1
KEHARAMAN SESUATU YANG MEMABUKKAN
(Kajian Kritis atas Hadits Sunan Tirmidzi Nomor Hadits: 1788)

MAKALAH
(REVISI)
DISUSU...
2
BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Hadits tersebut memulai pemahaman bahwa istilah untuk segala sesuatu yang
mem...
3
BAB II
PEMBAHASAN
Hadits Sunan Tirmidzi Nomor Hadits: 1788

Hadits serupa juga ditemukan dalam beberapa kitab dari kutub...
4
2. Rawi II

: Muhammad Ibn al-Munkadir,

3. Rawi III

: Dawud Ibn Bakr,

4. Rawi IV

: Ismail Ibn Ja‟far,

5. Rawi V

: ...
5
sering berdiskusi bersama. Dan Ibnu Fadhil mengatakan bahwa Tirmidzi adalah
pengarang kitab Jami‟ dan Tafsirnya, dia jug...
6
Bernama lengkap Abu Ishaq Ismail ibn Ja‟faar ibn Abi Katsir al-Anshari.
Terlahir di Madinah pada tahun 103 H. dan wafat ...
7
Shalih, Syuaib ibn Abi Hamzah, adh-Dhahak ibbn Utsman, Abd al-Karim ibn Malik, dan
Amr ibn Abi Qais.15
Beberapa ulama; S...
8
menggunakan aspek-aspek yang dipakai Shalahuddin al Adlabi dalam kitabnya Manhaju
Naqd Matan „inda „Ulama‟I al Hadis.
Ad...
9
mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: " yang lebih dari
keperluan." Demikianlah Allah menerang...
10
b. Tidak bertentangan dengan hadis shahih lainnya dan fakta sirah
nabawiyah
Banyak sekali hadits yang menyangkut kehara...
11
tidur merupakan istirahat dari keletihan dan kelelahan. Dan tidur merupakan salah satu
nikmat Allah yang sangat besar k...
12
Kesimpulan
1. Berdasarkan hasil anilisis sanad;
-

hadis ini terdapat dalam empat kitab induk hadis dengan melibatkan
p...
13
adz-Dzahabi, Syamsuddin, al-Kasyif fi ma‟rifah, juz I (CD Maktabah Syamilah),
adz-Dzahabi, Syamsuddin, Mizan al-I‟tidal...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

PENELITIAN "hadits khamr"

880 views

Published on

"Bacalah demi nama Tuhanmu Yang Maha Mencipta"

Published in: Spiritual
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
880
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
6
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

PENELITIAN "hadits khamr"

