Minggu V Vii

4,723 views

Published on

Published in: Education
0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
4,723
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
18
Actions
Shares
0
Downloads
279
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Minggu V Vii

  1. 1. E pidemiolog i & Pengendalian Penyakit Tumhunan Konsep Epidemiologi Epi = merusak DEMOS = masyarakat Definisi epidemik (harfiah) = yang merusak banyak individu dalam suatu populasi/komunitas dari suatu daerah pada waktu yang bersamaan Definisi or a ng awam = Ledakan/perkembangan penyakit yang cepat dan mendadak
  2. 2. Definisi <ul><li>Epidemiologi Penyakit Tumbuhan : </li></ul><ul><li>Suatu ilmu yang mempelajari penyakit tumbuhan dalam suatu populasi </li></ul><ul><li>Suatu ilmu yang mempelajari faktor lingkungan yang mempengaruhi tingkat dan penyebaran penyakit dalam suatu populasi tumbuhan </li></ul><ul><li>Suatu ilmu yang mempelajari perubahan kecepatan yang mengurangi/menambah jumlah per satuan waktu/ruang atau keduanya </li></ul>
  3. 3. <ul><li>● Endemik adalah suatu penyakit yang keberadaannya terus-menerus dan terdapat merata pada suatu tempat </li></ul><ul><li>● Sporadik adalah suatu penyakit yang hanya terdapat di sana sini dan tidak meningkat di suatu tempat </li></ul><ul><li>● Pandemik adalah suatu penyakit yang terdapat merata di seluruh benua/dunia </li></ul>
  4. 4. <ul><li>1. KOMPONEN EPIDEMIK PENY AKIT TUMBUHAN </li></ul><ul><li>Konsep penyakit: Disease Triangle </li></ul><ul><li>Inang </li></ul><ul><li>Patogen </li></ul><ul><li>Lingkungan </li></ul><ul><li>Konsep Epidemik Penyakit: Piramida Penyakit </li></ul><ul><li>5 komponen: </li></ul><ul><li>Populasi Inang (I) </li></ul><ul><li>Populasi Patogen (P) </li></ul><ul><li>Lingkungan (Biotik & Abiotik) (L) </li></ul><ul><li>Waktu (W) </li></ul><ul><li>Manusia (M) </li></ul>L P I M P I L W
  5. 5. Peranan Patogen dalam Epidemik <ul><li>Perubahan tanaman (introduksi, hasil pemuliaan dll) perubahan ketahanan tanaman </li></ul><ul><li>EKOSISTEM ALAMI I, P, L dalam keseimbangan yang dinamis </li></ul>Yang mempengaruhi adalah:- populasi meningkat monokulture Ekosistem rusak Inang Baru & Patogen Baru M a nusia harus dapat mengelola I, L, P dikendalikan
  6. 6. Peranan Waktu dalam Epidemik <ul><li>Elemen segitiga penyakit belum cukup menguraikan epdemik penyakit, karena ada penyakit yang berkembang lebih cepat pada musim tertentu dibandingkan pada musim lainnya </li></ul>Peran waktu Musim (iklim micro-macro) Umur Tanaman Musiman dan tahunan Peranan Manusia dalam Epidemik Manusia Tanaman Monukulture/polikulture, musim tanam, pemuliaan, hidroponi/aeroponik Patogen Fungisida, Rumah kaca, bioteknolgi Lingkungan D eforesty erosi, banjir , O zon , pemanasan global Rumah kaca Waktu Waktu tanam, tumpang sari, rotasi tanam
  7. 7. <ul><li>2. Unsur-unsur Epidemi </li></ul><ul><ul><li>a. Tumbuhan Inang </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>ketahanan/kerentanan genetik inang </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>keseragaman genetik untuk ketahanan penyakit </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>tipe tanaman </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>umur tanaman </li></ul></ul></ul>
  8. 8. <ul><ul><li>b. Patogen </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>virulensi </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>jumlah inokulum </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>reproduksi patogen </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>ekologi patogen </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>penyebaran patogen </li></ul></ul></ul><ul><ul><li>c. Lingkungan </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>Kelembaban </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>suhu </li></ul></ul></ul>
