Laporan Fisiologi Hewan Air
PENGAMATAN CHEMORESEPTOR PADA
UDANG (Macrobachium sp.)
Dosen Penanggung Jawab
Dr. Hesti Wahyun...
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Salah satu hewan yang termasuk dalam avertebrata adalah filum crustacea. Crusta
berar...
besar terdiri dari udang laut. Hanya sebagian kecil saja yang terdiri dari udang air
tawar, terutama di daerah sekitar sun...
salinitas sampai dibawah 30% hidup di daerah terestrial dan menembus hulu
estuari dengan tingkat kejauhan bervariasi sesua...
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Morfologi Udang
Menurut Didi (2011), udang mempunyai tubuh yang bilateral simetris
terdiri ata...
posterior kulit kepala. Biasanya tepi lateral kerapas menutupi kedua sisi
cephalothorax. Pada kepala crustacea mulai dari ...
mengenal stimulus yang berasal dari sumber yang jauh dari tubuh, berupa rambut-
rambut pada antenulla dengan nilai ambang ...
diteruskan ke organ melalui neuron afferent, selanjutnya organ reseptor
melakukan gerakan sesuai informasi dari otak. Berd...
fungsi dalam orientasi secara kimia. Beberapa pergerakan pada udang untuk
mendekati pakan adalah:
1. Gerakan flicking, yai...
BAB III
BAHAN DAN METODE
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum Fisiologi Hewan Air ini dilaksanakan pada tanggal 08 April
2014, p...
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
a. Gambar udang
b. Data Morfometrik
No Nama Pengukuran Cm
1. Panjang Total 4
2 Panja...
Ablasi 1 Antenula
WAKTU PERLAKUAN
FL WD WP RT MP
15’ 00.23 05.55 03.34 02.22
02.55 06.30 10.15
03.13 08.15
09.12
12.44
13....
02.15 11.03
02.21
02.33
02.34
02.52
04.07
04.32
05.05
05.11
05.39
05.57
06.03
06.11
07.53
08.01
08.22
08.42
09.44
10.09
11...
4.2 Pembahasan
Dari hasil praktikum dapat dilihat bahwa udang memiliki bagian-bagian
tubuh yang membedakannya dengan yang ...
udang sangat sensitif terhadap aroma dari molekul kimiawi yang dikeluarkan
pakan.
Dari hasil pengamatan praktikum dapat li...
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari hasil praktikum ini adalah :
1. Tubuh udang terdiri dari ...
DAFTAR PUSTAKA
BPP Teknologi. 2001. Budidaya Udang Windu (Palaemonidae / Penaeidae).
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pend...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Pengamatan Chemoreseptor Pada Udang Vaname

539 views

Published on

0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
539
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
8
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Pengamatan Chemoreseptor Pada Udang Vaname

  1. 1. Laporan Fisiologi Hewan Air PENGAMATAN CHEMORESEPTOR PADA UDANG (Macrobachium sp.) Dosen Penanggung Jawab Dr. Hesti Wahyuningsih, S.si, M.Si Indra Lesmana. S.Pi, M.Si Oleh Tiur Natalia Manalu 120302028 LABORATORIUM FISIOLOGI HEWAN AIR PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2014
  2. 2. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu hewan yang termasuk dalam avertebrata adalah filum crustacea. Crusta berarti kulit keras, kerak di alam terdapat sekitar 40.000 spesies mencakup jenis- jenis copepoda, udang dan kepiting. Ukurannya bervariasi mulai dari 0,1 mm sampai 60 cm. Demikian juga dengan bentuk tubuh mulai dari panjang sampai yang bulat. Sebagian besar hidup crustacea di laut, 13% di air tawar dan 3% di darat untuk filum crustacea, ada yang bersifat plankton baik itu sebagian hidupnya sebagai plankton (nano plankton) atau seluruh hidupnya bersifat plankton (scolo plankton). Ada juga bersifat benthos, baik sebagai spesies interstisial maupun makroskopis. Ada juga hidup sebagai pasarit contohnya copepoda dan rebon (Suwarni, 2008). Udang adalah binatang yang hidup di perairan khususnya sungai maupun laut atau danau. Udang menjadi dewasa dan bertelur hanya di habitat air laut. Betina mampu menetaskan telur 50.000 hingga 1 juta telur yang akan menetas setelah 24 jam menjadi larva (nauplius). Nauplius kemudian bermetamorfosis memasuki fase ke