Successfully reported this slideshow.

Materi kuliah pai semester ii

2,443 views

Published on

  • koq ndk bisa di donlwoad
       Reply 
    Are you sure you want to  Yes  No
    Your message goes here
  • Be the first to like this

Materi kuliah pai semester ii

  1. 1. Penetapan Sifat ‘Uluw Dan Istiwa` Allah Ta’ala Disusun Oleh : MAWADAH WAROHMAH FAKULTAS PENDIDIKAN AGAMA ISLAM UNIVERSITAS NAHDLATUL ULAMA SURAKARTA 2013
  2. 2. PENETAPAN SIFAT ‘ULUW DAN ISTIWA` ALLAH TA’ALA Bagian dari kesempurnaan aqidah seorang Muslim adalah mempercayai dan mengimani apa-apa yang diturunkan Allah Ta‟ala dan dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam di dalam Al-Qur‟an dan As-Sunnah. Salah satu perkara pokok dalam masalah aqidah islam yang telah menjadi kontroversial sejak dulu hingga sekarang adalah sifat „ Uluw dan Istiwa‟ Allah Ta‟ala. Mulai dari kelompok Jahmiyah di zaman dulu, sampai kelompok-kelompok lain zaman sekarang yang tak jauh beda keyakinan mereka dalam mengingkari sifat Allah Ta‟ala ini. Maka dalam kesempatan ini akan kita bahas sekilas tentang masalah ini. I. Definisi „Uluw, Istiwa‟ dan „Arsy A. „Uluw Secara bahasa kata „Uluw ( ) berasal dari kata . Yang artinya meninggikan atau menaikkan sesuatu. Dan „ uluw berarti yang tinggi. Sedangkan secara istilah syar‟i, „Uluw terdiri dari tiga segi, yaitu: 1. „Uluw ad-Dzat : yaitu, „Uluw (Ketinggian) Dzat Allah Ta‟ala atas segala makhlukNya, dan sifat ini bersifat umum. Juga sifat „Uluw Allah Ta‟ala, yaitu Istiwa‟-Nya Allah Ta‟ala di atas „Arsy-Nya, dan ini secara khusus. Dan inilah istilah yang dimaksudkan disini. 2. „Uluw al-Qadr wa al-Manzilah : yaitu, Allah Ta‟ala Yang Maha Mempunyai Kemampuan atas segala sesuatu, dan mempunyai kedudukan yang Maha Tinnggi atas segala sesuatu yang tidak ada satu makhluk pun yang dapat menyamaiNya. 3. „Uluw al-Qahr : yaitu, Allah Ta‟ala Yang Maha Kuasa atas sekalian hamba-Nya dan Makhluk-Nya. Tidak ada sesuatu pun yang ada di langit dan bumi ini, melainkan dengan Kuasa-Nya. Sebagaimana firman-Nya, “Maha Suci Allah. Dialah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan” (QS. AzZumar: 4) B. Istiwa‟ Secara bahasa, Istiwa‟ berasal dari kata Istawa ( ), yang memiliki empat arti yang kesemuanya bersumber dari salaf, yaitu: . Dan keempat arti ini memiliki satu makna yaitu naik/menuju ke atas. Kecuali yang merupakan tambahan yang artinya menetap di atas.
  3. 3. Sedangkan secara istilah dalam tafsiran kata Istawa yang terdapat di dalam AlQur‟an, sebagaimana riwayat dari Abu al-„Aliyah ar-Royahiy dan Mujahid bin Jubair dalam menafsiri lafadz ( ). Yaitu : ( ) “tinggi dan naik”. Dan Allah Ta‟ala mempunyai sifat Istiwa‟. Allah Ta‟ala beristiwa‟ di atas „Arsy-Nya setelah menciptakan langit dan bumi ini. Sebagaimana yang ditegaskan dalam firman-Nya, “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas „Arsy.” (QS. Al-A‟raf: 54, Yunus: 3) Akan tetapi bukan berarti sebelum Allah Ta‟ala beristiwa‟ di atas „Arsy-Nya sebelum diciptakan seluruh makhluk Allah tidak Maha Tinggi. Allah adalah Dzat Yang Maha tinggi sebelum dan sesudah diciptakannya makhluk.[5] C. „Arsy. Pengertian „Arsy secara bahasa adalah : singgasana raja. Sebagaimana firman Allah Ta‟ala, “…serta mempunyai singgasana yang besar”. (QS. An-Naml: 23) “Dan ia menaikkan kedua ibu-bapanya ke atas singgasana”. (QS. Yusuf: 100) Sedangkan pengertian „Arsy Allah Ta‟ala yang Dia beristiwa‟ di atasnya adalah: Singgasana yang sangat agung yang mempunyai penyangga-penyangga. „Arsy juga sebagai atap dari surga firdaus, bahkan atap seluruh makhluk. „Arsy adalah tempat yang paling tinggi, paling luas, paling besar, dan yang tidak ada yang mengetahui kadarnya secara pasti kecuali Allah I.[6] „Arsy ibarat kubah bagi alam semesta yang Allah memerintahkan sebagian malaikat untuk menjunjung „ArsyNya. Sebagaimana firman Allah Ta‟ala, “Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung „Arsy Tuhanmu di atas (kepala) mereka.” (QS. Al-Haqqoh: 17) D. Perbedaan antara „Uluw dan Istiwa‟.
  4. 4. Perbedaan antara dua sifat ini terdiri dari tiga segi, yaitu : 1. „Uluw adalah sifat Allah Ta‟ala yang berarti Maha Tinggi di atas seluruh makhlukNya secara umum dan keseluruhan. Sedangkan Istiwa‟ adalah sifat khusus Allah Ta‟ala, yaitu Allah beristiwa‟ di atas Arsy-Nya. 2. „Uluw adalah sifat dzatiyah. Sedangkan Istiwa‟ adalah sifat fi‟liyah ikhtiyariyah. Yaitu Allah berkehendak mengerjakannya sesuai kehendak-Nya. 3. „Uluw adalah sifat Allah yang ditunjukkan oleh dalil-dalil naqli dari Al-Qur‟an dan As-Sunnah, dan juga dapat dicerna oleh akal dan fitrah manusia. Sedangkan Istiwa‟ adalah sifat Allah Ta‟ala yang dijelaskan hanya oleh dalil naqli, yaitu wahyu dari Allah Ta‟ala, baik dalam Al-Qur‟an maupun As-Sunnah. II. Dalil-dalil yang menunjukkan bahwa Allah I berada di atas. Sangat banyak dalil dari Al-Qur‟an dan As-Sunnah yang sahihah yang menunjukkan bahwa Allah berada di atas „Arsy, di atas langit, di atas seluruh makhluk-Nya. Demikian banyaknya dalil itu sehingga tidak terhitung jumlahnya. Imam al-Alusi menjelaskan di dalam tafsirnya, “Dan engkau mengetahui bahwa mazhab Salaf menetapkan ketinggian Allah Ta‟ala sebagaimana disebutkan oleh Imam At-Thahawi dan yang selainnya, mereka berdalil dengan sekitar 1000 dalil”. Karena demikian banyaknya dalil tersebut, tidak mungkin dapat dikemukakan semua. Pada tulisan ini hanya sedikit dalil yang dapat dikemukakan. Kami kutipkan beberapa yang diambil dari kitab Al-Intishor serta beberapa keterangan dari kitab-kitab lain. Dalil-dalil dari Al-Qur‟an. Dalil-dalil tentang ketinggian Dzat Allah di atas „Arsy, di atas langit, di atas seluruh makhluk-Nya terbagi dalam berbagai sudut pendalilan. Pada tiap sudut pendalilan terdapat banyak dalil. Sudut-sudut pendalilan tersebut di antaranya: Penjelasan tentang Ketinggian (al-„Uluw) Allah Ta‟ala secara mutlak di atas makhluk-Nya. Sebagaimana firman-Nya: “Dan Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung” (QS. Al-Baqarah: 255) “Dan Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar” (QS. Saba‟: 28) Penjelasan tentang Ketinggian (al-Fauqiyyah) Allah Ta‟ala di atas seluruh makhluk-Nya. Sebagaimana firman-Nya: “Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa
  5. 5. yang diperintahkan (kepada mereka).” (QS. An-Nahl: 50) “Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-An‟am: 18) Penjelasan bahwa Allah I berada di atas langit. Sebagaimana firman-Nya: “Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?” (QS. Al-Mulk: 16) Perlu dipahami dalam bahasa Arab bahwa lafadz tidak hanya berarti di „dalam‟, tapi juga bisa bermakna „di atas‟. Hal ini sebagaimana penggunaan lafadz tersebut dalam ayat: “Maka berjalanlah kamu (kaum musyrikin) di atas bumi selama empat bulan…”(QS. At-Taubah: 2) Penjelasan bahwa Al-Qur‟an „diturunkan‟ dari Allah Ta‟ala. Ini jelas menunjukkan bahwa Allah Ta‟ala berada di atas, sehingga Dia menyebutkan bahwa Al-Qur‟an diturunkan dari-Nya. Dan tidaklah diucapkan kata „diturunkan‟ kecuali berasal dari yang di atas. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur‟an, di antaranya: “Kitab (Al-Quran ini) diturunkan oleh Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. Az-Zumar: 1). “(AlQur‟an) diturunkan dari Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (QS. Fusshilaat: 2) “(Al Qur‟an) diturunkan dari Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji” (QS. Fusshilat: 42). Penjelasan tentang adanya sesuatu yang naik menuju Allah Ta‟ala. Lafaz “naik” yang disebutkan dalam Al-Qur‟an dan al-Hadits bisa berupa al-„Uruuj atau as- Shu‟uud. Sebagaimana firman-Nya: “(yang datang) dari Allah, Yang mempunyai tempat-tempat naik. Malaikatmalaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada-Nya”(QS. Al-Ma‟aarij: 3-4)
  6. 6. “Kepada-Nyalah naik ucapan yang baik dan amal soleh dinaikkannya” (QS. Fathir: 10) Penjelasan bahwa Allah Ta‟ala ber-istiwa‟ di atas „Arsy. Lafaz istiwa‟ diikuti dengan penghubung sehingga bermakna Al-Qur‟an di 7 tempat. Di antaranya yaitu: „tinggi di atas‟ „Arsy. Sebagaimana yang disebutkan di dalam “(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas „Arsy” (QS. Thoha: 5) “Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas ´arsy” (QS. Al-Hadid: 4) Dalil-dalil dari As-Sunnah Ketinggian Allah Ta‟ala di atas langit juga ditegaskan dalam banyak sekali hadits Nabi Muhammad shallallahu „alaihi wa sallam dengan beberapa versi, baik berupa perkataan, perbuatan, dan taqrir (persetujuan). Seperti sabda Nabi shallallahu „alaihi wa sallam: Sesungguhnya Allah tatkala menetapkan penciptaan, Dia menulis di sisi-Nya di atas „arsy: “Rahmat-Ku mengalahkan kemarahan-Ku.” Dan juga sabda Nabi r : Tidakkah kalian mempercayaiku padahal aku dipercaya oleh Dzat yang di atas langit.[10] Dan telah tetap pula bahwa Nabi shallallahu „alaihi wa sallam mengangkat tangannyake atas langit pada saat khutbah di Arafah ketika mereka mengatakan, “Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan dan menunaikan serta menasehati.” Di saat itu beliau r menjawab, “Ya Allah saksikanlah.” Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam juga telah menetapkan sifat ini untuk Allah dalam beberapa hadits, diantaranya: Hadits Abu Hurairah radhiyallahu „anhu bahwa Nabi shallallahu „alaihi wa sallam memegang tangannya (Abu Hurairah) dan berkata : “Wahai Abu Hurairah, sesungguhnya Allah menciptakan langit dan bumi serta apa-apa yang ada diantara keduanya dalam enam hari, kemudian Dia berada di
  7. 7. atas „Arsy (singgasana).” Dari Muawiyah bin Hakam As-Sulami -radhiyallahu „anhu- berkata: “…Saya memiliki seorang budak wanita yang bekerja sebagai pengembala kambing di gunung Uhud dan Al-Jawwaniyyah (tempat dekat gunung Uhud). Suatu saat saya pernah memergoki seekor serigala telah memakan seekor dombanya. Saya termasuk dari bani Adam, saya juga marah sebagaimana mereka juga marah, sehingga saya menamparnya, kemudian saya datang pada Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam, ternyata beliau menganggap besar masalah itu. Saya berkata: “Wahai Rasulullah, apakah saya merdekakan budak itu?” Jawab beliau: “Bawalah budak itu padaku”. Lalu Nabi shallallahu „alaihi wa sallam bertanya: “Dimana Allah?” Jawab budak tersebut: “Di atas langit”. Nabi shallallahu „alaihi wa sallam bertanya lagi: “Siapa saya?”. Jawab budak tersebut: “Engkau adalah Rasulullah”. Nabi shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: “Merdekakanlah budak ini karena dia seorang wanita mukminah”. Dan masih banyak lagi hadit-hadits Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam yang menerangkan dan menjelaskan sejelas-jelasnya bahwa Allah Ta‟ala mempunyai sifat beristiwa‟ di atas „Arsy-Nya yang tidak mungkin kami tuliskan seluruhnya. Dalil-dalil dari Ijma‟ (kesepakatan ulama) v Imam al-Auza‟i berkata, “Kami dan seluruh tabi‟in bersepakat mengatakan, Allah berada di atas „arsy-Nya. Dan kami semua mengimani sifat-sifat yang dijelaskan dalam as-Sunnah.” v Imam Abdullah Ibnu Mubarak berkata, “Kami mengetahui Rabb kami, Dia bersemayam di atas „arsy berpisah dari makhluk-Nya. Dan kami tidak mengatakan sebagaimana kaum Jahmiyah yang mengatakan bahwa Allah ada di sini (beliau menunjuk ke bumi).” v Imamul Aimmah Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah berkata,
