Skripsi syukron 072211016

4,515 views

Published on

0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
4,515
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
168
Actions
Shares
0
Downloads
44
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Skripsi syukron 072211016

  1. 1. TINJAUAN HUKUM PIDANA ISLAM TERHADAP PUTUSAN PENGADILAN NEGERI SEMARANG NO.465/PID.B/2010/PN.SMG TENTANG PENCURIAN KOTAK AMAL MASJID SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Tugas dan Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Program 1 (S1) Ilmu Syari’ah Jurusan Jinayah Siyasah Di susun Oleh: AHMAD SYUKRON MA’MUN NIM. 072211016 FAKULTAS SYARIAH INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO 2012 i
  2. 2. DEPARTEMEN AGAMA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG FAKULTAS SYARI’AH SEMARANG Jl.Raya Boja Km.2 Ngaliyan Telp/Fax. (024) 7601291 Semarang 50185 PERSETUJUAN PEMBIMBINGLamp. : 4 (empat) eks.Hal : Naskah Skripsi An. Sdr. Ahmad Syukron Ma’mun Kepada Yth. Dekan Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo Assalamu’alaikum Wr. Wb. Setelah saya meneliti dan mengadakan perbaikan seperlunya, bersama ini saya kirim naskah skripsi Saudara: Nama : Ahmad Syukron Ma’mun Nim : 072211016 Jurusan : Jinayah Siyasah Judul skripsi : TINJAUAN HUKUM PIDANA ISLAM TERHADAP PUTUSAN PENGADILAN NEGERI SEMARANG N0.465/PID.B/2010/PN.SMG TENTANG PENCURIAN KOTAK AMAL MASJID Dengan ini saya mohon kiranya skripsi Saudara tersebut dapat segera dimunaqosyahkan. Demikian harap menjadikan maklum. Wassalamu’alaikum Wr. Wb. Semarang, 21 Mei 2012 ii
  3. 3. DEPARTEMEN AGAMA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG FAKULTAS SYARI’AH SEMARANG Jl.Raya Boja Km.2 Ngaliyan Telp/Fax. (024) 7601291 Semarang 50185 PENGESAHANSkripsi saudara:Nama : Ahmad Syukron Ma’munNim : 072211016Jurusan : Jinayah SiyasahJudul skripsi : TINJAUAN HUKUM PIDANA ISLAM TERHADAP PUTUSAN PENGADILAN NEGERI SEMARANG N0.465/PID.B/2010/PN.SMG TENTANG PENCURIAN KOTAK AMAL MASJID Telah dimunaqosahkan oleh dewan penguji fakultas syariah IAINWalisongo semarang, dan di nyatakan lulus pada tanggal : 11 Juni 2012 Dan dapat diterima sebagai pelengkap ujian akhir program Sarjana (S.I)tahun akademik 2012/2013 guna memperoleh Gelar Sarjana Strata I dalam ilmuSyariah Semarang, 11 juni 2012 iii
  4. 4. MOTTO“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalumenegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlahsekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlakutidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. danbertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yangkamu kerjakan”. (QS. AL-MAIDAH : 8) iv
  5. 5. v
  6. 6. DeklarasiDengan penuh kejujuran dan tanggung jawab, penyusun menyatakan bahwaskripsi ini tidak berisi materi yang pernah ditulis oleh orang lain atau diterbitkan.Dan skripsi ini tidak berisi satu pun pikiran-pikiran orang lain, kecuali informasiyang terdapat dalam referensi yang dijadikan bahan rujukan oleh penulis. Semarang, 11 Juni 2012 Deklarator, Ahmad Syukron Ma’mun vi
  7. 7. ABSTRAK Skripsi ini membahas Tinjauan Hukum Pidana Islam terhadap PutusanPengadilan Negeri Semarang no.465/pid.b/2010/pn.smg tentang Pencurian Kotakamal Masjid. Kajiannya dilatar belakangi oleh putusanNo.465/Pid.B/2010/PN.Smg, terdakwa Salim Bin Asropi hanya dijatuhi hukumanpenjara selama enam bulan dan dikenakan biaya perkara sebesar seribu rupiah.Padahal tindak pidana ini termasuk kategori pencurian dalam keadaanmemberatkan karena pencurian ini melanggar pasal 363 ayat (1) ke-4 dan ke-5KUHP, dan di ancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun. Akan tetapidalam putusannya bertolak belakang. Adapun tujuan penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui bagaimana dasarpertimbangan Hakim terhadap Putusan Pengadilan Negeri SemarangNo.465/Pid.B/2010/PN.Smg tentang Pencurian Kotak Amal Masjid, (2) untukmengetahui bagaimana Tinjauan Hukum Pidana Islam terhadap PutusanPengadilan Negeri Semarang No.465/Pid.B/2010/PN.Smg tentang PencurianKotak Amal Masjid. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research) yangdatanya diperoleh dari data dokumen dari Putusan Pengadilan Negeri SemarangNo.465/Pid.B/2010/PN.Smg tentang Pencurian Kotak Amal Masjid. Sumber dataprimer dalam penelitian ini yaitu Putusan Pengadilan Negeri SemarangNo.465/Pid.B/2010/PN.Smg tentang Pencurian Kotak Amal Masjid. Kemudianuntuk sumber data sekunder yaitu wawancara dengan Hakim tentangpertimbangan-pertimbangan pemutusan. tindak pidanaNo.465/Pid.B/2010/PN.Smg. Dalam pengumpulan data penulis menggunakanmetode dokumentasi dan wawancara. Metode dokumentasi digunakan untukmengetahui putusan No.465/Pid.B/2010/PN.Smg dan metode wawancaradigunakan mengetahui pertimbangan-pertimbangan pemutusan Tindak PidanaNo.465/Pid.B/2010/PN.Smg. Teknik analisis data yang penulis gunakan adalahanalisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukan Pertama, bahwa pertimbangan putusanhukuman yang di lakukan hakim Pengadilan Negeri Semarang dalam tindakpidana Nomor: 465/Pid. B/2010/PN.Smg, pertimbangan Hakim dalam pemutusantindak pidana ini adalah: pertimbangan sifat baik dan jahat dari terdakwa,pertimbangan kasus ringan dan beratnya. Kemudian pertimbangan terdakwamasih mempunyai tanggungan keluarga. Dengan pertimbangan itu, tuntutanpenuntut umum yang awalnya 8 bulan berubah menjadi 6 bulan. Hukuman yangdi putuskan adalah hukuman yang mengandung pembinaan agar terdakwa jera.Kedua, bahwa menurut hukum pidana Islam dalam putusan tersebut masuk dalamkategori pencurian tidak sempurna karena terdakwa tidak dapat dihukum potongtangan namun cukup dengan hukuman ta’zir. Ini dikarenakan tidak terpenuhinyasyarat-syarat pencurian yaitu barang yang diambil tidak mencapai nishab.Sehingga hukuman yang diberikan dalam Hukum Pidana Islam sesuai hukumanyang diberikan oleh Pengadilan Negeri Semarang yaitu hukuman ta’zir berupahukuman penjara atau kurungan. vii
  8. 8. KATA PENGANTARAssalamu’alaikum Wr Wb. Puji Syukur penyusun haturkan kepada Allah S.W.T yang telahmemberikan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya, serta nikmat bagi hambanya ini danbagi umat di dunia ini sehingga kita bisa menjalankan kehidupan dengan tenangdan damai. Shalawat beserta Salam penyusun haturkan kepada Nabi MuhammadSAW yang kita nanti-nantikan syafa’at serta hidayahnya di hari akhir nanti. Penyusun menyadari bahwa tulisan ini masih sangat sederhana untukdikatakan sebagai sebuah skripsi, sehingga saran dan kritik sangat penyusunharapkan dari para pembaca. Penyusun yakin, skripsi ini tidak akan selesai tanpamotifasi, bantuan, dan arahan dari berbagai pihak baik moril maupun materil,langsung maupun tidak langsung. pada kesempatan ini, penyusun inginmengucapkan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada:1. Prof. Dr. H. Muhibbin, M. Ag. Selaku Rektor IAIN Walisongo Semarang2. Dr. Imam Yahya, M.Ag, selaku Dekan Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo Semarang.3. Drs. Moh. Solek, M.A, selaku Kajur Siyasah Jinayah4. Prof. Dr. H. Muslich Shabir, M.A, selaku Dosen Pembimbing I yang dengan Ikhlas meluangkan waktu disela-sela kesibukannnya untuk membantu, mengarahkan, dan membimbing penyusun dalam penulisan maupun penyelesaian skripsi ini.5. Ibu Maria Ana Muryani, SH. MH selaku Dosen Pembimbing II yang selalu meluangkan waktunya untuk memberikan arahan dan bimbingan dalam penyusunan skripsi ini serta selalu memotivasi penyusun dalam menyelesaikan skripsi ini.6. Bapak serta Ibu tercinta yang telah mencurahkan semuanya kepada penyusun dalam mengarungi bahtera kehidupan, yang telah mengajarkan sebuah perjuangan hidup untuk menggapai sebuah kemapanan. viii
  9. 9. 7. Kakak dan adik-adikku tercinta yang selalu memberikan semangat dan tempat berbagi dalam segala senang dan duka.8. Teman-teman paket SJB angkatan 2007 yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu jangan pernah lupakan masa-masa kebersamaan kita dikala senang dan duka dan jangan pernah berhenti berkarya. Penyusun tidak mungkin mampu membalas segala budi baik yang telahbeliau-beliau curahkan, namun hanya ribuan terima kasih teriring do’a yangmampu penyusun sampaikan, semoga seluruh amal kebaikan merekamendapatkan balasan yang setimpal dan berlimpah dari Allah SWT. Akhir kata, penyusun berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagisemua pihak, khususnya bagi kalangan insan akademis. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.Wassalamu’alaikum Wr Wb. Semarang, 11 Juni 2012 Penulis, Ahmad Syukron Ma’mun ix
  10. 10. DAFTAR ISIHALAMAN JUDUL SKRIPSI .................................................................... iHALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING .......................................... iiHALAMAN PENGESAHAN ....................................................................... iiiHALAMAN MOTTO ................................................................................... ivHALAMAN PERSEMBAHAN ................................................................... vHALAMAN DEKLARASI ........................................................................... viHALAMAN ABSTRAK ............................................................................... viiHALAMAN KATA PENGANTAR .............................................................. viiiHALAMAN DAFTAR ISI ........................................................................... xBAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ........................................................... 1 B. Perumusan Masalah ................................................................. 4 C. Tujuan Penelitian ..................................................................... 5 D. Telaah Pustaka ......................................................................... 5 E. Metode Penelitian ..................................................................... 8 F. Sistematika Penelitian .............................................................. 11BAB II : KETENTUAN JARIMAH PENCURIAN A. Tinjauan Umum Tentang Jarimah ............................................ 14 1. Pengertian Jarimah ............................................................. 14 2. Unsur-Unsur Jarimah ......................................................... 15 3. Macam-Macam Jarimah ..................................................... 16 x
