Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Tasyri' Era Sahabat generasi kedua

17,129 views

Published on

Tasyri' Era Sahabat generasi kedua

  1. 1. ••••••••••••••••••••••••••••••••••
  2. 2. Kondisi Hukum Islam Era Sahabat Generasi Kedua <ul><li>Bersandar kepada al-Quran, Sunnah, Ijma’ dan Qiyas. Hanya saja prinsip syura belum kembali berkedudukan seperti halnya terdahulu, disebabkan berpencarnya kaum muslimin dan pertengkaran mereka sekitar khilafah (kepemimpinan) serta siapa yang paling berhak atasnya. Perpecahan telah melahirkan tiga golongan: Khawarij , Syi’ah dan Jumhur . Perpecahan politis memberi dampak bercabangnya fiqh. </li></ul><ul><li>Para ulama berpencar di berbagai kota, tidak lagi berkumpul di satu daerah sebagaimana periode sebelumnya. </li></ul><ul><li>Orientasi fiqh Jumhur terbelah dua: Sebagian mencukupkan berdasar nash-nash saja, mereka dinamakan Ahli Hadis . Sebagian lainnya, dalam mengetahui hukum dengan menggali maqashid hikmah dan tujuan dari nash-nash dengan jalan analogi, mereka dinamakan Ahli Ra’yu. </li></ul><ul><li>Tersiarnya periwayatan hadis, setelah sebelumnya mereka berhati-hati dalam hal itu karena takut dusta terhadap Rasul Saw. </li></ul><ul><li>Munculnya orang-orang yang membuat hadis palsu. </li></ul><ul><li>Tampilnya para budak ( mawla /hamba sahaya) yang pengetahuannya dimanfaatkan Islam, mereka mengambil ilmu dari para ulama majikannya disebabkan penaklukan Islam terhadap negaranya dan partisipasi ilmiah. </li></ul>
  3. 3. BERPENCARNYA PARA SAHABAT <ul><li>Umar bin Khattab melarang sahabat senior (kibar shahabah) untuk meninggalkan Madinah kecuali untuk keperluan mendesak. Hal itu agar mudah mengadakan ijma’ untuk memutuskan masalah yang diperselisihkan. Pada masa Utsman, penaklukan bertambah luas, maka beliau membolehkan para sahabat mendiami daerah taklukan. </li></ul><ul><li>Penduduk daerah banyak yang meminta fatwa kepada para sahabat, dan meriwayatkan hadis serta belajar dari mereka. </li></ul><ul><li>Dari segi pengetahuan para sahabat tentu tidak sama, juga hafalan mereka. Disamping itu daerah-daerah taklukan tersebut berbeda adat istiadatnya, situasi sosial ekonomi dan kehidupan. Sementara ulama-ulama kota yang jauh sulit mengadakan hubungan ilmiah karena susahnya transportasi. Akibatnya, penduduk daerah sangat bergantung pada fatwa dan hadis serta tradisi perbuatan para ulama sahabat di wilayahnya. </li></ul><ul><li>Penduduk Madinah banyak yang mengikuti fatwa Abdullah bin Umar, Said Ibnu Musayyab, dan Urwah bin Zubair (tabi’in). Penduduk Mekkah mengikuti fatwa Abdullah bin Abbas, Atha bin Abi Rabbah (tabi’in). Penduduk Kufah bersandar kepada fatwa Abdullah bin Mas’ud, Alqamah An-Nakha’i. Penduduk Basrah bersandar pada fatwa Abu Musa Al-Asy’ari, Anas bin Malik, Hasan Al-Bashri, dan Muhammad bin Sirin. Penduduk Syria mengikuti fatwa Mu’adz bin Jabal, ‘Ubadah bin Shamit, Abu Darda` serta murid mereka seperti Abu Idris Al-Khulani, Umar bin Abdul Aziz. Penduduk Mesir bersandar pada fatwa Abdullah bin ‘Amr bin al-’Ash. </li></ul>
