Analgetika kebidanan

10,042 views

Published on

Published in: Technology, Business
0 Comments
4 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
10,042
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
319
Comments
0
Likes
4
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Analgetika kebidanan

  1. 1. ANALGETIKA Endang Yuniarti, S.Si., M.Kes, Apt Instalasi Farmasi RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta
  2. 2. Rasa Nyeri <ul><li>Suatu perasaan sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan dengan disertai kerusakan jaringan yang aktual atau potensial, atau yang dikemukakan dalam pengertian kerusakan semacam itu </li></ul><ul><li>Bersifat individual dan kontekstual </li></ul><ul><li>Tidak selalu ada hubungan yang jelas antara kerusakan jaringan dan rasa nyeri </li></ul>
  3. 3. Lanjutan….. <ul><li>Batas nyeri untuk suhu adalah konstan antara 44 – 45 derajat celcius. </li></ul><ul><li>Nyeri merupakan suatu gejala yang berfungsi melindungi tubuh. </li></ul><ul><li>Nyeri sebagai isyarat bahaya adanya gangguan di jaringan, seperti peradangan (encok, rheuma), infeksi jasad renik, atau kejang otot </li></ul>
  4. 4. Lanjutan…… <ul><li>Mediator nyeri disebut juga autocoida, terdiri dari antara lain, histamin, bradikinin, serotonin, leukotrien, dan prostaglandin. </li></ul><ul><li>Ambang nyeri didefinisikan sebagai tingkat dimana nyeri dirasakan untuk pertama kali jadi sebagai rangsangan terendah saat seseorang merasakan rasa nyeri. </li></ul>
  5. 5. Patofisiologi Nyeri <ul><li>Perjalanan impuls rasa nyeri tergantung pada potensial aksi dalam neuron pada jaras nyeri. </li></ul><ul><li>Penyatuan serabut saraf untuk rasa nyeri serta sentuhan dan tractus desendens analgetik terdapat pada kornu dorsal medula spinalis yang dinamakan “pintu gerbang rasa nyeri atau pain gate”  kerja opioid </li></ul>
  6. 6. Lanjutan <ul><li>Jaras nyeri membentuk sinaps dalam formatio-retikularis batang otak. Disini jaras nyeri mengaktifkan sistem saraf simpatik dan meningkatkan : </li></ul><ul><ul><li>Tingkat kesadaran dan kesiagaan </li></ul></ul><ul><ul><li>Respirasi </li></ul></ul><ul><ul><li>Frekuensi jantung </li></ul></ul><ul><ul><li>Emesis </li></ul></ul><ul><ul><li>Pengeluaran keringat/respirasi </li></ul></ul><ul><li>Jaras nyeri dapat mendominasi korteks serebri dengan menyingkirkan pertimbangan lain </li></ul><ul><li>Nyeri hebat dapat menimbulkan konsekueansi fisiologis yang merugikan </li></ul>
  7. 7. DEMAM <ul><li>Demam adalah suatu gejala yaitu reaksi tangkis yang berguna bagi tubuh terhadap infeksi. </li></ul><ul><li>Suhu diatas 37 derajat C makrofag dan limfosit menjadi lebih aktif, tapi diatas 40-41 derajat C merusak otak. </li></ul><ul><li>Antipiretika : Pengurang demam, berdasarkan rangsangan terhadap pusat pengatur kalor di hypothalamus, vasodilatasi perifer dan keluar banyak keringat dan kalor. </li></ul>