  11. 11. B. Ketentuan Pencurian Dalam Hukum Positif (KUHP) 1. Pengertian Pencurian ........................................................... 21 2. Ketentuan Hukum Tindak Pidana Pencurian ..................... 23 C. Ketentuan Tindak Pidana Pencurian Dalam Hukum Pidana Islam 1. Pengertian Pencurian ........................................................... 27 2. Unsur-Unsur Pencurian ....................................................... 29 3. Ketentuan Hukum Tindak Pidana Pencurian dalam Hukum Pidana Islam ........................................................... 33BAB III : PUTUSAN PN SEMARANG NO.465/PID.B/2010/PN.SMG TENTANG PENCURIAN KOTAK AMAL MASJID A. Profil Pengadilan Negeri Semarang ....................................... 37 B. Kronologis Kasus Dalam Putusan Nomor : 465/Pid.B/2010/Pn.Smg Tentang Pencurian Kotak Amal Masjid ................................. 39 C. Dasar Pertimbangan Hukum terhadap Putusan Nomor: 465/Pid.B/2010/Pn.Smg Tentang Pencurian Kotak Amal Masjid ................................................................ 40 D. Putusan Nomor : 465/Pid.B/2010/Pn.Smg Tentang Pencurian Kotak Amal Masjid ........................................................................... 45BAB IV : ANALISIS PUTUSAN PENGADILAN NEGERI SEMARANG NO.465/PID.B/2010/PN.Smg TENTANG PENCURIAN KOTAK AMAL MASJID xi
  12. 12. A. Analisis Dasar Pertimbangan Hukum Terhadap Putusan Pengadilan Negeri Semarang No.465/Pid.B/2010/PN.Smg Tentang Pencurian Kotak Amal Masjid ................................................................ 47 B. Analisis Hukum Pidana Islam Terhadap Putusan Pengadilan Negeri Semarang No.465/Pid.B/2010/PN.Smg Tentang Pencurian Kotak Amal Masjid ........................................................................... 54BAB V : PENUTUP A. Kesimpulan ................................................................................ 66 B. Saran .......................................................................................... 67 C. Penutup ..................................................................................... 67DAFTAR PUSTAKALAMPIRAN-LAMPIRANDAFTAR RIWAYAT HIDUP xii
  13. 13. BAB I PENDAHULUANA. Latar Belakang Masalah Salah satu yang dibanggakan oleh manusia adalah harta. Ajaran Islam bukan ajaran yang materialisme, akan tetapi Islam mengajarkan kepada umat Islam untuk berusaha sekuat tenaga sesuai kemampuan untuk mencari harta. Syariat Islam yang telah ditetapkan oleh Allah SWT dan Muhammad Rasulullah SAW memuat seperangkat aturan dalam hal memperoleh harta. Memperoleh harta dengan cara yang haram seperti berbuat curang, merugikan orang lain, mencari keuntungan yang berlebihan, dan lain-lain harus dihindari oleh umat Islam.1 Diakui atau tidak, dalam kehidupan masyarakat, pencurian terhadap harta benda/harta kekayaan orang lain sering sekali terjadi, dan hal ini dapat dilakukan dengan berbagai macam cara dan kesempatan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “mencuri memiliki pengertian menganbil milik orang lain tanpa izin atau dengan tidak sah, biasanya dengan sembunyi-sembunyi”.2 Kejahatan pencurian ini memang bukan hal yang asing lagi kita dengar, melainkan kejahatan yang paling sering di beritakan. Terbukti dengan media massa dan media elektronik tak luput memberitakan tentang kasus seringnya terjadi kasus pencurian dengan berbagai latar belakang dan motif 1 Zainnudin Ali, Hukum Pidana Islam, Jakarta: Sinar Grafika, 2009, h. 67. 2 Dendy Sugono, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama,2008, h. 281. 1
  14. 14. 2pencurian. Namun, dalih yang sering di dengar ketika orang mencuri yaitu dilatarbelakangi ketidaktercukupinya kebutuhan ekonomi. Kebutuhan ekonomi memang hal yang sangat penting. Semua orangdalam hidupnya selalu berusaha survive demi apa yang menjadi cita-citahidupnya. Namun yang menjadi ironis adalah ketika keadaan tidak berbandinglurus dengan keinginan, dan yang dilakukan adalah mencuri. Kebutuhan yang mendesak mengakibatkan para pelaku pencurianberusaha melakukan apa yang menjadi niatnya itu dengan berbagai macamcara. Salah satunya yang di lakukan oleh terdakwa Salim Bin Asropi pencuriuang di kotak amal masjid. Dalam putusan No.465/Pid.B/2010/PN.Smg, terdakwa Salim BinAsropi di tuntut oleh Jaksa atau Penuntut Umum, bahwa terdakwa pada hariSabtu tanggal 01 Mei 2010 sekitar jam 02.30 WIB, bertempat di MasjidMiftahul Huda Kampung Sumurbong Kel.Rejomulyo Kec.Semarang Timur,Kota Semarang. Telah mengambil uang tunai sebesar Rp 161.000,- yangseluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain dengan maksud inginmemilikinya dengan melawan hukum yang dipersiapkan dengan membawaalat tatah kayu yang terbuat dari besi untuk mencongkel kotak amal untukmempermudah pencurian. 3 Kasus ini sangat menarik untuk di kaji lebih jauh, mengingatpertimbangan hukum terhadap Putusan Pengadilan Negeri SemarangNo.465/Pid.B/2010/PN.Smg tentang pencurian kotak amal masjid. Kasus ini 3 Arsip Pengadilan Negeri Semarang No.465/Pid.B/2010/PN. Smg.
  15. 15. 3termasuk kategori pencurian dalam keadaan memberatkan karena pencurianini melanggar pasal 363 ayat (1) ke-4 dan ke-5 KUHP, dan di ancam denganpidana penjara paling lama tujuh tahun. Akan tetapi dalam putusan PengadilanSemarang nomor No.465/Pid.B/2010/PN.Smg memutuskan perkara tersebuthanya dijatuhi hukuman penjara selama enam bulan dan dikenakan biayaperkara sebesar seribu rupiah.4 Di Indonesia dalam menentukan suatu hukuman bagi pelaku tindakkejahatan diserahkan kepada pihak yang berwenang melalui polisi, jaksa, danhakim. melalui proses yang telah ditentukan dalam Undang-Undangdiantaranya melalui persidangan di Pengadilan. Tentu saja hukum yangdipakai menggunakan KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana) tetapidalam penentuan hakim juga mempunyai pertimbangan dalam memutuskansuatu putusan. “Dalam Islam pencurian biasa disebut dengan sirqoh yaitumengambil suatu dengan cara sembunyi, sedangkan menurut istilah sirqohadalah mengambil suatu (barang) hak milik orang lain secara sembunyi-sembunyi dan di tempat penyimpanan yang pantas”.5 Hukum pidana Islam mengenai tindak pidana, hak masyarakat lebihdiutamakan di atas hak perseorangan, maka kepentingan masyarakat yanglebih utama dan lebih didahulukan. Oleh karena itu, setiap jarimah atau tindakpidana yang dapat mengganggu kedamaian, keamanan,dan ketentramanmasyarakat akan dianggap sebagai kejahatan terhadap Allah SWT, dan 4 ibid. 5 Sudarsono, Pokok-pokok Hukum Islam, Jakarta: Rineka Cipta, Cet. Ke-2, 2001, h. 545.
  16. 16. 4 masyarakat tidak berhak mendzalimi pribadi anggotanya, jika kepentingan individu itu tidak menimbulkan ancaman terhadap hak-hak orang lain atau masyarakat.6 “Dengan demikian Islam telah memberikan hak yang menjamin kepemilikan harta”.7 Sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah SWT sebagai berikut: Artinya: “Dan janganlah kamu makan harta diantara kamu dengan jalan yang bathil dan janganlah kamu menyuap dengan harta itu kepada para hakim dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui” (Q.S Al-Baqarah:188).8 Dari latar belakang di atas, penulis tertarik untuk lebih jauh meneliti tentang kasus pencurian kotak amal masjid yang di lakukan oleh Salim Bin Asropi terkait bagaimana dasar petimbangan dalam menentukan putusan lama hukuman dan bagaimana tinjauan hukum islamnya dalam skripsi yang berjudul: Tinjauan Hukum Islam Terhadap Putusan Pengadilan Negeri Semarang No.465/Pid.B/2010/PN.Smg tentang Pencurian Kotak Amal Masjid.B. Perumusan Masalah Dari latar belakang di atas, maka yang menjadi pokok permasalahan dalam penulisan ini adalah sebagai berikut : 6 Abdurrahman I, Doi, The Islamic Law, Terj. Usman Efendi AS dan Abdul Khalik,“Inilah Syari’ah Islam”, Jilid I, Jakarta: Pustaka Panji Mas, Cet I 1991, h. 313-314. 7 Ibid., h. 370. 8 Tim Syaamil Al-Quran, Al-Qur’anulkarim Terjemah Tafsir Perkata, Bandung: SygmaPublishing, 2010, h. 29.
  17. 17. 5 1. Bagaimana Dasar Pertimbangan Hakim terhadap Putusan Pengadilan Negeri Semarang No.465/Pid.B/2010/PN.Smg tentang Pencurian Kotak Amal Masjid? 2. Bagaimana Tinjauan Hukum Pidana Islam terhadap Putusan Pengadilan Negeri Semarang No.465/Pid.B/2010/PN.Smg tentang Pencurian Kotak Amal Masjid?C. Tujuan Penelitian Adapun tujuan penulisan skripsi: 1. Untuk mengetahui dasar petimbangan Hakim terhadap Putusan Pengadilan Negeri Semarang No.465/Pid.B/2010/PN.Smg tentang Pencurian Kotak Amal Masjid. 2. Untuk mengetahui tinjauan Hukum Pidana Islam terhadap Putusan Pengadilan Negeri Semarang No.465/Pid.B/2010/PN.Smg tentang Pencurian Kotak Amal MasjidD. Telaah Pustaka Dalam kajian pustaka ini, penulis akan memaparkan tentang beberapa sumber yang membicarakan masalah tersebut di antaranya: Pertama skripsi yang ditulis oleh Ahmad Subkhi (NIM: 042211011 dan lulus tahun 2007), Mahasiswa Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo Semarang, yang berjudul: “Tinjauan Hukum Islam Terhadap Tindak Pidana Pencurian yang Disertai dengan Kekerasan”. Skripsi tersebut menyatakan bahwa, tindak pidana pencurian yang disertai dengan kekerasan itu termasuk pencurian dengan pemberatan, yaitu sebagaimana telah diatur dalam pasal 365
  18. 18. 6 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Demikian halnya dengan hukum pidana Islam, dimana pencurian yang disertai dengan jarimah-jarimah lain, maka hukumannya menjadi diperberat.9 Kedua, skripsi yang ditulis oleh Ulil Absor (NIM: 042211116 dan lulus tahun 2009) Mahasiswa Fakultas Syariah IAIN Walisongo Semarang, yang berjudul: “Tindak Pidana Pencurian Waktu Bencana Alam”. Skripsi tersebut menyatakan bahwa, adanya ketentuan pemberatan pidana pencurian pada waktu bencana alam yang terdapat dalam pasal 363 ayat (1) item 2 KUHP, terletak pada faktor moralitas si pelaku, yang tega memanfaatkan kondisi masyarakat (korban) yang sedang mengalami musibah bencana alam demi kepentingan pribadinya, karena kalau ditinjau dari segi ontologi hukum (hakekat hukum), hubungan antara hukum dengan moral itu sangat erat sekali, mengingat hukum merupakan alat untuk mengatur tingkah laku/perbuatan manusia. Disamping dilihat dari segi moralitas, penulis juga melihat, bahwa filosofi dari pada ketentuan pemberatan pidana pencurian pada waktu bencana alam yang terdapat dalam pasal 363 ayat (1) item 2 KUHP adalah dari segi nilai keadilan, yang merupakan filosofi daripada hukum pada umumnya, dengan pemikiran bahwa, si korban (viktim) yang sedang terkena musibah, seharusnya mendapatkan pertolongan dari si pelaku kejahatan, bukan sebaliknya, si pelaku mencuri pada saat masyarakat sedang terjadi kekacauan.10 9 Akhmad Subkhi (NIM: 042211011), “ Tinjauan Hukum Islam Terhadap Tindak PidanaPencurian yang Disertai dengan Kekerasan”, Skripsi Hukum Pidana Islam, Semarang, 2007. t.d 10 Ulil Absor (NIM: 042211116),” Tindak Pidana Pencurian Waktu Bencana Alam”,Skripsi Hukum Pidana Islam, Semarang, 2009, t.d.
