Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Open Mindset Underlying Open Science

151 views

Published on

Paparan ini disampaikan di Universitas Paramadina, 20 Agustus 2019. Pemapar sebelumnya telah meneliti tentang mindset (fixed vs. growth mindset, entity vs. incremental implicit theory of self, orientasi 'prove' vs. 'improve') dalam studinya tentang Psikologi Korupsi. Paparan dimulai dengan kurva kegegaran (culture shock), dengan mengasumsikan bahwa sains terbuka merupakan sebuah tawaran "baru" yang berpotensi menimbulkan kegegaran tersendiri. Dalam kurva tersebut, terlihat bahwa terdapat lima tahap yang bersifat dinamis. Pemapar mengusulkan agar di antara kurva kegeran perlu ditambahkan proses daya lenting dan apropriasi digital, karena sains terbuka turut difasilitasi oleh teknologi informasi dan komunikasi. Pada sepanjang pemaparan, terus-menerus diingatkan bahwa efek yang diharapkan (preferable) dan "menyakitkan" (adverse effects) selalu mungkin. Adverse effect dapat diperkuat oleh lima buah patologi teknokrasi (meminjam proposisi Kleden), yang berujung pada kehilangan kapasitas untuk belajar. Oleh karenanya, overvaluasi yang menjadi faktor patologi perlu diantisipasikan. Pemaparan diakhiri dengan dua hal, yakni analisis tematik mengenai hal-hal yang menyusun keterbukaan dalam open science dan gambaran open society. Ada berbagai tema yang perlu dibahas; diantaranya bahwa komersialisasi berpotensi menurunkan praktik keterbukaan, sedangkan donasi yang tepat waktu dapat meningkatkannya. Sebelumnya, pemapar pernah menuliskan gagasan mengenai mindset dalam dunia preprint (pracetak) pada prosiding MECnIT conference. Seluruh sumber paparan diterakan dalam slides.

  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Open Mindset Underlying Open Science

