Salam, istishna' dan murabahah

28,556 views

Published on

Published in: Economy & Finance, Business
6 Comments
4 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
28,556
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
430
Actions
Shares
0
Downloads
1,094
Comments
6
Likes
4
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Salam, istishna' dan murabahah

  1. 1. KKONSEPONSEP JJUALUAL BBELIELI SSALAMALAM,, IISTISHNASTISHNA’, DDAN MMURABAHAH PresentasiPresentasi Oleh: Marhamah SalehOleh: Marhamah Saleh
  2. 2. BAI' AL MURABAHAH • Yaitu jual beli barang pada harga asal dengan tembahan keuntungan yanng disepakati. Dalam istilah teknis perbankan syari’ah murabahah ini diartikan sebagai suatu perjanjian yang disepakati antara Bank Syariah dengan nasabah, dimana Bank menyediakan pembiayaan untuk pembelian bahan baku atau modal kerja lainnya yang dibutuhkan nasabah, yang akan dibayar kembali oleh nasabah sebesar harga jual bank = (harga beli bank + margin keuntungan) pada waktu yang ditetapkan. • Dalam bai' al murabahah, penjual harus memberitahu harga produk yang dia beli dan menentukan suatu tingkat keuntungan sebagai tambahannya. Murabahah dapat dilakukan untuk pembelian dengan sistem pemesanan. Dalam al-Umm, Imam Syafi’i menamai transaksi ini dengan istilah al-amir bi al-syira . Dalam hal ini calon pembeli atau pemesan dapan memesan kepada sesorang (sebut saja pembeli) untuk membelikan suatu barang tertentu yang diinginkannya. Kedua belah pihak membuat kesepakatan mengenai barang tersebut serta kemungkinan harga asal pembelian yang masih sanggup ditanggung pemesan. Setelah itu, kedua belah pihak juga harus menyepakati seberapa keuntungan atau tambahan yang harus dibayar pemesan. Jual beli kedua belah pihak dilakukan setelah barang tersebut berada di tangan pemesan
  3. 3. Murabahah vs Kredit • Bila dilihat sekilas, terdapat persamaan jual beli murabahah dengan kredit konsumtif. Persamaannya antara lain, pembiayaan yang diberikan adalah barang (motor, mobil, dll.)/bukan uang, dan pembayarannya secara cicilan. Namun, jika diperhatikan lebih dalam sesuai dengan fatwa DSN MUI, karakteristiknya berbeda. Terdapat beberapa perbedaan utama antara jual beli murabahah dengan pembiayaan konsumen. Perbedaan pertama, harga jual pembiayaan konsumen biasanya memakai tingkat bunga yang tergantung situasi pasar, sedangkan margin/tingkat keuntungan murabahah (bila sudah terjadi ijab kabul) bersifat tetap, sehingga harga jual tidak boleh berubah. Jadi, sejak awal perjanjian sampai dengan masa pelunasan, bank syariah tidak diperbolehkankan mengubah harga yang telah diperjanjikan/ diakadkan. Pada lembaga keuangan konvensional, dimungkinkan membuat sebuah klausul untuk meningkatkan bunga seperti karena akibat ketergantungan pada situasi pasar, krisis BBM, dan krisis nilai tukar. Keunggulan dari sebuah produk jual beli murabahah adalah memberikan kepastian dan kenyamanan kepada nasabah terhadap angsuran pembiayaan.
  4. 4. Murabahah vs Kredit • Perbedaan kedua, akad murabahah adalah akad jual beli, sehingga diwajibkan adanya suatu barang yang diperjualbelikan. Barang yang diperjualbelikan tersebut berupa harta yang jelas harganya, seperti mobil atau motor. Sedangkan akad pembiayaan konsumen adalah akad pinjam meminjam. Dalam hal ini belum tentu ada barangnya. Pada pembiayaan konsumen, nasabah diberi uang yang akan dipergunakan untuk membeli barang yang dibutuhkan. Dalam praktiknya, sering kali terjadi penyalahgunaan pemakaian. Perbedaan ketiga, dalam hal utang nasabah. Dalam jual beli murabahah, utang nasabah adalah sebesar harga jual. Harga jual adalah harga perolehan/pembelian barang ditambah keuntungan yang disepakati. Apabila nasabah mengangsur utangnya, utang nasabah itu akan berkurang sebesar pembayaran angsuran yang dilakukan, jadi tidak membedakan lagi unsur pokok dan keuntungan. Sedangkan pada pembiayaan konsumen, utang nasabah adalah sebesar pokok kredit ditambah dengan bunga. Bila dibayar secara angsuran, utang nasabah akan berkurang sebesar pembayaran angsuran pokok kredit dan pembayaran bunga. Jadi, dalam pembiayaan konsumen dikenal adanya utang pokok dan hutang bunga.
