Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Buletin Ponuwa (Edisi Juli Tahun 2017)

40 views

Published on

Buletin Ponuwa (Edisi Juli Tahun 2017) - LPMP GORONTALO

Assalamu’alaikum Wr.Wb
Alhamdullilah Edisi kedua buletin “Ponuwa” di tahun 2017 ini Alhamdulillah dapat disusun dan dicetak.
Ada beberapa hal yang kami angkat dalam edisi ini antara lain mengenai Program Pemetaan Mutu Pendidikan tahun 2017, yang merupakan bagian program Penjaminan Mutu Pendidikan Dasar dan Menengah Ditjen Dikdasmen - Kemdikbud, dalam upaya mencapai Standar Nasional Pendidikan (SNP) diperlukan output raport mutu untuk menggambarkan capaian pemenuhan standar nasional pendidikan pada satuan pendidikan dari mulai tingkat satuan pendidikan, kabupaten/kota, provinsi dan nasional.
dalam edisi ini juga kami menampilkan tulisan mengenai implementasi program showcase penjaminan mutu pendidikan yang dilaksanakan dibeberapa sekolah sasaran program penjaminan mutu pendidikan dan tulisan ini merupakan bagian laporan dari pelaksanaan program tersebut oleh tenaga fungsional lpmp sebagai penanggung jawab akademik program showcase tersebut.
pada edisi ini kami mencoba menambah edisi halaman dari 24 halaman edisi sebelumnya menjadi 34 halaman pada edisi ini dan seterusnya yang dipertimbangkan sebagai jumlah halaman ideal sebuah penerbitan bulletin internal.
Kami masih terus membenahi dalam penyusunan buletin ini, oleh karenanya saran bapak dan ibu sungguh kami butuhkan. Kami berusaha, dalam terbitan Buletin ini selanjutnya, Inshaa Allah dapat menghasilkan tulisan dan informasi yang lebih baik bagi bapak dan ibu.
Wassalam
Redaksi

Published in: Education
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Buletin Ponuwa (Edisi Juli Tahun 2017)

  1. 1. PONUWA Bulletin Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Gorontalo ISSN : 2502 - 4019 Vol I No.2 JULI 2017 00000 0000 02 VOL.01 JULI 2017 Edisi 2, 2017 Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Gorontalo Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Perspektif Kinerja LPMP Gorontalo PROGRAMPEMETAAN MUTU PENDIDIKAN2017 Pelaksanaan Showcase Penjaminan Mutu Pendidikan
  2. 2. CATATAN REDAKSI Assalamu’alaikum Wr.Wb Alhamdullilah Edisi kedua buletin “Ponuwa” di tahun 2017 ini Alhamdulillah dapat disusun dan dicetak. Ada beberapa hal yang kami angkat dalam edisi ini antara lain mengenai Program Pemetaan Mutu Pendidikan tahun 2017, yang merupakan bagian program Penjaminan Mutu Pendidikan Dasar dan Menengah Ditjen Dikdasmen - Kemdikbud, dalam upaya mencapai Standar Nasional Pendidikan (SNP) diperlukan output raport mutu untuk menggambarkan capaian pemenuhan standar nasional pendidikan pada satuan pendidikan dari mulai tingkat satuan pendidikan, kabupaten/kota, provinsi dan nasional. dalam edisi ini juga kami menampilkan tulisan mengenai implementasi program showcase penjaminan mutu pendidikan yang dilaksanakan dibeberapa sekolah sasaran program penjaminan mutu pendidikan dan tulisan ini merupakan bagian laporan dari pelaksanaan program tersebut oleh tenaga fungsional lpmp sebagai penanggung jawab akademik program showcase tersebut. pada edisi ini kami mencoba menambah edisi halaman dari 24 halaman edisi sebelumnya menjadi 34 halaman pada edisi ini dan seterusnya yang dipertimbangkan sebagai jumlah halaman ideal sebuah penerbitan bulletin internal. Kami masih terus membenahi dalam penyusunan buletin ini, oleh karenanya saran bapak dan ibu sungguh kami butuhkan. Kami berusaha, dalam terbitan Buletin ini selanjutnya, Inshaa Allah dapat menghasilkan tulisan dan informasi yang lebih baik bagi bapak dan ibu. Wassalam Redaksi VISI DAN MISI LPMP GORONTALO VISI TERBENTUKNYA INSAN SERTA EKOSISTEM PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH YANG BERKARAKTER DENGAN BERLANDASKAN GOTONG ROYONG DI PROVINSI GORONTALO MISI • MEWUJUDKAN PELAKU PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH YANG KUAT • MENINGKATKAN AKSES PENJAMINAN MUTU YANG MELUAS, MERATA DAN BERKEADILAN • MENINGKATKAN STANDAR PENDIDIKAN MENUJU PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN DASAR DAN MENEGAH YANG BERMUTU • MENINGKATKAN TATA KELOLA SERTA PENINGKATAN EFEKTIFITAS BIROKRASI DAN PELIBATAN PUBLIK BULETIN LPMP GORONTALO “PONUWA” PENANGGUNG JAWAB Drs.Amin Nusi,M.Pd PEMIMPIN REDAKSI Eky A. Punu,SE,MM REDAKSI Mohamad Agus Maaruf,ST, Muchlis DoE,ST DOKUMENTASI Apriyanto Usman ADMINISTRASI Hamidah Gani ALAMAT REDAKSI JALAN ZAINAL UMAR SIDIKI, DESA TUNGGULO, KEC.TILONGKABILA, KABUPATEN BONE-BOLANGO, GORONTALO 96212 TLP (0435) 827730-33 WEBSITE www.lpmp-gorontalo.go.id EMAIL lpmpgorontalo@kemdikbud.go.id Dokumentasi Foto : LPMP Gorontalo, dan Sumber Internet Lainnya Redaktur menerima tulisan dari lingkungan LPMP Gorontalo dan stakeholder pendidikan di daerah berupa Berita dan Tulisan mengenai pendidikan, Redaksi mengajak rekan stakeholder pendidikan untuk memanfaatkan Bulletin Ponuwa ini sebagai media curah gagasan dan kreatifitas dalam dunia pendidikan. Bulletin Ponuwa (ISSN-2502-4019) diterbitkan tiga bulan sekali oleh LPMP Gorontalo, artikel yang dimuat merupakan tanggung jawab penulis, redaksi dapat meringkas dan mengedit tulisan sesuai keperluan. isi artikel dan tulisan diluar tanggung jawab redaksi “ Ponuwa adalah nama sebuah media publikasi yang diterbitkan di gorontalo di era pra kemerdekaan sehingga layak untuk disebut sebagai pelopor literasi di gorontalo ”
  3. 3. Bulletin Ponuwa Edisi III No 02 Juli 2017 Hal 4 DAFTAR ISI CATATAN REDAKSI ............................................3 DAFTAR ISI.............................................................4 KOLOM SISIPAN “IDE“ ........................................................................5 LAPORAN UTAMA Pemetaan Mutu Pendidikan 2017................. 6 LAPORAN KHUSUS Pelaksanaan Program Showcase Penjaminan Mutu Pendidikan....................... 12 NUPTK Tidak lagi di LPMP............................. 18 ARTIKEL Perspektif kinerja LPMP Gorontalo.............20 Teacher Creativity in Teaching English........ 24 Program Kahoot................................................26 LENSA LPMP Bimtek TP K13 tingkat SD...............................29 Bimtek Fasda Sekolah model .......................30 Bimtek implementasi K13 SMK....................... 31 Workshop SPMI sekolah model..................... 32
  4. 4. Bulletin Ponuwa Edisi III No 02 Juli 2017 Hal 5 Banyak cara untuk menghasilkan sesuatu, walau kadang orang ber- henti hanya setelah mengimpikannya. memang perlu ikhtiar untuk melintasi jalan panjang nan berliku itu, dalam hal ini pemikiran atau ide-ide, namun, kesulitan utamanya adalah, apakah ide-ide atau pe- mikiran itu dapat direalisasikan? Atau bahkan, setelah dibuat menjadi sebuah karya, malah dituduh meniru (plagiat). Menulis, menuangkan buah pikiran dalam bentuk puisi,cerita fiksi, novel, roman, syair lagu, jurnal ilmiah, apapun itu membutuhkan penggalian ide-ide. Bisa muncul dimana saja, kapan saja. Adakalanya dicari tak ketemu, malah timbul saat memandang suatu kejadian, membaca berita, mendengarkan sebuah lagu, atau bahkan saat se- dang tertimpa satu kemalangan. Ide-ide itu, sayangnya, bisa saja memiliki kemiripan dengan ide- ide orang lain sehingga dibagian-bagian tertentu kadang terbersit dalam pikiran kita saat sedang membaca suatu tulisan ataupun nov- el, bahwa sepertinya materi tulisan yang kita baca sudah pernah kita baca sebelumnya di tulisan atau buku karya orang lain . Ini dapat saja terjadi karena sebagai pencari ide, seorang penulis melihat, merasa- kan, juga dapat mengalami hal yang sama dengan penulis lainnya. Bayangkan saat anda duduk ditepi pantai memandangi bulan, dan angin semilir menyapok kelopak mata, menyentuh pori-pori kulit, bau laut, burung-burung yang terbang kembali ke sarangnya, per- ahu-perahu nelayan yang siap melaut mencari ikan, luar biasa ham- paran pemandangan ini,.oleh seseorang, ini hanya satu hal biasa dile- wati kapan saja, buat orang lain, ini jadi cerita. Inilah, mungkin, yang mau disampaikan oleh orang Gorontalo ber- nama Hans Bague Jassin“Paus”Sastra Indonesia, ketika diminta pen- dapat saat membela Haji Abdul Malik Karim Amrullah (1908-1981) atau yang lebih akrab disapa ‘Buya Hamka’ seorang sastrawan yang dikemudian hari lebih dikenal sebagai ulama besar di Indonesia dan pernah menjadi Menteri Agama dan ketua MUI di masa Orde Baru yang dituduh sebagai plagiator pada karya Novel nya yang berjudul “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”. Tenggelamnya Kapal v.d Wijck (1938) memiliki banyak sekali kemiri- pan dengan novel Magdalena yang merupakan saduran penyair Mustafa Luthfi Al-Manfaluthi (1876-1942) dari roman yang ditulis pengarang Prancis Alphonse Karr, Sous les Tilleuls. Hebatnya, kemiri- pan-kemiripan itu dapat dijelaskan oleh mereka yang menuduh Hamka sebagai plagiator, dengan menggunakan teori “Idea Script” dan “Idea Scecth” yang bahkan di masa itu masih merupakan hal yang baru. Di tahun 60-an, hiruk pikuk dunia kesusastraan Indonesia berpu- sat pada perdebatan mengenai keabsahan Novel ini sebagai karya Hamka. Argumen dari pihak yang menuduh dan bantahan dari pihak yang mendukung (termasuk Hans Bague Jassin) mewarnai kolom- kolom berita, baik di majalah sastra maupun di media cetak umum lainnya saat itu. “Idea Script” adalah Gagasan yang disarikan dari perbandingan kali- mat demi kalimat yang tersusun berturut dalam bentuk surat. “Idea Scecth”merupakan praktek daripada ilmu ukur, dimana yang divisu- alkan adalah jumlah tokoh dalam kedua buku dalam perbandingan serta hubungan satu sama lain yang menyebabkan mereka mun- cul dalam buku tersebut, serta mempergunakan garis-garis peng- hubung tertentu untuk melambangkan hubungan tersebut. Hans Bague Jassin, dalam salah satu penjelasannya yang saya in- gat (diuraikan oleh Guru mata pelajaran Bahasa Indonesia saya di SMA), memaparkan bahwa dalam menghasilkan sebuah karya tu- lis, seorang penulis tidak dapat terlepas dari kemiripan dikarenakan hamparan“lahan-lahan”ide yang diserap oleh panca indera dan dike- luarkan kembali menjadi buah tulis itu dapat saja sama. Dicontoh- kan dengan situasi disuatu tempat ketika seorang penulis puisi me- mandang bulan, sementara disuatu tempat lainnya ada juga seorang penulis puisi yang sedang memandang bulan, dan ketika mereka menuliskan puisi tentang bulan itu, apakah bisa disebut meniru apa- bila puisi mereka memiliki kemiripan? Saya, sudah terlanjur kagum oleh ketokohan H.B Jassin di dunia sas- tra Indonesia, juga sangat miris jika membayangkan seorang Hamka sebagai plagiator. Namun, membuka kembali halaman-halaman buku lama, membaca kembali komentar-komentar di kolom harian lama, membuat kita ka- dang tersadar, bahwa ide, sesederhana itu jika disebut, ternyata san- gat kompleks jika dibahas, dan pengaruhnya melintasi masa. Terlepas dari kebenaran dan kesalahan, yang patut disadari adalah kita tidak dapat terlepas dari keterbatasan dan kekerdilan kita seba- gai makhluk ciptaan Allah SWT, kesempurnaan adalah Milik-Nya. Paling tidak, kisah cinta Zainudin dan Hayati yang oleh Hamka dic- eritakan dan dirangkai dengan tragedi berdasarkan kisah nyata ten- tang kapal Van Der Wijck yang berlayar dari pelabuhan Tanjung Per- ak, Surabaya, menuju Tanjung Priok, Jakarta, dan tenggelam di Laut Jawa, timur laut Semarang, pada 21 Oktober 1936, filmnya sudah mengisi waktu luang saya ketika berada di kapal feri saat menuju pu- lau Raja Ampat akhir tahun 2015, meski belum mampu menggugah emosi saya (mungkin karena setting cerita romansa bukan kesukaan saya?) tapi sudah menarik kembali nostalgia masa SMA dan ingatan akan kutipan kata “Under the Sun, there is no new, only new combi- nations”Dibawah Matahari, tak ada hal yang baru, yang ada hanyalah kombinasi-kombinasi baru. “ IDE “ oleh : Eky A. Punu, SE, MM Kolom Sisipan