  8. 8. Nyeri melahirkan <ul><li>Nyeri yang hebat dan tidak dapat diredakan </li></ul><ul><li>bukan hanya memberi pengalaman melahirkan </li></ul><ul><li>yang sangat negatif kepada ibu, tetapi juga </li></ul><ul><li>dapat menimbulkan konsekuensi fisiologis </li></ul><ul><li>yang merugikan. </li></ul>
  9. 9. Peningkatan frekuensi dan kedalaman respirasi <ul><li>Hiperventilasi dengan cepat akan meningkatkan kadar CO2 di dalam tubuh sehingga terjadi vasokonstriksi pada sirkulasi darah maternal dan plasental, yang membahayakan keselamatan janin. </li></ul>
  10. 10. <ul><li>Diantara saat-saat kontraksi uterus, kekurangan CO2 akan menurunkan dorongan untuk bernapas dan mengurangi frekuensi respirasi, mengakibatkan hipoksia pada ibu dan janinya </li></ul>
  11. 11. Takikardi <ul><li>Takikardi dapat menurunkan curah jantung. Jika curah jantung menurun, pengiriman oksigen ke dalam otot tidak cukup untuk melangsungkan respirasi otot yang aerob, sehingga akan terjadi penumpukan asam laktat yang membuat ibu hamil semakin mengalami asidosis </li></ul>
  12. 12. Hipertensi <ul><li>Setiap kenaikan tekanan darah yang mendadak dapat mengancam sirkulasi serebral. </li></ul><ul><li>Stasis lambung dan emesis </li></ul><ul><li>Rasa nyeri menyebabkan stasis lambung dan gangguan saraf otonom. Nyeri yang hebat dapat menimbulkan mual dan muntah </li></ul>
  13. 13. 4 TINGKAT RASA NYERI <ul><li>Nyeri ringan, dapat diobati dengan analgetika perifer. </li></ul><ul><li>Nyeri sedang, dapat diobati dengan analgetika perifer dan kofein atau kodein. </li></ul><ul><li>Nyeri yang disertai pembengkakan atau akibat trauma karena jatuh, sebaiknya diobati dengan antiradang </li></ul><ul><li>Nyeri hebat, diobati dengan analgetika sentral. </li></ul>
  14. 14. PENANGANAN RASA NYERI <ul><li>Merintangi terbentuknya rangsangan pada reseptor nyeri perifer dengan analgetika perifer. </li></ul><ul><li>Merintangi penyaluran rangsangan di syaraf-syaraf sensoris misal dengan anestetika lokal. </li></ul><ul><li>Blokade pusat nyeri di SSP dengan analgetika sentral atau dengan anestetika umum. </li></ul>
  15. 15. Obat-obat yang digunakan <ul><li>Analgetika perifer,contoh: Paracetamol </li></ul><ul><li>Anti inflamasi: NSAID </li></ul><ul><li>Analgetika sentral: OPIOID </li></ul><ul><li>Analgetika inhalasi: N2O </li></ul>
  16. 16. ANALGETIKA <ul><li>Analgetika atau penghalang rasa nyeri adalah zat-zat yang mengurangi atau menghalau rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran. </li></ul>
  17. 17. ANTI INFLAMASI <ul><li>Anti radang </li></ul><ul><li>Zat yang menghalangi atau mengurangi gejala-gejala inflamasi melalui penghambatan release atau kerja mediator nyeri </li></ul>
  18. 18. ZAT-ZAT TERSENDIRI <ul><li>Asetaminofen </li></ul><ul><li>Asam asetil salisilat </li></ul><ul><li>Fenilbutazon </li></ul><ul><li>Ketorolac </li></ul><ul><li>Asam mefenamat </li></ul><ul><li>Tramadol </li></ul><ul><li>Ibuprofen </li></ul><ul><li>Diklofenak </li></ul><ul><li>Piroksikam </li></ul>
  19. 19. <ul><li>Etodolac </li></ul><ul><li>Ketoprofen </li></ul><ul><li>Meloxicam </li></ul><ul><li>Celecoxib </li></ul><ul><li>Lumiracoxib </li></ul>
