WANITA ACEH                      DALAM PEMERINTAHAN                                  DAN PEPERANGAN                       ...
iii                       RANUP SIGAPU         Dalam rangka memperingati genap dua tahun usia Perpus-takaan dan Museurn Ya...
V                     KATA PENGANTAR         Pada akhir bulan Januari 1993 yang akan datang, MajelisUlama Indonesia (MUI) ...
vi         Saya menyadari bahwa saduran ini masih mengalami banyakkekurangan, terutama dalam upaya membuat sebuah uraian y...
vii                            DAFTARISIRanup Sigapu                                              iiiKata Pengantar       ...
3 K E D U D U K A N WANITA A C E H DI MASA L A M P A U        Kerajaan-kerajaan Islam di Aceh pada masa lampau(Perlak, Pas...
4Al-Quranul Karim Surah A n Nisa (sarakata Wanita) banyaktersebut masalah mengenai wanita, seperti mengenaikedudukannya ya...
5wanita yang telah memainkan peranan yang amat penting ditanah Aceh masa lampau, sejak zaman kerajaan Islam Perlaksampai z...
6     WANITA ACEH DALAM PEMERINTAHAN                1. Puteri Lindung Bulan        Puteri Lindung Bulan yang juga disebut ...
7kota Masmani untuk meminta agar Negeri Benua Tamiengtunduk kepada Kerajaan Majapahit dan Puteri Lindung Bulandiserahkan k...
8                    2. Puteri Pahang        Tatkala Sultan Iskandarmuda pada tahun 1615menyerang kembali Johor untuk kedu...
9Mahkamah Rakyat (semacam D P R sekarang), yang berang-gotakan 73 orang yang mewakili Mukim dalam Kerajaan AcehDarussalam....
103.   Kekuasaan legislatif (kekuasaan membuat undang-un-     dang). Dan kekuasaan ini berada di tangan Dewan Per-     wak...
11        3. Ratu Nihrasiyah Rawangsa Khadiyu         Ratu Nihrasiyah Khadiyu adalah Sulthanah terakhirdari Kerajaan Islam...
12Samudera Pasai dengan gelar Maharaja Bakoy Ahmad Per-mala. Tetapi ternyata kemudian bahwa Arya Bakoy adalahpenganut ajar...
RATU TAJUL ALAMSAFIATUDDIN
13                   4. Ratu Safiatuddin        Setelah Sultan Iskandar Sani wafat, maka atas ke-putusan pembesar negara d...
14(hukum) termasuk hukum tata negara, ilmu sejarah, mantik,falsafah, tasawuf, sastra dan lain-lain.         Setelah masa I...
15       pula dari kuatnya dukungan para Menteri, orang besar       dan para ulama atasnya. Menurut catatan, lembaga      ...
16                  5. Ratu Naqiatuddin        Ketika ia masih hidup, Ratu Safiatuddin telah mem-persiapkan tiga orang wan...
17dengan melakukan sabotase berupa pembakaran kota BandaAceh. Masjid Raya Baiturrahman dan Istana Seri Sulthan be-serta se...
18                  6. Ratu Zakiatuddin         Ratu Zakiatuddin meninggal pada tanggal 1 Z u l -kaidah 1088 H (23 Januari...
19tantangan berat, malah lebih berat dari pendahulunya. Hanyakarena pengaruh yang besar dari Kadli Malikul A d i l SyekhAb...
20kekuasaan dalam kerajaan.        Setelah memerintah 10 tahun lamanya, RatuZakiatuddin meninggal pada 8 Zulhijjah 1098 H ...
21                 7. Ratu Kamalat Syah        Puteri Kamalah, orang ketiga yang telah dipersiapkanoleh Ratu Safiatuddin u...
22tidak boleh lagi dipegangoleh seorang wanita. D i antara tokohyang mempelopori perebutan kekuasaan itu ialah SyarifHasyi...
23an kepada kerajaan juga dilakukannya (termasuk hal-hal yangdapat melawan operasi V O C Belanda yang terus mengge-rogoti)...
24       WANITA A C E H D A L A M P E P E R A N G A N                1. L a k s a m a n a M a l a h a y a t i          Pad...
Laksamana MALAHAYATI
25bercampur geram dan marah. Karena itu ia meminta kepadaSultan agar membentuk sebuah Armada Aceh yang prajuritnyaseluruhn...
26yaan Sultan dengan membuat manipulasi dagang, mengadakanpengacauan, menghasut, dan sebagainya. Sultan memerintah-kan Mal...
27                  2.   Teungku Fakinah        Selama perang Aceh melawan Belanda pada akhirabad ke-19 banyak sekali munc...
28         Ketika kecil dan remaja, Teungku Fakinah mendapatpendidikan Islam dan membaca Al-Quran dari ibunya, sertabelaja...
29       "Saya harap kepada Cutnyak agar menyuruh suami       Cutnyak, T. Umar, untuk memerangi wanita-wanita       yang s...
30                    3. Cut Nyak Dhien          Cut Nyak Dhien adalah seorang wanita Aceh yangtelah menjadi pahlawan Nasi...
CUT NYA DHIEN
31 hanya baru lima tahun menikah dengan Cut Nyak Dhien, dan meninggalkan seorang putri bernama Cutnyak Gambang.        Set...
32                       4. Cut Meutia        Seperti halnya Cut Nyak Dhien, pejuang wanita AcerCut Meutia adalah pahlawan...
CUT MEUTIA
33hubungannya dengan istana Darud Dunia di Banda Aceh, yangbernama Tok Bineh Blang. Disamping itu Cut Meutia di-lahirkan d...
34                 5. Pocut Meurah Intan         D i Desa Tegal Sari, Blora, di bawah kesejukan pepo-honan yang rimbun mer...
CUT MEURAH   INSEN
35Alam yang memerintah Aceh selama 28 tahun. Dari suaminyaPocut Meurah Intan mendapat putrera tiga orang, semuanyamenjadi ...
36sedang salah satu urat ketingnya putus. Ia terbaring ditanah, penuh dengan darah dan lumpurlaksanasetum-puk daging yang ...
37       amat hormat, sesuai dengan kedudukannya. Akhirnya       ia menerima juga bantuan serdadu itu yang ditolaknya     ...
38                      6. Pocut Baren        Dalam tahun-tahun Revolusi fisik 1945, di Aceh di-bentuk satu lasykar rakyat...
39        Setelah usia dewasa, Pocut bersuamikan seorang Kej-ruen, yang menjadi Uleebalang Geume, di samping sebagaipangli...
40         Dalam suatu pertempuran yang berkecamuk sejakpagi buta sampai sore hari, kaki Pocut Baren tertembak, danbeliau ...
41                  7. Teungku Fatimah         Seperti telah dikemukakan pada bagian terdahulubahwa setelah Pang Nanggrou,...
42berani, bahu membahu dengan suaminya dan pejuang yanglain.         Pertempuran antara lain berlangsung di hutan Pasai,di...
Wanita aceh dalam pemerintahan
Wanita aceh dalam pemerintahan
Wanita aceh dalam pemerintahan
Wanita aceh dalam pemerintahan
Wanita aceh dalam pemerintahan
Wanita aceh dalam pemerintahan
Wanita aceh dalam pemerintahan
Wanita aceh dalam pemerintahan
Wanita aceh dalam pemerintahan
Wanita aceh dalam pemerintahan
Wanita aceh dalam pemerintahan
Wanita aceh dalam pemerintahan
Wanita aceh dalam pemerintahan
Wanita aceh dalam pemerintahan
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Wanita aceh dalam pemerintahan

4,509 views

Published on

bukan hanya laki2 yang menjabat.... tapi dalam pemerintahan aceh, sultan/sultanah bukan pengambil keputusan mutlak..... beda dengan kawasan lain.

