Perkembangan sistem pembayaran di indonesia

39,029 views

Published on

Published in: Education
2 Comments
8 Likes
Statistics
Notes
  • KABAR BAIK!!! Nama saya Aris. Saya ingin menggunakan media ini untuk mengingatkan semua pencari pinjaman sangat berhati-hati karena ada penipuan di mana-mana. Beberapa bulan yang lalu saya tegang finansial, dan putus asa, saya telah penipuan oleh beberapa pemberi pinjaman online. Saya hampir kehilangan harapan sampai Tuhan menggunakan teman saya yang merujuk saya ke pemberi pinjaman sangat handal disebut Ibu Cynthia meminjamkan pinjaman tanpa jaminan dari Rp800,000,000 (800 Juta) dalam waktu kurang dari 24 jam tanpa tekanan atau stres dengan tingkat bunga hanya 2%. Saya sangat terkejut ketika saya memeriksa saldo rekening bank saya dan menemukan bahwa jumlah yang saya diterapkan untuk dikirim langsung ke rekening saya tanpa penundaan. Karena saya berjanji bahwa saya akan berbagi kabar baik sehingga orang bisa mendapatkan pinjaman mudah tanpa stres. Jadi, jika Anda membutuhkan pinjaman apapun, silahkan menghubungi dia melalui email: cynthiajohnsonloancompany@gmail.com dan oleh kasih karunia Allah dia tidak akan pernah mengecewakan Anda dalam mendapatkan pinjaman jika Anda mematuhi perintahnya. Anda juga dapat menghubungi saya di email saya: ladymia383@gmail.com dan kehilangan Sety saya diperkenalkan dan diberitahu tentang Ibu Cynthia Dia juga mendapat pinjaman baru dari Ibu Cynthia Anda juga dapat menghubungi dia melalui email-nya: arissetymin@gmail.com sekarang, semua yang akan saya lakukan adalah mencoba untuk memenuhi pembayaran pinjaman saya yang saya kirim langsung ke rekening bulanan.
       Reply 
    Are you sure you want to  Yes  No
    Your message goes here
  • Untuk benar memperkenalkan diri, saya Encik Michael Benson pemberi pinjaman peribadi i memberikan pinjaman pada kadar faedah 3%. Ini merupakan peluang kewangan pada langkah pintu anda, berlaku hari ini dan mendapatkan pinjaman cepat anda. Ada banyak di luar sana untuk mencari peluang kewangan atau bantuan di seluruh tempat dan masih lagi mereka tidak mampu untuk mendapatkan satu. Tetapi ini adalah satu peluang kewangan pada langkah pintu anda dan oleh itu anda tidak mampu terlepas peluang ini. Perkhidmatan ini menyebabkan kedua-duanya orang perseorangan, syarikat, peniaga lelaki dan wanita. Jumlah pinjaman julat boleh didapati daripada mana-mana jumlah yang anda pilih Untuk maklumat lanjut hubungi kami melalui e-mel: michealbensonloanagency@gmail.com BORANG PERMOHONAN PINJAMAN ISI DAN PULANGAN. Nama Penuh .................................... Nombor Telefon Peribadi ............................ Negara ........................................... Alamat ...................................... Negeri .............................. Umur ............................................. Pernahkah anda memohon sebelum ini? ....................... Status Perkawinan ................................. Jumlah pinjaman yang diperlukan sebagai pinjaman ..................................... Pinjaman Tempoh ................................. Pekerjaan .................................... Pendapatan Bulanan ............................. Dalam memperakui butiran ini, Kami akan mengembalikan kamu istilah kita bersama-sama dengan jadual pembayaran balik dan Jika anda bersetuju dengan terma dan syarat ini, anda berpeluang untuk mendapatkan pinjaman anda dalam masa 24 jam. Ini bergantung kepada kesungguhan dan segera anda dalam mendapatkan pinjaman. Saya dengan senang hati menunggu respon pantas anda, Anda sungguh-sungguh, Michael Benson
       Reply 
    Are you sure you want to  Yes  No
    Your message goes here
No Downloads
Views
Total views
39,029
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
116
Actions
Shares
0
Downloads
500
Comments
2
Likes
8
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Perkembangan sistem pembayaran di indonesia

  1. 1. Perkembangan Sistem Pembayaran di Indonesia i | P a g eDiajukan untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah AkuntansiPerbankan yang diampu oleh Dr. H. Nugraha, SE, M.Si, Akt dan DianHerdian.PERKEMBANGAN SISTEMPEMBAYARAN DI INDONESIADisusun oleh :Dea Sudawati (1002049)Melly Lydea (1006570)Nurhani (1006386)Rizky Fauzi (1001323)JURUSAN PENDIDIKAN AKUNTANSIFAKULTAS PENDIDIKAN EKONOMI DAN BISNISUNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA2013
  2. 2. Perkembangan Sistem Pembayaran di Indonesia ii | P a g eKATA PENGANTARDengan mengucap puji dan syukur serta mengucapkan Alhamdulillah berkatRahmat Allah SWT, kami dapat menyelesaikan makalah ini. Makalah ini disusununtuk memenuhi salah satu tugas dalam mata kuliah Akuntansi Perbankan.Dalam penyusunan makalah ini, tidak sedikit hambatan yang kami hadapi,namun dengan semangat dan kerja keras akhirnya kami dapat menyelesaikanmakalah ini.Dalam kesempatan ini kami menyampaikan rasa terima kasih kepada BapakDr. H. Nugraha, SE, M.Si, Akt dan Dian Hardiana, S.Pd selaku dosen mata kuliahAkuntansi Perbankan, atas bimbingan beliau kami dapat menyelesaikan makalahini dan tidak lupa pula kepadateman-teman yang telah memberi dukungan dansemangat dalam penyelesaian makalah ini.Kami menyadari bahwa dalam makalah ini masih terdapat kekurangan dankesalahan. Oleh karena itu, kami mohon saran dan kritik yang membangun untukpembuatan laporan yang lebih baik nantinya.Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih.Bandung,29 Mei 2013Penyusun
  3. 3. Perkembangan Sistem Pembayaran di Indonesia iii | P a g eDAFTARISIKATA PENGANTAR ............................................................................................ iiDAFTARISI.............................................................................................................iiiBAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 61.1. Latar Belakang ............................................................................................ 61.2. Rumusan Masalah....................................................................................... 11.3. Tujuan ......................................................................................................... 71.4. Metode......................................................................................................... 7BAB II TINJAUAN TEORI ..................................Error! Bookmark not defined.2.1. Sistem Pembayaran..................................................................................... 52.1.1. Kebijakan dan Pengembangan Sistem Pembayaran ........................... 142.1.2. Arah Kebijakan dan Pengembangan Sistem Pembayaran .................. 182.2. Perkembangan Penyelenggaraan dan Kinerja Sistem Pembayaran .......... 202.2.1. Perkembangan dan Kinerja Sistem Pembayaran yang diselenggarakanoleh Bank Indonesia....................................................................................... 202.2.2. Perkembangan dan Kinerja Sistem Pembayaran yang diselenggarakanoleh Pihak di Luar Bank Indonesia................................................................ 312.2.3. Peta Penyelenggaraan Sistem Pembayaran di Indonesia .................... 382.3. Kebijakan Sistem Pembayaran.................................................................. 442.3.1. Upaya Peningkatan Efisiensi dan Keandalan Sistem denganPengembangan Sistem BI-RTGS dan BI-SSSS Generasi II.......................... 442.3.2. Kebijakan SKNBI................................................................................ 49
  4. 4. Perkembangan Sistem Pembayaran di Indonesia iv | P a g e2.3.3. Pengembangan Sistem Transfer Kredit Elektronik (STKE) BankPerkreditan Rakyat (BPR) ............................................................................. 532.3.4. Implementasi Blueprint Sistem Pembayaran Nasional dalam rangkaPersiapan MEA.............................................................................................. 542.3.5. Tahapan Pengembangan National Payment Gateway (NPG) SistemPembayaran Ritel........................................................................................... 562.3.6. Upaya Mewujudkan Interoperabilitas melalui Kegiatan FasilitasiInterkoneksi Industri Uang Elektronik .......................................................... 582.3.7. Implementasi Standar Nasional Kartu ATM dan ATM/Debet............ 612.3.8. Implementasi Roadmap Pengembangan Sistem Pembayaran danSetelmen ASEAN .......................................................................................... 622.4. Pengawasan Sistem Pembayaran .............................................................. 642.4.1. Pengawasan Sistem Pembayaran yang Diselenggarakan oleh BI....... 662.4.2. Sistem Pembayaran yang Diselenggarakan oleh Pihak di Luar BI..... 722.5. Arah Kebijakan dan Pengembangan Sistem Pembayaran ke Depan ........ 792.5.1. Arah Kebijakan dan Pengembangan BI-RTGS/BI-SSSS Generasi II 792.5.2. Arah Kebijakan dan Pengembangan Sistem Kliring Nasional BI ...... 812.5.3. Arah Kebijakan dan Pengembangan NPG ke Depan.......................... 832.5.4. Arah Kebijakan dan Pengembangan Uang Elektronik........................ 842.5.5. Arah Kebijakan dan Pengembangan Sistem Pembayaran dan SetelmenASEAN Dalam Rangka MEA 2015 .............................................................. 852.5.6. Penyusunan Konsep RUU Sistem Pembayaran dan Penyelesaian Akhir(SPPA) ........................................................................................................... 90BAB III PENUTUP............................................................................................. 1003.1. Kesimpulan ............................................................................................. 1003.2. Saran........................................................................................................ 101
  5. 5. Perkembangan Sistem Pembayaran di Indonesia v | P a g eDAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 102
  6. 6. Perkembangan Sistem Pembayaran di Indonesia 6 | P a g eBAB IPENDAHULUAN1.1. Latar BelakangPembayaran menjadi komponen penting dalam setiap kegiatan transaksiperdagangan barang dan jasa. Suatu perekonomian tidak akan terdapat perdaganganapabila tidak terdapat pembayaran. Dengan perkembangan teknologi serta makinbesarnya nilai transaksi serta risiko, sistem pembayaran yang aman dan lancarmenjadi semakin penting. Sistem pembayaran selain diperlukan untuk memfasilitasiperpindahan dana secara efisien, aman dan cepat, juga sangat diperlukan dalam duniapasar modal yang menuntut ketepatan, keamanan dalam penyelesaian setiaptransaksinya.Dinamika kehidupan masyarakat dewasa ini, telah melahirkan pola pemikiranbaru yang turut berkembang seiring dengan kemajuan zaman. Sejalan denganperkembangan zaman teknologi yang pesat, pola dan sistem pembayaran dalamtransaksi ekonomi terus mengalami perubahan. Begitupun pada bank yangmemberikan inovasi-inovasi baru pada masyarakat untuk memudahkan masyarakatdalam bertransaksi. Kemajuan teknologi dalam sistem pembayaran menggeserperanan uang tunai (currency) sebagai alat pembayaran ke dalam bentuk pembayarannon tunai yang yang lebih efisien dan ekonomis. Pembayaran non tunai umumnyadilakukan tidak dengan menggunakan uang sebagai alat pembayaran melainkandengan cara transfer antar bank ataupun transfer intra bank melalui jaringan internalbank sendiri. Selain itu pembayaran non tunai juga dapat dilakukan denganmenggunakan fasilitas yang di berikan oleh bank sebagai alat pembayaran, misalnyadengan menggunakan kartu ATM, kartu debit, dan kartu kredit. Ketika mekanismepembayaran dituntut untuk selalu mengakomodir setiap kebutuhan masyarakat dalamhal perpindahan dana secara cepat, aman dan efisien, maka inovasi-inovasi teknologipembayaran semakin bermunculan dengan sangat pesat. Memberikan jawaban denganberbagai fasilitas kemudahan dan semakin tiada batas.Perkembangan teknologi informasi yang diikuti dengan tingkat persaingan bankyang semakin tinggi mendorong sektor perbankan atau non bank untuk semakin
  7. 7. Perkembangan Sistem Pembayaran di Indonesia 7 | P a g einovatif dalam menyediakan berbagai alternatif jasa pembayaran non tunai berupasistem transfer dan alat pembayaran menggunakan kartu elektronis (electronic cardpayment) yang aman, cepat dan efisien, serta bersifat global (Santomero dan Seater,1996). Pembayaran elektronis tersebut, pada awal perkembangannya masih selaluterkait langsung dengan rekening nasabah bank yang menggunakannya.Dalam perkembangannya, beberapa negara telah menemukan dan menggunakanproduk pembayaran elektronis yang dikenal sebagai Electronic Money (e-money),yang karakteristiknya berbeda dengan pembayaran elektronis yang telah disebutkansebelumnya. Pembayaran yang dilakukan dengan menggunakan e-money tidak selalumemerlukan proses otorisasi dan keterkaitan secara langsung (on-line) denganrekening nasabah di bank. Hal ini dapat terjadi karena e-money merupakan produkstored value dimana sejumlah nilai dana tertentu (monetary value) telah terekam(tersimpan) dalam alat pembayaran yang digunakan tersebut.Kehadiran alat-alat pembayaran non tunai tersebut di atas, semata-mata tidakhanya disebabkan oleh inovasi sektor perbankan namun juga didorong oleh kebutuhanmasyarakat akan adanya alat pembayaran yang praktis yang dapat memberikankemudahan dalam melakukan transaksi. Kemudahan transaksi tersebut dapatmendorong penurunan biaya transaksi dan pada gilirannya dapat menstimuluspertumbuhan ekonomi (Dias, 2000).Berdasarkan pada kondisi tersebut, kami tertarik untuk membahas mengenai“Perkembangan sistem pembayaran di Indonesia”, apakah setiap perkembangansistem pembayaran tersebut selalu berada pada koridor ketentuan yang berlaku atautidak.1.2. Rumusan MasalahBerdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, penyusun merumuskanmasalah yang diangkat dalam makalah ini adalah :1. Bagaimanakah sistem pembayaran di Indonesia.2. Bagaimana perkembangan penyelenggaraan dan kinerja sistem pembayaran.3. Bagaimana kebijakan untuk sistem pembayaran.4. Bagaimana pengawasan sistem pembayaran.5. Bagaimana arah dan pengembangan sistem pembayaran ke depan.1.3. Tujuan
  8. 8. Perkembangan Sistem Pembayaran di Indonesia 8 | P a g eMaksud penyusunan makalah ini adalah untuk memperoleh gambaran danpemahaman yang lebih mendalam mengenai perkembangan sistem pembayaran diIndonesia.Adapun tujuan yang diharapkan dapat dicapai dalam penyusunan makalah inidiantaranya :1. Untuk mengetahui sistem pembayaran di Indonesia.2. Untuk mengetahui perkembangan penyelenggaraan dan kinerja sistempembayaran.3. Untuk mengetahui kebijakan untuk sistem pembayaran.4. Untuk mengetahui pengawasan sistem pembayaran.5. Untuk mengetahui arah dan pengembangan sistem pembayaran ke depan.1.4. MetodeMetode penulisan yang kami lakukan pada proses penyusunan makalah iniadalah sebagai berikut :1. Studi Pustaka, yaitu menelaah buku-buku atau artikel yang didalamnya memuattentang semua hal yang berkaitan dengan objek penelitian.2. Web Research, yaitu pencarian data melalui media maya yakni, internet denganmaksud agar didapat referensi lebih banyak mengenai perkembangan sistempembayaran di Indonesia.
