Profil bpbapl 2012

2,507 views

Published on

lapu

Published in: Internet
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
2,507
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
36
Actions
Shares
0
Downloads
45
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Profil bpbapl 2012

  1. 1. DINAS PERIKANAN DAN KELAUTAN PROVINSI JAWA BARAT BALAI PENGEMBANGAN BUDIDAYA AIR PAYAU DAN LAUT (BPBAPL) Jl. Raya Cipucuk No. 13, Desa Pusaka Jaya Utara Kec. Cilebar Tel/Fax (0267) 7005947 K A R A W A N G
  2. 2. STRUKTUR ORGANISASI BPBAPL (Pergub no. 113/2009)
  3. 3. TUGAS POKOK DAN FUNGSI BPBAPL (Pergubno 52 tahun 2010) TUGAS POKOK: Melaksanakan sebagian fungsi Dinas di bidang pengembangan budidaya air payau dan laut. FUNGSI: Penyelenggaraan pengkajian bahan petunjuk teknis pengembangan budidaya air payau dan laut; Penyelenggaraan pengembangan budidaya ikan air payau dan laut.
  4. 4. 1) Menyelenggarakan penyusunan program kerja Balai; 2) Menyelenggarakan pengkajian bahan petunjuk teknis pengembangan budidaya ikan air payau dan laut; 3) Menyelenggarakan pembinaan teknis pengembangan budidaya ikan air payau dan laut; 4) Menyelenggarakan pengujian dan pengembangan teknologi budidaya ikan air payau dan laut; 5) Menyelenggarakan desiminasi teknologi melalui pendidikan dan pelatihan serta publikasi teknis budidaya ikan air payau dan laut; 6) Menyelenggarakan pelayanan laboratorium kesehatan ikan air payau dan laut; Rincian Tugas BPBAPL
  5. 5. 7) Menyelenggarakan supervisi, monitoring dan evaluasi penerapan teknologi budidaya ikan air payau dan laut; 8) Menyelenggarakan ketatausahaan balai; 9) Menyelenggarakan telaahan staf sebagai bahan pertimbangan pengambilan kebijakan; 10) Menyelenggarakan koordinasi dengan unit kerja terkait; 11) Menyelenggarakan evaluasi dan pelaporan; 12) Menyelenggarakan tugas lain sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. Rincian Tugas BPBAPL (lanjutan)
  6. 6. SDM BPBAPL No Status Kepegawaian Jumlah 1 Pegawai Negeri Sipil 16 2 Calon Pegawai Negeri Sipil 3 3 Tenaga Kerja Kontrak - 4 Tenaga Honorer/THL 22 Jumlah 41
  7. 7. SUMBER DAYA MANUSIA (KEBUTUHAN) No Kompetensi Kebutuhan Minimal Pegawai yang ada KekuranganPNS/ CPNS THL/ Honorer Jumlah 1 Teknis Perikanan 18 7 2 9 9 2 Analis Laboratorium 8 3 3 6 2 3 Pj.Fungsional 6 - - - 6 4 Tenaga Lapangan 23 9 13 22 1 5 Administrasi/ Tata usaha 12 - 4 4 8 Jumlah 67 19 22 41 26
  8. 8. SUMBER DAYA MANUSIA (KEKURANGAN) No Kompetensi Jumlah Pendidikan (minimal) Lingkup Pekerjaan 1 Teknis Perikanan 9 S1/D4 Perikanan Teknis Budidaya Laut, Payau dan Pembenihan /Hatchery 2 Analis Laboratorium 2 D3 Biologi/SDP /Lingkungan Analis Kualitas Air, Mikrobiologi dan PCR 3 Pj. Fungsional (Pengawas Bdy/Benih/Pakan, Penyuluh, Pj HPI) 6 S1/D4 Perikanan Desiminasi Teknologi di 6 Kab/Kota 4 Tenaga Lapangan 1 SD Penjaga Tambak/ Operator Alsin 5 Administrasi 8 SMU/SMK Administrasi Kepegawaian, Persuratan, keuangan dan perlengkapan Jumlah 26