  19. 19. 7 Ketiga skripsi yang ditulis oleh Suyoto (NIM: 2104056 dan lulus tahun 2009) Mahasiswa Fakultas Syariah IAIN Walisongo Semarang, yang berjudul: “Studi Analisis Hukum Islam terhadap Putusan PN Kendal No 89/Pid.B/2008/Pn.Kdl Tentang Pencurian yang Dilakukan oleh Anak Dibawah Umur. Skripsi tersebut menyatakan bahwa, ditinjau dari hukum positif di Indonesia maka pertimbangan hukum yang dipakai hakim dalam menjatuhkan pidana penjara 2 bulan terhadap Ahmad Khoirin dan teman- temannya itu sudah tepat, karena kenakalan atau tindak pidana yang dilakukan oleh Ahmad Khoirin dan teman-temannya sudah memenuhi unsur-unsur pencurian menurut hukum positif. Tapi kalau menurut hukum pidana Islam dasar pertimbangan hakim dalam menjatuhkan pidana 2 bulan penjara itu kurang tepat. Dan seharusnya kalau menurut hukum pidana Islam Ahmad Khoirin dan teman-temannya dikenakan hukuman dalam bentuk pendidikan.11 Dari beberapa tinjauan pustaka diatas, dapat diketahui bahwa tidak ada yang membahas mengenai dasar pertimbangan Hakim Pengadilan Negeri Semarang dan tinjauan hukum pidana Islam mengenai Putusan Pengadilan Negeri Semarang No.465/Pid.B/2010/PN.Smg tentang Pencurian Kotak Amal Masjid. 11 Suyoto (NIM: 2104056), “Studi Analisis Hukum Islam Terhadap Putusan PN KendalNo 89/Pid.B/2008/Pn.Kdl Tentang Pencurian Yang Dilakukan Oleh Anak Dibawah Umur”,Skripsi Hukum Pidana Islam, Semarang, 2009.t.d.
  20. 20. 8E. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research) yang datanya diperoleh dari data dokumen dari Putusan Pengadilan Negeri Semarang No.465/Pid.B/2010/PN.Smg tentang Pencurian Kotak Amal Masjid.12 Penelitian yang dilakukan untuk menelaah bahan-bahan dari buku utama yang berkaitan dengan masalah, dan buku penunjang berupa sumber lainnya yang relevan dengan topik yang dikaji.13 Dalam penelitian ini menitik beratkan kepada dokumen. Penelitian dokumen adalah penelitian yang dilakukan dengan melihat data yang bersifat praktek, meliputi: data arsip, data resmi pada institusi- institusi pemerintah, data yang dipublikasikan (putusan pengadilan, yurisprudensi, dan sebagainya).14 Sedangkan objek dalam penelitian ini adalah Putusan Pengadilan Negeri Semarang No.465/Pid.B/2010/PN.Smg tentang Pencurian Kotak Amal Masjid. 2. Sumber Data Sumber data adalah subjek dari mana data di peroleh15 atau sesuatu yang dapat memberikan informasi yang dibutuhkan dalam penelitian ini. 12 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian (Suatu Pendekatan Ilmiah), Jakarta: PT. BinaAksara, 1989. h. 10. 13 P. Joko Subagyo, Metode Penelitian dalam Teori dan Praktek, Jakarta: Rineka Cipta,1991. Cet. I, h. 109. 14 Ibid, h. 88-89. 15 Suharsimi Arikunto, op.cit., h. 114.
  21. 21. 9 Berdasarkan sumbernya, sumber data dalam penelitian dikelompokkan menjadi dua, yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder.16 a) Sumber Data Primer Dalam penelitian ini data primer yang dimaksud yaitu sumber literatur utama yang berkaitan langsung dengan obyek penelitian di Pengadilan Negeri dan bahan hukum yang bersifat autoritatif artinya mempunyai otoritas. Dengan kata lain, data primer dalam penelitian ini adalah data yang diambil dari data-data dalam bentuk dokumen putusan pengadilan, yaitu Putusan Hakim Pengadilan Negeri Semarang No.465/Pid.B/2010/PN.Smg tentang Pencurian Kotak Amal Masjid. b) Sumber Data Sekunder Dalam penelitian ini data yang digunakan peneliti adalah data yang dikumpulkan oleh orang lain. Pada waktu penelitian dimulai data telah tersedia.17 Adapun data sekunder atau data pendukung yaitu, wawancara dengan Hakim Pengadilan Negeri Semarang dan literatur yang digunakan dalam menjelaskan tentang pokok permasalahan yaitu buku-buku yang ada relevansinya dengan penelitian, misalnya buku Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), Hukum Pidana Islam (Fiqh Jinayah), Kejahatan Pencurian Dalam Hukum Pidana Islam dan buku-buku lain yang ada kaitannya dengan masalah yang peneliti kaji. 16 Saifuddin Azwar, Metode Penelitian, Yogyakarta: PT. Pustaka Pelajar, 1998, h. 91. 17 Bambang Sunggono, Metodologi Penelitian Hukum, Jakarta: PT Raja GrafindaPersada, 2007, h. 37.
  22. 22. 10 Metode wawancara digunakan mengetahui pertimbangan- pertimbangan pemutusan Tindak Pidana No.465/Pid.B/2010/PN.Smg.. 3. Metode Pengumpulan Data Dalam pengumpulan data penulis menggunakan metode dokumentasi. Metode dokumentasi ini digunakan untuk mengetahui putusan No.465/Pid.B/2010/PN.Smg. Adapun data pendukung yaitu wawancara. “wawancara merupakan suatu cara pengambilan data melalui interaksi dan komunikasi”.18 Dalam hal ini pewawancara akan mewawancarai hakim yang telah menangani perkara atas Putusan Pengadilan Negeri Semarang No.465/Pid.B/2010/PN.Smg tentang Pencurian Kotak Amal Masjid guna untuk mengetahui petimbangan- pertimbangan Hakim tentang pemutusan Tindak Pidana No.465/Pid.B/2010/PN.Smg. 4. Metode Analisis Data “Analisis data merupakan upaya mencari dan menata secara sistematis catatan hasil dokumentasi, wawancara dan lainnya. Untuk meningkatkan pemahaman penelitian tentang kasus yang diteliti dan menyajikannya sebagai temuan”.19 Teknik analisis data yang penulis gunakan adalah analisis deskriptif yaitu penelitian yang bermaksud untuk membuat pencandraan 18 Masri Singarimbun dan Sofian Efendi, Ed., Penelitian Survei, Jakarta: LP3ES, 1989, h.192. 19 Noeng Muhadjir, Metodologi Penelitian Kualitatif, Yogyakarta, Rake Sarasin, 1996, h.104.
  23. 23. 11 (deskripsi) mengenai situasi-situasi atau kejadian-kejadian.20 Dengan metode analisis induktif yaitu berangkat kasus-kasus bersifat khusus berdasarkan pengalaman nyata yang kemudian dirumuskan menjadi definisi yang bersifat umum.21 karena data yang diwujudkan dalam skripsi ini bukan dalam bentuk angka melainkan bentuk laporan atau uraian deskriptif analisis.F. Sistematika Penulisan Untuk mempermudah pembaca dalam memahami isi dari tulisan ini, penulis akan menguraikan secara singkat apa yang terkandung dalam skripsi ini. Secara garis besar, skripsi ini mencakup tiga bagian yang masing-masing terdiri dari bab dan sub-bab, yaitu: 1. Bagian muka Bagian ini berisi halaman judul skripsi, persetujuan pembimbing, halaman pengesahan, motto, persembahan, deklarasi, abstrak, kata pengantar, dan daftar isi. 2. Bagian isi/batang tubuh skripsi, terdiri dari: Bab I merupakan pendahuluan. Bab ini merupakan gambaran secara global mengenai seluruh isi dari skripsi ini yang meliputi: Latar Belakang Masalah, Perumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Telaah Pustaka, Metode Penelitian, dan Sistematika Penelitian. 20 Sumadi Suryabrata, Metodologi Penelitian, Jakarta: Raja Grafindo, 1998, Cet. XI, h.18. 21 Dedi Mulyana, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya,2001, Cet. I, h. 156.
  24. 24. 12 Bab II merupakan Ketentuan Jarimah Pencurian. Bab ini berisi teoriyang berkaitan dengan skripsi, yaitu terdiri atas pengertian Jarimah, Unsur-unsur Jarimah, Macam-macam Jarimah. Tinjauan Umum tentangPencurian dalam Hukum Positif (KUHP) yang meliputi: PengertianPencurian, Ketentuan hukum tindak pidana pencurian, Tinjauan Umumtentang tindak Pidana Pencurian Dalam Hukum Pidana Islam yangmeliputi: Pengertian Pencurian, Unsur-Unsur Pencurian, Ketentuan hukumtindak pidana Pencurian. Bab III berisi tentang Putusan Pengadilan SemarangNo.465/Pid.B/2010/PN.Smg tentang Pencurian Kotak Amal Masjid yangmeliputi: Profil Pengadilan Negeri Semarang, Kronologis Kasus DalamPutusan Nomor: 465/Pid.B/2010/Pn.Smg Tentang Pencurian Kotak AmalMasjid, Dasar Pertimbangan Hakim terhadap Putusan Nomor:465/Pid.B/2010/Pn.Smg Tentang Pencurian Kotak Amal Masjid, PutusanNomor: 465/Pid.B/2010/Pn.Smg Tentang Pencurian Kotak Amal Masjid. Bab IV berisi tentang Analisis Putusan Pengadilan Negeri SemarangNo.465/Pid.B/2010/PN.Smg tentang Pencurian Kotak Amal Masjid yangmeliputi: Analisis Dasar Pertimbangan Hakim Terhadap PutusanPengadilan Negeri Semarang No.465/Pid.B/2010/PN.Smg tentangPencurian Kotak Amal Masjid, Analisis Hukum Pidana Islam terhadapPutusan Pengadilan Negeri Semarang No.465/Pid.B/2010/PN.Smg tentangPencurian Kotak Amal Masjid.
  25. 25. 13 BAB V Merupakan penutup yang berisi kesimpulan dan saran- saran.3. Bagian akhir Bagian akhir yang berisi daftar pustaka, beberapa lampiran dan daftar riwayat hidup.
