Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Tgs kurikulum individu

tugas kurikulum dan pembelajaran
Ita Sa'anah
IIA/PE
NIM : 2009021124
UNIKU

Related Books

Free with a 30 day trial from Scribd

See all
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Tgs kurikulum individu

  1. 1. Strategi pembelajaran berbasis kompetensi Nama : Ita Sa’anah Tingkat : II A / PE Semester : 4 NIM : 2009021124 Tugas Mata Kuliah: Kurikulum dan Pembelajaran Pengarang : Drs.H.Martinis Yamin,M.Pd
  2. 2. BAB I STRATEGI KOGNITIF <ul><li>Pendahuluan </li></ul><ul><li>Tujuan Pengajaran, menurut Mager : Menitik beratkan pada perilaku siswa atau perbuatan (performance) sebagai suatu jenis output yang terdapat pada siswa dan teramati serta menunjukkan bahwa siswa tersebut telah melaksanakan kegiatan belajar. </li></ul><ul><li>Pemilahan Taksonomi B.S Bloom tentang tingkat ranah kognitif terbagi dalam 3 kelompok, kelompok pengetahuan rendah, menegah dan tinggi. </li></ul>1
  3. 3. B. Definisi Strategi Kognitif <ul><li>Strategi kognitif (Gagne,1974) adalah kemampuan internal seseorang untuk berfikir, memecahkan masalah, mengambil keputusan. </li></ul><ul><li>Bell-Gredler (1986), menyebutkan strategi kognisi sebagai suatu proses berfikir induktif, yaitu membuat generalisasi dari fakta, konsep, dan prinsip dari apa yang diketahui seseorang. </li></ul>2
  4. 4. C. Latar Belakang Strategi Kognitif <ul><li>Strategi Kognitif lahir berdasarkan paradigma konstruktivisme, teori meta cognition.menurut Von Glasersfeld (1988) pengertian konstruktif kognitif muncul pada abad ini dalam tulisan Mark Baldwin yang secra luas diperdalam dan disebarkan oleh Jean Piaget. Namun bila kita telusuri lebih jauh, gagasan pokok konstruktivisme sebenarnya ssudah dimulai oleh cikal bakal konstruktivisme </li></ul>3
  5. 5. D. Peran dan Strategi Kognitif dalam Akselerasi Pembelajaran <ul><li>Akselerasi pembelajaran di Indonesia telah diterapkan tahun 2002 dengan keputusan Dirjen PDM Diknas No.510?C/KEP/MN/2002. Kelas akselerasi merupakan kelas percepatan pembelajaran yang disajikan kepada siswa-siswa yang memiliki kemampuan lebih atau istimewa dengan materi-materi atau kurikulum yang padat sehingga dalam waktu 2 tahun siswa telah menyelesaikan pendidikannya di SLTP </li></ul>4
  6. 6. E. Komponen-komponen dalamPerkembangan Strategi Kognitif yang Mempengaruhi Prestasi Belajar <ul><li>Perkembangan fungsi kognitif terdiri dari empat faktor masing-masing adalah lingkungan fisik, kematangan, pengaruh sosial, dan proses pengaturan diri yang disebut ekilibrasi. Piaget(1977) masing-masing esensial untuk perkembangan, tetapi tidak ada yan sendirian mencukupi. Piaget memberikan fungsi intelek dari 3 perspektif. Ketiganya ialah : </li></ul><ul><li>Proses mendasar yang terjadi dalam interelasi dengan lingkungan (asimilasi, akomodasi, dan ekilibrasi). </li></ul><ul><li>Cara bagaimana pengetahuan disususn (pengalaman fisisk dan logis matematis), dan </li></ul><ul><li>Perbedaan kualitatif dalam berfikir dalam berbagai tahap perkembangan ( skema tindakan dari bayi) </li></ul>5
  7. 7. Refleksi BAB I STRATEGI KOGNITIF <ul><li>Apa yang Anda pikirkan terkait materi esensial Bab 1 ? </li></ul><ul><li>Jawab : </li></ul><ul><li>Strategi kognitif guru dalam proses pembelajaran denga tujuan untuk mencerdaskan dan mengembangkan pola pikir siswa dalam memecahkan masalah seperti tugas sekolah. Sehingga siswa dapat berfikir yang baik dalam mengambil keputusan. </li></ul>6
