Takdir Dan Dinamika Manusia
                                          Oleh: Lukman Hakim
Pendahuluan


Takdir merupakan sa...
alam kebendaan atau material (takdir Allah), tidaklah berdiri sendiri melainkan dibuat dan
ditetapkan oleh Sang Maha Penci...
kenyataan sosial historis maupun material yang membuat orang tidak dapat mengerti, dan karena
itu memandangnya sebagai hal...
dan rembulan yaitu dua benda langit yang paling tampak pada manusia dan paling banyak
memengaruhi kehidupannya di bumi ini...
semuanya dikembalikan kepada Allah. Itulah yang membuat orang sehat secara ruhani (secara
psikologis). Kalau dilihat konte...
Ada bahasan menarik dalam buku Marxis Philosophy. Di situ digabungkan antara konsep
keharusan sejarah (historical neccesit...
halnya dengan ilmu sosial. Karena menyangkut sunnatullah yang fluid, yang cair dan tidak
menentu, ilmu sosial sulit sekali...
3167). Oleh kerena itu, konsep takdir juga terkait dengan konsep sunnatullah. Di mana
pengertian sunnatullah sendiri adala...
sekarang belum sembuh, yaitu jatuhnya Bagdad ke tangan bangsa Mongol. Bagdad yang
merupakan ibu kota ke khalifahan Harun A...
Objektif maksudnya tidak tergantung pada keinginan kita (yang subjektif). Immutable artinya
tidak berubah oleh kita. Semua...
Demikian juga dalam soal sejarah yang notabene tidak bersifat eksak, meski ada sesuatu yang
bisa dipegang. Karena itu, dal...
kepadanya untuk membangun dunia ini sebaik-baiknya15. Oleh karena itu, sebagai khalifah,
manusia akan dimintai pertanggung...
manusia dari bentuk-bentuk pembelengguan sewenang-wenang (dari tuhan-tuhan palsu) itu, dan
bersamaan dengan itu pengarahan...
Sikap pasrah, ikhlas, dan percaya terhadap qadla dan qadar itu penting karena untuk
kepentingan manusia sendiri yaitu untu...
boleh mudah tergoda sesungguhnya merupakan ajaran universal yang terdapat dalam setiap
budaya dan agama. Gampang tergoda b...
Menurut konsep Islam untuk menyebut perbuatan yang baik adalah amal shalih yaitu amal yang
diridlai oleh Allah dan di dala...
berarti sikap bersandar dan memercayakan diri kepada Allah S.W.T. Oleh karena konsep tawakal
mengandung makna “memercayaka...
setiap kali usai mengambil keputusan penting (khususnya keputusan yang menyangkut orang
banyak melalui musyawarah), guna m...
Penutup


Sebagai ikhtitam, takdir merupaka ketentuan Allah yang tidak dapat diubah dan dilawan oleh
manusia. Walau demiki...
hasilnya tidak semata-mata untuk suatu jangka yang bersifat pendek. Melainkan untuk masa
yang bersifat panjang dan abadi. ...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

7 Takdir Dimensi

12,080 views

Published on

takdir dan keadilan Tuhan

Published in: Education

7 Takdir Dimensi

  1. 1. Takdir Dan Dinamika Manusia Oleh: Lukman Hakim Pendahuluan Takdir merupakan salah satu dari rukun iman di mana setiap individu muslim wajib untuk mempercayainya. Menurut paham ahlussunnah Waljama’ah (ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah) percaya kepada takdir merupakan rukun iman yang keenam. Secara etimologis takdir berasal dari kata bahasa Arab taqdiran yang berarti “ketentuan”, adapun pengertian takdir yang paling mendasar sesungguhnya adalah ketentuan Ilahi yang tidak dapat kita lawan (Munawar Rahman: 2006: 3221). Artinya Allah S.W.T. telah memberikan ketentuan kepada manusia dan manusia harus menerima ketentuan itu baik hal itu merupakan ketentuan yang baik maupun ketentuan yang buruk. Untuk memberikan pengertian lebih mendalam, Nurcholish Madjid membagi pengertian takdir ke dalam tiga hal. Pertama, Takdir Allah. Pengertian takdir Allah di sini adalah bahwa konsep takdir selain berhubungan dan terkait dengan kehidupan manusia juga berlaku untuk alam dan kebendaan. Artinya, baik manusia maupun alam (seluruh makhluk ciptaan Allah selain manusia) memiliki ketentuannya masing-masing. Oleh karena itu, takdir Allah yang menyangkut tentang alam kebendaan serta hukum ketetapan Allah dalam Al-Qur’an diistilahkan sebagai takdir (takdir Allah; Arab taqdirullah), yang berarti “kepastian” dari Allah. Maka, sesuai dengan makna harfiahnya, takdir Allah digambarkan dalam al-Qur’an sebagai kepastian. Sebagai misal adalah perjalanan matahari menurut garis edarnya yang disertai penegasan bahwa tidak mungkin matahari bertemu atau bertabrakan dengan rembulan sebagaimana juga malam tidak akan mendahului siang. Semua itu disebut sebagai takdir dari Yang Mahamulia dan Mahatahu1. Selain itu, ada penegasan pula bahwa “Allah menciptakan segala sesuatu kemudian dipastikan (hukum-hukumnya) sepastinya” (Q., 25: 2). Berdasarkan tinjauan dari sudut keimanan atau ajaran agama, diketahuai bahwa hukum-hukum lingkungan hidup manusia, baik yang bersifat sosial-historis (sunnatullah) ataupun yang bersifat 1 . (Q., 36: 28-30) dan (Q., 21: 33).
