Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

JURNAL SMART 2017 LPMP GORONTALO

42 views

Published on

JURNAL SMART 2017 LPMP GORONTALO

DAFTAR ISI
KOMPETENSI INTI PENGETAHUAN
Ato Rahman.................................................................................................................... 1
ANALISIS PEMANFAATAN TIK DALAM MEDIA PEMBELAJARAN
UNTUK GURU MENGGUNAKAN EXCELSURVEY ONLINE OFFICE 365
Hamzah Hippy, Suraya.................................................................................................... 9
PERAN PENGAWAS SEKOLAH DASAR DALAM IMPLEMENTASI
KURIKULUM 2013 TAHUN 2016
Ibrahim Ganio................................................................................................................ 15
ALOKASI WAKTU PEMBELAJARAN KURIKULUM 2013 PADA
PROGRAM FULL DAY SCHOOL DI PROVINSI GORONTALO
Simin A. Rauf................................................................................................................. 20
IMPLEMENTASI METODE “COOPERATIVE INTEGRATED READING
AND COMPOSITION” UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR
SISWA PADA MATA PELAJARAN BAHASA INGGRIS
Sukrianto Rauf................................................................................................................ 26
GAYA DAN STRATEGI BELAJAR
Suleman Haridji............................................................................................................. 31
PENINGKATAN KOMPETENSI GURU DALAM PEMBELAJARAN
PENGEMBANGAN PARAGRAF MELALUI METODE KOOPERATIF
MODEL JIGSAW DI SMP NEGERI 3 LIMBOTO BARAT TAHUN 2017
Suleman Haridji............................................................................................................. 46
KUNJUNG KARYA DAN KARYA BERKUNJUNG
DALAM PEMBELAJARAN PRAKARYA BAGI GURU SMP
Suraya........................................................................................................................... 54

Published in: Education
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

JURNAL SMART 2017 LPMP GORONTALO

  1. 1. iii DAFTAR ISI KOMPETENSI INTI PENGETAHUAN Ato Rahman.................................................................................................................... 1 ANALISIS PEMANFAATAN TIK DALAM MEDIA PEMBELAJARAN UNTUK GURU MENGGUNAKAN EXCELSURVEY ONLINE OFFICE 365 Hamzah Hippy, Suraya.................................................................................................... 9 PERAN PENGAWAS SEKOLAH DASAR DALAM IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 TAHUN 2016 Ibrahim Ganio................................................................................................................ 15 ALOKASI WAKTU PEMBELAJARAN KURIKULUM 2013 PADA PROGRAM FULL DAY SCHOOL DI PROVINSI GORONTALO Simin A. Rauf................................................................................................................. 20 IMPLEMENTASI METODE “COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION” UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN BAHASA INGGRIS Sukrianto Rauf................................................................................................................ 26 GAYA DAN STRATEGI BELAJAR Suleman Haridji............................................................................................................. 31 PENINGKATAN KOMPETENSI GURU DALAM PEMBELAJARAN PENGEMBANGAN PARAGRAF MELALUI METODE KOOPERATIF MODEL JIGSAW DI SMP NEGERI 3 LIMBOTO BARAT TAHUN 2017 Suleman Haridji............................................................................................................. 46 KUNJUNG KARYA DAN KARYA BERKUNJUNG DALAM PEMBELAJARAN PRAKARYA BAGI GURU SMP Suraya............................................................................................................................ 54
  2. 2. 1 KOMPETENSI INTI PENGETAHUAN ATO RAHMAN LPMP Gorontalo ato.rahman@kemdikbud.go.id Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetaui kopetensi inti pengetahuan dalam K13 dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa : 1) Pada kompetensi inti pengetahuan (KI3) sebenarnya sudah mengarahkan cakupan seluruh kompetensi yang diharapkan dimiliki oleh peserta didik yakni, a) Kompetensi Inti Spiritual (KI1) , b) Kompetensi inti sikap (KI2) dan kompetensi inti keterampilan (KI4). 2) Pada kompetensi inti pengetahuan (KI3) yang kemudian diturunkan menjadi kompetensi dasar, diturunkan lagi ke indikator kencapaian kompetensi sudah terdapat dimensi proses kognisi C1,…C6) dan dimensi pengetahuan yang yang terdiri atas jenis pengetahuan a) factual, b) Konsep, c) Prosedural dan d) Metakognitif. 3) Untuk menurunkan kompetensi dasar men- jadi indicator pencapaian kompetensi dapat menggunakan kata kerja operasional (KKO).4) Dalam penyusunan instrument penilaian pengetahuan mengharuskan untuk patuh pada tak- sonomi Bloom-Anderson.5) Pada kompetensi Inti pengetahuan sudah mengarahkan proses pembelajaran menggunakan prosedur keterampilan menuju terkonstruksinya pengetahuan. 6) Pada kompetensi Inti pengetahuan sudah mengarahkan pembelajaran dalam satu satuan waktu dengan proses penilaian, yakni penilaian proses, keterampilan dan sikap dan setelah pembelajaran berakhir dapat dinilai pengetahaunan yang meretensi.7) Perlu memperhatikan KD dari KI dalam menyusun instrument soal untuk penilaian pengetahuan, gunakan gam- bar pada poin 10 sebagai referency. Kata Kunci : Kompetensi inti, pengetahuan, K13 Pendahuluan Memandang kehidupan dan semua permas- alahannya yang bermunculan dapat berawal dari kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan yang harus diperbaiki melalui pembenahan pendi- dikan, bukankah output pendidikan yang memili- ki kompetensi tersebut menjadi kebutuhan social? Untuk itu tulisan ini mengajak pembaca untuk memiikirkannya secara kreatif dari sudut pandang positif kurikulum 2013. Yang dimaksudkan ada- lah untuk secara kreatif adalah berpikir dan ber- tindak melaksanakan kurikulum 2013 sesuai ram- bu-rambunya. Sebab ketika kita berpikir kreatif secara positif, pastilah akan membuahkan hara- pan bahwa semua permasalahan akan terasakan lebih mudah dihadapi. Bahkan itu akan membuat semangat hidup semakin kuat dan kita dipenuhi rasa syukur dan bahagia karena telah berhasil me- masuki ruang problem kurikulum 2013 dan beru- saha untuk berhasil melaluinya demi kehebatan masa depan generasi yang memiliki kompetensi untuk bersikap, berpikir untuk berketerampilan dan berpengetahuan.Tulisan ini akan mengulas muatan Kompetensi Inti yang sebelumnya dengan istilah standar kompetensi, dengan focus Kompe- tensi Inti pengetahuan sebagai salah satu dari em- pat Kompetensi Inti pada Kurikulum 2013. Kompetensi Inti dijelaskan dalam kurikulum 2013 adalah berfungsi sebagai penerjemah Stan- dar Kompetensi lulusan (SKL). Kompetensi Inti secara turut-turut dengan sebutan: Kompetensi Inti Sikap Spritual (KI-1); Kompetensi Inti Sikap Sosial (KI-2); Kompetensi Inti Pengetahuan (KI- 3); Kompetensi Inti Keterampilan (KI-4). Ke- empat kompetensi inti ini menerjemahkan Stan- dar Kompetensi Lulusan (SKL) yang terdiri dari Kompetensi Sikap; Kompetensi Pengetahuan; dan Kompetensi Keterampilan. SKL ini menjadi no urut pertama dari delapan Standar Nasional Pen- didikan (SNP), dijadikan nomor pertama dalam
  3. 3. 2 SNP disebabkan SKL menjadi kebutuhan mas- yarakat dalam era globalisasi. SKL sebagai kebutu- han masyarakat karena melihat kompleksitasnya masalah yang akan dihadapi secara internal, nasi- onal dan internasional, terlebih untuk Indonesia Emas tahun 2045. Kompetensi Inti selain berfungsi menerjemah- kan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) berfung- si sebagai pengganti istilah Standar Kompetensi (SK) pada Ktsp, berfungsi pula sebagai pengikat Kompetensi Dasar (KD) yang muatannya meng- arah pada Dimensi proses kognitif peserta didik yang terpetakan pada Dimensi Pengetahuan atau yang berkaitan dengan bidang/materi ajar yang akan menjadi menu utama Peserta didik dalam membentuk Peserta didik yang memiliki Kom- petensi Sikap Spiritual, Kompetensi Sikap Sosial, Kompetensi Pengetahuan dan Kompetensi Keter- ampilan. Jadi untuk tercapainya SKL oleh peserta didik dapat melalui penilaian Kompetensi Inti. Untuk penilaian otentik atas tercapainya SKL ha- rus melalui Standar Proses pembelajaran, sehingga antara Kebutuhan masyarakat yang SKLnya baik harus sesuai dengan Menunya KI-KD dan Stan- dar Prosesnya, jangan sampai menunya bubur makannya pakai garpu. Untuk men-share lebih jauh, maka dianggap penting bagi pengampu pembelajaran di kelas adalah memahami Kompetensi Inti, yang dengan tema, “ada apa dengan Kompetensi Inti Pengeta- huan ? dengan berharap menjadi bermanfaat. Persepsi KI3 fisika X: Memahami, mene­rapkan, menganali­sis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingin tahunya ten- tang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerap- kan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah (Dokumen Kuriku- lum 2013). Jika dianalisis melalui pemenggalan kalimat KI3 Pengetahuan Fisika Kelas X maka akan me- nemukan beberapa unsur yang terkandung dida- lammya, antara lain: 1. Penggalan 1, Memahami, mene­rapkan, menganali­sis adalah 3 dari 6 Proses Kognisi / berpikir adalah Kompetensi Inti Pengetahuan (KI3). 2. Penggalan 2, pengetahuan faktual, konseptual, prosedural adalah 3 jenis pengetahuan pertama dari 4 jenis pengetahuan dalam Dimensi Peng- etahuan (P). 3. Penggalan 3, berdasarkan rasa ingin tahunya adalah Kompetensi Sikap (KI2) tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban ter- kait penyebab fenomena dan kejadian, adalah Kompetensi Inti Spiritual (KI1). 4. Penggalan 4, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk me- mecahkan masalah adalah Kompetensi Inti Keterampilan (KI4). Kompetensi Inti Pengetahuan (KI3) melalui analisis pemenggalan kalimat utuh di atas dapat dianalsis ulang (meta analisis) hingga dapat dikon- tekstualkan merujuk ke pendapat para ahli atau referensi yang terkait dengan ide kurikulum 2013. Sehingga bisa dipersesikan hal-hal sebagai berikut: Pada Kalimat penggalan 1 dan Penggalan 2, di atas, Untuk mencapai Kompetensi Inti pengeta- huan (KI3) melalui proses kognisi yang merujuk pada Taksonomi Bloom bahwa, Khirarhis berpikir menuruti : i) C1 mengetahui (knowledge), ii) C2 memahami (Understand) ; iii) Menerapkan (Ap- plication) ; iv) C4 menaganalisis (Analysis); v) C5 mensintesa (Synthesis) dan vi) C6 mengevaluasi (Evaluate), khirakhi berpikir ini berdimensi satu. Disebut berdimensi satu dikarenakan pada C1 mengetahui (knowledge) telah mengandung di- mensi pengetahuan atau jenis pengetahuan untuk diterapkannya Proses kognisi pada level C1. Dis- ini seolah jenis pengetahuan hanya terdapat pada level C1 mengetahui (knowledge), tidak pada proses kognisi yang lainnya. Sebagai keharusan, bahwa ke-6 Proses kognisi secara khirarkhis terpe- takan pada jenis dimensi penegetahuan atau jenis pengetahuan yang terdiri atas: a) fakta, b) konsep, c) Prosedure, d) Metakognisi. Oleh Anderson-Krathwool, Taksonomi Bloom 1955 merevisi pada tahun 2001 menjadi i) i) C1 mengetahui (knowledge) diganti dengan men- genal / mengingat (recalling); ii) C5 mensintesa (Synthesis) diganti dengan Mencipta atau (Creat) dan menempatkannya pada posisi C6 menggan- tikan posisi C6 mengevaluasi (Evaluate) pada tak- sonomi Bloom sehingga C6 mengevaluasi menjadi C5 pada taksonomi revisi Anderson-Krathwool. Sehingga Hasil revisi menjadi : i) C1 mengenal/
