Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.
BIMBINGAN DAN KONSELING
JENIS-JENIS MASALAH SISWA DI SEKOLAH MENENGAH
KELOMPOK LIMA
ANGGOTA :
MAWAR DEFI ANGGRAINI 4101412...
KATA PENGANTAR
Segala puji kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala nikmat, karunia,
dan rahmat-Nya sehin...
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ……………………………………………………………… i
KATA PENGANTAR ………………………………………………………………. ii
DAFTAR ISI ……………………………………...
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Manusia adalah makhluk Tuhan yang paling sempurna. Kesempurnaan manusia tidak
dapat d...
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Dan Ciri-Ciri Masalah
Dalam perkembangan dan proses kehidupannya, manusia sangat mungkin ...
perlu ditangani melalui konseling, bila memenuhi kriteria tertentu. Pada dasarnya, masalah
tersebut berasal dari suatu mas...
c. Bila masalah tersebut tak terpecahkan ataupun tak terselesaikan, maka akan
mengakibatkan kerugian bagi subjek maupun pi...
2.3 Jenis-Jenis Masalah
Ada pendapat yang mengatakan bahwa hidup dan berkembang itu mengandung resiko.
Perjalanan kehidupa...
Secara tradisional masa remaja dianggap sebagai periode “badai dan tekanan” suatu
masa dimana ketegangan emosi meninggi se...
atau memperoleh informasi mengenai seluk beluk seks dari orang tua, tetapi
kenyataannya mereka lebih banyak mencari inform...
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Pada hakekatnya, setiap manusia senantiasa ingin mewujudkan kebahagiaan dalam
hidupnya. Akan ...
DAFTAR PUSTAKA
Mugiarso, Heru. 2011. Bimbingan dan Konseling. Semarang: Pusat Pengembangan
MKU/MKDK-LP3 UNNES.
Supriyo dkk...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Jenis-jenis masalah siswa di sekolah menengah

  • Login to see the comments

Jenis-jenis masalah siswa di sekolah menengah

  1. 1. BIMBINGAN DAN KONSELING JENIS-JENIS MASALAH SISWA DI SEKOLAH MENENGAH KELOMPOK LIMA ANGGOTA : MAWAR DEFI ANGGRAINI 4101412007 JEANET EVA CHRISNA 4101412041 PRAWITA NINGRUM 4101412074 YULIA PURNAWATI 41014120 CATUR KHASNAWATI 5401412005 CINTIA AGTASIA PUTRI 4201412030 AHMAD JALU WIJAYANTO 6101410038 ROMBEL 59 (JUMAT, 407) UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG SEMARANG 2013
  2. 2. KATA PENGANTAR Segala puji kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala nikmat, karunia, dan rahmat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah Mata Kuliah Umum Bimbingan dan Konseling dengan judul “Jenis-jenis Masalah Siswa di Sekolah Menengah” dengan tepat waktu. Tujuan penulisan makalah ini yaitu untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Umum Bimbingan dan Konseling guna menambah wawasan kami tentang masalah-masalah yang terjadi di sekolah menengah sebagai bekal kami. Kami menyadari bahwa makalah ini tidaklah sempurna, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun selalu kami harapkan agar kami dapat memperoleh pengetahuan yang lebih luas lagi. Akhirnya kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. Dan kami berharap bahwa makalah ini dapat bermanfaat bagi kami dan Anda yang membacanya. Amin. Semarang, Oktober 2013 Penulis
  3. 3. DAFTAR ISI HALAMAN SAMPUL ……………………………………………………………… i KATA PENGANTAR ………………………………………………………………. ii DAFTAR ISI ………………………………………………………………………… iii BAB I PENDAHULUAN …….…………………………………………………. 1 1.1 Latar Belakang Masalah ……………………………………………... 1 1.2 Rumusan Masalah …………………………………………………… 1 1.3 Tujuan ……………………………………………………………….. 1 BAB II PEMBAHASAN ………………………………………………………… 2 2.1 Pengertian dan Ciri-Ciri Masalah……. ……………………………… 2 2.2 Kriteria Masalah……………………………………………………… 2 2.3 Jenis-Jenis Masalah……………………….………………………….. 5 BAB III PENUTUP ……………………………………………………………….. 3.1 Simpulan ………………………………………………………….. 8 3.2 Saran ………………………………………………………………… 8 DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………….. 9
