Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Lap keuangan

3,377 views

Published on

  • Halo, Aku Mrs. Maureen Kurt, kreditor pinjaman swasta, apakah Anda secara finansial sedang jatuh? Mencari pinjaman untuk menumbuhkan bisnis Anda, melunasi tagihan dan hutang Anda, pernahkah Anda ditolak oleh bank dan lembaga keuangan lainnya? Saya memberikan pinjaman kepada lokal dan internasional untuk semua pihak yang membutuhkan pinjaman dan dapat membayar kembali dengan tingkat bunga rendah sebesar 2%. Saya terdaftar dan disetujui oleh Kerajaan Inggris untuk mengendalikan institusi keuangan di seluruh dunia. Saya memberikan pinjaman melalui transfer rekening atau cek bank dan tidak memerlukan banyak dokumen. Anda dapat menghubungi kami via Email: (maureenkurtfinancialservice@gmail.com). Datanglah kepada kita dan kita akan memperbaiki hidupmu.
       Reply 
    Are you sure you want to  Yes  No
    Your message goes here
  • Be the first to like this

Lap keuangan

  1. 1. http://jurnalakuntansikeuangan.com/2014/04/menghitung-dan-menginterpretasikan-rasio- laporan-keuangan/ Menghitung dan Menginterpretasikan Rasio Laporan Keuangan oleh Mr. JAK 16 Komentar Ditulis oleh Mr. JAK 
  2. 2. 144  33  3  1 Produk akhir paling penting dari proses akuntansi adalah Laporan Keuangan. Namun tanpa dianalisa, laporan keuangan tak lebih dari “buku diary” anak ABG. Apakah menghitung rasio- rasio laporan keuangan sulit? Samasekali tidak. Yang sulit adalah menginterpretasikan dan menindaklanjuti hasil analisa. Sayangnya, setidaknya menurut pengetahuan saya, pekerjaan menganalisa ini lebih banyak dilakukan oleh para analyst dibanding akuntan. Di dalam perusahaan? Khususnya di skala kecil dan menengah, perusahaan jarang peduli dengan hal beginian. Ada pegawai accounting yang jumlahnya sangat terbatas, sudah kewalahan menangani tugas-tugas rutin terkait bookkeeping. Yang ironis, ketika agak lega sedikit, malah difungsikan untuk hal-hal yang tak ada kaitannya dengan akuntansi. Sangat disayangkan, masih banyak pelaku UKM yang belum menyadari pentingnya menganalisa laporan keuangan. Andai rutinitas di accounting diefektifkan dan staf difungsikan dengan semestinya, saya yakin bisa melakukan analisa-analisa, setidaknya yang terkait dengan “Indikator Kinerja Kunci” (Key Performance Indicator). Di bangku sekolah atau kampus, topik rasio laporan keuangan tak diajarkan serinci akuntansi keuangan. Bisa jadi karena padatnya materi perkuliahan membuat proses belajar rasio terlalu cepat, hanya sepintas lalu, sehingga tak begitu melekat di dalam ingatan. Jika telah diajarkan secara initensif namun tetap saja sulit paham, saya kira, itu wajar. Bukan karena mahasiswanya bodo, tapi lebih karena materi seperti ini memang sulit untuk dipahami jika tak pernah berhadapan langsung dengan masalah riil di lapangan. Pahampun misalnya, tetap
  3. 3. saja hanya sebatas permukaan. Tidak praktikal. Sebab pembelajaran di kampus, setahu saya, memang tidak dirancang untuk maksud seperti itu. Bisa menjawab soal ujian, sudah cukup. Dan itu, sekalilagi, wajar. Hafal rumus dan paham logika dasarnya saja sudah bagus. Tidak apa-apa. Melalui tulisan ini, saya ingin mengajak pembaca JAK untuk melihat kembali rasio-rasio laporan keuangan yang mungkin terlewatkan saat belajar di kampus. Disamping cara menghitung, saya juga akan sertakan cara menginterpretasikan masing-masing rasio. Tentunya dengan contoh kasus. Harapannya, setelah membaca tulisan ini, mudah-mudahan menjadi lebih paham sekaligus mampu mengaplikasikannya sendiri di tempat kerja. Empat Kelompok Rasio Laporan Keuangan Jenis rasio keuangan—secara umum—sangatlah banyak. Semunya bagus dan penting. Namun untuk akuntan dan orang accounting pada umumnya, saya rasa tak perlu menguasai semuanya. Cukup rasio-rasio yang menggunakan Laporan Keuangan sebagai basis data saja. Ada 4 kelompok utama rasio yang menggunakan laporan keuangan sebagai basis data, yaitu: 1. Kelompok Rasio PROFITABILITAS (Mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan Laba) 2. Kelompok Rasio LIKUIDITAS (Mengukur kemampuan perusahaan membayar utang jangka pendeknya) 3. Kelompok Rasio TATAKELOLA ASET (Mengukur efektifitas tatakelola aset perusahaan) 4. Kelompok Rasio STRUKTUR MODAL/LEVERAGE (Mengukur kemampuan perusahaan membayar utang jangka panjangnya.) JAK akan fokus pada empat kelompok rasio ini. Dan, karena banyaknya materi maka pembahasan terpaksa akan dipecah menjadi dua bagian. Di bagian pertama (dalam tulisan ini) JAK akan bahas dua kelompok pertama terlebih dahulu, yakni PROFITABILITAS dan LIKUIDITAS. Mengapa? Diantara rasio-rasio lainnya, yang paling penting dan krusial adalah Profitabilitas dan Likuiditas. Kita mulai dengan kelompok rasio Profitabilitas. Kelompok Rasio Profitabilitas (Profitability Ratio) Sejak jaman sekolah sudah diajari bahwa tujuan suatu perusahaan didirikan adalah laba (profit). Tak ada satu perusahaan pun yang didirikan untuk maksud selain profit. Semua aktivitas operasional yang dilakukan oleh perusahaan—apapun jenis usahanya, apapun model bisnisnya, dimanapun lokasinya, apapun strukturnya, seberapa besar pun skalanya—selalu bermuara pada profit. Bisa dibilang, tak ada yang lebih penting dari profit.
  4. 4. (Catatan: Organisasi yang orientasinya bukan profit tidak disebut perusahaan, melainkan yayasan atau istilah umumnya “lembaga non-profit.”) Itu sebabnya, hal pertama yang ingin diketahui oleh pihak-pihak yang berkepentingan adalah: apakah perusahaan menghasilkan profit? Berapa? ILUSTRASI: Agar menjadi praktikal, thus lebih mudah dipahami, saya gunakan PT. JAK sebagai ilustrasi. Semua pihak terkait PT JAK—baik internal maupun eksternal—berkepentingan atas informasi profit yang dihasilkan oleh perusahaan:  Jika saya CEO PT JAK, maka saya ingin tahu apakah perusahaan yang saya pimpin berhasil mencapai tujuannya, yaitu menghasilkan profit, atau gagal. Apakah mandat yang diberikan oleh para pemegang saham untuk mengelola perusahaan terlaksana seperti yang diharapkan sehingga bisa memberikan dividend atau tidak.  Andai saya adalah salahsatu manajer di PT JAK, maka saya ingin tahu apakah upaya saya mengelola perusahaan ada hasilnya, yakni berupa profit, atau malah rugi. Apakah kepercayaan CEO PT JAK yang mengangkat saya jadi manajer selama ini ada hasilnya atau malah sia-sia. Apakah saya akan menerima bonus dan promosi atau malah digeser lalu dipecat.  Jika saya salahsatu pemegang sahamnya PT. JAK, saya ingin tahu apakah uang yang saya tanamkan di PT. JAK dikelola dengan benar sehingga perusahaan menghasilkan profit dan akan berkembang atau sebaliknya. Dan yang tak kalah pentingnya, apakah saya akan menerima dividend atau malah harus nyetor tambahan modal supaya perusahaan tak bangkrut?  Seandainya saya jadi krediturnya PT JAK (entah sebagai pemasok atau lembaga keuangan pemberi pinjaman), saya ingin tahu apakah perusahaan ini dalam kondisi profitable thus mampu membayar utang/pinjamannya dengan lancar atau sebaliknya. Apakah saya akan memberikan plafond kredit yang sama seperti sebelumnya atau perlu diturunkan atau malah hentikan samasekali.  Ditjend Pajak, juga perlu tahu apakah PT JAK dalam kondisi untung atau merugi, sebagai dasar untuk menentukan besaran pajak yang dikenakan. “PT JAK berhasil membukukan profit Rp 979,000,000” bisik Chief Accountant nya PT. JAK sambil menyodorkan satu set Laporan Keuangan per 31 Desember 2014. Pada Laporan Keuangan, informasi Laba/Rugi perusahaan disajikan pada Laporan Laba/Rugi. Di bawah ini (untuk ilustrasi) adalah Laporan Laba/Rugi PT JAK (angka dalam ribuan):
  5. 5. Dan di bawah ini adalah Laporan Posisi Keuangan atau Neraca PT. JAK (angka dalam ribuan):
  6. 6. Oke. PT JAK menghasilkan profit sebesar Rp 979,000,000 seperti nampak pada Laporan Laba/Rugi. Pertanyaannya: Apakah profit segini ini terbilang rendah, sedang, atau tinggi? Apakah capaian profit ini sudah terbilang bagus atau belum? Apakah angka profit tersebut mencerminkan kinerja yang bagus atau tidak? Apakah wajar atau tidak? Dan seterusnya. Jawabannya: relative dan tergantung. Ya saya tahu, jawaban “relative dan tergantung” sangatlah klise (semua orang juga tahu mah). Namun itulah kenyataannya. Artinya, informasi “Laba Rp xxxxxx” atau “Rugi xxxxxx” tidaklah cukup. Itu sebabnya mengapa Laporan Keuangan (Neraca, Laba/Rugi dan Laporan Arus Kas) perlu dianalisa. Khusus untuk menganalisa “tingkat laba” atau “profitabilitas” (profitability) yang lumrah digunakan adalah rasio-rasio dari kelompok profitabilitas.
  7. 7. “Rasio Profitabilitas” mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba dengan cara membandingkan antara laba (profit) dengan elemen-lemen lain laporan keuangan seperti Penjualan, HPP, Aset, Ekuitas, Modal Saham, dlsb. Ada 6 rasio profitabilitas yang paling sering digunakan, yakni: (1) Gross Margin on Sales (2) Profit Margin on Sales atau Return on Sales—ROS (3) Return on Assets—ROA (4) Return on Equity—ROE (5) Earnings Per Share—EPS dan (6) Dividend Payout Ratio. Mari kita lihat satu-per-satu dengan menggunakan contoh Laporan Keuangan PT JAK di atas. Kita mulai dengan Gross Margin On Sales. 1. Rasio Gross Margin On Sales Seperti namanya, “Gross Margin On Sales”—kadang disebut “Gross Profit Margin On Sales”— adalah angka perbandingan antara Laba Kotor (Gross Margin) dengan Penjualan Netto (Net Sales). Yang disebut Penjualan Netto adalah Penjualan setelah dikurangi diskon, potongan rabat dan retur. Sehingga formula untuk rasio ini adalah sbb: Rasio Gross Margin on Sales = Gross Margin / Penjualan Netto Sedangkan Gross Margin adalah sisa dari angka penjualan netto setelah dikurangi Harga Pokok Penjualan (Cost of Goods Sold) yang bisa dipermulasikan dengan “Penjualan – Harga Pokok Penjualan,” seperti nampak pada contoh Laporan Laba/Rugi di atas. Rasio Gross Margin on Sales = (Penjualan Netto – HPP) / Penjualan Netto Pada Laporan Laba/Rugi PT JAK, nampak Penjualan Netto Rp 10,907,000,000. Sedangkan Gross Margin nya Rp 4,825,000,000 sehingga: Rasio Gross Margin on Sales = 4,825,000,000/10,907,000,000 = 44% Rasio Gross Margin on Sales = 44%. Apa artinya? Interpretasi: Untuk setiap Rp 1 penjualan bersih yang dihasilkan oleh PT JAK, Rp 0.56 dipergunakan untuk menutup Harga Pokok Penjualan, sehingga tersisa Rp 0.44 saja untuk menutup biaya operasional, dan PT JAK berharap untuk menghasilkan profit. Dengan kata lain, dari total penjualan netto yang dihasilkan, 56% nya habis digunakan untuk menutup HPP dan hanya 44% yang tersisa untuk menutup biaya operasional, JAK berharap ada sisa laba bersih di akhir perhitungan. Pertanyaan: Apakah Rasio Gross Margin on Sales sebesar 44% itu tergolong tinggi, ideal, atau rendah?
