1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Usaha kecil dan menengah (UKM) di berbagai Negara
termasuk di Indonesia mer...
2
karena pengelolaan yang baik memerlukan keterampilan akuntansi
yang baik pula oleh pelaku bisnis UKM. Pemerintah sudah m...
3
indikator kunci kinerja usaha, informasi akuntansi berguna bagi
pengambilan keputusan sehingga dapat meningkatkan pengel...
4
laporan keuangan overload (memberatkan) bagi UKM (Wahdini &
Suhairi, 2006). Dalam penelitian Wahdini dan Suhairi (2006:3...
5
jenis kelamin, tingkat pendidikan pemilik/manajer UKM,
pengalaman usaha pemilik/manajer UKM, umur perusahaan, jenis
usah...
6
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
2.1 Pengertian Usaha Kecil Menengah
Usaha Kecil dan Menengah disingkat UKM adalah sebuah
istila...
7
jumlah tenaga kerja 5 s.d 19 orang, sedangkan usaha menengah
merupakan entitias usaha yang memiliki tenaga kerja 20 s.d....
8
Merupakan UKM yang memiliki sifat pengrajin tetapi belum memiliki
sifat kewirausahaan.
3. Small Dynamic Enterprise
Merup...
9
3. Jenis barang/komoditi yang diusahakan umumnya sudah tetap
tidak gampang berubah;
4. Lokasi/tempat usaha umumnya sudah...
10
5. Fleksibilitas dan kemampuan menyesuaikan diri terhadap kondisi
pasar yang berubah dengan cepat dibandingkan dengan
p...
11
Berbeda dengan Negara-negara maju, UKM umumnya masih
menggunakan teknologi tradisonal dalam bentuk mesin-mesin tua
atau...
12
Fungsi Akuntansi
Setiap sistem utama akuntansi akan melaksanakan lima fungsi
utamanya yaitu
a. Mengumpulkan dan menyimp...
13
Terminologi SME yang dipergunakan oleh IASB diartikan
sebagai ”Entitas yang menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan
u...
14
Suatu entitas dianggap memiliki akuntabilitas publik signifikan
jika :
1) Entitas telah mengajukan pernyataan pendaftar...
15
2) Setiap transaksi sebaiknya memiliki bukti transaksi, misalnya kuitansi
pembelian, bon penjualan dll.
3) UMKM sebaikn...
16
BAB III
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
3.1Sejarah Singkat Desa Porame
Asal-usul Desa Porame berdiri pada tahun 1902 ya...
17
Kabupaten Sigi, desa Porame mengalami perkembangan yang cukup
cepat dan dijadikan sebagai pusat kecamatan dari 9 desa d...
18
dalam setiap proses pembangunan, penduduk ataupun masyarakat
merupakan objek sekaligus subyek dalam setiap kegiatan.
Be...
19
Sumber : Data Monografi Desa Porame, Tahun 2013
3.4Kondisi Sosial Budaya dan Ekonomi
Kehidupan sosial di Desa Porame ma...
20
Pegawai Negeri 30
Sumber: Data Monografi Desa Porame, Tahun 2013
Adapun jenis populasi ternak yang ada di Desa Porame
m...
21
Tabel 4 : Jumlah Sarana dan Prasarana
No Prasarana Sarana Jumlah
1. Pendidikan
TK
Sekolah SD
SMP
SMA
1 unit
2 unit
1 un...
22
BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1. Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada Usaha Kecil Menengah (UKM)
yang...
23
Menurut Singarimbun (1989: 155) simple random sampling (sampel
acak sederhana) ialah sebuah sampel yang diambil sedemik...
24
tambahan. Teknik ini akan dilakukan peneliti diluar dari penelitiannya
namun terstruktur. Penggunaan teknik ini dilakuk...
25
BAB V
PEMBAHASAN
5.1 Penerapan akuntansi dilihat dari kategori jenis kelamin, tingkat
pendidikan pemilik/manajer UKM, p...
26
ada perbedaan penerapan akuntansi dilihat dari kategori omzet
perusahaan.
Hasil pengujian ini sesuai dengan penelitian ...
27
Perbedaan penerapan akuntansi antar kategori omzet
perusahaan dapat dijelaskan sebagai berikut. Penerapan akuntansi
pad...
28
biasanya hanya untuk mencatat pendapatan dan utang – piutang.
Hal tersebut dikarenakan aktivitas operasionalnya belum b...
29
tidak hanya perlu dilakukan di perusahaan besar, usaha kecil dan
menengah juga perlu menerapkan akuntansi agar dapat be...
30
BAB VI
PENUTUP
6.1 Kesimpulan
1. Dari hasil analisis yang telah dikemukakan, ternyata tingkat
penerapan akuntansi pada ...
31
6.2 Saran Tindak
1. Pemerintah daerah diharapkan mampu meningkatkan tingkat
pendidikan Akuntansi yang masih rendah di W...
32
DAFTAR PUSTAKA
Buku :