dua yaitu zoea (jamakzoeae). Zoea memakan ganggang liar. Setelah beberapa hari bermetamorfosis lagi menjadi mysis (jamak myses). Mysis memakan ganggang dan zooplankton. Setelah tiga sampai empat hari kemudian mereka bermetamorfosis terakhir kali memasuki tahap postlarvae: udang muda yang sudah memiliki ciri-ciri hewan dewasa. Udang air tawar mempunyai peranan yang penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Udang air tawar berfungsi sebagai makanan bagi hewan akuatik yang lebih besar seperti ikan. Udang air tawar juga berfungsi sebagai pemakan bangkai dan detritus di sungai, kolam dan danau. Apabila udang air tawar tidak terdapat di perairan, perairan akan mengalami pembusukan yang dapat meningkatkan zat amoniak dan bersifat racun (Yoga, 2008). Udang merupakan jenis ikan konsumsi air payau, badan beruas berjumlah 13 (5 ruas kepala dan 8 ruas dada) dan seluruh tubuh ditutupi oleh kerangka luar yang disebut eksosketelon. Umumnya udang yang terdapat di pasaran sebagian
  3. 3. besar terdiri dari udang laut. Hanya sebagian kecil saja yang terdiri dari udang air tawar, terutama di daerah sekitar sungai besar dan rawa dekat pantai. Udang air tawar pada umumnya termasuk dalam keluarga Palaemonidae, sehingga para ahli sering menyebutnya sebagai kelompok udang palaemonid. Udang laut, terutama dari keluarga Penaeidae, yang biasa disebut udang penaeid oleh para ahli. Udang merupakan salah satu bahan makanan sumber protein hewani yang bermutu tinggi. Bagi Indonesia udang merupakan primadona ekspor non migas. Permintaan konsumen dunia terhadap udang rata-rata naik 11,5% per tahun. Walaupun masih banyak kendala namun hingga saat ini negara produsen udang yang menjadi pesaing baru ekspor udang Indonesia terus bermunculan atau semakin meningkat (BPP Teknologi, 2001). Pada udang hampir seluruh bagian tubuh yaitu daging dan bagian tubuh yang lainnya terdiri atas protein yang terkandung dalam pakan. Dengan menggunakan sumber protein dari Artemia yang susunannya mirip dengan susunan protein udang, maka akan memperpendek waktu yang dibutuhkan udang untuk proses metabolisme. Penambahan silase Artemia atau yang lebih dikenal dengan Ekstrak Biomass Artemia (EBA) ternyata memberikan pertumbuhan harian (Average Daily Growth, ADG) yang lebih baik. Udang Penaeid membutuhkan konsumsi lemak sebagai sumber asam lemak esensial dan berbagai kelas lemak yang lain seperti phospholipid dan sterol. Udang atau hewan Crustacea yang lain memiliki kemampuan yang terbatas dalam elongasi dan desaturasi Polyunsaturated Fatty Acid (PUFA) menjadi Highly Unsaturated Fatty Acid (HUFA). Udang Penaeid dapat memperoleh asam lemak tersebut dari Artemia sebagai pakan alami yang tak tergantikan. Namun, kandungan asam lemaknya masih jauh dari ideal yang dibutuhkan, misalnya eicosapentaenoic acid (EPA, C20:5n-3) dan docosahexaenoic acid (DHA, C22:6n-3) (Yuniarso, 2006). Udang hidup disemua jenis habitat perairan dengan 89% diantaranya hidup di perairan laut, 10% diperairan air tawar dan 1% di perairan teresterial. Udang laut merupakan tipe yang tidak mampu atau mempunyai kemampuan terbatas dan mentolerir perubahan salinitas. Kelompok ini biasanya hidup terbatas pada daerah terjauh pada estuari yang umumnya mempunyai salinitas 30% atau lebih. Kelompok yang mempunyai kemampuan untuk mentolerir variasi penurunan
  4. 4. salinitas sampai dibawah 30% hidup di daerah terestrial dan menembus hulu estuari dengan tingkat kejauhan bervariasi sesuai dengan kemampuan spesies untuk mentolerir penurunan tingkat salinitas. Kelompok terakhir adalah udang air tawar. Udang dari kelompok ini biasanya tidak dapat mentolerir salinitas diatas 5%. Udang termasuk golongan omnivora ataupun pemakan segalanya. Beberapa sumber pakan udang antara lain udang kecil (rebon), fitoplankton, copepoda, polichaeta, larva kerang dan lumut. Untuk mendeteksi sumber pakan udang berenang menggunakan kaki jalan yang memiliki capit. Makanan ditangkap dengan capit kaki