LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA KEPERAWATAN
PENGARUH pH TERHADAP AKTIVITAS ENZIM AMILASE SALIVA
DENGAN METODE WOHGELMUT’S (HIDR...
LEMBAR PENGESAHAN

Judul Praktikum

: Pengaruh pH Terhadap Aktivitas Enzim Amilase Saliva
Dengan Metode Wohgelmut’s (Hidro...
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Lebih dari 5.000 enzim telah ditemukan pada organisme hidup dan masih akan
bertambah ...
menjadi maltosa, amilase dihasilkan oleh kelenjar saliva (ludah) dan dikeluarkan
ke rongga mulut untuk melakukan fungsinya...
elektron pada proses fotosintesis dan respirasi bukanlah enzim, melainkan hanya
protein pembawa elektron (1).
Bebarapa enz...
aktif enzim bersifat fleksibel dan dapat berubah bentuk sesuai dengan bentuk
substratnya. Sisi aktif akan kernbali kebentu...
BAB II
TINJAUAN TEORI

Getah saliva dihasilkan oleh kelenjer ludah yang terdapat dalam rongga mulut,
yang mengandung air s...
yang diproduksi bervariasi yaitu 0,5–1,5 liter perhari tergantung pada tingkat
perangsangannya. Air liur atau saliva menga...
dicerna. Saliva terdiri dari air, lendir, garam-garam mineral, enzim penghancur
bakteri (lisosim), dan enzim pcncernaan (4...
glikoprotein

yang

dikeluarkan

oleh

kelenjer

sublingual

dan

kelenjer

submandibular, sedangkan ptyalin dikeluarkan o...
Pencernaan makanan yang terjadi di dalam saluran pencernaan dilakukan
melalui dua cara, yaitu (5):
1. Pencernaan secara me...
kerja enzim dapat dijelaskan dengan dua teori, yaitu teori gembok dan anak kunci,
dan teori kecocokan yang terinduksi (5)....
BAB III
PRINSIP DAN METODE

A. Prinsip
Amilase saliva adalah enzim yang terdapat dalam air ludah. Enzim ini bekerja
pada p...
Cara Kerja
1. Pengumpulan Saliva
Probandus berkumur dengan menggunakan aquadest/air mineral, setelah itu
keluarkan saliva ...
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
1) Probandus 1 dengan pH 4
Nama

: Jajar Martono

Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur

: ...
2) Probandus 2 dengan pH 7
Nama

: Robby Noercahya Supardi

Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur

: 18 tahun

Suku/bangsa : Jawa...
3) Probandus 3 dengan pH 10
Nama

: Muhammad Rakha Akbar

Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur

: 18 Tahun

Suku/bangsa : Banjar...
Saliva adalah cairan berair ditemukan dalam rongga mulut, terdiri dari
campuran kompleks produk sekretorik (organik dan an...
Sifat-sifat enzim sebagai biokatalisator adalah sebagai berikut (7):
1. Enzim adalah Protein
Enzim adalah protein, kerja e...
Suatu senyawa, unsur atau ion, kadang-kadang dapat meningkatkan aktivitas
ketra suatu enzim. Zat-zat yang mempunyai perana...
berubah, dan sisi aktif tidak dapat berfungsi. Inhibitor ini tidak dapat
dipengaruhi oleh konsentrasi substrat.
Terdapat l...
adanya makanan di dalan mulut atau oleh refleks yang dikondisikan (atau
dipelajari), yang memungkinkan saliva disekresi ak...
pada saliva meliputi protein yang berupa enzim amilase, maltase, serum albumin,
asam urat, kretinin, musin, vitamin C, beb...
4. Laktoperosidase mengkatalisis oksidasi CNS (thiosianat) menjadi OSCN
(hypothio)

yang

mampu

menghambat

pertukaran

z...
berubah menjadi kuning muda, pada lubang yang ketujuh warna berubah menjadi
kuning pudar, pada lubang yang kedelapan warna...
5. Rangsangan rasa sakit, misalnya oleh radang, gingivitis, dan pemakaian protesa
yang dapat menstimulasi sekresi saliva.
...
Di dalam saliva dijumpai berbagai komponen anorganik dan organik yang
mempunyai

pengaruh

antibakterial

dan

antiviral.
...
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan
Dari hasil dan pembahasan yang telah dijelaskan di muka, maka simpulan dari
praktiku...
B. Saran
Dari praktikum yang telah dilakukan diharapkan agar lebih tersedianya alat uji
yang memadai dan sesuai dengan jum...
DAFTAR PUSTAKA

1.

Setiowati, Tetty, Deswati F. 2007. Biologi Interaktif untuk SMA dan MA.
Jatim: Azka Press

2.

Aryulln...
Banjarbaru, 30 September 2013
Asisten

Praktikan

Tussy Indrawati
NIM. I1B110023

Yongki Agustian S.
NIM. I1B113014
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Cover

1,150 views

Published on

Ini adalah tugas semester I di PSIK UNLAM 13 Banjarbaru tentang Biokimia, Semoga bisa membantu teman-teman dalam menyelesaikan tugas kuliahnya

Published in: Health & Medicine
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Cover