Adi, M. Kwartono, Kiat Sukses Berburu Modal UMKM, Raih Asa Sukses, Jakarta,
2009 Ikatan Akuntan I...
33
Lampiran 1
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
A. DATA PRIBADI
1. Nama Lengkap : MOHAMAD KHAIDIR
2. Tempat Tanggal Lahir : AMPANA, 26 ...
34
Lampiran 2
PETA DESA PORAME
35
LAMPIRAN DOKUMENTASI
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

PERSEPSI PARA PELAKU UKM (USAHA KECIL DAN MENENGAH) TERHADAP PENERAPAN AKUNTANSI DI DESA PORAME KECAMATAN KINOVARO KABUPATEN SIGI

13,385 views

Published on

LAPORAN KARYA TULIS ILMIAH
KULIAH KERJA NYATA PROFESI INTEGRAL TEMATIK POSDAYA
ANGKATAN 66 SEMESTER GENAP TAHUN AKADEMIK 2012/2013
UNIVERSITAS TADULAKO
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Profesi Integral Tematik Posdaya
Universitas Tadulako Angkatan 66 Semester Genap
Tahun Akademik 2012/2013

Disusun Oleh

MOHAMAD KHAIDIR
STB. C 301 09 087

PUSAT PENGEMBANGAN WILAYAH DAN KULIAH KERJA NYATA
LEMBAGA PENGABDIAN PADA MASYARAKAT
UNIVERSITAS TADULAKO
2013


Published in: Education
0 Comments
2 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
13,385
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
332
Comments
0
Likes
2
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

PERSEPSI PARA PELAKU UKM (USAHA KECIL DAN MENENGAH) TERHADAP PENERAPAN AKUNTANSI DI DESA PORAME KECAMATAN KINOVARO KABUPATEN SIGI

  1. 1. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Usaha kecil dan menengah (UKM) di berbagai Negara termasuk di Indonesia merupakan salah satu penggerak perekonomian rakyat yang tangguh. Hal ini karena kebanyakan para pengusaha kecil dan menengah berangkat dari industri keluarga/ rumahan. Dengan demikian, konsumennya pun berasal dari kalangan menengah ke bawah. Selain itu, peranan UKM terutama sejak krisis moneter tahun 1998 dapat dipandang sebagai katup penyelamat dalam proses pemulihan ekonomi nasional, baik dalam mendorong laju pertumbuhan ekonomi maupun penyerapan tenaga kerja. Peranan UKM dalam perekonomian Indonesia dapat dilihat dari kedudukannya pada saat ini dalam dunia usaha. Wulan dan Nindita (2009) membagi kedudukan UKM sebagai berikut (1) Kedudukan UKM sebagai pemain utama dalam kegiatan ekonomi di berbagai sektor, (2) Penyedia Lapangan kerja terbesar, (3) Pemain penting dalam pengembangan kegiatan ekonomi daerah dan pemberdayaan masyarakat, (4) Pencipta pasar baru dan inovasi, (5) Untuk UKM yang sudah go internasional UKM memberikan sumbangan dalam menjaga neraca pembayaran melalui sumbangannya dalam menghasilkan ekspor Kinerja UKM dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan peningkatan. Perkembangan sektor UKM yang demikian pesat memperlihatkan bahwa terdapat potensi yang besar jika hal ini dapat dikelola dan dikembangkan dengan baik yang tentunya akan dapat mewujudkan usaha menengah yang tangguh. Sementara itu, di sisi yang lain UKM juga masih dihadapkan pada masalah yang terletak pada proses administrasi. Masalah utama dalam pengembangan UKM yaitu mengenai pengelolaan keuangan dalam usahanya tersebut,
  2. 2. 2 karena pengelolaan yang baik memerlukan keterampilan akuntansi yang baik pula oleh pelaku bisnis UKM. Pemerintah sudah mencoba membantu mengatasi kendala yang dihadapi oleh sebagian besar UKM, seperti melakukan pembinaan dan pemberian kredit lunak. Keinginan UKM memperoleh tambahan modal juga dituntut serta menyertakan laporan keuangan sebagai syarat mengajukan pinjaman kepada pihak bank. Pihak perbankan sendiri tidak ingin mengambil resiko dalam penyaluran kredit bagi UKM dikarenakan perbankan tidak mengetahui perkembangan usaha tersebut. Sementara hampir semua UKM tidak memiliki laporan kinerja usaha dan keuangan yang baik sebagai syarat untuk memperoleh kredit. Hal ini terjadi karena UKM tidak dibiasakan untuk melakukan pencatatan dan penyusunan laporan keuangan sebagai gambaran kegiatan usaha dan posisi keuangan perusahaan. Padahal dengan adanya laporan keuangan akan memungkinkan pemilik memperoleh data dan informasi yang tersusun secara sistematis. Laporan keuangan berguna bagi pemilik untuk dapat memperhitungkan keuntungan yang diperoleh, mengetahui berapa tambahan modal yang dicapai dan juga dapat mengetahui bagaimana keseimbangan hak dan kewajiban yang dimiliki sehingga setiap keputusan yang diambil oleh pemilik dalam mengembangkan usahanya akan didasarkan pada kondisi konkret keuangan yang dilaporkan secara lengkap bukan hanya didasarkan pada asumsi semata. Kebanyakan dari UKM hanya mencatat jumlah uang yang diterima dan dikeluarkan, jumlah barang yang dibeli dan dijual, dan jumlah piutang utang. Pencatatan itu hanya sebatas pengingat saja dan tidak dengan format yang diinginkan oleh pihak perbankan. Meskipun tidak dapat dipungkiri mereka dapat mengetahui jumlah modal akhir mereka setiap tahun yang hampir sama jumlahnya jika kita mencatat dengan sistem akuntansi (H. Jati, Beatus B., Otniel N., 2004). Akuntansi merupakan
  3. 3. 3 indikator kunci kinerja usaha, informasi akuntansi berguna bagi pengambilan keputusan sehingga dapat meningkatkan pengelolaan perusahaan. Hal ini memungkinkan para pelaku UKM dapat mengidentifikasi dan memprediksi area-area permasalahan yang mungkin timbul, kemudian mengambil tindakan koreksi tepat waktu. Para pelaku UKM tidak hanya dapat menghitung untung atau rugi, tetapi yang terpenting untuk dapat memahami makna untung atau rugi bagi usahanya (Wulan dan Nindita, 2009). Praktek akuntansi, khususnya akuntansi keuangan pada UKM di Indonesia masih rendah dan memiliki banyak kelemahan (Wahdini & Suhairi, 2006). Kelemahan itu, antara lain disebabkan rendahnya pendidikan, kurangnya pemahaman terhadap Standar Akuntansi Keuangan (SAK) dari manajer pemilik dan karena tidak adanya peraturan yang mewajibkan penyusunan laporan keuangan bagi UKM. Sudarini (1992) dalam Wahdini & Suhairi (2006) juga membuktikan bahwa perusahaan kecil di Indonesia cenderung untuk memilih normal perhitungan (tanpa menyusun laporan keuangan) sebagai dasar perhitungan pajak. Karena, biaya yang dikeluarkan untuk menyusun laporan keuangan jauh lebih besar daripada kelebihan pajak yang harus dibayar. Standar akuntansi keuangan yang dijadikan pedoman dalam penyusunan laporan keuangan harus diterapkan secara konsisten. Namun, karena UKM memiliki berbagai keterbatasan, kewajiban seperti itu diduga dapat menimbulkan biaya yang lebih besar bagi UKM dibandingkan dengan manfaat yang dapat dihasilkan dari adanya informasi akuntansi tersebut (cost-effectiveness). Di samping itu, tersedianya informasi yang lebih akurat melalui informasi akuntansi yang dihasilkan diduga tidak mempengaruhi keputusan atas masalah yang dihadapi manajemen (relevance). Studi terhadap penerapan SAK memberikan bukti bahwa Standar Akuntansi yang dijadikan pedoman dalam penyusunan
  4. 4. 4 laporan keuangan overload (memberatkan) bagi UKM (Wahdini & Suhairi, 2006). Dalam penelitian Wahdini dan Suhairi (2006:3) studi yang sama juga pernah dilakukan di beberapa negara, dan menyimpulkan bahwa Standar Akuntansi yang dijadikan pedoman dalam penyusunan laporan keuangan overload (memberatkan) bagi UKM (Williams, Chen, & Tearney, 1989; Knutson & Hendry, 1985; Nair & Rittenberg 1983; Wishon 1985). Hal ini telah mendorong komite Standar Akuntansi Internasional (The International Accounting Standards Board) untuk menyusun Standar Akuntansi Keuangan yang khusus bagi UKM. Saat ini telah diterbitkan SAK baru khusus untuk ETAP (Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik) dalam rangka pengembangan standar akuntansi bagi UKM. Sekalipun memberatkan, penelitian tentang jenis informasi akuntansi yang disajikan dan digunakan oleh perusahaan kecil di Australia mengungkapkan bahwa informasi akuntansi utama yang banyak disiapkan dan digunakan perusahaan kecil adalah informasi yang diharuskan menurut undang-undang (statutory), yaitu Neraca, Laporan Laba Rugi, Laporan Perubahan Ekuitas, dan Laporan Arus Kas (Homes & Nicholls, 1989). Dari hal-hal yang telah dijelaskan tersebut juga riset-riset yang ada, maka penelitian ini bertujuan untuk menganalisis lebih lanjut mengenai penerapan akuntansi pada usaha kecil dan menengah. Hal inilah yang mendorong peneliti untuk menguji hipotesis mengenai persepsi para pelaku UKM terhadap penerapan akuntansi. Berdasarkan uraian tersebut, maka penelitian ini akan mengambil topik : “PERSEPSI PARA PELAKU UKM (USAHA KECIL DAN MENENGAH) TERHADAP PENERAPAN AKUNTANSI” 1.2 Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, permasalahan penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: 1. Apakah ada perbedaan penerapan akuntansi dilihat dari kategori
  5. 5. 5 jenis kelamin, tingkat pendidikan pemilik/manajer UKM, pengalaman usaha pemilik/manajer UKM, umur perusahaan, jenis usaha, jumlah karyawan, dan omzet perusahaan ? 2. Apakah penerapan akuntansi berpengaruh terhadap kinerja perusahaan ? 1.3 Tujuan Penelitian Sesuai dengan permasalahan yang telah dikemukakan di atas maka tujuan penelitian ini adalah: 1. Untuk mengetahui apakah ada perbedaan penerapan akuntansi dilihat dari kategori jenis kelamin, tingkat pendidikan pemilik/manajer UKM, pengalaman usaha pemilik/manajer UKM, umur perusahaan, jenis usaha, jumlah karyawan, dan omzet perusahaan. 2. Untuk mengetahui pengaruh penerapan akuntansi terhadap kinerja perusahaan. 1.4 Manfaat Penelitian 1. Hasil penelitian ini di harapkan dapat memberikan sumbangan bagi upaya memperluas kesempatan kerja melalui usaha kecil menengah di Desa Porame. 2. Penelitian ini dapat memperoleh penjelasan tentang faktor-faktor penunjang dan penghambat dalam membangun sistem Akuntansi dalam usaha kecil menengah.
