Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.
IJTIHAD DALAM PERSPEKTIF                   HISTORIS(Melacak Gelombang Pasang Surut Pembentukan Hukum Islam)               ...
ABSTRAKSI        The change of Islamic Law has a close relation to the issue of ijtihad on thegroundless. The frequencies ...
Miskawayh dalam bidang filsafat serta Ibn al-Haytam, Ibn Hayyan, al-Khawarizmi, al-Mas‟udi dan al-razi dalam bidang ilmu p...
syari‟at Islam itu dalam masalah-masalah hukum pada umumnya memuat aturan dasaryang bersifat global, sehingga terdapat kel...
(Shafi‟i), akan tetapi al-Ghazali menganggap cukup mujtahid hanya menghafal ayat-ayathukum yang jumlahnyasekitar 500 ayat ...
Para ulama ushul fiqh membedakan derajat para mujtahid itu ke dalam beebrapamartabat menurut kadar keilmuan, kecakapan ser...
Mu‟adh menjawab, “Akan kuputuskan menurut ketentuan hukum yang ada dalam al-Qur‟ân. “Kalau kamu tidak menemukannya didalam...
Abd Allah ibn Mas‟ud lebih banyak memepergunakan qiyas walaupun kadang-kadangmenggunakan juga maslahah „ammah. Perbedaan p...
Selain empat serangkai imam Madzhab di atas, sejarah juga mencatat mujtahid-mujtahid terjkenal lainnya dalam periode kedua...
berpendapat bahwa seseorang tidak berhak untuk memaksa orang lain dan mewajibkansesuatu kepada mereka selain yang telah di...
11
DAFTAR BACAANAbu Dawud, Sulaiman ibn al-Ash‟ash. Sunan Abi Dawud (Kairo : Musyafa al-Babi al-         Halabi, 1952)Al- dar...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Ijtihad dalam Perspektif Historis

3,061 views

Published on

  • Be the first to like this

Ijtihad dalam Perspektif Historis

  1. 1. IJTIHAD DALAM PERSPEKTIF HISTORIS(Melacak Gelombang Pasang Surut Pembentukan Hukum Islam) Brought By: Mazizaacrizal a.k.a Dewa ng’Asmoro Mudhun BumiVisit me at : www.mazizaacrizal.blogspot.com : www.facebook.com/mazizaacrizalE-mail : mazizaacrizal@yahoo.com 1
  2. 2. ABSTRAKSI The change of Islamic Law has a close relation to the issue of ijtihad on thegroundless. The frequencies of ijtihad by mujtahids give contribution in building the IslamicLaws. In other words, the key of success in building the Islamic Law is depend on howmuch the mujtahid exert his knowledge and energy to make product of law. In the otherhand, the fell of Islamic law period was caused by the weakness of mujtahid. They mightnot be well equipped with comprehensive qualifications. The decline period of Islamic Lawwithin the last 9th centuries might be produced from the fact that the gate of ijtihad to makestatement had been closed. Therefore, in order to make the Islamic law relevant all the time,It is necessary to revitalize the spirit of ijtihad among the practitioners (fuqaha) of Islamiclaw. By reinterpreting the verse of law or revising the result of the past ijtihad then theFuqada adapts it to the recent period. For supporting this article, the writer presented thehistorical fact of ijtihad in the past and provided the answer to the stagnancy of ijtihad. Kata kunci : ijtihad, Mujtahid, hukum Islam, SejarahPendahuluan Sebagaimana diketahui, manusia pada dasarnya berwatak dinamis.oleh karena itu,apa yang disebut dengan perubahan social (social change) dalam istilah sosiologi, kapandan dimanapun akan selalu terjadi di setiap lingkungan umat manusia. Setiap perubahansocial, cepat atau lambat, selalu menuntut perubahan dan pembaharuan dalam berbagaibidang, termasuk di dalamnya bidang hukum dan perundang-undangan yang merupakansalah satu institusi penting bagi kehidupan umat manusia. Perubahan hukum dan perundang-undangan, inklusif di dalamnya hukum Islam,merupakan konsekwensi logis dari perubahan norma dan pergeseran nilai yang terjadi ditengah-tengah kehidupan masyarakat. Perubahan hukum dalam Islam memiliki kaitanyang sangat erat dengan masalah ijtihad, karena cepat atau lambatnya perubahan hukumIslam sangat tergantung pada tinggi rendahnya frekwensi ijtihad yang dilakukan olehpara mujtahid. Dengan demikian kunci kemajuan fiqh Islam terletak pada kesungguhanijtihad para imam mujtahid ; sebaliknya, kemunduran perkembangan hukum Islamdisebabkan oleh kelemahan para mujtahid. Dalam sejarah pertumbuhan dan perkembangan hukum Islam, ada satu periodeyang disebut sebagai periode ijtihad perode ini lazim disebut periode keemasan fiqhIslam yang bersamaan waktunya dengan periode kemajuan Islam (650-1000 M). periodeinilah yang menghasilkan para Imam mujtahid muthlak seperti Imam Abu Hanifah,Imam Syari‟i dan Imam hanbal dalam bidang hukum, dan pada periode ini pula lahirnyapara cendekiawan Muslim dari berbagai bidang seperti Imam al-Anshari, Imam al-Maturudi pemuka-pemuka Mu‟tazilah seperti wasil Ibn Ata‟ abu al-Huzayl, al-Nazzamdan al-Jubbai‟i dalam bidang teologi, Dhunun al-Misri abu Yazid al-Bustami, dan al-Hallaj dalam bidang mistissisme atau tasawuf, al-Kindi, al-farabi, Ibn Sina da Ibn 2
  3. 3. Miskawayh dalam bidang filsafat serta Ibn al-Haytam, Ibn Hayyan, al-Khawarizmi, al-Mas‟udi dan al-razi dalam bidang ilmu pengetahuan.1 Namun sesuai sunnah Allah, zaman berubah dan musim pun berganti sebagaimanafirman-Nya”………Dan begitulah masa-masa kejayaan dan kehancuran itu Kamipergilirkan di anatar sesame umat manusia” (Q.S. 3:140). Sehabis periode ijtihad dan kemajuan fiqh Islam, secara perlahan-lahan tetapi pasti,datang fase kemunduran hukum Islam dan dalam fase kemunduran ini kemauan dankemampuan para mujtahid sudah menurun, bahkan lemah untuk menggali langsunghukum-hukum Islam langsung dari sumbernya yang terpokok, yaitu al-Qur‟ân danSunnah. Kalaupun dilakukan juga ijtihad, kebanyakan mereka mengambil bentuk ijtihaddalam mazhab,2 bukan lagi ijtihad mandiri (mustqil) seperti yang dilakukan oleh paraimam mujtahid mutlak sebelumnya. Para ulama mazhab pada masa itu umumnya melakukan ijtihad berdasarkan ajaranmasing-amsing Imam mazhab yang dianutnya, sehingga sering diwarnai oleh fanatismekemazhaban yang berlebihan, bahkan tidak jarang terjadi berlebih-lebihan dalambertaqlid.sungguhpun demikian tidak berarti bahwa dalam periode yang memprihatinkanitu tidak lahir faqih-faqih bebas yang menolak taklid dan menganjurkan ijtihad, bahkanmenghembus-hembuskan semangat ijtihad seperti Ibn Hajr al-Athqalani, Ibn al-Humam,Ibn Taymiyah bahkan yang terakhir ini dikenal sebagai penolak taklid yang amat gigih.Menurutnya, pintu ijtihad tetap terbuka dan memang tidak ada yang berhak menutupnya.Ijtihad dan Mujtahid Kebanyakan ulama usul (jumhur al-Usuliyyin) berpendapat bahwa jumlah ayat-ayat hukum yang bersifat amaliyah yang berkenaan dengan soal keagamaan, peradilandan politik hanya sekitar 10 ayat. Sementara Abd. Al-wahhab Khallaf berpendirianbahwa jumlah ayat al-ahkam yang bertalian dengan soal kemasyarakatan hanya sekitar228 ayat.3 Terlepas dari perselisihan pendapat tersebut, yang jelas ayat-ayat hukum yangberhubungan dengan soal mu‟amalah, khususnya kemasyarakatan, memang sangatsedikit jika dibandingkan ayat-ayat al-Qur’ân yang mengandung masalah-masalah lain. Sejalan dengan bilangan ayat al-ahkam tersebut, maka jumlah hadits al-ahkam jugarelative sedikit. Dari sekian ribu hadits Nabawi, menurut perkiraan Ibnu al-Qayyim,hanya sekitar 500 buah saja yang memuat dasar-dasar hukum (Usul al-hukum). Namunada yang menyebutkan sekitar 1200 buah hadits disamping ada juga yangmemperkirakan sekitar 3000 buah hadits ahkam.4 Keterbatasan jumlah ayat dan Haditsahkam itu tidaklah berarti hukum Islam bersifat jumud dan statis, akan tetapi justru akanmemberikan peluang yang mneyebabkan fiqih Islam mampu mengimbangi dinamikaperkembangan masyarakat dari waktu kewaktu. Disitulah salah satu hikmah mengapa1 Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam Sejarah pemikiran dan Gerakan (Jakarta : Bulan Bintang, 1975), hal. 11.2 Tim Penyusun DEPAG, Usul Fiqh II (Jakarta : Proyek Pembinaan Prasarana dan Prasarana Perguruan Tinggi Agama Islam, 1986), hal. 23.3 Abd. Al-Wahab Khalaf, Ilm Usul al-Fiqh (Jakarta : al-majlis al-A‟la al-Indinisi al-Da‟wah al-Islamiyah, 1972), hal. 24.4 Sayyid Muhammad Musa, al- ijtihad wa Madha hajatina Ilayh fi hada al-’Asr (Mesir: Dar al-Kutub al- Hadadisah, tt), hal. 376. 3