  20. 20. Asetaminofen <ul><li>Mekanisme kerja : mengurangi panas dengan langsung berpengaruh pada hypothalamus sehingga menyebabkan vasodilatasi dan berkeringat </li></ul><ul><li>Use : Khasiat antipiretika dan analgetika tetapi tidak antiradang, untuk rasa sakit yang sedang atau ringan </li></ul>
  21. 21. Lanjutan … <ul><li>Absorpsi usus sempurna dan untuk bentuk sediaan suppositoria kurang. </li></ul><ul><li>PP 8 – 43 %, t ½ 1-3 jam, neonatus 2-5 jam antara kadar plasma dan efek tak ada hubungan. </li></ul><ul><li>Dalam hati dimetabolisir menjadi metabolit-metabolit yang toksis dan diurai menjadi bentuk glukoronid dan sulfat. </li></ul><ul><li>Efek samping yang sering muncul adalah reaksi hipersensitifitas, dan kelainan darah. </li></ul>
  22. 22. Lanjutan………………… <ul><li>Dosis : 2-3 kali 0,5 – 1 gram sehari, untuk anak-anak 10 mg / kg berat badan. </li></ul><ul><li>Rektal : 20 mg / kg berat badan, dewasa 4 kali sehari 0,5 – 1 gram </li></ul><ul><li>Interaksi : dengan memperkuat efek antikoagulansia, pada dosis biasa tidak terjadi. </li></ul><ul><li>Interaksi dengan barbiturat, carbamazepin, rifampisin, (efek parasetamol berkurang)  dipisah 1 jam berikutnya </li></ul><ul><li>Interaksi dg rifampisin, inh, carbamazepin, rifampisin, etanol meningkatkan efek hepatoksis </li></ul><ul><li>Dengan khloramfenikol memperpanjang waktu paruhnya. </li></ul><ul><li>Dengan zidovudin maka meningkatkan resiko akan neutropenia. </li></ul>
  23. 23. Nursing actions <ul><li>Physical assessment: sejarah penyakit liver dan alkoholik </li></ul><ul><li>Patient education: </li></ul><ul><ul><li>Jangan menambah dosis dan frekuensi </li></ul></ul><ul><ul><li>Diminum bersama makanan atau susu </li></ul></ul><ul><ul><li>Amati peristiwa yang terjadi selama menggunakan obat ini </li></ul></ul>
  24. 24. ASETOSAL <ul><li>Merupakan analgetika tertua (1899), </li></ul><ul><li>Mempunyai sifat anakgetika kuat, dan pada dosis kecil 40-100 mg, menghambat agregasi trombosit. </li></ul><ul><li>Analgetika pengurang rasa sakit. </li></ul><ul><li>PP 90-95%, t ½ 15-20 menit, 2-3 jam </li></ul><ul><li>Kontraindikasi: asma, rhinitis, nasal polips, anak dengan infeksi virus (dengue, chickenpox, flu), </li></ul>
  25. 25. Lanjutan…………………. <ul><li>Efek samping : iritasi lambung sangat kuat, sehingga muncul tukak lambung dan perdarahan tersembunyi. </li></ul><ul><li>Reaksi alergi kulit dan tinnitus, kejang-kejang bronchi yang hebat, </li></ul><ul><li>Anak kecil yang selesma/cacar air jangan diberi, bisa menyebabkan Reye : muntah hebat, termangu-mangu, gangguan pernafasan, dan konvulsi, kadang sampai koma. </li></ul><ul><li>Jangan diberikan pada pasien dengan antikoagulan </li></ul><ul><li>Monitor LED </li></ul>