  6. 6. 6 BAB II TINJAUAN TEORITIS 2.1 Pengertian Usaha Kecil Menengah Usaha Kecil dan Menengah disingkat UKM adalah sebuah istilah yang mengacu ke jenis usaha kecil yang memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 200.000.000 tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha. Dan usaha yang berdiri sendiri. Menurut Keputusan Presiden RI no. 99 tahun 1998 pengertian Usaha Kecil adalah: “Kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil dengan bidang usaha yang secara mayoritas merupakan kegiatan usaha kecil dan perlu dilindungi untuk mencegah dari persaingan usaha yang tidak sehat.” Kriteria usaha kecil menurut UU No. 9 tahun 1995 adalah sebagai berikut: 1. Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp. 200.000.000,- (Dua Ratus Juta Rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha. 2. Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp. 1.000.000.000,- (Satu Miliar Rupiah) 3. Milik Warga Negara Indonesia 4. Berdiri sendiri, bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang tidak dimiliki, dikuasai, atau berafiliasi baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Menengah atau Usaha Besar 5. Berbentuk usaha orang perorangan , badan usaha yang tidak berbadan hukum, atau badan usaha yang berbadan hukum, termasuk koperasi. Pengertian Usaha Kecil Menengah: Berdasarkan kuantitas tenaga kerja. Usaha kecil merupakan entitas usaha yang memiliki
  7. 7. 7 jumlah tenaga kerja 5 s.d 19 orang, sedangkan usaha menengah merupakan entitias usaha yang memiliki tenaga kerja 20 s.d. 99 orang. 2.2 Pengertian UKM Menurut UU No 20 Tahun 2008 Pengertian Usaha Kecil Menengah: Undang undang tersebut membagi kedalam dua pengertian yakni: Usaha Kecil adalah entitas yang memiliki kriteria sebagai berikut : 1. Kekayaan bersih lebih dari Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha. 2. Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp 2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah). Sementara itu, yang disebut dengan Usaha Menengah adalah entitas usaha yang memiliki kriteria sebagai berikut : 1. Kekayaan bersih lebih dari Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp 10.000.000.000,00 (sepuluh milyar rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha. 2. Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp 50.000.000.000,00 (lima puluh milyar rupiah). 2.3 Jenis-Jenis Atau Klasifikasi UKM (Usaha Kecil dan Menengah) Perspektif perkembangannya, UKM dapat diklasifikasikan menjadi 4 (empat) kelompok: 1. Livelihood Activities Merupakan UKM yang digunakan sebagai kesempatan kerja untuk mencari nafkah, yang lebih umum dikenal sebagai sektor informal. Contoh: pedagang kaki lima. 2. Micro Enterprise
  8. 8. 8 Merupakan UKM yang memiliki sifat pengrajin tetapi belum memiliki sifat kewirausahaan. 3. Small Dynamic Enterprise Merupakan UKM yang telah memiliki jiwa kewirausahaan dan mampu menerima pekerjaan subkontrak dan ekspor. 4. Fast Moving Enterprise Merupakan UKM yang telah memiliki jiwa kewirausahaan dan akan melakukan transformasi menjadi Usaha Besar (UB). Namun demikian usaha pengembangan yang dilaksanakan belum, terlihat hasil yang memuaskan, kenyataanya kemajuan UKM masih sangat kecil dibandingkan dengan usaha besar. Kegiatan UKM meliputi berbagai kegiatan ekonomi, namun sebagian besar berbentuk usaha kecil yang bergerak disektor pertanian. UKM juga mempunyai peran yang strategis dalam pembangunan ekonomi nasional, oleh karena itu selain berperan dalam pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja juga juga berperan dalam pendistribusian hasil hasil pembangunan. Kebijakan yang tepat untuk mendukung UKM seperti: 1. Perizinan 2. Tekhnologi 3. Struktur 4. Manajeman 5. Pelatihan 6. Pembiayaan 2.4 Ciri-Ciri dan contoh Usaha Kecil Menengah Ciri-ciri usaha kecil menengah: 1. Berbasis pada sumber daya lokal sehingga dapat memanfaatkan potensi secara maksimal dan memperkuat kemandirian. 2. Dimiliki dan dilaksanakan oleh masyarakat lokal sehingga mampu mengembangkan sumber daya manusia.