  2. 2. alam kebendaan atau material (takdir Allah), tidaklah berdiri sendiri melainkan dibuat dan ditetapkan oleh Sang Maha Pencipta. Jadi, semuanya itu adalah hukum Allah, dan manusia diperintahkan untuk mempelajari, memahami, dan menggunakannya dalam menjalani dan menghadapi kehidupan ini. Hukum-hukum itu secara konvensional dapat disebut sebagai “hukum sosial-historis”dan “hukum alam”, namun sebatas dalam pengertian, berturut-turut, “hukum Allah untuk pola lingkungan sosial historis”dan “hukum Allah untuk pola lingkungan kebendaan”, dan sama sekali tidak dalam arti hukum-hukum yang berdiri sendiri atau ada dengan sendirinya dalam lingkungan masing-masing sosial-historis dan alam kebendaan itu. Dari sudut pandang itulah dapat dilihat adanya kemampuan melakukan tindakan supraalami dimungkinkan. Kemampuan itu merupakan “penangguhan” sementara hukum-hukum yang berlaku, yang penangguhan itu terjadi hanya atas kehendak Allah. Sebab Allah Yang Mahakuasa sebagai pembuat hukum itu pastilah mempunyai “hak prerogatif” untuk memberlakukan atau tidak memberlakukan hukum-hukum ketetapan-Nya sendiri, sesuai dengan keperluan. Tetapi karena sudah ada “janji” Allah sendiri bahwa hukum-hukum tersebut tidak mengalami perubahan atau peralihan, maka penangguhan itu adalah untuk suatu tujuan yang sangat khusus. Maka penangguhan itu menjadi bersifat “di atas alam”, “supra alami” (super natural), “menerobos kebiasaan” (khariq al adah). Namun itu semua merupakan keterangan keagamaan secara konvensional tentang tindakan supraalami. Kemungkinan keterangan lain menyangkut pengertian tentang “alami”, “natural”, “kebiasaan” atau “addah”. Seperti semua pengertian oleh manusia, pengertian-pengertian tersebut masih tetap mengandung kenisbian. Artinya, masih ada kemungkinan suatu gejala masih merupakan hal yang alami untuk seseorang, tapi tidak lagi untuk orang lain. Perkataan kita “heran” sudah menunjukkan kemungkinan itu, sebab perkataan itu kita pinjam dari perkataan Arab hiran atau hairan yang artinya “bingung”, tidak dapat mengerti. Adapun untuk perkataan Indonesia “takjub”, pinjaman dari perkataan Arab ta’ajjub, yang berarti “melihat sesuatu sebagai aneh atau ajaib”, menunjukkan hal yang sama. Yaitu, ada kenyataan-
  3. 3. kenyataan sosial historis maupun material yang membuat orang tidak dapat mengerti, dan karena itu memandangnya sebagai hal yang aneh. Letak kenisbian pengertian “aneh” atau “ajaib” itu sangat nyata, karena tidak semua orang melihat satu kenyataan atau gejala sebagai aneh atau ajaib. Ada dari mereka pribadi atau kelompok yang memang memandangnya aneh dan ajaib, sehingga mereka menjadi “heran”, alias bingung, tidak dapat mengerti. Tetapi juga ada yang melihatnya sebagai biasa saja, tidak ada yang aneh, dan tidak membuatnya heran. Hal itu dapat terjadi karena adanya perbedaan dalam tingkat pengetahuan dan pengalaman orang dari sudut pandang ini, maka suatu gejala yang oleh orang dipandang sebagai supraalami dan “melawan kebiasaan” mungkin saja bagi orang lain lagi merupakan hal biasa. Kemungkinan ini didukung oleh beberapa fakta baru dalam perkembangan ilmiah. Kedua, takdir dalam Al-Qur’an. Pengertian takdir dalam Al-Qur’an di sini dijelaskan bahwa sesungguhnya apa yang diajarkan oleh Islam bukanlah kehidupan duniawi dan ukhrawi yang dikotomis dalam arti terpisah dan bertentangan. Islam hanya mengajarkan bahwa antara keduanya itu berbeda. Adapun perbedaan itu merupakan kesinambungan atau kontinuitas karena keduanya dipertautkan dan dipersatukan dalam satu hukum ketentuan Tuhan yang mengatur lingkungan hidup duniawi ini serta pola kehidupan manusia itu sendiri secara tetap dan tidak berubah, yaitu hukum ketentuan Tuhan atau taqdir. Seperti diketahui, istilah takdir dalam Al-Qur’an berbeda dengan umumnya arti istilah itu dalam penggunaan kita sehari-hari – ialah hukum ketentuan yang telah ditetapkan Tuhan untuk mengatur pola perjalanan dan “tingkah laku”alam ciptaan-Nya, khususnya alam material. Secara spesifik Kitab Suci menyebutkan tentang taqdir pola perjalanan atau peredaran matahari2. Demikian pula ada takdir untuk pola perjalanan rembulan dan matahari, yang memungkinkan manusia menjadi keduanya itu sebagai dasar perhitungan waktu yang pasti3. Semantara matahari 2 . Dan matahari berlari(beredar) pada tempat yang telah ditetapkan: itulah taqdir (Tuhan) Yang Mahamulia dan Mahatau (Q., 36: 38). 3 . (Allah) yang memisahkan (menerbitkan) pagi hari, dan Dia jadikan malam sebagai saat ketenangan, serta matahari dan rembulan sebagai perhitungan itulah hukum ketentuan (taqdir) Tuhan yang Mahamulia dan Mahatau (Q., 6: 96).
  4. 4. dan rembulan yaitu dua benda langit yang paling tampak pada manusia dan paling banyak memengaruhi kehidupannya di bumi ini – secara khusus disebutkan sebagai berjalan menurut hukum ketentuan atau taqdir Tuhan yang pasti, namun sesungguhnya hukum ketentuan itu meliputi seluruh ciptaan Allah tanpa kecuali4. Dengan perkataan lain, lingkungan material di sekeliling manusia dan terkait erat dengan kehidupannya di dunia ini berjalan mengikuti hukum-hukum ketentuan yang pasti dari Tuhan Maha Pencipta. Hukum-hukum ketentuan itu tidak lain adalah padanan atau ekuivalensi dengan istilah sehari-hari, “hukum alam”. Maka sudah tentu untuk mendapatkan sukses dalam kehidupan duniawi ini manusia dituntut untuk memahami hukum ketentuan Allah bagi lingkungan sekelilingnya, yaitu alam. Sebab, memang alam ini diciptakan Allah untuk kepentingan hidup manusia, dan manusia pasti dapat menarik manfaat darinya jika mereka mau berpikir dan berusaha memahaminya5. Ketiga, takdir dalam Teologi. Pengertian takdir dalam teologi berbeda pengertiannya dengan pengertian atau istilah takdir dalam Al-Qur’an. Perkataan seperti, “ini sudah ditakdirkan oleh Tuhan”, itu merupakan istilah teologi. Al-Qur’an tidak menggunakan perkataan takdir dengan konotasi itu. Bagi pihak yang mendukung paham takdir, rujukannya adalah firman Allah, Setiap ada musibah terjadi di bumi dan dalam dirimu, sudah tercatat sebelum Kami mewujudkannya, Sungguh itu bagi Allah mudah sekali (Q., 57: 22). Sampai disinilah, banyak kalangan ulama dan mubaligh mengutip ayat itu, tetapi ayat seterusnya jarang mereka kutip, yaitu Agar kamu tidak berduka cita atas apa yang sudah hilang, dan merasa bangga atas apa yang diberikan (Q.,57: 23). Itulah sebetulnya kegunaan paham takdir. Kalau diperhatikan, itu sebenarnya masalah psikologis tujuannya adalah agar manusia bersikap “seimbang” atau tidak terlalu ekstrem (terlalu sedih karena menerima musibah, atau terlalu sombong karena menerima kesuksesan), karena 4 . ... Dia menciptakan segala sesuatu dan Dia tetapkan ketentuannya sepenuh-penuh ketentuan (taqdiran) (Q., 25:2). Dan segala sesuatu bagi-Nya adalah dengan hukum ketentuan yang pasti (miqdar) (Q., 13: 8). 5 . Dan Dia (Allah) telah sediakan bagi kamu segala sesuatu yang ada di seluruh langit dan segala sesuatu yang ada di bumi – semuanya sebagai karunia daripada – Nya. Sesungguhnya dalam hal itu semua ada ayat-ayat (tanda-tanda) bagi golongan yang berpikir (Q., 45: 13).