  1. 1. 1 KEHARAMAN SESUATU YANG MEMABUKKAN (Kajian Kritis atas Hadits Sunan Tirmidzi Nomor Hadits: 1788) MAKALAH (REVISI) DISUSUN GUNA MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH METODE PENELITIAN HADITS DOSEN PENGAMPU : Prof. Dr. Suryadi M.Ag. Oleh: Muhammad Maghfur Amin 09532021 JURUSAN TAFSIR DAN HADITS FAKULTAS USHULUDDIN STUDI AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA 2011
  2. 2. 2 BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Hadits tersebut memulai pemahaman bahwa istilah untuk segala sesuatu yang memabukkan disebut dengan ‟khamr‟. Dari bahan apapun itu, yang memabukkan adalah khamr dan yang memabukkan itu diharamkan baik sedikit maupun banyak. Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji yang termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). (QS.Al Ma`idah: 90-91) Sangat jelas sekali dari firman di atas bahwa sesuatu yang memabukkan itu (khamr) itu dilarang. Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah batasan sesuatu itu termasuk „memabukkan‟. Apakah illat hukumnya adalah „memabukkan‟ atau memang zat sesuatu yang memabukkan itu sendiri. Dari latar belakang tersebut, dalam makalah ini penulis akan membahas tentang satu hadits tentang keharaman sesuatu yang memabukkan (khamr). Dalam hal ini yang akan menjadi objek kajian adalah hadits dalam Sunan Tirmidzi nomor hadits: 1788. Pembahasan ini sangat penting guna memberikan penjelasan tentang hadis mengenai status hadis tersebut serta memberikan pemahaman utuh tentang kandungan hadis yang secara sekilas menyangkut batasan sesuatu yang haram karena memabukkan
  3. 3. 3 BAB II PEMBAHASAN Hadits Sunan Tirmidzi Nomor Hadits: 1788 Hadits serupa juga ditemukan dalam beberapa kitab dari kutub at-tis‟ah; Nama kitab Sunan Abu Dawud Sunan Ibn Majah Musnad Ahmad Bab Pembahasan Kitab asy-Syurbah Kitab asy-Syurbah Baqiya Musnad al-Muktsirin No. Hadits 3196 3384 14176 A. Kritik Sanad 1. Skema Sanad (Rowi-rowi jalur Tirmidzi)1 Jabir Ibn Abdillah Muhammad Ibn al-Munkadir Dawud Ibn Bakr Ismail Ibn Ja’far Qutaibah Ali ibnHujr Tirmidzi Nama-nama perawi 1. Rawi I 1 : Jabir Ibn Abdillah, CD Maushu‟ah Hadits Syarif
  4. 4. 4 2. Rawi II : Muhammad Ibn al-Munkadir, 3. Rawi III : Dawud Ibn Bakr, 4. Rawi IV : Ismail Ibn Ja‟far, 5. Rawi V : Ali Ibn Hujr dan Qutaibah 6. Rawi VI : at-Tirmidzi 2. I’tibar Sanad Skema di atas menunjukkan tidak ada Muttabi‟ untuk Rowi pertama hingga keempat; Jabir Ibn Abdillah, Muhammad Ibn al-Munkadir, Dawud Ibn Bakr dan Ismail Ibn Ja‟far.Kemudian pada jalur periwayatan setelahnya, diriwayatkan oleh dua Rowi yang masing-masing salah satunya disebut dengan istilah Muttabi‟ yakni oleh Ali Ibn Jurch dan Qutaibah. Dari kedua periwayat inilah Imam at-Tirmidzi menerima hadits tersebut. Jika disimpulkan dari jalur sanad yang demikian ini, hadits tersebut merupakan hadits ahad. 3. Kualitas Masing-masing Perawi a. At Tirmidzi Nama lengkap beliau adalah Abu „Isa Muhammad ibn „Isa ibn Saurah ibn Musa ibn al-Dahhak al-Sulami al-Bugi al-Tirmidzi.2 Lahir pada tahun 209 H, wafat pada malam senin tanggal 13 rajab tahun 279 H.3 Adapun guru-guru beliau