Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Bahan sosialisasi bkl 2015

2,186 views

Published on

  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Bahan sosialisasi bkl 2015

  1. 1. LITURGI “Sebagai Syukur Atas Iman dan Panggilan” Disampaikan Oleh Komisi Liturgi Kev. Semarang
  2. 2. LITURGI “Sebagai Syukur Atas Iman dan Panggilan”
  3. 3.  Secara pribadi  Secara Bersama (dalam doa Rosario keluarga/lingkungan  Dilaksanakan pada bulan Mei  Dimungkinkan untuk bisa diperdalam pada bulan Oktober (bulan Rosario)
  4. 4.  Renungan dibuat singkat (5-6 menit)  Isi renungan : pengalaman sehari-hari, pendalaman liturgi, Sabda Allah  Dapat dibacakan pada awal, antara peristiwa atau akhir Doa Rosario  Dimungkinkan untuk sharing atau diskusi
  5. 5.  1 Mei = Hari Buruh Internasional, masuk bulan Maria, masuk BKL.  Gereja tampil sebagai saksi kebenaran dan kemerdekaan, kedamaian dan keadilan, agar semua orang bangkit dengan harapan baru.  Peristiwa Hari Buruh Internasional dengan BKL dan Bulan Maria perlu dimaknai, doa dan karya, Liturgi dan pelayan sehari-hari tidak bisa dipisahkan.  Lihat SC art. 10
  6. 6.  Sukacita hidup membiara dilandasi oleh hidup doa yang kuat dalam hidup sehari-hari.  Paus Fransiskus :”Dimana ada kaum religius, disitu ada sukacita”.  Peristiwa Paskah membuat kita semakin bersyukur dan bersukacita atas panggilan hidup membiara.  Kita harus turut serta, mendukung aktif dalam mengisi Tahun Hidup Bakti.
  7. 7.  Hidup adalah anugerah Tuhan, kita hanya menjalankan tugas yang diberikan Tuhan.  Semua yang baik harus disadari sebagai buah kehidupan karena bersatu dengan Tuhan.  Bersyukur menjadi nada dasar setiap orang Kristiani.  Ekaristi ungkapan dan merayakan sebagai sumber dan puncak kehidupan umat Kristiani.  Setelah Ekaristi hendaknya kita harus :”Penuh Syukur”, hidup sebagai wujud merayakan buah ekaristi.
  8. 8.  Kehidupan Orang Katolik Minus One = kehidupan yang tidak lengkap.  Menjadi orang Katolik harus Bunder (lengkap)  Gereja menjaga dan mebuat orang Katolik menjadi lengkap melalui Sakramen.  Hakekat Sakramen (SC Art. 59) menguduskan manusia, membangun Tubuh Kristus, mempersembahkan Ibadat Kepada Allah.  Rajin menerima Sakramen menjadikan orang Katolik semakin utuh dan komplit.
  9. 9.  Sakramentali sangat akrab dengan kehidupan orang Katolik sehari-hari.  Sakramentali sebagai tanda-tanda suci, yang memiliki kemiripan dengan sakramen;  Sakramentali menandakan karunia yang bersifat rohani, dan diperoleh berkat doa permohonan Gereja.  Sakramentali = upacara/kegiatan liturgis atau ibadat yang sifatnya bersumber dari atau mengarah pada sakramen.  Sakramen adalah tanda dan sarana Tuhan untuk meng-kuduskan manusia.
  10. 10.  Pemberkatan Sakramentali benedictiones Invocativae pemberkatan yang tidak mengubah status atau tujuan penggunaan dari yang diberkati.  Tujuannya agar apa yang diberkati memperoleh perlindungan Allah atau bisa digunakan bagi Kemuliaan Allah dan membantu keselamtan jiwa kita
  11. 11.  Sakramentali Benedictiones Constitutivae adalah upacara/ibadat pemberkatan yang mengubah status atau tujuan penggunaan dari yang diberkati.  Objek atau sasaran dari pemberkatan ini bisa manusia/benda.  Termasuk dalam jenis ini adalah consercratio melalui pengurapan minyak krisma pada tabisan imam/uskup, serta dedicatio.  Ke-khasan sakramentali kedua pada sifat yang mengubah satus atau tujuan.