  9. 9. Perkembangan Sistem Pembayaran di Indonesia 9 | P a g eBAB IITINJAUAN TEORI2.1. Sistem PembayaranPerekonomian Indonesia pada 2012 menunjukkan pertumbuhan yang relatiftinggi dengan laju inflasi yang tetap terkendali pada tingkat yang rendah sebesar4,30%. Pertumbuhan ekonomi sebesar 6,23% menjadikan Indonesia sebagai salahsatu negara yang masih mampu menjaga pertumbuhan ekonominya di tengahperlambatan ekonomi global.Terjaganya pertumbuhan ekonomi pada 2012 ditopang oleh kinerja permintaandomestik. Di satu sisi, kuatnya permintaan domestik mampu menjaga pertumbuhanekonomi di tengah melambatnya kinerja ekspor akibat melemahnya perekonomianglobal dan penurunan harga komoditas. Namun, di sisi lain, kuatnya permintaandomestik juga berimplikasi pada kuatnya pertumbuhan impor. Dari sisi penawaran,sektor yang berorientasi ekspor tumbuh rendah, tetapi kondisi sebaliknya berlangsungpada sektor-sektor yang berorientasi domestik.Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap terjaga tersebut, tidak terlepas dariperan strategis sistem pembayaran dalam mendukung aktivitas perekonomian. Peranstrategis sistem pembayaran dalam aktivitas perekonomian terutama untuk menjaminterlaksananya berbagai transaksi pembayaran yang dilakukan oleh masyarakat dandunia usaha. Perkembangan inovasi dalam sistem pembayaran merupakankonsekuensi logis dari semakin besarnya kebutuhan masyarakat akan keberadaaninstrumen dan mekanisme pembayaran yang praktis, efisien, aman, dan nyaman untukmendukung aktivitas ekonomi yang dilakukan.Selain itu sistem pembayaran juga berperan penting dalam mendukungterciptanya stabilitas sistem keuangan dan pelaksanaan kebijakan moneter. Denganperan strategis tersebut, Bank Indonesia dituntut untuk terus memastikan bahwaperkembangan sistem pembayaran harus selalu berada dalam koridor ketentuan yangberlaku dan kebijakan yang ditetapkan. Hal ini tentu saja demi menjamin kelancarandan keamanan jalannya kegiatan sistem pembayaran.Berbagai kebijakan dan pengembangan sistem pembayaran ditempuh BankIndonesia dengan tetap terfokus pada empat aspek utama, yaitu peningkatan
  10. 10. Perkembangan Sistem Pembayaran di Indonesia 10 | P a g ekeamanan, efisiensi, perluasan akses dalam sistem pembayaran dengan tetapmemperhatikan perlindungan konsumen.Peningkatan keamanan dalam sistem pembayaran bertujuan untuk menjagakepercayaan masyarakat akan berbagai alternatif instrumen pembayaran yang dapatdigunakan masyarakat dalam kegiatan ekonomi yang dilakukannya. Sementara itupeningkatan efisiensi melalui upaya interkoneksi sistem pembayaran menjadi sangatpenting agar industri sistem pembayaran dapat melakukan sharing investasipengembangan infrastruktur untuk menciptakan efisiensi secara nasional baik bagiindustri sistem pembayaran maupun bagi masyarakat pengguna karena tidak harusmemiliki banyak instrument pembayaran dalam melakukan berbagai transaksipembayaran.Dari sisi perluasan akses dalam sistem pembayaran, Bank Indonesia senantiasamendorong industri sistem pembayaran untuk memperluas cakupan layanan sistempembayaran sehingga dapat lebih luas dan merata ke seluruh wilayah Indonesia, tidakhanya di kota-kota besar. Selain itu, perluasan akses dalam sistem pembayaran dapatmendorong terwujudnya program keuangan inklusif bagi lapisan masyarakat yangbelum terjangkau oleh layanan perbankan.Selanjutnya, perlindungan konsumen merupakan faktor yang tidak kalah pentingdalam penetapan kebijakan dan pengembangan sistem pembayaran untukmenempatkan posisi konsumen pengguna jasa sistem pembayaran setara denganpenyelenggara sistem pembayaran. Hal ini menjadi penting agar masyarakat sebagaikonsumen pengguna jasa sistem pembayaran dapat semakin terlindungi dan tidak lagiberada pada posisi lemah yang diakibatkan dari kekurangpahaman masyarakat atasmanfaat dan risiko dari suatu instrumen dan/atau mekanisme pembayaran yangdigunakan.Keempat faktor utama dalam penetapan kebijakan dan pengembangan sistempembayaran menjadi sangat relevan untuk terus diupayakan mengingat perkembangantransaksi keuangan yang melalui sistem pembayaran yang semakin tinggi setiaptahunnya (Tabel 1.1).
  11. 11. Perkembangan Sistem Pembayaran di Indonesia 11 | P a g ePeningkatan nilai dan volume transaksi sistem pembayaran pada triwulan 1-2012dapat dipengaruhi oleh kinerja sistem pembayaran yang aman dan lancar.Transaksi sistem pembayaran pada triwulan 1-2012 mengalami peningkatanbaik dari sisi nilai maupun volume, dibandingkan dengan triwulan yang sama tahunsebelumnya. Nilai transaksi meningkat sebesar Rp 17.210 triliun (112,3% yoy)didominasi transaksi pengelolaan moneter Bank Indonesia, terutama penempatanlikuiditas bank dan instrument deposit facility. Sedangkan volume transaksimeningkat sebanyak 90 juta transaksi (15,2%, yoy), terjadi pada seluruh sistempembayaran (Sistem Bank Indonesia-Real Time Gross Settelment (BI-RTGS), kliring,kartu Anjungan Tunai Mandiri (ATM) dan kartu ATM/Debet, maupun uangelektronik).Dibandingkan triwulan sebelumnya, transaksi sistem pembayaran mengalamipenurunan. Penurunan tersebut lebih disebabkan oleh siklus musiman, yaknipembayaran berbagai transaksi keuangan baik oleh individu maupun korporasi,cenderung dilakukan pada akhir tahun dibandingkan pada awal tahun.Peningkatan nilai dan volume transaksi sistem pembayaran, didukung olehkinerja sistem pembayaran yang baik. Ketersediaan layanan Sistem Bank Indonesia-Real Time Gross Settelment (BI-RTGS), Bank Indonesia-Scripless Securities System(BI-SSSS), serta Sistem Kliring Bnk Indonesia (SKNBI) pada triwulan laporanmencapai 99,97%. Dengan pencapaian tersebut, setelmen transaksi dana bernilai besar
  12. 12. Perkembangan Sistem Pembayaran di Indonesia 12 | P a g emaupun ritel, serta setelmen surat berharga melalui Bank Indonesia dapatdilaksanakan secara aman dan lancar, dan relatif tanpa gangguan berarti. Sistempembayaran dengan Alat Pembayaran dengan Menggunakan Kartu (APMK) dan uangelektronik yang diselenggarakan di luar Bank Indonesia juga terselenggara denganbaik selama triwulan laporan. Perkembangan Sistem Pembayaran di Indonesia
  13. 13. Perkembangan Sistem Pembayaran di Indonesia 13 | P a g eSistem Pembayaran merupakan sistem yang berkaitan dengan pemindahan danadari satu pihak ke pihak lain yang melibatkan berbagai komponen seperti instrumentpembayaran (tunai dan non tunai), bank, lembaga kliring dan setelmen, infrastrukturdan sistem hukum. Tugas Bank Indonesia di bidang sistem pembayaran mencakupsistem pembayaran tunai dan non-tunai sebagaimana diamanatkan oleh Undang-undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesiasebagaimana telah diubah dengan undang-Undang-Undang No.3 tahun 2004.Di bidang pembayaran tunai, Bank Indonesia merupakan satu-satunya lembagayang berwenang untuk mengeluarkan dan mengedarkan uang Rupiah serta mencabut,menarik dan memusnahkan uang dari peredaran. Dalam hal ini, kebijakan BankIndonesia diarahkan untuk memenuhi ketersediaan uang kartal dalam jumlah yangcukup dan pecahan yang sesuai, menjaga kualitas yang layak edar, melakukantindakan untuk menanggulangi meluasnya peredaran uang palsu dan meningkatkanpelayanan perkasan.Di bidang sistem pembayaran non tunai, Bank Indonesia berwenang mengatursistem kliring antar bank dalam mata uang rupiah dan valuta asing (valas).Penyelenggaraan kliring tersebut dapat dilakukan secara langsung oleh BankIndonesia atau oleh pihak lain dengan persetujuan Bank Indonesia. Selainpenyelenggaraan kliring, penyelesaian akhir transaksi pembayaran antar bank dalammata uang Rupiah dan valas diselenggarakan juga oleh Bank Indonesia atau pihak laindengan persetujuan Bank Indonesia.Di sisi sistem pembayaran non tunai, sebagaimana international commonpractice sistem pembayaran di Indonesia diklasifikasikan menjadi sistem pembayaranyang bersifat Systemically Important Payment System (SIPS), System Wide ImportantPayment System (SWIPS) dan sistem pembayaran yang bukan sebagai SIPS danSWIPS. SIPS adalah sistem yang memproses transaksi-transaksi pembayaran yangbernilai besar dan apabila terjadi kegagalan dalam sistem pembayaran ini dapatmenyebabkan terjadinya systemic risk yang dapat menimbulkan gangguan terhadapstabilitas sistem keuangan, contohnya adalah sistem Bank Indonesia Real Time GrossSettlement (BIRTGS).Sementara itu SWIPS adalah sistem pembayaran yang digunakan olehmasyarakat luas, yang apabila terganggu, misalnya karena seringnya terjadi systembreakdown atau adanya fraud akan mengakibatkan ketidaknyamanan masyarakat danpada gilirannya dapat menimbulkan turunnya kepercayaan masyarakat atas sistem dan
  14. 14. Perkembangan Sistem Pembayaran di Indonesia 14 | P a g ealat-alat pembayaran yang diproses melalui sistem tersebut. Di Indonesia yangtermasuk dalam kategori SWIPS adalah Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia(SKNBI) dan penyelenggaraan alat pembayaran dengan menggunakan kartu (APMK).Sementara, sistem pembayaran yang bukan sebagai SIPS dan SWIPS contohnyaadalah money remittance.Bagaimana sistem pembayaran mengalami evolusi ?Tahapan evolusi sistem pembayaran dimulai dari sistem perekonomian yangpaling sederhana, yakni yang dikenal dengan istilah barter, dimana seseorang yangmembutuhkan barang tertentu dapat memperolehnya dengan cara menukarnya denganbarang yang berbeda. Pada masa tersebut belum ada satuan nilai sebagai alatpengukur barang/jasa, sehingga orang mengukur suatu barang dengan barang lainnya.Sistem barter tersebut kemudian digantikan dengan sistem „commoditycurrency‟ yaitu sistem pertukaran dengan menggunakan barang tertentu yang telahditerima secara umum sebagai media pertukaran (medium of exchange) maupunsebagai suatu standard nilai yang digunakan dalam pertukaran barang. Sebagaicontoh, selama periode awal pemukiman Amerika, penduduknya menggunakantembakau, beras, kayu, dan lain sebagainya sebagai medium of exchange.Sistem barter dan “commodity curreny‟ ini sangat tidak efisien, antara lainkarena :
  15. 15. Perkembangan Sistem Pembayaran di Indonesia 15 | P a g e Sulit mencari orang yang memiliki barang yang dibutuhkan, dan berkeinginanuntuk menukarkan sebagian barangnya dengan barang yang ditawarkan, Setiap orang mempunyai ide yang berbeda terhadap nilai barang yang akandipertukarkan, dibandingkan dengan barang lainnya Nilai suatu barang yang dipertukarkan belum tentu mencerminkan nilaisebenarnya, serta belum tentu sesuai nilainya dengan barang yang diperolehsebagai imbalan atas barang yang dipertukarkan.Sejalan dengan meningkatnya kebutuhan manusia, sistem tersebut menjadi tidakefisien lagi, sehingga muncullah uang sebagai alat ukur dan alat tukar yang dapatdigunakan dalam perdagangan.Bentuk uang itu sendiri secara fisik juga mengalami evolusi dari bentuk yangpaling sederhana ke bentuk yang lebih maju sejalan dengan perkembangan teknologi.Uang dalam bentuk kerang dan batu-batuan berganti dengan lempengan logam danlogam mulia, untuk kemudian berubah lagi menjadi bentuk yang dianggap palingefisien yaitu uang kertas dan uang logam.Penggunaan uang tunai (kertas dan logam) telah memberikan kepraktisan dalammelakukan suatu transaksi pembayaran. Namun sejalan dengan perkembanganperekonomian dan teknologi, penggunaan uang tunai ini kemudian hanya dirasacukup praktis untuk pembayaran-pembayaran yang bernilai relatif kecil. Namun tidakdemikian halnya untuk transaksi-transaksi yang nilainya cukup besar, karenadiperlukan kuantitas fisik uang yang banyak, serta faktor keamanan karena orang akanmerasa tidak aman bila membawa sejumlah uang tunai dalam jumlah besar.Berbagai kendala dalam penggunaan uang tunai (kertas dan logam) mendorongmunculnya inovasi-inovasi baru dalam penciptaan alat pembayaran yang bersifatnontunai. Alat pembayaran non-tunai yang saat ini kita kenal ada yang berbentukpaperbased (Cek/Bilyet Giro), card-based (Kartu Kredit, Kartu Debet) dan electronicbased. Bahkan ejak tahun 2007 mulai dikenalkan uang elektronik yang ditujukanuntuk jenis pembayaran mikro sebagai pengganti uang. Saat ini penggunaan uangelektronik tersebut banyak dijumpai di berbagai supermarket, pom bensin,pembayaran toll, transportasi dankedepan dimunkinkan untuk berkembang lebihlanjut. Perkembangan teknologi juga telah memungkinkan perpindahan (transfer)dana secara elektronis yang cepat antar kota bahkan antar negara. Peranan Bank Indonesia Dalam Sistem Pembayaran
  16. 16. Perkembangan Sistem Pembayaran di Indonesia 16 | P a g eDalam UU No.23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia, disebutkan bahwa salahsatu tugas Bank Indonesia sebagai bank sentral adalah menyelenggarakan, mengaturdan menjaga kelancaran sistem pembayaran. Yaitu dengan jalan memperluas,memperlancar, dan mengatur lalu lintas pembayaran giral dan menyelenggarakankliring antar bank.Untuk itu Bank Indonesia memiliki wewenang untuk menetapkan kebijakan,mengatur, melaksanakan, dan memberi persetujuan, perijinan dan pengawasan ataspenyelenggaraan jasa sistem pembayaran. Jadi salah satu peran Bank Indonesia dalamsistem pembayaran adalah sebagai regulator, fasilitator, dan katalisatorpengembangan sistem pembayaran.Sebagai operator, bank sentral di sejumlah negara berperan aktif sebagaipenyelenggara/peserta sistem pembayaran, khususnya dalam operasi sistempembayaran bernilai besar. Bank Indonesia sendiri menjadi penyelenggara sistempembayaran bernilai besar (Sistem BI-RTGS) dan sistem pembayaran retail (SKNBI).Selain itu Bank Indonesia juga menjadi penata usaha rekening seluruh peserta (Bankdan Pemerintah). Sementara itu dalam perannya sebagai regulator, Bank Indonesiamelakukan kegiatan oversight, fasilitator/katalisator dan development coordinator. Dibidang oversight, Bank Indonesia senantiasa memastikan proses sistem pembayaranberlangsung secara tepat waktu. Selin itu juga terlibat dalam penetapan prinsip-prinsipyang mengatur mekanisme operasional suatu sistem pembayaran, meliputi a.l.membership criteria, guarantees or arrangements – by laws serta menyiapkanguidelines bagi bank-bank dalam risk management –nya.Sebagai fasilitator atau katalisator, Bank Indonesia concern terhadap upayapenciptaan industri sistem pembayaran untuk lebih efisien . Oleh karena itu saat inisedang industri tersebut sedang didorong agar dapat saling interoperability antarpenyelenggara serta mendorong terbentuknya self regulating organization.Fungsi lainnya yaitu sebagai development coordinator yang menetapkan arahpengembangan sistem pembayaran secara nasional, blue print, dan mengatur strukturdan operasi sistem pembayaran secara keseluruhan untuk menjamin keamanan dankehandalannya.Terakhir adalah fungsi Bank Sentral sebagai user (pengguna). Bank Indonesiasebagai pinata usaha rekening Pemerintah secara otomatis menjadi peserta sistempembayaran untuk menjalankan instruksi transfer dana dari Pemerintah.
