Fonologi

14,739 views

Published on

Published in: Education
1 Comment
7 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
14,739
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
286
Actions
Shares
0
Downloads
743
Comments
1
Likes
7
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Fonologi

  1. 1. Kedudukan Fonologi dalam Linguistik Mikrolinguistik  Fonetik o Fonologi  Teori linguistik  Fonemik o Morfologi  Linguistik deskriptif o Sintaksis  Linguistik historis o Semantik komparatifLinguistik Makrolinguistik  Fonetik  Psikolinguistik  Sosiolinguistik  Dsb.
  2. 2.  Istilah FONOLOGI berasal dari kata FON yang berarti bunyi dan LOGOS yang berarti ilmu pengetahuan FONOLOGI adalah ilmu yang mempelajari bunyi (bahasa), yaitu bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia
  3. 3. Pembagian Bidang Fonologi Fonologi dibagi dalam dua bidang yaitu Fonetik dan Fonemik Fonetik adalah ilmu yang mempelajari pembentukan bunyi bahasa Fonemik adalah ilmu yang mempelajari bunyi bahasa sebagai pembeda arti
  4. 4. Pembagian Fonetik Fonetik dibedakan atas tiga jenis, yaitu: Fonetik Artikulatoris, Fonetik Akustis, dan Fonetik Auditoris Fonetik artikulatoris mempelajari mekanisme alat bicara manusia Fonetik akustis mempelajari bunyi sebagai gejala fisis Fonetik auditoris mempelajari mekanisme telinga menerima bunyi bahasa
  5. 5. FONETIK ARTIKULATORIS Alat ucap manusia yang pokok adalah PARU-PARU sebagai sumber udara, PITA SUARA, ALAT UCAP (LIDAH, BIBIR, DSB.)
  6. 6. 3 BAGIAN BESAR ALAT UCAP
  7. 7. Proses Terjadinya Bunyi Bahasa1. Udara mengalir melalui paru-paru2. Udara digetarkan pada bagian pita suara (proses fonasi)3. Udara keluar melalui rongga mulut atau rongga hidung dengan/tanpa hambatan
  8. 8. Arus Udara Arus udara adalah sumber energi utama bagi pembentukan bunyi bahasa Arus udara ada dua macam, yaitu: ARUS UDARA INGRESIF dan ARUS UDARA EGRESIF
  9. 9. Pita Suara Pita suara digetarkan oleh udara yang keluar atau masuk dalam paru-paru Terletak pada pangkal tenggorok (laring) Pita suara dapat MEMBUKA, MEMBUKA LEBAR, MENUTUP, dan MENUTUP RAPAT Celah antara sepasang pita suara disebut GLOTIS
  10. 10. Epiglotis (katup Pangkal Tenggorok) Berfungsi untuk melindungi masuknya makanan atau minuman ke batang tenggorok Tidak mempunyai peran dalam pembentukan bunyi bahasa
  11. 11. Rongga Kerongkongan (faring) Terletak di antara pangkal tenggorok dengan rongga mulut dan rongga hidung Berfungsi sebagai saluran makanan dan minuman Berperan sebagai tabung udara yang ikut bergetar bila pita suara bergetar
  12. 12. Langit-langit Lunak (Velum) Bagian ujung langit-langit lunak disebut uvula(anak tekak) yang dapat turun naik Dalam keadaan bernapas normal, langit- langit lunak beserta anak tekak menurun sehingga udara dapat keluar masuk melalui rongga hidung
  13. 13. KLASIFIKASI BUNYI BAHASA Ada tidaknya gangguan (vokal, konsonan, semi vokal) Arah udara (egresif dan ingresif) Pita suara (bunyi bersuara, bunyi tak bersuara) Saluran lewatan udara (oral, nasal, sengau) Mekanisme artikulasi (bilabial, dental,dsb) Cara gangguan (stop hambat, alir, frikatif, dsb)
  14. 14. KLASIFIKASI BUNYI BAHASA Tinggi rendahnya lidah (bunyi tinggi, agak tinggi, tengah, agak rendah, rendah) Maju mundurnya lidah (bunyi depan, pusat, belakang)
  15. 15. BUNYI VOKAL Bunyi yang dihasilkan tanpa melibatkan penyempitan atau penutupan pada daerah artikulasi (Muslich, 2008) Bunyi yang dihasilkan tanpa hambatan pada alat bicara, jadi tidak ada artikulasi. Hambatan pada bunyi vokal hanya terjadi pada pita suara saja
