Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Perc 3 kuat medan ligan

2,339 views

Published on

  • Be the first to comment

Perc 3 kuat medan ligan

  1. 1. I. JUDUL PERCOBAAN : “Kekuatan Medan Ligan” II. HARI/TANGGAL PERCOBAAN : Kamis, Oktober 2013, Pukul 13.00 WIB III. SELESAI PERCOBAAN : Kamis, Oktober 2013, Pukul 15.30 WIB IV. TUJUAN PERCOBAAN : - Mempelajari perbedaan kekuatan medan ligan antara ligan amonium dan air - Mengenal cara mencari panjang gelombang pada absorbansi maksimum - Mengenal variabel yang mempengaruhi panjang gelombang V. TINJAUAN PUSTAKA : Suatu ion (atau molekul) kompleks terdiri dari satu atom (ion) pusat dan sejumlah ligan yang terikat erat dengan atom (ion) pusat itu. Jumlah relatif komponen- komponen ini dalam kompleks yang stabil nampak mengikuti stoikiometri yang sangat tertentu, meskipun ini tak dapat ditafsirkan di dalam lingkup valensi yang klasik. Atom pusat ini ditandai oleh bilangan koordinasi, suatu angka bulat, yang menunjukkan jumlah ligan (monodentat) yang dapat membentuk kompleks yang stabil dengan satu atom pusat (Vogel, 1979). Senyawa kompleks telah banyak dipelajari dan diteliti melalui suatu tahapan- tahapan reaksi (mekanisme reaksi) dengan menggunakan ion-ion logam serta ligan yang berbeda-beda. Ligan memiliki kemampuan sebagai donor pasangan elektron sehingga dapat dibedakan atas ligan monodentat, bidentat, tridentat dan polidentat. Dalam kimia koordinasi, NO atau NO2 dapat berperan sebagai ligan sehingga membentuk senyawa kompleks dengan beberapa logam transisi. Beberapa ligan dapat dideretkan dalam suatu deret spektrokimia berdasarkan kekuatan medannya, yang tersusun sebagai berikut : I- < Br- < S2- < SCN- < Cl- < NO3 - < F- < OH- < Oksalat < H2O < NCS- < NH3 < en < bipi < fen < NO2 - < CN- < CO, dengan en = etilendiamin, bipi = 2,2’-bipiridin dan fen = fenantrolin. Ligan NO2 dalam deret spektrokimia lebih kuat dibandingkan ligan-ligan feroin (fenantrolin, bipiridin dan etilendiamin) dan lebih lemah dari ligan CN (Rilyanti et al, 2008). Medan negatif dari ligan disebut dengan medan ligan. Teori medan ligan adalah satu dari teori yang paling bermanfaat untuk menjelaskan struktur elektronik kompleks. Awalnya teori ini adalah aplikasi teori medan kristal pada sistem kompleks. Medan
  2. 2. listrik negatif yang sferik di sekitar kation logam akan menghasilkan tingkat energi total yang lebih rendah dari tingkat energi kation bebas sebab ada interaksi elektrostatik. Interaksi repulsif antara elektron dalam orbital logam dan medan listrik mendestabilkan sistem dan sedikit banyak mengkompensasi stabilisasinya (Saito, 2009). Teori medan kristal menjelaskan ikatan dalam ion kompleks semata-mata dari gaya elektrostatik. Dalam ion kompleks, ada dua jenis interaksi elektrostatik. Salah satunya ialah tarik-menarik antara ion logam positif dan ligan yang bermuatan negatif atau ujung bermuatan negatif dari suatu ligan polar. Inilah gaya yang mengikat ligan dengan logam. Jenis kedua ialah interaksi tolak-menolak elektrostatik antara pasangan elektron bebas pada ligan dan dalam elektron dalam orbital d dari logam itu (Chang, 2004). Dalam teori medan kristal, ligan-ligan direduksi menjadi titik yang bermuatan. Interaksi muatan-muatan titik ini dengan elektron dalam orbital d ion logam akan menaikkan energi semua orbital d, tetapi mereka tidak lagi memiliki energi yang sama. Elektron-elektron dalam orbital dz2 dan dx2-y2 akan mengalami interaksi yang lebih besar dengan muatan-muatan ligan yang mendekatinya daripada elektron-elektron dalam orbital dxy,dxz,dyz. Pertimbangan simetri juga menghasilkan kesimpulan yang sama terhadap orbital-orbital d lainnya. Bila pemisahan tersebut berlaku untuk semua ion kompleks yang terkoordinasi secara oktahedral. 0 (didefinisikan sebagai 10 Dq) menunjukkan perbedaan energi antara tiga orbital setingkat dxy,dyz,dxz dengan dua orbital setingkat dx2-y2, dz2 (Susanto, 2008). Ikatan ligan dengan makromolekul merupakan salah satu topik riset yang menarik saat ini. Pengetahuan tentang ikatan ligan-makromolekul diperlukan dalam mempelajari farmakodinamika zat-zat aktif dan pada perancangan obat baru. Berbagai metoda, seperti dialisis, ultrafiltrasi, spektroskopi, atau khromatografi gel telah digunakan untuk keperluan tersebut. Tujuannya adalah menemukan bahan obat baru berbentuk ligan-ligan pengganti yang dapat bertindak sebagai penguat atau penghambat aktivitas biokimia dari makromolekul target di dalam tubuh (Nauli dan Udin, 2008).
