Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Sejarah undar dan trisula

1,646 views

Published on

trisula dan filosofinya

Published in: Education
  • Be the first to comment

Sejarah undar dan trisula

  1. 1. Nama : Mohammad Mansyur Abidin NIM : 12 590 044 Fakultas : Teknik ProdiJurusan : Informatika
  2. 2. Sejarah Undar dan Trisula Kiai Musta’in Romly memangku Pesantren Darul Ulum Peterongan, Rejoso (Jombang) sekaligus menjadi mursyid thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah, yang memiliki puluhan ribu pengikut di Jawa Timur. Beliau menggantikan kedudukan ayahnya, Kiai Romly bin Tamim yang wafat pada 1958, baik sebagai kiai maupun mursyid thariqah. Baik Kiai Romly maupun Kiai Musta’in sama-sama aktif di NU pada tingkat lokal. KH Musta’in Romly lahir di Rejoso pada tanggal 31 Agustus 1931. Sejak kecil ia mendapat didikan langsung dari kedua orang tuanya. Baru tahun tahun 1949 M melanjutkan studi di Semarang dan Solo di Akademi Dakwah Al Mubalighoh. Di perguruan ini bakat kepemimpinannya mulai menonjol sehingga pada waktu singkat mengajak sahabat-sahabatnya yang berasal dari daerah Jombang mendirikan Persatuan Mahasiswa Jombang. Studi di Lembaga ini diakhiri pada tahun 1954 M. Pada tahun 1954 M beliau aktif di Nahdhatul Ulama Jombang tempat asalnya dan kemudian menjadi pengurus IPNU Pusat tahun 1954 sampai 1956. Upaya menerpa diri untuk lebih matang sebagai pimpinan Pondok Pesantren, KH Musta’in Romly banyak melakukan sillaturrahim ke berbagai pondok pesantren dan lembaga pendidikan pada umumnya. Mulai tingkat nasional sampai internasional. Dalam kaitan inilah pada tahun 1963 M beliau melakukan muhibbah ke negara-negara Eropa dan Timur Tengah, sekaligus berziarah ke makam sulthanul auliya Syeh Abdul Qodir Al Jailani. Perkembangan pesantren Darul Ulum memasuki masa paling penting ketika mulai mendirikan sekolah-sekolah umum yang kemudian mendapatkan legalitas formal dari pemerintah, baik melalui Departemen Pendidikan dan Kebudayaan atau Departemen Agama. Tahun 1964 oleh Kiai Musta’in Romli, Madrasah Muallimin Atas diubah menjadi Sekolah Menengah Atas (SMA)
  3. 3. dengan kurikulum standar Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, setingkat SMA Negeri. Kemudian Muallimin Tingkat Pertama diubah menjadi Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan kurikulumnya pun disesuaikan. Pada tahun 1965 didirikan sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA) di bawah wewenang Departemen Agama. Pada tahun itu pula Madrasah Muallimat (putri) tingkat pertama dan atas masing-masing diubah menjadi Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah yang memenuhi standar Kementerian Agama. Hal ini penting mengingat beliau adalah Mursyid Thariqah Qodiriyah Wannaqsabandiyah mewarisi keguruan KH Romly Tamim dam KH Cholil Rejoso. Di samping itu, oleh-oleh dari kunjungan muhibbah ini antara lain yaitu mendorong berdirinya Universitas Darul Ulum pada tanggal 18 September 1965. Universitas Darul Ulum sendiri diprakarsai Dr KH Musta’in Romli, KH Bisri Cholil, K. Ahmad Baidhowi Cholil, Mohammad Wiyono (mantan Gubernur Jatim), KH Muh. As’ad Umar dan Muhammad Syahrul, SH. Fakultas pertama yang dbuka adalah Fakultas Hukum, lalu disusul Fakultas Sosial dan Ilmu Politik, serta Fakultas Pertanian. Pada tahun 1969 baru berdiri Fakultas agama dengan nama Fakultas Alim Ulama, yang kemudan