Stres psi da kajian pni wa ok

2,595 views

Published on

Published in: Health & Medicine
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
2,595
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
8
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Stres psi da kajian pni wa ok

  1. 1. STRES PSIKOLOGIS DAN POLA HORMON STRES PADA DERMATITIS ATOPIK Made Wardhana. Lab/SMF Penyakit Kulit dan Kelamin FK Unud/RSU Sanglah. Denpasar, BaliABSTRAKLatar Belakang: Dermatitis atopik (AD) adalah penyakit inflamasi kulit dengan ditandai hiperaktivitasterhadap alergen dan dapat terjadi mulai sejak bayi atau anak-anak. Penyebab dan patogenesis penyakit inibelum diketahui dengan pasti, namun faktor stresor psikologis memegang peran penting sebagai pencetus danmemperberat penyakit. Diduga perubahan keseimbangan hormon stres seperti kortisol dan norepinefrin berefekterhadap keseimbangan Th1-Th2, hal ini memegang peran terhadap meningkatkan hipersensitivitas terhadapberbagai alergen.Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan stresor psikologis pada dermatitis atopik danpola hormon stres seperti kortisol, norepinefrin dan IL-4, pada dermatitis atopik.Subjek dan Metode: Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan matched-pair case-control, Kasus adalahpasien dermatitis atopik baru dan kontrol adalah orang sehat yang tidak menderita dermatitis atopik danpenyakit atopik lainnya. Skala/indeks stres diperoleh melalui wawancara dengan metode Rahe & Holmes.Pemeriksaan kortisol, norepinefrin dan IL-4 diambil dari darah vena dalam waktu yang sama.Hasil Penelitian: Penelitian ini melibatkan 36 kasus dan 36 kontrol. Skala stres pada kasus (165+12,4) lebihtinggi secara statistik dibandingkan dengan kontrol (96,0+9,5). Kadar norepinefrin pada kasus (5,13+2,04ng/ml) lebih tinggi secara bermakna dibandingkan kontrol (1,95+0,75 ng/ml), kadar kortisol pada kasus(4,90+2,15 ug/dl) lebih rendah secara bermakna dibandingkan kontrol (9,12+2,33 ug/dl) dan kadar IL-4 padakasus (4,54+1,22 pg/ml) lebih tinggi secara bermakni dibanding kontrol (2,98+0,70 pg/ml). Dijumpai korelasipositip cukup kuat antara tingkat stres dengan severitas penyakit (Scorad) dengan koefisien korelasi (r) sebesar0,62.Kesimpulan:Dari penelitian ini disimpulkan bahwa stres psikologis dan rendahnya kadar kortisol plasmadapat merupakan faktor risiko dermatitis atopik dan adanya korelasi positip antara severitas penyakit denganskala stres psikologis.Kata kunci: Stres psikologis, Dermatitis atopik, kortisol, norepinefrin, IL-4 PSYCHOLOGICAL STRESS AND PROFIE OF STRESS HORMONE IN ATOPIC DERMATITIS Made Wardhana Dept. of Dermato-venereology, Udayana Medical Faculty/Sanglah hospital, Denpasar BaliABSTRACTBackground: Atopic dermatitis (AD) is a skin inflammatory diseasecharacterized by hyperactivity of allergenwith an onsetin infancy or early childhood. The cause andpathogenesisof thisdiseaseis unknownclearly, butapsychologicalstressorplay an important roleas atriggeroraggravate thedisease. Assumed changes inthe balanceofstress hormones,cortisolandnorepinephrine was influences onTh1-Th2 balance, it holdstheroleofincreasedhypersensitivity tovariousenvironmental allergens.Aim of the Study: The purpose