  4. 4. syari‟at Islam itu dalam masalah-masalah hukum pada umumnya memuat aturan dasaryang bersifat global, sehingga terdapat kelonggaran bagi manusia untuk berpikir dalamupaya menyelesaikan problema hidup secara hukum. Perintah berpegang teguh pada al-Qur‟ân dan hadits yang memuat norma-normadasar bagi penetapan hukum, para ulama dianjurkan agar bekerja keras melakukanpenalaran dalam menyelesaikan masalah-masalah yang ketentuan hukumnya belumditegaskan oleh nash-nash al-Qur’ân dan hadits. Kesungguhan usaha semacam itu dalamilmu usul al-fiqh lazim disebut dengan istilah ijtihad, sedangkan pelakunya dinamaiMujtahid. 5 Istilah ijtihad menurut ulama usul adalah “pengerahan seluruh kemampuan seorangfaqih (ahli fiqh) untuk mengistimbathkan hukum-hukum amaliyah (hukum praktis) daridalil-dalil yang tafsili (terperinci).”6 Secara lughawi (etimologis) kata ijtihad berartikerja keras atau sungguh-sungguh. Memang ijtihad membutuhkan bahakan menuntutpara mujtahid untuk bersungguh mengerahkan segala kemampuan fisik dan psikis sertakemampuan ilmiyahnya dalam menggali dan menetapkan hukum suatu masalah. Olehkarena itu sudah pada tempatnyalah jika para ulama usul menetapkan persyaratan-persyarat yang cukup ketat bahkan erat bagi mujtahid. Adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh seorang mujtahid secara umumadalah sebagai berikut: Pertama, keharusan menguasai bahasa arab. Para ulama usultelah sepakat bahwa seorang mujtahid diperlukan menguasai bahasa arab denganberbagai aspeknya, seperti nahwu, sarf, balaghah dan segala seluk beluknya.Persyaratan semacam itu sangat beralasan karena orientasi pertama seorang mujtahidadalah memahami nash-nash al-Qur‟ân dan hadits yang memang keduanya diturunkandan disampaikan dalam bahasa arab. Dalam hal ini al-Ghazali memberikan batasantentang kadar penguasaan bahasa arab yang harus diketahui kitab (pembicaraan) bangasarab dan adat kebiasaan mereka dalam mempergunakan bahasa arab sehingga ia mampumembedakan antara pembicaraan yang jelas (sharih, zahir dan mujmal, haqiqi danmajazi, Amm dan khas, muhkam dan mutashabih, mutlak dan muqayya). Seroangmujtahid harus menguasai benar bahasa arab, karena kekuranagn pemahaman bahasaarab tersebut akan berdampak kurang tajamnya analisis mereka terhadap nash-nashsumber hukum syar‟i baik dari al-Qur‟ân maupun hadits, padahal hasil fatwa merekaakan menjadi hujjah juga bagi yang lain. Kedua, keharusan memiliki pengetahuan yang memadai tentang al-Qur‟ân. Paraulama berbeda pendapat tentang keharusan seorang mujtahid menguasai al-Qur‟ânsecara keseluruhan 30 juz yang terdiri atas 114 surat itu. Sebagian ulama ada yangmemandangnya sebagai salah satu syarat yang amat penting bagi seorang mujtahid.Imam Shafi‟i, sebagai pembghimpun pertama ilmu usul fiqh, mensyaratkan mujtahidharus hafal seluruh al-Qur‟ân. Tetapi Imam al-Ghazali, seorang ahli usul al-fiqh darikalangan madzhab Shafi‟i sendiri, tidak mensyaratkan mujtahid mujtahid harus hafalseluruh al-Qur’ân sebagaimana yang disyaratkan oleh Imam madzab yang dianutnya5 Amin Muhammad, ijtihad Ibnu Taimiyah dalam bidang fiqh Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1999),hal.40.6 Muammad Abu Zahrah, Muhadaroh fi tarikh al-Madhabib al-Fiqhiyah (Mesir: Matba‟ah al-Madani, tt), hal. 235. 4
  5. 5. (Shafi‟i), akan tetapi al-Ghazali menganggap cukup mujtahid hanya menghafal ayat-ayathukum yang jumlahnyasekitar 500 ayat dan itupun menurutnya tidak harus hafal di luarkepala, melainkan cukup mengetahui surat-surat dimana ayat-ayat hukum itu berada.7 Terlepas dari perbedaan pendapat tersebut, memang idealnya bagi mujtahid ituhafal seluruh al-Qur‟ân secara lancar, baik dan benar, sehingga tidak mengalamikesulitan dalam menjalankan tugasnya sebagai mujtahid. Namun pada zaman sekarangjika hal ini dibebankan kepada seorang mujtahid, agaknya akan sukar bahkan tidakmungkin terjangkau oleh mereka, kecuali persyaratan tersebut diperlonggar sebagaimanayang dikemukakan oleh al-Ghazali, yakni menguasai dan mengetahui tempat-tempat(surat-surat) dimana