  4. 4. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Manusia adalah makhluk Tuhan yang paling sempurna. Kesempurnaan manusia tidak dapat dipisahkan dari masalah. Peran manusia sebagai makhluk social dan makhluk individu sering kali menciptakan masalah, baik dengan dirinya sendiri maupun dengan sesamanya, termasuk siswa. Siswa di sekolah menengah berada pada masa puber atau masa mencari jati diri. Di masa itulah siswa rentan mengalami masalah. Egoisme yang tinggi, merasa sudah dewasa sehingga bisa mengatasi masalahnya sendiri. Namun sebenarnya mereka masih memerlukan bimbingan dari orangtua, guru dan masyarakat. Kita sebagai calon seorang guru harus mengetahui jenis-jenis masalah yang di hadapi siswa, terutama siswa di sekolah menengah yang rentan dengan masalah. Hal ini bertujuan agar kita memperoleh gambaran secara rinci mengenai berbagai permasalahan siswa usia SLTP dan SLTA dengan mengaitkan ciri-ciri perkembangan yang terjadi pada remaja awal hingga akhir. Sehingga kita mengetahui apa yang harus kita lakukan dan kita berikan ke siswa- siswi kita nantinya. Bimbingan dan konseling diharapkan mampu membantu siswa untuk mandiri sehingga dia mampu untuk mengambil keputusan untuk menyelesaikan masalahnya. 1.2 Rumusan Masalah Dari latar belakang di atas, rumusan masalah makalah ini adalah : 1. Apa pengertian dan ciri-ciri masalah? 2. Bagaimana kriteria-kriteria masalah? 3. Apa saja jenis-jenis masalah yang dihadapi siswa di sekolah menengah? 1.3 Tujuan Tujuan penulisan makalah ini agar mahasiswa kependidikan mempunyai pemahaman tentang masalah siswa di sekolah menengah.
  5. 5. BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Dan Ciri-Ciri Masalah Dalam perkembangan dan proses kehidupannya, manusia sangat mungkin menemui berbagai permasalahan, baik oleh individu secara perorangan maupun kelompok. Permasalahan yang dihadapi individu sangat dimungkinkan selain berpengaruh pada dirinya sendiri juga berpengaruh pada orang lain dan lingkungan sekitarnya. Pada hakekatnya proses pengembangan manusia seutuhnya hendaknya mencapai pribadi- pribadi yang matang, dengan kemampuan sosial yang baik, kesusilaan yang tinggi, serta keimanan dan ketakwaan. Ketidakmampuan individu untuk mewujudkan perkembangan yang optimal pada keempat dimensi (individualitas, sosialitas, moralitas, dan religiusitas) tersebut dikarenakan oleh berbagai permasalahan yang dialami selama proses perkembangannya. Masalah merupakan sesuatu atau persoalan yang harus diselesaikan atau dipecahkan. Masalah yang dibiarkan berkembang dan tidak segera dipecahkan dapat mengganggu kehidupan dirinya sendiri maupun orang lain. Adapun ciri-ciri masalah dapat dikemukakan sebagai berikut: a. Masalah muncul karena ada kesenjangan antara harapan (das Sollen) dan kenyataan (das sein). b. Semakin besar kesenjangan, maka masalah semakin berat. c. Tiap kesenjangan yang terjadi dapat menimbulkan persepsi yang berbeda. d. Masalah muncul sebagai perilaku yang tidak dikehendaki oleh individu itu sendiri maupun oleh lingkungan. e. Masalah muncul akibat dari proses belajar yang keliru. f. Masalah memerlukan berbagai pertanyaan dasar ( Basic Question) yang perlu dijawab g. Masalah dapat bersifat individual maupun kelompok. 2.2 Kriteria Masalah Pada dasarnya, masalah ditandai oleh adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Namun, tidak semua masalah perlu ditangani melalui pendekatan konseling. Suatu masalah
  6. 6. perlu ditangani melalui konseling, bila memenuhi kriteria tertentu. Pada dasarnya, masalah tersebut berasal dari suatu masalah yang cukup serius, cukup mengguncangkan pribadi konseli, masalah tersebut senantiasa mencekam sehingga pikiran dan perasaan konseli tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Bahkan berpengaruh terhadap perubahan fisiologik tubuh. Disisi lain, masalah tersebut sudah berada diluar jangkauan konseli untuk mereda, menghalau ataupun untuk menyelesaikannya sendiri. Sementara itu, bila masalah tersebut tidak diatasi maka akan merugikan diri sendiri maupun pihak lain, terjadinya hambatan