Edisi: 006/Oktober 2007




PERJALANAN Program Integratif Pemulihan Pasca gempa                                      Masih...
Dapur Info




     KEGIATAN LP3Y
     DI BULAN OKTOBER



Diskusi Film “Mungkin Aku Belum Mengerti”                      ...
Dapur Info

     Materi workshop terdiri                                                                  Pelatihan AGKR U...
Analisis Info




     Berita Pemotongan Dana Rekonstruksi:
     ADA KETERBATASAN MEDIA?

PERNYATAAN editor buku Kisah Kis...
Analisis Info

dana rekonstruksi. Hingga September 2007, kasus pemotongan            saja yang melakukan pemotongan? Berda...
Sumber Info




     PEREMPUAN DALAM ADAT BADUY*
     Luviana**


Perempuan Baduy                                         ...
Sumber Info

Namun tidak seperti 10 tahun lalu, saat ini para suku baduy dalam       tidak diperbolehkan ikut. Karena di s...
Spesial Info




      SOAL VALIDITAS DATA PADA
      KASUS TIME VS SOEHARTO
BERITA tentang kekalahan majalah Time Asia ya...
Spesial Info

mencari “perlindungan” lebih aman. Kementerian keuangan                informasi, penelaahan terhadap dokume...
Info buku




     “KEKUATAN” PEREMPUAN
     MENGHADAPI BENCANA
BUKU ini berawal dari lokakarya penulisan                 ...
Info buku




     DAMPAK PEMBAKUAN
     PERAN GENDER TERHADAP PEREMPUAN
APA yang terjadi di kalangan perempuan kelas     ...
Profil




     “MODAL USAHA BAGI PEREMPUAN USAHA
     KECIL (PUK), BUKAN SEGALANYA....”

“...rasanya saat itu, dunia seak...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

News Edisi Okt Final

989 views

Published on

Published in: Business, Technology
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
989
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
4
Actions
Shares
0
Downloads
18
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