  4. 4. TERSEBARNYA PERIWAYATAN HADIS <ul><li>Awalnya, Abu Bakar tidak menyukai banyak periwayatan dan Umar mengancamnya lantaran takut dusta terhadap Rasulullah Saw dan takut mengganggu umat Islam mempelajari al-Quran. </li></ul><ul><li>Seiring meluasnya wilayah Islam dan berpencarnya para sahabat, mengharuskan mereka mengajar dan memberi fatwa dengan sunnah sebagai sumber terluas dan rinci bagi fiqih . </li></ul><ul><li>Orang yang dianggap banyak meriwayatkan hadis adalah yang hafal lebih dari seribu hadis , yaitu Abu Hurairah, Jabir Al-Anshari, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Anas bin Malik dan Aisyah binti Abu Bakar. Hal ini tidak terlepas dari faktor panjangnya umur mereka, lamanya menyertai Rasul Saw dan banyaknya menghafal serta mengumpulkan hadis. Tidak semua yang mereka ceritakan didengar langsung dari Rasulullah, ada juga yang ia dengar dari sahabat senior lain yang mendengarnya langsung dari Nabi Saw. </li></ul>
  5. 5. MUNCULNYA PEMALSU HADIS <ul><li>Tidak dibukukannya hadis dan merasa cukup dengan hafalan, serta sulitnya membatasi perkataan dan perbuatan Rasulullah selama 23 tahun masa kerasulan, memberi peluang kepada kalangan Yahudi, bangsa Parsi dan Romawi untuk menebarkan hadis palsu dengan tujuan melemahkan kaum muslimin. Mereka tidak dapat merusak al-Quran lantaran sudah dibukukan. </li></ul><ul><li>Mereka bersatu menyusun hadis dalam penyerupaan sifat Allah dan pengingkarannya, pengharaman yang halal dan penghalalan yang haram, mengingatkan terpecah belahnya kesatuan Islam serta timbulnya kelompok agama, hingga Syi’ah membolehkan dirinya memalsu hadis yang menguatkan pendapatnya. </li></ul><ul><li>Hammad bin Zaid mengatakan, “Kaum Zindiq telah membuat hadis palsu sebanyak 4000 hadis”. </li></ul><ul><li>Pemalsuan hadis sangat berpengaruh terhadap kesulitan dan kelambanan proses istinbath hukum. </li></ul>
  6. 6. SEBAB-SEBAB (MOTIVASI) DIBUATNYA HADIS PALSU <ul><li>Permusuhan agama, seperti yang dilakukan seorang Yahudi bernama Abdullah bin Saba’. </li></ul><ul><li>Fanatisme mazhab, seperti yang dilakukan kelompok Syi’ah, Khawarij dan Murji’ah. </li></ul><ul><li>Usaha pendekatan kepada para raja dan penguasa dengan hal-hal yang menyenangkan mereka, motivasi mendapat imbalan. </li></ul><ul><li>Sebagian mereka mempermudah riwayat dalam keutamaan, targhib dan tarhib, seperti diriwayatkan dari Abu Ismah Nuh bin Abu Maryam bahwa dia membuat hadis palsu tentang keutamaan al-Quran surat demi surat, ketika ditanya, “darimana hadis ini?” Ia menjawab, “Ketika saya melihat orang-orang sibuk dengan fiqih Abu Hanifah dan maghazi Muhammad bin Ishaq serta mereka berpaling dari menghafal al-Quran, saya membuat hadis-hadis palsu ini.” </li></ul><ul><li>Sebagian orang hanya menerima Quran dan sunnah, sehingga mengundang sebagian pemalsu yang bersandar pada ucapan sahabat, kata mutiara orang Arab dan para hakim, dengan mengatakan bahwa hal itu datang dari Rasulullah Saw. </li></ul>
  7. 7. GERAKAN MEMBENDUNG PEMALSU HADIS <ul><li>Para tokoh ulama menuntut adanya pembersihan dan penyelidikan serta membuang hadis palsu dan merealisasikan kebenaran. Mereka membuka aib perbuatan pemalsu, tidak menerima apa yang diceritakannya, menjelaskan hadis-hadis yang dipalsukan dan tujuannya. </li></ul><ul><li>Muncul ilmu Jarh wa Ta’dil, yang membicarakan hal-ihwal para perawi hadis. Dengan al-Jarh, segi kelemahan seorang penutur hadis diungkapkan, dan dengan al-Ta’dil segi-segi kekuatannya diungkapkan. </li></ul><ul><li>Pembicaraan tentang Jarh wa Ta’dil telah dimulai dari sahabat junior, sejak masa Abdullah bin Abbas, Ubadah bin Shamit dan Anas. Begitu pula dari kalangan tabi’in, seperti Asy-Sya’bi, Ibnu Sirin, Hasan Al-Bashri, Sa’id bin al-Musayyab. </li></ul>
