Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

6 tesis bab v

431 views

Published on

Pembelajaran Fiqih di Madrasah Pondok Pesantren (Studi Kasus di Madrasah Tsanawiyah Nurul Huda Sukaraja OKU TIMUR)

Published in: Education
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

6 tesis bab v

  1. 1. Bab 5 SIMPULAN Simpulan Berdasarkan hasil analisis melalui tahapan reduksi, penyajian, dan verifikasi data dapat ditarik kesimpulan berikut: 1. Pembelajaran Fiqih di Madrasah Tsanawiyah Nurul Huda Sukaraja dilaksanakan di kelas sekolah pagi, kelas diniyah sore, dan menyediakan asrama. Siswa sebagai input pembelajaran mempunyai karakteristik di antaranya siswa perempuan lebih banyak dari siswa laki-laki, siswa berprestasi didominasi oleh siswa perempuan, usia kronologis siswa antara 11-16 tahun, tidak ada siswa yang memiliki cacat tubuh, minat dan motivasi beragam, tingkat ekonomi keluarga termasuk menengah ke bawah, etnis beragam yang datang dari berbagai daerah, siswa berasal dari lingkungan pedesaan daerah pertanian dan perkebunan, siswa lulusan SD lebih banyak dari lulusan MI, dan sedikit yang mengikuti TPA. Pada komponen process, ada perencanaan tertulis untuk kelas pagi, sedangkan kelas sore dan kegiatan malam tidak ada perencanaan tertulis. Tujuan pembelajaran adalah agar siswa mampu mengamalkan ketentuan hukum Islam dalam beribadah sesuai paham Ahlussunnah Waljamaah berdasarkan kajian kitab- kitab klasik. Pendidik pembelajaran telah memenuhi standar kualifikasi akademik dan kompetensi. Materi pembelajaran sesuai dengan Permenag RI Nomor 2 Tahun 2008 diperkaya dengan kajian kitab-kitab klasik. Metode yang digunakan sebagaimana metode pembelajaran pada umumnya, ditambah sorogan dan bandongan yang merupakan metode khas pondok pesantren. Penilaian meliputi penilaian proses, penilaian hasil, paktab, dan khatam. Lingkungan dikondisikan
  2. 2. 155 untuk belajar dengan beberapa kekurangan yang ada. Siswa tamatan MI lebih mudah dan cepat memahami materi pembelajaran. Hasil belajar siswa pada aspek kognitif dan psikomotor masih termasuk kategori sedang dan secara klasikal masih belum berhasil. Pada aspek afektif masih terdapat beberapa kekurangan yang harus diperbaiki, antara lain masih terdapat siswa yang tidak mengikuti proses pembelajaran Fiqih di kelas dengan baik, seperti mengantuk, bicara dengan teman, berusaha memancing kegaduhan, ada juga yang ijin keluar kelas, belum hafal, dan tidak mampu menyelesaikan tugas sesuai waktu yang diberikan. Secara umum, pada kelas awal siswa yang berasal dari MI memperoleh hasil lebih baik dari siswa dari SD, tetapi pada tahun kedua ada beberapa siswa tamatan SD yang mampu bersaing untuk memperoleh hasil yang terbaik. 2. Faktor yang memengaruhi pembelajaran Fiqih di Madrasah Tsanawiyah Nurul Huda Sukaraja meliputi faktor pendukung dan faktor penghambat. Faktor pendukung pembelajaran Fiqih di antaranya dukungan orang tua, siswa tinggal di asrama, latar belakang pendidikan guru, guru merupakan tamatan sendiri, asrama mencukupi, sarana ibadah/masjid dekat dengan madrasah, tersedia buku pelajaran dan kitab kuning, fasilitas hidup sehari-hari, Madrasah Tsanawiyah pagi hari, madrasah diniyah sore hari, kegiatan asrama malam hari, pengelolaan madrasah di bawah pondok pesantren, ada kerja sama antar unit pendidikan, dukungan masyarakat, dukungan yayasan, dan dukungan pemerintah. Faktor penghambat pembelajaran Fiqih di antaranya siswa belum bisa baca tulis Al-Qur’an dan salat, karakteristik siswa beragam, siswa terlambat datang ke sekolah, siswa tinggal di asrama selama 24 jam, ada siswa yang lambat memahami materi pembelajaran, siswa kelelahan, siswa pindah sekolah karena tidak betah di asrama, orang tua belum memahami tradisi dan tata tertib pondok pesantren, orang