  8. 8. Jawaban: Berbeda antara bidang usaha yang satu dengan lainnya. Misalnya: perusahaan jenis hospitality (hotel dan restoran) berbeda dengan manufaktur, berbeda dengan banking, berbeda dengan retailer, berbeda dengan jasa konstruksi, berbeda dengan maskapai, dlsb. Untuk itu perlu dibandingkan dengan rasio yang sama pada perusahaan sejenis, istilahnya di “benchmark”. Catatan: Yang menjadi penentu tinggi rendahnya angka “benchmark” adalah tingkat persaingan (competitiveness) dalam suatu bidang usaha. Misalnya: Benchmark ideal untuk bidang usaha retailer produk consumer goods mungkin hanya 60% karena persaingan yang ketat. Akan tetapi untuk bidang usaha retailer produk butik mungkin mencapai 200% karena persaingannya tidak ketat. Dan lain sebagainya. Rekomendasi: Sekedar ilustrasi, katakanlah PT JAK adalah manufaktur pakaian jadi dan benchmark rasio Gross Margin On Sales untuk bidang usaha ini adalah 70%. Artinya, PT JAK boros di HPP, entah karena harga jual yang terlalu rendah (karena marketingnya yang lemah atau kualitas produknya yang rendah) atau bisa jadi karena manufacturing cost PT JAK yang ketinggian akibat inefisiensi. Sudah tentu perlu investigasi lebih lanjut untuk mengetahui permasalahan yang sebenarnya, sehingga bisa mencari solusi yang paling tepat. 2. Rasio Profit Margin On Sales Rasio Profit Margin on Sales—atau sering disebut “Return on Sales” (ROS)—adalah angka perbandingan antara Laba Bersih (Net Profit) dengan Penjualan Netto (Net Sales). Sehingga formulanya: Rasio Profit Margin On Sales = Laba Bersih / Penjualan Netto Dalam kasus PT. JAK, dengan menggunakan Laporan Laba/Rugi di atas, menjadi: Rasi Profit Margin on Sales = Rp 979,000,000 / 10,907,000,000 = 9% Artinya apa? Interpretasi: Untuk setiap Rp 1 dari penjualan netto yang dihasilkan, laba bersih yang tersisa hanya Rp 0.09. Sedangkan yang Rp 0.91 habis untuk menutup HPP, biaya operasional dan pajak. Dengan kata lain, dari total penjualan netto yang dihasilkan, PT JAK hanya menyisakan 9% laba bersih. Sedangkan 91% nya habis untuk menutup HPP, Biaya Operasional dan Pajak. Berapa rasio idealnya? Sama seperti rasio sebelumnya—relatif, tergantung berapa benchmark untuk bidang usaha sejenis. Rekomendasi: Sebagai ilustrasi, katakanlah benchmark Rasio Profit Margin On Sales untuk bidang usaha sejenis adalah 20% sementara Rasio nya JAK kurang dari separuhnya (hanya 9%). Artinya ini sejalan dengan Rasio Gross Margin on Sales-nya yang juga rendah. Hanya saja ruang
  9. 9. penelusuran menjadi lebih luas karena bisa jadi inefisiensi terkjadi juga di wilayah biaya operasional. 3. Rasio Return On Assets (ROA) “Return On Assets” (ROA) digunakan untuk mengukur efektifitas penggunaan aset dalam menghasilkan profit. Dengan kata lain, rasio ini mencerminkan seberapa efektif manajemen menggunakan Aset milik perusahaan guna menghasilkan Laba. Pengukuran dilakukan dengan membandingkan Laba Bersih yang dihasilkan pada satu periode dengan nilai bersih total aset. Formulanya: Rasio Return On Assets = Laba Bersih / Total Aset Laba Bersih PT JAK Rp 979,000,000. Sementara total nilai aset-nya (lihat Neraca) adalah Rp 10,715,000,000. Sehingga: Rasio Return On Assets = Rp 979,000,000 / Rp 10,715,000,000 = 9.1% Apa artinya? Interpretasi: Untuk setiap Rp 1 Aset yang digunakan, PT JAK hanya mampu menghasilkan Rp 0.091 Laba Bersih. Bisa juga dikatakan, PT JAK hanya mampu menghasilkan Laba Bersih 9.1% dari total Aset yang digunakan. Apakah ROA 9.1% ini tergolong layak atau tak layak? Sama seperti dua rasio sebelumnya, harus dibandingkankan dengan rasio rata-rata (benchmark) untuk bidang usaha sejenis. Rekomendasi: Jika ROA rata-rata perusahaan sejenis di atas 9.1%, itu artinya PT JAK tidak cukup efektif dalam pengelolaan aset. Ada beberapa kemungkinan penyebab, diantaranya:  Kas menganggur (idle cash) yang tinggi, artinya banyak Kas PT. JAK yang tersimpan begitu, mestinya kas dikelola sedimikian rupa sehingga tidak ada kas yang menganggur, tanpa mengorbankan likuiditas. Namun sebelum sampai pada kesimpulan ini perlu uji likuiditas terlebih dahulu (nanti kita bahas di rasio likuiditas). Jika pada hasil uji likuiditas terbukti banyak kas menganggur, ke depannya manajemen PT JAK perlu menerapkan kebijakan kas yang lebih ketat (missal: cash reserve dibatasi sampai pada angka tertentu yan dinilai ideal). Selebihnya, kas harus diinvestasikan entah ke dalam operasional perusahaan atau diinvestasikan di perusahaan lain atau membeli surat berharga.  Perpuataran Piutang PT JAK rendah, artinya terlalu banyak penjualan secara kredit dan proses penagihan tergolong lambat, akibatnya Kas yang nongkrong pada pelanggan (dalam bentuk piutang) terlalu tinggi. Namun sebelum sampai pada kesimpulan itu, PT JAK perlalu melakukan uji dengan menggunakan “Rasio Tata Kelola Aset” (di tulisan berikutnya saya akan bahas kelompok rasio ini). Jika pada uji rasio tata kelola aset
  10. 10. terbukti perpuataran Piutang PT JAK rendah, maka ke depannya perlu menerapkan kebijakan kredit yang lebih prudent untuk mencapai perputaran yang lebih tinggi (cepat).  Terlalu banyak Aset Tetap yang menganggur atau tidak digunakan secara efektif. Dengan kata lain perusahaan tidak beroperasi dalam kapasitas yang penuh. Misalnya: menyewa gedung ukuran 3000 meter persegi padahal yang dibutuhkan dan digunakan secara efektif hanya 1000 meter persegi. Atau, PT JAK memiliki mesin yang beroperasi di bawah kapasitas yang seharusnya atau malah menganggur samasekali. Atau PT JAK memiliki kendaraan operasional yang terlalu banyak atau harganya yang terlalu tinggi. Hal ini perlu diinvestigasi lebih lanjut. 4. Rasio Return On Equity (ROE) atau Return On Investment (ROI) “Rasio Return On Equity” (ROE) digunakan untuk mengukur kemampuan efektifitas perusahaan dalam memberikan penghasilan bagi setiap investasi dalam bentuk ekuitas yang ditanamkan oleh pemegang saham. Itu sebabnya rasio ini sering disebut “Return on Investment (ROI). Pengukuran dilakukan dengan cara membandingkan antara Laba Bersih yang dihasilkan pada suatu periode dengan saldo rata-rata Ekuitas Pemilik pada Neraca. Formulanya: Return on Equity (ROE) = Laba Bersih / Rata-Rata Ekuitas Laba Bersih pada Laporan Laba/Rugi PT JAKmenunjukkan angka Rp 979,000,000. Sementara total Ekuitas pada Neraca menunjukkan angka Rp 2,071,000,000. Sehingga: ROE atau ROI = Rp 979,000,000 / 2,071,000,000 = 47.3% Apa artinya? Interpretasi: Untuk setiap Rp 1 yang diinvestasikan pada PT JAK, pemegang saham memperoleh tambahan nilai ekuitas Rp 0.473. Bisa juga dikatakan, dari total investasi pada PT JAK, pemegang saham memperoleh kenaikan nilai ekuitas hampir separuhnya yakni 47.3%. Apakah ROE atau ROI 47.3% tergolong tinggi, sedang atau rendah? Ini tergolong tinggi, setidaknya jika dibandingkan dengan suku bunga deposito. Namun, yang kerap jadi persoalan angka ROE atau ROI yang tinggi kerap tak diimbangi dengan pembayaran dividend yang sesuai, karena hambatan likuiditas misalnya. Sehingga ROE/ROI bukanlah rasio satu-satunya yang mereka lihat. Mereka lebih suka melihat fakta dividend yang akan dibagikan. 5. Rasio Earnings Per Share (EPS) “Rasio Earning Per Share (EPS) mengukur kemampuan setiap lembar saham perusahaan dalam menghasilkan pendapatan bagi para pemegangnya.
  11. 11. Catatan: Pada Laporan Keuangan perushaan berstatus Go Public yang disusun menggunakan acuan GAAP, EPS wajib disajikan pada Laporan Laba/Rugi. Hal ini kemudian membuat nilai EPS menjadi pusat perhatian semua pihak (internam maupun eksternal), sehingga angka EPS— secara psikologis—lebih berpengaruh terhadap nilai saham di bursa dibandingkan Laba Bersih atau ROE/ROI. Perhitungan EPS tidak sederhana. Namun untuk penyederhanaan, bisa diformulasikan sbb: EPS (Sederhana) = (Laba Bersih – Dividend Preferen) / Rata-Rata Tertimbang Saham Beredar Keterangan:  “Dividend Preferen” adalah dividend yang dibagikan bagi Saham Preferen (prefererred stock). Sementara, saham preferen adalah jenis saham dimana pemegangnya memiliki hak lebih dibandingkan saham biasa, sehingga sering disebut “saham istimewa.” Kelebihan yang paling menonjol adalah berupa jadwal penerimaan dividend paling pertama. Para pemegang saham biasa baru boleh menerima dividend setelah semua pemegang saham preferen menerima secara penuh. Hal ini membuat pemegang saham pereferen bisa menerima nilai dividend yang minimal tetap (fixed) atau naik setiap periodenya. Bagian dividend untuk saham preferen inilah yang disebut “dividend preference.”  “Rata-Rata Tertimbang Saham Bereda” adalah jumlah Saham Biasa (Common Stock) beredar yang dirata-ratakan selama kurun waktu beredarnya saham. Pertanyaan: Bagaimana jika perusahaan tidak memiliki saham preferen? EPS otomatis sama dengan Laba Bersih dibagi Rata-Rata Tertimbang Saham Beredar Misalnya: Jika perusahaan melaporkan Laba Bersih Rp 1,000,000,000, tidak memiliki saham preferen, dan saham (biasa) beredarnya 1,000,000,000 lembar, maka EPS nya otomatis Rp 1. Bagaimana jika dalam contoh di atas ada 750,000,000 lembar saham biasa baru diterbitkan di akhir tahun buku (31 Desember)? Yang dihitung sebagai rata-rata tertimbang saham beredar hanya 250,000,000 lembar saham saja. Sebab yang 750,000,000 dianggap belum beredar. Sehingga EPS-nya menjadi Rp 1,000,000,000/250,000,000 lembar=Rp 4.00. Logikanya, uang hasil penjualan 750,000,000 saham belum sempat digunakan untuk menghasilkan profit, sehingga tidak berhak atas dividend. Dalam kasus PT JAK, katakanlah harga saham per lembar nya Rp 0.25 (ini biasa disebut “par value”). Modal saham disetor Rp 105,000,000 pada Neraca diterjemahkan menjadi total lembar saham beredar sebanyak 105,000,000/0.25 = 420,000,000 lembar saham beredar. Jika keseluruhan saham ini diasumsikan beredar sejak awal tahun tanpa mengalami perubahan, maka: EPS (sederhana) = Rp 979,000,000 / 420,000,000 = Rp 2.33
  12. 12. 6. Rasio Pembayaran Dividend (Dividend Payout Ratio) “Rasio Pembayaran Dividend” adalah rasio perbandingan antara pembayaran dividend saham biasa dalam bentuk kas dengan Laba Bersih setelah dikurangi dividend preferen. Sehingga formulanya menjadi: Rasio Pembayaran Dividend = Dividend Kas Saham Biasa / (Laba Bersih – Dividend Preferen) Jika pada kasus PT JAK dividend kas yang dibayarkan untuk saham biasa sebesar Rp 450,000,000 sementara tidak ada dividend preferen, maka: Rasio Pembayaran Dividend = Rp 450,000,000 / Rp 979,000 = 46% Apa artinya? Interpretasi: Untuk setiap Rp 1 laba bersih yang dihasilkan oleh PT JAK, yang dibagikan dalam bentuk dividend kas kepada pemegang saham biasa hanya Rp 0.46. Atau bisa dibaca, dari total laba bersih yang dihasilkan oleh PT JAK, yang dibagikan dalam bentuk dividend kas kepada pemegang saham biasa hanya 46% nya. Apakah Rasio Pembayaran Dividend 46% tergolong tinggi, rendah, atau sedang? Agak sulit diekspresikan. Sebab pada kenyataannya, pembagian dividend kas kepada pemegang saham biasa sering kali bersifat fluktuatif, bahkan ada kalanya pemegang saham tak menerima dividend samasekali. Hal ini bisa terjadi ketika laba bersih perusahaan tergolong rendah, sehingga laba habis dibagikan untuk pemegang saham preferen. Yang terpenting di sini adalah tingkat kepuasan pemegang saham. Tingkat kepuasan ini tak bisa diukur dari satu snapshot, mesti diukur dengan trending analysis dalam jangka waktu yang agak lama. Catatan: Sesungguhnya masih ada satu rasio lagi yang lumrah digunakan untuk menganalisa laporan keuangan, terutama terkait dengan kepentingan investor, yakni “Price-Earning Ratio” (P/E Ratio). Karena agak rumit dan butuh penjelasan yang panjang lebar, maka terpaksa pembahasan rasio ini saya tunda dahulu. Percuma jika tidak bisa dipahami dengan baik. Mudah- mudahan bisa saya bahas, secara mengkhusus, di lain kesempatan. Secara keseluruhan, rasio profitabilitas mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan profit. Bisa juga dipandang sabagai pengukuran terhadap efektifitas operasional perusahaan. Namun, seperti telah saya singgung dalam penjelasan di atas, perlu disadari bahwa pengukuran profitabilitas perusahaan kerap memerlukan tindaklanjut untuk menemukan sumber masalah yang mungkin terjadi. Sehingga, bisa dikatakan profitability ratio tidak cukup. Perlu analisa- analisa lanjutan. Yang paling urgent setelah pegukuran profitabilitas adalah pengukuran likuiditas. Bahkan ada juga yang berpendapat sebaliknya, justru pengukuran likuiditas lah yang lebih penting. Argumentnya, setidaknya dari pihak eksternal, tingkat profitabilitas yang tinggi tak ada gunanya
  13. 13. jika perusahaan mengalami kesulitan likuiditas. Saat kesulitan likuiditas, jangankan membayar dividend, mampu membiayai operasionalnya sendiri—tanpa berutang—saja sudah bagus. Selanjutnya kita bahas tingkat likuiditas PT JAK dengan menggunakan kelompok rasio likuiditas. Yuk pindah ke paragraf selanjutnya… Kelompok Rasio Likuiditas (Liquidity Ratio) Seperti namanya, “Rasio Likuiditas” (Liquidity Ratio) digunakan untuk mengukur tingkat likuiditas perusahaan. Sebelum masuk lebih dalam, apa itu “tingkat likuiditas”? Sederhananya, tingkat likuiditas = kemampuan membayar. Ketika seseorang bertanya “apakah perusahaan dalam kondis likuid?” Itu artinya ia bertanya apakah perusahaan memiliki kemampuan untuk membayar. Namun dalam bahasa formal, yang dimaksud tingkat likuiditas adalah kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Dengan demikian maka rasio likuiditas bisa didefinisikan sebagai:  rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya; atau  rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar utang jangka pendek. Mengetahui tingkat likuiditas (=kemampuan bayar) sangat penting, baik bagi pihak eksternal maupun eksternal. Misalnya: Andi berniat membeli mobil baru dengan menggunakan fasilitas kredit dari perusahaa pembiayaan (finance). Di sisi lainnya dia juga punya cicilan rumah yang belum lunas dan kebutuhan rutin lainnya seperti makan, minum, listrik, telepon, dlsb. Sebelum memutuskan untuk menyetujui atau tidak, perusahaan finance perlu menilai kemampuan bayar (baca: tingkat likuiditas) Andi terlebih dahulu. Mialnya perusahaan finance memperoleh data tentang Andi sbb: Sisa saldo tabungan Andi setelah bayar uang muka = Rp xxxx (=aset lancar=likuid) Andi punya piutang kepada A, B, C = Rp xxxx (=aset lancar=likuid) Deposito jatuh tempo dlm 1 tahun = Rp xxxx (=aset lancar=likuid) Tanah warisan 1 hektar di Bogor = Rp xxx (aset tak lancar=non-likuid)