Published in: Education
0 Comments
3 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
4,509
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1,085
Actions
Shares
0
Downloads
242
Comments
0
Likes
3
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Wanita aceh dalam pemerintahan

  1. 1. WANITA ACEH DALAM PEMERINTAHAN DAN PEPERANGAN disarikan dari buku Wanita Indonesia sebagaï Negarawan dan Panglima Perang karangan A. HasjmyDisadur oleh :Dra. Hj. Emi SuhaimiKetua Komisi Pembinaan WanitaICMI Orwil Daerah Istimewa Aceh ^——~—« /^^^^?^Diterbitkan oleh Dicetak oleh :YAYASAN PENDIDIKAN A. HASJMY CV. GUA Hl RABanda Aceh offset & computer system1993 Banda Aceh
  2. 2. iii RANUP SIGAPU Dalam rangka memperingati genap dua tahun usia Perpus-takaan dan Museurn Yayasan Pendidikan A l i Hasmy, yayasan akanmengadakan suatu kegiatan yaitu Pameran Perjuangan dan Kcpah-lawanan Wanita Aceh secara khusus dan Wanita Indonesia padaumumnya, yang diharapkan pameran yang bermakna itu akan dibukaoleh Menteri Negara Urusan Peranan Wanita, Ibu SulasikinMurpratomo. D i samping itu, yayasan menerbitkan sebuah risalah kecilberjudul "Peranan Wanita Aceh dalam Pemerintahan dan Pepe-rangan", yang penyusunannya dilakukan oleh Sdri. Dra. Hj. EmiSuhaimi, berdasarkan buku Wanita Indonesia sebagai Negarawandan Panglima Perang, karangan prof. A . Hasjmy. Kepada semua pihak yang telah memungkinkan risalahkecil ini terbit, Direktur Perpustakaan dan Museum Yayasan Pen-didikan A l i Hasjmy mengucapkan syukur alhamdulillah dan terimakasih ikhlas. In Tansurullah, Yansurkum wa Yusabbit Aqdaamakum. Banda Aceh, Januari 1993 Salam Takzim, Perpustakaan dan Museum Yayasan Pendidikan A l i Hasjmy Direktur,
  3. 3. V KATA PENGANTAR Pada akhir bulan Januari 1993 yang akan datang, MajelisUlama Indonesia (MUI) Propinsi Daerah Istimewa Aceh akan men-gadakan suatu Muzakarah dengan mengambil topik mengenaiwanita, dan pada waktu yang bersamaan Perpustakaan dan Museumyayasan Pendidikan A l i Hasjmy akan memperingati Ulang Tahunberdirinya yang kedua. Oleh Bapak Prof. A . Hasjmy yang menggagas-kan dan memimpin kedua kegiatan itu bermaksud untuk menerbit-kan sebuah buku kecil mengenai wanita Aceh, yang secara langsungdapat dibaca oleh baik peserta Muzakarah maupun pengunjungUlang tahun Perpustakaan dan Museum. Sehubungan dengan hal tersebut, maka pada suatu haribeliau mcminta saya untuk mau menyadur kembali sebuah tulisan-nya, berupa makalah setebal 69 halaman yang pernah disampaikandi hadapan sebuah forum yang diadakan oleh Yayasan PencintaSejarah di Jakarta pada tanggal 6 Februari 1988, untuk menjadisebuah buku kecil yang bcrisi riwayat singkat sejumlah wanita Acehyang telah berperan dalam pemerintahan dan peperangan di Aceh.Permintaan beliau saya terima dengan senang hati, bukan saja karë-nahal itu merupakan suatu kepercayaan dan penghargaan, dan bukansaja karena kebetulan saya dipercayakan menjabat Ketua KomisiPembinaan Wanita pada pengurus I C M I Orwil Daerah IstimewaAceh, tetapi juga karena saya merasa amat tertarik dengan sejarahperjuangan wanita-wanita Aceh yang telah saya baca dari beberapatulisan tentang itu. Sebanyak 14 orang wanita Aceh yang riwayat singkatnyatercantum dalam buku kecil ini, adalah hasil saduran atau intisariWanita Indonesia sebagai Negarawan dan Panglima Perang dariNaskah tulisan Bapak Prof. A . Hasjmy tersebut di atas.
  4. 4. vi Saya menyadari bahwa saduran ini masih mengalami banyakkekurangan, terutama dalam upaya membuat sebuah uraian yangpanjang menjadi singkat tanpa menghilangkan esensi yang pentingdari padanya. Namun, mudah-mudahan buku kecil ini bermanfaatdalam upaya menambah kepustakaan mengenai wanita Aceh. Pada akhirnya saya mengucapkan terima kasih kepadaBapak Prof. A . Hasjmy atas kepercayaannya. Banda Aceh, 20 Januari 1993 Wassalam Penyadur, Dra. Hj. Emi Suhaimi
  5. 5. vii DAFTARISIRanup Sigapu iiiKata Pengantar vK E D U D U K A N WANITA A C E H DI M A S A L A M P A U 3WANITA A C E H D A L A M P E M E R I N T A I I A N 61. Putri Lindung Bulan 62. Puteri Pahang 83. Ratu Nihrasiyah Rawangsa Khadiyu 114. Ratu Safiatuddin 135. Ratu Naqiatuddin 166. Ratu Zakiatuddin 187. Ratu Kamalat Syah 21WANITA A C E H D A L A M P E P E R A N G A N 241. Laksamana Malahayati 242. Teungku Fakinah 273. CutNyakDhien 304. Cut Meutia 325. Pocut Meurah Intan 346. Pocut Baren 387. Teungku Fakinah 41
  6. 6. 3 K E D U D U K A N WANITA A C E H DI MASA L A M P A U Kerajaan-kerajaan Islam di Aceh pada masa lampau(Perlak, Pasai, Lingga, Daya, dan akhirnya Darussalam)semuanya mengambil Al-Quran dan Al-Sunnah menjadi sum-ber hukumnya. Sesuai dengan ajaran Islam itu, maka kerajaan-kerajaan tersebut telah memberi kepada kaum wanitakedudukan yang sama dengan kaum pria, sehingga karena itubanyak muncul tokoh wanita Aceh, baik sebagai pemimpinpemerintahan maupun sebagai pahlawan dalam peperangan. Dalam kerajaan Aceh Darussalam, dimana ditetapkanIslam sebagai dasar kerajaan dan Al-Quran serta Al-Haditssebagai sumber hukum, maka kedudukan wanita disesuaikandengan ketentuan-ketentuan yang termaktub dalam sumberhukum itu.Al-Quran menegaskan bahwa manusia diciptakan dari sum-ber yang satu, yaitu Adam, baik pria maupun wanita. Dalam
  7. 7. 4Al-Quranul Karim Surah A n Nisa (sarakata Wanita) banyaktersebut masalah mengenai wanita, seperti mengenaikedudukannya yang sama dengan pria, mengenai hak dankewajiban wanita, serta mengenai peranan wanita dalam pem-binaan keluarga. Menurut ajaran Islam, kewajiban pria dan wanitaadalah sama, baik dalam hubungan dengan masalah negaramaupun masalah perang, artinya sama-sama berkewajibanberperang atau berjihad untuk menegakkan agama Allah,membela tanah air, memimpin dan membangun negara,sebagaimana dapat dipahami dari Hadits-Hadits Nabawi. Dalam Kerajaan Aceh Darussalam, hak wanita untukmemegang jabatan-jabatan apa saja dalam kerajaan diakuinya.Demikian pula kewajiban mereka terhadap kerajaan, sepertikewajiban untuk membela dan memajukan kerajaan, olehkarena wanita dipandang sama dengan pria dalam hukumkerajaan. Dalam Kitab SAFINATUL HUKKAM (Bahtera ParaHakim) karangan Ulama Aceh Syekh Jalaluddin Tursani yangdikarang pada tahun 1721 M , jelas difatwakan bahwa pria danwanita mempunyai hak dan kewajiban yang sama dalamkerajaan. Wanita boleh menjadi Raja atau Sultan asalmemenuhi persyaratan yang ditetapkan. Berdasarkan dalil-dalil ayat Al-Quran dan Hadits-Hadits Nabawi, maka kerajaan-kerajaan Islam Perlak, Pasaidan Aceh Darussalam, telah memberi kepada kaum wanita"hak" dan "kewajiban" yang sama dengan kaum pria. Olehkarena itu adalah logis kalau sejarah mencatat sejumlah nama
  8. 8. 5wanita yang telah memainkan peranan yang amat penting ditanah Aceh masa lampau, sejak zaman kerajaan Islam Perlaksampai zaman revolusi kemerdekaan. Berikut ini dikemukakan secara singkat riwayat 7orang negarawan wanita dan 7 orang pahlawan wanita Acehyang telah mengisi lembaran sejarah dunia.