  5. 5. semuanya dikembalikan kepada Allah. Itulah yang membuat orang sehat secara ruhani (secara psikologis). Kalau dilihat konteksnya, maka hal yang harus dihadapi sebagai takdir itu adalah yang lampau sedangkan yang akan datang tidak bisa dibicarakan sebagai takdir. Seseorang tidak bisa mengatakan misalnya, besok dia ditakdirkan untuk tidak datang ke kantor. Terhadap masa depan, tatapan itu harus dalam rangka ikhtiar. Ikhtiar itu sendiri dilihat dari segi bahasa cukup menarik. Ia berasal dari kata khairun (baik), sehingga ikhtiar berarti menentukan pilihan yang terbaik. Asumsinya ialah ada alternatif, bahwa seseorang mengetahui seluruh alternatifnya untuk kemudian dia pilih yang terbaik. Itulah ikhtiar. Di situ ada act of choice atau tindakan memilih, yang berarti bebas, karena memang masa depan masih terbuka dan masa lalu sudah tertutup atau, katakanlah tutup buku. Hal terakhir inilah yang harus dihadapi sebagai takdir. Sekali lagi perkataan takdir seperti ini sesungguhnya tidak ada dalam Al-Qur’an, melainkan dalam teologi ciptaan para ulama dan para pemikir. Persoalan keagamaan yang mula-mula muncul adalah persoalan pembunuhan ‘Utsman: mengapa ‘Utsman dibunuh?. Mereka yang membunuh ‘Utsman mengatakan bahwa dia telah melakukan kejahatan sebagai seorang khalifah, yang antara lain melakukan nepotisme. Ketika digugat, apakah ‘Utsman telah ditakdirkan Tuhan untuk melakukan itu?, tentu saja tidak. Ia melakukannya dengan pilihan sendiri, dan karena itu, dia harus bertanggung jawab. Orang yang membunuh ‘Utsman itu menjadi qadari (qadar di sini berarti mampu, sehingga qadari adalah orang yang berpendapat bahwa manusia itu mampu menentukan nasibnya sendiri). Keluarga ‘Utsman, terutama yang kemudian berkuasa di Damaskus, yaitu Bani Umayyah, berlindung di balik argumen bahwa tindakan ‘Utsman semuanya sudah ditakdirkan oleh Tuhan. Artinya, kalau mereka melakukan kejahatan (sebagai penguasa), maka semua kejahatan itu adalah takdir Tuhan. Hal ini menjadi dasar dari sikap-sikap despotisme atau jabbarisme (jabarun dari bahasa Arab, artinya terpaksa). Salah satu sifat Allah adalah al-jabbar, artinya memaksa. Kalau orang menganut jabariah, berarti ia menganut paham bahwa manusia itu terpaksa. Namun, hal ini jelas pilihan ekstrem bahwa seolah-olah hanya ada dua paham: Jabariah atau Qadariah.
  6. 6. Ada bahasan menarik dalam buku Marxis Philosophy. Di situ digabungkan antara konsep keharusan sejarah (historical neccesity) dan kebebasan manusia (human freedom). Konsep keharusan sejarah itu mirip dengan konsep Jabariah. Konsep history materialism mengatakan bahwa “manusia itu ditakdirkan untuk menjadi komunis.” Proses sejarah, menurut konsep ini, akan berlangsung demikian. Hanya saja, ternyata banyak sekali anomali. Buktinya, kalau menurut urutan-urutan historisme materialisme itu, mestinya Inggris, bukan Uni Soviet, yang lebih dulu menjadi komunis, tetapi ternyata Uni Sovietlah yang lebih dulu. Itu jelas anomali. Kemudian Lennin menambahkan satu doktrin mengenai petani, yaitu sosialisme oleh petani (kalau Marx itu sosialisme buruh). Bagaimanapun juga, di situ ada predeterminisme historis yang mirip Jabariah. Orang komunis mengatakan bahwa manusia ditakdirkan untuk menjadi komunis. Pertanyaannya, mengapa harus menjadi komunis (anggota PKI, misalnya) dan menanggung risiko untuk dibunuh (dan kenyataannya memang benar-benar dibunuh)? Mereka pun menjawab, karena ada peranan manusia yang harus ambil bagian untuk menciptakan negara komunis. Berdasarkan seberapa jauh orang mengambil peran, maka manusia dibagi menjadi jahat dan baik, revolusioner dan kontra-revolusioner. Semua agama (seperti Islam) pun sebenarnya begitu: yang cocok untuk diri sendiri disebut saleh, mukmin, muslim; dan yang tidak cocok disebut kafir. Begitu pula orang-orang komunis: yang cocok disebut revolusioner, yang tidak cocok kontra-revolusioner. Di sini, ada human freedom (kebebasan manusia). Lantas, untuk apa teori mengenai keharusan sejarah itu. Ini menarik sekali. Namun, penulis buku Marxis Philoshopy sendiri pun tidak bisa menjelaskannya karena memang sulit sekali. Kembali ke pembahasan, bahwa takdir yang dipahami masyarakat itu takdir teologi, bukan takdir Al-Qur’an. Takdir Al-Qur’an seperti dalam surat Yasin (dan juga ditempat-tempat lain dalam Al- Qur’an) dalam bahasa sekarang kira-kira adalah hukum alam kebendaan, yang bila dipelajari dan dikuasai, akan menghasilkan ilmu pasti (exact sciences). Hukum alam kebendaan ini mudah sekali dikuantifikasi, sehingga peran matematika, statistika, dan sebagainya sangat penting. Lain
  7. 7. halnya dengan ilmu sosial. Karena menyangkut sunnatullah yang fluid, yang cair dan tidak menentu, ilmu sosial sulit sekali dikuantifikasi, sehingga pendekatannya harus kualitatif, tempat peranan insight, peranan yang mirip ilham atau wangsit itu kadang-kadang bisa terjadi karena tidak bisa diperhitungkan. Kiai-kiai pun menjadi penting, karena pada umumnya kekuatan mereka bukan kekuatan kuantitatif empirikal, tetapi insight, semacam kemampuan mencandra sesuatu (weruh seduruning winarah) mengetahui sesuatu sebelum sesuatu itu terjadi. Selain itu pengertian takdir identik dengan pengertian konsep qadla dan qadar. Adapun pengertian qadla adalah ketentuan dan pengertian qadar adalah jangka yang telah ditentukan (Hamka: 1996: 332). Artinya, baik istilah takdir maupun istilah qadla dan qadar memiliki pengertian yang sama khususnya pengertian ketentuan yang terkait dengan ketentuan hidup manusia. Pengertian tentang takdir ini semakin dinamis tatkala konsep takdir itu bersentuhan langsung dalam realitas kehidupan manusia. Hal ini karena dalam realitas hidup manusia baik secara sadar atau tidak sadar mengalami