  9. 9. 9 3. Jenis barang/komoditi yang diusahakan umumnya sudah tetap tidak gampang berubah; 4. Lokasi/tempat usaha umumnya sudah menetap tidak berpindah- pindah. 5. Pada umumnya sudah melakukan administrasi keuangan walau masih sederhana, keuangan perusahaan sudah mulai dipisahkan dengan keuangan keluarga 6. Sumberdaya manusia memiliki pengalaman dalam berwirausaha. 7. Sebagian sudah akses ke perbankan dalam hal keperluan modal. 8. Sebagian besar belum dapat membuat manajemen usaha dengan baik seperti business planning. Contoh usaha kecil menengah: 1. Usaha tani sebagai pemilik tanah perorangan yang memiliki tenaga kerja. 2. Pedagang dipasar grosir (agen) dan pedagang pengumpul lainnya. 3. Pengrajin industri makanan dan minuman, industri meubel air, kayu dan rotan, 4. Industri alat-alat rumah tangga, industri pakaian jadi dan industri kerajinan tangan. 5. Peternakan ayam, itik dan perikanan. 6. Koperasi berskala kecil. 2.5 Kekuatan Usaha Kecil Menengah 1. Penyediaan lapangan kerja, peran usaha kecil menengah dalam penyerapan tenaga kerja. 2. Mendukung tumbuh kembangnya wirausaha baru, dan memanfaatkan sumber daya alam sekitar. 3. Inovasi dalam teknologi yang dengan mudah terjadi dalam pengembangan produk. 4. Hubungan kemanusiaan yang akrab di dalam perusahaan kecil
  10. 10. 10 5. Fleksibilitas dan kemampuan menyesuaikan diri terhadap kondisi pasar yang berubah dengan cepat dibandingkan dengan perusahaan berskala besar yang pada umumnya birokratis 2.6 Kelemahan Usaha Kecil Menengah 1. Kesulitan pemasaran Salah satu aspek yang terkait dengan masalah pemasaran yang umum dihadapi oleh pengusaha UKM di Desa Porame adalah tekanan-tekanan persaingan, baik dipasar domestik dari produk- produk yang serupa buatan pengusaha-pengusaha besar dan impor, maupun dipasar ekspor. 2. Keterbatasan finansial UKM di Desa Porame menghadapi dua masalah utama dalam aspek finansial antara lain: modal (baik modal awal maupun modal kerja) dan finansial jangka panjang untuk investasi yang sangat diperlukan untuk pertumbuhan output jangka panjang. 3. Keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM) Keterbatasan sumber daya manusia juga merupakan salah satu kendala serius bagi UKM di Desa Porame, terutama dalam aspek-aspek kewirausahaan, manajemen, teknik produksi, pengembangan produk, control kualitas, akuntansi, mesin-mesin, organisasi, pemprosesan data, teknik pemasaran, dan penelitian pasar. Semua keahlian tersebut sangat diperlukan untuk mempertahankan atau memperbaiki kualitas produk, meningkatkan efisiensi dan produktifitas dalam produksi, memperluas pangsa pasar dan menembus pasar baru. 4. Masalah bahan baku Keterbatasan bahan baku dan input-input lain juga sering menjadi salah satu masalah serius bagi pertumbuhan output atau kelangsungan produksi bagi UKM di Desa Porame. 5. Keterbatasan teknologi
  11. 11. 11 Berbeda dengan Negara-negara maju, UKM umumnya masih menggunakan teknologi tradisonal dalam bentuk mesin-mesin tua atau alat-alat produksi yang sifatnya manual. Keterbelakangan teknologi ini tidak hanya membuat rendahnya jumlah produksi dan efisiensi di dalam proses produksi, tetapi juga rendahnya kualitas produk yang dibuat serta kesanggupan bagi UKM di Desa Porame untuk dapat bersaing di pasar global. 2.7 Definisi & Fungsi Akuntansi Definisi Akuntansi Akuntansi adalah pengukuran, penjabaran, atau pemberian kepastian mengenai informasi yang akan membantu manajer, investor, otoritas pajak dan pembuat keputusan lain untuk membuat alokasi sumber daya keputusan di dalam perusahaan, organisasi, dan lembaga pemerintah. Akuntansi adalah seni dalam mengukur, berkomunikasi dan menginterpretasikan aktivitas keuangan. Secara luas, akuntansi juga dikenal sebagai “bahasa bisnis”. Akuntansi bertujuan untuk menyiapkan suatu laporan keuangan yang akurat agar dapat dimanfaatkan oleh para manajer, pengambil kebijakan, dan pihak berkepentingan lainnya, seperti pemegang saham, kreditur, atau pemilik. Pencatatan harian yang terlibat dalam proses ini dikenal dengan istilah pembukuan. Akuntansi keuangan adalah suatu cabang dari akuntansi dimana informasi keuangan pada suatu bisnis dicatat, diklasifikasi, diringkas, diinterpretasikan, dan dikomunikasikan. Auditing, satu disiplin ilmu yang terkait tapi tetap terpisah dari akuntansi, adalah suatu proses dimana pemeriksa independen memeriksa laporan keuangan suatu organisasi untuk memberikan suatu pendapat atau opini – yang masuk akal tapi tak dijamin sepenuhnya – mengenai kewajaran dan kesesuaiannya dengan prinsip akuntansi yang diterima umum.
  12. 12. 12 Fungsi Akuntansi Setiap sistem utama akuntansi akan melaksanakan lima fungsi utamanya yaitu a. Mengumpulkan dan menyimpan data dari semua aktivitas dan transaksi perusahaan b. Memproses data menjadi informasi yang berguna pihak manajemen. c. Memanajemen data-data yang ada kedalam kelompok-kelompok yang sudah ditetapkan oleh perusahaan. d. Mengendalikan kontrol data yang cukup sehingga aset dari suatu organisasi atau perusahaan terjaga. 2.8 Laporan Keuangan UMKM sesuai Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP) Sejalan dengan keinginan untuk mencapai adanya suatu bentuk yang sama dalam hal akuntansi pencatatan dan pelaporan, International Accounting Standard Board (IASB) menyusun suatu acuan standar akuntansi keuangan internasional yang disebut sebagai International Financial Reporting Standard (IFRS). Dengan demikian, diharapkan standar akuntansi pencatatan dan pelaporan perusahaan- perusahaan di seluruh dunia akan disesuaikan dengan standar tersebut sehingga kinerja perusahaan antar negara dapat diperbandingkan dalam kerangka standar yang sama. Memperhatikan banyaknya entitas usaha dengan skala kecil dan menengah, maka IASB menerbitkan acuan standar akuntansi pencatatan dan pelaporan bagi entitas skala tersebut, yang disebut dengan IFRS for Small and Medium-Sized Entities (IFRS for SMEs). IFRS for SMEs merupakan modifikasi dan simplifikasi dari IFRS pokok yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan adanya standar pencatatan transaksi dan pelaporan keuangan sederhana dan tidak banyak membebani pengguna.
  13. 13. 13 Terminologi SME yang dipergunakan oleh IASB diartikan sebagai ”Entitas yang menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan umum dan ditujukan bagi pengguna eksternal serta tidak memiliki akuntabilitas publik”. Di berbagai negara, seperti Amerika Serikat, definisi ini mengacu pada entitas usaha privat (private entities). Atas dasar definisi tersebut dan praktek di lapangan, maka penyebutan IFRS for SMEs diubah menjadi IFRS for Private Entities. Sejalan dengan tujuan IAI untuk melakukan konvergensi standar akuntansi pencatatan dan pelaporan Indonesia dengan standar internasional, pada tanggal 16 Desember 2008 telah dilansir Exposure Draft Standar Akuntansi Keuangan untuk Usaha Kecil dan Menengah (ED SAK UKM) yang merupakan adopsi dari IFRS for SMEs dengan beberapa modifikasi yang diperlukan. Definisi yang dipergunakan oleh IASB mengenai UKM, praktek/definisi yang dipergunakan di negara lain, perubahan terminologi yang dilakukan oleh IASB, serta kondisi nyata entitas UMKM di Indonesia, ED SAK UKM diubah dan diformalkan menjadi Standar Akuntansi Keuangan untuk Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP) pada tanggal 19 Mei 2009. Dalam SAK ETAP telah dilakukan modifikasi dan simplifikasi atas ED SAK UKM sehingga diharapkan akan lebih mudah dilaksanakan oleh entitas UMKM di Indonesia. Definisi Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (ETAP) adalah entitas yang: 1) Tidak memiliki akuntabilitas publik signifikan; dan 2) Menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan umum (general purpose financial statement) bagi pengguna eksternal. Contoh pengguna eksternal adalah pemilik yang tidak terlibat langsung dalam pengelolaan usaha, kreditur, dan lembaga pemeringkat kredit.
