Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Pengertian, Peran dan Fungsi Kurikulum (Jurnal)

28,034 views

Published on

Jurnal Pengembangan Kurikulum yang membahasa mengenai pengertian, peran dan fungsi dari kurikulum beserta permasalahan mengenai kurikulum 2013.

Published in: Education
  • Be the first to comment

Pengertian, Peran dan Fungsi Kurikulum (Jurnal)

  1. 1. Pengertian, Peran dan Fungsi Kurikulum 1 PENGERTIAN, PERAN DAN FUNGSI KURIKULUM Absari Ibrahim*Irni Abdullah**Mayawi E-mail: Airins@hotmail.com, IrniAbdullah96@gmail.com, mayawi_karim@ymail.com, Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Khairun Ternate Tahun 2015 ABSTRAKSI Kurikulum sebagai rancangan pendidikan mempunyai kedudukan yang sangat strategis dalam seluruh aspek kegiatan pendidikan. Mengingat pentingnya peranan kurikulum di dalam pendidikan dan dalam perkembangan kehidupan manusia, maka dalam penyusunan kurikulum tidak bisa dilakukan tanpa memahami konsep dasar dari kurkulum. Pada penulisan ini akan dibahas mengenai dasar-dasar kurikulum yang berkenaan dengan konsep, istilah, tujuan, peranan dan fungsi kurikulum serta permasalahan yang terkait dalam implementasi kurikulum khususnya K13. Kata Kunci: Pengertian, Tujuan, Fungsi, Peranan, Implementasi Kurikulum. PENDAHULUAN Kurikulum berfungsi sebagai pedoman dalam pelaksanaan kegiatan pendidikan di sekolah bagi pihak-pihak yang terkait, baik secara langsung maupun tidak langsung, seperti pihak guru, kepala sekolah, pengawas, orang tua, masyarakat dan pihak siswa itu sendiri. Selain sebagai pedoman, bagi siswa kurikulum memiliki enam fungsi, yaitu: fungsi penyesuaian, fungsi pengintegrasian, fungsi diferensiasi, fungsi persiapan, fungsi pemilihan, dan fungsi diagnostik. Adapun pentingnya peran dan fungsi kurikulum memang sudah sangat disadari dalam sistem pendidikan nasional. Ini dikarenakan kurikulum merupakan alat yang krusial dalam merealisasikan program pendidikan, baik formal maupun non formal , sehingga gambaran sistem pendidikan dapat terlihat jelas dalam kurikulum tersebut. Dengan kata lain, sistem kurikulum pada hakikatnya adalah sistem pendidikan itu sendiri. Untuk itu penguasaan terhadap konsep dasar kurikulum sangat penting khususnya dalam pengimplementasian guna mencapai tujuan-tujuan pendidikan itu sendiri.
  2. 2. Pengertian, Peran dan Fungsi Kurikulum 2 PEMBAHASAN Pengertian Kurikulum Istilah kurikulum berasal dari bahasa latin, yakni curriculum yang mempunyai pengertian a running course atau sebuah perjalanan mata pelajaran. Berdasarkan hal ini, istilah kurikulum kemudian diadaptasikan kedalam dunia pendidikan dan diartikan sebagai sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh oleh seorang siswa dari awal hingga akhir program demi memperoleh ijazah. Kurikulum adalah seperangkat rencana pembelajaran dan program pendidikan yang bersifat menyeluruh yang disusun dengan berbagai landasan dan rekonstruksi pengetahuan dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman untuk mencapai tujuan-tujuan dalam pendidikan. Adapun S Nasution, dikutip oleh Asep Jihad (2008: 2) mendefinisikan kurikulum adalah suatu rencana yang disusun untuk melancarkan proses belajar mengajar dibawah bimbingan dan tanggung jawab sekolah. Selanjutnya Saylon J. Galen dan William N. Alexander yang dikutip Asep Jihad (2008: 1) mendefinisikan kurikulum adalah keseluruhan usaha sekolah untuk mempengaruhi belajar baik berlangsung di kelas, dihalaman maupun luar sekolah. Pendapat ini mengemukakan tafsiran kurikulum dalam arti luas, dimana kurikulum tidak hanya terdiri atas mata pelajaran (courses), tetapi meliputi semua kegiatan dan pengalaman yang menjadi tanggung jawab sekolah. Sesuai dengan pendapat ini, berbagai kegiatan di luar kelas (yang dikenal dengan ekstrakurikulum) sudah tercakup dalam pengertian kurikulum. Oleh karena itu tidak ada pemisah antara intra dan ektstrakurikulum. Menurut Ralp Tyler (1949), mendefinisikan kurikulum adalah semua pelajaran- pelajaran murid yang direncanakan dan dilakukan oleh pihak sekolah untuk mencapai tujuan- tujuan pendidikannya (Asep Jihad, 2008: 1). Berdasarkan pengertian tersebut, Inti dari kurikulum menurut Tyler (1949) adalah suatu jawaban secara menyeluruh terhadap beberapa pertanyaan berikut ini: 1) Tujuan-tujuan apa dan maksud-maksud apa yang hendak dicapai oleh sekolah? 2) Kesempatan-kesempatan belajar apa yang dipilih agar terjadi perubahan tingkah laku sesuai dengan harapan? 3) Bagaimana unsur-unsur belajar disusun? 4) Bagaimana penilaian untuk mengetahui keberhasilannya? Jika keempat jawaban pertanyaan itu telah terjawab, itulah yang dimaksud dengan kurikulum (Yuli Kwartolo 2002: 107). Selanjutnya dalam Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat (19) yang berbunyi kurikulum adalah seperangkat rencana dan
  3. 3. Pengertian, Peran dan Fungsi Kurikulum 3 pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Dengan kata lain, kurikulum dapat diartikan sebagai program pengajaran suatu jenjang pendidikan. Dari definisi-definisi diatas dapat dirumuskan bahwa kurikulum merupakan kegiatan dan pengalaman belajar yang dirumuskan, direncanakan, dan diorganisir untuk dilakukan dan dialami oleh anak didik baik di dalam maupun di luar sekolah agar dapat mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Berdasarkan isinya kurikulum dipandang sebagai kurikulum tradisional dan kurikulum modern. Secara tradisional kurikulum diartikan sebagai sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh atau diajarkan, seperti: silabus dan program pengajaran suatu mata pelajaran. Sejalan dengan hal ini, Menurut A. Glatthom (1987) yang dikutip oleh Asep Jihad, mengemukakan kurikulum ialah rencana yang dibuat untuk membimbing dalam belajar disekolah, yang biasanya meliputi dokumen, level secara umum, dan aktualisasi dari rencana- rencana itu dikelas, sebagai pengalaman murid, yang telah dicatat dan ditulis oleh seorang ahli pengalaman tesebut ditempatkan dalam lingkungan belajar yang juga mempengaruhi apa yang dipelajari (Asep Jihad 2008: 3). Dalam pandangan modern, kurikulum tidaklah terbatas atau rencana tertulis. Isi dari dokumen atau rencana tertulis tersebut (kurikulum) adalah pernyataan mengenai kualitas pendidikan yang harus dimiliki oleh peserta didik melalui suatu keterlibatan dan pengalaman belajar dalam pengimplementasian kurikulum, kualitas output peseta didik, kualitas bahan/konten pendidikan yang harus diikuti atau dipelajari oleh mahasiswa, kualitas proses pendidikan yang harus dialami oleh peserta didik. Kurikulum dalam bentuk dokumen ini merupakan fokus utama dalam setiap proses pengembangan kurikulum karena ia mengambarkan ide (pemikiran) para pengambil keputusan dan dasar bagi pengembangan dan penyempurnaan kurikulum selanjutnya. Realisasi dari kurikulum berbentuk dokumen tertulis ini adalah pengimplementasiannya pada suatu lembaga pendidikan berupa pengalaman belajar yang dialami peserta didik seperti yang direncanakan secara tertulis yang dikembangkan oleh pendidik atau guru itu sendiri didalam kelas maupun diluar kelas. Sehingga, jika pengalaman belajar ini menyimpang dari rencana tertulis, maka hasil belajar yang diperoleh peserta didik tidak dapat dikatakan sebagai hasil dari kurikulum. Adanya rancangan atau kurikulum formal dan tertulis merupakan ciri utama pendidikan disekolah. Dengan kata lain, kurikulum merupakan syarat mutlak bagi pendidikan