ayat-ayat hukum itu berada. Menurut Abd. Al- Wahhab Khallaf,yang dimaksud dengan keharusan mengetahui al-Qur‟ân bagi mujtahid adalahmengetahui ayat-ayat hukum dan cara-cara pengambilan hukum dari ayat-ayat tersebut,sehingga dihadapkan suatu kasus kepadanya, maka dengan mudah ia dapatmenyelesaikan.8 Ketiga, mempunyai pengetahuan yang cukup tentang Sunnah. Seorang mujtahidharus mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hadits, terutama hadits-haditshukum, baik qawliyah (perkataan), fi‟liyah (tindakan), maupun taqririyah (ketetapan)Nabi Saw. Ia juga harus tahu tentang nasikh dan mansukhnya hadits, „am dan has,muthlak dan muqayyad, tahksis terhadap suatu alfaz umum, juga tentang ilmu haditsyang menyangkut cara periwayatan dan sanad hadits-hadits hukum, melainkan cukupmereka mengetahui temoat-tempat hadits tersebut dalam suatu kitab, tahu jalansampainya hadits, dan tahu tentang para perawi dan keadaan mereka. Secara garis besar Sayyid Muhammad Musa mengelompokkan syarat-syaratmujtahid itu atas empat kelompok, yaitu persyaratan umum, persyaratan pokok,persyaratan pentingdan persyaratan pelengkap. Yang termasuk persyaratan umummeliputi : baliq, berakal sehat, kuat daya nalarnya dan benar-benar beriman.Sementarayang termasuk persyaratan pokok adalah : mengetahui al-Qur‟ân secara baik,memahami sunnah dengan benar, memahami hukum-hukum syari‟at dan mengetahuikaidah-kaidah umum hukum Islam. Kemudian persyaratan yang dipandang penting bagiseorang mujtahid adalah penguasaan mereka terhadap bahasa Arab beserta segala selukbeluknya, menguasai ilmu ushul al-fiqh, mengetahui ilmu mantiq atau logika danmengetahui hukum asal suatu masalah atau kasus. Selanjutnya sebagaimana persyaratanpelengkap bagi mujtahid adalah tidak ada dalil qat‟i bagi masalah ijtihad, mengetahuitempat-tempat khilafiyah atau perbedaan pendapat dan memelihara kesalehan sertaketaqwaan diri.9 Para ulama ushul fiqh berpendapat bahwa semua orang berhak menyandangpredikat “mujtahid”. Al-Shatibi (w. 790 H) mengatakan untuk sampai ke tingkatmujtahid seorang faqih harus memiliki dua sifat utama : mampu memahami maksud-maksud syari‟at (maqasid al-Syari‟ah) dan sanggup mengistimbathkan hukumberdasarkan pemahamannya sendiri terhadap maqasid al-Syari‟ah tersebut.7 Abu Hamid al-Ghazali, Al- Mustashafa min ‘ilm al-Usul (Beirut : Dar Sadir, tt), hal. 479.8 Khallaf, ‘Ilm usul al-Fiqh, hal. 375.9 Sayyid Muhammad Musa, al-Ijtihad wa Madha hajatina, hal. 202. 5
  6. 6. Para ulama ushul fiqh membedakan derajat para mujtahid itu ke dalam beebrapamartabat menurut kadar keilmuan, kecakapan serta pengalamannya masing-masing.Tingkatan-tingkatan tersebut sebagai berikut : (1) Mujtahid Mutlaq, yaitu mujtahid yangmemiliki kemampuan memberikan pendapatnya tanpa terikat pada suatu madzhabtertentu, karena ia mampu menggali hukum syari‟at langsung dari sumbernya yangterpokok (al-Qur‟an dan Sunnah) dan dalam mengistimbatkan hukum dia mempunyaidasar-dasar istinbat (usul al-istinbat) sendiri, tidak mengikuti ashul al-istinbat mujtahilain : (2) Mujhtahid Muntasib yaitu mereka yng mengikuti para Imam Madzhab tertentudalam hal ushul. (ushul al-istinbat) walaupun dalam masalah-masalah furu‟., dia berbedapendapatnya dengan Imam madzhabnya baik dalam masalah ushul maupun furu‟.Kalaupun dia melakukan ijtihad, namun ijtihadnya hanya terbatas dalam masalah yangketentuan hukumnya tidak dia peroleh dari Imam madzhab; (3) Mujtahid Madzhab, ialahmujtahid yang mengikuti Imam madzhabnya baik dalam masalah ushul maupun furu‟.Kalaupun dia melkaukan ijtihad, namun ijtihadnya hanya terbatas dalam masalah yangketentuan hukumnya tidak dia peroleh dari Imam madzab yang dianutnya ; (4) MujtahidMurajih, yaitu mujtahid yang tidak mengistimbatkan hukum-hukum furu‟, akan tetapimereka hanya membandingkan beebrapa pendapat para Imam Mujtahid yang telah adauntuk kemudian memilih salah satu pendapat yang dipandang paling kuat (arjajh); (5)Mujtahid Mustadil, adalah mujtahid yang tidak mengadakan tarjih terhadap pendapatyang ada, akan tetapi mereka hanya mengemukakan dalil-dalil dari berbagai pendapattersebut danmenerapkan mana yang patut diikuti dan mana yang tidak.10Ijtihad dalam Lintasan Sejarah Ditinjau dari segi historis, ijtihad pada dasarnya telah tumbuh sejak zaman NabiMuhammmad Saw. Kemudian berkembang pada masa-masa sahabat dan tabi‟in sertagenerasi berikutnya hingga kini dan masa mendatng dengan mengalamipasang surut dancirri-ciri khususnya masing-masing. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari „Amribn al-Ash r.a. ia mendengar Rasul Allah saw bersabda : “Apabila seorang hakim hendakmenetapkan suat hukum kemudian dia berijtihad dan ternyata ijtihadnya benar, makabaginya dua pahala ; dan apabila ijtihadnya itu salah, maka untuknya satu ganjaran”.11 Dalam riwayat lain diceritakan bahwa suatu ketika “Umar ibn al-Khatab r.a.mengadu suatu perbuatannya kepada rasul Allah saw ia berkata, “Aku telah memelukistriku kemudian aku menciumnya, padahal aku sedang berpuasa, amka Rasul allah sawbertanya kepada Umar, “Bagaimana pendapatmu kalau engkau berkumur dengan airsedangkan engkau dalam keadaan berpuasa?” Umar menjawab, menurut pendapatku, itutidak mengapa (tidak Membatalkan puasa). “Kalau begitu,” Kata Nabi, teruslahpuasamu.”12 Demikian pula dalam sebuah hadits yang sangat popular, di kala Rasul Allah Sawhendak mengutus Mu‟adh sebagai qodi (hakim) di Yaman, beliaubertanya kepadanya:”bagaimana cara kamu menyelesaikan perkara jika diajukan kepadamu suatu kasus?10 Muhammmad Abu Zahrah, Muhadarah Fi Tarikh…….,hal. 121-128.11 Sulaiman ibn al-Ash‟ash Abu Dawud, Sunan Abi Dawud (Kairo : Musyafa al-Babi al-Halabi, 1952), hal. 263.12 Abu Muhammad “Abd Allah ibn “Abd al-Rahman Al- darimi, Sunan al-darimi, tt), hal. 13. 6
  7. 7. Mu‟adh menjawab, “Akan kuputuskan menurut ketentuan hukum yang ada dalam al-Qur‟ân. “Kalau kamu tidak menemukannya didalam kitab?, “Tanya Nabi selanjutnya.“Aku akan putuskan menurut hukum yang ada dalam Sunnah rasul Allah Saw,” jawabMuadh lagi. “Kalau tidak juga kamu temukan dalam kitab Allah dan tidak pula padaSunnah rasul Allah?,” beliau mengakhiri pertanyaannya. Mu‟adh menjawab, “Aku akanberijtihad dengan pemikiranku sendiri”. Mendengar jawaban itu rasul Allah Saw punmengakhiri dialognya sambil menepuk-nepuk dada Mu‟adh seraya beliau bersabda :“Segala puji bagi Allah yang telah memberikan petunjuk kepada utusan Rasul-Nyakejalan yang diridhoi oleh rasul Allah”.13 Dari beberapa riwayat tersebut di atas dapat difahami bahwa terjadinya ijtihadpada masa Nabi Muhammad Saw. Bukan semata-mata disebabkan atas dorongan darinabi sendiri, melainkan juga lahir atas inisiatif dari sebagian sahabat tergambar di dalamhadits Mu‟adh di atas. Hal ini juga mengisyaratkan kepada kita betapa Nabi Muhammad saw melatih danmendidik sebagian sahabatnya berijtihad, beliau mengakui dan membenarkan ijtihadmereka yang memang dianggap benar dan menolak hasil ijtihadnya mereka yang dinilaisalah, baik karena metodenya yang tidak benar maupun disebabkan ijtihad yangdilakukannya itu tidak pada tempatnya. Selain itu mujtahid harus orang-orang yangmemang memiliki kecakapan ilmiah dan integritas pribadi muslim yang memadai.Dialog rasul Allah Saw dengan Mu‟adh ibn Jabl r.a. secara tegas menempatkankedudukan ijtihad di belakang al-Qur‟ân dan Hadits. Dengan demikian ijtihad hanyadapat dilakukan dalam masalah-masalahyang belum secara tegas ditentukan hukumnyaoleh al-Qur‟ân dan Hadits. Sementara itu hasil ijtihad para sahabat yang dibenarkanNabi Saw sendiri tidaklah dinamai hasil ijtihad mereka, melainkan disebut Sunnah“raqririyah”. Oleh karena itu iitihad yang dilakukan para sahabat pada zaman Nabi Sawbelum dapat dianggap sebagai alat penggali hukum yang muthlak, mengingat ijtihadmereka masih dalam taraf latihan, sementara penentuan akhir dalam masalah-masalahhukum masih tetap berada di tangan Rasul Allah Saw. Baru pada masa sahabat, ijtihad mulai benar-benar berfungsi sebagai alat penggalihukum dan bahkan dipandang sebagai suatu kebutuhan yang harus dilakukan gunamenyelesaikan berbagai kasus dalam masyarakat Islam yang