  9. 9. SARANA DAN PRASARANA No Jenis Sarpras Jumlah 1 Tambak (3 lokasi) 28,8 Ha 2 Kantor, Aula, Asrama, Mess 5 Unit 3 Rumah Dinas 13 Unit 4 Laboratorium 1 Unit 5 Hatchery & Gudang 3 Unit 6 Kendaraan Roda 4 (Mobil) 3 Unit 7 Kendaraan Roda 3 1 Unit 8 Kendaraan Roda 2 (Sepeda Motor) 7 Unit 9 Backhoe/Exchavator 1 Unit 10 Perahu motor tempel (1 GT) 1 Unit
  10. 10. Data Pengunjung BPBAPL No Pengunjung Tahun 2008 2009 2010 2011 1 Petani/Pembudidaya Ikan - Provinsi Jawa Barat 169 253 477 200 - Luar Provinsi Jawa Barat 18 37 52 2 Pengusaha/ Swasta 31 40 79 3 Pegawai/ Dinas - Provinsi Jawa Barat 67 157 124 82 - Kabupaten/ Kota 33 346 369 50 - Luar Provinsi Jawa Barat 11 77 78 - Pusat 18 154 63 57 - Luar Provinsi - 34 47 4 Pelajar/ Mahasiswa 197 454 735 246 5 Dosen/ Peneliti 31 42 53 51 6 Luar Negeri - 3 17 4 Jumlah 575 1.597 2.042 690
  11. 11. WILAYAH KERJA
  12. 12. Luas dan Produksi Tambak Pantura Tahun 2011 Kab/Kota Luas Tambak (Ha) Produksi (Ton) Jumlah Anggota Pembudidaya Cirebon 7.500 16.057,30 431 Kt.Cirebon 91 47,08 200 Indramayu 22.800 50.588,03 6565 Subang 10.000 18.810,14 548 Karawang 18.346 33.848,60 3887 Bekasi 12.000 21.820,89 1167 Jumlah 70.737 141.863,74 12.798
  13. 13. PROGRAM OPERASIONAL: • REVITALISASI BUDIDAYA TAMBAK PANTURA • GAPURA
  14. 14. • UDANG (WINDU, VANAME, GALAH) • BANDENG • RUMPUT LAUT • KOMODITAS INTRODUKSI ( Nila Salin, Kepiting Soka)
  15. 15. Udang Windu Penaeus monodon Udang Vanname Litopenaeus vannamei Udang Galah Macrobrachium rosenbergii Ikan Bandeng Chanos chanos Rumput Laut Gracillaria sp KOMODITAS UTAMA
  16. 16. KOMODITAS INTRODUKSI Ikan Nila Oreochromis niloticus Kepiting Soka (Soft Shell) Scylla Serrata
  17. 17. KEBIJAKAN OPERASIONAL GERAKAN PEMBANGUNAN PERIKANAN DI PANTURA (GAPURA)
  18. 18. POLA SPATIAL KAWASAN TAMBAK PANTURA Udang Windu Udang Vanname Rumput Laut Bandeng Mangrove Nila
  19. 19. Pemasukan air laut menggunakan pompa submersible 8” Petak tandon 1 (Mangrove) dan Bandeng Air dialirkan ke Petak tandon 2 (Nila, Bandeng, dan Kakap) Saluran pemasukan Rumput laut (Gracillaria sp) Saluran pemasukan Nila merah (Oreochromis niloticus) Dialirkan ke tandon 3 melalui pompa submersible 8” Tandon 3 (Nila merah, Bandeng, dan Rumput laut (Gracillaria sp) Membran Elektron (ME 1) Pengisian air menggunakan pipa 4” Sistem Tandonisasi
  20. 20. MENUJU INDUSTRIALISASI UDANG INDONESIA
  21. 21. 1. Pantura merupakan Tambak yang sangat luas di Indonesia 2. Perkembangan tambak di Pantura dimulai sejak ratusan tahun yang lalu, dimulai dengan budidaya bandeng. Seiring dengan perkembangan teknologi, budidaya udang windu mulai dilakukan pada awal tahun 80-an 3. Puncak kejayaan produksi udang windu tercapai pada Tahun 1997 4. Produktifitas mulai menurun disebabkan karena masalah penurunan daya dukung lingkungan akibat intensitas yang berlebihan dan serangan penyakit. 5. Terjadi peningkatan produksi setelah introduksi udang vaname, namun 2004 terpuruk kembali karena adanya serangan virus WSSV dan TSV. 6. Tahun 2006 mulai terdeteksi penyakit baru seperti IMNV dan IHHNV.