  4. 4. Pengertian, Peran dan Fungsi Kurikulum 4 di sekolah. Jika kurikulum merupakan syarat mutlak, hal itu berarti bahwa kurikulum merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pendidikan atau pengajaran. Kurikulum mempunyai kedudukan sentral dalam seluruh proses pendidikan. Menurut Mauritz Johnson (Nana Syaodih Sukmadinata, 1988:4), kurikulum “prescribes (or at least anticipates) the result of instruction”. Kurikulum mengarahkan segala bentuk aktivitas pendidikan demi tercapainya tujuan-tujuan pendidikan. Namun demikian kurikulum bukanlah segala-galanya, artinya tercapainya tujuan pendidikan bukan sepenuhnya dari kurikulum itu sendiri, karena kurikulum yang baik jika dipegang oleh guru yang tidak baik maka hasilnya tidak akan baik, pendidik (guru) juga menentukan berhasil dan tidaknya pencapaian tujuan pendidikan disekolah. Tujuan Kurikulum Tujuan pendidikan nasional secara eksplisit dapat dijabarkan sebagai upaya membentuk manusia yang mempunyai sifat; (1) cerdas, (2) iman dan taqwa, (3) berbudi pekerti luhur, (4) berpengetahuan dan keterampilan, (5) sehat jasmani dan rohani, (6) berkepribadian mantap dan mandiri, (7) dan bertanggung jawab. Berbagai karakteristik tersebut masih bersifat universal, dan perlu diterjemahkan kedalam rumusan yang operasional dan terkait dengan perkembangan masyarakat Indonesia. Wujud nyata dari setiap karakteristik tersebut akan berbeda dalam suatu tingkat perkembangan masyarakat dan tingkat pendidikan. Karena itu dalam menterjemahkan karakteristik tersebut kedalam rumusan wujud kemampuan, nilai, dan sikap yang dapat dijadikan rujukan dalam proses perencanaan kurikulum perlu dipahami tingkat dan arah perkembangan masyarakat Indonesia. Dalam era globalisasi ini memiliki maknanya adalah berlakunya berbagai ukuran dan aturan internasional dalam segala bidang kehidupan, baik politik, ekonomi, sosial budaya, ilmu pengetahuan dan tehnologi, komunikasi/transportasi bahkan kehidupan keagamaan. Adapun yang perlu kita wujudkan di Indonesia dapatlah kiranya kita sampai kepada identifikasi kemampuan, nilai dan sikap yang perlu dikuasai dan dimiliki manusia terdidik Indonesia yaitu: 1. Memiliki kemampuan, nilai dan sikap yang memungkinkannya berpartisipasi secara aktif dan cerdas dalam proses politik; 2. Memiliki kemampuan, etos kerja, dan disiplin kerja yang memungkinkannya dapat secara aktif dan produktif berpartisipasi dalam berbagai kegiatan ekonomi;
  5. 5. Pengertian, Peran dan Fungsi Kurikulum 5 3. Memiliki kemampuan dan sikap ilmiah untuk dapat mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui kemampuan penelitian dan pengembangan, 4. Memiliki kepribadian yang mantap, berkarakter dan bermoral, serta berakhlak mulia. (Soejarto 2004: 94) Hal tersebut sejalan dengan pendapat Sariono (2013: 2) dimana kurikulum menyiapkan peserta didik dalam menghadapi tantangan-tantangan dimasa depan. Kurikulum tidak cukup hanya dengan mengarahkan peserta didik pada penguasaan materi pembelajaran (content oriented) saja, tetapi perlu dikembangkan dengan berorientasi kepada kehidupan peserta didik dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Peranan Kurikulum Sebagai program pendidikan yang telah direncanakan secara sistematis, kurikulum mengemban peranan yang sangat penting bagi pendidikan siswa. Apabila dianalisis sifat dari masyarakat dan kebudayaan, dengan sekolah sebagai