perkembangan, penyimpangan sikap dan perilaku, salah perilaku dan inadekuat lain. Selanjutnya, secara sadar konseli butuh bantuan dari orang lain untuk menghadapi, mengatasi, dan memecahkan masalahnya yang berada di luar kemampuannya. Jadi, masalah tersebut perlu digarap dengan cara-cara khusus, cara-cara yang memadai. Dengan kata lain, masalah tersebut diatasi dengan bantuan orang lain yang memiliki kompetensi atau keahlian sesuai dengan karakteristik dan kadar permasalahanya perlu penanganan secara profesional. Meski masalah tersebut cukup serius dan sifatnya spesifik, menimbulkan ketegangan, kecemasan, ketakutan, frustasi ataupun konflik namun masalah tersebut masih dalam jangkauan profesi bimbingan dan konseling, masih dalam kategori “normal”, belum termasuk “abnormal”. Bila masalah konseli mencapai kadar yang sangat berat, neuosus, diluar jangkauan konselor, maka perlu di “referal” kepada psikologis klinis. Terlebih-lebih bila diagnosa masalah mengidentifikasi adanya simtoma abnormalitas atau psikosis, maka merupakan kewenangan psikiater untuk menanganinya. Berikut ini adalah kriteria masalah dalam konseling secara prinsip, antara lain: a. Masalah sebagai kesenjangan antara harapan dan kenyataan yang tergolong serius, sifatnya khas dan cukup mengguncangkan kehidupan secara sosial maupum pribadi dari konseli. Masalah yang dihadapi oleh konseli itu mempengaruhi kehidupan pribadi maupun sosial dari konselinya. b. Masalah yang cukup serius itu, selalu mengganggu pikiran dan perasaan, serta masalah tersebut diluar jangkauan subjek untuk mangatasi atau menyelesaikan sendiri. Masalah tersebut adalah suatu masalah dimana konseli sudah merasa tidak mampu untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan dirinya sendiri. Maka, disini konseli membutuhkan bantuan dari konselor untuk membantu salam upaya pemecahan masalahnya tersebut.
  7. 7. c. Bila masalah tersebut tak terpecahkan ataupun tak terselesaikan, maka akan mengakibatkan kerugian bagi subjek maupun pihak lain yang boleh jadi berdampak memunculkan masalah baru. Jika suatu masalah yang dihadapi oleh konseli tidak segera terpecahkan atau terselesaikan, maka masalah tersebut dapat memunculkan suatu masalah yang baru dan akan mengganggu kehidupan dari konseli. Oleh sebab itu, suatu masalah yang dihadapi oleh konseli harus secepatnya dapat terselesaikan dengan baik. d. Pada gilirannya, konseli butuh bantuan pertolongan untuk memecahkan masalahnya secara memadai, sehingga dapat mengembangkan pribadi yang “balance”, produktif dan sehat. Konseli akan selalu membutuhkan pertolongan bantuan dari seorang konselor dalam upaya pemecahan masalah yang sedang dihadapi. Setelah memperoleh bantuan dari konselor, maka diharapkan konseli mampu mengembangkan potensi yang dimilikinya secara optimal, serta dapat hidup dengan seimbang, produktif, dan sehat. e. Dengan kata lain, masalah tersebut perlu ditangani secara profesional oleh figur yang kompeten dan berwenang. Dalam menangani suatu permasalahan yang dihadapi oleh konseli memang sudah seharusnya ditangani oleh orang yang profesional dan sudah ahli dalam bidang bimbingan dan konseling. Jika dalam menangani suatu masalah itu tidak ditangani oleh orang yang sudah profesional, maka akan menjadi ketakutan, apabila pemecahannya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh konseli atau tidak sesuai dengan tugas perkembangan dari konseli yang bersangkutan. f. Akhirnya, masalah yang dimaksud berada dalam ruang lingkup kewenangan konselor yaitu masalah-masalah melanda pada orang-orang normal. Seorang konselor hanya akan membantu memecahkan masalah dari konseli yang masih dalam keadaan normal, atau tidak sedang mengalami gangguan jiwa (abnormal). Jika konseli sudah berada dalam suatu keadaan yang abnormal, maka hal itu sudah tidak menjadi kewenangan dari seorang konselor. Dengan kata lain, masalah itu bisa dialih tangankan kasus ke orang yang lebih ahli, misalnya seorang psikiater.