  14. 14. Satu unit ruko di Tangerang = Rp xxx (aset tak lancer=non-liquid) Andi dikatakan memiliki tingkat likuiditas yang cukup bila total nilai aset lancar yang tergolong likuid bisa menutup semua kebutuhan Andi terhadap uang tunai (untuk bayar cicilan rumah, cicilan mobil dan pengeluaran-pengeluaran lainnya) dalam jangka pendek. Mengetahui tingkat likuiditas juga perlu bagi Andi sendiri, sehingga bisa lebih realistis dalam membuat suatu rencana. Itu contoh kasus sederhana yang terjadi pada individual. Bagaimana dengan kasus perusahaan? Sama saja. Baik pihak eksternal maupun internal sama-sama perlu mengukur tingkat likuiditas perusahaan:  Bagi kreditur (eksternal), mengentahui tingkat likuiditas calon debitur penting untuk memutuskan apakah akan memberikan fasilitas kredit atau tidak (mereka ingin pembayaran yang lancar dan tepat waktu.)  Bagi investor (eksternal), baik perorangan atau badan usaha, mengetahui tingkat likuiditas calon perusahaan investee penting untuk memutuskan apakah akan berinvestasi di sana atau tidak (mereka mengharapkan pembayaran dividen yang lancar.)  Bagi manjemen perusahaan (internal), mengetahui kemampuan bayar diri mereka sendiri juga sangat penting untuk menentukan strategi binis yang akan diterapkan (mereka menginginkan rencana yang tidak saja bagus tapi juga realistis.) Nah, untuk mengetahui tingkat likuiditas perusahaan, apa yang diukur? Bagaimana melakukan pengukuran? Rasio apa yang digunakan? Bagaimana caranya menghitung dan bagaimana caranya menginterpretasikan hasil hitung rasio likuiditas? Neraca di atas menunjukkan PT. JAK memiliki saldo Kas sebesarRp 411,000,000. Pertanyaannya: Dengan saldo kas sebesar itu, apakah PT. JAK bisa dikatakan likuid atau tidak? Ada 2 rasio yang lumrah digunakan untuk mengukur likuiditas perusahaan, yaitu Current Ratio dan Quick Ratio. Kita lihat satu-per-satu. 1. Current Ratio Seperti namanya, mengukur tingkat likuiditas dengan “current ratio” artinya anda membandingkan antara “current asset” (=aset lancar) dengan “current liabilities” (=liabilitas lancar). Sehingga formulanya: Current Ratio = Aset Lancar / Utang Lancar
  15. 15. Pada Neraca PT. JAK di atas, total nilai Aset Lancarnya adalah Rp 2,428,000,000. Sedangkan total nilai Utang Lancarnya Rp 4,020,000,000. Sehingga: Current Ratio PT. JAK = 2,428,000,000/Rp 4,020,000,000 = 0.60 Catatan: Contoh Neraca di atas sangat sederhana, item aset lancar dan utang lancar yang tercantum sangat sedikit. Pada kenyataannya bisa sangat banyak. Namun intinya, aset yang diperkirakan bisa dikonversikan menjadi kas dalam jangka pendek sudah masuk ke dalam kelompok aset lancar. Di sisi lainnya, kewajiban apapun yang akan jatuh tempo dan harus dibayar dalam jangka pendek tergolong utang lancar. Dan, “jangka pendek” di sini maksudnya maksimal 1 tahun buku. Jadi, current ratio PT JAK = 0.60 (bisa juga dibaca “60 persen”). Apa artinya? Interpretasi: Ini skor rasio yang tak sehat. Jikapun semua aset lancar bisa “dicairkan” menjadi kas (dijual misalnya), PT JAK saat ini hanya punya Rp 0.60 untuk membayar setiap Rp 1 utang lancarnya yang akan jatuh tempo dalam waktu kurang dari 1 tahun buku. Atau, bisa dikatakan, hasi penjualan seluruh aset lancar PT JAK hanya mampu menutup 60 persen dari total utang lancarnya yang akan jatuh tempo dalam jangka pendek. Berapa current ratio yang ideal? Tidak ada satu angka pasti untuk ini. Sangat tergantung pada kepentingan. Umumnya, current ratio yang ideal—setidaknya menurut bank dan lembaga keuangan yang biasa menydiakan fasilitas kredit—ada pada kisaran antara 2.00 hingga 3.00 (=200 hingga 300%). Rasio minimal yang bisa diterima ada pada kisaran antara 1 hingga 1.5 (=antara 100 hingga 150%.) Bagi manajemen perusahaan, ideal tak idealanya rasio likuiditas tergantung target yang hanya mereka sendirilah yang paling tahu. Jika targetnya memang hanya 0.60 (karena tahun sebelumnya hanya 0.40 misalnya) berarti tujuan tercapai. Yang pasti jangan berpikir makin likuid perusahaan makin bagus. Sebab sangat mungkin lukuiditas yang tinggi justru mencerminkan pengelolaan kas yang buruk (perusahaan hanya cari aman sementara membiarkan peluang bisnis bagus lewat begitu saja). Rekomendasi: PT JAK dalam kondisi kekurangan likuiditas. Yang bisa dilakukan oleh PT JAK adalah sbb:  Berupaya untuk menghindari berbelanja tunai; pilah-pilah vendor mana yang menyediakan kredit (tanpa menaikkan harga) dan mana yang tidak.  Menegosiasikan utang yang segera akan jatuh tempo, minta penundaan pembayaran khususnya kepada pemasok kebutuhan yang sifatnya tak rutin.  Jika tahun lalu sudah, tahun ini mungkin tidak bayar dividend. Kalau terpaksa, bisa bayar dividend dengan saham.  Jangan ada alokasi budget untuk Aset Tetap. Jika terlanjur ada, buat revisi budget.  Bagaimanapun juga, coba lihat satu kwartal ke depan; apakah rasio ini bisa diperbaiki atau tidak. Jika iya, penggunaan kas bisa dinormalkan. Jika tidak, maka harus diperketat. Bagaimana dengan pihak eksternal, khususnya kreditur?
  16. 16. Mereka tak terlalu bergantung pada current ratio. Menurut mereka, ukuran current ratio belum mewakili likuiditas sebenarnya, sehingga masih mengandung risiko yang tinggi. Mengapa? Ada 2 alasan:  Uang Muka atau Prepaid atau Deposit, yang masuk kelompok aset lancar, BUKAN aset yang bisa diuangkan. Jarang ada deposit atau uang muka biaya yang dibatalkan dan kembali menjadi kas. Yang lebih sering terjadi, item ini biasanya berubah menjadi biaya atau aset non-kas. Sehingga mengikutsertakan ini dalam pengukuran likuiditas adalah tidak tepat.  Persediaan, yang masuk kelompok aset lancar, juga tidak sepenuhnya lancar atau current. Sebagiannya mungkin persediaan lama yang tak laku dijual namun tetap disimpan dengan maksud agar nilai aset lancar nampak tinggi. Terlebih-lebih pada perusahaan yang memproduksi barang bukan pesanan, persediaan seringkali ngendon di gudang bertahun-tahun tanpa tahu kapan akan laku dijual. Jikapun nantinya laku, mungkin dijual secara kredit sehingga butuh waktu untuk melakukan penagihan, itupun mungkin dengan nilai yang sudah turun drastis. Itu sebabnya pihak eksternal jarang mau menggunakan current ratio. Mereka lebih memilih “Quick Ratio” (baca quick ratio di bawah). Namun bukan berarti quick ratio tak dipakai samasekali. Hanya saja, mereka biasanya mematok ratio yang tinggi. Seperti sudah saya sampaikan diatas, mereka mematok current ratio antara 2.00 hingga 3.00. 2. Quick (Acid Test) Ratio Quick ratio—kadang disebut “Acid Test Ratio”—adalah rasio kedua yang bisa digunakan untuk mengukur tingkat likuiditas perusahaan. Pihak eksternal lebih memilih menggunakan rasio ini sebab lebih konservatif (baca: lebih ketat)—thus lebih aman bagi mereka—dibandingkan current ratio. Pada quick ratio, uang muka dan persediaan tidak diikutsertakan, sehingga formulanya menjadi sbb: Quick (Acid Test) Ratio = (Aset Lancar – Uang Muka – Persediaan) / Utang Lancar Pada Neraca PT. JAK di atas, Total Aset Lancar=2,428,000,000. Uang Muka Biaya=248,000,000 dan Persediaan = 824,000,000. Sedangkan Total Utang Lancar = 4,020,000,000. Sehingga: Quick (Acid Test) Ratio = (2,428,000,000 – 248,000,000 – 824,000,000) / 4,020,000,000 Quick (Acid Test) Ratio = 0.34 (bisa juga dibaca “34 persen”) Apa artinya?
  17. 17. Interpretasi: Quick ratio 0.34 artinya: untuk setiap Rp 1 utang lancar yang dimiliki, PT JAK hanya mampu bayar Rp 0.34 atau 34 sen. Dengan kata lain, jika semua aset lancar—selain uang muka biaya dan persediaan—dicairkan atau diuangkan—maka hanya akan menutup 34 persen dari total utang lancar PT JAK yang akan jatuh tempo dalam satu tahun buku. Quick ratio 0.34 sementara current ratio 0.60 artinya, aset lancar separuhnya berupa “Uang muka biaya” dan “Persediaan.” Sekalilagi, ini tergolong rasio berskor rendah. Berapa quick ratio yang ideal? Sama seperti current ratio, tidak ada angka tunggal yang ideal. Jika menggunakan kaca mata eksternal, khususnya kreditur, quick ratio ideal ada pada kisaran 1.5 hingga 2.00, sehingga perusahaan masih memiliki ekstra kas selain utang lancar yang telah ada. Minimal yang bisa diterima ada pada kisaran 1.00 hingga 1.50. Rekomendasi untuk PT JAK: Disamping mengambil langkah-langkah yang telah direkomendasikan pada current ratio, pihak manajemen juga perlu melakukan hal-hal berikut ini:  Segera mengambil tindakan yang tepat untuk menjual persediaan yang saat ini telah menumpuk. Harus habis terjual dalam waktu satu turnover (biasnya 3 bulan). Jika tidak, perusahaan akan SEGERA mengalami kesulitan likuiditas. Jika ini terjadi, mungkin vendor mulai menghentikan pasokan dan akan kesulitan untuk belanja secara kredit.  Ke depan, PT JAK perlu melakukan analisa peringkat product; memililah-milah mana product yang cepat laku dan mana yang tidak. Selanjutnya perusahaan perlu mengurangi persediaan product yang tergolong lambat lakunya.  Jika PT JAK adalah manufaktur yang memproduksi barang pesanan, perlu mengatur jadwal pasokan yang lebih ketat, yakni dengan cara mempersempit jarak antara waktu barang jadi dengan waktu pengiriman barang ke pelanggan, sehingga penumpukan persediaan barang jadi bisa diminimalkan. Hal ini hanya bisa dilakukan jika perusahaan mampu mengukur waktu berproduksi (lead-time) dengan lebih akurat. Dan lead time bisa diestimasi secara akurat hanya jika perusahaan mampu mengukur kapasitas (mesin dan orang) dengan lebih akurat pula.  Pada wilayah bahan baku, PT. JAK juga perlu membuat strategi pasokan yang lebih ketat, baik dari kuantitas maupun waktu penyerahan. Dalam hal kuantitas, perusahaan sebaiknya menurunkan angka cadangan (reserve) untuk bahan baku dan penolong. Dalam hal waktu penyerahan, perusahaan sebaiknya mempersempit jarak waktu antara jadwal bahan baku diterima dengan jadwal bahan baku masuk produksi. Hal ini hanya bisa dilakukan bila perusahaan memiliki production planning dan vendor relation yang bagus.  Melihat angka uang muka biaya yang cukup besar, artinya manajemen kerap membayar uang muka (deposit) kepada vendor. Hal ini terjadi karena manajemen tidak memiliki jumlah vendor yang cukup atau tidak memiliki hubungan yang baik. Ke depannya perlu ditingkatkan. Uang muka biaya yang tinggi juga bisa terjadi karena membeli susuatu terlalu dini (belum dibutuhkan) atau melebihi yang dibutuhkan. Untuk memenuhi matching principle, perusahaan mengakui porsi yang belum digunakan (baca: belum memberi manfaat) sebagai “uang muka biaya”. Ke depan, perlu menerapkan prosedur kebijakan yang lebih ketat.
  18. 18. Secara keseluruhan, Rasio Likuiditas (Liquid Ratio) mencerminkan tingkat likuiditas, yakni kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Mengetahui rasio likuiditas sangatlah penting. Sebab bisa memperkirakan apakah perusahaan akan lancar beroperasi dalam jangka pendek atau tidak. Sampai di sini, pembahasan rasio profitabilitas dan likuiditas saya anggap sudah cukup. Nemuan perlu disadari bahwa, pengukuran tingkat likuiditas dan profitabilitas belum mencerminkan kondisi perusahaan secara keseluruhan. Hasil pengukuran “Return On Assets” (ROA) pada kelompok profitabilitas PT JAK misalnya, belum mampu menjelaskan “mengapa ROA-nya rendah?” Mengapa kapasitas aset PT JAK tidak digunakan secara optimal? Mengapa aset tidak terkelola dengan efektif? Pada kelompok aset mana ketidakefektifan terjadi; apakah pada Kas? Piutang? Persediaan? Atau Aset Tetap? Dan seterusnya. Pengukuran dengan rasio profitabilitas dan likuiditas masih menyisakan berbagai pertanyaan. Dan repotnya, justru pertanyaan-pertanyaan inilah yang menjadi kunci apakah manajemen perushaan mampu menemukan sumbermasalah lalu mengatasinya. Pertanyaan-pertanyaan itu akan terjawab dengan cara melakukan analisa dengan menggunakan rasio-rasio yang ada pada kelompok “Tata Kelola Asset”(Asset Management) yang—jika tidak ada halangan—rencananya akan saya bahas di tulisan berikutnya. Untuk sementara, silahkan coba aplikasikan rasio-rasio ini terlebih dahulu. Setelah dapat hasil, lalu pikirkan: dimana letak masalahnya? Apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah itu? Selamat mencoba.  Apakah artikel ini membantu?  Ya Tidak analisa laporan keuangan Laporan Keuangan menghitung menghitung rasio laporan keuangan menginterpretasikan rasio keuangan rasio rasio laporan keuangan Pengakuan Aset Tetap Bangunan Belum Jadi
  19. 19. Pengakuan: Langsung Dibebankan, Dibiayakan, Dikapitalisasi? Tentang Penulis Mr. JAK Seorang Akuntan yang prihatin akan mahalnya biaya pendidikan dan bahan ajar, khususnya terkait dengan bidang Akuntansi, Keuangan dan pajak di Indonesia. Lihat semua artikel Baca juga Akuntansi • Dasar Cara Membuat Rekonsiliasi Bank: Selangkah Demi...
  20. 20. Akunpreneur • Akuntansi • Intermediate Bagaimana Mencatat Pengeluaran Sebelum Perusahaan... Akuntansi • Dasar Siklus Pembukuan dan Akuntansi Selangkah-Demi- Selangkah Akuntansi • Dasar Format Laporan Keuangan 1: Laporan Laba-Rugi Akuntansi • Dasar Menjurnal Selisih Kelebihan Pembayaran Piutang Dagang Akuntansi • Pajak PPN Masuk ke Laba-Rugi atau Neraca? (Penjurnalan dan...