News Edisi Okt Final

  1. 1. Edisi: 006/Oktober 2007 PERJALANAN Program Integratif Pemulihan Pasca gempa Masih banyak lagi kegiatan-kegitan yang dilakukan di 5 Dusun (Kadisoro, Kedungpring, Klisat, Warungpring dan anggota JFF yang berjumlah 12 LSM untuk membangun Joho) di wilayah Bantul sudah berjalan kurang lebih 6 bulan. masyarakat setempat. Selain juga program perumahan (hous- Banyak kegiatan yang telah dilakukan LSM Jejaring Ford Founda- ing), sinau anggaran, penyusunan housing code dan sebagainya. tion (JFF) dalam melangsungkan kegiatan programnya masing-masing. Berkaitan dengan itu, persiapan para LSM Jejaring ini dalam Sebut saja kegiatan menyambut tamu dari Ford yang dilakukan CHPSC (Cen- Foundation New York dan ter of Health Policy and Social Representatif Asia (Rusia, Cina, Change) atau Pusat Studi Indonesia, India, Vietnam), Kebijakan Kesehatan dan mereka mengadakan pertemuan Sosial, yang telah melakukan untuk persiapan tersebut. sejumlah workshop di beberapa Masing-masing LSM akan Sekolah Dasar tentang program memberikan atau penanganan Demam berdarah memperkenalkan program yang Dengue (DBD). telah mereka jalankan selama ini. Ataupun yang dilakukan Acara ini rencananya ASPPUK (Asosiasi akan diselenggarakan di Pendamping Perempuan Usaha Kampung Joho, Jambidan, foto by hafid Kecil), memberikan bantuan Banguntapan, Bantul. bagi perempuan yang punya Mengingat padatnya acara usaha kecil ataupun perempuan tamu tersebut, sehingga yang berniat memiliki usaha. Salah satu persiapan di stand ASPPUK untuk menyambut tamu Ford Foundation New York pengaturan waktu untuk dan Representatif Asia (Rusia, Cina, Indonesia, India, Vietnam). Bantuan yang diberikan presentasi, kunjungan ke ASPPUK dapat berupa peralatan seperti sepeda sebagai alat rumah-rumah warga dusun Joho yang mendapatkan manfaat atau transportasi bagi mereka yang membutuhkan, kompor dan wajan bantuan atas program ini pun perlu diperhitungkan waktunya. bagi pembuat emping melinjo, meja ataupun lemari yang berguna Semua itu dilakukan dengan harapan akhir November untuk usaha dagang dan masih banyak lagi bantuan lainnya. mendatang, tamu-tamu tersebut dapat mendapatkan sesuatu, Bantuan memang tidak seragam, tapi diberikan berdasarkan paling tidak “sesuatu” yang berharga agar bisa bermanfaat. Atau kebutuhan masing-masing para perempuan untuk menjalankan dengan kata lain program integrative ini bisa menjadi model kegiatan ekonominya. Karena para perempuan tersebut berperan dalam penanganan pemulihan pasca bencana di mana saja. penting dalam menjalankan ekonomi keluarga. Dalam kaitan penangan pasca bencana tentu media Selain itu masih ada juga Cemeti dengan pemberdayaan idealnya juga punya peran penting membantu. Untuk itu pada di sektor kesenian. Sebagaimana pasca gempa ini, banya pelaku Oktober ini, rubrik analisis info mengupas tentang bagaimana kesenian masih enggan membangun kembali kesenian di media menyajikan berita tentang pemotongan dana rekonstruksi. daerahnya akibat trauma gempa dan peralatan kesenian yang Selain itu rubrik Spesial Info, masih tentang pemberitaan rusak. Dalam program ini Cemeti hadir sebagai fasilitator untuk media, kali ini menganalisis tentang validitas data pada kasus membangkitkan kesenian yang dulu pernah ada. Dengan majalah Time VS Soeharto. mengadakan beragam workshop dan kegiatan atau pertunjukan Masih banyak lagi sajian laporan menarik lainnya. Untuk kesenian dengan tujuan menumbuhkan semangat berkesenian lebih lengkapnya silakan simak laporan-laporan tersebut. agar tetap lestari dan tidak hilang. Selamat membaca. Edisi: 006/Oktober 2007 | 1
  2. 2. Dapur Info KEGIATAN LP3Y DI BULAN OKTOBER Diskusi Film “Mungkin Aku Belum Mengerti” Ada beberapa catatan dalam film ini menurut Ading, PADA 4 Oktober lalu pukul 15.30, tepatnya di perpustakaan panggilan Masduki biasa disapa, pertama, akting Fauzi Badila LP3Y diselenggarakan diskusi film yang berjudul Mungkin Aku sebagai tokoh kurang tergali. Karakter sebagai cowok anteng Belum Mengerti. dapi romantis kurang tergali tentang dia. Film ini bercerita tentang seorang pemuda yang semula tidak Kedua, setting asmara dalam film ini cukup mampu tahu apa-apa tentang mengikat emosi penonton foto by hafid informasi HIV/AIDS, utnuk mengikuti hingga mempunyai calon pacar akhir cerita, tetapi mengapa yang terpapar HIV, harus di-close adegan menghadapi pengalaman- berpelukan? pengalaman buruk seperti Catatan atau kritikan melihat dan ikut berperan ketiga yakni, penggambaran rekan kerjanya dikeluarkan antara mall yang megah, karena diketahui terinfeksi rumah dan kota yang lebih HIV, melihat perilaku menerima ODHA kontras anarkis warga yang mengusir dengan suasana desa/pojok ODHA (Orang dengan HIV) kota yang warganya dari tempat tinggalnya. “marah” diskriminatif. Selain itu, film ini Apakah ini mengandung sebenarnya punya tujuan bias bahwa “orang kota” yang di antaranya memberi lebih punya awareness? informasi kepada penonton Catatan ketiga tersebut tentang informasi HIV/ hampir sama “nafasnya” Para siswa SMU ketika diberikan materi gender AIDS yang tepat agar tidak dan kesehatan reproduksi dengan pernyataan salah terjadi stigma dan satu peserta diskusi Udin diskriminasi terhadap ODHA. Selain informasi dasar tentang dari IDEA yang mengkritik bahwa film ini hanya diperuntukkan cara penularan HIV, dalam film itu juga diberikan informasi bagi mereka yang berpendidikan tinggi, padahal kenyataannya bahwa ODHA bisa hamil memiliki anak tanpa tertular HIV. banyak ODHA yang juga berpendidikan rendah. Pembahas film ini adalah Masduki, M.SI, dosen Sebagai masukan dari Rani PKBI DIY, film ini akan lebih Komunikasi Universitas Indonesia dan juga pengamat film tepat jika diputar di kalangan anak muda atau mahasiswa. (*) mengatakan bahwa ada beberapa pesan yang ingin disampaikan dari film ini antara lain: pertama, problem HIV tidak terletak Workshop Radio Komunitas pada ODHA tetapi terletak pada sikap lingkungan dan orang Workshop radio komunitas diselenggarakan pada 25-26 terdekat mereka. Oktober lalu. Workshop yang diikuti oleh para pemuda dari Kedua, diskriminasi terhadap ODHA bisa dicegah oleh lima dusun yakni Warungpring, Kedungpring, Klisat, Kadisoro, pemahaman yang lengkap terhadap penyebab inveksi virus itu dan Joho tersebut berlangsung dengan sejumlah materi tentang sendiri, dan ketiga, sikap terbuka ODHA akan membantu program radio komunitas (rakom). bagaimana ia diterima oleh publik. 2 | Edisi: 006/Oktober 2007
  3. 3. Dapur Info Materi workshop terdiri Pelatihan AGKR Untuk Pemuda dari apa itu radio komunitas, Pengelola Majalah Dinding regulasi rakom, cara Ada sekitar 18 pemuda membuat program rakom pengelola mading dusun yang ikut sampai akhirnya peserta pelatihan/workshop ini. Workshop diajak untuk simulasi atau ini berlangsung akhir Oktober lalu, praktek siaran di studo mini tepatnya tanggal 28 dengan peserta milik LP3Y. campuran, dalam arti ada peserta Ketika praktek yang dahulu pernah ikut pelatihan membuat proposal rencana sebelumnya. Namun peserta baru ini pendirian rakom, suasana hanya satu atau dua orang dan tidak pendopo menjadi hangat mendominasi. karena banyak argumentasi Workshop ketiga kali ini mulai foto by hafid peserta membuat nama beranjak dengan fokus pembahasan rakom misalnya dengan gender. Sebelumnya peserta telah nama yang unik. Berikut ini dibekali pengetahuan AIDS dan Peserta rakom pada saat pengenalan alat dan berlatih menjadi daftar pertanyaan perumusan penyiar di studio mini LP3Y Kesehatan reproduksi serta materi atau proposal rencana perencanaan yang bertingkat. pendirian rakom: Maksudnya, sebelumnya 1. Uraikan tiga atau lima peserta telah dibekali materi alasan mengama perlu penulisan, berlatih membuat radio bagi warga mading dan pada workshop ini difokuskan menulis isu AGKR. setempat Peserta begitu antusias 2. Uraikan apa saja cara- berlatih menulis. Meski hujan cara memperoleh turun tidak henti-hentinya dari d u k u n g a n pagi hingga sore, peserta masih tandatangan warga menunjukkan semangatnya 3. uraikan apa saja dengan aktif bertanya serta bentuk-bentuk foto by hafid berdiskusi dengan fasilitator dukungan keuangan untuk mengatasi hawa dingin. dan peralatan siaran Maklumlah selain karena cuaca, yang bisa diperoleh letak LP3Y lumayan dekat dari warga dengan dataran tinggi 4. uraikan siapa saja Kaliurang. Peserta rakom dalam sebuah diskusi kelompok di pendopo. calon penegelola ra- Output dari pelatihan AGKR untu pemuda kali ini dio yang bisa selain penekanan pada satu isu juga menguatkan pemahaman dilibatkan subsatnsi akan isu AIDS, gender dan kesehatan reproduksi 5. uraikan rencana lokasi, nama radio dan jam siaran yang (AGKR). Selain menulis sebagai salah satu bahan mading, dilakukan per hari tujuan berlatih menulis juga untuk mengasah kemampuan 6. uraikan lima bentuk program siaran yang akan dibuat peserta dalam menulis isu AGKR khususnya.