jalan (periopod) dan masukkan kebagian mulut (Didi, 2010). Sistem indera adalah bagian dari sistem saraf yang berfungsi untuk proses informasi indera. Di dalam sistem indera terdapat reseptor indera, jalur saraf dan bagian dari otak ikut serta dalam tanggapan indera. Umumnya sistem indera yang dikenal adalah penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan dan peraba. Alat indra merupakan suatu alat tubuh yang mampu menerima rangsang tertentu. Indra mempunyai sel-sel reseptor khusus untuk mengenali perubahan lingkungan sehingga fungsi utama indra adalah mengenal lingkungan luar atau berbagai rangsang dari lingkungan di luar tubuh. Sistem indera adalah bagian dari sistem saraf yang berfungsi untuk proses informasi indera. Di dalam sistem indera, terdapat reseptor indera, jalur saraf, dan bagian dari otak ikut serta dalam tanggapan indera. Dalam kerjanya organ Indra tidak dapat dipisahkan dari fungsi dan kerja sistem syaraf dan sistem endokrin yang keduanya membantu untuk memadukan dan mengkoordinasikan informasi yang diterima dari lingkungan dan untuk menimbulkan respon (Guspandi dan Riko, 2005). 1.2 Tujuan Praktikum Adapun tujuan dari praktikum ini adalah: 1. Untuk mengetahui secara langsung bentuk dan morfologi pada tubuh udang 2. Untuk mengetahui organ-organ pada tubuh udang dan fungsinya. 3. Untuk mengetahui organ pada udang yang berfungsi sebagai chemoreseptor. 4. Mampu mengaplikasikan kegunaannya dalam kehidupan sehar-hari.
  5. 5. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Morfologi Udang Menurut Didi (2011), udang mempunyai tubuh yang bilateral simetris terdiri atas sejumlah ruas yang dibungkus oleh kitin sebagai eksoskleton. Tiga pasang maksilliped yang terdapat dibagian dada digunakan untuk makan dan mempunyai lima pasang kaki jalan sehingga disebut hewan berkaki sepuluh (Decapoda). Tubuh biasanya beruas dan sistem syarafnya berupa tangga tali. Dilihat dari luar, tubuh udang terdiri dari dua bagian, yaitu bagian depan dan bagian belakang. Bagian depan disebut bagian kepala, yang sebenarnya terdiri dari bagian kepala dan dada yang menyatu. Bagian kepala tertutup kerapak, bagian perut terdiri dari lima ruas yang masing-masing ruas mempunyai pleopod dan ruas terakhir terdiri dari ruas perut, dan ruas telson serta uropod (ekor kipas). Tubuh udang mempunyai rostrum, sepasang mata, sepasang antena, sepasang antenula bagian dalam dan luar, tiga buah maksilipied, lima pasang cholae (periopod), lima pasang pleopod, sepasang telson dan uropod. Adapun klasifikasi udang adalah sebagai berikut : Kingdom : Animalia Filum : Arthropoda Kelas : Crustacea Ordo : Decapoda Familia : Penaeidae Genus : Macrobachium Species : Macrobachium sp. Tubuh crustacea dapat dibedakan menjadi kepala, thorax dan abdomen. Tubuhnya beruas-ruas biasanya disebut somite (meta meru). Tiap ruas tubuh mempunyai sepasang appendix (anggota badan) yang biramus dan jumlahnya banyak. Ruas-ruas pembentuk kepala pada semua crustacean tumbuh menjadi satu. Penyatuan kepala dengan ruas thorax disebut ciphalothorax dan ditutupi oleh kerapas dibagian dorsalnya. Kerapas merupakan pelebaran dan melipatnya bagian
  6. 6. posterior kulit kepala. Biasanya tepi lateral kerapas menutupi kedua sisi cephalothorax. Pada kepala crustacea mulai dari anterior sampai ke posterior terdapat sepasang antena kedua (antena), sepasang mandibel menjepit mulut atau menutup bagian ventral mulut sepasang maxilla pertama dan sepasang maxilla kedua. Bentuk mandibel pendek dan tebal berfungsi untuk menggiling atau menggigit, maxilla pertama dan kedua untuk membantu proses makan untuk pencernaannya (Suwarni, 2008). Secara morfologis tubuh udang terdiri dari dua bagian, bagian kepala dan bagian dada (cephalothorax) serta bagian perut (abdomen). Udang windu hidup di dasar perairan, tidak menyukai cahaya terang dan bersembunyi di lumpur pada siang hari, bersifat kanibal terutama dalam keadaan lapar dan tidak ada makanan yang tersedia, mempunyai