  3. 3. VI. CARA KERJA : a. Alat :  Labu ukur 10 mL 2 buah  Pipet gondok 2 mL 1 buah  Pipet gondok 5 mL 1 buah  Pipet ukur 5 mL 1 buah  Gelas kimia 100 mL 4 buah  Gelas kimia 250 mL 4 buah  Alat-alat gelas lain 2 buah  Spektrofotometer UV-VIS b. Bahan :  Larutan amonium 1 M  Larutan ion Cu2+ 0,1 M c. Alur kerja : 2,0 mL larutan Cu2+ 0,1 M - Dimasukkan ke dalam labu ukur 1 - Diencerkan sampai tanda batas - Diamati serapan larutan pada alat spektrofotometer dengan λ = 700 – 850nm - Jika absorbansi lebih dari 1, lakukan pengenceran sampai absorbansi maks 1 Absorbansi maks 1
  4. 4. 2,0 mL larutan Cu2+ 0,1 M 2,0 mL larutan Cu2+ 0,1 M - Dimasukkan ke dalam labu ukur 2 - Ditambahkan 5 mL larutan amonium 1M - Diencerkan sampai tanda batas - Diamati serapan larutan pada alat spektrofotometer dengan λ = 350 – 700nm - Jika absorbansi lebih dari 1, lakukan pengenceran sampai absorbansi maks 1 - Dimasukkan ke dalam labu ukur 2 - Ditambahkan 2,5 mL larutan amonium 1M - Diencerkan sampai tanda batas - Diamati serapan larutan pada alat spektrofotometer dengan λ = 350 – 700nm - Jikaabsorbansi lebihdari 1,lakukan pengenceran sampai absorbansi maks 1 - Absorbansi maks 1 Absorbansi maks 1
  5. 5. VII. HASIL PENGAMATAN : NO. LANGKAH KERJA HASIL PENGAMATAN DUGAAN REAKSI KESIMPULAN 1. - Larutan Cu2+ 0,1 M : larutan biru kehijauan - Aquades : tidak berwarna - Larutan Cu2+ + aquades : biru kehijauan jernih 𝜆 𝑚𝑎𝑘𝑠 = 809,0 nm Absorbansi = 0,267 10𝐷𝑞 = 107 809 × 1 kkal/mol 349,75cm−1 = 35,367𝑘𝑘𝑎𝑙/𝑚𝑜𝑙 Cu2+ + 6H2O → [Cu(H2O)6]2+ Pada tabung 1, diperoleh absorbansi pada 𝜆 𝑚𝑎𝑘𝑠(809,0 nm) yaitu 0,267 dengan nilai Dq = 35,367 kkal/mol - Dimasukkan ke dalam labu ukur 1 - Diencerkan sampai tanda batas - Diamati serapan larutan pada alat spektrofotometer dengan λ = 700 – 850nm - Jika absorbansi lebih dari 1, lakukan pengenceran sampai absorbansi maks 1 Absorbansi maks 1 2,0 ml larutan Cu2+ 0,1M
  6. 6. 2. - Larutan Cu2+ 0,1 M : biru jernih - Aquades : tidak berwarna - Larutan amonium 1M : tidak berwarna - Larutan Cu2+ + aquades + larutan amonium : biru (+) 𝜆 𝑚𝑎𝑘𝑠 = 605,0 nm Absorbansi = 0,409 10𝐷𝑞 = 107 605 × 1 kkal mol 349,75cm−1 = 47,293 𝑘𝑘𝑎𝑙/𝑚𝑜𝑙 Cu2+ + 6H2O + 4NH3 → [Cu(H2O)6]2+ + 4NH3 → [Cu(H2O)4(NH3)2]2+ Pada tabung 2, diperoleh absorbansi pada 𝜆 𝑚𝑎𝑘𝑠(605,0 nm) yaitu 0,409 dengan nilai Dq = 47,293 kkal/mol - Dimasukkan ke dalam labu ukur 2 - Ditambahkan 5 mL larutan amonium 1M - Diencerkan sampai tanda batas - Diamati serapan larutan pada alat spektrofotometer dengan λ = 350 – 700nm - Jika absorbansi lebih dari 1, lakukan pengenceran sampai absorbansi maks 1 Absorbansi maks 1 2,0 ml larutan Cu2+ 0,1M
