FILSAFAT ILMU

46,929 views

Published on

Published in: Technology, Business
1 Comment
2 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
46,929
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
132
Actions
Shares
0
Downloads
681
Comments
1
Likes
2
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

FILSAFAT ILMU

  1. 6. Etika (ethics) berari moral, etiket (etiqutte) berarti sopan santun. Dua kata ini memiliki persamaan dan perbedaan makna.
  2. 9. HATI NURANI <ul><li>Hati Nurani sebagai Fenomena Moral </li></ul><ul><li>Kesadaran dan Hati Nurani </li></ul><ul><li>Hati Nurani restrospektif dan Hati Nurani Prospektif </li></ul><ul><li>Hati Nurani Bersifat Personal dan Adipersonal </li></ul><ul><li>Hati Nurani sebagai Norma Moral yang Subyektif </li></ul>
  3. 10. TEORI – TEORI ETIKA <ul><li>Hedonisme </li></ul><ul><li>Utilitarianisme </li></ul><ul><li>Stoisisme </li></ul><ul><li>Evolusionisme </li></ul><ul><li>Eudemonisme </li></ul><ul><li>Deontologi </li></ul>
  4. 11. HEDONISME <ul><li>Teori etika paling tua </li></ul><ul><li>Aristippus  Suatu perbuatan disebut baik sejauh dapat menyebabkan kesenangan dan memberikan kenikmatan. Kebajikan berguna untuk menahan agar kita tidak jatuh ke dalam nafsu yang berlebihan, yakni gerakan kasar, jadi tidak menyenangkan </li></ul><ul><li>Epicurus  T ujuan hidup bukan kesenangan yang kuat, melainkan suatu kedamaia n </li></ul>
  5. 12. U TILITARIANISME <ul><li>T erbit dari hedonisme </li></ul><ul><li>Jeremy Bentham (1748-1832) </li></ul><ul><li>1. K esenangan & K esedihan perseorangan bergantung pd kebahagiaan dan kemakmuran p d umumnya dari seluruh masyarakat </li></ul><ul><li>2. Kebaikan moral suatu perbuatan ditentukan oleh kegunaanya atau kemanfaatannya dalam memajukan kesejahteraan dari semua, dan juga keuntungan orang perorang sendiri. </li></ul>
  6. 13. <ul><li>John Stuart Mill (1806-1873) </li></ul><ul><li>1. K ualitas kesenangan & Kebahagiaan perlu dipertimbangkan juga, karena ada kesenangan yang lebih tinggi mutunya dan ada yang lebih rendah </li></ul><ul><li>2. kebahagiaan yang menjadi norma etis adlh kebahagiaan semua orang yang terlibat d l m suatu kejadian, bkn kebahagiaan satu orang saja yang barangkali bertindak sebagai pelaku utama </li></ul>
  7. 14. STOISISME <ul><li>Anthisthenes  Mengajarkan b a hw a kebajikan tdk h a ny a jln kearah kebahagiaan, ttp kebajikan ad l kebaikan, dan tabiat buruk ad l satu-satunya kejahatan, dan hal-hal lainnya adalah indiferen </li></ul>
  8. 15. <ul><li>K aum stoisis </li></ul><ul><ul><li>1.D unia itu terdiri dari bahan dunia yg terdiri dari materi kasar yg nampak p d pancaindra kita & jiwa dunia </li></ul></ul><ul><ul><li>2.M ateri halus yg berembus s bg angin melintas dunia, menggerakkan dunia dan membuatnya laksana binatang yg s gt b sr </li></ul></ul><ul><ul><li>3. Badan dan jiwa manusia sekedar bagian terbatas dari badan dunia dan jiwa dunia. Dunia sendiri adalah Tuhan atau alam, keduanya sama saja. </li></ul></ul>
  9. 16. EVOLUSIONISME <ul><li>M anusia selalu bisa lebih sempurna dan kemajuan itu tidak mengenal batas </li></ul><ul><li>Herbert Spencer </li></ul><ul><li>1. Sifat penyesuaian ini ad l individual, rasial, atau berasaskan kerja sama, yaitu kerja sama s gl sesuatu d l m semesta ini tnp saling mencampuri </li></ul>
  10. 17. <ul><li> 2. Manusia selalu tidak sempurna dalam penyesuaiannya, dan merasakan suatu konflik antara dorongan-dorongan egoistis dan altruistis </li></ul><ul><li>3. E volusi mengarahkan u ntu k mendamaikan egoisme & altruisme kearah suatu sintesis yang lebih tinggi. </li></ul>
  11. 18. EUDEMONISME <ul><li>Aristoteles (384-322 SM)  Ethika Nikomaheia : S etiap kegiatannya manusia mengejar suatu tujuan seseorang </li></ul><ul><li>T ujuan terakhir manusia  menjalankan fungsinya sbg manusia dengan baik  Kebahagiaan </li></ul>
  12. 19. DEONTOLOGI <ul><li>Yunani “ deon ” : apa yang harus dilakukan, kewajiban </li></ul><ul><li>Deontologi S istem etika yg t d k mengukur baik tidaknya suatu perbuatan berdasarkan hasilnya, melainkan semata-mata berdasarkan maksud si pelaku d l m melakukan perbuatan tersebut </li></ul>