ekskresi amonia yang cukup tinggi dan untuk pertumbuhan diperlukan pergantian kulit (moulting). Pada saat proses pergantian kerangka baru inilah udang tumbuh dengan pesatnya dan menyerap air lebih banyak sampai kulit luar yang baru mengeras. Pada umumnya semua udang memiliki sifat alami yang sama, yakni aktif pada malam hari (nocturnal), baik aktifitas untuk mencari makan dan reproduksi. Beberapa indera yang digunakan udang untuk mendeteksi makanan adalah penglihatan (sight), audio atau vibrio sense, thermosense dan chemosense. Dari keempat indera tersebut chemosense atau chemoreseptor merupakan alat yang paling peka untuk mendeteksi pakan. Dalam mencari pakan udang lebih mengandalkan indera kimia daripada indera penglihatan. Alat chemoreseptor pada Crustacea bersifat sensitif dalam memberikan respon untuk bahan-bahan kimia sebaik terhadap temperatur dan pH (Yuniarso, 2006). 2.2 Chemoreseptor Pada Udang Chemoreseptor merupakan organ indera yang distimulasi oleh berbagai ion atau molekul kimia baik dalam bentuk gas maupun cairan. Ini meliputi indera. Antenulla merupakan salah satu chemoreceptor yang terdapat disekitar mulut udang yang biasanya ditutupi oleh rambut-rambut halus yang berfungsi sebagai alat penciuman. penciuman, perasa dan juga reseptor yang memantau konsentrasi oksigen dan karbondioksida Chemoreseptor dikenal ada dua macam, yaitu untuk
  7. 7. mengenal stimulus yang berasal dari sumber yang jauh dari tubuh, berupa rambut- rambut pada antenulla dengan nilai ambang yang sangat rendah. Stimulus cukup berupa gas dengan konsentrasi rendah dan untuk mengenal stimulus yang datang dari sumber yang dekat dengan tubuh terdapat pada palpus maxillaris dan sering pada torsi dengan nilai ambang tinggi. Kemampuan saraf untuk menanggapi rangsang, mempunyai peran sangat penting dalam adaptasi ekologis. Misalnya menemukan makanan, kawin dan mengetahui tempat atau keluarganya dan menghindari toksin dan predator. Hewan mengembangkan chemoreseptor yaitu alat indera yang distimilsi oleh berbagai ion atau molekul kimia baik dalam bentuk gas maupun cairan meliputi penciuman dan perasa sebagai alat untuk berinteraksi dengan dunia luar dan dalam pengubahan penciuman dan sensitivitas perasa (rasa), sering juga sebagai petunjuk (Wibowo, 2005). Chemoreseptor adalah alat indera yang bereaksi terhadap zat-zat kimia, dalam hal ini adalah pakannya. Chemoreseptor dikenal ada dua macam, yaitu untuk mengenal stimulus yang berasal dari sumber yang jauh dari tubuh, berupa rambut-rambut pada antenulla dengan nilai ambang yang sangat rendah. Stimulus cukup berupa gas dengan konsentrasi rendah dan untuk mengenal stimulus yang datang dari sumber yang dekat dengan tubuh terdapat pada palpus maxillaris dan sering pada torsi dengan nilai ambang tinggi. Chemoreseptor berfungsi untuk mendeteksi dan mengetahui adanya makanan dan tempat hidupnya dan juga dipakai untuk mengenal satu sama lain dengan menunjukkan tingkah laku masak kelamin (molting), dan mendeteksi adanya musuh. Rangsang yang berupa aroma pakan diterima antenula yang di dalamnya terdapat rambut-rambut sensori yang berfungsi sebagai reseptor. Reseptor akan menerima dan mengirimkan rangsangan melalui urat syaraf dan tanggapan akan diberikan oleh alat tubuh yang disebut efektor (Raharjo, 2010). Mekanisme stimulus yang sampai ke udang dan diterima oleh organ chemoreseptor adalah senyawa yang terkandung dalam pakan yang dimasukkan ke dalam air akan berdifusi dalam air menjadi bentuk-bentuk ion-ion, sehingga menimbulkan aroma yang khas bagi udang. Rangsangan ini diterima oleh chemoreseptor melalui antenula dan ditransformasi ke otak oleh neuron efferent, kemudian otak akan memprosesnya menjadi tanggapan yang kemudian akan