  26. 26. Lanjutan………………….. <ul><li>Wanita hamil dan menyusui dianjurkan untuk tidak mengkonsumsi obat ini karena dapat memperpanjang masa kehamilan, memperhebat perdarahan dan persalinan dapat diperpanjang. </li></ul><ul><li>Interaksi : Memperkuat kerja antikoagulasia, antidiabetik oral, dan metotreksat. </li></ul><ul><li>Alkohol memperkuat perdarahan lambung. </li></ul><ul><li>Dosis : 4 kali sehari 0,5 -1 g sehari. Anak-anak 20 mg/kg berat badan. </li></ul><ul><li>Seminggu sebelum operasi tidak boleh menggunakan asetosal </li></ul>
  27. 27. Lanjutan…….. <ul><li>Mekanisme kerja: </li></ul><ul><ul><li>menghambat sintesa prostaglandin sebagai antiradang. </li></ul></ul><ul><ul><li>Bekerja pada pusat panas di hypothalamus sehingga panas berkurang </li></ul></ul><ul><ul><li>Memblok sintesa prostaglandin dengan pencegah terbentuknya senyawa platelet-agregrating thromboxan A2 </li></ul></ul>
  28. 28. Nursing actions <ul><li>Physical assessment: perhatikan bila alergi, monitor bila terjadi overdose, </li></ul><ul><li>Patient education: diminum bersama makanan atau susu, diikuti minum yang banyak 200 ml (2-3 l/hari) </li></ul><ul><li>Dietary issues: minum bersama makanan dan susu dg banyak minum </li></ul><ul><li>Geriatric: resiko tinggi untuk penggunaan asetosal, muncul efek samping walau dalam dosis terapi </li></ul><ul><li>Pregnancy: tertogenik, lewat plasenta, kematian janin, mengurangi kontraksi rahim </li></ul>
  29. 29. FENILBUTAZON <ul><li>Berkhasiat antiradang yang kuat </li></ul><ul><li>Kurang berkhasiat sebagai antipiretika dan analgetika. </li></ul><ul><li>Efek samping merusak sel-sel darah dan perdarahan lambung </li></ul><ul><li>Dosis 2-3 kali sehari 200 mg. </li></ul>
  30. 30. KETOROLAC <ul><li>Untuk ibu hamil tidak untuk trimester kedua dan ketiga sedang untuk ibu menyusui tidak boleh karena masuk air susu. </li></ul><ul><li>Mekanisme kerja menghalangi pembentukan prostaglandin </li></ul><ul><li>Diberikan secara iv,im,oral tidak boleh diberikan lebih dari 5 hari. </li></ul><ul><li>Dapat menyebabkan masa perdarahan </li></ul><ul><li>Diminum sesudah makan </li></ul><ul><li>Tidak boleh diberikan pada persalinan karena mengurangi konstraksi uterus </li></ul>
  31. 31. Nursing actions <ul><li>Physical assessment: gastristis, chest pain, ringing of ear, </li></ul><ul><li>Patient education </li></ul><ul><li>Dietary issues </li></ul><ul><li>Geriatric </li></ul><ul><li>Pregnancy </li></ul>
  32. 32. ASAM MEFENAMAT <ul><li>Mempunyai khasiat : analgetika, antiflogistik dan sedikit antipiretika. </li></ul><ul><li>Plasma t ½ 2-4 jam, dgunakan untuk dymenorrhoea, menorrhagia,sakit gigi atau otot yg sakit ringan </li></ul><ul><li>Efek samping yang sering muncul adalah gangguan lambung usus, terutama dyspepsia, dan diare hebat. </li></ul>
  33. 33. Lanjutan…………. <ul><li>Dosis : pada kondisi nyeri akut, dimulai dengan dosis 500 mg kemudian diikuti dengan 3-4 kali sehari 250 mg. </li></ul><ul><li>Obat ini tidak dianjurkan untuk anak-anak </li></ul><ul><li>Tidak baik untuk ibu hamil, memperlama masa persalinan, ibu menyusui tidak oleh karena dapat menyebabkan sistem kardiovakuler bayi terganggu </li></ul>