  8. 8. <ul><li>Apa yang Anda rasakan ? </li></ul><ul><li>Jawab : </li></ul><ul><li>Dengan melalui pendidikan siswa mendapat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang baik. Itu semua akan sangat bermanfaat bagi siswa untuk mencapai cita-cita dan masa depan yang diharapkan. </li></ul><ul><li>Apa yang Anda ketahui lebih lanjut ? </li></ul><ul><li> Jawab : </li></ul><ul><li>Mengetahui perbedaan belajar tradisonal dan belajar akselerasi. </li></ul><ul><li>Proses perkembangan kognitif menurut Piaget dipengaruhi oleh 3 proses dasar;asimilasi, akomodasi dan ekuilibrasi. </li></ul>7
  9. 9. BAB II STRATEGI MERANCANG TUJUAN INSTRUKSIONAL <ul><li>Arti Tujuan Instruksional </li></ul><ul><li>definisi tujuan instruksional yang telah dikembangkan oleh para ahli : </li></ul><ul><li>Robert F.Mager </li></ul><ul><li>Tujuan instruksional sebagai tujuan perilaku yang hendak dicapai atau yang dapat dikerjakan oleh siswa pada kondisi tingkat kompetensi tertentu. </li></ul><ul><li>Eduard L.Dejnozka dan David E.Kapel (1981) </li></ul><ul><li>Tujuan instruksional adalah suatu pernyataan ysng spesifik ysng dinyatakan dalam bentuk perilaku atau penampilan yang diwujudkan dalam bentuk tulisan untuk menggambarkan hasil belajar yang diharapkan. </li></ul>8
  10. 10. B. Taksonomi Tujuan Instruksional <ul><li>Kawasan Kognitif (Pemahaman); Tingkat pengetahuan (Knowledge), Tingkat pemahaman (Comprehension),Tingkat Penerapan (Aplication), tingkat analisis (analysis), tingkat sintesis (synthesis) dan tingkat evaluasi (Evaluation). </li></ul><ul><li>Kawasan Afektif (Sikap & Perilaku); Tingkat menerima(Receiving), tingkat tanggapan (Responding), tingkat menilai, tingkat organisasi dan tingkat karakterisasi . </li></ul><ul><li>Kawasan Psikomotor (Psychomotor domain); gerakan seluruh badan, gerakan yang terkoordinasi, komunikasi nonverbal dan kebolehan dalam berbicara. </li></ul>9
  11. 11. D. Pola penulisan Tujuan Instruksional Robert F.Mager (1962) menyatakan cara penulisan tujuan instruksional harus dibuat dalam bahasa yang jelas, maksudnya tanpa diberi penjelasan tambahan apapun pembaca ( guru, siswa, atau sasaran anak didik) sudah menangkap maksudnya. <ul><li>C. Cara Penulisan Tujuan Instruksional </li></ul><ul><li>Tujuan instruksional umum / tujuan pembelajaran umum yang sering disingkat menjadi TIU/TPU </li></ul><ul><li>Tujuan instruksional Khusus/ tujuan pembelajaran khusus yang sering disingkat menjadi TIK/TPK </li></ul>10
  12. 12. 11
  13. 13. Refleksi BAB II <ul><li>Apa yang Anda pikirkan terkait materi esensial Bab 1? </li></ul><ul><li>Jawab : </li></ul><ul><li>Dengan memahami tujuan instruksional, Guru dapat merancang terlebih dahulu stategi belajar mengajar yang sesuai dengan konisi siswa baik dari segi kognitif, afektif, dan psikomotorik. </li></ul><ul><li>2. Apa yang Anda rasakan ? </li></ul><ul><li>Jawab : </li></ul><ul><li>Taksonomi tujuan instruksional yaitu ada tiga kawasan, kawasan kognitif, kawasan afektif dan kawasan psikomotorik. Dengan ketiga kawasan tersebut bisa menjadi pedoman dalam memahami siswa diantaranya tingkat pengetahuan, tingkat menerima dan menilai, dan tingkat gerakan </li></ul><ul><li>seluruh tubuh dan komunikasi nonverbal </li></ul>12
  14. 14. 3. Apa yang Anda ketahui lebih lanjut ? <ul><li>Jawab : </li></ul><ul><li>Yang saya ketahui pada bab 2 ini, yaitu, cara-cara penulisan tujuan instruksional secara umum dan khusus. Dan pola penulisan tujuan instruksional dengan bahsa yang mudah dimengerti orang, singkat dan padat. </li></ul>13