  8. 8. “Barang siapa yang tidak menetapkan bahwa Allah Ta‟ala beristiwa‟ di atas „ArsyNya, di atas langit ke tujuh dan terpisah dari makhluk-Nya, maka dia telah kafir. Jika dia bertaubat maka diterima taubatnya. Jika tidak bertaubat maka dipukul tengkuknya (dibunuh) kemudian dibuang ke tempat sampah agar bau busuknya tidak membahayakan ahli kiblat dan ahli dzimmah.” v Imam Abul Hasan Al-Asy‟ari berkata dalam Al-Ibanah an Ushul ad-Diyanah menceritakan aqidahnya: “Dan bahwasanya Allah di atas arsy-Nya sebagaimana firman-Nya: „Ar-Rahman tinggi di atas arsy‟”. Beliau juga memaparkan dalil-dalil yang banyak sekali tentang keberadaan Allah di atas „Arsy. Di antara perkataan beliau: “Dan kita melihat seluruh kaum muslimin apabila mereka berdo‟a, mereka mengangkat tangannya ke arah langit, karena memang Allah tinggi di atas „Arsy dan „Arsy di atas langit. Seandainya Allah tidak berada di atas „Arsy, tentu mereka tidak akan mengangkat tangannya ke arah „Arsy”. “Dan kaum Mu‟tazilah, Haruriyyah dan Jahmiyyah beranggapan bahwa Allah berada di setiap tempat. Hal ini melazimkan mereka bahwa Allah berada di perut Maryam, tempat sampah dan WC. Faham ini menyelisihi agama. Maha suci Allah dari ucapan mereka.” Sebenarnya masih sangat banyak lagi dalil-dalil dalam masalah ini, semua ini telah dijelaskan oleh para ulama kita dalam kitab-kitab mereka. Bahkan di antara mereka ada yang membahas masalah ini dalam kitab tersendiri seperi Imam Dzahabi dalam bukunya al-„Uluw lil Aliyyil Azhim. Semoga Allah merahmati Imam Ibnu Abil Izzi al-Hanafi yang telah mengatakan – setelah menyebutkan 18 segi dalil–, “Dan jenis-jenis dalil-dalil ini, seandainya dibukukan tersendiri, maka akan tertulis kurang lebih seribu dalil. Oleh karena itu, kepada para penentang masalah ini, hendaknya menjawab dalil-dalil ini. Tapi sungguh sangatlah mustahil mereka mampu menjawabnya dengan jawaban yang benar.” Maka, seharusnya orang yang mempunyai akal yang sehat dan tidak mengikuti hawa nafsunya, akan mengakui hal ini. Terlebih setelah jelas dengan berbagai dalil-dalil shahih. III. Allah I berada di atas „Arsy berlepas dari makhluk-Nya tanpa kaifiyyah. Allah Ta‟ala baa‟in (terlepas) dari makhluk-Nya dengan artian bahwa, Allah Ta‟ala terpisah dari makhluk-Nya, tidak ada sesuatu pun dari makhluk-Nya
  9. 9. yang terdapat pada Dzat-Nya dan sebaliknya. Lafadz baa‟in min kholqihi belum dikenal pada masa sahabat. Adapun ulama‟ salaf mereka meletakkan lafadz ini untuk membantah paham al-khaluliyah. Paham ini berkeyakinan bahwa ada masanya dimana Dzat Allah Ta‟ala menyatu dengan manusia. Juga paham Al-Mu‟atthilah yang menetapkan bahwa Allah Ta‟ala beristiwa‟ di atas „Asry. Akan tetapi mereka mengartiakan istiwa‟ disini dengan istila‟( ) . Atau mereka meyakini yang tahu makna istiwa‟ hanyalah Allah, lalu merka melimpahkan sepenuhnya pada Allah Ta‟ala.Oleh karenanya ulama‟ Ahlus Sunnah wal Jama‟ah menjadikan lafadz ini sebagai kaidah dalam masalah Istiwa‟. Sangat banyak perkataan para ulama yang menegaskan masalah ini sebagaimana yang tercantum di atas. Dan perkataan lain mereka di antaranya: Imam Ishaq bin Rohawaih ketika ditanya tentang firman Allah Ta‟ala surat AlMujadilah ayat 7, “Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia- lah keempatnya.” Beliau berkata, “Dimanapun engkau berada, maka Allah Ta‟ala lebih dekat kepadamu dari pada urat lehermu, dia berlepas dari makhluk-Nya.” Kemudian beliau menyebutkan perkataan Imam Ibnul Mubarok “Dia berada di atas „Arsy-Nya dan berlepas dari makhluk-Nya”. Suatu ketika Imam Ahmad ditanya, “Apakah Allah I berada di atas langit ke tujuh di atas „Arsy-Nya, berlepas dari makhluk-Nya. Lalu Kekuasaan dan Ilmu-Nya di setiap tempat?” Imam Ahmad berkata, “Ya, Dia berada di atas „Arsy, dan tidak ada sesuatupun yang terlepas dari ilmu-Nya”. Dan beberapa keterangan lainnya dari ulama‟-ulama‟ Ahlus sunnah wal Jama‟ah berkenaan dengan ini. Sifat Tinggi dan Istiwa‟ Allah Ta‟ala di atas „Arsy-Nya wajib kita imani. Sedangkan kaifiyyahnya (bagaimananya) tidak dapat dijangkau oleh akal pikiran manusia. Karena hanya Allah sendirilah yang mengetahuinya. Manusia tidak dapat mengetahui hakikat dari Dzat Allah, maka juga tidak dapat mengetahui kaifiyyah sifat Allah Ta‟ala. Banyak sekali atsar yang melarang kita bertanya tentang kaifiyyah Allah Ta‟ala. di antaranya kisah Imam Malik ketika ditanya oleh seseorang tentang kaifiyyah (bagaimana) Allah Ta‟ala beristiwa‟ di atas „Arsy. Maka seketika Imam Malik marah, kepalanya tertunduk, wajahnya memerah, dan keluar keringat, lalu berkata perkataan yang sudah tak asing lagi, “Istiwa‟ itu tidak majhul (diketahui), dan kaif (bagaimananya) tidak ma‟qul (tidak dapat dicerna akal), sedangkan iman kepadanya (istiwa‟) adalah wajib, dan
  10. 10. bertanya tentangnya (kaifiyyah) adalah bid‟ah Maksud dari Al-Istiwa‟ ghairu majhul, yaitu ghairu majhul makna fil lughoh (arti bahasanya sudah tidak asing lagi). Dengan artian bahwa lafadz Istiwa‟ tidak asing lagi artinya adalah: tinggi, naik, dan menetap. Maksud kaifiyyah ghoiru ma‟qul, yaitu bagaimana bentuk, cara, dan gambaran Allah beristiwa‟ tidak dapat diketahui akal manusia. Sedangkan Allah tidak memberikan khabar tentang hal itu, maka kewajiban kita adalah diam dan tidak bertanya tentang kaifiyyah istiwa‟ Allah Ta‟ala. Kaifiyyah tentang sifat Allah Ta‟ala tidak diketahui oleh akal karena tiga hal, yaitu: 1. Allah Ta‟ala mengkhabarkan tentang Istiwa‟, tapi tidak mengkhabarkan tentang kaifiyyahnya. 2. Jika kita tidak mengetahui kaifiyyah Dzat Allah Ta‟ala, maka kita juga tidak akan tahu kaifiyyah tentang sifat-Nya. 3. Kita tidak dapat mengetahui kaifiyyah sesuatu kecuali dengan tiga hal, yaitu: menyaksikan secara langsung sesuatu tersebut, menyaksikan yang semisal dengannya, atau melalui khabar yang benar akan hal tersebut. Maksud as-su‟alu „anhu bid‟ah, yaitu bertanya tentang kaifiyyah istiwa‟ Allah Ta‟ala adalah suatu bid‟ah karena tiga hal, yaitu: 1. Bahwasanya tidak ada contoh dari sahabat y bahwa merka bertanya tentang hal itu. Padahal mereka adalah orang-orang yang gigih dalam menuntut ilmu tentang Rabb mereka. Padahal jika mereka mau bertannya, di sisi mereka ada Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam. 2. Penyebutan bid‟ah sesuai dengan orang-orang yang terlalu dalam menceburkan diri dalam menggali tentang Allah Ta‟ala dan sifat-Nya. Mereka juga disebut ahlul bid‟ah. 3. Bahwasannya tidak ada jalan lagi untuk mengetahui dan menjawab tentang kaifiyyah Allah dan sifat-Nya. 1. V. Kedudukan orang yang tidak mengakui Istiwa‟ Allah I di atas „Arsy. Ada beberapa perkataan ulama‟ tentang orang-orang maupun kelompok yang tidak mengakui dan mepercayai sifat Istiwa‟ Allah Ta‟ala, atau Ketinggian-Nya. Di antaranya yaitu: - Perkataan Abu Hanifah. Riwayat dari Syaikhul Islam Abu Ismail Al-Anshori dalam kitabnya Al-Faruq, dengan sanad sampai Abi Muthi‟ Al-Balkhi: bahwasanya Abu Hanifah ditannya tentang orang yang mengatakan, “Aku tidak tahu Rabb-ku
  11. 11. di atas langit atau di bumi.” Maka Abu Hanifah menjawab, “Dia telah kafir” lalu menyebutkan firman Allah surat Thoha ayat 5. - Imam „Utsman bin Sa‟id Ad-Darimiy berkata, “Di dalam hadits Rasulullah r ini (hadits ketika haji wada‟ di Arafah di atas) merupakan dalil bahwa seseorang yang tidak mengetahui bahwa Allah Ta‟ala di atas langit, bukan di bumi, maka dia bukan orang mukmin.” - Imamul Aimmah Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah berkata, “Barang siapa yang tidak menetapkan bahwa Allah I beristiwa‟ di atas „Arsy-Nya, di atas langit ke tujuh dan terpisah dari makhluk-Nya, maka dia telah kafir. Jika dia bertaubat maka diterima taubatnya. Jika tidak bertaubat maka dipukul tengkuknya (dibunuh) kemudian dibuang ke tempat sampah agar bau busuknya tidak membahayakan ahli kiblat dan ahli dzimmah.” Adapun kesimpulan hukum orang seperti ini, maka perlu dirinci bagaimana bentuk pengingkarannya, apakah dengan tahrif, ta‟thil, tamtsil, tasybih, takyif, dan semacamnya. Maka hukum orang tersebut berkaitan erat dengan hal-hal tadi. Makna Syahadatain Makna syahadat la ilaha illallah adalah meyakini bahwa tidak ada yang berhak mendapatkan ibadah kecuali Allah, konsisten dengan pengakuan itu dan mengamalkannya. La ilaha menolak keberhakan untuk diibadahi pada diri selain Allah, siapapun orangnya. Sedangkan illallah merupakan penetapan bahwa yang berhak diibadahi hanyalah Allah. Sehingga makna kalimat ini adalah la ma‟buda haqqun illallah atau tidak ada sesembahan yang benar selain Allah. Sehingga keliru apabila la ilaha illallah diartikan tidak ada sesembahan/tuhan selain Allah, karena ada yang kurang. Harus disertakan kata „yang benar‟ Karena pada kenyataannya sesembahan selain Allah itu banyak. Dan kalau pemaknaan „tidak ada sesembahan selain Allah‟ itu dibenarkan maka itu artinya semua peribadahan orang kepada apapun disebut beribadah kepada Allah, dan tentu saja ini adalah kebatilan yang sangat jelas. Kalimat syahadat ini telah mengalami penyimpangan penafsiran di antaranya adalah : Pemaknaan la ilaha illalah dengan „la ma‟buda illallah‟ tidak ada sesembahan selain Allah, hal ini jelas salahnya karena yang disembah oleh orang tidak hanya Allah
  12. 12. namun beraneka ragam Pemaknaan la ilaha illallah dengan „la khaliqa illallah‟ tidak ada pencipta selain Allah. Makna ini hanya bagian kecil dari kandungan la ilaha illallah dan bukan maksud utamanya. Sebab makna ini hanya menetapkan tauhid rububiyah dan itu belumlah cukup. Pemaknaan la ilaha illallah dengan „la hakimiyata illallah‟ tidak ada hukum kecuali hukum Allah, maka inipun hanya sebagian kecil maknanya bukan tujuan utama dan tidak mencukupi. Sehingga penafsiran-penafsiran di atas adalah keliru. Hal ini perlu diingatkan karena kekeliruan semacam ini telah tersebar melalui sebagian buku yang beredar di antara kaum muslimin. Sehingga penafsiran yang benar adalah sebagaimana yang sudah dijelaskan yaitu : „la ma‟buda haqqun illallah‟ tidak ada sesembahan yang benar selain Allah Makna Muhammad Rasulullah Rujukan : Kitab Tauhid li Shafil Awwal hal. 46 Sedangkan makna syahadat anna Muhammadar rasulullah adalah mengakui secara lahir dan batin bahwa beliau adalah hamba dan utusan-Nya yang ditujukan kepada segenap umat manusia dan harus disertai sikap tunduk melaksanakan syari‟at beliau yaitu dengan membenarkan sabdanya, melaksanakan perintahnya, menjauhi larangannya dan beribadah kepada Allah hanya dengan tuntunannya. Rukun dan Syarat Syahadat Rujukan : Kitab Tauhid li Shafil Awwal hal. 46-48 La ilaha illallah terdiri dari dua rukun : nafi/penolakan, yaitu yang terkandung di dalam la ilaha dan itsbat/penetapan, yaitu yang terkandung dalam illallah. Maka dengan la ilaha dihapuslah segala bentuk kesyirikan dan mengharuskan mengingkari segala sesembahan selain Allah. Sedangkan dengan illallah maka ibadah hanya boleh ditujukan kepada Allah dan harus tunduk melaksanakannya. Ayat-ayat yang mengungkapkan dua rukun ini banyak, di antaranya adalah firman Allah tentang ucapan Nabi Ibrahim (yang artinya), “Sesungguhnya aku berlepas diri dari semua sesembahan kalian, selain (Allah) yang telah menciptakan diriku.” (QS. az-Zukhruf : 26). Sedangkan rukun syahadat anna Muhammad rasulullah ada dua yaitu ; pernyataan bahwa beliau adalah hamba Allah dan sebagai rasul-Nya. Beliau adalah hamba, maka tidak boleh diibadahi dan diperlakukan secara berlebihan.