  16. 16. VOKAL KARDINAL Daniel Jones, seorang ahli fonetik dari Inggris memperkenalkan sistem vokal kardinal (cardinal vowels) Vokal kardinal ialah bunyi-bunyi vokal yang mempunyai kualitas bunyi tertentu, keadaan lidah tertentu, dan bentuk bibir tertentu. Vokal kardinal digunakan sebagai acuan perbandingan dalam deskripsi vokal semestaan bahasa di dunia
  17. 17. VOKAL KARDINAL
  18. 18. VOKAL BAHASA INDONESIA
  19. 19. KLASIFIKASI VOKAL Tinggi rendahnya lidah Bagian lidah yang bergerak Striktur Bentuk bibir
  20. 20. Tinggi Rendahnya Lidah Vokal tinggi, misal: i, u Vokal madya, misal: e, E, o, O Vokal rendah, misal: a
  21. 21. Bagian Lidah yang Bergerak Vokal depan, misal: i, e, E, a Vokal tengah, misal: Vokal belakang, misal: u, o, O, a
  22. 22. STRIKTUR (hubungan artikulator aktif danartikulator pasif) Vokal tertutup, misal: i,u Vokal semi tertutup, misal: e, o Vokal semi terbuka, misal: E,O Vokal terbuka, misal a
  23. 23. BENTUK BIBIR Vokal Bulat, misal: O Vokal netral, misal: a Vokal tak bulat, misal: i, e, E
  24. 24. CONTOH BUNYI VOKAL BAHASA INDONESIA
  25. 25. BUNYI KONSONAN Bunyi yang dihasilkan dengan menghambat arus udara pada sebagian alat bicara, jadi ada artikulasi Apabila proses artikulasi disertai bergetarnya pita suara, menghasilkan konsonan bersuara [b,d, g, j] Apabila proses artikulasi tidak disertai bergetarnya pita suara (glotis terbuka) menghasilkan konsonan tak bersuara [k, p, t, s]
  26. 26. KLASIFIKASI KONSONAN Cara dihambat (artikulasi) Tempat hambatan (tempat artikulasi) Hubungan posisional antara penghambat- penghambatnya atau hubungan antara artikulator aktif dan pasif (striktur) Bergetar tidaknya pita suara
  27. 27. KLASIFIKASI KONSONAN BERDASARKAN CARA ARTIKULASI Konsonan hambat letup, ialah konsonan yang terjadi dengan hambatan penuh arus udara kemudian hambatan itu dilepaskan secara tiba- tiba. Contoh : [p], [b] Konsonan nasal, ialah konsonan yang dibentuk dengan menghambat rapat jalan udara dari paru-paru melalui rongga hidung, namun kemudian anak tekak diturunkan sehingga udara keluar melalui rongga hidung. Contoh: [m], [n]
  28. 28. KLASIFIKASI KONSONAN BERDASARKAN CARA ARTIKULASI Konsonan paduan, ialah konsonan yang terjadi dengan menghambat penuh arus udara dari paru-paru, kemudian hambatan itu dilepaskan dengan cara bergeser pelan-pelan. Konsonan jenis ini tidak ada dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Inggris, misal pada kata rich.
  29. 29. KLASIFIKASI KONSONAN BERDASARKAN CARA ARTIKULASI Konsonan sampingan, ialah konsonan yang dibentuk dengan menutup arus udara di tengah rongga mulut sehingga udara keluar melalui samping. Contoh: [l] Konsonan geseran, ialah konsonan yang dibentuk dengan menyempitkan jalannya arus udara yang dihembuskan dari paru-paru, sehingga jalannya udara terhalang dan keluar dengan cara bergeser. Contoh: [s], [f]
  30. 30. KLASIFIKASI KONSONAN BERDASARKAN CARA ARTIKULASI Konsonan getar, ialah konsonan yang dibentuk dengan menghambat jalannya udara yang dihembuskan dari paru-paru secara berulang- ulang dan cepat. Contoh: [r] Konsonan sentuhan, ialah konsonan yang pembentukannya hampir sama dengan getar, tetapi proses bergetar itu hanya terjadi satu kali. Dalam bahasa Indonesia, konsonan jenis ini tidak ada. Contoh: perro (artinya anjing, bahasa Spanyol)
  31. 31. KLASIFIKASI KONSONAN BERDASARKAN TEMPAT ARTIKULASI Konsonan bilabial, ialah konsonan yang artikulator aktifnya ialah bibir bawah dan artikulator pasifnya ialah bibir atas. Contoh: [p], [b]. Konsonan apikodental, ialah konsonan yang artikulator aktifnya ialah ujung lidah dan artikulator pasifnya ialah gigi atas. Contoh: [t], [d]
  32. 32. KLASIFIKASI KONSONAN BERDASARKAN TEMPAT ARTIKULASI Konsonan apikoalveolar ialah konsonan yang artikulator aktifnya ialah ujung lidah dan artikulator pasifnya adalah gusi (lengkung kaki gigi). Contoh: [l], [n] Konsonan apikopalatal ialah konsonan yang artikulator aktifnya ialah ujung lidah dan artikulator pasifnya ialah langit-langit keras. Contoh: [D], pada kata madu