  17. 17. Perkembangan Sistem Pembayaran di Indonesia 17 | P a g eBank Indonesia terus berupaya meningkatkan efisiensi sistem pembayarannasional dan memperkuat sistem pengawasan (oversight) sistem pengawasan denganmewujudkan perlindungan konsumen sistem pembayaran di Indonesia. Namunpenyempurnaan dan pengembangan sistem pembayaran yang dilakukan oleh BankIndonesia harus disesuaikan dengan kebutuhan pengguna sistem pembayaran sertadiarahkan untuk meningkatkan efisiensi pelayanan jasa sistem pembayaran. Dalamkaitannya dengan pengawasan sistem pembayaran, Bank Indonesia memilikitanggung jawab agar masyarakat luas dapat memperoleh jasa sistem pembayaran yangefisien, cepat, tepat dan aman. Fungsi pengawasan sistem pembayaran ini selainberwenang untuk memberikan izin operasional terhadap pihak yangmenyelenggarakan kegiatan di bidang sistem pembayaran juga berwenang untukmelakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan sistem pembayaran baik yangdilakukan oleh Bank Indonesia maupun pihak lain di luar Bank Indonesia.2.1.1.Kebijakan dan Pengembangan Sistem PembayaranDengan mengedepankan empat aspek utama, yaitu peningkatan keamanan,efisiensi, perluasan akses, dan perlindungan konsumen, kebijakan dan pengembangansistem pembayaran yang ditempuh Bank Indonesia selama 2012 dilakukan melaluipersiapan implementasi Sistem BI-RTGS dan BI-SSSS Generasi II, pengembanganNPG, interkoneksi dalam penyelenggaraan uang elektronik, persiapan implementasistandar nasional kartu ATM dan ATM/Debet berbasis chip, perluasan akses BPRdalam sistem pembayaran, serta penyempurnaan ketentuan untuk lebih meningkatkanpenerapan aspek perlindungan konsumen pengguna jasa sistem pembayaran.Kebijakan penguatan infrastruktur untuk meningkatkan keamanan dan efisiensidalam penyelenggaraan sistem pembayaran dilakukan Bank Indonesia denganmelakukan persiapan implementasi Sistem BI-RTGS dan BI-SSSS Generasi II.Pengembangan ini dilakukan untuk mengimbangi tren peningkatan jumlah transaksiBI-RTGS dan BI-SSSS dari waktu ke waktu yang sejalan dengan perkembanganekonomi. Selain itu, pengembangan ini juga dilakukan sebagai persiapan untukmengantisipasi konektivitas Sistem BI-RTGS dan BI-SSSS dengan infrastruktursistem keuangan lainnya baik domestic maupun internasional. Selain itu, denganpengembangan ini diharapkan akan tercapai peningkatan kemampuan mitigasi risikodalam penyelenggaraan sistem pembayaran sehingga dapat berjalan secara aman dan
  18. 18. Perkembangan Sistem Pembayaran di Indonesia 18 | P a g eefisien. Efisiensi dalam penyelenggaraan Sistem BI-RTGS dan BI-SSSS Generasi IInantinya, tidak hanya dari sisi penggunaan likuiditas tetapi juga dari sisi infrastuktursistem yang digunakan.Selain itu, kebijakan untuk peningkatan keamanan juga dilakukan melaluipersiapan implementasi standar nasional kartu ATM/Debet menggunakan teknologichip dan Personal Identification Number (PIN) paling kurang 6 (enam) digit.Penggunaan standar nasional kartu ATM dan ATM/Debet dengan menggunakanteknologi chip ditargetkan dapat diterapkan secara menyeluruh pada akhir 2015.Teknologi chip dinilai mampu mengurangi kejahatan (fraud) yang dilakukan melaluiinfrastruktur sistem kartu ATM dan ATM/Debet, yang antara lain dilakukan denganmetode skimming. Kebijakan ini tentunya juga ditujukan untuk memberikanperlindungan kepada masyarakat pengguna kartu ATM dan ATM/Debet.Dalam upaya meningkatkan efisiensi dalam penyelenggaraan sistempembayaran ritel, Bank Indonesia terus mendorong interkoneksi infrastruktur sistempembayaran ritel melalui pengembangan NPG. Terwujudnya NPG akan membantupemantauan risiko penyelenggaraan sistem pembayaran dan akan membentukdatabase sistem pembayaran ritel secara nasional yang dapat mendukungpengambilan keputusan bagi otoritas yang berwenang. Kebijakan interkoneksiinfrastruktur sistem pembayaran tersebut bertujuan untuk memudahkan masyarakatdalam melakukan kegiatan pembayaran dan transfer dana. Dengan interkoneksi sistempembayaran, masyarakat tidak harus memiliki banyak APMK dan uang elektronik,karena hanya dengan satu kartu atau satu uang elektronik, masyarakat dapatmelakukan kegiatan pembayaran dan transfer dana melalui berbagai alternatifinfrastruktur sistem pembayaran yang ada. Dari sisi industry sistem pembayaran,interkoneksi infrastruktur sistem pembayaran akan meningkatkan efisiensi nasionalterkait biaya investasi dalam penyelenggaraan sistem pembayaran. Pada tahap awalpengembangan NPG, Bank Indonesia memfasilitasi interkoneksi ATM dua bank,yaitu Bank Mandiri dan BCA. Dengan terkoneksinya infrastruktur ATM kedua banktersebut, maka semakin memperluas jaringan layanan sistem pembayaran. Kondisi inimempermudah masyarakat untuk melakukan transaksi secara lebih cepat dan efisien.Pada gilirannya sinergi kedua bank tersebut diharapkan dapat meningkatkan dayasaing industri sistem pembayaran secara nasional dalam menghadapi era persainganglobal.
  19. 19. Perkembangan Sistem Pembayaran di Indonesia 19 | P a g eUpaya lain yang dilakukan Bank Indonesia untuk peningkatan efisiensi dalampenyelenggaraan sistem pembayaran ritel adalah melalui kebijakan pengembanganinterkoneksi dalam penyelenggaraan uang elektronik. Selama periode laporan, BankIndonesia telah berkoordinasi dengan Kementerian Negara Badan Usaha MilikNegara (BUMN) dan Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan PengendalianPembangunan (UKP4). Dari koordinasi tersebut disepakati agar pengembanganinterkoneksi dalam penyelenggaraan uang elektronik menjadi program nasional. Salahsatu sektor yang akan memperoleh manfaat dari interkoneksi tersebut adalah sektortransportasi yang secara massal digunakan oleh masyarakat.Selanjutnya untuk meningkatkan perluasan akses dalam sistem pembayaran,Bank Indonesia turut aktif dalam pengembangan sistem transfer kredit elektronik(STKE). Akses BPR dalam sistem pembayaran semakin luas karena BPR di wilayahJawa Timur, baik untuk kepentingan BPR sendiri maupun nasabahnya, telah dapatmemanfaatkan layanan sistem pembayaran yang cepat dan aman dengan biaya relatifmurah melalui STKE. STKE dikembangkan oleh Bank Jatim sebagai bank pengayomBPR (APEX BPR) di wilayah Jawa Timur bekerjasama dengan Bank Indonesia.STKE merupakan suatu sistem yang digunakan dalam penyelenggaraan transfer danaantar anggota APEX BPR dan/atau dengan bank umum melalui Sistem KliringNasional Bank Indonesia (SKNBI).Selanjutnya, upaya Bank Indonesia terkait aspek perlindungan konsumendilakukan antara lain melalui penyempurnaan ketentuan yang lebih memperhatikanaspek perlindungan konsumen, yaitu penyempurnaan ketentuan APMK yangdilakukan Bank Indonesia dengan menerbitkan Peraturan Bank Indonesia (PBI)No.14/2/PBI/2012 tanggal 6 Januari 2012 tentang Perubahan atas PBINo.11/11/PBI/2009 tentang Penyelenggaraan Kegiatan Alat PembayaranMenggunakan Kartu (PBI APMK) dan Surat Edaran Bank Indonesia (SEBI)No.14/17/DASP tanggal 7 Juni 2012 perihal Perubahan SEBI No.11/10/DASP perihalPenyelenggaraan Kegiatan APMK. Pokok-pokok materi perubahan yang dimuatdalam PBI dan SEBI tersebut antara lain meliputi pengaturan batas maksimum sukubunga kartu kredit, pengaturan persyaratan dalam pemberian fasilitas kartu kredit(batas minimum usia, batas minimum pendapatan, batas maksimum plafon kredit, danjumlah maksimum penerbit yang dapat memberikan fasilitas kartu kredit), penerapanprinsip kehati-hatian dan transparansi (penyeragaman pola perhitungan bunga kartu
  20. 20. Perkembangan Sistem Pembayaran di Indonesia 20 | P a g ekredit serta pengenaan biaya dan denda, pengaturan kerjasama dengan pihak lain,khususnya yang terkait dengan penagihan utang kartu kredit).Terkait kebijakan pembatasan kepemilikan kartu kredit, Bank Indonesia jugatelah menerbitkan SEBI No.14/27/DASP tanggal 25 September 2012 perihalMekanisme Penyesuaian Kepemilikan Kartu Kredit. Surat Edaran Bank Indonesia iniditerbitkan sebagai aturan pelaksana Peraturan Bank Indonesia No.14/2/PBI/2012yang pada intinya mewajibkan Penerbit Kartu Kredit melakukan penyesuaiankepemilikan Kartu Kredit khususnya bagi mereka yang berpendapatan antara Rp3 juta– Rp10 juta tiap bulan. Sementara itu, terkait pembatasan suku bunga kartu kredit,Bank Indonesia menerbitkan SEBI No.14/34/DASP tanggal 27 November 2012perihal Batas Maksimum Suku Bunga Kartu Kredit. Berdasarkan ketentuan tersebut,batas maksimum suku bunga kartu kredit ditetapkan sebesar 2,95% per bulan.Selain ketentuan terkait APMK, pada periode laporan Bank Indonesia juga telahmenerbitkan Peraturan Bank Indonesia No.14/3/PBI/2012 tanggal 29 Maret 2012tentang Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme BagiPenyelenggara Jasa Sistem Pembayaran Selain Bank. Ketentuan ini merupakan tindaklanjut dari amanat dalam Undang-Undang No.8 Tahun 2010 tentang Pencegahan danPemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, dan mengatur mengenai penerapanprogram Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (APU danPPT).2.1.2.Arah Kebijakan dan Pengembangan Sistem PembayaranMelanjutkan kebijakan dan pengembangan sistem pembayaran 2012, ke depanBank Indonesia senantiasa mendorong industri untuk melakukan penataan danpenguatan infrastruktur sistem pembayaran dalam upaya meningkatkan keamanan danefisiensi dalam sistem pembayaran. Hal tersebut dilakukan Bank Indonesia dengantetap melanjutkan tahapan pengembangan NPG, SKNBI, dan uang elektronik.Pengembangan NPG ke depan akan dilakukan melalui tiga tahapan besar. Tahappertama, adalah pengembangan instrumen pembayaran yang paling dominandigunakan oleh masyarakat Indonesia yaitu kartu ATM dan ATM/Debet denganmenginterkoneksikan jaringan penyelenggara kartu ATM dan ATM/Debet diIndonesia. Tahapan kedua adalah pengembangan instrument pembayaran pada kartukredit dan uang elektronik melalui pemrosesan kartu kredit secara domestik untuktransaksi yang dilakukan di Indonesia tanpa harus diteruskan kepada Prinsipal luar