diganti dengan Fakultas Ushuluddin. Pada tahun berikutnya berdiri Fakultas umum lagi, yakni Fakultas Pendidikan, disusul Fakultas Teknik, Fakultas Ekonomi, Fakultas Psikologi dan Program Diploma-3. Keabsahan KH Musta’in Romli sebagai Rektor bertambah setelah pada 1977 beliau mendapat gelar Doktor Honoris Causa dari Macau University. Pada tahun 1981 lawatan ke Timur Tengah dilakukan kembali dengan hasil kerjasama antara Universitas Darul Ulum dan Iraq University dalam bentuk tukar-menukar tenaga edukatif, dan dengan Kuwait University dalam bentuk beasiswa studi ke Kuwait. Pada tahun 1984 KH Musta’in berkunjung ke Casablanka, Maroko, tepatnya pada bulan Januari 1984, yaitu mengikuti Kunjungan Kenegaraan bersama Wakil Presiden RI, Umar Wirahadi Kusuma dan Menteri Luar Negeri RI, Prof. Dr. Muchtar Kusumaatmadja dalam acara Konverensi Tingkat Tinggi Organisasi Konferensi Islam (OKI). Kunjungan ini dilanjutkan ke Perancis dan
  4. 4. Jerman Barat. Selanjutnya pada bulan Juli dengan tahun yang sama, KH Musta’in mengikuti Konferensi antar Rektor se-dunia di Bangkok. Semua kunjungan dijalani KH Musta’in dengan tekun demi kelembagaan Pendidikan yang diamanatkan kepada beliau, yaitu Lembaga Pondok Pesantren Darul Ulum, Lembaga Thariqah Qodiriyah Wannaqsabandiyah dan Universitas Darul Ulum Ada sebuah cerita dari seorang Kyai namanya Kyai Musa Bojonegoro yang waktu itu mendampingi kunjungan silaturrohim KH Usman Ishaq ke Universitas Darul Ulum dengan didampingi Dr.KH.Musta’in Romly beliau KH.Musta’in Romly menyampaikan kalimat kepada KH.Usman Ishaq kurang lebihnya "Andai tidak ada Thoriqoh maka tidak ada Undar",ini satu satunya Universitas yang lahir dari Thoriqoh. Mogga didoakan Kyai, Kemudian KH.Usman berdoa diamini oleh Dr.KH.Musta’in Romly dan rombongan Jamaah Thoriqoh yang mengiringi kedua Ulama Besar ini Selain itu, penerus dari perjuangan Alm. DR. Musta;in Romly ini kemudian dilanjutkan oleh putra beliau, yaitu DR. KH. Mujib Musta'in, M.Si ( Rektor UNDAR Jombang Jawa Timur, Indonesia ) sekaligus Al-Mursyid JAMU TAQWA ( Jam'iyyah Mujahadah Thoriqoh Qodiriyyah wan Naqsyabandiyyah ) Mengikuti perjalanan Masa dan menelusuri Dawuh dawuhnya sebagai seorang Futurolog Al Mursyid KH Romly Tamim bahwasanya Thoriqoh dimasa KeMursidan KH.Mustain akan menjadi besar dan telah terbukti dalam peran yang dilakukan beliau Membesarkan Pondok Pesantren Darul Ulum,Membesarkan Thoriqoh Qodiriyah wan Naqsyabandiyah,Mendirikan Universitas Darul Ulum pada 18 September 1965 dengan aviliasi Pendidikan dalam naungan Kementerian Agama dan Kementerian Pendidikan ,Kebudayaan Nasional serta beliau mendapatkan gelar Dr.Hc bidang Filsafat dari Maccao University.Peran peran dibidang sosial politik utamanya didalam Negeri melakukan Pencerahan terhadap pola pikir Masyarakat santri utamanya untuk meninggalkan Budaya sektarian warisan budaya masa kolonial yang akan merugikan perjuangan Islam sendiri terutama dilingkungan Masyarakat NU baik struktural maupun kultural mengingat Negara Kesatuan Republik Indonesia yang di Proklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945 umat Islam memiliki andil yang sangat besar dalam Konsensus