  9. 9. <ul><ul><li>Cara Bercocok Tanam </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>Pemilihan bahan tanaman </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Kultur teknis </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Cara pengendalian </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Introduksi patogen baru </li></ul></ul></ul>
  10. 10. <ul><li>3. Pola epidemi </li></ul><ul><ul><ul><li>Kurva perkembangan penyakit </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Kurva tingkatan penyakit </li></ul></ul></ul>
  11. 11. A. Norma distribusi Hubungan kepadatan inokulum dan keparahan penyakit menyebar normal B. True Logarithmic scale P ertambahan inokulum akan meningkatkan infeksi dalam skala log (perkembangan dengan cepat) C. Sinergi slope P ertambahan penyakit semakin cepat dengan adanya perubahan pertambahan kepadatan inokulum yang sedikit saja- karena ada sinergis D. Transitional scale Pertumbuhan penyakit mulai lambat, kapasitas inang berkurang, walaupun pertumbuhan inokulum tetap besar . ..CHAP32LATEBLIT.EXE Kurva perkembangan penyakit A. Norm distr. B. True logarithmic scale C. sinergistic slope D. Transitional scale
  12. 12. <ul><li>Rumus Epidemi </li></ul><ul><ul><li>a. Penyakit berbunga sederhana (penyebaran lambat) </li></ul></ul><ul><li>Xt =Xo (1+rt) </li></ul><ul><ul><li>b. Penyakit berbunga majemuk (penyebaran cepat) </li></ul></ul><ul><li>Xt=Xo .ert </li></ul><ul><li>Xt banyaknya tanaman sakit setelah jangka waktu t </li></ul><ul><li>Xo banyaknya tanaman sakit mula-mula (t=O) </li></ul><ul><li>e bilangan alam (2, 7182) </li></ul><ul><li> r laju infeksi </li></ul><ul><li> t jangka waktu berkangsungnya epidemi </li></ul>
  13. 13. ADA APA ANTARA POLISIKLIK DAN MONOSIKLIK? <ul><li>Tipe epidemik </li></ul><ul><li>Monosiklik </li></ul><ul><li>Polisiklik </li></ul>Mono siklik: Patogen berkembang dengan menginfeksi tanaman dalam satu siklus contoh Virus, Nematoda, Bakteri Poli siklik: inokulum primer mengifeksi inang, kemudian produksi inokulum/sekunder, patogen digunakan untuk infeksi dalam siklus sekunder dan siklus sekunder bisa berulang. Conto:Bercak, Hawar daun
  14. 14. <ul><li>Polisiklik </li></ul><ul><li>a) inokulum bertambah dengan cepat </li></ul><ul><li>b) perkembangannya bersifat logaritmik atau eksponensial </li></ul><ul><li>c) bagian tanaman atau tanaman yang mula-mula terkena infeksi </li></ul><ul><li>menjadi sumber infeksi bagi individu tanaman lain di sekitarnya </li></ul><ul><li>d) nilai laju infeksi (r) mula-mula kecil, tetapi dengan cepat naik </li></ul><ul><li>bercak di daun menjadi sumber infeksi bagi individu tanaman lain </li></ul><ul><li>Monosiklik </li></ul><ul><li>inokulum relatif tetap, </li></ul><ul><li>tidak berkembang cepat, </li></ul><ul><li>sumber infeksi tetap satu tanaman </li></ul><ul><li>laju infeksi selalu rendah </li></ul>
  15. 15. LAJU INFEKSI PENYAKIT POLISIKLIK <ul><li>r = 1/ t2 –t1 (ln x 2 / 1- x 2 – ln x 1/1- x 1) </li></ul><ul><li>r adalah laju infeksi, </li></ul><ul><li>t adalah waktu pengamatan (dan angka yang mengikuti t adalah </li></ul><ul><li>waktu pengamatan yang ke..) </li></ul><ul><li>x adalah proporsi bagian tanaman atau bagian dari populasi </li></ul><ul><li>tanaman yang terkena infeksi atau sakit, </li></ul><ul><li>1 – x adalah bagian atau populasi tanaman sehat. </li></ul>