  7. 7. 3. - Larutan Cu2+ 0,1 M : biru jernih - Aquades : tidak berwarna - Larutan amonium 1M : tidak berwarna - Larutan Cu2+ + aquades + larutan amonium : biru (++) 𝜆 𝑚𝑎𝑘𝑠 = 604,0 nm Absorbansi = 0,841 10𝐷𝑞 = 107 604 × 1 kkal mol 349,75cm−1 = 47,371 𝑘𝑘𝑎𝑙/𝑚𝑜𝑙 [Cu(H2O)6]2+ + 4NH3 → [Cu(H2O)4(NH3)2]2+ Pada tabung 3, diperoleh absorbansi pada 𝜆 𝑚𝑎𝑘𝑠(604,0 nm) yaitu 0,841 dengan nilai Dq = 47,371 kkal/mol - Dimasukkan ke dalam labu ukur 2 - Ditambahkan 2,5 mL larutan amonium 1M - Diencerkan sampai tanda batas - Diamati serapan larutan pada alat spektrofotometer dengan λ = 350 – 700nm - Jika absorbansi lebih dari 1, lakukan pengenceran sampai absorbansi maks 1 - Absorbansi maks 1 2,0 ml larutan Cu2+ 0,1M
  8. 8. VIII. PEMBAHASAN : Adapun percobaan kekuatan medan ligan kali ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami teori medan kristal dan mampu membedakan kekuatan medan antara ligan ammonia dan air. Perbedaan kekuatan medan ligan tersebut dibedakan melalui penentuan energi 10 Dq. Nilai 10 Dq merupakan energi yang dibutuhkan untuk terjadinya splitting atau pemisahan orbital d atau elektron yang tereksitasi ke tingkat energi yang lebih tinggi ketika diberi energi cahaya. Rumus untuk menghitung Dq adalah sebagai berikut : 10Dq = υ × 1 kkal/mol 349,75cm−1 = 1 λmaks × 1 kkal/mol 349,75cm−1 Percobaan ini dimulai dengan membuat 3 larutan sampel Cu. Perbedaan ketiga larutan tersebut terletak pada komposisi penambahan campuran NH3. Pada larutan pertama, Cu2+ diencerkan hanya dengan air yang nantinya akan membentuk kompleks aquo tembaga (II). Larutan kedua, Cu2+ diencerkan dengan air dan ammonia dengan perbandingan volume 50:50, dan larutan ketiga, Cu2+ diencerkan dengan air dan ammonia dengan perbandingan volume 75:25. Larutan Cu2+ berwarna biru (agak kehijauan), semakin banyak kandungan ammonia yang terkandung dalam larutan kompleks Cu2+, maka warna biru akan semakin pekat terlihat. Hal ini dikarenakan perbedaan tingkat energi orbital atom yang berikatan dalam masing-masing larutan. Warna biru merupakan warna yang menjadi ciri khas dari senyawa kompleks Cu2+. Warna tersebut adalah warna komplementer yang merupakan gelombang cahaya yang tidak diserap. Ketika warna biru yang terlihat, maka warna yang terserap adalah kuning. Sebelum melakukan pengukuran absorbansi sampel dengan alat spektroskopi, terlebih dahulu diukur nilai absorbansi dari larutan blanko. Untuk larutan blanko, komposisinya sama seperti larutan yang dianalisis namun tanpa sampel yang dianalisis. Untuk percobaan ini, larutan blankonya adalah aquades. Larutan blanko dengan absorbansi nol dan transmitansi 100% (tidak menyerap radiasi), digunakan sebagai standar untuk mengukur absorbansi kompleks. - Larutan sampel pertama Untuk larutan sampel pertama berisikan 2,0 mL larutan ion Cu2+ 0,1 M berwarna biru diencerkan dengan aquades, didapatkan larutan tidak berwarna. Reaksi yang terjadi yaitu Cu2+ + 6H2O → [Cu(H2O)6]2+.
