Desiplin dlm perfektif pddk l

924 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
924
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
34
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Desiplin dlm perfektif pddk l

  1. 1. DISILPIN DALAM PERSFEKTIF PENDIDIKAN Oleh Drs. Abdul Manaf, M. Pd Dosen STI Tarbiyah Al-Hilal Sigli A. Pengertian Disiplin merupakan suatu konsep yang menuntut adanya kepatuhan terhadap peraturan atau ketentuan-ketentuan yang berlaku guna mengatur suatu keadaan agar tertib. Disiplin dalam pendidikan tidak sama makna dengan disiplin dalam bidang lain terutama dalam pelaksanaannya karena dalam disiplin pada dunia pendidikan khususnya dalam belajar selalu mentaati tata tertib. Titik berat disiplin dalam dunia pendidikan khususnya dalam kegiatan belajar mengajar adalah pembinaan, begitu pula halnya dalam beribadah kepada Allah SWT menuntut kita untuk disiplin dalam melaksanakan ibadah kepada-Nya. Setiap bentuk kegiatan memerlukan tata tertib dan kedisiplinan supaya kegiatan yang direncanakan dapat terlaksna dan berjalan dengan baik dan benar dalam rangka mewujudkan Visi, misi, tujuan dan sasaran sebagaimana yang telah dirumuskan. Jadi yang di maksud dengan disiplin adalah kepatuhan seseorang dalam melaksanakan dan menjalankan kegiatan sesuai dengan aturan, norma, etika dan tata tertib yang ada. Dalam hal ini, Mulyasa menawarkan definisi disiplin adalah suatu keadaan tertip ketika orang-orang yang tergabung dalam suatu sistim tunduk pada peraturan- peraturan yang ada dengan senang hati.1 Lebih lanjut, Mulyasa memberikan penekanan bahwa: disiplin dapat di katakan sebagai konsistensi dan konsekwensi seseorang terhadap suatu hubungan dengan tujuan yang akan di capai pada waktu proses pelaksanaan atau kegiatan-kegiatan.2 Berdasarkan pendapat ahli di atas bahwa disiplin dapat di artikan sebagai keadaan tertib, guru, kepala sekolah dan staf serta anak didik/siswa yang tergabung dalam sekolah tunduk kepada sistim dan peraturan yang berlaku dengan senang hati, oleh karena itu dalam upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran siswa disekolah antara lain dapat di lakukan dengan cara meningkat pembinaan disiplin di sekolah. B. Urgensi disiplin dalam pendidikan. Setiap bentuk kegiata memerlukan tata tertib dan kedisiplinan supaya kegiatan itu terlaksana dengan baik dan benar-benar sempurna sebagaimana yang di harapkan, dengan demikian dapat dipahami bahwa disiplin adalah kepatuhan seseorang terhadap aturan atau norma dalam melaksanakan semua kegiatan. Jadi Disiplin merupakan suatu konsep yang menuntut adanya kepatuhan terhadap peraturan atau ketentuan-ketentuan yang berlaku guna mengatur suatu keadaan agar menjadi tertib. Disiplin dalam dunia pendidikan adalah menyangkut dengan situasi dan kondisi belajar yang selalu mentaati tata tertib yang ada khususnya dalam kegiatan belajar mengajar yang menitik beratkan kepada pembinaan. Anak didik/siswa adalah manusia yang memiliki potensi akal untuk dijadikan kekuatan agar menjadi manusia susila yang cakap. Oleh karena itu, guru sebagai pembimbing agar anak didik/siswa 1 E. Mulyasa, implementasi KTSP Kemandirian Guru dan Kepala Sekolah, (Jakarta : Bumi Aksara, 2009) hal. 193 2 Ibid, hal. 195 Page 1 dari 10
  2. 2. tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensinya. Dalam hal ini guru harus memahami karakteristik anak didik yang sedang dibimbingnya. Pernyataan di atas dipertegas oleh Sutari, dkk (Djamarah) bahwa: anak didik/siswa memiliki karakteristik tertentu, nyakni (1) anak didik/siswa belum memiliki pribadi dewasa susila sehingga masih menjadi tanggung jawab pendidik, (2) anak didik/siswa masih menyempurnakan aspek tertentu dari kedewasaannya sehingga masih menjadi tanggung jawab pendidik, (3) memiliki siaft-sifat dasar manusia yang sedang berkembang secara terpadu yaitu kebutuhan