  33. 33. KLASIFIKASI KONSONAN BERDASARKAN TEMPAT ARTIKULASI Konsonan mediopalatal ialah konsonan yang artikulator aktifnya ialah tengah lidah dan artikulator pasifnya ialah langit-langit keras. Contoh: [c, j]. Konsonan dorsovelar ialah konsonan yang artikulator aktifnya ialah pangkal lidah dan artikulator pasifnya langit-langit lunak. Contoh: [k,g]
  34. 34. KLASIFIKASI KONSONAN BERDASARKAN TEMPAT ARTIKULASI Konsonan hamzah (glottal stop), ialah konsonan yang pembentukannya terjadi karena pita suara merapat (glotis tertutup rapat) dan kemudian secara tiba-tiba dipisahkan (terbuka). Contoh: [?] Konsonan laringal, ialah konsonan yang artikulatornya adalah sepasang pita suara. Udara yang dihembuskan dari paru-paru pada waktu melewati glotis digeserkan. Glotis dalam posisi terbuka (lebih sempit daripada saat bernafas normal). Contoh [h]
  35. 35. BUNYI SEMI-VOKAL Bunyi semi-vokal secara praktis termasuk konsonan. Contoh: [w] proses pembentukannya menyerupai [u], namun bibir yang membentuk bundaran dipersempit sehingga arus udara hampir terhambat (labialisasi) Semi-vokal [y] proses pembentukannya menyerupai [i], namun posisi lidah dinaikkan terlalu tinggi ke arah langit-langit keras (palatalisasi)
  36. 36. BUNYI DIFTONG Diftong (vokal rangkap) adalah dua buah vokal yang dibunyikan dalam kesatuan waktu Diftong ada dua macam, yaitu diftong naik dan diftong turun Dalam bahasa Indonesia hanya terdapat diftong naik [ai, oi, au] Contoh diftong lain: oi, ai, ui (bahasa Madura), ua, uo, ue (bahasa Jawa)
  37. 37. BUNYI KLUSTER Kluster (konsonan rangkap) adalah dua atau tiga konsonan yang dibunyikan dalam kesatuan waktu. Pola bunyi dalam bahasa Indonesia sebenarnya tidak mengenal kluster. Kluster yang digunakan dalam bahasa Indonesia merupakan serapan. Contoh: [pr], [tr], [fr], [bl], [kl], [kw], [dw], [sw], [str], [skr],...
  38. 38. BUNYI SUPRASEGMENTAL Bunyi-bunyi yang menyertai bunyi segmental Bunyi suprasegmental (prosodi) meliputi nada, tekanan, durasi, jeda. Nada menyangkut tinggi rendahnya suatu bunyi Tekanan menyangkut keras lemahnya bunyi diujarkan Durasi menyangkut panjang pendeknya bunyi Jeda menyangkut perhentian (kesenyapan) bunyi
  39. 39. NADA (PITCH) Nada dapat dibedakan atas nada naik, nada datar, nada turun, nada turun naik, nada naik turun Nada dipengaruhi ketegangan pita suara dan getaran pita suara. Semakin tegang, semakin cepat getarannya, nada yang terdengar semakin tinggi Dalam bahasa Indonesia, nada tidak fungsional (tidak membedakan makna)
  40. 40. TEKANAN (STRESS) Tekanan dipengaruhi kekuatan arus udara. Semakin kuat ketegangan arus udara, bunyi terdengar semakin keras. Tekanan dibedakan atas tekanan keras dan tekanan lunak (lemah) Dalam bahasa Indonesia, tekanan tidak membedakan makna dalam tataran kata, tetapi membedakan maksud dalam tataran kalimat.
  41. 41. DURASI Durasi dalam bahasa Indonesia tidak fungsional dalam tataran kata, tetapi fungsional dalam tataran kalimat. Contoh: awas jatuh [awa:s/ jatu:h] saya senang [saya sena:ng]
  42. 42. JEDA Jeda atau perhentian dapat terjadi antarkalimat, antarkata, antarsilaba. Jeda antarsilaba ditandai [+], antarkata [/], antarfrase [//], antarkalimat [#] Dalam bahasa Indonesia, jeda fungsional. Contoh: anak/pejabat yang nakal anak pejabat/ yang nakal
  43. 43. LATIHAN SOAL1. Deskripsikan perbedaan bunyi [t] pada [tari] dan [pantun]2. Mengapa ketika kita mengucapkan kata biar muncul [y] di antara [i] dan [a]?3. Mengapa bunyi awal yang dikuasai seorang anak pada umumnya bunyi bilabial?4. Mengapa nada dalam bahasa Indonesia dikatakan tidak fungsional? Berikan penjelasan beserta contoh.

×