan ilmu
  9. 9. 9 perpustakaan. Sementara untuk staf perpustakaan adalah sarjana dari pendidikan umum. Kepala perpustakaan juga memberikan kesempatan kepada para pustakawan dan staf untuk mengikuti pendidikan formal dan non formal. Pendidikan formal melanjutkan jenjang S2 seperti yang baru saja diikuti oleh salah satu pustakawan. Pendidikan non formal seperti mengikuti seminar, lokakarya dan workshop perpustakaan. Berdasarkan temuan tersebut, satu hal yang belum memenuhi kriteria berdasarkan standar yaitu kepala perpustakaan yang belum mengikuti diklat penyetaraan kepustakawanan karena belum ada kesempatan atau jadwal dari Perpustakaan Nasional. 4.4. Layanan Perpustakaan Jam kerja layanan Perpustakaan BAPETEN dalam sehari adalah 8 jam sehingga dalam seminggu 40 jam. Adapun layanan yang diberikan untuk pemustaka meliputi ruang baca, sirkulasi, layanan referensi, pencarian informasi, bimbingan pemustaka, foto copi, internet, e-kliping, layanan terbitan berkala, layanan informasi terbaru koleksi, dan layanan jurnal daring. Kondisi diatas menunjukan layanan di Perpustakaan BAPETEN telah sesuai dengan standar yang sekurang-kurangnya terdiri dari 6 layanan yaitu layanan baca di tempat, sirkulasi, kesiagaan informasi, referensi, penelusuran informasi, dan bimbingan pengguna. 4.5. Organisasi Perpustakaan Struktur organisasi Perpustakaan BAPETEN berada dibawah sekretariat utama, biro perencanaan, bagian data dan informasi. Kepala perpustakaan bertanggung jawab kepada kepala bagian data dan informasi. Adapun struktur organisasinya adalah sebagai berikut: Gambar 8. Struktur Organisasi Perpustakaan BAPETEN Sub bagian dokumentasi ilmiah atau kepala perpustakaan membawahi dua bagian yaitu pengolahan dan pelayanan. Masing-masing tugas dari pengolahan dan layanan adalah sebagai berikut: 4.5.1.Bagian Pengolahan a) Inventarisasi dan administrasi bahan pustaka b) Katalogisasi dan mengklasifikasi bahan pustaka
  10. 10. 10 c) Memberi tajuk subjek terhadap bahan pustaka. d) Menempel atribut bahan pustaka seperti: kantong buku, barcode, kartu buku, tanggal kembali, label buku. e) Input data di sistem informasi perpustakaan f) Menyusun/ shelving bahan pustaka di rak g) Melaksanakan perencanaan pengadaan koleksi bahan pustaka 4.5.2.Bagian Pelayanan a) Melaksanakan layanan informasi literatur (penelusuran informasi) dan bimbingan pemakai perpustakaan termasuk akses jurnal daring b) Melaksanakan layanan sirkulasi (transaksi peminjaman pengembalian koleksi bahan pustaka) c) Foto copi dan akses internet. d) Memberikan pelayanan administrasi atau keanggotaan. e) Menjawab pertanyaan mengenai referensi dan koleksi perpustakaan. Berdasarkan kondisi dilapangan menunjukan organisasi Perpustakaan BAPETEN telah memenuhi standar karena berdasarkan SNI 7496:2009 sekurang-kuragnya struktur organisasi perpustakaan khusus terdiri dari kepala perpustakaan, unit layanan teknis dan pembaca. Sementara di Perpustakaan BAPETEN terdiri dari dua dengan istilah yang berbeda namun berfungsi sama. 4.6. Gedung Gedung Perpustakaan BAPETEN berada dilantai 8 dengan luas 110M2 dengan ruangan terdiri dari ruang baca dan koleksi yang menyatu serta ruang untuk kepala perpustakaan, pustakawan dan staf. Berdasarkan SNI 7496:2009 bahwa gedung perpustakaan khusus sekurang-kurangnya 100M2 . Sehingga dengan melihat standar SNI 7496:2009, maka gedung Perpustakaan BAPETEN serta ruangannya telah memenuhi standar. 4.7. Anggaran Anggaran Perpustakaan BAPETEN berasal dari APBN. Anggaran untuk Perpustakaan BAPETEN dalam tiga tahun terakhir mengalami penurunan. Hal tersebut terjadi karena pada 2015 dan 2016 ada kegiatan membangun knowledge management. Sedangkan pada 2017, kegiatan knowledge management dihentikan. Anggaran Perpustakaan BAPETEN pada 2017 sebesar Rp. 237.475.000. Sedangkan pada 2016 Rp. 357.671.000 dan pada 2015 sebesar Rp. 420.560.000. Tabel 1. Besarnya Anggaran Perpustakaan BAPETEN Tahun 2015 2016 2017 Anggaran Rp. 420.560.000. Rp. 357.671.000. 237.475.000. Berdasarkan data diatas menunjukan sumber anggaran hanya berasal dari APBN walaupun anggaran Perpustakaan BAPETEN dalam tiga tahun terkahir selalu mengalami penurunan. Namun demikian, berdasarkan SNI 7496:2009