biologis, rohani, sosial, intelegensi, emosi, kemampuan berbicara, anggota tubuh untuk bekerja (kaki, tangan, jari), latar belakang sosial, latar belakang biologis serta perbedaan individual.3 Misalnya memahami tentang gaya dan kebiasaan belajarnya, memahami potensi dan bakatnya. Dengan kata lain, guru sebagai pembimbing yaitu berkewajiban memberikan bantuan kepada anak didik/siswa agar mereka mampu menemukan masalahnya sendiri, memecahkan masalahnya sendiri, mengenal dirinya sendiri dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Pernyataan diatas diberi penekanan oleh Oemar Hamalik bahwa: anak didik/siswa membutuhkan bantuan guru dalam hal mengatasi kesulitan-kesulitan pribadi, kesulitan pendidikan, kesulitan memilih pekerjaan, kesulitan dalam hubungan sosial dan interpersonal. Oleh karena itu, setiap guru perlu memahami dengan baik tentang teknik bimbingan kelompok, penyuluhan individual, teknik pengumpulan keterangan, teknik evaluasi, statistik penelitian, psikologi kepribadian dan psikologi belajar. Namun demikian harus dipahami bahwa pembimbing yang terdekat adalah guru. Karena anak didik/siswa menghadapi masalah dimana guru tidak sanggup memberikan bantuan cara memecahkannya, baru meminta bantuan kepada ahli bimbingan untuk memberikan bimbingan kepada anak yang bersangkutan.4 Lebih lanjut dalam himpunan peraturan perundang-undangan sistem pendidikan nasional dirumuskan bahwa; Pentingnya diterapkan disiplin di sekolah adalah agar anak didik/siswa dapat memahami pengatahuan dan pengertian sosial antara lain mengenai hal milik orang lain. Mengerti dan suka menurut dalam menjalankan kewajibannya dan secara langsung mengerti larangannya, mengerti tingkah laku yang baik dan yang buruk belajar mengendalikan keinginan dan berbuat sesuatu tanpa rasa ancaman hukuman, meninggalkan kesenangan sendiri tanpa mengharapkan imbalan apapun.5 Rumusan pendapat ahli di atas menjelaskan bahwa: disiplin di sekolah sangat mutlak diperlukan untuk memperlancar kegiatan belajar mengajar sebagai alat dalam menentukan tingkat prestasi belajar bagi anak didik/siswa yang berkeyakinan dan ingin merobah tingkah lakunya dengan mematuhinya ketentuan dan peraturan yang telah diterapkan di sekolah. Membicarakan masalah disiplin terhadap peserta didik berarti membicarakan tentang perilaku mereka dalam beradaptasi dengan peraturan sekolah, peserta didik disekolah mempunyai tugas dan kewajiban yang harus dilaksanakan, tugas tersebut meliputi kegiatan intra kurikuler dan kegiatan ekstra kurikuler, semua kegiatan tersebut harus dilaksanakannya dengan penuh disiplin. 3 Saiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak didik dalam interaksi Educatif, Jakarta: Rineka Cipta, 2010. hal . 52 4 Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, Jakarta; PT. Bumi Aksara, 2001, hal. 124 5 Himpunan Peraturan Perundang-undangan, Sistem Pendidikan Nasional, Bandung : Fokus Media, 2003 hal. 68 Page 2 dari 10
  3. 3. Penerapan disiplin disekolah/madrasah baik bagi anak didik/siswa maupun komponen sekolah/madrasah lainya sudah barang tentu tidak terlepas dengan memberlakukan penerapan sanksi/hukuman bagi yang melakukan pelanggaran terhadap aturan, norma, dan etika yang berlaku dalam suatu lembaga pendidikan, untuk menghindari kesalahan pemahaman terhadap hukuman, penulis menawarkan pendapat Ahmat Tafsir bahwa Hukuman adalah suatu perbuatan yang kita lakukan dengan sadar dan dengan sengaja untuk menimbulkan rasa tidak sedang terhadap oarang yang secara terakhir yaitu bila mana sudah tidak ada jalan lain untuk memelihara disiplin ketertiban dan semangat kerja.6 Lebih lanjut Abu Ahmadi memberikan pengertian hukuman bahwa: sesuatu perbuatan, dimana kita secara sadar, dan secara sengaja menjatuhkan nestapa kepada orang lain, baik dari segi kejasmanian maupun dari segi kerohanian yang mempunyai kelemahan bila dibandingkan dengan diri kita yang mempunyai tanggung