  1. 1. Open Mindset Underlying Open Science Juneman Abraham juneman@binus.ac.id
  2. 2. Peristiwa terkait Dunia Sains yang Memprihatinkan* Anda Pikiran/Perasaa n/Kehendak Frustrasi Alternatif
  3. 3. http://www.deborahswallow.com/wp- content/uploads/2010/05/W-Curve.jpg
  4. 4. Perubahan Disruptif ➔ 5Tahap Kegegaran Distres: Terisolasi, Alienasi Bulan Madu Reintegrasi: Perbanding an nilai Otonomi: Percaya Diri, Koping lebih baik Penguasaa n: Kreasi, Inovasi, Daya Saing Independen: Merasa nyaman, realistik, bangun nilai sendiri
  5. 5. Berbeda satu sama lain https://pbs.twimg.com/media/CkvEkWSWEAAEtNB.jpg
  6. 6. Di antara Kurva Kegegaran perlu Daya Lenting Digital
  7. 7. Pemahaman Umum
  8. 8. Kenyataan Perkembangan •Baltes, Staudinger, and Lindenberger (1999, hal. 480): PLASTISITAS " menyoroti pencarian potensi pengembangan, termasuk kondisi batas atas dan bawah. Tersirat dalam gagasan plastisitas adalah bahwa setiap hasil perkembangan yang ada hanyalah salah satu dari banyak kemungkinan hasil, dan bahwa pencarian untuk kondisi dan rentang plastisitas merupakan dasar dari studi perkembangan”
  9. 9. Pengertian Daya Lenting Digital •“kemampuan untuk terus memberikan hasil yang diniatkan meskipun mengalami peristiwa siber yang menyakitkan” •“ability to continuously deliver the intended outcome despite adverse cyber events” (Björck, Henkel, Stirna, & Zdravkovic, 2015, hal. 311) •Antonim dari “online vulnerability” (Vandoninck, d’Haenens, & Roe, 2013), mis. Menerima Sexting •Tidak serta-merta “BATAL SAJA!”
  10. 10. Vandoninck et al. (2013) in their research studying online sexual temptation among children and young teenagers found that there are a few determinant factors of online resilience, namely • age, • self-efficacy, • pro-active coping response, • digital literacy, and • previous experiences in facing cyber-risks. What is interesting about this finding is that socio- economic status and parental mediation and monitoring do not correlate with cyber-resilience. http://bit.ly/bukudpn
  11. 11. Daya lenting pada berbagai tingkat • Individu: Mampu mengkritik isi, mampu mengoptimasi fitur dan aturan, mampu menyeleksi atau mengabaikan informasi • Publik: Mampu menciptakan dan mengedarkan wacana tandingan (Wacana adalah tindakan juga) • Industri: Mampu bertanggungjawab atas produk, piranti lunak, dsb, termasuk CSR untuk literasi • Penguasa: Mampu membuat legislasi yang adaptif
  12. 12. Apropriasi • Apropriasi dalam seni adalah penggunaan objek atau gambar yang sudah ada sebelumnya dengan sedikit atau tanpa transformasi yang diterapkan padanya. Penggunaan apropriasi telah memainkan peran penting dalam sejarah seni. • Dalam seni visual, mengapropriasikan berarti mengadopsi, meminjam, atau mendaur ulang dengan tepat (proper). • Antonimnya adalah salinan yang buruk (bad copy). http://www.northeastern.edu/experimentalgamedesign/?p=1531
  13. 13. Plesetan? http://www.northeastern.edu/experimentalgamedesign/?p=1531
  14. 14. Kebenaran Teknologis Apropriasi (Hermeneutik) Memberi nilai Subjektivitas (Intensi) Emansipasi
  15. 15. Panca PatologiTeknokrasi (Kleden, 1987: 94-96) • Patologi pertama terjadi kalau dengan tindakan-tindakan tertentu, suatu sistem kehilangan sumberdaya dan instrumen yang memungkinkannya mengatasi halangan dan tantangan dari lingkungannya. (misal, pemborosan) • Overvaluasi masa sekarang daripada masa depan • Patologi kedua, arus informasi dari luar ke dalam sistem itu diperlambat atau diperkecil sehingga menyebabkan timbulnya the loss of intake, yang diakibatkan menurunnya kapasitas saluran informasi yang ada, ataupun karena saluran-saluran tersebut tidak ditingkatkan kemampuannya pada waktunya. • Overvaluasi hal-hal yang familiar
  16. 16. • Patologi ketiga disebabkan oleh struktur mekanisme “pengawasan tingkah laku” yang lebih diutamakan dari performancenya. Kecekatan (agility) yang menyebabkan sistem mampu bereaksi cepat kepada informasi baru mulai menurun, dan sistem kehilangan kelenturannya untuk melakukan manuver. • Overvaluasi struktur internal di atas kemungkinan perubahan. • Bagaimana dengan “Java-centric” approach? (Asumsi, Pendekatan, Cara) • Patologi keempat, the loss of depth memory, disebabkan oleh macetnya mekanisme yang memungkinkan informasi-informasi yang telah terkumpul dapat dipanggil kembali atau direproduksi atau diberi kombinasi baru berdasarkan pilihan-pilihan baru. • Patologi kelima, sistem kehilangan kemampuan reorganisasi jaringan komunikasi secara baru untuk mempelajari pola tingkahlaku baru, maka timbullah problem of recommitment. Sistem menjadi mandul, kaku dan tanpa fleksibilitas untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian baru karena sangat terikat dan terpaku pada jenis masalah tertentu saja. • Kehilangan kapasitas belajar