  15. 15. BAB III STRATEGI MEMILIH METODE INSTRUKSIONAL <ul><li>Pendahuluan </li></ul><ul><li>Tujuan Instruksional </li></ul><ul><li>Penetapan tujuan instruksional merupakan syarat mutlak bagi guru dalam memilih metode yang akan digunakan dalam menyajikan materi pengajaran. </li></ul><ul><li>Pengetahuan awal siswa </li></ul><ul><li>dengan mengetahui pengetahuan awal siswa, gur dapat menyusun strategi memilih metode instruksional yang tepat pada siswa-siswa. Pengetahuan awal dapat beasal dari pokok bahasan yang akan kita ajarkan. </li></ul><ul><li>Bidang studi pokok bahasan </li></ul><ul><li>program pendidikan umum </li></ul><ul><li>Program pendidikan akademik </li></ul><ul><li>Program pendidikan keterampilan </li></ul>14
  16. 16. 4 Alokasi waktu dan Sarana Penunjang Waktu yang tesedia dalam pemberian materi pelajaran satu jam pelajaran 45 menit, maka metode yang dipergunakan telah dirancang sebelumnya, termasuk didalamnya perangkat penunjang pembelajaran, perangkat pembelajaranitu dapat dipergunakan oleh guru secara berulang-ulang seperti transparan, chart, viddio, film dsb. 5. Jumlah siswa proses belajar mengajar efektif dalam mencapai keberhasilan terutama pengelolaan kelas dan penyampaian materi itu. Berdasarkan ukran kelas dari jumlah siswa yang hadir. 6. Pengalaman Kewibawaan pribahasa mengatakan, pengalaman adalah guru yang baik, dengan demikian guru harus memahami seluk beluk persekolahan, satrata pendidikan ukan menjadi jaminan utama dalam keberhasilan mengajar akan tetapi pengalaman yang menentukan, umpanya guru peka terhadap masalah. . 15
  17. 17. <ul><li>Kewibawaan merupakan kelengkapan mutlak yang bersifat abstrak bagi guru karena dia berhadapan dan mengelola siswa yang berbeda latar belakang akademik dan sosial, ia sosok tokoh yang disegani bukan ditaati oleh anak didik-didiknya. </li></ul><ul><li>Kewibawaan yang dimiliki guru terbagi dua, yaitu: </li></ul><ul><li>Kewibawaan kasih sayang seperti yang dimiliki ayah dan ibu. </li></ul><ul><li>Kewibawaan jabatan, ia dapat memerintah, menganjur, menasehati siswa yang berguna bagi manajemen pembelajaran. </li></ul>16
  18. 18. <ul><li>Metode ceramah(lecture) </li></ul><ul><li>Metode Demonstrasi dan Eksperimen </li></ul><ul><li>Metode tanya jawab </li></ul><ul><li>Metode Penampilan </li></ul><ul><li>Metode Diskusi </li></ul><ul><li>Metode Studi Mandiri </li></ul><ul><li>Metode Pembelajaran Terprogram </li></ul><ul><li>Meode Latihan bersama Teman </li></ul><ul><li>Metode Simulasi </li></ul><ul><li>Metode Pemecahan Masalah </li></ul><ul><li>11. Metode Studi Kasus </li></ul><ul><li>12. Metode insiden </li></ul><ul><li>13. Metode Praktikum </li></ul><ul><li>14. Meyode Proyek </li></ul><ul><li>15. Metode bermain peran </li></ul><ul><li>16. Metode seminar </li></ul><ul><li>17. Metode simposium </li></ul><ul><li>18. Metode tutorial </li></ul><ul><li>19. Metode deduktif </li></ul><ul><li>20. Metode induktif </li></ul>17
  19. 19. REFLEKSI BAB III <ul><li>Apa yang Anda pikirkan terkait materi esensial dari bab III ? </li></ul><ul><li>Jawab : </li></ul><ul><li>Menentukan strategi dan metode instruksional yang akan digunakan didalam menyajikan materi pengajaran. Untuk mencapai sasaran yang hendak dicapai pada akhir pengajaran, serta kemampuan yang harus dimiliki siswa. </li></ul>18
