Sun movement 25 jan 2012

2,964 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
2,964
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
99
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide
  • If designed carefully, investments in many sectors can have an impact on nutrition outcomes ….social safety nets can be designed to be more “nutrition-friendly” for example by using vitamin and mineral fortified rice/wheat (instead of non-fortified foods), agriculture investments can scale-up crops bred to have higher vitamin and mineral contents (bio-fortified crops) and they can help introduce technologies to reduce women’s workloads; water and sanitation programs can reduce disease, especially when coupled with hygiene education….and so forth.
  • Sun movement 25 jan 2012

    1. 1. KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL Inisiatif Global Scaling Up Nutrition (SUN) Nina Sardjunani Deputi Menteri PPN/Kepala BAPPENAS Bidang SDM dan Kebudayaan Jakarta, 25 Januari 2012
    2. 2. KEMENTERIAN PPN/ BAPPENAS OUTLINE PAPARAN 1. Latar Belakang 2. Prinsip-prinsip SUN Movement 3. Upaya yang Telah Dilakukan Terkait SUN Movement 4. Langkah Tindak Lanjut yang Perlu Dilakukan 2
    3. 3. KEMENTERIAN PPN/ BAPPENAS BAGIAN I LATAR BELAKANG 3
    4. 4. KEMENTERIAN PPN/ BAPPENAS Arah Pembangunan Gizi UU 17/2007: RPJPN (2005-2025) “Pembangunan dan perbaikan gizi dilaksanakan secara lintas sektor, meliputi: – produksi, – pengolahan, – distribusi, – hingga konsumsi pangan, – dengan kandungan gizi yang cukup, seimbang, – serta terjamin keamanannya”. 4
    5. 5. KEMENTERIAN PPN/ Sasaran Pembangunan Gizi BAPPENAS SASARAN RENSTRA KEMKES 2010-2014 Pencapaian 2010 2014 SASARAN RPJMN 2010-2014 Indikator 2010 1. Persentase balita ditimbang berat 65 % 85 % 67,9 % badannya (D/S) 2. Persentase balita gizi buruk yang 100 % 100 % 100,0 % mendapat perawatan Prevalensi 3. Persentase bayi usia 0-6 bulan 65 % 80 % 61,3 % * mendapat ASI Eksklusif Gizi Kurang 15% 4. Persentase 6-59 bulan dpt kapsul 75 % 85 % 81,5 % dan vitamin A Prevalensi 5. Persentase ibu hamil mendapat Fe 71 % 95 % 71,2 % 6. Persentase RT yg mengonsumsi 75 % 90 % 62,3 % ** Pendek garam beryodium 32% 7. Persentase Penyediaan bufferstock 100 % 100 % 100,0 % MP-ASI untuk daerah bencana 8. Persentase kabupaten/kota yang melaksanakan surveilans gizi 100 % 100 % 100,0 % Sumber: Laporan dari Provinsi * Data Susenas Tahun 2009 * * Data Riskesdas Tahun 2007 5
    6. 6. Pembangunan Gizi dalamKEMENTERIAN PPN/ BAPPENAS Dokumen RKP 2012 Kondisi Umum Permasalahan • Prevalensi kekurangan gizi : 17,9% • Kekurangan energi dan protein • Gizi kurang: 13,0% • Kurang vitamin A (KVA) • Gizi buruk: 4,9 % • Prevalensi anak balita pendek (stunting) : • Kurang yodium/GAKY 35,6% • Anemia gizi besi, • Frekuensi penimbangan; 49,4% • Kekurang zat gizi mikro lainnya • Berat badan lahir rendah (<2500 gr) : 11,1% SASARAN • Meningkatnya persentase balita gizi buruk yang mendapat perawatan menjadi sebesar 100 persen • Meningkatnya persentase balita ditimbang berat badannya (D/S) menjadi sebesar 75 persen ARAH KEBIJAKAN • Pendidikan ibu tentang penimbangan balita, ASI eksklusif, garam beryodium • Suplementasi gizi mikro (itamin A dan tablet Fe), • Tata laksana gizi buruk termasuk pencegahan dan penanganan kasus anak pendek (stunting) • Peningkatan intervensi untuk menanggulangan kekurangan zat gizi mikro terutama melalui fortifikasi 6