  21. 21. 16 Komentar  Andri Chaniago Mar 15, 2015 at 8:59 am Semoga saya bisa sedikit membantu pertanyaan teman-teman, karena saya lihat tidak ada balasan yang bisa diberikan penulis untuk pertanyaan-pertanyaan tersebut. @Sukanto_1988 :Pada Rasio Gross Profit Margin untuk memahaminya jika misalkan pak sukanto jual buah durian 2 juta . Trus, mas beli duriannya dari Medan harganya 1,1 juta dan ongkir ke tempat mas 0,2 juta . Maka HPP menjadi 1,3 juta. Nah, setelah kita hitung, HPP ada 1,3 juta dan Penjualan mas atas durian sebesar 2 juta . maka laba kotornya adalah ? ya. 700 ribu . 700 ribu inilah yang kita hitung persentasenya ke penjualan mas yang 2 juta tadi. maka dapat 35%. Artinya apa ? Artinya, mas dapat untung kotor atas penjualan durian mas 35% dari jumlah HPP (Bahasa awamnya modal ya ? Hehe) yang mas keluarkan. Jadi kalo mas jual Apel (Bukan Durian lagi) sebesar 4 juta, maka mas dapat laba kotor 35% dari total penjualan mas (Persentase HPP kita perhitungkan sama). Dan Begitu Seterusnya . Balas « Previous 1 2 Silahkan berkomentar Nama * Surel * Website Komentar anda Bimbingan Karir
  22. 22. Terpopular  Cara Membuat Rekonsiliasi Bank: Selangkah Demi...  Bagaimana Mencatat Pengeluaran Sebelum Perusahaan...  Siklus Pembukuan dan Akuntansi...  Format Laporan Keuangan 1: Laporan Laba-Rugi  Menjurnal Selisih Kelebihan Pembayaran Piutang Dagang Terkini
  23. 23.  Bagaimana Cara Auditor Memeriksa Aspek Going Concern...  Apa Saja Yang Diungkapkan Dalam Catatan Laporan...  Komponen Laporan Keuangan Lengkap Beserta Contoh dan...  Menyusun Laporan Keuangan: 12 Hal Penting Untuk...  Pengakuan: Langsung Dibebankan, Dibiayakan...
  24. 24. © 2015 Copyright JurnalAkuntansiKeuangan.com. All Rights reserved.  Home  Tentang JAK  Privacy Policy  Ketentuan  Tanya-Jawab  Hubungi JAK ;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;; Memahami Logika Laporan Keuangan (Neraca dan Laba Rugi) Produk akhir dari proses akuntansi, yang paling penting, adalah laporan keuangan. Dengan membaca laporan keuangan, manajemen, pemilik perusahaan, dan sesiapapun yang berkepentingan, bisa mengetahui kondisi keuangan perusahaan. Ironinya, dari sekian banyak pihak yang berkentingan atas produk ini, yang sungguh-sungguh memahami logika laporan keuangan tidak banyak. Dan itu bisa dimengerti karena mereka memang berasal dari kalangan yang berbeda-beda—mungkin malah lebih banyak yang dari luar akuntansi dan keuangan. Yang sulit untuk dimengerti adalah bila: orang accounting (yang membuat laporan itu sendiri) yang tidak sungguh-sungguh memahami logika di balik laporan keuangan. Boleh percaya boleh tidak, yang seperti ini sudah pernah saya temukan berkali-kali. “Mana mungkin. Bukankah orang-orang accounting memang dididik dan ditempa—sejak di bangku kuliah—untuk sungguh-sungguh menguasai akuntansi?”
  25. 25. Mungkin ini kenyataan pahit yang harus ditelan, sekaligus tantangan yang harus dijawab oleh rekan-rekan akuntan pendidik (pengajar akuntansi di kampus-kampus) bahwa, apa yang selama ini diajarkan lebih banyak kulit ketimbang isinya. Sehingga output yang dihasilkan adalah anak- anak akuntansi yang bisa menjurnal dan membuat laporan keuangan tetapi tidak sungguh- sungguh memahami logika atas apa yang mereka buat. Jurnal dan laporan keuangan yang mereka hasilkan, secara teknis, benar. Tetapi begitu ada masalah mereka mengalami kesulitan untuk menelusuri darimana sumber masalahnya. Al hasil mereka tidak (belum) mampu memberikan masukan yang diharapkan oleh pihak manajemen perusahaan. Lebih parahnya lagi, bahkan untuk sekedar menjelaskan “mengapa bisa demikian?”- pun tidak bisa. Misalnya: 1. Angka pendapatan tinggi, tetapi mengapa Laporan Laba Rugi menunjukan angka laba yang sangat kecil? (Tolong jangan buru-buru menjawab “karena cost-nya tinggi,” nanti terjebak sendiri.) 2. Angka penjualan rendah, tetapi mengapa Laporan Laba Ruginya menunjukan angka minus alias rugi? Bukankah bila penjualan rendah berarti aktivitas produksi juga rendah sehingga mestinya tidak rugi? 3. Penjualan begitu tinggi, Laporan Laba Rugi menunjukan angka laba yang signifikan, tetapi mengapa begitu banyak vendor (supplier) yang mengeluhkan keterlambatan pembayaran? 4. Ekuitas Pemilik menunjukan peningkatan yang cukup besar, tetapi mengapa tidak ada dividen yang bisa dibagikan kepada pemegang saham? Keempat pertanyaan di atas sesungguhnya hanya memerlukan logika akuntansi yang sangat sederhana dan lumrah terjadi di hampir semua perusahaan. Kenyataannya, saat ditanya pegawai accounting seringkali gelagapan, akhirnya tidak bisa menjelaskan dengan baik. Setidaknya, minimal mereka bisa menjelaskan “mengapa bisa terjadi demikian?”. Idealnya, jika mereka memahami logika-logika dibalik sebuah laporan keuangan, mestinya mereka bisa memberi saran dan masukan bagi manajemen mengenai apa yang perlu (atau tak perlu) dilakukan di masa-masa yang akan datang agar masalah yang sama tidak terjadi lagi. Mengingat kembali masa-masa kuliah dahulu (bisa jadi sekarang sudah jauh lebih baik), materi mata kuliah begitu banyak sementara waktu yang tersedia sangat sempit, “so little time, so many things to do.” Mata kuliah ‘Akuntansi Dasar’ (Basic Accounting) misalnya. Dengan materi yang begitu banyak, harus bisa diselesaikan hanya dalam 48 kali pertemuan. Setiap pertemuan selalu digunakan untuk mengejar penyelesaian materi yang isinya memang semuanya bersifat teknikal.
  26. 26. Samasekali tidak ada ruang untuk menanamkan pemahaman-pemahaman logika akuntansi (mulai dari siklus akuntansi, menjurnal hingga membuat laporan keuangan). Bahwa kematangan logika bertumbuh seiring dengan pengalaman kerja, BETUL. Bahwa bangku kuliah hanya memberikan bekal dasar, boleh jadi IYA (terutama untuk universitas non-elite, tanpa AC, tanpa dasi, masih pakai kapur tulis, seperti tempat saya berkuliah dahulu). Di sinilah akhirnya bermuara: TERGANTUNG MASING-MASING INDIVIDU. Tantangan utamanya—terutama bagi kita yang sudah bekerja: Bagimana caranya mengasah kemampuan logika akuntansi diantara himpitan tugas rutin sehari-hari yang seolah tak ada habisnya? Itulah semangat dasar yang menjadi latar belakang mengapa ‘Jurnal Akuantansi Keuangan’ (JAK) ada, yaitu: menjadi tempat untuk sharing dan diskusi sambil mengasah skill akuntansi (hard maupun soft skill) di sela-sela rutinitas sehari-hari. Pengelola JAK sadar sepenuhnya bahwa keberadaan JAK pastinya masih jauh dari apa yang diharapkan. Tetapi mudah-mudahan bisa menjadi alternative sekaligus awal yang baik. Melalui tulisan sederhana ini, saya pribadi ingin mengajak siapa saja yang tertarik untuk mengksplorasi logika-logika di balik sebuah laporan keuangan. Seperti telah saya sampaikan di awal, produk akhir dari akuntansi adalah laporan keuangan. Dengan membaca laporan keuangan, mereka yang berkepentingan bisa mengetahui kondisi keuangan perusahaan. Kondisi apa saja yang bisa dilihat dengan membaca laporan keuangan? Untuk sungguh-sungguh memahami logikanya, anda harus memposisikan diri sebagai sesorang yang sangat berkepentingan untuk mengetahui kondisi keuangan perusahaan. Untuk sementara lupakan status anda saat ini (sebagai pegawai accounting), anggap diri anda adalah pemilik usaha. Nah, sebagai pemilik usaha, apa yang ingin anda ketahui mengenai kondisi keuangan perusahaan? Saya coba menebak-nebak (dengan menggunakan kelaziman). Sebagai pengusaha, minimal anda ingin tahu 2 hal berikut ini: 1. Kekayaan Perusahaan
  27. 27. Pertanyaan paling mendasar di wilayah ini adalah: Apakah perusahaan dalam kondisi baik-baik saja? “Baik-baik saja” dalam hal ini maksudnya: Dapat beroperasi secara lancar. Perusahaan hanya akan bisa lancar beroperasi bila: (a) Memiliki kas yang cukup untuk memenuhi kebutuhan operasional sehari-hari; (b) Memiliki kas yang cukup untuk memenuhi kewajiban-kewajibannya, yaitu: mampu membayar utang kepada vendor/supplier, bank, dan membayar dividen kepada pemegang saham; (c) Memiliki persediaan (bahan baku untuk diproduksi atau barang jadi untuk di jual); (d) Memiliki sarana dan fasilitas yang cukup untuk menunjang kelancaran operasional perusahaan. Dengan kata lain, apakah perusahaan memiliki “kekayaan” yang cukup untuk bisa beroperasi dengan lancar? Jawaban atas pertanyaan itu ada di NERACA—yang sering juga disebut sebagai “Laporan Posisi Keuangan.” Masih ingat dengan persamaan akuntansi di bawah ini? Aktiva (asset) = Kewajiban (Liability) + Ekuitas Pemilik (equity) Itulah isi utama dari sebuh Neraca. Untuk visualisasi, silahkan lihat contoh necara sederhana di bawah ini:
  28. 28. Dari contoh Neraca di atas anda sebagai pemilik PT. JAK bisa melihat posisi keuangan perusahaan dan memperoleh informasi sbb: Kekayaan kotor perusahaan sama dengan total nilai aktiva (asset)-nya. Dalam contoh ini adalah 137. Jika dibandingkan dengan total kewajiban (utang) yang sebesar 67, masih ada selisih kekayaan sebesar 70. Selisih yang 70 inilah yang disebut dengan “Kekayaan Bersih (Net Asset atau Net Worth)” perusahaan. Dari sini jelas tergambar bahwa perusahaan memiliki kemampuan yang cukup untuk memenuhi semua kewajibannya, dengan asumsi: jika semua asset dijual maka semua utang bisa dilunasi. Jika kembali ke contoh pertanyaan yang saya sampaikan di awal tulisan: Mestinya perusahaan bisa memenuhi kewajibannya, tetapi mengapa banyak vendor (supplier) yang mengeluhkan keterlambatan pembayaran? Untuk menjawab pertanyaan spesifik seperti ini, perhatian harus diarahkan ke elemen-elemen neraca yang lebih kecil. Pada sisi aktiva nampak akun “Kas” saldonya hanya 10, sementara akun “Utang Dagang” di sisi sisi Kewajiban nampak sebesar 30. Jelas perusahaan akan mengalami
  29. 29. defisit (kekurangan) kas sebesar 20, sehingga banyak vendor yang mengalami penundaan pembayaran. Mengapa terjadi demikian? Bagaimana cara mengatasinya? Apa yang perlu dilakukan oleh manajemen agar kondisi ini tidak terjadi lagi di masa yang akan datang? Bentuk Neraca sudah dirancang sedemikian rupa sehingga mampu menjawab semua kemungkinan pertanyaan yang ada. Dengan catatan, anda harus memahami logikanya. Dari total aktiva (asset) sebesar 137, mengapa akun kas nilainya hanya 10, dimana sisanya? Perhatian di alihkan ke elemen-elemen aktiva (asset) lainnya, yaitu:  Piutang = 85  Persediaan = 32  Aktiva Tetap = 10. Nah ketahuan sudah, asset menumpuk di akun “Piutang” sebesar 85. Sehingga pertanyaan “mengapa”-nya sudah terjawab. Tinggal berpikir bagaimana cara mengatasinya dan cara mencegahnya di waktu yang akan datang. Untuk mengatasinya manajemen perusahaan perlu memfokuskan perhatian pada proses penagihan piutang—mungkin dengan menawarkan potongan untuk pembayaran lebih awal, kalau perlu panggil debt collector jika mengalami kesulitan penagihan. Untuk mencegah agar tidak terjadi lagi di masa yang akan datang, manajemen perlu mengubah kebijakan kredit—mungkin di buat lebih ketat lagi, lebih selektif terhadap pemberian kredit, termin pembayaran di perpendek, dan lain sebagainya. Selanjutnya, dari Neraca yang sama anda juga bisa melihat bahwa total “Ekuitas Pemilik” meningkat 20. Dari modal awal sebesar 50 kini menjadi 70. Mengapa angkanya sama dengan “Kekayaan Bersih” perusahaan yaitu 70, apakah karena kebetulan? Tidak. Ini berasal dari persamaan dasar akuntansi: Asset = Kewajiban + Equitas Pemilik. Dengan demikian, maka: Equitas Pemilik = Asset – Kewajiban. Nah jika Kekayaan Bersih = Asset – Kewajiban, Maka otomatis: Kekayaan Bersih = Ekuitas Pemilik. Jika kembali ke pertanyaan di awal tulisan: “Mengapa ekuitas pemiliki meningkat tetapi tidak ada dividen yang bisa dibagikan kepada pemegang saham”? (dengan kata lain perusahaan tidak bisa memenuhi kewajibannya kepada pemegang saham) Jawabannya kembali ke masalah ketersediaan kas. Perusahaan tidak memiliki cukup persediaan Kas. Bagaimana mengatasinya? Sama seperti solusi sebelumnya. Lebih detail mengenai ketersediaan kas dan pengalokasiannya (apakah sudah seperti yang direncanakan, apakah dipergunakan secara efeisien, dan lain sebagainya) bisa dilihat di “Laporan Arus Kas”. Laporan Arus Kas, untuk perusahaan yang sudah Go Publik (listing di bursa saham) wajib ada. Sedangkan untuk perusahaan non-publik bisa ada bisa tidak. Mengapa boleh ada boleh tidak? Karena “Laporan Arus Kas” hanya merupakan rincian lebih detail dari akun “Kas” di Neraca.