  8. 8. 2.3 Jenis-Jenis Masalah Ada pendapat yang mengatakan bahwa hidup dan berkembang itu mengandung resiko. Perjalanan kehidupan dan proses perkembangan sering kali ternyata tidak mulus, banyak mengalami berbagai hambatan dan rintangan. Terlebih bagi siswa sekolah menengah yang berada dalam fase perkembangan remaja, masa dimana individu mengalami berbagai perubahan baik secara fisik maupun secara psikis. Hurlock (1980:192) menuliskan berbagai perubahan sikap dan perilaku sebagai akibat dari perubahan yang terjadi pada masa puber, yaitu: a. Ingin menyendiri. Jika perubahan pada masa puber sudah mulai terjadi, anak-anak biasanya mulai menarik diri dari teman-teman dan dari berbagai kegiatan keluarga, juga sering bertengkar dengan sesama teman bermain. Anak puber lebih sering melamun, dan mulai bereksperimen seks melalui masturbasi. b. Bosan. Dengan datangnya masa puber, anak mulai merasa bosan dengan sesuatu yang berhubungan dengan kegiatan atau hobi yang dilakukan pada masa sebelumnya. Pada masa puber ini biasanya terjadi penurunan prestasi belajar. c. Inkoordinasi. Anak akan mengalami ketidakseimbangan gerakan. d. Antagonisme sosial. Anak puber sering tidak mau kerja sama, sering membantah dan menentang. Permusuhan terbuka antara dua seks yang berlainan. Pada umumnya diungkapkan dengan kritik dan komentar-komentar yang cenderung merendahkan. e. Emosi yang meninggi. Kemurungan, merajuk, ledakan amarah yang berlebihan hanya dikarenakan oleh hal-hal sepele. Pada masa ini anak merasa khawatir, gelisah, sedih, cepat tersinggung, dan cepat marah. f. Hilangnya kepercayaan diri. Sebagai akibat terjadinya perubahan fisik pada diri anak pada masa puber ini mengakibatkan anak merasa rendah diri, lebih-lebih bagi anak yang sering mendapat kritik yang bertubi-tubi tentang dirinya. Sikap dan perilaku anak yang berada dalam masa puber tersebut sering mengganggu tugas-tugas perkembangan anak pada fase berikutnya yaitu pada masa remaja, dan sebagai akibatnya anak akan mengalami gangguan dalam menjalani kehidupan pada masa remaja. Beberapa masalah yang dialami oleh remaja: 2.3.1 Masalah Emosi
  9. 9. Secara tradisional masa remaja dianggap sebagai periode “badai dan tekanan” suatu masa dimana ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar. Emosi remaja seringkali sangat kuat, tidak terkendali, dan kadang tampak irasional. Sekolah sebagai lembaga formal yang diberi tugas dan tanggung jawab untuk membantu subjek didik menuju ke arah kedewasaan yang optimal harus mempunyai langkah-langkah konkrit untuk mencegah dan mengatasi masalah emosional ini. Dalam layanan bimbingan dan konseling kelompok anak dapat berlatih bagaimana cara menjadi pendengar yang baik, bagaimana cara mengemukakan masalah, bagaimana cara mengendalikan diri. Melalui wahan kelompok siswa dapat berlatih mengendalikan diri. 2.3.2 Masalah Penyesuaian Diri Salah satu tugas yang paling sulit pada masa remaja adalah yang berhubungan dengan penyesuaian sosial. Untuk mencapai tujuan dari pola sosialisasi dewasa, remaja harus membuat banyak penyesuaian baru. Pada fase ini remaja lebih banyak diluar rumah bersama teman-temannya sebagai kelompok, maka pengaruh teman sebaya dalam segala pola perilaku, sikap, minat, dan gaya hidupnya lebih besar daripada pengaruh dari keluarga. Dalam keadaan demikian, remaja cenderung mengikutinya tanpa memperdulikan berbagai akibat yang akan menimpa dirinya. Kebutuhan akan penerimaan dirinya dalam kelompok sebaya merupakan kebutuhan yang dianggap paling penting. Untuk itu, maka sekolah harus ikut membantu tugas-tugas perkembangan remaja tersebut agar mereka tidak mengalami kesalahan dalam penyesuaian dirinya. Melalui penyediaan sarana dan prasarana serta fasilitas pembinaan bakat dan minat yang baik, lewat kegiatan kurikuler maupun kokurikuler di sekolah, untuk mencegah dan mengatasi kesalahan pergaulan. 