  26. 26. BAB II KETENTUAN JARIMAH PENCURIANA. Tinjauan Umum Tentang Jarimah 1. Pengertian Jarimah Menurut bahasa kata jarimah berasal dari kata “jarama” kemudian bentuk masdarnya adalah “jaramatan” yang artinya perbuatan dosa, perbuatan salah, atau kejahatan. Pengertian jarimah tersebut tidak berbeda dengan pengertian tindak pidana, (peristiwa pidana, delik) dalam hukum pidana positif. Secara istilah Imam Al-Mawardi memberikan definisi jarimah sebagaimana yang dikutip oleh Ahmad Wardi Muslich: ِ‫ﺑِﺤ َ ﺪأَو ْ ﺗَﻌ ْ ﺰ‬ ‫ﱟ‬ َ ‫ز َ ﺟ َ ﺮ َ ﷲ ُﺗَﻌ َﻞ‬ ْ ‫ﻟاَْﺠ َ ﺮ َ اﺋِ ﻣ َﺤ ْ ﻈُﻮ ْ ر َات ٌ ﺷ َﺮ‬ ُ‫ﻢ‬ Jarimah adalah perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh syara’, yang diancam dengan hukuman hadd atau ta’zir.1 Menurut Ahmad Hanafi, yang dimaksud dengan kata-kata “jarimah” ialah, larangan-larangan syara’ yang diancam oleh Allah dengan hukuman hadd atau ta’zir. Larangan-larangan tersebut adakalanya berupa mengerjakan perbuatan yang dilarang, atau meninggalkan perbuatan yang diperintahkan. Yang dimaksud dengan kata-kata “syara” adalah bahwa sesuatu perbuatan baru dianggap jarimah apabila dilarang oleh syara’. Berbuat atau tidak berbuat tidak dianggap sebagai jarimah, kecuali apabila telah diancamkan hukuman 1 Ahmad Wardi Muslich, Pengantar dan Azas Hukum Pidana Islam (Fikih Jinayah),Jakarta: Sinar Grafika, 2004, h. 9. 14
  27. 27. 15 terhadapnya. Di kalangan fuqaha, hukuman biasa disebut dengan kata- kata “ajziyah” dan mufradnya, “jaza”.2 “Dengan mengesampingkan perbedaan pemakaian kata-kata ”jinayah” dikalangan fuqaha’, dapatlah penulis simpulkan bahwa kata- kata ”jinayah” dalam istilah fuqaha’ sama dengan kata-kata ”jarimah”.3 Suatu perbuatan dianggap jarimah apabila dapat merugikan tata aturan masyarakat, atau kepercayaan-kepercayaannya, atau merugikan kehidupan masyarakat, baik berupa benda, nama baik, atau perasaannya dengan pertimbangan-pertimbangan yang lain yang harus dihormati dan dipelihara.2. Unsur-Unsur Jarimah Jarimah itu merupakan larangan-larangan syara’ yang diancamkan dengan hukuman hadd atau ta’zir. Dengan menyebutkan kata-kata syara’ dimaksudkan bahwa larangan-larangan harus datang dari ketentuan-ketentuan (nash-nash) syara’. Berbuat atau tidak berbuat baru dianggap sebagai jarimah apabila diancamkan hukuman kepadanya. Unsur-unsur jarimah secara umum yang harus dipenuhi dalam menetapkan suatu perbuatan jarimah yaitu: a. Unsur formil (rukun syar’i) yakni adanya nash yang melarang perbuatan dan mengancam hukuman terhadapnya. 2 Ahmad Hanafi, Azas-Azas Hukum Pidana Islam, Jakarta: PT Bulan Bintang, 1986, h. 1. 3 Ibid., h. 2.
  28. 28. 16 b. Unsur materiil (rukun maddi) yakni adanya tingkah laku yang membentuk jarimah, baik berupa perbuatan-perbuatan nyata ataupun sikap tidak berbuat. c. Unsur moril (rukun adabi) yakni pembuat, adalah seorang mukallaf (orang yang dapat dimintai pertanggung jawaban terhadap jarimah yang diperbuatnya).4 3. Macam-Macam Jarimah “Pada umumnya, para ulama membagi jarimah berdasarkan aspek berat dan ringannya hukuman serta ditegaskan atau tidaknya oleh Al- Qur’an atau al-Hadits. Atas dasar ini mereka membaginya menjadi tiga macam, yaitu: jarimah hudud, jarimah qishash dan jarimah ta’zir”.5 Mengenai uraian ataupun penjelasan tentang jarimah hudud, jarimah qishash dan jarimah ta’zir serta penggolongan- penggolongannya, akan diuraikan sebagai berikut: a. Jarimah Hudud Jarimah hudud adalah jarimah yang diancam dengan hukuman hadd. Pengertian hukuman hadd adalah hukuman yang telah ditentukan oleh syara’ dan menjadi hak Allah (hak masyarakat). Dengan demikian ciri khas jarimah hudud itu adalah sebagai berikut: 4 ibid., h. 6. 5 Djazuli, Fiqih Jinayah (Upaya Menanggulangi Kejahatan dalam Islam), Jakarta: PTRaja Grafindo Persada, 1947, h.13.
  29. 29. 17 1) Hukumannya tertentu dan terbatas, dalam arti bahwa hukumannya ditentukan oleh syara’ dan tidak ada batas minimal dan maksimal. 2) Hukuman tersebut merupakan hak Allah semata-mata, atau kalau ada hak manusia di samping hak Allah maka hak Allah yang lebih menonjol. 6 Dalam hubungannya dengan hukuman hadd maka pengertian hak Allah di sini adalah bahwa hukuman tersebut tidak di hapuskan oleh perseorangan (orang yang menjadi korban atau keluarganya) atau oleh masyarakat yang diwakili oleh negara. Jarimah hudud ini ada tujuh macam antara lain yaitu: jarimah zina, jarimah qadzaf, jarimah syurbul khamr, jarimah pencurian, jarimah hirabah, jarimah riddah, jarimah al-bagyu (pemberontakan). Salah satu bentuk contoh dari hukuman hudud yang menyatakan sebagai hukuman yang di tentukan oleh syara’ adalah pencurian yang didasarkan pada firman Allah dalam surat AL- Maidah ayat (38):6 Ahmad Wardi Muslich, op.cit., h.18.
  30. 30. 18 “Artinya: Adapun orang laki-laki maupun perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) balasan atas perbuatan yang mereka lakukan dan sebagai siksaan dari Allah. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” 7 b. Jarimah Qishash dan Diyat Maksud dari jarimah qishash atau diyat ialah merupakan perbuatan-perbuatan yang diancamkan hukuman qishash atau hukuman diyat. Baik qishash maupun diyat adalah hukuman- hukuman yang telah ditentukan batasnya, dan tidak mempunyai batas terendah ataupun tertinggi, tetapi menjadi hak perseorangan, dengan pengertian bahwa si korban bisa merugikan si pembuat, dan apabila dimaafkan maka hukuman tersebut menjadi hapus.8 “Menurut arti, qishash adalah akibat yang sama yang dikenakan kepada orang yang dengan sengaja menghilangkan jiwa atau melukai atau menghilangkan anggota badan orang lain”.9 Firman Allah menjelaskan dalam surat al-Baqarah ayat (178-179): 7 Tim Syaamil Al-Quran, Al-Qur’anulkarim Terjemah Tafsir Perkata, Bandung: SygmaPublishing, 2010, h. 174. 8 Makhrus Munajat, Dekonstruksi Hukum Pidana Islam, Yogyakarta: Logung Pustaka,2004. h. 12. 9 Rahmat Hakim, Hukum Pidana Islam, Bandung: CV. Pustaka Setia. 2000. h. 29.
  31. 31. 19 Artinya : Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, Maka baginya siksa yang sangat pedih. Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, Hai orang- orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.10 Seperti halnya jarimah hudud, penerapan jarimah qishash atau diyat ini pun harus hati- hati, sifat asas legalitas jarimah ini pun juga harus ketat. Oleh karena itu jika terdapat suatu keraguan, ketidak yakinan terhadap jarimah ini, hukuman qishash harus dihindari. Jarimah yang termasuk ke dalam jarimah qisas/diyat ini ada lima macam: 1) Pembunuhan sengaja (al-qatlul-amdu) 2) Pembunuhan semi sengaja (al-qatlu syibhul amdi) 3) Pembunuhan karena kesilapan (tidak sengaja, al-qatlul khatha’) 4) Penganiayaan sengaja (al-jarkhul-amdu)10 Tim Syaamil Al-Quran, op.cit., h. 27.
  32. 32. 20 5) Penganiayaan tidak sengaja (al-jarkhul-khatha’)11 c. Jarimah Ta’zir Arti ta’zir menurut terminologi fikih Islam adalah tindakan edukatif terhadap pelaku perbuatan dosa yang tidak ada sanksi hadd dan kafaratnya. Atau dengan kata lain, ta’zir adalah hukuman yang bersifat edukatif yang ditentukan oleh hakim atas pelaku tindak pidana atau pelaku perbuatan maksiat yang hukumannya belum ditentukan oleh syari’at atau kepastian hukumnya belum ada. 12 Ta’zir secara harfiah juga bisa diartikan sebagai menghinakan pelaku kriminal karena tindak pidananya yang memalukan. Dalam ta’zir, hukuman itu tidak ditetapkan dengan ketentuan (dari Allah dan Rasul-Nya), dan Qodhi diperkenankan untuk mempertimbangkan baik bentuk hukuman yang akan dikenakan maupun kadarnya. Ta’zir yang menurut arti katanya adalah at-ta’dib yaitu memberi pengajaran, maka disini dapat ditarik suatu kesimpulan yang berkaitan dengan definisi diatas. Ta’zir adalah suatu hukuman atas jarimah yang kadar hukumannya belum ditetapkan oleh syara’ (Al-Qur’an dan hadis) yang betujuan untuk memberikan pelajaran atau rasa jera terhadap pelaku tindak kejahatan, sehingga menyadari atas perbuatan yang telah dilakukan dan tidak mengulangi perbuatan tersebut. Selain itu, ta’zir juga juga tidak memiliki ketetapan11 Ahmad Wardi Muslich, op.cit., h. 19.12 Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah, Bandung: PT.Al-Ma’arif. 2001, h. 159.
  33. 33. 21 ataupun kaffarah didalamnya, karena ta’zir merupakan suatu hukuman yang berkaitan dengan perkembangan masyarakat serta kemaslahatannya.B. Ketentuan Pencurian Dalam Hukum Positif (KUHP) 1. Pengertian Pencurian “Pencurian dalam bahasa, berasal dari kata “curi” yang mendapat awalan pe- dan akhiran -an yng mempunyai arti proses, cara perbuatan mencuri”.13 “Dalam hukum positif pencurian dijelaskan dalan BAB XXII pasal 362 KUHP, yaitu mengambil sesuatau barang, yang sama sekali atau sebagian termasuk kepunyaan orang lain, dengan maksud akan memiliki barang itu dengan melawan hak”.14 Pencurian mengandung elemen-elemen, perbuatan mengambil, suatu barang atau yang diambil, seluruhnya atau sebagian milik orang lain, pengambilan dengan maksud memiliki. Dalam pencurian, mengambil yang dimaksud adalah mengambil untuk dikuasai, maksudnya waktu pencuri mengambil barang, barang tersebut belum ada dalam kekuasaannya, apabila waktu memiliki barang itu sudah ada ditangannya, maka perbuatan tersebut bukan termasuk pencurian tetapi penggelapan, pencurian dikatakan selesai apabila barang tersebut sudah pindah tempat. Suatu barang, merupakan segala sesuatu yang berwujud dan barang yang tidak berwujud termasuk daya listrik dan gas. Pengambilan tersebut harus dengan sengaja dan dengan maksud 13 Depdiknas, Kamus Besar Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1994, h. 200. 14 Moeljatno, KUHP Kitap Undang-Undang Hukum Pidana, Jakarta: t.p, 2009, h. 128.