    7. 7. Mengapa Tumbuh Kembang Janin dan Bayi Penting? Dampak jangka pendek Dampak jangka panjang Perkembangan Kognitif dan otak prestasi belajar Gizi pada 1000 hari pertama Pertumbuhan kehidupan massa tubuh Kekebalan (janin dan Kapasitas kerja bayi 2 tahun) dan komposisi badan Diabetes, Obesitas, Metabolisme Penyakit jantung dan glukosa, lipids, protein pembuluh darah, Mati Hormon/receptor/gen kanker, stroke, dan disabilitas lansiaSumber: Short and long term effects of early nutrition (James et al 2000) 7
    8. 8. KEMENTERIAN PPN/ Periode Kritis Pertumbuhan Anak BAPPENAS • Window of Opportunity terjadi pada 1.000 hari pertama, sejak masa kehamilan sampai usia anak 2 tahun. • Kondisi sulit diperbaharui apabila tidak dilakukan penanganan secara preventif. • Setelah usia 2 tahun, dampak stunting sulit untuk ditangani sehingga dampak jangka panjangnnya mempengaruhi perkembangan kognitif dan produktivitas . 8
    9. 9. KEMENTERIAN PPN/ BAPPENAS Status Gizi Balita Status Gizi Balita 2010 Gizi Lebih 2007-2010 Sumber : Riskesdas 2010 9
    10. 10. 10 30 50 20 40 60 0 BAPPENAS D.I. Yogyakarta 22,5 KEMENTERIAN PPN/ DKI Jakarta 26,6 Kepulauan Riau 26,9 Sulawesi Utara 27,8 Papua 28,3 Bangka Belitung 29 Kalimantan Timur 29,1 Bali 29,3 Maluku Utara 29,4 Jambi 30,2 Bengkulu 31,6 Riau 32,2 Sumatera Barat 32,8 Banten 33,5 Jawa Barat 33,6 Jawa Tengah 33,9 Kalimantan Selatan 35,3 Indonesia 35,6 Jawa Timur 35,9 (Riskesdas 2010) Sulawesi Tengah 36,2 Lampung 36,3 Maluku 37,5 Sulawesi Tenggara 37,8 Prevalensi Balita Stunting di Indonesia Prevalensi Stunting Aceh 38,9 perkembangan kognitif dan produktivitas anak pada jangka panjang Sulawesi Selatan 38,9 Kalimantan Tengah 39,6 Kalimantan Barat 39,7 Gorontalo 40,3 Sumatera Selatan 40,4 Sulawesi Barat 41,6 Sumatera Utara 42,3 Nusa Tenggara Barat 48,2 Papua Barat 49,2 Prevalensi balita stunting di Indonesia masih cukup tinggi (35,6%). Kondisi ini berdampak pada Nusa Tenggara Timur 58,410
    11. 11. KEMENTERIAN PPN/ BAPPENAS BAGIAN II PRINSIP SUN MOVEMENT 11
    12. 12. KEMENTERIAN PPN/ BAPPENAS Scaling-Up Nutrition (SUN)  SUN Movement merupakan upaya global dari berbagai negara dalam rangka memperkuat komitmen dan rencana aksi percepatan perbaikan gizi, khususnya penanganan gizi sejak 1.000 hari dari masa kehamilan hingga anak usia 2 tahun  Bagian dari respon negara-negara di dunia terhadap kondisi status gizi di sebagian besar negara berkembang dan akibat kemajuan yang tidak merata dalam mencapai Tujuan Pembangunan Milenium/MDGs (Goal 1). 12
    13. 13. KEMENTERIAN PPN/ BAPPENAS Misi SUN Movement  SUN Movement bukanlah inisiatif baru, maupun pendanaan baru, tetapi merupakan peningkatan efektivitas dari berbagai inisiatif dan program/kegiatan yang sudah ada melalui dukungan dari kepepimpinan nasional, penetapan prioritas, dan harmonisasi program.  Fokus program pada upaya mendukung perbaikan gizi dan menjaring keikutsertaan yang lebih luas dari berbagai stakeholder, baik dalam tanggungjawab pelaksanaan maupun pencapaian sasaran.  Dilakukan melalui upaya koordinasi dan dukungan teknis, advokasi tingkat tinggi, serta kemitraan.  Peran serta dalam SUN Movement akan menjadi bagian dari upaya meningkatkan status gizi masyarakat serta upaya pembangunan lainnya. 13