  8. 8. diteruskan ke organ melalui neuron afferent, selanjutnya organ reseptor melakukan gerakan sesuai informasi dari otak. Berdasarkan mekanisme ini dapat diketahui bahwa organ chemoreseptor udang terletak pada antenulla yang berfungsi untuk merespon kehadiran pakan yang beraroma khas sebagai stimulus zat kimia. Faktor yang mempengaruhi udang mendekati pakan antara lain berupa sensori berupa kimia, cahaya, osmotik, rangsangan mekanik dan adanya chemoreaktant yang dikeluarkan oleh pelet/pakan. Chemostimulan yang dimasukkan pada lingkungan yang terkontrol untuk beberapa spesies Crustaceae, mampu memacu perilaku makan, dan dalam kondisi alami, udang menunjukkan respon rangsangan pada campuran kimia yang sangat sinergis (Raharjo, 2010). Antennula pendek dan antennula panjang adalah struktur gerakan sensoris yang berfungsi untuk menguji dan menerima rangsang dari lingkungan. Rahang bawah yang kuat untuk menghancurkan makanan. Antena tidak memiliki setae chemosensory khusus sedangkan antennula dengan fungsinya yang lebih kompleks memiliki deret-deret setae chemosensory khusus yang berguna untuk mencari jejak sinyal kimia dari makanan lawan jenis dan lingkungannnya. Antennula merupakan alat peraba yang digunakan untuk mendeteksi makanan dan merupakan organ yang paling penting dalam fungsi chemoreseptor pada udang. Kemoreseptor adalah organ vital bagi semua hewan, namun hanya sedikit yang diketahui tentang mekanisme genetik pada organisme akuatik. Cepat lambatnya deteksi pakan dipengaruhi oleh keadaan fisiologi udang, keadaan lingkungan, faktor kimia, tekanan osmosis, dan cahaya. Mata pada udang tidak berfungsi untuk mengenal bentuk, tetapi untuk mengenal sesuatu yang bergerak. Pakan yang diberikan berpengaruh terhadap cepat lambatnya respon. Semakin banyak pakan semakin cepat molekul kimia pakan berdifusi, sehingga semakin cepat stimulus tersebut direspon udang. Antenula udang sangat sensitif terhadap aroma dari molekul kimiawi yang dikeluarkan pakan (Surya, 2010). Menurut Wibowo (2005), udang mempunyai 3 organ chemoreseptor utama yaitu antenulla bagian medial, antenulla bagian lateral dan segmen dactylus probandial dari kaki jalan yang secara fisiologis hampir sama. Organ tersebut dapat berfungsi untuk membau dan merasai. Dua pasang kaki jalan pertama dan reseptor bagian antenulla lateral tidak dilengkapi bulu aesthetase yang mempunyai
  9. 9. fungsi dalam orientasi secara kimia. Beberapa pergerakan pada udang untuk mendekati pakan adalah: 1. Gerakan flicking, yaitu gerakan dimana udang melakukan gerakan pelucutan antenulla ke depan, dan gerakan tersebut berfungsi dalam mencari atau mendekati pakan. 2. Gerakan wipping, yaitu gerakan pembersihan antenulla, dimana gerakan tersebut berfungsi dalam pembersihan setelah mendapatkan makanan atau setelah memakan pakan. 3. Gerakan withdraw, yaitu gerakan dimana udang melakukan gerakan pelucutan ke belakang, dimana gerakan tersebut berfungsi untuk melawan atau menghindari musuh yang akan mendekatinya. 4. Gerakan rotation, yaitu gerakan pemutaran antenulla yang berfungsi untuk mencari sensor kimia. Frekuensi flicking, dipengaruhi oleh keadaan fisiologis udang seperti parameter sensori berupa kimia, cahaya, osmotik,. Chemoreseptor berfungsi untuk mendekati dan mengetahui tempat hidupnya. Chemoreseptor juga digunakan untuk mengenal keberadaan sesamanya dan hewan lain, serta menunjukkan tingkah laku matang kelamin. Fungsi chemoreceptor pada udang (crustacea), adalah sebagai berikut : Sebagai indera pembau, berperan dalam mencari dan menemukan makanan, untuk mengetahui posisi tubuh, sebagai media komunikasi antar hewan yaitu menangkap stimulus kimia berupa feromon dari hewan lawan jenis. Frekuensi flicking dipengaruhi oleh keadaan fisiologis udang seperti, parameter sensori berupa kimia, cahaya osmotik dan rangsangan mekanik. Frekuensi flicking, pelecutan dipengaruhi oleh keadaan fisiologis udang seperti parameter sensori berupa kimia, cahaya, osmotik dan tekanan mekanik. Rotasi antennula berupa pergerakan dari bagian proximal ke bagian medial. Antennula mengarah ke sisi yang sama. Pembersihan antennula berfungsi untuk chemoreceptor yang digunakan untuk mendeteksi senyawa kimia (Surya, 2010).