diantaranya adalah Ishaq bin Ruhawaih, Mahmud bin Ghailan, Yusuf bin „Isa, Qutaibah bin Sa‟id, „Ali bin Hujr, dan lainnya. Muridmuridbeliau diantaranya adalah Abu Bakar Ahmad bin Isma‟il al-Samarqandi, Abu Hamid Ahmad bin „Abdullah, Ibn Yusuf al-Nasafi, al-Husain bin Yunus, dan lainnya.4 Mengenai penilaian ulama terhadap beliau, Abu Ya‟la al Khalili berkata, “Tirmidzi tsiqah dan muttafaq alaih.5 Ibnu Hibban dalam kitabnya al Tsiqat menyebutkan bahwa at Tirmidzi adalah ulama pengumpul hadis, pengarang kitab, penghafal hadis, dan 2 Ibn Hajar al-„Asqalani, Tahdzib al-Tahdzib, juz IX, (Beirut: Dar al-Fikr, 1994), hlm. 378. Muhammad Muhammad Abu Zahw, al-Hadits wa al-Muhadditsun (Mesir: Maktabah Misr, t.th), 3 hlm. 360. 4 Syamsuddin al-Dzahabi, Siyar al-A‟alam al-Nubala‟, juz XIII (Beirut: Mu‟assasah al-Risalah, 1990), hlm. 271 5 Ibn Hajar al-„Asqalani, Tahdzib al-Tahdzib, juz IX, (Beirut: Dar al-Fikr, 1994), hlm. 335.
  5. 5. 5 sering berdiskusi bersama. Dan Ibnu Fadhil mengatakan bahwa Tirmidzi adalah pengarang kitab Jami‟ dan Tafsirnya, dia juga ulama yang berpengetahuan.6 b. Qutaibah bin Sa’id Nama lengkap beliau adalah Qutaibah bin Sa‟id bin Jamil bin Tharif al Tsaqafi, beliau lahir pada tahun 150 H dan wafat pada tahun 240 H.7 Adapun guru-guru beliau diantaranya adalah Ibrahim bin Sa‟id, Isma‟il bin Ibrahim bin Muqsim, Abdul „Aziz bin Muhammad bin „Abid bin Abi „Abid, dan lain-lain. Murid-murid beliau diantaranya adalah at Tirmidzi, Ahmad bin Sa‟id bin Sakhar, Abdullah bin Muhammad bin Abi Syaibah, dan lain-lain. Mengenai pendapat kritikus hadis mengenai beliau, menurut Abu Hatim Qutaibah adalah tsiqah, menurut an Nasa‟i tsiqah tsubut, al Hakim mengatakan beliau tsiqah ma‟mun.8 c. Ali Ibn Hujr Nama lengkapnya adalah Ali Ibn Hujr ibn Ilyas as-Sa‟di. ia termasuk atba‟ at tabi‟in kecil. Berdomisili mengabdikan ilmu di Baghdad. wafat pada tahun 244 H9 Diantara gurur-guru beliau; Abu Yusuf, Abu Ishaq, Abu Basyar, Ismail ibn Ja‟far, Ismail ibn A‟isy, Abu Yahmad, Jarir ibn Hazim, Abu Abdillah, Jarir ibn Abd al-Hamid, Hasan ibn Ibrahim ibn Abdillah, Hafsh ibn Sulaiman, Hafsh ibn Ghaits, Musallamah ibn Umar, Ma‟mar ibn Sulaiman, al-Walid ibn Muuhammad, Yahya ibn Hamzah, dan Ismail ibn Ja‟far. Sedang muridnya; Imran ibn Khalid Ibn yazid.10 Ulama seperti an-Nasa‟I, Ibn Hibban, al-Hakim, dan al-Khathib menilainya termasuk perawi yang tsiqqah, Mutqin dan al-Hafidz11 d. Ismail ibn Ja’far 6 Syamsuddin al-Dzahabi, Siyar al-A‟alam al-Nubala, juz XIII (Beirut: Mu‟assasah al-Risalah, 1990), hlm. 274. 7 Syamsuddin al-Dzahabi, Tadzhib Tahdzib al Kamal fi Asma‟I al Rijal, jilid VII (al Faruq al Hadisiyah li al Thiba‟ah wa al Nasyr), hlm. 399-401. 8 CD Mausu‟ah Hadis Syarif. 9 Ahmad ibn Ali Ibn Hajar al-Asqalani, Taqrib at-Tadzhib, juz II (CD Maktabah Syamilah), hlm. 399 10 CD Maushu‟ah Hadits Syraif 11 Syamsuddin adz-Dzahabi, al-Kasyif fi ma‟rifah, juz I (CD Maktabah Syamilah), hlm. 158
