Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

5 tesis bab iv

1,388 views

Published on

Pembelajaran Fiqih di Madrasah Pondok Pesantren (Studi Kasus di Madrasah Tsanawiyah Nurul Huda Sukaraja OKU TIMUR)

Published in: Education
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

5 tesis bab iv

  1. 1. Bab 4 PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN Madrasah Tsanawiyah (MTs) Nurul Huda Sukaraja merupakan salah satu madrasah yang ada di pondok pesantren, madrasah ini didirikan oleh Pondok Pesantren Nurul Huda Sukaraja. Madrasah Tsanawiyah Nurul Huda Sukaraja menyelenggarakan pendidikan yang memadukan kurikulum nasional dan kurikulum lokal pondok pesantren. Kedua macam kurikulum tersebut saling mendukung. Pembelajaran dilaksanakan pada kelas pagi di sekolah, kelas sore di madrasah diniyah, dan menyediakan asrama pondok pesantren. Salah satu mata pelajaran yang diajarkan adalah Fiqih. Kajian penelitian ini adalah pembelajaran Fiqih sebagai suatu sistem yang melibatkan beberapa komponen di dalamnya, yaitu input, process, dan output. Komponen-komponen tersebut dilihat dengan melakukan pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, angket, tes, dan dokumentasi. Kegiatan pengumpulan data melibatkan beberapa nara sumber, yaitu pimpinan pondok pesantren, kepala madrasah, guru Fiqih, pengasuh asrama, pengurus asrama, dan siswa. Sebelum mengkaji tentang pembelajaran Fiqih, terlebih dahulu akan disajikan pelaksanaan kerja lapangan dalam rangka pengumpulan data yang diperlukan untuk keperluan penelitian. Data penelitian dikumpulkan dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, angket, tes, dan dokumentasi. Pelaksanaan observasi dilaksanakan seperti tertera dalam tabel berikut: Tabel 4.1, Pelaksanaan Kerja Lapangan I (Observasi) No Hari/Tanggal Waktu Tempat Obyek Observasi 1. Rabu, 25-09-2013 10.05-11.15 Kelas Fiqih (8.1) Input, process, dan output pembelajaran Fiqih 12.25-12.50 Masjid Pondok Pesantren Hasil belajar psikomotor (Shalat Dhuhur berjamaah)
  2. 2. 83 No Hari/Tanggal Waktu Tempat Obyek Observasi 2. Kamis, 26-09-2013 08.25-09.35 Kelas Fiqih (7.4) Input, process, dan output pembelajaran Fiqih 12.25-12.50 Masjid Pondok Pesantren Hasil belajar psikomotor (Shalat Dhuhur berjamaah) 3. Senin, 07-10-2013 11.15-12.25 Kelas Fiqih (9.1) Input, process, dan output pembelajaran Fiqih 12.25-12.55 Masjid Pondok Pesantren Siswa (hasil belajar psikomotor) 4. Senin, 07-10-2013 14.00-17.00 Kelas Diniyah a. Input, process, dan output pembelajaran Fiqih b. Hasil belajar psikomotor (Shalat ’Ashar berjamaah) 5. Senin, 07-10-2013 19.00-21.00 Asrama Putra a. Input, process, dan output pembelajaran Fiqih b. Hasil belajar psikomotor (Shalat ’Isya berjamaah) 6. Selasa, 08-10-2013 19.00-21.00 Asrama Putri a. Input, process, dan output pembelajaran Fiqih b. Hasil belajar psikomotor (Shalat ’Isya berjamaah) Observasi berjalan lancar untuk semua kelas, kecuali pada kelas malam di asrama putri, dimana guru merasa keberatan untuk dilihat karena merasa malu dan tidak percaya diri, tetapi setelah diyakinkan bahwa hanya sekedar melihat proses pembelajaran untuk keperluan pengumpulan data penelitian, akhirnya bersedia diobservasi. Data untuk keperluan pengumpulan data penelitian juga dikumpulkan dengan menggunakan teknik wawancara. Pelaksanaan wawancara dilaksanakan setelah sebelumnya membuat janji temu. Walaupun dalam pelaksanaannya, ada juga nara sumber yang tidak bisa ditemui sesuai dengan waktu yang telah disepakati, sehingga harus beberapa kali bolak-balik untuk menemui nara sumber. Bahkan ada yang secara tidak terjadwal bertemu dan bisa menanyakan beberapa pertanyaan, dan dilanjutkan pada waktu lainnya. Sebagian besar nara sumber bisa ditemui di rumah pribadi masing- masing dengan memanfaatkan waktu luang pada malam hari. Pelaksanaan wawancara tertera dalam tabel berikut:
  3. 3. 84 Tabel 4.2, Pelaksanaan Kerja Lapangan II (Wawancara) No Hari/Tanggal Nama Jabatan Tempat/Waktu 1. Jum’at, 27-09-2013 KH. Affandi, B.A. Pimpinan Pondok Pesantren Nurul Huda Rumah pribadi, Sukaraja (19.00- 23.00WIB) 2. Rabu, 02-10-2013 Sugiyanto, S.Ag. Kepala MTs Nurul Huda Rumah pribadi, Sukaraja (19.10-22.15) 3. Minggu, 20-10-2013 Ahmad Dawam, S.IF. Kepala Madrasah Diniyah Nurul Huda Rumah pribadi, Sukaraja (19.30-22.20 WIB) 4. Selasa, 22-10-2013 KH. Ali Imron, S.Pd.I. Pengasuh Asrama Putra Rumah pribadi, Sukaraja (19.00-21.25 WIB) 5. Sabtu, 05-10-2013 Hj. Umi Fadilah Pengasuh Asrama Putri Rumah pribadi, Sukaraja (14.35.00- 16.20 WIB) 6. Rabu, 16-10-2013 Samsul Hadi, S.Pd.I. Guru Fiqih MTs Nurul Huda Rumah pribadi, Sukaraja (19.15-23.00 WIB) 7. Kamis, 03-10-2013 Ahmad Makali, S.Ag. Guru Fiqih Madrasah Diniyah Kantor Diniyah, Sukaraja (14.30-16.45 WIB) 8. Jum’at, 18-10-2013 Alvi Syahri Guru Fiqih Asrama Putra Asrama Putra, Sukaraja (19.30-22.20 WIB) 9. Rabu, 09-10-2013 Umi Nur Afifah Guru Fiqih Asrama Putri Asrama Putri, Sukaraja (20.00-21.40 WIB) 10. Jum’at, 25-10-2013 Mukhtar Lubis, S.Pd.I. Pengurus Asrama Putra Asrama putra, Sukaraja (19.30-22.00 WIB) 11. Sabtu, 26-10-2013 Sutri Rahayu Pengurus Asrama Putri Asrama putri, Sukaraja (20.00-22.00 WIB) Teknik angket dilakukan dengan meminta ijin terlebih dahulu kepada kepala madrasah, pelaksanaan penyebaran angket melibatkan satu orang guru untuk membantu menyebarkan dan menunggu responden mengisinya juga mengumpulkan kembali. Responden dikumpulkan dalam dua ruang kelas, satu kelas diawasi langsung oleh peneliti dan satu kelas lainnya diawasi oleh guru. Pelaksanaan penyebaran angket sebagai berikut: Tabel 4.3, Pelaksanaan Kerja Lapangan III (Penyebaran Angket) No Hari/Tanggal Waktu Tempat Pendamping 1. Sabtu, 12-10-2013 07.10-08.35 Kelas IX-1 Ery Kurniawan, S.Pd. 07.10-08.35 Kelas IX-2 Peneliti
  4. 4. 85 Selain wawancara, observasi, angket, juga dikumpulkan dokumen-dokumen tertulis. Dokumen tertulis sangat dibutuhkan untuk keperluan penelitian, tetapi tidak semua dokumen tertulis yang dibutuhkan tersedia, khususnya untuk yang di diniyah dan asrama. Tes dalam bentuk tertulis dan praktik juga dilakukan untuk memperoleh data tentang hasil belajar kognitif dan hasil belajar psikomotor. Pelaksanaan tes tertulis melibatkan guru mata pelajaran untuk membantu mengawas, sedangkan pada tes praktik guru bidang studi dilibatkan untuk melakukan penilaian pada materi praktik shalat. Deskripsi Pembelajaran Fiqih di Madrasah Tsanawiyah Nurul Huda Sukaraja OKU TIMUR Madrasah Tsanawiyah Nurul Huda Sukaraja sebagai madrasah yang ada di pondok pesantren terikat dengan aturan yang berlaku di Pondok Pesantren Nurul Huda Sukaraja, kegiatan belajar mengajar dilaksanakan pada pagi hari di madrasah tsanawiyah, sore hari di madrasah diniyah, dan pendalaman materi pada malam hari di asrama pondok pesantren. Demikian juga dengan pembelajaran Fiqih sebagai salah satu mata pelajaran yang diajarkan, dilaksanakan di ketiga tempat tersebut. Unit pendidikan yang ada berdiri sendiri di bawah naungan pondok pesantren, masing-masing memiliki struktur organisasi dan manajemen sendiri. Walaupun berdiri sendiri, tetapi semua unit yang ada tetap merupakan satu kesatuan yang selalu berkoordinasi di bawah Wakil Pimpinan Bidang Pendidikan Pondok Pesantren Nurul Huda Sukaraja. Penyelenggaraan pembelajaran Fiqih melibatkan tiga komponen utama sebagai sebuah sistem, yaitu input, process, dan output. Siswa sebagai input pembelajaran Fiqih, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi sebagai process pembelajaran Fiqih, dan hasil belajar (kognitif, afektif, dan psikomotor) sebagai output pembelajaran Fiqih.
  5. 5. 86 Input (Masukan) Pembelajaran Fiqih Al-Qur’an telah memberikan gambaran tentang karakteristik manusia yang berbeda- beda. Berbeda dalam hal bangsa dan suku. Kedua perbedaan besar tersebut membawa dampak yang besar. Orang Inggris akan mempunyai karakter yang berbeda dengan orang Afrika. Demikian pula dengan perbedaan suku, orang Batak mempunyai karakter yang berbeda dengan orang Madura, dan sebagainya. Perbedaan karakteristik manusia tersebut juga berlaku di dunia pendidikan, terutama siswa sebagai input (masukan). Perbedaan karakteristik siswa tersebut menjadi topik yang penting untuk diperhatikan. Karakteristik siswa tersebut akan berhubungan dengan proses dan hasil pembelajaran. Keberhasilan tujuan pembelajaran Fiqih sangat ditentukan oleh proses, dan proses sangat dipengaruhi oleh tingkat kesiapan input yang diperlukan untuk melangsungkan proses. Input pembelajaran Fiqih dalam pembahasan ini adalah siswa dilihat dari aspek karakterisik fisiologis, karakteristik psikologis, dan karakteristik lingkungannya. Karakteristik Fisiologis Siswa Karakteristik fisiologis siswa meliputi jenis kelamin, usia kronologis, dan cacat tubuh. Data yang terkumpul disajikan dalam tabel berikut: Tabel 4.4, Tabulasi Data Karakteristik Fisiologis Siswa Karakteristik Fisiologis Wawancara Dokumentasi Jenis kelamin 1. Siswa perempuan lebih banyak dari siswa laki-laki tetapi jumlah hampir berimbang. 2. Siswa berprestasi didominasi oleh siswa perempuan. 1. Laki-laki= 222 orang, perempuan=262 orang. 2. Siswa berprestasi pada Ujian Tengah Semester, laki-laki= 11 orang, perempuan= 34 orang. Usia kronologis Usia kronologis siswa atara 11-16 tahun. Termuda lahir tahun 2002 (11 tahun). Siswa tertua lahir tahun 1997 (16 tahun) Cacat tubuh Tidak ada siswa memiliki cacat tubuh Tidak ada siswa memiliki cacat tubuh (Sumber: wawancara dan dokumentasi)
  6. 6. 87 Tabel 4.4 menunjukkan bahwa jumlah siswa berdasarkan jenis kelamin hampir berimbang, walaupun siswa perempuan sedikit lebih banyak dari siswa laki-laki. Penting bagi guru untuk memperhatikan karakteristik siswa berdasarkan jenis kelaminnya, karena kebutuhan siswa perempuan dan siswa laki-laki berbeda. Perbedaan karakteristik tersebut harus disikapi oleh guru dengan bijaksana agar semua siswa mampu berprestasi dan mengembangkan potensinya masing-masing. Buku catatan peringkat MTs Nurul Huda Sukaraja pada Ujian Tengah Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2013/2014 (lampiran 17) menunjukkan bahwa siswa perempuan yang memperoleh peringkat ada 34 orang, sedangkan siswa laki-laki hanya 11 orang. Jika dilakukan perbandingan maka hasilnya adalah 1:3,2 yang artinya jika ada 1 laki- laki berprestasi maka ada 3 perempuan yang berprestasi. Keadaan yang demikian menuntut guru untuk memberikan perhatian lebih kepada siswa laki-laki. Siswa laki-laki cenderung lebih aktif dalam segala hal dang identik dengan kenakalan sehingga siswa laki-laki tidak bersungguh-sungguh ketika belajar, lebih sering tidak masuk kelas, tidak mengerjakan tugas. Walaupun tidak semua siswa laki-laki bersikap negatif dalam belajarnya, ada juga siswa laki-laki yang mampu berprestasi dan menaati peraturan sekolah. Guru yang baik akan menyikapi perbedaan jenis kelamin siswa dengan bijaksana, menyusun perencanaan dan melaksanakan pembelajaran yang dapat menampung semua perbedaan tersebut. Kebutuhan setiap orang baik laki-laki maupun perempuan akan berbeda, tetapi secara umum dapat dipisahkan antara laki-laki dan perempuan. Tidaklah mudah untuk memenuhinya, akan tetapi guru harus berusaha memperhatikan faktor perbedaan jenis kelamin siswanya, misal aurat laki-laki berbeda dengan aurat perempuan, perempuan membutuhkan mukena laki-laki tidak membutuhkannya, usia balig laki-laki dan perempuan berbeda.