  10. 10. BAB III BAHAN DAN METODE 3.1 Waktu dan Tempat Praktikum Fisiologi Hewan Air ini dilaksanakan pada tanggal 08 April 2014, pukul 08.00 WIB sampai dengan selesai, bertempat di Laboratorium Terpadu Manajemen Sumberdaya Perairan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan. 3.2 Alat dan Bahan Adapun alat-alat yang digunakan pada praktikum ini antara lain: aquarium sebagai wadah air untuk udang yang masih hidup, stowatch untuk menghitung waktu udang melakukan berbagai gerakan, gunting kecil untukmengablasi mata maupun antenullus udang, air suntuk mengisi aquarium, peralatan tulis untuk mencatat data yang diperoleh Bahan yang digunakan dalam praktikum adalah: udang air tawar yang akan diamati organ yang berfungsi sebagai chemoreseptor dan pellet sbagai pakan ikan. 1.3 Prosedur Praktikum 1. Diisi akuarium dengan air bersih, kemudian dimasukkan pakan pellet ke dalamnya. 2. Diablasi satu mata udang sedangkan udang lain dua diablasi total, ablasi jiga dilakukan pada antenulla. 3. Diamati gerakan udang sampai udang tersebut menyentuh pakan, waktu dihitung. 4. Dilakukan pengamatan sampai 15 menit atau sampai udang mengambil pakan dua atau tiga kali jika diperlukan. 5. Dicatat hasil yang diperoleh.
  11. 11. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil a. Gambar udang b. Data Morfometrik No Nama Pengukuran Cm 1. Panjang Total 4 2 Panjang Antenulla 5 3 Panjang kaki jalan 2.5 4 Chepalatorax 1 c. Tabel Pengamatan Ablasi 1 Mata WAKTU PERLAKUAN FL WD WP RT MP 15’ 08.53 00.10 10.22 00.40 10.58 01.37 11.50 12.10 13.34 13.40 Ablasi 2 Mata Waktu PERLAKUAN FL WD WP RT MP 15’ 08.25 01.05 00.31 01.13 00.54 02.48
  12. 12. Ablasi 1 Antenula WAKTU PERLAKUAN FL WD WP RT MP 15’ 00.23 05.55 03.34 02.22 02.55 06.30 10.15 03.13 08.15 09.12 12.44 13.03 15’’ 00.05 00.40 01.22 01.33 02.00 10.52 03.30 04.00 04.11 04.33 05.05 05.58 07.23 08.17 09.27 10.21 10.53 13.05 13.55 14.24 14.50 14.58 d. Ablasi 2 Antenula WAK TU PERLAKUAN FL WD WP RT MP 15’ 00.45 01.34 02.23 02.45 03.15 04.32 09.32 05.00 06.58 07.52 13.19 15’’ 12.05 01.00 09.59 01.47 10.30
  13. 13. 02.15 11.03 02.21 02.33 02.34 02.52 04.07 04.32 05.05 05.11 05.39 05.57 06.03 06.11 07.53 08.01 08.22 08.42 09.44 10.09 11.59 12.13 12.23 12.32 19.18 Kontrol WAKTU PERLAKUAN FL WD WP RT MP 15’ 00.08 04.17 07.33 00.41 00.59 06.18 09.46 01.24 09.21 07.56 10.28 13.20 10.02 08.40 12.58 13.39 13.53 15’’ 10.42 03.35 05.11 14.09 05.51 09.08 14.24 06.27 14.57 14.42 Keterangan FL (Flicking) : Gerakan Pelucutan Kedepan WD (Withdraw) : Antenula Kebelakang WP (Wipping) : Pembersihan Antenula RT (Rotation) : Memutar Antenula MP : Menuju Pakan
  14. 14. 4.2 Pembahasan Dari hasil praktikum dapat dilihat bahwa udang memiliki bagian-bagian tubuh yang membedakannya dengan yang lain. Menurut literatur Yuniarso (2006), secara morfologis tubuh udang terdiri dari dua bagian, bagian kepala dan bagian dada (cephalothorax) serta bagian perut (abdomen). Udang hidup di dasar perairan, tidak menyukai cahaya terang dan bersembunyi di lumpur pada siang hari, bersifat kanibal terutama dalam keadaan lapar dan tidak ada makanan yang tersedia, mempunyai ekskresi amonia yang cukup tinggi dan untuk pertumbuhan diperlukan pergantian kulit (moulting). Pada saat proses pergantian kerangka baru inilah udang tumbuh dengan pesatnya dan menyerap air lebih banyak sampai kulit luar yang