  1. 1. LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA KEPERAWATAN PENGARUH pH TERHADAP AKTIVITAS ENZIM AMILASE SALIVA DENGAN METODE WOHGELMUT’S (HIDROLISIS AMILUM) Oleh: Kelompok 2 Yongki Agustian S. I1B113014 Bagian Biokimia Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru Oktober 2013
  2. 2. LEMBAR PENGESAHAN Judul Praktikum : Pengaruh pH Terhadap Aktivitas Enzim Amilase Saliva Dengan Metode Wohgelmut’s (Hidrolisis Amilum) Hari/Tanggal : Senin, 23 September 2013 Waktu : 11.00 – 13.30 WITA Tempat : Laboratorium Biokimia Kedokteran Unlam Banjarbaru Praktikan Yongki Agustian S. NIM. I1B113014 Banjarbaru, 5 Oktober 2013 Mengetahui, Dosen Pembimbing Asisten Kelompok Dr. dr. Triwati, M, Kes NIP. 19710912 199703 2 001 Tussy Indrawati NIM. I1B110023
  3. 3. BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Lebih dari 5.000 enzim telah ditemukan pada organisme hidup dan masih akan bertambah terus sejalan dengan berlangsungnya penelitian. Enzim merupakan protein yang bertindak sebagai katalis di dalam tubuh makhluk hidup. Karena bekerja sebagai katalis di dalam tubuh makhluk hidup. Enzim disebut juga biokatalisator. Enzim dapat bertindak sebagai katalis, yaitu dapat meningkatkan kecepatan reaksi kimia tetapi tidak berubah dalam teaksi kimia tersebut (1). Kebanyakan enzim yang terdapat di dalam alat-alat atau organ-organ organisme hidup berupa larutan koloidal dalam cairan tubuh, seperti air ludah, darah, cairan lambung dan cairan pankreas. Enzim terdapat di bagian dalam sel. Hal ini terikat erat dengan protoplasma. Enzim juga ada di dalam mitokondria dan ribosom (1). Molekul yang bereaksi di dalam suatu reaksi yang dikatalisis oleh enzim disebut substrat dan molekul yang dihasilkan disebut produk. Enzim dibuat di dalam sel-sel yang hidup. Sebagian besar enzim bekerja di dalam sel, disebut enzim intraseluler. Contoh enzim intraseluler adalah katalase. Katalase memecah senyawa berbahaya, seperti H2O2 (hidrogen peroksida) di dalam sel-sel hati. Beberapa enzim dibuat di dalam sel, kemudian dikeluarkan dari dalam sel untuk melakukan fungsinya, disebut enzim ekstraseluler. Contoh enzim ekstraseluler adalah enzim-enzim pencernaan, misalnya amilase. Amilase memecah amilum
  4. 4. menjadi maltosa, amilase dihasilkan oleh kelenjar saliva (ludah) dan dikeluarkan ke rongga mulut untuk melakukan fungsinya (1,2). Jons Jakob Berzelius (1779-1848) merupakan salah seorang pendiri kimia modern. Berzeliuslah yang menemukan berbagai istilah kimiawi. Dialah yang menggunakan istilah organik untuk senyawa yang dihasilkan oleh tanaman atau hewan, walaupun istilah tersebut sekarang berarti senyawa karbon. Dialah yang memperkenalkan istilah katalisator untuk unsur kimiawi yang mempercepat reaksi tanpa ikut bereaksi di dalamnya. Dialah yang juga menemukan istilah kimiawi terkenal seperti protein dan polimer. Enzim memiliki kemampuan katatis yang sangat efisien dan kuat meskipun dalam konsentrasi yang rendah, enzim adalah protein spesifik yang dapat dimanfaatkan kembali karena enzim akan selalu muncul kembali dalam keadaan utuh setelah substrat diubah menjadi produk (1). Untuk mempercepat reaksi-reaksi dapat dilakukan dengan menaikkan suhu. Namun, hal tersebut tidak sesuai sebagai sumber energi pengaktif bagi organisme. Suatu reaksi kimia dapat berlangsung lebih cepat dengan hasil akhir yang sama jika menggunakan energi pengaktif yang rendah. Hal ini dapat dicapai jika dibantu oleh enzim yang tidak berubah sampai reaksi selesai. Enzim mengaktifkan reaksi kimia di dalam sistem hidup, penamaan enzim didasarkan atas tiga hal. Pertama, nama substrat ditambah akhiran –ase, misalnya maltase adalah enzim yang mengubah maltosa menjadi glukosa. Kedua, jenis reaksi ditambah akhiran – ase, misalnya oksidase adalah enzim yang terlibat dalam proses oksidasi. Ketika nama substrat ditambah jenis reaksi, misalnya glutamat sintetase adalah enzim yang berperan dalam pembuatan glutamat. Enzim adalah protein, tetapi tidak semua protein merupakan enzim. Misalnya, sitokrom yang berfungsi membawa
  5. 5. elektron pada proses fotosintesis dan respirasi bukanlah enzim, melainkan hanya protein pembawa elektron (1). Bebarapa enzim hanya aktif jika tersusun atas satu atau lebih kofaktor. Kofaktor atau disebut juga koenzim adalah komponen enzim yang dapat berupa vitamin atau ion logam. misalnya Nicotinamide Adenine Dinucleotide (NAD). Flavine Adenine Dinucleotide (FAD). dan Nicotinamide Adenine Denucteotide Phosphate (NADP). Ion magnesium (Mg) biasanya bergabung dengan ATP, sedangkan ion mangan (MN2+ biasanya bergabung dengan ATP atau ADP). Berbagai kofaktor yang terikat erat dengan protein disebut kelompok prostetik. Apoenzim adalah bagian enzim yang tersusun atas protein. Gabungan antara apoenzim dan kofaktor disebut holoenzim. Kofaktor memegang peranan penting untuk berfungsinya enzim sebagai katalisator. Biasanya kofaktor bertindak sebagai pembawa perantara dan berbagai kelompok fungsional atom-atom atau elektron yang khusus sehingga kofaktor sering disebut pembawa elektron (electron carrier), Terdapat dua teori tentang mekanisme kerja enzim, yaitu teori kunci dan anak kunci (lock and key theory) yang dihipotesiskan oleh Emil Fischer (1884) dan teori ketepatan induksi (induced fit theory) yang dihipotesiskan oleh Daniel E. Koshland (1973) (1). Teori yang pertama menyatakan bahwa setiap kunci memiliki anak kunci sehingga apabila enzim diibaratkan sebagai kunci dan anak kunci, maka suatu enzim akan memiliki tempat khusus untuk suatu molekul yang berfungsi untuk mengikat substrat. Tempat khusus tersebut dinamakan sisi aktif. Sisi aktif merupakan kunci, sedangkan substratnya merupakan anak kunci. Suatu enzim dapat memiliki sisi aktif lebih dari satu. Teori yang kedua menyatakan bahwa sisi
