BAB I                                PENDAHULUAN1.1 Latar belakang masalah         Mendekatkan diri kehadapan Tuhan merupa...
diri ), upavasta ( puasa ), Tuhan Yang Maha Esaakan menganugerahkan karunianya.Sebaliknya mereka yang tidak mengerti dan p...
Sembahyang merupakan salah satu jalan untuk mendekatkan diri dengan IdaSang Hyang Widhi Wasa. Sembahyang dilakukan dengan ...
Setiap orang ingin mendekatkan diri pada Tuhan. Ada yang mendekatkan diridengan Karma Marga ada yang dengan Jnana Marga da...
saja, oleh siapa saja. Agar persembahyangan itu berjalan dengan baik maka perlu   adanya pedoman untuk itu. Dari uraian te...
BAB II                                PEMBAHASAN2.1 Pengertian Kramaning Sembah dalam Persembahyangan         Dalam Hindu ...
Tata cara dan urutan-urutan atau rangkaian sembahyang dalam Hindu lebihdikenal dengan sebutan Kramaning Sembah. Sembahyang...
Didalam bhagawadgita, yoga atau Samadhi dinyatakan sebagai salah satubentuk persembahyangan yang dapat pula dilakukan oleh...
2.2 Persiapan Persembahyangan         Persiapan sembahyang meliputi persiapan lahir dan persiapan batin. Persiapan   lahir...
semut, bunga yang layu, yaitu bunga yang lewat masa mekarnya, bunga yang       tumbuh dikuburan. Itulah jenis-jenis bunga ...
Kramaning Sembah atau ada juga yang menyebutkan dengan Panca Sembah.Kramaning Sembah biasanya dilakukan setelah melakukan ...
Dewata yang diinginkan kehadiran-Nya pada waktu memuja. Istadewata  adalah perwujudan Tuhan Yang Maha Esa dalam berbagai w...
5) Sembah Puyung Penutup        Mantra :             Om dewa suksma parama cintya ya namah swaha             Om santih, sa...
Widhi dan memohon sinar suci-Nya dan tuntunan-Nya menghadapi masalah. Namun, ikut me-mantram tidak dilarang jika umat itu ...
meningkatkan cinta kasih kepada sesama. Membenci orang lain sama saja denganmembenci diri sendiri karena Jiwatman yang ada...
BAB III                                 PENUTUP3.1 SIMPULAN   Dari pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa,  1. Kramaning...
Dengan doa (Upasana) berarti kita mendekatkan diri kepada-Nya. Doa           menumbuhkembangkan kasih saying yang tulus (P...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Makalah kramaning sembah

7,916 views

Published on

1 Comment
1 Like
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
7,916
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
4
Actions
Shares
0
Downloads
79
Comments
1
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Makalah kramaning sembah

  1. 1. BAB I PENDAHULUAN1.1 Latar belakang masalah Mendekatkan diri kehadapan Tuhan merupakan kewajiban setiap insan yang beragama. Banyak cara dapat kita lakukan untuk memuja Tuhan. Berbagai bentuk dan aktivitas keagamaan adalah merupakan pengejewantahan atau pengalaman ajaran agama dalam rangka peningkatan kesejahteraan dan kualitas spiritual kita. Salah satu usaha yang patut dilakukan khususny oleh umat Hindu, disamping sembahyang rutin, melaksanakan puja Trisandya adalah juga melakukan doa. Doa adalah usaha yang amat sederhana dan bila dilakukan dengan khusuk akan membnerikan pahala yang besar . Manusia sebagaimana dinyatakan dalam kitab suci Bhagawadgita, adnyana XIII sloka 8 terikat oleh keduniawian berupa kelahiran ( janma ), kematian ( mrtyu ), umur tua ( jara ), penyakit ( vyadhi ), penderitaan lahir dan batin ( dukha ) dan kesalahan ( dosa ). Setiap orang akan mengalami kematian, ia akan hidup pada batas umur tertentu, bahkan ada yang mencapai usia tua. Penyakit senantiasa menggerogoti manusia, demikian pula penderitaan dan dosa, karena kesengajaan atau tidak. Dunia material ini membelenggu setiap orang. Seseorang yang tidak tanggap atau tidak mengerti kenyataan ini