Takhrij Hadits

2,635 views

Published on

takhrij hadits

Published in: Education
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
2,635
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
3
Actions
Shares
0
Downloads
147
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Takhrij Hadits

  1. 1. TAKHRIJ HADITS Oleh : Mugni Sulaeman Feat. Tuti Munawaroh
  2. 2. PENGERTIAN TAKHRIJ HADITS Secara Etimologi Kata takhrij berasal dari kata kharaja, yang berarti al-zuhur (tampak) dan alburuz (jelas) (Munawir, 1984: 356). Takhrij juga bisa berarti al-istimbat (mengeluarkan), al-tadrib (meneliti) dan al- taujih (menerangkan) (Abadi, 1313 H: 192) Takhrij juga bisa berarti Ijtima’ al-amra’aini al-muttadla diin fi syai’in wahid (berkumpulnya dua persoalan yang bertentangan dalam suatu hal), al-istimbath (mengeluarkan dari sumbernya), at-tadrib (latihan), altaujih (menjelaskan duduk persoalan, pengarahan) (Ali, 2008: 2). Sedang menurut Syeh Manna’ Al- Qaththan, takhrij berasal dari kata kharaja yang artinya nampak dari tempatnya, atau keadaan, terpisah dan kelihatan. Alkharaja artinya menampakan dan memperlihatkannya, dan al-makhraja artinya tempat keluar, dan akhraja al-khadits wa kharajahu artinya menampakkan dan memperlihatkan hadits kepada orang dengan menjelaskan tempat keluarnya.(Al- Qaththan, 2006: 189).
  3. 3. Secara terminologi Adapun secara terminologi, takhrij adalah menunjukkan tempat hadits pada sumber-sumber aslinya, dimana hadits tersebut telah diriwayatkan lengkap dengan sanadnya, kemudian menjelaskan derajatnya jika diperlukan (Al- Tahhan, 1978: 9). Takhrij menurut Nizar Ali, mempunyai pengertian: Mengungkapkan atau mengeluarkan hadits kepada orang lain dengan menyebutkan para perowi yang berada dalam rangkaian sanadnya sebagai yang mengeluarkan hadits. Sedangkan takhrij menurut istilah ahli hadits, mempunyai pengertian: Menunjukan asal usul hadits dan mengemukakan sumber pengambilannya dari berbagai kitab hadits yang disusun Mukhorrijnya langsung, kegiatan takhrij seperti ini sebagaimana yang dilakukan oleh para penghimpun hadits dari kitab-kitab hadits, misalnya Ibnu Hajar al-‘Asqalani yang menyusun kitab Bulug al-Maram.(Ali, 2008: 43)
  4. 4. METODE TAKHRIJ Takhrij suatu metode untuk menentukan kehujahan hadits serta unsur-unsurnya. Yang terbagi menjadi tiga, yaitu : 1. Takhrij Naql. Takhrij dalam bentuk ini kegiatannya berupa penelusuran, penukilan dan pengambilan hadits dari beberapa kitab, sehingga dapat diidentifikasi haditshadits tertentu yang dikehendaki lengkap dengan rawi dan sanadnya masingmasing. Penakhrijan dalam arti naql telah banyak diperkenalkan oleh para ahli hadits, diantaranya yang dikemukakan oleh Dr. Mahmud al-Thahhan yang menyebutkan lima teknik dalam menggunakan metode takhrij Naql diantaranya : 1. Takhrij dengan mengetahui sahabat yang meriwayatkan hadits 2. Takhrij dengan mengetahui lafadz asal matan hadits 3. Takhrij dengan mengetahui lafadz matan hadits yang kurang dikenal 4. Takhrij dengan mengetahui tema atau pokok bahasan hadits 5. Takhrij dengan mengetahui matan dan sanad hadits
  5. 5. 2. Takhrij Tashhih Cara ini sebagai lanjutan dari cara yang pertama diatas. Tashhih dalam arti menganalisis keshahihan hadits dengan mengkaji rawi, sanad dan matan berdasarkan kaidah. Kegiatan tashhih dengan menggunakan kitab ‘ Ulum al-Hadits yang berkaitan dengan Rijal, Jarh wa al-Ta’dil, ma’an al-Hadits Gharib al- Hadits. Kegiatan ini dilakukan oleh Mudawin ( kolektor ) sejak Nabi Muhammad saw. Sampai abad 3 H. Dan dilakukan oleh para Syarih ( komentator ) sejak abad 4 H. sampai sekarang.
  6. 6. 3. Takhrij I’tibar Cara ini sebagai lanjutan dari cara yang kedua di atas. I’tibar berarti mendapatkan informasi dan petunjuk dari literature, baik kitab yang asli, kitab syarah yang memuat dalil-dalil hadits. Secara teknis, proses pembahasan yang perlu ditempuh dalam studi dan penelitian hadits sebagai berikut : a. Dilihat, apakah hadits tersebut benar-benar sebagai hadits. b. Memperhatikan unsur hadits seperti : sanad, matan dan perawi. c. Termasuk jenis hadits apa hadits tersebut, dari segi rawi, matan dan sanadnya. d. Bagaimana kualitas hadits tersebut. e. Bila hadits itu maqbul, bagaimana ta’amulnya , apakah ma’mul bih (dapat diamalkan) atau ghoir ma’ul bih. f. Teks hadits harus dipahami ungkapannya, maka perlu diterjemahkan. g. Memahami asbab wurud hadits. h. Apa isi kandungan hadits tersebut. i. Menganalisis problematika.
  7. 7. Tujuan Takhrij Hadits Ilmu takhrij merupakan bagian dari ilmu agama yang harus mendapat perhatian serius karena di dalamnya dibicarakan berbagai kaidah untuk mengetahui sumber hadist itu berasal. Di samping itu, di dalamnya di temukan banyak kegunaan dan hasil yang di peroleh, khususnya dalam menentukan kualitas sanad hadits. Takhrij hadits bertujuan mengetahui sumber asal hadis yang di takhrij.Tujuan lainnya adalah mengetahui di tolak atau diterimanya hadist-hadist tersebut. Dengan cara ini, kita akan mengetahui hadist-hadist yang pengutipannya memerhatikan kaidah-kaidah ulumul hadist yang berlaku sehingga hadist tersebut menjadi jelas, baik asal-usul maupun kualitasnya.
  8. 8. Faedah Takhrij Hadits Adapun faedah takhrij hadis antara lain : 1. Dapat di ketahui banyak – sedikitnya jalur periwayatan suatu hadist yang sedang menjadi topic kajian. 2. Dapat di ketahui kuat tidaknya periwayatan akan menambah kekuatan riwayat. Sebaliknya, tanpa dukungan periwayatan lain, kekuatan periwayatan tidak bertambah. 3. Dapat di temukan status hadist shahih li dzatih atau shahih li ghairih, hasan li dzatih, atau hasan li ghairih. Demikian juga akan dapat di ketahui istilah hadist mutawatir, masyhur, aziz, dan gharibnya. 4. Memberikan kemudahan bagi orang yang hendak mengamalkan setelah mengetahui bahwa hadist tersebut adalah makbul (dapat di terima). Sebaliknya, orang tidak akan mengamalkannya apabila mengetahui bahwa hadist tersebut tidak dapat diterima (mardud). 5. Menguatkan keyakinan bahwa suatu hadist adalah benar – benar berasal dari Rasulullah SAW. Yang harus di ikuti karena adanya bukti – bukti yang kuat tentang kebenaran hadist tersebut, baik dari segi sanad maupun matan.
  9. 9. Makalahna aya di http://mugnisulaeman.blogspot.com

×