  6. 6. aktif enzim bersifat fleksibel dan dapat berubah bentuk sesuai dengan bentuk substratnya. Sisi aktif akan kernbali kebentuk semula setelah reaksi selesai dan terbentuk produk (1). B. Tujuan Tujuan Umum : Mahasiswa dapat memahami kinetika enzim dan manfaat enzim dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam membantu menerapkan diagnosa. Tujuan Khusus : Setelah melakukan percobaan ini mahasiswa diharapkan mampu : 1. Mengetahui pengaruh suhu dan pH terhadap aktivitas enzim. 2. Pengaruh konsentrasi enzim terhadap aktivitas enzim. Mengetahui pengaruh konsentrasi enzim terhadap perombakan suatu substrat (amilum). 3. Mengetahui kerja enzim pada saliva (air ludah). 4. Mampu melakukan perhitungan aktivitas enzim berdasarkan rumus yang sudah ditentukan.
  7. 7. BAB II TINJAUAN TEORI Getah saliva dihasilkan oleh kelenjer ludah yang terdapat dalam rongga mulut, yang mengandung air sekitar 99,5%. Zat padat yang terdapat dalam saliva diantaranya ptyalin (amylase), musin (suatu glikoprotein) dan sejumlah senyawasenyawa yang juga terdapat dalam darah dan urin seperti amoniak, asam-asam amino, urea, asam urat, kolesterol, serta kation (Ca2+, Na+, K+, Mg2+), dan anion seperti PO43-, Cl-, dan HCO3-, pH sekitar 6,8 (3). Saliva juga mengandung amylase atau enzim pencernaan pati yang mengkatalisis hidrolisis pati menjadi gula maltose. Amylase ini sering disebut ptyalin, meskipun menurut kaidah untuk menamai enzim, nama amylase saliva telah diutamakan. Anda dengan mudah dapat memperagakan aksi amylase dengan mengunyah kue yang tak manis. Tak lama kemudian, rasa manis akan terasa nyata. Saliva hanyalah merupakan sekresi yang pertama dari sejumlah sekresi yang mengalir ke dalam saluran pencernaan dan membantu pencernaan. Pada setiap kasus, sekresi-sekresi ini dibuat dalam struktur pelengkap yang disebut kelenjer. Suatu duktus mengalirkan sekresi dari kelenjer ke saluran pencernaan. Permukaan dalam dari setiap kelenjer berhubungan dengan permukaan dalam dari duktusnya dan juga dengan permukaan dalam dari saluran pencernaan. Sebenarnya, semua kelenjer pencernaan dibentuk selama perkembangan embrio, dari kelipatan keluar saluran pencernaan (3). Air liur atau saliva sebagian besar diproduksi oleh tiga kelenjer utama yakni kelenjer parotis, kelenjer sublingual, dan kelenjer submandibula. Volume air liur
  8. 8. yang diproduksi bervariasi yaitu 0,5–1,5 liter perhari tergantung pada tingkat perangsangannya. Air liur atau saliva mengandung dua tipe pengeluaran atau sekresi cairan yang utama yakni sekresi serus yang mengandung ptyalin (suatu alfa amilase) yang merupakan enzim untuk mencernakan karbohidrat dan sekresi mucus yang mengandung musin untuk tujuan pelumasan atau perlindungan permukaan yang sebagian besar dihasilkan oleh kelenjer parotis. Cairan tipe mucus itu disekresikan atau dikeluarkan setiap detik sepanjang waktu kecuali saat tidur yang produksinya lebih sedikit. Dalam hal pencernaan, air liur berperan dalam membantu pencernaan karbohidrat. Karbohidrat atau tepung sudah mulai dipecah sebagian kecil dalam mulut oleh enzim ptyalin. Enzim dalam air liur itu memecah tepung (amilum) menjadi disakarida maltosa dan polimer glukosa kecil lainnya (3). Ludah atau saliva memiliki peranan yang sangat besar dalam rongga mulut. Secara garis besar fungsi saliva atau ludah ada 5 yaitu (3): 1. Perlindungan permukaan tubuh. 2. Pengaturan kandungan air. 3. Anti virus dan produk metabolisme. 4. Pencernaan makanan dan pengecap. 5. Diferensiasi dan pertumbuhan sel. Dalam rongga mulut terdapat tiga pasang kelenjar ludah yang besar, yaitu kelenjar parotis yang terletak di bawah telinga, kelenjar submandibularis yang terletak di rahang bawah, dan kelenjar sublingualis yang terletak di bawah lidah. Kelenjar ini berfungsi menghasilkan air liur atau air Iudah (saliva) yang berfungsi untuk membasahi rongga mulut dan membasahi makanan sehingga mudah
  9. 9. dicerna. Saliva terdiri dari air, lendir, garam-garam mineral, enzim penghancur bakteri (lisosim), dan enzim pcncernaan (4). Saliva yang ditelan akan diserap kembali oleh tubuh. Seseorang yang kekurangan air di dalam tubuhnya akan mengurangi sekresi saliva, sehingga rongga mulut menjadi kering dan akan terasa haus. Sekresi saliva disebabkan aksi refleks yang cepat, akibat rangsangan pada kemoreseptor di mulut. Baik akibat adanya gerakan pengunyahan maupun rangsangan psikologis. Produksi harian saliva dapat mencapai 1,5 liler. Dalam saliva terdapat enzim ptialin (amilase) yang berfungsi mengubah zat makanan yang mengandung karbohidrat menjadi gula sederhana (maltosa). Karena itu, bila kamu mengunyah roti tawar atau nasi terlalu lama, lama-kelamaan akan terasa manis (4). Saliva adalah cairan yang lebih kental daripada air biasa. Tiap hari sekitar 1–1,5 saliva dikeluarkan oleh kelenjer saliva. Saliva terdiri atas 99,24% air dan 0,58% terdiri atas ion-ion Ca2+, Mg2+, Na+, K+, PO43-, Cl-, HCO3-, SO42-, dan zatzat organik seperti musin dan enzim amylase atau ptyalin. Musin adalah