menjadi terombang-ambing dalam samudra hidup maha luas. Tidak sedikit yang terhempas, jatuh dan terlempar ke jurang kenistaan yang sangat gelap. Pada saat itu mereka yang sedikit memiliki kepekaan rohani akan menjerit memanggil Tuhan Yang Maha Esa un tuk memohon pertolongan. Hal ini adalah wajar, karena Tuhan sesungguhnya adalah Ibu dan Bapak kita yang sejati, Ia adalah sahabat dan saudara terdekat. Bila kita mampu untuk senantiasa menumbuhkan sikap bakti, menyucikan pribadi kita melalui berbagai Sadhana ( latihan rohani ), seperti vrata ( pengendalian 1
  2. 2. diri ), upavasta ( puasa ), Tuhan Yang Maha Esaakan menganugerahkan karunianya.Sebaliknya mereka yang tidak mengerti dan pada dirinya tidak dilingkupi rasa bakti,tidak iklas menghadapi persoalan hidup, kadang-kadang ptus asa, hanyut oleh emosi,ambisi dan nafsu. Didalam Bhagawadgita XVI sloka 21 dijelaskan :Tri-vidham narakasyedamDvaram nasanam atmanahKamah krodhas tathaLobhas tasmad etat trayam trajetArtinya ;Inilah tiga pintu gerbang menuju neraka, jalan julang kehancuran diri, yaitu nafsu(kama), amarah (krodha), ambisi (lobha), setiap orang harus meninggalkan sifat ini. Untuk dapat menghindarkan diri dari berbagai cobaan dan ujian hidup, kitaharus berpegang, memahami, berpedoman dan mengamalkan ajaran agama denganbaik. Berbagai bentuk pengalaman ajaran agama dapat dilakukan antara lain denganberbuat baik,mengembangkan kasih saying, jujurr, hormat kepada orang tua dankepada guru, menghindarkan diri dari segala perbuatan tercela, tekun melaksanakansembahyang dan rajin berdoa. Salah satu dari ajaran Tri Hita Karana adalah hubungan harmonis antaramanusia dengan Tuhan. Hubungan harmonis tersebut sangat diperlukan karena sangAtman yang bersemayam di tubuh atau raga manusia adalah percikan terkecil dariParamatman yaitu Ida Hyang Widhi. Namun kesucian Atman selalu diselimuti olehkekotoran yang diakibatkan oleh tidak terkendalinya Tri Guna, Sad Ripu, PancaIndriya, dan Sapta Timira yang ada pada diri manusia. Untuk menyucikan Atmanagar bersinar lagi dapat dapat bersatu lagi dengan sumbernya, maka manusia harusberusaha mengendalikan segala faktor negatif yang menyengsarakan hidup manusiasehingga akan tercapai kebahagiaan yang tiada tara yaitu Mokhsartam Jagadhitam YaCa Iti Dharma. Salah satu caranya adalah dengan bersembahyang. 2
  3. 3. Sembahyang merupakan salah satu jalan untuk mendekatkan diri dengan IdaSang Hyang Widhi Wasa. Sembahyang dilakukan dengan sikap percaya penuh, lugudan penyerahan diri ketulusan dan tentunya tingkat kesucian pribadi masing-masing.Seseoreang memiliki kesucian pribadi yang murni, tentunya bila sembahyang dengankhusuk akan lebih berhasil bila dibandingkan dengan mereka yang pribadinyadiocemari oleh sifat-sifat jahat, tidak jujur dan angkuh. Dalam veda juga disiratkan mengenai cara-cara lain untuk mendekatkan diridengan Tuhan, seperti dengan “Jnana” yaitu mendalami ilmu pengetahuan,melaksanakan tapa, brta, yoga dan Samadhi raja, berbuat ( karma ), dan sujud bhaktiyoga. Mengenai cara mendekatkan diri dengan Tuhan ini disebutkan dalam kitabBhagawadgita XII. 2 yang bunyinya sebagai berikut:Sribhagavan uvachaMany avesya mano ye mani nityayukta upasateSraddhaya prayo petas te me yuktatama matahArtinya:Sribhagawan berkata : yang menyatukan pikiran berbhakti kepada-Ku, menyembahAku, dan tawakal selalu memiliki kepercayaan yang sempurna, merekalah yang-Kupandang terbaik dalam yoga. Petikan sloka di atas menjelaskan bahwa Tuhan akan memberikan penghargaanyang tinggi kepada setiap umat yang mau mengabdikan diri, menyerahkan diri secaratotal dan melaksanakan sujud bhakti kepada Tuhan. Pahala yang diterima oleh orangyang melaksanakan pemujaan secara penuh kepada-Nya adalah pahala yang tertinggi.Jalan bhakti dan upasana adalah jalan yang paling mudah dan paling umumdilaksanakan dalam masyarakat. Caranya adalah dengan melakukan pemujaan kepadaHyang Widdhi dan yakin bahwa yang dipuja (Hyang Widhi) itu ada serta merasa dirijauh dari kesempurnan. 3