jawab untuk membimbing dan melindunginya.”7 Sesuai dengan pernyataan di atas, Nashih Ulwan membedakan hukuman kepada dua bagian, yaitu hudud dan ta’zir, hudud yaitu hukuman yang dikadarkan oleh syari’ah yang wajib dilaksanakan karena Allah, sedangkan Ta’zir yaitu hukuman yang tidak ditentukan oleh Allah untuk setiap maksiat yang di dalamnya tidak terdapat had atau kafarah.8 Ciri hukuman yang tepat untuk diterapkan dalam dunia pendidikan adalah ta’zir, karena ciri hukuman yang dapat dijadikan sebagai alat dalam dunia pendidikan untuk meningkatkan ketertiban dan kedisiplinan dilingkungan pendidikan. Adapun tujuan utama penerapan hukuman kepada seseorang atau kelompok yaitu seseorang atau kelompok yang melakukan pelanggaran atau melakukan kesalahan yang berupa kegiatan atau perbuatan untuk membuat jera, sedangkan penerapan hukuman dalam konteks kriminalitas bertujuan untuk membasmi kejahatan, meniadakan kejahatan, melindungi masyarakat dari perbuatan yang tidak wajar, menakuti sipelanggar, sedangkan penerapan hukuman/ganjaran dalam dunia pendidikan lebih dititik beratkan kepada hukuman/ganjaran yang bersifat mendidik, baik dalam bentuk hukuman/ganjaran fisik maupun dalam bentuk mental sesuai dengan itensitas pelanggaran yang dilakukan oleh warga pendidikan itu sendiri. Untuk tercapainya tujuan penerapan hukuman, diperlukan strategi/metode, hal ini sesuai dengan pendapat Muhammad Quthb, bahwa, Islam menjalankan seluruh teknik pendidikan, tidak membiarkan satu jendela pun yang tidak dimasuki untuk sampai kedalam jiwa, yaitu dengan menggunakan contoh teladan, nasehat, ancaman dan ganjaran, disamping itu juga dengan cara menakut-nakuti dan memberi ancaman dengan berbagai tingkatan, dari ancaman sampai kepada pelaksanaan ancaman itu sendiri.9 Islam tidak membiarkan pelaksanaan sistim pendidikan secara kekerasan karena dengan sistim tersebut tidak akan terjadi perubahan peserta didik kearah yang lebih baik, oleh karena itu Pendidikan Islam lebih mengutamakan ketauladanan, dan 6 Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Bandung : Remaja Rosda Karya 2005, hal. 186 7 Abu Ahmadi, Ilmu Pendidikan, Rineka Cipta, Jakarta. Tahun 1991 hal. 150 8 Abdullah Nashih ulwan, Pedoman Pendidikan Anak dalam Islam, Asy-Syifa’ Semarang, 1993. hal.151 9 9. Muhammad Quthb, Sistem Pendidikan Islam, PT. Alma’arif Bandung, Cet.III, Tahun 1993, hal 343. Page 3 dari 10
  4. 4. nasehat serta memberikan hadiah dan ganjaran yang sesuai dengan prilaku peserta didik. C. Guru sebagai model dalam pendidikan Dalam pembelajaran, guru dihadapkan dengan anak didik/siswa yang berbagai macam latar belakang kebiasaan, sikap dan potensi, semua prilaku yang muncul dipengaruhi oleh pengalaman kebiasaan dan pembelajaran yang diperoleh sebelumnya, baik pengalaman kebiasaan yang diperoleh dari kehidupan daalam lingkungan orang tua di rumah maupun di luar rumah termasuk disekolah. Dalam konteks pendidikan, menerapkan kendisiplinan bagi anak didik/siswa, harus dimulai dari kepribadian guru yang disiplin, arif, dan berwibawa, oleh karena itu, penerapan disiplin harus di tujukan untuk membantu anak didik/siswa menemukan diri dalam mengatasi, mencegah timbulnya masalah, dan berusaha menciptakan situasi yang menyenangkan bagi kegiatan pembelajaran, sehingga mereka mentaati segala peraturan yang telah ditetapkan, dalam hal ini, Mulyasa berpendapat bahwa: guru adalah pendidik yang menjadi tokoh panutan dan identifikasi bagi para anak didik serta lingkungannya, untuk itu guru harus memiliki kualitas pribadi tertentu yang mencakup tanggungjawab, wibawa, mandiri dan disiplin.10 Pernyataan yang hampir senada juga disampaikan oleb A1-’Athiyyah aI-Abrasyi bahwa guru adalah Spritual Father (Bapak Rohani) bagi anak didiknya, mereka memberi santapan jiwa dengan ilmu dan pengalaman. Barang siapa yang mengikuti petunjuk guru, hidupnya akan lapang dan berkembang. dan