baru mengeras. Dari hasil pengamatan praktikum diketahui bahwa udang memiliki alat chemoreseptor pada organ tubuhnya yang membantunya untuk dapat bertahan hidup. Menurut literatur Wibowo (2005), yang menjelaskan bahwa udang mempunyai 3 organ chemoreseptor utama yaitu antenulla bagian medial, antenulla bagian lateral dan segmen dactylus probandial dari kaki jalan yang secara fisiologis hampir sama. Dua pasang kaki jalan pertama dan reseptor bagian antenulla lateral tidak dilengkapi bulu aesthetase yang mempunyai fungsi dalam orientasi secara kimia. Dan sesuai dengan literatur Raharjo (2010), yang mengatakan bahwa chemoreseptor berfungsi untuk mendeteksi dan mengetahui adanya makanan dan tempat hidupnya dan juga dipakai untuk mengenal satu sama lain dengan menunjukkan tingkah laku masak kelamin (molting), dan mendeteksi adanya musuh. Rangsang yang berupa aroma pakan diterima antenula yang di dalamnya terdapat rambut-rambut sensori yang berfungsi sebagai reseptor. Dari hasil pengamatan praktikum dapat dilihat bahwa pada udang yang matanya diablasi satu dan diablasi total sekalipun masih memiliki kemampuan untuk mendekati pakan. Menurut literatur surya (2010), yang menjelaskan bahwa mata pada udang tidak berfungsi untuk mengenal bentuk, tetapi untuk mengenal sesuatu yang bergerak. Pakan yang diberikan berpengaruh terhadap cepat lambatnya respon. Semakin banyak pakan semakin cepat molekul kimia pakan berdifusi, sehingga semakin cepat stimulus tersebut direspon udang. Antenula
  15. 15. udang sangat sensitif terhadap aroma dari molekul kimiawi yang dikeluarkan pakan. Dari hasil pengamatan praktikum dapat lihat juga pergerakan memanjang dan memendek antenullus dari udang control dan udang yang matanya diablasi sebagai hasil dari respon terhadap pemberian pakan. Menurut literatur Surya (2010), yang menjelaskan bahwa antennula pendek dan antennula panjang adalah struktur gerakan sensoris yang berfungsi untuk menguji dan menerima rangsang dari lingkungan. Rahang bawah yang kuat untuk menghancurkan makanan. Antena tidak memiliki setae chemosensory khusus sedangkan antennula dengan fungsinya yang lebih kompleks memiliki deret-deret setae chemosensory khusus yang berguna untuk mencari jejak sinyal kimia dari makanan lawan jenis dan lingkungannnya. Antennula merupakan alat peraba yang digunakan untuk mendeteksi makanan dan merupakan organ yang paling penting dalam fungsi chemoreseptor pada udang. Kemoreseptor adalah organ vital bagi semua hewan, namun hanya sedikit yang diketahui tentang mekanisme genetik pada organisme akuatik. Pada udang kontrol waktu bertahan hidup lebih lama serta gerakan lebih aktif bila dibandingkan dengan perlakuan udang yang diablasi antenullus dan matanya. Udang melakukan berbagai gerakan-gerakan sebagai respon terhadap kondisi lingkungannya. Menurut literatur Wibowo (2005), yang menjelaskan bahwa berbagai gerakan udang untuk merespon pakan yang diberikan yaitu gerakan flicking, gerakan wipping, gerakan withdraw, dan gerakan rotation. Frekuensi flicking, dipengaruhi oleh keadaan fisiologis udang seperti parameter sensori berupa kimia, cahaya, osmotic dan tekanan mekanik. Rotasi antennula berupa pergerakan dari bagian proximal ke bagian medial. Antennula mengarah ke sisi yang sama. Pembersihan antennula berfungsi untuk chemoreseptor yang digunakan untuk mendeteksi senyawa kimia.