  16. 16. Kurva perkembangan penyakit patogen polisiklik berbentuk “S” (sigmodi). Time Disease LOGISTIC GROWTH
  17. 17. Kurva perkembangan penyakit patogen monosiklik TIME DISEASE SEVERITY
  18. 18. <ul><li>5. Simulasi komputer epidemi </li></ul><ul><li>● Membuat program simulasi epidemi penyakit tumbuhan </li></ul><ul><li>● Macam-macam program simulasi komputer </li></ul><ul><ul><ul><li>EPIDEM (penyakit hawar awal tomat) </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>MYCOS (penyakit hawar Krisantenum) </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>EPICORN (penyakit hawar daun selatan jagung) </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>EPIVEN (penyakit kudis apel) </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>EPIDEMIC (penyakit karat gandum -> bisa dimodifikasi untuk inang-patogen lain) </li></ul></ul></ul>
  19. 19. <ul><li>Peramalan Datangnya Epidemi </li></ul><ul><li>Sistem peramalan didasarkan kepada: </li></ul><ul><ul><ul><li>Pengamatan faktor cuaca (kelembaban udara dan sinar matahari) </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Pengamatan biologis patogen (kerapatan spora patogen di udara dan popluasi vektor serangga) </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Stadium penyakit yang penting </li></ul></ul></ul>
  20. 20. Perkembangan Epidemic dipengaruhi oleh: <ul><li>Environmental factors </li></ul><ul><li>Rate of pathogen reproduction </li></ul><ul><li>Mode of pathogen dispersal </li></ul><ul><li>Efficiency of pathogen survival </li></ul><ul><li>Level of aggressiveness of the pathogen </li></ul><ul><li>Level of host plant resistance </li></ul>
  21. 21. Apa kegunaan epidemiology ? <ul><li>1 – Model disease progress </li></ul><ul><li>2 – Assess effectiveness of alternative control measures </li></ul><ul><li>3 – Predict disease spread </li></ul><ul><li>4 – Predict yield loss </li></ul><ul><li>5 – Disease forecasting </li></ul>
  22. 22. APA GUNA PERAMALAN PENYAKIT? <ul><li>PERAMALAN </li></ul><ul><li>mendasari langkah pengelolaan pertanaman atau khususnya </li></ul><ul><li>pengendalian penyakit yang akan dilakukan </li></ul><ul><li>DASAR PERAMALAN </li></ul><ul><li>Cuaca antar musim tanam </li></ul><ul><li>Cuaca selama musim tanam </li></ul><ul><li>Banyaknya penyakit pada pertanaman muda </li></ul><ul><li>Jumlah inokulum di udara, di tanah, di bahan tanaman </li></ul>
  23. 23. FAKTOR YANG DIBUTUHKAN UNTUK PERAMALAN <ul><li>Pengetahuan mengenai siklus hidup patogen yang meliputi cara </li></ul><ul><li>patogen beristirahat, cara menyebar, dan cara menginfeksi, </li></ul><ul><li>Pengetahuan tentang tingkat kerentanan tanaman dalam berbagai stadia pertumbuhan (umur kritis tanaman terhadap infeksi suatu patogen) </li></ul><ul><li>Data penunjang yang meliputi data cuaca di pertanaman </li></ul>
  24. 24. Contoh PERAMALAN <ul><ul><ul><ul><li>Bakteri Erwinia stewartii penyebab layu pada jagung </li></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><li>Bertahan selama musim dingin pada kumbang flea dewasa. </li></ul></ul></ul></ul><ul><li>Suhu tinggi atau hangat di musim salju melindungi kumbang flea </li></ul><ul><li>dari kepunahan. </li></ul><ul><li>Bakteri yang bertahan pada serangga ini akan menjadi sumber </li></ul><ul><li>inokulum untuk epidemi pada musim semi dan panas berikutnya. </li></ul><ul><li>Epidemi penyakit layu stewartii pada jagung diramalkan terjadi jika </li></ul><ul><li>jumlah suhu rata-rata bulanan yang terjadi di bulan Desember, </li></ul><ul><li>Januari, dan Februari mencapai angka indeks 100 atau lebih. </li></ul><ul><li>Jika angka indeks di bawah 90 tidak terjadi penyakit layu, </li></ul><ul><li>Jika antara 90 dan 100 serangan bakteri tidak parah. </li></ul>