  13. 13. Dan beliau adalah rasul maka tidak boleh didustakan ataupun diremehkan. Beliau membawa berita gembira dan peringatan bagi seluruh umat manusia. Syarat-syarat la ilaha illallah adalah : Mengetahui maknanya, lawan dari bodoh Meyakininya, lawan dari ragu-ragu Menerimanya, lawan dari menolak Tunduk kepadanya, lawan dari membangkang Ikhlas dalam beribadah, lawan dari syirik Jujur dalam mengucapkannya, lawan dari dusta Mencintai isinya dan tidak membencinya Syarat-syarat anna Muhammadar rasulullah adalah : Mengakui risalahnya secara lahir dan batin Mengucapkan dan mengakuinya dengan lisan Mengikutinya, yaitu dengan mengamalkan kebenaran yang beliau bawa dan meninggalkan kebatilan yang beliau larang Membenarkan beritanya, baik yang terkait dengan perkara gaib di masa silam atau masa depan Mencintai beliau lebih dalam daripada kecintaan terhadap diri sendiri, harta, anak, orang tua dan seluruh umat manusia Menjunjung tinggi sabdanya di atas semua ucapan manusia dan mengamalkan sunah/tuntunannya Konsekuensi Syahadatain Rujukan : Kitab Tauhid li Shafil Awwal hal. 50 dengan sedikit perubahan dan penambahan Konsekuensi syahadat la ilaha illallah adalah meninggalkan segala bentuk peribadahan dan ketergantungan hati kepada selain Allah. Selain itu ia juga melahirkan sikap mencintai orang yang bertauhid dan membenci orang yang berbuat syirik. Sedangkan konsekuensi syahadat Muhammad Rasulullah adalah menaati Nabi, membenarkan sabdanya, meninggalkan larangannya, beramal dengan sunnahnya dan meninggalkan bid‟ah, serta mendahulukan ucapannya di atas ucapan siapapun. Selain itu, ia juga melahirkan sikap mencintai orang-orang yang taat dan setia dengan sunnahnya dan membenci orang-orang yang durhaka dan menciptakan perkara-perkara baru dalam urusan agama yang tidak ada tuntunannya.
  14. 14. Mengenal Nama dan Sifat Allah Pembaca yang budiman, ilmu tentang mengenal Alloh dan Rosul-Nya merupakan ilmu yang paling mulia. Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh mengatakan, “Kemuliaan sebuah ilmu mengikuti kemuliaan objek yang dipelajarinya.” Dan tentunya, tidak diragukan lagi bahwa pengetahuan yang paling mulia, paling agung dan paling utama adalah pengetahuan tentang Alloh di mana tiada ilah (sesembahan) yang berhak disembah kecuali Dia semata, Robb semesta alam. Ilmu Tentang Alloh Adalah Pokok dari Segala Ilmu Ilmu tentang Alloh adalah pokok dan sumber segala ilmu. Maka barangsiapa mengenal Alloh, dia akan mengenal yang selain-Nya dan barangsiapa yang jahil tentang Robb-nya, niscaya dia akan lebih jahil terhadap yang selainnya. Alloh Ta‟ala berfirman yang artinya, “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Alloh, lalu Alloh menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri.” (Al-Hasyr: 19). Ketika seseorang lupa terhadap dirinya, dia pun tidak mengenal hakikat dirinya dan hal-hal yang merupakan kemaslahatan (kebaikan) bagi dirinya. Bahkan ia lupa dan lalai terhadap apa saja yang merupakan sebab bagi kebaikan dan kemenangannya di dunia dan di akhirat. Maka, jadilah dia seperti orang yang ditinggalkan dan ditelantarkan, yang berstatus seperti binatang ternak yang dilepas dan dibiarkan pergi sekehendaknya, bahkan mungkin saja binatang ternak lebih mengetahui kepentingan dirinya daripadanya.Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh berkata, “Manusia yang paling sempurna ibadahnya adalah seorang yang beribadah kepada Alloh dengan semua nama dan sifat-sifat Alloh yang diketahui oleh manusia”. Beliau juga berkata, “Yang jelas, bahwa ilmu tentang Alloh adalah pangkal segala ilmu dan sebagai pokok pengetahuan seorang hamba akan kebahagiaan, kesempurnaan dan kemaslahatannya di dunia dan di akhirat.” (Miftaah Daaris Sa‟aadah). Alloh telah memperkenalkan diri-Nya kepada hamba-hamba-Nya dengan memberitahukan nama-nama-Nya yang paling indah dan sifat-sifat-Nya yang paling mulia. Semua itu disebutkan dalam Kitab-Nya dan Sunnah Rosul-Nya. Bahkan kita jumpai, hampir pada setiap ayat Alqur‟an yang kita baca selalu berakhir dengan peringatan atau penyebutan salah satu dari nama-nama Alloh atau salah satu dari sifat-sifat-Nya. Sebagai contoh, firman Alloh yang artinya, “…Sesungguhnya Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (At-Taubah: 5) dan juga firman-Nya yang artinya, “…Dan Alloh Maha Mengetahui lagi Maha
  15. 15. Bijaksana.” (An-Nisaa‟: 17). Hal ini semua disebabkan karena nama-nama yang terbaik dan sifat-sifat yang mulia ini memiliki daya pengaruh dan membekas dalam hati seorang yang mengetahui-Nya, hingga ia selalu merasa terawasi oleh Alloh dalam segala aspek kehidupannya. Dengan demikian, sempurnalah rasa malunya dari bermaksiat kepada Alloh. Yang Paling Takut Kepada Alloh Adalah yang Paling Mengenal Alloh. Semakin tinggi pengetahuan seorang hamba kepada Robb-nya, maka ia akan semakin takut kepada-Nya. Alloh berfirman, “Sesungguhnya yang takut kepada Alloh di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama.” (Faathir: 28). Orang yang paling mengenal dan paling mengetahui Alloh adalah Rosululloh shollallohu „alaihi wa sallam. Oleh karena itu, beliau senantiasa dalam keadaan takut dari perbuatan durhaka terhadap Robb-nya, dan tentu kita telah mengetahui siapa beliau. Karena Alloh telah memerintahkannya untuk mengatakan, “Katakanlah: „Sesungguhnya aku takut akan adzab hari yang besar (hari Kiamat), jika aku mendurhakai Robbku‟.” (Al-An‟aam: 15). Sebab, ahli tauhid yang benar-benar mengenal Alloh memandang bahwa kemaksiatan itu, meskipun kecil, ibarat sebuah gunung yang sangat besar. Karena mereka mengetahui keagungan Dzat (Rabb) yang Maha Esa serta Maha Kuasa dan mengenal hak-hak-Nya, oleh sebab itu, mereka menjadi orang-orang yang paling takut kepada-Nya di antara manusia. Kebodohan Akan Keagungan Alloh Adalah Induk Kemaksiatan Dari Abul „Aliyah, beliau pernah bercerita bahwa para Shahabat Rosululloh mengatakan, “Setiap dosa yang dikerjakan seorang hamba, penyebabnya adalah kejahilan.” (Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Jarir, dengan sanad yang shahih). Imam Ibnu Taimiyyah rohimahulloh berkata, “Setiap pelaku kemaksiatan adalah seorang jahil dan setiap orang yang takut kepada-Nya adalah seorang alim yang taat kepada Alloh. Dia menjadi seorang yang jahil hanya karena kurangnya rasa takut yang dimilikinya, kalau saja rasa takutnya kepada Alloh sempurna, pastilah dia tidak akan bermaksiat kepada-Nya.”. Syirik merupakan kemaksiatan yang terbesar di antara maksiat yang ada. Tidaklah manusia berbuat syirik kecuali memang karena ia bodoh dalam pengenalannya terhadap Tuhannya. Oleh karena itu, ketika Nabi Nuh „alaihis salaam mengajak kaumnya (kepada tauhid) lalu mereka menolaknya, maka beliau pun mengetahui bahwa penolakan tersebut disebabkan karena ketidaktahuan mereka akan kebesaran Alloh. Alloh Ta‟ala berfirman yang artinya, “Mengapa kamu tidak
  16. 16. percaya akan kebesaran Alloh?” (Nuuh: 13). Ibnu Abbas berkata dalam menafsirkan ayat ini, “Kalian tidak mengetahui keagungan atau kebesaran-Nya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir melalui beberapa jalan yang saling menguatkan). Apa yang dikatakan di atas sangat beralasan, karena seandainya manusia mengenal Alloh dengan sebenarnya, niscaya mereka tidak terjerat dalam kesyirikan mempersekutukan Alloh dengan sesuatu. Sebab, segala kebaikan berada di tangan-Nya, maka bagaimana mungkin mereka bersandar kepada selain-Nya? Nama Alloh Semuanya Husna Nama-nama Alloh semuanya husnaa, maksudnya, mencapai puncak kesempurnaannya. Karena nama-nama itu menunjukkkan kepada pemilik nama yang mulia, yaitu Alloh Subhaanahu wa Ta‟ala dan juga mengandung sifat-sifat kesempurnaan yang tidak ada cacat sedikit pun ditinjau dari seluruh sisinya. Alloh Ta‟ala berfirman yang artinya, “Hanya milik Alloh-lah nama-nama yang husna.” (Al-A‟roof: 18). Kewajiban kita terhadap nama-nama Alloh ada tiga, yaitu beriman dengan nama tersebut, beriman kepada makna (sifat) yang ditunjukkan oleh nama tersebut dan beriman dengan segala pengaruh yang berhubungan dengan nama tersebut. Maka, kita beriman bahwa Alloh adalah Ar-Rohiim (Yang Maha Penyayang), memiliki sifat rahmah (kasih sayang) yang meliputi segala sesuatu dan menyayangi semua hamba-Nya. Nama dan Sifat Alloh Tidak Dibatasi Dengan Bilangan Tertentu Hal ini berdasarkan sabda Nabi shollallohu „alaihi wa sallam, “Aku memohon kepada Engkau dengan semua nama yang menjadi nama-Mu, baik yang telah Engkau jadikan sebagai nama diri-Mu atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu atau Engkau sembunyikan menjadi ilmu ghaib di sisi-Mu.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, Al-Hakim, shahih). Tidak ada seorang pun yang dapat membatasi dan mengetahui apa yang masih menjadi rahasia Alloh dan menjadi perkara yang ghaib. Adapun sabda beliau, “Sesungguhnya Alloh memiliki 99 nama, yaitu seratus kurang satu. Barangsiapa yang menghafal dan faham maknanya, niscaya masuk syurga.” (HR. Bukhari-Muslim) tidak menunjukkan pembatasan namanama Alloh dengan bilangan sembilan puluh sembilan. Makna yang benar adalah, sesungguhnya nama-nama Alloh yang 99 itu, mempunyai keutamaan bahwa siapa saja yang menhafal dan memahaminya akan masuk syurga. Demikianlah, semoga kita benar-benar mengenal Alloh dengan sebenar-benar pengenalan dan
  17. 17. mengagungkan Alloh dengan sebenar-benar pengagungan sehingga bisa menyelamatkan kita dari berbuat syirik kepada-Nya. Prioritas Utama: Akhlaq Kepada Allah Dari An Nawas bin Sam‟an radhiyallahu anhu, dari Nabi shallallahu „alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Kebajikan itu keluhuran akhlaq. Hadits ini menunjukkan urgensi akhlak dalam agama ini, karena nabi shallallahu „alaihi wa sallam memberitakan bahwa seluruh kebajikan terdapat dalam keluhuran akhlak. Dengan demikian, seorang yang baik adalah seorang yang luhur akhlaknya. Imam Ibnu Rajab al Hambali rahimahullah menjelaskan makna kata al birr (kebajikan) yang terdapat dalam hadits di atas. Beliau berkata, Diantara makna al birr adalah mengerjakan seluruh ketaatan, baik secara lahir maupun batin. (Makna seperti ini) tertuang dalam firman Allah ta'ala: "Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. MerekaiItulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa." (Al Baqarah: 177). Dari penjelasan Ibnu Rajab dan teks ayat dalam surat Al Baqarah tersebut, kita dapat memahami dengan jelas bahwa yang dinamakan kebajikan (al birr) turut mencakup keimanan yang benar terhadap Allah, mengerjakan perintah-Nya (dan tentunya meninggalkan larangan-Nya), serta berbuat kebajikan terhadap sesama makhluk Allah. Kita juga bisa menyatakan, – berdasarkan hadits An Nawwas radhiallahu „anhu di atas-, bahwa seorang yang beriman kepada Allah dengan keimanan yang benar, mengerjakan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan berbuat kebajikan terhadap sesama adalah seorang yang berakhlak luhur, karena nabi shallallahu „alaihi wa sallam mendefinisikan al birr dengan keluhuran akhlak, dan pada ayat 177 surat Al Baqarah di atas Allah menjabarkan berbagai macam bentuk al birr.