kalau mengingkari guru apalagi menghianati dan menyakitinya, berarti mengundang malapetaka.11 lebih tegas lagi Zuhairini berpendapat bahwa: secara umum untuk menjadi seorang guru hendaklah Ia bertaubat kepada Allah, berilmu, sehat jasmani dan rohani, baik akhlaknya dan bertanggung jawab serta berjiwa besar.12 Selanjutnya Umar bin Utbah mengatakan kepada guru anaknya sebagaimana dikutip oleb AI- Abrasyi bahwa: hal pertama yang hendak kamu lakukan untuk memperbaiki anak saya adalah dengan memperbaiki dirimu, karena mata mereka akan tertuju padamu, yang mereka anggap baik ialah apa yang engkau kerjakan, dan yang rnereka anggap jelek ialah apa yang engkau tinggalkan.13 Selanjutnya Zakiyah Darajat berpendapat bahwa dalam upaya menanamkan perubahan perilaku pada setiap peserta didik harus dimulai dari perilaku dan sikap seorang guru, untuk itu sikap guru apakah guru agama atau guru umum haruslah berjiwa agama kendati ia tidak mendalaminya, namun kepribadian akhlak dan sikap hendaknya dapat mendorong anak unuk mencintai agama dan hidup sesuai dengan ajaran agama.14 Lebih lanjut Muhaimin memberi penekanan bahwa: Tugas guru yang paling utama adalah “mengajar dan mendidik” sebagai pengajar, guru merupakan peranan aktif antara peserta didik dengan ilmu pengetahuan, secara umum dapat dikatakan 10 E. Mulyasa, Menjudi Guru Profesional, Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan,, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005, hal. 37. 11 Muhammad ‘Athiyyah al-Abrasyi, aI-Tarbiyyah wa Falasifatuha, (Mesir: al-Halabi, 1969), hal. 23. 12 Zuhairini dkk, Metodik Khusus Pendidikan Islam, Ca. VIII, Surabaya: Usaha Nasional, 1983), hal 40. 13 M.Athiyah al-Abrasyi, Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam, Cot VII, Jakarta: Penerbit, Bulan Bintang, 1993), hal. 143. 14 Zakiah Darajat, Membina Nilal-Nilal Moral di Indonesia, Cot. IV,Jakarta: Bulan Bintang, 1997, hal. 68 Page 4 dari 10
  5. 5. bahwa tugas dan tanggung jawab yang harus dilakukan oleh guru adalah mengajak orang lain berbuat baik.15 Selanjutnya Al-Abrasyi mengutip pendapat Al-Ghazali bahwa: (1) guru harus menaruh rasa kasih sayang terhadap anak didik/siswa dan memberlakukan mereka seperti perlakuan anak sendiri. (2) Tidak mengharapkan jasa ataupun ucapan terima kasih, tetapi bermaksud dengan mengajar itu mencari keridhaan Allah dan mendekatkan diri kepada Tuhan. (3) Berikanlah nasehat kepada anak didik/siswa pada tiap kesempatan, bahkan gunakanlah setiap kesempatan itu untuk menasehati dan menunjukinya. (4) Mencegah anak didik/siswa dari sesuatu akhlak yang tidak baik dengan cara halus, lemah lembut dan jangan mencela. (5) Seorang guru harus menjalankan ilmunya dan jangan berlainan kata dengan perbuatannya.16 Dalam hal ini, Warul Walidin menyatakan bahwa: nilai profesionalitas yang dimaksud dapat diukur dengan beberapa kriteria, di antaranya guru memiliki keahlian khusus di bidangnya, merupakan satu panggilan hidup, dimana guru menjadi hobby dan profesinya, memiliki teori-teoni yang baku secara universal, memiliki otonomi dalam proses kegiatan belajar mengajar, memiliki kode etik sebagai guru, mengabdikan diri untuk masyarakat, memiliki hubungan dengan profesi pada bidang-bidang profesi lainnya, memilki organisasi yang kuat, serta mempunyai kemampuan diagnostik yang komprehensif.17 Selanjutnya Sukandinata berpendapat bahwa: guru hendaknya mampu menciptakan kondisi-kondisi belajar yang menyenangkan bagi anak didik/siswa, mampu memilih dan melaksanakan metode mengajar yang sesuai dengan kemampuan anak didik/siswa, bahan pelajaran dan banyak mengaktifkan anak didik/siswa, guru hendaknya mampu menyusun dan melaksanakan evaluasi perkembangan atau basil belajar anak didik/siswa untuk menilai efisiensi pelaksanaannya, guru berkewajiban menjelaskan kepada anak didik/siswa tentang apa yang akan dicapai dan pengajarannya, dan membangkitkan