  4. 4. 3 mengingat (recalling); ii) C2 memahami (Un- derstand) ; iii) Menerapkan (Application) ; iv) C4 menganalisis (Analysis); v) C5 mengevaluasi (Eval- uate) dan; vi) C6 mencipta (Creat). Perubahan C1 mengetahui oleh Bloom yang telah mengandung jenis pengetahuan direvisi oleh Anderson menjadi C1 Mengenal sebagai bagian dari proses berpikir dan menjadikan jenis penge- tahuan yang berdiri sendiri yang disebut dimensi pengetahuan. Sehingga akan terdapat hasil revi- si taksonomi Bloom oleh Anderson-Krathwool menjadi dua dimensi, yakni dimensi Proses Kog- nisi dan dimensi Pengetahuan. Kedua dimensi ini tidak dapat saling lepas atau terpisahkan. Dengan demikian taksonomi Bloom hasil revisi Ander- son-Krathwooll dari model satu dimension men- jadi dua dimensi yakni Dimensi Proses Cognition (X) dan Dimensi Knowledge (Y). Uraian ini dapat diperjelas dengan diagram pada gambar 1. Gambar 1. Combinations of the Cognitive Process and Knowledge Dimensions (Heer, 2012) 1. Pada kalimat penggalan 3 di atas,berdasarkan rasa ingin tahunya adalah Kompetensi Sikap (KI2) tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kema- nusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian adalah Kompetensi Inti Spiritual (KI1). Jika rasa ingin tahu yang baik yang tumbuh dan dimiliki oleh Peserta Didik maka dalam proses pembelajaran dapat dilakukan dengan pendekatan Constructiv- ism atau Pemebelajaran aktif yang mengincludkan Proses Scientific yang step-stepnya: i) Mengama- ti, ii) Menanya, iii) mengumpulkan informasi (untuk menjawab pertanyaan), iii) Mencoba, iv) menyimpulkan dan v) mengkomunikasikan. Jika pembelajaran berdasarkan proses scientif- ic berjalan dengan baik dan kontinyu maka akan menumbuhkan sikap sebagai nurturent efek dari pengalaman belajar untuk mengkonstruksi peng- etahuan sendiri dan tentunya dibawa bimbingan fasilitasi guru pembelajar. Jika ditelusuri lebih jauh bahwa proses scientific tersebut membu- tuhkan keterampilan (Skill) yang didasarkan oleh pengetahuan dasar untuk mengkonstruksi penge- tahuan baru, sehingga dalam teori bahwa proses scientific adalah identik dengan Step Proses Ket- erampilan, hal ini akan membentuk Kompetensi Inti Keterampilan (KI4) peserta didi.Jadi dengan demikian Proses scientific atau pembelajaran aktif akan membentuk Kompetensi keterampilan dan kompetensi berpikir untuk pengembangan kon- struksi pengetahuan serta kompetensi sikap. Proses pembelajaran scientific (aktif) adalah rohnya Kurikulum 2013, model pembelajaran ini adalah model yang sangat sesuai dengan zaman- nya peserta didik dewasa ini, zamanya teknologi informasi. Peserta didik dewasa ini sangat sulit untuk dibelajarkan dengan pendekatan pembe- lajaran seperti tahun-tahun sebelumnya. Dahulu peserta didik masih bisa mengulangi pembelajaran di rumah untuk mengahafal, atau menyelesaikan tugas PR, akan tetapi saat ini peserta didik kita se- olah tidak punya waktu lagi untuk belajar. Hal ini disebabkan oleh banyaknya kesibukan selain bela- jar, misalnya kesibukan nonton TV saja bisa ber- jam-jam karena dalam media TV begitu banyak pilihan chanelnya yang bisa mereka ikuti. Belum lagi media smartphone yang begitu canggihnya. Kondisi peserta didik saat ini sangat sulit untuk dikembalikan ke disiplin belajar sebagaimana da- hulu. Sebagai solusinya untuk peserta didik ada- lah dengan memaksimalkan media yang dimiliki peserta didik menjadi media belajar atau sebagai penghela pengetahuan sebagaimana dalam teori Kurikulum 2013. Sehingga media TV, Smart- phone tidak saja menjadi media hiburan saja akan tetapi menjadi media belajar. Akan tetapi dalam penggunaan Smartphone oleh peserta didik di sekolah, ada semacam kekha- watiran sekolah, mengingat peserta didik akan menggunakannnya pada hal-hal yang pornoisme sehingga sekolah melarang peserta didik untuk membawa media smartphone, sementara disisi yang lain guru dalam memfasilitasi pembelaja- ran sangat membutuhkan penghela pengetahuan tersebut. Dengan pelarangan membawa smart- phone dan disisi lain sekolah atau guru membu-
  5. 5. 4 tuhkannya dalam pembelajaran, akhirnya guru member tugas untuk mendownload materi ajar yang dibutuhkan diluar sekolah. Disini sekolah se- olah melepaskan tanggung jawabnya terhadap pe- serta didik, mengingat apakah peserta diluar sana tidak terkontrol lagi oleh sekolah atau guru. Men- genai hal ini mungkin sebagai solusinya adalah, a) seluruh peserta didik yang memiliki smartphone harus didata, b) seluruh smartphone agar dikum- pul oleh pihak keamanan selama pemeblajaran, c) pada saat pembelajaran memerlukan smartphone maka siswa dapat dibolehkan menggunakannnya. Mempersiapkan pembelajaran pembelajaran scientific pada mata pelajaran fisika yang dise- suaikan Kompetensi Inti Pengetahuan (KI3) di atas, perlu memahami Prinsi taksonomi Dimensi Proses Kognisi dan Dimensi Pengetahuan untuk menurunkannya menjadi Kompetensi dasar pen- getahuan (KD3 dari KI3). Contoh “ KI3: Memahami, mene­rapkan, menganali­sis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural ber- dasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu penge- tahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, ken- egaraan, dan peradaban terkait penyebab fenom- ena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah. KD3.2: Menerapkan prinsip-prinsip penguku- ran besaran fisis, ketepatan, ketelitian, dan angka penting, serta notasi ilmiah”. Jika menganalisis KD3.2. a) terdapat kata “me- nerapkan” sebagai kata lain dari proses kognisi C3 application, yang dipetakan pada dimensi peng- etahuan yakni Konsep berupa i) prinsip-prinsip pengukuran besaran fisis, ii) ketepatan, iii) kete- litian, iv) angka penting, v)notasi ilmiah, b)kata “menerapkan”dalam proses kognisi C3 ini, dapat diturunkan menjadi lebih konkrit sehingga dapat dibelajarkan, diukur, dinilai untuk menentukan hasil pembelajaran peserta didik, c) untuk keperlu- an penilaian hasil belajar dapat dilakukan melalui penyusunan blue print atau kisi-kisi instrument soal, d)berdasarkan blue print atau kisi-kisi soal dapat disusun Instrumen soal. Kompetensi dasar Pengetahuan (KD3) ha- rus dipahami oleh setiap individu Guru untuk mengimplementasikan dalam penyusunan Ren- cana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang sudah mengandung instrument penilaian yang didasar- kan pada keterampilan menggunakan taksonomi Proses kognisi dan dimensi pengetahuan. Kompetensi dasar (KD3.2 Fisika) ini ma- sih mengandung beberapa Pengetahuan Konsep (yang dimaksudkan adalah: prinsip-prinsip pen- gukuran besaran fisis, ketepatan, ketelitian, dan angka penting, serta notasi ilmiah). Oleh karena itu dapat diurai menjadi Sub Kompetensi dasar (Sub KD 3.2), menjadi: i) Menerapkan prinsip-prinsip pengukuran besa- ran fisis. ii) Menerapkan ketepatan, ketelitian. iii) Menerapkan angka penting, serta notasi ilmi- ah. Perlu diingat Proses kognitif “C3 menerapkan/ Application” belum dapat diukur. Untuk dapat diukur kemampuan “C3 menerapkan/applica- tion” , haruslah dicarikan kata yang dapat diukur yang diambil dari kelompok Kata kerja operasion- al (KKO) dari “C3 menerapkan/application”. Selain itu perlu dipahami bahwa pada kurikulum 2013, bahwa kata yang digunakan pada Kompe- tensi dasar (KD) bukanlah batas maksimal proses kognitif yang harus dikuasai oleh peserta didik. Peserta didik harus menguasai dari level Low order thinking (LOT), Midle order thingking (MOT) hingga High order thingking. Perhatikan contoh berikut ini, misalnya, Sub IKD 3.2 : Menerapkan prinsip-prinsip pengukuran besaran fisis. Diturunkan menjadi, Low Order Thingking (LOT) 1) Indikator C1 Mengenal/recalling a. Menyebutkan prinsip-prinsip pengukuran besaran fisis. b. Menjelaskan prinsip-prinsip pengukuran besaran fisis. c. Mendaftarkan prinsip-prinsip pengukuran besaran fisis. d. Menuliskan prinsip-prinsip pengukuran besaran fisis. Midle Order Thingking (MOT) 1. Indikator C2 Memahami/ Understand a) Mengkategorikan prinsip-prinsip penguku- ran besaran fisis. b) Mencirikan prinsip-prinsip pengukuran besaran fisis. c) Mendiskusikan prinsip-prinsip pengukuran besaran fisis. d) Mencontohkan prinsip-prinsip pengukuran besaran fisis.
  6. 6. 5 2. Indikator C3 Menerapkan /Application a. Mengurutkan prinsip-prinsip pengukuran besaran fisis. b. Mengemukakan prinsip-prinsip pengukuran besaran fisis. c. Mengadaptasi prinsip-prinsip pengukuran besaran fisis. d. Memproduksi prinsip-prinsip pengukuran besaran fisis. High Order Thingking (HOT : 1) Indikator C4 Menaganalisis/ Analysis a) Menyeleksi prinsip-prinsip pengukuran besa- ran fisis. b) Mengkorelasikan prinsip-prinsip penguku- ran besaran fisis. c) Menguji prinsip-prinsip pengukuran besaran fisis. d) Menemukan prinsip-prinsip pengukuran besaran fisis. 2) Indikator C5 Mengevaluasi /Evaluate a) Membandingkan prinsip-prinsip penguku- ran besaran fisis. b) Menyimpulkanprinsip-prinsip pengukuran besaran fisis. c) Menilai prinsip-prinsip pengukuran besaran fisis. d) Mempertahankan prinsip-prinsip penguku- ran besaran fisis. 3) Indikator C6 Mencipta /Create a) Menyusun prinsip-prinsip pengukuran besa- ran fisis. b) Membangun prinsip-prinsip pengukuran besaran fisis. c) Merumuskan prinsip-prinsip pengukuran besaran fisis. Dalam penyusunan Indikator sebagai penanda tercapainya Kompetensi dasar (KD) harus disusun sedemikian terurut berdasarkan tingkat kesulitan berpikir atau kompleksitasnya rendah ke kom- pleksitas tinggi yang ditandai oleh LOT, MOT and HOT. Hal ini sesuai dengan prinsip belajar. Sebagai konsekwensi penyusunan Indikator da- lam penyusunan rencana pelaksanaan pembelaja- ran haruslah diikuti oleh instrument soal untuk penilaian KI3 dan KI4. Menurut Konsep Kurikulum 2013 Kemam- puan Peserta didik harus mencapai High order thinking(HOT), sementara “menerapkan/ appli- cation (C3) termasuk pada Midle Order Think- ing (MOT), dan sebagai syarat untuk mencapai “menerapkan/ application (C3)” harus melalui kemampuan “ Mengenal /recalling (C1)dan “me- mahami/ Understand ( C2) yang disebut sebagai Low Order Thingking (LOT) atau sebagai Bridge (jumbatan) untuk mencapai kemampuan berpikir “Menerapkan”. Sehingga skemanya dapat seperti : LOT/Bridge→-→-→Menerapkan/Applica- tion (MOT→-→→HOT/Penalaran Untuk dapat menemukan kata operasion- al yang digunakan untuk menyusun Indikator pencapaian kompetensi, berikut ini tabel 1 Pros- es Kognitif, dimensi Pengetahuan dan Indikator yang dapat digunakan, Tabel 1. Proses Kognitif, Dimensi Pengetahuan & indikator Level Proses Kognitif Kompetensi yang diharapkan (setara Kompetensi Dasar) Dimensi Pengetahuan Indikator (KKO) C1 Mengingat/recalling/Low Order Thingking (LOT) • Mengingat Misalnya : Istilah Fakta Aturan Urutan Metode 1. Fakta 2. Konsep: a. Aturan b. Urutan c. Metode 1. Mengidentifikasi 2. Menyebutkan 3. Memberi nama pada 4. Menyusun daftar 5. Menggaris bawahi 6. Menjodohkan 7. Memilih 8. Memberikan definisi
  7. 7. 6 C2 Memahami/ Understand/Low Order Thingking (LOT & Midle Order Thinking (MOT) • Menterjemahkan • Menafsirkan • Memperkirakan • Menentukan…….. Misalnya : Metode Prosedur • Memahami…….. Misalnya : Konsep Kaidah Prinsip Kaitan antara Fakta Isi pokok • Mengartikan /Menginteprestasikan…… Misalnya : Tabel Grafik Bagan Konsep: a. Metode b. Prosedure Kaidah c. Prinsip d. Kaitan antara 1. Menjelaskan 2. Menguraikan 3. Merumuskan 4. Merangkum 5. Mengubah 6. Memberikan contoh tentang 7. Menyadur 8. Meramalkan 9. Memperkirakan 10. Menerangkan C3 Penerapan/ application/ Midle Order Thinking (MOT) • Memecahkan masalah • Membuat bagan & grafik • Menggunakan…………. Misalnya : Metode/prosedur Konsep Kaidah Prinsip Konsep: Metode/prosedur Konsep Kaidah Prinsip 1. Memperhitungkan 2. Membuktikan 3. Menghasilkan 4. Menunjukan 5. Melengkapi 6. Menyediakan 7. Menyesuaikan 8. Menemukan C4 Analisa/Analysis/High Order thingking (HOT) • Mengenali kesalahan • Membedakan……….. Misalnya: Fakta dari interprestasi Data dari Kesimpulan • Menganalisa Misalnya : Struktur dasar Bagian-bagian Hubungan antara Fakta : a. Dari interprestasi b. Data dan c. dari Kesimpulan Konsep: a. Struktur dasar b. Bagian-bagian c. Hubungan antara 1. Memisahkan 2. Menerima 3. Menyisihkan 4. Menghubungkan 5. Memilih 6. Membandingkan 7. Mempertentangkan 8. Membagi 9. Membuat diagram/ skema 10. M e n u n j u k a n hubungan antara C5 Evaluasi/Evaluate/ High Order thingking (HOT) • Menilai berdasarkan norma internal…. Misalnya : Hasil karya seni Mutu karangan Mutu ceramah Program Penataran • Menilai berdasarkan norma eksternal. Misalnya : Hasil karya seni Mutu karangan Mutu pekerjaan Mutu ceramah Program Penataran • Mempertimbangkan…………… Misalnya : Baik-buruknya Pro-kontanya Untung ruginya Fakta, Konsep,prosedur a. Hasil karya seni b. Mutu karangan c. Mutu pekerjaan d. Mutu ceramah e. Program f. Penataran 1. Memperhitungkan 2. Membuktikan 3. Menghasilkan 4. Menunjukan 5. Melengkapi 6. Menyediakan 7. Menyesuaikan 8. Menemukan