  12. 12.  Eksorsisme = pengusiran setan, dibedakan menjadi 2:  Eksorsisme Imprekatoris, pengusiran setan dengan perintah langsung. (Dilakukan oleh orang/Imam tertentu)  Eksorsisme Deprekatoris, pengusiran setan dengan doa permohonan, boleh dilakukan oleh siapapun dgn penuh Iman Kepada Yesus  Gereja mengakui setan itu ada, namun dapat dikalahkan dengan kuasa Tuhan Yesus.
  13. 13.  Tahap 1 Masa Prakatekumenat diakhiri dengan pelantikan katekumenat  Tahap 2 Masa Katekumenat diakhiri dengan upacara tahap 2  Tahap 3 Masa persiapan terakhir, diakhiri dengan penerimaan Sakramen Inisiasi  Tahap 4 masa mistagogi, idealnya pada masa paskah diakhiri pada hari raya Pentakosta
  14. 14.  Orang pada umumnya egan untuk menerima Sakramen tobat  Sakrmen tobat lebih pada penerimaan pendamaian (rekonsiliasi), penerimaan kasih Allah yang telah lebih dulu mengasihi kita.  Theologi Katolik mengajarkan : Allah lebih dahulu mengasihi manusia.  Dosa apapun (sekecil apapun) tindakan melukai kasih, maka tidak cukup hanya berdoa tobat, harus disertai dengan penermiaan Sakramen tobat.
  15. 15.  Iman/apa yang diimani bayi harus dibantu (keluarga dan komunitas).  Seperti halnya orangtua memilih dan menyediakan pakaian dan makanan, demikian orangtua juga memilihkan apa yang diimani anaknya.  Membabtiskan bayi/anak sejak dini buka pemaksaaan terhadap apa yang diimani.  Katekese bagi orangtua dan wali babtis perlu, untuk pendampingan bagi anaknya.
  16. 16.  Untuk menjadi orang Katoli tidak cukup pengetahuan dan kepercayaan terhadap ajaran Gereja.  Orang perlu “menghidupi” imannya bersama umat  Terlibat aktif di Lingkungan, wilayah dan Paroki.  Dengan dibaptis orang disatukan dengan kesatuan Allah Tri Tunggal dan dibebaskan dari dosa (Babtis bukan peristiwa pribadi melainkan peristiwa seluruh Gereja)
  17. 17.  Absolusi adalah pengampunan dosa dari Allah melalui para Imam atas kuasa tabisan suci.  Penitensi adalah silih atas dosa-dosa yang telah dibuat.  Contoh penitensi : doa, derma, karya amal, pelayanan, pantang, dll
  18. 18.  Peristiwa Kenaikan Tuhan Yesus berarti memuliakan Yesus sebagai Allah.  Dengan menerima sakramen inisiasi orang juga dimuliakan bersama Yesus, serta mendapatkan kehidupan abadi.  Kehidupan abadi dialami orang yang meninggal dengan menerima anugerah dan karunia dari Allah.  Upacara pemakaman/Misa Requiem hendaknya mengungkapkan ciri Paskah kematian Kristiani
  19. 19.  Orang sakit jangan takut menerima sakramen pengurapan/Minyak Suci.  Sakramen Minyak suci diberikan kepada orang sakit/lanjut usia, sakramen sakit tidak untuk mempercepat kematian.  Sakramen pengurapan orang sakit mempersatukan si penerima dengan Tuhan Yesus sendiri.  Sakramen pengurapan orang sakit juga menganugerahkan pengampunan dosa.
  20. 20.  Perbedaan tidak dari tempat maupun lama studi, melainkan sejarah berdirinya serta spritiualitas yang dihidupi.  Imam diosesan mengikat diri pada suatu keuskupan dan tidak mengucapkan kaul di hadapan publik, tetapi menghayati 3 nasehat injil, yaitu ketaatan, kemiskinan dan kemurnian.  Imam religius, merupakan imam biarawan yang menyatakan kaul secara publik dan menghayati ketiga nasihat injili, serta melandaskan spiritualitas hidupnya sesuai dengan kharisma pendiri.