  7. 7. 88 Selain berdasarkan jenis kelamin, penting juga bagi guru untuk memperhatikan karakteristik siswa berdasarkan usia kronologisnya. Semua sumber mengatakan bahwa siswa termuda berumur 11 tahun dan siswa tertua berumur 16 tahun dengan rata-rata usia siswa 14 tahun. Usia antara 11 dan 16 tahun merupakan masa keemasan dalam pertumbuhan dan perkembangan siswa. Siswa mulai masuk masa remaja awal, pada masa-masa ini siswa sangat membutuhkan kehadiran orang lain yang dapat membimbing dan mengarahkan agar tetap berada jalur yang benar. Ketika siswa berada di madrasah, maka kehadiran guru sangat berpengaruh terhadap perkembangan dan pembentukan kepribadiannya. Pembelajaran pada usia tersebut banyak menuntut guru untuk melaksanakan pembelajaran yang menyenangkan dan permainan. Ketika siswa sudah merasa senang dengan kegiatan pembelajaran, dengan sendirinya siswa akan sukarela mengikuti pembelajaran. Siswa yang belajar dengan kondisi terpaksa dan bermalas-malasan akan berdampak pada hasil yang tidak memuaskan. Semua sumber yang ada memberikan informasi bahwa tidak ada siswa yang menyandang cacat tubuh, yaitu cacat tubuh yang dapat mengganggu siswa mengikuti pembelajaran Fiqih, seperti buta, tuli, dan kehilangan anggota tubuh. Secara fisik semua siswa normal dengan panca indera dan anggota tubuh yang lengkap dan berfungsi dengan baik. Keadaan fisik yang demikian mendukung pelaksanaan pembelajaran Fiqih, karena dalam pembelajaran Fiqih dituntut pembelajaran praktik yang memerlukan kesiapan fisik untuk mengikutinya. Secara fisiologis siswa MTs Nurul Huda Sukaraja mempunyai karakteristik siswa perempuan lebih banyak daripada siswa laki-laki tetapi jumlahnya hampir berimbang, usia siswa antara 11 sampai dengan 16 tahun, tidak ada satupun siswa yang mempunyai cacat tubuh, siswa berprestasi didominasi oleh siswa perempuan. Usaha perbaikan yang
  8. 8. 89 harus dilakukan antara lain memberikan perhatian dan bimbingan kepada siswa laki-laki agar mampu berprestasi dan melaksanakan pembelajaran yang menyenangkan. Karakteristik Psikologis Siswa Perbedaan siswa dalam hal karakteristik psikologis akan selalu ditemui, tidak semua siswa mengikuti pembelajaran dengan kondisi psikologis yang baik. Karakteristik psikologis dalam pembahasan ini meliputi minat dan motivasi. Pengumpulan data tentang minat dan motivasi sangat sulit dilakukan, hal ini dikarenakan sifatnya yang sulit diukur dan kesulitan menentukan instrumen yang tepat. Pengumpulan data yang dilakukan hanya sebatas pada sikap yang ditunjukkan siswa ketika mengikuti pembelajaran di kelas, kemudian dibantu dengan hasil wawancara dan angket. Data tentang karakteristik psikologis siswa disajikan dalam tabel berikut: Tabel 4.5, Tabulasi Data Karakteristik Psikologis Siswa Karakteristik Psikologis Observasi Wawancara Angket Minat 1. Siswa senang mengikuti proses pembelajaran, tetapi masih ada sebagian kecil dengan ekspresi wajah datar (biasa saja). 2. Siswa memperhatikan penjelasan guru, ada beberapa siswa tidak memperhatikan: mengantuk, bicara dengan teman, ada juga yang ijin keluar kelas, tapi tak lama kembali masuk kelas. 3. Siswa terlibat dalam proses pembelajaran, semua ikut membaca ayat maupun membaca kitab klasik secara bersama tetapi ketika ditunjuk ada yang tidak bersuara, banyak yang berani menjawab pertanyaan tetapi ada juga yang tidak, berani bertanya dan banyak yang tidak punya pertanyaan. 1. Ada siswa yang sekolah karena keinginan sendiri dan ada yang karena orang tua. 2. Mayoritas siswa memperhatikan dan mengikuti pembelajaran dengan serius, walaupun ada satu dua yang usil, mengantuk, dan bahkan tidur. 3. Ada siswa yang berani maju ke depan kelas, ada yang harus dengan bujukan dari guru baru berani ke depan. 4. Ada siswa yang ditanya hanya diam. 5. Siswa senang mengikuti pembelajaran, apalagi dengan diselingi cerita. 93,21% responden menyatakan berminat, 5,16% responden menyatakan agak berminat, 1,63% responden menyatakan tidak berminat
  9. 9. 90 Karakteristik Psikologis Observasi Wawancara Angket Motivasi 1. Ketika guru masuk kelas, semua siswa telah berada di kelas. 2. Pembelajaran dimulai dengan berdo’a dengan tenang. 3. Mengerjakan tugas yang diberikan guru seperti hafalan, pekerjaan rumah, dan soal. Ketika hafalan di kelas masih ada 11 siswa belum hafal, ketika pekerjaan rumah diperiksa masih ada lima siswa belum selesai. Ketika mengerjakan soal di akhir jam pelajaran, ada sembilan siswa belum selesai. 4. Kelas dalam keadaan bersih dan peralatan keperluan belajar telah siap. 5. Ada tiga siswa tidak memasukkan baju. 1. Ada hadiah, hukuman, dan teguran serta nasehat. 2. Ada dukungan dari orang tua. 3. Siswa memanfaatkan waktu istirahat dan luang untuk hafalan dan mengerjakan tugas. 4. Semua siswa mampu paktab. 5. Bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan. 6. Ada nasehat dan bimbingan secara umum dari pimpinan dan pengasuh. 82,88% responden dengan motivasi baik, 4,35% responden dengan motivasi sedang, 12,77% responden dengan motivasi seadanya. (Sumber: observasi, wawancara, dan angket) Tabel 4.5 memberikan gambaran bahwa minat dan motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran Fiqih beragam, seperti masih ditemukan siswa yang tidak memperhatikan penjelasan guru, seperti mengantuk bahkan tidur, berbicara dengan teman sebangku, dan berusaha memancing kegaduhan di kelas. Ada juga yang ketika ditanya hanya diam saja tidak mampu menjawab, ketika diberi kesempatan bertanya hanya satu dua siswa yang berani bertanya. Juga masih ditemukan siswa yang tidak memakai seragam lengkap, seperti atribut madrasah dan tidak memasukkan baju. Minat dan motivasi siswa tidak sepenuhnya dalam kondisi yang tidak baik, hal ini dapat diketahui bahwa masih ada siswa yang aktif dan sungguh-sungguh dalam belajar, seperti fakta berikut:
  10. 10. 91 1. siswa memanfaatkan waktu istirahat dan waktu luang untuk hafalan, sehingga banyak siswa yang hafal bacaan shalat, do’a dan dzikir, hadits dan dalil yang menjadi pelajaran siswa, 2. ada dukungan dari keluarga dan guru-guru, 3. tepat waktu ketika masuk kelas dan belajar, ada memang beberapa siswa yang terlambat masuk kelas, tetapi sifatnya temporer, 4. semua siswa bisa paktab (kitab penuh dengan tulisan tangan arti per kata) ketika akan mengikuti ujian akhir semester, 5. siswa senang ketika belajar apalagi ketika diselingi dengan cerita tentang nabi dan tokoh-tokoh Islam lainnya, 6. siswa bertanggung jawab terhadap tugas-tugas yang diberikan guru, seperti tugas piket kelas, hafalan, dan praktik, 7. selalu ada nasehat dan bimbingan umum dari pengasuh, pembina, dan pengurus asrama, 8. ada teguran dan sanksi yang diberikan untuk siswa yang melanggar tata tertib, 9. siswa aktif mengikuti pengajian kitab kuning dan rutinitas kegiatan asrama sehari- hari lainnya, mengerjakan tugas yang diberikan juga memperhatikan penjelasan guru, 10. ada yang harus dengan teguran dan pengawasan dari pengurus, sebagian besar mengikuti dengan sukarela, dan 11. ketika diberi tugas hafalan siswa melaksanakannya dengan sungguh-sungguh dan banyak yang hafal. Kondisi minat dan motivasi tersebut dilengkapi dengan hasil angket. Rekapitulasi jawaban angket (lampiran 16) menunjukkan ada 93,21% responden berminat, 5,16% responden agak berminat, 1,63% responden tidak berminat. Hasil angket tentang
  11. 11. 92 motivasi adalah 82,88% responden dengan motivasi baik, 4,35% responden dengan motivasi sedang, 12,77% responden dengan motivasi seadanya (Angket 12-10-2013). Secara psikologis siswa mempunyai karakteristik minat dan motivasi beragami, walaupun tidak semua siswa mengikuti pembelajaran Fiqih dengan minat yang tinggi terhadap mata pelajaran. Ada siswa yang dengan setengah hati mengikutinya. Demikian pula dengan perbedaan motivasi, ada siswa yang memiliki motivasi tinggi sehingga sangat aktif mengikuti pembelajaran, sedangkan yang lainnya mungkin setengah termotivasi atau bahkan tidak termotivasi untuk belajar. Karakteristik psikologis siswa berbeda, seperti ada siswa yang terbuka sehingga mudah bergaul dan mempunyai banyak teman, tetapi adapula siswa yang tertutup sehingga sulit bergaul dan terkesan tidak mempunyai teman karena sering menyendiri. Kondisi yang demikian menuntut guru untuk bersikap bijaksana, guru harus memperhatikan karakteristik minat dan motivasi, seperti keaktifan siswa, perhatian siswa, ketertarikan siswa, keseriusan siswa, kepercayaan diri siswa, pelaksanaan tugas siswa, rasa senang terhadap pelajaran, dan tanggung jawab. Demikian juga untuk meningkatkan dan menjaga minat dan motivasi siswa guru harus pandai dalam memberikan hukuman, hadiah, dan nilai terhadap kinerja siswa. Kemampuan guru mengelola minat dan motivasi sangat membantu kesiapan siswa mengikuti pembelajaran. Sebagai salah satu komponen pembelajaran Fiqih karakteristik psikologis siswa merupakan unsur yang tidak bisa diabaikan dalam pembelajaran, karena karakteristik psikologis akan memengaruhi pembelajaran. Hal yang harus dilakukan guru untuk mengelola minat dan motivasi siswa antara lain sebelum pembelajaran dimulai sebaiknya guru memeriksa kesiapan belajar, baik peralatan kelas maupun kesiapan siswa, selalu memberikan motivasi dan melakukan apersepsi, melakukan pendeteksian dini dan pembinaan serta pendampingan khusus untuk siswa- siswa yang terlihat mulai tidak sungguh-sungguh dalam belajar.
  12. 12. 93 Karakteristik Lingkungan Siswa Karakteristik lingkungan juga perlu diperhatikan dalam proses pembelajaran Fiqih. Lingkungan yang dimaksud adalah lingkungan asal siswa, yaitu lingkungan ekonomi, sosial, etnis, dan latar belakang pendidikan sebelumnya. Data tentang lingkungan siswa terangkum dalam tabel berikut: Tabel 4.6, Tabulasi Data Karakteristik Lingkungan Siswa Karakteristik Lingkungan Wawancara Observasi Dokumentasi Ekonomi 1. Ekonomi menengah ke bawah. 2. Siswa tidak mampu diberi bantuan. - Ada 43 siswa dapat BSM dari 91 siswa yang diusulkan. Secara umum, ekonomi orang tua siswa tergolong sedang jika dilihat dari penerima BSM: 91/465x100%= 19,57%. Etnis 1. Beragam suku yang datang dari berbagai daerah 2. Interaksi antar suku berjalan baik. Siswa antar etnis berbaur. Jawa, Komering, Ogan, Sunda, Lampung, dan lain-lain. Sosial 1. Latar belakang sosial berbeda. 2. Mayoritas berasal dari desa daerah sawah dan kebun. 3. Alasan orang tua: agar anak tidak terpengaruh lingkungan yang mulai kurang mendukung. - Pekerjaan orang tua: petani, PNS, dagang, TNI/Polri, wiraswasta. Pendidikan sebelumnya Tamatan SD lebih banyak dari tamatan MI. Tamatan TPA ada tetapi sedikit sekali, sekitar 30-40an siswa. - MI=105 orang, SD=350 orang, TPA tidak ada dokumen. (Sumber: wawancara, observasi, dan dokumentasi) Tabel 4.6 menginformasikan bahwa dari sisi ekonomi orang tua, kebanyakan orang tua siswa berasal dari kalangan menengah ke bawah. Ada 43 siswa dapat BSM dari 91 siswa yang diusulkan. Secara umum, ekonomi orang tua siswa tergolong sedang jika dilihat dari penerima BSM: 91/465x100%= 19,57%.
  13. 13. 94 Madrasah tidak membedakan tingkatan ekonomi, justru madrasah di pondok pesantren merupakan pendidikan alternatif untuk kalangan menengah ke bawah. Bahkan untuk yang benar-benar tidak mampu diberikan keringanan biaya pendidikan. Etnis yang ada juga beraneka ragam yang datang dari berbagai daerah. Siswa tidak dibedakan berdasarkan latar belakang etnis, semua etnis diterima dan dididik. Setiap etnis mempunyai karakter masing-masing, tetapi semuanya masih bisa diarahkan dan dibina. Siswa yang bermasalah tidak bisa dikatakan berasal dari etnis tertentu. Setiap etnis yang ada mampu beradaptasi dengan tradisi pondok pesantren. Interaksi antar etnis berjalan dengan baik dan bisa berbaur, belum ada kejadian siswa saling olok antar etnis. Latar belakang sosial siswa juga beragam, yang banyak berasal dari daerah pedesaan dengan mata pencaharian orang tua petani baik sawah maupun kebun, pendidikan orang tua rata-rata tamatan sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA). Latar belakang pendidikan sebelumnya adalah tamatan sekolah dasar (SD) lebih banyak dari tamatan madrasah ibtidaiyah (MI), tamatan taman pendidikan Al-Qur’an (TPA) juga sedikit. Di Nurul Huda, semua siswa MI harus mengikuti TPA pada sore harinya. Karakteristik lingkungan siswa berbeda-beda, mulai dari latar belakang ekonomi, etnis, sosial, dan latar belakang pendidikannya. Mayoritas siswa berasal dari keluarga dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah. Etnis siswa beraneka ragam yang datang dari berbagai daerah baik jauh maupun dekat dari pondok pesantren. Kondisi sosial siswa juga berbeda-beda, ada yang mendukung dan ada yang tidak mendukung perkembangan jiwanya. Latar belakang pendidikan siswa mayoritas berasal dari SD, selebihnya berasal dari MI, ada juga sedikit siswa yang mengikuti TPA. Karakteristik siswa sebagai input pembelajaran Fiqih di Madrasah Tsanawiyah Nurul Huda Sukaraja beragam, yaitu siswa perempuan lebih banyak dari siswa laki-laki,
  14. 14. 95 siswa berprestasi didominasi siswa perempuan, tidak ada siswa yang mempunyai cacat tubuh, usia antara 11 – 16 tahun, minat dan motivasi belajar tinggi, ekonomi keluarga menengah ke bawah, etnis beragam yang datang dari berbagai daerah, lingkungan sosial asal siswa beragam, siswa tamatan SD lebih banyak dibanding tamatan SD dan ada juga sedikit yang mengikuti TPA. Karakteristik siswa yang beragam sudah merupakan suatu yang pasti dan tidak dapat dihindari, karena tidak ada satupun siswa yang mempunyai kesamaan dengan lainnya. Perbedaan-perbedaan tersebut akan mewujudkan kualitas yang baik, bila dikelola dengan baik. Perbedaan masing-masing individu merupakan salah satu pendukung untuk mewujudkan kualitas dari masing-masing individu. Oleh karena itu tentunya diperlukan bimbingan dari guru, sehingga karakteristik siswa yang berbeda akan membentuknya menjadi sebuah karakter tersendiri yang mempunyai pola perilaku terpuji. Pola perilaku yang terbentuk tersebut menentukan aktivitas yang dilakukan siswa baik di sekolah maupun di luar sekolah. Aktivitas-aktivitas tersebut akan mengarahkan siswa untuk mencapai cita-citanya. Hal yang harus dilakukan berkaitan dengan karakteristik lingkungan siswa antara lain: madrasah membuat kebijakan yang memberikan kesempatan kepada siswa dari keluarga kurang mampu untuk bersekolah, jika perlu membentuk gerakan orang tua asuh tingkat madrasah sehingga siswa dari keluarga kurang mampu juga dapat mengikuti pendidikan di madrasah. Berkaitan dengan keadaan etnis yang beragam, hal ini menuntut guru untuk memberikan perlakuan yang sama terhadap semua etnis dan menggunakan Bahasa Indonesia dalam komunikasi sehari-hari, karena masih banyak ditemukan guru yang menggunakan bahasa daerah untuk berkomunikasi. Latar belakang sosial yang berbeda menuntut guru memberikan bimbingan kepada siswa yang yang latar belakang sosialnya tidak mendukung agar tidak rendah diri, siswa harus dimotivasi agar tetap semangat dan percaya diri dalam belajar.