of this study was to determine that stress scale and lower concentration ofplasma cortisol is a risk factor for atopic dermatitis and the positive correlation with stress scale with severityod the disease.Subjects and Methods: This studies was conduct a matched pair case control design to prove that lowconcentration of cortisol is a risk factor for atopic dermatitis, in 36 cases and 36 controls. Stress scale wasmeasurement by Holmes & Rahe methods.Results: The result of the study showed that stress level in cases group (165+12,4) significantly higher thancontrol group (96,0+9,5). Plasma norepinephrine concentration of the case group was significantly higher(5.53 + 2.04 ug/dl) than control group (1.95+0.75 ug/dl), cortisol concentration of the case group wassignificantly lower (4.90+2.15 ug/dl) than the control group (9.12+2.33 ug/dl).Conclusion:This study suggeststhatpsychologicalstressandlow levels ofplasmacortisolcan bea risk factorforatopicdermatitisandapositivecorrelationbetween theseverityof disease withpsychologicalstressscale.Key word: Psychological stress, atopic dermatitis, cortisol, norepinephrine, IL-4Stres DA-PIT Solo/3/26/2012 1
  2. 2. PENDAHULUANDermatitis atopik adalah penyakit peradangan kulit yang kronik-residif dapat mulai sejak usiadini, umumnya bersifat familiar dengan gejala klinis yang khas dan disertai rasa gatal. Selaingejala pada kulit juga dijumpai gejala lainnya seperti gangguan sekresi kelenjar keringat, rentanterhadap infeksi bakteri dan gangguan vaskuler. Dermatitis atopik merupakan penyakitmultifaktorial dengan mekanisme hipersensitivitas kulit yang dapat dipicu oleh paparan alergenlingkungan seperti,alergen makanan, alergen hirup (aeroalergen), bahan iritan, eksotoksin daristreptococcus, stresor fisik dan stresor psikologis.1Penyakit ini cukup banyak dijumpai di masyarakat, prevalensidi Indonesia sekitar 5 – 10 %. Dimasyarakat diduga 2-3 % dari penyakit ini terjadi pada anak dan dewasa muda dan berkurangsetelah bertambahnya usia.2 Penyebab dan patogenesis penyakit ini belum diketahui dengan jelas karena melibatkanbanyak organ, namun telah disepakati bahwa penyakit ini berhubungan dengan hipersensitivitasseseorang terhadap alergen lingkungan, hal ini didasari oleh perubahan keseimbangan aktivitas sellimfosit T helper 1 (Th1) dan sel limfosit T helper 2 (Th2), pada dermatitis atopik didominasi olehperan sel Th2 yang menyebabkan peningkatan kadar imunoglobulin E (IgE), interleukin-4 (IL-4)dan interleukin-5 (IL-5), mediator tersebut merupakan mediator utama dalam patogenesisdermatitis atopik. Oleh karena itu dermatitis atopik disebut juga Th2 mediated disease.2,3Peningkatan kadar IgE spesifik maupun IgE total pada dermatitis atopik terjadi sekitar 70-80 %kasus, hal ini menunjukkan bahwa penyakit ini secara klinis berhubungan dengan faktor alergi.4 Faktor stresor psikologis juga memegang peran kejadian dermatitis atopik, hal ini terbuktiketerlibatan sistem saraf dan sistem endokrin dalam patogenesis penyakit ini. Stresor psikologis,sebagai suatu perubahan emosional akan menyebabkan perubahan neurokimiawi pada otak yangpada awalnya diterima oleh saraf pusat sebagai stress perception, kemudian akan menimbulkanstress responses