  10. 10. glikoprotein yang dikeluarkan oleh kelenjer sublingual dan kelenjer submandibular, sedangkan ptyalin dikeluarkan oleh kelenjer parotid. Saliva mempunyai pH antara 5,75 sampai 7,05. Pada umumnya pH saliva adalah sedikit di bawah 7. Enzim ptyalin dalam saliva adalah suatu enzim amylase, yang berfungsi untuk memecah molekul amilum menjadi maltosa dengan proses hidrolisis (3). Proses ini berjalan lebih baik apabila makanan dikunyah lebih halus. Enzim ptyalin bekerja secara optimal pada pH 6,6. Disamping itu, karena musin adalah suatu zat yang kental dan licin, maka saliva mempunyai fungsi untuk membasahi makanan dan sebagai pelumas yang memudahkan atau memperlancar proses menelan makanan. Dalam lambung enzim ini hanya dapat bertahan selama 15–30 menit, karena cairan dalam lambung bersifat sangat asam, yaitu mempunyai pH antara 1,6–2,6. Rangsangan yang menyebabkan pengeluaran saliva dari kelenjer saliva adalah pikiran tentang makanan yang disenangi, adanya bau makanan yang sedap atau melihat makanan yang diharapkan sehingga menimbulkan selera (3). Kuncup-kuncup cecapan terletak dalam suatu celah yang disebut pure, tempat terkumpulnya cairan air liur (saliva). Setiap sel cecapan, yang disebut gustatori, berbentuk lonjong dengan ujungnya berupa rambut-rambut mikrovilus yang mencuak ke ruang pure. Agar suatu senyawa dapat dikenal rasanya, senyawa tersebut harus dapat larut dalam air liur sehingga dapat mengadakan hubungan dengan mikrovilus dan impuls yang terbentuk dikirim melalui syaraf ke pusat susunan saraf. Manis dan asin paling banyak dideteksi oleh kuncup pada ujung lidah, kuncup pada sisi lidah paling peka terhadap asam, sedangkan kuncup di bagian pangkal lidah peka terhadap pahit (3).
  11. 11. Pencernaan makanan yang terjadi di dalam saluran pencernaan dilakukan melalui dua cara, yaitu (5): 1. Pencernaan secara mekanik, pemecahan makanan yang dilakukan melalui pengunyahan makanan oleh gigi. Pengadukan serta penggerakan makanan dengan melalui kerja otot yang terdapat di dinding saluran pencernaan makanan. 2. Pencernaan secara kimiawi, pencernaan makanan yang dilakukan oleh enzim. Enzim ini dihasilkan oleh dinding saluran pencernaan dan oleh kelenjarkelenjar yang letaknya di luar saluran pencernaan. Enzim adalah protein spesifik yang berfungsi sebagai biokatalisator (mempercepat proses hidrolisis), tidak ikut serta dalam proses reaksi dan diperoleh kembali pada akhir reaksi (sifat dan jumlah tidak berubah). Kerja enzim sangat spesifik, artinya satu macam enzim akan bekerja memecahkan substrat tertentu. Enzim ini tidak dapat bekerja untuk substrat lain, seperti misalnya enzim lipase hanya dapat memecahkan lemak saja. Enzim pencernaan yang terdapat di dalam berbagai getah pencernaan terdiri dari 3 kelompok yaitu amilase, lipase, dan protease yang masing-masing untuk mencerna zat makanan yang berupa karbohidarat, lemak, dan protein (6). Di dalam mulut, zat tepung (amilum) dicerna oleh amilase saliva. Enzim ini dihasilkan oleh kelenjar saliva dan mengubah zat tepung menjadi maltosa. Fungsi atau produk katalitik enzim ini adalah hidrolisis ikatan 1:4, menghasilkan dekstrin-limit, maltosa dan maltotriosa (6). Sekitar 1500 ml air liur disekresi per hari, pH saliva saat kelenjar istirahat sedikit lebih rendah dari 7,0 tetapi saat sekresi aktif, pH nya mencapai 8,0. Cara
  12. 12. kerja enzim dapat dijelaskan dengan dua teori, yaitu teori gembok dan anak kunci, dan teori kecocokan yang terinduksi (5). a. Teori gembok dan anak kunci (Lock and key theory) Enzim dan substrat bergabung bersama membentuk kompleks, seperti kunci yang masuk dalam gembok. Di dalam kompleks, substrat dapat bereaksi dengan energi aktivasi yang rendah. Setelah bereaksi, kompleks lepas dan melepaskan produk serta membebaskan enzim (5). b. Teori kecocokan yang terinduksi (Induced fit theory) Menurut teori kecocokan yang terinduksi, sisi aktif enzim merupakan bentuk yang fleksibel. Ketika substrat memasuki sisi aktif enzim, bentuk sisi aktif termodifikasi melingkupi substrat membentuk kompleks. Ketika produk sudah terlepas dari kompleks, enzim tidak aktif menjadi bentuk yang lepas. Sehingga, substrat yang lain kembali bereaksi dengan enzim tersebut (5).
  13. 13. BAB III PRINSIP DAN METODE A. Prinsip Amilase saliva adalah enzim yang terdapat dalam air ludah. Enzim ini bekerja pada pati dan dekstrin (atau juga glikogen) dan mengubahnya menjadi maltose, dengan hasil antara yang larut yaitu amilo dekstrin, eritrodekstrin, dan akrodekstrin. B. Metode Alat Praktikum Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini adalah : 1. Plat tetes 2. Pipet tetes 3. Beker glass 4. Stopwatch 5. Labu Erlenmeyer 6. Waterbath 7. Gelas ukur Bahan Praktikum Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah : 1. Larutan saliva 2. Larutan amilum 3. Larutan iodium