  15. 15. 96 Process (Proses) Pembelajaran Fiqih Komponen proses pembelajaran menjadi hal penting yang harus diperhatikan guru agar kegiatan yang dilaksanakannya mencapai hasil sesuai dengan yang diharapkan. Proses pembelajaran akan terjadi apabila ada interaksi dan komunikasi antara guru dan siswa. Tidak semua interaksi dan komunikasi merupakan proses pembelajaran. Interaksi dan komunikasi merupakan proses pembelajaran apabila dilaksanakan dengan bimbingan guru dengan alur kegiatan dimulai dari kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Proses pembelajaran Fiqih dalam pembahasan ini meliputi aspek perencanaan, tujuan, pendidik, materi, metode, penilaian, dan lingkungan. Perencanaan Pembelajaran Fiqih Perencanaan pembelajaran dalam pembahasan ini meliputi perencanaan pada pembelajaran pagi hari di Madrasah Tsanawiyah (MTs), sore hari di madrasah diniyah, dan kegiatan malam hari di asrama. Data tentang perencanaan pembelajaran Fiqih disajikan dalam tabel berikut: Tabel 4.7, Tabulasi Data Perencanaan Pembelajaran Fiqih Komponen Dokumentasi Wawancara Kelas pagi Ada perencanaan tertulis: Analisi minggu efektif, program tahunan, program semester, silabus, dan rencana pelaksanaan pembelajaran. Setiap guru wajib membuat perangkat pembelajaran, perangkat pembelajaran Fiqih sudah ditandatangani kepala madrasah. Kelas sore Tidak dokumen tertulisnya. Tidak ada perencanaan tertulis, sebatas guru mempersiapkan materi yang akan diajarkan. Asrama Tidak dokumen tertulisnya. Tidak ada perencanaan tertulis, sebatas guru mempersiapkan materi yang akan diajarkan. (Sumber: dokumentasi dan wawancara) Pembelajaran akan terlaksana dengan baik, apabila sebelumnya didahului dengan perencanaan yang baik dan matang dari guru. Tabel 4.7 menggambarkan bahwa pada
  16. 16. 97 kelas pagi sudah ada perencaan tertulis dalam bentuk perangkat pembelajaran yang meliputi analisis minggu efektif, program tahunan, program semester, silabus, dan rencana pelaksanaan pembelajaran. Hal ini karena pada kelas pagi mengikuti prosedur pembelaran formal klasikal sesuai kurikulum pemerintah. Pada kelas diniyah sore dan kegiatan asrama malam tidak ada perencanaan tertulis, tetapi sudah ada standar ketuntasan dalam pembelajaran, yaitu khatam dan paktab. Perencanaan pada kelas sore dan kegiatan malam di asrama baru sebatas guru mempersiapkan materi yang akan diajarkan pada setiap pertemuan. Analisis Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Analisis RPP dilakukan dengan menggunakan Instrumen Penilaian Rencana Pelaksanaan Pembelajaran RPP Sertifikasi Guru dengan komponen sebagai berikut: 1. Kejelasan perumusan tujuan pembelajaran (tidak menimbulkan penafsiran ganda dan mengandung perilaku hasil belajar), 2. Pemilihan materi ajar (sesuai dengan tujuan dan karakteristik siswa), 3. Pengorganisasian materi ajar (keruntutan, sistematika materi, dan kesesuaian dengan alokasi waktu), 4. Pemilihan sumber/media pembelajaran (sesuai dengan tujuan, materi dan karakteristik siswa), 5. Kejelasan skenario pembelajaran (langkah-langkah kegiatan pembelajaran: awal, inti dan penutup), 6. Kesesuaian teknik penilaian dengan tujuan pembelajaran, 7. Kerincian skenario pembelajaran (setiap langkah tercermin strategi/metode dan alokasi waktu pada setiap tahap), dan 8. Kelengkapan instrumen (soal, kunci, pedoman penskoran).
  17. 17. 98 Ada tiga RPP yang dijadikan sampel untuk dianalisis, dari ketiga RPP tersebut masing-masing memperoleh skor total 27 untuk kelas VII, 28 untuk kelas VIII, dan 26 untuk kelas IX. Dilihat dari skor totalnya, ternyata RPP yang disusun oleh guru termasuk kategori kurang baik (instrumen penilaian RPP lampiran 15). Beberapa kekurangan yang menjadi catatan dalam RPP tersebut antara lain: 1. RPP belum memasukkan komponen indikator pencapaian kompetensi dan pendidikan pembentuk karakter bangsa (PPKB) seperti jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, mandiri, rasa ingin tahu, cinta tanah air, tanggung jawab, dan lain-lain. 2. Tujuan pembelajaran: untuk dalil menggunakan kata ”menjelaskan”, belum menggunakan kata kerja operasional seperti ”membaca, menghafal, menulis, dan mengartikan”. 3. Tujuan pembelajaran sudah sesuai dengan materi pembelajaran, tetapi masih ada materi pembelajaran yang tidak ada tujuan pembelajarannya, ada materi tetapi tidak ada tujuan. 4. Kegiatan pendahuluan: belum memasukkan mengawali pembelajaran dengan berdo’a, mengecek kehadiran siswa, mengecek kebersihan, mengecek kesiapan belajar siswa, dan menyampaikan cakupan materi serta uraian kegiatan yang harus dilakukan siswa selama pembelajaran. 5. Kegiatan inti: pada metode demonstrasi tidak perlu guru sendiri yang mendemonstrasikannya, cukup salah satu siswa yang mendemonstrasikan dengan bantuan guru. Belum ada pembahasan catatan hasil pengamatan siswa selama proses demonstrasi. Praktik sujud sahwi oleh siswa dapat dilakukan dengan cara berkelompok. Pada metode diskusi belum ada presentasi hasil kerja kelompok. Pada penguatan pembelajaran baru dengan tanya jawab antar teman, belum ada umpan balik dari guru.
  18. 18. 99 6. Sumber belajar dan media pembelajaran: belum ada buku-buku lain tentang Fiqih dan belum menggunakan media pembelajaran seperti gambar, slide, dan yang lainnya. 7. Penilaian pembelajaran: belum mencantumkan teknik dan jenis penilaiannya, belum ada instrumen penilaian praktik, kunci jawaban untuk tes tulis, dan pedoman penskoran. Hal yang bisa menjadi masukkan dalam aspek perencanaan pembelajaran Fiqih adalah sebaiknya pembelajaran pada diniyah sore dan kegiatan asrama malam hari juga menyusun perencanaan tertulis. Selain itu, pada rencana pelaksanaan pembelajaran yang sudah disusun pada kelas pagi ada beberapa bagian yang masih perlu diperbaiki, yaitu memasukkan komponen indikator pencapaian dan PKPB, tujuan pembelajaran menggunakan kata kerja operasional dan harus disesuaikan dengan materi pembelajarannya, ada penguatan dari guru, menggunakan media pembelajaran berbasis teknologi informasi, dan melengkapi penilaian dengan instrumen penilaian praktik, kunci jawaban untuk tes tulis, dan pedoman penskoran. Tujuan Pembelajaran Fiqih Tujuan merupakan salah satu aspek yang harus diperhatikan dalam setiap kegiatan, demikian juga dengan pembelajaran Fiqih. Setiap kegiatan yang dilakukan harus bermuara pada tujuan yang akan dicapai. Data tentang tujuan pembelajaran Fiqih disajikan dalam tabel berikut: Tabel 4.8, Tabulasi Data Tujuan Pembelajaran Fiqih Komponen/ Indikator Dokumentasi Wawancara Kelas pagi Memahami ketentuan hukum Islam yang berkaitan dengan ibadah mahdah dan muamalah serta dapat mempraktikkan dengan benar dalam Mengetahui tata cara beribadah dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari- hari. Menguasai muamalah yang berkaitan dengan hubungan dengan sesama manusia.
  19. 19. 100 Komponen/ Indikator Dokumentasi Wawancara Kelas pagi kehidupan sehari-hari. Menghafal beberapa dalil naqli (ayat dan hadits) tentang ibadah. Kelas sore Tidak ada dokumen Memahami dan mengamalkan syariat Islam melalui kajian kitab-kitab kuning. Bekali santri untuk hidup di masyarakat. Perdalam materi Fiqih pagi. Lestarikan tradisi pesantren. Kegiata Asrama Tidak ada dokumen Mampu membaca, memahami, dan mempraktikkan ajaran Islam yang ada dalam kitab kuning (klasik) serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari sesuai paham Ahlussunnah Waljamaah. (Sumber: Dokumentasi dan wawancara) Tabel 4.8 menggambarkan bahwa tujuan pembelajaran Fiqih adalah siswa mengetahui, memahami, dan mengamalkan ketentuan hukum Islam dalam melaksanakan ibadah kepada Allah dan ibadah sosial. Tujuan tersebut dilengkapi dengan penanaman tradisi pondok pesantren, yaitu kajian kitab klasik dan pembiasaan kegiatan ibadah sehari-hari. Pembiasaan berlangsung selama dua puluh empat jam, seperti shalat lima waktu berjamaah, dzikir dan do’a setelah shalat, tadarus setiap selesai shalat, shalat malam, shalat dhuha, shalawat, istighosah, menghormati dan mematuhi kiai dan ustadz, dan lain-lain. Tujuan pembelajaran Fiqih didasarkan pada paham Ahlussunah Waljamaah. Tetapi disayangkan, pada diniyah sore dan kegiatan malam di asrama tidak ada dokument tertulisnya, sehingga tujuannya hanya bersifat lisan dan turun-temurun. Tujuan pembelajaran sebaiknya tidak hanya terfokus pada satu paham Ahlussunah Waljamaah, perlu juga dikenalkan kepada siswa bahwa ada paham lain yang walaupun berbeda, tetapi perbedaan tersebut tidak perlu diperdebatkan, sehingga siswa dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritisnya dan mengambil sikap. Selain itu juga, perlu disusun dokumen tertulis tentang tujuan pembelajaran dalam bentuk kurikulum madrasah diniyah dan kurikulum kegiatan asrama.
  20. 20. 101 Pendidik Pembelajaran Fiqih Pendidik merupakan salah satu komponen dalam pembelajaran Fiqih yang turut menentukan dan berperan penting dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Untuk menjadi pendidik diperlukan syarat-syarat tertentu yang terangkum dalam kualifikasi dan kompetensi guru. Data tentang pendidik pembelajaran Fiqih disajikan dalam tabel berikut: Tabel 4.9, Tabulasi Data Pendidik Pembelajaran Fiqih Komponen/ Indikator Dokumentasi Wawancara Kelas pagi S.1/PAI/2002 Sertifikasi Pendidik Tahun 2009 (PLPG di IAIN Raden Fatah Palembang). Diniyah Pondok Pesantren Nurul Huda Sukaraja. Diniyah Pondok Pesantren Subulussalam Sriwangi. S.1/PAI/2002 Sertifikasi Pendidik Tahun 2009 (PLPG di IAIN Raden Fatah Palembang). Diniyah Pondok Pesantren Nurul Huda Sukaraja. Diniyah Pondok Pesantren Subulussalam Sriwangi. Kelas sore Tidak ada dokumen S.1/PAI/ 1999 Diniyah Pondok Pesantren Nurul Huda Sukaraja. Kegiatan Asrama Tidak ada dokumen Sedang kuliah di STKIP Nurul Huda Sukaraja. MA Diniyah Nurul Huda Sukaraja. (Sumber: Dokumentasi dan wawancara) Tabel 4.9 menunjukkan bahwa kualifikasi guru Fiqih di Madrasah Tsanawiyah Nurul Huda Sukaraja adalah berpendidikan Sarjana Strata Satu dan lulusan pondok pesantren, walaupun tidak ada dokumen tertulis untuk kelas diniyah sore dan kegiatan asrama. Kompetensi guru yang dimiliki adalah kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, kompetensi pedagogik, dan kompetensi profesional. Kompetensi kepribadian sangat ditonjolkan, pendidik memberi contoh langsung kepada siswa, prinsip mendidik adalah kesabaran, kejujuran, dan keikhlasan, semua diniatkan karena Allah SWT. Kompetensi sosial pendidik bukanlah hal yang asing, pendidik merupakan orang yang berperan dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat sebagai panutan warga sekitar,
  21. 21. 102 seperti menjadi kiai musala, imam jamaah yasin, dan pengurus organisasi sosial kemasyarakatan. Kompetensi pedagogik sudah menjadi keseharian, yaitu pendekatan individual guru kepada siswa, keakraban interaksi guru dan siswa, pembelajaran dengan memperhatikan ketuntasan individu siswa. Kompetensi profesional dapat diandalkan, guru sangat menguasai materi yang diajarkan. Kelengkapan administrasi kepegawaian sangat penting untuk mendukung penyelenggaraan pendidikan, oleh karena itu dokumen tertulis tentang guru harus dibuat, misalnya daftar riwayat hidup, ijazah terakhir, kartu tanda penduduk, dan lain- lain. Materi Pembelajaran Fiqih Materi pembelajaran Fiqih merupakan salah satu komponen yang juga harus diperhatikan agar pembelajaran dapat berjalan dengan baik. Penentuan materi yang tepat ikut memengaruhi keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran. Data tentang materi pembelajaran Fiqih disajikan dalam tabel berikut: Tabel 4.10, Tabulasi Data Materi Pembelajaran Fiqih Komponen/ Indikator Dokumentasi Wawancara Kelas pagi Kelas VII: Taharah; shalat fardu dan sujud sahwi; azan, iqamat, dan shalat berjamaah; zikir dan doa; shalat Jum’at dan shalat jenazah; shalat jamak, qasar, jamak qasar, dan shalat keadaan darurat; shalat sunah muakkad dan goiru muakkad. Kelas VIII: Macam sujud, puasa, zakat; sadaqah, hibah, hadiah; haji, umroh, makanan dan minuman. Kelas IX: Penyembelihan, kurban, akikah; jual beli dan mudarabah; riba dan bunga bank; pinjam meminjam; utang piutang; gadai dan jaminan; ijarah dan jualah; Pengurusan jenazah, ta’ziyah, dan ziarah kubur. Kelas VII: Taharah; shalat fardu dan sujud sahwi; azan, iqamat, dan shalat berjamaah; zikir dan doa; shalat Jum’at dan shalat jenazah; shalat jamak, qasar, jamak qasar, dan shalat keadaan darurat; shalat sunah muakkad dan goiru muakkad. Kelas VIII: Macam sujud, puasa, zakat; sadaqah, hibah, hadiah; haji, umroh, makanan dan minuman. Kelas IX: Penyembelihan, kurban, akikah; jual beli dan mudarabah; riba dan bunga bank; pinjam meminjam; utang piutang; gadai dan jaminan; ijarah dan jualah; Pengurusan jenazah, ta’ziyah, dan ziarah kubur.