  22. 22. 1. Memanfaatkan tambak-tambak idle. 2. Mengembalikan kejayaan industri udang Indonesia. 3. Meningkatkan Produkvitas dan Produksi tambak udang. 4. Memenuhi kebutuhan bahan baku industri pengolahan. 5. Meningkatkan pendapatan petambak. 6. Menyediakan lapangan pekerjaan.
  23. 23. 1. Budidaya udang windu ekstensif (tradisional) Hanya sedikit orang yang bernyali intensif (H.Endi, ……) 2. Budidaya udang vaname semi-intensif 3. Budidaya udang vaname intensif dan 4. Budidaya polikultur (udang (windu/vaname), bandeng dan rumput laut (Gracillaria sp)
  24. 24. Berdasarkan target areal dan asumsi produktivitas masing- masing sistem budidaya (Teknologi) Yaitu: 1. Ekstensif (U. Windu)  300 kg/ha/MT* 2. Semi-intensif (U.Vaname) 1.200 kg/ha/MT Target Prod.Tabel 3 3. Intensif (U. Vaname)  2.400 kg/ha/MT 4. Polikulture  Udang 150-200 kg, Bandeng 500 Kg dan Gracilaria 2.000 kg (basah) per ha/MT (masih Uji kaji) (*) MT = Musim Tanam
  25. 25. Berdasarkan sistem budidaya (tingkat teknologi) padat tebar benur Vanname adalah sbb: 1. Ekstensif 20.000 ekor/ha/MT* 2. Semi-intensif 60.000 ekor/ha/MT 3. Intensif 150.000 ekor/ha/MT (*) MT = Musim Tanam
  26. 26. KEBUTUHAN PAKAN UDANG Pakan merupakan komponen terbesar (60%) untuk biaya peroduksi. Untuk revitalisasi Pantura dibutuhkan sekitar…… ton
  27. 27. KEBUTUHAN MODAL KERJA Kebutuhan biaya modal kerja dengan asumsi biaya produksi udang : 1. Windu ekstensif Rp. 20.000/kg, intensif Rp.30.000/kg 2. Vaname semi-intensif Rp. 25.000/kg 3. Vaname Intensif Rp. 30.000/kg  Kebutuhan modal kerja tersebut termasuk: penyiapan lahan, pengadaan sarana produksi (benur, pakan, pupuk, obat-obatan, BBM dll.)  Biaya investasi (perbaikan tambak dan penambahan sar-pras penunjang lainnya (irigasi, jalan produksi, instalasi listrik dll) perlu identifikasi lapangan karena berbeda di masing-masing lokasi
  28. 28. PENYERAPAN TENAGA KERJA Dengan asumsi bahwa kebutuhan tenaga kerja untuk masing-masing sistem budidaya : 1. Ekstensif 2 orang/ha 2. Semi-intensif 3 orang/ha 3. Intensif 4 orang/ha Perkiraan tenaga kerja yang terlibat langsung dalam budidaya udang pantura (belum termasuk multiplier effect : Pembenihan, penggelondongan, kebun bibit,buruh persiapan tambak, buruh panen, penyedia es, penyedia pakan, transportasi,dll)
  29. 29. STRATEGI PENGEMBANGAN  Revitalisasi Tambak Udang di Pantura dilakukan dengan menerapkan strategi pengembangan kawasan secara bertahap dan berkesinambungan dengan memanfaatkan sumberdaya yang tersedia guna mewujudkan usaha budidaya udang yang berdaya saing, bertanggung jawab dan berkelanjutan, pemilihan jenis udang yang mudah dikembangkan dan mempunyai keunggulan komparatif serta melalui pendekatan agribisnis.  Pengembangan kawasan tambak udang dalam satu kesatuan sistem perlu dilakukan, sehingga memudahkan dalam penyediaan sarana dan prasarana yang dibutuhkan, serta pemasaran hasilnya.  Untuk menjamin tercapainya sasaran budidaya udang yang ditetapkan harus dilakukan secara komprehensif, yang meliputi penyediaan lahan yang baik (memenuhi persyaratan teknis tambak udang), penyediaan sarana produksi (benih, pupuk, pakan, kapur, pestisida dan alat mesin), penyediaan prasarana dan penyiapan tenaga kerja serta pemasarannya.