  18. 18. Dengan kata lain, seorang yang berakhlak luhur adalah seorang yang mampu berakhlak baik terhadap Allah ta‟ala dan sesamanya. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan: Keluhuran akhlak itu terbagi dua. Pertama, akhlak yang baik kepada Allah, yaitu meyakini bahwa segala amalan yang anda kerjakan mesti (mengandung kekurangan/ketidaksempurnaan) sehingga membutuhkan udzur (dari-Nya) dan segala sesuatu yang berasal dari-Nya harus disyukuri. Dengan demikian, anda senantiasa bersyukur kepada-Nya dan meminta maaf kepadaNya serta berjalan kepada-Nya sembari memperhatikan dan mengakui kekurangan diri dan amalan anda. Kedua, akhlak yang baik terhadap sesama. kuncinya terdapat dalam dua perkara, yaitu berbuat baik dan tidak mengganggu sesama dalam bentuk perkataan dan perbuatan. Terdapat persepsi yang berkembang di masyarakat bahwa makna keluhuran akhlak (akhlakul karimah) terbatas pada interaksi sosial yang baik dengan sesama. Hal ini kurang tepat, karena menyempitkan makna akhlakul karimah, silahkan anda lihat kembali penjelasan di atas. Bahkan, terkadang terdapat selentingan perkataan yang terkadang terucap dari seorang muslim, yang menurut kami cukup fatal, seperti perkataan, “Si fulan yang non muslim itu lebih baik daripada fulan yang muslim” atau ucapan semisal. Ucapan ini terlontar tatkala melihat kekurangan akhlak pada saudaranya sesama muslim, kemudian dia membandingkan saudaranya tersebut dengan seorang kafir yang memiliki interaksi sosial yang baik dengan sesamanya. Perkataan itu cukup fatal karena seorang muslim yang bertauhid kepada Allah, betapa pun buruk akhlaknya, betapapun besar dosa yang diperbuat, tetaplah lebih baik daripada seorang kafir, yang berbuat syirik kepada Allah ta‟ala. Hal ini mengingat dosa syirik menduduki peringkat teratas dalam daftar dosa. Seorang yang memiliki interaksi sosial yang baik terhadap sesama, namun dia tidak menyembah Allah atau tidak menauhidkannya dalam segala bentuk peribadatan yang dilakukannya, maka dia masih dikategorikan sebagai seorang yang berahlak buruk. Mengapa demikian? Hal itu dikarenakan dia tidak merealisasikan pondasi keluhuran akhlak, yaitu berakhlak yang baik kepada sang Khalik yang telah mencurahkan berbagai nikmat kepada dirinya dan seluruh makhluk. Dan bentuk akhlak yang baik kepada Allah adalah dengan menauhidkan-Nya dalam segala peribadatan, karena tauhid merupakan hak Allah kepada setiap hamba-Nya sebagaimana dinyatakan dalam hadits Mu‟adz bin
  19. 19. Jabal radhiallahu „anhu. Hal ini pun dipertegas dalam hadits „Aisyah radhiallahu „anhu. Beliau bertanya kepada rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam, [Wahai rasulullah! Ibnu Jud'an, dahulu di zaman jahiliyah, adalah seorang yang senantiasa menyambung tali silaturahim dan memberi makan orang miskin, apakah itu semua bermanfaat baginya kelak di akhirat? Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, "Hal itu tidak bermanfaat baginya karena dia tidak pernah sedikit pun mengucapkan, "Wahai Rabb-ku, ampunilah dosa-dosaku di hari kiamat kelak." Ibnu Jud‟an adalah seorang yang memiliki akhlak yang baik kepada sesama manusia, meskipun demikian, keluhuran akhlaknya kepada manusia tidak mampu menyelamatkannya dikarenakan dia tidak menegakkan pondasi akhlak, yaitu akhlak yang baik kepada Allah dengan beriman dan bertauhid kepada-Nya. Telah disebutkan di atas bahwa bentuk akhlak yang baik kepada Allah adalah dengan menauhidkan-Nya. Berdasarkan hal ini kita bisa menyatakan bahwa seorang yang mempersekutukan Allah dalam peribadatannya (berbuat syirik) adalah seorang yang berakhlak buruk, meski dia dikenal sebagai pribadi yang baik kepada sesama. Demikian pula, kita bisa menyatakan dengan lebih jelas lagi bahwa seorang yang dikenal akan kebaikannya kepada sesama manusia, jika dia berbuat syirik seperti memakai jimat, mendatangi dukun, menyembelih untuk selain Allah mendatangi kuburan para wali untuk meminta kepada mereka maka dia adalah seorang yang berakhlak buruk.Maka, dari penjelasan di atas, kita bisa memahami perkataan Syaikhul Islam Ibnu Tamiyah rahimahullah berikut, ["Berbagai dosa (yang terdapat pada diri seorang), namun masih dibarengi dengan tauhid yang benar itu masih lebih baik daripada tauhid yang rusak meskipun tidak dibarengi dengan berbagai dosa." Jangan dipahami bahwa beliau mengenyampingkan atau menganggap ringan perbuatan dosa dengan perkataan tersebut. Namun, beliau menerangkan bahwa perbaikan tauhid dengan menjauhi kesyirikan merupakan proritas pertama yang harus diperhatikan oleh kita sebelum menjauhi berbagai bentuk dosa lain yang
  20. 20. tingkatannya berada di bawah dosa syirik. Imbas lain dari penyempitan makna akhlak sebagaimana dikemukakan di atas adalah anggapan bahwa akhlak yang baik kepada manusia itu lebih penting daripada tauhid. Akibatnya, rata-rata materi dakwah para da‟i adalah berkutat pada upaya menyeru manusia untuk berbuat baik pada sesamanya dan menomorduakan dakwah tauhid, kalau tidak mau dikatakan bahwa mereka memang tidak pernah menyampaikan materi tauhid kepada mad‟u. Hal ini tidak lain disebabkan karena mereka belum mengetahui definisi akhlak yang disebutkan oleh para ulama seperti yang dikemukakan oleh Imam Ibnu Rajab dan Ibnul Qayyim rahimahumallah di atas. Sehingga, tatkala mereka membaca hadits-hadits nabi seperti, “ Kebajikan itu keluhuran akhlaq “; “Tidak ada amalan yang lebih berat apabila diletakkan di atas mizan daripada akhlak yang baik.”; “Apa karunia terbaik yang diberikan kepada hamba?, nabi menjawab. “Akhlak yang baik.”, mereka berkeyakinan bahwa hadits-hadits tersebut menunjukkan bahwa berakhlak baik kepada sesama lebih tinggi derajatnya daripada menauhidkan Allah ta‟ala secara mutlak. Di akhir artikel ini, kami kembali mengingatkan bahwa akhlak yang baik kepada Allah, itulah yang harus menjadi fokus perhatian dalam pembenahan diri kita, dan yang menjadi fokus utama adalah bagaimana kita berusaha membenahi tauhid kita kepada Allah. Jika kita memiliki interaksi yang baik dengan-Nya, dengan menauhidkan-Nya, mengerjakan segala perintah dan menjauhi laranganNya, niscaya Allah ta‟ala akan memudahkan kita untuk berinteraksi yang baik (baca: berakhlak yang baik) dengan sesama. Itulah makna yang kami pahami dari sabda nabi shallallahu „alaihi wa sallam, ["Barangsiapa mencari ridha Allah meski dengan mengundang kemurkaan manusia, niscaya Allah akan ridha kepadanya dan akan membuat manusia juga ridha kepadanya. Dan barangsiapa yang mencari ridha manusia dengan mengundang kemurkaan Allah, niscaya Allah akan murka kepadanya dan akan membuat manusia turut murka kepadanya." Muamalah Allah Terhadapmu Di dalam sebuah Hadits, Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah ta‟ala hanya merahmati hamba-hambaNya yang pengasih.” (HR. Bukhari). Bukankah perbuatan baik akan dibalas dengan kebaikan? Barang siapa yang
  21. 21. mengasihi makhluk, maka ia akan dikasihi al-Kholiq (pencipta), Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: “Orang yang pengasih akan di kasihi Dzat yang Maha Pengasih, kasihilah yang di bumi, maka yang di langit akan mengasihimu.” (HR. Tirmidzi) Balasan suatu perbuatan sesuai dengan perbuatan tersebut. Allah ta‟ala bermuamalah dengan hamba sesuai muamalah hamba terhadap sesamanya, maka bermuamalah-lah dengan hamba Allah ta‟ala dengan muamalah yang mana engkau mengharapkan Allah ta‟ala bermuamalah seperti itu terhadapmu.Allah ta‟ala berfirman: “Dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni mereka maka sesungguhnya Allah ta‟ala Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. at-Taghobun: 14). firman Allah ta‟ala: “Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada, apakah kamu tidak ingin jika Allah ta‟ala mengampunimu .” (QS. an-Nuur: 22) Hendaklah engkau senantiasa meringankan beban orang lain supaya Allah ta‟ala meringankan bebanmu.Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang menolong kesusahan orang muslim, maka Allah ta‟ala akan menolongnya dari kesusahan pada hari kiama t.” (HR. Bukhari). Beliau juga bersabda: “Barang siapa yang menyelamatkan orang dari kesusahan, maka Allah ta‟ala akan menyelamatkannya dari kesusahan pada hari kiama t.” (HR. Ahmad) Tolonglah orang yang membutuhkan pertolongan, maka kamu akan ditolong Allah ta‟ala.Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: “Allah ta‟ala menolong seorang hamba selagi hamba tersebut menolong sesamanya.” Beliau juga bersabda: “Barang siapa menolong saudaranya yang membutuhkan maka Allah ta‟ala akan menolongnya .” (HR. Muslim) Jadilah engkau orang yang mempermudah kesulitan orang lain. Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang mempermudah kesulitan orang lain, maka Allah ta‟ala akan mempermudah urusannya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim). Beliau juga bersabda: “Terdapat pada umat sebelum mu seorang pedagang yang sering memberi pinjaman kepada orang lain, jika dia melihat si peminjam dalam kesulitan dia berkata kepada anak-anaknya: „Maafkan dia (jangan ditagih hutangnya) mudah-mudahan Allah ta‟ala mengampuni kita‟, maka Allah ta‟ala pun mengampuninya.” (HR. Bukhari) Berlemah-lembutlah terhadap hamba Allah ta‟ala maka kamu akan termasuk
  22. 22. orang yang didoakan Nabi shallallahu „alaihi wa sallam: “Ya Allah, barang siapa yang berlemah-lembut terhadap umatku maka berlemahlembutlah terhadapnya, dan barang siapa yang mempersulit umatku maka persulitlah ia.” (HR. Ahmad) Beliau juga bersabda: “Sesungguhnya Allah ta‟ala adalah Dzat yang maha lemah lembut mencintai kelembutan dan memberi pada kelembutan suatu kebaikan yang tidak pernah diberikan pada kekerasan.” (HR. Muslim) Beliau juga bersabda: “Barang siapa yang tidak memiliki kelembutan maka ia kehilangan suatu kebaikan.” (HR. Muslim) Tutupilah kejelekan (aib) orang lain maka Allah ta‟ala akan menutupi kejelekan (aib) mu.Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang menutupi kejelekan (aib) seorang muslim maka Allah ta‟ala akan menutupi kejelekan (aib) nya.” (HR. Muslim) Beliau juga bersabda: “Barang siapa yang menutupi aurat (aib) saudaranya (muslim) maka Allah ta‟ala akan menutupi aurat (aib) nya pada hari kiamat.” (HR. Ibnu Majah) Pandanglah sedikit kesalahan saudaramu, maka Allah ta‟ala akan memandang sedikit pula kesalahan mu. Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang memandang sedikit kesalahan seorang muslim maka Allah ta‟ala akan memandang sedikit kesalahannya.” (HR. Abu Dawud) Berilah makan faqir miskin, maka Allah ta‟ala akan memberimu makan pula. Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: “Siapa saja di antara orang mukmin yang memberi makan mukmin yang lapar, maka Allah ta‟ala akan memberinya makan dari buah-buahan Surga.” (HR. Tirmidzi) Berilah minum orang yang kehausan, maka Allah ta‟ala akan memberimu minum pula.Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: “Siapa saja di antara orang mukmin yang memberi minum mukmin lainnya yang kehausan, maka Allah ta‟ala akan memberinya minum pada hari kiamat dari khamar murni yang dilak (tempatnya).” (HR. Tirmidzi) Berilah pakaian kepada kaum muslimin maka Allah ta‟ala akan memberimu pakaian. Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: “Siapa saja di antara orang mukmin yang memberi pakaian orang yang telanjang