  5. 5. Nasional dengan Azaz Pancasila sebagai Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia. Inilah yang menjadi sikap Perjuangan Dr KH. Mustain Romly selalu menjaga dan memelihara Harmoni Hubungan antara Ulama dan Umaro sampai ahir hayat beliau (1985). Bahkan tak dapat dipungkiri peran dan kiprahnya dengan segala dinamika masyarakat Islam utamanya masyarakat NU dan pada penghujung 1984 pada bulan September Organisasi Islam terbesar di Indonesia ini ya’ni NU mengevaluasi Perjuangan melalui Munas Alim Ulama mengambil Keputusan untuk kembali ke Hittoh 1926 dan menerima Pancasila sebagai Azaz berbangsa dan Negara. ( sumber : disarikan dari Buku Sejarah – Surat Wasiat- Ijazah Baiat ( Janji Thoriqoh) dari KH.Romly kepada KH.Musta’in Romly 1984 ) Dalam rekam jejak dari berbagai sumber bahwasanya Al Allamah Mbah K H.Romly Tamim semasa beliau memimpin Thoriqoh Qodiriyah wan Naqsyabandiyah di Pondok Darul Ulum Rejoso Peterongan memiliki Murid murid Thoriqoh yang telah dinobattkan sebagai Guru atau Mursyid dikemudian hari menjadi tokoh sentral perkembangan Da’wah diseantero Indonesia bahkan diluar negeri antara lain: Al Mursyid KH.Muhammad Abbas ( Buntet Cirebon) ,Almursyid KH.Muhammad Usman Ishaq ( Sawahpulo Surabaya ),AlMursyid KH. Ahmad Shonhaji ( Kebumen ) Al Mursyid KH.Muhammad.Shiddiq (Kudus),Al Mursyid KH.Muslih Abdurrohim ( Mranggen ) Al Mursyid KH.Adlan Ali (Cukir Jombang ),Al Mursyid DR.KH.Musta’in Romly( Peterongan Jombang) ,Al Mursyid KH.Imron Hamzah (Surabaya). ( Sumber : DrsH.Ishomudin Ma’sum dalam Buku Istighostah Manfaat dan Keutamaanya ).Dalam sumber lain yaitu pada Buku Tiga Guru Sufi Tanah Jawi yang di tulis oleh Ustad Murtadlo Hadi bahwasanya Al Mursyid KH.Shobiburrohman ( Jepara ) termasuk murid Mbah KH.Romly Tamim Rejoso. Referensi : www.jamutaqwa.com
  6. 6. Nasional dengan Azaz Pancasila sebagai Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia. Inilah yang menjadi sikap Perjuangan Dr KH. Mustain Romly selalu menjaga dan memelihara Harmoni Hubungan antara Ulama dan Umaro sampai ahir hayat beliau (1985). Bahkan tak dapat dipungkiri peran dan kiprahnya dengan segala dinamika masyarakat Islam utamanya masyarakat NU dan pada penghujung 1984 pada bulan September Organisasi Islam terbesar di Indonesia ini ya’ni NU mengevaluasi Perjuangan melalui Munas Alim Ulama mengambil Keputusan untuk kembali ke Hittoh 1926 dan menerima Pancasila sebagai Azaz berbangsa dan Negara. ( sumber : disarikan dari Buku Sejarah – Surat Wasiat- Ijazah Baiat ( Janji Thoriqoh) dari KH.Romly kepada KH.Musta’in Romly 1984 ) Dalam rekam jejak dari berbagai sumber bahwasanya Al Allamah Mbah K H.Romly Tamim semasa beliau memimpin Thoriqoh Qodiriyah wan Naqsyabandiyah di Pondok Darul Ulum Rejoso Peterongan memiliki Murid murid Thoriqoh yang telah dinobattkan sebagai Guru atau Mursyid dikemudian hari menjadi tokoh sentral perkembangan Da’wah diseantero Indonesia bahkan diluar negeri antara lain: Al Mursyid KH.Muhammad Abbas ( Buntet Cirebon) ,Almursyid KH.Muhammad Usman Ishaq ( Sawahpulo Surabaya ),AlMursyid KH. Ahmad Shonhaji ( Kebumen ) Al Mursyid KH.Muhammad.Shiddiq (Kudus),Al Mursyid KH.Muslih Abdurrohim ( Mranggen ) Al Mursyid KH.Adlan Ali (Cukir Jombang ),Al Mursyid DR.KH.Musta’in Romly( Peterongan Jombang) ,Al Mursyid KH.Imron Hamzah (Surabaya). ( Sumber : DrsH.Ishomudin Ma’sum dalam Buku Istighostah Manfaat dan Keutamaanya ).Dalam sumber lain yaitu pada Buku Tiga Guru Sufi Tanah Jawi yang di tulis oleh Ustad Murtadlo Hadi bahwasanya Al Mursyid KH.Shobiburrohman ( Jepara ) termasuk murid Mbah KH.Romly Tamim Rejoso. Referensi : www.jamutaqwa.com

×