langsung peristiwa yang disebut sebagai “takdir” Allah itu. Oleh sebab itu, konsep takdir kemudian memiliki korelasi langsung dengan konsep ikhtiar dan konsep tawakal. senantiasa berhubungan bahkan lekat dengan praktik kehidupan sehari-hari seorang muslim. Keterkaitan itu nyata tampak tatkala konsep takdir itu bersinggungan dengan konsep ikhtiar (usaha). Manusia sebagai makhluk yang oleh Allah S.W.T. diberi otonomi berupa kebebasan untuk menentukan segala hal atau pilihan yang terkait dengan hidupnya namun di sisi lain Allah S.W.T. menetapkan ketentuan-ketentuan kepada manusia. Ketentuan-ketentuan Allah itulah yang tidak dapat dilawan atau diubah oleh manusia dan manusia harus rela dan pasrah untuk menerima ketentuan-ketentuan itu. Takdir dan Sunnatullah Selain ada hukum ketentuan Allah dalam pengertian takdir yang mengatur lingkungan material hidup manusia, terdapat pula hukum ketentuan lain dari Allah dalam pengertian sunnatullah (Arab: sunnatullah), yang mengatur lingkungan sosial hidup manusia (Munawar Rahman: 2006;
  8. 8. 3167). Oleh kerena itu, konsep takdir juga terkait dengan konsep sunnatullah. Di mana pengertian sunnatullah sendiri adalah ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah dan Allah juga telah menetapkan hukum-hukumNya. Oleh karena itu, Allah tidak pernah manyalahi janjiNya dan Allah telah menetapkan sunnatullah di muka bumi dan seluruh jagat raya yang harus kita perhatikan. Oleh sebab itulah, kita diperintahkan oleh Allah untuk memerhatikan jagat raya6. Bahkan terhadap apa yang ada disekitar kita pun Allah memerintahkan agar kita mencermati dan memerhatikan7. Selain itu, kita juga harus memerhatikan sejarah. Banyak sekali firman Allah dalam Al-Qur’an yang memerintahkan kita untuk belajar dari sejarah8. Kepentingan mempelajari sejarah adalah supaya kita dapat memetik pelajaran. Di sini kita melihat adanya sunnatullah, bahwa hukum- hukum Allah berjalan secara objektif, artinya tidak tergantung pada kita dan tidak akan berubah (immutable)9 (Munawar Rahman: 2006: 3162). Nurcholish Madjid mengulas soal sunnatullah dan sejarah ini dan menjelaskanny secara luas. Menurut Nurcholish Madjid, huruf yang diwariskan kepada kita sekarang ini ialah huruf Nabathea yang diciptakan oleh orang Arab Nabathea. Huruf itulah yang kemudian menular kepada bangsa Punesia (sekarang ada di Lebanon). Huruf Latin pun sebenarnya juga berasal dari tempat itu, sehingga terdapat kemiripan- kemiripan seperti huruf; “alif, ba, ta” mirip dengan huruf; “al fa be ta”. Huruf “dal” itu sebanarnya gambar “delta”. Selanjutnya ada huruf “gama” dan “djim”, yang oleh orang Mesir dibaca “gim”. Padanan-padanan tersebut penting sekali, sehingga diketahui secara runtun perkembangan dari peradaban yang sekarang ini diwarisi. Secara spiritual ini merupakan pelajaran agar orang bersyukur kepada Allah S.W.T., bahwa semua yang diwarisi sekarang ini adalah akumulasi pengalaman manusia ribuan tahun. Tetapi yang negatif pun banyak sekali. Misalnya, pada 1298 M terjadi peristiwa yang menurut para orientalis membuat shock umat Islam, yang sampai 6 . Katakanlah,”perhatikan apa yang ada di langit dan di bumi” (Q., 10: 101). 7 . Tidaklah mereka memerhatikan unta, bagaimana diciptakan? (Q., 88: 17). 8 . Katakanlah, “jelajahilah bumi ini kemudian lihatlah bagaimana akibat orang yang mendustakan (kebenaran)” (Q., 6: 11). 9 . Dalam Al-Qur’an dijelaskan, . . . tidak akan kau dapatkan perubahan pada hukum Allah (Q., 33: 62).
  9. 9. sekarang belum sembuh, yaitu jatuhnya Bagdad ke tangan bangsa Mongol. Bagdad yang merupakan ibu kota ke khalifahan Harun Al-Rasyid itu dihancurkan sampai rata dengan tanah, bukan hanya menyangkut bangunan pemerintahan tetapi yang lebih mengenaskan adalah perpustakaan ilmu pengetahuan, yang semua isinya dibakar dan dibuang ke sungai. Tidak selembar pun yang tersisa. Padahal kalau kita baca kisah 1001 Malam akan terbayang bagaimana kebesaran Bagdad waktu itu. Damaskus saja yang kekuasaannya sekitar seratusan tahun bisa meninggalkan bekas-bekas yang luar biasa seperti Masjid Umawi atau Masjid Al-Aqsa yang arsitekturnya sangat agung, apalagi Bagdad yang waktu itu merupakan “kota metropolis” terbesar di muka bumi. Untunglah Kairo tidak terjangkau oleh mereka, sebab Kairo pada waktu itu memang kota propinsi yang kecil. Alhamdulilah bahwa di Perpustakaan Nasional Kairo sampai sekarang masih banyak tersimpan buku-buku ilmu pengetahuan yang sangat berharga. Artinya, dari gambaran itu bisa dibayangkan kalau seandainya Bagdad waktu itu selamat, tentu akan sangat luar biasa sekali pengaruhnya. Orang-orang Mongol itu memang betul-betul sadis, mereka membunuh jutaan orang dan memiliki kegemaran membangun piramida dari tengkorak umat Islam. Semua itu sejarah. Dan orang Barat sendiri mencatat seperti itu. Philip K. Hitti, misalnya, mengatakan bahwa shock yang ditimbulkan oleh peristiwa itu sampai sekarang masih belum sembuh. Kerugian dari segi ilmu pengetahuan pun tidak kurang-kurang. Misalnya, kitab-kitab lama yang berhasil dicetak kembali masih sedikit sekali. Di Princeston masih ada sekitar 1 juta naskah klasik umat Islam yang sama sekali belum dijamah. Yang sekarang sudah diterbitkan dengan teknologi mutakhir baru beberapa puluh ribu saja. Pertanyaannya sekarang ialah, mengapa Baghdad jatuh? Atau kalau mau didramatisasi dari segi keagamaan, mengapa khazanah dan peradaban milik orang-orang Islam (penganut agama yang paling benar di hari akhir, agama yang diridlai Allah S.W.T.) hancur lebur? Apakah Tuhan tidak memberi dispensasi kepada umat-Nya yang diridlai? Di sinilah, orang harus kembali ke masalah sunnatullah. Penting memahami sunnatullah sebagai bukti yang objektif dan immutable (abadi).