institusi sosial dalam melaksanakan operasinya, maka dapat ditentukan paling tidak tiga peranan kurikulum yang sangat penting, yakni peranan konservatif, peranan kritis atau evaluatif dan peranan kreatif. Ketiga peranan inni sangat penting dan perlu dilaksanakan secara seimbang. Peranan konservatif, salah satu tanggung jawab kurikulum adalah mentransmisikan dan menafsirkan warisan sosial pada generasi muda. Hal ini menekankan bahwa kurikulum itu dapat dijadikan sebagai sarana untuk mentrasmisikan nilai-nilai warisan budaya masa lalu yang dianggap masih relevan dengan masa kini kepada generasi muda. Dengan demikian, sekolah sebagai suatu lembaga sosial dapat memengaruhi dan membina tingkah laku siswa sesuai dengan berbagai nilai sosial yang ada dalam masyarakat, sejalan dengan peranan pendidikan sebagai suatu proses sosial. Dalam mentransmisikan dan menafsirkan warisan sosial pada generasi muda, disinilah peran seorang guru. Keberhasilan implementasi kurikulum bergantung pada kemampuan seorang guru, karena guru adalah perencana, pelaksana, dan pengemban kurikulum bagi kelasnya. Sekalipun guru tidak mencetuskan sendiri konsep-konsep kurikulum, gurulah penerjemah dari pusat. Gurulah yang mengolah, meramu kembali kurikulum sehingga peranan guru sangat penting dalam kemajuan pendidikan dalam hal ini metransmisikan nilai-nilai warisan social terhadap generasi muda. Peranan Kritis atau Evaluatif, Kebudayaan senantiasa berubah dan bertambah. Sekolah tidak hanya mewariskan kebudayaan yang ada, melaikan juga mnilai dan memilih berbagai unsur kebudayaan yang akan diwariskan. Dalam hal ini, kurikulum turut aktif berpartisipasi dalam kontrol sosial dan membri penekanan pada unsur berpikir kritis. Niai-
  6. 6. Pengertian, Peran dan Fungsi Kurikulum 6 nilai sosial yang tidak sesuai lagi dengan keadaan dimasa mendatang dihilangkan, serta diadaka modifikasi atau perbaikan. Dengan deikian, kurikulum harus merupakan pilihan yang tepat atas dasar kriteria tertentu. Peranan Kreatif, Kurikulum berperan dalam melakukan berbagai kegiatan kreatif dan konstruktif, dalam artian menciptakan dan menyusun suatu hal yang baru sesuai dengan kebutuhan masyarakat di masa sekarang dan masa mndatang. Untuk membantu setiap individu dalam mengembangkan semua poteni yang ada padanya, maka kurikulum menciptakan pelajaran, pengalaman, cara berpikir, kemampuan, dan keterampilan yang baru, yang memberikan manfaat bagi mayarakat. Ketiga peran kurikulum tersebut harus berjalan secara seimbang, atau dengan kata lain terdapat keharmonisan iantara ketinganya. Dengan demikian, kurikulum dapat memenuhi tuntutan waktu dan keadaan dalam mebawa siswa menuju kebudayaan masa depan. Fungsi Kurikulum Disamping memiliki peranan, kurikulum juga mengemban sebagai fungsi tertentu. Alexander Inglis (Asep Jihad 2008: 24) mengatakan bahwa kurikulum terdiri dari fungsi penyesuaian, fungsi pengintegrasian, fungsi diferensiasi, fungsi persiapan, fungsi pemilihan, dan fungsi diagnostik. Fungsi Penyesuaian (The Adjstive of Adaptive Function), disini fungsi kurikulum harus mampu menata keadaan masyaakat agar dapat dibawa ke lingkungan sekolah untuk dijadikan objek pelajaran para siswa. Fungsi Integrasi (The Integrating Function), disini kurikulum berfungsi mendidik pribadi-pribadi yang terintegrasi. Oleh karena individu sendiri merupakan bagian dari masyarakat, maka pribadi yang terintegrasi itu akan memberikan sumbangan dalam pembentukan atau pengintegrasian masyarakat. Fungsi Diferensiasi (The Differentiating Function), kurikulum perlu memberikan pelayanan tehadap perbedaan diantara setiap