  8. 8. 7 C6 Mencipta/Creat/ High Order thingking (HOT) • Menghasilkan Misalnya : Klasifikasi Karangan Kerangka teoritis • Menyusun………….. Misalnya : Rencana Skema Program kerja Konsep: a. Klasifikasi b. Karangan c. Kerangka teoritis a. Rencana Skema Program kerja 1. Mengkategorikan 2. Mengkombinasikan 3. Mengarang 4. Menciptakan 5. Mendesain 6. Mengatur 7. Menyusun kembali 8. Merangkaikan 9. Menghubungkan 10. Menyimpulkan 11. Merancangkan 12. Membuat pola Sumber: Ana Ratna (tahun….?) memecahkan masalah.. “ Dengan pengetahuan procedural mengarahkan pembelajaran melalui proses keterampilan (dalam hal ini Kompeten- si Inti Keterampilan (KI4)) untuk mampu me- mecahkan masalah menuju terkonstruksinya pen- getahuan baru yang selanjutnya pengetahuan baru tersebut disikapi.Jika pengetahuan baru tersebut berasimilasi dengan pengetahuan lama secara kog- nisi maka dapat disikapi dengan cara menerima pengetahuan baru tersebut . Sehingga dalam proses pembelajaran meng- konstruksi Pengetahuan (KI3) dapat melalui pros- es keterampilan (KI4), yakni melalui fasilitasi guru pembelajar harus menganalisis proses keterampi- lan yang dikembangkan untuk terkonstruksinya Pengetahuan. Proses keterampilan yang dimak- sudkan adalah procedure atau langkah-langkah pembelajaran seperti, terampil mengamati, ter- ampil menyusun pertanyaan dan berhipotesa, ter- ampil mengumpulkan informasi untuk menjawab pertanyaan, terampil untuk mencoba,mengolah data, terampil membuat kesimpulan, serta ter- ampil untuk mengkomunikasikan ilmu pengeta- huan yang diperoleh diakhir pembelajaran. Jadi kesimpulan adalah adalah ilmu pengetahuan baru dari suatu proses keterampilan atau proses sain- tifik. Merujuk pada teori penilaian pembelajaran, bahwa terdapat dua jenis peneilaian, yakni pe- nilaian proses dan penilaian hasil belajar. Pada penilaian proses belajar terdiri atas penilaian keterampilan dan penilaian sikap dan untuk pe- nilaian hasil belajar adalah penilaian yang dilaku- kan setelah proses pembelajaran. Hal ini member isyarat bagi kita pebelajar, bahwa pada proses be- lajar tersebut proses keterampilan yang berupa ak- tivitas peserta didik seperti mengamati, menanya dst hingga pengetahuan terkonstruksi. Adapun produk keterampilan selama pembelajaran dapat dinilai sebagai nilai Kompetensi Inti Keterampi- Mempelajari pernyataan Kompetensi dasar (KD) pada seluruh mata pelajaran jenjang SMA dapat disimpulkan terdapat dua cara penyusu- nan KD, pertama: KD3 Pernyataan diawali den- gan kata utama pada taksonomi Proses Kognisi (Bloom-Anderson), seperti, mengingat,memaha- mi, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi dan mencipta. Misalnya C3 menerapkan, C3 mener- apkan diturunkan menjadi kata operasional mulai dari kata operasional C1 mengingat, kata opera- sional C2 memahami hingga kata operasional C6 mencipta sebagaimana terdapat pada table di atas, cara pertama ini secara konsisten digunakan pada mata pelajaran Fisika dan sejarah. Kedua: KD3 Pernyataan diawali dengan bukan kata utama pada taksonomi Proses Kognisi (Bloom-Ander- son) , akan tetapi diawali dengan kata operasion- al KKO pada proses kognisi tertentu, misalnya: membedakan …, menentukan …, KD yang de- mikian terdapat pada mata pelajaran selain Fisi- ka dan sejarah. Cara kedua ini harus secara ha- ti-hati untuk memahaminya dan menerapkannya pada penyusunan RPP atau Penyusunan Kisi-ki- si. Hal ini akanmengakibatkan kekakuan dalam mengembangkan Indikator Pencapaian Kompe- tensi. Jika KD nya di awali dengan menentukan (seolah indicator) maka dapat mengakibatkan va- riasi Indikator capaian kompetensi sangat miskin demikian pula untuk variasi soal pada instrument soal. Untuk dapat mengembangkan Variasi Ind- ikator atau kisi-kisi soal pada KD atau Indikator tersebut Sebagai solusinya adalah pahami “Me- nentukan berada pada Proses Kognisi mana, mis- alnya Pada C3 Menerapkan, kemudian jabarkan pada mulai dari LOT,MOT, HOT berdasarkan Kata operasionalnya. Pada Penggalan 4, “ … serta menerapkan pen- getahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk
  9. 9. 8 lan (KI4) dan dalam aktivitas proses keterampilan dapat dinilai kompetensi Inti sikap (KI1,2) dan pada terbentuknya pengetahuan baru adalah pe- nilaiain kompetensi inti pengetahuan (KI3). Jadi proses pembelajaran yang diwarnai dengan proses keterampilan dapat dilakukan penilaian keterampilan (KI4). Hasil keterampilan akan berakhir dengan Ilmu pengetahuan yang berupa kesimpulan yang diperoleh melalui proses keter- ampilan, hal ini dapat dinilai sebagai Penilaian Pengetahuan (KI3). Dan jika selama proses pem- belajaran dilakukan dengan diskusi pada learn- ing group maka dapat pula fasilitator melakukan penilaian sikap seperti, disiplin, sikap tangguh, sikap hormat terhadap pendapat teman, yang hal ini tidak lain adalah Penilaian Sikap Sosial (KI2), dapat dipikirkan pula efek pembelajaran dengan penilaian sikap spiritual (KI1). Penilaian yang de- mikian disebut penilaian otentik. Kesimpulan 1. Pada kompetensi Inti Pengetahuan ( KI3) se- benarnya sudah mengarahkan cakupan seluruh kompetensi yang diharapkan dimiliki oleh pe- serta didik yakni, a) Kompetensi Inti Spiritual ( KI1) , b) Kompetensi Inti Sikap (KI2) dan Kompetensi Inti Keterampilan (KI4). 2. Pada kompetensi Inti Pengetahuan ( KI3) yang kemudian diturunkan menjadi Kompetensi dasar, diturunkan lagi ke Indikator Pencapaian Kompetensi sudah terdapat dimensi proses kog- nisi C1,…C6) dan dimensi Pengetahuan yang yang terdiri atas Jenis Pengetahuan a) factual, b) Konsep, c) Prosedural dan d) Metakognitif. 3. Untuk menurunkan Kompetensi Dasar men- jadi indicator pencapaian kompetensi dapat menggunakan kata kerja operasional (KKO). 4. Dalam penyusunan instrument penilaian peng- etahuan mengharuskan untuk patuh pada tak- sonomi Bloom-Anderson. 5. Pada kompetensi Inti pengetahuan sudah men- garahkan proses pembelajaran menggunakan prosedur keterampilan menuju terkonstruksin- ya pengetahuan. 6. Pada kompetensi Inti pengetahuan sudah meng- arahkan pembelajaran dalam satu satuan waktu dengan proses penilaian, yakni penilaian proses, keterampilan dan sikap dan setelah pembelaja- ran berakhir dapat dinilai pengetahaunan yang meretensi. 7. Perlu memperhatikan KD dari KI dalam meny- usun instrument soal untuk penilaian pengeta- huan, gunakan gambar pada poin 10 sebagai referency. Saran 1. Untuk penjabaran KI-KD ke Indikator untuk selain Mata Pelajaran Fisika dapat menggu- nakan Analogi KI_KD_indikator Fisika. 2. Jika ditemukan hal yang berbeda dengan KI-KD-Indikator dengan Mata pelajaran fisika dapat mendiskusikannya dengan teman guru sesama Mata pelajaran atau pada teman guru lintas mata pelajaran. Daftar Pustaka Ana Ratna, Taksonomi Bloom-Revisi (Ppt), UPI Anderson, L.W., dan Krathwohl, D.R. 2001. A Taxonomy for Learning, Teaching, and As- sesing: A Revision of Bloom’s Taxonomy of Educatioanl Objectives. New York: Addi- son Wesley Longman, Inc. Imam Gunawan, Makalah, Taksonomi Bloom – Revisi Ranah Kognitif: Kerangka Landasan Untuk Pembelajaran, Pengajaran, Dan Pe- nilaian. Kompetensi Inti pada Kurikulum 2013
  10. 10. 9 Pendahuluan Di era globalisasi dan Masyarat Ekonomi Asean ini perlu ditingkatkan kompetensi guru di bidang media pembelajaran di Sekolah pada jenjang SD/ MI, SMP/MTs dan SMA/MA serta SMK/MAK agar bisa bersaing dengan Provinsi lainnya dan negara tetangga Asean lainya. Untuk itu guna meningkatkan kompetensi dan penguasaan Te- knologi Informasi Komunikasi (TIK) di bidang pembelajaran bagi guru-guru di Provinsi Goron- talo, penulis mencoba untuk membuat intrumen sederhana mengenai Analisis Pemanfaatan TIK dalam Media Pembelajaran dengan menggunakan Excel Survey Online Microsoft Office 365 yang dikerjakan oleh guru secara online yang disebar di 4 kab/kota yakni Kota Gorontalo,Kab Bone Bol- ango,Kab Gorontalo dan Kab Gorontalo Utara. Kajian Pustaka Pengertian TIK Istilah TIK muncul setelah adanya perpaduan antara teknologi komputer (baik perangkat keras maupun perangkat lunak) dengan teknologi ko- munikasi pada pertengahan abad ke-20.TIK ada- ANALISIS PEMANFAATAN TIK DALAM MEDIA PEMBELAJARAN UNTUK GURU MENGGUNAKAN EXCELSURVEY ONLINE OFFICE 365 Hamzah Hippy, Suraya PTP LPMP Gorontalo Widyaiswara LPMP Gorontalo Email : hamzah.hippy@kemdikbud.go.id, suraya@yahoo.com, suraya_1960@yahoo.co.id Abstrak: Penerapan TIK/ICT (Information and Communication Technology) ke dalam sistem pendidikan yang terus berkembang dan meluas, memacu para pemerhati dan praktisi bidang TIK/ICT untuk lebih kreatif dalam merancang, menggunakan dan mengembangkan materi pembelajaran yang berbasis TIK/ICT. Jika kita kaji lebih lanjut, kegunaan ICT dalam bidang pendidikan secara umum adalah sebagai berikut, yaitu sebagai: Information Sharing (Berbagi informasi); Online Library (Perpustakaan Online); Focus Group Discussion (Di- skusi Online); Memperoleh informasi mudah dan cepat; Melakukan diskusi dengan para ahli aplikasi powerpoint paling banyak digunakan oleh guru di Kabupaten Bone Bolango dan kota Gorontalo (50 %); penguasaan teknologi Seamolec (simdig digital kelas) dalam pem- belajaran Kabupaten Bone Bolango dan Kabupaten Gorontalo (45%) Masih terdapat 50% guru menggunakan media papan tulis untuk mengajar berada di kabupaten Gorontalo Utara, Kabupaten Bone Bolango. Jumlah guru yang sudah mempunyai email dan website pribadi di Kabupaten Gorontalo (15%) ini artinya guru daerah tersebut sudah menggunakan jaringan internet untuk membuat media pembelajaran di sekolah. Keyword: Online, Pendidikan, ICT, Kompetensi, Internet lah suatu kegiatan pengolahan dan penyebaran informasi dengan menggunakan teknologi kom- putasi elektromik agar menjadi suatu informasi yang efektif dan komunikatif guna disampaikan kepadapihak-pihak yang membutuhkannnya. Sedangkan TIK menurut Unesco dalam Warsih- na,2012).Berdasarkan pendapatdiatasmaka dapat disimpulan bahwa TIK adalah seluruh bentuk teknologi yang dapat digunakan untuk berkomu- nikasi, seperti pengolahan dan penyebaran serta penerimaan informasi. Penerapan TIK dalam Pembelajaran di Sekolah Penerapan TIK/ICT (Information and Com- munication Technology) ke dalam sistem pendi- dikan yang terus berkembang dan meluas, mema- cu para pemerhati dan praktisi bidang TIK/ICT untuk lebih kreatif dalam merancang, menggu- nakan dan mengembangkan materi pembelaja- ran yang berbasis TIK/ICT. Hal ini merupakan konsekuensi logis untuk mengikuti atau bahkan mengejar kebutuhan TIK/ICT baik sebagai “pen- gantar” maupun sebagai “materi” dalam pelak- sanaan pembelajaran baik di jenjang SD, SMP,
  11. 11. 10 SMA dan SMK serta sederajat. MengenaiTIK/ICT,istilahinimulaidigunakan oleh para peneliti akademik pada tahun 1980-an dan menjadi populer sejak digunakan oleh Dennis Stevenson pada tahun 1997 dalam laporannya ke- pada pemerintah Inggris tentang perkembangan pendidikan. Karena dunia pendidikan dari wak- tu ke waktu senantiasa berkembang, baik dilihat dari sisi materi, media dan metodologinya, maka kebutuhan TIK/ICT tidak dapat terelakkan lagi untuk mencapai efisiensi, efektifitas dan relevansi pendidikan di masa sekarang dan masa yang akan datang. Mengingat besarnya manfaat TIK/ICT bagi dunia pendidikan, para ahli UNESCO mengan- jurkan agar semua negara, khususnya negara-neg- ara berkembang, meningkatkan berbagai sumber daya yang diperlukan untuk mengelaborasi TIK/ ICT dalam berbagai kebijakan, strategi, dan akti- vitas pendidikan. Hal ini sangat beralasan karena untuk mendapatkan hasil yang optimal diperlukan sumberdaya khususnya sumberdaya manusia yang benar benar punya nyali untuk mengembangkan dunia pendidikan yang berbasis TIK/ICT. UNESCO sebagai lembaga dunia yang berger- ak dalam bidang pendidikan dan kebudayaan, menaruh perhatian yang begitu besar dalam ma- salah inovasi pembelajaran ini, demikian pula lembaga kependidikan lainnya untuk menginte- grasikanTIK/ICT ke dalam sistem pengelolaan dan pelayanan pendidikan sudah cukup berhasil. Sebagai gambaran tentang keberhasilan ini ditan- dai dengan munculnya berbagai istilah baru dalam dunia pendidikan atau yang berhubungan dengan kependidikan sepertie-book, e-learning, e-laborato- ry, e-education, e-library, dan sebagainya. Masih menurut UNESCO, lembaga-lemba- ga pendidikan tidak hanya dituntut untuk men- dorong peserta didik untuk belajar (to learn), teta- pi juga dituntut untuk dapat mendorong peserta didik untuk belajar menguasai ilmu (learning to acquire knowledge), mempromosikan aktivitas be- lajar bertindak (learning to act), belajar hidup ber- sama (learning to live together), dan belajar untuk kehidupan (learning for life), dengan paradigma belajar sepanjang hayat (life long learning). Terjadinya perubahan paradigma dalam pem- belajaran seiring dengan perubahan paradigma tentang perkembangan literasi. Di era informa- si, menurut seorang ahli yangb bernama Alvin Toffler (1990), menyatakan bahwa orang yang disebut buta huruf bukanlah orang yang tidak bisa membaca dan menulis, tetapi orang yang ti- dak bisa belajar (learn), tidak bisa mengubah ke- biasaan (unlearn), dan tidak bisa belajar kembali (relearn). Jika kita kaji lebih lanjut, kegunaan ICT dalam bidang pendidikan secara umum adalah se- bagai berikut, yaitu : - Sebagai sarana Information Sharing (Berbagi informasi) - Sebagai sarana Online Library (Perpustakaan Online) - Sebagai sarana melakukan Focus Group Dis- cussion (Diskusi Online) - Akses untuk memperoleh informasi mudah dan cepat - Mudah untuk melakukan diskusi dengan para ahli - Dapat menghemat biaya (perpustakaan online) - Pelayanan yang lebih baik untuk peserta didik - Tidak mengganggu rutinitas kegiatan belajar dan mengajar meskipun jaraknya jauh Kemudian secara khusus dapat diambil keun- tungan dengan pemberdayaan TIK/ICT di dalam proses pembelajaran (di kelas maupun di luar ke- las). Berikut ini adalah beberapa keuntungan khu- sus yang dapat diperoleh bagi peserta didik den- gan adanya model e-learning : • Membangun interaksi antar peserta didik mela- lukan diskusi secara online. • Mengurangi kesenjangan perbedaan peserta di- dik. • Pengulangan materi pelajaran yang sulit berka- li-kali, sampai pemahaman diperoleh oleh pe- serta • Kemudahan akses, kapan saja dan di mana saja. • Peserta didik dapat belajar dalam suasana yang ‘bebas tanpa tekanan’, tidak malu untuk ber- tanya (secara online). • Mereduksi waktu dan biaya perjalanan. • Mendorong peserta didik untuk menelusuri in- formasi ke situs-situs pada world wide web. • Mengijinkan peserta didik memilih target dan materi yang sesuai pada web. • Mengembangkan kemampuan teknis dalam menggunakan internet. • Meningkatkan tanggung jawab pribadi peserta didik. • Membangun dan meningkatkan self-knowl- edge dan self-confidence. Sesuai dengan penetapan UNESCO (2013), ada lima manfaat yang dapat diraih melalui pen- erapan TIK/ICT dalam sistem pendidikan: (1) mempermudah dan memperluas akses terhadap
