Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Kodifikasi al qur’an

3,653 views

Published on

  • Be the first to comment

Kodifikasi al qur’an

  1. 1.  Kodifikasi atau pengumpulan Al-Qur’an telah dimulai sejak zaman Rosulullah SAW, bahkan telah dimulai sejak masamasa awal turunnya Al-Qur’an. Sebagaimana diketahui, Al-Qur’an diwahyukan secara berangsur-angsur. Setiap kali menerima wahyu, Nabi SAW lalu membacakannya di hadapan para sahabat karena ia memang diperintahkan untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada mereka.
  2. 2.   Disamping menyuruh para sahabat menghafalkan ayat-ayat yang diajarkannya, Nabi SAW juga memerintahkan para sahabat yang pandai menulis untuk menuliskannya diatas pelepah-pelepah kurma, lempenganlempengan batu, dan kepingan-kepingan tulang. Setelah ayat-ayat diturunkan cukup satu surah , Nabi SAW memberi nama surah tersebut untuk membedakannya dengan surah yang lain. Nabi SAW juga memberi petunjuk tentang urutan penempatannya di dalam susunan AlQur’an juga dilaksanakan berdasarkan petunjuk Nabi SAW.
  3. 3.  Untuk menjaga kemurnian Al-Qur’an dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim, setiap tahun malaikat Jibril datang kepada Nabi SAW untuk memeriksa bacaannya. Bahkan pada masa tahun wafatnya Nabi SAW malaikat Jibril datang dua kali. Malaikat Jibril mengontrol bacaan Nabi SAW dengan cara menyuruhnya mengulangi bacaan ayat-ayat yang telah diwahyukan. Kemudian Nabi SAW sendiri juga melakukan hal yang sama, yaitu mengontrol bacaan para sahabat sehingga dengan demikian terpeliharalah Al-Qur’an dari kesalahan dan kekeliruan.
  4. 4.  Pada masa Nabi SAW para sahabat yang telah menghafal seluruh isinya dengan lancar adalah ; Abu Bakar Sidiq, Umar bin Khatab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Talhah, Sa’ad, Huzaifah, Abu Hurairah, Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Umar bin Khatab, Abdullah bin Abbas, Amru bin Ash, Muawiyah bin Abu Sufyan, Abdullah bin Zubair, Aisyah binti Abu Bakar, Hafsah binti Umar, Ummu Salamah, Ubay bin Kaab, Muaz bin Jabal, Zaid bin Sabit, Abu Darda dan Anas bin Malik.
  5. 5.  Adapun sahabat-sahabat yang menjadi juru tulis wahyu antara lain, Abu Bakar Sidiq, Umar bin Khatab, Usman bin Affan, Ali bin Abu Thalib, Amir bin Fuhairah, Zaid bin Sabit, Ubay bin Ka’ab, Muawiyah bin Abu Sufyan, Zubair bib Awaam, Khalid bin Walid, dan Amru bin Ash. Tulisan ayat-ayat Al-Qur’an yang ditulis oleh mereka disimpan di rumah Rasulullah SAW. Mereka pun masing-masing menulis untuk disimpan sendiri. Walaupun demikian, tulisan-tulisan itu belum dikumpulkan dalam satu mushaf (sebuah buku yang terjilid seperti dijumpai sekarang) melainkan masih berserakan.
  6. 6.  Setelah Rasulullah SAW wafat dan Abu Bakar dipilih menjadi khalifah, tulisan-tulisan AlQur’an yang berserakn pada pelepah-pelepah kurma, tulang-tulang binatang, dan batu-batu tetap disimpan di rumah Rasulullah SAW sampai terjadinya perang Yamamah yang merenggut korban kurang lebih tujuh puluh sahabat penghafal Al-Qur’an. Karena banyak sahabat penghafal Al-Qur’an yang gugur sebagai syuhada, timbul kekhawatiran di kalangan sahabat akan terjadinya perang lagi dan punahnya sahabat-sahabat penghafal Al-Qur’an yang pada akhirnya akan menyebabkan hilangnya Al-Qur’an.
  7. 7.   Umar bin Khatab lalu menyarankan kepada khalifah Abu bakar agar menghimpun surahsurah dan ayat-ayat yang masih berserakan itu kedalam satu mushaf. Pada mulanya Abu Bakar berat menerima usulan Umar karena pekerjaan seperti itu belum pernah dikerjakan oleh Rasulullah SAW. Setelah Umar meyakinkan Abu Bakar bahwa pekerjaan kodifikasi (pengumpulan) Al-Qur’an semata-mata untuk memelihara kelestarian Al-Qur’an, barulah ia menyetujuinya.