  4. 4. Setiap orang ingin mendekatkan diri pada Tuhan. Ada yang mendekatkan diridengan Karma Marga ada yang dengan Jnana Marga dan ada pula dengan BhaktiMarga. Bentuk pelaksanaan mendekatkan diri tersebut ialah dengan memuja Tuhan.Pemujaan itu ada yang dilaksanakan dalam bentuk material ada dalam bentuk kata-kata dan ada dalam bentuk pikiran. Pemujaan dalam bentuk material ialah berupa persembahan banten yangmemerlukan kerja phisik dalam mewujudkan sedangkan pemujaan dalam bentukkata-kata berupa nyanyian-nyanyian pujaan dan dengan pikiran adalah dalam wujudmeditasi. Kenyataannya dalam pelaksanaan ketiga jenis bentuk pemujaan itu salingisi mengisi. Misalnya dalam sembahyang kita mempergunakan nyanyian pujaan,upakara dalam bentuk banten dan pemusatan pikiran. Sembahyang adalah suatu bentuk kegiatan keagamaan yang menghendakiterjalinnya hubungan dengan Tuhan, dewa, roh atau kekuatan gaib yang dipuja,dengan melakukan kegiatan yang disengaja. Sembahyang dapat dilakukan secarabersama-sama atau perseorangan. Dalam beberapa tradisi agama, sembahyang dapatmelibatkan nyanyian berupa hymne, tarian, pembacaan naskah agama dengandinyanyikan atau disenandungkan, pernyataan formal kredo, atau ucapan spontan dariorang yang berdoa. Seringkali sembahyang dibedakan dengan doa, doa lebih bersifat spontan danpersonal, serta umumnya tidak bersifat ritualistik. Meskipun demikian padahakikatnya aktivitas ini sama, yakni sebuah bentuk komunikasi antara manusiadengan Tuhannya. Kebanyakan agama menggunakan salah satu cara dalam melaksanakan ritualpersembahyangannya. Beberapa agama meritualkan kegiatan ini dengan menerapkanberbagai aturan seperti waktu, tata cara, dan urutan sembahyang. Ada juga yangmenerapkan aturan ketat mengenai apa saja yang harus disediakan, misalnya bendapersembahan atau sesaji, serta kapan ritual itu harus dilakukan. Sementara beberapapandangan lainnya memandang berdoa atau bersembahyang dapt dilakukan kapan 4
  5. 5. saja, oleh siapa saja. Agar persembahyangan itu berjalan dengan baik maka perlu adanya pedoman untuk itu. Dari uraian tersebut timbulah suatu permasalahan yaitu bagaimana tata cara dan urutan sembahyang yang benar didalam persembahyangan agama Hindu di Bali pada khususnya.1.2 Rumusan Masalah Bertitik tolak dari latar belakang masalah tersebut diatas, maka sangat perlu untuk membuat suatu rumusan masalah agar tidak terlepas dari alur permasalahanmya yang akan dibahas. Adapun pokok permsalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah : 1.2.1 Apakah yang dimaksud dengan kramaning sembah? 1.2.2 Apa tujuan dari kramaning sembah bagi umat Hindu? 1.2.3 Bagaimana urutan kramaning sembah pada waktu persembahyangan ?1.3 Tujuan Pembuatan Makalah Adapaun tujuan dari penulisan makalah ini adalah : 1.3.1 Untuk mengetahui makna dari kramaning sembah. 1.3.2 Untuk mengetahui tujuan dari kramaning sembah bagi umat hindu. 1.3.3 Untuk mengetahui bagaimana urutan dari kramaning sembah pada waktu persembahyangan. 5