  30. 30. Sehingga pada dasarnya, nilai akhir dari laporan arus kas sama dengan saldo yang ada pada akun “Kas” di Neraca. (Catatan: Saya akan membahas laporan arus kas secara terpisah (di tulisan lain). Hal yang tak kalah pentingnya untuk diketahui dari sebuah Neraca adalah “Tanggal Neraca” (dibawah tulisan “NERACA PT. JAK”), dalam contoh ini adalah “Per 31 Januari 2012.” Artinya: Kekayaan Kotor sebesar 137 dan Kekayaan Bersih sebesar 70 adalah “Kekayaan Perusahaan” per tanggal 31 Januari 2012. Itu sebabnya mengapa dalam teori akuntansi, Neraca didefinisikan sebagai “Laporan yang menyajikan posisi keuangan perusahaan pada tanggal tertentu.” Di U.S. sana sering disebut dengan “Snapshot of Financial Position.” 2. Untung atau Rugi Mengetahui berapa besarnya kekayaan perusahaan, mengetahui apakah perusahaan mampu melunasi utang-utangnya saja, belumlah cukup. Sebagai pengusaha anda juga ingin tahu:  Apakah bulan/tahun ini anda untung atau rugi? Jika rugi, mengapa?  Apakah operasional perusahaan berjalan dengan efisien atau sebaliknya, boros?  Apakah sumber daya perusahaan lebih banyak digunakan untuk aktivitas yang menghasilkan barang/jasa atau untuk hal-hal di luar itu? Semua jawabanya ada di ‘Laporan Laba Rugi.’ Untuk visualisasi silahkan lihat contoh Laporan Laba Rugi PT. JAK di bawah ini:
  31. 31. Memperhatikan Laporan Laba Rugi di atas, anda bisa melihat dengan jelas bahwa: (a) Pendapatan (Revenue) sebesar 187 (b) Harga Pokok Penjualan (Cost of Goods Sold) sebesar 50 (c) Laba Kotor (Gross Profit) sebesar 137 (d) Biaya-biaya 132 (e) Laba Bersih (Net Profit) sebesar 5 Diantara kelima angka-angka di atas, mana yang paling penting bagi anda sebagai pengusaha? Sudah pasti “Laba Bersih”. Laba bersih menunjukan angka 5. Ini sangat kecil jika dibandingkan dengan nilai Revenue anda yang menunjukan angka 187. Dengan kata lain, profit margin anda hanya 3% (=5/187). Kalau begini ceritanya mah mendingan uangnya di taruh di deposito kan?
  32. 32. Lalu anda tanya orang accounting “Mengapa labanya hanya 5, padahal revenuenya tinggi? Pasti ada yang tidak beres di sini.” Mungkin dengan cekatan mereka menjawab “Karena biayanya tinggi, boss.” Ya iyalah. Revenue tinggi, wajar jika biaya juga tinggi (kecuali yang bikin barang dari golongan jin.) Tidak usah orang manajemen, Mbok Jum warung sebelah juga tahu pendapatan dikurangi biaya sama dengan laba atau rugi. Tapi, bukankah bila revenue tinggi, biaya tinggi, mestinya laba masih tetap tinggi? Pertama, mungkin mereka akan memeriksa kembali angka-angka di laporan, dibandingkan dengan neraca saldo, dibandingkan dengan buku besar, bahkan bukti transaksi dibandingkan dengan catatan transaksi (jurnal) satu-per-satu. Semua perhitungan diperiksa satu per satu. Beberapa hari kemudian mereka kembali dengan jawaban “Semua angka sudah saya periksa, hasilnya benar dan akurat. Semua jurnal sudah benar, tidak ada transaksi yang tertinggal atau diposting dua kali”. Nah inilah yang saya sebutkan di awal: menguasai teknis akuntansi, mahir menjunal dan membuat laporan keuangan, tetapi tidak (belum) memahami logika akuntansi dengan baik. Andai sudah memahami logika di balik Laporan Keuangan (Laba Rugi dalam hal ini), mereka tidak perlu sampai memeriksa transaksi satu-per-satu, bahkan mungkin tidak sampai perlu memeriksa saldo buku besar. Cukup hanya dengan melihat Laporan secara sepintas (scanning) dari atas kebawah: Pertama anda lihat “Pendapatan (revenue)”, lalu anda bandingkan dengan “Harga Pokok Penjualan”, apakah angkanya terlihat logis? Dengan pendapatan sebesar 187, apakah logis jika harga pokok penjualannya 50 sehingga laba kotornya menjadi 137? Permasalahan dilokalisir sampai di sini dahulu. Untuk mengetahui logis-atau-tidak logis, sebenarnya sudah disediakan alat bantu di bawah “Laba Kotor (Gross Profit)” yang disebut dengan “Gross Profit Margin” yang menunjukan angka 73%. Angka ini tidak akan ada di sana jika tidak ada fungsinya. Apa fungsinya? Untuk mengetahui apakah perbandingan antara pendapatan dengan laba kotor. Pertanyaaan selanjutnya: apakah gross profit margin sebesar 73% itu wajar? Anda bisa memanggil cost accountant anda, merekalah yang paling tahu berapa besarnya gross profit margin untuk produk yang dijual. Separah-parahnya, anda bisa membandingkan angka 73% ini dengan angka gross profit margin bulan lalu—jika perlu, tarik hingga satu tahun ke belakang untuk melihat ‘trend’-nya. Saya pribadi, untuk penelusuran cepat, memilih menggunakan kelaziman dan benchmark. Dari sana saya tahu bahwa untuk jenis usaha manufaktur gross profit margin ada di kisaran 25 hingga 50%. Untuk jenis perusahaan jasa ada di kisaran 50 hingga 70%. Dan untuk jenis usaha trading (termasuk retail) ada di kisaran 70 hingga 200%.
  33. 33. Nah jika PT. JAK dalam contoh ini adalah perusahaan manufaktur, maka angka gross profit margin sebesar 73% tergolong tinggi. Sehingga akar masalahnya sudah pasti tidak ada di antara wilayah revenue hingga harga pokok penjualan. Lalu dimana? Sudah pasti ada di wilayah biaya- biaya. Selanjutnya tinggal scanning wilayah akun-akun biaya yang ada di laporan laba rugi. Diantara biaya-biaya tersebut mana yang terlihat tidak wajar? Jika anda punya laporan laba rugi bulan sebelumnya, anda tinggal meletakannya secara bersisian dengan laporan laba rugi Januari 2012 ini, lalu bandingkan. Dalam contoh ini saya tidak buatkan laporan laba rugi bulan sebelumnya sebagai pembanding. Angka yang janggal langsung saja saya beri warna merah, yaitu “Biaya Telepon” sebesar 35. Mengapa ini janggal? Bandingkan dengan “Biaya Gaji?”—apakah logis biaya telepon lebih besar dibandingkan biaya gaji dalam sebuah perusahaan manufaktur? Tidak logis. “Bukankah tadi sudah diperiksa oleh orang accounting dan mereka mengatakan semua transaksi sudah diperiksa hingga ke nota-nya dan hasilnya akurat?” Yup. Jika jurnal dan angka di nota benar, berarti yang salah adalah: ORANG YANG BOROS MENGGUNAKAN TELEPHONE. Biaya telephone bengkak begitu besar sudah pasti ada pemakaian yang luar biasa tinggi di luar kebutuhan perusahaan. Selanjutnya tinggal kirim memo ke HRD untuk investigasi lebih lanjut (siapa yang menelpon pacar berjam-jam setiap hari?). Untuk mencegah agar tidak tejadi lagi di masa yang akan datang, mungkin HRD perlu membuat aturan pemakaian telepon. Misalnya: Akses inetrlokal, handphone dan SLI hanya untuk manajer ke atas dengan menggunakan PIN—sehingga penggunaannya bisa diketahui. Sedangkan untuk staff, jika perlu interlokal, SLI atau handphone harus via operator (front office) dengan approval dari manajer. Logika-logika dasar seperti ini sangat perlu terus diasah, agar penguasaan akuntansi dan keuangan menjadi semakin matang, sehingga bisa menjalankan fungsi dengan baik, bisa memberi masukan yang bermanfaat bagi perusahaan. Ini baru sebagian kecil dan masih di permukaan. Semakin dalam menyelam, semakin detail, sudah pasti semakin banyak pula ragam logika akuntansi yang harus dipelajari. Tentunya ini bukan sesuatu yang bisa dikuasai secara instant. Butuh waktu, kesabaran dan kesungguhan. Bagi mereka yang sudah bekerja, dan masih merasa perlu mengasah kemampuan akuntansi melalui pemahaman logika-logikanya, tidak ada cara selain “Learn as you go.” Modal awalnya hanya satu: selalu penasaran/ingin tahu. Selanjutnya tergantung pada seberapa besar keberanian kita dalam mengikuti instinct rasa ingin tahu itu. Semoga sukses!  386
  34. 34.  60  11  2  Apakah artikel ini membantu?  Ya Tidak berita Laporan Keuangan Laporan Laba Rugi Memahami Logika Laporan Keuangan Neraca slider Bagimana Caranya Mengelola Modal Kerja Secara Efektif
  35. 35. Format Laporan Keuangan 1: Laporan Laba-Rugi Tentang Penulis Mr. JAK Seorang Akuntan yang prihatin akan mahalnya biaya pendidikan dan bahan ajar, khususnya terkait dengan bidang Akuntansi, Keuangan dan pajak di Indonesia. Lihat semua artikel Baca juga Dasar Cara Mudah Membuat Jurnal Akuntansi
  36. 36. Akuntansi • Dasar Cara Membuat Rekonsiliasi Bank: Selangkah Demi... Akunpreneur • Akuntansi • Intermediate Bagaimana Mencatat Pengeluaran Sebelum Perusahaan... Akuntansi • Dasar Siklus Pembukuan dan Akuntansi Selangkah-Demi- Selangkah Akuntansi • Dasar Menjurnal Selisih Kelebihan Pembayaran Piutang Dagang Akuntansi • Dasar Akuntansi Persediaan: Sistim Periodik Vs Perpetual
  37. 37. 98 Komentar  bowo Jun 8, 2014 at 4:45 pm hmm.. gross profit margin 200% itu kok bisa ya? Laba kotor 2x lipat dari pendapatan? Balas  dono Aug 13, 2014 at 10:04 am kisaran brp u/ GPM usaha distributor consumer goods Balas  eca anjani Aug 29, 2014 at 2:29 pm pak saya baru saja akan masuk kuliah angkatan 2014 jurusan yg saya pilih yaitu akuntansi ,, tapi saya takut dgn perhitungan matematika ,, apa saya mampu untuk mengatsi semua itu ?dan apa dasar-dasar akuntansi agar mudah dimengerti dan kita tidak merasa parno.. terimaksih pak Balas  Arisuwie Sep 3, 2014 at 4:44 am
  38. 38. Semakin tertarik belajar tentang laporan keuangan, trimakasih Balas  jbh Sep 18, 2014 at 5:07 am Thx infonya Mr JAK Balas  epsant abdillah Oct 21, 2014 at 3:21 am bagaimana cara saya harus melaporkan pd instansi pajak dari hasil membaca laporan keuangan yg Mr. Jak formulasikan itu. makasih Jak petunjuknya Balas  reza hakim Oct 29, 2014 at 4:17 am Mr. Jak setelah melakukan perhitungan Rasio Keuangan terutama untuk Rasio Profitability & Liquidity bagaimana Merangkum dalam satu Kertas Kerja Presentasi ke Manajemen? Terima kasih. Balas  manari yasa
  39. 39. Nov 12, 2014 at 2:30 am pencerahan yang sederhana dan mudah dimengerti lanjutkan yang lainnya saya sangat suka Balas  arista Dec 15, 2014 at 9:50 am terimakasih infonya sagat bermanfaat, meskipun basic saya bukan akuntansi tp ini sangat mudah dipahami untuk orang awam seperti saya. Balas  Robert Apr 2, 2015 at 3:11 pm Mantap Boss Mr.Jak, Saya mau tanya nih..kami menerima laporan neraca dr ***mart atas gerai toko yg kami pegang, yg pada pos Pajak dibayar dimuka di Aktiva Nilainya Minus/negatif. Pertanyaan saya: 1. Apakah hal seperti itu lazim di neraca ?? Kok bisa terjadi ya ?? Mohon pencerahannya. TrimsBalas ;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;; Cara Mudah Membuat Jurnal Akuntansi Banyak pemula dan mahasiswa akuntansi yang masih mengalami kesulitan dalam membuat jurnal. Masih bingung untuk memutuskan akun mana yang didebit dan akun mana yang dikredit. Dari pengalaman saya menyeleksi staf di bagian yang saya pimpin, setidaknya 5 dari 10 kandidat masih mengalami kesulitan, 3 diantaranya ragu-ragu—tidak sungguh-sungguh
  40. 40. yakin apakah jurnal yang dibuatnya benar atau salah, dan hanya 2 orang saja yang sungguh- sungguh memahami aktivitas menjurnal dengan mantap. Saya meyakini sebagian besar orang accounting pernah berada di situasi ini. Tak jauh berbeda dengan aktivitas belajar naik sepeda, semuanya berawal dari tidak bisa, lalu mulai belajar, ragu- ragu, sering jatuh, lama-lama akan terbiasa—stang sepeda seolah-olah belok dengan sendirinya tanpa diperintah Tentu harus tahu teknik dasarnya terlebih dahulu. Nah untuk belajar menjurnal, tehnik akuntansi dasar seperti apa yang harus dikuasai terlebih dahulu? Pahami mekanisme akuntansi terlebih dahulu. Mekanisme Dasar Akuntansi Jika ada seseorang bertanya: “Berapa biaya kuliah S1-mu?” Mungkinkah anda bisa langsung memberikan jawaban (“100 juta” misalnya)? Atau “kira-kira 150 juta”? Katakanlah anda nekad menjawab secara spontan, apakah orang yang bertanya akan percaya terhadap jawaban anda? Jelas tidak. Untuk menjawab pertanyaan ini secara pasti, akurat dan bisa dipercaya perlu: (1) mengumpulkan data pengeluaran sejak pertama kuliah hingga lulus—berupa nota, buku tabungan, bukti transfer, dan bukti pengeluaran lainnya; (2) menganalisa dan mengelompokkan bukti-bukti pengeluaran tersebut; mana saja pengeluaran yang terkait dengan urusan kuliah; (3) menjumlahkan pengeluaran-pengeluarang terkait dengan urusan kuliah; dan (4) menjawab pertanyaan tersebut, Rp 50 juta misalnya. Bandingkan. Di lain kesempatan seseorang bertanya: “Berapa pengeluaran makan siangmu bulan Agustus kemarin?” Untuk memberikan jawaban pasti, anda perlu melakukan keempat langkah di atas lagi. Lalu bandingkan dengan pertanyaan: “Berapa keuntungan perusahaan selama tahun fiskal 2010 kemarin?” Untuk dapat memberikan jawaban yang akurat, dan bisa dipertanggungjawabkan anda perlu melakukan langkah-langkah yang sama seperti menjawab kedua pertanyaan sebelumnya:  Langkah-1. Mengumpulkan data transaksi  Langkah-2. Menganalisa data transaksi  Langkah-3. Memilah dan mengelompokkan transaksi ke dalam akun-akun  Langkah-4. Membuat laporan keuangan
  41. 41. Langkah-langkah itu terus berulang sepanjang waktu selama perusahaan masih beroperasi. Sama persis, bukan? Nah itulah yang disebut dengan ‘SIKLUS AKUNTANSI‘. Siklus akuntansi adalah mekanisme akuntansi paling dasar yang harus betul-betul dipahami sebelum mencoba memahami konsep-konspe akuntansi lainnya. “Lalu, hubungannya dengan menjurnal?”, mungkin ada yang bertanya seperti itu. Kegiatan menjurnal ada di sekitar langkah ke 2 dan ke 3 dari siklus akuntansi di atas. Artinya, sebelum menjurnal maka langkah ke-1 dan ke-2 harus dilakukan terlebih dahulu. Tanpa data yang benar dan pasti, mustahil mampu menghasilkan jurnal yang benar serta akurat. Oleh sebab itu, untuk menghasilkan jurnal yang benar, pastikan bukti transaksinya ada, datanya jelas dan benar (bisa dipertanggungjawabkan). Lebih detail mengenai “Siklus Pembukuan dan Akuntansi Selangkah-Demi-Selangkah” bisa dibaca di tulisan saya [ini]. Tiga Hal Yang Perlu Dikuasai Sebelum Belajar Menjurnal Sebelum belajar menjurnal, ada 3 (tiga) hal yang harus dikuasai terlebih dahulu: 1. Kuasai format NERACA dan LAPORAN LABA RUGI sederhana di samping ini.