  8. 8. MUNCULNYA AHLI FIQIH DARI KALANGAN MAWLA <ul><li>Pada masa Khulafauurasyidin mayoritas penyandang ilmu dipegang orang-orang Arab. Ketika Mesir, Syria dan Irak ditaklukkan, ulama kalangan sahabat berpencar menyiarkan agama, sehingga unsur Arab dan non-Arab bersama-sama belajar ilmu dari mereka. Saat itulah para budak dan anak-anak masuk dalam gerakan ilmiah. </li></ul><ul><li>Para sahabat yang masyhur dalam ilmu dan fatwa ada yang menjadikan para budak itu sebagai pembantu yang menyertai mereka kala berdiam di suatu tempat atau bepergian. Hal ini menjadikan para budak mengetahui hadis dan fiqih tuannya. </li></ul><ul><li>Diantara budak tersebut adalah Nafi’ mawla Ibnu Umar dan Ikrimah mawla Ibu Abbas, Rabi’ah Ar-Ra’yu guru Imam Malik yang bapaknya seorang budak. </li></ul>
  9. 9. ULAMA AHLI HADIS <ul><li>Para ulama AHLI HADIS berpegang pada nash dan atsar, tidak bersandar pada ra’yu kecuali terpaksa sekali. Mereka penduduk Hijaz (Mekkah dan Madinah) yang dikepalai Sa’ad bin Musayyab yang lebih mengetahui hadis dan fiqh. Mereka tekun menghafal atsar dan mengumpulkan fatwa Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Aisyah, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Zaid bin Tsabit, Abu Hurairah dan ketetapan qadhi Madinah. Dengan modal seperti itu mereka merasa cukup dan tidak perlu menggunakan ra’yu. Hal ini disebabkan: </li></ul><ul><li>Terpengaruh oleh sikap pendahulu mereka seperti Abdullah bin Umar yang menggunakan atsar dan tidak mau menggunakan ra’yu. </li></ul><ul><li>Banyaknya atsar di kalangan mereka dan sedikitnya peristiwa baru yang terjadi. </li></ul><ul><li>Terbelakangnya penduduk Hijaz. Jika dimintai fatwa tentang suatu masalah, mereka merujuk Quran, lalu sunnah, dan kemudian atsar sahabat. Jika tidak didapati hukumnya, baru menggunakan ra’yu (itupun sedikit sekali), dan kadang berhenti memberi fatwa. </li></ul>
  10. 10. ULAMA AHLI RA’YU <ul><li>Para ulama AHLI RA’YU ADALAH PENDUDUK Irak yang dikepalai oleh Ibrahim An-Nakha’i. </li></ul><ul><li>Mereka berpendapat bahwa hukum-hukum syara’ itu dapat dicerna akal, mengandung mashlahat yang kembali kepada manusia, serta didasarkan pada pokok yang kokoh dan alasan penetapannya. Maka mereka mencari ‘illat dan hikmah disyari’atkannya suatu hukum, dan mereka menjadikan hikmah berkisar bersama hukum, baik ada atau tidak adanya. Adapun Sebab tersebarnya ra’yu di Irak : </li></ul><ul><li>Terpengaruh dengan cara guru-guru mereka seperti Abdullah bin Mas’ud yang mengikuti Umar dalam menggunakan ra’yu. </li></ul><ul><li>Mereka berpendapat bahwa Irak adalah kota yang beruntung dengan sahabat, dimana Kufah dan Basrah sebagai pangkalan militer Islam. Irak adalah sumber Syi’ah, tempat Khawarij dan daerah terjadinya fitnah, disana banyak tersebar hadis palsu, hingga para ulamanya mensyaratkan sangat ketat dalam menerima hadis. Hal ini menjadikan hadis yang mereka miliki untuk dijadikan rujukan sangat sedikit, maka tak ada jalan lain selain pakai ra’yu. </li></ul><ul><li>Masalah-masalah yang perlu diketahui hukumnya di Irak lebih banyak daripada di Hijaz lantaran modernnya Irak, jadi butuh ra’yu. </li></ul>
  11. 11. KEISTIMEWAAN AHLI RA’YU <ul><li>Menghasilkan banyak khasanah cabang-cabang fiqh meskipun banyak bersifat ifthiradhiyah (hipotesis) dan khayalan, serta sedikit yang waqi’i (masalah yang tengah terjadi). </li></ul><ul><li>Sedikitnya perawi hadis karena syarat-syarat yang harus dipenuhi begitu ketat. </li></ul>

×