  5. 5. Bulletin Ponuwa Edisi III No 02 Juli 2017 Hal 6 PEMETAAN MUTU PENDIDIKAN TAHUN 2017
  6. 6. Bulletin Ponuwa Edisi III No 02 Juli 2017 Hal 7 U ndang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa Sistem Pendidikan Nasional adalah keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional, yaitu untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia. Selanjutnya dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan diamanatkan bahwa setiap Satuan Pendidikan pada jalur formal dan non formal wajib melakukan Penjaminan Mutu Pendidikan. Penjaminan Mutu Pendidikan tersebut bertujuan untuk memenuhi atau melampaui Standar Nasional Pendidikan. Peningkatan dan penjaminan mutu pendidikan ini merupakan tanggung jawab dari setiap komponen di satuan pendidikan. Sesuai peraturan perundangan yang berlaku setiap satuan pendidikan wajib melakukan penjaminan mutu sesuai kewenangannya. Peran lpmp sebagaimana di sebut dalam Permendikbud No 28 tahun 2010 adalah unit pelaksana teknis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang berkedudukan di provinsi dan bertugas untuk membantu Pemerintah Daerah alam bentuk supervisi, bimbingan, arahan, saran, dan bantuan teknis kepada satuan pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan nonformal, dalam berbagai upaya penjaminan mutu satuan pendidikan untuk mencapai standar nasional pendidikan. Peran strategis LPMP dalam Penjaminan Mutu Pendidikan yaitu memiliki tugas dan fungsi untuk mengawalsemuaprosesdalampelaksanaanpenjaminan mutu eksternal dan internal, melalui: 1. Melakukan pemetaan mutu pendidikan di wilayah provinsi (analisis tematik) dan mendiseminasikan hasilnya. 2. Menyusun rencana peningkatan mutu pendidikan di wilayah provinsi 3. Memberikan fasilitasi peningkatan mutu pendidikan 4. Membantu pemerintah daerah dalam mengembangkan kapasitas SDM untuk penjaminan mutu pendidikan 5. Penyiapan fasilitator provinsi (yang akan mempersiapkan fasilitator TPMPD dan fasilitator sekolah) 6. PenyiapanfasilitatorTPMPDdanfasilitatorSekolah (pengawas) 7. Mengembangkan sekolah model agar mampu memenuhi SNP. 8. Mengembangkan model pengimbasan dari sekolah
  7. 7. Bulletin Ponuwa Edisi III No 02 Juli 2017 Hal 8 model pada sekolah lain 9. Melakukan pengelolaan data & informasi mutu 10. Melaksanakan monitoring dan evaluasi seluruh implementasi penjaminan mutu pendidikan 11. Melakukan kerjasama dengan pemangku kepentingan untuk pelaksanaan penjaminan mutu pendidikan (Jejaring Mutu) Siklus dalam Sistem Penjaminan Mutu mensyaratkan output proses pemetaan yang berupa peta mutu pendidikandapatmenjadiinputbagiprosespeningkatan mutu berkelanjutan. proses peningkatan mutu yang dilakukan oleh pihak eksternal dapat berupa program supervisi dan fasilitasi kepada satuan pendidikan. Penyusunan program supervisi dan fasilitasi dalam berbagai bentuknya dapat dilakukan apabila peta mutu yang disusun dapat efektif digunakan sesuai kebutuhan. Untuk itu peta mutu pendidikan berbasis hasil Evaluasi Diri Sekolah (EDS) yang melibatkan seluruh komponen satuan pendidikan yaitu pendidik, tenaga kependidikan, komite, orang tua, peserta didik, perwakilan yayasan, pengawas, serta pemangku kepentingan diluar satuan pendidikan, hendaknya dapat dikembangkan menjadi peta dengan tema-tema yang lebih spesifik dan informatif sebagai profil satuan pendidikan. sehingga bisa didefinisikan pemetaan mutu adalah suatu kesatuan unsur yang terdiri atas organisasi, kebijakan, dan proses yang terkait untuk melakukan; pengumpulan, pengolahan dan analisis data dan informasi,tentangcapaianpemenuhanstandarnasional pendidikan pada satuan pendidikan dari mulai tingkat satuan pendidikan, kabupaten/kota, provinsi dan nasional Tujuan dari Pemetaan Mutu adalah untuk memberikan gambaran kepada berbagai pemangku kepentingan tentang capaian pemenuhan standar nasional pada satuanpendidikandarimulaitingkatsatuanpendidikan, kabupaten/kota, provinsi, dan nasional. Sumber data dari penyusunan peta mutu di tiap tingkatan wilayah adalah data profil di tingkat satuan pendidikan yang memuat informasi kuantitatif dan kualitatif kondisi satuan pendidikan dalam lingkup standar nasional pendidikan. contoh pembagian peran setiap komponen dalam satuan pendidikan dalam pemetaan mutu; Posisi Peran Kepala Satuan Pendidikan • memimpin ptoses pemetaan dibawah arahan pengawas satuan pendidikan komite dan dinas pendidikan • memastikan bahwa tanggung jawab pemetaan terbagi dan menjadi bagian dlam pelaksanaan seluruh pengelolaan satuan pendidikan • membuat seluruh anggota satuan pen- didikan bekerja sama dan fokus dalam peningkatan kualitas satuan pendidikan Tim penjamin mutu sekolah • Menysuun instrumen pemetaan berba- sis kepada SNP • mengkoordinir pelaksanaan pemetaan mutu pendidikan • melakukan analisis terhadap hasil pemetaan • menyusun rekomendasi pemenuhan mutu satuan pendidikan berdasarkan hasil pemetaan
  8. 8. Bulletin Ponuwa Edisi III No 02 Juli 2017 Hal 9 Pendidik dan Tenaga Kependidikan • melaporkan data dokumen setiap hari • melakukan evaluasi, refleksi dan berbagi pengalaman • Mengkaji praktik pemebelajaran yang telah dijalankan Pengawas/komite/ yayasan/dinas pendidikan • memastikan bahwa layanan pendidikan kepada peserta didik telah disediakan denga layak dan benar • memberi masukan terkait kebijakan pemerintah dan aturan berlaku Orang tua peserta didik • memberikan masukan terkait pengala- man mereka dalam menerima layanan pendidikan yang diberikan oleh satuan pendidikan dan bagaimana cara untuk memperbaikinya Tahapan kegiatan yang berkaitan dengan Program pemetaan mutu oleh LPMP yaitu; 1. Melaksanakan penyiapan fasilitator daerah 2. Menyelenggarakan pelatihan petugas pengumpulan data 3. Melaksanakan sosialisasi pemetaan mutu satuan pendidikan 4. Melakukan pengumpulan data peta mutu satuan pendidikan 5. Melakukan monitoring dan evaluasi pemetaan mutu satuan pendidikan 6. Melakukan verifikasi dan validasi data oleh pengawas 7. Melakukan perbaikan data oleh satuan pendidikan 8. Melakukan verifikasi dan validasi data 9. Melakukan perbaikan data bagi satuan pendidikan Melaksanakan penyiapan fasilitator daerah Pelatihan Penysunan Peta Mutu dilaksanakan oleh ditjen dikdasmen Kemdikbud untuk mempersiapkan SDM di LPMP dalam melakukan penyusunan peta mutu pendidikan di tingkat provinsi dan kabupaten/ kota dan menyusun rekomendasi rencana pemenuhan mutu bagi daerah sesuai dengan model yang dirancang, untuk menjaga adanya standarisasi dalam penyusunan peta mutu dan rencana mutu pendidikan di daerah. Keberhasilan pelatihan dapat diukur melalui indikator: 1. Peserta dapat menyusun peta mutu pendidikan dan rencana peningkatan mutu pendidikan 2. Peserta memahami mekanisme pelaksanaan penyusunan peta mutu dan penyusunan rencana peningkatan mutu pendidikan (persiapan, pelatihan, pelaksanaan serta monitoring dan evaluasi) 3. Peserta dapat melakukan pengolahan dan analisis data Pelatihan petugas pengumpulan data Pelatihan yang dilaksanakan di LPMP selama 3 hari
  9. 9. Bulletin Ponuwa Edisi III No 02 Juli 2017 Hal 10 untuk menyiapkan petugas pengumpulan data agar mampu; 1. Menjelaskan instrument pengumpulan data mutu pendidikan kepada satuan pendidikan 2. Berinteraksi dengan responden pengumpulan data mutu pendidikan 3. Melakukan verifikasi dan validasi mutu pendidikan 4. Memandu proses pengisian data ke aplikasi pengumpulan data (Dapodik) Tolok ukur keberhasilan pelatihan adalah; 1. mampu memahami dan menjelaskan isi instrument pemetaan 2. mampu memahami mekanisme pelaksanaan pemetaan 3. mampu berperan sebagai koordinator pengumpulan data pada sekolah-sekolah yang menjadi tanggung jawabnya 4. Mampu memverifikasi dan memvalidasi data mutu sekolah kegiatan ini dilaksanakan di LPMP Gorontalo dengan trainer dari fasilitator daerah dan peserta adalah petugas pengumpulan data yang merupakan Pengawas Pembina sekolah tersebut, untuk melaksanakan pengumpulan data di 1386 sekolah se gorontalo dibutuhkan sebanyak 138 orang pengawas/ pengumpul data. Pengumpulan Data Mutu Pendidikan Proses lengkap pengumpulan data pendidikan dapat dilihat pada diagram …waktu pengumpulan selama 4 bulan, dilaksanakan disatuan pendidikan dengan petugas pengumpulan data mutu merupakan pengawas pembina sekolah tersebut, dengan responden masing-masing; 1. Kepala sekolah 2. Siswa minimum 5 orang per tingkat kelas. Untuk SD hanya siswa kelas 4-6 (Total responden siswa minimum 15 orang/sekolah) 3. Guru SD minimum 1 guru per tingkat kelas dan min1guruAgamadanPenjaskes(Totalresponden guru SD mininum 8 orang) 4. Guru SMP/SMA/SMK minimum 1 guru per mata pelajaran 5. Komite Sekolah minimal 1 orang perwakilan pimpinan komite dan 2 orang perwakilan orangtua siswa 6. Pengawas yang merupakan pengawas pembina/ manajerial. kegiatan ini dapat dibagi dalam tiga tahap yaitu; Persiapan; • Menyusun rencana pelaksanaan pengisian instrumen • Penetapan waktu, jadwal dan tempat • Responden • Penyiapan dokumen dan materi pendukung (panduan, aplikasi, dll) • Penggandaan instrumen (bila diperlukan) Pelaksanaan; 1. Pembagian dan penjelasan instrumen kepada responden 2. Bimbingan teknis pengisian instrumen oleh pengawas sekolah 3. Penggandaan instrumen (bila diperlukan) 4. Pengisian instrumen oleh responden. Terdapat dua teknik untuk mengisi instrumen yaitu Konvensional • Pembagian instrumen ke seluruh responden untuk diisi • Petugas dengan dibantu operator sekolah mengentri ke aplikasi pengumpulan data Elektronik • Masing-masing responden mengisi aplikasi secara sesuai jadwal • Petugas mendampingi untuk memberikan bantuanteknisbagirespondenyangmengalami kendala. Pasca Pelaksanaan; 1. Pemeriksaan kelengkapan instrumen oleh TPMPS dengan cara memastikan seluruh pertanyaan telah dijawab oleh responden 2. Penyampaian informasi perkembangan pengumpulan data di sekolah oleh TPMPS 3. Verifikasi dan validasi oleh pengawas. 4. Pengiriman data. Seluruh isian instrumen yang sudah dimasukkan ke aplikasi pengumpulan data dikirim ke server Sistem Informasi Mutu Pendidikan Dasar dan Menengah secara online Persiapan Pengolahan Data, Analisis dan Pengumpulan Data Pendidikan Kegiatan dimaksud untuk melakukan persiapan proses pengolahan data mutu pendidikan yang akan dilakukan oleh LPMP, dengan melibatkan pemangku kepentingan dalam mengidentifikasi berbagai permasalahan pendidikan yang perlu diperbaiki di daerah. Dalam kegiatan ini diharapkan dapat menghasilkan analisis yang spesifik PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA
  10. 10. Bulletin Ponuwa Edisi III No 02 Juli 2017 Hal 11 PENYUSUNAN PETA MUTU Kegiatan yang dilakukakn oleh LPMP dalam menganalisis dan menyusun peta mutu pendidikan di provinsi dan kabupaten/kota serta menyusun rekomendasi rencana pemenuhan mutu pendidikan, dalam kegiatan ini diharapkan peta mutu serta rencana pemenuhan mutu pendidikan sesuai dengan kebutuhan wilaah dan sebanyak-banyaknya melibatkan pemangku kepentingan dalam proses penyusunannya. Indikator keberhasilan dari kegiatan ini yaitu; 1. Pengolahan data; Tersedianya olahan data sesuai dengan struktur analisis 2. Analisis data; Tersedianya analisis dan informasi mutu 3. Penyusunan Peta Mutu; Tersedianya dokumen peta mutu Pengolahan data akan dilakukan di internal LPMP dengan workshop, sedangkan Analisis Data dan Penyusunan Peta Mutu akan dilakukan workshop antara LPMP dan Perwakilan pemerintah Daerah selama 3 hari dengan mekanisme Brainstorming, Focus Group Discussion dan kerja kelompok. LPMP melibatkan pemangku kepentingan seperti pemerintah daerah, BPS,LPTK atau pihak2 lainnya yang dibutuhkan untuk memverifikasi hasil penyusunan peta mutu pendidikan, sehingga diharapkan Output Peta Mutu Pendidikan ini akan menjadi produk bersama LPMP dan Daerah dalam menggambarkan situasi yang sebenarnya sebagai basis dalam pemenuhan mutu pendidikan di wilayah masing-masing.