  25. 25. PERANGKAP SPORA <ul><li>PENANGKAPAN KONIDIA DI LABORATORIUM </li></ul><ul><li>POTONGAN DAUN SAKIT SEGAR DISUNGKUP GELAS </li></ul><ul><li>TANAMAN KECIL SAKIT DI POT DISUNGKUP GELAS </li></ul><ul><li>KELEMBABAN DI BAWAH SUNGKUP DIJAGA </li></ul><ul><li>TIAP JAM DIMASUKKAN 4 GELAS OBYEK BERGLISERIN </li></ul><ul><li>SUHU PEMBENTUKAN KONIDIA KURANG 24C </li></ul><ul><li>PENANGKAPAN KONIDIA DI LAPANGAN </li></ul><ul><li>TIAP JAM DIPASANG 8 GELAS OBYEK BERGLISERIN DI BAWAH TANAMAN SAKIT </li></ul><ul><li>PENGAMATAN MALAM HARI SESUAI TERJADINYA EMBUN PUKUL 21 dan 22 MALAM, SPORA TERPERANGKAP TERBANYAK PUKUL 2dan 3 MALAM, PERANGKAPAN SPORA BERAKHIR PUKUL 6 PAGI </li></ul>
  26. 26. PENGENDALIAN PENYAKIT TUMBUHAN
  27. 27. Pengelolaan vs Pengendalian <ul><li>Pengelolaan </li></ul><ul><li>- Ada perencanaan </li></ul><ul><li>- Ada aspek ekonomi dan ekologi </li></ul><ul><li>- Menekan OPT sampai batas yang tidak merugikan </li></ul><ul><li>- Memadukan beberapa teknik pengendalian pada </li></ul><ul><li>berbagai waktu yang berbeda, dll </li></ul><ul><li>Pengendalian </li></ul><ul><li>- Dilakukan setelah ada penyakit </li></ul><ul><li>- Menggunakan 1 cara pengndalian </li></ul><ul><li>- Cenderung ke-eradikasi </li></ul>
  28. 28. Traditional Principles of Plant Disease Control <ul><li>Avoidance — prevent disease by selecting a time of the year or a site where there is no inoculum or where the environment is not favorable for infection. </li></ul><ul><li>Exclusion — prevent the introduction of inoculum. </li></ul><ul><li>Eradication — eliminate, destroy, or inactivate the inoculum. </li></ul><ul><li>Protection — prevent infection by means of a toxicant or some other barrier to infection. </li></ul><ul><li>Resistance — utilize cultivars that are resistant to or tolerant of infection. </li></ul><ul><li>Therapy — cure plants that are already infected. </li></ul>
  29. 29. Strategies vs Tactics Example; We can reduce the initial inoculum with seed treatment, crop rotation, and host eradication Strategy Tactics
  30. 30. The Epidemiological Basis of Disease Management <ul><li>Model Monosiklis </li></ul><ul><li>Model Polisiklis </li></ul>
  31. 31. Implications <ul><li>Examining these models, we can see that in both there are three ways in which we can reduce x at any point in the epidemic: </li></ul><ul><li>Reduce the rate of infection ( R in the monocyclic model and r in the polycyclic model) </li></ul><ul><li>Reduce the duration of the epidemic (the time, t , at the end of the epidemic) </li></ul><ul><li>Reduce the initial inoculum ( Q in the monocyclic model and x 0 in the polycyclic model). (Actually x 0 is the initial incidence of disease, which is proportional to the initial inoculum.) </li></ul>
  32. 32. The monocyclic model <ul><li>It is clear from the above model of a monocyclic epidemic that Q , R , and t have equal weight in their effect on x . A reduction in the initial inoculum or the rate of infection will result in a reduction in the level of disease by the same proportion at any time, t , throughout the epidemic. If t can be reduced (for example, by shortening the season), disease will be reduced proportionately. </li></ul>