  21. 21. Perkembangan Sistem Pembayaran di Indonesia 21 | P a g enegeri seperti yang berlaku saat ini. Sementara itu, untuk perluasan cakupan transaksimenggunakan uang elektronik akan didukung melalui interkoneksi diantara penerbituang elektronik. Selanjutnya tahap terakhir adalah pengembangan layanan MobileFinancial Services (MFS) dan e-commerce. Modul layanan ini akan mendukungkonvergensi layanan transaksi berbasis mobile serta e-commerce di masa datang.Pengembangan SKNBI akan mencakup penyelesaian transaksi atas transferkredit dan debet baik yang bersifat individual maupun rutin (bulk payment).Selanjutnya, arah kebijakan dan pengembangan uang elektronik ke depandifokuskan pada upaya untuk meningkatkan penggunaan uang elektronik dimasyarakat serta memperluas jangkauan dan penetrasi infrastruktur uang elektronikmelalui dua tahapan waktu yaitu jangka pendek dan menengah dengan kegiatanedukasi dan sosialisasi, fasilitasi industri serta perluasan pasar. Sedangkan untukjangka panjang melalui standardisasi uang elektronik.Dari sisi penguatan aspek hukum dalam sistem pembayaran, Bank Indonesiaakan menginisiasi penyusunan Rancangan Undang Undang (RUU) SistemPembayaran dan Penyelesaian Akhir (SPPA). Alasan utama mengapa perlunya UUSPPA ini adalah karena laju perkembangan sistem pembayaran yang sangat pesat.Pesatnya perkembangan sistem pembayaran dapat menjadi sumber informasi (kondisilikuiditas dan infrastruktur sistem keuangan) yang menjadi subyek pemantauan secaramicroprudential guna memonitor kerentanan sektor keuangan dan mendeteksipotential shock. Hasil dari riset dan pemantauan selanjutnya akan menjadirekomendasi bagi otoritas terkait dalam pengambilan langkah-langkah yang tepatuntuk meredam gangguan dalam sektor keuangan.Selanjutnya informasi secara komprehensif mengenai perkembangan sistempembayaran, kebijakan dan pengembangan sistem pembayaran yang ditempuh selama2012, serta arah kebijakan dan pengembangan sistem pembayaran ke depan akandiulas secara mendalam pada bab-bab selanjutnya.2.2. Perkembangan Penyelenggaraan Dan Kinerja Sistem Pembayaran2.2.1.Perkembangan dan Kinerja Sistem Pembayaran yang Diselenggarakanoleh Bank IndonesiaSelama periode laporan perkembangan transaksi keuangan melalui sistempembayaran yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia, baik Sistem BI-RTGS
  22. 22. Perkembangan Sistem Pembayaran di Indonesia 22 | P a g emaupun SKNBI mengalami peningkatan nilai dan volume transaksi dibandingkandengan tahun sebelumnya (Grafik 2.1).Aktivitas transfer keuangan elektronik yang diproses oleh Bank Indonesiamelalui Sistem BI-RTGS dan SKNBI mencapai nilai Rp101,57 ribu triliun ataumeningkat sebesar 47,43% dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencapainilai Rp68,89 ribu triliun. Sementara itu dari sisi volume transaksi, mencapai 123,59juta transaksi atau meningkat sebesar 7,15% dibandingkan dengan tahun sebelumnyayang mencapai 115,34 juta transaksi. Perkembangan Transaksi melalui Sistem BI-RTGSAktivitas transaksi pembayaran melalui Sistem BI-RTGS pada tahun 2012menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan tahun sebelumnya (Grafik 2.2).Nilai transaksi yang penyelesaiannya dilakukan melalui Sistem BI-RTGS pada 2012mencapai Rp99,40 ribu triliun atau naik sebesar 48,53% dibandingkan dengan tahunsebelumnya yang mencapai Rp66,92 ribu triliun dengan volume tercatat sebanyak17,50 juta transaksi atau naik sebesar8,24% dibandingkan dengan 2011. Dengandemikian,rata-rata harian transaksi yang dilakukan melalui Sistem BI-RTGS pada2012 mencapai nilai Rp404,05 triliun dengan volume sebesar 71,13 ribu transaksi.Dengan nilai yang tinggi ini, Sistem BI-RTGS dikategorikan sebagai SystemicallyImportant Payment System (SIPS), yaitu sistem yang memproses transaksi bernilaibesar dengan potensi risiko sistemik1.1Risiko sistemik adalah risiko yang disebabkan oleh satu peserta tidak dapat memenuhi kewajibannyayang berdampak pada terjadinya ketidakmampuan seluruh peserta dalam sistem untuk memenuhikewajibannya .
  23. 23. Perkembangan Sistem Pembayaran di Indonesia 23 | P a g eTransaksi transfer elektronik yang diproses melalui Sistem BI-RTGS meliputitransaksi masyarakat, pasar uang antar bank (PUAB), valuta asing, pasar modal,pengelolaan moneter, dan transaksi yang dilakukan untuk kepentingan pemerintah.Peningkatan nilai transaksi melalui BI-RTGS terutama disebabkan olehmeningkatnya transaksi pengelolaan moneter yang memiliki pangsa 60,86% dari totalnilai transaksi BI-RTGS (Grafik 2.3). Nilai transaksi pengelolaan moneter pada 2012mengalami peningkatan sebesar 96,53% (Tabel 2.1) dibandingkan dengan tahun 2011.Peningkatan nilai tersebut mengindikasikan meningkatnya kegiatan pengelolaanmoneter yang dilakukan Bank Indonesia dalam rangka menjaga stabilitas moneter dansistem keuangan.Sementara itu, peningkatan volume transaksi melalui BIRTGS disebabkan olehmeningkatnya transaksi pasar modal yang memiliki pangsa 0,40% dari total volumetransaksi
  24. 24. Perkembangan Sistem Pembayaran di Indonesia 24 | P a g eBI-RTGS (Grafik 2.4). Volume transaksi pasar modal pada 2012 mengalamipeningkatan sebesar 13,94% (Tabel 2.1). Peningkatan volume transaksi pasar modaltersebut menunjukkan bahwa sampai saat ini transfer dana melalui Sistem BI-RTGSmasih menjadi pilihan selain transfer melalui SKNBI dan APMK. Dari perspektifefisiensi sistem pembayaran, Sistem BI-RTGS mendukung percepatan penyelesaiantransaksi dan efisiensi dari sisi waktu.
  25. 25. Perkembangan Sistem Pembayaran di Indonesia 25 | P a g e Aktivitas Penatausahaan Surat Berharga melalui Bank IndonesiaScrpless Securities Settlement System (BI-SSSS)Sehubungan dengan kegiatan penatausahaan surat berharga pada BI-SSSS, padaperiode laporan, telah ditatausahakan transaksi surat berharga dengan nilai mencapaiRp32,50 ribu triliun atau meningkat sebesar 81,99% dibandingkan dengan tahunsebelumnya yang mencapai Rp17,86 ribu triliun. Sementara itu di sisi volumetransaksi mencapai 137,16 ribu atau meningkat sebesar 12,27% dibandingkan dengantahun sebelumnya yang mencapai 122,17 ribu (Grafik 2.5). Dengan demikian rata-rataharian transaksi surat berharga melalui BI-SSSS pada periode laporan mencapai nilaiRp132,12 triliun dengan volume sebesar 558 transaksi.Sampai dengan akhir periode laporan, peserta BI-SSSS terdiri dari 137 bank , 14non bank dan 16 sub registry.
  26. 26. Perkembangan Sistem Pembayaran di Indonesia 26 | P a g e Perkembangan Transaksi melalui SKNBIAktivitas transaksi melalui SKNBI pada 2012 menunjukkan peningkatandibandingkan dengan tahun sebelumnya (Grafik 2.6). Nilai transaksi melalui SKNBIpada 2012 mencapai Rp2.170,19 triliun atau naik sebesar 10,13% dengan volumetransaksi tercatat sebanyak 106,10 juta transaksi atau naik sebesar 6,98%dibandingkan dengan 2011. Dengan demikian rata-rata harian transaksi yangdilakukan melalui SKNBI pada 2012 mencapai nilai Rp8,82 triliun dengan volumesebesar 431,29 ribu transaksi.Sampai dengan akhir periode laporan, jumlah peserta SKNBI sebanyak 140peserta bank dan 1 peserta Bank Indonesia.
  27. 27. Perkembangan Sistem Pembayaran di Indonesia 27 | P a g e Pengelolaan Daftar Hitam Nasional (DHN)Dalam rangka menjaga kepercayaan masyarakat terhadap instrumenpembayaran Cek dan/atau Bilyet Giro (BG), Bank Indonesia perlu menjagakredibilitas Cek dan/ atau BG tersebut sangat penting bagi kelancaran sistempembayaran.Dalam praktek, pembayaran menggunakan Cek dan/ atau BG masih memilikipermasalahan risiko gagal bayar karena saldo tidak cukup atau rekening giro telahditutup yang dikenal dengan istilah Cek dan/atau BG kosong. Dalam rangkapencegahan penarikan Cek dan/atau BG kosong tersebut, bank secara self assessmentmelakukan penetapan identitas penarik Cek/BG kosong dalam DHN berdasarkankriteria yang diatur dalam PBI No. 8/29/PBI/2006 tanggal 20 Desember 2006 tentangDaftar Hitam Nasional Penarik Cek dan/atau Bilyet Giro Kosong dan SE BI No.9/13/DASP tanggal 19 Juni 2007 perihal Daftar Hitam Nasional Penarik Cek dan/atauBilyet Giro Kosong.Persentase perbandingan jumlah warkat Cek dan/atau BG kosong terhadap totalwarkat penyerahan bank pada periode laporan mengalami kenaikan dari 1,15% pada2011 menjadi 1,26% pada 2012. Demikian pula persentase perbandingan jumlahnominal penarikan Cek dan/atau BG kosong mengalami kenaikan dari 1,07% pada2011 menjadi 1,23% pada 2012.Selama dua tahun terakhir, penarikan BG kosong baik sisi volume maupun nilailebih besar dibanding penarikan Cek kosong. Pada periode laporan, dari sisi volume,porsi penarikan BG kosong sebesar 76%, sedangkan dari sisi nilai sebesar 67%.