  6. 6. BAB II PEMBAHASAN2.1 Pengertian Kramaning Sembah dalam Persembahyangan Dalam Hindu terdapat berbagai macam persembahyangan, doa (Sanskerta: prārthanā) atau puja. Dilakukan berdasarkan beberapa hari suci dalam agama Hindu atau pemujaan pada dewa atau arwah yang dihormati. Persembahyangan dapat dilakukan dalam kuil keluarga maupun pura di lingkungannya. Ritual terkadang melibatkan api atau air sebagai lambang kesucian. Pembacaan suatu bait mantra terus menerus dengan notasi dan waktu tertentu, atau juga meditasi dalam yang diarahkan pada dewa yang dituju. Pemujaan dalam Hindu dapat ditujukan kepada arwah seseorang suci yang dimuliakan, dewata, salah satu atau seluruh Trimurti; dewa tertinggi dalam Hinduisme perwujudan Tuhan, atau meditasi untuk mencapai kebijaksanaan sejati, mencari ketiadaan tak berbentuk seperti yang dilakukan para resi dan orang suci pada dahulu kala. Kesemuanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan spiritual pribadi atau mencapai pencerahan spiritual. Hindu dapat bersembahyang kepada kebenaran dan keberadaan absolut tertinggi yang disebut Brahman, atau secara umum ditujukan kepada salah satu manifestasinya dalam Trimurti, yakni Brahma sebagai dewa pencipta, Wishnu sebagai dewa pemelihara, Shiwa sebagai dewa penghancur. Atau diarahkan pada Awatara, penitisan Wishnu di atas bumi yaitu Rama dan Krishna. Pemujaan juga dapat ditujukan pada shakti dewa, yakni dewi-dewi pasangan sang dewa. Umat Hindu biasanya bersembahyang dengan mengatupkan kedua telapak tangan dengan khidmat yang disebut pranam dalam bahasa Sanskerta. Akan tetapi sembahyang tidak semata-mata hanya mencakupkan tangan semata, tetapi lebih dari itu. Sembahyang memerlukan tata cara dan aturan yang sesuai ditetapkan oleh agama kita sendiri agar natinya sebahyang kita lebih bermakna dan berarti memohon keselamatan kepada yang disembah. 6
  7. 7. Tata cara dan urutan-urutan atau rangkaian sembahyang dalam Hindu lebihdikenal dengan sebutan Kramaning Sembah. Sembahyang, salah satu hakekat intiajaran hindu. Setiap orang yang mengaku beragama, ia pasti melakukan sembahyangkarena sembahyan menurut ajaran agama bersifat wajib atau harus. Sembahyang intinya adalah iman atau percaya sehingga semua tingkah lakuatau perbuatan, pikiran dan ucapan sebagai perwujudan dalam bentuk “bakti”hakekatnya bersumber pada unsure iman (sraddha). Menurut kitab Atharwa WedaXI.1.1, unsur iman atau sraddha dalam agama hindu meliputi: Satya, Rta, Tapa,Diksa, Brahma dan Yadnya.Dari ke enam unsur diatas, dua ajaran terakhir termasuk ajaran “sembahyang”.Sembahyang terdiri atas dua kata, yaitu; 1. Sembah yang berarti sujud atau sungkem, yang dilakukan dengan cara-cara tertentu dengan tujuan untuk menyampaikan penghormatan, perasaan hati atau pikiran, baik dengan ucapan kata-kata maupun tanpa ucapan, misalnya hanya sikap pikiran. 2. Hyang yaitu yang dihormati atau dimuliakan sebagai obyek dalam pemujaan, yaitu Tuhan Yang Maha Esa, yang berhak menerima penghormatan menurut kepercayaan itu. Didalam bahasa sehari-hari, orang bali sering juga menyebut kata sembahyangdengan sebutan: 1. Muspa, karena dalam persembahyangan itu lazim juga dilakukan dengan jalan persembahan kembang (puspa). 2. Mebakti, dinamakan demikian karena inti persembahan itu adalah untuk memperlihatkan rasa bakti (bhakti) atau hormat setulus-tulusnya dengan cara mencakupkan kedua belah tangan atau cara lain yang dapat diartikan sama sebagai penyerahan diri setulus hati kepada yangdihormati atau Tuhan YME. 3. Maturan, yang artinya menyampaikan persembahan dengan mempersembahkan apa saja yang merupakan hasil karya sesuai menurut kemampuan dengan perasaan tulus ikhlas, seperti buah, kue, minuman dll. 7