  33. 33. The polycyclic model <ul><li>If r is very high, the apparent effect of reducing x 0 is to delay the epidemic. </li></ul><ul><li>If r is very high, x 0 must be reduced to very low levels to have a significant effect on the epidemic. </li></ul><ul><li>Reducing r has a relatively greater effect on the epidemic than reducing x 0 . </li></ul><ul><li>Reducing x 0 makes good strategic sense only if r is low or if r is also being reduced </li></ul>
  34. 34. The Traditional Principles Revisited <ul><li>To make the conceptual leap from disease control to disease management, the traditional principles can be modified by fitting them as tactics within each of the three major disease management strategies and by slightly changing the wording to reflect the quantitative impact of the action rather than an absolute effect: </li></ul>
  35. 35. Tactics for the Reduction of Initial Inoculum <ul><li>Avoidance — reduce the level of disease by selecting a season or a site where the amount of inoculum is low or where the environment is unfavorable for infection </li></ul><ul><li>Exclusion — reduce the amount of initial inoculum introduced from outside sources </li></ul><ul><li>Eradication — reduce the production of initial inoculum by destroying or inactivating the sources of initial inoculum (sanitation, removal of reservoirs of inoculum, removal of alternate hosts, etc.) </li></ul><ul><li>Protection — reduce the level of initial infection by means of a toxicant or other barrier to infection </li></ul><ul><li>Resistance — use cultivars that are resistant to infection, particularly the initial infection </li></ul><ul><li>Therapy — use thermotherapy, chemotherapy and/or meristem culture to produce certified seed or vegetative planting stock </li></ul>
  36. 36. Tactics for the Reduction of the Infection Rate <ul><li>Avoidance — reduce the rate of production of inoculum, the rate of infection, or the rate of development of the pathogen by selecting a season or a site where the environment is not favorable </li></ul><ul><li>Exclusion — reduce the introduction of inoculum from external sources during the course of the epidemic </li></ul><ul><li>Eradication — reduce the rate of inoculum production during the course of the epidemic by destroying or inactivating the sources of inoculum (roguing) </li></ul><ul><li>Protection — reduce the rate of infection by means of a toxicant or some other barrier to infection </li></ul><ul><li>Resistance — plant cultivars that can reduce the rate of inoculum production, the rate of infection, or the rate of pathogen development </li></ul><ul><li>Therapy — cure the plants that are already infected or reduce their production of inoculum </li></ul>
  37. 37. Tactics for the Reduction of the Duration of the Epidemic <ul><li>Avoidance — plant early maturing cultivars or plant at a time that favors rapid maturation of the crop </li></ul><ul><li>Exclusion — delay the introduction of inoculum from external sources by means of plant quarantine </li></ul>
  38. 38. <ul><li>C. Prinsip-prinsip utama sebagai pijakan dalam pengelolaan penyakit tumbuhan </li></ul><ul><ul><li>Eksklusi; mencegah masuknya patogen dari suatu negara/daerah ke negara/daerah lain. </li></ul></ul><ul><ul><li>Eradikasi; memusnahkan patogen yang baru masuk ke suatu negara/daerah </li></ul></ul><ul><ul><li>Perbaikan ketahanan tanaman/imunisasi, meningkatkan ketahanan tanaman terhadap patogen </li></ul></ul><ul><ul><li>Proteksi langsung; melindungi tanaman secara langsung tehadap serangan patogen. </li></ul></ul>
