B.indonesia

391 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
391
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
1
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

B.indonesia

  1. 1. Kelompok 5 • Abrar Riski Ilhamsyah • Fatimatuz Zahra • Ghina Nadhifah • Khusnul Khotimah • Kartika Dwi Rachmawati • Nadia Bella Salsabilla
  2. 2. Hasil penelitian • • • • Hal yang diamati : Air Dalam Kemasan Tempat pengamatan: Sekolah Waktu pengamatan: Rabu, 30 Oktober 2013 Tujuan pengamatan : untuk mengetahui apakah air dalam kemasan baik di konsumsi
  3. 3. Faktanya • Dalam pengujian, YLKI (yayasan lembaga konsumen ndonesa) menggunakan Laboratorium Afiliasi Kimia Universitas Indonesia dengan menggunakan metode sesuai standar SNI wajib untuk AMDK. Beberapa parameter yang digunakan YLKI dalam pengujian, antara lain: pH; Ammonium (NH3); Sulfat (SO4); Flourin (F); Copper (Cu); Mangan (Mg); Cromium (Cr); Barium (Ba); Cadmium (Cd); Timbal (Pb); Total bakteri; dan Total Yeast and Mold. Dari tigabelas parameter ini, ke-21 merek AMDK yang diuji YLKI memenuhi syarat SNI 2006, kecuali untuk angka total bakterinya.
  4. 4. Banyak orang menganggap air minum kemasan botol bebas bakteri penyakit. Lantaran melalui proses pengolahan, air kemasan dipercaya lebih sehat ketimbang air keran. Studi Ccrest Laboratories Kanada menemukan, air minum kemasan botol mengandung bakteri, 100 kali lebih banyak, daripada batas yang diperbolehkan. Sebanyak 70 persen air kemasan botol merek populer di Kanada mengandung kadar bakteri lebih tinggi daripada air keran. Pakar mikrobiologi Dr Sonish Azam dari Ccrest Laboratorium, yang memimpin studi, mengatakan, klaim produsen air kemasan tentang kemurnian air tidak benar. "Jumlah bakteri heterotrofik dalam botol memiliki angka yang jauh melampaui batas yang dizinkan." Dr Azam mengatakan, kontrol yang lebih ketat perlu dikenakan pada produsen air kemasan. "Botol air minum kemasan memang tidak akan bebas dari mikroorganisme. Tetapi tingkat yang diamati dalam studi sangat mengejutkan," katanya.
  5. 5. • Tingginya bakteri dalam air kemasan, menurut Azam, berisiko bagi populasi yang rentan, seperti bayi, anak-anak, ibu hamil dan sistem kekebalan orang lanjut usia. Di Kanada, kualitas air keran lebih memenuhi syarat kesehatan, dibandingkan air kemasan. Ahli Gizi Dr Chris Fenn mengatakan, air kemasan tidak diperlukan dengan tersedianya sistem air minum yang cukup baik di sebuah negara. "Kualitas air keran yang baik membuat tidak ada masalah seperti yang ditemukan dalam air kemasan,“ • Di sejumlah negara maju, pemerintah memang menyediakan sistem air keran siap minum. Air yang mengucur lewat keran di rumah bisa langsung dikonsumsi tanpa dimasak. Sedangkan di Indonesia air keran belum memenuhi standar siap minum. Permasalahan yang sering muncul di negara kita adalah buruknya kualitas air minum isi ulang. Beberapa waktu lalu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menemukan ratusan depo yang menjual air minum isi ulang mengandung bakteri E-Coli.
  6. 6. Air Minum Dalam Kemasan Yang Bermasalah Masyarakat diingatkan untuk hati-hati mengonsumsi air minum dalam kemasan (AMDK) berbentuk gelas. Hasil penelitian yang dilakukan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menunjukkan 11 dari 21 merek AMDK berbentuk gelas terbukti mengandung koloni bakteri yang bisa menimbulkan risiko kesehatan. "Batasan aman bagi kesehatan adalah di bawah 100.000 mikrobakteri per mililiter air. Diatas batas itu, bisa mengganggu kesehatan," kata Deputi Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), Roy Sparingga kepada wartawan, di Kantor YLKI, Jakarta. • Dari hasil temuan ini, YLKI mengirimkan surat pemberitahuan kepada 11 perusahaan yang memiliki produk bermasalah. Namun, yang memberikan klarifikasi kepada YLKI hanya sembilan perusahaan.
  7. 7. Hasil peneltian Banyak air kemasan yang beredar di sekitar kita. Dan air yang kita lihat dengan mata telanjang sangatlah jernih, tetapi bila kita teliti lebih lanjut air tersebut tidak sejernih kelihatannya. Seperti contohnya air minum kemasan yang bermerek Aqua, dalam penelitian terlihat banyak karat dan berlumut. Hal ini berbeda dengan Air oksigen karena air tersebut tidak mengalami perubahan.
  8. 8. kesimpulan • Setelah diteliti banyak air kemasan yang beredar di sekitar kita berkarat dan berlumut karena banyak kandungan besi yang terdapat di dalam nya.
  9. 9. pertanyaan • Fika: bagaimana jika air keran bila dimasak? • Nisrina: menurut dari hasil penelitian, air apa yang dianjurkan paling baik bagi kita? • Syifa: jadi yang paling banyak bakterinya itu didalam kemasan atau didalam airnya?

×