  20. 20. <ul><li>2. Apa yang Anda rasakan ? </li></ul><ul><li>Jawab : </li></ul><ul><li>Dengan adanya berbagai metode yang ada, seperti metode ceramah, demonstrasi dan lain-lain ini dapat memudahkan guru sebagai pendidik dalam mennyampaikan pelajaran, memberi contoh dan memberi latihan isi pelajaran. </li></ul><ul><li>3. Apa yang Anda ketahui lebih lanjut ? </li></ul><ul><li>Jawab : </li></ul><ul><li>Cara-cara pembelajaran yang dilakukan dalam berbagai metode instruksional dan batasan-batsannya. </li></ul>19
  21. 21. BAB IV STRATEGI MEMOTIVASI SISWA BELAJAR <ul><li>PENDAHULUAN </li></ul><ul><li>Motivasi merupakan salah satu determinan penting dalam belajar, motivasi berhubungan dengan : </li></ul><ul><li>Arah perilaku </li></ul><ul><li>Kekuatan respon (yakni usaha) setelah belajar siswa memilih mengikuti tindakan tertentu. </li></ul><ul><li>Ketahanan perilaku, atau beberapa lama seseorang itu terus menerus berperilaku menurut cara tertentu. </li></ul>20
  22. 22. B. Jenis Motivasi <ul><li>Motivasi Ekstrinsik </li></ul><ul><li>Merupakan kegiatan belajar yang tumbuh dari dorongan dan kebutuhan seseorang tidak secara mutlak berhubungan dengan kegiatan belajarnya sendiri. </li></ul><ul><li>2. Motivasi Instrinsik </li></ul><ul><li>Merupakan kegiatan belajar dimulai dan diteruskan berdasarkan penghayatan sesuatu kebutuhan dan dorongan yang secara mutlak berkaitan dengan aktivitas belajar. </li></ul>21
  23. 23. C. Memotivasi Siswa dalam Belajar <ul><li>Belajar melalui Model </li></ul><ul><li>Fase Perhatian </li></ul><ul><li>Fase Retensi </li></ul><ul><li>Fase Reproduksi </li></ul><ul><li>Fase motivasi </li></ul><ul><li>2. Belajar Kebermaknaan </li></ul><ul><li>Belajar bermakna merupakan cara belajar memotivasikan siswa, didalam materi yang disampaikan mengandung makna tertentu bagi siswa. </li></ul><ul><li>3. Melakukan Interaksi </li></ul><ul><li>Interaksi antara siswa dan guru adalah proses komunikasi yang dilakukan secara timbal balik dalam menyampaikan pesan (message) kepada siswa. </li></ul>22
  24. 24. <ul><li>4. Penyajian yang Menarik </li></ul><ul><li>Guru menyampaikan informasi dengan teknik baru, dengan kemasan yang bagus didukung oleh alat-alat berupa saran atau media yang belum pernah dikenal siswa. </li></ul><ul><li>5. Temu Tokoh </li></ul><ul><li>Temu tokoh ini diharapkan akan memunculkan need for achievement bagi siswa-siswa, mereka perlu atau butuh suatu prestasi dengan kisah-kisah tokoh dapat memotivasi siswa supaya terus bersemangat belajar. </li></ul><ul><li>Mengulangi Kesimpulan Materi </li></ul><ul><li>Wisata Alam </li></ul><ul><li>belajar dalam bentuk wisata untuk menumbuh minat belajar baru, dan waktunya diatur tidak mengganggu jam pelajaran yang lain. </li></ul>23
  25. 25. <ul><li>Apa yang Anda pikirkan terkait materi esensial dari BAB IV ? </li></ul><ul><li>Jawab : </li></ul><ul><li>Dengan motivasi baik ekstrinsik maupun instrinsik dapat mendorong seseorang untuk dapat melakukan kegiatan belajar demi mencapai kebutuhan yang diharapkan. </li></ul><ul><li>2. Apa yang Anda rasakan ? </li></ul><ul><li>Jawab : </li></ul><ul><li>Pada bab ini yang saya rasakan. Dengan adanya motivasi baik yang datang dalam dirinya atau stimulus-stimulus yang datang dari lingkungan, itu semua merupakan interaksi timbal balik dari determinan-determinan individu dan determinan-determinan lingkungan. </li></ul>24