  8. 8. Didalam bhagawadgita, yoga atau Samadhi dinyatakan sebagai salah satubentuk persembahyangan yang dapat pula dilakukan oleh orang yang menganutajaransanatha dharma (hindu). Berdasarkan pengertian itu maka “sandhya” juga diartikansama dengan sembahyang. Karena itu kata “tri sandhya” dapat pula diartikan denganmelakukan “sembahyang tiga kali”. Sembahyang atau yadnya mempunyai fungsi dan kedudukan sangat pentingdalam kehidupan beragama. Ini ditegaskan oleh kitab weda smriti sebagai berikut; “wedoditam swakam karma nityam kuryadatandritah, Taddhi kurwanyathasakti prapnoti paranam gatim” (Manawa Dharmasastra IV, 14)Artinya,Hendaknya tanpa kenal lelah melakukan yadnya yang ditentukan untuknya dalamweda, karena ia yang melaksanakan semua itu menurut kemampuan mencapaikedudukan kejiwaan paling tinggi. Dengan menggariskan ketentuan yang ditegaskan adanya penyesuaiankemampuan menurut kemampuan atau relative tidaklah mutlak untuk melakukanyadnya melebihi kemampuan karena dengan melebihi kemampuan berartibertentangan pula dengan weda. Dengan demikian, sembahyang berarti sikap tulus ikhlas untuk sujud bakti,berdoa dan memuja kepada yang mulia, agung dan suci yaitu Sanghyang Widhi Wasasebagai sumber segala sumber, Dewa-dewi sebagai sinar suci dan kekuatanSanghyang Widhi, dan Bethara sebagai kekuatan pelindung hidup manusia. Dantempat yang paling baik untuk sembahyang adalah Pura atau pemerajan karenadiyakini sebagai tempat suci. Sembahyang yang paling baik dilakukan pada hari-haribesar dan suci menurut pawukon seperti Buda Kliwon Galungan, Tumpek Kuningan,Saraswati, dan lain-lain, dan menurut perhitungan sasih seperti Purnama dan Tilem.Sarana persembahyangan pokok berjumlah lima unsur yaitu Patrem (daun), Phalem(buah), Puspem (bunga), Toyem (air), dan Dupem (dupa). Semua saranapersembahyangan baik berupa banten, maupun bentuk persembahan lain, esensinyaadalah kelima unsur tersebut yang diramu dengan kreasi bernilai estetis. 8
  9. 9. 2.2 Persiapan Persembahyangan Persiapan sembahyang meliputi persiapan lahir dan persiapan batin. Persiapan lahir seperti pakaian, bunga, dupa, sikap duduk, pengaturan nafas dan sikap tangan. Sedangkan persiapan bathin adalah ketenangan dan kesucian pikiran. Langkah- langkah persiapan dan sarana-sarana sembahyang (Sujana & Susila, 2002:27-28) adalah sebagai berikut: Persiapan sembahyang meliputi persiapan lahir dan persiapan batin. Persiapan lahir meliputi sikap duduk yang baik, pengaturan nafas dan sikap tangan. Termasuk dalam persiapan lahir pula ialah sarana penunjang sembahyang seperti pakaian, bunga dan dupa sedangkan persiapan batin ialah ketenanagan dan kesucian pikiran. Langkah-langkah persiapan dan sarana prasarana sembahyang adalah sebagai berikut: 1) Asuci Laksana. Pertama-tama orang membersihkan badan dengan mandi. Kebersihan badan dan kesejukan lahir mempengaruhi ketenangan hati. 2) Pakaian. Pakaian waktu sembahyang supaya diusahakan pakaian yang bersih serta tidak mengganggu ketenangan pikiran. Pakaian yang ketat atau longgar, warna yang menjolok hendaknya dihindari. Pakaian harus disesuaikan dengan dresta setempat, supaya tidak menarik perhatian orang. 3) Bunga dan Kuwangen. Bunga dan Kuwangen adalah lambang kesucian supaya diusahakan bunga yang segar, bersih dan harum. Jika dalam persembahyangan tidak ada kewangen dapat diganti dengan bunga. Ada beberapa bunga yang tidak baik untuk sembahyang. Menurut Agastyaparwa bunga-bunga tersebut seperti berikut: Nihan Ikang kembang yogya pujakena ring bhatara: kembang uleran, kembang ruru tan inunduh, kembang laywan, laywan ngaranya alewas mekar, kembang munggah ring sema, nahan talwir ning kembang tan yogya pujakena de nika sang satwika. Artinya: Inilah bunga yang tidak patut dipersembahkan kepada Bhatara, bunga yang berulat, bunga yang gugur tanpa digoncang, bunga-bunga yang berisi 9