  30. 30.  Disamping itu perlu didukung adanya pembinaan yang dilakukan secara intensif dan berkelanjutan dari UPTD, UPT Ditjen Perikanan Budidaya, Tenaga Teknis/Penyuluh Lapangan, serta memberikan fasilitas perkreditan yang diperlukan untuk usaha budidaya udang.  Teknologi yang diterapkan harus disesuaikan dengan kondisi daya dukung lingkungan dan kemampuan petambak, yautu ekstensif, semi-intensif dan intensif. Penerapan teknologi ekstensif dapat diarahkan pada budidaya sistem organik. Dalam proses produksi udang, harus petambak harus menerapkan prinsip-prinsip Cara Budidaya Udang Yang Baik (CBIB) dan melaksanakan Sertifikasinya, agar memenuhi persyaratan dan standar pasar internasional. Oleh karena itu, di samping pelatihan teknis budidaya udang, petambak ppeserta revitalisasi perlu diberikan sosialisasi atau pelatihan CBIB. Lanjutan…….
  31. 31. HASIL KAJIAN TEKNOLOGI TAHUN 2011 1. Udang Windu dan Vanname 2. Nila Salin 3 Kepiting Soka
  32. 32. KAJI TERAP BUDIDAYA UDANG (Windu dan Vanname) dengan TEKNOLOGI FERMENTASI Maksud - Optimalisasi dan stabilitas kualitas air - Efektivitas dan Efisiensi pemberian pakan Tujuan - Peningkatan produktivitas tambak budidaya udang Windu dan Vannamei Perlakuan - Teknologi fermentasi - Probiotik - Penggunaan Plastik mulsa ( Full, semi, tanpa plastik mulsa)
  33. 33. Kaji Terap Budidaya Udang Windu dengan Teknologi Fermentasi Pelaksanaan : Udang Windu : - Tambak C-2, luas 4800 m2, penggunaan plastik mulsa melapisi pematang. Kincir 4 unit - Jumlah benur 130.000 ekor, kepadatan 27 ekor/m2 - Tanggal tebar 16 November 2011 - Kondisi cuaca musim penghujan
  34. 34. Kaji Terap Budidaya Udang Vanname dengan Teknologi Fermentasi Pelaksanaan : - Tambak A2-1 (L=600m2) full plastik mulsa, Kincir 2 unit, tebar 64.740 ekor @ 106 ek/m2; - A-3.2 (L =2.400m2) tanpa plastik mulsa, kincir 4 unit tebar 250.000 ekor @ 104 ekor/m2 ; - C-3 (L= 2400 m2) pematang dilapisi plastik mulsa , kincir 4 unit, tebar 229.500 ekor @ 70 ek/m2, - C-4 (L= 3.320 m2), pematang dilapisi plastik mulsa, kincir 4 unit, tebar 230.000 ekor @ 60 ek/m2. - Tanggal tebar 28 Oktober 2011 - Kondisi cuaca musim penghujan
  35. 35. TEKNIK FERMENTASI BAHAN Permentasi : • Ragi 10 butir • Gula Pasir 1 kg • Dedak 2 kg • Molase ½ kg • Air 100 liter ditaburkan 2 kali/ minggu Probiotik : Bacyllus sp. Ragi Dedak Molase Gula