  34. 34. 22 untuk memiliki, apabila seseorang mengambil barang milik orang lain karena keliru tidak termasuk pencurian.15 Dalam KUHP dikenal beberapa macam pencurian yaitu: a. Pencurian Ringan Pencurian biasa, barang yang dicuri tidak lebih dari Rp.250,- pencurian dilakukan dua orang atau lebih, pencurian hewan meskipun nilainya tidak lebih dari Rp.250,- tidak termasuk pencurian ringan, atau pencurian pada waktu terjadi malapetaka, bencana baik yang disebabkan alam atau manusia. b. Pencurian dengan pemberatan Pencurian dengan pemberatan yaitu pencurian biasa yang disertai keadaan-keadaan, pencurian hewan, bila dilakukan pada waktu bencana, dilakukan pada malam hari dalam keadan rumah tertutup yang ada dirumah, dilakukan dua orang atau lebih dengan bekerja bersama-sama, dilakukan dengan membongkar atau memecah untuk mengambil barang yang di dalamnya. c. Pencurian dengan kekerasan Pencurian yang disertai dengan kekerasan, kekerasan yang dimaksud kekerasan pada orang, bukan berupa barang, dilakukan sebelum atau sesudah pencurian, bersama-sama dengan maksud untuk memudahkan atau menyiapkan agar pencurian ada kesempatan untuk melarikan diri. 15 R. Susilo, Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-komentarnya, Bogor: POLITEA,t.th. h. 216.
  35. 35. 23 d. Pencurian Dalam Keluarga Pencurian yang dilakukan dalam kalangan keluarga atau suami istri yaitu ada pertalian yang erat, selama pertalian perkawinan belum putus maka pencurian tersebut tidak dijatuhi hukuman. 16 2. Ketentuan Hukum Tindak Pidana Pencurian Dalam KUHP BAB XXII pencurian di bagi menjadi beberapa macam, penjatuhan pidana dalam pencurian sesuai dengan kategori pencurian. Dalam pasal 362 di nyatakan: Barangsiapa mengambil suatu barang, yang sama sekali atau sebagian termasuk kepunyaan orang lain, dengan maksud akan memiliki barang itu dengan melawan hukum, diipidana karena mencuri dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun atau denda sebanyak-banyaknya Sembilan ribu rupiah17 Pencurian di atas yang dimaksud adalah pencurian biasa (ringan), kemudian kategori selanjutnya adalah pencurian dalam keadaan memberatkan, telah diatur dalam Pasal 363 dan 365 KUHP. Unsurnya sama dengan pencurian yang dimaksud dalam Pasal 362 KUHP, hanya bedanya bahwa pencurian yang dimaksud dalam Pasal 363 ini ditambah dengan ditentukan bentuk dan cara melakukan perbuatan, waktu serta jenis barang yang dicuri sehingga dinilai memberatkan kualitas pencurian, maka perlu ancaman pidananya lebih berat daripada pencurian biasa.18 16 ibid. 17 R. Sugandhi, K.U.H.P Dengan Penjelasannya, Surabaya: Usaha Nasional, 1980,h. 376. 18 Suharto. R.M, Hukum Pidana Materiil, Ed-2, Jakarta: Sinar Grafika, Cet-2, 2002, h.73.
  36. 36. 24 Yang dinamakan pencurian berat dan ancamannya pun lebih berat, diancam pidana penjara selama-lamanya tujuh tahun. Yang dimaksud pencurian berat adalah pencurian biasa (Pasal 362), yang disertai dengan salah satu keadaan seperti berikut: 1) Jika barang yang dicuri itu adalah hewan. Yang dimaksud dengan hewan sebagaimana diterangkan dalam pasal 101 ialah semua jenis binatang yang memamah biak (kerbau, lembu, kambing, dan sebagainya), binatang yang berkuku satu (kuda, keledai) dan babi. Anjing, kucing, ayam, itik dan angsa tidak termasuk hewan, karena tidak memamah biak, tidak berkuku satu dan bukan pula sejenis babi. 2) Jika pencurian itu dilakukan pada waktu sedang terjadi bencana, seperti kebakaran, letusan, banjir, gempa bumi, atau gempa laut, gunung meletus, kapal karam, kapal terdampar, kecelakaan kereta api, huru-hara, pemberontakan atau bahaya perang. Pencurian yang dilakukan dalam waktu seperti itu diancam hukuman lebih berat, karena pada waktu semua orang sedang menyelamatkan jiwa dan raganya serta harta bendanya, si pelaku mempergunakan kesempatan itu untuk melakukan kejahatan, yang menandakan orang itu rendah budinya.19 3) Jika pencurian itu dilakukan pada waktu malam di dalam sebuah rumah atau pekarangan tertutup yang ada rumahnya, yang dilakukan oleh orang yang adanya di situ tidak diketahui atau tidak dikehendaki19 R. Sugandhi, op.cit., h. 378-380.
  37. 37. 25 oleh yang berhak. 4) Jika pencurian itu dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan bersama-sama. 5) Jika untuk dapat masuk ke tempat kejahatan atau untuk dapat mengambil barang yang akan dicuri itu, pencurian tersebut dilakukan dengan jalan membongkar, memecah, memanjat atau dengan memakai anak kunci palsu, perintah palsu atau pakaian jabatan palsu.20 Pencurian yang lain ialah pencurian dengan kekerasan, kategori pencurian ini dijelaskan dalam KUHP pasal 365 yang menyatakan: 1. Dengan pidana penjara selama-lamanya sembilan tahun, dipidana pencurian yang didahului, disertai atau diikuti dengan kekerasan atau ancaman kekerasan pada orang, dengan maksud untuk menyediakan atau memudahkan pencurian itu, atau jika tertangkap tangan, supaya ada kesempatan bagi dirinya sendiri atau bagi yang turut serta melakukan kejahatan itu untuk melarikan diri atau supaya barang yang dicuri nya tetap tinggal di tangannya. 2. pidana penjara selama-lamanya dua belas tahun, dijatuhkan: ke 1. Jika perbuatan itu dilakukan pada waktu malam didalam sebuah rumah atau di pekarangan tertutup yang ada rumahnya, atau dijalan umum, atau didalam kereta api, atau tram yang sedang berjalan; ke 2. Jika perbuatan itu dilakukan bersama-sama oleh dua orang atau lebih; ke 3. Jika yang bersalah masuk ke tempat melakukan kejahatan itu dengan memakai anak kunci palsu, perintah palsu atau pakaian jabatan palsu; ke 4. Jika perbuatan itu berakibat ada orang luka berat. 3. Dijatuhkan pidana penjara selama-lamanya lima belas tahun jika pebuatan itu berakibat ada orang mati. 4. pidana mati atau penjara seumur hidup atau penjara sementara20 ibid.
  38. 38. 26 selama-lamanya dua puluh tahun dijatuhkan, jika perbuatan itu berakibat ada orang luka berat atau mati dan perbuatan itu dilakukan bersama-sama oleh dua orang atau lebih dan lagi pula disertai oleh salah satu hal yang diterangkan dalam No 1 dan 3.21 Pencurian dalam keluarga, tidak dihukum oleh karena orang itu sama-sama memiliki harta-benda suami istri. Hal ini didasarkan atas alasan tata-susila, pencurian dalam keluarga diterangkan dalam pasal 367 KUHP yang menyatakan: 1. Jika pembuat atau pembantu melakukan salah satu kejahatan yang diterangkan dalam bab ini suami (istri) orang yang terhadapnya kejahatan itu dilakukan, yang belum di bebaskan dari kewajiban tinggal serumah dengan istrinya (suaminya), maka orang itu tak dapat dituntut. 2. Jika orang itu suaminya (istrinya) yang sudah dibebaskan dari kewajiban tinggal serumah dengan istri (suaminya), atau keluarga sedarah atau keluarga semenda, baik dalam keturunan yang lurus, maupun keturunan menyimpang dalam derajat kedua, maka terhadap orang itu sendiri hanya dapat dilakukan penuntutan, kalau ada pengaduan dari orang yang terhadapnya kejahatan itu dilakukan. 3. Jika menurut adat istiadat keturunan ibu, kekuasaan bapak dilakukan, oleh orang lain dari bapak kandung, maka aturan pada ayat yang baru lalu berlaku juga bagi orang itu.22 Ketentuan hukum pencurian yang lain adalah hukum pidana adat, hukum adat merupakan hukum asli dan suatu yang asli berlaku dengan sendirinya, kecuali jika ada hal-hal yang menghalangi berlakunya hukum adat. Dalam daerah-daerah tertentu hukum pidana adat masihmempunyai kekuatan sebagai sumber hukum positif dan diterapkan dalam pengadilan negeri yang menggantikan pengadilan adat atau pengadilan swapraja.2321 ibid, h. 382.22 ibid, h. 385.23 Sudarto, Hukum Pidana, Semarang: Yayasan Sudarto, Cet. Ke 2, 1990, h. 18.
  39. 39. 27C. Ketentuan Tindak Pidana Pencurian Dalam Hukum Pidana Islam 1. Pengertian Pencurian “Dalam Islam pencurian biasa disebut dengan sirqoh yaitu mengambil suatu dengan cara sembunyi, sedangkan menurut istilah sirqoh adalah mengambil suatu (barang) hak milik orang lain secara sembunyi-sembunyi dan di tempat penyimpanan yang pantas”.24 Sedangkan menurut Topo Santoso, pencurian didefinisikan sebagai perbuatan mengambil harta orang lain secara diam-diam dengan itikad tidak baik. Yang dimaksud dengan mengambil harta secara diam- diam adalah mengambil barang tanpa sepengetahuan pemiliknya dan tanpa adanya kerelaan dari orang yang barangnya diambil tersebut.25 Sedangkan “menurut Sayyid Sabiq mencuri ialah mengambil barang orang lain secara sembunyi-sembunyi”.26 Suatu tindak pidana pencurian baru dapat dikenakan hukum potong tangan bila perbuatan itu dilakukan secara diam-diam dari tempat penyimpanannya yang pantas. Adapun pengertian secara diam-diam ialah perbuatan tersebut dilakukan tanpa kerelaan dan pengetahuan si korban. Selain mengambil secara sembunyi-sembunyi juga harus adanya maksud jahat. Niat jahat itu terjadi ketika pelaku pencurian mengambil barang dan dia juga sadar bahwa perbuatannya tersebut memang dilarang.27 24 Sudarsono, Pokok-pokok Hukum Islam, Jakarta: Rineka Cipta, Cet. Ke-2, 2001, h. 545. 25 Topo Santoso, Membumikan Hukum Pidana Islam, Jakarta: Gema Insani, 2003, h. 128 26 Sayyid Sabiq, op.cit., h. 382. 27 Abdul Qadir Audah, al-Tasyri al-Jinai al-Islam, Beirut: Dar al-Kutub, 1963, h. 518.
  40. 40. 28 Pencurian itu sendiri dibagi menjadi dua macam yaitu: a. Pencurian yang harus dikenai sanksi “Pencurian yang harus dikenai sanksi adalah pencurian yang syarat-syarat penjatuhan hadd nya tidak lengkap. Jadi karena syarat- syarat penjatuhan hadd nya tidak lengkap, maka ia tidak dikenai hukuman hadd, akan tetapi dia dikenai sanksi”.28 “Selain itu apabila barang yang di curi itu belum ada 1 (satu) nisab maka ia pun bebas dari hukum potong tangan, tetapi diganti dengan ta’zir”.29 Contohnya yaitu pada zaman Rasulullah ada seorang yang telah mencuri buah-buahan yang masih tergantung di pohon, Rasulullah telah membebaskan hukum potong tangan. Sedangkan apabila pencuri itu hanya memakan buah di tempat tanpa membawa pulang, sedangkan ia sangat butuh untuk memakan buah itu, maka ia tidak dikenai hukuman. b. Pencurian yang harus dikenai hadd Pencurian yang hukumannya hadd itu ada dua macam, yaitu: 1) Pencurian shughra, yaitu pencurian yang wajib dikenai hukuman potong tangan. 2) Pencurian kubra, yaitu pencurian secara merampas dan menantang. Ini disebut juga dengan hirabah.30 28 ibid 29 Abdur Rahman, Tindak Pidana Dalam Syari’at Islam, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1992,h. 65. 30 Sayyid Sabiq, op.cit., h. 382.