  9. 9. 6 WANITA ACEH DALAM PEMERINTAHAN 1. Puteri Lindung Bulan Puteri Lindung Bulan yang juga disebut Puteri SriKandee Negeri adalah puteri Raja Muda Sedia yang memerin-tah Negeri Benua Tamieng (negara bagian dari Kerajaan IslamPerlak) dalam tahun 735 - 800 H (1353 - 1398 M ) . Sekalipun tidak memegang salah satu jabatan dalampemerintahan, namun di belakang layar, Puteri Lindung Bulantelah membantu ayahnya dalam berbagai urusan kerajaan,yang pada hakekatnya adalah sebagai Perdana Menteri dalampekerjaannya. Ketika angkatan perang Majapahit di bawah pimpinanPatih Nala telah menduduki Pulau Kampey pada tahun 779 H(1377 M ) , lalu mengirim utusan kepada Raja Muda Sedia di
  10. 10. 7kota Masmani untuk meminta agar Negeri Benua Tamiengtunduk kepada Kerajaan Majapahit dan Puteri Lindung Bulandiserahkan kepada Raja Hayam Wuruk sebagai persembahan. Sebagai seorang muslim Raja Muda Sedia menolakpermintaan itu, dan sebagai seorang muslimat sudah tentuPuteri Lindung Bulan tidak mau diserahkan kepada RajaMajapahit yang "bukan Islam". Akibatnya Patih Nalamenyerang Negeri Benua Tamieng dimana terjadi pertem-puran yang hebat di kota Masmani yang dipertahankan olehtentara Benua di bawah pimpinan Lakseumana Kantom Mano.Kota Masmani direbut, Raja Muda Sedia dan permaisurinyamelarikan diri ke kota Peunaron, namun Puteri Lindung Bulanmembiarkan diri ditawan oleh Patih Nala dengan tujuan hanyasebagai suatu siasat. Dengan suatu tipu daya dari Puteri Lindung Bulan,maka beberapa waktu kemudian angkatan perang NegeriBenua dapat merebut kembali kota Masmani yang telah han-cur, dan Puteri Lindung Bulan dibebaskan, setelah serangantiba-tiba tengah malam yang dilakukan oleh Lakseumana Kan-tom Mano. Karena kecewa tidak dapat menaklukkan NegeriBenua dan menyerahkan Puteri Lindung Bulan sebagai per-sembahan kepada Prabu Hayam Wuruk, maka Patih Nalamelanjutkan perang perluasan kerajan Majapahit ke wilayahkerajaan Islam Perlak dan Samudera Pasai. Namun sementaraitu terdengar berita bahwa Prabu Hayam Wuruk meninggaldunia, semangat perang Patih Nala menjadi patah, dan dengantergesa-gesa ia menarik angkatan perangnya dari Perlak danPasai untuk kembali ke Majapahit.
  11. 11. 8 2. Puteri Pahang Tatkala Sultan Iskandarmuda pada tahun 1615menyerang kembali Johor untuk kedua kalinya dan kemudianmemperluas wilayah perlindungannya sampai ke Pahang padatahun 1617 karena kedua kerajaan itu telah bersekongkol de-ngan Portugis, maka sejumlah besar rakyat negeri Pahangditawan dan dibawa ke Aceh, termasuk seorang puteri RajaPahang bernama Puteri Kamaliah yang kemudian dijadikanpermaisuri oleh Sultan Iskandarmuda. Puteri Pahang itu dalam Istana Darud Dunia tidakhanya sebagai Permaisuri Raja, tetapi juga menjadi penasihatbagi suaminya. Ia sangat bijaksana dan menjadi sangat ter-mashur dengan nama Putrou Phang. Salah satu dari nasihat Puteri Pahang yang dilak-sanakan oleh Sultan Iskandarmuda, dan yang mata bersejarah,ialah pembentukan sebuah lembaga yang disebut Balai Majlis
  12. 12. 9Mahkamah Rakyat (semacam D P R sekarang), yang berang-gotakan 73 orang yang mewakili Mukim dalam Kerajaan AcehDarussalam. Untuk mengabadikan jasa dan karya besar PuteriPahang itu, maka semua produk Majlis Mahkamah Rakyatdisebut sebagai produk Puteri Pahang, sebagaimana tercermindalam sebuah Hadih Maja (kata berhikmat) yang berbunyisebagai berikut: Adat bak Poteu Meureuhoom Hukoom bak Syiah Kuala Kanun bak Putrou Phang Reusam bak Lakseumana Hukom ngon adat Lagee zat ngon sifeutHadih Maja tersebut menunjukkan adanya pembagian keku-asaan dalam kerajaan Aceh Darussalam, yaitu :1. Kekuasaan eksekutif (kekuasaan politik/adat) yang berada di tangan Sultan yang disebut Poteu Meureuhoom, yaitu Iskandarmuda yang menciptakan sistim tersebut. (baris 1)2. Kekuasaan yudikatif atau pelaksanaan hukum yang ber- ada di tangan ulama. Karena Syekh Abdurrauf Syiah Kuala merupakan seorang ahli hukum dan Kadli Malikul A d i l yang amat menonjol, maka pelaksanaan kekuasaan yudikatif itu dibangsakan kepadanya yang bergelar Syiah Kuala, (baris 2)
  13. 13. 103. Kekuasaan legislatif (kekuasaan membuat undang-un- dang). Dan kekuasaan ini berada di tangan Dewan Per- wakilan yang dilambangkan oleh Puteri Pahang, karena ialah yang memberi nasihat kepada Iskandarmuda untuk membentuk Balai Majlis Mahkamah Rakyat. (baris 3)4. Peraturan keprotokolan atau reusam diserahkan pada Laksamana/Panglima Angkatan Perang Ach. (baris 4)5. Akhirnya dalam Hadih Maja itu dinyatakan bahwa dalam keadaan bagaimanapun, antara adat, kanun dan reusam tidak boleh dipisahkan dari hukoom (ajaran Islam), sebagaimana tercantum dalam baris 5 dan 6. Hadih Maja itu tetap menjadi filsafat hidup orangAceh, dan tiga nama tetap menjadi ingatan, yaitu : Iskandar-muda, Syekh Abdurrauf Syiah Kuala dan Puteri Pahang. Keberadaan Lembaga Balai Majlis MahkamahRakyat itu terus berlanjut. Pada masa pemerintahan RatuSafiatuddin dan Raja Iskandar Sani, sebanyak 17 orang dari 73orang anggota Balai Majlis Mahkamah Rakyat itu adalahwanita.