pada jalur hipothalamus dan sistem saraf simpatetik, hasil akhir dari respon iniakan menyebabkan meningkatnya sintesis kortisol dan norepinefrin. Ke dua hormon tersebutmerupakan biomarker adanya respon stres, dan akan mempengaruhi respon imun melalui berbagaijalur.4 Kortisol adalah salah satu hormon yang dihasilkan oleh korteks adrenal, merupakanproduk akhir dari sumbu Hypothalamus-Pituitary-Adrenal sebagai pusat stress responsesterhadap berbagai stresor, yang diterima oleh sel paraventricular nucleus (PVN) yang akanmengaktivasihipothalamus untuk melepaskan corticotropin releasing hormone (CRH) yang akanmenstimuli kelenjar pituitary anterior (hipofise anterior) untuk melepaskan adreno-corticotropinhormone (ACTH), hormone ini akan berikatan dengan sel-sel kelenjar adrenal bagian korteks(cortex adrenal), sebagai hasil akhir sintesis terjadi peningkatan kortisol serum. Kortisolmemegang peran dalam homeostatis tubuh sebagai anti-inflamasi dan imunosupresi.Norepinefrinadalah hormon stres yang disintesis oleh locus ceruleus di batang otak, sistem saraf simpatetikdan medula adrenal. Norepinefrin, selain sebagai hormon juga sebagai neurotransmiter berefeklangsung terhadap monosit melalui reseptornya untuk meningkatkan sintesis IL-10, Interleukin inisecara langsung mengaktivasi Th2 untuk meningkatkan produksi IL-4 dan IL-5. Tampaknya kedua hormon stres tersebut sangat berperan dalam mengatur keseimbangan peran sel Th1 dan selTh2.5 Penelitian ini bertujuan untuk mencari hubungan faktor stresor psikologis terhadapdermatitis atopik serta pola kadar kortisol, norepinefrin dan IL-4 plasma sebagai landasan kajianpsikoneuroimunologi.METODE DAN SUBYEK PENELITIANUntuk mengetahui peran stres psikologis pada dermatitis atopik dilakukan penelitian denganpendekatan match pair case-control study. Kasus adalah pasien dermatitis atopik yang berobat kepoliklinik Penyakit Kulit RS Sanglah Denpasar yang belum mendapat pengobatan, berumur 14 -65 tahun. Diagnosis dermatitis atopik ditegakkan berdasarkan gambaran klinis yang khas sesuaiStres DA-PIT Solo/3/26/2012 2
  3. 3. dengan kriteria Hanifin & Rajka.6Kontrol adalah subyek yang sehat tidak menderita dermatitisatopik atau penyakit alergi lainnya. Antara kasus dan kontrol dilakukan matching, dipasangkanberdasarkan jenis kelamin dan usia dengan rentang 5 tahun. Setelah ke dua kelompokmendapatkan informasi yang cukup dan bersedia menanda tangani surat informed consent,selanjutnya dilakukan anamnesis yang mendalam untuk mendapatkan indeks/skala stres denganmetode Holmes & Rahe.7Penentuan severitas dermatitis atopik berdasarkan sistem SCORAD dariEuropean Task Force on atopic dermatitis.8Pemeriksaan norepinefrin, kortisol dan IL-4 diambil dari vena kubiti pada pagi hari sebelummelakukan aktivitas. Semua data yang terkumpul kemudian uji statistik, beda mean, Chi squaredan analisis korelasi.HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANDalam kurun waktu 6 bulan penelitian tercatat 72 sampel dengan 36 pasien dermatitis atopik yangsesuai dengan keiteria penelitian dan 36 tanpa dermatitis atopik sebagai kontrol. Karateristikumum sampel penelitian dapat dilihat pada tabel 1.Tabel 1Karateristik Umum Subjek Penelitian Kasus (n=36) Kontrol (n=36) Odds ratio (CI 95 %) p Jenis Kelamin Laki-laki 21 21 Perempuan 15 15 Umur (tahun) 39,47 + 15,14 36,16 + 12,58 > 0.05 Severitas: (SCORAD) Ringan 10 -- Sedang 15 -- Berat 7 -- Skor Stres < 150 25 31 > 150 11 5 < 0,05 Rerata level stres 165 + 12,4 96 + 9,5 2,65(0,78 – 3,67) <0,05 Riwayat atopi (+) 20 (27,8 %) 11 (15,3 %) (-) 16 (22,2 %) 25 (34,7 %) 1,68(0,78 – 3,67) <0,05 Kortisol (ug/dl) 4,90 + 2,15 9,12 + 2,33 5,45(1,66 + 4,67) <0,05 Norepinefrin (ng/ml) 5,13 + 2,04 1,95+ 0,75 1,84(0,78 + 2,74) <0,05 IL-4 (pg/ml) 5.54+ 1,28 2,98+ 0,70 1,93 (0,15 +5,81) <0,05Karakteristik SampelTabel 1 di atas menunjukkan bahwa sebanyak 36 orang penderita dermatitis atopik sebagai kasusdan 36 orang sebagai kontrol terdiri dari laki-laki 21 0rang (58,30 %) dan perempuan 15 orang(41,70 %). Rerata umur kelompok kasus adalah 39,47 15,45 dan rerata umur kelompok kontroladalah 36,17 12,59, dari hasil pemasangan ini, tidak ada perbedaan umur umur yang bermakna(p > 0,05). Dari 36 kasus 10 pasien (27,7 %) dengan keparahan ringan, 15 pasien (41,6 ) sedangdan 7 pasien (19,4) berat.Stres Psikologis pada Dermatitis AtopikPengukuran Indeks/skala stres ditentukan dengan wawancara mendalam dengan metode Holmes& Rahe.Rerata skala stres pada kasus adalah165 + 12,4 dan pada kontrol 96 + 9,5. Secarastatistik perbedaan ini sangat bermakna, berarti faktor stres mempengaruhi kejadian dermatitisatopik. Holmes dan Rahe menyatakan bila skala stres >150 berarti sangat rentan terhadar stres dandapat menimbulkan manifestasi klinis. Pada penelitian ini selain membandingkan rerata skalaStres DA-PIT Solo/3/26/2012 3
  4. 4. stres juga dilakukan skoring dengan hasil; dari 36 kasus, 11 pasien (30,5 %) dengan skala stres >150 dan 5 pasien (13,8 %) dengan skala stres < 150. Sedangkan pada 36 kontrol, 31 orang(86,11%) dengan skala stres < 150 dan hanya 5 orang (13,88 %) dengan skala stres > dari 150.Setelah dilakukan analisis Chi2 perbedaan proporsi ini bermakna secara statistik. Denganmenghitung rasio Odds dengan 2 by 2 table maka didapat rasio Odds sebesar 2,278, ini berartirisiko terjadinya psoriasis yang terpapar stres sekitar 3 kali dari yang tidak terpapar stres.Kadar Hormon Stres dan IL-4 pada Dermatitis AtopikTabel 1 di atas menunjukkan bahwa reratakortisol pada kasus (4,90 2,15 ug/dl) lebih rendahsecara signifikan dibandingkan kontrol (9,12 2,33 ug/dl). Beberapa peneliti lain seperti Ionescuet al (1988) Menyatakan bahwa meningkatnya kadar norepinefrin dan rendahnya kadar kortisolpada pasien dermatitis atopik yang berat.9Buske-Kirschbaum at al dengan tiga kali penelitian padatahun 2002 dan pata tahun 2003 memperoleh hasil yang sama walaupun dengan metode sedikitberbeda. Dermatitis atopik pada anak usia 8-14 tahun yang diberikan stresor psikis dan fisiologisdengan cara Trial Social Stress Test for Children (TSST-C). Sebelum dan setelah diberiperlakuankortisol saliva diukur secara berseri berseri setiap 10 menit sampai 30 menit. Setelahperlakuan kadar kortisol pada kasus lebih rendah secara bermakna dibandingkan pada kontrol.Peneliti menyimpulkan bahwa terjadi hiporeaktivitas sumbu HPA terhadap stres pada pasiendengan penyakit atopik, baik pada dermatitis atopik maupun asma.10,11Wamboldt