  22. 22. 103 Komponen/ Indikator Dokumentasi Wawancara Kelas sore Tidak ada dokumen Mabadi Fiqih, Sulam Munajat, Fathul Qorib. Kegiatan Asrama Tidak ada dokumen Mabadi Fiqih, Sulam Munajat, Safinatun Najah, Fathul Qorib. (Sumber: Dokumentasi dan wawancara) Tabel 4.10 memberikan informasi bahwa sama seperti komponen yang lain, yaitu pada kelas sore dan kegiatan asrama tidak ada dokumen tertulis yang dijadikan rujukan untuk mendukung data yang diperoleh melalui wawancara. Materi pembelajaran Fiqih sesuai dengan Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2008 tentang Standar Kompetensi Lulusan dan Standari Isi Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab di Madrasah (Lampiran 3b), yaitu kelas VII: Taharah; shalat fardu dan sujud sahwi; azan, iqamat, dan shalat berjamaah; zikir dan doa; shalat Jum’at dan shalat jenazah; shalat jamak, qasar, jamak qasar, dan shalat keadaan darurat; shalat sunah muakkad dan goiru muakkad. Kelas VIII: Macam sujud, puasa, zakat; sadaqah, hibah, hadiah; haji, umroh, makanan dan minuman. Kelas IX: Penyembelihan, kurban, akikah; jual beli dan mudarabah; riba dan bunga bank; pinjam meminjam; utang piutang; gadai dan jaminan; ijarah dan jualah; Pengurusan jenazah, ta’ziyah, dan ziarah kubur. Sumber menggunakan buku ”Ayo Memahami Fiqih” terbitan Erlangga, selain itu digunakan juga buku-buku Fiqih lainnya termasuk terjemah kitab-kitab kuning. Kajian kitab kuning untuk memperdalam materi pembelajaran Fiqih untuk diniyah sore dan kegiatan asrama malam padat madrasah tsanawiyah terdiri dari kitab Mabadi Fiqih, Sulam Munajat, Safinatun Najah, dan Fathul Qorib. Khusus untuk kitab Safinatun Najah tidak diajarkan di kelas, tetapi diajarkan melalui pengajian umum pada sore setelah shalat ’Ashar. Materi di asrama ditambahkan materi pasolatan untuk siswa yang belum bisa baca tulis huruf hijaiyah, materi tentang kajian Fiqih wanita juga diberikan di asrama putri. Adapun pokok materi pada kitab-kitab klasik tersebut meliputi:
  23. 23. 104 1. Mabadi Fiqih, meliputi: dasar-dasar Islam, hukum-hukum Islam, thaharah, najis, istinja’, wudlu, mandi, tayamum, hadi dan nifas, shalat, shalat sunah, shalat jamaah, shalat musafir, shalat Jum’at, shalat hari raya, shalat jenazah, zakat, zakat fitri, puasa, haji dan umrah, penyembelihan, makanan halal dan haram, jual beli, riba, pernikahan, dan pembagian warisan. 2. Sulam Munajat, meliputi: syahadat, syarat shalat, waktu shalat, rukun shalat, batal shalat, dan bacaan shalat. 3. Fathul Qorib, meliputi: thaharah, shalat, zakat, puasa, haji, jual beli, pembagian warisan dan wasiat, pernikahan, jinayat, hukuman, jihad, buruan, sembelihan, dan makanan, perlombaan dan memanah, sumpah dan nadzar, peradilan dan persaksian, dan memerdekakan budak. Sumber pembelajaran masih menggunakan kitab-kitab klasik, belum ada usaha kreatif dari pengelola diniyah maupun asrama untuk menyusun bahan ajar yang merupakan kumpulan dari kitab-kitab klasik yang disesuaikan dengan pokok-pokok materi yang akan diajarkan. Oleh karena itu, diperlukan usaha-usaha agar guru-guru menyusun bahan ajar sendiri. Metode Pembelajaran Fiqih Penting bagi guru menguasai berbagai metode pembelajaran agar siswa tidak merasa bosan. Guru dapat menggunakan metode pembelajaran secara bervariasi, tidak hanya terpaku pada satu metode tertentu. Data tentang metode pembelajaran Fiqih disajikan dalam tabel berikut: Tabel 4.11, Tabulasi Data Metode Pembelajaran Fiqih Komponen/ Indikator Observasi Wawancara Kelas pagi Ceramah, tanya jawab, hafalan, demonstrasi, latihan, penugasan, praktik. Ceramah, tanya jawab, hafalan, demonstrasi, latihan, penugasan, praktik, simulasi.
  24. 24. 105 Komponen/ Indikator Observasi Wawancara Kelas sore Sorogan, bandongan, hafalan. Sorogan, bandongan, hafalan. Kegiatan Asrama Sorogan, bandongan, hafalan. Sorogan, bandongan, hafalan, demonstasi, praktik. (Sumber: Observasi dan wawancara) Tabel 4.11 menunjukkan bahwa guru masih menggunakan metode ceramah sebagai metode utama dalam pembelajaran di kelas. Penggunaan metode yang verbalis akan membuat siswa cenderung bosan, karena komunikasi yang terjadi hanya satu arah. Metode pembelajaran yang digunakan merupakan metode-metode pembelajaran yang sudah umum digunakan oleh guru di madrasah lainnya, seperti ceramah, tanya jawab, demonstrasi, hafalan, praktik, simulasi, penugasan, dan lain-lain. Selain metode- metode tersebut ada beberapa metode yang merupakan ciri khas pondok pesantren dan membedakannya dengan metode pembelajaran di madrasah biasa seperti metode sorogan, bandongan, dan pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari melalui contoh nyata dari guru. Pada metode sorogan siswa dibimbing secara individu dengan pencapaian materi yang berbeda-beda sesuai dengan kemampuan masing-masing. Pada metode bandongan siswa berkumpul di sekeliling ustadz yang mengkaji sebuah kitab klasik dengan cara membaca dan mengartikannya perkata, sedangkan siswa menulis arti perkata tersebut pada lembar kitab masing-masing, kemudian dilanjutkan dengan penjelasan dari guru dan tanya jawab jika memungkinkan. Metode pembiasaan dilakukan melalui contoh nyata dari guru seperti sikap dan shalat lima waktu berjamaah, kelas pagi shalat Duhur berjamaah, kelas sore shalat ’Ashar berjamaah, kelas asrama shalat Maghrib, ’Isyak, dan Subuh berjamaah. Guru-guru dituntut untuk menjadi teladan yang baik bagi siswa-siswanya dalam kehidupan sehari-harinya termasuk etika berpakaian dan bertutur kata. Komunikasi dalam pembelajaran cenderung satu arah, karena guru lebih banyak menggunakan metode ceramah dan bandongan. Akan lebih baik jika guru
  25. 25. 106 memperbanyak menggunakan metode yang menuntut peran aktif siswa, seperti tanya jawab, bandongan, hafalan, demonstrasi, praktik, dan sebagainya. Penilaian Pembelajaran Fiqih Kegiatan penilaian dilakukan untuk mengetahui hasil yang telah diperoleh siswa setelah mengikuti proses pembelajaran. Selain itu, hasil dari penilaian juga dapat digunakan guru sebagai bahan untuk mengevaluasi kegiatan pembelajaran yang dilaksanakannya. Data tentang penilaian pembelajaran Fiqih disajikan dalam tabel berikut: Tabel 4.12, Tabulasi Data Penilaian Pembelajaran Fiqih Komponen/ Indikator Observasi Wawancara Kelas pagi Penilaian proses dan hasil Penilain proses dan penilaian hasil. Pretest, post test, ulangan harian, ulangan praktik, ujian tengah semester, ujian akhir semester. Aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Kelas sore Tidak ada penilaian Khatam, paktab, ujian akhir semester. Kegiatan Asrama Tidak ada penilaian Khatam, paktab, ujian akhir semester. (Sumber: Observasi dan wawancara) Tabel 4.12 menunjukkan bahwa telah ada penilaian, baik penilaian proses maupun penilaian hasil. Penilaian proses ditekankan pada pembentukan pribadi muslim, perilaku sehari-hari, kehadiran, dan partisipasi di kelas. Hanya pada kelas sore dan kegiatan di asrama belum ada penilaian yang dilakukan oleh guru. Penilaian pada kelas sore dan kegiatan asrama masih terfokus pada penilaian akhir semester untuk keperluan mengisi buku laporan hasil belajar. Penilaian pembelajaran Fiqih dilakukan secara menyeluruh untuk aspek pengetahuan, sikap sosial dan sikap keagamaan, dan keterampilan. Teknik penilaian meliputi tes dan non tes. Jenis penilaian meliputi tertulis dan praktik. Selain penilaian yang sudah umum ditemui di dunia pendidikan, ada penilaian yang unik yaitu paktab dan khatam. Paktab adalah kitab klasik setiap mata pelajaran yang diajarkan harus
  26. 26. 107 penuh dengan arti per kata tulisan tangan siswa. Paktab menjadi syarat siswa mengikuti ujian akhir semester di diniyah dan asrama. Khatam adalah menamatkan mengkaji sebuah kitab klasik dari awal sampai akhir. Siswa memperoleh tiga Buku Laporan Hasil Pendidikan (BLHP), yaitu untuk kelas pagi, kelas sore, dan kegiatan asrama malam. Siswa diharuskan menamatkan pendidikan di madrasah tsanawiyah pagi, madrasah diniyah, dan kegiatan di asrama. Tamat diniyah dan kegiatan asrama menjadi syarat untuk tamat dari madrasah tsanawiyah pagi. Lingkungan Pembelajaran Fiqih Lingkungan pembelajaran harus dikondisikan sebaik mungkin agar proses pembelajaran Fiqih dapat berlangsung dengan lancar, siswa merasa betah dan nyaman berada di kelas. Data tentang lingkungan belajar pembelajaran Fiqih disajikan dalam tabel berikut: Tabel 4.13, Tabulasi Data Lingkungan Pembelajaran Fiqih Komponen/ Indikator Observasi Wawancara Kelas pagi Ruangan berukuran 7mx8m, tiap kelas diisi antara 30-33 siswa, penerangan cukup, ada ventilasi, kipas angin, bersih, lantai keramik, meja kursi sesuai jumlah siswa dan disusun menghadap satu arah ke papan tulis, kelas di pinggir jalan hitam kadang terdengar bising kendaraan. Lingkungan kelas dan sekolah aman dan kondusif mendukung untuk proses belajar mengajar. Kelas sore Penerangan cukup, ada ventilasi, kipas angin, bersih, lantai keramik, meja kursi sesuai jumlah siswa dan disusun menghadap satu arah ke papan tulis, kelas di pinggir jalan hitam kadang terdengar bising kendaraan. Kelas baik, kondusif, bersih, susunan meja kursi bisa dirubah setiap saat, ada penerangan dan ventilasi. Halaman bersih tetapi kurang luas untuk bermain. Kegiatan Asrama Kelas lesehan, penerangan kurang. Baik, walaupun belajarnya kadang ada yang di teras masjid dan di teras asrama. (Sumber: Observasi dan wawancara)
  27. 27. 108 Tabel 4.13 memberikan informasi bahwa lingkungan kelas cukup cukup layak untuk kegiatan belajar mengajar. Dengan luas ruangan 56m2 dan diisi maksimal 33 orang, maka berarti ruang untuk tiap siswa adalah 1,70m2 . Selain itu, tersedia lampu penerangan, kipas angin, ada ventilasi udara, lantai keramik, meja kursi disusun menghadap satu arah. Tetapi untuk kelas yang berada di pinggir jalan hitam, terkadang terdapat gangguan berupa suara bising kendaraan yang lewat. Suara bising kendaraan tersebut mengganggu proses pembelajaran, oleh karena itu perlu dilakukan upaya untuk mengurangi kebisingan tersebut agar proses pembelajaran tidak terganggu lagi. Kegiatan asrama dilaksanakan dengan memanfaatkan musala dan teras asrama dengan model lesehan, ada penerangan lampu listrik tetapi untuk beberapa kelas masih kurang terang. Kondisi lesehan masih banyak yang belum dilengkapi dengan dampar sebagai tempat siswa untuk menulis. Posisi lesehan tanpa dampar akan menyulitkan bagi siswa untuk menulis dan akan menyebabkan siswa cepat merasa capek. Oleh karena itu, perlu diupayakan untuk memenuhi fasilitas dampar tersebut. Demikian pula dengan cahaya penerangan yang kurang terang akan mengganggu penglihatan siswa dan akan menyebabkan sakit mata, untuk itu harus segera diganti dengan lampu yang lebih terang. Proses Pembelajaran di Kelas Pelaksanaan pembelajaran Fiqih di kelas merupakan implementasi dari perencanaan yang telah disusun sebelumnya. Pelaksanaan pembelajaran di kelas meliputi kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Pelaksanaan pembelajaran di kelas harus efektif dan efisien agar tujuan pembelajaran dapat tercapai sesuai dengan target. Jawaban angket (lampiran 14) tentang proses pembelajaran Fiqih seperti pada tabel berikut:
  28. 28. 109 Tabel 4.14, Rekapitulasi Jawaban Angket Proses Pembelajaran Fiqih No. Soal Sub Komponen Jawaban Jumlah Ya Kadang- Kadang Tidak F % F % F % F % 1. Salam, do’a, dan absensi 46 100,00 0 0,00 0 0,00 46 100,00 2. Menyampaikan pokok materi dan tujuan pembelajaran 45 97,83 0 0,00 1 2,17 46 100,00 3. Mengaitkan materi dengan kehidupan sehari-hari 44 95,65 1 2,17 1 2,17 46 100,00 4. Metode menyenangkan 44 95,65 0 0,00 2 4,35 46 100,00 5. Media/alat peraga menarik 10 21,74 1 2,17 35 76,09 46 100,00 6. Memberi kesempatan siswa bertanya 45 97,83 1 2,17 0 0,00 46 100,00 7. Bahasa lisan dan tulis dimengerti 44 95,65 2 4,35 0 0,00 46 100,00 8. Tidak pilih kasih 37 80,43 0 0,00 9 19,57 46 100,00 9. Membuat kesimpulan 43 93,48 0 0,00 3 6,52 46 100,00 10. Penilaian 32 69,57 8 17,39 6 15,22 46 100,00 Jumlah 390 84,78 13 2,83 58 12,61 460 100,00 (Sumber: angket 12-10-2013) Berdasarkan rekapitulasi jawaban angket pada tabel 4.14 dapat diketahui bahwa menurut tanggapan siswa, proses pembelajaran Fiqih di kelas telah berlangsung dengan baik. Hal ini ditunjukkan dengan 84,78% responden yang menyatakan proses pembelajaran berjalan dengan baik. Guru telah melaksanakan pembelajaran sesuai dengan prosedur pembelajaran, yaitu kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Untuk mendukung hasil angket, dilakukan observasi (lampiran 14) terhadap enam kelas pembelajaran Fiqih dengan hasil berikut:
  29. 29. 110 Tabel 4.15, Rekapitulasi Observasi Proses Pembelajaran Fiqih Komponen Pembelajaran Kelas Pagi Kelas Sore Kegiatan Asrama Kegiatan pendahuluan Salam, do’a, apersepsi, penyampaian SK/KD dan tujuan Salam dan do’a Salam dan do’a Kegiatan inti Guru menguasai materi. Metode ceramah, tanya jawab, hafalan, demonstrasi, latihan, penugasan, praktik. Suara terdengar jelas. Media terbatas papan tulis. Sumber buku perpustakaan. Guru menguasai materi. Metode bandongan dan hafalan. Suara terdengar jelas. Media terbatas papan tulis. Sumber kitab klasik. Guru menguasai materi. Metode sorogan. Suara kurang terdengar dengan jelas. Guru sebagai media. Sumber kitab klasik. Kegiatan penutup Kesimpulan, post test, dan penugasan. Salam Salam (Sumber: observasi) Tabel 4.15 menunjukkan bahwa proses pembelajaran Fiqih di kelas sudah berlangsung dengan baik. Komponen-komponen proses pembelajaran yang diobservasi menunjukkan bahwa semua komponen yang terkait dengan proses pembelajaran saling terkait dan memengaruhi. Satu komponen bersambung dengan komponen yang lain dari kegiatan pendahuluan dan diakhir dengan kegiatan penutup. Komponen lainnya yang tidak dapat diabaikan adalah pengkondisian lingkungan belajar yang nyaman dan menyenangkan untuk belajar. Meskipun demikian masih ada kekurangan yang perlu diperhatikan oleh guru, yaitu penggunaan alat peraga/media pembelajaran. Dalam proses pembelajaran di kelas, kehadiran alat peraga/media pembelajaran sangat penting artinya dan merupakan suatu keharusan. Ketiadaan alat peraga/media sangat memengaruhi proses belajar mengajar, alat peraga/media pembelajaran dapat membantu mengatasi ketidakjelasan materi yang disampaikan menjadi jelas dan mudah diterima oleh siswa.