  12. 12. 11 pendidikan; (2) meningkatkan kesetaraan pendi- dikan (equity in education); (3) meningkatkan mutu pembelajaran (the delivery of quality learn- ing and teaching); meningkatkan profesionalisme guru (teachers’ professional development); dan (4) meningkatkan efektifitas dan efisiensi mana- jemen, tata kelola, dan administrasi pendidikan. Pengertian Media Pembelajaran Segala sesuatu yang dapat menyampaikan pe- san (Gagne); All the materials and physical means an instructor might use to implement instruction and facilitate students’ achievement of instructional ob- jectives. This may include traditional materials such as chalkboards, handouts, charts, slides, overheads, real objects, and videotape or film, as well newer ma- terials and methods such as computers, DVDs, CD- ROMs, the Internet, and interactive video conferenc- ing. (Craig L. Scanlan) Ragam dan Klasifikasi Media Media pada dasarnya dapat dimaknai sebagai sesuatu yang membawa pesan atau informasi an- tara pengirim dan penerima. Pengunaan media dalam aktivitas pembelajaran dapat dilakukan, baik secara individu maupun kelompok. Setiap jenis media memiliki kemampuan dan karakteris- tik atau fitur spesifik yang dapat digunakan untuk keperluan yang spesifik pula. Fitur-fitur spesifik yang dimiliki oleh sebuah media pembelajaran membedakan media tersebut dengan jenis media yang lain. Kemp (1986) mengemukakan beberapa fitur yang juga merupakan karakteristik dari me- dia yaitu. a. Faktor presentasi atau kemampuan dalam men- yajikan gambar. b. Faktor ukuran (size): besar atau kecil c. Faktor warna (color): hitam putih atau berwar- na d. Faktor gerak: diam atau bergerak e. Faktor bahasa: tertulis atau lisan f. Faktor keterkaitan antara gambar dan suara: gambar saja, suara saja atau gabungan antara gambar dan suara. Semua fitur yang dikemukakan di atas dapat membedakan antara medium yang satu dengan medium yang lain. Medium kaset audio (audio cassette) dapat dibedakan dari medium video kare- na faktor kemampuan dalam menyajikan unsur gambar dan gerak. Medium kaset audio hanya dapat menampilkan unsur suara saja. Medium video memiliki kemampuan dalam menampil- kan unsur suara dan unsur gambar yang bergerak secara bersamaan (simultan). Sedangkan media komputer jaringan memiliki kemampuan lain yai- tu potensial untuk digunakan sebagai media yang bersifat interaktif. Beragam media dapat digunakan untuk men- dukung aktivitas pembelajaran yang, efektif, efisien, dan menarik. Untuk memudahkan memi- lih dan menggunakan ragam media tersebut, dilakukanlah pengklasifikasian/ pengelompok- kan media. Dalam kaitan ini, Kemp dan Dayton (1985) mengklasifikasikan ragam/jenis media menjadi: (a) media cetak, (b) media yang dipa- merkan (displayed media), (c) media transparansi (overhead transparency / OHT) yang pemanfaatan- nya dilakukan dengan menggunakan overhead projector (OHP), (d) media rekaman suara, (e) media slide suara dan film rangkai (filmstrip), (f) media presentasi multi gambar, (g) media video dan film, dan (h) media pembelajaran berbasis komputer (computer-based instruction). Seiring dengan perkembangan ilmu pengeta- huan dan teknologi yang berlangsung pesat, be- berapa jenis media seperti OHP, slide suara, dan presentasi multi gambar sudah digantikan oleh te- knologi media yang lebih canggih yaitu komputer multimedia dan jaringan. Penggunaan OHP di- gantikan dengan perangkat lunak komputer yang penggunaannya diproyeksikan dengan menggu- nakan LCD. Heinich dan kawan-kawan (2005) mengemu- kakan beberapa jenis media pembelajaran yang dapat digunakan oleh guru, instruktur, dan peran- cang program pembelajaran, yaitu: (a) media ce- tak (printed media), (b) media pameran (display), (c) media audio, (d) gambar bergerak (motion pic- tures), (e) multimedia, (f) media berbasis web atau internet. Berikut ini merupakan deskripsi singkat tentang ragam media berdasarkan klasifikasinya. Media cetak merupakan jenis media yang tel- ah lama digunakan sebagai bahan belajar. Media cetak juga dipandang sebagai jenis media yang relatif murah, mudah, dan sangat fleksibel peng- gunaannya. Media cetak atau teks memiliki ragam yang bervariasi yang meliputi: buku, brosur, leaf- let, dan handouts. Peserta didik dapat memanfaat- kan media cetak di mana saja. Media cetak yang memuat informasi dan pengetahuan yang spesifik, misalnya: gambar, diagram, carta (chart), grafik, poster, dan kartun. Gambar yang digunakan untuk mengkomuni- kasikan pengetahuan dan informasi dapat berben-
  13. 13. 12 tuk sketsa yang berisi garis-garis yang memben- tuk dan mencitrakan orang, tempat, objek, dan konsep tertentu. Gambar pada umumnya lebih representatif daripada sketsa. Artinya, garis-garis yang terdapat pada gambar lebih banyak dan leb- ih akurat sehingga dapat mengungkapkan objek mendekati keadaan yang sebenarnya atau realita. Diagram biasanya digunakan untuk memper- lihatkan adanya hubungan atau keterkaitan antara konsep yang satu dengan konsep yang lain. Dia- gram juga dapat digunakan untuk menggambar- kan suatu proses atau urutan kejadian dan hierar- ki. Pada buku, chart dapat dijumpai dalam bentuk tabel dan flowchart. Diagram sering dijumpai da- lam buku teks, jurnal, dan majalah ilmiah. Dia- gram memiliki kesamaan dengan chart yaitu dapat menggambarkan adanya hubungan antara suatu konsep dengan konsep yang lain sebagaimana yang disajikan sebagai contoh pada Gambar 1. Gambar 1. Contoh Flowchart Grafik digunakan untuk memberikan penjela- san tentang data numerik. Setiap unsur visual yang terdapat di dalam grafik mewakili suatu data nu- merik. Selain itu, grafik juga dapat menggambar- kan adanya keterkaitan antara unit yang terdapat di dalam data beserta kecenderungannya (ten- dency). Grafik sebagai suatu medium komunikasi dapat diklasifikasikan menjadi empat jenis, yaitu: grafik batang, grafik gambar, grafik lingkaran, dan grafik garis [dibuatkan animasi ttg masing-masing klasifikasi grafik ini diikuti dengan tanda panah penamaannya]. Media Pembelajaran Media merupakan sesuatu yang dapat digu- nakan untuk menciptakan proses pembelajaran yang efektif, efisien, dan menarik. Saat ini, peng- gunaan media yang beragam tidak hanya sekedar sebagai alat bantu pembelajaran semata-mata, tetapi telah menjadi bagian yang tidak terpisah- kan dari program pembelajaran itu sendiri. Se- bagai contoh misalnya di Fakultas Kedokteran atau Fakultas Teknik, penggunaan media merupa- kan suatu keharusan sebagai sarana pembelajaran. Penggunaan media di dalam kegiatan pembela- jaran akan membantu mahasiswa untuk menca- pai kompetensi yang ditetapkan. Demikian pula halnya dengan penggunaan media pada Fakultas Ilmu Komputer dan bidang ilmu lainnya.Secara singkat tampaklah betapa pentingnya peranan media di dalam kegiatan pembelajaran. Konsep media pembelajaran berkembang sear- ah dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.Namun demikian, pemanfaatan media untuk mendukung aktivitas pembelajaran tidak selalu menggunakan ragam media yang canggih dan mahal.Pemanfaatan media dalam aktivitas pembelajaran perlu disesuaikan dengan tujuan atau kompetensi yang ingin dicapai oleh peserta didik yang belajar (audience). Metode Penelitian Penelitian ini ditujukan untuk menjawab permasalahan 1). Pemanfaatan TIK dalam pros- es mengajar disekolah, dan 2). Pemanfaatan Aplikasi TIK di Sekolah. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik :1) kuisioner dengan responden Gurru jenjang SD,SMP,SMA,SMK kemudian data dari kesion- er tersebut dianalisis yang hasilnya terlihat pada tabel 1s/d 3, 2) wawancara dengan guru jenjang. SD,SMP/MTS,SMA/SMK untuk mempertajam analisis datanya.semua data dalam penelitian ini dianalisi dengan menggunakan teknik analisis deskriptik dengan pendekatan kualitatif. Penelitian ini dilaksanakan, selama 2 Bulan se- belum pelaksanaan Diklat Inovasi Pembelajaran TOT TIK Microsoft di LPMP Gorontalo dengan populasi 40 responden.Untuk melengkapi data tulisan ini peneliti juga melakukan wawancara via telepon dengan Guru SD,SMP,SMA/SMK tentang tugas-tugas yang mereka berikan kepada peserta didik dengan menggunakan Teknologi In- formasi Komunikasi. Hasil Penelitian dan Pembahasan Gambaran 1 deskripsi pemanfaatan TIK da- lam pembelajaran di sekolah 4 Kab/kota Provinsi Gorontalo. Penjelasan dari gambar 2 aplikasi yang pal-
  14. 14. 13 ing banyak digunakan guru dalam mengajar dikelas adalah powerpoint untuk guru di Ka- bupaten Bone Bolango dan kota Gorontalo se- banyak 50 % guru dan office,video dan internet 40 % guru menguunakan media tersebut untuk guru di Kabupaten Bone Bolango,Kabupaten Gorontalo Utara dan Kabupaten Gorontalo,50 % guru masih menggunakan media papan tulis untuk mengajar berada di kabupatenGorontalo Utara,KabupatenBone Bolango dan Kabupaten Gorontalo,45% guru sudah menggunakan Ap- likasi Seamolec (simdig digital kelas ) untuk guru di Kabupaten Bone Bolango dan Kabupat- en Gorontalo,45 % guru sudah menggunakan media Youtube dan media internet di Kabupaten Gorontalo dan Kabupaten Bone Bolango. Gambar 2: Grafik Aplikasi /media apa yang sudah digunakan guru dalam mengajar di kelas ? di seko- lah Provinsi Gorontalo. Gambar 3: Grafik Apakah guru di sekolah sudah mempunyai email dan laman/website/blog prib- adi. Penjelasan dari Grafik diatas adalah untuk guru yang terbanyak sudah mempunyai email dan website pribadi berada di Kab Gorontalo seban- yak 15 guru dan 13 guru sudah mempunyai email dan website pribadi berada di Kab Bone Bolango dan 9 guru sudah mempunyai email dan website pribadi berada di Kab Gorontalo Utara dan 5 orang sudah mempunyai email dan website prib- adi berada di Kota Gorontalo.3 orang guru dari luar daerah yang sudah mempunyai email dan website pribadi dari 40 Instrumen yang diisikan secara onlone dengan menggunakan Excel survey Office 365. Simpulan Aplikasi yang paling banyak digunakan guru dalam mengajar dikelas adalah powerpoint un- tuk guru di Kab Bone Bolango dan kota gorontalo sebanyak 50 % guru sudah sangat mengembira- kan karena pemanfaatan media pembelajaran di guru-guru di Kab Bone Bolango sudah sebagian besar menguasai teknologi dalam media pembe- lajaran sehingga di tingkatkan lagi.dan ,Kab Bone Bolango dan Kab Gorontalo,45% guru sudah menggunakan Aplikasi Seamolec (simdig digitak kelas ) yang aplikasi paling expert dan level diatas
  15. 15. 14 dan memerlukan keahlian dan kompetensi tinggi bagi guru yang menggunakan media tersebut seh- ingga perlu di sebarkan ke kab/kota lainnya yang belum menguasai media Simdik tersebut. Masih adanya 50 % guru masih menggunakan media papan tulis untuk mengajar berada di kabupaten- Gorontalo Utara,Kabupaten Bone Bolango. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada sebagian guru didaerah tersebut belum menguasai aplikasi me- dia pembelajaran dan masih menggunakan media konvensional dalam mengajar perlu di latih lagi untuk peningkatan ketrampilan dan kompeten- sinya. . Untuk guru yang terbanyak sudah mem- punyai email dan website pribadi berada di Kabu- paten Gorontalo sebanyak 15 guru berarti daerah tersebut sudah menggunakan jaringan internet untuk membuat media pembelajaran di sekolah. DAFTAR PUSTAKA Budi Sutedjo (2002:168). Penerapan ICT di Per- pustakaan Sekolah. Jakarta Mahmudin (2010). Pemanfaatan ICT di Perpus- takaan Sekolah. Diklat Pustakawan Seko- lah. Jakarta. Hariyadi (1993: 253) The Dictionary of Comput- ers, Information Processing and Telecom- munications. http://vennesa131197.blogspot.co.id/p/man- faat-tik-bagi-pendidikan.html. Diakses tanggal 24 Februari 2016 jam 11.00 http://www.kelasabil.com/kelas/7/tik/keuntun- gan-pemanfaatan-tik-pendidikan. Diakses tanggal 25 Februari 2016 jam 13.30. Muhammad Sirozi. http://www.google.com. Per- an Dan Manfaat ICT Dalam Pendidikan. Diakses tanggal 29 Februari 2016 jam 10.00 Permendikbud nomor 68 tahun 2013 tentang Peran Guru TIK. Departemen Pendidikan Nasional, (2002), Ed- ucation for All Pendidikan Untuk Semua, Persiapan Rencana Kerja Nasional, Direk- torat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda Departemen Pendidikan Nasional RI.