    14. 14. KEMENTERIAN PPN/ SUN Framework : Tiga Elemen Utama BAPPENAS 1. Aksi di tingkat nasional merupakan kunci utama – Komitmen pemerintah dalam memimpin dan memprioritaskan program dan kegiatan – Disesuaikan dengan masalah epidemiologi lokal – Disesuaikan dengan konteks dan kapasitas lokal 2. Mengembangkan intervensi berbasis bukti yang cost- effective – Untuk pencegahan dan pengobatan – Prioritas utama adalah pada window of opportunity kelompok penduduk dengan usia kurang dari 9 sampai 24 bulan 3. Pendekatan multi sektor – Ketahanan pangan, perlindungan/jaminan sosial, dan kesehatan – Pendidikan, air bersih, dan sanitasi – Gender, tata kelola pemerintahan, dan stabilitas politik 14
    15. 15. KEMENTERIAN PPN/ Elemen Peta Jalan SUN BAPPENAS Tiga Prioritas Utama 1. Mobilisasi berbagai institusi untuk aksi bersama yang efektif; 2. Membangun kebersamaan institusi terkait; dan 3. Identifikasi dan dukungan pimpinan dan pakar gizi. Tiga Langkah Partisipasi 1. Analisis situasi kebijakan dan strategi pangan dan gizi; 2. Penyusunan peta jalan/rencana aksi; dan 3. Menyetujui rencana nasional terkoordinatif dan mengamankan pembiayaan. 15
    16. 16. KEMENTERIAN PPN/ BAPPENAS Prinsip Gerakan SUN  Upaya dan dukungan yang dilakukan harus memiliki nilai tambah dan bersifat demand- driven;  Upaya perbaikan gizi yang dilakukan harus lintas sektor, terpadu, efisien, dan memiliki dampak luas;  Upaya yang dilakukan memungkinkan berbagai pemangku kepentingan bekerja bersama dan saling berkontribusi serta berkesinambungan. 16
    17. 17. Prioritas Pembangunan Dalam RangkaKEMENTERIAN PPN/ BAPPENAS Scaling Up Nutrition Kebijakan dengan prioritas pada pangan, gizi, dan jaminan kesehatan untuk semua Pengarus Cakupan luas pada utamaan intervensi gizi pembangunan gizi pada lintas sektor 17
    18. 18. Intervensi Utama Pembangunan GiziKEMENTERIAN PPN/ BAPPENAS • ASI Eksklusif Perubahan • MP - ASI Perilaku • Cuci Tangan Pakai Sabun • Zat Gizi Mikro untuk Anak-anak: Vitamin A, therapeutic Zinc, dan bubuk tabur gizi (multiple micronutrient Pemberian Zat powders), dan obat kecacingan Intervensi Gizi Mikro & • Suplementasi gizi bagi Ibu Hamil: Utama Kecacingan Fe-asam folat dan kapsul yodium (jika diperlukan) • Fortifikasi bagi masyarakat: Garam beryodium dan fortifikasi besi pada bahan pangan pokok Makanan pendamping & Makanan • Pencegahan dan penanganan gizi buruk Pemulihan Gizi dan gizi kurang Buruk 18
    19. 19. Pengarusutamaan Pembangunan Gizi pada Lintas Sektor TATA KELOLA PEMERINTAHAN GENDER Pertanian & Ketahanan Air Bersih & Pangan Sanitasi Lingkungan Hidup Perlindungan & Perubahan Iklim /Jaminan Sosial Berpikir Multi-Sektor, Bertindak Sektoral Dunia Usaha/Penanggulangan Swasta Kemiskinan Kebijakan Kesehatan Fiskal & Perdagangan 19
    20. 20. KEMENTERIAN PPN/ BAPPENAS BAGIAN III UPAYA YANG TELAH DILAKUKAN TERKAIT SUN MOVEMENT 20
    21. 21. KEMENTERIAN PPN/ Tahapan Bergabung Dalam SUN Movement BAPPENAS 1. Surat dari Pemerintah yang ditujukan kepada staf khusus PBB untuk SUN Movement 2. Pembahasan dan diskusi internal pemerintah dengan berbagai pihak terkait. 3. Kebijakan terkait perbaikan gizi disusun. 4. Penyusunan peta jalan dan rencana aksi dengan sasaran yang jelas. 5. Pelaksanaan melalui koordinasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah, masyarakat (LSM), swasta, dan mitra pembangunan (World Bank, UN agencies and SCN, REACH, Intl NGOs). 21