  14. 14. 11 3. Ratu Nihrasiyah Rawangsa Khadiyu Ratu Nihrasiyah Khadiyu adalah Sulthanah terakhirdari Kerajaan Islam Samudera Pasai yang memerintah tahun801 - 831 H (1400 - 1428 M), setelah mangkat ayahnya SultanZainal Abidin Malikud Dhahir yang memerintah KerajaanPasai tahun 750 - 798 H (1350 - 1359 M ) . Sultan Zainal Abidin, ayah Ratu Nihrasiyah, mangkatdalam suatu pertempuran perebutan kekuasaan olehpanglimanya Lakseumana Nagur Rabath Abdulkadir Syah,yang kemudian ia dibunuh oleh perwira bawahannya yangbernama Arya Bakoy, yang juga menjabat SyahbandarSamudera Pasai. Arya Bakoy kemudian kawin dengan jandaZainal Abidin, yang berarti menjadi ayah tiri dari Ratu Nih-rasiyah. Sebagai membalas jasa kepada Arya Bakoy yang telahmembunuh pembunuh ayahnya, maka Ratu Nihrasiyah meng-angkat ayah tirinya itu menjadi Perdana Menteri Kerajaan
  15. 15. 12Samudera Pasai dengan gelar Maharaja Bakoy Ahmad Per-mala. Tetapi ternyata kemudian bahwa Arya Bakoy adalahpenganut ajarah Wahdatul Wujudyang telah jauh menyimpangdari ajaran aslinya, dan membunuh orang-orang yang menen-tang ajarannya itu. Menurut ajaran Arya Bakoy, seseorangboleh kawin dengan anak kandungnya sendiri, karena ia sendiriingin kawin dengan putri kandungnya yang cantik bernamaPuteri Madoong Peria. Karena Ratu Nihrasiyah menentang ajaran AryaBakoy yang akan mengawini puteri kandungnya sendiri itu,maka Perdana Menteri Arya Bakoy berusaha merebutkekuasaan dari Ratu Nihrasiyah. Ratu menyuruh menangkapArya Bakoy, dan dalam suatu "perang tanding" dengan MalikMustafa, suami Ratu yang bergelar Pocut Cindai Simpul Alammaka Arya Bakoy tewas. Kerajaan Samudera Pasai di bawah pemerintahanRatu Nihrasiyah mencapai puncak kemajuan. Kalau kakeknya,Sultan Malikus Saleh yang memerintah tahun 659 - 688 H(1261 - 1289 M), adalah pembangun awal dari tamaddun Islamdi Samudera Pasai, maka Ratu Nihrasiyah merupakanpenyempurna pembangunan kerajaan itu, malah pada zaman-nya kerajaan Samudera Pasai mencapai puncak tamaddun,yang menjadi azas kuat bagi tamaddun kerajaan Aceh Darus-salam, setelah pada tahun 1611 M , Kerajaan Islam SamuderaPasai digabungkan ke dalam Kerajaan Aceh Darussalam. Makam Ratu Nihrasiyah yang terletak dalam komplekMakam Raja-Raja Samudera Pasai, merupakan sebuahmakam yang terindah, dengan ukiran kaligrafi ayat-ayat A l -Quran yang bernilai seni tinggi dan mengagumkan.
  16. 16. RATU TAJUL ALAMSAFIATUDDIN
  17. 17. 13 4. Ratu Safiatuddin Setelah Sultan Iskandar Sani wafat, maka atas ke-putusan pembesar negara dan para ulama, dinobatkanlahPuteri Safinah anak Sultan Iskandarmuda Meukuta Alam danyang juga pada waktu itu isteri Sultan Iskandar Sani, menjadiSultanah Kerajaan Aceh Darussalam dengan gelar Sri RatuTajul Alam Safiatuddin. Semenjak berusia 7 tahun, Safiatuddin telah belajarbersama-sama Iskandar Sani (asal dari Negeri Pahang) danputra putri istana lainnya pada ulama-ulama besar sepertiSyekh Hamzah Fansury, Syekh Nuruddin Ar-Raniry, SyekhKamaluddin dan lain-lain yang semuanya adalah guru besarpada Jami Baiturrahman pada waktu itu. Sehingga setelahselesai pendidikannya, Safiatuddin telah mampu menguasaiberbagai ilmu pengetahuan dan berbagai bahasa, yaitu bahasaArab, Persia dan Spanyol, di samping alim dalam ilmu fikh
  18. 18. 14(hukum) termasuk hukum tata negara, ilmu sejarah, mantik,falsafah, tasawuf, sastra dan lain-lain. Setelah masa Iskandarmuda, maka masa pemerin-tahan Ratu Safiatuddin adalah zaman emas ilmu pengetahuandalam kerajaan Aceh Darussalam. Pada masanya banyak mun-cul ulama besar seperti Syekh Nurruddin Ar-Raniry, SyekhAbdurrauf Syiah Kuala, Syekh Jalaluddin Tursany, dan lain-lain. Ia mendorong para ulama dan sarjana mengarang buku-buku dalam berbagai disiplin ilmu, dimana dalammukaddimah buku-buku itu disebutkan bahwa buku itudikarang atas anjuran Ratu Safiatuddin, seperti misalnya bukuHidayatul Iman F i Fadhlil Manan karya Nuruddin Ar-Ranirydan buku Miratuth Thullab karya Abdurrauf Syiah Kuala. Padamasa pemerintahan Ratu Safiatuddin, Nuruddin Ar-Ranirytelah menyelesaikan 30 judul buku, sedangkan Abdurraufmenyelesaikan 10 judul buku dalam berbagai bidang ilmu.Karena itu tidak heran apabila pada masa itu ibukota kerajaanAceh Darussalam menjadi pusat kebudayaan dan ilmu penge-tahuan di Asia Tenggara. D i samping perhatiannya kepada kebudayaan danilmu pengetahuan, Ratu Safiatuddin juga menaruh perhatiankepada kedudukan kaum wanita. Banyak peraturan yangdibuatnya untuk melindungi kaum wanita. Ratu Safiatuddin mempunyai kebijaksanaan dankemampuan yang luar biasa, seperti dikemukakan olehMuhammad Said dalam bukunya "Aceh Sepanjang Abad",antara lain : " Kelebihan TajulAlam dalam kenegaraan terlihat
  19. 19. 15 pula dari kuatnya dukungan para Menteri, orang besar dan para ulama atasnya. Menurut catatan, lembaga kenegaraan Tiga Sagi diadakan oleh Tajul Alam. Dua orang cerdikpandai dan berpengaruh dengan kuat men - dukungnya. Mereka adalah Syekh Nuruddin Ar-Raniry dan Syekh Abdurrauf sendiri. Tampak dengan dukung- an ini tidak ada kekolotan keagamaan dalam mem- benarkan seorang wanita menjadi raja. Kesanggupan dan ketangkasannya tidak beda dengan apa yang dimiliki raja laki-laki. Tajul Alam bukan saja telah berhasil mengatasi ujian berat untuk membuktïkan kecakapannya memerintah tidak kalah dari seorang laki-laki, tetapijuga berhasil mengadakan pembaharu- an dalampemerintahan, memperluaspengertian demo- krasi yang selama ini kurang disadari oleh kaum laki-laki sendiri " Kebesaran Ratu Safiatuddin juga digambarkan dalambermacam-macam hikayat terkenal di Aceh.
  20. 20. 16 5. Ratu Naqiatuddin Ketika ia masih hidup, Ratu Safiatuddin telah mem-persiapkan tiga orang wanita untuk menjadi penggantinya,salah seorang bernama Puteri Naqiah. Sesuai dengan keten-tuan dalam Kanun Al-Asyi atau Adat Meukuta Alam, makasebelum Ratu Safiatuddin dimakamkan, dilantiklah PuteriNaqiah menjadi Raja Aceh pada tanggal 1 Syaban 1086 H (23Oktober 1675 M ) , dengan gelar Seri Ratu Nurul AlamNaqiatuddin, yang memerintah sampai tahun 1678 M . Sejak awal pemerintahannya Ratu Naqiatuddin telahmenghadapi tantangan-tantangan yang besar, baik dari dalammaupun dari luar negeri. Ancaman terhadap kerajaan Acehbertambah hebat dari Barat (Belanda, Portugis, Inggeris) yangmembawa agama Kristen, sementara di dalam negeri "kaumWujudiyah" yang telah menyimpang dari ajaran Islam, ber-usaha meningkatkan oposisinya terhadap Ratu Naqiatuddin
  21. 21. 17dengan melakukan sabotase berupa pembakaran kota BandaAceh. Masjid Raya Baiturrahman dan Istana Seri Sulthan be-serta segala isinya habis musnah dimakan api. Kebakaran diAceh yang maha dahsyat itu turut menggemparkan Malaka,yang memuat peristiwa itu dalam tambo kerajaan pada tahun1677 M . Dalam upaya menekan oposisi "kaum wujudiyah" dankelompok oposisi lain, Ratu Naqiatuddin mengadakan per-obahan-perobahan dalam pemerintahan, antara lain menyem-purnakan Kanun Al-Asyi atau Adat Meukuta Alam, denganpetunjuk-petunjuk Kadli Malikul Adil Syekh Abdurrauf SyiahKuala dan dengan persetujuan Balai Majlis MahkamahRakyat. Perubahan itu antara lain mengenai ketentuan peng-angkatan Sultan dan penyempurnaan Federasi Tiga Sagi yangtelah dibentuk oleh Ratu Safiatuddin. Dalam hubungan itu,maka kedudukan ketiga Panglima Sagi menjadi sangat kuat,dimana merekalah yang memberi kata akhir dalam peng-angkatan atau pemberhentian seorang Sultan. Sabotase dari "kaum Wujudiyah" menyebabkan pe-merintahan Seri Ratu Naqiatuddin tidak berjalan lancar danjuga membawa dampak negatif kepada para Ratu yangmemerintah setelahnya.