  16. 16. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Adapun kesimpulan dari hasil praktikum ini adalah : 1. Tubuh udang terdiri dari dua bagian yaitu bagian kepala dan bagian dada (cephalothorax) serta bagian perut (abdomen). Udang hidup di dasar perairan, tidak menyukai cahaya terang dan bersembunyi di lumpur pada 2. Udang mempunyai 3 organ chemoreseptor utama yaitu antenulla bagian medial, antenulla bagian lateral dan segmen dactylus probandial dari kaki jalan yang secara fisiologis hampir sama. 3. Antennula merupakan alat peraba yang digunakan untuk mendeteksi makanan dan merupakan organ yang paling penting dalam fungsi chemoreseptor pada udang. 4. Mata pada udang tidak berfungsi untuk mengenal bentuk, tetapi untuk mengenal sesuatu yang bergerak, pakan yang diberikan berpengaruh terhadap cepat lambatnya respon. 5. Berbagai gerakan udang untuk merespon pakan yang diberikan yaitu gerakan flicking, gerakan wipping, gerakan withdraw, dan gerakan rotation, frekuensi flicking dipengaruhi oleh keadaan fisiologis udang seperti parameter sensori berupa kimia, cahaya, osmotik dan tekanan mekanik. 5.2 Saran Dalam pelaksanaan praktikum sebaiknya peralatan dan bahan yang digunakan harus lengkap dan sesuai dengan prosedur kerja agar pelaksanaan praktikum dapat berjalan dengan baik dan hasil yang diperoleh lebih maksimal.
  17. 17. DAFTAR PUSTAKA BPP Teknologi. 2001. Budidaya Udang Windu (Palaemonidae / Penaeidae). Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Jakarta. Didi, A. 2010. Biologi Crustacea. Laborarium Kimia Fisik. Jurusan Kimia Fakultas Mipa. Universitas Diponegoro, Semarang. Guspandi, F dan Riko, J. 2005. Sistem Saraf Hewan. Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan. Fakultas Pertanian. Universitas Hasanuddin, Makassar. Raharjo, G. A. 2010. Fungsi Chemoreseptor Pada Udang. Kementerian Pendidikan Nasional Universitas Jenderal Soedirman Fakultas Biologi, Purwokerto. Surya, H. 2010. Fungsi Chemoreseptur pada Udang (Macrobrachium rosenbergii. Fakultas FMIPA. Jurusan Biologi. Universitas Sumatera Utara, Medan. Suwarni. 2008. Optimalisasi Proses Belajar Mengajar Mata Kuliah Avertebrata Air Yang Berbasis Scl (Students Center Learning). Program Studi Manajemen Sumber Daya Hayati Perairan. Fakultas Ilmu Kelautan Dan Perikanan. Universitas Hasanuddin, Makassar. Pranata Yoga. 2008. Udang. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Diponegoro, Semarang. Tommy Yuniarso. 2006. Peningkatan Kelangsungan Hidup, Pertumbuhan, dan Daya Tahan Udang Windu (Penaeus Monodon Fab.) Stadium Pl 7 – Pl 20 Setelah Pemberian Silase Artemia yang Telah Diperkaya dengan Silase Ikan. Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Wibowo, L. 2005. Fungsi Chemoreseptor Pada Lobster. Universitas Hasanuddin, Makassar.

×