  13. 20. <ul><li>Immanuel Kant (1724-1804) </li></ul><ul><li>1. Yan g bisa disebut baik d ala m arti sesungguhnya hanyalah kehendak y an g baik </li></ul><ul><li>2. Semua hal lain disebut baik secara terbatas atau dengan syarat </li></ul><ul><li>3. perbuatan dilakuk a n d ega n suatu maksud atau motif lain, perbuatan itu tidak disebut baik, betapapun luhur atau terpuji motif itu </li></ul>
  14. 21. <ul><li>Bertindak sesuai dengan kewajiban  “ legalitas ” </li></ul><ul><li>S uatu perbuatan bersifat moral  dilakukan semata-mata “karena hormat untuk hukum moral” </li></ul><ul><li>I mperative kategoris  imperatif perintah yang mewajibkan begitu saja tanpa syarat </li></ul><ul><li>I mperatif hipotetis  selalu diikutsertakan sebuah syarat </li></ul>
  15. 22. MENJADI MANUSIA YANG BAIK <ul><li>Etika Kewajiban dan Etika Keutamaa n </li></ul><ul><li>Keutamaan dan Watak Moral </li></ul><ul><li>Keutamaan dan Ethos </li></ul>
  16. 23. ETIKA KEWAJIBAN & ETIKA KEUTAMAAN <ul><li>ETIKA KEWAJIBAN </li></ul><ul><li>M empelajari prinsip-prinsip & aturan-aturan moral yg berlaku u t k perbuatan kita </li></ul><ul><li>Jika terjadi konflik antara dua prinsip moral yg t d k d p t dipenuhi sekaligus, etika ini mencoba menentukan yang mana hrs diberi prioritas </li></ul><ul><li>M enilai benar salahnya kelakuan kita dengan berpegang pada norma & prinsip moral saja </li></ul>
  17. 24. <ul><li>ETIKA KEUTAMAAN </li></ul><ul><li>T dk begitu menyoroti apakah perbuatan itu sesuai atau t i d a k d ega n norma moral  lebih memfokuskan p a d a manusia itu sendiri </li></ul><ul><li>M empelajari keutamaan (virtue)  sifat watak yang dimiliki manusia </li></ul><ul><li>Td k menyelidiki apakah perbuatan kita baik atau buruk, melainkan apakah kita sendiri orang baik atau orang buruk. </li></ul>
  18. 25. KEUTAMAAN & WATAK MORAL <ul><li>KEUTAMAAN  D isposisi watak yg telah diperoleh seseorang & memungkinkan dia utk bertingkah laku baik secara moral </li></ul><ul><li>Unsur – unsur keutamaan : </li></ul><ul><li>D isposisi  kecenderungan tetap (stabil) </li></ul><ul><li>B erkaitan dengan kehendak </li></ul><ul><li>D iperoleh melalui jalan membiasakan diri & karena itu merupakan hasil latihan </li></ul>
  19. 26. KEUTAMAAN dan ETHOS M ulai menunjuk terutama kepada kelompok
  20. 27. TEORI PERKEMBANGAN MORAL <ul><li>Piaget dan Norman J. Bull </li></ul><ul><li>P ada dasarnya anak lahir tanpa satu bentuk kesadaran </li></ul><ul><li>Perkembangan moral meniru tingkah laku orang yg paling dekat hubungannya (orang tua) </li></ul><ul><li>M oral self - M oral obligation </li></ul>
  21. 28. 4 tahapan perkembangan moral yakni :
  22. 29. Kohlberg dan Dewey T iga tingkatan perkembangan moral
  23. 30. <ul><li>Kolhberg </li></ul><ul><li>Hasil dari pada pentahapan pertimbangan </li></ul><ul><li>moral (moral judgement) ad alah sebagai </li></ul><ul><li>berikut: </li></ul><ul><li>Preconventional level meliputi 2 tahap : </li></ul><ul><li>1. &quot;The punishment and obidience orientation&quot; (ori e ntasi k pd hukuman & kepatuhan) </li></ul><ul><li>2. &quot;The instrumental relativist orientation“ (orientasi pd relativitas intrumental) </li></ul>
  24. 31. <ul><li>C onventional level ada 2 tahap : </li></ul><ul><li>1. &quot;Interpersonal concordance of &quot;good boy-nice gi r l ori e ntation&quot; </li></ul><ul><li>2. &quot;Law and order orientation“ (orientasi pada hukum & aturan) </li></ul><ul><li>Past Conventional Autonomous Of Principle Level ada 2 tahap : </li></ul><ul><li>1. &quot;Sosial contract legalistic orientation&quot; </li></ul><ul><li>2. &quot;Universal ethical principle orientation&quot; </li></ul>
  25. 32. <ul><li>Karakteristik konsep tahapan definisi : </li></ul><ul><li>Tahapan itu adalah keseluruhan y an g berstruktu r </li></ul><ul><li>Tahapan membentuk suatu keteraturan </li></ul><ul><li>Tahapan yang berintegrasi secara hirarkis </li></ul>

×