(*) disertai alasan mengapa program itu perlu Edisi: 006/Oktober 2007 | 3
  4. 4. Analisis Info Berita Pemotongan Dana Rekonstruksi: ADA KETERBATASAN MEDIA? PERNYATAAN editor buku Kisah Kisruh di Tanah Gempa, Ada tiga persoalan seputar dana rekonstruksi yang sering Catatan Penanganan Bencana Gempa Bumi Jogja – Jateng diberitakan suratkabar. Pertama, masalah akurasi data jumlah 27 Mei 2006 AB Widiyanta, sebagaimana diberitakan rumah penduduk yang layak mendapat dana rekonstruksi. suratkabar, menarik disimak. Dikatakan, media memiliki Kedua, pemotongan dana rekonstruksi. Ketiga, pokmas keterbatasan untuk mem-blow up persoalan yang ada dalam (kelompok masyarakat penerima dana rekonstruksi yang pembagian dana rekonstruksi yang sarat penyimpangan didampingi fasilitator) dan kinerjanya. (Kedaulatan Rakyat, 27 Agustus 2007). Apabila kemunculan berita persoalan dana rekonstruksi Pernyataan tersebut menarik perhatian, walau pernyataan dicermati, ditemukan kecenderungan bahwa persoalan tersebut itu tidak disertai penjelasan mengapa media dikatakan memiliki disikapi oleh jurnalis sebagai peristiwa momentum biasa. keterbatasan mem-blow up persoalan dana rekonstruksi. Juga Kecenderungan tersebut menyebabkan kasus yang timbul tidak disertai keterangan rinci apa saja yang dimaksud sebagai berkaitan dengan dana rekonstruksi hanya diberitakan sebagai keterbatasan media. Namun secara tersirat, pernyataan tersebut masalah yang terjadi di suatu tempat, menyangkut pihak-pihak bisa dimaknai sebagai ungkapan terhadap pemberitaan media setempat, dan terjadi saat tertentu. atas persoalan yang dimaksudkan, Karena itu, berita tentang persoalan dana rekonstruksi Blow up adalah istilah yang biasa dipakai para jurnalis untuk suatu saat bisa muncul, bisa pula sama sekali tidak ada berita menggambarkan upaya memberitakan suatu persoalan agar menjadi bertopik sama selama beberapa minggu, kemudian muncul lagi. perhatian publik. Pada suratkabar sebagai misal, suatu persoalan Sebagai ilustrasi, masalah akurasi data jumlah keluarga bisa saja diberitakan selama beberapa hari berturut-turut dan dimuat korban gempa yang layak mendapat dana rekonstruksi banyak pada halaman pertama. Bahkan sering dilanjutkan dengan laporan diberitakan sekitar bulan Agustus 2006, dipicu oleh protes mendalam yang dimuat berseri pada hari-hari sesudahnya. sejumlah warga yang merasa diperlakukan tidak adil karena Pemberitaan gencar tentang suatu masalah sampai tidak tercantum sebagai penerima dana rekonstruksi. Padahal, berulangkali di satu sisi merupakan isyarat bagi pembaca bahwa ada warga lain yang kondisi rumahnya lebih baik, malah persoalan yang diberitakan penting diperhatikan. Di sisi lain, tercantum sebagai penerima dana rekonstruksi. hal itu sekaligus menunjukkan ada kepedulian kuat di dalam Sedang pemotongan dana rekonstruksi sebenarnya sudah diri jurnalis atas persoalan tersebut. Kepedulian kuat itulah yang muncul dalam berita bulan Oktober 2006, setelah dana mendorong jurnalis berinisiatif meliput dan menulis berita rekonstruksi tahap I diturunkan (lihat misalnya Kompas, 17-10- tentang persoalan yang sama berkali-kali. 2006). Sesudah itu, berita tentang pemotongan dana rekonstruksi Maka, ketika muncul pernyataan sebagai ungkapan muncul sesekali, dengan selang waktu cukup lama. Itu pun tanpa ketidakpuasan terhadap pemberitaan media atas persoalan dana diikuti berita lanjutan tentang nasib persoalan tersebut. rekonstruksi, muncul pertanyaan: Bagaimana media massa Sebagai contoh, antara bulan Januari hingga April, berita memberitakan hal tersebut? pemotongan dana rekonstruksi tiga kali diberitakan Kedaulatan Rakyat(9-1-200, 28-2-2007, dan 28-3-2007). Memang berita Kasus Lepas itu kemudian diikuti berita lanjutan (follow-up news) baik yang Berdasarkan pengamatan terhadap tiga suratkabar berisi janji aparat penegak hukum akan mengusut kasus tersebut, (Kompas, Suara Merdeka, dan Kedaulatan Rakyat), persoalan maupun sanggahan bahwa tidak ada pemotongan dana dana rekonstruksi sesungguhnya tidaklah luput dari pemberitaan rekonstruksi. Namun setelah itu, tidak juga muncul berita yang suratkabar. Sejak awal, masalah dana rekonstruksi untuk mengungkap bagaimana kasus tersebut ditangani. pembangunan atau perbaikan rumah penduduk yang rusak Sejak Mei 2007, suratkabar semakin gencar memberitakan akibat gempa telah menjadi sorotan ketiga suratkabar tersebut. masalah pemotongan dana rekonstruksi, menyusul penahanan salah satu Kepala Dusun sebagai tersangka dugaan penyunatan 4 | Edisi: 006/Oktober 2007
  5. 5. Analisis Info dana rekonstruksi. Hingga September 2007, kasus pemotongan saja yang melakukan pemotongan? Berdasarkan alasan apa serta dana rekonstruksi di berbagai tempat banyak diberitakan bagaimana pemotongan dilakukan? Berapa besar pemotongan suratkabar, baik berdasarkan informasi yang dihimpun sendiri dari jumlah yang seharusnya diterima warga? oleh jurnalis dari lapangan, atau mengutip pengakuan korban Jawaban atas pertanyaan itulah yang bisa menggambarkan pemotongan yang dilontarkan pada suatu diskusi, maupun seberapa signifikan sesungguhnya pemotongan dana rekonstruksi setelah sejumlah warga korban gempa berunjuk rasa. itu. Sebagai misal, laporan suratkabar akan jauh lebih menggugah Meski demikian, kasus pemotongan dana rekonstruksi kesadaran pembaca dengan menyajikan fakta bahwa telah terjadi tetap diberitakan sebagai kasus lepas. Dan tidak tuntas. pemotongan dana rekonstruksi untuk sekian persen dari 47.468 unit rumah rusak berat, disertai keterangan jumlah rupiah yang Lemah Investigasi dipotong, serta di mana saja pemotongan itu terjadi. Ketika pernyataan AB Widiyanta diberitakan, suratkabar Tidak mudah bagi jurnalis untuk memperoleh jawaban atas sebetulnya sedang gencar memberitakan berbagai kasus pemotongan semua pertanyaan tersebut. Belum tentu warga yang mengalami dana rekonstruksi. Toh pernyataan itu tetap dilontarkan. pemotongan dana rekonstruksi bersedia membuka mulut. Sebagai ungkapan ketidakpuasan atas pemberitaan tentang Seperti diberitakan (lihat Kedaulatan Rakyat, 24 dan 27 Agustus pemotongan dana rekonstruksi, pernyataan itu menyiratkan 2007), ada warga yang mendapat tekanan, ancaman, atau bahkan bahwa media sebetulnya diharapkan membuat berita yang lebih kekerasan fisik. kuat gaungnya. Berita yang mampu menggugah perhatian publik, Maka, untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan itu, dan melalui mekanisme pemberitaan intensif yang tidak berhenti jurnalis harus melakukan liputan investigasi. Untuk tugas ini, di satu titik, melainkan berkelanjutan agar semua masalah jurnalis perlu mempunyai kemampuan