  10. 10. semut, bunga yang layu, yaitu bunga yang lewat masa mekarnya, bunga yang tumbuh dikuburan. Itulah jenis-jenis bunga yang tidak patut dipersembahkan oleh orang yang baik-baik. 4) Dupa. Apinya dupa adalah simbul Sanghyang Agni, saksi dan pengantar sembah kita kepada Sanghyang Widhi. Setiap yadnya dan pemujaan tidak luput dari penggunaan api. Hendaknya ditaruh sedemikian rupa sehingga tidak membahayakan teman-teman disebelah. 5) Tempat Duduk. Tempat duduk hendaknya diusahakan duduk yang tidak mengganggu ketenangan untuk sembahyang. Arah duduk ialah menghadap pelinggih. Setelah persembahyangan selesai usahakan berdiri dengan rapi dan sopan sehingga tidak menganggu orang yang masih duduk sembahyang. Jika mungkin agar menggunakan alas duduk seperti tikar dan sebagainya. 6) Sikap Duduk. Sikap duduk dapat dipilih dengan tempat dan keadaan serta tidak mengganggu ketenangan hati. Sikap duduk yang baik pria ialah sikap duduk bersila dan badan tegak lurus, sikap ini disebut Padmasana. Sikap duduk bagi wanita ialah sikap Bajrasana yaitu sikap duduk bersimpuh dengan dua tumit kaki diduduki. Dengan sikap ini badan menjadi tegak lurus. Kedua sikap ini sangat baik untuk menenangkan pikiran. 7) Sikap Tangan. Sikap tangan yang baik tangan yang baik pada waktu sembahyang ialah " cakuping kara kalih " yaitu kedua telapak tangan dikatupkan di depan ubun-ubun. Bunga atau kuwangen dijepit pada ujung jari.2.3 Tata Cara dan Urutan-urutan atau Rangkaian Sembahyang ( Kramaning Sembah ) Sebelum melaksanakan Panca Kramaning Sembah hendaknya melaksanakan Puja Trisandya. Dalam melakukan Puja Trisandya baik sendirian maupun berkelompok hendaknya kita berkonsentrasi dengan baik, mengikuti desah nafas kita dengan halus dan pelan. Sepanjang mampu kita bernafas lantunkanlah sloka-sloka tersebut dengan lemah lembut. 10
  11. 11. Kramaning Sembah atau ada juga yang menyebutkan dengan Panca Sembah.Kramaning Sembah biasanya dilakukan setelah melakukan Puja Tridandya. DalamKramaning Sembah ini umumnya terdapat lima sembah yang dilakukan. Tentangkramaning sembah ini telah pula dibahas dan ditetapkan dalam seminar kesatuantafsiran terhadap aspek-aspek agama Hindu tahun 1982, khususnya tentang sikap danmantran sembahyang ( butir 4 dan 6 dari keputusan seminar tersebut ) menetapkansesuai dengan buku Tuntunan Muspa yang disusun oleh bapak I gusti Ketut Kaler(1970) dan buku Upadesa terbitan Parisada Hindu dharma (1967). Berikut ini adalah kramaning sembah yang ditetapkan oleh Parisadha HinduDharma Indonesia dalam Mahasabha VI, 1991 di Jakarta: 1) Sembah Puyung Cakupkan kedua tangan dan pusatkan pukiran. Kemudian ucapkan mantra berikut ini: Om Atma Tattwatma Suddha Mam Swaha Artinya : Ya Tuhan, atma atau jiwa dan kebenaran, bersihkanlah hamba. 2) Sembah Dengan Sarana Bunga Ditujukan kepada Hyang Widhi dalam wujudNya sebagai Hyang Surya atau Siwa Aditya. Ucapkan mantram: Om Adityasyà param jyoti rakta tejo namostute sweta pankaja madhyastha bhàskaràya namostute Artinya : Ya Tuhan, Sinar Hyang Surya Yang Maha Hebat. Engkau bersinar merah, hamba memuja Engkau. Hyang Surya yang berstana di tengah-tengah teratai putih. Hamba memuja Engkau yang menciptakan sinar matahari berkilauan. 3) Sembah Dengan Sarana Kewangen Bila tidak ada, yang dipakai adalah bunga. Sembahyang ini ditujukan kepada Istadewata pada hari dan tempat persembahyangan itu. Istadewata ini adalah 11
  12. 12. Dewata yang diinginkan kehadiran-Nya pada waktu memuja. Istadewata adalah perwujudan Tuhan Yang Maha Esa dalam berbagai wujudNya. Jadi mantramnya bisa berbeda-beda tergantung di mana dan kapan bersembahyang.Mantram di bawah ini adalah mantram umum yang biasanya dipakai saat Purnama atau Tilem atau di Pura Kahyangan Jagat: Om nama dewa adhi sthanaya Sarwa wiapi wai siwa ya Padmasana eka pratisthaya Adhanareswaraya namah swaha Artinya : Ya Tuhan, kepada dewata yang bersemayam pada tempat yang luhur, kepada Hyang Siwa yang berada di mana-mana, kepada dewata yang bersemayam pada tempat duduk bunga teratai di suatu tempat, kepada Ardhanaresvari hamba memuja.4) Sembah Dengan