orang dalam masyarakat. Pada dasarnya, diferensiasi akan mendorong orag berikir kritis dan kreatif, sehingga akan mendorong kemajuan sosial dalam masyarakat. Akan tetapi, adnya diferensiasi tidak berarti mengabaikan solidarita sosial dan integrai, karena diferensiasi juga dapat menghindarkan terjadinya stagnasi sosial. Fungsi Persiapan (The Propadeutic Function), biasanya individu yang belajar pada suatu jenjang pendidikan mempunyai keinginan untuk melanjutkan ke jejang yang lebih tinggi, maka dalam hal ini kurikulum harus mampu mempersiapkan anak didik agar dapat
  7. 7. Pengertian, Peran dan Fungsi Kurikulum 7 melanjutkan studi meraih ilmu pengetahuan yang lebih tinggi dan lebih mendalam dengan jangkauan yang luas. Fungsi Pemilihan (The Selective Function), perbedaan (diferensiasi) dan pemilihan (seleksi) adalah dua hal yang saling berkaitan. Pengakuan atas perbedaan berarti memberikan kesempatan bagi seseorang untuk memilih apa yang diinginkan dan menarik minatnya. Kedua hal tersebut merupakan kebutuhan kebutuhan bagi masyarakat yang menganut sistem demokratis, untuk mengembangkan berbagai kemampuan ersebut, maka kurikulum perlu disusun secara luas dan bersifat fleksibel. Fungsi Dagnostik (The Diagnistic Function), fungsi ini merupkan fungsi kurikulum yang pada gilirannya akan mengetahui keberhasilan. Penerapan program-program pengalaman belajar yang diikuti oleh anak didik yang sejalan dengan upaya memahami bakat dan minat anak. Catatan Implementasi Kurikulum 2013 Peran dan fungsi kurikulum sangatlah penting dalam dunia pendidikan yang mana kurikulum merupakan syarat mutlak bagi pendidikan di sekolah yang berarti bahwa kurikulum merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pendidikan atau pengajaran. Setelah satu tahun lebih berjalan secara bertahap, kurikulum yang baru dilaksanakan secara serentak di semua satuan pendidikan mulai tahun ajaran baru 2014/2015. Sejumlah kendala yang dapat ditemui dalam pelaksanaannya, antara lain terkait dengan anggaran, kesiapan pemerintah dalam menyiapkan perangkat kurikulum, kesiapan guru, sosialisasi, dan distribusi buku. Di antara semua daftar di atas, masalah utama yang sangat menghambat adalah kesiapan guru sebagai kunci keberhasilan implementasi kurikulum ini. Dengan berbagai kendala tersebut, kurikulum 2013 ini harus dipending untuk sementara waktu untuk melakukan berbagai revisi dan kesiapan-kesiapan dalam implementasi kurikulum. Bila mengacu pada Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, setiap guru harus memiliki empat kemampuan dasar yang sangat dibutuhkan dalam mendukung implementasi kurikulum, yaitu kompetensi pedagogik, pribadi, profesional, dan sosial. Keempat kompetensi ini harus diasah dan dikembangkan dalam berbagai bentuk pelatihan guru. Namun demikian, dengan melihat banyaknya keluhan guru dalam mempersiapkan implementasi Kurikulum 2013 menunjukkan bahwa pendidikan guru yang selama ini dijalankan belum mampu melahirkan guru dengan kompetensi dasar sebagaimana disebutkan di atas. Bukan persoalan yang mudah untuk mempersiapkan guru yang ideal