  16. 16. 15 Pendahuluan Berbicara tentang pengawas sekolah tentu tidak akan terlepas dari fungsi pengawas itu sendiri,sam- pai dimana ruang lingkup pengawas,serta,tugas dan tanggung jawabnya didalam melaksanakan dan mengimplementasikan program dan kegia- tan kepengawasan baik secara akademik maupun secara manajerial.di satuan pendidikan. Adapun bidang pengawasan sebagaimana yang dinyatakan dalam Permenegpan dan RB nomor 21 tahun 2010 terdiri atas pengawasan taman kanak-kanak/ raudhatul athfal, sekolah dasar/madrasah ibtidai- yah, pengawasan rumpun mata pelajaran/mata pelajaran, pendidikan luar biasa, dan bimbingan konseling dengan beban kerja selama 37.5 jam perminggu. Di dalam melaksanakan tugas dengan beban kerja selama 37.5 jam per minggu sebagaimana yang disebutkan diatas, maka kewajiban pengawas sekolah dalam melaksanakan tugas adalah: a. menyusun program pengawasan, melaksanakan program pengawasan, melaksakan evaluasi hasil pelaksanaan program pengawasan dan mem- bimbing dan melatih profesional guru; b. meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengeta- huan, teknologi, dan seni; PERAN PENGAWAS SEKOLAH DASAR DALAM IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 TAHUN 2016 IBRAHIM GANIO LPMP Gorontalo Abstrak: Penelitian ini bertujuan ingin mengetaui peran pengawas sekolah dasar dalam Im- plementasi kurikulum 2013 tahun 2016 dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa : 1) Program pendampingan pelaksanaan Kurikulum oleh pengawas bertujuan memberikan penguatan dalam memahami konsep Kurikulum beri- kut perubahannya di lapangan kepada peserta serta untuk membantu mengatasi berbagai kendala yang muncul pada saat pelaksanaan kurikulum tersebut di sekolah. 2) Untuk menca- pai hasil tersebut diperlukan model dan strategi pembinaan yang terintegrasi dan sinergis dari berbagai pihak dalam berbagai perspektif. Hal ini penting mengingat kesiapan pengawas, kepala sekolah, guru beserta pemangku pendidikan lainnya sangat bervariasi. 3)Pendamp- ing pelaksanaan kurikulum adalah pengawas SD yang bertugas memberikan pendampingan kepada Guru Sasaran dalam melaksanakan Kurikulum. Pengawas SD telah mendapatkan pelatihan Pelaksanaan Kurikulum, baik sebagai Narasumber Nasional, Instruktur Nasional. Kata Kunci : Pengawas Sekolah, Implementasi, K13 c. menjunjung tinggi peraturan perundang-un- dangan, hukum, nilai agama dan etika; dan d. memelihara dan memupuk persatuan dan ke- satuan bangsa Pada poin b di atas dinyatakan bahwa kewa- jiban pengawas sekolah adalah meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Hal ini berarti, bahwa pengembangan kompetensi oleh pengawas khususnya mengikuti perkembangan teknologi tidak bisa ditawar-tawar lagi karena kedepan berbagai program yang se- dang dan akan dilaksanakan sangat berkaitan den- gan peran dan fungsi pengawas itu sendiri. Salah satu program yang berkaitan dengan tugas dan fungsi pengawas adalah Implementasi Kurikulum 2013 yang saat ini sudah memasuki tahun yang ke 4 bagi sekolah sasaran baik yang dilaksanakan oleh pemerintah maupun yang dilaksanakan secara mandiri. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa program Implementasi Kurikulum 2013 yang merupakan penyempur- naan kurikulum sebelumnya sebenarnya telah ber- jalan sejak bulan Juli tahun pelajaran 2013/2014 yang dilaksanakan secara terbatas dan bertahap. Khusus prpvinsi Gorontalo jumlah satuan pendi- dikan yang menjadi sasaran di provinsi Goronta-
  17. 17. 16 lo adalah sebanyak 74 satuan pendidikan mulai dari jenjang SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA dan SMK/MAK yang tersebar di 6 kabupaten / kota yang ada di Provinsi Gorontalo. Berbicara tentang program Implementasi Kurikulum 2013 tentu tidak akan terlepas dari peraturan atau regulasi yang melatarbelakangin- ya seperti UU No.20 tahun 2003 tentang Sisdi- knas, PP Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan yang telah disempurnakan dengan PP Nomor 32 tahun 2013 tentang Stan- dar Nasional Pendidikan, Permendikbud Nomor 65 tahun 2013 tentang Standar Proses, Pemen- dikbud Nomor 66 Tahun 2013 tentang Standar Penilaian Permendikbud Nomor 54 tahun 2014 tentang Standar Kompetensi Lulusan, Permen- dikbud Nomor 57 tahun 2014 tentang Kuriku- lum SD, Permendikbud Nomor 58 tahun 2014 tahun tentang Kurikulum SMP, Permendikbud Nomor 59 tahun 2014 tentang Kurikulum SMA, Permendikbud Nomor 60 tahun 2014 tentang Kurikulum SMK, Permendikbud Nomor 61 ta- hun 2014 tentang KTSP, Permendikbud Nomor 62 tahun 2014 tentang Kegiatan Ekstra Kurikul- er, Permendikbud Nomor 63 tahun 2014 tentang Kepramukaan, Permendikbud Nomor 64 tahun 2014 tentang Peminatan. Hal ini dipertegas oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan melalui ke- bijakannya, bahwa Kurikulum 2013 diharapkan dapat menghasilkan insan Indonesia yang pro- duktif, kreatif, inovatif, afektif melalui penguatan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang terin- tegrasi. Pengembangan Kurikulum 2013 diharap- kan dapat mengatasi kelemahan-kelemahan yang ada pada kurikulum sebelumnya. dan Pedoman pelaksanaanPendampingan diberbagai jenjang. Pembahasan 1. Pengertian dan Prinsip Pendampingan Pendampingan pelaksanaan Kurikulum ada- lah proses pemberian bantuan penguatan pelak- sanaan Kurikulum yang diberikan kepada penga- was, kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan lain, orang tua/komite sekolah dan pemangku kepentingan di sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas/kejuruan sesuai kurikulum yang berlaku. Pendampingan menjadi alat pemberdayaan dan pengembangan personal yang ampuh dan efektif dalam menolong seseo- rang mengembangkan karirnya. Dengan pen- dampingan, akan tercipta kerjasama antara dua orang (pendamping dan sasaran) yang biasanya bekerja di bidang yang sama atau berbagi pengala- man yang mirip. Selain itu, pendampingan dapat menciptakan hubungan kerja yang bermanfaat didasarkan pada sikap saling percaya dan meng- hormati. Secara teoritik keberhasilan suatu kurikulum secara utuh memerlukan proses panjang, mulai dari kajian dan kristalisasi berbagai gagasan dan konsep ideal tentang pendidikan, pengembangan desain kurikulum, penyiapan dan penugasan pen- didik dan tenaga kependidikan, penyediaan sarana dan prasarana, penyiapan tata kelola pelaksanaan kurikulum, pembelajaran, dan penilaian. Pendampingan dilakukan berdasarkan prinsip sebagai berikut: 1. Profesional: yaitu hubungan yang terjadi antara pemberi pendampingan dan penerima pen- dampingan adalah untuk peningkatan kemam- puan profesional dan bukan atas dasar hubun- gan personal. 2. Kolegial: yaitu hubungan kesejawatan antara pemberi dan penerima pendampingan. Den- gan prinsip ini maka antara pengawas sekolah, kepala sekolah, dan guru pemberi bantuan serta pengawas, kepala sekolah, dan guru yang menerima bantuan memiliki kedudukan setara, yang satu tidak lebih tinggi dibandingkan lain- nya. 3. Sikap saling percaya: yaitu pengawas seko- lah, kepala sekolah, dan guru yang menerima pendampingan memiliki sikap percaya kepada pemberi pendampingan bahwa informasi, sa- ran, dan contoh yang diberikan adalah yang memang dikehendaki Kurikulum. 4. Berkelanjutan: yaitu hubungan profesional yang terjadi antara pemberi dan penerima pen- dampingan berkelanjutan setelah pemberi pen- dampingan secara fisik sudah tidak lagi berada di lapangan, dilanjutkan melalui e-mail, sms, atau alat lain yang tersedia. 5. Kolektif dan menyeluruh: yaitu pendampingan dilaksanakan dengan melibatkan semua unsur yang meliputi pengawas, kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan lain, orangtua/komite se- kolah, dan pemangku kepentingan lain. 6. Berdasarkan kebutuhan: yaitu materi pen- dampingan adalah materi teridentifikasi se- bagai aspek yang masih memerlukan penguatan dan kegiatan penguatan akan memantapkan pengetahuan dan ketrampilan penerima pen- dampingan. 7. Semangat Maju Bersama: yaitu bahwa semua
  18. 18. 17 unsur yang terlibat dalam pendampingan memiliki semangat maju untuk meningkatkan pendidikan Indonesia. Pada tahun 2013, pengembangan Kurikulum 2013 sudah memasuki tahap pelaksanaan secara bertahap dan terbatas pada Kelas I dan IV seban- yak 2% SD/MI, pada tahun pelajaran 2014/2015 pelaksanaan Kurikulum telah diberlakukan untuk kelas I, II, IV dan V di seluruh sekolah dasar di In- donesia. Pada tahun pelajaran 2015/2016 pelaksa- naan kurikulum 2013 diberlakukan untuk kelas I s.d VI pada sekolah sasaran pelaksana kurikulum rintisan pemerintah dan rintisan mandiri. Penentuan pendamping ditetapkan dengan kriteria sebagai berikut: 1. Telah mengikuti pelatihan pelaksanaan Kuriku- lum dan Pembelajaran 2. Pendidikan sekurang-kurangnya S1/D4, diuta- makan di bidang pendidikan 3. Telah mengajar sekurang-kurangnya 5 tahun 4. Diutamakan memiliki prestasi akademik 5. Diutamakan bagi yang memiliki pengalaman sebagai Narasumber/ Pendamping/Fasilitator dalam bidang pendidikan 6. Bersedia melaksanakan pendampingan dengan prosedur dan mekanisme yang ditetapkan oleh Direktorat terkait 7. Direkomendasikan oleh atasan/pejabat yang berwenang. 8. Dapat mengoperasinalkan computer/laptop/ notebook 9. Memiliki karakter sebagai komunikator master teacher yang baik 2. Metode dan Mekanisme Pendampingan Pelaksanaan pendampingan dilakukan melalui metode kunjungan pengawas ke gugus dan seko- lah untuk melakukan pendampingan terhadap Guru Kelas I, II, III, IV, V, VI, guru PJOK dan Agama. Selanjutnya, pengawas mendampingi guru yang sedang mengajar di kelas ketika sedang berlangsung proses pembelajaran. Pendampingan dilakukan secara internal di sekolah Klaster/In- duk/Inti dan pendampingan oleh sekolah Klaster/ Induk/Inti kepada sekolah Imbas. Mekanisme pendampingan kurikulum di sekolah dasar adalah sebagai berikut: a. Penyusunan materi pendampingan. b. Penyiapan bahan pendukung seperti silabus, contoh RPP, contoh penilaian, portofolio, con- toh rapor, contoh project, dll. c. Instrumen pendampingan dan petunjuk pengi- siannya yang terkait dengan pemahaman guru sasaran terhadap : - Pemahaman Kompetensi - Pemahaman Materi - Pemahaman dan Aktivitas Pembelajaran - Pemahaman dan Proses Penilaian Pembelaja- ran - Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembela- jaran (RPP) d. Profil Guru Sasaran, yang meliputi data tentang nama guru, pangkat dan golongan, jenjang guru, dan guru kelas yang diampu serta data lain yang diperlukan 3. Pelaksanaan Pendampingan Pertemuan Di Gugus (IN-1 Persiapan) 1. Pertemuan pertama di awal (IN-1) dilakukan di gugus yang diikuti seluruh kepala SD Rintisan Pemerintah, Rintisan Mandiri, Kepala SD Inti dan SD Imbas dan Guru Kelas I, II, III, IV, V, dan VI. Kegiatan ini dipimpin oleh pengawas yang sudah mendapat bimbingan teknis kuri- kulum. Untuk pembekalan bagi Guru Kelas I, II dan III. Pendampingan Di Kelas (ON-1) 2. Pendampingan pada pembelajaran di kelas (ON–1) di sekolah yang ada di wilayah gugus masing-masing yang dilakukan oleh Penga- was kepada Guru Kelas SD Imbas yang telah mendapatkan pembekalan pendampingan di gugus. Kegiatan ON-1 dilaksanakan pada kelas III dan warga sekolah lainnya. ON merupakan kegiatan pendampingan yang dilaksanakan oleh pengawas terhadap Guru Sasaran di SD-nya masing-masing secara ber- gantian dan dilaksanakan selama 1½ hari. Pada ½ hari pertama, pendampingan dilak- sanakan setelah PBM selesai dilakukan. Pada 1 hari kedua, pendamping mendampingi guru melakukan pembelajaran di kelas, mulai penda- huluan sampai dengan selesai PBM. Setelah itu, dilakukan evaluasi terhadap pembelajaran di kelas, dan pembuatan rencana tindak lanjut. 3. Pendampingan pada pembelajaran di kelas (ON–2) di sekolah yang ada di wilayah gugus masing-masing yang dilakukan oleh Penga- was kepada Guru Kelas SD Imbas yang telah mendapatkan pembekalan pendampingan di gugus. Kegiatan ON-2 dilaksanakan pada kelas VI dan warga sekolah lainnya. ON merupakan kegiatan pendampingan yang dilaksanakan oleh pengawas terhadap Guru