et al (2003)meneliti 202 pasien usia 12-19 tahun yang menderita dermatitis atopik, rinitis dan asma.Pengukuran kortisol diambil dari saliva, hasilnya bahwa kortisol saliva pada pasien denganpenyakit atopik lebih rendah secara bermakna dibandingkan dengan kontrol. Penelitimenyimpulkan bahwa kortisol sebagai produk akhir dari sumbu HPA memegang peran pentingdalam penyakit atopik.12Walaupun sebenarnya setiap adanya stresor psikologis semua hormon stres meningkat termasukkortisol, tetapi akibat ada gangguan pada sumbu HPA, sintesis kortisol dari sumbu tersebutkurang responsif sehingga kortisol rendah. Kita ketahui bahwa peran kortisol sebagaiimunosuresif dan anti-inflamasi.9,10Rerata kadar norepinefrin pada kasus adalah 5,13 2,14 ng/ml, sedangkan pada kontrol adalah1,95 0,83 ng/ml, tampak adanya peningkatan norepinefrin yang bermakna pada dermatitisatopik. Penelitian sebelumnya, Ionescu et al (1988) meneliti beberapa kadar hormon stres sepertinorepinefrin, epinefrin, dopamin dan serotonin pada pasien dermatitis atopik yang berat, ternyatadidapatkan bahwa norepinefrin pada dermatitis atopik 401,3 + 164,5 pg/ml) lebih tinggi secarabermakna dari pada kontrol (174,3 + 55,8 pg/ml), hormon adrenalin, dopamin dan serotoninpeningkatannya tidak bermakna.9Hasil yang sama juga dilakukan oleh Rupprechet et al (1997)melakukan penelitian pada 14 dermatitis atopik dan kontrol orang sehatbahwa pada pasien denganpenyakit atopik termasuk dermatitis atopik menunjukkan kadar norepinefrin (270,3 pg/ml) lebihtinggi secara bermakna dibandingkan dengan kontrol (211,0 pg/ml).13Schallreuter et al (1997)dalam penelitiannya terhadap dermatitis atopik (23 kasus) dan kontrol (30 orang), dengan hasilkadar plasma norepinefrin (701,5 + 51 ng/l, lebih tinggi secara bermakna dibandingkan dengankontrol (283 + 26 ng/l), sedangkan kadar epinefrinnya tidak ada perbedaan yang bermakna.Peningkatan norepinefrin secara langsung mempengaruhi diferensiasi dan maturasi sel T helperyang menyebabkan terjadinya dominasi peran sel Th2, sel ini berperan dalam imunitas humoraldan patogenesis dermatitis atopik.14 Peran IL-4pada imunopatogenesis dermatitis atopik sudah diterima secara umum, karenaIL-4 berperan dalam sistesis imunoglobulin E, eosinofil, hal ini merupakan faktor utama dalampatogenesis dermatitis atopik. Pada penelitian ini, kadar IL-4 pada kasus adalah 4,64 1,24 pg/mldan kontrol 2,98 0,70 pg/ml, terdapat peningkatan bermakna kadar IL-4 pada dermatitis 15,16atopik.Korelasi Indeks, Kortisol, norepinefrin dengan Severitas PenyakitStres DA-PIT Solo/3/26/2012 4
  5. 5. Severitas dermatitis atopik diukur berdasarkan sistem Scorad dari European Atopic dermatitisTask force. Untuk mengatahui hubungan antara indeks stres, kortisol dan norepinefrin denganseveritas dermatitis atopik dilakukan analisis korelasi dan regresi linier untuk melihat gambarankekuatan korelasi dapat dilihat diagram baur (scatter plot) gambar 1,2 dan 3. Hasilnya, ternyataditemukan ada korelasi positip antara indeks stresdengan severitas pada dermatitis atopik dengankoefisien korelasi r = 0,60, ini beratri adanya korelasi yang kuat. Demikian juga dijumpaihubungan linier antara indeks stres dengan severitas penyakit, seperti terlihat