motivasi serta menciptakan situasi yang kompetitif, dan kooperatif, dengan memberikan pengarahan, bimbingan dan teladan.18 Sejalan dengan pendapat para ahli di atas Mulyasa menawarkan pendapatnya bahwa: Dalam menanamkan disiplin peserta didik, guru bertanggung jawab mengarahkan, dan berbuat baik, menjadi contoh sabar dan penuh pengertian. Guru harus mendisiplinkan anak didik/siswa dengan kasih sayang, terutama disiplin diri (Self-dispiline) untuk kepentingan tersebut guru harus (a) Membantu anak didik/siswa mengembangkan pola prilaku untuk dirinya. (b) Membantu anak didik/siswa meningkatkan standar perilakunya.(c) Menggunakan pelaksanaan aturan sebagai alat untuk menegakkan disiplin.19 Dari kutipan di atas menjelaskan bahwa disiplin di sekolah sangat mutlak diperlukan untuk memperlancar kegiatan belajar 15 Muhaimin, Strategi Belajar Mengajar, (Surabaya; CV. Citra Media, 1996), hal. 54 16 Muhammad ‘Athiyah Al-Abrasyi, Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam, terjemahan A.gani dan Djohar Bchri, cet.I, Jakarta; Bulan Bintang, 1990, hal. 151 17 Warul Waildin, Pengembangan Kurikulurn; Kuliah Semester I lmu Pendidikan, Banda Aceh: IAIN-Ar-Raniry, 2008. 18 Sukandinata, Nana Saudih, Pengembangan Kurikulum: Teori don Praktek, Jakarta: Remaja Rosdakarya, 1999, hal. 200. 19 E. Mulyasa, Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru, Bandung : Remaja Rosda Karya Jakarta: Bumi Aksara, 2009. hal. 193 Page 5 dari 10
  6. 6. mengajar, perobah tingkah laku dan tingkat mematuhinya sesuai dengan peraturan yang telah diterapkan di sekolah. Guru sebagai pendidik perlu memberikan perhatian secara serius dan tanpa mengharapkan imbalan untuk membina sikap, kepribadian, mengisi intelektual dengan berbagai pengetahuan dalam rangka menghantarkan anak didik/siswa untuk mencapai kedewasaan yang bersusila. Membangun situasi yang tertib secara partisipatif antara guru, kepala sekolah, staf dan anak didik/siswa yang tergabung dalam suatu systim sekolah dan tunduk dengan senang hati terhadap peraturan yang telah disepakati bersama. Membangun keadaan yang demikian, merupakan suatu upaya untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar, secara simultan dapat meningkatkan kualitas belajar, dan yang pada akhirnya dapat meningkatkan prestasi belajar sebagai wujud dari pencapaian tujuan dari belajar dan mengajar. Hal ini merupakan kewajiban bagi guru untuk menyatukan keberagaman para peserta didik dalam satu gerak dan tingkah laku yang normal, di butuhkan satu konsep disiplin untuk dilaksanakan. Dalam hal ini, Mulyasa berpendapat bahwa: tingkat kedisiplinan guru dapat mempengaruhi peserta didik dalam bentuk (1) Konsep diri: ini menekankan bahwa konsep diri anak didik/anak didik/anak didik/anak didik/siswa merupakan faktor penting dari setiap perilaku. Untuk menumbuhkan konsep diri, guru disarankan bersikap empatik menerima, hangat, dan terbuka, sehingga anak didik/anak didik/anak didik/anak didik/siswa dapat mengeksprolasi pikiran dan perasaannya dalam memecahkan masalah.(2) Konsekuensi-Konsekuensi logis dan alami, perilaku- perilaku yang salah terjadi karena anak didik/siswa telah mengembangkan kepercayaan yang salah terhadap dirinya untuk itu guru disarankan menunjukkan secara tepat tujuan perilakunya dan memanfaatkan akibat-akibat logis dan alami dari perilaku yang salah.(3) Disiplin yang terintrasi, guru harus mampu mengendalikan, mengembangkan, dan mempertahankan peraturan, dan tata tertip sekolah, termasuk pememfaatan papan tulis untuk menuliskan nama-nama anak didik/siswa yang berperilaku menyimpang.(4) Modifikasi perilaku, guru harus mampu menciptakan iklim pembelajaran yang konduktif, yang dapat memodifikasi perilaku anak didik/siswa.