  11. 11. 11 tersebut, anggaran Perpustakaan BAPETEN telah memenuhi standar walau hanya berasal dari APBN. 4.8. Teknologi Informasi dan komunikasi Pemanfaatan teknologi informasi pada Perpustakaan BAPETEN adalah dengan menggunakan perangkat lunak SLiMS mencakup pengelolaan koleksi, pelaporan, sirkulasi, hingga penelusuran ke katalog daring. Selain itu adalah menggunakan CMS Wordpress untuk membuat website dan pengelolaan kliping elektronik. Akses internet Wi-fi secara gratis baik untuk pemustaka internal maupun eksternal juga menjadi bagian layanan dari Perpustakaan BAPETEN. Gambar 9. Pemanfaatan CMS Wordpress Untuk Pengelolaan E-Kliping Kondisi diatas menunjukan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi sekarang ini juga membawa pengaruh khususnya pada pekerjaan pustakawan yang semakin mudah karena adanya sistem informasi. Perpustakaan
  12. 12. 12 BAPETEN telah memanfaatkan teknologi informasi dalam menyelesaikan pekerjaan sehari-harinya. Ini artinya Perpustakaan BAPETEN juga telah menjalankan layanan berbasis teknologi informasi untuk pemustaka berdasarkan SNI 7496:2009. 5. KESIMPULAN Manajemen Perpustakaan BAPETEN yang terdiri dari delapan faktor berdasarkan SNI 7496:2009, dari kesemuanya ada dua faktor yang belum memenuhi standar yaitu pertama, mengenai koleksi. Selama ini tidak ada kebijakan pengembangan koleksi berupa subyek dan format juga penambahan judul setiap tahun yang kurang dari 100 judul. Sehingga dengan demikian, untuk koleksi yang berkaitan dengan tema ketenaganukliran hanya 46% padahal idealnya sekurang- kurangnya harus 80% sesuai dengan bidang dilembaga induknya. Disisi lain semua koleksi hanya membeli dari berupa format cetak. Majalah yang dilangganpun masih kurang dan tidak sesuai dengan subyek lembaga induknya walaupun ada koleksi terbitan berkala berupa jurnal dari instansi terkait seperti BATAN, STT BATAN, dan BPPT. Kedua, berkaitan dengan sumber daya manusia khususnya pada kepala perpustakaan yang belum mengikuti diklat penyetaraan kepustakawanan. 6. SARAN Perlunya membuat kebijakan pengembangan koleksi agar koleksi yang akan dibeli dapat tepat sasaran mulai dari persentase subyek, format, dan penambahan judul setiap tahun. Selanjutnya kepala Perpustakaan BAPETEN perlu mengikuti diklat penyetaraan kepustakawanan yang diadakan oleh Perpustakaan Nasional RI.
  13. 13. 13 DAFTAR PUSTAKA Asosiasi Pengusaha Jasa Internet Indonesia. (2017). Infografis Penetrasi & Perilaku Pengguna Internet Indonesia. Retrieved from: https://www.apjii.or.id/survei2017 Badan Pengawas Tenaga Nuklir. (2017). Sejarah BAPETEN. Retrieved from: http://www.bapeten.go.id/?page_id=661 Badan Pengawas Tenaga Nuklir. (2017). Profile Perpustakaan BAPETEN. Retrieved from: https://perpustakaan.bapeten.go.id/?page_id=7 Badan Pengawas Tenaga Nuklir. (2017). Sistem Informasi Manajemen Kepegawaian. Retrieved from: http://simka.bapeten.go.id Badan Pengawas Tanaga Muklir. (2017). Sistem Perencanaan dan Evaluasi. Retrieved from: http://serasi.bapeten.go.id Badan Pengawas Tanaga Kuklir. (2017). Statistik Koleksi. Retrieved from: https://perpustakaan.bapeten.go.id/opac Emzir. (2016). Metodologi Penelitian Kualitatif Analisis Data. Jakarta: Rajawali Pers. Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring. (2017). Manajemen. Retrieved from https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/manajemen Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring. (2017). Sumber Daya. Retrieved from https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/sumber%20daya Maulana, Murad. (2017) . Perilaku Informasi Profesional: Studi Perilaku Pencarian Informasi Pada Pengawas Radiasi di Badan Pengawas Tanaga Nuklir. Tesis, UGM. Standar Nasional Indonesia Nomor 7496 Tahun 2009 Tentang Perpustakaan Khusus Instansi Pemerintah. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan.

×