  41. 41. 292. Unsur-Unsur Pencurian Dalam hukum Islam hukuman potong tangan mengenai pencurian hanya dijatuhi unsur-unsur tertentu, apabila salah satu rukun itu tidak ada, maka pencurian tersebut tidak dianggap pencurian. Unsur-unsur pencurian ada empat macam, yaitu sebagai berikut. a. Pengambilan secara diam-diam atau sembunyi-sembunyi Pengambilan secara diam-diam terjadi apabila pemilik (korban) tidak mengetahui terjadinya pengambilan barang tersebut dan ia tidak merelakanya. Contohnya, mengambil barang-barang milik orang lain dari dalam rumahnya pada malam hari ketika ia (pemilik) sedang tidur. b. Barang yang diambil berupa harta Salah satu unsur yang penting untuk dikenakannya hukuman potong tangan adalah bahwa barang yang dicuri itu harus barang yang bernilai mal (harta), ada beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk dapat dikenakan hukuman potong tangan, syarat-syarat tersebut adalah: 1) Barang yang dicuri harus mal mutaqawwin, yaitu barang yang dianggap bernilai menurut syara’. Menurut, Syafi’i, Maliki dan Hambali, bahwa yang dimaksud dengan benda berharga adalah benda yang dimuliakan syara’, yaitu bukan benda yang diharamkan oleh syara’ seperti khamar, babi, anjing, bangkai, dan seterusnya, karena benda-benda tersebut menurut Islam dan
  42. 42. 30 kaum muslimin tidak ada harganya. Karena mencuri benda yang diharamkan oleh syara’, tidak dikenakan sanksi potong tangan. Hal ini diungkapkan oleh Abdul Qadir Awdah, “Bahwa tidak divonis potong tangan kepada pencuri anjing terdidik (helder) maupun anjing tidak terdidik, meskipun harganya mahal, karena haram menjual belinya.31 2) Barang tersebut harus barang yang bergerak. Untuk dikenakanya hukuman hadd bagi pencuri maka disyaratkan barang yang dicuri harus barang atau benda yang bergerak. Suatu benda dapat dianggap sebagai benda bergerak apabila benda tersebut bisa dipindahkan dari satu tempat ke tempat lainya. 3) Barang tersebut harus barang yang tersimpan Jumhur fuqaha berpendapat bahwa salah satu syarat untuk dikenakannya hukuman hadd bagi pencuri adalah bahwa barang yang di curi harus tersimpan di tempat simpanannya. Sedangkan Zhahiriyah dan sekelompok ahli hadis tetap memberlakukan hukuman hadd walaupun pencurian bukan dari tempat simpanannya apabila barang yang dicuri mencapai nisab yang dicuri. 4) Barang tersebut mencapai nisab pencurian. Tindak pidana pencurian baru dikenakan hukuman bagi pelakunya apabila barang yang dicuri mencapai nisab pencurian. Nisab harta curian yang dapat mengakibatkan hukuman hadd potong ialah31 Abdul Qadir Audah, op.cit., h. 550.
  43. 43. 31 seperempat dinar (kurang lebih seharga emas 1,62gram), dengan demikian harta yang tidak mencapai nisab itu dapat dipikirkan kembali, disesuaikan dengan keadaan ekonomi pada suatu dan tempat.32 Di Indoneisa harga emas sekarang per gramnya Rp 492.500,-33 kalau dikruskan harga emas sekarang berate nisab pencurian yang bisa di potong tangannya adalah = Rp 1.654.800,- . c. Harta Tersebut Milik Orang Lain Untuk terwujudnya tindak pidana pencurian yang pelakunya dapat dikenai hukuman hadd, disyaratkan barang yang dicuri itu merupakan barang orang lain. Dalam kaitannya dengan unsur ini yang terpenting adalah barang tersebut ada pemiliknya, dan pemiliknya itu bukan si pencuri melainkan orang lain. Dengan demikian, apabila barang tersebut tidak ada pemiliknya seperti benda-benda yang mubah maka pengambilannya tidak dianggap sebagai pencurian, walaupun dilakukan secara diam-diam. Demikian pula halnya orang yang mencuri tidak dikenai hukuman apabila terdapat syubhat (ketidakjelasan) dalam barang yang dicuri.34 Dalam hal ini pelakunya hanya dikenai hukuman ta’zir. Contohnya seperti pencurian yang dilakukan oleh orang tua terhadap harta anaknya. Dalam kasus semacam ini, orang tua 32 Ahmad Wardi Muslich, Hukum Pidana Islam, Jakarta: Sinar Grafika Offset, 2004,h. 83. 33 https://emas24karat.com/ diakses pada tanggal 15 Januari 2012, pukul 10.30 WIB 34 ibid, h. 87.
  44. 44. 32 dianggap memiliki bagian dalam harta anaknya, sehingga terdapat syubhat dalam hak milik. Hal ini didasarkan kepada hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Maliki bahwa Rosulullah saw. Bersabda: ِ ‫اَﻧْﺖ َ و َ ﻣ َﺎ ﻟُﻚ‬ Engkau dan hartamu milik ayahmu. 35 Demikian pula halnya orang yang mencuri tidak dikenai hukuman hadd apabila ia mencuri harta yang dimiliki bersama-sama dengan orang yang menjadi korban, karena hal itu dipandang sebagai syubhat. Pendapat ini dikemukakan oleh Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad, dan golongan Syi’ah. Akan tetapi, menurut Imam Malik, dalam kasus pencurian harta milik bersama, pencuri tetap dikenai hukuman hadd apabila pengambilannya itu mencapai nisab pencurian yang jumlahnya lebih besar daripada hak miliknya.36 Pencurian hak milik umum menurut Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, dan golongan Syi’ah Zaidiyah, sama hukumannya dengan pencurian hak milik bersama, karena dalam ini pencuri dianggap mempunyai hak sehingga hal ini juga dianggap 35 Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, Terj. M. A. Abdurrahman dan A. HarisAbdullah,“Bidayatu’l Mujtahi”, Semarang: Asyifa, Cet. I, 1990, h. 660. 36 Ahmad Wardi Muslich, op cit., 88.
  45. 45. 33 syubhat. Akan tetapi menurut Imam Malik, pencuri tetap dikenai hukuman hadd.37 d. Adanya niat yang melawan hukum (mencuri) Unsur yang keempat dari pencurian yang harus dikenai hukuman hadd adalah adanya niat yang melawan hukum. Unsur ini terpenuhi apabila pelaku pencurian mengambil suatu barang bahwa ia tahu bahwa barang tersebut bukan miliknya, dan karenanya haram untuk diambil. Dengan demikian, apabila ia mengambil barang tersebut dengan keyakinan bahwa barang tersebut adalah barang mubah maka ia tidak dikenai hukuman, karena dalam hal ini tidak ada maksud untuk melawan hukum. Demikian pula halnya pelaku pencurian tidak dikenai hukuman apabila pencurian tersebut dilakukan karena terpaksa (darurat) atau dipaksa oleh orang lain.3. Ketentuan Hukum Tindak Pidana Pencurian dalam Hukum Pidana Islam. Apabila tindak pidana pencurian dapat dibuktikan dan melengkapi segala unsur dan syarat-syaratnya maka pencurian itu akan dijatuhi dua hukuman, yaitu: a. Pengganti kerugian (Dhaman). Menurut Imam Syafi’i dan Imam Ahmad, hukuman potong tangan dan penggantian kerugian dapat dilaksanakan bersama-sama. Alasan mereka adalah bahwa dalam perbuatan mencuri terdapat dua 37 ibid.
  46. 46. 34 hak, yaitu hak Allah sedangkan penggantian kerugian dikenakan sebagai imbangan dari hak manusia.38 Menurut Imam Abu Hanifah dan murid-muridnya penggantian kerugian dapat dikenakan terhadap pencuri apabila ia tidak dikenakan hukuman potong tangan. Akan tetapi apabila hukuman potong tangan dilaksanakan maka pencuri tidak dikenai hukuman untuk pengganti kerugian. Dengan demikian menurut mereka, hukum potong tangan dan penggantian kerugian tidak dapat dilaksanakan sekaligus bersama-sama. Alasannya adalah Bahwa Al qur’an hanya menyebutkan hukuman potong tangan untuk tindak pidana pencurian, sebagaimana yang tercantum dalam surat Al- Maidah ayat 38, dan tidak menyebutkan penggantian kerugian.39 b. Hukuman potong tangan. Hukuman potong tangan merupakan hukuman pokok, sebagaimana tercantum dalam Surat Al-Maidah ayat 38: Artinya: laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari38 Ahmad Wardi Muslich, op. cit., h. 90.39 ibid.
  47. 47. 35 Allah. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Q.S. Al-Maidah: 38)40 Aisyah menerangkan hadits Nabi, katanya: “Bahwa Nabi memotong tangan pencuri yang mencuri seharga seperempat dinar atau lebih dari padanya. “Demikian menurut Jama’ah kecuali Ibnu Majah. Menurut Ahmad, Muslim, Nisai, dan Ibnu Majah, Nabi bersabda : “Tidak dipotong tangan pencuri kecuali apabila barang curiannya seharga seperempat dinar, atau lebih dari padanya. “Demikian menurut Jama’ah kecuali Ibnu Majah Nabi bersabda: “Tidak dipotong tangan pencuri kecuali apabila barang curian itu seharga seperempat dinar lebih.41 Apabila dinar itu timbangan berat emas sama dengan = 12 dirham, 1 dirham = 1,12 gram, 1 dinar =12x1,12 gram emas = 13,44 gram emas.42 1 dinar = 13,44 gram emas, menurut hukum pidana Islam hukuman potong tangan apabila mencuri sebanyak seperempat dinar = 1 dinar (13,44) emas dibagi 4 = 3,36 emas gram, sedangkan harga emas sekarang per gramnya Rp 492.500,-43 kalau dikruskan harga emas sekarang 3,36 x Rp. 492.500,- = Rp 1.654.800,- “Rasulullah SAW sendiri seperti dikemukakan oleh Ibnu Abdulbar, pernah mengeksekusi potong tangan terhadap wanita bernama Fatimah binti al-Aswad bin Abdul ‘Asad al-Makhzumi40 Tim Syaamil Al-Quran, op.cit., h. 174.41 H.M.K. Bakri, Hukum Pidana Dalam Islam, Solo: Ramadani, t.t, h. 67- 68.42 Sudarsono, Pokok-pokok Hukum Islam, Jakarta: Rineka Cipta, 1992, Cet ke-1, h. 46.43 https://emas24karat.com/ diakses pada tanggal 15 Januari 2012, pukul 10.30 WIB
  48. 48. 36 yang mencuri harta seseorang”.44 Hukuman potong tangan dikenakan terhadap pencurian dengan tehnis menurut ulama madzhab empat berbeda-beda. Cara yang pertama, memotong tangan kanan pencuri pada pergelangan tangannya. Apabila ia mencuri untuk yang kedua kalinya maka ia dikenai hukuman potong kaki kirinya. Apabila ia mencuri untuk yang ketiga kalinya maka para ulama berbeda pendapat. Menurut Iman Abu Hanifah, pencuri tersebut dikenai hukuman ta’zir dan dipenjarakan. Sedangkan menurut Imam yang lainya, yaitu menurut Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad pencuri tersebut dikenai hukuman potong tangan kirinya. Apabila ia mencuri lagi untuk yang keempat kalinya maka dipotong kaki kanannya. “Apabila masih mencuri lagi untuk yang kelima kalinya maka ia dikenai hukuman ta’zir dan dipenjara seumur hidup (sampai mati ) atau sampai ia bertobat”.45 44 Muhammad Amin Suma dkk, Pidana Islam di Indonesia Peluang, Prospek danTantangan, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2001, h. 124. 45 Ahmad Wardi Muslich, op cit., h. 91.