(5) Tantangan bagi disiplin, guru harus cekatan, terorganisasi, dan tugas dalam mengendalikan disiplin anak didik/siswa. Disamping itu, guru di tuntut untuk melakukan hal-hal sebagai berikut (a) Mempelajari pengalaman anak didik/siswa secara langsung melalui daftar hadir dikelas, (b) Mempelajari nama-nama anak didik/siswa secara langsung (c) Mempertimbangkan lingkungan sekolah dan lingkungan kehidupan anak didik/siswa, (d) Memberikan tugas yang jelas, dapat dipahami sederhana dan tidak bertele-tele (e) Menyiapkan kegiatan sehari-hari agar apa yang dilakukan dalam pembelajaran sesuai dengan yang direncanakan, tidak terjadi banyak penyimpangan (f) Bergairah dan semangat dalam melakuka pembelajaran, agar di jadikan teladan oleh peserta didik. (g) Berbuat sesuatu yang bervariasi, sehingga membantu disiplin dan gairah belajar anak didik/siswa. (h) Menyesuaikan ilustrasi dan argumentasi dengan kemampuan anak didik/siswa, jangan anak didik/siswa diharapkan untuk melaksanakan sesuatu sesuai dengan tingkat pemahaman guru, atau mengukur anak didik/siswa dengan tingkat kemampuan gurunya. (i) Membuat peraturan yang jelas dan tegas agar bisa dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.20 Oleh karena itu, guru harus memahami 20 E. Mulyasa, Standar Kompetensi…., hal. 124 Page 6 dari 10
  7. 7. tingkat kemampuan anak didik/siswa dan guru harus mematuhi berbagai peraturan dan tata tertib secara konsisten atas kesadaran profesional, karena guru bertugas untuk mendisiplinkan para anak didik/siswa disekolah, terutama dalam pembelajaran dan menanamkan disiplin kepada anak didik/siswa harus dimulai dari diri guru sendiri dalam berbagai tindakan dan prilakunya. D. Pola penerapan disiplin Disiplin merupakan satu kesatuan yang sangat besar pengaruhnya pada setiap individu, karena dengan disiplin tersebut dapat berbentuk interpersonal dalam melakukan semua aktivitas yang telah dibebankan kepadanya. Mulyasa berpendapat bahwa: Penerapan disiplin terhadap peserta didik dapat dilakukan melalui (a) Memberikan Bimbingan, (b) Menanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik, (c) Mendidik Peserta didik melalui pendidikan akhlak, (d) Mendidik peserta didik untuk disiplin dan bertanggung jawab terhadap perbuatannya, (e) Menanamkan keiklasan dalam jiwa personil sekolah dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya masing- masing, (f) Mendidik personil sekolah untuk mengendalikan keinginan-keinginan pribadi dan mau menerima kehendak-kehendak organisasi, (g) Mendidik personil sekolah agar mengerti kewajiban yang harus di jalankannya dan larangan yang harus ditinggalkannya21 . Bagi Peserta didik yang melanggar disiplin dikenakan hukuman berupa (a) Peringatan atau teguran langsung kepada anak didik/siswa, Peringatan atau teguran langsung merupakan usaha guru atau kepala sekolah dalam usaha merobah sikap dan prilaku anak didik/siswa kearah yang lebih baik, teguran ini merupakan tahap awal sebagai sanksi. (b) Peringatan tertulis dengan tembusan kepada orang tua/wali. Peringatan tertulis dengan tembusan kepada orang tua/wali ini merupakan tahap kedua penerapan sanksi kepada anak didik/siswa yang secara terus menerus melanggar disiplin sekolah, hal ini perlu dilakukan agar orang tua anak didik/siswa bisa membimbing anaknya ketika berada di rumah. (c) Dikeluarkan untuk sementara, Sanksi ini bertujuan untuk merobah sikap anak didik/siswa yang sering melanggar disiplin sekolah, langkah ini perlu dilakukan agar anak didik/siswa bisa dibimbing sepenuhnya oleh orang tua di rumah sebelum anak didik/siswa kembali ke sekolah. (d) Di keluarkan dari sekolah. Sanksi ini diberlakukan kepada anak didik/siswa yang tidak merobah sikap atau perilaku dan sering melakukan pelanggaran disiplin yang diterapkan sekolah. Penerapan peraturan bagi anak didik/siswa dan guru dalam mendidik dan mengajar untuk meningkatkan kedisiplinan sekolah, peningkatan kedisiplinan sekolah meliputi: (1) Mengharuskan guru menyiapkan satuan pelajaran, (2) Mengharuskan guru datang sebelum jam masuk, (3) Mengharuskan guru berpakaian rapi seperti pakaian seragam.(4) Menetapkan sanksi bagi yang melanggar peraturan.22 Penerapan hukuman atas peserta didik yang melakukan pelanggaran, Ramly Maha berpendapat bahwa: Terlebih dahulu dilakukan peringatan, agar peserta didik dapat menghindar dari pelaksanaan hukuman atas dirinya, dan pelaksanaan hukuman 21 E. Mulyasa, menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan, Bandung : Remaja Rasda Karya, 2005, hal 172. 22 Ahamad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Bandung : Remaja Rosda Karya 2005), hal. 186 Page 7 dari 10