  30. 30. 111 Pengaruh Latar Belakang Pendidikan terhadap Proses Pembelajaran Fiqih Latar belakang pendidikan siswa berbeda-beda, ada yang tamatan Madrasah Ibtidaiyah (MI), Sekolah Dasar (SD), dan ada juga yang ikut Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA). Perbedaan latar belakang pendidikan tersebut mau tidak mau turut memengaruhi proses pembelajaran Fiqih. Siswa tamatan MI akan mudah mengikuti pembelajaran Fiqih karena sudah punya bekal, maka dianjurkan siswa untuk sekolah dari MI sampai MA/SMK di pondok pesantren. Tamatan RA 100% melanjutkan ke MI, MI ke MTs 100%, MTs ke MA/SMK lebih dari 50%, MA/SMK ke STKIP lebih dari 50%. Tamatan SD banyak masuk kelas iqra’, harus belajar dari awal baca tulis Al-Qur’an dan shalat, sehingga agak kesulitan mengikuti pembelajaran Fiqih. Kelas iqra’ sebatas materi shalat, belum ada pengajian kitab kuning. Ada juga tamatan SD yang sudah mampu baca tulis Huruf Hijaiyah dan shalat. Tamatan SD dan MI ada yang ikut TPA sehingga mudah mengikuti pembelajaran Fiqih. Latar belakang pendidikan siswa sangat berpengaruh terhadap proses pembelajaran Fiqih, bagi siswa dari MI yang pelajaran agamanya sama dengan MTs tidak akan kesulitan mengikuti proses pembelajaran Fiqih. Rata-rata siswa dari MI bisa baca tulis Al-Qur’an dan shalat. Siswa yang belum bisa baca tulis Al-Qur’an dan shalat kebanyakan dari SD, awal-awal kelas tujuh mengalami kesulitan, tetapi lama- kelamaan bisa menyesuaikan diri dengan kultur madrasah yang mengedepankan nilai- nilai agama. Pendidikan di TPA sangat mendukung proses pembelajaran Fiqih di MTs. Tamatan MI akan mudah mengikuti pembelajaran Fiqih karena sudah punya dasar pengetahuan agama yang diperolehnya, Fiqih bukan hal yang asing lagi, dan rata-rata sudah bisa baca tulis Al-Qur’an dan ibadah sehari-hari. Tamatan SD agak lambat dan mengalami kesulitan mengikuti pembelajaran Fiqih karena pengetahuan agamanya kurang, khususnya yang sama sekali belum bisa baca tulis Al-Qur’an bahkan ada yang belum bisa shalat, sehingga kaget dengan materi agama di MTs. Walaupun ada tamatan
  31. 31. 112 SD yang sudah punya dasarnya tetapi mayoritas pengetahuan agamanya kurang. Tamatan TPA hampir sama dengan tamatan MI yang dapat mengikuti proses pembelajaran Fiqih dengan baik. Diperlukan kesabaran dan perhatian lebih dari guru untuk siswa yang belum bisa baca tulis Al-Qur’an dengan cara menuliskan bacaan dan do’a dengan huruf Indonesia kemudian dihafalkan, guru harus sabar menunggui dan memberi perhatian. Ada juga beberapa siswa yang sampai menangis karena belum bisa baca tulis Al-Qur’an, bahkan merasa minder, pura-pura sakit tidak masuk kelas karena belum hafal. Setelah setahun, hampir semua bisa beradaptasi dan lancar baca tulis Al- Qur’an. Siswa yang bisa baca tulis Al-Qur’an berani ke depan kelas membaca dan hafalan, siswa yang sudah bisa membantu teman-temannya yang belum bisa. Pada kelas awal, tamatan MI lebih menonjol dalam proses pembelajaran, lebih berani dan cepat paham, tetapi pada tahun kedua sudah tidak tampak perbedaan. Proses pembelajaran Fiqih juga dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan siswa. Siswa yang berasal dari MI dan TPA lebih mudah mengikuti proses pembelajaran Fiqih bila dibandingkan dengan siswa tamatan SD. Agar lebih jelas, proses pembelajaran Fiqih dapat dilihat pada matriks berikut: Tabel 4.16, Matriks Proses Pembelajaran Fiqih No Komponen Uraian 1. Perencanaan a. Pada kelas pagi ada perencanaan tertulis yang disebut perangkat pembelajaran dalam bentuk: analisis minggu efektif, program tahunan, program semester, silabus, dan rencana pelaksanaan pembelajaran. b. Pada kelas diniyah sore dan asrama malam tidak ada perencanaan tertulis, perencanaan baru sebatas persiapan guru membaca kitab klasik tentang materi yang sudah dan belum diajarkan. c. Analisis RPP: rata-rata skor total 27 kategori kurang baik, sehingga perlu perbaikan untuk komponen indikator pencapaian kompetensi, pendidikan pembentuk karakter bangsa, tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, kegiatan pendahuluan, kerincian kegiatan inti, sumber dan media pembelajaran, dan penilaian pembelajaran.
  32. 32. 113 No Komponen Uraian 2. Tujuan a. Siswa mengetahui, memahami, dan mengamalkan ketentuan hukum Islam dalam melaksanakan ibadah kepada Allah dan ibadah sosial. b. Tujuan tersebut dilengkapi dengan penanaman tradisi pondok pesantren, yaitu kajian kitab klasik dan pembiasaan kegiatan ibadah sehari-hari. c. Pembiasaan kegiatan ibadah berlangsung selama 24 jam. 3. Pendidik a. Pendidik pada kelas pagi sudah sesuai dengan kualifikasi akademik, yaitu berpendidikan S1/A4, bersertifikat pendidik, dan lulusan pondok pesantren. b. Pendidik pada kelas pagi sudah sesuai dengan kualifikasi akademik, yaitu berpendidikan S1/A4 dan lulusan pondok pesantren. c. Pendidik pada kelas malam memanfaatkan santri senior yang telah menamatkan pendidikan diniyah dan asrama tetapi masih kuliah di STKIP Nurul Huda Sukaraja. 4. Materi dan sumber a. Materi ibadah, muamalah, kajian Fiqih wanita. b. Sumber: buku paket, buku Fiqih lainnya, dan kitab-kitab klasik seperti Mabadi Fiqih, Sulam Munajat, dan Fathul Qorib. 5. Metode a. Metode pembelajaran merupakan metode-metode pembelajaran yang sudah umum digunakan oleh guru, seperti ceramah, tanya jawab, demonstrasi, hafalan, praktik, simulasi, penugasan, dan lain-lain. b. Ada beberapa metode yang merupakan ciri khas pondok pesantren dan membedakannya dengan metode pembelajaran di madrasah biasa seperti metode sorogan, bandongan, dan pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari melalui contoh nyata dari guru. 6. Penilaian a. Penilaian proses. b. Penilaian hasil. c. Diniyah dan asrama ada khatam dan paktab kitab klasik. d. Siswa memperoleh tiga Buku Laporan Hasil Belajar (BLHP). 7. Lingkungan Lingkungan kelas, sekolah, dan asrama baik, mendukung, dan kondusif untuk pembelajaran Fiqih. 8. Proses pembelajaran di kelas Proses pembelajaran Fiqih di kelas sudah berlangsung dengan baik. Meskipun demikian masih ada kekurangan yang perlu diperhatikan oleh guru, yaitu penggunaan alat peraga/media pembelajaran. 9. Pengaruh pendidikan sebelumnya Siswa yang berasal dari MI dan TPA lebih mudah mengikuti proses pembelajaran Fiqih bila dibandingkan dengan siswa tamatan SD. Matriks pada Tabel 4.16 mendeskripsikan tentang komponen-komponen proses pembelajaran Fiqih yang meliputi perencanaan, tujuan, pendidik, materi dan sumber, metode, penilaian, lingkungan.