  14. 14. Cara Kerja 1. Pengumpulan Saliva Probandus berkumur dengan menggunakan aquadest/air mineral, setelah itu keluarkan saliva dan tempatkan pada gelas beker. Ambil saliva yang telah terkumpul sebanyak 1 ml atau lebih. 2. Pengukuran aktivitas amilase saliva a. Siapkan 3 buah Erlenmeyer dan beri tanda (a) untuk suhu pH=4, (b) untuk pH=7, dan (c) untuk pH=10. b. Kemudian masukkan 5 ml larutan kanji (amilum) ke dalam masing-masing Erlenmeyer, lalu tambahkan 2 ml buffer phosfat (sesuai pH yang ditentukan). Lalu, diamkan selama 2 menit. c. Selanjutnya, masukkan Erlenmeyer tersebut kedalam waterbath suhu 38oC selama 2 menit. d. Ambil 2 tetes larutan dan tempatkan pada plat tetes. Tambahkan 1 tetes larutan iod. e. Jika larutan berwarna biru ulangi lagi percobaan terebut. Caranya dengan mengambil kembali 2 tetes larutan kemudian menempatkannya pada plat tetes dan ditambahkan 1 tetes larutan kemudian menempatkannya pada plat tetes dan tambahkan 1 tetes larutan iod. f. Ulangi cara tersebut setiap menit, sampai warna biru hilang. Jika warna biru hilang, matikan stopwatch dan catat waktu yang digunakan. Batas maksimum penghitungan waktu adalah 30 menit, bila lebih percobaan dianggap selesai.
  15. 15. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil 1) Probandus 1 dengan pH 4 Nama : Jajar Martono Jenis Kelamin : Laki-laki Umur : 18 tahun Suku/bangsa : Dayak, Indonesia Dari praktikum yang telah dilakukan, diperoleh hasil sebagai berikut : d ° ° = x ° ° = ( x ) unit unit d = 5 unit keterangan : 5 unit aktivitas amilase adalah banyaknya 5 miligram amilum yang di pecah oleh 1 ml cairan (saliva) selama 30 menit pada suhu 38 ° C. Pada probandus pertama atas nama Jajar Martono, berjenis kelamin laki-laki, berusia 18 tahun, dan bersuku Dayak. Dilakukan praktikum pengujian amilase saliva, dengan ketentuan pH=4 pada suhu 38oC dan ditambahkan larutan iod, didapatkan tidak terjadi perubahan warna biru pada larutan yang diletakkan pada plat tetes. Meskipun, sudah dilakukan sesuai prosedur dan secara berulang sampai batas waktu yang ditentukan yakni 30 menit.
  16. 16. 2) Probandus 2 dengan pH 7 Nama : Robby Noercahya Supardi Jenis Kelamin : Laki-laki Umur : 18 tahun Suku/bangsa : Jawa, Indonesia Dari praktikum yang telah dilakukan, diperoleh hasil sebagai berikut : Menit Lubang Perubahan 1 1 Warna berubah menjadi hitam 2 2 Warna berubah menjadi coklat 3 3 Warna berubah menjadi coklat muda 4 4 Warna berubah menjadi coklat yang lebih muda 5 5 Warna berubah menjadi coklat kuning 6 6 Warna berubah menjadi kuning muda 7 7 Warna berubah menjadi kunuing memudar 8 8 Warna berubah menjadi kuning yang semakin memudar 9 9 Warna berubah menjadi kuning 10 10 Warna berubah menjadi kuning muda 11 11 Warna berubah menjadi kuning pudar mendekati putih 12 12 Warna berubah menjadi kuning
  17. 17. 3) Probandus 3 dengan pH 10 Nama : Muhammad Rakha Akbar Jenis Kelamin : Laki-laki Umur : 18 Tahun Suku/bangsa : Banjar, Indonesia Keterangan : Pada probandus ketiga atas nama Muhammad Rakha Akbar, berjenis kelamin laki-laki, berusia 18 tahun, dan bersuku Banjar. Dilakukan praktikum pengujian amilase saliva, dengan ketentuan pH=10 pada suhu 38oC dan ditambahkan larutan iod, didapatkan perubahan pada lubang pertama cairan iod berubah menjadi cokelat merah kehitaman dan pada menit kedua berubah menjadi bening. Pada lubang kedua cairan iod berubah menjadi bening. Dari hasil tersebut terlihat bahwa tidak terjadi perubahan warna menjadi biru (warnanya tetap seperti awal). Dengan kata lain tida terjadi proses hidrolisis amilum oleh enzim amilase saliva pada suhu 38oC dengan pH=10. B. Pembahasan Enzim adalah protein yang mengkatalisis reaksi-reaksi biokimia. Enzim biasanya terdapat dalam sel dengan konsentrasi yang sangat rendah, di mana mereka dapat meningkatkan laju reaksi tanpa mengubah posisi kesetimbangan. Artinya, baik laju reaksi maju maupun laju reaksi kebalikannya ditingkatkan dengan kelipatan yang sama. Kelipatan ini biasanya di sekitar l0 sampai 12 (7).
  18. 18. Saliva adalah cairan berair ditemukan dalam rongga mulut, terdiri dari campuran kompleks produk sekretorik (organik dan anorganik produk) dari kelenjar ludah dan zat lain yang datang dari orofaring, saluran napas bagian atas, refleks gastrointestinal, sulkus gingiva cairan, sisa makanan, dan darah senyawa turunan. Sebagian besar sekresi saliva dihasilkan pada saat pengecapan dan pengunyahan makanan. Pada saat tidak sedang makan, saliva tetap ada, namun aliran saliva dalam rongga mulut sangat sedikit. Pada individu sehat, saliva tetap berada dalam rongga mulut sebanyak 0,5 ml sehingga gigi akan terendam dalam saliva (resting saliva) dan membantu mempertahankan integritas gigi, melindungi gigi, lidah, membran mukosa mulut, dan orofaring (8,9). Beberapa komponen saliva dapat menetralkan efek racun dari aldehida, oksidan, dan karsinogen. Saliva mengandung sistem nonenzimatik dan enzim antioksidan, terutama superoxide dismutase (SOD), glutation peroksidase, asam urat, katalase, dan glutation (GSH) (10). Ada beherapa enzim yang dapat berfungsi sebagai aktivator zimogeri, antara lain (11):  Pepsin dapat mengubah pepsinogen menjadi pepsin  Enterokinase dan tripsin dapat mengubah tripsinogen menjadi tripsin  Tripsin dan kimotripsin dapat mengubah kimotripsinogen menjadi kimotripsin dan tripsin dapat mengubah prokarboksi peptidase menjadi karboksipeptidase.