  36. 36. Cara Pembuatan Fermentasi • Persiapkan alat dan bahan; • Bahan : Gula, Dedak, Ragi, Molase sedangkan alat yang digunakan yaitu Blong/Tong; • Lakukan penimbangan bahan untuk tambak ukuran 4.800 m2 dan ketinggian air 1 m diperlukan : Gula 1 kg, Dedak 2 Kg, molase 1/2 kg, ragi 10 butir dan air 100 liter; • Masukan air kedalam Blong sampai mengisi 1/2nya, masukan dedak, ragi yang sudah dibubukan aduk sampai homogen, setelah itu masukan gula dan molase yang sudah dilarutkan kemudian tambahkan air sampai 100 liter; • Tutup rapat supaya tidak terjadi kontaminasi; • Proses Fermentasi memerlukan waktu 24 jam; • Sebelum ditebarkan hasil fermentasi diuji terlebih dahulu di lab. Mikrobiologi dan kualitas air; • Apabila hasil analisa laboratorium dinyatakan aman, maka produk fermentasi siap ditebarkan;
  37. 37. Cara Pembuatan Probiotik • Persiapkan alat dan bahan; • Probiotik yang digunakan jenis Bacillus subtilis • Bahan : Bacillus subtilis, Media Aktivasi / Nutrien, Ragi, Molase sedangkan alat yang digunakan yaitu Blong/Tong dan pompa/aerator • Lakukan penimbangan bahan dengan komposisi: Bacillus subtilis 1 kg, Media Aktivasi 1 kg, molase 1/2 kg, ragi 10 butir dan air 100 liter ; • Masukan air kedalam Blong sampai mengisi 1/2nya, masukan Bacillus subtilis , media aktivasi dan ragi yang sudah dibubukan aduk sampai homogen, setelah itu molase yang sudah dilarutkan kemudian tambahkan air sampai 100 liter; • Jalankan pompa dan Lakukan sirkulasi ; • Proses probiotik memerlukan waktu 48 jam;
  38. 38. Lanjutan… • Sebelum ditebarkan hasil probiotik diuji terlebih dahulu di lab. Mikrobiologi dan kualitas air; • Apabila hasil analisa laboratorium dinyatakan aman, maka produk fermentasi siap ditebarkan; • Penebaran probitik hanya 20 liter/petak ukuran 4.800 m2 komposisi diatas untuk 100 liter apabila ingin membuat 20 liter tinggal dikonversi. • Proses penebaran probiotik dilakukan 1 minggu 2x sampai udang umur 60 hari, selanjutnya dilakukan 1 minggu 1 x sampai panen
  39. 39. Kondisi Sumber Air dan Media Budidaya No Sumber air Suhu pH Sal DO NH3 NH4 NO3 1 Air Laut 8,7 15-30 - - - - 2 Air Tandon 7,9 10-25 >3 - - - 3 Air Hujan 7,8 1-2 - - - - 4 Air artesis 7,7 2-4 - - - - 5 Air Budidaya 27-31 7,3-7,7 9-26 >4 0,01-0,06 0,25-1 0,2-0,3 6 Standar Bddy 25-31 6,5-7,5 25-30 >4 0,1 1 0,5 Ket : Pengukuran kualitas air dilakukan setiap hari pagi dan sore Air Laut Tandon Lahan Budidaya
  40. 40. Hasil Sampling Pertumbuhan Udang Windu No Umur (hari) Berat Rata-rata (gram) 1 30 2,77 2 40 4,95 3 50 6,78 4 57 7,10 5 65 7,33 6 72 9,01 7 79 14,56 8 86 16,85 9 93 17,02 10 100 20,70 11 106 23,75 12 114 26,85 13 121 30,01