  42. 42. Pahami betul-betul isi Neraca dan Laporan Laba Rugi. Kalau memang lebih suka menghafalkan dahulu baru kemudian di logikakan, silahkan lakukan itu. Tetapi kalau lebih suka memahami logikanya dahulu baru kemudian dihafalkan, silahkan juga. Terserah bagaimana caranya, yang penting 2 bentuk laporan ini bisa anda hafalkan di luar kepala. Sangat bagus jika bentuk neraca dan Laporan Laba Rugi bisa anda visualisasikan di dalam benak anda. Usahakan agar kedua format tersebut selalu melekat di kepala anda. Kalau mau agak ekstrim, usahakan agar apapun yang anda lihat, nampak seperti bentuk neraca dan laporan laba rugi! Cara menguji apakah anda sudah benar-benar bisa memvisualisasikannya di dalam benak: Ambil kertas kosong dan pena, buat format neraca dan laporan laba rugi sambil memejamkan mata.
  43. 43. 2. Kuasai PERSAMAAN AKUNTANSI berikut ini: Aktiva = Kewajiban + Ekuitas Pemilik Logika dibalik persamaan akuntansi di atas: AKTIVA (juga disebut ‘aset’) adalah kekayaan yang dimiliki oleh perusahaan, bisa berupa: uang tunai disebut kas, piutang atau tagihan kepada pihak lain, persediaan barang, dan aktiva tetap. Dari mana perusahaan memperoleh aktiva tersebut? Apakah tiba-tiba runtuh dari langit? Jelas tidak. Perusahaan memperoleh aktiva tersebut dari: (a) MODAL—yang disetorkan oleh pemilik usaha (maka disebut “Ekuitas Pemilik”); atau (b) UTANG—“Kewajiban” yang suatu saat nanti harus dibayar (dikembalikan); atau Sehingga jika digabung: Kekayaan Perusahaan (AKTIVA) = kewajiban (alias UTANG) + Ekuitas Pemilik (alias MODAL) Dengan kata lain: di satu sisi perusahaan memiliki aktiva (kekayaan), di sisi lainnya perusahaan juga memiliki utang (kewajiban) dan modal (ekuitas pemilik). Kondisi ini akan terus berlansung secara seimbang dari waktu-ke-waktu. Perhatikan kembali gambar contoh NERACA di atas, di sisi sebelah kiri (Aktiva) jumlah nilainya 70, di sisi kewajiban dan ekuitas jumlah nilainya juga 70, seimbang (balance). Setiap perubahan di satu elemen selalu diimbangi oleh perubahan pada elemen lain. Saya akan sajikan contoh farmat laporan keuangan (Neraca, Laporan Laba Rugi, Laporan Arus Kas, dan Perubahan Modal di kesempatan berikutnya. 3. Kuasai prosedur DEBIT dan KREDIT di bawah ini – Jika logika persamaan akuntansi di atas bisa dipahami dengan baik, maka menghafalkan prosedur debit dan kredit akan menjadi mudah.
  44. 44. Prosedur DEBIT dan KREDIT ini adalah vital sifatnya. Seseorang tidak akan mampu membuat jurnal dengan baik dan benar jika belum menguasai prosedur ini. Setelah tigal hal di atas sudah dikuasai dengan baik (hafal, bisa memvisualisasikannya, dan memahami logikanya), maka silahkan lanjutkan dengan belajar menjurnal. Apa arti diagram di atas? Dasarnya adalah persamaan akuntansi yang sudah saya sebutkan sebelumnya, yaitu: Aktiva = Kewajiban + Ekuitas Pemilik Disamping ada ketiga elemen utama (aktiva, kewajiban, dan ekuitas pemilik), juga ada Laba Ditahan, Modal (saham), Dividen, kemudian Biaya dan Pendapatan (catatan: Biaya dan Pendapatan berasal dari format ‘Laporan Laba Rugi’). Elemen-elemen itu disebut dengan “AKUN” (account). Saya akan jelaskan lebih lanjut sambil belajar menjurnal. Prosedur Menjurnal Yang Benar (dan Mudah)
  45. 45. Katakanlah bukti transaksi sudah ada ditangan anda, yaitu berupa surat pinjaman dari bank. Perusahaan meminjam uang sebesar Rp 250,000,000 dari bank. Bagaimana membuat jurnal atas transaksi ini? Untuk menjurnal, ada 3 (tiga) tahapan langkah analisa yang harus dilewati: Langkah-1. Identifikasi: AKUN mana yang terlibat dalam transaksi ini? Perhatikan contoh format NERACA sebelumnya. Pinjaman dari bank tergolong utang maka akun yang terlibat adalah akun ‘Utang’ Uang yang diterima dari bank akan dimasukan ke kas, maka akun lainya yang terlibat adalah akun ‘Kas’. Sehingga ada 2 akun yang terlibat dalam transaksi ini, yaitu: Utang dan Kas Langkah-2. Identifikasi: Bertambah atau berkurang? untuk masing-masing akun yang terlibat, apakah nilai akun tersebut akan menjadi bertambah atau berkurang, akibat dari transaksi yang akan anda jurnal? Akun ‘Utang’ sudah pasti bertambah, di sisi lainnya akun ‘Kas’ juga bertambah. Langkah-3. Hitung: berapa nilai akun yang terlibat akan bertambah atau berkurang? Masing-masing Rp 250,000,000. Kesimpulan analisa: akibat dari transaksi tersebut, akun ‘Utang’ bertambah Rp 250,000,000, dan akun ‘Kas’ juga bertambah Rp 250,000,000. Lalu, jurnalnya? Dari contoh format NERACA sebelumnya diketahui bahwa akun ‘Kas’ masuk kelompok ‘AKTIVA’, dan akun ‘Utang’ masuk kelompok ‘KEWAJIBAN’. Selanjutnya perhatikan bagan prosedur di atas. Disana disebutkan bahwa:  Pada Aktiva: catat ‘Debit’ jika nilainya bertambah, atau catat ‘Kredit’ bila nilainya berkurang. Dalam contoh kasus ini kas bertambah sehingga dicatat di ‘Debit’.  Pada Kewajiban: Catat ‘Debit’ jika nilainya berkurang, atau catat ‘Kredit’ bila nilainya bertambah. Dalam contoh kasus ini utang bertambah, sehingga dicatat di ‘kedit’. Dengan demikian, maka jurnalnya: Debit akun ‘Kas’ sebesar Rp 250,000,000 dan Kredit akun ‘Utang’ sejumlah senilai yang sama. Saya biasa menuliskannya dengan cara: [Debit]. Kas = Rp 250,000,000 [Kredit]. Utang = Rp 250,000,000 Mudah sekali. Bisa? Pasti bisa Jangan khawatir, anda tidak akan jadi gila, saya sendiri butuh 10 tahunan untuk menguasainya. Dan sekarang? Bukannya jadi gila, malahan saya bisa menjurnal transaksi keuangan apapun jenisnya dengan tingkat kesalahan mendekati nol!
  46. 46. Di tulisan-tulisan berikutnya saya akan banyak membahas mengenai prosedur ini dalam contoh- contoh kasus yang lebih variatif dan lebih rumit tentunya.  446  91  11  5  Apakah artikel ini membantu?  Ya Tidak berita Cara Membuat Jurnal Format Neraca dan Laporan Laba Rugi Sederhana Jurnal Akuntansi Mekanisme Dasar Akuntansi Membuat Jurnal Akuntansi Persamaan Akuntansi Prosedr Menjurnal Yang Benar Prosedur Debit dan Kredit slider Tiga Hal Yang Perlu Dikuasai Sebelum Belajar Menjurnal Cara Menangani Invoice dan Jurnal Transaksi Penjualan
  47. 47. Membuat Jurnal Dan Menangani Barang Kembali atau Retur Tentang Penulis Mr. JAK Seorang Akuntan yang prihatin akan mahalnya biaya pendidikan dan bahan ajar, khususnya terkait dengan bidang Akuntansi, Keuangan dan pajak di Indonesia. Lihat semua artikel Baca juga Akunpreneur • Dasar Memahami Logika Laporan Keuangan (Neraca dan Laba Rugi)
  48. 48. Akuntansi • Dasar Cara Membuat Rekonsiliasi Bank: Selangkah Demi... Akuntansi • Dasar Siklus Pembukuan dan Akuntansi Selangkah-Demi- Selangkah Akuntansi • Dasar Format Laporan Keuangan 1: Laporan Laba-Rugi Akuntansi • Dasar Menjurnal Selisih Kelebihan Pembayaran Piutang Dagang
  49. 49. Akuntansi • Dasar Akuntansi Persediaan: Sistim Periodik Vs Perpetual 183 Komentar  Kasturi Nov 14, 2014 at 10:55 pm Terima kasih ilmunya Pak Jak,, membuka kedekatan kalangan awam dengan akuntansi, pendekatan nya ok pak Balas  suaibatul aslamia siregar Nov 23, 2014 at 1:47 pm thanks ilmu’y Balas  diah widoyani Feb 9, 2015 at 12:06 am saya ingin mempelajari laporan keuangan yg lain krn penjelasan anda lebih dapat dimengerti oleh saya Balas  Dream
  50. 50. Apr 15, 2015 at 12:38 am Pak saya lulusan komputer.. Saya ingin berkarir di dunia akuntansi.. Harus dimulai dari mana ya Pak.. Apa ikut kursus akuntansi dulu lalu ambil brevet A ato B.. Terima kasih Balas  Eko Trisatono Apr 16, 2015 at 5:42 am Dear Mr. JAK, Thanks atas knowledge sharingnya, sangat membantu untuk orang awam seperti saya maklum newbie dalam hal akuntansi, namun ada hal yang ingin saya tanyakan pada pembahasan diatas, kenapa pada contoh laporan rugi laba, untuk cost element pendapatan pada posisi debit bukankah harusnya normal transaksi pada posisi kredit, begitu juga biaya/beban bukan posisi normalnya pada posisi kredit ? Thanks & regards, Eko Balas  Eko Trisatono Apr 16, 2015 at 5:44 am Dear Mr. JAK, Thanks atas knowledge sharingnya, sangat membantu untuk orang awam seperti saya maklum newbie dalam hal akuntansi, namun ada hal yang ingin saya tanyakan pada pembahasan diatas, kenapa pada contoh laporan rugi laba, untuk cost element pendapatan pada posisi debit bukankah harusnya normal transaksi pada posisi kredit, begitu juga biaya/beban bukan posisi normalnya pada posisi debit ?
  51. 51. Thanks & regards, Eko Balas « Previous 1 … 6 7 8 Silahkan berkomentar Nama * Surel * Website Komentar anda Bimbingan Karir Terpopular  Cara Mudah Membuat Jurnal Akuntansi  Memahami Logika Laporan Keuangan (Neraca dan Laba...
  52. 52.  Cara Membuat Rekonsiliasi Bank: Selangkah Demi...  Format Laporan Keuangan 1: Laporan Laba-Rugi  Siklus Pembukuan dan Akuntansi... Terkini  Pengakuan: Langsung Dibebankan, Dibiayakan...  Apa Bedanya Jurnal Penyesuaian dengan Pembetulan?