  11. 11. Bulletin Ponuwa Edisi III No 02 Juli 2017 Hal 12 PELAKSANAAN PROGRAM SHOWCASE PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN
  12. 12. Bulletin Ponuwa Edisi III No 02 Juli 2017 Hal 13 P eraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 28 tahun 2016 tentang Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan (SPMP), satuan pendidikan wajib menjamin peningkatkan mutu berkelanjutan dan membangun budaya mutu pendidikan yang dilaksanakan secara terpadu, dan sistematis dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan di sekolah yang meliputi Kepala Sekolah, Guru, Komite Sekolah, Pengawas dan Dinas Pendidikan serta LPMP. Show case Penjaminan Mutu Pendidikan (SC-PMP) Salah satu Program LPMP Gorontalo yang bertujuan untuk menyiapkan, mengarahkan dan membimbing serta memotret satuan pendidikan mengenai keterlaksanaan SPMP dan terbangunnya budaya mutu di satuan Pendidikan melalui Tenagga fungsional tertentu (WI/PTP) bersama pengawas Sekolah Binaan. Kegiatan ini difokuskan pada : 1. Gerakan Literasi Sekolah, 2. Gerakan Penumbuhan Budi Pekerti, 3. Gerakan Penguatan Kepramukaan sebagi Ekskul Wajib dan 4. Penguatan pengelolaan pembelajaran yang meliputi: (i) Perencanaan pembelajaran, (ii) pelaksanaan pembelajaran, dan (iii) penilaian pembelajaran. Dalam pelaksanaan Progran SC-PMP para widyaiswara LPMP didampingi pengawas binaan masing- masing satuan pendidikan. Show case direncanakan akan dilaksanakan tiga tahap, tahap pertama, bersifat mensurvey atas Administrasi Pembelajaran, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, Proses pelaksanaan Pembelajaran, Program Penumbuhan Budi Pekerti, Gerak Literasi Sekolah dan Program Kepramukaan. Dari hasil survey akan dilakukan diskusi dengan Pengawas, Kepala Sekolah dan Guru-Guru untuk merencanakan dan menyepakati program mana yang sangat dbutuhkan dalam Program Show Case dan Program mana yang dapat dikembangkan secara mandiri oleh sekolah dan terbimbing,mengingat waktu show case hanya sangat terbatas, tidak cukup untuk menyelesaikan ke enam Program yang harus dimiliki oleh setiap sekolah atau satuan pendidikan, baik SD dan SMP yang dikenai dengan program Show Case. Terdapat selang waktu antara tahap 1 dan tahap 2 dan tahap 3, pada selang waktu tersebut sekolah menggunakannnya untuk menyelesaikan program yang dapat diselesaikan oleh sekolah secara mandiri. Berdasarkan poin diatas maka hasil pelaksanaan tahap 1 digunakan sebagai rencana show case pada tahap 2, dan 3 yang secara bersama disepakati melalui diskusi Fasilitator yang dibantu oleh Pengawas, Kepala sekolah dan para guru.. PELAKSANAAN KEGIATAN TAHAP 1 SDN 1 SUWAWA, 22 Pebruari 2017 Tempat Kegiatan Sekolah SDN 1 Suwawa , dengan dihadiri oleh Pengawas, Kepala Sekolah dan Guru. Kegiatan Pendampingan SC PMP mengisi instrumen tentang Perangkat Pembelajaran/ Pelaksanaan Pembelajaran, Gerak literasi sekolah, Gerakan Penumbuhan Budi Pekerti, Kepramukaandan membahastentangtemuanyangberkenaan dengan instrumen Perangkat Pembelajaran/ Pelaksanaan Pembelajaran, Gerak literasi sekolah, Gerakan Penumbuhan Budi Pekerti, Kepramukaan. Informasi yang diperoleh dari data yang terkumpul melalui instrument survey diperoleh dan digambarkan sebagaimana grafik dibawah ini, Di sekolah ini dilakukan survey program administrasi pembelajaran dan observasi pelaksanaan pembelajaran secara random dapat dikategorikan sudah baik dengan ketercapaian di atas 80 %. Untuk PPBP,GLS dan Pramuka nampak sudah mulai kelihatan,artinya kegiatannya sudah nampak terlaksana di sekolah akan tetapi sekolah belum menyusun/membuat Program PPBP,GLS dan Pramuka. Atas hasil diskusi pada kegiatan tahap 1, disimpulkan adanya kecenderungan kondisi perangkat sekolah yang masih memerlukan bimbingan teknis penjaminan mutu pendidikan melalui model Show Case berdasarkan instrumen pada tahap 1. Secara rinci dapat dideskripsikan perangkat sekolah yang masih diperlukan bimbingan teknis penyusunan penulisan adalah: 1. Administrasi Pembelajaran, Sebagian Guru sudah memilki Program Administrasi Pembelajaran, Diperlukan penjelasan secara umum oleh fasilitator, secara mandiri dapat dikembangkan oleh sekolah dengan berbantuan guru Senior/Guru Inti K13 di sekolah. 2. RPP K13, • Sebagian guru memiliki RPP akan tetapi belum diadaptasikan dengan RPP K13 yang terkini. • K13, masih diperlukan Perubahan Mind set untuk menerima K13 untuk dilaksanakan. • Secara umum guru sudah pernah membaca model RPP K13, akan tetapi Belum memahami benar Analisis SKL-KI-KD untuk bekal penyusunan RPP. • Guru masih memerlukan penjelasan tentang Penilaian Pada K13. Tindakan fasilitasi; • Sebelum Ke RPP, Fasilitator perlu menyajikan Esensi
  13. 13. Bulletin Ponuwa Edisi III No 02 Juli 2017 Hal 14 Perubahan Kurikulum untuk memberi motivasi kepada Gru untuk menerima dan melaksanakan K-13 atau pembelajaran abad 21. • Sebelum Ke RPP, Guru dibekali Analisis SKL-KI-KD untuk bekal penyusunan RPP. • Guru secara kolaboratif menyusun RPP-K-13. 3. Pelaksanaan Proses Pembelajaran; Masih diperlukan pemahaman model pembelajaran K13 dan abad 21 Fasilitasi; Membekali Model-model pembelajaran yang digunakan pada K-13/ dan pembelajaran abad 21. 4. Program Penumbuhan Budi Pekerti; Pro g r am Penumbuhan Budi Pekerti sudah mulai nampak dalam bentuk praktiknya, akan tetapi belum memiliki Panduan Fasilitator; membekali cara menyusun buku pedoman sekolah dalam Program Penumbuhan Budi Pekerti • Sekolah menunjuk salah seorang guru untuk bertanggung jawab mengembangkan program ini. 5. Gerakan Literasi Sekolah; Program Gerak Literasi Sekolah sudah mulai nampak dalam bentuk praktiknya, akan tetapi belum memiliki Panduan dalam bentuk Program Gerak Literasi Sekolah yag disusun oleh sekolah. Fasilitator; Fasilitator membekali cara menyusun buku pedoman sekolah dalam Program Gerak Literasi Sekolah. • Sekolah menunjuk salah seorang guru untuk bertanggung jawab mengembangkan program ini. 6. Pramuka; Program Kepramukaan Sekolah sudah mulai nampak dalam bentuk praktiknya, akan tetapi belum memiliki Panduan dalam bentuk Program Gerak Kepramukaan Sekolah yang disusun oleh sekolah. Fasilitasi; Fasilitator membekali cara menyusun buku pedoman sekolah dalam Program Gerakan Pramuka. • Sekolah menunjuk salah seorang guru untuk bertanggung jawab mengembangkan program ini. Pada diskusi berkembang pertanyaan banyak terkait dengan Indikator pencapaian kompetensi, penilaian yang berkaitan dengan KKM, Dan hal lainnya berkait dengan K-13. Kegiatan Show case tahap 1 dengan materi bahasan tentang temuan yang berkenaan dengan instrumen Perangkat Pembelajaran/ Pelaksanaan Pembelajaran, Gerak literasi sekolah, Gerakan Penumbuhan Budi Pekerti, Kepramukaan secara bersama widyaiswara dan pengawas pembina yang berlangsung dengan baik, dinamis dan antusias, pada sesi terkahir. SDN 5 DUNGALIYO, 23 PEBRUARI 2017 Kegiatan di Sekolah SDN 5 Dungaliyo, dihadiri oleh Pengawas , Kepala Sekolah dan Guru. Kegiatan Pendampingan SC PMP mengisi instrumen tentang Perangkat Pembelajaran/ Pelaksanaan Pembelajaran, Gerak literasi sekolah, Gerakan Penumbuhan Budi Pekerti, Kepramukaan dan membahas tentang temuan yang berkenaan dengan instrumen Perangkat Pembelajaran/ Pelaksanaan Pembelajaran, Gerak literasi sekolah, Gerakan Penumbuhan Budi Pekerti, Kepramukaan. Informasi yang diperoleh dari data yang terkumpul melalui instrument survey diperoleh dan digambarkan sebagaimana grafik dibawah ini, Grafik Persentase Capaian Di sekolah ini dilakukan survey program administrasi
  14. 14. Bulletin Ponuwa Edisi III No 02 Juli 2017 Hal 15 pembelajaran dan observasi pelaksanaan pembelajaran, GLS, Pramuka dapat dikategorikan sudah baik dengan ketercapaian di atas 80 %. Untuk PPBP nampak sudah mulai kelihatan,artinya kegiatannya sudah nampak terlaksana di sekolah akan tetapi sekolah belum menyusun/membuat Program PPBP, GLS dan Pramuka. Atas hasil diskusi pada kegiatan tahap 1, disimpulkan adanya kecenderungan kondisi perangkat sekolah yang masih memerlukan bimbingan teknis penjaminan mutu pendidikan melalui model Show Case berdasarkan instrumen pada tahap 1. Secara rinci dapat dideskripsikan perangkat sekolah yang masih diperlukan bimbingan teknis penyusunan penulisan adalah: 1. Administrasi Pembelajaran, Sebagian Guru sudah memilki Program Administrasi Pembelajaran, Diperlukan penjelasan secara umum oleh fasilitator, . 2. RPP K13, • Sebagian guru memiliki RPP akan tetapi belum diadaptasikan dengan RPP K13 yang terkini. • K13, masih diperlukan Perubahan Mind set untuk menerima K13 untuk dilaksanakan. • Secara umum guru sudah pernah membaca model RPP K13, akan tetapi Belum memahami benar Analisis SKL-KI-KD untuk bekal penyusunan RPP. • Guru masih memerlukan penjelasan tentang Penilaian Pada K13. Tindakan fasilitasi; • Sebelum Ke RPP, Fasilitator perlu menyajikan Esensi Perubahan Kurikulum untuk memberi motivasi kepada Guru untuk menerima dan melaksanakan K-13 atau pembelajaran abad 21. • Sebelum Ke RPP, Guru dibekali Analisis SKL-KI-KD untuk bekal penyusunan RPP. • Guru secara kolaboratif menyusun RPP-K-13. 3. Gerakan Literasi Sekolah • Program Gerakan Literasi Sekolah sudah mu- lai nampak dalam bentuk praktiknya, akan tetapi belum memiliki Panduan dalam bentuk Program Gerak Literasi Sekolah yag disusun oleh sekolah. Tindakan fasilitasi; • Fasilitator membekali cara menyusun buku pedoman sekolah dalam Program Gerak Literasi Sekolah. • Sekolah menunjuk salah seorang guru untuk ber- tanggung jawab mengembangkan program ini 4. Pramuka • Program Kepramukaan Sekolah sudah mulai nam- pak dalam bentuk praktiknya, akan tetapi belum memiliki Panduan dalam bentuk Program Gerak Kepramukaan Sekolah yang disusun oleh sekolah Tindakan fasilitasi • Fasilitator membekali cara menyusun buku pedoman sekolah dalam Program Gerakan Pra- muka. • Sekolah menunjuk salah seorang guru untuk ber- tanggung jawab mengembangkan program ini. 1. Dalam diskusi, Pertanyaan Kepala sekolah, banyak terkait dengan Indikator pencapaian kompetensi, penilaian yang berkaitan dengan KKM. Dan hal lainnya. 