  8. 8. Pengertian, Peran dan Fungsi Kurikulum 8 seperti harapan kurikulum 2013 dalam waktu singkat, terutama untuk merubah mindset guru dari yang asalnya hanya bertugas untuk mengajar sementara dalam kurikulum 2013 guru harus mampu mengarahkan siswa untuk aktif, produktif, kreatif dan berfikir kritis (Faridah Awaliyah, 2014: 10). Kurikulum 2013 ini dinilai sangat baik, karena aspek penilaian sudah tidak lagi hanya terbatas pada kognitif, namun aspek afektif dan psikomotor juga dinilai pada K13 ini. Namun, sebaik-baiknya kurikulum itu tak lepas pula pada pelaksananya. Hal ini sejalan dengan pendapat Sariono (2013: 3) dimana, kurikulum bukanlah segala-galanya, artinya tercapainya tujuan pendidikan bukan sepenuhnya dari kurikulum itu sendiri, karena kurikulum yang baik jika dipegang oleh guru yang tidak baik maka hasilnya tidak akan baik, pendidik (guru) juga menentukan berhasil dan tidaknya pencapaian tujuan pendidikan disekolah. Kunci keberhasilan atau kegagalan dalam melaksanakan kurikulum pada hakekatnya ada ditangan para guru dimana guru adalah perencana, pelaksana dan pengembang kurikulum bagi kelasnya. Kurikulum 2013 mengharuskan guru berperan optimal dalam pembelajaran. Untuk menyiapkan guru ideal dalam kurikulum 2013 diperlukan pendidikan dan pelatihan khusus. Pada tahun 2014 Pemerintah menargetkan untuk dapat melatih 1,3 juta guru secara bertahap dan bertingkat. Pada kenyataannya baru 283.000 guru yang sudah dilatih menjelang tahun ajaran baru. Selain masalah tersebut, guru yang telah diberikan pelatihan belum memahami dalam meimplementasikan kurikulum ini. Hal ini dikarenakan beberapa kekurangan dalam proses pelatihan antara lain dari sisi waktu pelatihan yang terlalu singkat, metode pelatihannya yang lebih banyak difokuskan pada ceramah, teori, dan kompetensi instruktur itu sendiri. Sementara itu, Hal yang harus terus ditingkatkan adalah perbaikan kualitas guru sehingga pelatihan bukan hanya sekedar formalitas kegiatan saja. Selanjutnya, tidak hanya berhenti di pelatihan, usai pelatihan, guru tetap harus didampingi, diberi pembinaan, dan tetap dalam pengawasan ketika mereka kembali ke satuan pendidikan masing-masing agar pemahaman mereka terhadap kurikulum terus berlanjut bahkan berbagi terhadap guru lain (Faridah Awaliyah, 2014: 10). Dengan demikian, diharapkan ketika kurikulum 2013 diterapkan kembali dapat berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan.
  9. 9. Pengertian, Peran dan Fungsi Kurikulum 9 KESIMPULAN DAN SARAN 1. Kesimpulan Dari pembahasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana pembelajaran dan program pendidikan yang bersifat menyeluruh yang disusun dengan berbagai landasan dan rekonstruksi pengetahuan dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman untuk mencapai tujuan- tujuan dalam pendidikan. Kurikulum tidaklah terbatas atau rencana tertulis. Realisasi dari kurikulum berbentuk dokumen tertulis ini adalah pengimplementasiannya pada suatu lembaga pendidikan berupa pengalaman belajar yang dialami peserta didik seperti yang direncanakan secara tertulis. Paling tidak tiga peranan kurikulum yang sangat penting yaitu peranan konservatif, peranan kritis atau evaluatif dan peranan kreatif. Sedangkan fungsi kurikulum terdiri dari fungsi penyesuaian, fungsi pengintegrasian, fungsi diferensiasi, fungsi persiapan, fungsi pemilihan, dan fungsi diagnostik. Dalam pelaksanaannya, kesiapan guru dalam hal ini sangat penting. Kunci keberhasilan atau kegagalan dalam melaksanakan kurikulum pada hakekatnya ada ditangan para guru dimana guru adalah perencana, pelaksana dan pengembang kurikulum bagi kelasnya. 2. Saran Adapun saran dari penulis berdasarkan pembahasan diatas, yakni: 1. Setiap guru merupakan kunci utama dalam pelaksanaan kurikulum, maka ia harus pula memahami seluk beluk kurikulum. 2. Dalam pelaksanaan kurikulum, kesiapan guru merupakan hal yang paling penting. Untuk itu pelatihan, pembinaan, pengawasan, dan evaluasi terhadap kesiapan dan kompetensi guru perlu dilakukan secara terus-menerus sehingga mampu membawa perubahan yang diamanatkan dalam kurikulum tersebut.