  53. 53.  Spesialisasi: Akuntansi Keuangan Vs Akuntansi...  Akuntansi Dasar: Akun, Jenis dan Nama Akun, Menurut...  Apakah Perusahaan Kecil Perlu Menerapkan... ;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;; Analisis Laporan Keuangan BANK BRI Syariah Neraca Tanggal 31 Januari 2009 dan 2008
  54. 54. Laba-Rugi Periode 1 Januari s/d 31 Desember 2009 dan 2008
  55. 55. Perhitungan Rasio Keuangan Tanggal 31 Desember 2009 dan 2008 Perhitungan rasio keuangan menurut metode camel mempunyai 5 aspek, yaitu : 1. Capital Dengan menggunakan suatu indikator yaitu CAR yang diperoleh dengan membandingkan modal sendiri dengan aktiva tertimbang menurut resiko yang dihitung dari bank yang bersangkutan. Rumus : CAR = Modal Sendiri /Aktiva Tertimbang Pada laporan keuangan diatas CAR mengalami perubahan yang signifikan, pada tahun 2008 sebesar 45.45% sedangkan pada tahun 2009 CAR mengalami penurunan sebesar 17.04%. Karena CAR ini digunakan untuk mengetahui seberapa besar jumlah aktiva yang memiliki resiko yang dibiayai oleh modal selain dana bank, sehingga dapat dikatakan Bank BRI tidak mampu mepertahankan sejumlah aktiva yang memiliki resiko. 2. Assets Indikator kualitas aset yang dipakai adalah rasio kualitas produktif bermasalah dengan aktiva produktif (NPL). Rumus : NPL = Kualitas produktif bermasalah / aktiva produktif Pada laporan keuangan diatas NPL mengalami perubahan, pada tahun 2008 NPL sebesar 0.26% dan pada tahun 2009 NPL mengalami kenaikan sebesar 1.07%. Karena NPL ini digunakan untuk mengetahui kualitas assets suatu bank, maka dapat disimpulkan bahwa Bank BRI bisa mempertahankan kualitas asset pada tahun 2009. 3. Management Kualitas manajemen dapat dilihat dari kualitas manusianya dalam bekerja, juga dapat dilihat dari pendidikan serta pengalaman karyawannya dalam menangani berbagai kasus yang terjadi. Unsur-unsur penilaian dalam kualitas manajemen adalah manajemen permodalan, aktiva, umum, rentabilitas dan likuiditas, yang didasarkan pada jawaban dari pertanyaan yang diajukan. 4. Earning Indikator yang dipakai adalah dan BO/PO yang digunakan untuk mengukur perbandingan biaya operasi/biaya intermediasi terhadap pendapatan operasi yang diperoleh bank, dan NIM yang diperoleh dengan membandingkan pendapatan bunga bersih dengan rata-rata aktiva produktif. Rumus : BO/PO = Total beban operasional / total pendapatan operasional NIM = Pendapatan bunga bersih / rata-rata aktiva produktif
  56. 56. # BOPO Digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen lembaga keuangan dalam mengendalikan biaya operasional terhadap pendapatan operasional. Semakin kecil rasio ini berarti semakin efisien biaya operasional yang dikeluarkan lembaga keuangan yang bersangkutan sehingga kemungkinan suatu lembaga keuangan dalam kondisi bermasalah semakin kecil. Pada tahun 2008 rasio BOPO 215.58% namun pada tahun 2009 turun menjadi 97.50%, ini membuktikan pengendalian yang baik antara biaya operasional dengan pendapatan operasionalnya karena rasio semakin kecil atau turun. # NIM Rasio NIM pada data diatas tahun 2009 mengalami penurunan, sehingga menjadi 7.80% yang pada tahun 2008 sebesar 11.20%. Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam mengelola aktiva produktifnya untuk menghasilkan pendapatan bunga bersih. Pendapatan bunga bersih diperoleh dari pendapatan bunga dikurangi beban bunga. Semakin besar rasio ini maka meningkatnya pendapatan bunga atas aktiva produktif yang dikelola bank. 5. Liquidity Indikator yang digunakan adalah loan to deposit ratio (LDR) dan reserve requirement atau giro wajib minimum (GWM). LDR diperoleh dengan membandingkan antara seluruh penempatan dan seluruh dana yang berhasil dihimpun ditambah dengan modal sendiri, sedangkan GWM merupakan perbandingan giro pada Bank Indonesia dengan seluruh dana yang berhasil dihimpun. Rumus : LDR = Seluruh penempatan/(seluruh dana yang berhasil di himpun+modal sendiri) GWM = Giro pada bank indonesia/seluruh dana yang berhasil di himpun # LDR (Quick Ratio= aktiva lancar / kewajiban lancar) Di tahun 2008 551.05% dan pada tahun 2009 34.77%. Rasio ini digunakan untuk menilai likuiditas suatu bank yang dengan cara membagi jumlah kredit yang diberikan oleh bank terhadap dana pihak ketiga. Semakin tinggi rasio ini, semakin rendahnya kemampuan likuiditas bank yang bersangkutan sehingga kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah akan semakin besar. # GWM GWM atau Giro Wajib Minimum milik bank harus tetap terjaga untuk menghindari terjadinya dampak buruk dari system perbankan dan perekonomian Sumber :  http://www.brisyariah.co.id/?q=laporan-keuangan ;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;; spirit motivasi indonesia Rabu, 29 Februari 2012 analisa laporan keuangan dalam perbankan
  57. 57. ANALISIS LAPORAN KEUANGAN A. PENDAHULUAN Bank merupakan perusahaan keuangan yang bergerak dalam memberikan layanan keuangan yang mengandalkan kepercayaan dari masyarakat dalam mengelola dananya. Tingkat kesehatan bank adalah hasil penilaian kualitatif atas berbagai aspek yang berpengaruh terhadap kondisi atau kinerja suatu bank melalui penilaian kualitatif terhadap faktor-faktor permodalan, kualitas asset, manajemen, rentabilitas, likuiditas, dan sensitivitas terhadap risiko pasar (PBI No. 6/10/PBI/2004). Sedangkan yang termasuk kondisi keuangan dalam kesehatan bank dapat dilihat pada faktor permodalan (C/capital), kualitas aset (A/asset), rentabilitas (E/earning), dan likuiditas (L/liquidity). Kesehatan bank merupakan hal yang sangat penting di dalam berbagai bidang kehidupan, baik bagi manusia maupun perusahaan. Kondisi yang sehat akan meningkatkan gairah kerja dan kemampuan kerja serta kemampuan lainnya. Sama sepeti hal nya manusia yang harus selalu menjaga kesehatannya, perbankan juga harus selalu dinilai kesehatannya agar tetap prima dalam melayani para nasabahnya. Bank yang tidak sehat, bukan hanya membahayakan dirinya sendiri, akan tetapi pihak lain. Bank sebagai suatu lembaga yang melindungi dana nasabah juga berkewajiban menjaga kerahasiaan terhadap dana nasabahnya dari pihak-pihak yang dapat merugikan nasabah. Dan sebaliknya masyarakat yang mempercayakan dananya untuk dikelola oleh bank juga harus dilindungi terhadap tindakan yang semena-mena yang dilakukan oleh bank yang dapat
  58. 58. merugikan nasabahnya. Hal ini sangat dibutuhkan karena sebagai lembaga keuangan, bank harus mendapat kepercayaan dari masyarakat, dan kepercayaan dari masyarakat tersebut akan lahir apabila semua data hubungan masyarakat dengan bank tersebut dapat tersimpan secara rapi atau dirahasiakan, dan kesemuanya itu akan berdampak pada kesehatan bank tersebut. Penilaian kesehatan bank amat penting disebabkan karena bank mengelola dana masyarakat yang di percayakan kepada bank. Masyarakat pemilik dana dapat saja menarik dana yang dimilikinya setiap saat dan bank harus anggup mengembalikan dana yang dipakainya jika ingin tetap dipercaya oleh nasabahnya. Tujuan penilaian kesehatan bank yaitu untuk menentukan apakah bank tersebut dalam kondisi yang sehat, cukup sehat, kurang sehat atau tidak sehat. Standar untuk melakukan penilaian kesehatan bank telah ditentukan oleh pemerintah melalui Bank Indonesia. Saran yang diberikan Bank Indonesia sebagai pengawas dan Pembina untuk perbaikan- perbaikan bagi bank yang kurang sehat meliputi: perubahan manajemen, melakukan penggabungan seperti merger, konsolidasi, akuisisi atau malah dilikuidir (dibubarkan) keberadaannya jika memang sudah parah kondisi bank tersebut. a. Aspek-aspek Penilaian Penilaian untuk menentukan kondisi suatu bank, biasanya menggunakan berbagai alat ukur. Salah satu alat ukur yang utama yang digunakan untuk menentukan kondisi suatu bank dikenal dengan nama analisis CAMEL. Analisis ini terdiri dari aspek capital, assets,management, earning dan liquidity. Hasil dari masing-masing aspek ini kemudian akan menghasilkan kondisi suatu bank. 1. Aspek Pemodalan (Capital)
  59. 59. Penilaian pertama adalah aspek permodalan (capital) suatu bank.Dalam aspek ini yang di nilai adalah permodalan yang dimiliki oleh bank yang didasarkan kepada kewajiban penyediaan modal minimum bank. Penilaian tersebut didasarkan kepada CAR (Capital Adequacy Ratio),yang telah ditetapkan BI. Perbandingan Rasio CAR adalah Rasio Modal terhadap aktiva tertimbang menurut resiko (AMTR).Sesuai ketentuan yang telah ditetapkan pemerintah,maka CAR perbankan untuk tahun 2002 minimal 8%.Bagi bank yang memiliki CAR dibawah 8% harus memperoleh perhatian dan penanganan yang serius untuk segera diperbaikin. Penambahan CAR untuk mencapai seperti yang ditetapkan memerlukan waktu,sehingga pemerintahpun memberikan waktu sesuai dengan ketentuan. Apabila sampai waktu yang telah ditentukan,target CAR tidak tercapai,maka bank yang bersangkutan akan dikenakan sangsi. 2. Aspek Kualitas Aset (Asets) Aspek yang kedua adalah mengukur kualitas asset bank. Dalam hal ini upaya yang dilakukan adalah untuk menilai jenis-jenis asset yang dimiliki oleh bank. Penilaian asset harus sesuai dengan peraturan oleh Bank Indonesia dengan memperbandingkan antara aktiva produktif yang diklasifikasikan terhadap aktiva produktif. Kemudian rasio penyisihan penghapusan aktiva produktif terhadap aktiva produktif diklasifikasikan. Rasio ini dapat dilihat dari neraca yang telah dilaporkan secara berkala kepada bank Indonesia. 3. Aspek Kualitas Manajemen (Managemen) Dalam aspek ini yang di nilai adalah manajemen permodalan,kualitas aktiva,umum,rentabilitas, dan manajemen likuiditas. Penilaian didasarkan kepada jawaban dari 250 pertanyaan yang diajukan mengenai manajemen bank yang bersangkutan.
  60. 60. 4. Aspek Earning Kegunaan aspek ini juga untuk mengukur tingkat efisiensi usaha dan provitabilitas yang dicapai bank yang bersangkutan. 5. Aspek Likuiditas (Liquidity) Penilaian dalam aspek ini meliputi : 1. Rasio kewajiban bersih Call Money terhadap aktiva Lancar. 2. Rasio kredit terhadap dana yang diterima oleh bank seperti KLBI, giro, tabungan, deposito dan lain-lain. Disamping dengan penilaian analisis CAMEL, Kesehatan Bank juga dipengaruhi hasil hasil penilaian lainnya yaitu penil;aian terhadap : 1. Ketentuan pelaksanaan pemberian Kredit Usaha Kecil (KUK) dan pelaksanaan Kredit Ekspor. 2. Pelanggaran terhadap ketentuan batas maksimum pemberian kredit (BMPK) atau Legal Lending Limit. 3. Pelanggaran Posisi Devisa Netto. Batas Minimal dan maksimal untuk mentukan predikat suatu bank dapat dilihat dalam table berikut ini . Nilai Kredit Predikat 81 – 100 66 – < 81 51 – < 66 0 – < 51 Sehat Cukup Sehat Kurang sehat Tidak Sehat 6. Sensitivity Of Risk Analisa terhadap risiko-risko yang mungkin terjadi
  61. 61. Dasar Hukum ketentuan rahasia bank di Indonesia, mula-mula adalah Undang-undang no.7 tahun 1992 tentang Perbankan, tetapi kemudian diubah dengan Undang-undang no.10/1998. Sesuai pasal 1 ayat 28 Undang-undang no.10/1998, berbunyi sebagai berikut: Rahasia Bank adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan keterangan mengenai Nasabah Penyimpan dan Simpanannya. B. PEMBAHASAN Pada umumnya, terdapat rasio-rasio yang digunakan dalam pengukuran kondisi keuangan bank terutama bank-bank konvensional untuk berbagai aspek di antaranya: 1. Penilaian Permodalan (Capital/C) Permodalan merupakan penilaian terhadap kecukupan modal bank untuk mencover eksposur saat ini dan mengantisipasi eksposur risiko di masa datang. Rasio yang digunakan adalah CAR (Capital Adequacy Ratio) yaitu rasio kecukupan modal yang didapatkan dari perhitungan : CAR = Modal x 100 % Aktiva Tertimabng Menurut Risiko (ATMR) 2. Penilaian Kualitas Aktiva Produktif (Assets Quality/A) Analisis atas assets quality dialkukan untuk memastikan kualitas aset yang dimiliki bank dan nilai riil dari aset tersebut. Kemerosotan kualitas dan nilai aset merupakan sumber erosi terbesar bagi bank. Aktiva produktif adalah penanaman dana pada pihak terkait dan pihak tidak terkait. Penilaian kualitas aset merupakan penilaian terhadap kondisi aset bank dan kecukupan
  62. 62. manajemen risiko kredit/pembiayaan. Penilaian pendekatan kuantitatif dan kualitatif faktor kualitas aset antara lain dilakukan melalui penilaian terhadap komponen-komponen yang terkait penanaman dana. Rasio-rasio keuangan yang digunkaan dalam penilaian kualitas aset adalah: a. Rasio Kualitas Aktiva Produktif (KAP) digunakan untuk mengukur aktiva produktif bank. Semakin tinggi rasio ini menunjukkan semakin baik kualitas aktiva yang dimiliki oleh bank. KAP = PPAP yang dibentuk x 100 % PPAP wajib b. Non-Perfoming Financing (NPF) yaitu untuk mengukur tingkat permasalahan pembiayaan yang dihadapi oleh bank. Semakin tinggi rasio ini, menunjukkan bahwa kualitas pembiayaan semakin tidak sehat. Rumus perhitungan NPF adalah sebagai berikut: NPF = Pembiayaan bermasalah (KL, D, M) x 100 % Total Pembiayaan 3. Penilaian Rentabilitas (Earning/E) Yaitu penilaian terhadap kondisi rentabilitas bank untuk mendukung kegiatan operasionalnya dan permodalan. Rentabilitas adalah hasil perolehan dari investasi (penanaman modal) yang dikatakan dengan persentase dari besarnya investasi. Rasio-rasio keuangan yang digunakan dalam penilaian rentabilitas bank adalah:
  63. 63. a. ROA (Return on Assets) adalah rasio laba sebelum pajak dalam 12 bulan terakhir terhadap rata-rata volume usaha dalam periode yang sama. ROA menggambarkan perputaran aktiva yang diukur dari volume penjualan. ROA = Laba Sebelum Pajak x 100 % Total Aktiva b. BOPO (Beban Operasional Pendapatan Operasional) adalah perbandingan antara biaya operasional dengan pendapatan operasional dalam mengukur tingkat efisiensi dan kemampuan bank dalam melakukan kegiatan operasinya. Dalam hal ini perlu diketahui bahwa usaha utama bank adalah menghimpun dana dari masyarakat dan selanjutnya menyalurkan kembali kepada masyarakat dalam bentuk kredit. Sehingga beban bunga dan hasil bunga merupakan porsi terbesar bagi bank. BOPO = Biaya (Beban) Operasional x 100 % Pendapatan Operasional 4. Penilaian Likuiditas (Liquidity/L) Yaitu penilaian terhadap kemampuan bank untuk memelihara dan memenuhi kebutuhan likuiditas yang memadai dan kecukupan manajemen risiko likuiditas. Bank dikatakan likuid apabila mempunyai alat pembayaran berupa harta lancar lebih besar dibandingkan dengan seluruh kewajibannya. a. Loan to Deposit Ratio (LDR) yaitu rasio yang mengukur perbandingan jumlah kredit yang diberikan bank dengan dana yang diterima oleh bank, yang
  64. 64. menggambarkan kemampuan bank dalam membayar kembali penarikan dana oleh deposan dengan mengandalkan kredit yang diberikan sebagai sumber likuiditasnya. b. Loan to Assets Ratio (LAR) untuk mengukur tingkat likuiditas bank yang menunjukkan kemampuan bank untuk memenuhi permintaan kredit dengan menggunakan total aset yang dimiliki bank. LAR merupakan perbandingan antar besarnya kredit yang diberikan bank dengan besarnya total aset yang dimiliki bank. LAR = Jumlah Kredit yang diberikan x 100 % Jumlah Aset Rasio-rasio di atas sebenarnya dikembangkan dalam menilai kinerja bank konvensional. Walaupun demikian penilaian kinerja bank Syariah pun bisa dilakukan dengan menggunakan rasio-rasio di atas, namun harus dengan sedikit perubahan, yaitu dengan mengganti faktor kredit menjadi pembiayaan dan suku bunga menjadi tingkat bagi hasil. Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan Bank BCA, Tbk. dengan Mandiri, Tbk. 1. Penilaian Permodalan (Capital –C) CAR = Modal x 100 %
  65. 65. ATMR BCA, Tbk Mandiri, Tbk. CAR = 22.832.586 x 100 % CAR = 30.456.978 x 100 % 148.967.979 197.426.968 = 15,33 % = 15,43 % 2. Penilaian Kualitas Aktiva Produktif (Assets Quality-A) a. Rasio Kualitas Aktiva Produktif (KAP) KAP = Aktiva Produktif yang diklasifikasikan x 100 % Total Aktiva Produktif BCA, Tbk. Mandiri, Tbk. KAP = 125.277.909 x 100 % KAP = 186.095.000 x 100 % 120.018.574 206.181.000 = 104.38 % = 90,25 % b. Non Performing Financing (NPF) NPF = Pembiayaan (KL, D, M) x 100 % Total Pembiayaan
  66. 66. BCA, Tbk. Mandiri, Tbk. NPF = 3.226.555 x 100 % NPF = 1.222.696 x 100 % 119.595.661 184.690.704 = 2.70 % = 6,6 % 3. Penilaian Rentabilitas (earning-E) a. ROA (Return On Assets) ROA = Laba Sebelum Pajak x 100 % Total aktiva BCA, Tbk Mandiri, Tbk. ROA = 8.945.092 x 100 % ROA = 10.824.074 x 100 % 282.392.294 394.616.604 = 3.17 % = 2.74 %
  67. 67. b. BOPO (Beban Operasional Pendapatan Operasional) BOPO = Biaya Operasional x 100 % Pendapatan Operasional BCA, Tbk Man diri, Tbk. BOPO = 16.502.663 x 100 % BOP O = 10.009.867 x 100 % 19.248.067 22.261.478 = 85.74 % = 44.96 %
  68. 68. 4. Penilaian Likuiditas (Liquidity-L) a. Loan to Deposit Ratio (LDR) LDR = Kredit yang diberikan x 100 % DPK BCA, Tbk Mandiri, Tbk. LDR = 119.595.661 x 100 % LDR = 184.690.704 x 100 % 123.901.269 196.488.172 = 96.52 % = 93.99 % b. Loan to Assets Ratio (LAR) LAR = Kredit yang Diberikan x 100 % Total Aset BCA, Tbk. Mandiri, Tbk. LAR = 119.595.661 x 100 LAR = 184.690.704 x 100 % 282.392.294 394.616.604 = 42.35 % = 46.80 % Pembahasan CAPITAL Capital Adequacy Ratio (CAR) suatu bank menunjukkan tingkat kecukupan modal bank atau kemampuan bank dalam memenuhi kemungkinan kerugian di dalam perkreditan
  69. 69. (pembiayaan) atau dalam perdagangan surat-surat berharga. CAR memberikan indikasi apakah modal yang dimiliki telah memadai (adequate) untuk menutupi risiko kerugian yang mungkin terjadi. Menurut standar BIS (Bank for International Settlements) CAR minimum adalah sebesar 8%. Jika kurang dari itu maka akan dikenakan sanksi oleh Bank Sentral. Dari analisis laporan keuangan kedua bank, CAR Bank BCA sebesar 15,33 % sedangkan CAR Bank Mandiri, Tbk. sebesar 15,43 %. Dari angka ini bisa diketahui bahwa dari sisi permodalan, kedua bank tersebut mempunyai modal yang cukup untuk menutup kerugian yang mungkin terjadi. ASSETS QUALITY Perhitungan Kualitas Aktiva Produktif (KAP) dilakukan untuk mengetahui kondisi aset produktifnya dalam mengantisipasi risiko gagal bayar pembiayaan yang dilakukan bank (financing risk). Empat kriteria kesehatan bank dilihat dari Kualitas Aktiva Produktif (KAP) menutu SK Direksi Bank Indonesia No. 30/267/KEP/DIR tanggal 27 Februari 1998 adalah sebagai berikut : Rasio KAP Predikat 82<KAP<103,33 Sehat 66<KAP<81,99 Cukup 51<KAP<65,99 Kurang Sehat
  70. 70. KAP<50,99 Tidak Sehat Sedangkan kriteria peringkat kesehatan bank berdasarka nilai NPF adalah sebagai berikut: Peringkat 1 = NPF <2%; Peringkat 2 = 2 % < NPF < 5 % Peringkat 3 = 5 % < NPF < 8 % Peringkat 4 = 8 % < NPF < 12%; dan Peringkat 5 = NPF > 12 %. Dari analisis yang dilakukan, diketahui bahwa KAP Bank BCA, Tbk sebesar 104.38 % dan Mandiri, Tbk. 60,88 %. Ini berarti bahwa rasio KAP kedua bank tersebut berada dalam posisi sehat dan cukup sehat. Ini bearti bahwa baik bank BCA maupun Mandiri mempunyai kemampuan yang cukup baik dalam mengantisipasi kemungkinan gagal bayar dari pembiayaan yang dilakukan. Selanjutnya, dengan melihat NPF (Non-Perfoming Financing) antara kedua bank, diketahui bahwa NPF Bank BCA, Tbk (2.70 %) lebih rendah daripada Bank Mandiri, Tbk. (6,6 %). Dari perbandingan tersebut diketahui bahwa pembiayaan bermasalah di bank BCA, Tbk dan bank Mandiri, Tbk tergolong kecil dan keduanya berada dalam posisi peringkat dua dan tiga untuk kesehatan bank berdasarkan nilai NPF berdasar kriteria yang diberikan oleh BI. EARNING Return On Assets (ROA) mengindikasikan keberhasilan pihak manajemen dalam menghasilkan laba. Kriteria penilaian ROA ini menurut BI (2007) adalah sebagai berikut: Peringkat 1 = ROA > 1,5 % Peringkat 2 = 1,25 % < ROA < 1,5 %
  71. 71. Peringkat 3 = 0,5 % < ROA < 1,25 % Peringkat 4 = 0 % < ROA < 0,5 % dan Peringkat 5 = ROA < 0 %. Dari perhitungan ROA kedua bank, diketahui bahwa ROA Bank BCA adalah 3.17 %, sedangkan ROA Bank Mandiri, Tbk. sebesar 2.74 %. Ini bearti bahwa kemampuan Manajemen Bank BCA dalam mengelolah aset untuk menghasilkan laba, lebih baik daripada yang dilakukan Bank Mandiri . Serta, dari kriteria kesehatan bank berdasarkan besaran ROA, Bank BCA memperlihatkan kesehatan yang lebih baik dibandingkan dengan bank mandiri, Tbk. LIQUIDITY LDR menunjukkan komposisi jumlah kredit yang diberikan dibandingkan dengan jumlah dana masyarakat dan modal sendiri yang digunkan. LDR yang tinggi akan menunjukkan bahwa manajemen bank cukup baik dalam menjalankan fungsinya menyalurkan dananya ke masyarakat, dan secara tidak langsung bearti akan memberikan tingkat profitabilitas yang lebih baik juga. Namun demikian, LDR yang tinggi juga memberikan indikasi terdapatnya risiko likuiditas, yaitu kemampuan bank dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Hal ini (rendahnya likuiditas) harus selalu diperhatikan oleh bank, dalam upaya menghindari risiko hilangnya kepercayaan konsumen atau nasabah. Dari analisis LDR bank BCA, Tbk sebesar 96.52 % sedangkan bank Mandiri, Tbk. sebesar 93.99 %. Ini mengindikasikan bahwa Bank BCA, Tbk mempunyai tingkat profitabilitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan Bank Mandiri, Tbk. Bagi Investor, hal ini cukup menarik karena akan memebrikan peluang mendapatkan profit yang lebih tinggi ketika mereka menyertakan dananya di bank BCA, Tbk, daripada di Bank Mandiri, Tbk.
  72. 72. Sebaliknya, bagi bank mandiri yang mempunyai LDR lebih rendah memberikan indikasi bahwa bank Mandiri mempunyai kemampuan likuiditas yang lebih baik dibandingkan dengan bank BCA, Tbk. Bagi nasabah penabung, yaitu nasabah yang menempatkan dananya untuk kepentingan jangka pendek, bank Mandiri akan memberikan jaminan yang lebih baik daripada bank BCA, Tbk, dalam memenuhi kewajiban bank yang harus dialkukan dengan segera. DAFTAR PUSTAKA Eugene, Bringham, Manajemen Keuangan, terjemahan edisi delapan, PT Gelora Aksara Pratama, 2001. Hanafi, Mamduh, Analisis Laporan Keuangan, edisi empat, UPP STIM YKPN, 2009. Hanafi, Mamduh, Manajemen Keuangan, cet. Pertama, BPFE, 2008. Prihadi, Toto, Analisis Laporan Keuangan Teori dan Praktek, cet. Pertma, PPM, 2010. Diposkan oleh edi jatmiko di 04.27 Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest Label: analisa laporan keuangan dalam perbankan
  73. 73. ;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;; 1.1.1 Lingkup Analisis Laporan Keuangan ' Laporan keuangan dapat dibagi menjadi laporan keuangan utama dan laporan pendukung lainnya. Contoh laporan keuangan utama adalah Balance Sheet atau Neraca, Income Statement atau Laporan Laba Rugi, Comprehensive Income Statement atau Laporan Laba Komprehensif, Statement of Changes in Equity atau Laporan Perubahan Modal Saham, dan Statement of Cash Flows atau Laporan Arus Kas. Contoh laporan pendukung lainnya adalah Management Discussion and Analysis atau Diskusi dan Pembahasan oleh Manajemen, Audit Report atau Laporan Audit dari Auditor, Corporate Governance Report atau Laporan Tata Kelola Perusahaan. Laporan keuangan dapat dipahami sebagai media untuk berkomunikasi antara perusahaan dengan pihak-pihak yang berkepentingan, seperti manajemen perusahaan, pemegang saham perusahaan, perbankan, dan pemerintah. Didalam laporan keuangan, berbagai peristiwa atau transaksi didalam perusahaan yang disederhanakan dengan cara dirangkum kedalam berbagai pos yang sesuai dalam laporan keuangan. Contoh: Perusahaan melakukan penjualan setiap hari, dimana ada hari tertentu penjualan meningkat, dan ada hari tertentu lainnya penjualan menurun. Analisis kinerja penjualan perusahaan akan dipermudah jika penjualan selama 1 periode waktu tertentu, misalnya 3 bulanan, atau 1 tahunan, dirangkum menjadi pos penjualan. Pemahaman kondisi perusahaan melalui laporan keuangan mengharuskan pembaca memiliki kompetensi untuk memahami laporan keuangan, mulai dari transaksi yang terjadi, pencatatan, dan penyesuaian yang dilakukan, dan waktu yang cukup lama untuk membacanya. Mengacu pada keterbatasan kompetensi dan waktu, hasil analisis laporan keuangan dari analis keuangan menjadi sangat penting. Analis laporan keuangan membantu menjadikan laporan keuangan menjadi suatu “cerita” mengenai kondisi keuangan perusahaan sehingga menarik untuk dibaca, mudah diingat, mudah dipahami dalam waktu singkat, dan membantu pembaca untuk mengetah 1.1.2 Pengguna Laporan Keuangan dan Fokus Analisisnya ' Tujuan dari laporan keuangan adalah memberikan informasi mengenai kondisi keuangan perusahaan dan perubahannya untuk berbagai pihak yang berkepentingan untuk membuat keputusan yang bersifat ekonomis. Pihak yang berkepentingan meliputi: Manajer Perusahaan. Laporan keuangan memberikan informasi mengenai keberhasilan manajemen dalam mengelola dan meningkatkan kekuatan perusahaan dan mencari ruang peningkatan kinerja. Laporan keuangan juga membantu manajer perusahaan untuk membuat keputusan strategis perusahaan.
  74. 74. Fokus analisis manajer perusahaan adalah maksimalisasi nilai investasi pemegang saham melalui keberlanjutan bisnis perusahaan dalam jangka pendek sampai dengan jangka panjang. Bobot bidang yang dianalisis terutama kinerja perusahaan, dan jika memungkinkan, perbandingan kinerja dengan perusahaan pesaing. Pemegang Saham Perusahaan Pemegang saham, termasuk calon pemegang saham, berinvestasi pada perusahaan karena mengharapkan untuk mendapatkan keuntungan, baik dalam bentuk dividen dan kenaikan harga saham (capital gain). Fokus analisis pemegang saham perusahaan adalah kemampuan dan prestasi manajer perusahaan dalam mengelola perusahaan dan menghasilkan keuntungan bagi pemegang saham. Bobot bidang yang dianalisis dipengaruhi oleh kondisi perusahaan. Tahap hidup perusahaan (firm life cycle)  Jika perusahaan berada pada tahap pertumbuhan (growth), maka fokus analisis adalah pertumbuhan bisnis dan likuiditas.  Jika perusahaan berada pada tahap stabil (maturity), maka fokus analisis adalah besaran dividen yang dapat dibagikan kepada pemegang saham. Kondisi keuangan perusahaan (financial condition)  Jika perusahaan berada pada tahap kesulitan keuangan (financial distress), maka fokus analisis adalah potensi perusahaan untuk diselamatkan atau ditutup.  Jika perusahaan berada pada tahap kondisi struktur keuangan yang belum optimal, misalnya terlalu banyak modal saham atau terlalu banyak pinjaman, maka fokus analisis adalah potensi peningkatan nilai perusahaan melalui penyesuaian struktur modal. Perbankan Perbankan, termasuk perusahaan multifinance, hanya tertarik untuk memberikan pendanaan kredit pada perusahaan dengan kemampuan untuk melunasi cicilan bunga dan pokok pinjaman yang baik. Fokus analisis perbankan terutama pada likuiditas perusahaan dan kelayakan jaminan (collateral) pinjaman. Perusahaan Rating Perusahaan Rating membantu investor produk investasi pendapatan tetap untuk menilai tingkat risiko dari kredit yang diberikan pada perusahaan. Fokus analisis perusahaan rating terutama pada likuiditas perusahaan dan kelayakan jaminan (collateral) pinjaman. Perusahaan Sekuritas Bisnis utama perusahaan sekuritas ada 2 yaitu perantara pedagang efek (brokerage) dan penjaminan emisi efek (underwriter atau investment banking). Untuk penyederhanaan, efek bisa berbentuk saham atau obligasi.

×