  14. 14. 14 Suatu entitas dianggap memiliki akuntabilitas publik signifikan jika : 1) Entitas telah mengajukan pernyataan pendaftaran, atau dalam proses pengajuan pernyataan pendaftaran, pada otoritas pasar modal atau regulator lain untuk tujuan penerbitan efek di pasar modal; atau 2) Entitas menguasai aset dalam kapasitas sebagai fidusia untuk sekelompok besar masyarakat, seperti bank, entitas asuransi, pialang dan atau pedagang efek, dana pensiun, reksa dana dan bank investasi. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa SAK ini dapat pergunakan untuk seluruh entitas usaha yang tidak go public, tidak mengerahkan dana dari masyarakat serta laporan keuangan yang dihasilkan ditujukan untuk pengguna eksternal. Sesuai SAK ETAP, laporan keuangan entitas lengkap meliputi : 1) Neraca 2) Laporan Laba Rugi 3) Laporan Perubahan Ekuitas (Laporan Perubahan Modal) 4) Laporan Arus Kas 5) Catatan atas laporan keuangan yang berisi ringkasan kebijakan akuntansi yang signifikan dan informasi penjelasan lainnya. Sebagai acuan praktek, dalam menyusun laporan keuangan UMKM, langkah-langkah praktis yang sebaiknya dilakukan adalah: 1) Prinsip yang harus dipegang oleh UMKM adalah: mencatat seluruh transaksi baik transaksi tunai maupun kredit. Yang dimaksud dengan transaksi tunai adalah proses transaksi baik pembelian maupun penjualan yang langsung diselesaikan pembayarannya saat itu juga. Yang dimaksud dengan transaksi kredit adalah seluruh transaksi baik pembelian maupun penjualan dimana pembayarannya diselesaikan di waktu mendatang sesuai kesepakatan.
  15. 15. 15 2) Setiap transaksi sebaiknya memiliki bukti transaksi, misalnya kuitansi pembelian, bon penjualan dll. 3) UMKM sebaiknya memiliki catatan tersendiri untuk aspek-aspek utama laporan keuangan, yaitu : i. Catatan masuk/keluarnya kas ii. Catatan/rincian piutang (tagihan UMKM pada pihak lain). Diantaranya adalah bilamana UMKM melakukan penjualan secara kredit. iii. Catatan/rincian persediaan, baik barang dagang maupun bahan baku. iv. Catatan/rincian harta yang dimiliki, seperti kendaraan, mesin dll. v. Catatan/rincian hutang (kewajiban UMKM kepada pihak lain). Diantaranya adalah bilamana UMKM melakukan pembelian barang secara kredit. vi. Catatan/rincian mengenai modal (Dana yang dialokasikan untuk pendirian/kelangsungan Perusahaan). vii. Catatan/rincian penjualan viii. Catatan/rincian biaya-biaya yang dikeluarkan. 4) Bilamana diperlukan, UMKM dapat membuat daftar rincian yang lebih detil, seperti catatan persediaan bahan baku menurut jenis, pencatatan Harta Tetap (Aset) per satuan barang (misalnya kendaraan menurut merek dan nomor kendaraannya).
  16. 16. 16 BAB III GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 3.1Sejarah Singkat Desa Porame Asal-usul Desa Porame berdiri pada tahun 1902 yang saat itu masa penjajahan Belanda, masyarakat Masih hidup berpindah-pindah dan berjuang untuk mengusir penjajah dari tanah air kita ini, dengan perlengkapan senjata bambu runcing, tombak dan sumpit. Kehidupan masyarakat pada saat itu masih bertani, berkebun, dan berburu. Sebuah keberhasilan pertempuran pada saat itu, mereka kembali ke tempat semula untuk merayakan sebuah kemenangan yang disebut PORAME dalam acara tersebut para tadulako melakukan ritual mengucapkan rasa syukur. Kata Po artinya persatuan orang-orang atau para tadulako dalam melakukan musyawarah mencapai mufakat dan RAME artinya pesta atau kegiatan ritual adat yang dipusatkan disebuah tempat pemukiman. A. Kondisi Penduduk Di Desa Porame terdapat 1.498 jumlah penduduk yang terbagi atas 770 orang laki-laki dan 728 orang perempuan. Penduduk Desa Porame hidup rukun dan memiliki rasa gotong royong yang besar, hal ini terlihat pada setiap kegiatan baik yang bersifat sosial, keagamaan, adat, dan kegiatan lainnya yang mereka lakukan bersama-sama tanpa mengharapkan imbalan. 3.2 Kondisi Geografis 1. Letak Dan Batas Desa Porame Secara umum luas desa Porame ini adalah 800 Ha dengan jumlah penduduk sebesar 1498 jiwa yang berada di ketiggian 201 M dari permukaan laut. Seiring perkembangan pemekaran wilayah
  17. 17. 17 Kabupaten Sigi, desa Porame mengalami perkembangan yang cukup cepat dan dijadikan sebagai pusat kecamatan dari 9 desa di Kinovaro.  Adapun batas – batas wilayah Desa Porame yaitu : a) Sebelah Utara : Desa Boya Baliase b) Sebelah Selatan : Desa Uwemanje c) Sebelah Barat : Desa Balane d) Sebelah Timur : Desa padende  Orbitasi Desa Porame sendiri adalah sebagai berikut : a) Jarak dari Ibu Kota Kecamatan : 0,5 Km b) Jarak dari Ibu Kota Kabupaten : 15 Km c) Jarak dari Ibu Kota Propinsi : 10 Km 2. Topografi Tanah Dan Iklim Dilihat dari segi Geografi, Desa Porame merupakan suatu wilayah yang memiliki kemiringan antara 50 s/d 450 dan mempunyai tata guna lahan yang bervariasi, dimana yang lebih dominan penggunaan lahan diperuntukan untuk pertanian, perkantoran, persawahan, peternakan, Permandian dan perkebunan. 3.3Kondisi Demografis Di samping faktor lainnya aspek demografi termasuk salah satu aspek yang sangat penting dalam suatu wilayah Desa. Penduduk baik statusnya sebagai subyek dan terlebih lagi sebagai subyek pembangunan merupakan salah satu sumber daya terpenting yang kemampuannya harus ditumbuh kembangkan sehingga mampu menjawab berbagai perkembangan yang terjadi sebagai dampak dari pembangunan itu sendiri. Penduduk atau masyarakat yang cukup merupakan potensi sumber daya yang harus dimiliki oleh suatu wilayah, baik secara kuantitas maupun kualitasnya. Hal ini karena
  18. 18. 18 dalam setiap proses pembangunan, penduduk ataupun masyarakat merupakan objek sekaligus subyek dalam setiap kegiatan. Berdasarkan data tahun 2013 Desa Porame memiliki penduduk sejumlah 1.498 jiwa dengan rincian berdasarkan jenis kelamin sebagai berikut : Tabel 1 : Jumlah Penduduk Menurut Jenis kelamin Tahun 2013 Jenis Kelamin Jumlah (jiwa) Laki-laki 770 Perempuan 728 Jumlah 1.498 Sumber : Data Monografi Desa porame , Tahun 2013 Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa penduduk yang berjenis kelamin laki-laki lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah penduduk berjenis kelamin perempuan. Sementara itu jika dilihat dari struktur umur maka penduduk Desa Porame akan tergambar sebagaimana terlihat dalam tabel berikut berdasarkan data tahun 2013 yaitu Tabel 2 : Jumlah Penduduk Menurut Struktur Umur Tahun 2013 Umur (Tahun) Jumlah (Jiwa) 0 – 5 118 6 –15 330 15 – 16 23 17 – 60 348