  23. 23. maka Allah ta‟ala akan memberinya pakaian hijau dari surga.” (HR. Tirmidzi) Muamalah (hubungan) Allah ta‟ala terhadapmu sebagaimana hubunganmu terhadap hamba-Nya, maka pilihlah muamalah yang kau sukai yang mana Allah ta‟ala akan me-muamalahimu dengannya, dan pergaulilah hamba-hamba-Nya dengan (pilihanmu) itu maka kamu akan mendapat ganjarannya. Jauhilah menyakiti sesama (Jika kamu melakukannya) maka Allah ta‟ala akan menyiksamu. Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah ta‟ala akan menyiksa orang-orang yang menyakiti manusia.” (HR. Muslim) Allah Ta‟ala berfirman: “Dan (ingatlah) ketika kami selamatkan kamu dari (Fir‟aun) dan pengikutpengikutnya mereka menimpa kepadamu siksaan yang seberat-beratnya.” (QS. al-Baqarah: 49) “Dan pada hari terjadinya kiamat dikatakan kepada malaikat, „masukkanlah Fir‟aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat pedih.” (QS. Ghofir: 46) Jauhilah menyusahkan hamba-hamba Allah ta‟ala (Jika kamu melakukannya), maka engkau akan terkena doa Nabi shallallahu „alaihi wa sallam: “Ya Allah, barang siapa yang mengurus perkara umatku lalu mempersulit mereka maka persulitlah dia dan barang siapa yang mempermudah mereka maka permudahkanlah dia.” (HR. Muslim) Janganlah engkau mencari-cari kesalahan kaum muslimin. Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang senantiasa mencari kesalahan seorang muslim, maka Allah ta‟ala akan senantiasa mencari kesalahannya pula, sehingga akan terbuka kesalahannya meskipun (tersembunyi) di dalam mulut unta (kendaraan) nya.” (HR. Tirmidzi) Beliau juga bersabda: “Barang siapa yang membuka aib saudaranya maka Allah ta‟ala akan membuka aibnya sampai diperlihatkan kepada keluarganya.” (HR. Ibnu Majah) Janganlah engkau berhati batu (tidak punya belas kasihan). Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang tidak menaruh belas kasihan terhadap sesamanya, maka Allah ta‟ala tidak akan mengasihinya.” (HR. Muslim) Beliau juga bersabda: “Tidaklah dicabut rasa belas kasihan itu kecuali dari hati orang-orang yang celaka.” (HR. Tirmidzi)
  24. 24. Apapun muamalah yang engkau suguhkan terhadap manusia, maka kamu akan mendapatkan balasan yang sama di sisi Allah ta‟ala. Ibnul Qoyyim berkata: “Sesungguhnya Allah ta‟ala adalah Dzat yang Maha mulia, mencintai yang mulia dari hamba-hamba-Nya. Dia adalah Dzat yang Maha Mengetahui, mencintai orang-orang yang berilmu. Dia adalah Dzat yang Maha Kuasa, mencintai yang gagah berani. Dia adalah Dzat yang Maha Indah, mencintai keindahan. Dia adalah Dzat yang Maha Pengasih, mencintai orang yang pengasih. Dia adalah Dzat yang Maha Menutupi, mencintai orang yang menutupi aib hamba-hambaNya. Maha Pemaaf, mencintai yang memaafkan hamba-hamba-Nya. Maha Pengampun, mencintai yang suka mengampuni hamba-Nya. Maha lemah lembut, mencintai yang lemah lembut dari hamba-hamba-Nya serta membenci yang keras perangainya. Dia adalah Dzat yang Maha Penyantun, mencintai sifat penyantun. Dzat yang Melimpahkan kebaikan, mencintai perbuatan baik serta pelakunya. Dzat yang Maha Adil, mencintai keadilan. Dzat yang Menerima uzur, mencintai orang yang menerima uzur hamba-hamba-Nya. membalas hamba sesuai dengan ada atau tidak adanya sifat-sifat tersebut pada diri seorang hamba… maka (sesungguhnya) muamalah Allah ta‟ala terhadap hambanya sesuai dengan muamalah hamba terhadap sesamanya… berbuatlah semaumu maka Allah ta‟ala akan membalasmu sesuai dengan perbuatanmu terhadap-Nya dan terhadap hamba-hamba-Nya. Maka hendaklah engkau senantiasa memberikan manfaat kepada hamba-hamba Allah ta‟ala sebagaimana yang telah disabdakan Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam: “Barang siapa yang mampu memberikan kemanfaatan kepada saudaranya hendaklah ia lakukan.” (HR. Muslim) Berbuat baiklah terhadap mereka, karena sesungguhnya Allah ta‟ala mencintai hamba yang berbuat baik. jadilah engkau orang yang senantiasa mempermudah urusan hamba Allah ta‟ala serta berlemah-lembut terhadap mereka. Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: “ Diharamkan masuk Neraka setiap orang yang pemudah, lemah lembut, dekat dengan manusia .” (HR. Ahmad) Maafkanlah mereka, mudah-mudahan Allah ta‟ala mengampuni dosa-dosamu, sesungguhnya Allah ta‟ala tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. Keutamaan Taubat Hakikat taubat adalah kembali tunduk kepada Allah dari bermaksiat
  25. 25. kepada-Nya kepada ketaatan kepada-Nya. Taubat ada dua macam: taubat mutlak dan taubat muqayyad (terikat). Taubat mutlak ialah bertaubat dari segala perbuatan dosa. Sedangkan taubat muqayyad ialah bertaubat dari salah satu dosa tertentu yang pernah dilakukan. Syarat-syarat taubat meliputi: beragama Islam, berniat ikhlas, mengakui dosa, menyesali dosa, meninggalkan perbuatan dosa, bertekad untuk tidak mengulanginya, mengembalikan hak orang yang dizalimi, bertaubat sebelum nyawa berada di tenggorokan atau matahari terbit dari arah barat. Taubat adalah kewajiban seluruh kaum beriman, bukan kewajiban orang yang baru saja berbuat dosa. Karena Allah berfirman, “Dan bertaubatlah kalian semua wahai orang-orang yang beriman supaya kalian beruntung.” (QS. An Nuur: 31) (lihat Syarh Ushul min Ilmil Ushul Syaikh Al „Utsaimin rahimahullah, tentang pembahasan isi khutbatul hajah). Allah Maha Pengampun, Maha Penerima Taubat dan Maha Penyayang. Allah menyifati diri-Nya di dalam Al Quran bahwa Dia Maha pengampun lagi Maha Penyayang hampir mendekati 100 kali. Allah berjanji mengaruniakan nikmat taubat kepada hamba-hambaNya di dalam sekian banyak ayat yang mulia. Allah ta‟ala berfirman: “Allah menginginkan untuk menerima taubat kalian, sedangkan orang-orang yang memperturutkan hawa nafsunya ingin agar kalian menyimpang dengan sejauh-jauhnya.” (QS. An Nisaa‟: 27) Allah ta‟ala juga berfirman: “Dan seandainya bukan karena keutamaan dari Allah kepada kalian dan kasih sayang-Nya (niscaya kalian akan binasa). Dan sesungguhnya Allah Maha penerima taubat lagi Maha bijaksana.” (QS. An Nuur: 10) Allah ta‟ala berfirman, “Sesungguhnya Tuhanmu sangat luas ampunannya.” (QS. An Najm: 32) Allah ta‟ala berfirman, “Rahmat-Ku amat luas meliputi segala sesuatu.” (QS. Al A‟raaf: 156) Oleh Karenanya, Saudaraku yang Tercinta, Pintu taubat ada di hadapanmu terbuka lebar, ia menanti kedatanganmu… Jalan orang-orang yang bertaubat telah dihamparkan. Ia merindukan pijakan kakimu… Maka ketuklah pintunya dan tempuhlah jalannya. Mintalah taufik dan pertolongan kepada Tuhanmu… Bersungguh-sungguhlah dalam menaklukkan dirimu, paksalah ia untuk tunduk dan taat kepada Tuhannya. Dan apabila engkau telah benar-benar bertaubat kepada Tuhanmu kemudian sesudah itu engkau terjatuh lagi di dalam
  26. 26. maksiat, sehingga memupus taubatmu yang terdahulu, janganlah malu untuk memperbaharui taubatmu untuk kesekian kalinya. Selama maksiat itu masih berulang padamu maka teruslah bertaubat. Allah ta‟ala berfirman: “Karena sesungguhnya Dia Maha mengampuni kesalahan hamba-hamba yang benar-benar bertaubat kepada-Nya.” (QS. Al Israa‟: 25) Allah ta‟ala juga berfirman: “Katakanlah kepada hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri-diri mereka, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa, sesungguhnya Dialah Zat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Maka kembalilah kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datangnya azab kemudian kalian tidak dapat lagi mendapatkan pertolongan.” (QS. Az Zumar: 53-54) Nabi shallallahu „alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “ Seandainya kalian berbuat dosa sehingga tumpukan dosa itu setinggi langit kemudian kalian benarbenar bertaubat, niscaya Allah akan menerima taubat kalian.” (Shahih Ibnu Majah). Maka di manakah orang-orang yang bertaubat dan menyesali dosanya? Di manakah orang-orang yang kembali taat dan merasa takut siksa? Di manakah orang-orang yang ruku‟ dan sujud? Berbagai Keutamaan Taubat Pada hakikatnya taubat itulah isi ajaran Islam dan fase-fase persinggahan iman. Setiap insan selalu membutuhkannya dalam menjalani setiap tahapan kehidupan. Maka orang yang benar-benar berbahagia ialah yang menjadikan taubat sebagai sahabat dekat dalam perjalanannya menuju Allah dan negeri akhirat. Sedangkan orang yang binasa adalah yang menelantarkan dan mencampakkan taubat di belakang punggungnya. Beberapa di antara keutamaan taubat ialah: Pertama: Taubat adalah sebab untuk meraih kecintaan Allah „azza wa jalla. Allah ta‟ala berfirman: “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang suka membersihkan diri.” (QS. Al Baqarah: 222) Kedua: Taubat merupakan sebab keberuntungan. Allah ta‟ala berfirman: “Dan bertaubatlah kepada Allah wahai semua orang yang beriman, supaya kalian beruntung.” (QS. An Nuur: 31) Ketiga: Taubat menjadi sebab diterimanya amal-amal hamba dan turunnya ampunan atas kesalahan-kesalahannya. Allah ta‟ala berfirman:
  27. 27. “Dialah Allah yang menerima taubat dari hamba-hambaNya dan Maha mengampuni berbagai kesalahan.” (QS. Asy Syuura: 25) Allah ta‟ala juga berfirman “Dan barang siapa yang bertaubat dan beramal saleh maka sesungguhnya Allah akan menerima taubatnya.” (QS. Al Furqaan: 71) artinya taubatnya diterima Keempat: Taubat merupakan sebab masuk surga dan keselamatan dari siksa neraka. Allah ta‟ala berfirman: “Maka sesudah mereka (nabi-nabi) datanglah suatu generasi yang menyia- nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsu, niscaya mereka itu akan dilemparkan ke dalam kebinasaan. Kecuali orang-orang yang bertaubat di antara mereka, dan beriman serta beramal saleh maka mereka itulah orang-orang yang akan masuk ke dalam surga dan mereka tidaklah dianiaya barang sedikit pun. ” (QS. Maryam: 59, 60) Kelima: Taubat adalah sebab mendapatkan ampunan dan rahmat. Allah ta‟ala berfirman: “Dan orang-orang yang mengerjakan dosa-dosa kemudian bertaubat sesudahnya dan beriman maka sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Maha Pengampun dan Penyayang.” (QS. Al A‟raaf: 153) Keenam: Taubat merupakan sebab berbagai kejelekan diganti dengan berbagai kebaikan. Allah ta‟ala berfirman: “Dan barang siapa yang melakukan dosa-dosa itu niscaya dia akan menemui pembalasannya. Akan dilipatgandakan siksa mereka pada hari kiamat dan mereka akan kekal di dalamnya dalam keadaan terhina. Kecuali orang-orang yang bertaubat dan beriman serta beramal saleh maka mereka itulah orangorang yang digantikan oleh Allah keburukan-keburukan mereka menjadi berbagai kebaikan. Dan Allah maha pengampun lagi maha penyayang.” (QS. Al Furqaan: 68-70) Nabi shallallahu „alaihi wa sallam bersabda, “Seorang yang bertaubat dari suatu dosa sebagaimana orang yang tidak berdosa.” (HR. Ibnu Majah, dishahihkan oleh Al Albani) Ketujuh: Taubat menjadi sebab untuk meraih segala macam kebaikan. Allah ta‟ala berfirman: “Apabila kalian bertaubat maka sesungguhnya hal itu baik bagi kalian.” (QS. At Taubah: 3) Allah ta‟ala juga berfirman,
  28. 28. “Maka apabila mereka bertaubat niscaya itu menjadi kebaikan bagi mereka.” (QS. At Taubah: 74) Kedelapan: Taubat adalah sebab untuk menggapai keimanan dan pahala yang besar. Allah ta‟ala berfirman: “Kecuali orang-orang yang bertaubat, memperbaiki diri dan berpegang teguh dengan agama Allah serta mengikhlaskan agama mereka untuk Allah mereka itulah yang akan bersama dengan kaum beriman dan Allah akan memberikan kepada kaum yang beriman pahala yang amat besar.” (QS. An Nisaa‟: 146) Kesembilan: Taubat merupakan sebab turunnya barakah dari atas langit serta bertambahnya kekuatan. Allah ta‟ala berfirman: “Wahai kaumku, minta ampunlah kepada Tuhan kalian kemudian bertaubatlah kepada-Nya niscaya akan dikirimkan kepada kalian awan dengan membawa air hujan yang lebat dan akan diberikan kekuatan tambahan kepada kalian, dan janganlah kalian berpaling menjadi orang yang berbuat dosa.” (QS. Huud: 52) Kesepuluh: Keutamaan taubat yang lain adalah menjadi sebab malaikat mendoakan orang-orang yang bertaubat. Hal ini sebagaimana difirmankan Allah ta‟ala: “Para malaikat yang membawa „Arsy dan malaikat lain di sekelilingnya senantiasa bertasbih dengan memuji Tuhan mereka, mereka beriman kepada-Nya dan memintakan ampunan bagi orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, rahmat dan ilmu-Mu maha luas meliputi segala sesuatu, ampunilah orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan-Mu serta peliharalah mereka dari siksa neraka .” (QS. Ghafir: 7) Kesebelas: Keutamaan taubat yang lain adalah ia termasuk ketaatan kepada kehendak Allah „azza wa jalla. Hal ini sebagaimana difirmankan Allah ta‟ala: “Dan Allah menghendaki untuk menerima taubat kalian.” (QS. An Nisaa‟: 27). Maka orang yang bertaubat berarti dia adalah orang yang telah melakukan perkara yang disenangi Allah dan diridhai-Nya. Kedua belas: Keutamaan taubat yang lain adalah Allah bergembira dengan sebab hal itu. Hal ini sebagaimana disabdakan oleh Nabi shallallahu „alaihi wa sallam yang artinya, “Sungguh Allah lebih bergembira dengan sebab taubat seorang hamba-Nya ketika ia mau bertaubat kepada-Nya daripada kegembiraan seseorang dari kalian yang menaiki hewan tunggangannya di padang luas lalu hewan itu terlepas dan membawa pergi bekal makanan dan minumannya sehingga ia pun berputus asa lalu mendatangi sebatang pohon dan bersandar di