  26. 26. <ul><li>3. Apa yang Anda ketahui lebih lanjut ? </li></ul><ul><li>Jawab : </li></ul><ul><li>Cara-cara memotivasi siswa, yang saya ketahui dan menarik yaitu salah satunya temu tokoh. Dengan temu tokoh, siswa dapat mengambil dan mengetahui pengalaman mengenai kisah-kisah nyata yang disampaikan oleh tokoh yang kita undang dan riwayat pendidikan dengan menceritakan perjuangan dari awal hingga kesulsesannya. </li></ul>25
  27. 27. BAB V STRATEGI MEMBELAJARKAN SISWA <ul><li>Pengertian Belajar </li></ul><ul><li>Belajar merupakan proses orang memperoleh kecakapan, keterampilan, dan sikap. Belajar dimulai dari masa kecil sampai akhir hayat seseorang. Belajar adalah perubahan perilaku seseorang akibat pengalaman yang ia dapat melalui pengamatan, pendengaran, membaca dan meniru. </li></ul><ul><li>Belajar dan Proses Penerimaan Informasi </li></ul><ul><li>Menurut Gagne(1985), informasi dalam energi fisik (tulisan, bunyi, ucapan, tekanan untuk sentuhan, dll) diterims oleh reseptor yang peka terhadap energi dalam bentuk tertentu. </li></ul>26
  28. 28. C. Mengapa Manusia Harus Belajar <ul><li>Perkembangan manusia tidak dapat disamakan secara mutlak dengan perkembangan yang terdapat pada binatang, binatang dalam membelajarkan anak-anaknya bersifat “insting”, bukan didapatnya denga cara meniru, mencontoh, dan dipelajari dari binatang-binatang lainnya, melainkan kepandaian membimbing, mengarah, mengajar anak-anaknya sudah dimiliki tiap-tiap jenis binatang bersifat tetap dan tidak berubah. </li></ul>27
  29. 29. D. Macam-macam Pendekatan dalam Belajar <ul><li>Belajar Responden, terjadinya perubahan perilaku diakibatkan dari perpasangan suatu stimulus tak terkondisi dengan stimulus terkondisi. </li></ul><ul><li>Belajar Operant, merupakan bentuk belajar yang banyak diterapkan dalam memodifikasi perilaku yang merupakan perwujudan dari makana belajar yang sesungguhnya. </li></ul><ul><li>Belajar Obsevasional, memperlihatkan bahwa orang dapat belajar dengan mengamati orang lain memperlakukan apa yang dipelajarinya. </li></ul><ul><li>Belajar Kontiguitas,memberikan resons terhadap pernyataan-pernyataan yang belum lengkap. </li></ul><ul><li>Belajar kognitif, merupakan belajar melalui pendekatan proses, dengan mempergunakan “reasoning”, ”insting”, atau berfikir. </li></ul>28
  30. 30. E. Memanfaatkan Peta Konsep <ul><li>Peta konsep adalah menyatakan hubungan-hubunganyang bermakna antara konsep-konsep dalam bentuk proposisi-proposisi. Proposisi-proposisi merupakan dua atau lebih konsep-konsep yang dihubungkan oleh kata-kata dalam suatu unit semantik. Peta konsep yang kita buat terdiri dari sutu kata yang dapat dihubungkan antara satu dengan yang lainnya sehingga membentuk proporsisi. Misalnya” Duku itu Buah ” akan merupakan suatu peta konsep yang sederhana, terdiri dari dua konsep,yaitu </li></ul><ul><li>duku dan buah , dihungkan oleh kata itu. </li></ul>29
  31. 31. Refleksi BAB V <ul><li>Apa yang Anda pikirkan terkait materi esensial dari BAB V ? </li></ul><ul><li>Jawab : </li></ul><ul><li>Manusia adalah makhluk yang isyimewa dibandingkan dengan makhluk-makhluk lainnya, sehingga manusia dituntut untuk belajar karena belajar adalah proses perubahan perilaku dari hasil pengalaman. </li></ul><ul><li>2. Apa yang Anda rasakan ? </li></ul><ul><li>Jawab : </li></ul><ul><li>Yang saya rasakan pada bab ini yaitu belajar merupakan proses seseorang untuk menerima informasi baru. Dengan informasi yang kita dapat, sehingga menghubungkan pengetahuan awal dengan pengetahuan baru dan jadilah perkembangan belajar. </li></ul>30