  21. 21.  Gereja Katolik membuka/mengijinkan penggunaan bahasa pribumi dalam perayaan/upacara liturgi.  Dalam Konstitusi Liturgi artikel 63 : “dalam pelayanan sakramen-sakramen dan sakramentali tidak jarang menggunakan bahasa pribumi.  Hari Komunikasi Sosial sedunia, harapan kita dapat menjadi satu dengan Allah dan juga sesama.
  22. 22.  Belas kasihan Allah terhadap kedamaian jiwa arwah tidak tergantung dari banyaknya jumlah ujub Misa.  Permohonan misa yang sama terkesan tidak memberi kesempatan umat lain untuk menyampaikan ujubnya (memonopoli).  Misa arwah dapat diselenggarakan pada waktu menerima berita kematian, pemakaman, dan peringatan 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1 tahun dan 2 tahunnya.
  23. 23.  Kebiasaan penggabungan upacara sekaligus di biara tidak dianjurkan lagi, karena penggabungan semacam itu menghilangkan tingkatan dan makna hidup membiara yang memiliki arti dan konsekwensi yang berbeda (eklesial dan yuridis).  Upacara Kaul para religius dalam tata liturgi termasuk sakramentali.  Konstitusi Liturgi menyatakan pengikraran kaul religius, pembaruan kaul untuk meningkatkan keutuhan, kesederhanaan dan keluhuran upacara. Dalam kaul kekal mempunyai ciri meriah dan agung.
  24. 24.  Konstitusi Liturgi artikel 83 mengajarkan : “Dengan kodrat manusiawi, Yesus Kristus, Imam Agung Perjanjian Baru dan kekal, memasukan pengasingan di dunia dan sepanjang segala abad dinyanyikan bangsal surgawi.  Ibadat harian mengingatkan warga gereja untuk selalu berdoa.  Ia melestarikan tugas imamat-Nya melalui Gereja-Nya.  Ada macam-macam doa : doa pribadi, doa bersama, dan doa liturgis.  Dengan mendoakan Ibadat Harian kita mengambil bagian dalam Gereja yang sedang berdoa (ecclesia orans)
  25. 25.  Semua hari itu baik karena telah ditebus dan disucikan oleh Kristus.  Ibadat Harian didoakan sepanjang hari untuk mengungkapkan iman dan pujian akan Tuhan yang menebus dan menguduskan waktu kita.  Konstitusi Liturgi artikel 84 : “Berdasarkan Tradisi kristiani yang kuno Ibadat Harian disusun sehingga setiap hari disucikan dengan pujian kepada Allah.  Demikianlah Ibadat Harian mengingatkan kita akan karya penebusan Tuhan, dan disiapkan untuk hidup saleh seturut bimbingan dan perlindungan Allah.
  26. 26.  Gereja Katolik sejak awal telah memiliki tradisi doa yang kuat.  Konstitusi Liturgi artikel 89 : Ibadat Pagi dan Ibadat Sore merupakan ibadat utama, Ibadat Bacaan dapat didoakan kapanpun kemudian Ibadat Siang yang di biara kontemplatif didoakan sebanyak tiga kali disertai Ibadat Penutup.  Bapa Konsili Vatikan II mengajarkan doa Ibadat Harian sebagai doa resmi Gereja sungguh menjadi sumber kesalehan dan bekal doa pribadi.  Ibadat Harian mengarahkan hati kita sehati dengan doa seluruh Gereja.
  27. 27. Sekuensia memiliki makna pujian kepada Tuhan yang hadir dalam pewartaan Injil yang disampaikan. Sekuensia ini menyambung bacaan kedua dari hari raya Pentakosta. Sekuensia Pentakosta wajib dinyanyikan/didaraskan Sekuensia dinyanyikan/didaraskan sebelum Alleluia (PUMR 2002)
  28. 28. Sebelum penerimaan Sakramen Krisma/penguatan didahului dengan pembaruan janji baptis, sebagai kesatuan yang erat dari Sakramen babtis dan Krisma sebagai bagian inisiasi kristiani. Menekankan kesatuan sakramen Baptis, Penguatan dan Ekaristi. Karena merupakan satu kesatuan Baptis dan Krisma, maka tidak dianjurkan lagi untuk mencari nama Krisma.