  19. 19. Sifat-sifat enzim sebagai biokatalisator adalah sebagai berikut (7): 1. Enzim adalah Protein Enzim adalah protein, kerja enzim seperti sifat protein, yaitu membutuhkan kondisi lingkungan (suhu, pH. konsentrasi ion, dan sebagainya) yang sesuai. Lingkungan enzim yang tidak cocok menyebabkan enzim rusak sehingga tidak mampu bekerja dengan baik. 2. Enzim Bekerja secara Spesifik Khusus di dalam set terdapat ribuan jenis enzim yang fungsinya masingmasing sangat spesifik, setiap enzim hanya dapat bekerja untuk mengkatalis reaksi yang spesifik. Dengan kata lain, suatu enzim hanya dapat bekerja untuk substratnya yang cocok. 3. Enzim Berfungsi sebagai Katalis Katalis mengubah kecepatan reaksi, namun tidak mengubah produk akhir yang dibentuk atau mempengaruhi keseimbangan reaksi. 4. Enzim Hanya Diperlukan dalam Jumlah Sedikit Sesuai dengan fungsinya sebagai katalis, enzim hanya diperlukan dalam jumlah sedikit. Sejumlah kecil enzim dapat meningkatkan kecepatan reaksi secara hebat. 5. Enzim dapat Bekerja secara Bolak-balik Enzim tidak mempengaruhi arah reaksi, sehingga dapat bekerja bolak-balik. Enzim dapat menguraikan suatu senyawa menjadi senyawa-senyawa lain. Enzim juga dapat menyusun senyawa-senyawa menjadi senyawa tertentu.
  20. 20. Suatu senyawa, unsur atau ion, kadang-kadang dapat meningkatkan aktivitas ketra suatu enzim. Zat-zat yang mempunyai peranan demikian disebut aktivator enzim. Beberapa enzim yang dihasilkan dalam bentuk tidak aktif (inaktif) disebut proerizim atau zimogen. Apabila zimogen pada kondisi tertentu berhubungan dengan aktivatornya enzim ini akan berubah menjadi enzim yang aktif. Pepsinogen, tripsinogen, kimotripsinogen dan prokarboksipeptidase adalah contoh-contoh zimogen yang terdapat di saluran cerna (11). Kebanyakan aktivator adalah ion-ion anorganik, terutama ion logam atau kation. Aktivator yang baik untuk enzim deoksiribonuklease adalah ion-ion Mg++ Mn++, Co++ dan Fe++, sedangkan aktivator yang lemah untuk enzim ini adalah ionion Ca++, Ba++, Sr++ dan Cd++. Aktivator untuk enzim trombiokinase dan enzim plasma fosfatase adalah ion Mg++, sedangkan aktivator untuk enzim trombase adalah ion Ca++. Selain aktivator kation, ada juga aktivator anion, misalnya aktivator ion Cl- untuk ludah atau ptialin. Ada dua macam inhibitor enzim, yaitu inhibitor kompetitif dan inhibitor non-kompetitif (2,11). 1. Inhibitor kompetitif Inhibitor kompetitif adalah molekul penghambat yang cara kerjanya bersaing dengan substrat untuk mendapatkan sisi aktif enzim. Contohnya, sianida bersaing dengan oksigen untuk mendapatkan hemoglobin dalam rantai respirai terakhir. Inhibitor kompetitif dapat diatasi dengan cara penambahan konsentrasi substrat. 2. Inhibitor non-kompetitif Inhibitor non-kompetitif adalah molekul penghambat enzim yang bekerja dengan cara melekatkan diri pada luar sisi aktif, sehingga bentuk enzim
  21. 21. berubah, dan sisi aktif tidak dapat berfungsi. Inhibitor ini tidak dapat dipengaruhi oleh konsentrasi substrat. Terdapat lebih dan 2500 reaksi biokimia yang berbeda dengan bantuan enzim spesifik yang sesuai untuk meningkatkan laju reaksinya. Masing-masing enzim dicirikan oleh spesifisitasnya untuk substrat (reaktan) yang mirip secara biologis. Molekul-molekul lain juga dapat mengatur aktivitas enzim. Molekul-molekul ini disebut efektor, dan dapat bersifat sebagai aktivator, inhibitor, atau keduanya (7). Terdapat tiga pasang kelenjar saliva. Kelenjar parotis merupakan kelenjar yang paling besar dan berada tepat di bawah telinga. Panjang kelenjar kira-kira 5 cm dan terbuka ke dalam mulut, berlawanan arah dengan gigi molar atas kedua. Kelenjar ini merupakan kelenjar yang dipengaruhi oleh penyakit, yang umumnya disebut gondongan. Kelenjar submandibular dan kelenjar submaksilaris, keduanya, terbuka ke dalam lantai mulut. Saliva disekresi secara refleks akibat
  22. 22. adanya makanan di dalan mulut atau oleh refleks yang dikondisikan (atau dipelajari), yang memungkinkan saliva disekresi akibat penglihatan, bau, atau pikiran tentang makanan. Saliva mengandung air dalam jumlah besar yang melembabkan dan melunakkan makanan, lendir mengombinasi makanan dan melumasinya sehingga dapat disalurkan ke bawah esofagus dan enzim amylase saliva, yang bekerja pada zat pati masak (karbohidrat) dan mengeluarkannya ke dalam maltosa dan dekstrin. Saliva juga membersihkan mulut dan gigi dan mempertahankan bagian lunak fleksibel (12). Kebanyakan kelenjar saliva minor merupakan kelenjar kecil-kecil yang terletak di dalam mukosa atau submukosa. Kelenjar minor hanya menyumbangkan 5% dari pengeluaran ludah dalam 24 jam. Kelenjar-kelenjar ini diberi nama berdasarkan lokasinya atau nama pakar yang menemukannya. Kelenjar labial (glandula labialis) terdapat pada bibir atas dan bibir bawah dengan asinus-asinus seromukus. Kelenjar bukal (glandula bukalis) terdapat pada mukosa pipi, dengan asinus-asinus seromukus. Kelenjar Bladin-Nuhn (Glandula lingualis anterior) terletak pada bagian bawah ujung lidah. Kelenjar Von Ebner (Gustatory Gland) dan kelenjar Weber terletak pada pangkal lidah. Kelenjar Von Ebner dan Weber disebut juga glandula lingualis posterior (12). Komponen-komponen saliva, yang dalam keadaan larut disekresi oleh kelenjar saliva, dapat dibedakan atas komponen organik dan anorganik. Namun demikian, kadar tersebut masih terhitung rendah dibandingkan dengan serum karena pada saliva bahan utamanya adalah air yaitu sekitar 99,5%. Komponen anorganik saliva terdiri dari sodium, kalsium, kalium, magnesium, bikarbonat, khlorida, rodanida dan thiocynate (CNS), fosfat, potassium dan nitrat. Sedangkan komponen organik