  10. 10. Objektif maksudnya tidak tergantung pada keinginan kita (yang subjektif). Immutable artinya tidak berubah oleh kita. Semuanya berjalan secara objektif. Sunnatullah yang objektif dan immutable itu bisa dikiaskan dengan hukum alam mengenai api. Api itu membakar atau tidak tergantung kepada kita. Siapa pun yang memasukkan tangan kedalam api pasti terbakar, tidak peduli apakah dia orang saleh atau orang jahat. Hukum alam atau sunnatullah pun seperti itu: kalau orang tidak memerhatikannya, pasti diterjang oleh hukum itu. Selain itu, sunnatullah yang objektif ini atau istilah lainnya hukum alam merupakan konsep yang paling banyak disebutkan dalam Al-Qur’an. Istilah Al-Qur’an untuk membahasakan sunnatullah atau hukum alam itu adalah hukum keadilan (Munawar Rahman: 2006; 3165). Masyarakat akan tegak kalau bersikap adil dan akan hancur kalau sebaliknya10. Selain itu Allah dalam Al-Qur’an juga memperingatkan kepada manusia untuk berlaku adil pada siapa pun11. Oleh sebab itu, tidak salah jika Ibn Taimiyah mengutip Ali bin Abi Thalib yang mengatakan mengenai keadilan sebagai berikut, “sesungguhnya Allah akan meneguhkan, akan mendukung negara yang adil meskipun kafir, dan Allah tidak akan menegakkan negara yang zalim meskipun Islam. “ Ini merupakan contoh dari sunnatullah yang objektif dan immutable. Dan itu harus dipelajari melalui sejarah. Tanpa memahami sunnatullah yang ada dalam sejarah, mustahil akan dimengerti mengapa umat Islam bisa sengsara, mengapa selama tiga abad terakhir umat Islam menjadi bulan-bulanan bangsa lain. Semua itu lebih karena mereka tidak menjalani sunnatullah. Sunnatullah itu dapat dilihat dalam sejarah, sehingga apa yang disebut “menjalankan hukum Allah” tidak hanya menjalankan hukum dalam arti hukum-hukum yang dipelajari dalam buku, tetapi memahami apa hukum yang beroperasi di alam raya ini. Kalau orang membuat irigasi, daerah hulunya lebih tinggi daripada hilirnya sehingga air bisa mengalir, itu sebenarnya menjalankan hukum Allah. Namun sebaliknya, kalau hulunya lebih rendah daripada hilirnya, tentu ini tidak akan mengalir, sebab menyalahi sunnatullah, menentang hukum Allah. 10 . Allah memerintahkan berbuat adil, mengerjakan amal kebaikan (Q., 16: 90). 11 . Janganlah kebencian orang kepadamu membuat kamu berlaku tidak adil. Berlakulah adil. Itu lebih dekat kepada takwa (Q., 5: 8).
  11. 11. Demikian juga dalam soal sejarah yang notabene tidak bersifat eksak, meski ada sesuatu yang bisa dipegang. Karena itu, dalam hal ini orang Islam harus mengikuti sejarah, yaitu bisa bekerja sama dengan bangsa lain. Di situlah, mengapa dulu orang Islam belajar dari mana-mana. Selain itu, memahami sunnatullah dalam sejarah kiranya menjadikan manusia dapat mengetahui hakikat dirinya melalui dinamika historisitasnya dalam ruang dan waktu. Sebab melalui sejarah pula manusia harus berjuang membebaskan dirinya untuk meningkatkan harkat dan martabat hidupnya, dengan usaha mewujudkan kualitas hidupnya untuk menuju ke tingkat yang sedekat mungkin dengan ukuran-ukuran tertinggi moralitas dan akhlak. Manusia dan Kebebasan Dalam pandangan Islam manusia merupakan puncak ciptaan Tuhan12. Maksudnya adalah hanya manusia makhluk yang paling sempurna di antara semua makhluk ciptaan Tuhan. Oleh karena itu secara hierarkis hanya manusia yang paling bisa mendekati Tuhan. Akan tetapi, Allah juga menyebutkan kebalikannya bahwa manusia juga bisa menjadi makhluk yang paling rendah. Bahkan dapat lebih rendah dari binatang13. Namun manusia tetap dapat menempati posisi terhormatnya sebagai makhluk terbaik apabila dia beriman dan beramal saleh14. Hal ini karena secara primordial, sejak manusia sebelum lahir, manusia adalah baik (ahsan al-taqwim). Di samping itu, manusia menurut Al-Qur’an terikat perjanjian dengan Tuhan (sebelum lahir), yaitu manusia akan mengakui Tuhan sebagai pelindungnya. Di mana perwujudannya kelak adalah sikap menyembah kepada Tuhan dan berakhlak baik (Munawar Rachman: 2006; 1817). Manusia selain disebut sebagai makhluk tertinggi, oleh Al-Qur’an manusia juga disebut sebagai khalifah. Penciptaan manusia sebagai makhluk yang tertinggi ini sesuai dengan maksud dan tujuannya menjadi khalifah (secara harfiah berarti “yang mengikuti dari belakang”, yaitu, “wakil” atau “pengganti”) di bumi, dengan tugas menjalankan “mandat” yang diberikan Allah 12 . Dalam surat Al-Tin dikatakan, “Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang terbaik” (Q., 95: 4). 13 . Kemudian Kami jatuhkan dia serendah-rendahnya (Q., 95: 5). 14 . Dalam Al-Qur’an disebutkan “Kecuali mereka yang beriman dan mengerjakan amal kebaikan” (Q., 95: 6).
  12. 12. kepadanya untuk membangun dunia ini sebaik-baiknya15. Oleh karena itu, sebagai khalifah, manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas tugasnya di dalam menjalankan “mandat” dari Tuhan16. Sebagai makhluk tertinggi dan sebagai khalifah Tuhan di bumi manusia oleh Allah dibekali beberapa kelebihan dan potensi. Salah satu kelebihan dan potensi yang diberikan Allah kepada manusia diantaranya adalah “kebebasan” atau “otonomi”. Kebebasan atau otonomi ini merupakan dimensi di mana manusia sebagai makhluk yang akan memberikan pertanggungjawaban atas apa yang telah dikerjakannya sebagai khalifah. Oleh karena itu, manusia dapat menampilkan dirinya sebagai makhluk moral. Sebagai makhluk moral, manusia memiliki potensi untuk menentukan pilihan apa dan mana yang terbaik untuk dirinya dan apa yang diridloi oleh Tuhan. Agar manusia dapat terus memiliki kebebasan dan otonomi itu, manusia harus senantiasa membebaskan dirinya dari pelbagai belenggu yang memungkinkan menjadi penghalang baginya di dalam memilih dengan bebas jalan dan kegiatan hidup yang diyakininya terbaik, yaitu paling bermoral dan bertanggungjawab17. Karena itu, kemusyrikan atau perbuatan menyekutukan Tuhan merupakan larangan keras Allah yang wajib dihindari oleh manusia. Sebab apabila itu dilanggar oleh manusia, sudah pasti hal itu akan menjatuhkan derajat manusia dan kemanusiaan sebagai makhluk tertinggi dan sebagai khalifah. Manusia tidak pantas tunduk pada apa pun selain tunduk dan patuh pada sang Khaliq. Kebebasan dan otonomi itu tentu dapat diperoleh manusia apabila manusia dengan seksama memperhatikan peraturan tetap (sunnah) dan ketentuan pasti (taqdir dalam makna generiknya) yang diberlakukan oleh Tuhan untuk seluruh alam ciptaan-Nya. Dengan pembebasan diri 15 . Ingatlah ketika Tuhanmu bersabda kepada para malaikat, “Sesungguhnya kami mengangkat seorang khalifah di bumi . . .” (Q., 2: 30); Dan Dialah (Tuhan) yang menjadikan kamu sekalian khalifah-khalifah bumi, dan mengangkat sebagian dari kamu di atas sebagian lain beberapa derajat, agar supaya Dia menguji kamu berkenaan dengan sesuatu (kelebihan) yang dikaruniakan-Nya kepadamu itu . . . (Q., 6: 165). 16 . Kemudian Kami jadikan kamu sekalian khalifah-khalifah di bumi sesudah mereka yang lalu itu, agar dapat Kami saksikan bagaimana kamu sekalian bekerja (Q., 10: 14). 17 . (Q., 39: 17-18).