mengungkap apa yang terungkap tuntas. Dengan pemberitaan semacam itulah yang tersembunyi dan sengaja ditutup-tutupi, memiliki kesabaran dan diharapkan menumbuhkan kesadaran publik bahwa tindakan daya tahan, serta memiliki penciuman tajam terhadap setiap pemotongan dana rekonstruksi demi alasan apapun harus kemungkinan penyimpangan. dihentikan. Pada gilirannya, kesadaran itu diharapkan mendorong Agar berhasil memperoleh fakta yang lengkap, rinci, benar, publik melakukan tekanan terhadap pihak berwenang agar segera dan akurat, bukan mustahil ia akan menghabiskan waktu mengusut kejadian tersebut. Harapan itu tidak terpenuhi. berhari-hari keluar masuk dari satu desa ke desa lain di wilayah Manakala pemotongan dana rekonstruksi diberitakan sebagai terkena gempa. Informasi sekecil apapun yang bisa menjadi kasus lepas, sedang pemuatan berita antara satu kasus dan kasus petunjuk untuk mengungkap setiap tindakan pemotongan, tidak lain terentang selang waktu cukup lama, maka intensitas perhatian diabaikan. Ia akan mewawancarai warga penerima dana pembaca terhadap kasus tersebut menjadi terputus-putus. Pembaca rekonstruksi atau siapapun yang bersedia memberi keterangan, bisa saja sudah lupa bahwa persoalan serupa pernah terjadi di suatu mencari bukti berupa data atau dokumen, menguji setiap fakta tempat dan sudah pernah diberitakan. Pembaca juga bisa cenderung yang diperoleh untuk memastikan kebenaran dan akurasinya. menyikapi suatu persoalan yang diberitakan sebagai kasus belaka. Semua itu lalu dituliskan dalam laporan hasil investigasi yang Bukan suatu persoalan yang menggejala. mengungkap tindakan pemotongan dana rekonstruksi. Akan lain halnya jika sejak awal jurnalis tetap bersikap Itu saja belum cukup. Jurnalis masih perlu membuat berita kritis dengan mengajukan pertanyaan berikut: Apakah lanjutan tentang apa yang dilakukan pihak berwenang, apakah pemotongan dana rekonstruksi di suatu tempat hanya terjadi di hak warga telah dipulihkan, apakah pelaku pemotongan telah sana? Atau pemotongan dana rekonstruksi juga mungkin dialami ditindak, dan sebagainya. Laporan-laporan sedemikian warga di tempat lain? Dengan bersikap kritis, jurnalis tidak sekaligus akan berdampak sebagai peringatan bagi siapapun serta merta memandang pemotongan dana rekonstruksi sebagai yang berniat memotong dana rekonstruksi. Dengan kata lain, persoalan yang hanya terjadi di suatu tempat. Ada kemungkinan berita berfungsi prefentif sehingga kejadian serupa tidak meluas. kejadian serupa juga menggejala di berbagai tempat. Akan tetapi, mekanisme pemberitaan seperti itu tidak dilakukan. Kemungkin itu cukup terbuka, karena menyangkut jumlah Jangankan laporan investigasi. Tidak semua kasus pemotongan dana yang cukup besar. Sebagai gambaran, untuk provinsi DI rekonstruksi tuntas diberitakan. Mengacu pada hasil pengamatan Yogyakarta, berdasarkan Peraturan Gubernur No. 23 Tahun sebagaimana dikemukakan di atas, ada kasus pemotongan dana 2006, ada 47.468 unit rumah roboh/rusak berat yang tersebar rekonstruksi yang tidak jelas lagi kabarnya, karena tidak diikuti berita di empat kabupaten dan satu kotamadya. Setiap rumah roboh/ lanjutan apakah pelaku pemotongan sudah ditindak. rusak berat mendapat bantuan dana rekonstruksi Rp 15 juta, Maka bisa dipahami mengapa muncul ketidakpuasan dibayarkan dua tahap, masing-masing Rp 6 juta dan Rp 9 juta. terhadap pemberitaan media. Ketidakpuasan melahirkan Maka, begitu muncul berita tentang pemotongan dana penilaian, seperti terkandung dalam pernyataan bahwa media rekonstruksi tahap I (Kompas, 17-10-2006, sebagaimana memiliki keterbatasan mem-blow up persoalan dana rekonstruksi. disebutkan di atas), jurnalis segera bisa mengajukan pertanyaan: Sudah tentu keterbatasan itu bukan karena faktor eksternal, Dari jumlah penerima dana rekonstruksi untuk rumah roboh/ mengingat UU Pers 1999 menjamin kebebasan pers. Tidak ada rusak berat, seberapa banyak mengalami pemotongan? pihak yang boleh mencampuri tugas pers. Keterbatasan itu berasal Pertanyaan itu sudah tentu diikuti pertanyaan-pertanyaan dari faktor internal, yaitu profesionalisme. (ron) lain seperti: Kapan dan di mana saja terjadi pemotongan? Siapa Edisi: 006/Oktober 2007 | 5
  6. 6. Sumber Info PEREMPUAN DALAM ADAT BADUY* Luviana** Perempuan Baduy barang elektronik, minuman keras dan senjata tajam. Ini merupakan DI baduy, kami bergaul, sekaligus melakukan penelitian kecil tentang ketentuan yang sudah mereka sepakati untuk tidak terlalu banyak masyarakat disana. Selain mempunyai alam yang indah, kami juga menerima unsur-unsur dunia luar. banyak belajar bagaimana cara mereka menjaga alam. Mereka selalu Pada umumnya pemukiman mereka berada di lereng-lereng mampu untuk bersetubuh bersama alam- memanfaatkan, sekaligus bukit dan lembah yang ditumbuhi pohon besar dan dengan sungai memeliharanya. Namun sayang, ada banyak persoalan yang menimpa yang ada di tengah-tengah mereka. perumahan baduy berbentuk anak-anak dan perempuan disana. panggung dengan atap yang dibuat dari daun rumbia dan papan rumah dari bambu. 1. Sejarah Baduy Suku baduy sangat dekat dengan alam. Mereka juga menolak Orang baduy adalah suatu kelompok masyarakat adat sunda perkembangan jaman. Untuk itulah, maka kemudian mereka di wilayah lebak, banten. Namun orang baduy lebih suka jika melarang siapapun untuk menggunakan alat transportasi dan disebut sebagai orang kanekes, sesuai dengan nama asal kampung barang-barang dari luar, untuk sampai pada wilayah baduy. mereka, yaitu kampung kanekes. Selain itu, warga suku baduy sudah menyepakati bahwa mereka Bahasa yang mereka gunakan bahasa sunda dialek sunda hingga hari ini membentuk pemerintahan sendiri. Mereka memang banten. Orang baduy dalam tidak mengenal budaya tulis. Sehingga mengakui keberadaan pemerintah Indonesia, namun berbagai penolakan adat-istiadat, dan kepercayaan mereka hanya tersimpan dalam tajam pada pemerintah yang berlaku di Indonesia terus mereka lontarkan. tuturan lisan saja. Kepercayaan masyarakat kanekes disebut sunda Hal ini disebabkan karena mereka tidak percaya dengan kebijakan wiwitan. Ini berakar pada arwah nenek moyang mereka (animisme). pemerintah Indonesia, seperti tidak ramahnya pemerintah pada Isi terpenting dari agama yang mereka anut adalah konsep “tanpa persoalan-persoalan yang dialami masyarakat adat (seperti hak perubahan apapun” atau “perubahan sesedikit mungkin” pembagian tanah ulayat, kerusakan tanah dan ladang, juga tidak Menurut kepercayaan yang mereka anut, orang kanekes mengaku berpihaknya pemerintah pada nasib petani). Pemerintah Indonesia juga keturunan dari batara cikal, yang merupakan salah satu dari tujuh dewa tidak kunjung memperbaiki lingkungan, salah satunya pencemaran atau batara yang diutus untuk turun ke bumi. Menurut kepercayaan udara. Hal ini juga mereka tunjukkan dengan penolakan mereka untuk mereka, adam dan keturunannya termasuk warga kanekes yang mengikuti pemilu maupun pilkada. Karena mereka meyakini, bahwa mempunyai tugas di dunia untuk menjaga harmoni. mempercayai pemerintah Indonesia, tidak akan merubah nasib mereka. 2. Perkembangan Baduy selain itu mereka juga menolak masuk sekolah. Menolak menggunakan Selanjutnya baduy dibagi dalam dua wilayah, yaitu baduy barang-barang seperti piring, sendok dan senter. dalam dan baduy luar. Wilayah baduy dalam dikelilingi oleh baduy Baduy dipimpin oleh seorang Puun (pemimpin tertinggi luar. Pemukiman orang baduy berjumlah 52 buah perkampungan, dalam adat/ presiden) yang dibantu oleh Jaro (menteri-menteri/ mereka masuk dalam wilayah desa kanekes, kecamatan leuwi kepala desa). Ada Jaro yang mengurusi kesehatan warga. Jaro inilah damar, kabupaten lebak, banten. Luas desa kurang lebih 5000 yang mengobati warga jika mereka sakit dengan menggunakan hektar. 