  23. 23. pada saliva meliputi protein yang berupa enzim amilase, maltase, serum albumin, asam urat, kretinin, musin, vitamin C, beberapa asam amino, lisosim, laktat, dan beberapa hormon seperti testosteron dan kortisol (7). Dari kation-kation, Sodium (Na+) dan Kalium (K+) mempunyai konsentrasi tertinggi dalam saliva. Disebabkan perubahan di dalam muara pembuangan, Na+ menjadi jauh lebih rendah di dalam cairan mulut daripada di dalam serum dan K+ jauh lebih tinggi. Ion Khlorida merupakan unsur penting untuk aktifitas enzimatik α-amilase. Kadar Kalsium dan Fosfat dalam saliva sangat penting untuk remineralisasi email dan berperan penting pada pembentukan karang gigi dan plak bakteri. Kadar Fluorida di dalam saliva sedikit dipengaruhi oleh konsentrasi fluorida dalam air minum dan makanan. Rodanida dan Thiosianat (CNS-) adalah agen antibakterial yang bekerja dengan sisitem laktoperosidase. Bikarbonat adalah ion bufer terpenting dalam saliva yang menghasilkan 85% dari kapasitas bufer (7). Komponen organik dalam saliva yang utama adalah protein. Protein yang secara kuantitatif penting adalah α-Amilase, protein kaya prolin, musin dan imunoglobulin. Berikut adalah fungsi protein-protein dalam saliva (7): 1. α-Amilase mengubah tepung kanji dan glikogen menjadi kesatuan karbohidrat yang kecil. Juga karena pengaruh α-Amilase, polisakarida mudah dicernakan. 2. Lisozim mampu membunuh bakteri tertentu sehingga berperan dalam sistem penolakan bakterial. 3. Kalikren dapat merusak sebagian protein tertentu, diantaranya faktor pembekuan darah XII, dan dengan demikian berguna bagi proses pembekuan darah.
  24. 24. 4. Laktoperosidase mengkatalisis oksidasi CNS (thiosianat) menjadi OSCN (hypothio) yang mampu menghambat pertukaran zat bakteri dan pertumbuhannya. 5. Protein kaya prolin membentuk suatu kelas protein dengan berbagai fungsi penting yaitu membentuk bagian utama pelikel muda pada email gigi. 6. Musin membuat saliva menjadi pekat sehingga tidak mengalir seperti air disebabkan musin mempunyai selubung air dan terdapat pada semua permukaan mulut maka dapat melindungi jaringan mulut terhadap kekeringan. Musin juga untuk membentuk makanan menjadi bolus. 5 unit aktivitas amilase adalah banyaknya 5 miligram amilum yang di pecah oleh 1 ml cairan (saliva) selama 30 menit pada suhu 38 ° C. Pada probandus pertama atas nama Jajar Martono, berjenis kelamin laki-laki, berusia 18 tahun, dan bersuku Dayak. Dilakukan praktikum pengujian amilase saliva, dengan ketentuan pH=4 pada suhu 38oC dan ditambahkan larutan iod, didapatkan tidak terjadi perubahan warna biru pada larutan yang diletakkan pada plat tetes. Meskipun, sudah dilakukan sesuai prosedur dan secara berulang sampai batas waktu yang ditentukan yakni 30 menit. Pada probandus kedua bernama Robby Noercahya Saupardi, umur 18 tahun, berjenis kelamin laki-laki dan bersuku bangsa Jawa-Indonesia. Dilakukan percobaan dengan pH=7, dan diperoleh hasil pada lubang yang pertama warna berubah menjadi hitam, pada lubang yang kedua warna berubah menjadi coklat, pada lubang yang ketiga warna berubah menjadi coklat muda, pada lubang yang keempat warna berubah menjadi coklat yang lebih muda, pada lubang yang kelima warna berubah menjadi coklat kuning, pada lubang yang keenam warna
  25. 25. berubah menjadi kuning muda, pada lubang yang ketujuh warna berubah menjadi kuning pudar, pada lubang yang kedelapan warna berubah menjadi kuning yang semakin pudar, pada lubang yang kesembilan warna berubah menjadi kuning, pada lubang yang kesepuluh warna berubah menjadi kuning muda, dan pada lubang yang kesebelas warna berubah menjadi kuning pudar mendekati putih, serta pada lubang yang keduabelas warna berubah menjadi kuning. Pada probandus ketiga atas nama Muhammad Rakha Akbar, berjenis kelamin laki-laki, berusia 18 tahun, dan bersuku Banjar. Dilakukan praktikum pengujian amilase saliva, dengan ketentuan pH=10 pada suhu 38oC dan ditambahkan larutan iod, didapatkan perubahan pada lubang pertama cairan iod berubah menjadi cokelat merah kehitaman dan pada menit kedua berubah menjadi bening. Pada lubang kedua cairan iod berubah menjadi bening. Dari hasil tersebut terlihat bahwa tidak terjadi perubahan warna menjadi biru (warnanya tetap seperti awal). Dengan kata lain tida terjadi proses hidrolisis amilum oleh enzim amilase saliva pada suhu 38oC dengan pH=10. Kelenjar saliva memproduksi saliva hampir setengah liter setiap hari. Beberapa faktor mempengaruhi sekresi saliva dengan merangsang kelenjar saliva melalui cara-cara berikut (6): 1. Faktor mekanis yaitu dengan mengunyah makan yang keras atau permen karet. 2. Faktor kimiawi yaitu melalui rangsangan seperti asam, manis, asin, pahit dan pedas. 3. Faktor neuronal yaitu melalui sistem syaraf autonom baik simpatis maupun parasimpatis. 4. Faktor psikis yaitu stress yang menghambat sekresi saliva.