  8. 8. dihindari sejauh mungkin, kecuali tidak ada jalan lain, terpaksa harus diterapkan, lebih lanjut Ramly Maha menekankan bahwa: pelaksanaan hukuman harus terpenuhi lima syarat, yaitu (1) mengerti bagaimana duduk perkara, (2) hukuman harus adil, (3) hukuman harus ada sangkut paut dengan pelanggaran (4) hukuman sebagai alat terakhir (5) sikap guru harus bebas dari rasa marah.23 Salah satu strategi peserta didik untuk terhindar dari hukuman, maka diharapkan untuk mengikuti tips berikut ini: (a) Hadir dan pulangnya tepat waktunya, (b) Mengikuti keseluruhan program sekolah yang telah di terapkan, (c) Memakai seragam sekolah menurut ketentuan yang berlaku, (d) Memakai seragam sekolah menurut ketentuan yang berlaku, (e) Memersiapkan diri sebaik-baiknya untuk menerima pelajaran, (f) Mematuhi dan melaksanakan semua peraturan yang berlaku baginya, (g) Mematuhi tata tertib sekolah, (h) Menjalankan kewajiban, dan (i) Ikut membantu terlaksananya ketertiban sekolah. Disamping memberikan punishman/ganjaran terhadap anak didik/siswa, guru juga harus memberikan riward/hadiah kepada anak didik/siswa yang rajin dan berprilaku mulia, dalam hal ini, Raymond berpendapat bahwa: Pondasi utama untuk memberikan dorongan adalah perhatian dan penerimaan atas diri anak, kita dapat memberikan dorongan kepada seorang anak dengan cara:(a) Berikan pengakuan atas usaha anak didik/siswa dengan aspek dorongan.(b) Tunjukkan kepercayaan diri dan harapan realitis yang akan dipelajarinya oleh anak didik/siswa dalam belajar. (c) Mendorong anak didik/siswa untuk merobah sifatnya yang tidak berdisiplin (d) Tekankan untuk belajar dari kesalahan.24 Anak didik/siswa harus patuh terhadap segala peraturan dan tata tertib yang berlaku dilingkungan sekolah, mengikuti pelajaran dengan tertib dan penuh perhatian, mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru dengan penuh tanggung jawab, dan datang serta pulang sekolah tepat pada waktu sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Peraturan dan tata tertib ini juga berlaku bagi guru dan karyawan untuk melaksanakan tugas dengan tekun, memberi pelayanan yang prima dan dapat menyelesaikan tugas dengan tepat waktu. Warga sekolah harus mematuhi berbagai peraturan dan tata tertib secara konsisten atas kesadaran profesional, karena peraturan dan tata tertib adalah milik bersama warga sekolah, melaksanakan aturan dan tata tertib secara bersama-sama dengan penuh tanggung jawab dalam rangka pencapainya tujuan bersama. Oleh karena itu, diharapkan kepada guru dalam menjalankan tugasnya di sekolah perlu mendayagunakan segala sumberdaya yang ada untuk melakukan penerapan disiplin dalam rangka meningkatkan kinerja, kualitas layanan, kualitas pembelajaran, prestasi belajar peserta didik, kualitas keluaran atau kualitas lulusan demi tercapainya tujuan pendidikan, baik tujuan pembelajaran, tujuan kurikuler, tujuan institusional maupun tujuan pendidikan nasional sebagaimana yang telah dirumuskan. Guru harus menyadari akan pentingnya disiplin dalam usaha meningkatkan kualifikasi kepribadian seseorang, maka perlu adanya peningkatan kedisiplinan pada pribadi masing-masing guru, orang tua wali murid dan anak didik/siswa, yang akhirnya diharapkan tujuan penerapan kedisiplinan akan terealisasi dalam kenyataan. 23 Ramly Maha, dasar-dasar pendidikan dan ilmu jiwa, Penerbit Biro IAIN Jami’ah Ar-Raniry, 1976. 24 Raymond. J. Wlodkowski dan Judith H. Jaines, Motivasi Belajar, Jakarta : Cerdas Pustaka, 2004. hal. 14 Page 8 dari 10