3000 hektar diantaranya adalah hutan lindung. Hasil sen- jampi-jampi. Ada pula Jaro yang mengurus pertanian, dan jaro sus tahun 2000 menunjukkan, jumlah penduduk baduy mencapai yang mengurus adat seperti pernikahan dan kelahiran. Juga Jaro kurang lebih 8000 orang. 45 persen diantaranya adalah perempuan. yang berhubungan dengan pemerintah Indonesia. Selain pengambil Untuk mencapai baduy dalam, para pendatang harus berjalan keputusan, Puun juga memimpin semua rapat yang ada di baduy. kurang lebih 18 kilometer atau berjalan kaki selama 4 jam. Dengan Hingga hari ini, suku baduy memanfaatkan alam untuk tanjakan tajam dan lereng-lereng yang sempit. Memasuki baduy, makanan mereka. seluruh penduduknya bertani. Mereka hanya maka pendatang tidak diperbolehkan untuk membawa barang- memanfaatkan air hujan untuk mengairi ladang-ladang mereka. * Makalah ini disampaikan pada diskusi Film Perempuan Baduy di ruang Perpustakaan LP3Y, pada 27 September 2007 lalu. ** Luviana, Lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta dan Extension Program Filsafat Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara Jakarta. Pernah bekerja di Jurnal Perempuan dan kantor Berita Radio (KBR) 68H Jakarta. Saat ini bekerja sebagai Produser Pemberitaan di Metro TV, aktif sebagai Koordinator Divisi Perempuan Aliansi Jurnalis Independen (AJI). 6 | Edisi: 006/Oktober 2007
  7. 7. Sumber Info Namun tidak seperti 10 tahun lalu, saat ini para suku baduy dalam tidak diperbolehkan ikut. Karena di suku baduy, ada peraturan bahwa sudah mulai menjual hasil padi mereka keluar dari suku, sama halnya pengambil keputusan adalah di tangan laki-laki, bukan di tangan yang dilakukan oleh warga suku baduy luar. Setiap musim tanam perempuan. Rapat dipimpin oleh Puun dan dibantu oleh menteri/ Jaro dan musim panen tiba, suku baduy selalu membuat upacara yang yang semuanya dijabat oleh laki-laki. disebut ngaseuk. Ini sebagai ungkapan syukur mereka terhadap dewi Keputusan untuk mempunyai anakpun diputuskan oleh laki- sri atau dewi padi. Para warga baduy selalu menyimpan hasil panen laki. Juga keputusan dengan siapa mereka harus melahirkan. mereka di lumbung-lumbung padi. Tak heran jika luas lumbung Beberapa warga di suku baduy luar sudah mulai melahirkan dengan lebih besar dari rumah mereka. dibantu oleh bidan. Namun keputusan dengan siapa mereka melahirkan diputuskan oleh suami mereka. 3. Persoalan Perempuan dan anak-anak Baduy Para perempuan yang memilih melahirkan dengan dukun, Warga baduy lebih menyukai mempunyai anak-anak laki-laki menggunakan alat tradisional. Seperti misalnya menggunakan daripada anak perempuan. Karena laki-laki baduy bisa menjadi kepala bambu sebagai pemutus ari-ari. Jika ada bayi yang meninggal, maka suku, sedangkan perempuan tidak. Menjadi kepala suku merupakan mereka mempercayai bahwa bayi ini dikehendaki oleh alam. kehormatan bagi warga baduy. Tidak heran jika para kepala suku Para perempuan baduy dalam juga meyakini bahwa bayi baduy menginginkan mempunyai anak laki-laki. Karena dia bisa dipilih untuk harus diberikan pisang setelah baduy lahir. Ini adalah kepercayaan melanjutkan garis keturunan kepala suku. Hingga hari ini belum ada mereka secara turun-temurun. mereka menolak air susu ibu untuk kepala suku baduy yang diambil dari perempuan. untuk diberikan pada bayi baduy. padahal seorang bayi yang baru Sejak kecil, baik anak laki maupun anak perempuan baduy saja lahir tidak diperbolehkan makan makanan yang keras karena diperbolehkan ikut orangtuanya ke sawah. Namun anak laki boleh ini akan mengganggu lambung mereka. memegang alat seperti arit atau pacul, sedangkan perempuan tidak. Setelah berkeluarga dan mempunyai anak para perempuan Bagi suku baduy, alat cangkul identik dengan laki-laki karena mereka baduy biasanya akan menjarangkan kelahiran dengan menggunakan yang memutuskan untuk menanam padi dan menentukan kapan padi KB dengan system saral carang boga anak. KB ini merupakan bisa dituai, sedangkan perempuan hanya boleh memeliharanya. keputusan adat. para perempuan baduy harus makan daun-daunan Perempuan baduy tidak boleh bertemu orang asing/ pendatang, sesuai dengan ketentuan adat dan jampi-jampi dari kepala suku. karena dianggap pamali. Hanya laki-lakilah yang boleh bertemu para perempuan baduy menyatakan syarat-syarat inilah yang dengan orang asing. Kalaupun ia terpaksa harus bertemu, maka Puun harus mereka jalani untuk tetap tinggal di dalam suku baduy. akan menjadi wali yang menyampaikan pesan dari perempuan. Ketika beranjak dewasa, maka perempuan dan laki baduy akan 4. Keterlibatan Petugas Kesehatan dijodohkan oleh orangtuanya. Setelah itu mereka akan melakukan Beberapa penolakan yang dilakukan masyarakat Baduy bebogohan atau pacaran.laki-laki boleh memilih siapa perempuan termasuk menolak obat dan menjaga kesehatan para perempuan yang ia maui, sedangkan perempuan hanya berhak untuk dipilih. dan anak inilah yang selanjutnya mengusik mantri idi rosidi untuk Perempuan baduy akan dinikahkan pada usia 15 tahun atau lebih bekerja sebagai mantri di wilayah ini muda dan laki-laki berumur 20 tahun. Pada dasarnya perempuan akan Sudah tiga puluh tahun ia menjadi mantri di daerah baduy dinikahkan sesudah mengalami proses menstruasi. Padahal dalam ini tepatnya di kecamatan cisemut bersama anaknya eros Rosita kesehatan reproduksi, jika mereka melahirkan di usia muda, akan yang bekerja sebagai bidan membahayakan kesehatan reproduksi perempuan dan untuk bayi. Idi rosidi berniat masuk universitas kala itu namun karena Setelah menikah, maka laki-laki menjadi kepala keluarga. ia tidak mampu ia kemudian menjadi Pekerja Rumah Tangga di yang menentukan segala keputusan keluarga dan untuk istri puskesmas ini sekaligus anak-anaknya. Tidak hanya di luar baduy mantri rosidi dan bidan Rosita Perempuan baduy adalah type perempuan pekerja keras. Bersama harus harus keluar masuk suku baduy. jarak 18 kilometer atau suaminya, biasanya perempuan baduy akan pergi ke sawah sejak jam 3 sekitar empat jam perjalanan harus mereka lalui untuk memeriksa pagi. Sebelumnya, perempuan baduy lebih dahulu memasak dan kesehatan masyarakat baduy membersihkan rumah. Rata-rata mereka akan bangun jam 1 dinihari untuk Kaki Idi Rosidi yang pincang sejak kecil sekaligus kehamilan melakukannya. Setelah itu, mereka biasa pulang dari sawah pukul 15. bidan Rosita tidak pernah mereka hiraukan. sampai di rumah, perempuan baduy masih harus memasak dan mengurus Setelah pensiun tiga tahun lalu saat ini ia dipekerjakan sebagai anaknya hingga malam hari. Padahal pekerjaan domestic ini tidak tenaga honorer di puskesmas cisemut. ini karena kurangnya tenaga dilakukan oleh para laki-laki baduy. Perempuan yang sedang hamilpun mantra. honornya hanya seratus ribu rupiah perbulannya. padahal tetap mempunyai kewajiban yang sama. Tidak jarang mereka berjalan 3- waktu liburpun tetap ia gunakan untuk menemui masyarakat. 5 kilometer dari sawah dengan membawa anak dan beban yang lain. Bidan Rosita sendiri sudah bekerja sebagai bidan selama sepuluh Namun beberapa rumah tangga di baduy mempercayai bahwa tahun. namun baru tahun ini diangkat sebagai pegawai negeri, prob- hanya laki-laki yang boleh bekerja di ladang, sedangkan perempuan lem ini pula yang banyak dialami para perempuan di puskesmas ini. bekerja di rumah. Perempuan yang bekerja di rumah akhirnya Selain bergaji kecil, tidak jarang masyarakat baduy menolak menenun dan mengerjakan pekerjaan rumah serta mengasuh anak. kedatangan mereka. padahal dengan bertemu masyarakat seperti Rapat-rapat suku biasanya dilakukan ketika malam tiba. Hanya ini, mereka hanya ingin memberikan alternative pengobatan. laki baduy yang diperbolehkan mengikuti rapat. Sedangkan perempuan Bersambung ke halaman-9 Edisi: 006/Oktober 2007 | 7