2.3.3 Masalah Perilaku Seksual Tugas perkembangan yang harus dilakukan oleh remaja sehubungan dengan kematangan seksualitasnya adalah pembentukan hubungan yang lebih matang dengan lawan jenis dan belajar memerankan peran seks yang diakuinya. Pada masa ini remaja sudah mulai tertarik pada lawan jenis, mulai bersifat romantis, yang diikuti oleh keinginan yang kuat unuk memperoleh dukungan dan perhatian dari lawan jenis, sebagai akibatnya, remaja mempunyai minat yang tinggi pada seks. Seharusnya mereka mencari
  10. 10. atau memperoleh informasi mengenai seluk beluk seks dari orang tua, tetapi kenyataannya mereka lebih banyak mencari informasi dari sumber-sumber yang kadang tidak dapat dipertanggunggjawabkan yang kadang lebih menjurus ke pornografi. Sebagai akibatnya, dapat menimbulkan perilaku seks remaja yang apabila ditinjau dari segi moral dan kesehatan tidak layak untuk dilakukan, seperti ciuman, bercumbu, masturbasi, dan bersenggama. Bahkan hubungan seks di luar nikah dianggap “benar” apabila orang-orang yang terlibat saling mencintai dan saling merasa terikat. (Hurlock, 1980:229).
  11. 11. BAB III PENUTUP 3.1 Simpulan Pada hakekatnya, setiap manusia senantiasa ingin mewujudkan kebahagiaan dalam hidupnya. Akan tetapi pada kenyataannya, manusia sangat mungkin menemui berbagai permasalahan yang dapat menghambat dan menggangu tercapainya kebahagaiaan tersebut. Demikian juag bagi subjek didik yang berada pada tingkat pendidikan sekolah menengah yang sedang berada dalam fase masa perkembangan remaja juga mengalami berbagai permasalahan hidup, yang apabila dibiarkan akan mengganggu dan menghambat tercapainya tujuan pendidikan yang sedang dilaluinya. Terdapat berbagai jenis masalah yang dialami oleh siswa sekolah menengah, diantaranya adalah masalah yang berhubungan dengan dimensi- dimensi kehidupan remaja, yaitu masalah yang bersifat individualitas, sosialitas moraritas, dan keagamaan serta ketakwaan. Dengan demikian, kehadiran layanan bimbingan dan konseling (BK) dalam sekolah, khususnya pada sekolah menengah ini sangat bermanfaat demi tercapainya kehidupan peserta didik yang lebih baik dan agar peserta didik mampu mengoptimalkan potensi yang dimilikinya. Namun, kewenangan seorang konselor untuk membantu konselinya dalam menyelesaikan masalah berada dalam kriteria masalah yang masih normal, bukan kriteria masalah yang sudah abnormal. 3.2 Saran Sebagai seorang guru harus memahami jenis-jenis masalah yang dihadapi siswa di sekolah menengah agar mampu membantu siswa dalam menyelesaikan masalahnya. Harapanya bimbingan dan konseling yang diberikan kepada siswa mampu menjadikan siswa untuk berperilaku mandiri, sehingga siswa tidak senantiasa menggantukan dirinya kepada orang lain.
  12. 12. DAFTAR PUSTAKA Mugiarso, Heru. 2011. Bimbingan dan Konseling. Semarang: Pusat Pengembangan MKU/MKDK-LP3 UNNES. Supriyo dkk. 2003. Bimbingan dan Konseling. Semarang: Perc. Swadaya Manunggal Semarang.

×