  29. 29. bawah naungannya dalam keadaan berputus asa akibat kehilangan hewan tersebut, dalam keadaan seperti itu tiba-tiba hewan itu sudah kembali berada di sisinya maka diambilnya tali kekangnya kemudian mengucapkan karena saking gembiranya, „Ya Allah, Engkaulah hambaku dan akulah tuhanmu‟, dia salah berucap karena terlalu gembira.” (HR. Muslim) Ketiga belas: Taubat juga menjadi sebab hati menjadi bersinar dan bercahaya. Nabi shallallahu „alaihi wa sallam bersabda yang artinya: Sesungguhnya seorang hamba apabila berbuat dosa maka di dalam hatinya ditorehkan sebuah titik hitam. Apabila dia meninggalkannya dan beristighfar serta bertaubat maka kembali bersih hatinya. Dan jika dia mengulanginya maka titik hitam itu akan ditambahkan padanya sampai menjadi pekat, itulah raan yang disebutkan Allah ta‟ala,: “Sekali-kali tidak akan tetapi itulah raan yang menyelimuti hati mereka akibat apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al Muthaffifin: 14) (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah dan dihasankan Al Albani) Oleh karena itu, saudaraku yang kucintai. Sudah sepantasnya setiap orang yang berakal untuk bersegera menggapai keutamaan dan memetik buah memikat yang dihasilkan oleh ketulusan taubat itu…, Saudaraku: Tunaikanlah taubat yang diharapkan Ilahi demi kepentinganmu sendiri Sebelum datangnya kematian dan lisan terkunci Segera lakukan taubat dan tundukkanlah jiwa Inilah harta simpanan bagi hamba yang kembali taat dan baik amalnya Tingkatan Jihad Melawan Syaitan Syarat Agar Taubat Diterima Memang manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Namun manusia yang terbaik bukanlah manusia yang tidak pernah melakukan dosa sama sekali, akan tetapi manusia yang terbaik adalah manusia yang ketika dia berbuat kesalahan dia langsung bertaubat kepada Alloh dengan sebenar-benar taubat. Bukan sekedar tobat sesaat yang diiringi niat hati untuk mengulang dosa kembali. Lalu bagaimanakah agar taubat seorang hamba itu diterima? Syarat Taubat Diterima. Agar taubat seseorang itu diterima, maka dia harus memenuhi tiga hal yaitu: (1) Menyesal, (2) Berhenti dari dosa, dan (3) Bertekad untuk tidak mengulanginya. Taubat tidaklah ada tanpa didahului oleh
  30. 30. penyesalan terhadap dosa yang dikerjakan. Barang siapa yang tidak menyesal maka menunjukkan bahwa ia senang dengan perbuatan tersebut dan menjadi indikasi bahwa ia akan terus menerus melakukannya. Akankah kita percaya bahwa seseorang itu bertaubat sementara dia dengan ridho masih terus melakukan perbuatan dosa tersebut? Hendaklah ia membangun tekad yang kuat di atas keikhlasan, kesungguhan niat serta tidak main-main. Bahkan ada sebagian ulama yang menambahkan syarat yang keempat, yaitu tidak mengulangi perbuatan dosa tersebut. sehingga kapan saja seseorang mengulangi perbuatan dosanya, jelaslah bahwa taubatnya tidak benar. Akan tetapi sebagian besar para ulama tidak mensyaratkan hal ini. Tunaikan Hak Anak Adam yang Terzholimi. Jika dosa tersebut berkaitan dengan hak anak Adam, maka ada satu hal lagi yang harus ia lakukan, yakni dia harus meminta maaf kepada saudaranya yang bersangkutan, seperti minta diikhlaskan, mengembalikan atau mengganti suatu barang yang telah dia rusakkan atau curi dan sebagainya. Namun apabila dosa tersebut berkaitan dengan ghibah (menggunjing), qodzaf (menuduh telah berzina) atau yang semisalnya, yang apabila saudara kita tadi belum mengetahuinya (bahwa dia telah dighibah atau dituduh), maka cukuplah bagi orang telah melakukannya tersebut untuk bertaubat kepada Alloh, mengungkapkan kebaikan-kebaikan saudaranya tadi serta senantiasa mendoakan kebaikan dan memintakan ampun untuk mereka. Sebab dikhawatirkan apabila orang tersebut diharuskan untuk berterus terang kepada saudaranya yang telah ia ghibah atau tuduh justru dapat menimbulkan peselisihan dan perpecahan diantara keduanya. Nikmat Dibukanya Pintu Taubat Apabila Alloh menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, maka Alloh bukakan pintu taubat baginya. Sehingga ia benar-benar menyesali kesalahannya, merasa hina dan rendah serta sangat membutuhkan ampunan Alloh. Dan keburukan yang pernah ia lakukan itu merupakan sebab dari rahmat Alloh baginya. Sampai-sampai setan akan berkata, “Duhai, seandainya aku dahulu membiarkannya. Andai dulu aku tidak menjerumuskannya kedalam dosa sampai ia bertaubat dan mendapatkan rahmat Alloh.” Diriwayatkan bahwa seorang salaf berkata, “Sesungguhnya seorang hamba bisa jadi berbuat suatu dosa, tetapi dosa tersebut menyebabkannya masuk surga.” Orang-orang bertanya, “Bagaimana hal itu bisa terjadi?” Dia menjawab, “Dia berbuat suatu dosa, lalu
  31. 31. dosa itu senantiasa terpampang di hadapannya. Dia khawatir, takut, menangis, menyesal dan merasa malu kepada Robbnya, menundukkan kepala di hadapanNya dengan hati yang khusyu‟. Maka dosa tersebut menjadi sebab kebahagiaan dan keberuntungan orang itu, sehingga dosa tersebut lebih bermanfaat baginya daripada ketaatan yang banyak.” Buah dari Tawakkal Buah dari tawakkal kepada Allah Ta‟ala amatlah banyak. Yang paling utama adalah “Allah akan mencukupi segala urusan orang yang bertawakkal. Allah Ta‟ala berfirman: “Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Tholaq: 3) Barangsiapa yang menyandarkan urusannya pada Allah, hanya menyandarkan kepada Allah semata, ia pun mengakui bahwa tidak ada yang bisa mendatangkan kebaikan dan menghilangkan bahaya selain Allah, maka sebagaimana dalam ayat dikatakan, “Allah-lah yang akan mencukupinya.” Yaitu Allah menyelamatkannya dari berbagai bahaya. Karena yang namanya balasan sesuai dengan amal perbuatan. Ketika seseorang bertawakkal pada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal, Allah pun membalasnya dengan mencukupinya, yaitu memudahkan urusannya. Allah yang akan memudahkan urusannya dan tidak menyandarkan pada selain-Nya. Inilah sebesar-besarnya buah tawakkal. Allah Ta‟ala berfirman: “Hai Nabi, cukuplah Allah (menjadi Pelindung) bagimu.” (QS. Al Anfal: 64)“Dan jika mereka bermaksud menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah (yang akan mencukupimu). Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mukmin.” (QS. Al Anfal: 62) Jadi buah yang paling utama dari tawakkal pada Allah adalah Allah akan memberi kecukupan pada orang yang bertawakkal pada-Nya. Oleh karenanya, Allah berfirman mengenai keadaan Nabi Nuh „alaihis salam, di mana beliau berkata pada kaumnya: “Hai kaumku, jika terasa berat bagimu tinggal (bersamaku) dan peringatanku (kepadamu) dengan ayat-ayat Allah, maka kepada Allah-lah aku bertawakal, karena itu bulatkanlah keputusanmu dan (kumpulkanlah) sekutu-sekutumu (untuk membinasakanku). Kemudian janganlah keputusanmu itu dirahasiakan, lalu lakukanlah terhadap diriku, dan janganlah kamu memberi tangguh
  32. 32. kepadaku.” (QS. Yunus: 71) Allah berfirman mengenai Nabi Hud „alaihis salam: “Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan, dari selainNya, sebab itu jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku. Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Rabbku dan Rabbmu. Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Rabbku di atas jalan yang lurus.” (QS. Hud: 54-56) Allah berfirman mengenai Nabi Syu‟aib alaihis salam, “Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (QS. Hud: 88) Allah berfirman mengenai Nabinya –Muhammad- „alaihish sholaatu was salaam: “Katakanlah: “Panggillah berhala-berhalamu yang kamu jadikan sekutu Allah, kemudian lakukanlah tipu daya (untuk mencelakakan)-ku. tanpa memberi tangguh (kepada-ku)”. Sesungguhnya Pelindungku ialah yang telah menurunkan Al kitab (Al Quran) dan Dia melindungi orang-orang yang shaleh. Dan berhalaberhala yang kamu seru selain Allah tidaklah sanggup menolongmu, bahkan tidak dapat menolong dirinya sendiri.” (QS. Al A‟rof: 195-197) Dari penjelasan di atas, Allah subhanahu wa ta‟ala menceritakan mengenai para rasul-Nya yang mulia di mana mereka tidak mendapatkan bahaya dari kaum dan sesembahan kaum mereka. Apa kuncinya? Karena mereka bertawakkal pada Allah. Siapa saja yang bertawakkal pada Allah, pasti Allah akan mencukupinya. Buah tawakkal yang kedua, buah tawakkal yang lain adalah mendapatkan cinta Allah. Allah Ta‟ala berfirman, “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. Ali Imron: 159) Barangsiapa yang benar-benar bertawakkal pada Allah, maka Allah akan mencintainya. Jika Allah telah mencintainya, maka ia akan merasakan kebahagiaan di dunia dan akhirat, ia akan menjadi orang-orang yang dicintai di sisi-Nya dan menjadi wali-Nya. Buah tawakkal yang ketiga, orang yang bertawakkal akan mudah mengerjakan hal yang bermanfaat tanpa ada rasa takut dan gentar kecuali pada
  33. 33. Allah. Contohnya, orang yang berjihad di medan perang melawan orang-orang kafir, mereka melakukan hal ini karena mereka tawakkal pada Allah. Usaha mereka dengan tawakkal inilah yang mendatangkan keberanian dan kekuatan saat itu. Musuh-musuh dan kesulitan di hadapan mereka dianggap ringan berkat tawakkal. Mereka akhirnya jika toh mati, akan merasakan mati di jalan Allah. Merekalah yang mendapatkan syahid di jalan Allah. Ini semua karena sebab tawakkal. Buah tawakkal yang keempat, seseorang akan bersemangat dalam mencari rizki, mencari ilmu dan melakukan segala sesuatu yang bermanfaat. Itulah yang namanya orang yang bertawakkal, ia punya semangat dalam melakukan hal-hal bermanfaat semacam ini. Karena ia tahu bahwa Allah akan bersama dan menolong setiap orang yang bertawakkal. Akhirnya ia pun bersamangat ketika dalam perkara agama dan dunianya yang bermanfaat, ia jadinya tidak bermalas-malasan. Kita dapat menyaksikan bahwa para sahabat radhiyallahu „anhum, merekalah orang yang paling bersemangat. Mereka benar-benar merealisasikan tawakkal pada Allah. Sampai-sampai karena sifat ini yang mereka miliki, mereka bisa menaklukan berbagai negeri di ujung timur dan barat melalui jihad mereka. Mereka pun membuka hati melalui dakwah mereka di jalan Allah. Ini semua bisa terwujud karena mereka benar-benar merealisasikan tawakkal pada Allah. Allah Ta‟ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui.” (QS. Al Maidah: 54). Mereka sama sekali tidak takut pada celaan orang yang mencela ketika mereka berjuang di jalan Allah. Bisa demikian karena mereka benar-benar merealisasikan tawakkal pada Allah. Mereka benar-benar menyandarkan dirinya pada Allah dan mereka tidak berpaling pada yang lain, baik ketika itu manusia ridho atau pun tidak. Yang senantiasa mereka cari adalah ridho Allah. Dalam hadits disebutkan: “Barangsiapa yang mencari ridho Allah dan awalnya manusia murka (tidak suka), maka Allah akan ridho padanya dan membuat manusia pun akan ridho padanya.