  13. 13. manusia dari bentuk-bentuk pembelengguan sewenang-wenang (dari tuhan-tuhan palsu) itu, dan bersamaan dengan itu pengarahan hidup hanya kepada Dzat Mutlak yang tak terjangkau dan tak terhingga, maka alam tersingkap dari kualitas mitologisnya, dan menjadi terbuka bagi manusia untuk dipahami sedekat mungkin kepada kebenaran. Kemudian dalam konteks hukum-hukum alam yang dipahaminya itu manusia memilih jalan hidupnya yang penuh tanggung jawab. Dengan kata lain mengutip pendapat Muhammad Abduh bahwa eksistensi kebebasan manusia senantiasa berada antara kemauan (iradat) Allah dengan kebebasan untuk melakukan ikhtiar (Muhammad Abduh: 1996; 48). Manusia dan Keterbatasan Selain manusia memiliki kebebasan manusia harus pula senantiasa ingat akan dimensi keterbatasan yang ada dan lekat dengannya. Hal ini karena kebebasan yang dimiliki oleh manusia sebatas dalam lingkup kodrat dan iradat Tuhan (Hamka: 1996; 337). Ini artinya adalah bahwa bagaimana pun bebasnya manusia, kebebasan dan otonominya senantiasa berada dalam dimensi takdir (ketentuan Allah) dan dimensi sunnatullah (hukum Allah). Walau manusia memiliki keterbatasan Allah senantiasa memberikan harapan. Dengan mengacu pada iman kepada Allah di sana Allah melukiskan diri sebagai al-shamad (tempat menggantungkan harapan). Bila manusia lupa kepada Allah, maka salah satu akibat yang akan ditanggungnya adalah hilangnya harapan, dan hal ini akan menyebabkan hidupnya sengsara. Jadi, harapan di sini adalah bagian dari iman; dan putus harapan adalah bagian dari kekafiran18. Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa manusia yang utuh, manusia yang integral, adalah manusia yang sanggup membina hubungan dengan Allah. Apabila dicermati, masalah keterbatasan manusia dan dianugerahkannya “peluang” oleh Allah kepada manusia terkait erat dengan persoalan takdir. Percaya kepada takdir atau qadla dan qadar ini bagi manusia adalah terkait dengan masa lampau yang telah tertutup. Adapun yang terkait dengan masa depan yang masih bersifat terbuka, keterkaitannya bukan dengan qadla-qadar, melainkan terkait dengan kewajiban untuk berikhtiar. Pertanyaannya sekarang adalah mengapa untuk masa lampau (sesuatu yang sudah terjadi) manusia harus percaya kepada qadla dan qadar? 18 . Allah mengingatkan kita dengan firmannya “Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah, tak ada orang yang berputus asa dari rahmat Allah kecuali golongan orang tak beriman (Q., 12: 87).
  14. 14. Sikap pasrah, ikhlas, dan percaya terhadap qadla dan qadar itu penting karena untuk kepentingan manusia sendiri yaitu untuk menjaga kesehatan ruhani dan mental manusia19. Jadi ada predestination20. Pengetahuan manusia memang terbatas sebab Tuhan memiliki rahasia. Namun yang terpenting bagi manusia adalah berusaha memahami mengapa Allah membuat ketetapan yang pasti bahkan mutlak bagi manusia dan alam21. Maksudnya adalah, jika manusia gagal manusia tidak boleh berputus asa, dan apabila berhasil manusia tidak boleh sombong. Dari sini, manusia diharapkan menjadi manusia yang seimbang. Hal ini sangat penting bagi kesehatan manusia. Oleh karena itu, di dalam mengimani qadla dan qadar, tersangkut pula harapan kepada Tuhan. Selain keterbatasan, manusia juga memiliki kelemahan. Tentang kelemahan yang dimiliki oleh manusia ini, Nurcholish Madjid berpendapat bahwa kelemahan merupakan aspek sekunder manusia, di mana manusia dapat berbuat salah (Munawar Rachman: 2006; 1832)22. Nurcholish Madjid selanjutnya menyatakan bahwa kelemahan manusia yang penting dan harus disadari serta diingat adalah halu, mudah terpengaruh; di mana indikasinya adalah tidak tahan menderita (Munawar Rachman: 2006; 1832)23. Potensi sekunder lainnya adalah miotik, yaitu berpandangan pendek24. Hal ini menunjukkan betapa manusia lebih menyukai kepada hal-hal yang bersifat segera dan melupakan kepentingan yang bersifat jangka panjang (dikemudian hari). Pandangan ajaran tentang manusia yang tidak 19 . Secara tegas Allah berfirman, “Setiap ada musibah terjadi di bumi dan dalam dirimu, sudah tercatat sebelum Kami mewujudkannya (Q., 57: 22). 20 . Selanjutnya ayat dalam Q., 57: 22 itu menjawab dan melanjutkan, “Sungguh itu bagi Allah mudah sekali” (Q., 57: 22). 21 . Dalam Al-Qur’an Allah berfirman, “Agar kamu tidak berduka cita atas apa yang sudah hilang, dan merasa bangga atas apa yang diberikan” (Q., 57: 23). 22 . Disebutkan di dalam Al-Qur’an, “Manusia diciptakan dalam kodrat yang lemah” (Q., 4: 28). 23 . Bila ditimpa bahaya berkeluh kesah. Dan bila kekayaan yang diterimanya kikir (“sombong” – Nurcholis Madjid) (Q., 70: 20-21). 24 . Terkait dengan pandangan pendek ini manusia juga lekat dengan sikap gegabah, oleh karena itu Allah di dalam Al-Qur’an mengingatkan, “Tidak! (kamu manusia) menginginkan hidup yang fana, dan membiarkan hari kemudian (Q., 75: 20-21).