  5. 5. Kajian Teori Fiqh TentangTentang SalamSalam DEFINISI DASAR Secara etimologi, salam = isti’jal atau minta di segerakan. Salam secara terminologi: Menjual sesuatu yang tertangguh dgn pembayaran segera. Salam = Salaf = alMahawi’ij = Mafalis = Indent RUKUN SYARAT • Quran Surat Al- Baqarah: 282 • Hadits riwayat Ibnu ‘Abbas: ‫في‬ ‫فليسلف‬ ‫أسلف‬ ‫من‬ ‫وزن‬ ‫و‬ ‫معلوم‬ ‫كيل‬ ‫معلوم‬ ‫أجل‬ ‫الى‬ ‫معلوم‬ • ijma’ ulama, karena kebutuhan manusia terhadap praktik salam. •‘Aqid atau orang yang berakad, yaitu Muslam dan Muslam ilaih. •Ma’qud ‘alaih atau objek akad, yaitu harga/modal dan barang (muslam fihi). •Sighat berupa ijab dan qabul. •Dapat diketahui jenisnya, sifatnya, kadar jumlahnya, nilai harganya, tempat dan tempo penyerahannya. •Salam dibolehkan pada barang yang dapat ditimbang, ditakar, ditanam dan dapat dihitung 55
  6. 6. Kajian Teori Fiqh Tentang IstishnaIstishna’’ DEFINISIDEFINISI DASARDASAR Secara etimologi, istishna’ berarti permintaan mem- buatkan sesuatu. Secara terminologi Akad yg dilakukan oleh mustashni’ dan shani’ untuk membuat kerja tertentu yang jadi tanggungan shani’ RUKUNRUKUN SYARATSYARAT •Al-Quran Surat Al-Kahfi: 92-97 •Hadits riwayat Nafi’ bahwa: ‫اصطنع‬ . ‫.م‬ ‫ص‬ ‫النبي‬ ‫ان‬ ‫الخ‬ ‫ذهب‬ ‫من‬ ‫...خاتما‬ •Ijma’ ulama, karena kebutuhan manusia terhadap praktik istishna’ •Dalil istihsan •‘Aqid atau orang yang berakad, yaitu Shani’ dan Mustashni’ yang telah baligh dan mumayyiz. •Ma’qud ‘alaih atau objek akad berupa mashnu’ dan tsaman. •Sighat ijab qabul •Syarat Mashnu’: Menjelaskan jenis, bentuk,kadar,sifat, kualitas, kuantitas •Syarat Tsaman: Diketahui semua pihak, bisa dibayar saat akad, dicicil / tangguh. Harga tidak berubah kecuali disepakati 55
  7. 7. Aplikasi Salam Paralel di BMI Produk Salam mulai dikelola BMI tahun 1997. BMI ikut program pemerintah untuk memberikan dana KUT. BMI bekerja sama dengan Departemen Koperasi. Prosesnya: Depkop menyerahkan dana ke BMI, lalu BMI menyalurkan dana tersebut kepada koperasi yang ada, selanjutnya koperasi menyalurkan kepada petani. Setelah panen, hasil tani langsung diserahkan kepada Depkop. Sebelumnya, petani mengajukan pembiayaan KUT melalui koperasi. Lalu koperasi mengajukan permohonan pembiayaan ke BMI. Setelah uji kelayakan usaha, BMI menyalurkan dana tersebut dengan skema salam. Mekanisme bagi hasil: Berhubung KUT program pemerintah, maka salam paralel dari bank kepada petani melalui koperasi, hasil jual belinya dibagi untuk koperasi, BMI dan pemerintah. Misalnya keuntungan 16% dari modal, maka keuntungan dibagi dengan komposisi 9% untuk koperasi, 4% untuk BMI dan 3% untuk pemerintah. BANK (Muslam ilaih dan Muslim) 1b. Negosiasi & Akad PEMBELI (Nasabah 2) (Muslim) 1a. Negosiasi & Akad Salam 2a. Bayar kewajiban 2b. Bayar 3b. Kirim Dokumen PETANI (Nasabah 1) (Muslam ilaih) BARANG PESANAN (Muslam Fihi) 3a. Kirim Barang dan Dokumen 88