  33. 33. 114 Ada perencanaan tertulis untuk kelas pagi, sedangkan kelas sore dan malam tidak ada perencanaan tertulis. Tujuan pembelajaran adalah agar siswa mampu mengamalkan ketentuan hukum Islam dalam beribadah dan muamalah sesuai paham Ahlussunnah Waljamaah berdasarkan kajian kitab-kitab klasik. Pendidik pembelajaran telah memenuhi standar kualifikasi akademik dan kompetensi. Materi pembelajaran sesuai dengan Pemenag Nomor 2 Tahun 2008 diperkaya dengan kajian kitab-kitab klasik. Metode yang digunakan sebagaimana metode pembelajaran pada umumnya, ditambah sorogan dan bandongan yang merupakan metode khas pondok pesantren. Penilaian meliputi penilaian proses, penilaian hasil, paktab, dan khatam. Lingkungan terkondisikan dengan baik sehingga menjadi nyaman dan menyenangkan untuk belajar. Siswa tamatan MI lebih mudah dan cepat memahami materi pembelajaran. Output (Hasil) Pembelajaran Fiqih Kualitas proses pembelajaran sangat penting untuk memperoleh hasil yang baik. Hasil belajar diperoleh setelah melalui tahapan transformasi atau pemrosesan, yaitu proses pembelajaran. Siswa setelah mengikuti proses pembelajaran akan mencapai penguasaan materi pembelajaran yang diberikan, penguasaan materi menyebabkan perubahan perilaku siswa. Perubahan perilaku harus selalu sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Perubahan perilaku siswa harus mencakup perubahan dalam aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Output (hasil) pembelajaran Fiqih dalam pembahasan ini meliputi hasil belajar kognitif, hasil belajar afektif, dan hasil belajar psikomotor. Hasil Belajar Kognitif Hasil belajar kognitif merupakan hasil belajar yang berkaitan dengan aspek pengetahuan siswa. Hasil belajar kognitif siswa dikatakan meningkat apabila ada peningkatan
  34. 34. 115 pengetahuan siswa tentang materi yang dipelajari, misalnya siswa yang semula tidak tahu rukun tayamum menjadi tahu rukun tayamum. Data tentang hasil belajar kognitif disajikan pada tabel berikut (rekapitulasi skor jawaban tes tertulis lampiran 18): Tabel 4.17, Tabulasi Data Hasil Belajar Kognitif Pembelajaran Fiqih Sumber/ Teknik Deskripsi Tes Nilai tertinggi=90; Nilai terendah=50; Nilai rata-rata =69,57; Standar deviasi=11,12; Kelompok tinggi=8,70%; Kelompok sedang=71,74%; kelompok rendah=19,57. (Perhitungan hasil belajar kognitif lampiran 19) Angket 100% responden menyatakan bahwa pengetahuannya bertambah. Wawancara Walaupun ada sedikit yang di bawah standar (tidak tuntas), tetapi ketika kenaikan kelas tidak ada siswa yang terganjal oleh nilai Fiqih. Observasi Ketika ditanya mayoritas bisa menjawab, walaupun ada juga yang hanya diam. (Sumber: Tes, angket, wawancara, dan observasi) Tabel 1.17 menunjukkan bahwa hasil belajar kognitif pembelajaran Fiqih termasuk kategori sedang, karena mayoritas siswa sebanyak 71,74% berada pada kelompok sedang dan jika dilihat dari nilai rata-rata sebesar 69,57 juga terletak pada kelompok sedang yaitu pada rentang nilai 58,45<X<60,45. Dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sebesar 75 untuk aspek kognitif, ternyata masih ada 27 siswa atau 58,70% siswa tidak tuntas atau hanya 19 siswa (41,30%) siswa yang tuntas. Hal itu berarti proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru belum berhasil untuk aspek kognitif, karena persentase ketuntasan siswa di bawah 75%, walaupun rekapitulasi jawaban angket (lampiran 16) menunjukkan bahwa 100% responden menyatakan bahwa pengetahuannya bertambah (Angket 12-10-2013). Hasil belajar kognitif disajikan dalam diagram berikut:
  35. 35. 116 4 33 98,7 71,74 19,5788,75 71,82 50 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 Tinggi Sedang Rendah Frekuensi Persentase Nilai rata-rata kelompok Gambar 4.1. Hasil belajar kognitif pembelajaran Fiqih Hasil observasi juga menunjukkan bahwa pada proses pembelajaran masih terdapat beberapa siswa yang menjawab salah atau bahkan tidak bisa menjawab sama sekali. Hal ini tentu menjadi tugas guru untuk memperbaiki proses pembelajarannya agar hasil belajar yang diperoleh siswa bisa maksimal. Guru harus mengevaluasi perencanaan dan proses pembelajarannya untuk mencari letak kelemahan-kelemahan yang ada agar dapat segera diperbaiki. Hasil Belajar Afektif Hasil belajar afektif berkaitan dengan aspek sikap, misalnya siswa yang semula tidak mau mengerjakan tugas menjadi selalu mengerjakan tugas yang diberikan. Data tentang hasil belajar afektif disajikan pada tabel berikut: Tabel 4.18, Tabulasi Data Hasil Belajar Afektif Pembelajaran Fiqih Sumber/ Teknik Deskripsi Observasi 1. ada beberapa siswa tidak memperhatikan: mengantuk, bicara dengan teman, ada juga yang ijin keluar kelas, tapi tak lama kembali masuk kelas. 2. semua ikut membaca ayat maupun membaca kitab klasik secara bersama tetapi ketika ditunjuk ada yang tidak bersuara, banyak yang berani menjawab pertanyaan tetapi ada juga yang tidak, berani bertanya
  36. 36. 117 Sumber/ Teknik Deskripsi Observasi dan banyak yang tidak punya pertanyaan. 3. Ketika guru masuk kelas, semua siswa telah berada di kelas. 4. Pembelajaran dimulai berdo’a dengan tenang. 5. Ketika hafalan di kelas masih ada 11 siswa belum hafal, ketika pekerjaan rumah diperiksa masih ada lima siswa belum selesai. Ketika mengerjakan soal di akhir jam pelajaran, ada sembilan siswa belum selesai. 6. Kelas dalam keadaan bersih dan peralatan keperluan belajar telah siap. 7. Ada tiga siswa tidak memasukkan baju. Angket Ada 95,65% responden menyatakan bahwa sikapnya menjadi lebih baik setelah mengikuti pembelajaran Fiqih. 4,35% responden menyatakan bahwa tidak ada perubahan sikap setelah belajar Fiqih. Wawancara Ada perubahan sikap siswa, seperti lebih rajin dan tenang ketika belajar, berani bertanya, menjawab pertanyaan, bertanggung jawab. Sikap sehari-hari juga ada peningkatan, seperti peduli terhadap kebersihan lingkungan dan sopan santun. Ada beberapa siswa bermasalah dengan kehadirannya. (Sumber: Observasi, angket, dan wawancara) Selain hasil belajar kognitif, aspek penilaian yang harus diperhatikan adalah hasil belajar afektif. Apalagi mata pelajaran Fiqih yang tidak bisa hanya berpedoman pada hasil tes tertulis, tetapi penilaian yang dilakukan harus mencakup tiga aspek penilaian termasuk aspek afektif. Hal ini penting, agar tidak terjadi kesalahan dalam memberikan nilai, karena nilai hasil tes tulis belum menunjukkan hasil belajar secara menyeluruh, kognitif baik belum tentu afektifnya juga baik. Tabel 4.18 menunjukkan bahwa masih terdapat siswa yang tidak mengikuti proses pembelajaran Fiqih di kelas dengan baik, seperti mengantuk, bicara dengan teman, berusaha memancing kegaduhan, ada juga yang ijin keluar kelas, belum hafal, dan tidak mampu menyelesaikan tugas sesuai waktu yang diberikan. Penting bagi guru untuk memperhatikan kejadian-kejadian tersebut dan memberikan jalan keluar terbaik agar semua siswa dengan berbagai karakteristiknya bisa aktif mengikuti pembelajaran. Akan tetapi tidak semua siswa seperti itu, ada juga siswa yang dengan tenang dan aktif mengikuti proses pembelajaran.
  37. 37. 118 Hasil Belajar Psikomotor Hasil belajar psikomotor berkaitan dengan aspek perbuatan yang melibatkan aktivitas fisik, seperti kemampuan mempraktikkan shalat. Hasil belajar psikomotor pembelajaran Fiqih disajikan pada tabel berikut (rekapitulasi skor hasil tes praktik lampiran 20): Tabel 4.19, Tabulasi Data Hasil Belajar Psikomotor Pembelajaran Fiqih Sumber/ Teknik Deskripsi Tes Nilai tertinggi=93; Nilai terendah=83; Nilai rata-rata =86,91; Standar deviasi=2,10; Kelompok tinggi=6,52%; Kelompok sedang=84,78%; kelompok rendah=8,70%. (Perhitungan hasil belajar psikomotor lampiran 21). Angket 100% responden menjawab bahwa keterampilan/praktik dalam beribadah mengalami peningkatan menjadi lebih baik. Wawancara ketika praktik semua bisa melakukannya walaupun dengan bimbingan dari guru, (Sumber: Tes, angket, dan wawancara) Tabel 4.19 menunjukkan bahwa hasil belajar kognitif pembelajaran Fiqih termasuk kategori sedang, karena mayoritas siswa sebanyak 84,78% berada pada kelompok sedang dan jika dilihat dari nilai rata-rata sebesar 86,91 juga terletak pada kelompok sedang yaitu pada rentang nilai 84,81<X<89,01. Dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sebesar 86 untuk aspek psikomotor, ternyata masih ada 12 siswa atau 26,09% siswa tidak tuntas atau ada 34 siswa (73,91%) siswa tuntas. Hal itu berarti proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru belum berhasil untuk aspek psikomotor, karena persentase ketuntasan siswa di bawah 75%, walaupun rekapitulasi jawaban angket (lampiran 16) menunjukkan bahwa 100% responden menyatakan bahwa keterampilan/praktik dalam beribadah mengalami peningkatan menjadi lebih baik (Angket 12-10-2013). Hal ini tentu menjadi tugas guru untuk memperbaiki proses pembelajarannya agar semua siswa mampu mempraktikkan materi yang dipelajari. Guru harus mengevaluasi perencanaan dan proses pembelajarannya untuk mencari letak kelemahan-kelemahan yang ada agar dapat segera diperbaiki. Hasil belajar kognitif disajikan dalam diagram berikut:
  38. 38. 119 3 39 45,52 84,78 8,7092,75 86,86 83,00 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 Tinggi Sedang Rendah Frekuensi Persentase Nilai rata-rata kelompok Gambar 4.2. Hasil belajar psikomotor pembelajaran Fiqih Pengaruh Latar Belakang Pendidikan terhadap Hasil Pembelajaran Fiqih Latar belakang pendidikan siswa juga memengaruhi hasil belajar Fiqih. Pengetahuan yang diperoleh pada jenjang pendidikan sebelumnya menjadi modal berharga bagi siswa untuk mengikuti pembelajaran di Madrasah Tsanawiyah (MTs). Sebagaimana diketahui bahwa materi pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Madrasah Tsanawiyah (MTs) lebih banyak bila dibanding dengan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Tamatan MI dan TPA yang mempunyai pengetahuan dasar agama akan lebih baik hasilnya, agak beda dengan tamatan dari SD yang tidak ikut TPA, tetapi bagi siswa yang tergolong pandai akan dapat mengikuti atau mengimbangi taman-temannya yang dari MI dan TPA. Biasanya setelah satu semester siswa dari SD tanpa TPA sudah mampu beradaptasi dengan materi-materi agama dan kitab kuning. Kemampuan siswa beda-beda, ada saja tamatan MI dan TPA tetapi nilainya rendah, tetapi secara umum MI dan TPA akan turut memengaruhi nilainya di MTs. Tamatan MI karena sudah mempunyai dasar, hasilnya baik dan memuaskan. Tamatan SD ada yang baik dan ada yang kurang, siswa pandai memperoleh hasil baik,
  39. 39. 120 siswa yang kurang pandai hasilnya kurang. Tamatan TPA memperoleh hasil yang baik. Tamatan SD, pada kelas awal hasilnya kalah dengan yang dari MI, tetapi pada tahun kedua sudah mulai mampu bersaing dan memperoleh nilai yang baik juga. tidak semua tamatan MI mempunyai nilai tinggi, ada saja yang mendapat nilai rendah, tetapi secara umum hasilnya baik, di atas nilai rata-rata dan bisa membaca kitab. Latar belakang pendidikan siswa sedikit banyak turut memengaruhi hasil belajar Fiqih. Pada kelas awal siswa yang berasal dari MI dan TPA mempunyai hasil belajar yang lebih baik bila dibandingkan dengan siswa yang berasal dari SD. Hal ini terlihat wajar, karena siswa tamatan MI dan TPA telah memiliki modal dasar berupa pengetahuan agama yang cukup untuk mengikuti pembelajaran Fiqih di MTs Nurul Huda Sukaraja. Akan tetapi pada tahun kedua, untuk siswa tamatan SD yang tergolong pandai sudah mampu bersaing dengan siswa tamatan MI dan TPA untuk memperoleh hasil yang baik. Agar lebih jelas, hasil pembelajaran Fiqih untuk ketiga aspek disajikan pada matriks berikut: Tabel 4.20, Matriks Hasil Pembelajaran Fiqih No Komponen Deskripsi 1. Hasil belajar kognitif Hasil belajar kognitif pembelajaran Fiqih termasuk kategori sedang, karena mayoritas siswa sebanyak 71,74% berada pada kelompok sedang dan jika dilihat dari nilai rata-rata sebesar 69,57 juga terletak pada kelompok sedang yaitu pada rentang nilai 58,45<X<60,45. Dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sebesar 75 untuk aspek kognitif, ternyata masih ada 27 siswa atau 58,70% siswa tidak tuntas atau hanya 19 siswa (41,30%) siswa yang tuntas. Hal itu berarti proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru belum berhasil untuk aspek kognitif, karena persentase ketuntasan siswa di bawah 75%. 2. Hasil belajar afektif Masih terdapat siswa yang tidak mengikuti proses pembelajaran Fiqih di kelas dengan baik, seperti mengantuk, bicara dengan teman, berusaha memancing kegaduhan, ada juga yang ijin keluar kelas, belum hafal, dan tidak mampu menyelesaikan tugas sesuai waktu yang diberikan.
  40. 40. 121 No Komponen Deskripsi 3. Hasil belajar psikomotor Hasil belajar kognitif pembelajaran Fiqih termasuk kategori sedang, karena mayoritas siswa sebanyak 84,78% berada pada kelompok sedang dan jika dilihat dari nilai rata-rata sebesar 86,91 juga terletak pada kelompok sedang yaitu pada rentang nilai 84,81<X<89,01. Dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sebesar 86 untuk aspek psikomotor, ternyata masih ada 12 siswa atau 26,09% siswa tidak tuntas atau ada 34 siswa (73,91%) siswa tuntas. Hal itu berarti proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru belum berhasil untuk aspek psikomotor, karena persentase ketuntasan siswa di bawah 75%. 4. Pengaruh pendidikan sebelumnya a. Pada kelas awal siswa yang berasal dari MI dan TPA mempunyai hasil belajar yang lebih baik bila dibandingkan dengan siswa yang berasal dari SD. b. Pada tahun kedua, untuk siswa tamatan SD yang tergolong pandai sudah mampu bersaing dengan siswa tamatan MI dan TPA untuk memperoleh hasil yang baik. Matriks pada Tabel 4.20 menunjukkan bahwa hasil belajar siswa pada aspek kognitif dan psikomotor masih termasuk kategori sedang dan keberhasilan pembelajaran secara klasikal masih belum berhasil. Pada aspek afektif masih terdapat beberapa kekurangan yang harus diperbaiki, antara lain masih terdapat siswa yang tidak mengikuti proses pembelajaran Fiqih di kelas dengan baik, seperti mengantuk, bicara dengan teman, berusaha memancing kegaduhan, ada juga yang ijin keluar kelas, belum hafal, dan tidak mampu menyelesaikan tugas sesuai waktu yang diberikan. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Pembelajaran Fiqih di Madrasah Tsanawiyah Nurul Huda Sukaraja OKU TIMUR Sebagaimana pembelajaran pada umumnya, pembelajaran Fiqih juga tidak terlepas dari faktor-faktor yang memengaruhinya. Pembelajaran yang telah direncanakan dan dianggap telah matang ternyata pada pelaksanaannya masih juga ditemui hambatan- hambatan, walaupun ada juga faktor lain yang mendukung pelaksanaan pembelajaran. Faktor yang memengaruhi dalam pembahasan ini meliputi faktor pendukung dan faktor penghambat pembelajaran Fiqih.