  22. 22. 18 6. Ratu Zakiatuddin Ratu Zakiatuddin meninggal pada tanggal 1 Z u l -kaidah 1088 H (23 Januari 1678 M), dan sebelum pemakaman-nya terlebih dahulu dilantik Puteri Zakiyah menjadi SultanahKerajaan Aceh Darussalam dengan gelar Seri Ratu Zakiatud-din Inayat Syah, yang memerintah sampai tahun 1688 M . Puteri Zakiah adalah calon pengganti kedua yang di-persiapkan oleh Ratu Safiatuddin untuk memimpin KerajaanAceh Darussalam. Mereka yang dipersiapkan itu telah dididikdalam istana Darud Dunia dengan berbagai ilmu pengetahu-an : ilmu hukum termasuk hukum tatanegara, sejarah, filsafat,kesusastraan/adab, pengetahuan agama Islam, bahasa Arab,Bahasa Persia, bahasa Spanyol dan bahasa Inggris. (Yang me-ngajarkan bahasa Spanyol dan Inggris adalah seorang wanitaBelanda yang menjadi sekretaris Ratu Safiatuddin). Begitu naik tahta, Ratu Zakiatuddin juga menghadapi
  23. 23. 19tantangan berat, malah lebih berat dari pendahulunya. Hanyakarena pengaruh yang besar dari Kadli Malikul A d i l SyekhAbdurrauf Syiah Kuala, tantangan-tantangan itu dapat di-atasinya. Kebijaksanaan para pendahulunya, baik terhadapV O C maupun terhadap rongrongan "kaum wujudiyah" di-teruskannya. D i Sumatera Barat Ratu Zakiatuddin menunjuk-kan kekuasaannya terhadap V O V dengan menarik kembaliBayang ke dalam wilayah kerajaan Aceh. Sikap tegas demikianitu mendapat sambutan baik dari masyarakat Minangkabau,sehingga menimbulkan kesulitan bagi perwakilan V O C diPadang yang harus menghadapi peperangan yang hebat selamadua tahun dengan rakyat disana. Ketika pemerintahannya pernah datang ke Aceh utus-an Inggeris dan utusan Syarif Mekkah. Utusan Inggeris memin-ta agar diizinkan mendirikan kantor Dagangnya di Aceh ber-sama loji militer, tetapi permintaan itu ditolak dengan maraholeh Ratu. Utusan Syarif Mekkah tiba di Aceh pada tahun 1092H (1681 M ) dan tinggal di Aceh selama satu tahun. Merekakagum akan kemampuan Ratu yang berbicara dalam bahasaArab tanpa memakai jurubahasa serta kagum akan berbagaibangsa yang tinggal di Banda Aceh, yang kebanyakannya parasaudagar. D i antara rombongan Syarif Mekkah itu terdapatdua bersaudara yang bernama Syarif Hasyim dan SyarifIbrahim. Utusan Syarif Mekkah kembali kenegerinya, kecualimereka berdua, yang ternyata kemudian ketika pemerintahanRatu Kamalat Syah keduanya mempelopori perebutan
  24. 24. 20kekuasaan dalam kerajaan. Setelah memerintah 10 tahun lamanya, RatuZakiatuddin meninggal pada 8 Zulhijjah 1098 H (3 Oktober1688 M).
  25. 25. 21 7. Ratu Kamalat Syah Puteri Kamalah, orang ketiga yang telah dipersiapkanoleh Ratu Safiatuddin untuk memimpin pemerintahan keraja-an Aceh Darussalam, dinobatkan pada hari meninggalnyaRatu Zakiatuddin, yaitu sebelum upacara pemakamannya.Puteri Kamalah menjadi Sultanah dengan gelar Seri RatuKamalatuddin Inayah Syah. Meninggalnya Ratu Zakiatuddin dipergunakan seba-ik-baiknya oleh kelompok politisi yang memperalat "kaumwujudiyah" untuk merebut kekuasaan. Karena itu penobatanRatu Kamalat Syah mengalami goncangan. Dalam kelompokorang yang ingin merebut kekuasaan termasuk beberapa oranghulubalang yang merasa telah kehilangan beberapa hak is-timewa mereka sejak pemerintahan Ratu Safiatuddin, yangkarena itu tidak puas dengan pemerintahan seorang Ratu."Kaum Wujudiyah" terus menerus merongrong agar kerajaan
  26. 26. 22tidak boleh lagi dipegangoleh seorang wanita. D i antara tokohyang mempelopori perebutan kekuasaan itu ialah SyarifHasyim, seorang dari Syarif bersaudara yang datang ke Acehbersama-sama dengan Syarif Mekkah kira-kira tujuh tahunsebelumnya. Dalam bukunya "Tarich Raja-Raja Kerajaan Aceh".M . Yunus Jamil melukiskan keadaan pada masa itu sbb : ". diangkatnya Ratu ini (Kamalat Syah) menjadi Sultanah Kerajaan Aceh Darussalam menimbulkan kegoncangan politik, terutama dalam golongan pem besar-pembesar negara. Adagolongan yang mendukun Kamalat Syah dan ada pula yang berupaya supaya Syarif Hasyim Jamalullail diangkat menjadi Sultan dan ada pula yang menghendaki agar Maharaja Lela Abdurrahim, keturunan Maharaja Lela DaengMansur, diangkat menjadi Raja. Dengan kecerdikan dan wewenangnya, Waliyu-Mulki, Mufti Besar Kerajaan Aceh Darussalam, Syekh Abdurrauf Syiah Kuala, kegoncangan itu dapat ditenteramkan kembali. Se Ratu Kamaluddin Syah tetap diangkat menjadi Su tanah Kerajaan Aceh Darussalam". Walaupun tantangan cukup berat dari golonganoposisi, namun Ratu Kamalat Syah, masih memikirkan pem-bangunan kerajaan, termasuk pembangunan ekonomi.Kebijakan Ratu sebelumnya dijalankan terus. Sementarahubungan dengan Belanda semakin meruncing, hubungandengan negara tetangga terus dipelihara. D i samping itubeberapa perjanjian dengan Inggeris yang memberi keuntung-
  27. 27. 23an kepada kerajaan juga dilakukannya (termasuk hal-hal yangdapat melawan operasi V O C Belanda yang terus mengge-rogoti). Pada waktu Ratu Kamalat sedang membangunkerajaan dengan rencana-rencana yang telah disahkan olehBalai Majlis Mahkamah Rakyat, tiba-tiba tangan kanannyayang kuat, Syekh Abdurauf, meninggal dunia. Penggantinyasebagai Kadli Malikul Adil yang baru, tidak cukup kuat untukmenghadapi kaum oposisi yang akan menjatuhkan ratu,terutama dengan isyu tidak boleh diperintah oleh raja wanita.Malah menurut sebuah pendapat, Kadli Malikul A d i l yangbaru itupun menggabungkan diri dengankaum oposisi. Akhir-nya, Ratu Kamalat Syah harus turun tahta, yaitu pada tanggal20 Rabiulawal 1109 H (1699 M ) , dan pada hari itu jugadinobatkan Syarif Hasyim menjadi Sultan Kerajaan AcehDarussalam dengan gelar Sultan Badrul Alam Syarif HasyimJamaluriail. Dan berakhirlah pemerintahan Raja-Raja wanitadalam sejarah kerajaan Aceh. Tujuh tahun setelah turun tahta, Ratu Kamalat Syahmeninggal dunia pada tahun 1116 H (1705 M ) dan dimakam-kan bersama tiga orang Ratu sebelumnya dalam "KandangDua Belas"yang terletak dalam komplek Darud Dunia di kotaBanda Aceh.