  19. 19. 19 Sumber : Data Monografi Desa Porame, Tahun 2013 3.4Kondisi Sosial Budaya dan Ekonomi Kehidupan sosial di Desa Porame masih terasa kental rasa kekeluargaan dan gotong royongannya hal ini dapat dilihat pada pelaksanaan perayaan – perayaan yang ada dalam masyarakat baik itu perayaan keagamaan maupun perayaan – perayaan adat. Dimana semua orang saling membantu baik tenaga maupun pengadaan konsumsi untuk warga, semuanya dilakukan secara keswadayaan masyarakat. A. Agama/kepercayaan Keharmonisan hubungan antara penduduk di kelurahan/desa Porame salah satu faktor pendukungnya adalah karena mereka tidak melihat perbedaan agama sebagai penghambat dalam upaya integrasi dan asimilasi sehingga menciptakan suasana aman, damai dan tenteram diantara seluruh penduduk walau apapun agama yang dipeluknya. B. Mata Pencaharian Berikut ini kami tampilkan tabel dimana dari tabel dibawah ini kita dapat melihat dari segi ekonomi bahwa Penduduk di kelurahan/desa Makmur memiliki berbagai macam mata pencaharian yang terbagi dalam beberapa kelompok. Tabel 3 : Mata Pencaharian Mata Pencaharian Jumlah Buruh Tani 298 ABRI 2 Wiraswasta/Pedagang 103
  20. 20. 20 Pegawai Negeri 30 Sumber: Data Monografi Desa Porame, Tahun 2013 Adapun jenis populasi ternak yang ada di Desa Porame menurut data monografi Desa Porame yaitu : a) Sapi : 327 ekor b) Ayam : 1332 ekor c) Itik : 205 ekor d) Domba : 24 ekor e) Kambing : 451 ekor Adapun jenis populasi ternak yang ada di Desa Porame menurut data monografi yaitu ayam kampung berjumlah 1332 Ekor yang merupakan hewan ternak yang paling dominan dan dikembangbiakkan di desa Porame. Kegiatan perekonomian di wilayah Desa Porame terdiri dari sektor-sektor kegiatan yang merupakan sumber mata pencaharian penduduk, yaitu sebagai pegawai negeri, pedagang dan pegawai swasta, namun sebagian masyarakat masih mengandalkan mata pencaharian bertani, hal ini disebabkan masih tersedianya lahan pertanian di desa ini, meliputi sektor pertanian yang terdiri atas sub sektor perkebunan dan peternakan. A. Sarana dan Prasarana Umum Desa Porame Dari segi Sarana dan Prasarana umum yang ada di Desa Porame sudah dapat dikatakan cukup memadai hal ini dapat dilihat dari tersedianya beberapa sarana dan prasarana yang ada seperti terlihat pada tabel di bawah ini.
  21. 21. 21 Tabel 4 : Jumlah Sarana dan Prasarana No Prasarana Sarana Jumlah 1. Pendidikan TK Sekolah SD SMP SMA 1 unit 2 unit 1 unit 1 unit 2. Kesehatan Poskesdes 1 unit 3. Peribadatan Mesjid Gereja 2 unit 1 unit 4. Olah Raga Lapangan sepak bola 1 buah Sumber : Data Monografi Desa Porame, Tahun 2013
  22. 22. 22 BAB IV METODE PENELITIAN 4.1. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan pada Usaha Kecil Menengah (UKM) yang berada dalam daerah Desa Porame Kecamatan Kinovaro Kabupaten Sigi dengan jangka waktu dua bulan mulai dari tanggal 5 Maret 2013 s/d 11 Mei 2013. 4.2. Jenis dan Sumber Data Jenis penelitian yang digunakan peneliti dalam menyusun karya tulis ilmiah ini adalah metode penelitian kualitatif deskriptif. Adapun sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1) Data Primer Data primer merupakan data lapangan yang diperoleh langsung dari orang-orang atau pelaku yang menjadi subjek dalam penelitian ini seperti melalui hasil observasi dan hasil wawancara. 2) Data Sekunder Data Sekunder merupakan data primer yang sudah diolah lebih lanjut dan disajikan oleh pihak pengumpul data primer atau pihak lain misalnya dalam bentuk catatan maupun dokumen-dokumen. 4.3. Populasi dan Sampel Populasi dalam hal ini berkaitan dengan penelitian yaitu UKM di Desa Porame sebanyak 10 Usaha. Pengambilan sebagian subjek dari populasi dinamakan sampel. Dengan kata lain, tidak semua elemen dari populasi dapat dijadikan sampel. Cara pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah melalui beberapa tahapan. Pada tahapan pertama, pengambilan sampel dengan menggunakan teknik purposive sampling yaitu teknik penentuan sampel berdasarkan pertimbangan tertentu yaitu berdasarkan tujuan penelitian. Teknik ini digunakan untuk menentukan sasaran sampel yang akan digunakan oleh peneliti. Selanjutnya, pada tahapan kedua peneliti menggunakan teknik Simple Random Sampling.
  23. 23. 23 Menurut Singarimbun (1989: 155) simple random sampling (sampel acak sederhana) ialah sebuah sampel yang diambil sedemikian rupa sehingga tiap unit penelitian dari populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai sampel. 4.4. Teknik Pengumpulan Data Mengumpulkan data primer dan data sekunder peneliti menggunakan beberapa teknik pengumpulan data yakni observasi (pengamatan), wawancara mendalam, dan studi pustaka. Sedangkan sebagai teknik tambahan yakni pembicaraan informal. Selanjutnya masing-masing teknik pengumpulan data diuraikan sebagai berikut: 1) Observasi (Pengamatan) Observasi/Pengamatan yang dimaksud adalah pengamatan yang sistematis tentang kejadian dan tingkah laku dalam setting sosial yang dipilih untuk diteliti. 2) Wawancara Mendalam Menurut Indriantoro dan Supomo (2002) wawancara merupakan teknik pengumpulan data dalam metode survei yang menggunakan pertanyaan secara lisan kepada subyek penelitian”. Atau disebut juga wawancara secara personal. Wawancara personal didefinisikan Dermawan Wibisono (2008: 78) sebagai komunikasi langsung di mana pewawancara ada dalam situasi tatap muka dan melakukan proses tanya jawab secara langsung dengan responden. 3) Studi Pustaka Studi pustaka merupakan metode pengumpulan data dari berbagai sumber informasi dan mempelajari buku-buku yang berhubungan dengan permasalahan yang akan dibahas. Studi pustaka dilakukan guna melengkapi data dan informasi yang telah diperoleh melalui penelitian lapangan. 4) Wawancara Informal Teknik wawancara informal digunakan sebagai teknik tambahan dalam pengambilan data untuk memperoleh data
  24. 24. 24 tambahan. Teknik ini akan dilakukan peneliti diluar dari penelitiannya namun terstruktur. Penggunaan teknik ini dilakukan secara situsional sesuai dengan kebutuhan peneliti.