  8. 8. Spesial Info SOAL VALIDITAS DATA PADA KASUS TIME VS SOEHARTO BERITA tentang kekalahan majalah Time Asia yang berperkara dengan Sesuai dengan tulisannya, majalah Time bahkan bekas Presiden Indonesia, Soeharto, menyeruak di tengah belantara menggolongkan Soeharto sebagai diktator korup di Asia. Selama beragam informasi di negeri ini, pekan kedua September 2007 lalu. 32 tahun berkuasa, kekayaan Keluarga Cendana ditaksir sekitar US$ Mahkamah Agung (MA) mengabulkan permohonan kasasi 15 miliar atau sekitar Rp 141,7 triliun. Padahal, gaji Soeharto sebagai HM Soeharto atas Time Asia setelah kedua belah pihak selama presiden –kala itu— hanya Rp 15 juta sebulan (Tempo 23/9/2007). enam tahun berperkara di pengadilan. Menurut Time, kekayaan Soeharto tersimpan di bank di Swiss. Perkara itu menyangkut gugatan Soeharto atas pemberitaan Berdasarkan hasil penelusuran Time pula, ditemukan kekayaan majalah Time berjudul Suharto Incorporated. Oleh MA diputuskan, Soeharto dan keluarganya tak hanya berupa deposito atas uang di Time Asia, para penulis dan editornya harus membayar Rp 1 triliun bank, tapi juga benda berharga, tanah dan properti. Semua itu kepada pihak penggugat, yakni Soeharto. Selain itu, Time juga dihukum terserak tak saja di Indonesia, tapi juga berada di Selandia Baru, agar meminta maaf melalui media cetak tiga kali berturut-turut. Inggris dan Amerika Serikat. Banyak pihak berkomentar atas keputusan MA itu, mulai dari Dari laporan itulah gugatan berawal. Soeharto menolak kekhawatiran mengenai keterancaman kemerdekaan pers di Indo- laporan majalah itu. Ia merasa tercemar, antara lain atas nesia, hingga menggugat independensi para hakim yang pemberitaan Time yang menulis telah terjadi transfer dana dalam memutuskan perkara itu. jumlah besar, yakni US $ 9 miliar, uang milik Soeharto dari Swiss Apa dan bagaimana sebenarnya kasus tersebut terjadi? Tulisan ke rekening tertentu di sebuah bank Austria. ini tidak hendak melihat masalah tersebut dari sisi persoalan hukum Pertanyaannya, jika memang data itu disebut-sebut tidak valid, yang melibatkan kedua belah pihak berperkara di pengadilan. Akan mengapa Time berani menurunkannya menjadi informasi, bahkan tetapi, tulisan di bawah ini akan mencoba melihat dari sisi jurnalisme, dalam laporan utama? Benarkah majalah dengan “jam terbang” khususnya mengenai validitas data dalam kerja jurnalisme yang puluhan tahun di percaturan media internasional, dan telah mempunyai diungkapkan oleh Time sehingga pihak penggugat akhirnya reputasi terhormat itu sengaja mengorbanan kredibilitasnya dengan mengajukan majalah itu ke meja hijau. menyiarkan kabar bohong, berita sensional? Adalah majalah Time edisi 24 Mei 1999. Laporan utama (cover story) Gugatan dengan pertanyaan semacam ini akan makin panjang, majalah itu bertajuk Suharto Inc, terangkum dalam artikel laporan sepanjang manakala argumen Mahkamah Agung (MA) yang memenangkan 14 halaman, dimuat mulai halaman 13 hingga 26. Laporan itu gugatan Soeharto atas Time itu, memakai pendekatan bukti. Artinya, mengungkapkan investigasi majalah Time atas harta kekayaan dan dugaan MA membutuhkan bukti dari Time bahwa senyatanya memang benar korupsi yang dilakukan Soeharto dan keluarganya, ketika Soeharto berkuasa telah ada transaksi, transfer uang dalam jumlah besar itu. selama lebih dari 30 tahun di Indonesia. Dalam amar putusannya, majelas kasasi MA pimpinan German Sebagai majalah dengan kredibilitas dan reputasi internasional, Hoediarto dengan anggota Muhammad Taufik dan M.Bahauddin Qaudry laporan Time itu tentu saja telah didasarkan pada prinsip-prinsip itu, Time telah melampaui batas kepatutan, ketelitian dan sikap hati-hati jurnalisme yang akurat dan terjaga. Namun, justru dari sanalah kasus dalam menulis berita tentang Soeharto. Yang disebut tidak hati-hati dan itu kemudian jadi perkara di pengadilan. patut itu adalah ilustrasi dan berita yang menyebut Soeharto mentransfer Pihak Soeharto mengajukan Time ke pengadilan karena merasa US$ 9 miliar (sekitar Rp 108 triliun saat itu) dari bank di Swiss ke sebuah harga dirinya tercemar atas pemberitaan itu. Untuk sekadar mengingat bank di Austria pada Juli 1998. (Tempo 23/9/07-hal 29) . secara fisik, pada sampul majalah itu bergambar wajah Soeharto Mengutip laporan utama Tempo 23 September lalu, dasar sedang tersenyum. Di bawah gambar tertulis Special Report, Suharto penurunan laporan khusus yang ditulis wartawan Time Amerika Inc. How Indonesia”s longtime boss built a family fortune. Serikat, John Colmey dan koresponden Time di Indonesia, David Pada salah satu halaman majalah, laporan di edisi itu, Time Liebhold adalah informasi yang diterima Time tentang dana yang memberi judul The Family Firm, dilengkapi ilustrasi Soeharto yang diduga milik Soeharto di Swis . Time mendapat informasi, ada trans- berpeci dan berjas hitam sedang memeluk rupa-rupa barang, ada fer dana berjumlah jumbo milik keluarga Cendana dari sebuah bank karung beras, piring porselen bergambar perempuan Jawa dan di Swiss ke bank Austria Juli 1998. Soeharto jatuh dari kursi rumah mewah bergaya Eropa. kepemimpinannya Mei 1998. Pengalihan dana itu diduga untuk 8 | Edisi: 006/Oktober 2007
  9. 9. Spesial Info mencari “perlindungan” lebih aman. Kementerian keuangan informasi, penelaahan terhadap dokumen-dokumen yang signifikan Amerika, ketika itu, memberikan perhatian khusus terhadap dan pemahaman terhadap data-data statistik. (S.Santana H – informasi ini. Bahkan kementerian tersebut melakukan sejumlah Jurnalisme Investigasi-2003). penyelidikan diplomatik di Wina Austria. Dalam kasus ini, investigasi yang dilakukan Time, misalnya Majalah Time memerlukan waktu empat bulan untuk tentang kabar adanya transfer dana dari Swiss ke Austria itu, adalah menggarap laporan Suharto Inc itu. Lebih dari sepuluh wartawan, mendasarkan pada sumber Wirtschaftsblats, jurnal ekonomi Barron baik dari Indonesia maupun di sejumlah biro di luar Indonesia, 27 Mei 1998 dan majalah Gamma 4 April 1999. Barang bukti itu dikerahkan untuk mencari, mengumpulkan dan menulis laporan itu. sudah disodorkan ke pengadilan. (Kompas 28/9). Kerja jurnalistik Time terkoordinasi dengan seksama. Di In- Pada kenyataannya, data yang diperoleh Time itu dianggap donesia, Time mengumpulkan data tersebut dengan mendatangi tidak valid, dimentahkan oleh majelis hakim agung yang berbagai sumber, perorangan maupun instansi. Di antaranya Badan menangani kasasi ini. Muncul pertanyaan senada oleh berbagai Pertanahan Nasional, Pertamina, sejumlah yayasan milik Soeharto pihak, apakah media harus membuktikan adanya traksaksi uang serta Indonesia Corruption Watch. itu? Atau cukup dipandang sebagai fakta jurnalistik? Pun demikian di luar negeri, Time melakukan investigasi. Mengomentari kasus ini, anggota Dewan Pers Abdullah Alamudi Selandia Baru, Amerika Serikat, Eropa dan sejumlah negara Asia menilai, artikel Suharto Inc di majalah Time itu merupakan bentuk lainnya, didatangi Time, untuk melacak kebenaran harta-harta milik laporan investigasi yang telah memenuhi kaidah jurnalistik. “Memiliki Soeharto itu berada. tingkat akurasi tinggi dan bisa dipercaya,” ujarnya seperti dikutip Sulit untuk disangkal lagi, bahwa Time telah mengembangkan Tempo 23/9. Masih menurut Abdullah, pemberitaan tersebut, praktik jurnalistik dengan baik. Artinya prinsip-prinsip jurnalistik merupakan bagian dari fungsi pengawasan sosial pers untuk dipegang teguh manakala Time melakukan penelusuran, mengungkapkan kebenaran kepada masyarakat. menginvestigasi, dalam kasus Soeharto ini. Demikianlah, sampai saat ini ternyata masih ada pihak yang Tujuan kegiatan jurnalisme investigatif adalah memberi tahu belum bisa menerima penerapan validitas data dalam karya kepada masyarakat adanya pihak-pihak