  28. 28. 24 WANITA A C E H D A L A M P E P E R A N G A N 1. L a k s a m a n a M a l a h a y a t i Pada waktu Sultan Alaidin Riayat Syah A l Mukamilmemerintah Kerajaan Aceh Darussalam (1589 - 1604 M ) ter-jadilah pertempuran laut di Teluk A r u , antara armada SelatMalaka Aceh dengan armada Portugis. Pertempuran dipimpinoleh Sultan dengan dibantu dua orang Lakseumana. Pertem-puran Teluk Aru berakhir dengan hancurnya armada Portugis,sementara sekitar 1000 orang prajurit dan dua orang laksa- mana Aceh mati syahid. Isteri dari salah seorang Lakseumana itu ialah Lakseumana Malahayati, yang pada waktu itu men-jabat Komandan Protokol Istana Darud Dunia. Sekalipun kemenangan suatu pertempuran menim-bulkan kegembiraan, namun bagi Malahayati, di samping ke-gembiraan, kehilangan suaminya adalah pula suatu kesedihan
  29. 29. Laksamana MALAHAYATI
  30. 30. 25bercampur geram dan marah. Karena itu ia meminta kepadaSultan agar membentuk sebuah Armada Aceh yang prajuritnyaseluruhnya terdiri dari para janda yang suaminya telah syahiddalam pertempuran Teluk Haru itu. Permintaannya dikabulkan, dan terbentuklah ArmadaInong Balee (Armada Wanita Janda) dengan Malahayati seba-gai Panglimanya, dan mengambil Teluk Krueng Raya sebagaipangkalan armada tersebut. Ketika muda, Malahayati mendapat pendidikanmiliter pada Pusat Pendidikan tentera Aceh yang bernamaPusat Pendidikan Asykar Baital Makdis, yang dilatih oleh paraperwira dari Turki, dalam rangka kerja sama antara Turkidengan kerajaan Aceh Darussalam. Darah pelaut telah tumbuh dalam dirinya dari ayahdan kakeknya. Dalam pendidikan itulah ia bertemu dengansuaminya, dan menikah. Setelah selesai pendidikan, suaminyaterus mengembangkan karir di laut, sementara ia menjadikomandan protokol istana, sampai ia diangkat menjadipanglima armada Inong Balee. Peristiwa Houtman bersaudara telah mengangkatderajat Laksamana Malahayati ke puncak kegemilangan. A r -mada Inong Balee yang diperlengkapi dengan 100 buah kapalperang dan meriam-meriam, pada waktu itu merupakansebuah armada yang kuat di Samudera AsiaTenggara. Armadakapal perang Belanda yang menyamar sebagai armada dagangyang dipimpin oleh Houtman bersaudara (Cornelis danFrederijk), yang memasuki pelabuhan Banda Aceh danditerima bersahabat, ternyata berkhianat terhadap keperca-
  31. 31. 26yaan Sultan dengan membuat manipulasi dagang, mengadakanpengacauan, menghasut, dan sebagainya. Sultan memerintah-kan Malahayati menyelesaikan persoalan itu. Dalam pertem-puran dengan kapal perang Belanda, Cornelis de Houtmanmati ditikam Malahayati dan Frederijk ditawan. Laksamana Malahayati bukan saja seorang panglimaarmada perang, tetapi juga seorang negarawan. Ketika negeriBelanda berusaha memperbaiki hubungan dengan kerajaanAceh, datanglah utusan Belanda dengan membawa surat is-timewa dari Prins Maurits, pemimpin negeri Belanda padawaktu itu. Untuk melakukan perundingan ditunjuk Malahayatioleh Sultan, dan ternyata memberikan hasil yang gemilang,antara lain dibukanya kedutaan Aceh di negeri Belanda de-ngan Duta Besar pertama Abdul Hamid. Demikianlah profil seorang wanita Aceh yang hiduppada abad ke-17, di samping seorang panglima yang gagahberani, juga seorang diplomat yang cakap.
  32. 32. 27 2. Teungku Fakinah Selama perang Aceh melawan Belanda pada akhirabad ke-19 banyak sekali muncul pahlawan wanita, salahseorang di antaranya ialah Teungku Fakinah. Tetapi ia bukanhanya seorang pehlawan perang yang berani, melainkan jugaseorang pendidik dan ulama. Sebelum Perang TeungkuFakinah membuka sebuah dayah (pesantren), ketika zamanperang ia tampil sebagai panglima perang yang diseganimusuh, dan setelah kembali dari medan perang beliau kembalimuncul sebagai ulama dan pendidik yang bekerja keras mem-bangun kembali pendidikan pada pesantrennya yang porakporanda karena peperangan. Ayah Teungku Fakinah adalah seorang pejabat tinggikerajaan (umara) dan ibunya adalah anak seorang ulama besar,yang juga menjadi ulama. Karena itu tidak heran kalauTeungku Fakinah menjelma menjadi seorang panglima perangdan ulama besar.
  33. 33. 28 Ketika kecil dan remaja, Teungku Fakinah mendapatpendidikan Islam dan membaca Al-Quran dari ibunya, sertabelajar kerajinan tangan dan ilmu-ilmu agama, ia juga pernahmendapat pendidikan militer menjelang pecahnya perangAceh. Setelah dewasa, Fakinah bersuamikan seorang per-wira juga ulama bernama Teungku Ahmad, yang keduanyasebelum pecah perang mengajar pada Dayah Lampucok yangdibangun oleh ayah Fakinah. Teungku Ahmad, suami Fakinah, mati syahid dalamperang, dan sejak itu Teungku Fakinah berusaha untuk mem-bentuk sebuah pasukan tentara setingkat Resimen (yang di-sebut Sukey). Atas persetujuan Sultan terbentuklah SukeyFakinah yang terdiri atas 4 batalyon (balang), dimana beliausendiri menjadi panglimanya. Salah satu dari keempat batalyondalam Sukey Fakinah itu, seluruh prajuritnya terdiri atas kaumwanita, sementara komandan-komandan kompi dan Regupada batalyon-batalyon lain adalah juga dipimpin oleh wanita.Beliau ikut bertempur di berbagai medan perang dalamwilayah Aceh Besar, dan setelah lewat 10 tahun perang beliauturut bergerilya di pedalaman dengan beberapa pemimpinAceh, termasuk bersama Sultan Muhammad Daud danTuangku Hasyim Banta Muda. Salah satu peranan Teungku Fakinah yang perludicatat ialah, upayanya untuk menyadarkan T. Umar, suamikawan dekatnya Cut Nyak Dhien, untuk kembali ke pihakAceh. Kepada teman dekatnya itu beliau mengirim surat,yang antara lain isinya sbb :
  34. 34. 29 "Saya harap kepada Cutnyak agar menyuruh suami Cutnyak, T. Umar, untuk memerangi wanita-wanita yang sudah siap menanti di Kuala Lamdiran (maksud- nya Resimen Fakinah), sehingga akan dikatakan orang bahwa dia adalah panglima yang berani, johan pah- lawan seperti yang digelarkan oleh musuh kita Belanda Isi surat itu sangat menyegat perasaan Cut NyakDhien, dan mendorongnya untuk berusaha menyadarkan kem-bali suaminya. Lewat Do Karim, Cut Nyak Dhien mengirimpesan kepada suaminya, yang antara lain berbunyi: "Apalagi Pang Karim, sampaikan kepada Teuku Umar, bahwa Teungku Fakinah telah siap sedia menanti kedatangan Teuku Umar di Lamdiran. Sekarang barulah dinilai perjuanganmu cukup tinggi pria lawan wanita, yang belum pernah terjadi pada masa nenek moyang kita. Kafir sendiri segan memerangi wanita. Karena itu, Teuku didesak berbuat demikian. Sudah dahulu kuperingatkan : janganlah engkau menyusu pada badak ". Pesan Cut Nyak Dhien sangat menyentuh hati TeukuUmar, dan tidak berapa lama kemudian maka Teuku Umarkembali kepada bangsanya dengan membawa alat persenja-taan Belanda yang cukup banyak. Demikianlah, maka kemudian dalam umur yang cu-kup tua, seorang pahlawan dan ulama besar Teungku Fakinahberpulang kerahmatullah pada tanggal 3 Oktober 1933, dandimakamkan di Lamdiran di tempat kelahirannya.