  19. 19. 18 Sasaran di SD-nya masing-masing secara ber- gantian dan dilaksanakan selama 1½ hari. Pada ½ hari pertama, pendampingan dilak- sanakan setelah PBM selesai dilakukan. Pada 1 hari kedua, pendamping mendampingi guru melakukan pembelajaran di kelas, mulai penda- huluan sampai dengan selesai PBM. Setelah itu, dilakukan evaluasi terhadap pembelajaran di kelas, dan pembuatan rencana tindak lanjut. 4. Pendampingan pada pembelajaran di kelas (ON–3) di sekolah yang ada di wilayah gugus masing-masing yang dilakukan oleh Penga- was kepada Guru Kelas SD Imbas yang telah mendapatkan pembekalan pendampingan di gugus. Kegiatan ON-3 dilaksanakan pada kelas 1 dan warga sekolah lainnya. ON merupakan kegiatan pendampingan yang dilaksanakan oleh pengawas terhadap Guru Sasaran di SD-nya masing-masing secara ber- gantian dan dilaksanakan selama 1½ hari. Pada ½ hari pertama, pendampingan dilak- sanakan setelah PBM selesai dilakukan. Pada 1 hari kedua, pendamping mendampingi guru melakukan pembelajaran di kelas, mulai penda- huluan sampai dengan selesai PBM. Setelah itu, dilakukan evaluasi terhadap pembelajaran di kelas, dan pembuatan rencana tindak lanjut. 5. Pertemuan kedua awal (IN-2) dilakukan di gu- gus yang diikuti seluruh kepala SD Rintisan Pemerintah, Rintisan Mandiri, Kepala SD Inti , dan SD Imbas dan Guru Kelas I, II, III yang telah mendapat pendampingan oleh pengawas. Kegiatan ini juga dapat dihadiri oleh, IV, V, VI, guru PJOK dan Agama. Kegiatan ini dipimpin oleh pengawas yang sudah mendapat bimbin- gan teknis kurikulum. Waktu pelaksanaannya adalah pada minggu ke 2 Oktober 2015, un- tuk pembekalan bagi pada Guru Kelas, Guru PJOK dan Guru Agama, selain itu pada IN-2, pendamping menyusun rencana tindak lanjut (RTL) untuk pendampingan berikutnya. 6. Pendampingan pada pembelajaran di kelas (ON–4) di sekolah yang ada di wilayah gugus masing-masing yang dilakukan oleh Penga- was kepada Guru Kelas SD Imbas yang telah mendapatkan pembekalan pendampingan di gugus. Kegiatan ON-4 dilaksanakan pada kelas II dan warga sekolah lainnya. ON merupakan kegiatan pendampingan yang dilaksanakan oleh pengawas terhadap Guru Sasaran di SD-nya masing-masing secara ber- gantian dan dilaksanakan selama 1½ hari. Pada ½ hari pertama, pendampingan dilak- sanakan setelah PBM selesai dilakukan. Pada 1 hari kedua, pendamping mendampingi guru melakukan pembelajaran di kelas, mulai penda- huluan sampai dengan selesai PBM. Setelah itu, dilakukan evaluasi terhadap pembelajaran di kelas, dan pembuatan rencana tindak lanjut. 7. Pendampingan pada pembelajaran di kelas (ON–5) di sekolah yang ada di wilayah gugus masing-masing yang dilakukan oleh Penga- was kepada Guru Kelas SD Imbas yang telah mendapatkan pembekalan pendampingan di gugus. Kegiatan ON-5 dilaksanakan pada kelas IV dan warga sekolah lainnya. ON merupakan kegiatan pendampingan yang dilaksanakan oleh pengawas terhadap Guru Sasaran di SD-nya masing-masing secara ber- gantian dan dilaksanakan selama 1½ hari. Pada ½ hari pertama, pendampingan dilak- sanakan setelah PBM selesai dilakukan. Pada 1 hari kedua, pendamping mendampingi guru melakukan pembelajaran di kelas, mulai penda- huluan sampai dengan selesai PBM. Setelah itu, dilakukan evaluasi terhadap pembelajaran di kelas, dan pembuatan rencana tindak lanjut. 8. Pendampingan pada pembelajaran di kelas (ON–6) di sekolah yang ada di wilayah gugus masing-masing yang dilakukan oleh Penga- was kepada Guru Kelas SD Imbas yang telah mendapatkan pembekalan pendampingan di gugus. Kegiatan ON-6 dilaksanakan pada kelas V dan warga sekolah lainnya. ON merupakan kegiatan pendampingan yang dilaksanakan oleh pengawas terhadap Guru Sasaran di SD-nya masing-masing secara ber- gantian dan dilaksanakan selama 1½ hari. Pada ½ hari pertama, pendampingan dilak- sanakan setelah PBM selesai dilakukan. Pada 1 hari kedua, pendamping mendampingi guru melakukan pembelajaran di kelas, mulai penda- huluan sampai dengan selesai PBM. Setelah itu, dilakukan evaluasi terhadap pembelajaran di kelas, dan pembuatan rencana tindak lanjut. Pertemuan ketiga (IN-3) dilakukan di gugus yang diikuti seluruh kepala SD Rintisan Pemer- intah, Rintisan Mandiri, Kepala SD Inti dan SD Imbas dan Guru Kelas I, II, III, IV, V, VI, Guru PJOK dan Agama. Kegiatan ini dipimpin oleh pengawas yang sudah mendapat bimbingan teknis kurikulum. Kegiatan IN-3 dilaksanakan untuk membahas pelaksanaan pendampingan di kelas I, II, III, IV, V, dan VI, seperti hambatan
  20. 20. 19 yang ditemukan selama pendampingan dan juga pemecahannya. Selain itu, pada IN-3 menyusun laporan pendampingan yang telah dilaksanakan. Kesimpulan 1. Program pendampingan pelaksanaan Kuri- kulum oleh pengawas bertujuan memberikan penguatan dalam memahami konsep Kuriku- lum berikut perubahannya di lapangan kepada peserta serta untuk membantu mengatasi berb- agai kendala yang muncul pada saat pelaksa- naan kurikulum tersebut di sekolah. 2. Untuk mencapai hasil tersebut diperlukan model dan strategi pembinaan yang terintegrasi dan sinergis dari berbagai pihak dalam berbagai perspektif. Hal ini penting mengingat kesia- pan pengawas, kepala sekolah, guru beserta pe- mangku pendidikan lainnya sangat bervariasi. 3. Pendamping pelaksanaan kurikulum ada- lah pengawas SD yang bertugas memberikan pendampingan kepada Guru Sasaran dalam melaksanakan Kurikulum. Pengawas SD telah mendapatkan pelatihan Pelaksanaan Kuriku- lum, baik sebagai Narasumber Nasional, In- struktur Nasional. Daftar Pustaka Diklat Pendampingan Implementasi kurikulum 2013 bagi sekolah sasaran rintisan pemerin- tah dan rintisan mandiri Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 2005. Standar Nasional Pendidikan yang disem- purnakan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 32 tahun 2013 Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 54 Tahun 2013 Tentang Standar Kempetensi Lulusan. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 64 Tahun 2013 Tentang Standar Isi pada kurikulum 2013. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 57 Tahun 2014 Tentang Kurikulum Sekolah Dasar / Madrasah Ibtidaiyah pada kurikulum 2013. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 66 Tahun 2013 Tentang Kurikulum Standar Penilaian pada kurikulum 2013. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 65 Tahun 2014 Tentang Standar Proses kurikulum 2013. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 103 Tahun 2014 Tentang Pedoman perangkat pembelajaran kurikulum 2013. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 104 Tahun 2014 Tentang Pedoman Penilaian kurikulum 2013. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 53 Tahun 2015 Tentang Pedoman Penilaian kurikulum 2013
  21. 21. 20 Abstrak: Program Fullday school merupakan program yang saat ini dicanangkan Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan seiring dengan implementasi kuri- kulum 2013. Geliat Full Day School semakin gencar terdengar di kalangan masyarakat, bah- kan dua daerah di provinsi Gorontalo telah melaksanakan program tersebut secara penuh. Namun demikian implementasi program Full Day School menuai pro dan kontra di kalan- gan masyarakat. Terlepas dari pro dan kontra tersebut, dalam tulisan ini penulis mencoba mengkaji secara konseptual alokasi waktu belajar anak pada kegiatan intra kurikuler dikait- kan dengan implementasi programFull Day School pada satuan pendidikan.Tujuan penulisan ini adalah membarikan gambaran global tentang alokasi waktu kegiatan intrakurikuler dan pengembangan karakter pada satuan pendidikan yang melaksanakan kurikulum 2013 serta menerapkan program Full Day School. Metode penulisan adalah kajian konseptual berdasar- kan fakta yang ditemui penulis saat melakukan pendampingan satuan pendidikan pelaksana kurikulum 2013 sekaligus menerapkan program Full Day School. Kata Kunci: Alokasi waktu, kurikulum 2013, Program Full Day School. ALOKASI WAKTU PEMBELAJARAN KURIKULUM 2013 PADA PROGRAM FULL DAY SCHOOL DI PROVINSI GORONTALO SIMIN A. RAUF LPMP Gorontalo siminrauf@yahoo.com Pendahuluan Perubahan kurikulum dari kurikulum 2006 menuju kurikulum 2013 membawa pengaruh yang cukup berarti bagi kualitas pembelajaran ter- utama di Sekolah Dasar (SD).Secara konseptual, perubahan yang terjadi pada pembelajaran di SD oleh adanya perubahan kurikulum tersebut adalah pendekatan pembelajaran.Pada Kurikulum 2006, pendekatan pembelajaran yang digunakan di SD adalah pendekatan pembelajaran tematik terpadu untuk kelas rendah (kelas I, kelas II, dankelas III) sertapendekatanmatapelajaranuntukkelastinggi (kelas IV, kelas V, dankelas VI). Selanjutnya pada kurikulum 2013 pendekatan pembelajaran di SD untuk kelas I hingga kelas VI menggunakan pendekatan pembelajaran tematik terpadu.Den- gan adanya pembelajaran tematik di SD pada kurikulum 2013 menimbulkan permasalahan tersendiridi kalangan para guru terutama guru SD. Masalah tersebut juga merupakan masalah bagi sebagiandari guru yang pernah mengajar dan sedang mengajar kelas rendah. Selain itu program yang telah terimplemen- tasi padabe berapa daerah di provinsi Gorontalo adalah program Full Day School. Geliat program Full Day Schoolmakin gencar seiring dengan pen- erapan program tersebut secara penuh pada dua daerah di provinsi Gorontalo, yaitu kabupaten Gorontalo dan kota Gorontalo. Gelombang pro dan kontra terhadap program Full Day School hingga sekarang ini masih tetap terus menggema di kalangan masyarakat oleh karena pe-nerapan program tersebut di kabupaten Gorontalo, anak harus masuk sekolah sekitar pukul 06.00. Selan- jutnya implementasi program Full Day Schooldi kabu-paten lain di provinsi Gorontalo baru dilak- sanakan pada sekolah-sekolah tertentu. Hasil pemantauan penulis, kedua program ini menuai pro dan kontra di kalangan masyarakat. Namun demikian khusus gelombang pro dan kon- tra teruta-ma terkaitprogram kurikulum 2013. Terlepas dari gelombang pro dan kontra terse- but, penulis memandang bahwa program tersebut memiliki sisi positif dan sisi negatif. Kajian dalam tulisan ini akan melihat bagaimana perbandingan alokasi waktu belajar anak pada kegiatan intrak- urikuler kurikulum 2013 dengan alokasi waktu pengembangan karakter pada satuan pendidikan yang menerapkan program Full Day School. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan deskripsi tentang implementasi kurikulum 2013 pada satuan pendidikan yang menerapkan pro-