  39. 39. <ul><li>Cara-cara pengelolaan penyakit tumbuhan </li></ul><ul><ul><li>Pengendalian penyakit tumbuhan dengan peraturan perundangan </li></ul></ul><ul><li>Pemerintah membuat peraturan-peraturan berdasarkan undang-undang untuk mencegah masuknya patogen dari suatu negara/daerah ke negara/daerah lain atau meniadakan patogen yang baru masuk ke dalam negeri/daerah (karantina tumbuhan) </li></ul><ul><ul><li>2. Pengendalian dengan cara kultura </li></ul></ul><ul><li>Menghindarkan tanaman berkontak dengan patogen secara kultur teknis yang baik (pemakaian bibit/tanah bebas penyakit, pengaturan jarak tanam, pengaliran tanaman dan lain-lain). </li></ul>
  40. 40. <ul><ul><li>Pengendalian secara biologis </li></ul></ul><ul><li>Mempebaiki ketahanan tanaman dengan pemulyaan tanaman atau menggunakan organisme lain untuk mengurangi populasi patogen. </li></ul><ul><ul><li>4. Pengendalian secara fisika </li></ul></ul><ul><li>Pengendalian patogen dengan cara pemanasan/pendinginan (suhu) dan radiasi </li></ul>
  41. 41. <ul><ul><li>Pengendalian secara kimia </li></ul></ul><ul><li>Pengendalian patogen dengan menggunakan senyawa-senyawa kimia yang bersifat toksik terhadap patogen (fungisida mengendalikan jamur, bakterisida mengendalikan bakteri; nematisida mengendalikan nematoda) </li></ul>
  42. 42. <ul><li>Pengendalian Terpadu </li></ul><ul><ul><li>Berdasarkan undang-undang No.12 tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman telah dibuat peraturan pemerintah No.6 tahun 1995 tentang Perlindungan tanaman yang antara lain memuat Pengendalian Terpadu. </li></ul></ul>
  43. 43. <ul><li>2. Pengendalian Terpadu adalah upaya mengendalikan tingkat populasi atau tingkat serangan organisme pengganggu tumbuhan (opt) dengan menggunakan satu atau lebih teknik pengendalian yang dikembangkan dalam satu kesatuan untuk mencegah dan mengurangi timbulnya kerugian secara ekonomis dan kerusakan lingkungan hidup </li></ul>
  44. 44. Avoidance of the pathogen <ul><li>Choice of geographic area </li></ul><ul><li>Choice of planting site in local area </li></ul><ul><li>Choice of planting date </li></ul><ul><li>Use Disease-free planting stock </li></ul><ul><li>Modification of cultural practice </li></ul>
  45. 45. Exclusion of the pathogen <ul><li>Treatment of seed or planting material </li></ul><ul><li>Inspection or certification </li></ul><ul><li>Elusion or restriction by plant quarantine </li></ul><ul><li>Elimination of insect vector </li></ul>
  46. 46. Eradication of the pathogen <ul><li>Biological control </li></ul><ul><li>Crop rotation </li></ul><ul><li>Removal and destruction of susceptible plants or diseased parts of plants </li></ul><ul><li>- Elimination of alternate host and weed host </li></ul><ul><li>- Sanitation </li></ul><ul><li>Heat and chemical treatments applied to planting stock </li></ul><ul><li>Soil treatment </li></ul>
  47. 47. Protection of the plant <ul><li>Spraying or dusting and treatment of plant propagules to protect against infection </li></ul><ul><li>Controlling the insect vectors of pathogen </li></ul><ul><li>Modification of the environment </li></ul><ul><li>Cross protection </li></ul><ul><li>Modification of nutrition </li></ul>
  48. 48. Development of resistant host <ul><li>Selection or breeding </li></ul><ul><li>- Vertical resistance </li></ul><ul><li>- Horizontal resistance </li></ul><ul><li>- Two-dimensional resistance </li></ul><ul><li>- Population resistance (multilines) </li></ul><ul><li>Resistance by chemotherapy </li></ul><ul><li>Resistance through nutrition </li></ul>
  49. 49. Therapy applied to the disease plant <ul><li>Chemotherapy </li></ul><ul><li>Heat treatment </li></ul><ul><li>Surgery </li></ul>

×