pada gambar 1 dibawah ini. Gambar 1: Diagram baur korelasiindeks stres dengan severitas penyakitTemuan tersebut membuktikan bahwa faktor stresor psikologis mempengaruhi severitasdermatitis atopik. Ionescu et al (1988) dan Buske-Kirschbaum (2003) juga mendapatkan hasilyang tidak jauh berbeda, bahwa severitas penyakit sangat dipengaruhi oleh tingkat stresor pasien.Demikian juga penelitian Landstra et al (2002) indeks stres berkorelasi positip dengan keparahandari penyakit atopi lainnya.9,11,15Korelasi kadar norepinefrin dengan keparahan penyakit dengan koefisien korelasi r = 0,631, iniberatri adanya korelasi yang kuat antara norepinefrin dengan severitas penyakit. Di permukaan selT, telah dikatahui memiluki reseptor untuk beta-adrenergik, sehingga peran norepinefrin sangatpenting dalam pergeseran atau aktivasi sel Th2, sehingga produksi IL-4 akan meningkat, sitokinini merupakan sitokin proinflamasi yang dapat digunakan sebagai marker (petanda) keparahandermtaitis atopik.16Stres DA-PIT Solo/3/26/2012 5
  6. 6. Gambar 1: Diagram baurkorelasi norepinrfin dengan severitas penyakitHubungan dermatitis atopik dan sistem saraf otonom telah diteliti oleh Crespi et al (1982), padapenelitiannya dilakukan pada anak-anak dengan dermatitis atopik dengan mengukur epinefrin,norepinefrin dan dopamin yang diambil dari saliva dan urin setelah subyek distimulasi denganfurusemide. Dari penelitian tersebut didapatkan bahwa norepinefrin pada kasus (91,80 + 21,48)lebih tinggi dari pada kontrol (37,60 + 8,46), hasil ini secara statistik bermakna dan meningkatsecara bermakna dibandingkan dengan epinefrin dan dopamin. Peneliti menyimpulkan adanyadugaan terjadi gangguan respon dari beta-adrenergic pada dermatitis atopik. Pada diagram baurdiatas jelas tampak adanya hubungan positip yang cukup kuat.16 Dalam tabel 1 diatas tampak kadar kortisol lebih rendah secara bermakna dibandingkandengan kontrol. Dengan analisis regresi linier dengan r = 0.06, hubungan yang sangat lemah, iniberarti kortisol hampir tidak berpengaruh terhadap severitas penyakit. Gambar 1: Diagram baur korelasikortisol dengan severitas penyakitStres DA-PIT Solo/3/26/2012 6
  7. 7. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kadar kortisol pada dermatitis atopik rendah secarabermakna dibandingkan kontrol, penybab rendahnya kortisol belum ada informasi yang jelas.Buske mengatakan kemungkinan akibat gangguan pada sumbu HPA, responnya terhadap stressangat lemah, mungkin ditingkat hipothalamus, hipofise anterion atau di korteks kelenjar adrenal.Hal ini perlu diteliti lebih lanjut. Namun kadar epinefrin lebih tinggi secara bermakna. Secarafisiologis ke dua hormon stres tersebut akan meningkat, kortisol memiliki efek anti-inflamasi danimunosupresan sedangkan norepinefrin memiliki efek stimulasi terhadap Th2 sehinggameningkatkan sintesis sitokin proinflamasi, hal ini memegang peran dalam patogenesis dermatitisatopik. Kortisol yang semestinya menstimuli pelepasan IL-4. Hal ini memberi petunjuk bahwakortisol dan norepinefrin dapat mempengaruhi keseimbangan Th1 dan Th2. Mekanisme atau jaluryang lain juga dikatakan bahwa kortisol dapat menekan sel Mast untuk mensintesisimunoglobulin (Ig), namun karena rendahnya kortisol sehingga sel mast lebih teraktivasi untukmemproduksi imunoglobulin, termasuk Ig E. 16,17DAFTAR PUSTAKA1. Leung DYM, Eicheenfield LF and Bogunieicz. 