hukumnya tidak secarajelas dijumpai dalam al-Qur‟ân dan Sunnah, maka untuk itu muncullah para sahabatterkemuka, seperti Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali r.a. sebagai pelopor dalammelakukan ijtihad, yang kemudian disusul pula oleh para sahabat lain, seperti Zayd ibnThabit dan Abd Allah ibn Mas‟ud r.a mereka melakukan ijtihad dan mempergunakanqiyas, dengan membanding-bandingkan penalarannya dengan penalaran orang lain.14 Sekalipun para sahabat itu hidup semasa bahkan bergaul bersama nabi Saw, bukanberarti tidak terjadi perbedaan pendapat (khilafiyyah) di kalangan mereka tentang suatumasalah. Perbedaan hasil ijtihad mereka itu natara lain karena perbedaan metodeijtihadyang dipergunakannya di samping latar belakang keilmuan dan orientasipenalaran serta pengalaman mereka berlainan. Umar ibn Khatab, misalnya, cenderungkepada maslahat di samping juga mempergunakan qiyas. Sedangkan Ali ibn Thalib dan13 Abu Dawud, Sunan Abi Dawud…….,hal. 27214 Ibn Qoyyim al-Jawziyyah, I’lam al-Muwaqih’in ‘an Rabb al-Alamin (Beirut : dar al-jail. Tt), hal. 202. 7
  8. 8. Abd Allah ibn Mas‟ud lebih banyak memepergunakan qiyas walaupun kadang-kadangmenggunakan juga maslahah „ammah. Perbedaan pendapat di kalangan parasahabatdalam maasalahfiqh ini merupakan sumbangan intelektual yang amat berhargabagi dunia perijtihatan kelak dan akan membuka cakrawala berpikir yang luas bagikalangan umat Islam di kemudian hari. Tradisi ijtihad dan perbedaan pendapat di kalangan sahabat, tampaknya dijadikanpanutan bagi generasi-generasi berikutnya yang tersebar di berbagai daerah kekuasaanIslam waktu itu. Di Madinah, misalnya : tampil antara, umm al-mu’minun, Aisha as-Siqddiqah (w. 57 H), „Abd Allah in Umar (w. 73 H), Sa‟ad ibn al-Musayyab (w. 94 H).Urwah ibn al-Zubayr (w. 94 H), „Ali ibn Husayn ibn „Ali ibn Thalib (w. 94 H), Nafi‟Mawla Abd Allah ibn Umar (w. 117), dan Abu Ja‟far ibn Muhammad ibn „ali ibn al-Husayn (w. 114). Selain itutidak ketinggalan pula para faqihdan mujtahid kenamaan darikuffah seperti „Alqamah ibn qays an nakha‟i (w. 62 H) yang dilahirkan pada masa rasulAllah Saw dan mendengarkan hadits dari Umar, Utsman, Ibn Mas‟ud dan Ali, disusulMasruq ibn al-Ajda al-hamdani (w. 63 H). seorang faqih dan salah seorang cendekiawanandal ayng belajar dari Umar, „Ali dan Ibn Mas‟ud, Ubaydah ibn Amr as-salami al-Muradi (w. 92 H), ia masuk islam pada waktu penaklukan Yajman dan belajar dariUmar, “Ali dan Mas‟ud, berikutnya Ibrahim ibn Yazid an-Nakha‟i (w.95 H), iameriwayatkan hadits dari Alqamah, Masruq, Aswad dan lain-lain. Selanjutnya tampilpula para faqih dari Sham seperti „abd Rahman ibn Ghanim al-Ash‟ari (w. 78 H), iabanyak meriwayatkan dari Umar dan Mu‟adh, kemudian umar mengutusnya ke Shamuntuk mengajarkan di sana, Qubaysah ibn Zuayb (w. 86 H). Ash-Shabi mengatakan,Qusaibah adalah orang yang paling mengetahui tentang keputusan Zayd ibn Thabit,Makhul ibn Abi Muslim Maula, seorang wanita dari Huzayl, asalnya dari Kabil (w. 113H). Hatim berkata : “Aku tidak pernah mengetahui di Sham ini ada orang yang lebihpandai daripada Makhul. Kemudian tidak ketinggalan pula „Umar ibn Abd Aziz ibnMarwan (w. 101 H). ia adalah khalifah Bani Umayyah yang kedelapan, ia sebagaiseorang Imam yang faqih, mujtahid, pandai tentang al-Sunnah, kokoh hujjahnya, hafiz,tunduk kepada Allah SWT membandingkan Umar ibn Khatab dalam keadilannnya,dengan al-hasan al-Bisri dalam kezumudannya dan dengan al-Zuhri dalamkeilmuannya.15 Sementara itu perkembangan ijtihad dan faqih Islam mengalami kemajuan yangamat pesat dari waktu ke waktu . pada masa Nabi Saw dan masa sahabat (smapai akhirabad pertama hijriyah) biasa disebut “fase permulaan fiqh Islam”, sedangkan masatabi‟in dan dua atau tiga generasi berikutnya lazim dinamai fase pembinaan danpembukuan fiqh islam yang berlangsung sekitar 250 tahun, terhitung sejak akhir abadpertama hijriyah sampai separoh pertama abad keempat Hijriyah. Pada fase kedua inilahfiqh Islam mencapai puncak kejayaannya bersamaan dengan kemajuan dunia Islam dihamper semua bidang. Pada periode yang kerap disebut periode ijtihad dan keemasanfiqh Islam itu pulalah lahir para mujtahid kenamaan seperti Imam Abu hanifah ibnNu‟man (699-772 M), Imam Malik ibn Anas (712-798 M), Imam Muhammad ibn Idrisal-Shafi‟i (766-820 M) dan Imam Ahmad ibn hanbal r.a. (780-855 M).15 Muhammad al_khudari Bik, Tarikh at-Tashri’ (Kairo : al-Maktabah at-Tijarriyyah al-Kubra, 1967), hal. 124-138. 8