2. Kegiatan Show case dengan materi bahasan tentang temuan yang berkenaan dengan instrumen Perangkat Pembelajaran/ Pelaksanaan Pembelajaran, Gerak literasi sekolah, Gerakan Penumbuhan Budi Pekerti, Kepramukaan secara bersama widyaiswara dan pengawas pembina yang berlangsung dengan baik, dinamis dan antusias, pada sesi terkahir. SDN 6 MONANO, 7 MARET 2017 Catatan: Sangat diperlukan bimbingan teknis penulisan untuk: 1. Administrasi Pembelajaran 2. RPP 3. Pelaksanaan Proses Pembelajaran 4. Penyusunan Program Penumbuhan Budi Pekerti Penyusunan Program Literasi, kegiatan literasi di sekolah ini masih pada tahap pembiasaan, dari 13 Item instrumen hanya ada 4 item yang mendukung gerak literasi adalah:1) Kebun sekolah, kantin, dan UKS menjadi lingkungan yang bersih, sehat dan kaya teks. Terdapat poster-poster tentang pembiasaan hidup bersih, sehat, dan indah; 2) Ada kegiatan akademik yang mendukung budaya literasi sekolah, misalnya: wisata ke perpustakaan atau kunjungan perpustakaan keliling ke sekolah; 3) Ada kegiatan perayaan hari-hari tertentu yang bertemakan literasi; 4) Ada Tim Literasi Sekolah yang dibentuk oleh kepala sekolah dan terdiri atas guru bahasa, guru mata pelajaran lain, dan tenaga kependidikan. Untuk pengembangan literasi sekolah dari tahap pembiasaan,tahap pengembangan dan tahap pembelajaran dapat dikembang melalui penyusunan Panduan Program Gerak Literasi Sekolah dengan pendampingan lembaga penjaminan mutu pendidikan yang direncanakan pada kegiatan show case tahap 2. 5. Penyusunan Program Pramuka 1. Tempat Kegiatan Sekolah SDN 6 Monano , dengan dihadiri oleh Pengawas , Kepala Sekolah dan Guru. 2. Kegiatan Pendampingan SC PMP mengisi instrumen tentang Perangkat Pembelajaran/ Pelaksanaan Pembelajaran,Gerakliterasisekolah,GerakanPenumbuhan Budi Pekerti, Kepramukaan dan membahas tentang temuan yang berkenaan dengan instrumen Perangkat Pembelajaran/ Pelaksanaan Pembelajaran, Gerak literasi sekolah,GerakanPenumbuhanBudiPekerti,Kepramukaan.
  15. 15. Bulletin Ponuwa Edisi III No 02 Juli 2017 Hal 16 3. Kegiatan workshop/FGD dengan materi bahasan tentang temuan yang berkenaan dengan instrumen Perangkat Pembelajaran/ Pelaksanaan Pembelajaran, Gerak literasi sekolah, Gerakan Penumbuhan Budi Pekerti, Kepramukaan secara bersama widyaiswara dan pengawas pembina yang berlangsung dengan baik, dinamis dan antusias, pada sesi terkahir , masing masing peserta sesuai daftar hadir (lampiran) 4. Pertanyaan Kepala sekolah, banyak terkait dengan Indikator pencapaian kompetensi, penilaian yang berkaitan dengan KKM. Dan hal lainnya. SDN 5 TELAGA JAYA, 8 MARET 2017 Catatan: Masih diperlukan bimbingan teknis penulisan untuk: 1. Administrasi Pembelajaran 2. RPP 3. Pelaksanaan Proses Pembelajaran 4. Penyusunan Program Penumbuhan Budi Pekerti 5. Penyusunan Program Literasi, kegiatan literasi di sekolah ini masih pada tahap pembiasaan, dari 13 Item instrumen hanya ada 4 item yang mendukung gerak literasi adalah:1) Kebun sekolah, kantin, dan UKS menjadi lingkungan yang bersih, sehat dan kaya teks. Terdapat poster- poster tentang pembiasaan hidup bersih, sehat, dan indah; 2) Ada kegiatan akademik yang mendukung budaya literasi sekolah, misalnya: wisata ke perpustakaan atau kunjungan perpustakaan keliling ke sekolah; 3) Ada kegiatan perayaan hari-hari tertentu yang bertemakan literasi; 4) Ada Tim Literasi Sekolah yang dibentuk oleh kepala sekolah dan terdiri atas guru bahasa, guru mata pelajaran lain, dan tenaga kependidikan. Untuk pengembangan literasi sekolah dari tahap pembiasaan,tahap pengembangan dan tahap pembelajaran dapat dikembang melalui penyusunan Panduan Program Gerak Literasi Sekolah dengan pendampingan lembaga penjaminan mutu pendidikan yang direncanakan pada kegiatan show case tahap 2. 5. Penyusunan Program Pramuka Kehadiran Fasilitator di SDN 5 Telaga Jaya 23 Pebruari 2017 1. Tempat Kegiatan Sekolah SDN 5 Telaga Jaya , dengan dihadiri oleh Pengawas , Kepala Sekolah dan Guru. 2. Kegiatan Pendampingan SC PMP mengisi instrumen tentang Perangkat Pembelajaran/ Pelaksanaan Pembelajaran, Gerak literasi sekolah, Gerakan Penumbuhan Budi Pekerti, Kepramukaan dan membahas tentang temuan yang berkenaan dengan instrumen Perangkat Pembelajaran/ Pelaksanaan Pembelajaran, Gerak literasi sekolah, Gerakan Penumbuhan Budi Pekerti, Kepramukaan. 3. Kegiatan workshop/FGD dengan materi bahasan tentang temuan yang berkenaan dengan instrumen Perangkat Pembelajaran/ Pelaksanaan Pembelajaran, Gerak literasi sekolah, Gerakan Penumbuhan Budi Pekerti, Kepramukaan secara bersama widyaiswara dan pengawas pembina yang berlangsung dengan baik, dinamis dan antusias, pada sesi terkahir , masing masing peserta sesuai daftar hadir (lampiran) 4. Pertanyaan Kepala sekolah, banyak terkait dengan Indikator pencapaian kompetensi, penilaian yang berkaitan dengan KKM. Dan hal lainnya. 5. SMPN 2 BOTUMOITO, 9 MARET 2017 Catatan: Sangat diperlukan bimbingan teknis penulisan untuk: 1. Administrasi Pembelajaran 2. RPP 3. Pelaksanaan Proses Pembelajaran 4. Penyusunan Program Penumbuhan Budi Pekerti 6. Penyusunan Program Literasi, kegiatan literasi di sekolah ini masih pada tahap pembiasaan, dari 13 Item instrumen hanya ada 4 item yang mendukung gerak literasi adalah:1) Kebun sekolah, kantin, dan UKS menjadi lingkungan yang bersih, sehat dan kaya teks. Terdapat poster- poster tentang pembiasaan hidup bersih, sehat, dan indah; 2) Ada kegiatan akademik yang mendukung budaya literasi sekolah, misalnya: wisata ke perpustakaan atau kunjungan perpustakaan keliling ke sekolah; 3) Ada kegiatan perayaan hari-hari tertentu yang bertemakan literasi; 4) Ada Tim Literasi Sekolah yang dibentuk oleh kepala sekolah dan terdiri atas guru bahasa, guru mata pelajaran lain, dan tenaga kependidikan. Untuk pengembangan literasi sekolah dari tahap pembiasaan,tahap pengembangan dan tahap pembelajaran dapat dikembang melalui penyusunan Panduan Program Gerak Literasi Sekolah dengan pendampingan lembaga penjaminan mutu pendidikan yang direncanakan pada kegiatan show case tahap 2. 5. Penyusunan Program Pramuka Kehadiran Fasilitator di SMPN 2 BOTUMOITO 9 Maret
  16. 16. Bulletin Ponuwa Edisi III No 02 Juli 2017 Hal 17 2017 1. Tempat Kegiatan Sekolah SMPN 1 Botumoito , dengan dihadiri oleh Pengawas , Kepala Sekolah dan Guru. 2. Kegiatan Pendampingan SC PMP mengisi instrumen tentang Perangkat Pembelajaran/ Pelaksanaan Pembelajaran, Gerak literasi sekolah, Gerakan Penumbuhan Budi Pekerti, Kepramukaan dan membahas tentang temuan yang berkenaan dengan instrumen Perangkat Pembelajaran/ Pelaksanaan Pembelajaran, Gerak literasi sekolah, Gerakan Penumbuhan Budi Pekerti, Kepramukaan. 3. Kegiatan workshop/FGD dengan materi bahasan tentang temuan yang berkenaan dengan instrumen Perangkat Pembelajaran/ Pelaksanaan Pembelajaran, Gerak literasi sekolah, Gerakan Penumbuhan Budi Pekerti, Kepramukaan secara bersama widyaiswara dan pengawas pembina yang berlangsung dengan baik, dinamis dan antusias, pada sesi terkahir , masing masing peserta sesuai daftar hadir (lampiran) 4. Pertanyaan Kepala sekolah, banyak terkait dengan Indikator pencapaian kompetensi, penilaian yang berkaitan dengan KKM. Dan hal lainnya. SDN 8 PAGUAT, 10 MARET 2017 Catatan: Sangat diperlukan bimbingan teknis penulisan untuk: 1. Administrasi Pembelajaran 2. RPP 3. Pelaksanaan Proses Pembelajaran 4. Penyusunan Program Penumbuhan Budi Pekerti 7. Penyusunan Program Literasi, kegiatan literasi di sekolah ini masih pada tahap pembiasaan, dari 13 Item instrumen hanya ada 4 item yang mendukung gerak literasi adalah:1) Kebun sekolah, kantin, dan UKS menjadi lingkungan yang bersih, sehat dan kaya teks. Terdapat poster-poster tentang pembiasaan hidup bersih, sehat, dan indah; 2) Ada kegiatan akademik yang mendukung budaya literasi sekolah, misalnya: wisata ke perpustakaan atau kunjungan perpustakaan keliling ke sekolah; 3) Ada kegiatan perayaan hari-hari tertentu yang bertemakan literasi; 4) Ada Tim Literasi Sekolah yang dibentuk oleh kepala sekolah dan terdiri atas guru bahasa, guru mata pelajaran lain, dan tenaga kependidikan. Untuk pengembangan literasi sekolah dari tahap pembiasaan,tahap pengembangan dan tahap pembelajaran dapat dikembang melalui penyusunan Panduan Program Gerak Literasi Sekolah dengan pendampingan lembaga penjaminan mutu pendidikan yang direncanakan pada kegiatan show case tahap 2. 5. Penyusunan Program Pramuka Kehadiran Fasilitator di SDN 8 Paguat 10 Maret 2017 1. Tempat Kegiatan Sekolah SDN 8 Paguat , dengan dihadiri oleh Pengawas , Kepala Sekolah dan Guru. 2. Kegiatan Pendampingan SC PMP mengisi instrumen tentang Perangkat Pembelajaran/ Pelaksanaan Pembelajaran, Gerak literasi sekolah, Gerakan Penumbuhan Budi Pekerti, Kepramukaan dan membahas tentang temuan yang berkenaan dengan instrumen Perangkat Pembelajaran/ Pelaksanaan Pembelajaran, Gerak literasi sekolah, Gerakan Penumbuhan Budi Pekerti, Kepramukaan. 3. Kegiatan workshop/FGD dengan materi bahasan tentang temuan yang berkenaan dengan instrumen Perangkat Pembelajaran/ Pelaksanaan Pembelajaran, Gerak literasi sekolah, Gerakan Penumbuhan Budi Pekerti, Kepramukaan secara bersama widyaiswara dan pengawas pembina yang berlangsung dengan baik, dinamis dan antusias, pada sesi terkahir , masing masing peserta sesuai daftar hadir (lampiran) 4. Pertanyaan Kepala sekolah, banyak terkait dengan Indikator pencapaian kompetensi, penilaian yang berkaitan dengan KKM. Dan hal lainnya. SDN 32 KOTA SELATAN, 13 MARET 2017 Catatan: Sangat diperlukan bimbingan teknis penulisan untuk: 1. Administrasi Pembelajaran 2. RPP 3. Pelaksanaan Proses Pembelajaran 4. Penyusunan Program Penumbuhan Budi Pekerti 8. Penyusunan Program Literasi, kegiatan literasi di sekolah ini masih pada tahap pembiasaan, dari 13 Item instrumen hanya ada 4 item yang mendukung gerak literasi adalah:1) Kebun sekolah, kantin, dan UKS menjadi lingkungan yang bersih, sehat dan kaya teks. Terdapat poster-poster tentang pembiasaan hidup bersih, sehat, dan indah; 2) Ada kegiatan akademik yang mendukung budaya literasi sekolah, misalnya: wisata ke perpustakaan atau kunjungan perpustakaan keliling ke sekolah; 3) Ada kegiatan perayaan hari-hari tertentu yang bertemakan literasi; 4) Ada Tim Literasi Sekolah yang dibentuk oleh kepala sekolah dan terdiri atas guru bahasa, guru mata pelajaran lain, dan tenaga kependidikan. Untuk pengembangan literasi sekolah dari tahap pembiasaan,tahap pengembangan dan tahap pembelajaran dapat dikembang melalui penyusunan Panduan Program Gerak Literasi Sekolah dengan pendampingan lembaga penjaminan mutu pendidikan yang direncanakan pada kegiatan show case tahap 2. 5. Penyusunan Program Pramuka Kehadiran Fasilitator di SDN 32 Kota Selatan 13 Maret