  35. 35. 30 3. Cut Nyak Dhien Cut Nyak Dhien adalah seorang wanita Aceh yangtelah menjadi pahlawan Nasional, karena memang dalamtubuhnya bersemi semangat pahlawan yang luar biasa. Ketikamasih bayi telah didendangkan ketelinganya dengan lagu-laguyang dapat menanamkan semangat kepahlawanan. Ayahnyamenceritakan kepadanya kehebatan para wanita Aceh di masalalu, sehingga setelah ia tumbuh menjadi dewasa seperti telahditakdirkan untuk menjadi srikandi, pahlawan bangsa. Cut Nyak Dhien adalah puteri seorang uleebalangberdarah pahlawan, bernama Teuku Nanta Setia, penguasa V IMukim Peukan Bada. Neneknya juga seorang bangsawan,Teuku Nanta Syekh, yang sangat dipercayai oleh Sultan Aceh! Suami Cut Nyak Dhien yang pertama ialah TeukuIbrahim dari Lam Nga, Montasik, seorang pahlawan yang sa-ngat ditakuti Belanda, yang syahid pada tahun 1873 setelah
  36. 36. CUT NYA DHIEN
  37. 37. 31 hanya baru lima tahun menikah dengan Cut Nyak Dhien, dan meninggalkan seorang putri bernama Cutnyak Gambang. Setelah beberapa tahun Cut Nyak Dhien menjanda,maka ia dipinang oleh seorang panglima muda, Teuku Umar,yang kebetulan cucu dari kakek Cut Nyak Dhien sendiri, TeukuNanta Syekh. Pada mulanya Cut Nyak Dhien menolak pinanganTeuku Umar, tetapi atas desakan keluarga ia bersedia menjadiisteri Teuku Umar dengan syarat bahwa ia tidak lagi menjadiisteri penjaga rumah, tetapi dibolehkan ikut perang bersamasuaminya dan pejuang-pejuang lainnya, yang hal itu disetujuioleh Teuku Umar. DemikianJah, semenjak setelah perkawin-annya, Cut Nyak Dhien terus berada di medan perang, me-lawan musuh untuk mempertahankan tanah airnya. Setelah Teuku Umar mati syahid di Meulaboh, makapimpinan perang diambil alih olehnya. Bertahun-tahun ia ber-jihad dalam hutan, berpindah dari satu lembah ke lembah yanglain, sampai kemudian matanya buta. Akhirnya pada tanggal 4 Nopember 1905, Cut NyakDhien, ditawan oleh pasukan Belanda di bawah pimpinanLetnan V a n Vuuren. Dalam keadaan tertawan dan buta CutNyak Dhien masih tetap mengomandokan perang dari kamptawanan di Banda Aceh. Kemudian beliau diasingkan ke tanahJawa, dan di Sumedang Jawa Barat beliau wafat pada tanggal6 Nopember 1908. Perjuangan Cut Nyak Dhien telah diabadikan alambeberapa buku, dan dalam film kolosal berjudul namanya: CutNyak Dhien.
  38. 38. 32 4. Cut Meutia Seperti halnya Cut Nyak Dhien, pejuang wanita AcerCut Meutia adalah pahlawan nasional, yang telah ditetapkaroleh pemerintah karena perjuangannya yang luar biasa dalarrmempertahankan tanah air dari penjajahan Belanda. Seperti halnya Cut Nyak dhien, Cut Meutia juga mem-punyai dua suami yang keduanya mati syahid sebagai panglimaperang. Bedanya ialah, kalau Cut Nyak Dhien ditawan Belandadan dibuang ke luar daerah, maka Cut Meutia mati syahiddalam medan perang dalam usia terlalu muda, 30 tahun (1880-1910 M ) . Orang tua Cut Meutia adalah Teuku Ben Daud, dandarah bangsawan yang kesatria dan ulama yang bersemangatjihad telah mengalir dalam dirinya dari moyang Teuku BenDaud sendiri yang hidup sekitar 400 tahun sebelum Cut Meutialahir, yaitu seorang tokoh bangsawan yang ulama, yang erat
  39. 39. CUT MEUTIA
  40. 40. 33hubungannya dengan istana Darud Dunia di Banda Aceh, yangbernama Tok Bineh Blang. Disamping itu Cut Meutia di-lahirkan dalam suasana perang (7 tahun setelah pecah perang),dimana ibunya senantiasa mendendangkan lagu-lagu yangmenggelorakan semangat. Mula-mula ia dikawinkan dengan Teuku Syamsyarifyang tidak dicintainya dan yang segera bercerai. Kemudianmenikah dengan Teuku Cut Muhammad yang juga seorangpejuang dan panglima perang. Setelah suaminya mati syahid,atas wasiat suaminya itu Cut Meutia kawin dengan PangNanggrou, seorang pahlawan yang menjadi wakil suaminyaTeuku Cut Muhammad, dan terus melanjutkan perjuangansuaminya yang telah syahid itu. Akhirnya Cut Meutia menjadijanda untuk kedua kalinya, setelah Pang Nanggrou syahid pulapada 26 September 1910, dan sebulan kemudian, 25 Oktober 1910, Cut Meutia syahid pula. Cut Meutia meninggalkanseorang putra dari suaminya Teuku Cut Muhammad, yangdiberi nama T. Raja Sabi.
  41. 41. 34 5. Pocut Meurah Intan D i Desa Tegal Sari, Blora, di bawah kesejukan pepo-honan yang rimbun merindang, berbaringlah jasad seorangpahlawan wanita, Pocut Meurah Intan, yang ditawan Belandadalam perang kolonial di Aceh. Bersama puteranya TuankuNurdin dan pembantunya Pang Mahmud, Pocut Meurah Intanyang tubuhnya telah dikoyak-koyak oleh peluru musuh, ber-semedi di Tegal Sari, jauh dari bumi kelahirannya, sejaktanggal 28 September 1937 sebagaimana tertulis pada batunisannya (menurut surat Gubernur Jawa Tengah kepadaGubernur Jenderal di Bogor, bahwa beliau meninggal padatanggal 19 September 1937). Pocut Meurah Intan adalah puteri seorang bangsawanyang turut berjuang melawan tentera kolonial Belanda.Suaminya seorang turunan Sultan Aceh, bernama TuankuAbdul Majid bin Tuanku Abbas bin Sultan Alaidin Jauhar Syah
  42. 42. CUT MEURAH INSEN
  43. 43. 35Alam yang memerintah Aceh selama 28 tahun. Dari suaminyaPocut Meurah Intan mendapat putrera tiga orang, semuanyamenjadi pahlawan perang Aceh, yaitu Tuanku Budiman,Tuanku Muhammad dan Tuanku Nurdin. Pocut Meurah Intanadalah "ibu tiri" dari permaisuri Sultan Alaidin MuhammadDaud Syah, Sultan terakhir dari kerajaan Aceh, yang setelahditawan Belanda pada tahun 1903, lalu dibuang ke Ambon darkemudian dipindahkan ke Batavia, dan meninggal disana. Tentang bagaimana keperkasaan dan semangat juangmempertahankan tanah air yang menggelora dalam tubuh pah-lawan wanita Pocut Meurah Intan, dengan panjang lebar telahditulis oleh seorang wartawan dan pengarang Belanda ter-kenal, H . C . Zentgraaff, dalam bukunya A T J E H . Berikut ada-lah beberapa kutipan dari buku tersebut. "Veltman yang terkenal dengan sebutan Tuan Pedoman, seorang perwira yang baik had, pernah me- ngenai seorang wanita Aceh turunan bangsawan, namanya Pocut Meurah Intan. Wanita itu disangka menyembunyikan sebilah keiewang di dalam lipatan kainnya. Tiba-tiba ia mencabut rencongnya dan dengan meneriakkan : "Kalau begitu biarlah kau mati syahid iapun menyerbu brigade. Anggota-anggota pasukan nampaknya kurang bemafsu untuk bertempur dengan seorang wanita yang berlaku sebagai singa betina, yang menikam kekiri dan kekanan, dan sebentar kemudian wanita itupun jatuh terbaring di tanah " "Ia mengalami luka-luka parah; ia memperoleh dua buah tatakan di kepalanya dan dua buah di bahunya,
  44. 44. 36sedang salah satu urat ketingnya putus. Ia terbaring ditanah, penuh dengan darah dan lumpurlaksanasetum-puk daging yang dicencang-cencang. Seorang sersanyangmelihatnya, dengan perasaan penuh belas kasihanberkata kepada komandannya : Bolehkah saya meiepas-kan tembakan pelepas nyawanya?, yang dibentak Veltmadengan: Apa kau sudah gila? Lalupasukan meneruskanperjalanannya. Mereka menginginkan agar wanita itumeninggal di tangan bangsanya sendiri". Beberapa haritelah berlalu, ketika Veltman berjalan-jalan di kedaiBiheu (dekat Padangtiji) disana ia mendengar bahwaPocut Meurah Intan bukan saja masih hidup, tetapibahkan ia mempunyai rencana hendak membunuhpenduduk kampung yang telah menyerah kepadaBelanda.Untuk mengetahui hal itu yang sebenarnya, Veltmanmemerintahkan untuk menggeledah rumah-rumah dikampung. Setelah dicari dalam setiap rumah dalam artikata yang sebenarnya, ditemuilah wanita itu tubuhnyadibalut dengan bermacam-macam kain dan kelihatan-nya menyedihkan sekali. Pada luka-lukanya itu disa-pukan setumpuk kotoran sapi. Keadaannya lemah se-bab banyak kehilangand arah dan tubuhnya menggigil;ia mengerang karena kesakitan.Walaupun begitu ia tetap menolak bantuan dokter,lebih baik mati daripada tubuhnya dijamah seorang"khapee". Veltman yang sangatpasih berbahasa Aceh,lama berbicara dengan wanita itu dengan cara yang
  45. 45. 37 amat hormat, sesuai dengan kedudukannya. Akhirnya ia menerima juga bantuan serdadu itu yang ditolaknya dari seorang dokter. Orang-orang Aceh sangat sportif; serdadu-serdadu dari semua negara dan keturunan dapat sama-sama harga-menghargai, wanita itu mem- biarkan dirinya dirawat oleh Veltman, dia membersih- kan luka-lukanya yang berulat, kemudian membalut- nya baik-baik " Demikianlah sekilas gambaran dari perjuangan dankeberanian pahlawan Pocut Meurah Intan.