  9. 9. Selain empat serangkai imam Madzhab di atas, sejarah juga mencatat mujtahid-mujtahid terjkenal lainnya dalam periode kedua ini, seperti Imam Zayd ibn Ali ibn al-Husayn (80-122 H), Imam Ja‟far al-Shidiq (80-148 H), kedua termasuk imam-imammujtahid dalam madzhab Syi‟ah. Bahkan yang terakhir ini merupakan Imam yangkeenam dari dua belas Imam dalam Madzhab Syi‟ah Imamiyah, beliau seorang mujtahiddalam ilmu fiqh yang telah mencapai ketingkat “ladunni”, dan dianggap sebagai sufi,ahli sunnah di kalangan Syi‟ah.16 Perlu juga kiranya diingat, bahwa selain madzhab-madzab yang masih hidup danberkembang serta diikuti oleh mayoritas umat Islam seperti tersebut di atas, ada jugamadzhab-madzhab fiqh yang kurang berkembang bahkan cenderung punah. Dimanamadzhab-mazhab tersebut seperti madzhab Awza‟i yang dipelopori oleh Imam Abd al-Rahman ibn Muhammad al-Awza‟i (88-157 H), madzhab Zahiri yang didirikan olehImam Dawud ibn Ali ibn Khallaf al-Zahjiri (224-330 H). demikian juga madzhab tabari,fatwanya hampir telah ditinggalkan para pengikutnya. Fase kemajuan ijtihad dankejayaan fiqh Islam ini hanya mampu bertahan selama kurang lebih dua setengah abad.Segera setelah periode yang membanggakan umat islam ini dunia ijtihad mengalamikemunduran dan semangat para mujtahid lambat laun menjadi lesu, kualitas dankuantitas merekapun semakin menurun. Dalam memecahkan masalah-masalah ijtihadiyah, umumnya mujtahid engganmengistinbathkan hukumnya langsung merujuk kepada al-Qur‟ân dan hadits, merekalebih condong untuk mencari dan menetapkan produk-produk ijtihadiyah para mujtahidsebelumnya walaupun mungkin sebagian hasil ijtihad mereka sudah kurang sesuaidengan zamannnya. Bahkan lebih memprihatinkan lagi sikap toleransi bermadzhabsemakin menipis di kalangan pengikut madzhab-madzhab fiqh yang ada, malahankerapkali timbul persaingan yang kurang sehat sebagai akibat dari fanatisme madzhabyang berlebihan. Masa-masa kemunduran fiqh Islam yang berlangsung kurang lebih sembilan abadlamanya, yakni sejak pertengahan abad keempat sampai akhir abad ketiga belas Hijriyahini terkadang dijuluki sebagai periode taqlid dan penutupan pintu ijtihad. Bahkan kononada sebagian fuqaha yang merestui agar pintu gerbang ijtihad itu ditutup rapat saja,sebab menurut mereka menyerahkan ijtihad kepada orang-orang yang bukan ahlinyatidak lebih daripada tindakan menutup pintu ijtihad. Sesungguhnya ide penutupan pintu ijtihad itu terdapat pro dan kontra di kalanganumat Islam sendiri, bukan saja antara kelompok Syi‟ah yang menyatakan pintu ijtihadtetap terbuka, dengan golongan Sunni., yang tidak keberatan kalau pintu ijtihad ditutupsaja, melainkan intern sesama kaum Ahl al-Sunnah itu sendiri tetap terjadi pro dankontra. Sementara itu, para ahli fiqh dari kalangan madzhab Hanabilah menyatakanbahwa pintu ijtihad itu tetap terbuka; tidak ada seorang pun yang berhak menutupnyadan tiap masa pasti ada mujtahid, ssuai hadits Nabi Saw yang artinya : “SesungguhnyaAllah akan mengutus pembaru (mujaddid) untuk umat islam pada setiap pengunjungseratus tahun supaya memperbaharui (ajaran-ajaran) agama mereka”. Di antara merekayang tidak membenarkan penutupan pintu ijtihad adalah Ibn Taymiyah yang16 Muhammad Jawad al-Mughniyyah, Ahwal al-Shahshiyyah ‘ala Madhahib al-Khamsah, terj. Masykur A.B. dkk (Jakarta : Bulan Bintang, 1996), hal. 21 9