  28. 28. Perkembangan Sistem Pembayaran di Indonesia 28 | P a g eSementara itu, porsi penarikan Cek kosong dari sisi volume sebesar 24% dan dari sisinilai sebesar 33%. Kinerja Penyelenggaraan Sistem Pembayaran Bank IndonesiaUntuk mengetahui kinerja Sistem BI-RTGS, BI-SSSS dan SKNBI, BankIndonesia menggunakan ukuran ketersediaan Sistem BI-RTGS, BI-SSSS dan SKNBIbagi pesertanya. Ukuran ketersediaan sistem tersebut menunjukkan tingkat keandalanSistem BI-RTGS, BI-SSSS dan SKNBI yang diselenggarakan Bank Indonesia. Padaperiode laporan, tingkat ketersediaan sistem BI-RTGS, BI-SSSS dan SKNBImencapai tingkat yang sesuai dengan service level yang telah ditetapkan.Untuk mendukung kinerja penyelenggaraan sistem pembayaran Bank Indonesia,maka salah satu upaya Bank Indonesia adalah dengan melakukan migrasi jaringandari yang semula berbasis System Network Architecture (SNA) menjadi berbasisTransmission Control Protocol/Internet Protocol (TCP/IP).Latar belakang migrasi tersebut dengan pertimbangan :- Jaringan SNA merupakan teknologi lama yang sudah jarang digunakan.- Ketersediaan perangkat pendukung sudah terbatas sehingga jika terjadikerusakan pada perangkat pendukung, maka sulit untuk mencari perangkatpengganti karena sudah tidak tersedia di pasaran.- Kapasitas jaringan yang terbatas karena tidak dapat di-upgrade. Upaya Menjaga Keamanan dan Keandalan Penyelenggaraan SistemBI-RTGS dan SKNBI melalui Business Continuity Plan, Kegiatan UserGroup dan Forum Kepesertaan, dan Member Certification1) Business Continuity PlanDalam kedudukannya sebagai penyelenggara sistem BI-RTGS, BI-SSSS dan SKNBI, Bank Indonesia senantiasa berupaya menjamin
  29. 29. Perkembangan Sistem Pembayaran di Indonesia 29 | P a g ekelancaran sistem secara keseluruhan yang andal baik dalam kondisinormal maupun dalam kondisi darurat.Selama periode laporan, untuk menjamin keandalan sistem back-uptelah dilakukan uji coba environment sebanyak tiga kali. Selain itu,dilakukan juga operasional secara live sebanyak satu kali denganmenggunakan infrastruktur teknologi informasi di lokasi DisasterRecovery Centre (DRC) Bank Indonesia.Sementara itu, untuk memastikan kesiapan infrastruktur back-upsiap digunakan, setiap bulan dilakukan juga pengecekan infrastrukturSistem BI-RTGS, BI-SSSS, dan SKNBI di lokasi DRC dan Backup FrontOffice.Untuk memberikan alternatif sarana back-up kepada Peserta sistemBI-RTGS dan BI-SSSS, Bank Indonesia menyediakan fasilitas guest bank.Selama tahun 2012 terdapat 32 Peserta yang menggunakan fasilitas guestbank tersebut dengan rincian tiga peserta karena gangguan pada internalsistem sisanya sebanyak 29 peserta karena gangguan koneksi jaringansistem BI-RTGS dan BI-SSSS.Selanjutnya, guna meningkatkan kompetensi peserta dalampemanfaatan fasilitas guest bank, Bank Indonesia secara rutinmemberikan pelatihan guest bank. Selama periode laporan, telahdilakukan pelatihan kepada 13 peserta sistem BI-RTGS dan BI-SSSS.2) Kegiatan User Group dan Forum KepesertaanKegiatan user group dan forum kepesertaan, dilakukan untukmenjembatani komunikasi antara penyelenggara dan seluruh pesertaterutama dalam rangka diseminasi informasi terkini dan penyelesaianpermasalahan penyelenggaraan sistem BI-RTGS, BI-SSSS, dan SKNBI.Selama 2012, kegiatan user group peserta sistem BIRTGS, BI-SSSS, dan SKNBI dilakukan di Jakarta dalam dua tahap. Tahap pertamapada Juni 2012, dilaksanakan dalam rangka sharing informasi mengenaipelaksanaan member certification yang dihadiri oleh petugas audit internalpeserta sistem BI-RTGS, BI-SSSS, dan SKNBI. Tahap kedua padaOktober 2012, dilaksanakan dalam rangka diseminasi informasi mengenai
  30. 30. Perkembangan Sistem Pembayaran di Indonesia 30 | P a g erencana pengembangan SKNBI dan implementasi sistem BI-RTGS danBI-SSSS generasi 2.Selain itu, dalam rangka meningkatkan pelayanan Bank Indonesiasebagai central registry kepada sub registry, telah dilaksanakanpertemuan sub registry pada Oktober 2012, dimana dalam forumpertemuan tersebut dilakukan diseminasi informasi terkini terkait denganpenyelenggaraan BI-SSSS.Sementara itu, dalam rangka evaluasi penyelenggaraan kliring lokaldan diseminasi perubahan kebijakan pemberian bantuan keuangan kepadaPenyelenggara Kliring Lokal (PKL) Selain BI, pada Juli 2012 telahdilaksanakan pertemuan tahunan dengan seluruh penyelenggara kliringlokal yang diselenggarakan di Jakarta.3) Member Certification (MC)Member certification dilakukan dengan tujuan mengevaluasikepatuhan peserta terhadap ketentuan yang ditetapkan penyelenggara,perjanjian pengunaan sistem antara penyelenggara dan peserta, dan/ataukesepakatan antar Peserta dalam bye laws, serta mengidentifikasi risikopeserta dalam penyelenggaraan Sistem BI-RTGS dan SKNBI. Dalampelaksanaannya, kegiatan member certification dilakukan dengan metodeasesmen atas laporan yang disampaikan oleh peserta dan on site visit.Berdasarkan pelaksanaan member certification yang dilakukanselama 2012, secara umum operasional BIRTGS dan SKNBI pesertasudah berjalan sesuai ketentuan yang berlaku. Namun demikian, masihterdapat beberapa hal yang masih perlu mendapat perhatian dan harusditingkatkan seperti penyediaan infrastruktur back-up system, danprosedur contingency plan.2.2.2.Perkembangan dan Kinerja Sistem Pembayaran yang Diselenggarakanoleh Pihak di Luar Bank IndonesiaSaat ini penyelenggaraan sistem pembayaran yang diselenggarakan oleh pihakdi luar Bank Indonesia meliputi penyelenggaraan APMK (kartu kredit, kartu ATMdan kartu ATM/Debet), uang elektronik, dan kegiatan usaha pengiriman uang atau
  31. 31. Perkembangan Sistem Pembayaran di Indonesia 31 | P a g etransfer dana. Selama 2012, terjadi peningkatan transaksi keuangan melalui sistempembayaran yang diselenggarakan oleh pihak di luar Bank Indonesia, baik itu melaluikartu kredit, kartu ATM dan kartu ATM/Debet, uang elektronik maupun KUPU.Selain itu, dari sisi infrastruktur pembayaran ritel mengalami perkembangan daritahun ke tahun Aktivitas Pembayaran Menggunakan Kartu KreditJumlah kartu kredit yang beredar pada akhir 2012 mencapai 14,82 juta kartuatau meningkat sebesar 0,21% dari periode sebelumnya yang mencapai 14,79 jutakartu. Meningkatnya jumlah kartu tersebut turut pula mendorong peningkatanpenggunaannya (Grafik 2.10).Selama 2012 nilai transaksi menggunakan kartu kredit mencapai Rp201,84triliun, meningkat sebesar 5,84% dibandingkan dengan periode sebelumnya yangmencapai Rp182,60 triliun. Sementara itu di sisi volume transaksi mencapai 221,58juta transaksi, meningkat sebesar 10,54% dibandingkan dengan periode sebelumnyayang mencapai 209,35 juta transaksi. Dengan demikian rata-rata harian transaksimenggunakan kartu kredit pada periode laporan mencapai nilai Rp551,48 miliardengan volume sebesar 605,41 ribu transaksi.Sampai dengan periode laporan, jumlah penerbit dan prinsipal kartu kredit diIndonesia masing-masing berjumlah 20 penerbit dan 5 prinsipal.
  32. 32. Perkembangan Sistem Pembayaran di Indonesia 32 | P a g e Perkembangan Transaksi Menggunakan Kartu ATM dan KartuATM/DebetPada akhir periode laporan, total kartu ATM dan ATM Debet yang beredarmencapai 77,75 juta kartu. Jumlah tersebut meningkat sebesar 21,15% dibandingkandengan akhir periode laporan sebelumnya yang mencapai 63,39 juta kartu. Darijumlah tersebut sebanyak 73,22 juta kartu (94,17%) merupakan kartu ATM/Debet,yang selain berfungsi untuk melakukan transaksi di terminal ATM, juga dapatberfungsi sebagai kartu debet untuk digunakan dalam transaksi belanja di pedagang(merchant).
  33. 33. Perkembangan Sistem Pembayaran di Indonesia 33 | P a g eDengan peningkatan jumlah kartu ATM dan ATM/Debetberedar tersebut,mendorong peningkatan aktivitast ransaksi menggunakan kartu ATM dan ATM/Debet(Grafik 2.12). Pada periode laporan, nilai transaksi menggunakan kartu ATM danATM/Debet mencapai Rp3,07 ribu triliun atau meningkat sebesar 23,74%dibandingkan dengan periode sebelumnya yang mencapai Rp2,48 ribu triliun.Sementara itu, volume transaksi menggunakan kartu ATM dan ATM/Debetmencapai 2,82 miliar transaksi atau meningkat sebesar 24,83% dibandingkan denganperiode sebelumnya yang mencapai 2,26 miliar transaksi.Dengan demikian rata-rata harian transaksi menggunakan kartu ATM danATM/Debet pada periode laporan mencapai nilai Rp8,37 triliun dengan volumesebesar 7,72 juta transaksi.Sampai dengan akhir periode laporan terdapat 102 bank yang bertindak sebagaipenerbit kartu ATM dan ATM/Debet yang terdiri atas 59 bank umum, 8 bank syariah,
  34. 34. Perkembangan Sistem Pembayaran di Indonesia 34 | P a g e26 Bank Pembangunan Daerah dan 9 Bank Perkreditan Rakyat. Selain itu jugaterdapat enam lembaga selain bank sebagai prinsipal. Aktivitas Uang ElekronikSampai akhir periode laporan, terdapat 13 penerbit uang elektronik yang telahmemperoleh izin dari Bank Indonesia baik yang berbasis chip maupun media berbasisserver. Adapun jumlah uang elektronik yang beredar baik yang berbasis chip maupunberbasis server mencapai sekitar 21,87 juta, meningkat sebesar 52,94% dibandingkandengan periode sebelumnya yang mencapai 14,30 juta.Komposisi penggunaan uang elektronik yang berbasis chip dan server basedmengalami perkembangan dari tahun ke tahun. Jika pada awal hadirnya uangelektronik, penggunaan uang elektronik berbasis chip based menempati pangsaterbesar yaitu 72%, maka sampai dengan akhir 2012 penggunaan uang elektronikberbasis server based menempati pangsa terbesar yaitu 57%.Aktivitas transaksi menggunakan uang elektronik pada 2012 menunjukkanpeningkatan dibandingkan dengan periode sebelumnya (Grafik 2.14). Nilai transaksimenggunakan uang elektronik pada 2012 mencapai Rp1,97 triliun atau naik sebesar101,02% dibandingkan dengan periode sebelumnya yang mencapai Rp981,30 miliar.Sementara itu di sisi volume transaksi mencapai 100,62 juta transaksi atau naiksebesar 145,06% dibandingkan dengan periode sebelumnya yang mencapai 41,06 jutatransaksi. Dengan demikian rata-rata harian transaksi yang dilakukan denganmenggunakan uang elektronik pada 2012 mencapai nilai Rp5,39 miliar denganvolume sebesar 274,93 ribu transaksi.
  35. 35. Perkembangan Sistem Pembayaran di Indonesia 35 | P a g ePada periode laporan, penggunaan uang elektronik mengalami pertumbuhandibandingkan periode sebelumnya baik dari sisi jumlah instrumen yang diterbitkanmaupun volume dan nilai transaksi. Jumlah instrumen uang elektronik mengalamipertumbuhan 53%, sementara volume dan nominal transaksi tumbuh masingmasingsebesar 153% dan 116%. Perkembangan Penyelenggara Kegiatan Usaha Pengirim Uang (KUPU)atau Transfer Dana Selain BankMekanisme pengiriman uang melalui penyelenggara Kegiatan UsahaPengiriman Uang (KUPU) selain bank telah berjalan sejak lama terutama untukmengakomodasikan kegiatan pengiriman uang oleh tenaga kerja Indonesia di luar
  36. 36. Perkembangan Sistem Pembayaran di Indonesia 36 | P a g enegeri. Pada umumnya pengguna jasa penyelenggara KUPU ini adalah tenaga kerjayang bergerak di sector informal yang kurang mengenal perbankan.Sampai dengan akhir periode laporan, terdapat 119 penyelenggara KUPU yangtelah memperoleh izin dari Bank Indonesia. Dari jumlah tersebut, 76 merupakanpenyelenggara badan usaha berbadan hukum, 15 badan usaha tidak berbadan hukum(Commanditaire Vennootschap dan Usaha Dagang) dan 16 perorangan. Pelaporantransaksi pengiriman uang oleh penyelenggara KUPU selain bank pada periodelaporan dari sisi nilai mencapai Rp18,43 triliun dengan volume sebesar 3,61 jutatransaksi.Aktivitas terbesar transaksi pengiriman uang dari sisi nilai transaksi padaperiode laporan, adalah pengiriman uang dari luar negeri dengan porsi nilai 53,07%dan volume 84,97%. Pengiriman uang domestik (antar wilayah di Indonesia) denganporsi nilai 36,99% dan volume 13,13%. Sedangkan sisanya pengiriman uang dariIndonesia ke luar negeri dengan porsi nilai 9,94% dan volume 1,90%.