  41. 41. 122 Guru dan pengelola madrasah perlu memperhatikan faktor-faktor yang mendukung dan menghambat pembelajaran agar dapat mengambil kebijakan yang tepat untuk memperbaiki sistem yang selama ini telah berjalan. Usaha-usaha perbaikan harus terus dilakukan agar tujuan dapat tercapai. Faktor Pendukung Pembelajaran Fiqih di Madrasah Tsanawiyah Nurul Huda Sukaraja OKU TIMUR Pelaksanaan pembelajaran Fiqih tidak terlepas dari faktor-faktor yang mendukungnya. Dukungan berbagai faktor tersebut akan turut membantu kelancaran proses pembelajaran dan pencapaian tujuan pembelajaran. Faktor-faktor pendukung tersebut harus diidentifikasi dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Faktor-faktor pendukung pembelajaran Fiqih tersebut dapat dirangkum dalam tabel berikut: Tabel 4.21, Faktor pendukung pembelajaran Fiqih Faktor Pendukung Komponen Uraian Orang tua 1. Dukungan orang tua terhadap pembelajaran Siswa 1. Siswa tinggal di asrama 2. Minat dan motivasi siswa tinggi Guru 1. Latar belakang pendidikan Strata Satu (S1) 2. Latar belakang pendidikan pondok pesantren 3. Tamatan sendiri Sarana dan prasarana 1. Asrama cukup 2. Sarana ibadah/masjid dekat dengan madrasah 3. Buku pelajaran dan kitab kuning 4. Fasilitas hidup sehari-hari Kurikulum 1. Madrasah Tsanawiyah pagi hari 2. Madrasah diniyah sore hari 3. Kegiatan asrama malam hari Manajemen 1. Pengelolaan madrasah di bawah pondok pesantren 2. Kerja sama antar unit pendidikan Lingkungan 1. Dukungan masyarakat 2. Dukungan yayasan 3. Dukungan pemerintah
  42. 42. 123 Tabel 4. 21 menunjukkan bahwa faktor pendukung meliputi faktor orang tua, siswa, guru, sarana prasarana, kurikulum, manajemen, dan lingkungan. Faktor-faktor tersebut sebagai berikut: 1. Dukungan orang tua Orang tua siswa sangat mendukung pendidikan di pondok pesantren, hal ini dapat dilihat dari peningkatan jumlah siswa baru. Selain itu juga, ketika diundang pihak madrasah maupun pondok pesantren, hampir semua orang tua memenuhi undangan tersebut. Dukungan orang tua juga dalam bentuk biaya pendidikan yang dibayarkan, termasuk sumbangan sukarela ketika madrasah akan melakukan pembangunan maupun perbaikan ruang kelas. 2. Siswa tinggal di asrama Semua siswa yang menempuh pendidikan di pondok pesantren wajib tinggal di asrama, kecuali siswa MI dan mahasiswa. Dengan siswa tinggal di asrama, akan memudahkan untuk mengkoordinir, mengawasi, dan mengkondisikan kegiatan pembelajaran. 3. Minat dan motivasi siswa tinggi Minat dan motivasi siswa mengikuti pembelajaran cukup tinggi, walaupun tetap dibutuhkan pengawasan dan ketelatenan dari guru dan pengurus untuk terus menjaga motivasi dan minat tersebut agar tidak luntur. Nasehat dan bimbingan selalu diberikan secara rutin. 4. Guru berlatar belakang pendidikan Strata Satu (S1) Enam puluh persen guru telah berkualifikasi strata satu dari berbagai disiplin limu dan perguruan tinggi. Dua puluh persen guru telah bersertifikat pendidik, yaitu 17 persen untuk guru mata pelajaran Agama Islam dan Bahasa Arab ditambah tiga persen untuk guru mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi.
  43. 43. 124 5. Guru berlatar belakang pendidikan pondok pesantren Hampir semua guru merupakan lulusan pondok pesantren, baik lulusan pondok pesantren sendiri maupun pondok pesantren di Pulau Jawa. Latar belakang pendidikan pondok pesantren merupakan salah pendukung yang sangat penting, karena guru telah memahami tradisi dari pondok pesantren. Tradisi pondok pesantren ada pewarisan budaya melalui contoh dan pembiasaan dari para gurunya. 6. Guru merupakan tamatan sendiri Sebagian besar guru merupakan tamatan sendiri. Hal ini akan memudahkan komunikasi dan interaksi sesama guru. Bahkan sejak tahun 2000, kepala madrasah telah dijabat oleh lulusan dari pondok pesantren sendiri. Untuk periode 2011-2015, semua kepala unit pendidikan merupakan lulusan sendiri, kecuali STKIP. 7. Asrama cukup Bukan pondok pesantren namanya jika tidak ada asramanya. Asrama telah disediakan sebanyak lima tempat, yaitu asrama putri I, asrama putra, asrama takhasus, asrama TPA, dan asrama putri II. Dengan jumlah asrama tersebut diharapkan mampu menampung semua santri yang ada, tetapi tetap saja terdapat kekurangan daya tampung. Oleh karena itu direncanakan akan dibangun asrama- asrama lainnya, seperti asrama putra II, asrama mahasiswa, asrama mahasiswi, dan Pondok Pesantren Nurul Huda II. 8. Sarana ibadah/masjid dekat dengan madrasah Pada masing-masing asrama telah ada musala ditambah dengan satu masjid sebagai pusat kegiatan pondok pesantren. Jarak asrama dan masjid dengan madrasah sekitar 50 meter. Jadi fasilitas tersebut masih dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pembelajaran.
  44. 44. 125 9. Buku pelajaran dan kitab kuning Buku-buku untuk semua mata pelajaran tersedia di perpustakaan, walaupun jumlahnya belum mencukupi untuk semua siswa, akan tetapi sudah bisa dipakai untuk siswa satu kelas. Demikian juga dengan kitab-kitab klasik yang telah disediakan di koperasi pondok pesantren, jadi siswa yang akan membeli kitab tidak perlu pergi ke tempat yang jauh. 10. Fasilitas hidup sehari-hari Masing-masing asrama telah menyediakan berbagai fasilitas untuk kehidupan sehari-hari siswa. Baik fasilitas pokok maupun fasilitas pendukung. Selain itu, di masing-masing asrama juga dibuka koperasi asrama yang menyediakan kebutuhan hidup sehari-hari siswa. 11. Madrasah Tsanawiyah pagi hari Pembelajaran pada pagi hari diselenggarakan sesuai ketentuan yang berlaku sesuai dengan undang-undang negara, dimulai dari tingkat RA, MI, MTs, MA, dan SMK. Pembelajaran pagi dilaksanakan pukul 07.00 WIB s.d. 13.00 WIB, termasuk shalat Dhuhur berjamaah. 12. Madrasah diniyah sore hari Pembelajaran sore merupakan madrasah diniyah yang menggunakan kurikulum yang disusun oleh pondok pesantren. Pembelajaran di sore hari dilaksanakan pukul 14.00 WIB s.d. 17.00 WIB, termasuk shalat ’Ashar berjamaah. 13. Kegiatan asrama malam hari Kegiatan asrama dilaksanakan pada malam hari yang dimulai pukul 19.30 WIB s.d. 22.00 WIB. Kegiatan malam di asrama juga berdasarkan kurikulum yang disusun oleh pondok pesantren.
  45. 45. 126 14. Pengelolaan madrasah di bawah pondok pesantren Pengelolaan madrasah di bawah pondok pesantren, sehingga madrasah terikat dengan program dan peraturan pondok pesantren, manajemen madrasah mengikuti manajemen pondok pesantren, dan manajemen pondok pesantren melibatkan masyarakat sekitarnya. Pada struktur organisasinya, ada garis komando dari pondok pesantren ke madrasah. 15. Kerja sama antar unit pendidikan Semua unit pendidikan yang ada di bawah pondok pesantren berada dalam kontrol dan pengawasan dari pondok pesantren, sehingga lebih mudah untuk mengorganisir antar unit pendidikan tersebut. Kerja sama antar unit pendidikan sangat diutamakan dan selalu dikedepankan. 16. Dukungan masyarakat Madrasah di pondok pesantren tidak bisa terlepas dari masyarakat sekitarnya. Masyarakat sekitar mendukung keberadaan madrasah, demikian pula sebaliknya. Keberadaan pondok pesantren dan unit-unit pendidikannya telah menggerakan masyarakat sekitar, baik dalam bidang agama, sosial, ekonomi, dan budaya. 17. Dukungan yayasan Yayasan pondok pesantren sebagai lembaga yang menaungi unit-unit pendidikan di dalamnya memberikan keleluasaan kepada masing-masing unit pendidikan untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas dan kuantitas pendidikan, tetapi semua kebijakan tetap dengan kontrol dari pondok pesantren. 18. Dukungan pemerintah Kehadiran madrasah di pondok pesantren sebagai salah satu lembaga yang membantu tugas pemerintah dalam mencerdaskan masyarakat mendapat respon positif dari pemerintah. hal ini dibuktikan dengan berbagai bantuan yang diberikan
  46. 46. 127 oleh pemerintah pada berbagai aspek, seperti pendanaan, ketenagaan, sarana prasarana, pengelolaan, dan lain-lain. Faktor Penghambat Pembelajaran Fiqih di Madrasah Tsanawiyah Nurul Huda Sukaraja OKU TIMUR Faktor-faktor penghambat pembelajaran Fiqih dapat dirangkum pada matriks berikut: Tabel 4.22, Matriks faktor penghambat pembelajaran Fiqih Faktor Penghambat Komponen Uraian Siswa 1. Siswa belum bisa baca tulis Al-Qur’an dan shalat 2. Latar belakang siswa beragam 3. Siswa masih kecil sering menangis dan ingat rumah 4. Siswa terlambat datang ke sekolah 5. Siswa tinggal di asrama selama 24 jam 6. Ada siswa yang lambat memahami materi pembelajaran 7. Siswa kelelahan 8. Siswa pindah sekolah karena tidak betah di asrama Orang tua 1. Orang tua belum memahami tradisi dan tata tertib pondok pesantren 2. Orang tua tidak mau tahu dengan perkembangan belajar siswa Sarana dan prasarana 1. Daya tampung asrama 2. Belum ada musala di unit pendidikan 3. Kekurangan ruang belajar 4. Buku di perpustakaan tidak mencukupi 5. Belum ada perpustakaan diniyah 6. Kekurangan beberapa fasilitas penunjang asrama 7. Listrik padam ketika malam 8. Kelas lesehan (tanpa meja kursi) Guru 1. Ketidakhadiran guru 2. Pengurus masih kuliah Kurikulum 1. Alokasi waktu 2 jam pelajaran 2. Waktu diniyah sore hari singkat (3 jam) 3. Kegiatan asrama di malam hari Teknologi informasi komunikasi 1. Kemajuan teknologi informasi 2. Muncul PS di sekitar madrasah Tabel 4.22 menunjukkan bahwa faktor penghambat pembelajaran Fiqih berasal dari siswa, orang tua, sarana prasarana, guru, kurikulum, dan teknologi informasi
  47. 47. 128 komunikasi. Faktor penghambat didominasi oleh faktor siswa dan sarana prasarana. Faktor-faktor penghambat tersebut sebagai berikut: 1. Siswa belum bisa baca tulis Al-Qur’an dan shalat Faktor penghambat yang paling berat adalah masih ditemukan siswa baru yang belum bisa baca tulis Al-Qur’an dan shalat. Sebagian besar siswa tersebut berasal dari SD, walaupun ada juga yang sudah lancar dan mengenal huruf Hijaiyah dan sudah bisa shalat. 2. Latar belakang siswa beragam Latar belakang siswa beraneka ragam, seperti fisiologis, psikologis, sosial, budaya, ekonomi, dan lain-lain. Keberagaman latar belakang siswa menuntut perhatian lebih baik tenaga maupun pikiran dari guru dan pengurus asrama. 3. Siswa masih kecil sering menangis dan ingat rumah Siswa madrasah tsanawiyah mayoritas masih kecil yang belum terbiasa hidup jauh dari orang tua, sehingga ketika baru pertama tinggal di asrama sering menangis karena selalu ingat rumah dan belum terbiasa mengurus keperluan hidupnya sendiri. 4. Siswa terlambat datang ke sekolah Kegiatan padat dari pagi sampai malam memeras tenaga dan pikiran siswa, sehingga ada beberapa siswa menjadi kelelahan dan terlambat datang ke sekolah baik sekolah pagi maupun sekolah sore. 5. Siswa tinggal di asrama selama 24 jam Selama 24 jam siswa tinggal di asrama memerlukan kerja keras dari guru dan pengurus asrama untuk memperhatikan dan mengawasinya. 6. Ada siswa yang lambat memahami materi pembelajaran Tidak semua siswa mampu mengikuti dan menyerap materi pembelajaran dengan cepat, beberapa siswa mengalami kesulitan mengikuti pembelajaran dan
  48. 48. 129 lambat dalam memahami materi pembelajaran, apalagi siswa yang belum bisa baca tulis Al-Qur’an. 7. Siswa kelelahan Aktivitas siswa yang menguras tenaga dan pikiran menyebabkan siswa kelelahan, sehingga terkadang ketika belajar diniyah sore atau belajar di asrama siswa mengantuk dan tertidur di kelas. Belum lagi ditambah dengan beban belajar yang cukup banyak dan target yang harus dicapai oleh siswa juga menyebabkan kelelahan secara psikis. 8. Siswa pindah sekolah karena tidak betah di asrama Ada juga siswa yang tidak betah di asrama kemudian pindah sekolah atau pulang ke daerah asal. Siswa belum terbiasa jauh dari orang tua, tidak terbiasa hidup ala pondok pesantren yang mengedepankan kesederhanaan dan segala aktivitas terjadwal dengan ketat. 9. Orang tua belum memahami tradisi dan tata tertib pondok pesantren Beberapa orang tua ada yang belum memahami tradisi dan tata tertib di asrama pondok pesantren. Orang tua menganggap asrama pondok pesantren sama seperti tempat kos secara umum. 10. Orang tua tidak mau tahu dengan perkembangan belajar siswa Ada orang tua yang sibuk dengan aktivitasnya, sehingga tidak memperhatikan perkembangan belajar anak-anaknya di asrama. Orang tua hanya sekedar memberikan kiriman uang untuk biaya pendidikan dan biaya hidup sehari-hari anaknya. 11. Daya tampung asrama Setiap tahun siswa baru yang masuk mengalami fluktuasi, tetapi secara rata- rata dapat dikatakan ada peningkatan. Hal ini membutuhkan penambahan kamar- kamar di asrama atau pembangunan asrama baru.
  49. 49. 130 12. Belum ada musala di unit pendidikan Musala sebagai tempat ibadah dan pembelajaran praktik sangat diperlukan di madrasah, sementara ini madrasah belum memiliki musala. Pembelajaran praktik dilaksanakan di kelas atau di masjid, demikian pula dengan aktivitas shalat Duha dan shalat Duhur berjamaah. Pada jam istirahat biasanya siswa kembali ke asrama untuk melaksanakan shalat Duha, untuk shalat Duhur berjamaah dilaksanakan di masjid. 13. Kekurangan ruang belajar Kelas pagi ada 15 rombongan belajar, sedangkan ruang kelas yang tersedia ada 12 ruang, sehingga masih terdapat kekurangan sebanyak 3 ruang. Tiga ruang kelas yang kurang sementara menggunakan ruang perpustakaan dan aula madrasah. 14. Buku di perpustakaan tidak mencukupi Perpustakaan telah menyediakan buku-buku untuk semua mata pelajaran, tetapi jumlahnya belum mencukupi untuk semua siswa. Buku-buku yang tersedia baru mencukupi untuk siswa satu kelas dengan jumlah antara 30-40 eksemplar untuk setiap mata pelajarannya. 15. Belum ada perpustakaan diniyah Perpustakaan diniyah yang menyediakan buku-buku agama dan kitab-kitab klasik belum ada. Perpustakaan diniyah diperlukan untuk mendukung proses pembelajaran di diniyah, bahkan jika dimungkinkan perlu ada perpustakaan di masing-masing asrama. 16. Kekurangan beberapa fasilitas penunjang asrama Masih terdapat kekurangan jumlah beberapa fasilitas asrama seperti kamar mandi, tempat wudlu, toilet, dampar untuk tempat menulis pada kelas malam, dan sarana olah raga. Hal ini disebabkan oleh jumlah siswa yang tinggal di asrama terus bertambah, selain itu juga ada beberapa fasilitas yang telang usang.