  10. 10. berpendapat bahwa seseorang tidak berhak untuk memaksa orang lain dan mewajibkansesuatu kepada mereka selain yang telah diwajibkan Allah dan Rasul-Nya, dan tidakboleh pula melarang sesuatu kecuali yang telah dilarang Allah dan Rasul-Nya, termasukberijtihad, tidak perlu apakah namanya itu ijtihad mutlak ataukah ijtihad nisbi.Penutup Sangat dimaklumi bahwa kebutuhan dan keperluan masyarakat dalammenyelesaikan suatu kasus terus berkembang, seiring dengan perkembangan zaman,sementara tidak semua masalah termuat secara tegas dan terinci dalam al-Qur‟ân atauhadits. Oleh karena itu ijtihad merupakan suatu kebutuhan yang mendesak bagimasyarakat Islam sejak dulu, sekarang dan yang akan datang. Dengan demikian kurangtepat kiranya apabila dikatakan pintu ijtihad telah tertutup sama sekali, karena hal inibertentangan dengan dalil naqli maupun aqli, sejarah dan realita. Ijtihad masa sekarangbukan saja dibolehkan akan tetapi bahkan difardlukan. Lantas ijtihad-ijtihad macam apa yang diperlukan saat sekarang? Yusuf al-Qardhawi melontarkan dua macam bentuk ijtihad yang pantas dilakukan, yaitu ijtihadintiqa‟i dan ijtihad Insha‟i. ijtihad Intiqa‟i yaitu mengadakan studi komparatif di antarapendapat-pendapat yang ada kemudian memilih pendapat yang dipandang lebih kuatdalil dan hujjahnya dengan menggunakan alat pengukur yang digunakan dalammentarjih.17 Metode ini sangat tepat untuk masa sekarang, terlebih lagi jikadikonfirmasikan denga motto seorang mujtahid yang mengatakan : Pendapatku adalahbenar, tapi mengandung kesalahan, sedangkan pendapat selainku adalah salah, tetapimengandung kebenaran.” Oelh karena itu pendapat seorang mujtahid tidak selamanyabenar, tapi disatu sisi mengandung kesalahan dan untuk itu dapat dicari kebenarannyamelalui pendapat mujtahid yang lain.18 Sementara itu, ijtihad Insha‟i (ijtihad kreatif) yaitu mengambil konklusi hukumbaru dalam suatu permasalahan, dimana permasalahan tersebut belum pernahdikemukakan oleh mujtahid sebelumnya, baik masalah itu baru ataupun lama.19 Jadiijtihad ini bisa mencakup masalah yang sudah lama, di mana mujtahid kontemporermempunyai pendapat baru yang belum pernah dikemukakan oleh pendahulunya dalammasalah yang serupa. Dengan demikian masalah tersebut menerima bermacam-macaminterpretasi dan arah pandangan yang berbeda. Pendapat-pendapat orang lain yang jugaberhak berijtihad tidak boleh dibekukan begitu saja. Sebagai solusi paling tepatbarangkali adalah menggabungkan anatara kedua metode ijtihad tersebut dengan caramenyeleksi pendapat-pendapat ulama terdahulu yang dipandang lebih cocok dan lebihkuat. Kemudian menambahkan dalam pendapat tersebut unsur-unsur ijtihad baru.Menurut al-Qardawi, ijtihad kontemporer semacam ini akan muncul dalam tiga bentuk,yaitu dalam bentuk perundang-undangan, dalam bentuk fatwa atau dalam bentukpenelitian.2017 Yusuf al-Qardawi, Ijtihad dalam Syari‟at Islam, terj, Ahmad satori (Jakarta : Bulan Bintang, 1987), hal. 150.18 Ibid., hal. 150.19 Ibid., hal. 16520 Ibid., hal. 181 10
  11. 11. 11
  12. 12. DAFTAR BACAANAbu Dawud, Sulaiman ibn al-Ash‟ash. Sunan Abi Dawud (Kairo : Musyafa al-Babi al- Halabi, 1952)Al- darimi, Abu Muhammad “Abd Allah ibn “Abd al-Rahman. Tt. Sunan al-darimial-Ghazali, Abu Hamid. Tt. Al- Mustashafa min ‘ilm al-Usul (Beirut : Dar Sadir)al-Jawziyyah, Ibn Qoyyim. Tt. I’lam al-Muwaqih’in ‘an Rabb al-Alamin (Beirut : dar al- jail)al-Mughniyyah, Muhammad Jawad, Ahwal al-Shahshiyyah ‘ala Madhahib al- Khamsah, terj. Masykur A.B. dkk (Jakarta : Bulan Bintang, 1996)al-Qardawi, Yusuf. Ijtihad dalam Syari’at Islam, terj, Ahmad satori (Jakarta : Bulan Bintang, 1987)Bik, Muhammad al_khudari. Tarikh at-Tashri’ (Kairo : al-Maktabah at-Tijarriyyah al- Kubra, 1967)Khalaf, Abd. Al-Wahab. Ilm Usul al-Fiqh (Jakarta : al-majlis al-A‟la al-Indinisi al- Da‟wah al-Islamiyah, 1972)Mhammad, Amin. Ijtihad Ibnu Taimiyah dalam bidang fiqh Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1999)Musa, Sayyid Muhammad. Tt. al- ijtihad wa Madha hajatina Ilayh fi hada al-’Asr (Mesir: Dar al-Kutub al-Hadadisah)Nasution, Harun. Pembaharuan dalam Islam Sejarah pemikiran dan Gerakan (Jakarta : Bulan Bintang, 1975)Tim Penyusun DEPAG. Usul Fiqh II (Jakarta : Proyek Pembinaan Prasarana dan Prasarana Perguruan Tinggi Agama Islam, 1986)Zahrah, Muammad Abu. Tt. Muhadaroh fi tarikh al-Madhabib al-Fiqhiyah (Mesir: Matba‟ah al-Madani) 12

×