  37. 37. Perkembangan Sistem Pembayaran di Indonesia 37 | P a g e2.2.3.Peta Penyelenggaraan Sistem Pembayaran di IndonesiaSeiring dengan semakin strategisnya peran sistem pembayaran dalamperekonomian di Indonesia, maka penyelenggaraan sistem pembayaran di Indonesiajuga semakin beragam. Adapun penyelenggaraan sistem pembayaran di Indonesiaadalah sebagaimana dalam Tabel Peta Penyelenggaraan Sistem Pembayaran Indonesia(Tabel 2.3).Sistem Tipe Transaksi Penyelenggaraan PesertaBank Indonesia –Real Time GrossSettlementSystem (BI-RTGS)- Transfer kredit- Transaksimenggunakan centralbank money- Lebih diutamakanuntuk transaksi nilaibesar dan bersifatpenting sepertitransaksi pengolaanmoneter, transaksiPemerintah, TransaksiPasar Uang antar bank,transaksi setelmenhasil kliring antar bankdan kliring pasarmodal- Setelmen untuktransaksi suratberharga (SBI danSUN) yangsetelmennya dilakukanpada sistem BankIndonesia Scriplesssecurities settlementSystem (BI-SSSS)- Mekanisme GrossSettlement dan bersifatno money no game- Bank Indonesia - 189 banktermasuk unitusaha syariah,BankIndonesia danLembagaSelain Bank(LSB)Sistem KliringNasional BnakIndonesia- Transfer Kredit untuktransaksi ritel dengannilai di bawah Rp.100- Bank Indonesia - 141 banktermasuk unitusaha syariah
  38. 38. Perkembangan Sistem Pembayaran di Indonesia 38 | P a g e(SKNBI) juta- Kliring warkat debet(cek, bilyet, giro, notadebet lainnya)- Mekanisme netsettlement- Untuk kliring debetberlaku mekanisme nomoney no gamedan BankIndonesiaBank IndonesiaScriplessSecuritiesSettlementSystem (BI-BSSS)- Berfungsi sebagaisarana setelmen danpencatatankepemilikan suratberharga secaraelektronis- Setelmen suratberharga yangdilakukan melalui BI-SSSS silakukan secaraDvP- Bank Indonesia - 158 Bankumumtermasuk unitusaha syariah,BankIndonesia danLembagaSelain Bank(LSB)- 16 Subregistry yangterdiri atasbank yangserupa denganlembagacustodianCentralDepository andBook EntrySettlementSystem (C-BEST)- Setelmen dana untukpenyelesaian sisi danadari transaksi sekuritasyang diperdagangkandi pasar modal- Setelmen danadilakukan melalui 4bank setelmen yangmenjadi tempatrekening anggota bursa- PT. KustodinSentral EfekIndonesia(KSEI)- Seluruhanggota BursaEfek IndonesiaMeknismesetelmenUSD/IDRPayment VersusPayment (PvP)- Penyelesaian(setelmen) daritransaksi-transaksi jualbeli Dolar AmerikaSerikat (USD)- Bank indonesiauntuk sisi IDRdan Hong KongMonetaryAuthority untuk- 39 Bankumumtermasuk unitusaha syariah
  39. 39. Perkembangan Sistem Pembayaran di Indonesia 39 | P a g eterhadap Rupiah (IDR)antar bank di Indonesia- Dilakukan melaluiBIRTGS untuk sisiIDR dan melalui USDCHATS untuk USDUSDJaringan PrinsipalKartu ATM(Nasional)- Transfer danaelektronikmenggunakan kartuATM- PT. ArtajasaPembayaranElektronis(ATM Bersama)- PT. RintisSejahtera(PRIMA)- PT. AltoNetwork(ALTO)- 76 bankanggota- 52 bankanggota- 21 bankanggotaInternal ATMBank (PropietaryATM)Transfer dana elektronikdengan menggunakankartu ATM untukpemindahbukuan antarrekening di bank yangsamaBeberapa bankyangmenyediakanfasilitas tersebutJaringan PrinsipalKartu ATM(internasional)- Transfer danaelektronikmenggunakan kartuATM- MastercardInternational(Cirrus)- VisaInternational(Plus)- 13 banktermasukkonvensionaldan UnitUsaha Syariah(UUS)- 14 banktermasukkonvensionaldan UnitUsaha Syariah- 2 bankanggota
  40. 40. Perkembangan Sistem Pembayaran di Indonesia 40 | P a g e- UnionPayIndonesiaJaringan PrinsipalKartu Debet(Nasional)- Transfer dana secaraelektronik melaluipoint of sales (jaringanyang terpasang padamerchant)- PT RintisSejahtera(Debet Prima)- PT. ArtajasaPembayaranElektronis(debet ATMBersama)- PT. AltoNetwork(ALTO Debet)- 15 bankanggota- 11 bankanggota- 2 bankanggotaInternal DebitBank (PropietaryDebit)Transfer dana elektronikdengan menggunakankartu debet untukpemindahbukuan antarrekening di bank yangsamaBeberapa bankyangmenyediakanfasilitas tersebutJaringan PrinsipalKartu Kredit- Pembayaran secaraelektronikmenggunakan kartukredit- VisaInternational- Mastercardinternational- JCB- AmerianExpress- UnionpayIndonesia- 20 bankanggota- 18 Bankumum dan 1lembaga selainbank- 2 bankanggota- 1 bank- 2 bankUang Elektronik - Pembayaran secaraelektronik dimana nilaiuang tersimpan padainstrumen/device yang- Bank danlembaga nonbank- 6 Bank Umum- 6 Perusahaantelekomunikasi
  41. 41. Perkembangan Sistem Pembayaran di Indonesia 41 | P a g edigunakan - 1 PerusahaanKegiatan UsahaPengiriman UangNon bank- Pengiriman uang keluar wilayah RI, kedalam wilayah RI, dandalam wilayah RI- PerusahaanTelekomunikasi- Kantor Pos- Pegadaian- Perusahaan JasaTitipan yangmenyelenggarakan jasapengirimanuang- Badahn Usaha- PeroranganMoney TransferOperator(Penyediaansistempemrosesantransfer dana)- Menyediakansistem/jaringan dalamkegiatan transfer danabaik ke luar wilayahRepublik Indonesia, kedalam wilayahRepublik Indonesia,maupun dalam wilayahRepublik indonesia- Western Union- MoneyGram- Filecash BCAsebagai MTO- Beberapabank, PT. PosIndonesia, danbadan usaha-badan usahabukan bankyang menjadiagen WesternUnion- Beberapa bankdan badanusaha-badanusaha bukanbank yangmenjadi agenMoneyGram- Terhubungdengan 44Intitusi di luarnegeri dansebagaienchasmentpoint di 905Cabang BCA
  42. 42. Perkembangan Sistem Pembayaran di Indonesia 42 | P a g edomestic2.3. Kebijakan Sistem Pembayaran2.3.1.Upaya Peningkatan Efisiensi dan Keandalan Sistem dengan
  43. 43. Perkembangan Sistem Pembayaran di Indonesia 43 | P a g ePengembangan Sistem BI-RTGS dan BI-SSSS Generasi IIPerkembangan dan kemajuan teknologi informasi berdampak padaperkembangan infrastruktur pasar keuangan (financial market infrastructures-FMIs)8di Indonesia. FMIs yang saat ini ada di Indonesia antara lain adalah Sistem BI-RTGSdan BI-SSSS yang masing-masing telah dioperasikan sejak tahun 2000 dan 2004.Dalam rangka meningkatkan performa layanan Sistem BI-RTGS dan BI-SSSS,yang selama ini telah memainkan peranan penting dalam sistem keuangan danperekonomian Indonesia, sejak tahun 2008 Bank Indonesia mulai melakukanpengembangan Sistem BI-RTGS dan BI-SSSS Generasi II. Hal-hal yangmelatarbelakangi pengembangan tersebut adalah: Infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dari kedua FMIstersebut tidak lagi mendapat dukungan pemeliharaan terkait isu obsoleteness; Prospek pertumbuhan transaksi di pasar keuangan Indonesia dan transaksiekonomi lainnya di masa depan sangat signifikan, sehingga menuntutoperasionalisasi infrastruktur TIK dengan kapasitas pemrosesan yang dapatterus ditingkatkan; Tren penggunaan infrastruktur TIK yang dapat mendukung penyelenggaraanFMIs dengan tingkat ketersediaan layanan yang tinggi dan fitur pengamananyang andal, telah menjadi standar internasional untuk infrastruktur TIK dariFMIs; Tren penyelenggaraan FMIs di banyak negara lainnya yang telahmenggunakan standar internasional dengan tujuan untuk menyelenggarakanFMIs domestik yang semakin efisien dan aman. Di samping itu jugadimaksudkan untuk mendukung efektifitas pelaksanaan kebijakanmakroekonomi seperti kebijakan moneter, pemeliharaan Stabilitas SistemKeuangan (SSK) dan pendalaman pasar keuangan; serta memfasilitasiintegrasi dengan pasar keuangan di negara lainnya, baik integrasi pada levelregional seperti MEA maupun global.Sistem BI-RTGS dan BI-SSSS Generasi II akan mencakup aplikasi Sistem BI-RTGS Generasi II, BI-SSSS Generasi II, Bank Indonesia Electronic Trading Platform(BI-ETP), dan BI-Informasi dengan penjelasan sebagai berikut: Sistem BI-RTGS merupakan SIPS dalam sistem pembayaran antarbank diIndonesia, dan salah satu FMIs utama di Indonesia yang memproses
  44. 44. Perkembangan Sistem Pembayaran di Indonesia 44 | P a g epenyelesaian sisi pembayaran dari transaksi di pasar keuangan di Indonesiayang bernilai besar dan memproses transaksi pembayaran antarbank bersifatsegera.Selanjutnya melalui pengembangan Sistem BI-RTGS Generasi II, FMIs untuksetelmen dana tersebut yang saat ini mekanisme setelmennya dilakukan secara grosssettlement (penyelesaian transaksi pembayaran dilakukan satu per satu transaksi)selanjutnya akan dilakukan secara hybrid settlement. Mekanisme hybrid settlementspada intinya merupakan gabungan mekanisme setelmen berbasis gross untuk transaksiberprioritas tinggi dan mekanisme secara offsetting untuk transaksi pembayaranantarbank yang bersifat less time critical. Melalui mekanisme tersebut, peserta SistemBI-RTGS dapat menghemat penggunaan likuiditas untuk keperluan setelmen,meskipun setelmen transaksi pembayaran yang di-offsetting-kan tersebut tetapdilakukan secara gross basis.Selain itu, Sistem BI-RTGS Generasi II dilengkapi dengan fasilitas gridlockdetection and resolution yang lebih andal, yang dapat mendeteksi dan mencegahrisiko sistemik, yang dapat terjadi karena adanya transaksi pembayaran yang belumdapat di-settle yang disebabkan saldo rekening giro peserta tidak mencukupi.Kegagalan setelmen pada Sistem BI-RTGS tersebut berpotensi menimbulkankegagalan setelmen secara berantai (domino effect). Selanjutnya, untukmengakomodasi mekanisme setelmen secara Delivery-versus-Payment (DvP), yaitumodel DvP model 210 dan DvP model 311 dari transaksi Surat Berharga Negara(SBN) dan instrumen keuangan lainnya yang ditatausahakan di BI-SSSS, pada SistemBI-RTGS Generasi II akan terdapat mekanisme multilateral net settlement.Dengan fitur baru tersebut, Sistem BI-RTGS Generasi II akan dapatmengefisienkan penggunaan likuiditas untuk setelmen dan memiliki pilihan perangkatmitigasi risiko sistemik yang semakin lengkap, serta memiliki ketahanan (resilience)yang semakin tinggi terhadap liquidity shock12.BI-SSSS Generasi II adalah FMI yang diselenggarakan oleh Bank Indonesiauntuk sarana setelmen dan penatausahaan SBN, instrumen operasi moneter BankIndonesia serta instrumen keuangan lainnya. Fitur bisnis baru yang dikembangkandalam BI-SSSS Generasi II antara lain:a. fasilitas gridlock detection & resolution guna meningkatkan kapabilitas BI-SSSS dalam memitigasi risiko sistemik;
  45. 45. Perkembangan Sistem Pembayaran di Indonesia 45 | P a g eb. mekanisme multilateral net settlement untuk mengakomodasi setelmen daritransaksi surat berharga secara DvP model 3;c. modul collateral management13 untuk memitigasi risiko kredit dan risiko pasarsurat berharga yang digunakan sebagai collateral dalam transaksi antara duapihak. Modul collateral management dapat digunakan oleh: penyelenggara BI-SSSS, untuk transaksi antara bank peserta Sistem BI-RTGSdan BI-SSSS dengan Bank Indonesia, untuk keperluan fasilitaspendananaan intrahari dari Bank Indonesia kepada bank peserta SistemBI-RTGS dan Bi-SSSS, atau transaksi Repo perbankan dengan BankIndonesia, untuk keperluan operasi moneter kontraksi Bank Indonesia;dan bank peserta Sistem BI-RTGS dan BI-SSSS, untuk transaksi pinjammeminjam dana antarbank peserta Sistem BI-RTGS dan BI-SSSS ,transaksi Repo antarbank, dan pinjam meminjam surat berharga antarbank(Securities Lending and Borrowing/SLB);d. Penatausahaan rekening surat-surat berharga baik dalam rupiah maupun valutaasing, sampai level investor individual.Message format yang akan digunakan baik untuk instruksi setelmen transaksipembayaran Sistem BI-RTGS Generasi II maupun instruksi setelmen surat berhargaBI-SSSS Generasi II berbasis Society for Worldwide Interbank FinancialTelecommunication (SWIFT). Identifikasi kepesertaan14 pada Sistem BI-RTGS/BI-SSSS Generasi II akan menggunakan SWIFT BIC (Bank Identifier Code), danidentifikasi jenis instrumen keuangan yang ditatausahakan pada BI-SSSS Generasi IImengacu pada Classification of Financial Instruments (CFI), serta strukturidentifikasi/kode surat berharga/instrumen keuangan16 pada BI-SSSS Generasi IImengacu pada International Securities Identification Numbering (ISIN). Penggunaanmessage format dengan standar internasional tersebut akan mendukung:a. Peningkatan efisiensi pengoperasian infrastruktur interface ke corebanking peserta Sistem BI-RTGS/BISSSS17,b. Kesiapan interoperabilitas Sistem BI-RTGS/BI-SSSS Generasi IIdalam melakukan integrasi FMIs Indonesia dengan FMIs di negara lain;danc. Kebijakan pengembangan pasar keuangan Indonesia.
  46. 46. Perkembangan Sistem Pembayaran di Indonesia 46 | P a g ed. BI-ETP adalah sarana lelang dan perdagangan SBN, instrumen operasimoneter BanK Indonesia dan instrumen keuangan lainnya. Melaluikebijakan pengurangan transaksi over the counter (OTC), Bank Indonesiamengharapkan terciptanya transparansi informasi di pasar uang danberkurangnya segmentasi di antara pelaku pasar uang, yang selanjutnyadapat meningkatkan aktivitas transaksi di pasar uang dalam rangkamendukung pendalaman pasar keuangan.BI-Informasi merupakan aplikasi sistem informasi yang menyediakandata/informasi real time, yang bersumber dari penyelenggaraan Sistem BI-RTGS danBI-SSSS Generasi II serta BI-ETP. BI-Informasi dapat digunakan untuk mendukungdalam pengambilan keputusan serta pengawasan penyelenggaraan sistempembayaran, pasar SBN, likuiditas perbankan, perbankan dan SSK oleh otoritasterkait.Terkait pengembangan sistem BI-RTGS dan BI-SSSS generasi II, dalamperiode laporan telah dilakukan kegiatan penyusunan dan pembahasan dokumendesign and functional specifications Sistem BI-RTGS dan BI-SSSS Generasi II.Penyusunan dokumen tersebut dilakukan dengan melibatkan pihak eksternal, yaitupeserta Sistem BI-RTGS dan BI-SSSS serta otoritas terkait lainnya, seperti OJK danDJPU dalam rangka mendapatkan informasi mengenai kebutuhan bisnis dan arahkebijakan OJK dan DJPU yang perlu diakomodir dalam Sistem BI-RTGS dan BI-SSSS Generasi II. Selain itu, juga dilakukan penyusunan konsep ketentuan Sistem BI-RTGS dan BI-SSSS Generasi II.Menindaklanjuti pengembangan pada 2011 yang berfokus pada penyusunandesign and functional specification dengan melibatkan pihak eksternal, maka padatahun 2012 kegiatan utama berfokus pada pengembangan aplikasi dan penyiapaninfrastruktur serta pelaksanaan uji coba terhadap Sistem BI-RTGS dan BI-SSSSGenerasi II.Dalam proses pengembangan aplikasi, pihak pengembang melakukan prosespengembangan aplikasi yang disesuaikan dengan user requirements dari BankIndonesia. Aplikasi yang dikembangkan meliputi aplikasi Sistem BI-RTGS (RTS/X),aplikasi BI-SSSS (DEPO/X), aplikasi Bank Indonesia Electronic Trading Platform(TRADE/X) serta aplikasi Bank Indonesia Historical And Real Time InformationSystem (BI HARTIS). Terkait kegiatan penyiapan infrastruktur, tahapan ini dilakukan
  47. 47. Perkembangan Sistem Pembayaran di Indonesia 47 | P a g ebaik di sisi Bank Indonesia sebagai pihak yang akan mengoperasikan keempataplikasi di atas (operator) maupun di sisi peserta sebagai pengguna sistem tersebut.Setelah tahap pengembangan aplikasi selesai, dilakukan serangkaian kegiatan uji cobabaik yang dilakukan oleh internal Bank Indonesia maupun uji coba yang melibatkanworking group yang beranggotakan bank dan non bank peserta Sistem BI-RTGS danBI-SSSS. Pada saat yang bersamaan, telah dilakukan kegiatan sosialisasi kepadaseluruh peserta Sistem BI-RTGS dan BI-SSSS untuk memaparkan progrespengembangan dan menyampaikan persiapan yang harus dilakukan oleh seluruhpeserta. Terkait penyiapan ketentuan, Bank Indonesia mengacupada internationalstandard dan best practice dalam penyelenggaraan sistem pembayaran, antara lainPrinciples for Financial Market Infrastructures (PFMIs).2.3.2.Kebijakan SKNBIPenerapan Multiple Settlement pada Kliring Kredit SKNBIUntuk meningkatkan layanan transfer dana antarbank melalui SKNBI yanglebih cepat, sejak 7 Januari 2011 Bank Indonesia telah menerapkan empat siklussetelmen transfer dana melalui kliring kredit setiap dua jam sekali, yaitu pada pukul10.00 WIB, 12.00 WIB, 14.00 WIB dan 16.00 WIB. Dengan diterapkannyamekanisme multiple settlement pada kliring kredit, perbankan peserta SKNBI dapatlebih cepat memperoleh hasil kliring kredit dan pada akhirnya nasabah pun dapatmenerima dana efektif lebih cepat.Penerapan Mekanisme Kliring Debet Secara Online dan Penambahan LayananKliringDalam rangka meningkatkan efisiensi dan mendukung kelancaran pelaksanaanoperasional di wilayah kliring Surabaya dan Medan, masing-masing pada 10 Juni dan8 Juli 2011 KBI telah mengimplementasikan perubahan mekanisme pengirimantransaksi kliring debet, yang sebelumnya offline menjadi online. Mengingatperputaran volume warkat yang relatif tinggi di kedua wilayah kliring tersebut,dengan perubahan mekanisme pengiriman transaksi kliring debet menjadi secaraonline diharapkan dapat mempersingkat waktu pengiriman dan meminimalisir humanerror. Penerapan mekanisme pengiriman transaksi kliring debet secara online jugaakan dilakukan di wilayah kliring lain yang memiliki volume warkat yang relatifbanyak.