  34. 34. Sedangkan barangsiapa yang mencari ridho manusia dan membuat Allah murka, maka Allah akan murka padanya dan akan membuat manusia pun murka .” Bersandar pada Allah dan tawakkal pada-Nya serta menyerahkan segala urusan pada Allah Ta‟ala, itulah yang menjadi asas tauhid, asas amal dan asas kebaikan. Bahkan Allah menjadi tawakkal ini syarat keimanan. Allah Ta‟ala berfirman: “Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Al Maidah: 23) Pelajaran Penting Ada pelajaran penting yang mesti diperhatikan dalam memahami arti tawakkal. Tawakkal harus terkumpul dalamnya dua syarat yaitu: (1) menyandarkan hati pada Allah, dan (2) melakukan usaha (sebab). Sehingga tidak benar jika orang hanya berusaha namun tidak menyandarkan hatinya pada Allah karena segala sesuatu di tangan Allah. Dan tidak tepat pula jika seseorang hanya bersandar pada Allah, namun tidak ada usaha yang ia lakukan. Ada sebuah kisah yang bisa jadi pelajaran. „Umar bin Khottob pernah melihat sekelompok orang yang ngaku-ngaku sebagai orang yang bertawakkal, namun mereka tidak melakukan usaha apa-apa. „Umar bertanya pada mereka, “Siapa kalian?” “Kami adalah mutawakkiluun, orang yang bertawakkal”, jawab mereka. „Umar lantas menjawab, “Tidak. Kalian adalah muta-akkalun (artinya, orang yang hanya menanti diberi makan).” Yaitu mereka itu sebenarnya hanyalah orang yang hanya butuh pada uluran tangan orang lain dan bukan orang yang bertawakkal. Karena orang yang bertawakkal harusnya melakukan usaha. „Umar bin Al Khottob pun pernah mengatakan,“Kalian telah mengetahui bahwa langit sama sekali tidak menurunkan hujan emas atau hujan perak. ” Ini beliau katakan untuk mengingkari orang yang hanya duduk untuk ibadah namun tidak punya untuk meraih rizki. Mereka sebenarnya orang-orang pemalas yang butuh ularan tangan orang lain. Lantas „Umar pun menghardik mereka. Lalu mengatakan perkataan di atas. Demikian penjelasan singkat mengenai buah tawakkal yang kami sarikan dari penjelasan Syaikh Sholeh Al Fauzan hafizhohullah (Ulama besar di Riyadh, Kerajaan Saudi Arabia, anggota Al Lajnah Ad Daimah) dalam kumpulan risalahnya. Ikhlas dan syukur. Di kala impian belum terwujud, kita selalu banyak memohon dan terus bersabar menantinya. Namun di kala impian sukses tercapai, kadang kita malah lupa daratan dan melupakan Yang Di Atas yang telah memberikan berbagai
  35. 35. kenikmatan. Oleh karenanya, apa kiat ketika kita telah mencapai hasil yang kita idam-idamkan? Itulah yang sedikit akan kami kupas dalam tulisan sederhana ini. Akui Setiap Nikmat Berasal dari-Nya Inilah yang harus diakui oleh setiap orang yang mendapatkan nikmat. Nikmat adalah segala apa yang diinginkan dan dicari-cari. Nikmat ini harus diakui bahwa semuanya berasal dari Allah Ta‟ala dan jangan berlaku angkuh dengan menyatakan ini berasal dari usahanya semata atau ia memang pantas mendapatkannya. Coba kita renungkan firman Allah Ta‟ala, “Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa lagi putus harapan.” (QS. Fushshilat: 49). Atau pada ayat lainnya, “Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka, maka ia banyak berdoa.” (QS. Fushshilat: 51) Inilah tabiat manusia, yang selalu tidak sabar jika ditimpa kebaikan atau kejelekan. Ia akan selalu berdo‟a pada Allah agar diberikan kekayaan, harta, anak keturunan, dan hal dunia lainnya yang ia cari-cari. Dirinya tidak bisa merasa puas dengan yang sedikit. Atau jika sudah diberi lebih pun, dirinya akan selalu menambah lebih. Ketika ia ditimpa malapetaka (sakit dan kefakiran), ia pun putus asa. Namun lihatlah bagaimana jika ia mendapatkan nikmat setelah itu? Bagaimana jika ia diberi kekayaan dan kesehatan setelah itu? Ia pun lalai dari bersyukur pada Allah, bahkan ia pun melampaui batas sampai menyatakan semua rahmat (sehat dan kekayaan) itu didapat karena ia memang pantas memperolehnya. Inilah yang diisyaratkan dalam firman Allah Ta‟ala: “Dan jika Kami merasakan kepadanya sesuatu rahmat dari Kami sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata: “Ini adalah hakku.”(QS. Fushshilat: 50) Sifat orang beriman tentu saja jika ia diberi suatu nikmat dan kesuksesan yang ia idam-idamkan, ia pun bersyukur pada Allah. Bahkan ia pun khawatir janganjangan ini adalah istidroj (cobaan yang akan membuat ia semakin larut dalam kemaksiatan yang ia terjang). Sedangkan jika hamba tersebut tertimpa musibah pada harta dan anak keturunannya, ia pun bersabar dan berharap karunia Allah agar lepas dari kesulitan serta ia tidak berputus asa. Ucapkanlah “Tahmid” Inilah realisasi berikutnya dari syukur yaitu menampakkan nikmat tersebut dengan ucapan tahmid (alhamdulillah) melalui lisan. Ini adalah sesuatu yang
  36. 36. diperintahkan sebagaimana firman Allah Ta‟ala:“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).” (QS. Adh Dhuha: 11). Rasulullah bersabda:“Membicarakan shallallahu nikmat Allah „alaihi termasuk wa sallam syukur, juga sedangkan meninggalkannya merupakan perbuatan kufur.” (HR. Ahmad, 4/278. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana dalam Shahih Al Jaami‟ no. 3014). Lihat pula bagaimana impian Nabi Ibrahim tercapai ketika ia memperoleh anak di usia senja. Ketika impian tersebut tercapai, beliau pun memperbanyak syukur pada Allah sebagaimana do‟a beliau ketika itu,“ Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa. ” (QS. Ibrahim: 39). Para ulama salaf ketika mereka merasakan nikmat Allah berupa kesehatan dan lainnya, lalu mereka ditanyakan, “Bagaimanakah keadaanmu di pagi ini?” Mereka pun menjawab, “Alhamdulillah (segala puji hanyalah bagi Allah).” Oleh karenanya, hendaklah seseorang memuji Allah dengan tahmid (alhamdulillah) atas nikmat yang diberikan tersebut. Ia menyebut-nyebut nikmat ini karena memang terdapat maslahat dan bukan karena ingin berbangga diri atau sombong. Jika ia malah melakukannya dengan sombong, maka ini adalah suatu hal yang tercela. Memanfaatkan Nikmat dalam Amal Ketaatan Yang namanya syukur bukan hanya berhenti pada dua hal di atas yaitu mengakui nikmat tersebut pada Allah dalam hati dan menyebut-nyebutnya dalam lisan, namun hendaklah ditambah dengan yang satu ini yaitu nikmat tersebut hendaklah dimanfaatkan dalam ketaaatan pada Allah dan menjauhi maksiat. Contohnya adalah jika Allah memberi nikmat dua mata. Hendaklah nikmat tersebut dimanfaatkan untuk membaca dan mentadaburi Al Qur‟an, jangan sampai digunakan untuk mencari-cari aib orang lain dan disebar di tengahtengah kaum muslimin. Begitu pula nikmat kedua telinga. Hendaklah nikmat tersebut dimanfaatkan untuk mendengarkan lantunan ayat suci, jangan sampai digunakan untuk mendengar lantunan yang sia-sia. Begitu pula jika seseorang diberi kesehatan badan, maka hendaklah ia memanfaatkannya untuk menjaga shalat lima waktu, bukan malah meninggalkannya. Jadi, jika nikmat yang diperoleh oleh seorang hamba malah dimanfaatkan untuk maksiat, maka ini bukan dinyatakan sebagai syukur.Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin
  37. 37. Katsir berkata, sebagai penduduk Hijaz berkata, Abu Hazim mengatakan :.“Setiap nikmat yang tidak digunakan untuk mendekatkan diri pada Allah, itu hanyalah musibah.”Mukhollad bin Al Husain mengatakan:“ Syukur adalah dengan meninggalkan maksiat.” Intinya, seseorang dinamakan bersyukur ketika ia memenuhi 3 rukun syukur: mengakui nikmat tersebut secara batin (dalam hati), membicarakan nikmat tersebut secara zhohir (dalam lisan), dan menggunakan nikmat tersebut pada tempat-tempat yang diridhoi Allah (dengan anggota badan).Abul „Abbas Ibnu Taimiyah mengatakan:“Syukur haruslah dijalani dengan mengakui nikmat dalam hati, dalam lisan dan menggunakan nikmat tersebut dalam anggota badan.” Merasa Puas dengan Rizki Yang Allah Beri Karakter asal manusia adalah tidak puas dengan harta. Hal ini telah diisyaratkan oleh Nabi shallallahu „alaihi wa sallam dalam berbagai haditsnya. Ibnu Az Zubair pernah berkhutab di Makkah, lalu ia mengatakan “ Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Nabi shallallahu „alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya manusia diberi lembah penuh dengan emas, maka ia masih menginginkan lembah yang kedua semisal itu. Jika diberi lembah kedua, ia pun masih menginginkan lembah ketiga. Perut manusia tidaklah akan penuh melainkan dengan tanah. Allah tentu menerima taubat bagi siapa saja yang bertaubat.” (HR. Bukhari no. 6438) Inilah watak asal manusia. Sikap seorang hamba yang benar adalah selalu bersyukur dengan nikmat dan rizki yang Allah beri walaupun itu sedikit. Karena Nabi shallallahu „alaihi wa sallam bersabda,“Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.” (HR. Ahmad, 4/278. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 667) Jadilah Hamba yang Rajin Bersyukur Pandai-pandailah mensyukuri nikmat Allah apa pun itu. Karena keutamaan orang yang bersyukur amat luar biasa. Allah Ta‟ala berfirman: “Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali Imron: 145) “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azabKu sangat pedih”.” (QS. Ibrahim: 7)
  38. 38. Ya Allah, anugerahkanlah kami sebagai hamba -Mu yang pandai bersyukur padaMu dan selalu merasa cukup dengan segala apa yang engkau beri. Mana Bukti Cintamu pada Nabi? Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi akhir zaman, kepada keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman. Dengan berbagai macam cara seseorang akan mencurahkan usahanya untuk membuktikan cintanya pada kekasihnya. Begitu pula kecintaan pada Nabi shallallahu „alaihi wa sallam. Setiap orang pun punya berbagai cara untuk membuktikannya. Namun tidak semua cara tersebut benar, ada di sana cara-cara yang keliru. Itulah yang nanti diangkat pada tulisan kali ini. Semoga Allah memudahkan dan memberikan kepahaman. Kewajiban Mencintai Nabi shallallahu „alaihi wa sallam. Allah Ta‟ala berfirman: “Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At Taubah: 24). Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Jika semua hal-hal tadi lebih dicintai daripada Allah dan RasulNya, serta berjihad di jalan Allah, maka tunggulah musibah dan malapetaka yang akan menimpa kalian.” Ancaman keras inilah yang menunjukkan bahwa mencintai Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam dari makhluk lainnya adalah wajib. Bahkan tidak boleh seseorang mencintai dirinya hingga melebihi kecintaan pada nabinya. Allah Ta‟ala berfirman:“ Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri.” (QS. Al Ahzab: 6). Syihabuddin Al Alusi rahimahullah mengatakan, “Nabi shallallahu „alaihi wa sallam tidaklah memerintahkan sesuatu dan tidak ridho pada umatnya kecuali jika ada maslahat dan mendatangkan keselamatan bagi mereka. Berbeda dengan jiwa mereka sendiri. Jiwa tersebut selalu mengajak pada keburukan.” Oleh karena itu, kecintaan pada beliau mesti didahulukan daripada kecintaan pada diri sendiri.„Abdullah bin Hisyam berkata, “Kami pernah bersama Nabi shallallahu „alaihi wa sallam dan beliau memegang tangan Umar bin Khaththab radhiyallahu ‟anhu. Lalu Umar berkata, ”Wahai Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai
  39. 39. dari segala sesuatu kecuali terhadap diriku sendiri.” Kemudian Nabi shallallahu ‟alaihi wa sallam berkata: ”Tidak, demi yang jiwaku berada di tangan-Nya (imanmu belum sempurna). Tetapi aku harus lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.” Kemudian ‟Umar berkata, ”Sekarang, demi Allah. Engkau (Rasulullah) lebih aku cintai daripada diriku sendiri.” Kemudian Nabi shallallahu ‟alaihi wa sallam berkata, ”Saat ini pula wahai Umar, (imanmu telah sempurna).” Mengapa Kita Harus Mencintai Nabi shallallahu „alaihi wa sallam? Mencintai seseorang dapat kembali kepada 2 alasan : Alasan pertama: berkaitan dengan sosok yang dicintai. Semakin sempurna orang yang dicintai, maka di situlah tempat tumbuhnya kecintaan. Sedangkan Rasulullah shallallahu ‟alaihi wa sallam adalah manusia yang paling luar biasa dan sempurna dalam akhlaq, kepribadian, sifat dan dzatnya. Di antara sifat beliau adalah begitu perhatian pada umatnya, begitu lembut dan kasih sayang pada umatnya. Sebagaimana Allah Ta‟ala mensifati beliau dalam firmanNya:”Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At Taubah: 128) Alasan kedua: berkaitan dengan faedah yang akan diperoleh jika seseorang mencintai nabinya shallallahu „alaihi wa sallam. Di antara faedah tersebut adalah: Mendapatkan manisnya iman, Dari Anas radhiyallahu ‟anhu , Nabi shallallahu ‟alaihi wa sallam bersabda :“Tiga perkara yang membuat seseorang akan mendapatkan manisnya iman yaitu: Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya; mencintai saudaranya hanya karena Allah; dan benci kembali pada kekufuran sebagaimana benci dilemparkan dalam api.” Akan menjadikan seseorang bersama beliau di akhiratDari Anas bin Malik, beliau mengatakan bahwa seseorang bertanya pada Nabi shallallahu „alaihi wa sallam, “Kapan terjadi hari kiamat, wahai Rasulullah?” Beliau shallallahu „alaihi wa sallam berkata, “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?” Orang tersebut menjawab, “Aku tidaklah mempersiapkan untuk menghadapi hari tersebut dengan banyak shalat, banyak puasa dan banyak sedekah. Tetapi yang aku persiapkan adalah cinta Allah dan Rasul-Nya.” Beliau shallallahu „alaihi wa sallam berkata, “(Kalau begitu) engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.” Dalam riwayat lain, Anas mengatakan, “Kami tidaklah pernah merasa gembira sebagaimana rasa gembira kami ketika mendengar sabda Nabi
  40. 40. shallallahu „alaihi wa sallam: Anta ma‟a man ahbabta (Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai).” Anas pun mengatakan, “Kalau begitu aku mencintai Nabi shallallahu „alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan „Umar. Aku berharap bisa bersama dengan mereka karena kecintaanku pada mereka, walaupun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka.” Akan memperoleh kesempurnaan iman. Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda, “Seseorang tidaklah beriman (dengan sempurna) hingga aku lebih dicintainya dari anak dan orang tuanya serta manusia seluruhnya .” Bukti Cinta Nabi shallallahu „alaihi wa sallam Pertama: Mendahulukan dan mengutamakan beliau dari siapa pun. Hal ini dikarenakan Nabi shallallahu „alaihi wa sallam adalah makhluk pilihan dari Allah Ta‟ala. Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda , “Sesungguhnya Allah telah memilih Kinanah yang terbaik dari keturunan Isma‟il. Lalu Allah pilih Quraisy yang terbaik dari Kinanah. Allah pun memilih Bani Hasyim yang terbaik dari Quraisy. Lalu Allah pilih aku sebagai yang terbaik dari Bani Hasyim. ” Di antara bentuk mendahulukan dan mengutamakan Nabi shallallahu „alaihi wa sallam dari siapa pun yaitu apabila pendapat ulama, kyai atau ustadz yang menjadi rujukannya bertentangan dengan hadits Nabi shallallahu „alaihi wa sallam, maka yang didahulukan adalah pendapat Nabi shallallahu „alaihi wa sallam. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Asy Syafi‟i rahimahullah, “Kaum muslimin telah sepakat bahwa siapa saja yang telah jelas baginya ajaran Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam, maka tidak halal baginya untuk meninggalkannya karena perkataan yang lainnya.” Kedua: Membenarkan segala yang disampaikan oleh Nabi shallallahu ‟alaihi wa sallam.Termasuk prinsip keimanan dan pilarnya yang utama ialah mengimani kemaksuman Nabi shallallahu ‟alaihi wa sallam dari dusta atau buhtan (fitnah) dan membenarkan segala yang dikabarkan beliau tentang perkara yang telah berlalu, sekarang, dan akan datang. Karena Allah Ta‟ala berfirman :”Demi bintang ketika terbenam. Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An Najm: 1-4) Ketiga: Beradab di sisi Nabi shallallahu ‟alaihi wa sallam. Di antara bentuk adab kepada Nabi shallallahu ‟alaihi wa sallam adalah memuji beliau dengan pujian yang layak baginya. Pujian yang paling mendalam ialah pujian
  41. 41. yang diberikan oleh Rabb-nya dan pujian beliau terhadap dirinya sendiri, dan yang paling utama adalah shalawat dan salam kepada beliau. Nabi shallallahu „alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang bakhil (pelit) adalah orang yang apabila namaku disebut di sisinya, dia tidak bershalawat kepadaku.” Keempat: Ittiba‟ (mencontoh) Nabi shallallahu „alaihi wa sallam serta berpegang pada petunjuknya. Allah Ta‟ala berfirman:“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”.” (QS. Ali Imron: 31). Ibnu Mas‟ud radhiyallahu „anhu berkata, “Ikutilah (petunjuk Nabi shallallahu „alaihi wa sallam), janganlah membuat bid‟ah. Karena (ajaran Nabi) itu sudah cukup bagi kalian. Semua amalan yang tanpa tuntunan Nabi (baca: bid‟ah) adalah sesat .” Kelima: Berhakim kepada ajaran Nabi shallallahu ‟alaihi wa sallam. Sesungguhnya berhukum dengan ajaran Nabi shallallahu ‟alaihi wa sallam adalah salah satu prinsip mahabbah (cinta) dan ittiba‟ (mengikuti Nabi shallallahu ‟alaihi wa sallam). Tidak ada iman bagi orang yang tidak berhukum dan menerima dengan sepenuhnya syari‟atnya. Allah Ta‟ala berfirman: “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa‟: 65) Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Setiap orang yang keluar dari ajaran dan syariat Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam maka Allah telah bersumpah dengan diri-Nya yang disucikan, bahwa dia tidak beriman sehingga ridha dengan hukum Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam dalam segala yang diperselisihkan di antara mereka dari perkara-perkara agama dan dunia serta tidak ada dalam hati mereka rasa keberatan terhadap hukumnya.” Keenam: Membela Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam. Membela dan menolong Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam adalah salah satu tanda kecintaan dan pengagungan. Allah Ta‟ala berfirman: “(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan RasulNya. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al Hasyr: 8). Di antara contoh pembelaaan terhadap Nabi shallallahu „alaihi wa sallam seperti diceritakan dalam kisah berikut. Ketika umat Islam mengalami kekalahan, Anas bin Nadhr pada perang Uhud mengatakan, ”Ya Allah, aku memohon ampun
  42. 42. kepadamu terhadap perbuatan para sahabat dan aku berlepas diri dari-Mu dari perbuatan kaum musyrik.” Kemudian ia maju lalu Sa‟ad menemuinya. Anas lalu berkata, ”Wahai Sa‟ad bin Mu‟adz, surga. Demi Rabbnya Nadhr, sesungguhnya aku mencium bau surga dari Uhud.” ”Wahai Rasulullah, aku tidak mampu berbuat sebagaimana yang diperbuatnya, ” ujar Sa‟ad. Anas bin Malik berkata, ”Kemudian kami dapati padanya 87 sabetan pedang, tikaman tombak, atau lemparan panah. Kami mendapatinya telah gugur dan kaum musyrikin telah mencincang-cincangnya. Tidak ada seorang pun yang mengenalinya kecuali saudara perempuannya yang mengenalinya dari jari telunjuknya .” Adab Membaca Al-Quran Al Qur‟anul Karim adalah firman Alloh yang tidak mengandung kebatilan sedikitpun. Al Qur‟an memberi petunjuk jalan yang lurus dan memberi bimbingan kepada umat manusia di dalam menempuh perjalanan hidupnya, agar selamat di dunia dan di akhirat, dan dimasukkan dalam golongan orang-orang yang mendapatkan rahmat dari Alloh Ta‟ala. Untuk itulah tiada ilmu yang lebih utama dipelajari oleh seorang muslim melebihi keutamaan mempelajari Al-Qur‟an. Sebagaimana sabda Nabi shollallohu „alaihi wa sallam, “ Sebaik-baik kamu adalah orang yg mempelajari Al-Qur‟an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari) Ketika membaca Al-Qur‟an, maka seorang muslim perlu memperhatikan adabadab berikut ini untuk mendapatkan kesempurnaan pahala dalam membaca AlQur‟an: 1. Membaca dalam keadaan suci, dengan duduk yang sopan dan tenang. Dalam membaca Al-Qur‟an seseorang dianjurkan dalam keadaan suci. Namun, diperbolehkan apabila dia membaca dalam keadaan terkena najis. Imam Haromain berkata, “Orang yang membaca Al-Qur‟an dalam keadaan najis, dia tidak dikatakan mengerjakan hal yang makruh, akan tetapi dia meninggalkan sesuatu yang utama.” (At-Tibyan, hal. 58-59) 2. Membacanya dengan pelan (tartil) dan tidak cepat, agar dapat menghayati ayat yang dibaca. Rosululloh bersabda, “Siapa saja yang membaca Al-Qur‟an (khatam) kurang dari tiga hari, berarti dia tidak memahami.” (HR. Ahmad dan para penyusun kitab-kitab Sunan). Sebagian sahabat membenci pengkhataman Al-Qur‟an sehari semalam, dengan dasar hadits di atas. Rosululloh telah memerintahkan Abdullah Ibnu Umar untuk mengkhatam kan Al-Qur‟an setiap
  43. 43. satu minggu (7 hari) (HR. Bukhori, Muslim). Sebagaimana yang dilakukan Abdullah bin Mas‟ud, Utsman bin Affan, Zaid bin Tsabit, mereka mengkhatamkan Al-Qur‟an sekali dalam seminggu. 3. Membaca Al-Qur‟an dengan khusyu‟, dengan menangis, karena sentuhan pengaruh ayat yang dibaca bisa menyentuh jiwa dan perasaan. Alloh Ta‟ala menjelaskan sebagian dari sifat-sifat hamba-Nya yang shalih, “Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu‟.” (QS. Al-Isra‟: 109). Namun demikian tidaklah disyariatkan bagi seseorang untuk pura-pura menangis dengan tangisan yang dibuat-buat. 4. Membaguskan suara ketika membacanya. Sebagaimana sabda Rosululloh shollallohu „alaihi wa sallam, “Hiasilah Al-Qur‟an dengan suaramu.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Hakim). Di dalam hadits lain dijelaskan, “Tidak termasuk umatku orang yang tidak melagukan Al-Qur‟an.” (HR. Bukhari dan Muslim). Maksud hadits ini adalah membaca Al-Qur‟an dengan susunan bacaan yang jelas dan terang makhroj hurufnya, panjang pendeknya bacaan, tidak sampai keluar dari ketentuan kaidah tajwid. Dan seseorang tidak perlu melenggok-lenggokkan suara di luar kemampuannya. 5. Membaca Al-Qur‟an dimulai dengan isti‟adzah. Alloh Subhanahu wa Ta‟ala berfirman yang artinya, “Dan bila kamu akan membaca Al-Qur‟an, maka mintalah perlindungan kepada Alloh dari (godaan-godaan) syaithan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl: 98). Membaca Al-Qur‟an dengan tidak mengganggu orang yang sedang shalat, dan tidak perlu membacanya dengan suara yang terlalu keras atau di tempat yang banyak orang. Bacalah dengan suara yang lirih secara khusyu‟. Rosululloh shollallohu „alaihiwasallam bersabda, “Ingatlah bahwasanya setiap dari kalian bermunajat kepada Rabbnya, maka janganlah salah satu dari kamu mengganggu yang lain, dan salah satu dari kamu tidak boleh bersuara lebih keras daripada yang lain pada saat membaca (Al-Qur‟an).” (HR. Abu Dawud, Nasa‟i, Baihaqi dan Hakim). Wallohu a‟lam. MARAJI”: Majmu‟ Fatawa, As Sunan wal Mubtada‟at Al Muta‟alliqoh Bil Adzkari wash Sholawat, Syarh Al „Aqidah Ath Thohawiyah, Syaikh Sholih Alu Syaikh, 1/266, Asy Syamilah Syarh Al „Aqidah Ath Thohawiyah, Syaikh Sholih Alu Syaikh, 1/266, Asy Syamilah Minhajus Sunnah An Nabawiyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 7/459,
  44. 44. Muassasah Qurthubah, cetakan pertama, tahun 1406 H. I‟lamul Muwaqi‟in „an Robbil „Alamin, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, 1/7, Darul Jail, 1973 Mukhtashor Minhajil Qoshidin

×