  49. 49. BAB III PUTUSAN PN SEMARANG NO.465/PID.B/2010/PN.SMG TENTANG PENCURIAN KOTAK AMAL MASJIDA Profil Pengadilan Negeri Semarang 1. Sejarah Berdirinya Pengadilan Negeri Semarang Sebelum perang dunia II, di Semarang terdapat Raad va justitie yang artinya sama dengan Pengadilan Tinggi sekarang, di mana gedungnya pada saat itu ada di Tugu Muda sekarang, yang ditempati oleh Kodam, disamping itu terdapat pula Langerecht dan Landgeraad.1 Landgerecht mengadili perkara-perkara novies, yaitu pelanggaran lalu lintas, pelanggaran Peraturan Daerah (Perda), sedangkan landgeraad mengadili perkara-perkara berat. Setelah perang selesai Landgerecht dan Landgeraad kemudian menjadi menjadi Pengadilan Negeri yang berkedudukan di jalan Raden Patah Semarang. Untuk lebih meningkatkan pelayanan kepada masyarakat pencari keadilan, dirasakan bahwa gedung Pengadilan Negeri Semarang yang terletak di Jalan Raden Patah Semarang sudah tidak memenuhi syarat lagi, maka sejak bulan Desember 1977 Pengadilan Negeri Semarang telah menempati gedung yang baru yang terletak di jalan Siliwangi No.512 (Krapyak) Semarang yang berdiri diatas tanah seluas 4.000 m2, dan 1 Dokumentasi Situasi Daerah Hukum Pengadilan Tinggi dan Pengadilan Negeri JawaTengah (Situasi Daerah Hukum Pengadilan Negeri Semarang), Jakarta: Departemen Kehakimandan Hak Asasi Manusia R.I Direktorat Jenderal Badan Peradilan Umum dan Peradilan Tata UsahaNegara, 2001, h. 48-49. 37
  50. 50. 38 dengan luas wilayah Hukum kurang lebih 371,52 km2 yang terdiri dari 16 (enam belas) kecamatan, yaitu kecamatan : Gajah Mungkur, Mijen, Candisari, Tugu, Gunungpati, Ngalian, Banyumanik, Tembalang, Gayamsari, Semarang Utara, Semarang Barat, Pedurungan, Genuk, Semarang Selatan, Semarang Tengah, dan Kecamatan Semarang Timur.2. Tugas dan Wewenang Pengadilan Negeri Semarang Pada prinsipnya Pengadilan Negeri adalah pengadilan yang menerima, memeriksa, mengadili, dan menyelesaikan perkara perdata dan perkara pidana bagi warga negara yang mencari keadilan dan haknya dirampas kecuali undang-undang menentukan lain (UU No. 4 tahun 2004), kemudian wewenang dari pengadilan Negeri sendiri adalah meliputi perkara pidana maupun perdata. Hal ini menambah tugas yang baru diemban oleh pengadilan Negeri sebagai institusi pemerintahan. Pengadilan Negeri diperuntukan bagi semua pemeluk agama yang ada di Indonesia. Karena masalahnya begitu kompleks, maka dalam peraturannya terdapat bermacam-macam kitab undang-undang seperti kitab undang-undang hukum acara pidana dan kitab undang-undang hukum acara perdata, dan lain-lain. Yang menjadi landasan hukum keberadaan pengadilan Negeri ini tercantum dalam Undang–Undang No. 8 tahun 2004, yaitu: a. Pasal 2 Undang-Undang No. 8 tahun 2004, “Pengadilan umum adalah dalam data pelaksanaan kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan pada umumnya”.
  51. 51. 39 b. Pasal 3 ayat 1 Undang-Undang No. 8 tahun 2004, “Kekuasaan di lingkungan atau pelaksanaan kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan dengan pengadilan tinggi”. c. Kekuasaan kehakiman di lingkungan pengadilan umum berpuncak pada Mahkamah Agung sebagai pengadilan Negara tertinggi. Kaitannya dengan tugas dan wewenang pengadilan negeri maka tidak terlepas dari proses beracara dalam suatu persidangan, dimana dalam hukum acara pidana dijelaskan mengenai aturan-aturan yang memberikan petunjuk apa yang harus dilakukan oleh penegak hukum dan orang-orang yang terlibat di dalamnya (tersangka, terdakwa, penasehat hukum, dan saksi).B Kronologis Kasus Dalam Putusan Nomor : 465/Pid.B/2010/Pn.Smg Tentang Pencurian Kotak Amal Masjid Kejadian ini terjadi pada hari Sabtu tanggal 01 Mei 2010 sekitar pukul 02.30 Wib atau setidak-tidaknya pada waktu lain di bulan Mei 2010 bertempat di Masjid Miftahul Huda Kampung Sumurbong Kel. Rejomulyo Kec. Semarang Timur, Kota Semarang. Bahwa pada waktu dan tempat sebagaimana tersebut di atas awalnya terdakwa berangkat dari rumah dengan tujuan mengambil uang dari kotak amal yang berada di dalam Masjid Miftahul Huda yang terletak tidak jauh dari pasar Kobong tepatnya di kampung Sumurbong kelurahan Rejomulyo kecamatan Semarang Timur, Kota Semarang, kemudian terdakwa yang melihat keadaan sekitar masjid sepi langsung masuk dan mendekati kotak
  52. 52. 40 amal. Setelah itu dengan menggunakan tatah kayu yang terbuat dari besi yang telah dipersiapkan sebelumnya, terdakwa mencongkel kotak amal. Setelah berhasil mencongkel kotak amal terdakwa mengambil uang yang ada di dalamnya sebesar Rp. 161.000,- (seratus enam puluh satu ribu rupiah), yang terdiri dari 2 (dua) lembar pecahan Rp 20.000,- (dua puluh ribu rupiah), 3 (tiga) lembar pecahan Rp. 10.000,- (sepuluh ribu rupiah), 8 (delapan) lembar pecahan Rp. 5000,- (lima ribu rupiah), 8 (delapan) lembar pecahan Rp. 2000,- (dua ribu rupiah), dan 3 (tiga) lembar pecahan Rp. 1.000,- (seribu rupiah), tidak lama setelah terdakwa berhasil mengambil uang dari dalam kotak amal datang warga sekitar yang kemudian mengamankan terdakwa berikut barang bukti.2C Dasar Pertimbangan Hakim terhadap Putusan Nomor: 465/Pid.B/2010/Pn.Smg Tentang Pencurian Kotak Amal Masjid Dalam hal memberikan keputusan Pengadilan Negeri Hakim menggunakan beberapa dasar hukum sebagai bahan pertimbangan bagi perkara-perkara yang telah diajukan, baik yang berupa ketentuan-ketentuan tertulis yaitu Undang-Undang maupun dasar hukum lain yang dapat menjadi pertimbangan bagi terdakwa. Adapun yang menjadi dasar dan pertimbangan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Semarang yang telah memutuskan dan menetapkan perkara nomor: 465/Pid.B/2010/Pn.Smg Tentang Pencurian Kotak Amal Masjid. 2 Arsip Putusan Pengadilan Negeri Semarang nomor : 465/Pid.B/2010/Pn.Smg.
  53. 53. 41 Bahwa ia terdakwa Salim bin Asropi pada hari sabtu tanggal 01 Mei2010 sekitar pukul 02.30 Wib atau setidak-tidaknya pada waktu lain dibulanMei 2010 bertempat di Masjid Miftahul Huda Kampung sumurbong Kel.Rejomulyo Kec. Semarang Timur, Kota Semarang atau setidak-tidaknyadisuatu tempat yang masih termasuk daerah hukum Pengadilan NegeriSemarang telah mengambil barang sesuatu berupa yaitu berupa uang tunaisebesar Rp. 161.000,- (seratus enam puluh satu ribu rupiah), yang terdiri dari 2(dua) lembar pecahan RP. 20.000,- (dua puluh ribu rupiah), 3 (tiga) lembarpecahan Rp. 10.000,- (sepuluh ribu rupiah), 8 (delapan) lembar pecahan Rp.5000,- (lima ribu rupiah), 8 (delapan) lembar pecahan Rp. 2000,- (dua riburupiah), dan 3 (tiga) lembar pecahan Rp. 1.000,- (seribu rupiah), yangseluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain, dengan maksud untukmemiliki secara melawan hukum yang untuk masuk ketempat melakukankejahatan, atau untuk sampai pada barang yang diambilnya dilakukan dengancara merusak, memotong, memanjat atau dengan memakai anak kunci palsu,perintah palsu, atau pakai jabatan palsu. Adanya barang bukti berupa uang sebesar Rp 161.000,-, satu buahtatah yang terbuat dari besi dengan panjang sekitar 20cm tidak bergagang dansatu buah kaos hitam merek Darbost, Selain itu telah didengar pula keterangansaksi menjadi bukti dari saksi-saksi yang telah disumpah menurut agamanya,diantaranya adalah sebagai berikut:1. ROHANI Bin NGARDI, dibawah sumpah persidangan menerangkan yang pada pokoknya sebagai berikut:
  54. 54. 42 Bahwa, kejadianya pada hari sabtu tanggal 01 Mei 2010 sekira jam 02.30 Wib ditempat di Masjid Miftahul Huda kampong sumurbong Kel.Rejomulyo Kec. Semarang timur, Kota Semarang. Bahwa, awalnya saksi mengetahui kotak amal dalam keadaan digembok dan diletakkan dalam masjid Miftahul Huda. Bahwa, pada waktu itu saksi sedang berada dirumah dibangunkan oleh saksi ROHANI dan diberitahu oleh saksi setelah itu saksi menuju ke Masjid Miftahul Huda sesampainya di Masjid saksi bertemu dengan tersangka selanjutnya menggeladah tersangka dan saksi menemukan uang tunai di saku celana sejumlah Rp. 161.000,- (seratus enam puluh satu ribu rupiah), yang terdiri dari 2 (dua) lembar pecahan Rp. 20.000,- (dua puluh ribu rupiah), 3 (tiga) lembar pecahan Rp. 10.000,- (sepuluh ribu rupiah), 8 (delapan) lembar pecahan Rp. 5000,- (lima ribu rupiah), 8 (delapan) lembar pecahan Rp. 2000,- (dua ribu rupiah), dan 3 (tiga) lembar pecahan Rp. 1.000,- (seribu rupiah). Bahwa, kemudian saksi membangunkan saksi ABDUL GAFAR, selanjutnya tersangka berhasil ditangkap dan diamankan.2. AMAT KOSIM Bin SOEMOSUWITO, dibawah sumpah persidangan menerangkan yang pada pokoknya sebagai berikut : Bahwa, kejadianya pada hari sabtu tanggal 01 Mei 2010 sekira jam 02.30 Wib bertempat dimasjid Miftahul huda kampong Sumurbong kel. Rejomulyo Kec. Semarang timur, Kota Semarang. Bahwa, awalnya saksi mengetahui kotak amal dalam keadaan digembok dan diletakkan didalam Masjid Miftahul Huda. Bahwa, pada waktu itu saksi sedang berada di rumah dibangunkan oleh Saksi ROHANI dan diberitahu oleh saksi setelah itu saksi menuju ke masjid Miftahul huda sesampainya dimasjid saksi bertemu dengan tersangka selanjutnya menggeledah tersangka dan saksi menemukan uang tunai disaku celana sejumlah Rp. 161.000,- (seratus enam puluh satu ribu rupiah), yang terdiri dari 2 (dua) lembar pecahan Rp. 20.000,- (dua puluh ribu rupiah), 3 (tiga) lembar pecahan Rp. 10.000,- (sepuluh ribu rupiah), 8 (delapan) lembar pecahan Rp. 5000,- (lima ribu rupiah), 8 (delapan) lembar pecahan Rp. 2000,- (dua ribu rupiah), dan 3 (tiga) lembar pecahan Rp. 1.000,- (seribu rupiah). Bahwa, saksi tidak mengetahui bagaimana cara tersangka mengambil uang masjid dan saksi tahu tersangka mengambil uang dengan cara merusak kotak amal yang ada didalam masjid, karena kotak amal ditepati sudah dalam keadaan rusak. Bahwa, selanjutnya tersangka berhasil sitangkap dan diamalkan oleh petugas. Atas keterangan saksi tersebut para terdakwa membenarkanya.3. ABDUL GAFAR Bin H. MUHNI, Dalam BAP di kepolisian pokoknya menerangkan sebagai berikut : Bahwa, kejadianya pada hari sabtu tanggal 01 Mei 2010 sekira jam 02.30 Wib ditempat di Masjid Miftahul Huda kampong sumurbong Kel.Rejomulyo Kec. Semarang timur, Kota Semarang.