  15. 15. boleh mudah tergoda sesungguhnya merupakan ajaran universal yang terdapat dalam setiap budaya dan agama. Gampang tergoda berarti lebih tertarik kepada hal yang bersifat jangka pendek dan sesaat dan melupakan hal yang bersifat jangka panjang yang jauh lebih prospektif dan abadi. Oleh sebab itu, pepatah Melayu mengatakan berakit-rakit ke hulu berenang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Melihat potensi manusia yang mudah tergoda itu selanjutnya Nabi berpesan, “setiap manusia itu pembikin kesalahan, dan sebaik kamu yang berbuat kesalahan ialah kamu yang bertobat”. Kesalahan yang dimaksud di dalam hadits itu adalah alpa, sehingga tidak berarti manusia itu pada dasarnya jahat. Jadi potensi untuk salah, karena akibat dari sesuatu yang berada di luar manusia, dan hal itu merupakan potensi sekunder. Adapun potensi primer manusia adalah kebaikan, sebab kebaikan merupakan sesuatu yang datang dari dinamika internal diri manusia. Ikhtiar dan Harapan Secara etimologis ikhtiar berasal dari kata khayrun. Di sini kata tersebut telah ditempatkan sebagai bentuk kata kerja, yang berarti memilih kemungkinan yang terbaik (Munawar Rahman: 2006: 987). Secara konseptual ikhtiar artinya memilih, yakni memilih diantara pelbagai kemungkinan yang tersedia di depan kita. Makna ikhtiar selanjutnya memiliki implikasi terhadap perbuatan (amal) yang dilakukan oleh manusia. Jadi manusia tidak sekedar menjatuhkan pilihan atas apa yang dikehendakinya. Melainkan apa yang telah menjadi pilihannya itu selanjutnya termanifestasikan kedalam bentuk perbuatan dan tindakan. Perbuatan dan tindakan yang dilakukan oleh manusia itu merupakan upaya untuk mengungkap rahasia ilahi guna memprediksi apa yang terbaik untuk manusia. Oleh sebab itu, manusia oleh Allah senantiasa diperintahkan untuk mencari dan mengambil hikmah (kebajikan) atas apa yang telah diperbuat. Maka dari itu, walaupun Allah memberikan kebebasan kepada manusia di dalam menentukan pilihan dan di dalam melakukan perbuatan, Allah senantiasa mengingatkan kepada manusia untuk melakukan perbuatan yang baik yang diridlai olehNya.
  16. 16. Menurut konsep Islam untuk menyebut perbuatan yang baik adalah amal shalih yaitu amal yang diridlai oleh Allah dan di dalam mengerjakannya manusia tidak boleh menyalahi atau melanggar ketentuan-ketentuan Allah. Kesesuaian manusia di dalam menjalani perintah dan menjauhi larangan Allah itu merupakan syari’ah (jalan) guna mencapai ridla-Nya. Guna menjalankan fungsi kekhalifahannya manusia oleh Allah diberi beberapa potensi dan kelebihan yang diantaranya adalah akal. Dengan akal manusia dapat menggunakan daya pikirnya untuk menentukan pilihan. Dan dengan pertimbangan akalnya itu manusia dapat mempertimbangkan konsekuensi atas perbuatan yang telah dilakukan (Nasution: 2006; 65). Ikhtiar, perbuatan, dan tanggung jawab merupakan rangkaian dinamika proses manusia di dalam menjalani kebebasan pilihannnya. Atas apa yang telah diperbuat oleh manusia, manusia selanjutnya hanya dapat memasrahkan hasil ikhtiarnya itu kepada Allah. Di sinilah Allah senantiasa memberikan harapan kepada manusia. Barang siapa berbuat kebajikan dengan sungguh-sungguh dan sesuai dengan jalan dan ketentuan Allah niscaya apa yang diharapkan oleh manusia selain oleh Allah diridlai tentu peluang untuk dikabulkan semakin besar. Oleh sebab itu, konsep ikhtiar ini selanjutnya dilengkapi oleh konsep tawakal. Tawakal artinya bersandar atau memercayai diri. Dalam Islam, tawakal berarti sikap bersandar dan memercayakan diri kepada Allah. Oleh sebab itu, tawakal merupakan implikasi langsung dari iman. Selanjutnya Nabi bersabda, “Kalau kamu tidak mau untamu hilang, maka tambatkanlah ke suatu pohon, kemudian bertawakallah kepada Tuhan” (Munawar Rachman: 2006; 987). Hadits Nabi tersebut berarti mengingatkan kita bahwa manusia haruslah berusaha terlebih dahulu baru kemudian bertawakal dan berserah atas apa yang telah kita kerjakan. Nabi juga melarang kepada kita apabila kita belum berbuat namun kita sudah pasrah dan menyerah. Oleh karena itu, sikap atau paham fatalisme pasrah tanpa diiringi dengan usaha dan perbuatan sangat bertentangan dengan prinsip agama Islam. Tawakal dan Iman Secara etimologis, “tawakal“ atau dengan ejaan dan vokalisasi bahasa Arab tawakkul yang berarti bersandar atau memercayai diri (Munawar Rahman: 2006: 3346). Dalam Islam, tawakal
  17. 17. berarti sikap bersandar dan memercayakan diri kepada Allah S.W.T. Oleh karena konsep tawakal mengandung makna “memercayakan diri“, maka tawakal merupakan implikasi langsung dari iman. Pengertian iman di sini tidak sekedar “percaya akan adanya“ Tuhan, melainkan lebih bermakna kepada “memercayai“ atau “menaruh kepercayaan“ kepada Allah S.W.T. Maka tidak ada tawakal tanpa iman, dan tidak ada iman tanpa tawakal25. Pengertian lain tawakal adalah bukan merupakan sikap pasif yang bersemangat untuk melarikan diri dari kenyataan (eskapis). Akan tetapi tawakal yang dimaksud oleh ajaran Islam adalah sikap aktif yang tumbuh dari pribadi yang memahami dan menerima kenyataan hidup dengan tepat. Hal ini karena pangkal tawakal itu berasal dari kesadaran diri bahwa perjalanan pengalaman manusia secara keseluruhan dalam sejarah untuk tidak mengatakan perjalanan pengalaman perorangan dalam kehidupan diri pribadi tidak akan cukup untuk menemukan hakikat hidup. Sebagian besar dari hakikat itu tetap merupakan rahasia Ilahi yang tidak ada jalan bagi makhluk untuk menguasainya. Kesadaran yang serupa dengan hal itu tidak sekedar merupakan suatu “realisme metafisis“, melainkan juga memerlukan keberanian moral, karena memiliki nilai aktif. Keberanian moral yang dimaksudkan di sini adalah keberanian moral untuk menginsafi dan mengakui keterbatasan diri sendiri setelah melakukan usaha optimal, dan siap menerima kenyataan bahwa tidak semua persoalan dapat dikuasai dan diatasi tanpa bantuan (inayah) Allah S.W.T. Pengakuan ini terkandung dalam ungkapan, La haula wa la quwwata illa billahi al-aliyy al-azhim (Tidak ada daya dan tidak pula ada kekuatan kecuali dengan [bantuan, ’inayah ] Allah Yang Mahatinggi dan Mahabesar). Dalam Al-Qur’an, seruan kepada manusia untuk bertawakal kepada Allah itu dikaitkan dengan berbagai ajaran dan nilai. Pertama, konsep tawakal dikaitkan dengan sikap percaya (iman) kepada Allah dan pasrah (islam) kepada-Nya. Kedua, sikap tawakal kepada Allah diperlukan 25 . Di dalam Al-Qur’an Allah S.W.T. berfirman: . . . Dan kepada Allah hendaknya kamu sekalian bertawakal, kalau benar kamu adalah orang-orang yang beriman (Q., 5: 23). Adapun ayat yang menunjukkan tidak ada iman, dan tidak pula ada sikap pasrah kepada Allah (islam), tanpa tawakal, dan begitu pula sebaliknya adalah: . . . kalau kamu sekalian benar-benar beriman kepada Allah, maka bertawakallah kepada-Nya, jika memang kamu orang-orang yang pasrah [muslim] (Q., 10: 84).