Sarana Kewangen Memohon Waranugraha Sama seperti sembah dengan kuwangen sebelumnya, jika tidak ada kuwangen bisa menggunakan bunga. Om anugraha manoharam dewa dattà nugrahaka arcanam sarwà pùjanam namah sarwà nugrahaka Dewa-dewi mahàsiddhi yajñanya nirmalàtmaka laksmi siddhisca dirghàyuh nirwighna sukha wrddisca Artinya : Ya Tuhan, Engkau yang menarik hati pemberi anugrah, anugrah pemberian Dewata, pujaan segala pujaan, hamba memujaMu sebagai pemberi segala anugrah. Kemahasiddhian pada Dewa dan Dewi berwujud jadnya suci, kebahagiaan, kesempurnaan, panjang umur, bebas dari rintangan, kegembiraan dan kemajuan rohani dan jasmani. 12
  13. 13. 5) Sembah Puyung Penutup Mantra : Om dewa suksma parama cintya ya namah swaha Om santih, santih, santih, om Artinya: Ya Tuhan, hamba memuja Engkau Dewata yang tidak terpikirkan, maha tinggi dan maha gaib. Ya Tuhan, anugerahkan kepada hamba kedamaian, damai, damai, Ya Tuhan. Untuk memuja di Pura atau tempat suci tertentu dan pemujaan terhadapmanisfestasi Tuhan yang lainnya, kita bisa menggunakan mantram lain yangdisesuaikan dengan tempat dan dalam keadaan bagaimana kita bersembahyang. Yangdiganti adalah mantram sembahyang urutan ketiga dari Panca Sembah, yakni yangditujukan kepada Istadewata. Setelah melaksanakan persembahyangan, umatdipercikkan tirtha wangsuh Ida Bhatara. Tirta ini dipercikkan 3-7 kali di kepala, 3 kalidiminum dan 3 kali mencuci muka ( meraup ). Hal ini dimaksudkan agar pikiran danhati umat menjadi bersih dan suci. Kebersihan dan kesucian hati adalah pangkalketenangan, kedamaian dan kebahagiaan lahir dan bathin itu sendiri ( Sujana & Susila,2002:31 ) Kemudian mawija atau mabija dilakukan setelah selesai metirtha yangmerupakan rangkaian terakhir dari suatu persembahyangan. Wija atau bija adalah bijiberas yang dicuci dengan air atau air cendana. Bila dapat diusahakan beras galih, yaituberas yang utuh tidak patah ( aksata ). Wija atau bija adalah lambang Kumara, yaituputra atau wija Bhatara Siwa. Jadi, mewija mengadung makna menumbuhkembangkan benih ke-Siwa-an itu di dalam diri umat ( Sujana & Susila, 2002:31-32 ). Bila dalam pelaksanakan Panca Kramaning Sembah yang dipimpin olehPinandita, hendaknya umat tidak ikut me-mantram. Hal ini dianalogikan bahwaPinandita itu seperti supir bus, sedangkan umat adalah penumpang. Sopir akanmengantarkan penumpangnya sampai tempat tujuan atau terminal. Jika penumpangjuga ikut menyetir akan timbul kegaduhan. Sehingga, persembahyangan tidak menjaditenang dan menggangu umat lain yang ingin mengadu masalah hidup kepada Hyang 13
  14. 14. Widhi dan memohon sinar suci-Nya dan tuntunan-Nya menghadapi masalah. Namun, ikut me-mantram tidak dilarang jika umat itu tidak sedang dalam masalah atau ingin belajar menghapalkan mantram tersebut, asal tidak mengganggu konsentrasi umat lain yang sedang sembahyang.2.4 Manfaat Sembahyang Sembahyang atau berdoa memberikan manfaat yang besar, meningkatkan kesucian pribadi dari hari-kehari. Sembahyang mensucikan hati, meumbuhkan keharmonisan, mengokohkan pikiran, mengendalikan emosi, ambisi dan nafsu. Dengan doa ( Upasana ) berarti kita mendekatkan diri kepada-Nya. Doa menumbuhkembangkan kasih saying yang tulus ( Prema ) kepada Ida Sang hyang widhi Wasa dan ciptaan-Nya (sarva prani hitankarah). Menurut Ketut Wiana (2005:49) salah satu manfaat sembahyang adalah untuk memelihara kesehatan. Selain pikiran menjadi jernih, sikap-sikap sembahyang seperti asana (padmasana, siddhasana, sukhasana, dan bajrasana) membuat otot dan pernafasan menjadi bagus. Selain untuk kesehatan, bersembahyang dan berdoa juga mendidik kita untuk memiliki sifat ikhlas karena apa yang ada di dalam diri dan di luar diri kita tidak ada yang kekal, cepat lambat akan