  9. 9. Kemudian diukur dengan alat spektrometer UV-VIS untuk mengetahui absorbansi maksimumnya. Jika abrosbansi maksimumnya lebih dari 1, maka dilakukan pengenceran lagi. Didapatkan data sebagai berikut : *Data pengamatan absorbansi Cu(II) dalam air No. λ (nm) Absorbansi 1. 560 0,049 2. 809 0,267 Diperoleh panjang gelombang maksimum pada 809 nm, dengan absorbansi maksimum 0,267. Hal ini telah sesuai dengan teori dimana absorbansi maksimum yaitu rentang 0,1-1,0. Dari panjang gelombang yang telah didapat, akan diketahui nilai dari 10 Dq. Dari rumus diatas, diperoleh harga 10 Dq dari larutan pertama sebesar 35,367 kkal/mol. - Larutan sampel kedua Untuk larutan kedua, Cu2+ dilarutkan dalam air dan ammonia dengan perbandingan volume 50:50 yaitu 5 mL amonia dan sisanya aquades, didapatkan larutan berwarna biru (++). Reaksi yang terjadi pada larutan sampel kedua yaitu : Cu2+ + 6H2O + 4NH3 → [Cu(H2O)6]2+ + 4NH3 → [Cu(H2O)4(NH3)2]2+ *Data pengamatan absorbansi larutan Cu(II) dalam air-amonium (50:50) No λ (nm) Absorbansi 1. 605,0 0,409 Didapatkan nilai absorbansi maksimum dari larutan kedua sebesar 0,409 pada panjang gelombang maksimum 605,0 nm. Dari data panjang gelombang maksimum yang diperoleh, nilai 10 Dq untuk larutan kedua adalah sebesar 47,293 kkal/mol, lebih besar dari nilai 10 Dq pada larutan sampel pertama. Perbedaan nilai 10 Dq antara larutan sampel pertama dan kedua juga diakibatkan dari adanya pasangan elektron bebas pada ligan air dan ammonia. Pada ligan ammonia, terdapat 1 pasang elektron bebas, sedangkan pada ligan air terdapat 2 pasang elektron bebas. Hal tersebut menyebabkan ikatan antara ligan ammonia dengan ion Cu2+ lebih besar sehingga mendapatkan nilai 10 Dq yang lebih yang besar pula, dengan kata lain elektron lebih suka berpasangan terlebih dahulu di
  10. 10. orbital yang mempunyai energi rendah (ammonia) baru menempatkan di orbital yang energinya lebih tinggi (air) dan mengalami hibridisasi. Nilai dari 10 Dq larutan sampel kedua telah sesuai dengan teori, bahwa semakin banyak kandungan ammonia dalam suatu sampel, maka kekuatan ligannya akan lebih kuat. Dan hasil ini sesuai dengan urutan kekuatan medan ligan atau deret spektrokimia, yaitu kekuatan medan ligan air lebih rendah dibandingkan kekuatan medan ligan ammonia. - Larutan sampel ketiga Larutan sampel yang ketiga sama dengan sampel yang kedua, hanya komposisi perbandingan air dan amoniumnya yang berbeda yaitu 72:25. Pada larutan sampel yang ketiga, komposisi air lebih banyak daripada amonia. Dapat diduga bahwa nilai 10Dq untuk larutan ketiga ini lebih kecil daripada larutan kedua yang komposisi amonianya lebih banyak. Reaksi yang terjadi pada larutan sampel ketiga yaitu : [Cu(H2O)6]2+ + 4NH3 → [Cu(H2O)4(NH3)2]2+ Didapatkan data sebagai berikut ini : *Data pengamatan absorbansi larutan Cu(11) dalam air-amonium (75:25) Warna dari larutan sampel ketiga adalah biru (+), tapi tidak pekat seperti larutan kedua, melainkan biru muda. Diperoleh nilai absorbansi maksimum sebesar 0,841 pada panjang gelombang maksimum 604,0 nm. Dan harga 10 Dq yang diperoleh sebesar 47,371 kkal/mol. Hasil tersebut tidak sesuai dengan teori karena seharusnya nilai 10 Dq dari larutan ketiga lebih kecil daripada larutan kedua. Hal ini dikarenakan kadar ammonia dalam larutan ketiga lebih sedikit dibanding larutan kedua. Apabila konsentrasi NH3 yang ditambahkan sedikit maka absorbansinya yang maksimum terletak pada panjang gelombang yang lebih tinggi daripada dengan penambahan NH3 dalam jumlah banyak. Sehingga perhitungan 10Dq nya seharusnya lebih rendah daripada larutan yang kedua. No λ (nm) Absorbansi 1. 604,0 0,841