  18. 18. setiap kali usai mengambil keputusan penting (khususnya keputusan yang menyangkut orang banyak melalui musyawarah), guna memperoleh keteguhan hati dan ketabahan dalam melaksanakannya, serta agar tidak mudah mengubah keputusan itu26. Ketiga, tawakal juga dilakukan agar terbit keteguhan jiwa menghadapi lawan dan agar perhatian kepada usaha untuk menegakkan kebenaran tidak pecah karena adanya lawan itu, dengan keyakinan bahwa Tuhanlah yang akan melindungi dan menjaga kita27. Keempat, tawakal juga diperlukan untuk mendukung perdamaian antara sesama manusia, terutama jika perdamaian itu juga dikehendaki oleh mereka yang memusuhi kita28. Kelima, sikap memercayakan diri kepada Tuhan juga merupakan konsistensi keyakinan bahwa segala sesuatu akan kembali kepada-Nya dan bahwa kita harus menyembah Dia Yang Maha Esa29. Keenam, tawakal kepada Allah juga dilakukan karena Dialah Yang Mahahidup dan tak akan mati. Dialah Realitas Mutlak dan Mahasuci, yang senantiasa memperhitungkan perbuatan hamba-hamba-Nya30. Ketujuh, kita bertawakal kepada Allah karena Dialah yang Mahamulia dan Mahabijaksana. Dengan tawakal kita menghapus kekhawatiran kepada Pencipta kita sendiri dengan segala kemuliaan dan kebijaksanaan-Nya31. Kedelapan, tawakal diperlukan untuk meneguhkan hati jika memang seseorang yakin, dengan tulus dan ikhlas, bahwa dia berada dalam kebenaran32. 26 . Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka. Mohonkanlah ampun bagi mereka. Dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya (Q., 3: 159). 27 . Dan mereka (orang-orang munafik) mengatakan: “(Kewajiban kami hanyalah) ta’at”. Tetapi apabila mereka telah pergi dari sisimu, sebahagian dari mereka mengatur siasat di malam hari (mengambil keputusan) lain dari yang telah mereka katakan tadi. Allah menulis siasat yang mereka atur di malam hari itu, maka berpalinglah kamu dari mereka dan tawakkallah kepada Allah. Cukuplah Allah menjadi pelindung (Q., 4: 81). 28 . Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (Q., 8: 61). 29 . Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan (Q., 11: 123). 30 . Dan bertawakkallah kepada Allah Yang Hidup (kekal) Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya (Q., 25: 58). 31 . Dan bertawakkallah kepada (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang (Q., 26: 217). 32 . Sebab itu bertawakkallah kepada Allah, sesungguhnya kamu beradadi atas kebenaran yang nyata (Q., 27: 79).
  19. 19. Penutup Sebagai ikhtitam, takdir merupaka ketentuan Allah yang tidak dapat diubah dan dilawan oleh manusia. Walau demikian, manusia oleh Allah diwajibkan untuk melakukan ikhtiar dan manusia oleh Allah dikaruniai kebebasan di dalam melakukan ikhtiar atas apa yang dipilih dan dikehendaki oleh manusia. Selanjutnya, manusia juga harus bertawakal dan memasrahkan hasil ikhtiarnya tersebut kepada Allah. Sebab dengan bertawakal manusia senantiasa berada dalam koridor keimanan dan senantiasa dapat memetik hikmah dan mensyukuri atas nikmat yang telah Allah anugerahkan. Selain itu, konsep takdir juga terkait dengan konsep sunnatullah. Sunnatullah merupakan ketentuan Allah yang terkait dengan hukum alam di mana Allah telah menetapkan hukum- hukumNya. Hukum sunnatullah ini berlaku bagi siapa pun. Oleh karena itu, setiap orang muslim harus belajar tentang sunnatullah ini dari pengalaman sejarah. Sebab dalam lintasan sejarah orang muslim juga memiliki pengalaman pahit yang diakibatkan barangkali oleh kesalahan oleh orang muslim sendiri. Atas dasar pengalaman itu, setiap manusia di muka bumi ini ada yang berhasil dan ada yang gagal. Tidak memandang manusia itu beriman atau tidak beriman, dan hal ini tergantung kepada manusia sendiri. Apakah yang bersangkutan mengikuti sunnatullah atau tidak mengikuti sunnatullah. Bagi yang mengikuti sunnatullah atau hukum alam dia akan selamat dan sukses hidup di dunia. Oleh karena itu, tidak salah bila ada ungkapan yang mangatakan Allah akan menegakkan kekuasaan suatu negara meskipun kafir namun adil, dan Allah akan meruntuhkan kekuasaan suatu negara yang tidak adil meskipun mukmin. Pesan yang dapat kita tangkap dari ungkapan tersebut adalah manusia sebagai khalifah Allah di bumi harus berlaku adil terhadap siapa pun. Sebab menurut hukum Allah siapa pun akan hancur dan binasa bila tidak mematuhi hukum dan ketentuan yang berlaku. Oleh sebab itu, manusia di dalam melakukan ikhtiar dan berbuat baik (amal shalih) hendaknya senantiasa memperhatikan ketentuan dan aturan yang telah ditetapkan oleh Allah. Sebab, semua ikhtiar dan perbuatan manusia adalah proses untuk mengharap ridloNya di mana orientasi
  20. 20. hasilnya tidak semata-mata untuk suatu jangka yang bersifat pendek. Melainkan untuk masa yang bersifat panjang dan abadi. Memang adakalanya antara apa yang dikerjakan, diharapkan, dan diinginkan oleh manusia tidak seluruhnya dapat dikabulkan oleh Allah oleh sebab itu, manusia hanya dapat berharap sambil bertawakal kepada Allah dan tetap yakin dan percaya bahwa Allah Maha Tahu apa yang terbaik untuk hambaNya. Daftar Pustaka Nasution, Harun, Muhammad Abduh Dan Teologi Rasional Mu’tazilah, UI-Press, Jakarta, 2006. Hanafi, Ahmad, Theology Islam (Ilmu Kalam), Bulan Bintang, Jakarta, 1990. Abduh, Muhammad, Risalah Tauhid, Bulan Bintang, Jakarta, 1996. HAMKA, Pelajaran Agama Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1996. Munawar Rahman, Budhy, Ensiklopedia Nurcholish Madjid, Mizan, Bandung, 2006. Munawar Rahman, Budhy, Ensiklopedia Nurcholish Madjid, Mizan, Bandung, 2006.

×