  9. 9. E. KESIMPULAN 1. Ketika orang tua menyerahkan anaknya untuk dididik di sebuah lembaga pendidikan diserahkan kepada seorang guru, maka secara implisit dia telah menenima dan merelakan dirinya memikul beban dan tanggung jawab orang tua, ketika si anak telah diterima oleh seorang guru atau lembaga pendidikan, yang berarti juga telah terjadi pelimpahan sebagian tanggung jawab kepada seorang guru (Fauzi Saleb dan Alimuddin, Pendidikan Islam: Solusi Problematika Modern, Banda Aceh: Penerbit, Yayasan Pena, 2007, hal. 30) 2. Guru harus selalu menyadari akan pengawasan Allah, terutama terhadap ucapan, perilaku dan apa yang akan diajarkan terhadap anak didik, harus bersikap zuhud, tidak serakah dan tamak, dalam memperoleh dan memenuhi kebutuhan hidup, harus selalu memelihara kemuliaan ilmu, tidak beronientasi dunia semata, dengan menjadikan ilmu sebagai alat untuk mencapai kedudukan dan harta dunia, selalu memelihara dan menjalankan syari’at Allah, seperti melaksanakan shalat berjama’ah, berpakaian yang sopan, memelihara akhlak mulia, baik di dalam linkungan sekolah maupun di lingkungan masyarakat, dan Selalu mengisi waktu- waktu luang dengan melakukan hal-hal yang bermanfaat. 3. Guru setiap mebuka pelajaran harus selalu diawali dan diakhiri dengan asma Allah dan do’a, selalu memberikan nasehat kepada murid-murid yang tidak sopan, baik pada ucapan, pakaian dan perilaku dan tidak mengajar sesuatu yang bukan bidangnya dan tidak menjawab sesuatu yang tidak diketahuinya. Page 9 dari 10
  10. 10. DAFTAR PUSTAKA Abdullah Nashih ulwan, Pedoman Pendidikan Anak dalam Islam, Asy-Syifa’ Semarang, 1993. hal.151 Abu Ahmadi, Ilmu Pendidikan, Rineka Cipta, Jakarta. Tahun 1991 hal. 150 Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Bandung : Remaja Rosda Karya 2005, hal. 186 E. Mulyasa, menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan, Bandung : emaja Rasda Karya, 2005, hal 172. E. Mulyasa, Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru, Bandung: Remaja Rosda Karya Jakarta: Bumi Aksara, 2009. hal. 193. E. Mulyasa, Implementasi KTSP Kemandirian Guru dan Kepala Sekolah, Jakarta: Bumi Aksara, 2009, hal. 193. Himpunan Peraturan Perundang-undangan, Sistem Pendidikan Nasional, Bandung: Fokus Media, 2003 hal. 68 Muhaimin, Strategi Belajar Mengajar, (Surabaya; CV. Citra Media, 1996), hal. 54 Muhammad ‘Athiyah Al-Abrasyi, Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam, Jakarta; Bulan Bintang, 1990, hal. 151. Muhammad Quthb, Sistem Pendidikan Islam, PT. Alma’arif Bandung, Cet.III, Tahun 1993, hal 343. Muhammad ‘Athiyyah al-Abrasyi, aI-Tarbiyyah wa Falasifatuha, (Mesir: al- Halabi, 1969), hal. 23. M.Athiyah al-Abrasyi, Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam, Cot VII, Jakarta: Penerbit, Bulan Bintang, 1993), hal. 143. Ramly Maha, dasar-dasar pendidikan dan ilmu jiwa, Penerbit Biro IAIN Jami’ah Ar-Raniry, 1976. Raymond. J. Wlodkowski dan Judith H. Jaines, Motivasi Belajar, Jakarta : Cerdas Pustaka, 2004. hal. 14. Saiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak didik dalam interaksi Educatif, Jakarta: Rineka Cipta, 2010. hal . 52. Sukandinata, Nana Saudih, Pengembangan Kurikulum: Teori don Praktek, Jakarta: Remaja Rosdakarya, 1999, hal. 200. Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, (Jakarta; PT. Bumi Aksara, 2001), hal. 124 Warul Waildin, Pengembangan Kurikulurn; Kuliah Semester I lmu Pendidikan, Banda Aceh: IAIN-Ar-Raniry, 2008. Zakiah Darajat, Membina Nilal-Nilal Moral di Indonesia, Cot. IV,Jakarta: Bulan Bintang, 1997, hal. 68. Zuhairini dkk, Metodik Khusus Pendidikan Islam, Ca. VIII, Surabaya: Usaha Nasional, 1983), hal 40. Page 10 dari 10
  11. 11. Page 11 dari 10

×