  32. 32. <ul><li>3. Apa yang Anda ketahui lebih lanjut ? </li></ul><ul><li>Jawab : </li></ul><ul><li>Belajar bukan hanya interaksi antara siswa dan guru tetapi pendekatan belajar bisa melalui lingkungan denga ini perilku menghasilkan perubahan dan konsekuensi pada lingkungan yang mempunyai pengaryuh terhdapa organisma dengan kemungkinan mengubah organisma untuk merespon. </li></ul>31
  33. 33. BAB VI STRATEGI PENERAPAN STANDAR KOMPETENSI <ul><li>Pengertian Kompetensi </li></ul><ul><li>Kompetensi adalah kemampuan dasar yang dapat dilakukan oleh para siswa pada tahap pengetahuan, keterampilan, dan sikap. </li></ul><ul><li>B. Landasan Hukum Penerapan Kurikulum Berbasis Kompetensi </li></ul><ul><li>GBHN tahun 1999 </li></ul><ul><li>Uu No. 22 tahun 1999 (pasal 4) tentang pemerintahan daerah. </li></ul><ul><li>Uu Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 </li></ul>32
  34. 34. <ul><li>Standar kompetensi lintas kurikulum ini merupakan kecakapan belajar untuk sepanjang hidup (long life education) sebagai akumulasi kemampuan seseorang yang telah memiliki kompetensi dasar yang dirumuskan dalam setiap mata pelajaran. </li></ul>C. Standar Kompetensi Lintas Kurikulum 33
  35. 35. <ul><li>D. Pengorganisasian Materi </li></ul>34 Kemampuan Dasar (Tujuan) Materi Pokok Indikator
  36. 36. E. Standar Kompetensi dan Pemberdayaan Otak <ul><li>Ukuran kemampuan yang dimiliki oleh seseorang, yaitu pemberdayaan otak atau kemampuan berfikir untuk mencapai suatu hasil atau tujuan sebuah pembelajaran, dengan demikian sangatlah naif bila kita membicarakan kompetensi tanpa menghiraukan kinerja otak atau cara berfikir seseorang. </li></ul><ul><li>H. Hubungan Otak dengan Penerapan Kompetensi Dasar </li></ul><ul><li>Belajar pada intinya melibat segenap tubuh, fikiran, emosi, dan semua indra yang kita miliki, otak merupakan kunci sukses seseorang untuk belajar, tanpa pemberdayaan otak mustahil orang akan cerdas, pandai, dan pintar. </li></ul>35
  37. 37. Refleksi BAB VI <ul><li>Apa yang Anda rasakan terkait dengan materi esensial bab VI ? </li></ul><ul><li>Jawab : </li></ul><ul><li>Strategi penerapan standar kompetensi merupakan jumlah standar kompetensi untuk setiap mata pelajaran anatra 5 samapai 16 buah. Standar kompetensi dinyatakan dengan kata-kata operasional. </li></ul><ul><li>2. Apa yang Anda rasakan ? </li></ul><ul><li>Jawab : </li></ul><ul><li>Dengan standar kompetensi yang beranekaragam pada masing-masing pelajaran. Siswa dituntut untuk memahami, mendengarkan sesuai dengan standar kompetensi yang ditetapkan sehingga suatu pembelajaran yang hasilnya dapat diukur dan tercapainya tujuan. </li></ul>36
  38. 38. 3. Apa yang Anda ketahui lebih lanjut ? <ul><li>Jawab : </li></ul><ul><li>Yang saya ketahui pada bab ini yaitu pengethuan tentang pemberdayaan otak. Otak manusia mempunyai tiga bidang spesialisasi yaitu otak reptil, sistem limbik (otak tengah), dan Neokorteks. </li></ul>37
  39. 39. BAB VII STRATEGI PENGUJIAN BERBASIS KOMPETENSI <ul><li>Pengertian </li></ul><ul><li>Menguji merupakan bagian terpenting dalam pembelajaran, yang dilakukan oleh seorang guru untuk mengetahui tingkat pengetahuan awal, kecakapan siswa, dan program pengajaran. Ujian ini dapat dilakukan awal pelajaran untuk mengetahui sejauh mana tingkat pengetahuan awal siswa, dan uji akhir daei proses pembelajaran, yaitu untuk mendapat gambaran kecakapan, penyerapan dari suatu penyajian yang telah dilaksanakan pada akhir pelajaran. </li></ul>38