  34. 34. TRAMADOL <ul><li>Analgetika opiat (1977), sekarang tidak masuk sebagai obat narkotika, tidak mempengaruhi motilitas lambung usus dan kardiovaskuler, tidak adiktif. </li></ul><ul><li>Digunakan untuk nyeri yang tidak terlalu hebat. </li></ul><ul><li>Tramadol tidak dianjurkan untuk wanita hamil maupun menyusui. </li></ul><ul><li>Dosis : 1-2 mg/kg berat badan, dewasa 50-100mg 3-4 kali sehari, maksimum 400 mg </li></ul><ul><li>Kombinasi dengan Paracetamol, meningkatkan efikasi dan mengurangi efek samping </li></ul>
  35. 35. IBUPROFEN <ul><li>Obat ini digunakan sebagai antireuma atau pengurang rasa sakit yang cukup baik. </li></ul><ul><li>PP 90-99%, t ½ antara 2 jam, </li></ul><ul><li>Dosis : nyeri haid, demam dan reuma dosis awal 400 mg, sesudah makan, lalu diikuti 200-400 mg 3-4 kali sehari. Anak-anak bisa diberikan 50mg-200mg 3-4 kali sehari. </li></ul><ul><li>Ketoprofen : efek samping lebih sering nyata dibanding dengan ibuprofen. </li></ul><ul><li>Dosis : 25-50 mg 3-4 kali sehari sesudah makan. </li></ul>
  36. 36. DIKLOFENAK <ul><li>Mempunyai efek NSAID’s yang cukup kuat, sering digunakan untuk obat anti reuma, encok dan migrain. </li></ul><ul><li>Efek samping yang sering muncul adalah kerusakan hati dan fatal. </li></ul><ul><li>Dosis : 25-50 mg 3 kali sehari per oral. </li></ul><ul><li>Tidak dianjurkan untuk anak2 </li></ul><ul><li>Tidak baik untuk ibu hamil dan menyusui </li></ul>
  37. 37. Lanjutan……. <ul><li>Mekanisme kerja: menghambat pembentukan sintesa prostaglandin dengan menghambat pembuatan enzim cyclooksigenase dan hasil mengurangi prekursor prostaglandin, </li></ul>
  38. 38. PIROKSIKAM <ul><li>Mempunyai efek analgetik, antipiretika dan anti radang yang kuat dan lama, t ½ 50 jam. </li></ul><ul><li>Dosis : 10 - 20 mg sehari satu kali. </li></ul><ul><li>Mekanisme kerja menghambat sintesa prostaglandin, aktif terhadap hipotalamus untuk mengurangi panas, mengurangi sensitivitas reseptor sakit, mengurangi agregasi platelet </li></ul><ul><li>Resiko ibu hamil: C/D trimester ketiga (teratogenik, ) </li></ul>
  39. 39. ANALGETIKA OPIOID <ul><li>Analgetika narkotika atau opioida (= mirip opium) adalah zat yang bekerja terhadap reseptor opioid khas di SSP, hingga persepsi nyeri dan respons emosional terhadap nyeri berubah (dikurangi). </li></ul><ul><li>Zat endorfin adalah kelompok polipeptid endogen yang terdapat di CCS, dan dapat menimbulkan efek menyerupai morfin. </li></ul>
  40. 40. Mekanisme kerja <ul><li>Endorfin adalah sejenis morfin yang dibuat oleh tubuh. </li></ul><ul><li>Endorfin berikatan dengan reseptor untuk menghasilkan pengurangan rasa sakit. </li></ul><ul><li>Analgetik narkotik menduduki sisa-sisa reseptor. </li></ul><ul><li>Bila analgetika narkotik digunakan terus menerus maka akan dibuat reseptor dan produksi endorfin di ujung saraf dirintangi  ini yang menyebabkan ketagihan dan kebiasaan. </li></ul>