yang telah berbohong dan jurnalistik. Kerja jurnalistik masih dianggap sama dengan jenis menutup-nutupi kebenaran. Masyarakat diharapkan menjadi pekerjaan lain. Padahal undang-undang khusus yang mengaturnya waspada terhadap pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan berbagai pun sudah ada, yakni UU Pers. Maka, kita tunggu saja pihak, setelah mendapatkan bukti-bukti yang dilaporkan. Bukti-bukti perkembangan selanjutnya. (awd) itu ditemukan melalui pencarian dari berbagai sumber dan tipe Sambungan dari halaman-7 Bagi bidan Rosita dan mantri rosidi menjadi bidan dan man- Tentu saja kami harus mengenali kasus-kasus perempuan tra di daerah terpencil tetap menjadi pilihan hidupnya. dalam konsep feminisme multikultur. Banyak perempuan desa Mereka meminta pemerintah untuk merubah nasib mereka umumnya yang dibungkam suaranya. Maka tugas kami untuk dan nasib para perempuan disini. menuliskan sesuatu yang tidak dikenali ini. Banyak hal yang tidak bisa kami rekam, tentu saja ini jauh 5. Peliputan Jurnalistik dari ideal dalam peliputan jurnalistik. Namun kami tetap Dalam peliputan jurnalistik, kami (saya dan camera person menghargai hak mereka untuk mau berbicara maupun tutup mulut, Priyo Susilo) sangat kesulitan mendapatkan data sekunder yang termasuk untuk tidak menggunakan kamera, karena ini melanggar lengkap tentang apa yang dialami perempuan baduy. Hampir semua hak mereka sebagai individu. diktat dan penelitian tentang baduy menuliskan tentang sejarah baduy Perjalanan yang sangat jauh, yaitu sekitar 15 kilometer juga maupun baduy dari sisi antropologisnya, maupun tentang kearifan membuat kami cukup kelelahan dalam melakukan peliputan. masyarakat baduy dalam bersetubuh bersama alam. Hampir semua Apalagi kami harus membawa tripot, kamera dan sejumlah buku menuliskan, tidak ada persoalan perempuan disana. Baik dari makanan. Kami tidak boleh memasuki baduy dalam, karena hanya sisi kebijakan maupun kesehatan reproduksi mereka. dalam waktu-waktu tertentu saja para pendatang diperbolehkan Kesulitan kami yang kedua, ketika kami sampai disana, kami masuk kesana. Akhirnya kami sampai pintu baduy dalam saja. kesulitan untuk membawa kamera untuk masuk. Kesulitan kami Namun hal yang sangat menggembirakan, ada beberapa Jaro yang yang lain, kami tidak boleh melakukan wawancara dengan mau kami wawancarai. Sekaligus anak laki-laki Puun. Ini membuat perempuan. Wawancara hanya boleh dilakukan oleh para Puun dan kami lega, karena perjalanan kami 3 kali keluar masuk baduy tidak Jaro. Akhirnya kami wawancara dengan salah satu perempuan dari sia-sia. Pertama kami datang untuk melakukan riset. Yang kedua warga suku baduy luar yang sudah mau menerima bidan dan alat- kami melakukan wawancara. Yang ketiga kami harus membuat alat kesehatan. Dulu ia tinggal di baduy dalam. janji lagi untuk melakukan wawancara lagi. Selebihnya kami Namun kami akhirnya mendapatkan banyak data dari bidan datang untuk melakukan wawancara di baduy luar. Ini tidak berat, eros Rosita dan mantri Idi Rosidi. Mereka sangat membantu kami karena kami hanya berjalan 3 kilo saja untuk menemui mereka. untuk menelusuri persoalan perempuan disana. Akhirnya kami bisa membuat hasil peliputan ini dengan dibantu oleh Ari yang mengedit gambar. Walaupun jauh dari sempurna.* Edisi: 006/Oktober 2007 | 9
  10. 10. Info buku “KEKUATAN” PEREMPUAN MENGHADAPI BENCANA BUKU ini berawal dari lokakarya penulisan dia harus mengurus anaknya yang masih bayi, yang dilakukan Koalisi Perempuan Indonesia ia pun harus menghadapi kesulitan mengatasi (KPI) cabang Sleman Yogyakarta tentang darah menstruasi yang mengalir akibat tidak penguatan kesadaran dari pengalaman mengatasi adanya pembalut (hal. 224) ketidakadilan gender bagi perempuan- Masih banyak lagi cerita menarik lainnya perempuan. Selain juga dari pengalaman- yang dapat pembaca simak. Buku ini dapat hadir pengalaman secara individu menghadapi berkat kegigihan penyunting yang bencana gempa yang terjadi di Yogyakarta dan dipersembahkan untuk perempuan secara Jawa Tengah pada 27 Mei 2006 pukul 05.57 individu dan perempuan pada umumnya dalam WIB. menghadapi situasi apapun di tengah kondisi Dengan tiga kali lokakarya yang carut marut saat itu. diselenggarakan, akhirnya 34 perempuan peserta Hasil tulisan perempuan-perempuan yang lokakarya tersebut berhasil menuliskan sebagian besar belum terbiasa menulis dan pengalaman-pengalamannya ketika terjadi ternyata mereka mampu menulis. Mereka bencana gempa bumi. sepakat membagi tulisan Ada banyak pengalaman Judul Buku : Perempuan dan Bencana, Pengalaman tersebut dalam lima sub tema yang dituliskan dengan gaya Yogyakarta yakni: bahasa dan penuturan masing- Penyunting : Farsijana Adeney-Risakotta 1. Perempuan dan masing penulis. Pengalaman Penerbit : Selendang Ungu Press keberaniannya menyembuhkan individu dengan segala perasaan Terbit : Agustus 2007 diri dan sesamanya. manusiawi menghadapi bencana Tebal : xxxvi + 340 2. Perempuan dan yang tidak terduga. Sedih, tegar, transformasi peranan sosialnya dalam keluarga dan tetap bertahan, pasrah, mencoba bangkit dan masih banyak lagi masyarakat. gambaran perasaan yang dituangkan dalam buku ini. 3. Perempuan dan kapasitas membangun sistem Seperti misalnya pada bab 7 tentang Keprihatinan dan 4. Perempuan, kekersan dan proses pemulihan jalur Kepribadian Anak. Dalam bab tersebut yang berisi cerita-cerita pengalaman beberapa suami, perempuan dan seorang relawan sesar gempa. menggambarkan betapa perempuan sangat berguna dengan 5. Perempuan, penyembuhan bumi dan penerusan cita- perannya menjadi seorang ibu dan sekaligus lebih kuat atau citanya. unggul menghadapi musibah tersebut. Kebiasaan perempuan Seperti yang disebut penyunting pada pengantarnya, dengan menjalankan perannya tersebut menjadikan keunggulan kelima subtema ini mencerminkan kegiatan-kegiatan terpadu tersendiri bagi perempuan. dan menyeluruh yang dilakukan oleh perempuan dalam Atau tentang masalah reproduksi pada perempuan. Pada menanggapi paska gempa bumi di DIY dan Jawa Tengah. bab 17 tentang Cerita duka Perempuan di Balik Bencana Alam, Buku ini bisa menjadi referensi bagi siapa saja, meskipun salah satu masalah yang terekam adalah tidak adanya atau semangat diterbitkannya buku ini dengan tujuan untuk terlambatnya bantuan untuk keperluan reproduksi seperti pemberdayaan bagi semua perempuan dengan “kekuatan- pembalut, sehingga beban perempuan semakin berlipat. Selain kekuatan” yang dimilikinya. Selamat membaca. (may) 10 | Edisi: 006/Oktober 2007
  11. 11. Info buku DAMPAK PEMBAKUAN PERAN GENDER TERHADAP PEREMPUAN APA yang terjadi di kalangan perempuan kelas berkewajiban mengatur urusan rumah tangga bawah tatkala perempuan, khususnya istri, sebaik-baiknya. secara resmi (melalui produk legal) diposisikan Beban ganda akan makin menjadi-jadi sebagai pihak yang hanya berkewajiban manakala suami tak mampu menjalankan mengurus rumah tangga, sedangkan suami fungsinya karena berbagai sebab, misal karena sebagai pencari nafkah? latarbelakang pendidikan rendah maka ia hanya Di Jakarta, pembakuan peran gender bisa bekerja dengan upah minim bahkan tak tersebut justru telah menempatkan para menentu. Akibatnya, mau tak mau demi perempuan (istri) dari kalangan bawah dalam mempertahankan perekonomian rumah tangga himpitan beban keseharian yang jauh lebih berat istripun harus bekerja. Sementara itu, ia pun dari para lelaki (suami). dibebani kewajiban (oleh negara melalui UU) Fakta menunjukkan para perempuan ini tak untuk mengurus rumah tangga. hanya dituntut menjalankan peran domestik Hasil penelitian yang kemudian dibukukan sebagaimana dimaui negara melalui undang- dengan tajuk Dampak Pembakuan Peran Gen- undang. Mereka pun dituntut oleh der terhadap Perempuan Kelas kehidupan untuk