  46. 46. 38 6. Pocut Baren Dalam tahun-tahun Revolusi fisik 1945, di Aceh di-bentuk satu lasykar rakyat yang sangat kuat persenjataannyadan amat tangguh organisasinya, bernama Divisi Rencong, dibawah pimpinan A . Hasjmy dan Nyak Neh Lhoknga. DalamDivisi Rencong itu terdapat satu resimen Putri yang terdiri darigadis remaja, bernama Resimen Pocut Baren, yang dibentukpada tahun 1946, yang merupakan lasykar wanita pertama diSumatera, dan mungkin di Indonesia. Kepahlawanan PocutBaren telah diangkat menjadi nama resimen tersebut. Pocut Baren adalah Puteri Teuku Cut Ahmad, Ulee-balang Tungkop, lahir dalam kancah perang, tahun 1880.Darah kepahlawanan dari ayahnya mengalir ke dalam tubuhPocut Baren. Dalam usia muda (7-14 tahun) ia selalu meng-ikuti ayahnya dalam berbagai medan perang di Aceh Barat,sehingga asap mesiu, dentuman meriam dan gemerincingkeiewang tidaklah asing bagi remaja puteri itu.
  47. 47. 39 Setelah usia dewasa, Pocut bersuamikan seorang Kej-ruen, yang menjadi Uleebalang Geume, di samping sebagaipanglima perang di Woyla. Setelah suaminya syahid, Pocutmenggantikan kedudukan suaminya, baik sebagai Uleebalangmaupun sebagai panglima perang, dan terus melakukan per-lawanan terhadap Belanda sambil dengan bijaksana memim-pin pemerintahan di daerahnya. Waktu ia masih berusia sekitar18 tahun, seorang janda yang luar biasa. Pocut membangun sebuah benteng di "Gua GunongMacang" yang menjadi markasnya, yang dari tempat itu iamelakukan gerilya dengan menyerang tiba-tiba pasukanpatroli Belanda. Setiap kali patroli Belanda melewati wilayahmarkasnya, selalu Belanda terpaksa kembali dengan raem-bawa mayat serdadunya. Atas perintah Kapiten Heidens, Letnan Scheuler darikesatuan Kuala Batee, Meulaboh, berkali-kali menyerang"Gunong Macang", tetapi tidak berhasil, sampai akhirnya ia(setelah mendapat persetujuan dari Kutaraja) membakarGunong Macang dengan 2000 liter minyak tanah sehinggaKuta Gunong Macang menjadi lautan api. Akibatnya banyakyang mati, baik dari pasukan Pocut Baren maupun juga dariserdadu marsose yang terjebak dalam gua. D i antara mayat-mayat yang ditemukan ialah mayat Teuku Cut Ahmad, ayahPocut Baren. Adapun Posut Baren sendiri dapat menerobospasukan marsose yang mengawal di pintu gua melalui suatupertempuran yang sangat dahsyat. Setelah bebas dari "NerakaGunong Macang" Pocut membangun kubu pertahanan baru,yang tidak lama kemudian ia telah menyerang pasukanSchleuler di Tanoh Mirah, pos Belanda yang telah diperkuatdengan pasukan dari Meulaboh, Kutaraja dan dari Betawi.
  48. 48. 40 Dalam suatu pertempuran yang berkecamuk sejakpagi buta sampai sore hari, kaki Pocut Baren tertembak, danbeliau ditawan karena tidak sempat dibawa lari oleh pasukan-nya. Beliau dibawa ke Meulaboh dan kemudian ke Kutaraja.Kakinya yang telah hancur kena pecahan peluru itu terpaksadipotong, dan menjadi cacat. Jenderal van Daalen yang telah menjadi GubernurMiliter Aceh, telah menetapkan untuk membuang PoculBaren ke tanah Jawa, tetapi seorang perwira Belanda, KaptenVeltman, yang telah mempelajari adat istiadat Aceh memberiadvis agar Pocut Baren tidak dibuang ke luar Aceh, sebabrakyat akan bertambah marah dan semangat perang merekaakan bertambah menyala. Akhirnya, Pocut Baren yang tidak jadi dibuang ketanah Jawa, dan kaki kanannya yang cacat itu, menikah denganTeuku Muda Rasyid, dan menetap di Tungkop sebagai Ulee-balang Tungkop dan Geume. Pada tanggal 9 September 1912, Kapten Veltman ber-sama Letnan Gosensons datang ke Tungkop menemui PocutBaren yang masih marah, untuk meminta maaf kepada PocutBaren. Setelah berjihad sejak masih amat muda dengan tidakmengenai lelah, setelah ditawan sebagai orang yang tidakmempunyai kaki sebelah, dan setelah memimpin pemerin-tahan di Tungkop dan Geume dengan berhasil, maka padatahun 1933, dalam usia 53 tahun, pahlawan wanita dari Aceh,Pocut Baren, meninggal dunia, dan meninggalkan nama yangharum sepanjang masa.
  49. 49. 41 7. Teungku Fatimah Seperti telah dikemukakan pada bagian terdahulubahwa setelah Pang Nanggrou, suami Cut Meutia, mati syahidpada tanggal 24 September 1910, maka Cut Meutia melanjut-kan perang grilya bersama putranya yang masih kecil, TeukuRaja Sabi. Namun Cut Meutia pun syahid sebulan kemudian,maka perjuangannya dilanjutkan oleh para panglima bawahan-nya, salah seorang di antaranya ialah Teungku Cutpo Fatimah,yang berjuang bersama suaminya Teungku di Barat. Teungku Fatimah adalah anak Teungku Khatim se-orang ulama. Teungku Fatimah dan Teungku di Barat(suaminya) adalah sama-sama murid dari Teungku Khatim. Teungku di Barat dan Teungku Fatimah adalahPanglima-panglima dari pasukan Cut Meutia-Pang Nanggrou.Seperti pahlawan wanita lainnya yang telah dibicarakan,Teungku Fatimah pun berperang di medan laga dengan gagah
  50. 50. 42berani, bahu membahu dengan suaminya dan pejuang yanglain. Pertempuran antara lain berlangsung di hutan Pasai,di mana di tempat itu di dalam suatu pertempuran yang sangatsengit, Teungku Fatimah dan suaminya teungku di Barat matisyahid bertindih mayat dengan disaksikan kayu-kayuperawan hutan Pasai dan diratapi kicauan burung-burungrimba. Itu terjadi pada tanggal 22 Pebruari 1912.

×