  22. 22. 21 gramFull Day Schoolkhususnya alokasi waktu belajar intrakurikuler dan alokasi waktu pengem- bangan karakter. Selanjutnya metode penulisan karya ini berupa analisis konseptual didasarkan pada pengalaman faktual penulis saat melakukan pendampingan pada satuan pendidikan di provin- si Gorontalo. Konsep Teoritis a. Konsep Kurikulum 2013 Perubahan kurikulum dari kurikulum 2006 menuju kurikulum 2013 secara umum men- gusung beberapa perubahan. Dalam tulisan ini konsep yang dikemukakan sehubungan dengan implementasi kurikulum 2013 adalah: (i) Stan- dar Kompetensi Lulusan, (ii) Struktur kurikulum Pembelajaran, (iii) dan Penguatan karakter. 1. Standar Kompetensi Lulusan. Standar kompetensi yang dijadikan dasar da- lam implementasi kurikulum 2013 adalah standar kompetensi lulusan yang termaktub Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 020 tahun 2016. Dalam regulasi tersebut dikemuka- kan bahwa standar kompetensi lulusan adalah kriteria mengenai kualifikasi kemampuan lulusan yang harus dapat peserta didik setelah mengiku- ti program pendidikan pada suatu satuan pendi- dikan dalam jangka waktu tertentu yang men- cakup sikap, pengetahuan, dan keterampilanserta digunakan sebagai acuan utama pengembangan standar isi, standar proses, standar penilaian pen- didikan, standar pendidik dan tenaga kependi- dikan, standar sarana dan prasarana, standar pen- gelolaan, dan standar pembiayaan.Dalam regulasi tersebut pula dikemukakan bahwa standar kom- petensi SD adalah standar kompetensi yang harus dicapai peserta didik setelah mengikuti program pendidikan selama enam tahun di SD. Demikian pula dengan standar kompetensi SMP, SMA, dan SMK adalah standar kompetensi yang harus dica- pai peserta didik setelah mengikuti program pen- didikan di SMP, SMA, atau SMK masing-masing selama tiga tahun. 2. Alokasi Waktu sesuai Struktur Kurikulum Lebih lanjut pada struktur kurikulum 2013, untuk Sekolah Dasar termuat pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 57 tahun 2014. Dalam permendikbud tersebut jum- lah jam pelajaran untuk tingkat SD/MI untuk kelas I sebesar 30 JP. Demikian pula untuk kelas II dan kelas III sebanyak 32 JP serta untuk kelas IV hingga kelas VI menjadi 36 JP. Untuk tingkat SMP/MTs jumlah jam pelajaran dalam seminggu sesuai Permendikbud Nomor 58 tahun 2014 se- besar 38 JP. Untuk tingkat SMA/MA jumlah jam pelajaran dalam seminggu sesuai Permendikbud Nomor 59 tahun 2014, kelas X sebesar 42 JP ser- ta kelas XI dan kelas XII sebesar 44 JP. Terakhir untuk tingkat SMK/MAK jumlah jam pelajaran dalam seminggu sesuai Permendikbud Nomor 60 tahun 2014, kelas X – kelas XII sebesar 48 JP. Ber- dasarkan uraian diatas maka 3. Penguatan Pendidikan Karakter, Karakter yang diperkuat pada kurikulum 2013 adalah karakter yang terdapat pada kompetensi inti sikap, yaitu sikap (KI-1) dan sikap sosial (KI- 2).Secara sederhana, pendidikan karakter dapat didefinisikan sebagai segala usaha yang dapat dilakukan untuk mempengaruhi karaktersiswa. Tetapi untuk mengetahui pengertian yang tepat, dapat dikemukakan di sini definisi pendidikan karakter yang disampaikan oleh Thomas Lickona. Lickona menyatakan bahwa pendidikan karakter adalah suatu usaha yang disengaja untuk mem- bantu seseorang sehingga ia dapat memahami, memperhatikan, dan melakukan nilai-nilai etika yang inti. Selanjutnya Suyanto, (2009) mengemu- kakan definisi karakter sebagai cara berpikir dan berperilaku yang menjadi cirikhas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingk- up keluarga, masyarakat, bangsa, maupun negara. Oleh karena itu dalam kurikulum 2013 karakter yang akan dikembangkan sekalgus dinilai, lebih dipertegas melalui kompetensi inti baik kompe- tensi inti spiritual (KI – 1) maupun kompetensi inti sosial (KI – 2). b. Konsep Full Day School Secara leksikal pengertian Full Day School ada- lah Sekolah sepanjangwaktu. Namun definisi Full Day School dalam istilah pendidikan adalah sebuah sekolah yang member-lakukan jam belajarsehari penuh antara jam 07.00-15.30/16.00.Full Day Schooldengan program mana proses pembelajaran dilaksanakan sehari penuh di sekolah merupakan kebijakan yang dicanangkan Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan tujuan agar kesibukan anak-anak lebih banyak dihabiskan di lingkungan sekolah dari pada di rumah. Anak-anak dapat berada di rumah
  23. 23. 22 lagi setelah menjelang sore. Program Full Day School merupakan model sekolah umum yang memadukan sistem pengaja- ran agama secara intensif yaitu dengan memberi tambahan waktu khusus untuk pendalaman ag- ama siswa. Dengan jam tambahan dilaksanakan pada jam setelah sholat dhuhur sampai sho- lat ashar,  praktis nya sekolah model ini masuk pukul 07:00 WIB dan pulang pada pukul 15:30. Menurut Sismanto,Full Day School merupakan model sekolah umum yang memadukan sistem pengajaran Islam secara intensif yaitu dengan memberi tambahan waktu khusus untuk penda- laman keagamaan siswa. Biasanya jam tambah- an tersebut dialokasikan pada jam setelah sholat Dhuhur sampai sholat Ashar, sehingga praktis se- kolah model ini masuk pukul 07.00 WIB pulang pada pukul 16.00 WIB. Sedangkan pada seko- lah-sekolah umum, anak biasanya sekolah sampai pukul 13.00 WIB. Pembahasan a. Implementasi Full Day School di Provinsi Gorontalo Secara umum Regulasitentang Program Full Day School dari Pemerintah Pusat dalam hal ini melalui Peraturan Menteri ataupun Keputusan Menteri, belum diterima oleh sekolah pelaksana program tersebut. Surat Keputusan (SK) yang telah terbit hanyalah SK sekolah tertentu yang ditunjuk untuk menerapkan program Full Day School. Beberapa acuan yang digunakan dalam rangka implementasi program Full Day School adalah Juknis Program dan Panduan Penguatan Pendidikan Karakter. Khusus untuk satuan pen- didikan di kabupaten Gorontalo, teknis pelaksa- naan program Full Day School menurut informasi beberapa kepala sekolah yang ditemui penulis, diserahkan pada kreativitas masing-masing satuan pendidikan. Dalam implementasinya, sebagian besar satu- an pendidikan di kota Gorontalo dan kabupaten Gorontalo telah melaksanakan program Full Day School.Untuk wilayah kota Gorontalo telah dimu- laioleh SDN 30 Kota Selatan dengan SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan serta mulai member- lakukan program tersebut pada awal bulan Okto- ber tahun 2016. Di samping itu terdapat beberapa satuan pendidikan yang melaksanakan program Full Day School tersebut secara Mandiri. Hasil pementauan penulis untukmkota Gorontalo jam masuk siswa antara pukul 07.00 – pukul 07.30 dan keluar antara pukul 15.00 – 15.30. KhususuntukKabupatenGorontalo,kebijakan penerapan Program Full Day School oleh Bupati Gorontalo dimulai tanggal 1 Januari 2017 dengan jam masuk sekolah pukul 06.00. Sesuai informa- si yang diterima penulis bahwa tidak seluruhnya satuan pendidikan menerapkan jam masuk Pukul 06.00. beberapa sekolah yang dikunjungi penulis menetapkan Jam masuk pukul 06.10. Selanjutnya sesuai informasi yang penulis terima dari beber- apa kepala sekolah, guru, dan pengawas bahwa kegiatan yang dilaksanakan di sekolah diserahkan kepada kreativitas masing-masing kepala sekolah. Selain itu hasil pemantauan penulis khusus im- plementasi Full Day School di kabupaten Goron- talo, beberapa keluhan yang dilontarkan oleh sebagian guru, termasuk beberapa orang tua ada- lah jam masuk sekolah terlalu pagi, yaitu sekitar pukul 06.00. Beberapa fenomena yang dilaporkan oleh pihak sekolah adalah anak yang mengeluh krdinginan mandi pagi, anak yang malas-mala- san setelah dibangunkan pagi-pagi hingga beber- apa anak yang dilaporkan sakit. Menurut hemat penulis semua keluhan yang dilontarkan baik oleh guru maupun orang tua tersebut masih memerlu- kan penelitian lebih lanjut. b. Pencapaian Standar Kompetensi Lulusan melalui Program Full Day School Sesuai dengan program yang dikemukakan pada Bab II nampak bahwa secara konseptual program Full Day School mendukung tercapain- ya Standar kompetensi lulusan sebagaimana tel- ah dikemukakan. Sesuai konsep di atas nampak bahwa basic dari program Full Day School adalah penumbuhan dan pengembangan karakter anak. Selanjutnya nampak pula bahwa program Full Day Schooldilaksanakan dalam rangka upaya op- timalisasi pencapaian standar kompetensi lulusan pada masing-masing satuan pendidikan. Dengan kata lain melalui program Full Day School SKL masing-masing satuan pendidikan diupayakan untuk dapat dioptimalkan pencapaiannya. c. Analisis waktu Belajar kegiatan Intrakurikuler sesuai kurikulum 2013 pada satuan pendidikan yang menerapkan program Full Day School. Sebagaimana telah dikemukakan bahwa be- berapa sekolah pelaksana Full Day School di ka- bupaten Gorontalo belum menerima regulasi dan petunjuk teknis tentang Program Full Day School
  24. 24. 23 dari Pemerintah Pusat. Dengan demikian seko- lah-sekolah tersebut menemui kesulitan dalam melaksanakan program Full Day School secara optimal. Namun demikian jika esensi Full Day School dipahami dengan benar oleh pihak sekolah (dalam hal ini kepala sekolah dan para guru) maka implementasi Full Day School di Sekolah tidak ter- lalu bermasalah. Selanjutnya waktu di sekolah untuk anak pada program Full Day School maksimum selama 8 jam (8 x 60 menit) maka jika kegiatan anak di sekolah dimulai pukul 07.30 maka masimum anak keluar sekolah pukul 15.00. Kegiatan awal anak mulai pukul 07.30 – 08.00, antara lain hari Senin Up- acara Bendera, hari Selasa – Jumat diisi dengan kegiatan antara lain Zikir, Sholat Dhuha, dan ke- giatan literasi. Mulai pukul 08.00 pagi anak mulai mengikuti kegiatan intrakurikuler. Untuk implementasi Full Day School di SD di- mana kegiatan intrakurikuler mulai pukul 07.30 dengan waktu belajar 1 JP = 35 menit,maka waktu belajar intrakurikuler dan pengembangan karakter anak SD sebagaimana pada tabel 1. Tabel 1 Implementasi Full Day School di SD No Kelas Jumlah Jam Kegiatan Intrakurikuler Pembinaan Karakter Senin - Kamis Jumat Senin - Kamis Jumat 1 I 30 JP 07.30–11.15 07.30–11.15 07.00–07.30 11.15–11.50 12.50–15.00 07.00–07.30 12.50–15.00 2 II dan III 32 JP 07.30–11.50 07.30–09.50 07.00 – 07.30 12.50 – 15.00 07.00 – 07.30 10.05 – 11.15 12.50 – 15.00 3 IV, V dan VI 36 JP 07.30–13.25 07.30–09.50 07.00 – 07.30 13.25 – 15.00 07.00 – 07.30 10.05 – 11.15 12.50 – 15.00 Waktu Istirahat: Istirahat I pukul 09.50 – 10.05 dan Istirahat II pukul 11.50 – 12.50 Istirahat II hari Jumat pukul 11.15 – 12.50 Dari tabel 1 nampak bahwa untuk kelas I dengan kesepakatan waktu keluar sekolah pukul 15.00 maka waktu yang dapat digunakan untuk pengembangan karakter setiap hari pada hari Senin hingga hari Kamis sebanyak 195 menit atau setara dengan 3 jam 15 menit. Namun apabila disepakati anak kelas I keluar pukul 14.00 maka waktu yang dapat digunakan untuk pengemban- gan karakter anak setiap hari pada hari Senin hingga hari Kamis selama 135 menit atau setara dengan 2 jam 15 menit. Untuk hari Jumatwak- tu yang dapat digunakan untuk pengembangan karakter anak selama 160 menit jika anak keluar sekolah pukul 15.00 dan jika anak keluar pukul 14.00 maka waktu pembinaan karakter selama 100 menit. Dari analisis waktu tersebut nampak bahwa alokasi waktu yang dapat digunakan untuk pengembangan karakter siswa kelas I setiap ming- gu masih cukup banyak. Selanjutnya untuk kelas II dan kelas IIIden- gan kesepakatan waktu keluar sekolah pukul 15.00 maka waktu yang dapat digunakan untuk pengembangan karakter pada hari senin hingga hari Kamis, setiap harinya selama 160 menit atau setara dengan 2 jam 40 menit dan pada hari Jumat waktu yang digunakan selama 230 menit atau 3 jam 50 menit. Nampak pula bahwa alokasi wak- tu yang dapat digunakan untuk pengembangan karakter siswa kelas II dan kelas III setiap minggu masih cukup banyak. Terakhir untuk kelas IV, kelas V, dan kelas VI- dengan waktu keluar sekolah pukul 15.00 maka waktu yang dapat digunakan untuk pengemban- gan karakter pada hari senin hingga hari Kamis, setiap harinya selama 100 menit atau setara den- gan 1 jam 40 menit dan pada hari Jumat waktu yang digunakan selama 230 menit atau 2 jam 50 menit. Nampak bahwa alokasi waktu yang digu- nakan untuk pengembangan karakter siswa SD kelas IV, kelas V, dan kelas VI, makin berkurang dibandingkan dengan alokasi waktu pengemban- gan karakter siswa kelas I, kelas II, dan kelas III. Namun demikian alokasi waktu tersebut masih cukup untuk pengembangan karakter siswa setiap minggunya.