  41. 41. Lanjutan …. <ul><li>5 tipe reseptor yg terdeteksi: mu, kappa, sigma, delta, epsilon </li></ul><ul><li>Aksi dari opioid ada pada mu, K dan sigma </li></ul><ul><li>Reseptor K mengontrol spinal analgesia, sedasi miosis </li></ul><ul><li>Reseptor Delta menghasilkan halusinasi stimulasi dan respirasi dan vasomotor </li></ul><ul><li>Mu, menghasilkan efek analgesia, euporia, depresi pernafasan </li></ul>
  42. 42. Aktivitas yg berhub dg efek analgesik Drug Mu K Delta Morfin Agonist Agonis - Pentazosin Antaginis Agonis Agonis Naloxon Antagonis Antagonis Antagonis
  43. 43. Lanjutan…… <ul><li>Toleransi dan ketergantungan </li></ul><ul><li>Naloxon menjadi obat pengganti pada bayi yg ibunya ketergantungan pada narkotik </li></ul>
  44. 44. Efek samping <ul><li>Supresi SSP  sedasi, menekan pernafasan, batuk, miosis, hipothermia, dan perubahan suasana jiwa. </li></ul><ul><li>Saluran cerna  motilitas berkurang (obstipasi) </li></ul><ul><li>Saluran urogenital  retensi urin, motilitas uterus berkurang (memperlama masa persalinan). </li></ul><ul><li>Saluran nafas  bronchokostriksi, pernafasan lebih dangkal dan frekuensi menurun. </li></ul><ul><li>Sirkulasi sistem  vasodilatasi, hipertensi, dan bradikardi </li></ul><ul><li>Histamin liberator  urticaria dan gatal-gatal karena menstimulasi keluarnya histamin. </li></ul><ul><li>Kebiasaan  resiko adiksi bila digunakan terus menerus . </li></ul>
  45. 45. Kehamilan dan laktasi <ul><li>Opioid dapat melintasi plasenta  bisa diberikan sebelum persalinan. </li></ul><ul><li>Sedikit melintasi air susu  bisa digunakan ibu menyusui tetapi sedikit </li></ul><ul><li>Bila dipakai ibu mengandung akan menyebabkan depresi pada pernafasan bayi  tak boleh digunakan </li></ul>
  46. 46. Penggunaan Opioid <ul><li>Dalam persalinan </li></ul><ul><li>Pra bedah </li></ul><ul><li>Pasca bedah </li></ul><ul><li>Perawatan intensif  menghasilkan efek analgesia, sedasi, pengurangan rasa cemas </li></ul>
  47. 47. Fentanyl citrat <ul><li>Bisa diberikan secara iv, im, epidural, transdermal </li></ul><ul><li>Kerja obat (onset of action) 7 – 8 menit bila diberikan secara im, sc, sedang duration of action 1 – 2 hari </li></ul><ul><li>Biasa digunakan pada operasi yg singkat, preoperatif, </li></ul><ul><li>Kontraindikasi diberikan pada pasien yg menggunakan MAO inhibit lebih dari 14 hari </li></ul><ul><li>Amati status sirkulasi dan pernafasan </li></ul>
  48. 48. Morfin <ul><li>Opium adalah candu yang dikeringkan berasal dari Papaver Somniferum. </li></ul><ul><li>Bersifat analgetis yang sangat kuat, sedatif, hipnotis, menimbulkan euphoria, menekan pernafasan, menghilangkan batuk (supresi SSP). </li></ul><ul><li>Miosis, mual,muntah, eksitasi, dan konvulsi (stimulasi SSP) </li></ul><ul><li>Efek perifer  obstipasi, retensi urin, vasodilatasi pembuluh kulit. </li></ul>
  49. 49. Lanjutan…… <ul><li>Diberikan secara oral, im, iv, sc, dan rektal </li></ul><ul><li>Onset of action 10 – 60 menit, duration of action 3 – 7 hari </li></ul><ul><li>parenteral lebih baik dibanding oral </li></ul><ul><li>Pemberian iv harus pelan-pelan selama 1 – 2 menit </li></ul><ul><li>Analgesik yg baik pad AMI dan cancer </li></ul><ul><li>Monitor sirkulasi dan pernafasan </li></ul>