  11. 11. Selain itu, seharusnya semakin kuat medan ligan (ditandai dengan semakin banyaknya kadar ammonia), maka semakin kecil panjang gelombang yang diserap, sehingga semakin besar nilai 10 Dq yang diperoleh. IX. DISKUSI : Pada sampel larutan ketiga, NH3 yang dicampurkan lebih sedikit daripada larutan sampel kedua namun nilai 10 Dqnya lebih besar dari yang penambahan banyak NH3. Hal ini mungkin disebabkan karena adanya reaksi kimia lain yang terjadi pada larutan ketiga. Mungkin reaksi dari zat pengotor yang berasal dari air sebagai larutan blanko dan sebagai larutan yang digunakan untuk pengenceran. X. KESIMPULAN : - Kekuatan medan ligan dari amonia lebih besar daripada ligan air. Hal ini terlihat dari nilai Dq larutan yang mengandung ligan amonia lebih besar daripada larutan yang mengandung ligan air saja. Untuk larutan kedua dan ketiga, yaitu larutan yang sama-sama mengandung ligan amonia hanya komposisinya yang berbeda, semakin banyak komposisi amonia, nilai Dq semakin besar. - Diperoleh hasil absorbansi untuk panjang maksimum sebagai berikut : 1. Untuk larutan pertama, diperoleh panjang maksimum yaitu 809 nm dengan absorbansi 0,267 2. Untuk larutan kedua, diperoleh panjang maksimum 605 nm dengan absorbansi 0,409 3. Untuk larutan ketiga, diperoleh panjang maksimum 604 nm dengan absorbansi 0,841 - Variabel yang mempengaruhi panjang gelombang maksimum adalah adanya ligan dalam larutan tersebut; baik dilihat pada jenisnya serta komposisi ligan dalam larutan. XI. JAWABAN PERTANYAAN : 1. Jelaskan perbedaan kekuatan medan ligan antara ligan amonium dan air ! Jawab : Ligan air mempunyai 2 pasangan elektron bebas, sedangkan ligan amonium hanya memiliki 1 pasang elektron bebas. Ligan dengan banyak pasangan elekton bebas
  12. 12. mempunyai medan ligan lebih lemah daripada ligan dengan pasangan elektron bebas yang sedikit. Hal ini dikarenakan, untuk ligan dengan pasangan elektron bebas sedikit, mengakibatkan interaksi dengan ion pusat atau ion logam lebih besar. 2. Tuliskan reaksi yang terjadi dalam percobaan tersebut ! Jawab : - Pada larutan sampel yang pertama, reaksi yang terjadi adalah : Cu2+ + 6H2O → [Cu(H2O)6]2+ - Pada larutan sampel yang kedua, reaksi yang terjadi adalah : Cu2+ + 6H2O + 4NH3 → [Cu(H2O)6]2+ + 4NH3 → [Cu(H2O)4(NH3)2]2+ - Pada larutan sampel yang ketiga, reaksi yang terjadi adalah : [Cu(H2O)6]2+ + 4NH3 → [Cu(H2O)4(NH3)2]2+ 3. Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi warna ion kompleks logam transisi ? Jawab : Warna mungkin timbul karena adanya perbedaan ion pada kulit d dan f yang tidak terisi penuh. Dan juga adanya transfer energi. Warna-warna cerah yang terlihat pada kebanyakan senyawa koordinasi dapat dijelaskan dengan teori medan kristal. Jika orbital-d dari sebuah kompleks berpisah menjadi dua kelompok, maka ketika molekul tersebut menyerap foton dari cahaya tampak, satu atau lebih elektron yang berada dalam orbital tersebut akan meloncat dari orbital d yang berenergi lebih rendah ke orbital-d yang berenergi lebih tinggi, menghasilkan keadaam atom yang tereksitasi. Perbedaan energi antara atom yang berada dalam keadaan dasar dengan yang berada dalam keadaan tereksitasi sama dengan energi foton yang diserap dan berbanding terbalik dengan gelombang cahaya. Karena hanya gelombang- gelombang cahaya (λ) tertentu saja yang dapat diserap (gelombang yang memiliki energi sama dengan energi eksitasi), senyawa-senyawa tersebut akan memperlihatkan warna komplementer (gelombang cahaya yang tidak terserap). Seperti yang dijelaskan di atas, ligan-ligan yang berbeda akan menghasilkan medan kristal yang energinya berbeda-beda pula, sehingga kita bisa melihat warna-warna.