  6. 6. 6 Bernama lengkap Abu Ishaq Ismail ibn Ja‟faar ibn Abi Katsir al-Anshari. Terlahir di Madinah pada tahun 103 H. dan wafat di Baghdad tahun 180 H.12 Ia termasuk dalam thabaqath pertengahan dari atba‟at-tabi‟in. diantara gururguru beliau adalah Humaid ibn Abi Humaid, Dawud ibn Bakr ibn Abi al-Farrat, Dawud ibn Qais, Rabi‟ah ibn Abd ar-Rahman, Sa‟d ibn Sa‟id, Sulaiman ibn Sachim, al-„Ala‟ ibn Abd ar-Rahman, Utbah ibn Abi Utbah, Malik ibn Anas, Nafi‟ ibn Malik, dan Yazid ibn Abdillah. Sedangkan murid-murinya antara lain: Ibrahim ibn Abdillah ibn Hatim, Ahmad ibn Ya‟qub, Ishaq ibn Muhammad. Beberapa ulama sperti Ahmad ibn Hanbal, Ali al-Madini, Yahya ibn Ma‟in, anNasa‟I dan Abu Zar‟ah memberikan predikat tsiqqah. e. Dawud ibn Bakr Adalah yang bernama lengkap Dawud ibn Abi Bakr al-Farrat yang termasuk atba‟ at-tabiin besar. Beberapa gurunya adalah Muhammad ibn al-Munkadir, Sofwan ibn Salim dan lainnya. Sedangkan murid-muridnya antara lain; Ismail ibn Ja‟far, Abu Dhamrah dan lalinnya. Ibnu Ma‟in menilai beliau termasuk rawi yang tsiqqah, Abi Hatim member status la ba‟sa bih. Sedangkan Ibn Hibban, adz-Dzahabi dan ad-Daruquthni memeberi predikat tsiqqah.13 f. Muhammad Ibn al-Munkadir Abu Abdillah Muhammad ibn al-Munkadir ibn Abdillah al-Hudair at-Tamimi adalah nama lengkap beliau. Berdomisili di Madinah wafat pada tahun 131 H.14 Nama-nama guru beliau diantaranya; Jabir ibn Abdullah, al-Harits ibn Abi Qatadah, Dzakwan, Said ibn Jubair, Aisyah binti Abi Bakr, Amr ibn Sa‟d ibn Abi Waqash, Amr ibn Abdillah ibn Qais, Abdullah ibn Abi Waqi‟ dan Urwah ibn Zubair. Adapun murid-muridnya adalah diantaranya; Dawud ibn Abi Bakr al-Farrat, Zaid ibn Aslam, Sufyan ibn Uyainah, Salamah ibn Dinar, Sulaima ibn Arqam, Suhail ibn Abi 12 Ibn Abi Hatim ar-Razi, al-Jarh wa at-Ta‟dil, juz II (CD Maktabah Syamilah), hlm. 162 Syamsuddin adz-Dzahabi, Mizan al-I‟tidal, juz II (CD Maktabah Syamilah), hlm. 18 14 Ahmad ibn Ali Ibn Hajar al-Asqalani, Taqrib at-Tadzhib, juz II (CD Maktabah Syamilah), hlm. 508 13
  7. 7. 7 Shalih, Syuaib ibn Abi Hamzah, adh-Dhahak ibbn Utsman, Abd al-Karim ibn Malik, dan Amr ibn Abi Qais.15 Beberapa ulama; Sufyan ibn Uyainah, Yahya ibn Ma‟in, al-Humaidi, Abu Hatim ar-Razi, dan al-„Ijl memberikan predikat tsiqqah16 g. Jabir ibn Abdillah Abu Abdillah Jabir ibn Abdillah ibn Amr al-Anshari adalah nama lengkap beliau. Seorang sahabat yang berdomisili di Madinah dan wafat pada tahun 78 H. Beberapa gurunya tentu dari kalangan shahabat, diantaranya; umar ibn Khattab, Abdullah ibn Amr ibn Ash, Abdullah ibn Umar, Abdullah ibn Ustsman, Abd ar-Rahman ibn Shakhr, Thalhah ibn Abdillah, Sa‟d ibn Malik, Dzakwan, al-Harits, Ummu Kultsum bint Abi Bakr, dan Ubay ibn Ka‟b, ia memeilki beberapa murid yang diantaranya adalah; Abu Bakr ibn al-Munkadir, Muhammad ibn al-Munkadir, Uqbah ibn Abd ar-Rahman, Salamh ibn Abi Yazid, Khalid ibn Hayyan, al-Harits ibn Yazid, Wahb ibn Munabbih,Amr ibn Dinar, Umar ibn Jabir, Ikrimah dan Atha‟ ibn Yasar.17 Dari pemaparan tentang status rawi-rawi diatas maka keseluruhan perawi dari jalur at-Turmudzi merupakan perawi-perawi yang berstatus tsiqqah. B. KRITIK MATAN Diatas sudah dijelaskan aspek-aspek yang berkaitan dengan sanad, maka disini akan dibahas aspek-aspek yang berkaitan dengan mtan hadis. Dalam hal ini penulis 15 CD Maushuah Hadits Syarif al-Asqalani, hlm. 509 17 CD Maushuah Hadits Syarif 16