  40. 40. B. Pola Pengukuran dalam Kompetensi <ul><li>Jenis tagihan, seperti ; pertanya lisan di kelas, kuis, ulangan harian, tugas individu, tugas kelompok, ulangan semester, ulangan kenaikan kelas, laporan kerja praktik atau laporan praktikum, responsi atau ujian praktik dan ujian akhir. </li></ul><ul><li>Bentuk soal seperti ; pilihan ganda, ujian objektif, ujian non-objektif/uraian bebas, jawaban singakat atau isian singkat, menjodohkan, performans dan portofolio. </li></ul><ul><li>Kesahihan dan kehandalan Tes, dapat dikategorikan menjadi tiga, yaitu kesahihan isi dilihat dari bahan yang diuji, kesahihan konstruk dilihat dari dimensi yang diukur, dan kesahihan kriteria akan dilihat dari daya prediksinya. </li></ul>39
  41. 41. C. langkah-langkah Penyusunan Tes <ul><li>Menyusun spesifikasi tes </li></ul><ul><li>Menulis soal tes </li></ul><ul><li>Menelaah soal tes </li></ul><ul><li>Melakukan uji coba tes </li></ul><ul><li>Menganalisis butir soal </li></ul><ul><li>Memperbaiki tes </li></ul><ul><li>Merakit tes </li></ul><ul><li>Melaksanakan tes </li></ul><ul><li>Menafsirkan hasil tes </li></ul>40
  42. 42. D. Kriteria Penulisan Soal Tingkat Kognitif <ul><li>Tes pilihan ganda </li></ul><ul><li>Tes uraian </li></ul><ul><li>E. Kriteria Tes sikomotor </li></ul><ul><li>Tes kawasan psikomotorik merupakan tes untuk mengukur kinerja (performance) yang telah dikuasai siswa. Tes tersebut berupa; tes identifikasi, tes simulasi atau tes contoh kerja, yang datanya dapat diperoleh dengan menggunakan daftar cek ataupun skala penilaian. </li></ul>41
  43. 43. F. Instrumen Afektif <ul><li>Ranah afektif adalah ranah yang membicarakan tentang sikap dan minat,alat ukur yang dapat digunakan non- tes berupa skala likert, dengan lima kategori, seperti sangat setuju, setuju, ragu-ragu, tidak setuju, sangat tidak setuju. </li></ul><ul><li>G. Portofolio </li></ul><ul><li>Portofolio adalah kumpulan pekerjaan seseorang (Popnam,1999), dalam bidang pendidikan berati kumpulan dan tugas-tugas siswa. </li></ul>42
  44. 44. H. Penskoran <ul><li>Penskoran Tes Ranah Kognitif </li></ul><ul><li>Tes Objektif pilihan ganda </li></ul><ul><li>Tes Uraian objektif </li></ul><ul><li>Tes bentuk campuran </li></ul><ul><li>2. Penskoran Tes Ranah Psikomotor </li></ul><ul><li>3. Penskoran Tes Ranah Afektif </li></ul><ul><li>4. Penskoran Tes Ranah Portofolio </li></ul><ul><li>Kisi-kisi Penulisan Soal </li></ul><ul><li>Kemampuan dasar adalah kemampuan minimal dalam mata pelajaran yang </li></ul><ul><li>harus dimilki oleh lulusan. </li></ul>43
  45. 45. Refleksi BAB VII <ul><li>Apa yang Anda rasakan terkait dengan materi esensial bab VI ? </li></ul><ul><li>Jawab : </li></ul><ul><li>Pengujian merupakan tahap evaluasi guru terhadap siswa untuk mengetahui seberapa jauh tingkat pengetahuan siswa dalam belajar. </li></ul><ul><li>2.Apa yang Anda rasakan ? </li></ul><ul><li>Jawab : </li></ul><ul><li>kegiatan belajar mengajar dengan tujuan untuk mendapatkan ukuran siswa dalam bentuk ujian, lisan kuis, ulangan harian itu semua merupakan kompetesi dasar. </li></ul>44
  46. 46. 3. Apa yang Anda ketahui lebih lanjut ? <ul><li>Jawab : </li></ul><ul><li>Yang saya ketahui pada bab ini, yaitu mengetahui contoh lembar penilaian kegiatan empirik dan contoh kisi-kisi penulisan soal </li></ul>45
  47. 47. TERIMA KASIH !

×