  50. 50. 131 17. Listrik padam ketika malam Ketika pembelajaran malam di asrama menggunakan penerangan listrik PLN, walaupun tidak sering tetapi kadang-kadang listrik padam yang menyebabkan proses pembelajaran terganggu, karena kelas menjadi gelap. 18. Kelas lesehan (tanpa meja kursi) Kelas malam di asrama tidak menggunakan meja kursi atau lesehan, bagi siswa baru hal ini menyulitkan karena tidak terbiasa menulis tanpa meja. 19. Ketidakhadiran guru Guru ada juga yang berhalangan hadir karena berbagai alasan, baik karena sakit maupun kepentingan lainnya. Kelas yang ditinggalkan akan kosong dan tidak ada yang membimbing dan mengawasi siswa di kelas pada jam pelajaran tersebut. Ketika kelas tidak ada guru dan tidak ada kegiatan, sangat dimungkinkan terjadi hal- hal yang tidak diinginkan. 20. Pengurus masih kuliah Semua pengurus adalah mahasiswa yang masih kuliah di STKIP Nurul Huda. Pengurus mempunyai tanggung jawab ganda, selain sebagai mahasiswa yang masih harus belajar, pengurus juga bertanggung jawab mengurus siswa-siswa yang ada di bawah tanggung jawabnya. Mahasiswa menjadi pengurus asrama, mulai dari ketua kamar sampai lurah asrama. 21. Alokasi waktu 2 jam pelajaran Alokasi waktu pembelajaran Fiqih hanya 2 jam pelajaran, sedangkan materi cukup banyak dan harus memenuhi target pencapaian kurikulum. Pembelajaran Fiqih bukan hanya sekedar materi teoritis di kelas, tetapi memerlukan banyak waktu untuk kegiatan praktik.
  51. 51. 132 22. Waktu diniyah sore hari singkat (3 jam) Pembelajaran diniyah sore dimulai pukul 14.00 WIB s.d. 17.00 WIB atau 3 jam termasuk untuk shalat ’Ashar berjamaah. Dengan waktu yang singkat dan materi yang cukup banyak membutuhkan pengelolaan yang baik. 23. Kegiatan asrama di malam hari Setelah siswa mengikuti pembelajaran di kelas pagi dan kelas sore, maka pada malam harinya siswa diharuskan mengikuti kegiatan asrama. Banyak kendala yang dihadapi pada kegiatan malam, mulai dari siswa kelelahan, lampu penerangan, dan lain-lain. 24. Kemajuan teknologi informasi Teknologi informasi dan komunikasi membawa dampak positif dan negatif. Dampak negatif dari teknologi informasi dan komunikasi seperti tayanangan televisi yang tidak mendidik, pornografi, kekerasan, permainan, dan lain-lain. 25. Muncul PS di sekitar madrasah Kemunculan play station (PS) di sekitar madrasah mempunyai daya tarik tersendiri bagi para siswa. Ada saja siswa yang rela tidak masuk sekolah hanya untuk bermain PS. Hal ini sangat mengganggu proses pembelajaran di madrasah. Upaya yang Dilakukan untuk Mengelola Faktor yang Memengaruhi Pembelajaran Fiqih di Madrasah Tsanawiyah Nurul Huda Sukaraja OKU TIMUR Dalam rangka menjamin keberhasilan pembelajaran Fiqih, maka keberadaan faktor pendukung dan penghambat pembelajaran Fiqih harus dikelola dengan baik oleh pihak- pihak yang berkepentingan dengan pembelajaran Fiqih. Berbagai upaya telah dilakukan untuk memanfaatkan faktor pendukung dan mengatasi faktor penghambat pembelajaran Fiqih. Upaya-upaya tersebut dilakukan oleh pihak madrasah tsanawiyah di pagi hari, madrasah diniyah di sore hari, dan asrama di malam hari. Upaya dilakukan secara
  52. 52. 133 berkesinambungan melalui kerja sama antar unit pendidikan yang ada di Pondok Pesantren Nurul Huda Sukaraja. Upaya Memanfaatkan Faktor Pendukung Pembelajaran Fiqih di Madrasah Tsanawiyah Nurul Huda Sukaraja OKU TIMUR Sebagai madrasah yang ada di pondok pesantren, Madrasah Tsanawiyah Nurul Huda Sukaraja terus berusaha meningkatkan dan mengembangkan keberadaannya di tengah- tengah masyarakat sebagai lembaga pendidikan berbasis pondok pesantren. Berbagai faktor pendukung dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan pengembangan madrasah. Faktor pendukung pembelajaran Fiqih harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk keperluan pencapaian tujuan pembelajaran. Demikian pula pada pembelajaran Fiqih di Madrasah Diniyah Nurul Huda Sukaraja, faktor pendukung juga dimanfaatkan untuk menunjang keberhasilan proses pembelajaran. Agar lebih jelas, upaya yang dilakukan untuk memanfaatkan faktor pendukung disajikan pada matriks berikut: Tabel 4.23, Matriks upaya memanfaatkan faktor pendukung pembelajaran Fiqih Komponen Uraian Upaya yang dilakukan Orang tua a. Dukungan orang tua terhadap pembelajaran a. Memaksimalkan dukungan orang tua. Siswa a. Siswa tinggal di asrama b. Minat dan motivasi siswa tinggi a. Sistem asrama menjaga siswa dari pengaruh negatif dunia luar. b. Penempatan kamar siswa berdasarkan jenjangnya. c. Menjaga dan memupuk minat dan motivasi siswa. d. Menyelenggarakan berbagai kegiatan. e. Pengajian umum dari pimpinan. Guru a. Latar belakang pendidikan Strata Satu (S1) b. Latar belakang pendidikan pondok pesantren c. Tamatan sendiri a. Pembagian tugas guru sesuai dengan kemampuan. b. Pembinaan guru secara rutin. c. Memberdayakan siswa senior.
  53. 53. 134 Komponen Uraian Upaya yang dilakukan Sarana dan prasarana a. Asrama cukup b. Sarana ibadah/masjid dekat dengan madrasah c. Buku pelajaran dan kitab kuning d. Fasilitas hidup sehari- hari a. Mewajibkan semua siswa tinggal di asrama. b. Memanfaatkan fasilitas sebaik mungkin untuk pembelajaran. c. Menggunakan buku untuk proses pembelajaran. d. Memelihara dan menjaga lingkungan dengan sebaik-baiknya. Kurikulum a. Madrasah Tsanawiyah pagi hari b. Madrasah diniyah sore hari c. Kegiatan asrama malam hari a. Madrasah merupakan jawaban tantangan dan mempersiapkan siswa menghadapi zamannya. b. Melakukan kerja sama antar unit pendidikan. Manajemen a. Pengelolaan madrasah di bawah pondok pesantren b. Kerja sama antar unit pendidikan a. Pengelolaan madrasah semi otonom . b. Pertemuan rutin kepala unit pendidikan. Lingkungan a. Dukungan masyarakat b. Dukungan yayasan c. Dukungan pemerintah kabupaten a. Jalin kerja sama dengan masyarakat sekitar pondok pesantren. b. Yayasan telah menyediakan tanah, gedung, dan subsidi perawatan gedung. c. Memanfaatkan bantuan pemerintah sesuai peruntukkannya. d. Melibatkan dan menghadirkan pemerintah daerah dalam acara-acara tertentu. Matriks tersebut menggambarkan bahwa telah banyak upaya yang dilakukan untuk memanfaatkan faktor pendukung pembelajaran Fiqih. Upaya-upaya tersebut sebagai berikut: 1. Memaksimalkan dukungan orang tua Dukungan orang tua siswa dimaksimalkan dengan membangun komunikasi dan kerja sama melalui komite madrasah. Pertemuan dengan orang tua diselenggarakan pada setiap awal dan akhir tahun, pada awal tahun ada Dirosah Iftitah untuk siswa baru dan di akhir tahun ada Tahtiman Akhirussanah untuk siswa yang lulus. Setiap guru, kepala madrasah, pengurus, pengasuh, dan kyai selalu terbuka menerima orang tua siswa. Biasanya, setiap orang tua menjenguk anaknya selalu silaturahmi ke pengasuh asrama, bila datang ke madrasah selalu bertemu dengan
  54. 54. 135 guru atau kepala madrasah. Pada waktu pertemuan tersebut, orang tua menerima penjelasan segala permasalahan tentang anaknya, baik di asrama maupun di madrasah, sehingga ada pengertian dan kerja sama dari kedua belah pihak untuk keberhasilan belajar siswa di pondok pesantren. Madrasah dan asrama juga menyediakan nomor telepon yang dapat dihubungi setiap saat oleh orang tua, demikian pula sebaliknya, sehingga orang tua dapat memperoleh informasi tentang perkembangan anaknya di pondok pesantren. Selain itu, di akhir semester siswa memperoleh tiga macam Buku Laporan Hasil Belajar, yaitu madrasah pagi, diniyah sore, dan asrama malam. Ketiga buku tersebut harus ditanda tangani oleh orang tua atau wali siswa. Kelas malam disertai dengan lembar komentar yang harus diisi oleh orang tua siswa. 2. Sistem asrama menjaga siswa dari pengaruh negatif dunia luar Siswa berada di asrama pondok pesantren selama dua puluh empat jam terikat dengan tata tertib dan tradisi. Siswa disibukkan dengan berbagai kegiatan yang padat mulai dari pagi sampai malam. Hal itu melindungi siswa dari pengaruh negatif dunia luar pondok pesantren, akan tetapi agar santri tidak ketinggalan informasi dunia luar, setiap hari libur diputarkan televisi, selain itu juga ada laboratorium komputer di setiap unit pendidikan, bahkan di SMK ada jurusan multimedia. Siswa dilarang keluar asrama selain pada jam sekolah. Apabila ada keperluan, siswa harus ijin kepada pengurus dengan waktu keluar asrama yang terbatas. Siswa keluar asrama tanpa ijin akan diberi sanksi, mulai dari sanksi teguran sampai sanksi tertulis. 3. Menjaga dan memupuk minat dan motivasi siswa Siswa dibimbing dan dididik sebaik-baiknya agar aktif mengikuti setiap kegiatan sehingga nantinya menjadi orang yang berguna. Pembinaan dan pengawasan siswa 24 jam penuh, menasehati dan memotivasi siswa agar kemauan
  55. 55. 136 belajarnya tetap stabil, selain itu juga diselenggarakan berbagai kegiatan untuk menyalurkan minat dan kemampuan siswa baik seni, olahraga, dan kegiatan lainnya. Nasehat agar siswa menjaga pola hidup yan baik, seperti pola makan dan tidur yang cukup. 4. Menyelenggarakan berbagai kegiatan Kemauan dan semangat belajar siswa yang tinggi disalurkan melalui berbagai kegiatan pengembangan bakat dan ekstra kurikuler, baik seni maupun olahraga. Kegiatan-kegiatan tersebut seperti hadroh, tilawatul Qur’an, Berjanji, tahfidzul Qur’an, olahraga, pramuka, berbagai cabang olahraga, dan kegiatan lainnya. Dari berbagai kegiatan tersebut telah banyak melahirkan siswa yang mampu berprestasi di berbagai lomba baik tingkat kabupaten maupun tingkat provinsi, bagi lomba seni maupun olahraga. Pada acara Dirosah Iftitah, Tahriman Akhirussanah dan pada hari-hari tertentu seperti peringatan hari besar diselenggarakan panggung kreasi dan seni siswa yang menampilkan kemampuan dan bakat yang dimiliki siswa baik secara individu maupun berkelompok. 5. Pengajian umum dari pimpinan Secara rutin, pimpinan memberikan pengajian umum untuk siswa di asrama, baik asrama putra maupun asrama putri. Pengajian umum pimpinan di asrama putra dilaksanakan setiap selesai shalat Magrib, dan di asrama putri setiap selesai shalat Subuh. Pengajian umum diikuti oleh seluruh santri dan pengurus, selain itu juga untuk memberikan bimbingan dan pengarahan secara langsung kepada siswa dan pengurus. Pengajian umum untuk mahasiswa yang tinggal di asrama dilaksanakan setiap selesai shalat Duha pukul 10.00 WIB s.d. 11.30 WIB.
  56. 56. 137 6. Pembagian tugas guru sesuai dengan kemampuan Pembagian tugas guru disesuaikan dengan latar belakang pendidikan dan kemampuannya, selalu ada pembinaan dari kepala madrasah dan pimpinan secara rutin. Guru juga diikutserakan dalam berbagai kegiatan untuk meningkatkan kompetensi profesionalnya, untuk menjawab tantangan kemajuan zaman guru-guru dianjurkan untuk meningkatkan kualifikasi akademiknya dengan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, baik melalui jalur mandiri, subsidi, maupun beasiswa. Pada saat ini telah banyak guru-guru yang melanjutkan pendidikan ke strata dua (S2), ada yang di Palembang, Bandar Lampung, Jakarta, Malang, Yogyakarta, dan bahkan ada yang ke Yaman (Timur Tengah). 7. Pembinaan guru secara rutin Pembinaan guru dilaksanakan secara rutin, baik oleh pimpinan, wakil pimpinan, kepala madrasah, maupun dengan mendatangkan nara sumber dari berbagai lembaga. Selain itu, guru-guru juga diikutsertakan dalam berbagai kegiatan ilmiah dan pengembangan diri, seperti pendidikan dan pelatihan, seminar, workshop, sosialisasi, Musyarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), memberi kesempatan guru untuk melanjutkan pendidikan baik dengan subsidi dari pondok pesantren maupun dengan biaya mandiri. 8. Memberdayakan siswa senior Siswa senior adalah siswa yang telah menamatkan pendidikan diniyah dan pendidikan asrama. Biasanya santri senior sedang menempuh pendidikan di bangku kuliah, walaupun ada juga yang telah menyelesaikan pendidikan di bangku kuliah tetapi masih tetap berada di asrama. Siswa senior diberi kepercayaan dengan menjadi pengurus mulai dari ketua kamar sampai dengan lurah asrama. Ada juga beberapa siswa senior yang diberi kepercayaan untuk membantu mengajar, baik di diniyah maupun di asrama.

×