Successfully reported this slideshow.
Your SlideShare is downloading. ×

20220710, Menjadi Terang bg Bangsa2 (Yes. 42ay6, 49ay1-7).pptx

Ad
Ad
Ad
Ad
Ad
Ad
Ad
Ad
Ad
Ad
Ad
Loading in …3
×

Check these out next

1 of 9 Ad

More Related Content

Recently uploaded (20)

Advertisement

20220710, Menjadi Terang bg Bangsa2 (Yes. 42ay6, 49ay1-7).pptx

  1. 1. (Yes. 42:6; 49:1-7) Ev. Lukman (丘集銘 傳道) KU GKIm Anugerah, 10 Juli 2022
  2. 2. TUHAN Allah memanggil kita untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa
  3. 3. 1. Jadilah hamba-Nya yang benar (Yes. 42 bdk. 41:8-20)
  4. 4. 2. Jadilah teladan bagi bangsa-bangsa (Yes. 42:6; 49:6)
  5. 5. 3. Di tengah-tengah keterpurukan hidup, ingatlah akan Tuhan (bdk. Yes 42:3-4)
  6. 6. 4. Beritakanlah keselamatan dari-Nya sampai ke ujung bumi (Yes. 49:6-7)

Editor's Notes

  • Pada pertengahan dekade 1960-an, dua orang berpartisipasi dalam penelitian tentang dampak kegelapan pada jiwa manusia. Mereka memasuki gua yang terpisah, sementara para peneliti mengamati kebiasaan makan dan tidur mereka. Yang satu bertahan dalam kegelapan total selama 88 hari, sementara yang lainnya bertahan selama 126 hari. Keduanya tidak mengira akan dapat bertahan dalam kegelapan sepanjang itu. Salah seorang dari mereka merasa hanya tidur sebentar, tetapi mendapati bahwa sebenarnya ia tidur terus selama 30 jam. Kegelapan memang membuat bingung.

    Umat Allah merasakan gelapnya menantikan pembuangan yang akan datang. Mereka terus menunggu tanpa mengetahui apa yang akan terjadi. Nabi Yesaya menggunakan kegelapan sebagai kiasan untuk menggambarkan kebingungan mereka dan sebagai cara untuk berbicara tentang penghakiman Allah (Yes. 8:22). Dahulu orang Mesir pernah ditimpa tulah kegelapan (Kel. 10:21-29). Sekarang giliran Israel yang berada dalam kegelapan.
  • Pertama, undangan menjadi terang ini sekaligus mengkritik kecenderungan Israel yang sekadarnya menjadi hamba Allah (bdk. Yes. 49:3 dengan ay. 4a). Menjadi hamba sangatlah nyaman dan menyenangkan. Tanpa risiko. Tanpa perlu keluar dari zona nyaman.

    SIKAP YG HARUS KITA MILIKI: Mengambil risiko di luar kenyamanan.
  • Yesaya 42:6 menegaskan panggilan Allah bagi Israel, yang tentu juga berlaku bagi gereja, “Aku telah membentuk engkau dan memberi engkau menjadi perjanjian bagi umat manusia, menjadi terang untuk bangsa-bangsa.” Undangan untuk menjadi terang ini paralel dengan Yesaya 49:6, “Terlalu sedikit bagimu hanya untuk menjadi hamba-Ku … Tetapi Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi.”

    Poin kedua, undangan menjadi terang bagi bangsa-bangsa tidak memberi privilege khusus bagi Israel, seolah-olah hanya melalui Israellah terang ilahi itu diterima oleh bangsa-bangsa. Allah memakai Israel sebagai pembawa terang, sama seperti Ia dengan keleluasaan ilahi-Nya dapat memakai bangsa lain untuk membawa terang juga.

    SIKAP YG HARUS KITA MILIKI: Kerendahhatian bukan sebagai yang terpenting.
  • Ketiga, undangan ini diberikan kepada Israel yang tengah terpuruk kehidupannya. Mereka bagaikan “buluh yang patah terkulai” dan “sumbu yang pudar nyalanya” (42:3). Kita tetap dapat menjadi terang dalam kondisi yang tak ideal.

    SIKAP YG HARUS KITA MILIKI: Tetap menjadi teladan meski dalam keterpurukan hidup.
  • Keempat, kita harus memahami bahwa terang itu bukanlah milik kita. Allahlah Sang Terang sejati. Karena itulah nabi Yesaya menubuatkan kehadiran Sang Terang di dalam Yesus Kristus, di dalam Yesaya 9:2, “Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar.”
    Kristuslah yang akan menggenapi nubuatan nabi Yesaya ini (Luk. 2:32; Kis. 26:23). Kita perlu meneladani keberanian Paulus dan Barnabas ketika ditolak oleh orang banyak di Antiokhia di Pisidia dengan berkata kepada orang banyak itu sebagaimana tercatat dalam Kisah 13:47. . . . .

    SIKAP YG HARUS KITA MILIKI: Bersaksilah bagi Kristus Sang Terang Sejati.
  • Doof indie atau tuli gaya Hindia merupakan sikap kaum pribumi yang banyak dikritik oleh para menir Belanda pada zaman penjajahan dulu. Kaum pribumi yang bekerja sebagai pembantu para menir itu sering berpura-pura tidak mendengar perintah tuannya. Kalau dimarahi, mereka berkilah, "Maaf saya tidak dengar, Tuan." Namun, apabila tuannya adalah Tuhan semesta alam, ceritanya bisa lain.

    Yesaya 42 berisi teguran Tuhan kepada umat-Nya. Awalnya, Israel punya julukan hebat: hamba Tuhan. Namun, sang nabi menyindirnya sebagai hamba Tuhan yang buta dan tuli. Bahkan satu-satunya bangsa yang buta dan tuli: "Siapakah yang buta selain dari hamba-Ku, dan yang tuli seperti utusan yang Kusuruh?" (ayat 19). Bermata, tetapi tidak melihat. Bertelinga, tetapi tidak mendengar. Intinya, nabi menohok dengan mengatakan si hamba Tuhan ini berindra, namun indranya tak berfungsi. Mendengar itu bukan sekadar untuk menangkap bunyi yang datang, melainkan juga untuk menyimak dan memahami. Begitu juga terhadap perintah Tuhan (ayat 23). Bila sungguh-sungguh mendengarkan, kita akan tahu maksud Tuhan; baik dalam peristiwa-peristiwa yang sudah berlalu, maupun peristiwa yang sekarang. Dan menjadikan itu sebagai modal untuk mengantisipasi apa yang akan datang.

    Dunia ini begitu bising dengan suara, teori, pendapat, serta gagasan kita sendiri tentang banyak hal. Mungkin itu sebabnya kita sedikit mendengarkan suara Tuhan. Kini, sediakan diri untuk berdiam, mendengarkan, dan melihat realitas hidup. Lalu bersiaplah untuk mendengarkan dengan telinga yang peka menangkap suara dan kehendak-Nya.
    TELINGA YANG MENDENGAR MEMIMPIN LANGKAH KE ARAH YANG BENAR.
  • Marilah kita membuka hati kita kepada-Nya dan memperkenankan Roh Kudus-Nya untuk menghibur dan memperkuat kita. Dalam setiap situasi, Allah selalu beserta kita, menggendong kita agar mempercayai-Nya. Marilah kita membuat hati kita siap menerima janji-janji-Nya untuk membuat kita menjadi “terang yang mencerminkan kemuliaan-Nya kepada seluruh dunia”.

×