  17. 17. Bulletin Ponuwa Edisi III No 02 Juli 2017 Hal 18 Sampai dengan pertengahan tahun 2017 masih banyak guru yang berkunjung ke LPMP Gorontalo untuk mengurus NUPTK (Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan) dengan berbagai permasalahannya. Ada guru ASN dari ujung barat Propinsi Gorontalo menanyakan status NUPTK apakah masih aktif, sebab guru tersebut pindahan dari propinsi lain. Lain halnya dengan dua orang guru honorer sekolah terpencil di Paguyaman Pantai, mereka bingung sebab sudah lama mengabdi tetapi belum mendapatkan NUPTK. Guru dari Kwandang lain lagi masalahnya, sambil memperlihatkan contoh surat keterangan NUPTK yang telah dilegalisir, guru tersebut ingin dibuatkan kartu semacam itu dari LPMP. Belum lagi masalah pembaruan data individu guru. Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK) merupakan Nomor Induk bagi seorang Guru atau Tenaga Kependidikan (GTK). NUPTK diberikan kepada seluruh GTK baik PNS maupun Non-PNS yang memenuhi persyaratan dan ketentuan sesuai dengan surat Direktur Jenderal GTK sebagai Nomor Identitas yang resmi untuk keperluan identifikasi dalam berbagai pelaksanaan program dan kegiatan yang berkaitan dengan pendidikan dalam rangka peningkatan mutu guru dan tenaga kependidikan. NUPTK terdiri dari 16 angka yang bersifat unik dan tetap. NUPTK yang dimiliki seorang GTK tidak akan berubah meskipun yang bersangkutan telah berpindah tempat mengajar, perubahan riwayat status kepegawaian dan atau terjadi perubahan data lainnya. Jika kita menelisik sejarah NUPTK, perkembangan data Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) merupakan hal yang sangat sangat mendesak bila dikaitkan dengan kepentingan pelaksanaan UU No. 14 Tahun 2005 untuk mendapatkandataPTKyangvalid.Namun,pengalaman sejarah pendataan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) menunjukkan betapa sulit dan lambannya penjaringan data PTK. Kesulitan dalam menjaring data tidak saja karena PTK kurang memahami pentingnya data, akan tetapi sistem otonomi daerah maupun otonomi pendidikan belum berjalan dengan baik dan masih memerlukan waktu untuk menjadikan data PTK menjadi sesuatu yang penting. Dalam perjalanannya, pendataan PTK sebelum tahun 2002 telah dirintis melalui SIM Guru yang hasilnya belum pernah tuntas dan data yang muncul sangat bervariasi antara satu unit dengan unit lainnya, sehingga menimbulkan keraguan bagi para pengguna data PTK baik untuk perencanaan maupun untuk kepentingan studi. Mulai tahun 2004 , SIM Guru berganti perangkat lunak menjadi SIM PTK. Pada tahun 2006, Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan melalui APBN-P merintis SIM-NUPTK (Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan) yang merupakan pengembangan dari SIM-PTK sebagai upaya peningkatan akurasi, kecermatan, dan sistimatika data PTK untuk mengantisipasi adanya duplikasi data. LPMP memegang peranan penting selaku UPT kementerian di daerah, melakukan sosialisasi NUPTK untuk kemudian memverifikasi dan validasi data PTK dalam bentuk SIM NUPTK, kemudian mengajukan data ke Pusat atau Setditjen PMPTK dalam bentuk database SIM NUPTK. Dengan menggunakan strategi yang dihubungkan dengan persyaratan dalam uji sertifikasi maupun penyaluran tunjangan guru, hal tersebut telah memaksa PTK berupaya mendapatkan NUPTK karena menjadi salah satu persyaratan wajib bagi mereka yang akan ikut uji sertifikasi maupun penerimaan tunjangan guru. Tetapi sejak tahun 2016, sesuai surat edaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Dirjen GTK Nomor 14652/B.B2/PR/2015 bahwa mekanisme pengajuan, penerbitan, dan penonaktifan NUPTK menjadi tugas dari Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan (PDSPK). Skema Verifikasi dan Validasi Data GTK tentang NUPTK dapat di lihat dalam alur dihalaman berikut. (MD) NUPTK TIDAK LAGI DI LPMP
  18. 18. Bulletin Ponuwa Edisi III No 02 Juli 2017 Hal 19
  19. 19. Bulletin Ponuwa Edisi III No 02 Juli 2017 Hal 20 i t is believed that the best way peoples to afford quality life through quality education, to build up human resources. yet this is the same issues in most developing countries including indonesia. The efforts to improve the quality of education needs a continuous effort which is based on the aims to achieve. Meanwhile it is necessary to do several changes in curriculum and teaching learning process to improve. In this process, the teacher has an important role in determining the students achievement in learning. Therefore the teacher must be a facilitator, motivator, advisor and manager in teaching and learning process. But the fact indicates that the teacher is mostly the source of learning. The teacher is not only acts as an informator by which the students may become passive but also should be a motivator or facilitator, so that they can achieved what the goal is. In this modern era, plenty of topics about the English teaching in Indonesia. Most of the people believe that the result of teaching is still poor. As the result, the students are not able to master English well. The senior high school accuses the junior high school time, as the time where the students introduced English firstly but does not give a good base. IknewsometeacherofEnglishhastriedtousegoodmethods in teaching and learning process. They try to find methods to achieve the objective. They accustomed to looking for the easy and suitable methods but sometimes it’s not come with the result that what they expecting. I had an experience TEACHERS CREATIVITY IN TEACHING ENGLISH By Sjukri Rauf,S.Pd, M.Pd Widiaiswara LPMP Gorontalo ARTIKEL
  20. 20. Bulletin Ponuwa Edisi III No 02 Juli 2017 Hal 21 too when I was teaching at the first class of SMA. the students were difficult to make a simple sentence. Apparently, The problem is laid on in the way of teaching. It means that the way of a teacher in teaching English needs some improvement. In order to guide the students on the right track to the target, teacher of English should first develop himself with an analytical strategy to the material and study the characteristics features of the language. He or she must be more creative in teaching. Creativity is the ability to or quality of producing new, unique, original, not before existent (William Burton). Torrance stated that cretive creative thinking as the process of sensing gaps or disturbing, missing element,formingideaor hypothesisandcommunicating the result to or quality possibly modifying and retesting the hypothesis. creativityisalsotheabilityincreatingsomething new or combine the several things that have been existing to the new one. It is related to the behavior or individual special talent. Related to the teaching English, a creative teacher will not use a monotonous method, because it can make the students boring in following the lesson, He will try to use a new method and combine several, explain the material by using medium and gives spirit and motivation to the students in learning. Weinstein stated that creative activity is characterized by divergent thinking which is indicated by fluency, flexibility, originality, elaboration, and sensitivity. a. Fluency It is defined as retrieval of information from memory or the ability to put forward the same ideas to overcome a problems. b. Flexibility It is the ability to transform information, to reinterpret or redefine and adapt it to new uses, or the ability to find out variety ideas in overcoming the problem. c. Originality It is the ability to express a unique response spontanously spontaneously d. Elaboration It consists of producing implications of original ideas or the ability to express ideas systematically and elaborately. e. Sensitivity It is the ability to give a response in overcoming the problem. 3. Teacher’s Creativity in Teaching English There some points that should remind by the teacher before start learning process: 1. Learning can be done only by learner 2. Theneeds,interest,abilities,problems,andpurposes are the only fruitful starting point and continuing motivation for the learning activity. 3. The less sensible interest, purpose and activities and of the learner, are to be made over through the sympathetic of the teacher. 4. The Subject matter is useful and meaningful as it serves same needs and purposes of the learner. 5. The teacher can help the students to learn, can aid them in overcoming difficulties, in overcoming undesirable habits and attitudes as she or he understands the mental and emotional processes of the individual. Teacher of English would be a creative one if he or she shows the attitude and behavior of creativity in teaching English. The steps could be like as follows: • Try not to limit what children can experience • Help the students to apply principles to new situationsShow that you respect unusual questions and ideas • Provide opportunities for self-initiated learning and give credit • Reduce pressure, provide for periods of unevaluated practice in learning • Allow time for students to reflect • Respect individual differences • Tolerate disorder during the creative process • Tell students that you want creative ideas • Show the model of creative behavior • Using technique and material specifically designed to enhance creativity. Teacher as the main component in a teaching process, has an important role in guiding and rising up the motivation of the students. In order to transfer knowledge and skills to the students, he or she should build up the favorable conditions for learning process. This would be an easy task for a creative teacher. A creative teacher of English, through his own personality, can help to encourage the students to be more interested and have integrated skills approach to reach the idea. He will use a new method and combine several, explain the material by using medium and gives spirit and motivation to the students in learning. (This Original Article has been Reviewed and Edited by Ponuwa Editors) ARTIKEL