  8. 8. 8 menggunakan aspek-aspek yang dipakai Shalahuddin al Adlabi dalam kitabnya Manhaju Naqd Matan „inda „Ulama‟I al Hadis. Adapun aspek-aspek tersebut adalah : a. Tidak bertentangan dengan al Qur’an Ide yang diangkat dari hadits tersebut memilki kesesuaian dengan semangat alQur‟an. Dalam hal ini adalah tentang keharaman khamr sebagai seuatu yang memabukkan. Proses pengharaman yang dipakai adalah proses bertahap. Allah Ta‟ala mengharamkan khamr bagi ummat ini dalam empat tahapan yang tertuang dalam empat ayat, yaitu: 1. Tahapan pertama, Ayat yang membolehkan, yaitu dalam surat an-Nahl ayat ke-67 :     Artinya, ”Dan dari buah korma dan anggur, kamu buat minuman yang memabukkan dan yang baik. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan.” (QS. An-Nahl: 67)18 2. Tahapan kedua, Ayat sebagai muqaddimah (permulaan) untuk mengharamkannya.         Artinya : “Mereka bertanya kepadamu tentang khamar (segala sesuatu yang memabukkan) dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya". dan 18 Tim Penyusun. 1982. Al-Qur’an dan Terjemah. Jakarta: PT. Perca. hlm. 275
  9. 9. 9 mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: " yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir. (Al-Baqarah ayat 219) 19 3. Tahapan ketiga, Ayat yang melarang minum khomr pada waktu-waktu tertentu seperti ketika akan sholat. Yaitu terdapat dalam surat an-Nisaa‟ ayat 43 :     Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam Keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan…” (QS. An-Nisaa‟: 43)20 4. Tahapankeempat, Ayat yang menyatakan haramnya khamr secara mutlaq dan jelas, sedikit atau banyak, waktu sholat atau di luar sholat. Yaitu terdapat dalam surat alMa‟idah ayat 90 :      Artinya, “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan". (QS. Al-Ma‟idah : 90)21 19 20 21 Ibid.hlm. 35 Ibid.hlm. 86 Ibid.hlm. 124
  10. 10. 10 b. Tidak bertentangan dengan hadis shahih lainnya dan fakta sirah nabawiyah Banyak sekali hadits yang menyangkut keharaman khamr, diantaranya memuat tentang zat dan bahan yang memabukkan: 22 Telah sangat jelas sekali begaimana Rasulullah menjawab pertanyaan shahabat. Padahal ketika itu sahabat bertanya tentang sebuah minuman yang terbuat dari madu, yang kemudian Nabi menjawab “selama itu tidak memabukkan, silakan” Ada juga hadits lain yang menjelaskan keharaman khamr, bahkan ketika itu dikabarkan dengan satu pengumuman yang diperintahkan oleh Nabi. 23 c. Tidak bertentangan dengan akal sehat, indera, dan fakta sejarah Perkara apa saja yang mengantarkan kepada terhalanginya seorang hamba dengan tujuan-tujuan penciptaannya dan menghalangi antara hamba dari mengenal dan mengingat serta bermunajat kepada RobNya maka hukumnya adalah haram, dan perkara tersebut adalah mabuk. Dan hal ini berbeda dengan tidur, karena Allah telah menjadikan hambahambaNya memiliki sifat tersebut dan menjadikan mereka harus membutuhkan hal itu, tidak ada penegak untuk menegakkan tubuh-tubuh mereka kecuali dengan tidur karena 22 23