  8. 8. Skema Salam dan Murabahah BANK (Penjual/Bâi’ dan Muslim) 1b. Negosiasi & Akad PEMBELI (Nasabah 2) (Musytari) 1a. Negosiasi & Akad Salam 4. Bayar kewajiban 2. Bayar 3b. Kirim Dokumen PETANI (Nasabah 1) (Muslam ilaih) BARANG PESANAN (Muslam Fihi) 3a. Kirim Barang dan Dokumen Teknis Perbankan: Bank membeli secara salam. Bank menjual secara murababah. 1a. Negosiasi & akad salam antara Bank & Petani. 1b. Negosiasi & akad murabahah antara bank dan Pembeli. 2. Bank melakukan pembayaran ke petani. 3a. Petani kirim barang & dokumen kepada pembeli. 3b. Petani juga kirim dokumen kepada bank. 4. Pembeli membayar kewajibannya kepada bank.
  9. 9. Aplikasi Istishna’ Paralel Istishna’ merupakan fasilitas penyaluran dana untuk pengadaan objek atau barang investasi yang diberikan berdasarkan pesanan nasabah. Pembiayaan ini memerlukan proses produksi/ pembangunan/renovasi. Pihak produsen/pemasok/kontraktor bisa ditunjuk oleh bank atau nasabah sendiri. Bank menjual barang yang dipesan nasabah sebesar harga pokok plus margin keuntungan. Penyerahan barang kepada nasabah dilakukan setelah barang selesai atau sesudah melewati masa proses produksi/pembangunan/ renovasi. Setelah memenuhi prosedur, persyaratan seperti uang muka dan kelayakan mengenai kemampuan angsuran dan lainnya, nasabah sebagai pembeli dapat memanfaatkan fasilitas angsuran untuk jangka waktu tertentu. Keunggulan: Jumlah angsuran tetap tidak berubah, walaupun terjadi fluktuatif suku bunga. Kewajiban angsuran dapat dilakukan setelah masa proses produksi. BANK (Shani’ & Mustashni’) 2a. Akad istishna’ I PEMESAN (Nasabah) (Mustashni’) 2b. Akad istishna’ II 1a. Pesan barang sesuai kriteria 1b. Minta membuatkan barang 4. Membuat Barang PEMASOK (Shani’) BARANG PESANAN (Mashnu’) 5b. Kirim Dokumen 5a. Kirim Mashnu’ yang telah selesai dibuat 3a. Bayar 3b. Bayar 88
  10. 10. Skema Istishna’ dan Ijarah Teknis Perbankan: Bank membeli secara istishna’. Bank menyewakan secara ijarah. 1a. Nasabah penyewa memesan barang kepada bank. 1b. Bank minta dibuatkan barang kepada pemasok (shani’). 2a. Akad ijarah antara nasabah penyewa dengan bank. 2b. Akad istishna’ antara bank dengan pemasok (shani’). 3. Bank melakukan pembayaran kepada pemasok (shani’). 4. Pemasok membuat barang pesanan. 5a. Pemasok mengirim barang kepada nasabah penyewa. 5b. Pemasok mengirim dokumen ke bank. 6. Nasabah penyewa membayar sewa ke bank. BANK (Mu`ajjir & Mustashni’) 2a. Akad Ijarah PEMESAN (Nasabah) (Musta`jir) 2b. Akad istishna’ 1a. Pesan barang untuk disewa 1b. Minta membuatkan barang 4. Membuat Barang PEMASOK (Shani’) BARANG PESANAN (Mashnu’) 5b. Kirim Dokumen 5a. Kirim Mashnu’ yang telah selesai dibuat 6. Bayar sewa 3. Bayar
  11. 11. Tentang Salam & Istishna’ Paralel Penerapan konsep salam paralel dan istishna’ paralel merupakan pengembangan hukum fiqh dari konsep dasar salam dan istishna’ yang telah dikenal dalam khazanah fiqh. Hal ini sesuai pula dengan keputusan Fatwa Dewan Syariah Nasional No. 05/DSN-MUI/IV/2000 tentang jual beli salam dan No. 22/DSN-MUI/III/2002 tentang jual beli istishna’ paralel, dan mensyaratkan Lembaga Keuangan Syariah selaku mustashni’ tidak diperkenankan memungut MDC (Margin During Construction) dari nasabah (shani’). Salam Paralel dan istishna’ paralel dibolehkan dengan syarat pelaksanaan akad kedua tidak tergantung pelaksanaan akad yang pertama, dan akad kedua dilakukan setelah akad pertama sah. Istishna’ hampir menyerupai salam, karena termasuk bai’ al-ma’dum. Tetapi istishna’ berbeda dengan salam dalam hal kejelasan jangka waktu pembuatan dan penyerahan barang, serta barang yang dibuat tidaklah pasaran, juga tidak wajib mempercepat pembayaran. Pada salam, harga dibayar saat kontrak jual beli berlangsung. Sedangkan istishna’ harga dibayar boleh saat terjadinya kontrak, bisa diangsur, bisa di kemudian hari. 99

×