  13. 13. 4. Gambarlah grafik panjang gelombang terhadap absorbansi dari masing-masing pengamatan Anda ! 5. Hitunglah besar energi Dq ketiga larutan tersebut (gunakan persamaan 1, lihat contoh perhitungan energi kompleks Ti) ! - Besar Dq pada larutan sampel yang pertama : 10Dq = υ × 1 kkal/mol 349,75cm−1 = 1 λmaks × 1 kkal/mol 349,75cm−1 - Besar Dq pada larutan sampel yang kedua : 10Dq = υ × 1 kkal/mol 349,75cm−1 = 1 λmaks × 1 kkal/mol 349,75cm−1 - Besar Dq pada larutan sampel yang ketiga : 10Dq = υ × 1 kkal/mol 349,75cm−1 = 1 λmaks × 1 kkal/mol 349,75cm−1 6. Dari hasil percobaan yang Anda lakukan, apa yang dapat Anda simpulkan ?  Kekuatan medan ligan dari amonia lebih besar daripada ligan air. Hal ini terlihat dari nilai Dq larutan yang mengandung ligan amonia lebih besar daripada larutan yang mengandung ligan air saja. Untuk larutan kedua dan ketiga, yaitu larutan yang sama-sama mengandung ligan amonia hanya komposisinya yang berbeda, semakin banyak komposisi amonia, nilai Dq semakin besar.  Diperoleh hasil absorbansi untuk panjang maksimum sebagai berikut : - Untuk larutan pertama, diperoleh panjang maksimum yaitu 809 nm dengan absorbansi 0,267 - Untuk larutan kedua, diperoleh panjang maksimum 605 nm dengan absorbansi 0,409 - Untuk larutan ketiga, diperoleh panjang maksimum 604 nm dengan absorbansi 0,841  Variabel yang mempengaruhi panjang gelombang maksimum adalah adanya ligan dalam larutan tersebut; baik dilihat pada jenisnya serta komposisi ligan dalam larutan.
  14. 14. XII. DAFTAR PUSTAKA : Amaria, dkk. 2013. Penuntun Praktikum Kimia Anorganik III Unsur – Unsur Golongan Transisi.Surabaya : Laboratorium Kimia Anorganik, Jurusan Kimia, Fakultas MIPA, Unesa. Hadiyanti, Meiliana R. 2011. Kekuatan Medan Ligan. http://mel- rizky.blogspot.com/2011/11/kekuatan-medan-ligan.html diakses 14 Oktober 2013, pukul 09.20 wib. Huheey, James E., Keiter, Ellen A., Keiter, Richard L. 1993. Inorganic Chemistry : Coordination Compound. Lee JD., (1994), Concise Inorganic Chemistry, 4 th ed, Chapman & Hall, London.
  15. 15. LAMPIRAN Bahan 2 ml larutan Cu2+ 0,1 M 2 ml larutan Cu2+ 0,1 M 2 ml larutan Cu2+ 0,1 M 2ml larutan Cu2+ 0,1 M + 5 ml larutan ammonium 1 M 2 ml larutan Cu2+ 0,1 M
  16. 16. 2ml larutan Cu2+ 0,1 M + 2,5 ml larutan ammonium 1 M larutan ion Cu2+ 0,02 M (setelah diencerkan dengan air) Perbandingan blangko, tabung 1, tabung 2, dan tabung 3

×