  11. 11. 11 tidur merupakan istirahat dari keletihan dan kelelahan. Dan tidur merupakan salah satu nikmat Allah yang sangat besar kepada hamba-hambaNya. Jika seorang mukmin tidur sesuai dengan kebutuhannya lalu bangun dari tidurnya untuk mengingat Allah dan bermunajat kepadaNya serta berdo'a kepadaNya maka tidurnya itu merupakan penolong baginya untuk sholat dan berdzikir. Akal adalah anggota tubuh yang membedakan antara hewan dan manusia, akal merupakan tempat memahami, dengan akal seseorang bisa membedakan antara kebaikan dan keburukan, antara hak dan batil. Oleh karena itu agama Islam sangat memperhatikan penjagaan akal dan menjadikan sebagai tempat digantungkannya "taklif" (beban untuk menjalankan hukum-hukum syari'at) dan Islam menjatuhkan taklif bagi orang yang kehilangan akal sebagaimana sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. d. Susunannya menunjukkan ciri-ciri kenabian Meskipun al-Quran telah menjelaskan tentang keharaman khamr yang mana penyebabkan turunnya wahyu tersebut adalah pertanyaan dari sahabat mengenai khamr itu sendiri. Namun peran Nabi sebagai aparat penjelas dan pelestari hukum tidak bisa lepas begitu saja. Penjelasan Nabi dalam hal ini lebih cenderung kedalam masalah bahan apa saja yang bisa termasuk kedalam khamr dan batasan tentang khamr itu sendiri. Dalam hadits yang termuat dalam Sunan at-Tirmidzi no. 1788 kurang lebih menunjukkan penegasan tentang kemutlakan haramnya khamr (sedikit ataupun banyak dan dari bahan apapun) Dengan demikian Nampak Nabi menghendaki umat Islam untuk dengan sigap dan tegas menghindari khamr, meskipun Nabi dalam ungkapannya tanpa menjelaskan apa saja bahaya khamr itu sendiri dan juga tidak menjelaskan mengapa kita dilarang mabuk. BAB III PENUTUP
  12. 12. 12 Kesimpulan 1. Berdasarkan hasil anilisis sanad; - hadis ini terdapat dalam empat kitab induk hadis dengan melibatkan periwayat dan melewati 5 tingkatan sanad. - Dari I‟tibar sanad, hadis ini secara kualitas termasuk hadis marfu‟ dan secara kuantitas hadis ini termasuk hadis ahad gharib. - Kualitas sanad, hadis ini tergolong hadis shahih karena mayoritas rawinya adalah tsiqah. 2. Dari segi matan; - Hadis ini adalah shahih, maqbul, dan dapat dijadikan hujjah. - Hadis ini memperingatkan kita akan bahaya khamr - Kandungan hadis tentang kemutlakan bentuk khamr keharamannya. DAFTAR PUSTAKA Abu Zahw, Muhammad, al-Hadits wa al-Muhadditsun (Mesir: Maktabah Misr, t.th),
  13. 13. 13 adz-Dzahabi, Syamsuddin, al-Kasyif fi ma‟rifah, juz I (CD Maktabah Syamilah), adz-Dzahabi, Syamsuddin, Mizan al-I‟tidal, juz II (CD Maktabah Syamilah), adz-Dzahabi, Syamsuddin, Siyar al-A‟alam al-Nubala‟, juz XIII (Beirut: Mu‟assasah al-Risalah, 1990), adz-Dzahabi, Syamsuddin, Tadzhib Tahdzib al Kamal fi Asma‟I al Rijal, jilid VII (al Faruq al Hadisiyah li al Thiba‟ah wa al Nasyr) al-„Asqalani, Ibn Hajar, Tahdzib al-Tahdzib, juz IX, (Beirut: Dar al-Fikr, 1994) CD Maushu‟ah Hadits Syarif al-Asqalani, Ibn Hajar, Taqrib at-Tadzhib, juz II (CD Maktabah Syamilah) ar-Razi, Ibn Abi Hatim, al-Jarh wa at-Ta‟dil, juz II (CD Maktabah Syamilah), CD Mausu‟ah Hadis Syarif. Tim Penyusun. 1982. Al-Qur‟an dan Terjemah. Jakarta: PT. Perca 1

×