  55. 55. 43 Bahwa, saksi tidak mengetahui bagaimana tersangka mengambil uang kas masjid dan yang saksi tahu tersangka mengambil uang dengan cara merusak kotak amal yang ada didalam Masjid Bahwa, pada waktu itu saksi sedang berada dirumah dibangunkan oleh Saksi ROHANI dan diberitahu oleh Saksi ROHANI selanjutnya saksi menuju ke masjid Miftahul Huda. Bahwa, saksi melihat disekitar kotak amal banyak uang tercecer. Bahwa, saat tersangka ditangkap juga ditemukan uang tunai sejumlah Rp. 161.000,- (seratus enam puluh satu ribu rupiah) terdiri dari pecahan Rp 20.000,-, Rp 10.000,- Rp 5.000,- Rp 1.000,- Bahwa, tersangka ditangkap oleh warga masyarakat dan tidak lama kemudian petugas datang mengamankan tersangka berikut barang bukti ke Polsek Sidodadi. Atas keterangan saksi tersebut para terdakwa membenarkanya.3 Dari keseluruhan pemeriksaan yang terjadi dalam persidangandijelaskan antara barang bukti, keterangan saksi serta pengakuan terdakwasendiri satu sama lain saling berkaitan dan berhubungan. Majelis Hakimmemperoleh fakta-fakta dan keadaan-keadaan yang akan disimpulkan dandituangkan bersama-sama dengan pertimbangan pembuktian setiap unsur-unsur perbuatan pidana yang didakwakan kepada terdakwa tersebut: Dakwaan yang diajukan kepada terdakwa adalah dakwaan tunggal,maka Majelis Hakim akan membuktikan dakwaan pasal 363 ayat (1) ke-5KUHP yang unsur-unsurnya sebagai berikut:1. Unsur mengambil barang sesuatu2. Unsur seluruhnya atau sebagian adalah kepunyaan orang lain3. Unsur dengan maksud untuk dimiliki dengan melawan hukum4. Unsur untuk masuk ketempat melakukan kegiatan kejahatan itu untuk sampai pada barang yang diambil, dilakukan dengan merusak, memotong atau memanjat atau dengan jalan memakai anak kunci palsu, perintah palsu atau pakaian jabatan palsu. 3 ibid.
  56. 56. 44 Sebelum pengadilan menjatuhkan putusan yang setimpal denganperbuatan terdakwa tersebut, maka perlu pula terlebih dahulu dipertimbangkanhal-hal yang meringankan maupun yang memberatkan terdakwa. Hal-hal yangmeringankan terdakwa diantaranya, terdakwa mengakui terus terangperbuatanya dan menyesali perbuatanya, terdakwa bersikap sopandipersidangan, dan terdakwa belum pernah dihukum. Sedangkan hal-hal yangmemberatkan, perbuatan terdakwa merugikan orang lain dan perbuatanterdakwa meresahkan masyarakat. Dalam hal ini majelis hakim mendengar pula tuntutan jaksa penuntutumum, yang pada pokoknya menuntut agar pengadilan negeri Semarangmemutuskan perkara terhadap terdakwa sebagai berikut:1. Menyatakan Terdakwa SALIM Bin ASROPI terbukti secara sah dan menyakinkan bersalah melakukan tindak pidana pencurian dengan pemberatan sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 363 ayat (1) Ke-4 dan 5 KUHP dalam surat dakwaan.2. Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa SALIM Bin ASROPI berupa pidana penjara selama 8 (delapan) bulan dengan dikurangi selama terdakwa berada dalam tahanan sementara, dengan perintah terdakwa tetap ditahan ;3. Menyatakan barang bukti berupa: Satu buah tatah yang terbuat dari besi dengan panjang sekitar 20cm tidak bergagang, dirampas untuk dimusnahkan Uang tunai sebesar Rp. 161.000,- (seratus enam puluh satu ribu rupiah), yang terdiri dari dua RP. 20.000,- (dua puluh ribu rupiah), tiga Rp. 10.000,- (sepuluh ribu rupiah), delapan Rp. 5000,- (lima ribu rupiah), delapan Rp. 2000,- (dua ribu rupiah), dan tiga Rp. 1.000,- (seribu rupiah), dikembalikan kepada yang berhak: Masjid Miftahul Huda Kampung Sumurbong Kel. Rejomulyo Kec. Semarang Timur, Kota Semarang4. Menetapkan agar tedakwa dibebani membayar biaya perkara ebesar Rp. 1.000,- (seribu rupiah)
  57. 57. 45D Putusan Nomor : 465/Pid.B/2010/Pn.Smg Tentang Pencurian Kotak Amal Masjid MENGADILI 1. Menyatakan Terdakwa : SALIM Bin ASROPI terbukti secara syah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “Pencurian dalam keadaan memberatkan”: 2. Menjatuhkan pidana kepada terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjara selama: 6 (enam) bulan: 3. Menetapkan masa penahanan yang telah dijalani oleh terdakwa dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan: 4. Memerintahkan terdakwa tetap berada dalam tahanan: 5. Menetapkan barang bukti berupa: Satu buah tatah yang terbuat dari besi dengan panjang sekitar 20 cm tidak begagang, dirampas untuk dimusnahkan ; Uang tunai sebesar Rp. 161.000,- (seratus enam puluh satu ribu rupiah), yang terdiri dari 2 (dua) lembar pecahan RP. 20.000,- (dua puluh ribu rupiah), 3 (tiga) lembar pecahan Rp. 10.000,- (sepuluh ribu rupiah), 8 (delapan) lembar pecahan Rp. 5000,- (lima ribu rupiah), 8 (delapan) lembar pecahan Rp. 2000,- (dua ribu rupiah), dan 3 (tiga) lembar pecahan Rp. 1.000,- (seribu rupiah), dikembalikan kepada yang berhak : Masjid Miftahul Huda
  58. 58. 46 kampung sumurbong Kel. Rejomulyo Kec. Semarang timur, Kota Semarang.6. Membebani terdakwa untuk membayar ongkos perkara sebesar Rp 1.000,- (seribu rupiah)4 4 ibid.
  59. 59. BAB IV ANALISIS PUTUSAN PENGADILAN NEGERI SEMARANG NO.465/PID.B/2010/PN.Smg TENTANG PENCURIAN KOTAK AMAL MASJIDA. Analisis Dasar Pertimbangan Hakim Terhadap Putusan Pengadilan Negeri Semarang No.465/Pid.B/2010/PN.Smg Tentang Pencurian Kotak Amal Masjid Tindak pidana pencurian kotak amal yang di lakukan oleh Salim Bin Asropi pada hari Sabtu tanggal 01 Mei 2010 sekitar jam 02.30 WIB, bertempat di Masjid Miftahul Huda Kampung Sumurbong Kel.Rejomulyo Kec. Semarang Timur, Kota Semarang itu sudah di diperdatakan dan terdakwa dijatuhi hukuman penjara selama 6 (enam) bulan. Kasus ini sangat menarik untuk di kaji lebih jauh, seperti yang penulis sampaikan pada latar belakang masalah, mengingat pertimbangan hukum terhadap Putusan Pengadilan Negeri Semarang No.465/Pid.B/2010/PN.Smg tentang Pencurian Kotak Amal Masjid. Kasus ini termasuk kategori pencurian dalam keadaan memberatkan. Salim Bin Asropi telah mengambil uang tunai sebesar Rp 161.000,- yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain dengan maksud ingin memilikinya dengan melawan hukum yang dipersiapkan dengan membawa alat tatah kayu yang terbuat dari besi untuk mencongkel kotak amal untuk mempermudah pencurian. 47
  60. 60. 48 Pencurian ini melanggar pasal 363 ayat (1) ke-4 dan ke-5 KUHP, dandi ancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun. Akan tetapi dalamputusan Pengadilan Semarang No.465/Pid.B/2010/PN.Smg memutuskanperkara tersebut hanya dijatuhi hukuman penjara selama enam bulan dandikenakan biaya perkara sebesar seribu rupiah.1 Kenapa bisa demikian?. Menurut penulis semua jenis tindak pidana pencurian adalah perbuatanyang bertentangan dengan hukum, atau dengan kata lain tindak kriminal. Halyang melatar belakangi tindak pidana pencurian sangatlah beragam, misalnya,karena adanya niat dan kesempatan, dan juga karena kondisi yang melingkupi,baik intenal maupun eksternal dari si pelaku. Namun lepas dari permasalahanitu, pencuri adalah pencuri, apapun alasan atau motif pencuri harus di kenakanhukuman karena telah merugikan orang lain sesuai berat ringan kasusseseorang dan bagaimana hakim memutuskan. Alasan putusan yang diambil Hakim Pengadilan Negeri Semarangterhadap kasus pencurian kotak amal yang di lakukan oleh Salim Bin Asropimerupakan putusan pemidanaan dimana putusan Pengadilan yang dijatuhkankepada terdakwa karena dari hasil pemeriksaan sidang kesalahan terdakwaatas perbuatan yang didakwakan kepadanya.2 Sedangkan tujuan pemidanaanadalah untuk memperbaiki kerusakan individual dan sosial yang diakibatkanoleh tindak pidana. Hal ini terdiri atas seperangkat tujuan pemidanaan yangharus dipenuhi. “Menurut Petrus Irawan Panjaitan dan PandapotanSimorangkir, perangkat tujuan pemidanaan yang dimaksud terdiri atas: 1 Kutipan Putusan No.465/Pid.B/2010/PN.Smg. 2 Bambang Waluyo, Pidana dan Pemidanaan, Jakarta: Sinar Grafika, 2004, h. 86.

×