  50. 50. Kodein <ul><li>Mempunyai sifat analgetis 6-7 kali lebih lemah dari morfin </li></ul><ul><li>Digunakan sebagai obat batuk dalam dosis yg kecil, </li></ul><ul><li>Dapat diberikan im, iv, sc, oral </li></ul><ul><li>Onset of action 15 – 30 menit sedang duration of action 4 – 6 hari </li></ul><ul><li>Menyebabkan konstipasi, </li></ul><ul><li>Minum bersama makanan atau susu </li></ul><ul><li>Hindari pemakaian pada pasien dengan luka di kepala atau tekanan intrakranial yg meningkat </li></ul>
  51. 51. Lanjutan…… <ul><li>Heroin mempunyai sifat analgetik 80 kali lebih kuat dari morfin  tak digunakan sebagai obat karena sangat toksis. </li></ul><ul><li>Noskapin alkaloida candu lain yang juga dapat digunakan untuk obat batuk. </li></ul>
  52. 52. Pethidin <ul><li>Injeksi, bisa digunakan untuk obstetri, </li></ul><ul><li>Daya analgetiknya antara morfin dan kodein </li></ul><ul><li>Biasanya dipakai untuk premedikasi </li></ul><ul><li>Midriasis </li></ul><ul><li>Efek samping sama dengan morfin </li></ul>
  53. 53. ILA = Intratekal Labor Analgesic IELA = Intra Epidural Labor Analgesic <ul><li>Obat opioid seperti morfin, pethidin, fentanil, alfentanil disuntikkan secara epidural dan intratekal. </li></ul><ul><li>Efek samping : retensi urin, sedasi, mual, gatal-gatal, hipotensi, henti nafas </li></ul><ul><li>Ada yg disuntikkan intraspinal </li></ul>
  54. 54. Lanjutan….. <ul><li>Penggunaan analgetika opioid (morphin dosis rendah) dicampur dengan preparat anastesi epidural (bupivacain/nopivacain) </li></ul><ul><li>Efek analgesik bisa sampai 6-8 jam </li></ul><ul><li>Memerlukan pemantauan kondisi pasien (menggunakan monitor) </li></ul><ul><li>Efek henti nafas minimal, karena dosis opioid yang rendah </li></ul>
  55. 55. Antagonis opioid <ul><li>Naloxon bisa diberikan secara im, iv, sc, diberikan secara iv untuk pasien yg mengalami depresi pernafasan akibat ketergantungan </li></ul><ul><li>Metadon (dolophin), diberikan selama 10 hari, diberikan secara im, iv, oral, onset of action 30 – 60 menit, duration of action 4 – 6 hari. Diminum dengan juice citrus, konstipasi </li></ul>
  56. 56. Opioid analgesik dengan bidan <ul><li>Proaktif mengontrol rasa nyeri secara rutin </li></ul><ul><li>Adiksi tidak terjadi bila hanya digunakan secara terapeutik </li></ul><ul><li>Bila terjadi withdrawal symptoms diatasi dengan methadone </li></ul><ul><li>Dinilai depresi pernafasannya, jangan berikan pada pasien dengan pernafasan yg hanya 12 </li></ul><ul><li>Awasi tingkat hipotensi, nausea, vomiting, dan konstipasi </li></ul><ul><li>Diet yg perlu diberikan, perbanyak cairan dan serat </li></ul>
  57. 57. Opioid dan hukum <ul><li>Termasuk obat narkotik </li></ul><ul><li>Diperlukan pencatatan lebih lengkap karena harus dilaporkan ke Jakarta </li></ul><ul><li>Harus taat pada kebijakan rumah sakit, misal tata cara pengambilan, pencatatan, penggunaan, penyimpanan, automatic stop order </li></ul>

×