kita tinggalkan atau berpisah dengan diri kita. Keikhlasan inilah yang dapat meringankan rasa penderitaan yang kita alami karena kita telah paham benar akan kehendak Hyang Widhi. Bersembahyang juga dapat menentramkan jiwa karena adanya keyakinan bahwa Tuhan selalu akan melindungi umatNya. Perbudakan materi juga dapat diatasi dengan bersembahyang karena orang akan dapat melihat dengan terang bahwa harta benda harus dicari dengan Dharma untuk melaksanakan Dharma. Sembahyang dengan tekun akan dapat menghilangkan rasa benci, marah, dendam, iri hati dan mementingkan diri sendiri, sehingga 14
  15. 15. meningkatkan cinta kasih kepada sesama. Membenci orang lain sama saja denganmembenci diri sendiri karena Jiwatman yang ada pada semua makhluk adalah satu,bersumber dari Tuhan, seperti yang diajarkan dalam ajaran Tat Twam Asi. Kemudiandengan sembahyang kita dimotivasi untuk melestarikan alam karena bersembahyangmembutuhkan sarana yang berasal dari alam, seperti bunga, daun, buah, sumber mataair, dan sebagainya. 15
  16. 16. BAB III PENUTUP3.1 SIMPULAN Dari pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa, 1. Kramaning sembah merupakan tata cara dan urutan atau rangkaian sembahyang pada waktu pelaksanaan persembahyangan. 2. Sembahyang intinya adalah iman atau percaya sehingga semua tingkah laku atau perbuatan, pikiran dan ucapan sebagai perwujudan dalam bentuk “bakti” hakekatnya bersumber pada unsur iman (sraddha). Menurut kitab Atharwa Weda XI.1.1, unsur iman atau sraddha dalam agama hindu meliputi: Satya, Rta, Tapa, Diksa, Brahma dan Yadnya. 3. Persipan sembahyang dimulai dari Asuci Laksana ( pembersihan badan ), Pakaian yang bersih dan tidak senonoh, Bunga dan Kuwangen, Dupa (api), Tempat Duduk yang bersih dan nyaman, Sikap Duduk (padmasana dan bajrasana ), dan Sikap tangan yang baik tangan yang baik pada waktu sembahyang ialah " cakuping kara kalih " yaitu kedua telapak tangan dikatupkan di depan ubun-ubun. Bunga atau kuwangen dijepit pada ujung jari. 4. Tata cara dan urutan-urutan atau rangkaian sembahyang ( Kramaning Sembah ) dimulai dari yang pertama sembah puyung, yang kedua menyembah Sang Hyang Widhi sebagai Hyang Aditya, yang ketiga Menyembah Hyang Widhi sebagai Istadewata, yang keempat menyembah Sang Hyang Widhi sebagai pemberi anugerah dan yang terakhir kembali sembah puyung sebagai ucapan terima kasih kehadapan Ida sang Hyang Widhi Wasa. 5. Sembahyang atau berdoa memberikan manfaat yang besar, meningkatkan kesucian pribadi dari hari-kehari. Sembahyang mensucikan hati, meumbuhkan keharmonisan, mengokohkan pikiran, mengendalikan emosi, ambisi dan nafsu. 16
  17. 17. Dengan doa (Upasana) berarti kita mendekatkan diri kepada-Nya. Doa menumbuhkembangkan kasih saying yang tulus (Prema) kepada Ida Sang hyang widhi Wasa dan ciptaan-Nya (sarva prani hitankarah).3.2 SARAN Diharapkan dengan adanya makalah ini setiap umat Hindu hendaknya mempelajari dan memahami agamanya secara mendalam dan komperhensip. Dengan pemahaman komperhensip dimaksudkan supaya memiliki wawasan yang luas. Berbagai bentuk dan aktivitas keagamaan adalah merupakan pengalaman ajaran agama dalam rangka peningkatan kesejahteraan dan kualitas sepiritual kita. Salah satu usaha yang patut dilakukan umat Hindu adalah sembahyang yang rutin, ,melaksanakan puja Trisandya adalah juga melaksanakan doa. Doa adalah adalah usaha yang sangat sederhana dan bila dilakukan dengan khusuk akan memberikan pahala yang sangat besar bagi diri kita. Sesungguhnya begitu banyak makna yang terkandung dalam persembahyangan, tidak hanya sekedar “nyakupang tangan” dan “ngelungsur”. Semoga ulasan sederhana mengenai makna dan tata cara persembahyangan umat Hindu dapat bermanfaat bagi umat sedharma. 17

×