  17. 17. Di antara Kurva Kegegaran perlu Apropriasi
  18. 18. Pengertian Dalam DuniaTeknologi • Apropriasi mengacu pada keluwesan penggunaan teknologi. Teknologi tidak hanya diterima, diadopsi, dan diadaptasikan, tetapi juga diintegrasikan ke dalam praktek kerja dan dipetakan ke kebutuhan pengguna (Riemer, Overfeld, Scifleet, & Richter, 2012). • Pengertian ini memberitahu kita bahwa proses apropriasi tidak berhenti pada awal penerimaan (akseptansi, adopsi), namun disesuaikan (adaptasi) untuk digunakan sesuai dengan niat pengguna, tidak peduli seberapa melenceng dari tujuan awal sebuah teknologi. • Sinonim: Perngubahan Persepsi Penggunaan. Co:Videotron • Dibutuhkan: Kreativitas dan Fasilitas
  19. 19. Praktik Sains apa lagi yang dapat diapropriasikan --- dan bagaimana mengapropriasikan --- untuk ……? (selain untuk kampanye) •Mengatasi Ketimpangan Sosial •Meningkatkan Demokrasi Partisipatif •Apa lagi…. Agenda Nasional kita?
  20. 20. Bagaimana Mengapropriasi V Game?
  21. 21. Human Malleability “People (and animals), as they navigate and learn about their environments, must inevitably develop beliefs about how the world works.” Why would students of roughly equal ability show such different attributions and reactions? PROVE vs IM…PROVE Among students with roughly equal ability, why might some care more about proving their ability (performance goal) and others more about improving it (learning goal) ? “People can believe that a particular attribute, such as intelligence or personality, is simply fixed. Or they can believe that it can be shaped and developed (…. through personal effort, good learning strategies, and lots of mentoring and support from others)” Learned Helplessness: animals exposed to uncontrollable shocks later made little effort to prevent or terminate shocks, even when the shocks became controllable.
  22. 22. Dweck &Yeager (2019) •Mindsets (Fixed vs Growth) create meaning systems. •Mindsets might organize virtually all of the variables we had previously studied (including goals, attributions, and helplessness) into one meaning system
  23. 23. • Across the studies, we demonstrated that after a success, praise for intelligence (person praise), compared with praise for effort (process praise) or praise for outcome, was more likely to induce a fixed mindset. • Person feedback (vs. process feedback) led to a greater belief in stable traits and greater helplessness in the face of criticism • Mindsets can play another role in the maintenance of stereotypes—in how people respond to information that conflicts with stereotypes. • The brain is like a “muscle” that gets stronger with exercise.
  24. 24. Mindset Environment • Toward that end, we are working closely with sociologists, economists, and statisticians to understand context effects more fully.
  25. 25. Sovachana (2009) • The open society is a concept originally developed by Nobel Laureate in literature Henri Bergson. In open societies, government is responsive and tolerant, and political mechanisms are transparent and flexible. • The state keeps no secrets from itself in the public sense. It is a nonauthoritarian society in which all are trusted with the knowledge of all. Equality, political freedom, free speech and human rights are the foundation of an open society. • Leaders must use ... Power in the service of their people instead of ... in ruthless battles for domination • The majority of the people in Cambodia must learn to change from a closed or fixed mindset to an open or growth mindset. • With their fixed mindsets, they spend a lot of time worrying about such questions as "Am I good enough?", and "How can I believe you?" Or they ask, "Why should I trust you?“ • Mistakes are part of learning. Everything is difficult but possible.Their dignity improves. Their sense of worth increases.
  26. 26. Artikel https://iopscience.iop.org/ article/10.1088/1742- 6596/1007/1/012032/pdf
  27. 27. Krisis Pengetahuan,Toleransi Ambiguitas, Reduksi Social Loafing
  28. 28. Sketch by @dasaptaerwin • Juneman Abraham Jurusan Psikologi, Fakultas Humaniora, Universitas Bina Nusantara @keincaled https://twitter.com/dasaptaerwin/status/1163677842615361536/photo/1

×