  25. 25. 25 BAB V PEMBAHASAN 5.1 Penerapan akuntansi dilihat dari kategori jenis kelamin, tingkat pendidikan pemilik/manajer UKM, pengalaman usaha pemilik/manajer UKM, umur perusahaan, jenis usaha, jumlah karyawan, dan omzet perusahaan Penelitian ini menguji tiga Aspek yaitu perbedaan penerapan akuntansi dilihat dari kategori kelompok responden, pengaruh masing- masing kelompok responden terhadap penerapan akuntansi, dan pengaruh penerapan akuntansi terhadap kinerja perusahaan. Pengujian ini bertujuan untuk menguji lebih dalam tentang perbedaan penerapan akuntansi dengan cara menguji per kelompok responden berdasarkan jenis kelamin, tingkat pendidikan pemilik/manajer UKM, pengalaman usaha pemilik/manajer UKM, umur perusahaan, jenis usaha, jumlah karyawan, dan omzet perusahaan. Hasil pengujian pertama pada sampel yang diteliti ditemukan bukti bahwa jenis kelamin, tingkat pendidikan manajer/pemilik UKM, pengalaman usaha manajer/pemilik UKM, umur perusahaan, jenis usaha, dan jumlah karyawan memiliki nilai yang tidak signifikan. Itu berarti bahwa tidak ada pengaruh jenis kelamin, tingkat pendidikan manajer/pemilik UKM, pengalaman usaha manajer/pemilik UKM, umur perusahaan, jenis usaha, dan jumlah karyawan terhadap penerapan akuntansi sehingga tidak ada perbedaan penerapan akuntansi dilihat dari kategori jenis kelamin, tingkat pendidikan manajer/pemilik UKM, pengalaman usaha manajer/pemilik UKM, umur perusahaan, jenis usaha, dan jumlah karyawan. Variabel omzet perusahaan ditemukan bukti bahwa omzet perusahaan memiliki nilai yang signifikan. Itu berarti bahwa ada pengaruh omzet perusahaan dengan penerapan akuntansi sehingga
  26. 26. 26 ada perbedaan penerapan akuntansi dilihat dari kategori omzet perusahaan. Hasil pengujian ini sesuai dengan penelitian terdahulu Wahyudi (2009) bahwa omzet perusahaan berpengaruh terhadap penerapan akuntansi. Begitu juga dengan pengalaman usaha manajer/pemilik UKM dan umur perusahaan sesuai bahwa omzet perusahaan berpengaruh terhadap penerapan akuntansi. Begitu juga dengan pengalaman usaha manajer/pemilik UKM dan umur perusahaan sesuai dengan penelitian Wahyudi (2009) bahwa pengalaman usaha manajer/pemilik UKM dan umur perusahaan tidak berpengaruh terhadap penerapan akuntansi. Penerapan akuntansi pada UKM dipengaruhi oleh omzet perusahaan karena semakin tinggi omzet perusahaan berarti semakin kompleks pengelolaan keuangan yang harus dilakukan oleh perusahaan tersebut. Oleh karena itu, perusahaan membutuhkan bantuan suatu sistem yang dapat memudahkan pengelolaan keuangan perusahaan, maka dari itu perusahaan menerapkan akuntansi. Adapun, perusahaan yang omzetnya masih kecil banyak yang belum menerapkan akuntansi karena dirasa masih belum perlu melakukan pengelolaan keuangan dengan rinci, cukup perhitungan manual saja. Selain itu, dengan omzet perusahaan yang masih kecil perusahaan merasa harus menanggung beban yang lebih besar daripada pendapatannya apabila menerapkan akuntansi. Karena UKM dengan omzet kecil menganggap akuntansi terlalu rumit dan membutuhkan banyak waktu. Berdasarkan hasil pengujian yang terkait dengan perbedaan penerapan akuntansi, ditemukan bukti bahwa ternyata memang ada perbedaan penerapan akuntansi pada tiap responden, namun perbedaan yang ada hanya disebabkan oleh salah satu karakteristik responden, yaitu adanya perbedaan penerapan akuntansi antar kategori omzet perusahaan.
  27. 27. 27 Perbedaan penerapan akuntansi antar kategori omzet perusahaan dapat dijelaskan sebagai berikut. Penerapan akuntansi pada UKM dengan omzet kurang dari Rp 25.000.000,- dan penerapan akuntansi pada UKM dengan omzet Rp 25.000.000,- sampai dengan Rp 75.000.000,- tidak jauh berbeda karena secara statistik tidak berbeda signifikan. Begitu pula antara penerapan akuntansi pada UKM dengan omzet Rp 25.000.000,- sampai dengan Rp 75.000.000,- dan penerapan akuntansi dengan omzet lebih dari Rp 75.000.000,- tidak jauh berbeda karena secara statistik tidak berbeda signifikan. Namun, antara penerapan akuntansi pada UKM dengan omzet kurang dari Rp 25.000.000,- dan penerapan akuntansi pada UKM dengan omzet lebih dari Rp 75.000.000,- sangat berbeda karena secara statistik berbeda signifikan. Jadi, dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi omzet perusahaan, maka perusahaan akan cenderung menerapkan akuntansi. UKM yang memiliki omzet lebih dari Rp 75.000.000,- dalam sebulan cenderung memiliki aktivitas operasional yang padat, jenis transaksi yang bervariasi, dan frekuensi yang sering. Oleh karena itu, UKM yang memiliki omzet lebih dari Rp 75.000.000,- tidak hanya membutuhkan catatan ringan seperti UKM pada umumnya, melainkan memerlukan pencatatan akuntansi yang lengkap. Pencatatan akuntansi yang lengkap dilakukan tidak hanya untuk mengetahui laba atau rugi selama satu periode, tetapi juga untuk mengetahui informasi-informasi penting yang mungkin diperlukan untuk tujuan lain. Seperti misalnya, pemilik/manajer UKM ingin memperluas area pemasaran atau mengajukan tambahan modal ke pihak bank, maka pemilik/manajer UKM membutuhkan lebih dari sekedar catatan akuntansi harian yang biasa dibuat UKM melainkan catatan akuntansi rinci seperti yang disyaratkan oleh ETAP, yaitu laporan keuangan. UKM yang memiliki omzet Rp 25.000.000,- sampai dengan Rp 75.000.000 cenderung membuat pencatatan akuntansi sederhana,