  21. 21. Bulletin Ponuwa Edisi III No 02 Juli 2017 Hal 22 Pembelajaran berbasis Teknologi informasi merupakan Sistem pembelajaran berbasis keterampilan informasi yang menitikberatkan pada pembelajaran mengguna- kan berbagai sumber belajar TIK seperti internet, ko- ran, buku, video, dll. Salah satu yang dapat digunakan adalah web tool ‘Kahoot” yang digunakan untuk pem- buatan kuis, diskusi, maupun survey secara online . Bagi rekan- rekan guru yang belum mengetahui apakah itu Kahoot, kami akan coba membahasnya pada artikel ini. Kahoot merupakan salah satu web tool untuk membuat kuis, diskusi dan survei secara menarik. Dalam pendid- ikan, Kahoot sangat bermanfaat untuk pembelajaran dan pendidikan sebagai berikut : 1. Digunakan di kelas kita untuk membuat pembela- jaran kita lebih menarik dan menyenangkan. 2. Kahoot memberikan situasi pembelajaran yang co- cok untuk menggabungkan pembelajaran berbasis penyelidikan dan permainan. 3. kahoot dalam pembelajaran dapat membantu guru untuk mengumpulkan umpan balik informal dari siswa, menilai pemahaman belajar siswa, dan mem- buat jajak pendapat tentang hal-hal yang berkaitan dengan pembelajaran yang terjadi di kelas. 4. Dalam segi kreativitas, Kahoot memungkinkan siswa untuk tidak hanya menjawab pertanyaan tapi juga membuat pertanyaan mereka sendiri. Sehingga demikian penggunaan Kahoot ini sangat co- cok juga dipadukan dengan pembelajaran pada kuriku- lum saat ini yaitu kurikulum 2013 dan sekolah Model (SPMI) di Provinsi Gorontalo. Gambar 1 Tampilan halaman depan Kahoot Kelebihan- kelebihan yang dimiliki oleh Kahoot anta- ra lain pada web tool ini memungkinkan guru untuk membuat kuis, diskusi maupun survey dengan memas- ukkan berbagai elemen seperti video, gambar mau- pun teks. Kemudian siswa dapat mengakses dengan menggunakan beragam perangkat yang berbeda sep- erti smartphone, tablet, laptop dan perangkat lainnya dengan mudah. Guru juga bisa menambahkan batasan waktu untuk menjawab kuis atau survey yang sudah di- berikan sehingga bukan hanya jawaban benar saja yang diperlukan namun juga ketepatan waktu juga menjadi poin utama dalam menjawab kuis atau survey yang di- berikan olehguru. Selain itu, kahoot dalam pembelajaran juga dapat mem- bantu guru untuk mengumpulkan umpan balik infor- mal dari siswa, menilai pemahaman belajar siswa, dan membuat jajak pendapat tentang hal-hal yang berkaitan dengan pembelajaran yang terjadi di kelas. Dalam segi kreativitas, Kahoot memungkinkan siswa untuk tidak hanya menjawab pertanyaan tapi juga membuat per- tanyaan mereka sendiri. Sistem Kerja Kahoot Bagi rekan rekan guru yang mau mencoba mengguna- kan Kahoot, berikut ini tutorial sederhana yang saya buat untuk membantu rekan- rekan guru yang mem- butuhkan. Pertama- tama bisa mengunjungi alamat http://www. getkahoot.com kemudian silahkan sign up untuk mendaftar. Jangan lupa ya... siapkan alamat email aktif untuk registrasi. Gambar 2 Tampilan menu Kahoot Isikan form registrasi secara lengkap Setelah berhasil Sign Up dan masuk ke halaman Dash- board Kahoot, Pilihlah salah satu fitur yang tersedia apakah Quiz, Discussion, atau Survey. Disini saya me- milih Quiz, karena ingin membuat Kuis secara online. Membuat Kuis, Survey dan Forum Diskusi Menarik di Kelas Anda dengan Aplikasi Kahoot Oleh Hamzah Hippy,ST,MT - PTP LPMP Gorontalo
  22. 22. Bulletin Ponuwa Edisi III No 02 Juli 2017 Hal 23 Gambar 3 Tampilan menu Kahoot Isikan Deskripsi dari kuis yang ingin anda buat mis- alnya judul, deskripsi, settingan untuk kuis. Pada set- tingan “Visible to”, silahkan pilih “Only me” bila kuis hanya bisa dibuka dan ditampilkan untuk keperluan anda sendiri misalnya untuk pembelajaran di kelas kita. Anda juga bisa menambahkan gambar yang rel- evan. Kemudian jangan lupa klik OK, GO bila sudah selesai. Gambar 4 Tampilan menu Soal Kahoot Setelah berhasil membuat deskripsi kuis anda, saatnya untuk memulai membuat pertanyaan dalam kuis yang akan anda buat. Pilih Add Question. Pada tampilan pertanyaan, silahkan isikan: - Question : untuk membuat pertanyaan - Time limit : Batasan waktu Gambar 5 Tampilan menu Jawaban Soal Kahoot - Answer : Jawaban yang dibutuhkan - Media : menambah gambar atau video Setelah selesai, centang pada jawaban yang benar se- bagai kunci jawaban kemudian klik Next Gambar 6 Tampilan menu Soal Kahoot Dan,,,Selamat,, Pertanyaan no. 1 sudah selesai dibuat, sekarang tinggal menambahkan pertanyaan- pertan- yaan berikutnya. Langkahnya sama seperti langkah sebelumnya. Bila sudah selesai, klik Save pada sebelah kanan atas. Gambar 7 Tampilan menu Kahoot Pilih Preview it atau Play it, Gambar 8 Tampilan menu Kahoot Pada Game Options, pilihlah Display Game Pin Throughout untuk menampilkan PIN yang nantinya akan diberikan pada siswa kita. Lalu pada bagian atas, pilih sistem permainan secara Classic atau Team ke- mudian nomor PIN akan muncul pada layar anda.   Gambar 9 Tampilan menu Pin Kahoot Langkah yang terakhir instruksikan siswa meng- gunakan smartphone, tablet atau laptop yang sudah terkoneksi dengan internet untuk membuka kuis yang anda buat. Berikan PIN tersebut kepada siswa anda. Masuk ke https://kahoot.it lalu instruksikan siswa un- tuk masukkan no. PIN yang sudah diberikan. Gambar 10 Tampilan menu Score Nilai Kahoot demikian tulisan sederhana tentang bagaimana mem- buat kuis, diskusi dan survey yang menarik dengan Kahoot, semoga bermanfaat, Terima kasih.
  23. 23. Bulletin Ponuwa Edisi III No 02 Juli 2017 Hal 24 PERSPEKTIF KINERJA LEMBAGA PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN GORONTALO
  24. 24. Bulletin Ponuwa Edisi III No 02 Juli 2017 Hal 25 Struktur organisasi atau bentuk organisasi, secara teoritis dibangun berdasarkan hasil analisis lingkungan internal dan eksternal, yang diharapkan mampu beradaptasi den- gan tuntutan perubahan lingkungan. Dilakukannya ana- lisis dimaksud disebabkan oleh terdapatnya berbagai hal yang secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh terhadap kelembagaan yang dibangun atau dikembang- kan. Kondisi demikian juga berlaku bagi kelembagaan pemerintah Indonesia. Dalam kurun waktu yang relatif lama, sejak diter- bitkannya Keputusan Presiden Nomor 44 Tahun 1974 in- stansi pemerintah belum pernah secara bersungguh-sung- guh dan menyeluruh melaksanakan evaluasi kelembagaan. Oleh karena itu, guna meningkatkan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah saat ini maka diperlukan suatu instru- men evaluasi kelembagaan yang memadai. Dilihat dari dimensinya, struktur organisasi pemerintah mengandung berbagai tatanan yang sifatnya kompleks, diantaranya yaitu tugas, fungsi, kewenangan, eselonisasi, span of control, koordinasi, aturan, kebijakan, system, dan prosedur, dan lain-lain. Berdasarkan instruksi Presiden Nomor 13 tahun 1998 tentang Pengusulan, Penetapan, dan Evaluasi Organ- isasi pemerintah, telah diamanatkan agar setiap organisasi pemerintahan melakukan evaluasi secara terus menerus, sedikitnya sekali daalam1(satu) tahun. Untuk itu agar evaluasi organisasi baik di lingkungan instansi Pemerintah Pusat maupun Daerah dapat dilaksanakan secara optimal, maka perlu disusun pedoman yang dapat dijadikan acuan dalam melakukan evauasi terhadap kelembagaan instansi pemerintah. Sehubungan dengan hal tersebut, evaluasi terha- dap kelembagaan pemerintah dipandang sebagai suatu hal yang sangat perlu dan penting dilakukan, mengingat kin- erja organisasi pemerintah termasuk Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Gorontalo tidak bisa lepas dari pengaruh struktur organisasi yang melekat, meskipun hal itu bukan satu-satunya faktor berpengaruh. Yang menjadi rumusan masalah sehubungan evaluasi kinerja lembaga adalah sbb, Bagaimana perspektif Organisasi kelembagaan di Lemba- ga Penjaminan Mutu Pendidikan Gorontalo, ditinjau dari perspeketif proses internal, perspektif Pengguna Layanan, perspektif pemangku kepentingan, perspektif organisasi pembelajar? Apa yang menjadi rekomendasi atas tinjauan dari perspek- tif proses internal, perspektif Pengguna Layanan, perspek-
  25. 25. Bulletin Ponuwa Edisi III No 02 Juli 2017 Hal 26 tif pemangku kepentingan, perspektif organisasi pemb- elajar? Secara umum tujuan untuk melaksanakan evaluasi or- ganisasi kelembagaan di LPMP Gorontalo, yaitu: “Ter- sedianya rekomendasi untuk penataan organisasi sesuai dengan penilaian evaluasi kelembagaan”. Tujuan terse- but terinci dalam tujuan khusus yakni untuk meng- etahui, Perspektif Organisasi kelembagaan di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Gorontalo, ditinjau dari perspeketif proses internal, perspektif Pengguna Lay- anan, perspektif pemangku kepentingan, perspektif organisasi pembelajar; dan untuk mengetahui secara kualitatif yang menjadi rekomendasi atas tinjauan dari perspektif proses internal, perspektif Pengguna Lay- anan, perspektif pemangku kepentingan, perspektif or- ganisasi pembelajar. Metode, Responden dan Sampling, responden dalam evaluasi kelembagaan pemerintah adalah seluruh ang- gota organisasi pada setiap organisasi di lingkungan Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan. Responden terdiri dari pengguna layanan internal dan eksternal serta responden internal organisasi. Instrumen evaluasi, Instrumen yang digunakan dalam pelaksanaan evalu- asi kelembagaan ini berbentuk kuesioner. Instrumen ini terbagi atas dua kelompok pertanyaan, yaitu pertan- yaan tertutup dan pertanyaan terbuka. Pernyataan ter- tutup adalah pernyataan yang memiliki empat pilihan jawaban, yaitu: Sangat tidak setuju (STS=skor 1) apabila kondisi di unit kerja sangat tidak sesuai dengan perny- ataan.Tidak setuju (TS=2) apabila kondisi di unit kerja Saudara tidak sesuai dengan pernyataan.Setuju (S=3) apabila kondisi di unit kerja Saudara sesuai dengan pernyataan. Sangat setuju (SS=4) apabila kondisi di unit kerja Saudara sangat sesuai dengan pernyataan. Sedan- gkan Pertanyaan terbuka diisi dengan jelas dan singkat sesuai kondisi yang terjadi di unit kerja dan dilengkapi data pendukung. Instrumen evaluasi kelembagaan ini meliputi empat komponen, yaitu: a) Perspektif proses internal berjumlah 26 item. b) Perspektif pengguna layanan berjumlah 12 item, c) Perspektif pemangku kepentingan berjumlah 24 item, d) Perspektif organisasi pembelajar berjumlah 20 item. Cara Analisis Data, Pelaksanaan pengumpulan data lapangan dilakukan melalui penyebaran kuisioner ke- pada responden yang sudah ditargetkan. Metode penye- baran dan pengumpulan kuesioner dilakukan dengan cara disebarkan langsung kepada responden maupun melalui surat bagi responden yang berada jauh dari lokasi tim evaluasi. Sasaran utama dari pengumpulan data adalah mendapatkan informasi yang dibutuhkan tim evaluasi. Kuisioner yang sudah disebarkan harus sudah diisi secara lengkap sebelum dikumpulkan. Sete- lah proses pengumpulan data dilakukan akhirnya hasil dari responden resresentatif. Maka langkah selanjutnya adalah menghitungnya melalui perhitungan nilai, bobot dan konversinya. Perspektif proses internal, Perspektif pengguna layanan, perspektif pemangku kepentingan, dan perspektif organisasi pembelajar, masing-masing item skornya adalah sebagaimana tabel berikut: Perspektif Kinerja Lembaga Penjaminan Mutu Pendidi- kan Gorontalo adalah sebagai berikut ini, 1. Analisis Data Kuantitatif Evaluasi kelembagaan organisasi pemerintah khususnya di Lembaga Penjaminan Mutu Pendididikan Gorontalo meliputi 4 (empat) aspek penilaian yaitu: 1) perspektif proses internal, 2) perspektif pengguna lay-