  10. 10. Pengertian, Peran dan Fungsi Kurikulum 10 DAFTAR PUSTAKA Aripin, Sofjan dan Muhammad Daud. 2014. Peran Administrator Publik dalam Formulasi dan Implementasi Kebijakan (Analisis Kurikulum 2013). [Online]. Tersedia: http://digilib.uin-suka.ac.id/7808/1/BAB%20I,%20V,%20DAFTAR %20PUSTAKA.pdf. Volume 06. No. 1. [ 5 Maret 2015] Awaliyah, Faridah. (2014). Kesiapan Guru Dalam Implementasi Kurikulum 2013. [Online]. Tersedia: http://berkas.dpr.go.id/pengkajian/files/info_singkat/Info %20Singkat-VI-15-I-P3DI-Agustus-2014-56.pdf . Volume IV. No 15. [ 5 Maret 2015] Dimyanti & Mudjiono. 2013. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta Fitriya, Hidayatul. (2014). Sejarah Kurikulum Di Indonesia. [Online]. Tersedia: http://hidayatulfitriya.blogspot.com/2014/02/sejarah-kurikulum-di-indonesia- 1945-2013.html [25 Februari 2015] Hamalik, Oemar. 2011. Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum. Bandung: Remaja Rosdakarya. Jihad, Asep. (2008). Pengembangan Kurikulum Matemaika (Tinjauan Teoritis dan Historis). Bandung: Muli Pressindo Kwartolo, Yuli. (2002). Catatan Kritis Tentang Kurikulum Berbasis Kompetensi. [Online]. Tersedia: http://bpkpenabur.or.id/files/Hal.106116%20Catatan %20Kritis%20tentang%20Kurikulum%20Berbasis%20Kompetensi.pdf. Jakarta No. 1 [ 5 Maret 2015] Nur, Isman Muhammad. 2014. Berpikir dan Keterampilan Berpikir Matematis Serta Penerapan Model Pembelajaran. Ternate:_____ Sariono. (2013). Kurikulum 2013: Kurikulum Generasi Emas. [Online]. Tersedia: http://dispendik.surabaya.go.id/surabayabelajar/jurnal/199/3.3.pdf . Volume 3. Surabaya. [ 5 Maret 2015] Simanjuntak, Juliper. (2015). Pengertian Peranan dan Fungsi Kurikulum. [Online]. Tersedia: http://lpmp-sumut.or.id/1/wp-content/uploads/2013/04/juliper- simanjuntak-.KURIKULUM..pdf [25 Februari 2015] _____. (2015) . Pengertian, Fungsi, dan Peran. [Online]. Tersedia: http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/Dra.%20Sumarsih,%20M.P d./Materi%20Kakubuteks%20Akuntansi.pdf [25 februari 2015] Soedijarto. (2004). Kurikulum, Sistem Evaluasi, dan tenaga Kependidikan sebagai Unsur Strategis dalam Penyelenggaraan Sistem Pengajaran Nasional. [Online] Tersedia:http://www.bpkpenabur.or.id/files/hal%20089107%20Kurikulum,%2 0Sistem%20Evaluasi%20dan%20Tenaga%20Pendidikan%20sebagai%20Uns ur%20Strategis%20dalam%20Penyelenggaraan%20Sistem%20Pengajaran%2 0Nasional.pdf . Jakarta. No 3. [ 5 Maret 2015]

×