  29. 29.  Dengan tahbisannya seorang Diakon, apalagi Imam dan Uskup memiliki kewajiban mendoakan Ibadat Harian. Begitu juga kaum Religius juga diwajibkan mendoakan Ibadat Harian.  Pada Kitab Hukum Kanonik kanon 1174 paragraf 1 : “Para klerikus wajib melaksanakan Ibadat Harian”.  Dengan mendoakan Ibadat Harian, mereka melaksanakan tugas imamat Kristus dan Gereja mendengarkan Allah bersabda kepada umat-Nya, merayakan misteri keselamatan dan tiada henti memuji-Nya dengan nyanyian dan doa, serta mendoakan keselamatan seluruh dunia.
  30. 30.  Perintah dari Bapa Konsili Vatikan II : “Para gembala jiwa hendaknya berusaha, supaya ibadat pokok, terutama Ibadat Sore, pada hari Minggu dan hari raya dirayakan bersama di gereja.  Dianjurkan para awam untuk mendaraskan Ibadat Harian entah bersama para imam, antar mereka sendiri maupun perorangan.  Pastor paroki, biarawan-biarawati yang tinggal di tengah umat dianjurkan mendoakan Ibadat Harian bersama umat baik di Gereja maupun di komunitas.
  31. 31.  Para Imam yang mengemban pelayanan pastoral yang suci, akan mendoakan ibadat harian dengan bersemangat, semakin mereka sadar akan nasihat Paulus “Berdoalah tiada hentinya”.  Sebab Tuhan yang dapat mengurniakan hasil guna dan pertumbuhan kepada karya yang mereka laksanakan. (menurut sabda-Nya : “Tanpa Aku kamu tidak daat berbuat apa-apa”).
  32. 32.  Ada banyak tarekat hidup bakti, ada yang hidup menyendiri dan ada yang bersama, rahib, petapa laki- laki dan perempuan, ada pula yang bersifat kontemplatif.  Inti hidup dari tarekat bakti meski berbeda cara hidup, aturan dan pakaiannya semuanya ingin menghayati nasihat-nasihat Injil yang oleh Gereja diterima dari Tuhan dan selalu dipelihara dengan bantuan rahmat-Nya.
  33. 33.  Adorasi Ekaristi sudah banyak dikenal umat, biasanya diadakan pada jumat pertama disetiap bulan. Tetapi perlu disyukuri sekarang tumbuh semakin banyak kapel-kapel Adorasi Ekaristi, entah yang sudah berlangsung abadi maupun sekian jam setiap harinya.  Menurut kata-kata Santo Yohanes Paulus II dalam ensiklik Ecclesia de Eucharistia artikel 25 : “Dari semua devosi, sembah sujud terhadap Yesus dalam Sakramen Mahakudus adalah paling agung dari semua sakramen lain, paling berkenan pada Allah dan paling bermanfaat bagi kita”.
  34. 34.  Kesaksian hidup bahagia yang terpancar dari sikap, kata dan tindakan para Rama, Bruder dan Suster akan mengungkapkan indahnya panggilan hidup membiara dan menyentuh hati umat khususnya anak-anak dan kaum muda.  Seperti pesan Bapa Uskup Indonesia dalam menyongsong Tahun Hidup Bakti : “Ajakan kepada seluruh Gereja untuk semakin menyelami makna dan pentingnya pilihan hidup bakti sebagai salah satu bentuk panggilan untuk hidup dan karya pelayanan Gereja.
  35. 35.  Pada Prefasi Misa Hari Raya Tritunggal Mahakudus dimaknai dengan : “Apapun yang Engkau wahyukan tentang kemuliaan- Mu, kami imani dengan iman yang sama, baik mengenai Putra-Mu maupun mengenai Roh Kudus.  Demikianlah kita, seluruh Gereja akhirnya adalah “umat yang disatukan berdasarkan kesatuan Bapa Putra dan Roh Kudus”.  Kemuliaan Allah Tritunggal tampak dalam kesatuan persekutuan Bapa dan Putra dan Roh Kudus yang dipenuhi oleh kasih.

×