  3. 3. 156 tua tidak mau tahu dengan perkembangan belajar siswa, daya tampung asrama, belum ada musala di unit pendidikan, kekurangan ruang belajar, buku di perpustakaan tidak mencukupi, belum ada perpustakaan diniyah, kekurangan beberapa fasilitas penunjang asrama, listrik padam ketika malam, kelas lesehan (tanpa meja kursi), ketidakhadiran guru, pengurus masih kuliah, alokasi waktu pembelajaran Fiqih dua jam pelajaran, waktu diniyah sore hari singkat, kegiatan asrama di malam hari, kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, dan muncul Play Station (PS) di sekitar madrasah. 3. Upaya yang dilakukan untuk memanfaatkan faktor pendukung di antaranya memaksimalkan dukungan orang tua, mewajibkan siswa tinggal di asrama, menjaga dan memupuk minat dan motivasi siswa, menyelenggarakan berbagai kegiatan, pengajian umum dari pimpinan, pembagian tugas guru sesuai dengan kemampuan, pembinaan guru secara rutin, memberdayakan siswa senior, memanfaatkan fasilitas sebaik mungkin untuk pembelajaran, menggunakan buku untuk proses pembelajaran, memelihara dan menjaga lingkungan dengan sebaik-baiknya, melakukan kerja sama antar unit pendidikan, pengelolaan madrasah semi otonom, pertemuan rutin kepala unit pendidikan, menjalin kerja sama dengan masyarakat sekitar pondok pesantren, yayasan telah menyediakan prasarana dan subsidi perawatannya, memanfaatkan bantuan pemerintah sesuai peruntukkannya, melibatkan dan menghadirkan pemerintah daerah dalam acara-acara tertentu. Upaya yang dilakukan untuk mengatasi faktor penghambat pembelajaran di antaranya pembinaan khusus untuk siswa yang belum bisa baca tulis al-Qur’an dan salat, pendekatan secara individu dan pendampingan untuk siswa baru, pengelompokkan siswa berdasar jenjang dan kemampuan, memberikan sanksi untuk siswa yang datang terlambat, jadwal kegiatan asrama disusun dengan memperhatikan waktu istirahat, perhatian lebih dengan prinsip ibadah untuk siswa
  4. 4. 157 yang lambat memahami materi, menyelenggarakan proses pembelajaran yang nyaman dan menyenangkan, bekerja sama dengan asrama, memberikan pemahaman kepada orang tua, membangun asrama baru, mengupayakan musala di lokasi madrasah, membangun ruang kelas baru, berupaya menambah koleksi buku Fiqih, mengusulkan perpustakaan diniyah, melengkapi beberapa fasilitas yang masih kurang, menyediakan pembangkit listrik cadangan, kebebasan siswa mengambil tempat duduk, menugaskan guru piket, membagi tugas sesuai dengan waktu yang dimiliki, menambahkan materi Mabadi Fiqih sebagai muatan lokal, memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, kegiatan malam maksimal pukul 22.00 WIB dan diberlakukan jam malam, melarang siswa membawa handphone di sekolah dan asrama, dan melarang siswa bermain Play Station (PS) dan melakukan razia secara rutin. Implikasi Penelitian Fokus penelitian ini adalah pembelajaran Fiqih di Madrasah Tsanawiyah Nurul Huda Sukaraja, melalui hasil penelitian ini diharapkan akan ada perbaikan-perbaikan pada beberapa komponen pembelajaran Fiqih, seperti siswa, guru, dan pengelolaannya sehingga proses pembelajaran Fiqih akan berjalan dengan baik dan hasil belajarnyapun akan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Dengan demikian implikasi dari penelitian ini antara lain: 1. Madrasah harus menyediakan fasilitas yang menunjang pembelajaran Fiqih, seperti LCD Projector, sarana ibadah, dan ruang kelas yang nyaman. 