2008. Atopic Dermatitis. In Wolff K. et al. Eds. Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine. McGraw Hill. 7 th Ed. New York: 146-158.2. Leung DYM, Eicheenfield LF and Bogunieicz. 2008. Atopic Dermatitis. In Wolff K. et al. Eds. Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine. McGraw Hill. 7th Ed. New York: 146-158.3. Bieber T. 2008. Mechanism of Disease Atopic Dermatitis. NEJM; 358[14]: 1483-1494.4. Buske-Kirschbaum A, Jobst S, Wustmans A, Kirschbaum C, Rauh W and Hellammer D. 1997. Attenuated Free Cortisol Response to Psychosocial Stress in Children with Atopic Dermatitis. Psychosomatic Medicine 59 : 419 – 426.5. Necela BM, and Cidlowski. 2004. Mechanism of Glucocorticoid Receptor Action in Noninflammatory and Inflammatory Cells. The Proceedings of the American Thoracic Society; 1: 239-246.6. Hanifin JM, and Rajka G. 1986. Diagnostic features of atopic dermatitis. Acta Derm Venereol ; 92: 44-47.7. Rahe, R.H and Holmes, T.H. &. (1967). The social readjustment rating scale. Journal of Psychosomatic Research, 1967;11: 213-218.8. European Task Force on atopic dermatitis9. Ionescu G, and Kiehl R. 1988. High Palasma Levels of Noradrenaline in Severe Atopic Dermatitis. Zeitscrift fur Hautkrankheiten ; 64(11): 1036-103710. Buske-Kirschbaum A, Geiben A, Hollig H, Morschhauser E, and Hellhammer D. 2002. Altered Responsiveness of the Hypothalamus-Pituitary-Adrenal Axis and the Sympathetic Adrenomedullary System to Stress in Patient with Atopic Dermatitis. J Clin Endocrinol Metab ; 87: 4245-4251.11. Buske-Kirschbaum A, Auer KV, Krieger S, Weis S, Rauh R, and Hellhammer D. 2003. Blunted Cortisol Responses to Psychosocial Stress in Asthmatic Children: A General Feature of Atopic Disease? Psychosomatic Medicine ; 65: 806-810.12. Wamboldt MZ, Laudenslagen M, Wamboldt FS, Kelsay K, and Hewitt J. 2003. Adolecents With Atopic Disorders Have an Attenuated Cortisol Response to Laboratpry Stress. J Allergy Clin Immunol ; 111(3): 509-14.13. Rupprecht M, Salzer B, Raum B, Hornstein OP, Koch HU, and Riederer P. 1997. Physical Stress-induce secretion of adrenal and pituitary hormones in patients with atopic eczema compared with normal controls. Exp Clin Endocrinol Diabetes ; 105: 39-45.14. Schallreuter KU, Pittelkow MR, Swanson NN, Beazley WD, Christine-Ehrke CK, and Buttner, G. 1997. Aaltered Catecholamine Sysnthesis and Degradation in the Epidermis of Patients with Atopic Dermatitis. Arch Dermatol Res; 289 : 663-666.15. Landstra AM, Postma DS, Boezen HM, and Van Alderen WMC. 2002. Role of Serum Cortisol Levels in Children with Asthma. Am J Respir Crit Care Med.165: 708-712.16. Crepsi H, Armando I, Tumilasci O, Levin G, Massimo J, Barontini M, and Perec C. 1982. Catecholamines levels and parotid secretion in children with atopic dermatitis. J Invest Dermatol; 78(6): 493-49717. Sewell WA, Scurr LL, Orphanides H, Kinder S and Ludowyke RI. 1998. Induction of IL-4 and IL-5 Expression in Mast Cell Is Inhibited by Glucocorticoid. Clinical and Diagnosis Laboratory Immunology; 5(1): 18-23Stres DA-PIT Solo/3/26/2012 7

×