  48. 48. Perkembangan Sistem Pembayaran di Indonesia 48 | P a g ePenyempurnaan Tata Cara Penyelenggaraan Operasional Kliring DebetDalam rangka meningkatkan pelayanan, kelancaran dan efisiensipenyelenggaran SKNBI, Bank Indonesia telah melakukan penyempurnaan tata carapenyelenggaraan operasional kliring debet. Adapun penyempurnaan tata cara tersebutmeliputi:1) Waktu pelaksanaan kliring penyerahan di wilayah Kliring Lokal Jakarta yangselama ini dilakukan satu kali yaitu pukul 13.30 WIB sd 15.30 WIB, menjadidua kali yaitu pukul 08.30 WIB s.d. 11.00 WIB bersamaan dengan waktukliring pengembalian dan pukul 12.00 WIB s.d. 15.30 WIB.2) Penyederhanaan jumlah dan bentuk laporan otomasi dan dokumen kliringyang disampaikan kepada bank peserta kliring.Penyempurnaan tata cara tersebut dilakukan untuk mempercepat prosesdistribusi warkat kliring debet baik dari sisi Bank Indonesia dan mempercepat prosespembukuan hasil kliring di internal bank peserta.Pengembangan Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI)Hasil evaluasi SKNBI pada 2011 menunjukkan perlunya dilakukanpenyempurnaan terhadap SKNBI baik dari aspek bisnis maupun teknis. Dalam jangkapendek, beberapa penyempurnaan yang telah dilakukan pada 2012 antara lain: 1)Efisiensi proses warkat debet, 2) Peningkatan bantuan kepada Penyelenggara KliringLokal (PKL) selain Bank Indonesia untuk mengoptimalkan peran PKL selain BI, 3)Implementasi kliring online pada beberapa wilayah kliring yang sebelumnyadilakukan secara offline, dan 4) Pembukaan akses SKNBI kepada Bank PerkreditanRakyat (BPR) melalui bank pengayom (Apex Bank). Dalamjangka panjang, perludilakukan pengembangan terhadap SKNBI secara menyeluruh agar dapatmengakomodir perkembangan serta kebutuhan masyarakat akan layanan transfer danayang lebih efisien.Saat ini, layanan SKNBI masih terbatas pada transaksi yang bersifatkonvensional yaitu transaksi Cek dan Bilyet Giro (BG) serta transfer individual.SKNBI belum dapat mengakomodir transaksi pembayaran yang bersifat rutin (billingpayment) dan transaksi pembayaran yang bersifat jamak (bulk payment). LayananSKNBI juga masih terbatas pada bank umum sebagai penyelenggara transfer dana(PTD), sementara PTD selain bank sebagaimana disebutkan dalam Undang-UndangTransfer Dana belum memiliki akses terhadap SKNBI. Untuk kliring debet, masih
  49. 49. Perkembangan Sistem Pembayaran di Indonesia 49 | P a g eterjadi ketidakefisienan penyediaan likuiditas oleh bank peserta kliring. Hal itu karenaperhitungan mekanisme Failure to Settle (FtS) melalui penyediaan prefund dilakukansecara gross sehingga penyediaan dana menjadi lebih besar dari yang dibutuhkan(setelah dilakukan netting).Di sisi teknis, SKNBI yang telah beroperasi sejak 2005 semakin mendekatibatas kapasitasnya dalam memproses transaksi yang terus meningkat dari tahun ketahun. Pada 2013, sebagian infrastruktur SKNBI sudah mencapai umur teknis danberada pada periode end of support dari prinsipal. Sementara itu, aplikasi SKNBIyang bersifat satu kesatuan (tidak modular) menyebabkan penyempurnaan pada satufitur akan berpengaruh pada fitur lain sehingga tidak fleksibel. Untuk kliring debet,penyelenggaraan yang masih tersebar di banyak wilayah (desentralisasi)menyebabkan biaya pemeliharaan menjadi tidak efisien.Untuk mengatasi kendala dan menyempurnakan kelemahan pada SKNBI, pada2012 Bank Indonesia mulai melakukan pengembangan SKNBI. Sebagai tahap awal,Bank Indonesia menyusun konsep pengembangan SKNBI yang mengacu pada hasilevaluasi SKNBI. Bank Indonesia juga melakukan survei kepada bank-bank pesertaSKNBI untuk menjaring kebutuhan dan masukan terkait rencana pengembanganSKNBI. Konsep pengembangan SKNBI juga dibahas bersama Asosiasi SistemPembayaran Indonesia (ASPI) sebagai perwakilan industri. Berdasarkan hasil surveidan pembahasan dengan industri, dapat disimpulkan bahwa secara umum industrimendukung langkah Bank Indonesia untuk mengembangkan SKNBI.Berdasarkan hasil evaluasi SKNBI saat ini dan masukan dari industri, pada2012 Bank Indonesia telah menyusun desain pengembangan SKNBI. Pokok-pokokperbedaan antara SKNBI saat ini dengan SKNBI ke depan dapat dilihat pada matriksberikut:SKNBI Saat ini Rencana PengembanganLayanan Transfer debet dan kreditindvidual-Transfer debet dan kreditindividul-Transfer debet dan kreditbulk (termasuk billingpayment)- Electronic Debit (e-Debit)Peserta Bank Umum Selain bank umumkepesertaan juga dibukauntuk BPR danpenyelenggara transfer
  50. 50. Perkembangan Sistem Pembayaran di Indonesia 50 | P a g edana selain bankPenyelenggaraan Transfer kredit sudahsentralisasi, sedangkantransfer debet masihdesentralisasiSentralisasi layanantransfer debet dan kreditSebagai tahap awal pengembangan SKNBI, fokus utama kegiatan selama 2012adalah penyusunan dan pembahasan grand design SKNBI. Penyusunan grand design,mengikutsertakan peserta SKNBI, Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI)sebagai perwakilan industri, dan otoritas terkait lainnya seperti Direktorat JenderalPengelolaan Utang (DJPU) dalam rangka mendapatkan informasi mengenaikebutuhan bisnis dan arah kebijakan DJPU yang perlu diakomodir dalam SKNBI kedepan. Pengembangan SKNBI akan dimulai 2013, dengan mengacu pada granddesign sebagaimana Bagan Grand Design Pengembangan SKNBI.2.3.3.Pengembangan Sistem Transfer Kredit Elektronik (STKE) BankPerkreditan Rakyat (BPR)Pengembangan STKE BPR merupakan upaya Bank Indonesia dan PT. BankJatim untuk memperluas layanan sistem pembayaran melalui BPR sehingga dapatlebih menjangkau masyarakat, khususnya masyarakat yang belum dapat dilayani olehbank umum. Sementara itu, jaringan BPR yang tersebar luas di berbagai daerahhingga ke pelosok pedesaan saat ini masih sangat terbatas dalam memberikan layanansistem pembayaran.Kondisi tersebut menyebabkan banyak masyarakat yang belum terjangkau olehlayanan sistem pembayaran dalam memenuhi kebutuhan untuk bertransaksi. Selainitu, masih terdapat mekanisme kegiatan transfer dana yang kurang efisien oleh BPRdimana BPR harus membuka rekening giro di beberapa bank umum dan membuatvirtual account untuk nasabahnya.Untuk mengakomodir kebutuhan transaksi pembayaran nasabah BPR sekaligusmemperluas akses masyarakat terhadap layanan sistem pembayaran, pada 2012 BankIndonesia mengembangkan STKE BPR. Pengembangan STKE BPR dilakukandengan konsep two tier system dimana transfer antar BPR tidak dilakukan secaralangsung (one tier system), namun dilakukan melalui bank umum. Sebagai tahapawal, Bank Indonesia mengembangkan pilot project STKE BPR bersama PT. BankJatim selaku bank umum yang akan menyelenggarakan STKE BPR di wilayah JawaTimur. Pengembangan pilot project STKE BPR wilayah Jawa Timur telah berhasil
  51. 51. Perkembangan Sistem Pembayaran di Indonesia 51 | P a g ediimplementasikan dan diresmikan oleh Gubernur Bank Indonesia, Darmin Nasutionpada 29 November 2012 di Surabaya (lihat Boks 3.1: Implementasi STKE BPRWilayah Jawa Timur). Pengembangan STKE BPR untuk wilayah lain akan dilakukansecara bertahap sesuai dengan kebutuhan dan kesiapan BPR maupun bank pengayomdi wilayah tersebut.2.3.4.Implementasi Blueprint Sistem Pembayaran Nasional dalam rangkaPersiapan MEABerdasarkan hasil pemetaan terhadap kondisi sistem pembayaran dan setelmendi Indonesia saat ini, tren sistem pembayaran, analisis isu-isu strategis dari sisikebijakan, kerangka hukum, kelembagaan, instrumen, dan infrastruktur/mekanisme,telah disusun arah kebijakan dan pengembangan sistem pembayaran nasional yangtertuang dalam blueprint sistem pembayaran nasional 2011.Implementasi dari blueprint tersebut dijabarkan ke dalam program kerja BankIndonesia yang terbagi dalam program jangka pendek (2012-2013), jangka menengah(2014-2015) dan jangka panjang (2016-2017). Walaupun terbagi ke dalam beberapamilestone namun seluruh program kerja yang akan dilaksanakan tetap mengarah padaterwujudnya sistem pembayaran yang cepat, aman, efisien, andal, dan mengutamakanperlindungan kepada nasabah, serta meningkatkan national competitive advantage.Secara umum, fokus program kerja jangka pendek 2012 adalah meningkatkankeamanan, keandalan dan efisiensi infrastruktur penyelenggaraan sistem pembayaran,memperkuat legal framework penyelenggaraan sistem pembayaran, mempersiapkanpemenuhan terhadap International Standard and Best Practices, memperkuatpengawasan sistem pembayaran dan memperluas penggunaan instrumen pembayarannon-tunai (less cash society).Terkait dengan fokus pertama, yaitu meningkatkan keamanan, keandalan danefisiensi infrastruktur penyelenggaraan sistem pembayaran, program kerja yangdilaksanakan selama 2012 meliputi pengembangan sistem BI-RTGS dan BI-SSSSGenerasi II, pengembangan NPG, pengembangan SKNBI, pengembangan sistempembayaran dalam rangka meningkatkan akses terhadap penggunaan jasa sistempembayaran (financial inclusion), penguatan business continuity management (BCM),penyempurnaan sistem informasi sistem pembayaran, serta peningkatan peran BankIndonesia dalam forum internasional.Fokus selanjutnya, yaitu peningkatan keamanan penyelenggaraan sistempembayaran, dijabarkan ke dalam program kerja implementasi penggunaan chip pada
  52. 52. Perkembangan Sistem Pembayaran di Indonesia 52 | P a g ekartu ATM dan ATM/Debet, serta penyempurnaan framework pengawasan sistempembayaran.Adapun penjabaran dari fokus perluasan penggunaan instrumen pembayarannon-tunai adalah program kerja untuk melakukan edukasi preferensi masyarakatuntuk penggunaan sistem pembayaran non-tunai dan melakukan fasilitasi perluasanjenis dan jangkauan sistem pembayaran non-tunai.Selain program kerja jangka pendek di atas, Bank Indonesia juga sudahmelakukan inisiatif untuk menjawab isu strategis yang muncul dalam sistempembayaran nasional, seperti yang terkait dengan kerangka hukum dalampenyelenggaraan sistem pembayaran dan setelmen melalui penyusunan ketentuanterkait perlindungan nasabah pengguna jasa sistem pembayaran dan penyusunanundang-undang sistem pembayaran. Selain itu Bank Indonesia juga mendorongpeningkatan peran pelaku sistem pembayaran domestik dalam sistem pembayaranritel dalam rangka menjawab isu terkait kelembagaan.Bagan implementasi Blueprint dalam rangka MEA
  53. 53. Perkembangan Sistem Pembayaran di Indonesia 53 | P a g e2.3.5.Tahapan Pengembangan National Payment Gateway (NPG) SistemPembayaran RitelInterkoneksi sistem pembayaran ritel menjadi cita-cita bersama Bank Indonesiadan para pengguna layanan jasa sistem pembayaran di Indonesia. Inisiatif untukmewujudkan interkoneksi diperkenalkan melalui NPG. Bank Indonesia dan pelakuindustri sistem pembayaran nasional telah memiliki kesepahaman bahwa terdapatkebutuhan masyarakat untuk menggunakan jasa sistem pembayaran ritel secara lebihefisien.Untuk mewujudkan efisiensi tersebut, perlu diupayakan untuk mengembangkansuatu sistem yang dapat menghubungkan antar penyelenggara sistem pembayaran.Sementara itu, kondisi saat ini penyelenggara jasa sistem pembayaran ritel masihmengembangkan sistem masing-masing dan belum saling terhubung satu sama lain.Dalam rangka mewujudkan interkoneksi secara nasional diawali dengan upayamendorong dua bank yang selama ini mendominasi transaksi pembayaran ritel yaituBank Mandiri dan BCA. Sejak pertengahan Januari 2012, nasabah pemegang kartuATM Bank Mandiri dapat menggunakan kartunya di ATM BCA atau sebaliknyauntuk fitur informasi saldo, tarik tunai dan transfer. Kerja sama ini sangat mendukungupaya perluasan akses layanan ATM di kedua bank tersebut. Hal ini ditunjukkandengan adanya tren peningkatan transaksi antar kedua bank tersebut melalui ATMyaitu meningkat sebesar 174,27% dari awal mulai diimplementasikannya sampaidengan Desember 2012.Manfaat interkoneksi dua bank tersebut diharapkan dapat memberikan pengaruhpositif kepada industri penyelenggara jasa sistem pembayaran ritel, khususnya dalammembangun kesadaran dan kebutuhan adanya interkoneksi layanan. Hal tersebutdapat mendorong terwujudnya NPG yang tidak hanya mengkoneksikanpenyelenggaraan ATM, namun dapat mengkoneksikan penyelenggaraan sistempembayaran lainnya seperti kartu kredit, kartu debet, dan uang elektronik.Manfaat lain yang diperoleh dari interkoneksi adalah optimalisasi pemanfaataninfrastruktur yang disediakan industri perbankan. Dengan saling interkoneksi, banktidak perlu lagi menyediakan infrastruktur berupa mesin ATM dan EDC di suatutempat yang sama. Selain itu, penyelenggara sistem pembayaran dapat menempatkaninfrastruktur secara lebih merata sehingga dapat meningkatkan penggunaan instrumenpembayaran nontunai oleh masyarakat dapat lebih luas.