  26. 26. Bulletin Ponuwa Edisi III No 02 Juli 2017 Hal 27 anan, 3) perspektif pemangku kepentingan, dan 4) per- spektif organisasi pembelajar. 1) Perspektif Proses Internal, Proses internal or- ganisasi terdiri dari penyusunan visi dan misi yang melibatkan semua semua pegawai. Dalam pencapaian visi dan misi dilanjutkan dengan penyusunan rencana strategis. Pemahaman rencana strategis, tugas dan fungsi lembaga, struktur organisasi, program dan keg- iatan, serta ketatalaksanaan yang dituangkan dalam bentuk standar operasional prosedur (SOP). Standar operasional ini yang menjadi pedoman dalam pelak- sanakan tugas dan fungsi organisasi. Dari tabel 1 dan 2, perspektif proses internal memper- oleh nilai 23,35, dengan menggunakan rentangan (0 ≤ STS < 7.5) : (7.5 ≤ TS < 15) : (15 ≤ S < 22,5) : (22.5 ≤ SS ≤ 30), hasil perolehan dinyatakan dalam kategori sangat setuju (SS), perlu dipertahankan dan ditingkatkan agar tata laksana organisasi menjadi berkinerja maksimal. 2) Perspektif Pengguna Layanan, Penyusunan ke- bijakan/peraturan yang akan menjadi pedoman atau panduan bagi pengguna layanan terhadap organisa- si, optimaliasi kualitas SDM pelayanan , inpformasi produk layanan, waktu layanan dan biaya. Dari tabel 1 dan 2, perspektif pengguna layanan mem- peroleh nilai 6,36, dengan menggunakan rentangan (0 ≤ STS < 6.25) : (6.25 ≤ TS < 12.5) : (12.5 ≤ S < 18.75) : (18.75 ≤ SS ≤ 25), hasil perolehan dinyatakan dalam kategori tidak setuju (TS),dan sangat memungkinkan untuk memaksimalkan efisiensi tata laksana organisasi. 3) Perspektif Pemangku Kepentingan, Pemangku kepentingan organisasi terdiri dari jumlah pegawai dan kompetensi yang dibutuhkan sesuai jenis layanan, penempatan sesuai dengan kompetensi serta komit- men staf dan pimpinan. Perencanaan, pemakaian dan pemeliharaan sarana dan prasarana serta penyusunan dan penggunaan anggaran. Dari tabel 1 dan 3, perspektif pemangku kepentingan memperoleh nilai 18,67, dengan rentangan (0 ≤ STS < 6.25) : (6.25 ≤ TS < 12.5) : (12.5 ≤ S < 18.75) : (18.75 ≤ SS ≤ 25), hasil perolehan dinyatakan dalam kategori sangat setuju (SS), perlu dipertahankan dan ditingkat- kan agar tata laksana organisasi menjadi berkinerja maksimal. 4) Perspektif Organisasi Pembelajar, Organisasi Tabel 1: Skor Analisis Perspektif Proses Internal Perspektif Pengguna Layanan Perspektif Pemangku Kepentingan Perspektif Organisasi Pembelajar Skor Internal Responden Internal Skor Eksternal Responden Eksternal Skor Keseluruhan Kategori Evaluasi 560,28 152,64 448,02 368,25 1529,19 24 205,92 15 Organisasi baik 23,35 6,36 18,67 15,34 63,72 13,73 77,45 1 Keterangan: 1. Jumlah responden internal minimal 24 responden 2. Jumlah responden eksternal minimal 15 responden Tabel 2. Range Aspek Aspek Range Perspektif Proses internal (0 ≤ STS < 7.5) : (7.5 ≤ TS < 15) : (15 ≤ S < 22,5) : (22.5 ≤ SS ≤ 30) Perspektif Pengguna layanan (0 ≤ STS < 6.25) : (6.25 ≤ TS < 12.5) : (12.5 ≤ S < 18.75) : (18.75 ≤ SS ≤ 25) Perspektif Pemangku kepentingan (0 ≤ STS < 6.25) : (6.25 ≤ TS < 12.5) : (12.5 ≤ S < 18.75) : (18.75 ≤ SS ≤ 25) Perspektif Organisasi pembelajar (0 ≤ STS < 5) : (5 ≤ TS < 10) : (10 ≤ S < 15) : (15 ≤ SS ≤ 20)
  27. 27. pembelajar terdiri dari menfasilitasi pegawai untuk terbuka dan mengembangkan diri dan pemimpin melakukan pembinaan kepada peggawai secara teratur dan berkelanjutan. Menumbuhkan komitmen pegawai dan pemimpin sesuai budaya kerja organisasi. Dari tabel 1 dan 2, perspektif organisasi pembelajar memperoleh nilai 15,34, dengan rentangan (0 ≤ STS < 5) : (5 ≤ TS < 10) : (10 ≤ S < 15) : (15 ≤ SS ≤ 20), hasil perolehan dinyatakan dalam kategori sangatsetu- ju (SS),perlu dipertahankan dan ditingkatkan agar tata laksana organisasi menjadi berkinerja maksimal. Secara umum, dari Tabel 3. Skor Analisis : dapat di- jelaskan bahwa efisiensi tata laksana organisasi LPMP Gorontalo dengan nilai 77,45 yang berada pada kat- egori III. Dan Berdasarkan table 3. Kategori Organisasi yaitu Organisasi Sudah Efisien, tetapi secara struktural membutuhkan penyempurnaan up-dating dengan lingkungan eksternal. Penyesuaian tersebut dapat di- lakukan dengan memperhatikan internal kelemba- gaannya dan terus menerus melakukan perbaikan secara berkelanjutan serta prioritas masing-masing, pada perspektif proses internal, perspektif pengguna layanan, perspektif pemangku kepentingan, perspektif organisasi pembelajar. 2. Analisis Data Kualitatif Berdasarkan analisis data kualitatif yang diolah diper- oleh informasi bahwa secara rinci dapat digambarkan sebagai berikut: 1) Tugas dan fungsi yang belum ada pada unit kerja LPMP Gorontalo atau Kegiatan yang belum ter- tampung dalam Tusi di LPMP Gorontalo, yakni: a) Pe- nyusunan bahan publikasi di subbag umum (sekarang masih melekat di SI), b) masih terdapat Kegiatan pusat yang diluar dari tusi LPMP (UKG). 2) Kendala dan hambatan dalam pelaksanaan TUSI di LPMP Gorontalo, Kendala dan Hambatan dalam pelaksanaan Tusi maupun Non Tusi , yakni: a) Perubahan nomenklatur LPMP yang sebelumnya dibawah badan dengan pemanfaatan aplikasi yang saat ini dijalankan melalui Biro Kepegawaian dan masih memerlukan identifikasi tusi agar sesuai urusan agar dapat menyelesaikan E-SKPnya, b)Tidak dialokasikan dana untukegiatan tertentu, c) Sebagian besar pro- gram dan kegiatan bersifat given sehingga untuk im- plementasi di daerah khusus menunggu juknis pusat, d) Anggaran yang terbatas sehingga sasaran program tidak maksimal, d) Pemahaman dan implementasi uraian jabatan yang belum tersosialisasikan dengan baik, e) Pelaksanakan kegitan di awal tahun anggaran belum bisa dilaksanakaan karena masih mengunggu Juknis sehingga pelaksanaan selalu kejar tayang, f) Lambatnya anggaran turun dari pusat, g) Kurangnnya komunikasi antara LPMP dengan stakholder daerah, h) Ketersediannya sarana dan prasarana yang bahan mendukung sepenuhnya, dan ketidak jelasan informa- si, i) Ketiadaan atau keterbatasan anggaran, j) Eselo- nisasi LPMP. 3) Tugas yang tidak sesuai kompetesi dan fungsi individu dari pada tim dan cara mengatasi kendala dan hambatan dalam pelaksanaan tugas dan fungsi mela- lui: a) Pendampingan dalam menyelesaikan E-SKP un- tuk setiap Unjab dari masing-masing Seksi atau Subag, b) Menggunakan Juknis-juknis yang sebelumnya, c) Memaksimalkan sumber daya yang tersedia, d) Sosial- isasi pemahaman mengenai UU ASN, e) Koordinasi ke Eselon I Direktorat Dikdasmen untuk mendapat- kan Junis juklak, f) Melaksanakan tusi sesuai SOP, g) Menyelesaikan bersama terhadap permasalahan yang terjadi, h) Rapat koordinasi dengan stakeholder mitra. 4) Reward dan punishment yang diberikan: Reward: dilakukan melalui: a) Penghargaan diberang- katkan studi banding luar daerah, b) Pemberian tukin, c) Penghargaan berupa honorium yang diberikan pada setiap kegiatan, d) Kesempatan untuk peningka- tan kualifikasi akademik dan kompetensi, e) Selama ini belum ada reward dan punishment yang jelas di- tentukan kepada pegawai. Punishment: a) Punishment disesuaikan dengan pel- anggaran yang dilakukan, mengacu kepada PP 53, b) Serta pemotongan kinerja bagi pegawai yang melang- gar disiplin absensi. 5) Cara menciptakan komunikasi efektif, yakni: a) Memberikan arahan, bimbingan dan petunjuk serta komunikasi secara personal, b) Memberikan bentuk langsung tiap kinerja dan disiplin kerja, c) Memberi- kan peluang kepada pegawai untuk mengikut pendidi- kan maupun diklat, d) Komunikasi di bangun melalui rapat rutin setiap bulan, e) Memberikan kesempatan untuk mengajukan gagasan, dan memberikan kesem- patan untuk melakukan implementasi dari gagasan- gagasan tersebut, f) Setiap awal bulan, pimpinan mel- akukan rapat rutin yang melibatkan seluruh pegawai, g) Mengadakan apel pegawai, h) Melakukan pemetaan pegawai sesuai dan kopetensi yang di miliki oleh pega- wai, i) Membuka jalur yang lebih terbuka dengan se- luruh warga LPMP baik melalui media sosial maupun komunikasi secara langsung, j) Penilaian dan evaluasi yang terbuka bagi kinerja pegawai. Dari uraian perspektif kinerja Lpmp Gorontalo di atas dapat disimpulkan dan direkomendasikan adalah, bahwa, Efisiensi tata laksana organisasi LPMP Goron- talo dengan nilai 77,45 (Nilai Maximal 100) yang berada pada kategori III atau dengan perspektif kin-
  28. 28. Bulletin Ponuwa Edisi III No 02 Juli 2017 Hal 29 Dalam rangka persiapan pelaksanaan kurikulum 2013 (K13) LPMP melakukan bimbingan teknis (Bimtek) bagi pendidik dan tenaga kependidikan untuk memelihara dan meningkatkan kes- inambungan pemahaman dan ketersediaan sumber daya pen- didikan dalam pelaksanaan K13 di masing-masing satuan pen- didikan. Sasaran pelatihan K13 di sekolah dasar tahun 2017 adalah guru kelas I, guru kelas IV, guru agama, kepala sekolah dari sekolah sasaran implementasi K13 ta- hun 2017. Kegiatan Bimtek Tim Pengembang Kuriku- lum 2013 Tingkat Ka- bupaten /Kota jenjang SD LPMP Gorontalo Tahun Anggaran 2017 didilaksanakan selama 4 (empat) hari mulai tanggal 18 sampai den- gan 21 April tahun 2017 bertempat di LPMP Gorontalo Jl. Dr. Umar Sidiki desa Tunggulo Kec. Tilong Kabila kabupaten Bone Bolango. Tujuan Kegiatan Bimtek Tim Pengembang K 13 Tingkat Kabu- paten/Kota jenjang SD adalah : 1. Memberikan penyegaran dan penguatan kepada peserta tentang materi Pokok,materi umum,dan materi penunjang terkait dengan implementasi Kurikulum 2013. 2. Menyamakan persepsi tentang pola pelatihan Kurikulum 2013 sd Tingkat Kabupaten /Kota. 3. Peserta dapat memahami Materi Bimtek Tim Pengembang K 13 berupa konsep dan implementasi K 13 serta strategi pelaksanaan bimtek tersebut dengan baik kepada peserta pelatihan. 4. Memberikan penyegaran K 13 kepada tim pengembang kurikulum 2013 tingkat kabupaten/kota jenjang SD. Sehingga diharapkan hasil dari BIMTEK ini adalah; 1. Terlaksananya Pe- nyegaran dan penguatan kepada peserta tentang materi Pokok,materi umum,dan materi pe- nunjang terkait dengan implementasi K 13. 2. Adanya kesamaan persepsi tentang pola kegiatan Bimtek K 13 SD di Tingkat Kabupaten / Kota. 3. Adanya Pemaha- man peserta tentang ma- teri Bimtek berupa kon- sep implementasi K 13 serta strategi pelaksanaan bimtek tersebut dengan baik kepada peserta Bimtek. 4. Adanya kesamaan persepsi dari peserta bimtek tentang pelaksanaan implementasi K 13 tingkat kabupaten/kota. Adapun Instruktur Provinsi dalam Kegiatan Bimtek Tim Pengembang K 13 Tingkat Kabupaten /Kota SD sebanyak 12 Orang berasal dari widiaiswara LPMP Gorontalo dan peserta sebanyak 70 orang, dengan total penyampaian materi sebanyak 30 JP BIMTEK Tim Pengembang Kurikulum 2013 Tingkat SD LPMP Gorontalo 18 - 21 April 2017 Lensa LPMP