    22. 22. KEMENTERIAN PPN/ Kebijakan dan Program yang Mendukung BAPPENAS  Perumusan kebijakan pangan dan gizi di dalam dokumen perencanaan pembangunan nasional dan daerah 1. Undang-Undang No. 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional tahun 2005-2025: 2. Peraturan Pemerintah RI No 38 tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota: 3. Peraturan Presiden (Perpres) No. 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014: 4. Instruksi Presiden No 3 tahun 2010, tentang pembangunan yang berkeadilan 5. Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi 2011 – 2015 6. Rencana Aksi Daerah Pangan dan Gizi 2011 – 2015 ( pada 15 provinsi) 7. Rencana Aksi Akselerasi Konsumsi Garam Beryodium untuk Semua (RAN – KGBS) 2011-2015 8. Berbagai Renstra dan Renstrada dari sektor terkait  Pengembangan pilot project untuk mendapatkan intervensi yang efektif dan efisien antara lain :  Nutrition Improvement Through Community Empowerment Project dan  Millenium Challenge Corporation (Communtity Based Health and Nutrition to Reduce Stunting Project) 22
    23. 23. KEMENTERIAN PPN/ Upaya yang Telah Dilakukan BAPPENAS Pengiriman Surat dari Pemerintah (Menteri Kesehatan) yang ditujukan kepada staf khusus PBB untuk SUN Movement – Telah dilakukan melalui Surat Menkes No. BM/Menkes/2549/XII/2011 tanggal 22 Desember 2011, tentang Application Letter for Indonesia to be considered as ‘Early Riser” Country under the “Scaling Up Nutrition (SUN)” Global Movement. 23
    24. 24. KEMENTERIAN PPN/ BAPPENAS BAGIAN IV LANGKAH TINDAK LANJUT 24
    25. 25. Langkah Tindak Lanjut yang PerluKEMENTERIAN PPN/ BAPPENAS Dilaksanakan  Menggalang dukungan, komitmen, dan kemitraan dari berbagai pihak terkait antara lain dari kalangan pemerintah, perguruan tinggi, pakar, dan mitra pembangunan lainnya (UN Agencies).  Mengagendakan peluncuran SUN Movement di Indonesia dengan menghadirkan pimpinan tertinggi di Indonesia, diikuti oleh provinsi dan kabupaten/kota dengan dukungan UN Indonesia Representative, akademisi, CSO dan dunia usaha.  Pembentukan forum koordinasi dalam mengawal keikutsertaan Indonesia dalam SUN Movement yang diharapkan beranggotakan dari kalangan pemerintah, perguruan tinggi, dan pakar serta legislatif.  Mengintengrasikan Roadmap on Scalling Up Nutrition dalam pelaksanaan Rencana Aksi Pangan Gizi di tingkat nasional dan daerah. 25
    26. 26. KEMENTERIAN PPN/ BAPPENAS o Beberapa program/kegiatan sebagai modal penggerak SUN Movement di Indonesia No Uraian No Uraian Nutrition Improvement through Global Alliance for Improved Nutrition (GAIN) 1 Community Empowerment (NICE) 7 dan Yayasan Kegizian untuk Pengembangan Project Fortifikasi Pangan Indonesia (KFI) Millenium Challenge Corporation 2 (Communtity Based Health and 8 WFP, WHO, UNICEF, World Bank, ADB. MI Nutrition to Reduce Stunting Project) Swasta: DANONE, UNILEVER, AJINOMOTO, 3 Program Keluarga Harapan (PKH) Plus 9 FFI, Perush. Minyak Goreng European Commission/UNICEF: Perguruan Tinggi: UGM, IPB, AIPGI, UI, UNHAS, 4 10 Maternal and Child Security UEU 5 South-East Asia Nutrition (SEANUT) 11 Legislatif : DPR dan DPRD K/L: Kemenkes, Kementan, Kemenko Kesra, Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) BPOM, BAPPENAS, Kemendikbud, Kemenperi, 6 12 Kemendag dan Diset Fasilitas KEsehatan (RIFAS) 26
    27. 27. KEMENTERIAN PPN/ BAPPENAS 27

    ×