  8. 8.   Abu Bakar lalu memrintahkan Zaid bib Tsabit untuk memimpin tugas kodifikasi ini dengan dibantu oleh Ubay bin Ka’b, Ali bin Abu Thalib, usman bin Affan, dan beberapa sahabat lainnya. Meskipun Zaid bin Sabit seorang penghafal AlQur’an dan banyak menuliskan ayat-ayat di masa Nabi SAW, ia tetap sangat berhati-hati dalam melakukan pengumpulan ayat-ayat Al-Qur’an itu. Di dalam usaha kodifikasi ini, Zaid bin Sabit berpegang pada tulisan-tulisan yang tersimpan di rumah Rasulullah SAW, hafalan-hafalan dari para sahabat, dan naskah-naskah yang ditulis oleh para sahabat untuk mereka sendiri.
  9. 9.   Zaid bin Sabit menghimpun surah-surah dan ayat-ayat Al-Qur’an sesuai dengan petunjuk Rasulullah SAW sebelum wafat dan menulisnya di atas lembaran-lembaran kertas yang disebut suhuf-suhuf. Suhuf-suhuf itu lalu disusun menjadi satu mushaf dan kemudian diserahkan kepada Abu Bakar. Mushaf ini tetap disimpan Abu Bakar sampai ia wafat. Ketika Umar menjabat khalifah, mushaf itupun berada dalam pengawasannya. Setelah umar Wafat mushaf itu disimpan di rumah Hafsah, putrinya, yang juga istri Rasulullah SAW.
  10. 10.  Pada masa khalifah Usman bin Affan, timbul perbedaan pendapat di kalangan umat Islam mengenai soal kira’ah (cara membaca AlQur’an). Perbedaan pendapat ini mulanya disebabkan sikap Rasulullah SAW yang memberi kelonggaran kepada kabilah-kabilah Arab yang ada pada masa itu untuk membaca dan melafalkan Al-Qur’an menurut lahjah (dialek) mereka masing-masing. Kelonggaran ini diberikan oleh Nabi SAW dengan maksud agar mereka mudah menghafal Al-Qur’an.
  11. 11.  Akan tetapi dalam perkembangan Islam kemudian, terutama setelah bangsa-bangsa yang memeluk Islam makin beragamsebagai akibat dari bertambah luasnya daerah Islam, cara membaca Al-Qur’an pun menjadi lebih bervariasi sesuai dengan dialek masingmasing. Hal inilah yang menimbulkan perselisihan masalah kira’ah. Masing-masing kabilah menganggap dialeknyalah yang paling benar dan yang lain salah.
  12. 12.  Sahabat yang mula-mula menanggapi secara serius adanya pertikaian dalam masalah kira’ah adalah Huzaifah bin Yaman. Huzaifah lalu mengusulkan kepada khalifah Usman agar menetapkan aturan penyeragaman bacaan Al-Qur’an dengan mushaf Al-Qur’an standar yang kelak akan dijadikan pegangan bagi seluruh umat Islam di berbagai wilayah.
  13. 13.  Alasan yang dikemukakan Huzaifah ialah untuk menghindari terjadinya perselisihan di kalangan umat Islam karena perbedaan bacaan Al-Qur’an mereka. Menanggapi usul Huzaifah, Usman lalu membentuk satu lajnah (panitia) yang terdiri atas Zaid bin Sabit sebagai ketua dan anggotanya adalah Abdullah bin Zubair, Sa’id bin Ash dan Abdurrahman bin Haris. Kemudian Usman meminjam Mushaf Al-Qur’an yang tersimpan di rumah Hafsah dan memberikannya kepada panitia yang telah terbentuk.
  14. 14.  Tugas utama lajnah adalah menyalin mushaf itu kedalam beberapa naskah sambil meyeragamkan dialek yang digunakan, yaitu dialek Quraysi. Setelah tugas itu panitia selesai, Usman mengembalikan Mushaf yang telah disalin itu kepada Hafsah. Al-Qur’an yang telah disalin dengan dialek yang seragam di masa itulah yang disebut mushaf Usmani. Semuanya berjumlah lima buah. Satu mushaf disimpan di Madinah, yang kemudian dikenal dengan mushaf al-Imam. Empat lainnya dikirim ke Mekkah, Suriah, Basra dan kufah untuk disalin dan diperbanyak.
  15. 15.  Selanjutnya Usman memerintahkan agar mengumpulkan semua tulisan Al-Qur’an selain dari Mushaf Usmani untuk dimusnahkan dan hanya boleh menyalin dan memperbanyak tulisan Al-Qur’an dari mushaf yang resmi yakni Mushaf Usmani.  Usaha kodifikasi Al-Qur’an pada masa Usman membawa beberapa keuntungan, antara lain; ◦ Menyatukan umat Islam yang berselisih dalam masalah kira’ah ◦ Menyeragamkan dialek bacaan Al-Qur’an ◦ Menyatukan tertib susunan surah-surah menurut tertib urut seperti dalam mushaf-mushaf yang dijumpai sekarang

×