  28. 28. 28 biasanya hanya untuk mencatat pendapatan dan utang – piutang. Hal tersebut dikarenakan aktivitas operasionalnya belum banyak, jenis transaksinya pun belum terlalu beragam, dan frekuensinya masih jarang. Selain itu, cenderung tidak membutuhkan informasi khusus mengenai keuangan sehingga dirasa cukup membuat pencatatan akuntansi sederhana, yang penting bisa mengetahui laba atau rugi setiap periode. Untuk tambahan modal biasanya pemilik/manajer UKM cenderung mengandalkan modal keluarga atau memimjam pada sanak saudara. UKM yang memiliki omzet kurang dari Rp 25.000.000,- yang aktivitas operasionalnya masih jarang, jenis transaksinya tidak bervariasi, dan frekuensinya yang sangat jarang cenderung tidak melakukan pencatatan akuntansi, termasuk pencatatan akuntansi yang sederhana. Karena UKM yang omzetnya masih kecil cenderung tidak membutuhkan informasi yang detil mengenai kondisi keuangannya, sehingga cukup menggunakan sistem mengingat untuk mengetahui jumlah utang – piutangnya, jumlah pendapatannya, dan laba atau ruginya. Yang paling penting bagi pemilik/manajer UKM dengan omzet kecil adalah bukan bagaimana kinerja perusahaan mereka, melainkan bagaimana usaha mereka tetap bisa berjalan. 5.2 Penerapan akuntansi berpengaruh terhadap kinerja UKM di Desa Porame Hasil pengujian kedua pada sampel yang diteliti ditemukan bukti bahwa penerapan akuntansi memiliki nilai yang signifikan, bahwa ada pengaruh penerapan akuntansi terhadap kinerja perusahaan. Penerapan akuntansi berpengaruh terhadap kinerja perusahaan karena dengan akuntansi kita dapat melihat secara nyata kinerja perusahaan, yaitu melalui laporan keuangan. Penerapan akuntansi, UKM dapat mengukur kinerja perusahaannya, sehingga pemilik/manajer dapat mengambil keputusan dengan tepat terkait dengan pengembangan usahanya. Penerapan akuntansi
  29. 29. 29 tidak hanya perlu dilakukan di perusahaan besar, usaha kecil dan menengah juga perlu menerapkan akuntansi agar dapat berkembang dan mampu bersaing dengan perusahaan besar. Di Indonesia juga telah ditetapkan suatu standar khusus untuk akuntansi pada UKM, yaitu ETAP. Standar tersebut sengaja dibuat agar usaha kecil dan menengah tidak merasa diberatkan dengan beban penerapan akuntansi. Berdasarkan hasil pengujian yang dilakukan, mengidentifikasikan bahwa akuntansi sangat penting dan perlu diterapkan di semua perusahaan termasuk usaha kecil dan menengah (UKM) untuk meningkatkan kinerja perusahaan agar dapat bersaing dengan perusahan – perusahaan asing. Hal ini terbukti dengan berbagai hasil yang diperoleh pada pengujian yang dilakukan, ketika akuntansi diterapkan, perusahaan menghasilkan kinerja yang lebih baik daripada sebelum menerapkan akuntansi. Di Porame sendiri penerapan SAK ETAP 99% belum digunakan olek pengelola UKM, karena keterbatasan pengetahuan dan kemampuan menjadi faktor utama belum digunakannya. Keadaan ini membuat pihak UKM menjadi sulit untuk mengembangkan usahanya. Pihak kreditur juga mewajibkan UKM untuk membuat laporan keuangannya sebagai syarat memberi pinjaman.
  30. 30. 30 BAB VI PENUTUP 6.1 Kesimpulan 1. Dari hasil analisis yang telah dikemukakan, ternyata tingkat penerapan akuntansi pada UKM di wilayah Porame belum cukup baik. Hal ini dapat dibuktikan dengan melihat rata-rata dari jawaban responden yang sebagian besar belum menerapkan sistem akuntansi dengan baik. 2. Berdasarkan hasil analisis terhadap hipotesis pertama dapat disimpulkan bahwa jenis kelamin, tingkat pendidikan pemilik/manajer UKM, pengalaman usaha pemilik/manajer UKM, umur perusahaan, jenis usaha, dan jumlah karyawan tidak memiliki pengaruh terhadap penerapan akuntansi sehingga tidak ada perbedaan penerapan akuntansi dilihat dari kategori jenis kelamin, tingkat pendidikan pemilik/manajer UKM, pengalaman usaha pemilik/manajer UKM, umur perusahaan, jenis usaha, dan jumlah karyawan. Namun, omzet perusahaan memiliki pengaruh secara signifikan terhadap penerapan akuntansi. Hasil tersebut membuktikan bahwa hanya omzet secara signifikan dilihat dari kategori omzet perusahaan. Semakin tinggi omzet perusahaan, maka perusahaan akan cenderung menerapkan akuntansi. 3. Hasil pengujian terhadap kinerja perusahaan pada hipotesis kedua ditemukan bukti bahwa penerapan akuntansi memiliki pengaruh secara signifikan terhadap kinerja perusahaan. Hasil tersebut dapat membuktikan hipotesis kedua yang menyatakan, “Ada pengaruh penerapan akuntansi terhadap kinerja perusahaan”. Penelitian ini diharapkan dapat perusahaan yang memiliki pengaruh terhadap penerapan akuntansi. Terbukti hasil penelitian ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Muhamad Wahyudi bahwa omzet perusahaan mempengaruhi persepsi pelaku UKM mengenai penerapan akuntansi.
  31. 31. 31 6.2 Saran Tindak 1. Pemerintah daerah diharapkan mampu meningkatkan tingkat pendidikan Akuntansi yang masih rendah di Wilayah, sehingga bisa mempraktekannya dalam membuka usaha. 2. Pemerintah daerah perlu memberikan pelatihan dan pembinaan khususnya kepada masyarakat Desa Porame tentang pembuatan laporan keuangan UKM sehingga bisa berkembang dengan cepat.
  32. 32. 32 DAFTAR PUSTAKA Buku : Adi, M. Kwartono, Kiat Sukses Berburu Modal UMKM, Raih Asa Sukses, Jakarta, 2009 Ikatan Akuntan Indonesia, Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik, Jakarta, Mei 2009 Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia, Pedoman Akuntansi Bagi Usaha Kecil, Jakarta, 2003 Penelusuran Website: http://id.wikipedia.org/wiki/UKM http://www.dutamasyarakat.com/artikel-32699-keunggulan-dan kelemahan-ukm.html http://www.usaha-kecil.com/usaha_kecil_menengah.html http://galeriukm.web.id/news/kriteria-usaha-mikro-kecil-dan-menengah umkm http://infoukm.wordpress.com/ http://galeriukm.web.id/news/kriteria-usaha-mikro-kecil-dan-menengah umkm pksm.mercubuana.ac.id/new/elearning/…/31013-3-478126269633.do
  33. 33. 33 Lampiran 1 DAFTAR RIWAYAT HIDUP A. DATA PRIBADI 1. Nama Lengkap : MOHAMAD KHAIDIR 2. Tempat Tanggal Lahir : AMPANA, 26 MEI 1991 3. Agama : ISLAM 4. Kewarganegaraan : INDONESIA 5. Status : BELUM KAWIN B. DATA KELUARGA 1.Nama Ayah : HASRI NASIR ((Alm.) 2.Pekerjaan : PNS 3.Nama Ibu : HADIJA GIASI 4.Pekerjaan : GURU C. PENDIDIKAN FORMAL 1.SDN : NEGERI BIRO 2.SMP : NEGERI 2 PALU 3.SMA : NEGERI 2 PALU 4.FAKULTAS : EKONOMI DAN BISNIS
  34. 34. 34 Lampiran 2 PETA DESA PORAME
  35. 35. 35 LAMPIRAN DOKUMENTASI

×