2. Madrasah harus memberikan pelatihan kepada guru-guru tentang penyusunan perangkat pembelajaran dan penyusunan instrumen tes.
  5. 5. 158 Arah untuk Penelitian Lebih Lanjut Penelitian ini memiliki keterbatasan-keterbatasan. Penelitian ini dibatasi hanya pada satu mata pelajaran, satu madrasah, dan satu pondok pesantren. Oleh karena itu, perlu ada penelitian lebih lanjut tentang pembelajaran pada madrasah di pondok pesantren untuk semua mata pelajaran, semua madrasah yang ada di pondok pesantren, dan dengan melibatkan beberapa pondok pesantren. Saran dan Rekomendasi Hasil penelitian ini diharapkan akan menjadi bahan evaluasi untuk melakukan perbaikan pengelolaan pembelajaran Fiqih di Madrasah Tsanawiyah Nurul Huda Sukaraja. Adapun rekomendasinya antara lain: 1. Memberikan perhatian dan bimbingan kepada siswa laki-laki agar mampu berprestasi. 2. Melaksanakan pembelajaran yang menyenangkan, salah satu cara yang digunakan adalah dengan menggunakan media pembelajaran yang menarik. 3. Mengelola minat dan motivasi siswa dengan cara sebelum pembelajaran dimulai memeriksa kesiapan belajar, baik peralatan kelas maupun kesiapan siswa, selalu memberikan motivasi dan melakukan apersepsi, melakukan pendeteksian dini dan pembinaan serta pendampingan khusus untuk siswa-siswa yang terlihat mulai tidak sungguh-sungguh dalam belajar. 4. Membentuk gerakan orang tua asuh tingkat madrasah sehingga siswa dari keluarga kurang mampu juga dapat mengikuti pendidikan di madrasah. 5. Melengkapi dokumen tertulis untuk pembelajaran Fiqih di diniyah sore dan kegiatan malam di asrama, seperti perencanaan pembelajaran, kepegawaian, dan kurikulum. 6. Menyelenggarakan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Fiqih, agar rencana pelaksanaan pembelajaran yang dibuat benar-benar operasional.
  6. 6. 159 7. Melakukan perbaikan pada aspek pengelolaan madrasah, seperti perimbangan keuangan 70% untuk madrasah dan 30% untuk yayasan, pengangkatan kepala madrasah melibatkan guru dan pegawai, membentuk lembaga khusus untuk mengevaluasi kinerja pengurus harian yayasan, menyusun aturan tertulis tentang tugas pokok dan fungsi pengurus yayasan sehingga tidak ada rangkap jabatan dan rangkap pekerjaan. 8. Menetapkan aturan tertulis mengenai ruang lingkup kerja sama antar unit pendidikan. 9. Pengelolaan asrama harus mengakomodir kebutuhan dan keinginan siswa. 10. Yayasan harus jemput bola untuk merekrut siswa senior yang telah menyelesaikan pendidikan tingginya dan memberikan kesempatan kepada yang muda untuk berkarya. 11. Mengganti mata pelajaran muatan lokal Mabadi Fiqih, Aswaja, dan Akhlaqul Banin/Ta’limu al-Muta’alim dengan materi muatan lokal tentang keunggulan daerah seperti pertanian, peternakan, perikanan, dan lain-lain. 12. Menyusun kalender pendidikan yayasan yang baku untuk satu tahun pelajaran dan membagikannya kepada semua orang tua siswa.

×