sekaligus Judul : Dampak Pembakuan Peran Gender Bawah di Jakarta ini menjalankan tugas sebagai terhadap Perempuan Kelas Bawah di menunjukkan para perempuan pencari nafkah, sementara posisi Jakarta kelas bawah yang bekerja untuk sosial mereka tetap sebagai pihak Penulis : Henny Wilujeng, Attashendartini Habsjah, mencari nafkah, karena yang dinomorduakan.. Devy Setya Wibawa penghasilan dari suami tak “Bangun pagi subuh nyuci Penerbit : LBH APIK Jakarta mencukupi, harus bekerja jauh baju dulu...habis nyuci terus cuci Tebal : XXII + 169 melebihi porsi pasangannya. piring, terus beberesan deh Tahun : 2005 Sebelum bekerja yang semua....segalanya....terus baru menghasilkan uang mereka jalan...berangkat kerja jam tujuh. Pulang jam setengah enam terlebih dahulu harus memasak, menyiapkan makanan/minuman sore...kadang beli makanan di warung aja. Kalau di rumah udah untuk suami dan anak, belanja, mencuci, mengantar anak ke nggak ada kerjaan lagi....ya kita balik lagi ke konveksi. sekolah. Selesai bekerja, masih harus menyeterika, Ngelembur. Kerja di konveksi dibayarnya per minggu, jadi membersihkan rumah, mengasuh anak, masih harus memikirkan bagaimana pendapatan kita, dari hasil jahitnya. Kita nguber kerja sosial seperti arisan, pengajian dan sebagainya. waktu. Kalau misalnya kita lama, ya...pendapatannya sedikit,” Melalui buku setebal 169 hal dengan 35 tabel yang ujar X, perempuan pekerja konveksi di Jakarta. menyesaki ruang ini, kita juga temukan hal ironis: meski pada Cuplikan pengalaman X tersebut hanya bagian kecil dari kenyataannya para perempuan ini juga mencari nafkah, para fakta perempuan kelas bawah di Jakarta. perempuan ini tetap tidak diakui sebagai pihak pencari nafkah. Penelitian yang dilakukan LBH APIK Jakarta bekerjasama Pencari nafkah tetap privilege para pria/suami. Kedua, para dengan Pusat Kajian Pembangunan Masyarakat (PKPM) Unika perempuan kelas bawah ini (terutama yang bekerja di sektor Atmajaya Jakarta 2000-2001 menunjukkan bahwa perempuan formal) rentan pula terhadap berbagai kekerasan di tempat kerja. kelas bawah di Jakarta hidup dalam himpitan beban ganda Sayang, buku yang kaya data ini ditampilkan tak ubahnya akibat pembakuan peran gender yang antara lain disahkan dalam sebuah laporan penelitian. Selain struktur, bahasanya pun UU RI No 1/1974 tentang Perkawinan. UU tersebut cenderung kaku-formal. Buku ini tak lebih dari sekadar laporan menetapkan, peran suami adalah kepala keluarga yang penelitian yang dikemas seukuran buku. Padahal, dengan berkewajiban memberi segala sesuatu keperluan hidup mengubah gaya, buku ini akan jauh lebih menarik untuk dibaca berumahtangga sedangkan istri sebagai ibu rumah tangga yang mengingat informasinya yang penting untuk diketahui. (ded) Edisi: 006/Oktober 2007 | 11
  12. 12. Profil “MODAL USAHA BAGI PEREMPUAN USAHA KECIL (PUK), BUKAN SEGALANYA....” “...rasanya saat itu, dunia seakan runtuh. Semua barangku dilakukan untuk penguatan perempuan usaha kecil-mikro hancur, daganganku ludes. Air mata ini seperti tak bisa dilakukan, melalui; pengorganisasian, layanan mengalir lagi karena beratnya beban yang harus informasi, pelayanan modal, dan advokasi. kutanggung nantinya.Yang tebanyang juga bagaimana Strategi di atas dilakukan ASPPUK berdasarkan atas dagangan warungku nanti bisa dibayar....padahal baru visinya, yakni “Terwujudnya PUK-Mikro yang kuat dan kemarin saya baru mengambil barang dari penyalur...” mandiri dalam masyarakat sipil yang demokratis, begitu keluh Parjilah, warga dusun Klisat, desa Srihardono, sejahtera, egaliter, setara dan berkeadilan gender”. Dan juga kecamatan Pundong, Bantul, saat ditemui Sarni, salah seorang penjabaran lebih jauh dari misi ASPPUK, yaitu: (1) Memfasilitasi pendamping lapang ASPPUK. terbangunnya gerakan PUK-Mikro yang berkesetaraan dan Perlahan namun pasti, kenangan itu kini sudah lenyap berkeadilan gender sebagai penguatan sipil, (2) sedikit demi sedikit di hadapan Bu Parjilah. ”Untuk Memperjuangkan terbangunnya sistem yang kondusif bagi proses menghilangkan trauma dan bisa sedikit bangkit dalam demokratisasi yang berkesetaraan dan berkeadilan gender. berusaha, tidak bisa cepat dilakukan. Namun itu perlu Maka ketika terjadi bencana di Yogyakarat dan Klaten, dukungan dari berbagai pihak”, begitu ungkap Sarni suatu kali ASPPUK terpanggil untuk ikut berpartisipasi dalam pemulihan di sela obrolan dengan sesama pendamping di sore hari di kantor gempa di daerah tersebut dengan berbagi pengalaman dalam ASPPUK saat waktu senggang. pengembangan ekonomi perempuan di level grassroot. Bersama Sebagaimana umumnya masyarakat Jawa di perdesaan, sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat lainnya, ASPPUK maka perempuan memegang peran penting dalam perekonomian menjadi anggota jaringan yang bekerja untuk pemulihan keluarga. Maka menjadi amat penting dalam hal itu, untuk masyarakat paska gempa. Dalam hal ini, ASPPUK mendapat memulihkan perekonomian masyarakat melalui usaha perempuan mandat dari jaringan untuk mengelola “program Pemulihan di Bantul. Selain itu, peran kelompok dan pedamping yang Sosial, Ekonomi, Pasca Gempa Bantul Yogyakarta”. Sehingga berperan selain menjadi kawan juga memberi motivasi dalam ASPPUK di Bantul merupakan salah satu anggota jejaring Ford usaha khususnya, menjadi hal lain dalam kondisi itu. Foundation dari 12 LSM yang terlibat. Retno Kustanti, yang Ibu Parjilah merupakan miniatur dari ratusan perempuan selama ini menjadi Sekertaris Eksekutif Wilayah ASPPUK yang memegang peranan penting dalam seluruh aspek kehidupan Jawa, ditunjuk untuk menjadi koordinator program tersebut. berbangsa terutama dalam pengembangan ekonomi. Secara Lebih jauh, program yang dijalankan ASPPUK adalah nasional, hingga sekarang ada sekitar 46,23% perempuan pemberdayaan ekonomi bagi perempuan yang memiliki usaha merupakan pelaku ekonomi. Namun sayangnya hak-hak ekonomi, kecil dan juga perempuan yang berniat untuk memiliki usaha, sosial dan politik perempuan masih kurang terfasilitasi. Atas dasar seperti pedagang, pembuat emping melinjo, penjahit dan itu, ASPPUK (Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil) sebagainya. Selain itu, ASPPUK bersama KPUK (kelompok berdiri pada 11 desember 1997, dan di Forum Nasional kedua, perempuan usaha kecil) membangun permodalan alternatif 24-27 Februari 2001, disepakati anggotanya untuk menjadi dimana ini nantinya menjadi sumberdaya masyarakat. ”Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil. Selain hal itu, ASPPUK diawal kegiatannya Dalam pandangan ASPPUK, pengembangan usaha mengembangkan “recovery asset”, yaitu dengan memberikan perempuan tidak dipandang dari sisi pengembangan ekonomi bantuan alat-alat dengan pelaksanaannya melibatkan PUK saja. Namun itu harus dilakukan pengembangan perempuan secara langsung mulai dari verifikasi, pengadaan barang sampai dalam dua hal yaitu penguatan ”kebutuhan praktis” dan dengan pendistribusiannya. Selain itu, Asppuk juga mendorong ”kebutuhan strategis”. Makanya untuk memenuhi dua kebutuhan terbangunnya LKP- Lembaga keuangan perempuan yang di atas, ASPPUK mempunyai strategi integratif dalam menjadi wadah bagi PUK dalam pengelolaan perguliran, pengembangan perempuan usaha kecil-mikro di level basis pendampingan usaha, capacity building, serta advokasi. khususnya, yaitu dengan memberikan treatmen dalam berbagai Diharapkan dengan strategi tersebut, upaya yang dilakukan aspek pengembangan usaha perempuan dan mempertimbangkan ASPPUK bisa menjawab kebutuhan PUK di Bantul sehingga integrasi semua aspek pendekatan maupun content serta proses. geliat ekonomi yang dilakukan oleh perempuan semakin Kongkritnya, pada tataran strategi dan kegiatan, aktiftas yang berkembang dan diperhitungkan.(by asppuk). 12 | Edisi: 006/Oktober 2007

×