  54. 54. Perkembangan Sistem Pembayaran di Indonesia 54 | P a g eDalam kaitan ini, Bank Indonesia mengharapkan peran industri untukmendistribusikan infrastruktur yang dimiliki sampai ke lokasi yang terpencil. MelaluiNPG diharapkan arus informasi transfer dana dapat lebih terpantau, sehingga BankIndonesia akan mudah mengontrol pergerakan dana baik domestik maupunantarnegara. Selain itu, NPG juga dapat digunakan untuk memantau kondisi likuiditasindustri sistem pembayaran, sehingga melalui NPG tersebut bank sentral dapatmelakukan pendeteksian dini dalam rangka mendukung stabilitas industri sistempembayaran nasional.Selama periode laporan, terdapat beberapa kegiatan yang dilakukan untukmendukung pengembangan NPG yaitu menyusun kajian aspek hukum mengenailembaga yang berwenang menyelenggarakan NPG. Dari hasil kajian, diperolehkesimpulan bahwa secara ketentuan Bank Indonesia dapat bertindak sebagaipenyelenggara NPG karena kegiatan NPG merupakan bagian yang tidak terpisahkandari kegiatan kliring dan penyelesaian akhir. Di samping itu, telah dilakukan kajiankebijakan NPG yang antara lain meliputi aspek keanggotaan, cakupanpenyelenggaraan, mekanisme kliring dan setelmen. Selanjutnya guna memperolehmasukan dari industri terkait dengan pengembangan NPG, Bank Indonesia melakukandiskusi dengan industri yang diwakili oleh ASPI serta beberapa bank terkait.2.3.6.Upaya Mewujudkan Interoperabilitas melalui Kegiatan FasilitasiInterkoneksi Industri Uang ElektronikSalah satu karakteristik penggunaan uang elektronik adalah digunakan untuktransaksi dengan nilai kecil dan bersifat massive. Sektor transportasi merupakansektor yang sesuai dengan karakteristik tersebut, sehingga sebagai tahap awal upayamewujudkan interoperabilitas2 uang elektronik difokuskan pada sektor transportasi.Hal ini karena potensi pembayaran sektor transportasi seperti di TransJakarta,Kereta Api, Taxi, Perparkiran dan Bahan Bakar Minyak (BBM) mencapai Rp23,4triliun/tahun. Selain itu, kemudahan dan kenyamanan penggunaan uang elektronik disektor ini, diharapkan dapat membiasakan masyarakat untuk menggunakan uangelektronik di sektor lain. Namun demikian, kondisi saat ini, penggunaan uangelektronik di Indonesia khusus untuk sektor transportasi masih terbatas dan belumoptimal. Hal ini disebabkan masyarakat belum dapat merasakan kenyamanan dalammenggunakan uang elektronik. Saat ini diperlukan uang elektronik dari berbagaipenerbit untuk melakukan berbagai transaksi khususnya di sektor transportasi,misalnya ketika akan bertransaksi membayar tol dan membayar parkir, diperlukan
  55. 55. Perkembangan Sistem Pembayaran di Indonesia 55 | P a g euang elektronik yang berbeda. Selain itu, kondisi ini menyebabkan inefisiensi dalampenyelenggaraan uang elektronik.Untuk mengatasi kondisi tersebut, Bank Indonesia memfasilitasi interkoneksiindustri uang elektronik untuk mewujudkan interoperabilitas dalam penyelenggaraanuang elektronik dengan tahap awal di sektor transportasi. Sebagai tahap awalmewujudkan interoperabilitas tersebut, pada periode laporan Bank Indonesia telahmemfasilitasi penggunaan uang elektronik di kereta api khususnya kereta komuterJabodetabek. Hal tersebut sejalan dengan program Unit Kerja Presiden bidangPengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4) yang salah satunya yaitumengatasi kemacetan di Jakarta.Sesuai hasil koordinasi dengan UKP4, salah satu langkah kolaboratif dalamjangka pendek (temporary solution) atas penggunaan uang elektronik di sektortransportasi publik adalah dengan menggunakan uang elektronik di kereta listrik(KRL), jalan tol dan TransJakarta. Fasilitasi yang telah dilakukan oleh BankIndonesia adalah sebagai berikut:1) Fasilitasi Interkoneksi pada PT. KAI GrupTindak lanjut pelaksanaan kesepakatan dengan Kementerian BUMNdan Bank Himbara, Bank Indonesia melakukan pembahasan dengan PT.KAI Grup termasuk anak perusahaannya yaitu PT. Kereta Api CommuterJabodetabek (KCJ) dan PT. Railink Indonesia. Pada prinsipnya PT. KAIGrup sepakat untuk menerapkan e-ticketing di lingkungan PT. KAImelalui interkoneksi uang elektronik dari beberapa penerbit agar dapatmeningkatkan layanan kepada penumpang yang terus mengalamipeningkatan dari tahun ke tahun.Terkait pengembangan e-ticketing, PT. KCJ dan bank telahmelakukan uji coba untuk mengintegrasikan jaringan dan sistem daripenerbit. Selanjutnya, PT. KJC juga melakukan penataan sarana danprasarana di lingkungan stasiun dan melakukan edukasi kepada seluruhpenumpang terkait rencana implementasi e-ticketing. Tahap awal PT. KJCakan menempatkan 250 reader di 35 stasiun yang telah memiliki saranadan prasarana yang memadai untuk implementasi e-ticketing. Selain itu,dalam rangka mempersiapkan pembayaran tiket menggunakan uangelektronik pada kereta api bandara dari Kuala Namo menuju Medan, PT.
  56. 56. Perkembangan Sistem Pembayaran di Indonesia 56 | P a g eRailink telah menyiapkan infrastruktur e-payment agar dapatdimanfaatkan oleh bank-bank penerbit uang elektronik.2) Fasilitasi Interkoneksi Uang Elektronik pada TransJakartaBerkaca dari keberhasilan implementasi interkoneksi uangelektronik di TransJogja dan Prameks, Pemerintah provinsi (Pemprov)DKI Jakarta melakukan adopsi mekanisme interkoneksi uang elektronik(e-ticketing) pada TransJakarta di Jakarta. Pada akhir 2012 Pemprov DKIJakarta menetapkan lima bank untuk mengimplementasikan e-ticketingTransJakarta yaitu Bank Mandiri, BRI, BNI, BCA dan DKI.Dalam interkoneksi tersebut, Bank berperan dalam penyiapaninfrastruktur e-ticketing TransJakarta, dan secara bersama-samamelakukan edukasi e-ticketing kepada masyarakat. Adapun kegiatansampai dengan akhir 2012 adalah melakukan review pengembangan danoptimalisasi sistem, serta penyiapan sarana dan prasarana persiapanperesmian implementasi e-ticketing di Koridor 1 TransJakarta (Blok M –Kota) pada pertengahan Januari 2013.3) Fasilitasi Interkoneksi Uang Elektronik berbasis serverDalam rangka lebih meningkatkan penggunaan uang elektronikberbasis server, selama periode laporan, pada tahap awal telah dilakukanpertemuan antara Bank Indonesia dengan tiga penerbit uang elektronikberbasis server yaitu Indosat, Telkomsel dan XL. Dari hasil pertemuan,ketiga penerbit uang elektronik berbasis server tersebut sepakat untukturut mendukung program Bank Indonesia guna mewujudkan interkoneksidi industri ini. Sesuai target interkoneksi akan dapat diselesaikan padapertengahan tahun 2013.Selain kegiatan fasilitasi, untuk mewujudkan interkoneksi, BankIndonesia juga melakukan koordinasi dengan Kementerian NegaraBUMN, tiga Bank BUMN, dan beberapa perusahaan BUMN. Untukmewujudkan interkoneksi uang elektronik di sektor transportasidibutuhkan dukungan dan sinergi penyedia jasa transportasi BUMN diIndonesia mengingat potensinya yang sangat besar. Dari hasil koordinasi
  57. 57. Perkembangan Sistem Pembayaran di Indonesia 57 | P a g edengan Kementerian Negara BUMN diperoleh komitmen untukmembentuk prinsipal uang elektronik dan menghilangkan perjanjiankerjasama yang eksklusif di sektor transportasi sehingga diharapkan dapatmeningkatkan penggunaan uang elektronik.2.3.7.Implementasi Standar Nasional Kartu ATM dan ATM/DebetUntuk meningkatkan keamanan pada penyelenggaraan kartu ATM danATM/Debet, Bank Indonesia menginisiasi penyusunan standar kartu ATM danATM/Debet berbasis chip mengingat teknologi chip merupakan teknologi palingaman saat ini. Dalam rangka mendukung implementasi standar dimaksud, BankIndonesia menerbitkan Surat Edaran Bank Indonesia No. 13/22/DASP tanggal 18Oktober 2011 perihal Implementasi Teknologi Chip dan Penggunaan PersonalIdentification Number (PIN) pada Kartu ATM dan ATM/Debet yang diterbitkan diIndonesia. Hal tersebut memberikan konsekuensi pada dimulainya tahapanimplementasi pada 2012. Sejumlah tahapan persiapan implementasi terus dilakukanselama 2012, yaitu pembentukan Certification Body (CB) dan pelaksanaan prosessertifikasi vendor kartu dan mesin, yaitu: Pembentukan dan operasionalisasi Certification Body (CB) Pada Juli 2012, CBtelah terbentuk dengan nama PT. Citra Bakti Indonesia (CBI) dan dimiliki olehForum Prinsipal. Fungsi dari CB adalah melakukan sertifikasi terhadap produkkartu dan mesin dari berbagai vendor untuk memastikan kesesuaian denganspesifikasi yang telah ditetapkan. Dalam pelaksanaan sertifikasi, akan dilakukanfunctional dan security test. Pendistribusian Spesifikasi Teknis National Standard for Indonesia Chip CardSpecification (NSICCS) Proses pendistribusian spesifikasi teknis NSICCSberlangsung sejak akhir 2011. Hampir seluruh penerbit telah memperolehspesifikasi teknis terutama penerbit yang telah menjadi anggota prinsipal.2.3.8.Implementasi Roadmap Pengembangan Sistem Pembayaran danSetelmen ASEANDalam rangka pengembangan sistem pembayaran dan setelmen di ASEAN,ASEAN Working Committee on Payment and Settlement Systems (WC PSS) telahmenyusun rekomendasi yang terbagi dalam milestone dan tahapan sebagai berikut: Rekomendasi jangka pendek (2012-2013), memuat mengenaistandardisasi.
  58. 58. Perkembangan Sistem Pembayaran di Indonesia 58 | P a g e Rekomendasi jangka menengah (2014-2015), memuat mengenaipengembangan infrastruktur dan prasarana sistem pembayaran dan setelmen. Rekomendasi jangka panjang (setelah 2015), memuat mengenaipengkajian kemungkinan pengembangan linkages antara berbagai sistempembayaran di kawasan ASEAN.Sesuai milestone rekomendasi di atas, fokus tahun 2012 adalah padapenerapan standar dalam sistem pembayaran dan setelmen, baik sistem pembayarannilai ritel maupun nilai besar. Dalam jangka pendek, salah satu bentuk proses menujustandardisasi di sisi sistem pembayaran nilai besar adalah pada penggunaan messageformat berbasis SWIFT pada sistem BI-RTGS dan BI-SSSS generasi II mengingatmessage format berbasis SWIFT merupakan best practice yang digunakan olehinstitusi keuangan di berbagai negara. Dengan penggunaan message format berstandarinternasional tersebut diharapkan akan mempermudah interkoneksi infrastruktur baikdi perbankan nasional maupun dengan sistem pembayaran dan setelmen di negaralain.Penggunaan message format berbasis SWIFT dalam BI-RTGS dan BI-SSSSgenerasi II di atas sejalan dengan rekomendasi WC-PSS yang lain, yaitu yang terkaitdengan adanya penyelenggaraan straight through processing (STP) untuk setelmensurat berharga, baik di tingkat domestik maupun lintas batas negara. Dari sisi sistempembayaran ritel, upaya yang telah dilakukan dalam rangka menuju standardisasiadalah dengan penerapan standar untuk kartu ATM dan ATM/ Debet, yang meliputistandar penggunaan Chip dan standar digit PIN. Tujuan standardisasi tersebut, disamping untuk perlindungan nasabah dari risiko fraud adalah juga untuk memudahkandalam mewujudkan interoperability yang lebih luas di masa yang akan datang, baik dilevel domestik maupun internasional serta efisiensi dan memudahkan dalampengembangan fungsi-fungsi lainnya di masa yang akan datang.Selain rekomendasi terkait standardisasi di atas, rekomendasi jangka pendeklainnya adalah terkait dengan kebijakan untuk mendorong penggunaan jasa remitansiformal serta peningkatan transparansi biaya remitansi untuk meningkatkanperlindungan kepada konsumen. Upaya yang telah dilakukan terkait rekomendasiuntuk mendorong penggunaan jasa remitansi formal, antara lain dengan mendorongpenyedia jasa remitansi non formal untuk menjadi berizin (formal), mendorongpenyedia jasa keuangan non bank formal untuk dapat menjangkau daerah pedesaan

×