  26. 26. 5. Rangsangan rasa sakit, misalnya oleh radang, gingivitis, dan pemakaian protesa yang dapat menstimulasi sekresi saliva. Saliva mempunyai fungsi yang sangat penting untuk kesehatan rongga mulut karena mempunyai hubungan dengan proses biologis yang terjadi dalam rongga mulut. Secara umumnya saliva berperan dalam proses perlindungan pada permukaan mulut, pengaturan kandungan air, pengeluaran virus-virus dan produk metabolisme organisme se ndiri dan mikro-organisme, pencernaan makanan dan pengecapan serta diferensiasi dan pertumbuhan sel-sel kulit, epitel dan saraf (6). Saliva memberi perlindungan baik pada mukosa maupun elemen gigi geligi melalui pengaruh bufer, pembersihan mekanis, demineralisasi dan remineralisasi, aktivitas anti-bakterial dan agregasi mikro-organisme mulut. Pengaruh bufer menyebabkan saliva menahan perubahan asam (pH) di dalam rongga mulut terutama dari makanan yang asam (2). Proses pembersihan mekanis terjadi melalui aktivitas berkumur-kumur menyebabkan mikro-organisme kurang mempunyai kesempatan untuk berkolonisasi di dalam rongga mulut. Selain itu lapisan protein pada elemen gigi geligi (acquired pellicle) memberi perlindungan terhadap keausan permukaan oklusal elemen gigi-geligi oleh kekuatan pengunyahan normal. Kalsium dan Fosfat memegang peranan penting dalam mekanisme penolakan terhadap dekalsifikasi email gigi dalam lingkungan asam (demineralisasi), sedangkan ionion ini memungkinkan terjadinya remineralisasi pada permukaan gigi yang sedikit terkikis (6).
  27. 27. Di dalam saliva dijumpai berbagai komponen anorganik dan organik yang mempunyai pengaruh antibakterial dan antiviral. Misalnya, thiosianat, laktoperoksidase, enzim-enzim lisozim, protein laktoferin dan imunoglobulin. Agregasi mikro-organisme terjadi karena bakteri tertentu digumpalkan oleh komponen-komponen saliva seperti imunoglobulin, substansi reaktif kelompok darah dan musin. Kolonisasi bakteri di dalam rongga mulut akan terhalang dan selanjutnya dapat diangkut ke lambung (2,6). Sekresi saliva sangat berhubungan dengan pengaturan kandungan air. Apabila terjadi gejala kekeringan, sekresi saliva yang dihasilkan menjadi rendah dan timbul rasa dahaga. Pembasahan permukaan mulut diperlukan untuk menghindari dari gejala mulut kering atau disebut xerostomia. Gejala ini timbul akibat produksi saliva yang kurang di dalam rongga mulut (7).
  28. 28. BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan Dari hasil dan pembahasan yang telah dijelaskan di muka, maka simpulan dari praktikum ini sebagai berikut : 1. Enzim bekerja pada pH tertentu, umumnya pada pH netral. Namun, beberapa jenis enzim yang bekerja pada suasana netral, jika ditempatkan pada suasana basa atau asam, maka enzim tersebut tidak akan bekerja atau rusak. Kecepatan reaksi akan bertambah seiring bertambahnya jumlah enzim, sehingga tercapai suatu keadaan yang enzimnya dikatakan jenuh oleh substrat. Jika jumlah enzimnya sedikit, kecepatan kerja enzim juga rendah. Sebaliknya, jika jumlah enzim yang tersedia banyak, kerja enzim menjadi cepat. Pada keadaan berlebih, kerja enzim tidak sampai menurun tetapi konstan. Pada suhu 0oC, enzim amilase mengalami inaktivasi dan aktivitasnya berkurang secara linear. 2. Aktivitas enzim amilase dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah perubahan pH, suhu, pelarut organik, dan yang menyebabkan denaturasi protein. 3. Jika warna larutan menjadi biru kehitaman menandakan bahwa enzim amilase tidak bekerja/amilum tidak terurai. Jika warna larutan menjadi putih hal ini menandakan bahwa enzim amilase bekerja secara sempurna menguraikan amilum (kerja enzim 100%).
  29. 29. B. Saran Dari praktikum yang telah dilakukan diharapkan agar lebih tersedianya alat uji yang memadai dan sesuai dengan jumlah kelompok praktikum sehingga praktikan dapat benar-benar memahami cara kerja dan penggunaan alat dengan baik dan benar. Selain itu mahasiswa juga diharapkan untuk dapat menjaga etika di dalam laboratorium selama praktikum dan berpartisi aktif dalam percobaan, tidak hanya sebagai penonton namun mengambil peran langsung dalam pelaksanaan praktikum sehingga hasil yang di dapat dapat menunjang kegiatan belajar mahasiswa.
  30. 30. DAFTAR PUSTAKA 1. Setiowati, Tetty, Deswati F. 2007. Biologi Interaktif untuk SMA dan MA. Jatim: Azka Press 2. Aryullna, Diah, Chohiil M, Syalfinaf M, Endang WW. 2006. Biologi 3 SMA dan MA untuk kelas XII. Jakarta: Esis. 3. Kimbal, John. 1983. Biologi Jilid 2 Edisi V. Jakarta: Erlangga. 4. Furqionita, Deswati, Blomed. 2007. Seri IPA Biologi SMP kelas VIII. Jakarta: Quadra. 5. Ganoong WP. 2008. Fisiologi dan Anatomi Manusia. Jakarta: EGC 6. Saktigono. 2008. Seribu Vena Biologi. Jakarta: Erlangga 7. Kuchel, Philip W, Greory B, Ralston. 2006. Biokimia Berdasarkan Schaum’s Outlines. Jakarta: Erlangga. 8. Kidd EAM, Joyston-Bechal S. 1991. Dasar-dasar Karies Penyakit dan Penanggulangannya. Jakarta: EGC 9. Lima DP, Diego GD, Suzely ASM, Doris HS, Ana CO. Saliva: Reflection Of The Body. International Journal Of Infectious Diseases. 2009: e184-e188 10. Weiner D, Levy Y, Khankin EV, Reznick AZ. Inhibition Of Salyvary Amylase Activity By Cigarette Smoke Aldehydes. 2008: e727-e737 11. Sumadjo, Damin. 2009. Pengantar Kimia. Jakarta: EGC. 12. Watson, Roger. 2002.Anatomi & Fisiologi untuk Perawat. Jakarta: EGC
  31. 31. Banjarbaru, 30 September 2013 Asisten Praktikan Tussy Indrawati NIM. I1B110023 Yongki Agustian S. NIM. I1B113014

×