  25. 25. 24 Untuk implementasi Full Day School di SMP dimana kegiatan intrakurikuler mulai pukul 07.30 dengan waktu belajar 1 JP = 40 menit, maka waktu belajar intrakurikuler dan pengem- bangan karakter anak, sebagaimana pada tabel 2. Tabel 2 ImplementasiFull Day School di SMP No Kelas Jumlah Jam Kegiatan Intrakurikuler Pembinaan Karakter Senin - Kamis Jumat Senin - Kamis Jumat 1 VII - IX 38 JP 07.30–14.05 07.30-11.05 07.00–07.30 14.05–15.00 07.00–07.30 12.45–15.00 Waktu Istirahat: Istirahat I pukul10.10 – 10.25 dan Istirahat II pukul 11.45 – 12.45 Istirahat II hari Jumat pukul 11.05 – 12.45 Dari tabel 2 di atas nampak bahwa dengan kesepakatan waktu keluar sekolah pukul 15.00 (menggunakan waktu maksimum program Full Day School maka waktu yang dapat digunakan untuk pengembangan karakter anak SMP setiap hari dari hari Senin hingga hari Kamis sebanyak 75 menit atau setara dengan 1 jam 15 menit, dan untuk hari Jumatwaktu yang dapat digunakan untuk pengembangan karakter anak selama 165 menit atau 2 jam 45 menit.Nampak bahwa alokasi waktu yang dapat digunakan untuk pengem-ban- gan karakter siswa SMP kelas I setiap minggunya makin berkurang seiring dengan perkembangan anak. Untuk implementasi Full Day School di SMA dimana kegiatan intrakurikuler mulai pukul 07.00 dengan waktu belajar 1 JP = 45 menit, maka alo- kasi waktu belajar intrakurikuler dan pengemban- gan karakter anak SMA digambarkan pada tabel 3. Tabel 3 ImplementasiFull Day School di SMA No Kelas Jumlah Jam Kegiatan Intrakurikuler Pembinaan Karakter Senin – Kamis Jumat Senin - Kamis Jumat 1 X 42 JP 07.00 – 15.00 07.00 – 11.45 - 13.00 – 15.00 2 XI dan XII 44 JP 07.30 – 15.30 07.00 – 14.30 - 14.30 – 15.00 Waktu Istirahat: Istirahat I pukul 10.00 – 10.15 dan Istirahat II pukul 11.45 – 12.45 Istirahat II hari Jumat pukul 11.45 – 13.00 Dari table 3 di atas nampak bahwa untuk siswa SMA pada hari Senin hingga hari Kamis alokasi waktu yang tersedia untuk anak di seko- tu pengembangan karakter hanya 30 menit. Dari analisis waktu tersebut nampak bahwa dengan program Full Day School alokasi waktu pengem- bangan karakter untuk siswa SMA sangat minim dibandingkan dengan alokasi waktu pengemban- gan karakter pada siswa SD dan siswa SMP. Den- gan demikian perlu dipertimbangkan penerapan Full Day School di SMA. Terakhir implementasi Full Day School di SMK dimana kegiatan intra-kurikuler mulai pukul 07.00 dengan waktu belajar 1 JP = 45 menit dan alokasi waktu 48 JP, maka alokasi waktu belajar intrakurikuler dan pengembangan karakter anak SMK digambarkan pada tabel 4. Dari table 4 nampak bahwa untuk siswa SMK pada hari Senin hingga hari Kamis alokasi waktu yang tersedia untuk kegiatan intrakurikuler telah melebihi waktu pada program Full Day School. Jika mengikuti program Full Day School dengan jangka waktu anak berada di sekolah selama 8 jam lah sepenuhnya hanya digunakan untuk kegiatan intra kurikuler mulai pukul 07.00 hingga pukul 15.00. pengembangan karakter hanya pada hari Jumat untuk kelas X selama 120 menit atau 2 jam dan untuk kelas XI hingga kelas XII, alokasi wak- (8 x 60 menit) maka alokasi waktu belajar untuk anak yang dapat dilaksanakan selama 5 hari hany- alah 45 JP sedangkan dalam struktur kurikulum
  26. 26. 25 SMK, alokasi waktu belajar (intrakurikuler) sesuai struktur kurikulum 2013 sebanyak 48 JP. Dengan demikian berdasarkan hasil analisis tersebut maka program Full Day School tidak dapat diterapkan di SMK. Tabel 4 Implementasi Full Day School di SMK No Kelas Jumlah Jam Kegiatan Intrakurikuler Pembinaan Karakter Senin – Kamis Jumat Senin - Kamis Jumat 1 X - XII 45 JP 07.00 – 15.00 07.00 – 15.00 - 14.15 – 15.00 Waktu Istirahat: Istirahat I pukul 10.00 – 10.15 dan Istirahat II pukul 11.45 – 12.45 Kesimpulan Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa: 1. Pada prinsipnya Program Full Day School men- dukung tercapainya SKL pada program Kuri- kulum 2013. 2. Program Full Day School dapat diterapkan secara intensif di SD dan SMP yang melak- sanakan kurikulum 2013. 3. Perlu kajian secara intensif tentang penerapan program Full Day School di SMA pelaksana kurikulum 2013. 4. Peluang penerapan program Full Day School di SMK pelaksana kurikulum 2013. 5. Waktu masuk peserta didik ke sekolah tidak ha- rus pukul 06.00 pagi. 6. Diharapkan agar penerapan Program Full Day School dilakukan secara bertahap serta mem- pertimbangkan kondisi siswa, guru, dan orang tua siswa. 7. Perlu kajian lebih intensif terutama dari para akade- misi tentang penerapan program Full Day School pada sekolah reguler di Provinsi Gorontalo. Daftar Pustaka Richard I. Arends, 2008, Learning To Teacch, (Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2008) Cet I Sardiman, 2010, Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar.(Jakarta,PT Rajagrafindo Persada, 2010)cet I Kementerian Pendidikan dan Kebuayaan, 2014, Peraturan Menteri Pendidikan dan Ke- budayaan Nomor 57 tahun 2014 tentang kurikulum SD/MI. Kementerian Pendidikan dan Kebuayaan, 2014, Peraturan Menteri Pendidikan dan Ke- budayaan Nomor 58 tahun 2014 tentang kurikulum SMP/MTs Kementerian Pendidikan dan Kebuayaan, 2014, Peraturan Menteri Pendidikan dan Ke- budayaan Nomor 59 tahun 2014 tentang kurikulum SMA/MA Kementerian Pendidikan dan Kebuayaan, 2014, Peraturan Menteri Pendidikan dan Ke- budayaan Nomor 60 tahun 2014 tentang kurikulum SMK/MAK. Kementerian Pendidikan dan Kebuayaan, 2016, Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebu- dayaan Nomor 020 tahun 2016 tentang Standar Kompetensi Lulusan Fibriana Anjaryati “Implementasi Sekolah Full Day School” Abdul Kosim, 2010, “Kontroversi Belajar Sehari penuh” http//Kontroversi Belajar Sehari Penuh - Pena Pendidikan.htm15 Maret 2010 jam 01:00 Fahmy Alaydroes, 2010, PelaksanaanFull Day School di SD” http://gudangmakalah.blog- spot.com/2010/06/tesis-pelaksanaan-full- day-school-di-sd.html, Wahyudi Oetomo, Full Day School Dan Imple- mentasinya Wahyudi Oetomo, 2010, “Full DaySchool Dan Implementasinya ”http://wahy- udioetomo.blogspot.com/2010/03/ full-day-school-dan-implementasinya.html. 10. Ibusud,“Fulldaykordegarden”.,http//www.ibusd. drca.us/mainofices/resrch/pdf/studies/full- daykordegarden.pdf Arif Suyono “Pelaksanaan PembelajaranFull Day School” http// pelaksanaan-full-day- schooll.318-989-1FB.pdf Subandijah, 1996, Pengembangan Kurikulum Dan Inovasi Kurikulum, (Jakarta, PT Ra- jaGrafindo Pesada, 1996) Syafruddin Nurdin, M. Basyiruddin Usman, , 2002, Guru Profesional dan Implementasi Kurikulum, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002)
  27. 27. 26 Abstrak: Fakta membuktikan bahwa guru merupakan salah satu penentu keberhasilan usa- ha meningkatan mutu pendidikan. Upaya yang dilakukan dalam rangka peningkatan mutu pendidikan berakibat terhadap guru-guru termasuk yang mengampu pelajaran bahasa Ing- gris disekolah. Perubahan-perubahan yang menjadi akibat pembaharuan kurikulum, peng- gunaan media pembelajaran baru, metoda belajar dan proses belajar mengajar baru yang disarankan dalam kurikulum itu memerlukan penyesuaian yang up to date, baik dalam hal materi pengajaran, metode dan teknik mengajar, maupun sikap mengajarnya yang berbasis pada konstruktivisme dan behaviorisme. Permasalahan dalam penelitian ini adalah (a) Apa- kah Penerapan Metode Cooperative Integrated Reading and Composition dapat meningkat- kan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Bahasa Inggris?”  Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran bahasa Inggris den- gan menggunakan metode Cooperative Integrated Reading and Composition. Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas yang ditempuh dalam dua siklus. Setiap siklus terdapat empat tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Tinda- kan dalam setiap siklus dilakukan dengan cara peneliti memberikan tugas berupa penyelesaian suatu permasalahan melalui metode Cooperative Integrated Reading Composisition. Melalui model pembelajaran ini prestasi belajar siswa mengalami peningkatan sehingga diharapkan model pembelajaran ini dapat digunakan sebagai salah satu alternative pembelajaran mata pelajaran bahasa Inggris. {berapa peningkatan dari siklus 1 ke siklus 2 diuraikan} Kata Kunci : Hasil Belajar Siswa, Pembelajaran CIRC IMPLEMENTASI METODE “COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION” UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN BAHASA INGGRIS SUKRIANTO RAUF sukriantorauf@yahoo.com Pendahuluan Salah satu upaya dalam meningkatkan mutu pendidikan ditentukan oleh kualitas proses be- lajar mengajar, yang pelaksanaannya melibatkan guru dan siswa. Guru sebagai perencana dan pengelola pengajaran, melaksanakan kegiatan be- lajar mengajar yang meliputi tujuan pengajaran, materi, metode, waktu yang digunakan, sumber, sarana dan prasarana serta alat evaluasinya. Dip- ihak lain, kemampuan siswa dalam proses pem- belajaran perlu mendapat perhatian yang serius, karena dapat mempengaruhi pencapaian hasil be- lajar sesuai dengan harapan dan kriteria yang telah ditetapkan. Melalui proses pembelajaran siswa bukan hanya sekedar memperoleh pengetahuan yang diberikan, tetapi mampu mencapai sasaran mutu pembelajaran secara optimal. Oleh karena itu di- usahakan agar proses pembelajaran sepenuhnya dapat menempatkan siswa terlibat dalam belajar, sehingga diharapkan siswa mempunyai berbagai gagasan dan inisiatif dalam proses pembelajaran. Keterlibatan siswa di kelas merupakan tanggung jawab guru. Dan guru juga bertugas sebagai fasil- itator untuk menciptakan lingkungan belajar agar proses belajar dapat berlangsung secara efektif. Lingkungan belajar yang efektif membantu siswa mencapai kesuksesan belajar yang ditandai den- gan melibatkan siswa dalam proses pembelajaran. Namun kondisi siswa di kelas sangat beragam se- hingga guru mengalami kesulitan untuk mencip- takan lingkungan belajar yang efektif, oleh karena itu guru perlu mengupayakan pembaharuan da- lam pengelolaan kelas. Dalam proses belajar mengajar guru hendaklah mempunyai kesiapan mengajar dengan baik ter- masuk penguasaan materi dan juga perlu memper- timbangkan penggunaan fasilitas yang digunakan sebagai perangkat pembelajaran sesuai dengan pembelajarannya, sehingga siswa dalam kelas be-
  28. 28. 27 nar-benar beraktivitas dan hasil belajarnya pun akan meningkat. Salah satunya dengan menerap- kan metode pembelajaran kooperatif tipe CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition). Metode pembelajaran ini merupakan suatu metode yang dapat menciptakan peran aktif siswa, melatih siswa untuk dapat bekerjasama dengan orang lain dan menghargai pendapat orang lain juga dapat menentukan bagaimana metode bela- jar yang baik. Kajian Teori Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelaja- ran bahasa Inggris dengan menggunakan metode Cooperative Integrated Reading and Composition. Hasil pembahasan dalam tulisan ini diharapkan bisa menjadi sumbangan pemikiran dalam rang- ka meningkatkan profesionalisme guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran Bahasa Ing- gris khususnya dalam penggunaan metode Coop- erative Integrated Reading and Composition . Hakikat Hasil Belajar Kegiatan belajar mengajar terjadi karena adan- ya proses interaksi edukatif antara guru dan siswa di sekolah menghasilkan perubahan -perubahan di pihak siswa, yang sebelumnya belum pernah dimiliki, dan kemampuan-kemampuan itu di- hasilkan karena usaha belajar. Dengan kata lain bahwa hasil belajar adalah kemampuan yang di- miliki siswa berupa pengetahuan, sikap dan keter- ampilan setelah menerima pengalaman belajarnya berinteraksi dengan lingkungannya. Jadi kemam- puan yang diperoleh dari usaha belajar inilah yang disebut hasil belajar. Selain itu kegiatan belajar bertujuan untuk memperoleh perubahan ting- kah laku, sehingga hasil belajar perubahan ting- kah laku dalam perbuatan, reaksi, sikap, serta penambahan pengetahuan sebagai produk dari hasil belajar. Bloom dalam Silverius (2015 :15) menjelaskan, terbentuknya tingkah laku sebagai hasil belajar mempunyai tiga ciri pokok yaitu : (1) tingkah laku tersebut berupa kemampuan aktu- al, (2) kemampuan itu barlaku dalam waktu yang relatif lama, dan (3) kemampuan baru diperoleh melalui usaha. Hasil belajar merupakan kapasitas yang terukur dari perubahan individu yang diing- inkan berdasarkan ciri-ciri atau variabel bawaan- nya melalui perlakuan pengajaran tertentu. Da- lam pengertian ini, hasil belajar merupakan hasil kegiatan dari belajar dalam bentuk pengetahuan sebagai akibat dari perlakuan atau pembelajaran yang dilakukan siswa. Atau dengan kata lain hasil belajar siswa diperoleh dari proses pembelajaran. Hasil belajar siswa dapat mengukur tinggi rendahnya kemampuan belajarnya yang ditun- jukkan adanya perubahan perilaku pada seseorang sebagai hasil pengalamannya. Hasil belajar mer- upakan perilaku yang dapat diamati dan menun- jukkan kemampuan yang dimiliki oleh seseorang. Kemampuan siswa yang merupakan perubahan tingkah laku sebagai bukti hasil belajar itu dapat diklasifikasikan dalam dimensi-dimensi tertentu. Gagne dalam Djiwandono (2012:13) mem- bagi hasil belajar siswa dalam lima kelompok ke- mampuan yaitu informasi verbal, keterampilan intelektual, strategi kognitif, keterampilan mo- torik dan sikap. Kelima kemampuan tersebut di atas.yakni: (1) informasi verbal; yaitu kemampuan mendeskripsikan sesuatu dalam bentuk kata-kata dengan jalan mengatur informasi-informasi yang relevan, (2) keterampilan intelektual yang ber- hubungan dengan pengetahuan prosedur yang mencakup belajar konsep, prinsip, diskrimina- si, dan pemecahan masalah, (3) strategi kognitif, yaitu kemampuan memecahkan masalah-mas- alah baru dengan jalan mengatur proses internal masing-masing individu dalam memperhatikan, mengingat, dan berpikir. (4) keterampilan mo- torik, yaitu kemampuan untuk melaksanakan dan mengkoordinasikan gerakan-gerakan yang berhubungan dengan otot, (5) sikap, yaitu ses- uatu kemampuan internal yang mempengaruhi tingkah laku seseorang dan didasari oleh emosi, kepercayaan-kepercayaan serta faktor internal. Menurut Bloom dalam Silverius (2015:19) ber- dasarkan kemampuan yang diperoleh siswa, ha- sil belajar dibedakan menjadi tiga kawasan, yaitu kawasan kognitif, kawasan afektif, dan kawasan psikomotorik. Kawasan Kognitif meliputi hasil belajar yang berkenaan dengan ingatan atau pen- genalan tentang pengetahuan dan pengembangan kemampuan intelektual serta keterampilan ber- pikir. Kawasan afektif hasil belajar yang meng- gambarkan tentang perubahan minat, sikap, nilai, dan pengembangan apresiasi dan kemampuan penyesuaian diri. Sedangkan kawasan psikomo- torik adalah hasil belajar yang menyangkut keter- ampilan gerak menggerakkan. Dengan demikian hasil belajar merupa- kan perolehan dari suatu kegiatan belajar berupa kemampuan-kemampuan yang mengakibatkan perubahan tingkah laku dalam diri individu. Pe-

×