  29. 29. Bulletin Ponuwa Edisi III No 02 Juli 2017 Hal 30 Penjaminan Mutu Pendidikan dapat dilihat sebagai sebuah siklus yang dimulai dari pemetaan mutu, penyusunan rencana peningkatan mutu, pelaksanaan rencana dan monitoring/evaluasi pelaksanaan rencana yang bertujuan untuk memastikan bahwa seluruh proses penyelenggaraan pendidikan telah sesuai dengan standar mutu dan aturan yang ditetapkan. Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Ditjen Dikdasmen) dalam mewujudkan tujuan tersebut diatas mengupayakan agar lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) dalam kerangka pelaksanaan tugas dan fungsinya bisa melakukan pembinaan yang sistematis dan terarah untuk peningkatan mutu pendidikan di 33 provinsi. Setelah melaksanakan Rakor dengan Dinas pendidikan Kabupaten dan Kota se provinsi Gorontalo selanjutnya LPMP akan melaksanakan Bimbingan Teknis calon Fasilitator Daerah sekolah model untuk mempersiapkan implementasi penjaminan mutu satuan pendidikan tahun 2017 dengan menerapkan pada sekolah model dan sekolah imbas. Kegiatan Bimtek ini bertujuan untuk mempersiapkan calon fasilitator daerah sekolah model yang akan mengawal program ini serta merupakan media antara LPMP dengan pengawas, widyaiswara dan pihak terkait lainnya untuk memantapkan program penjaminan mutu satuan pendidikan sehingga tercipta kesamaan visi dalam menjalankannya. Secara umum kegiatan ini bertujuan untuk : 1. Memberikan informasi dan pemahaman tentang sistem penjaminan mutu pendidikan dasar dan menengah . 2. Memberikan informasi dan pemahaman tentang system penjaminan mutu internal dan teknik fasilitasinya 3. Memberikan informasi dan pemahaman tentang pemetaan mutu satuan pendidikan dan teknik fasilitasinya 4. Memberikan informasi dan pemahaman tentang penyusunan rencana pemenuhan mutu 5. Memberikan informasi dan pemahaman tentang pelaksanaan pemenuhan dan peningkatan mutu di satuan pendidikan 6. M e m b e r i k a n informasi dan pemahaman tentang rencana evaluasi pemenuhan mutu, teknik evaluasi dan simulasinya Kegiatan Bimtek calon Fasilitator Daerah sekolah model tahun 2017 diselenggarakan selama 5 (lima) hari mulai tanggal 15-19 Mei 2017 bertempat di LPMP Gorontalo. Strategi yang digunakan dalam kegiatan ini adalah pemberian materi, diskusi dan kerja kelompok. Dalam pelaksanaan kegiatan peserta dibagi dalam dua kelas, yaitu kelas A dan B dengan jumlah peserta dalam tiap kelas 25 orang dan dua orang Fasilitator Nasional LPMP Gorontalo. SetiapkelasterdiridaripengawasjenjangSD,SMP,SMAdanpengawas SMK dari 6 Kabupaten/ Kota se-Provinsi Gorontalo, Widyaiwara dan fungsional Umum LPMP Provinsi Gorontalo. Peserta kegiatan Bimtek calon Fasilitator Daerah sekolah model tahun 2017 adalah Pengawas Jenjang Dasar dan menengah Dinas Pendidikan Kab. Bone Bolango, Kota Gorontalo, Kab. Gorontalo, Kab. Gorontalo Utara, Kab. Pohuwato , Kab Boalemo serta Fungsional Tertentu dan fungsional Umum LPMP Gorontalo Bimtek Fasilitator Daerah Sekolah Model LPMP Gorontalo 15 - 19 Mei 2017 Lensa LPMP
  30. 30. Bulletin Ponuwa Edisi III No 02 Juli 2017 Hal 31 Direktorat PSMK pada tahun ini menyelenggarakan Bimbin- gan Teknis (Bimtek) yang terdiri atas dua tahap, yaitu keg- iatan Bimtek penyegaran bagi instruktur dan Bimtek imple- mentasi kurikulum bagi guru sasaran. Kegiatan Bimtek diselenggarakan oleh Direktorat Pembinaan SMK dengan melibatkan peran serta LPMP. Bimtek Penyega- ran Instruktur diselenggarakan langsung oleh Direktorat PSMK, sedangkan Bimtek Penyegaran Instruktur Klaster diselenggarakan oleh LPMP dan Bimtek Implementasi Kuri- kulum 2013 SMK bagi guru sasaran diselenggarakan ditiap sekolah sasaran Kurikulum 2013 Tahun 2017. Di Provinsi Gorontalo, pada tahun ini menetapkan sejum- lah 18 SMK Sasaran Kurikulum 2013 yang tersebar di 6 Kab/ Kota, yaitu : Kab/Kota Jumlah Sekolah Nama Sekolah POHUWATO 4 SMKN 1 DENGILO SMKN 1 DUHIADAA SMKN 1 WANGGARASI SMKN 1 TALUDITI BOALEMO 4 SMKN 1 WONOSARI SMKN 1 PAGUYAMAN SMKN 1 PAGUYAMAN PANTAI SMKN 1 DULUPI GORONTALO UTARA 1 SMKN 1 GORONTALO UTARA Kab.GORONTALO 4 SMKN 2 LIMBOTO SMKN 1 DUNGALIO SMKN 1 MOOTILANGO SMKN 1 PULUBALA KOTA GORONTALO 3 SMK KESEHATAN SMK TIRTAYASA SMK BINATARUNA KAB. BONBOL 2 SMKN 1 BONEPANTAI Kegiatan Bimtek Guru Sasaran Kurikulum 2013 Tahun 2017 di Provinsi Gorontalo diselenggarakan di 18 SMK sasaran Kurikulum 2013 Tahun 2017 dengan dibiayai oleh Dana Bantuan Pemerintah yang disalurkan melalui DIPA LPMP Gorontalo. Bimtek Guru Sasaran Kurikulum 2013 akan didamping oleh petugas dari LPMP Gorontalo yang akan mengawal dan memantau pelaksanaan kegiatan Bimtek di masing-masing SMK sasaran Kurikulum 2013 di Provinsi Gorontalo. Adapun Tujuan dari kegiatan ini adalah: 1. Memantau Pelaksanaan Kegiatan Bimtek Guru Sasaran Kurikulum 2013 Tahun 2017 di masing-masing sekolah sasaran K13 Tahun 2017. 2. Melaksanakan penjaminan kualitas pelaksanaan Bimtek Guru Sasaran Kurikulum 2013 Tahun 2017. 3. Mengidentifikasi kelengkapan Administrasi Pelaksanaan Kegiatan Bimtek. 4. Mengidentifikasi ketersediaan fasilitas Tempat Pelaksan- aan Kegiatan Bimtek Pendampingan ini dilaksanakan saat pelaksanaan Bimtek Guru Sasaran Kurikulum 2013 jenjang SMK Tahun 2017, yang dibagi dalam 2 tahap, yaitu : • Bimtek Guru Sasaran Kurikulum 2013 jenjang SMK Ta- hun 2017 Tahap 1, tanggal 12 – 17 Juni 2017, di SMKN 1 Dengilo, SMKN 1 Duhiadaa, SMKN 1 Gorontalo Utara, SMKN 1 Pulubala, SMKN 1 Dungaliyo, SMKN 2 Limbo- to, SMK Kesehatan, SMK Bina Taruna dan SMKN Model Gorontalo. • Bimtek Guru Sasaran Kurikulum 2013 jenjang SMK Ta- hun 2017 Tahap 2, tanggal 11 – 16 Juli 2017, di SMKN 1 Taluditi, SMKN 1 Wonggarasi, SMKN 1 Mootilango, SMKN 1 Paguyaman, SMKN 1 Paguyaman Pantai, SMKN 1 Dulupi, SMKN 1 Wonosari, SMK Tirtayasa dan SMKN 1 Bonepantai. BIMTEK Implementasi Kurikulum 2013 tahun 2017 SMK Lensa LPMP
  31. 31. Bulletin Ponuwa Edisi III No 02 Juli 2017 Hal 32 Sistem penjaminan Mutu Internal (SPMI) adalah bagian dari Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Dasar dan Menengah, yang dijalankan oleh seluruh komponen sekolah. Pemerintah telah mengembangkan sekolah yang akan menjadi patron atau model penerapan penjaminan mutu secara mandiri yang disebut dengan Sekolah Model. Sebagai acuan kepada sekolah lain yang akan menerapkan implementasi penjaminan mutu. Dalam memberikan pembekalan kepada sekolah tentang bagaimana Implementasi penjaminan mutu di internalnya, maka LPMP melakukan pembinaan kepada sekolah-sekolah yang telah ditetapkan menjadi sekolah model. Pembinaan dibantu oleh fasilitator daderah yang telah dilatih oleh LPMP dalam bentuk pelatihan, pendampingan dan supervisi serta monitoring dan evaluasi. Workshop SPMI Sekolah model dilaksanakan oleh LPMP dalam memberikan pengetahuan tentang bagaiman penerapan Sistem Penjaminan Mutu Internal di sekolah model tersebut. Diharapkan sekolah model dapat sesegera mungkin melakukan pembenahan aspek manajerial dan akademiknya dengan menerapkan pemenuhan 8 Standar Nasional Pendidikan. Secara umum kegiatan ini bertujuan untuk : 1. Memberikan informasi dan pemahaman tentang sistem penjaminan mutu pendidikan dasar dan menengah. 2. Memberikan informasi dan pemahaman tentang system penjaminan mutu internal dan teknik fasilitasinya. 3. Memberikan informasi dan pemahaman tentang pemetaan mutu satuan pendidikan dan teknik fasilitasinya 4. Memberikan informasi dan pemahaman tentang penyusunan rencana pemenuhan mutu 5. Memberikan informasi dan pemahaman tentang pelaksanaan pemenuhan dan peningkatan mutu di satuan pendidikan 6. Memberikan informasi dan pemahaman tentang rencana evaluasi pemenuhan mutu, teknik evaluasi dan simulasinya Sasaran peserta kegiatan Workshop SPMI sekolah model Tahap I adalah kepala sekolah dan guru jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah se-Provinsi Gorontalo sebagai berikut: Kabupaten Bone Bolango : 30 orang Kota Gorontalo : 30 orang Kabupaten Gorontalo : 30 orang Kabupaten Gorontalo Utara : 27 orang Kabupaten Boalemo : 21 orang Kabupaten Pohuwato : 27 orang Propinsi Gorontalo : 30 orang TOTAL : 195 orang Kegiatan Workshop SPMI Sekolah Model tahun 2017 Tahap I diselenggarakan selama 3 (tiga) hari dilaksanakan tanggal 10 s.d 12 Juli 2017 bertempat di LPMP Gorontalo. Model kegiatan ini adalah pemberian materi, diskusi dan kerja kelompok. Peserta Kegiatan Workshop SPMI Sekolah Model Tahun 2017 Tahap I terdiri dari 1 orang Kepala Sekolah dan 2 orang guru jenjang SD/SMP dan SMK. Kegiatan Workshop SPMI Sekolah Model Tahun 2017 Tahap I dibuka oleh Kepala LPMP Gorontalo yang diwakili Kepala Seksi PMS yaitu Dra. Hasmi Dumbi, M.Pd sekaligus merupakan Penanggungjawab Kegiatan. Peserta yang mengikuti pembukaan berjumlah 190 orang yang sedianya dihadiri oleh 195 orang peserta serta Fasilitator Daerah berjumlah 14 orang. Pelaksanaan Workshop SPMI Sekolah Model Tahun 2017 Tahap I berjalan dengan lancar. Diharapkan dapat membantu peserta mengimplementasikan Sistem Penjaminan Mutu Internal disekolah masing-masing dan mampu sebagai sekolah model terhadap sekolah lainnya Workshop SPMI Sekolah Model LPMP Gorontalo 10 - 12 July 2017 Lensa LPMP
  32. 32. Bulletin Ponuwa Edisi III No 02 Juli 2017 Hal 33

×