  41. 41. DATA PERTUMBUHAN UDANG VANAME (gram) Umur A2.1 C3 A3.2 20 0,64 0,90 0,8 40 1,77 1,83 1,91 50 2,96 3,07 3,20 72 8,4 6,68 6,99 79 9,47 7,73 8,76 93 11,14 8,91 11,90 100 12,46 10,70 11,34 107 15,34 10,89 - 114 15,92 11,22 - 121 16,55 12,03 - 128 18,86 - - 135 20,78 - 142 21,41 - Umur A2.1 C3 A3.2
  42. 42. Hasil Panen Udang Vanname dengan Teknologi Fermentasi - Tambak A2-1 = 293,9 Kg parsial, bd masih berjalan - Tambak A3.2 = 782 Kg, SR = 48 %, FCR = 2,1 - Tambak C-3 = 1.680 Kg, SR = 74,3 %, FCR =1,43 - Tambak C-4 = 1.375 Kg, SR = 79,6 %, FCR =1,38
  43. 43. KESIMPULAN • Penggunaan Fermentasi dan Probiotik meningkatkan kualitas air, ketahanan dan pertumbuhan udang • Penggunaan plastik mulsa meningkatkan produktivitas tambak budidaya udang vaname • Resiko serangan HPI pada tambak yang menggunakan platik mulsa relatif kecil
  44. 44. PENGEMBANGAN TEKNOLOGI BUDIDAYA IKAN NILA SALIN (Orechromis niloticus)
  45. 45. 45 Latar Belakang: 1. Peningkatan produksi ikan nila sebagai sumber protein hewani bagi masyarakat belum dapat dilakukan secara optimal karena terkendala oleh penurunan kualitas genetiknya 2. Ikan nila memiliki potensi untuk ditingkatkan produksinya melalui budidaya dengan memanfaatkan lahan tambak idle yang selama ini belum dilakukan 3. Diperlukan ikan nila berkualitas unggul toleran salinitas tinggi KERJASAMA DENGAN UKM, SWASTA DAN INDUSTRI BUDIDAYA, PENGOLAHAN IKAN, PAKAN IKAN DAN OBAT-OBATAN 1) IKAN NILA UNGGUL TOLERAN SALINITAS TINGGI 2) PAKAN PROTEIN REKOMBINAN PERTUMBUHAN 3) VAKSIN DNA STREPTOCOCCUS TERSEDIANYA TEKNOLOGI DAN PRODUK IKAN NILA UNGGUL(NILA SALIN + GENIT*), PAKAN PEMACU PERTUMBUHAN DAN VAKSIN DNA BERKEMBANGNYA USAHA BUDIDAYA UNTUK MENDUKUNG PROGRAM KETAHANAN PANGAN (PENINGKATAN PRODUKSI) DAN EKSPOR EXIT STRATEGY OUTPUT BENEFIT IMPACT
  46. 46. 46 ROADMAP PROGRAM PRODUKSI IKAN NILA UNGGUL-BPPT
  47. 47. Teknik Perekayasaan • Diallel crosing : untuk menguji seluruh kemungkinan kombinasi dari varietas yang berbeda. • Tujuannya untuk mengetahui : Reproduksi, Pertumbuhan Cepat, ketahanan terhadap penyakit serta toleransi parameter lingkungan
  48. 48. TEKNOLOGI BUDIDAYA KEPITING SOKATEKNOLOGI BUDIDAYA KEPITING SOKA
  49. 49. TEKNOLOGI BUDIDAYA KEPITING ‘SOKA’ •NATURAL / ALAMI •POPAYE •GUNTING
  50. 50. NATURAL / ALAMI 1 kepiting satu basket Tidak ada perlakuan / merekayasa kepiting moulting
  51. 51. • Kepiting lebih besar sehingga dapat menaikan harga jual • Lama berkisar 1 – 3 bulan
  52. 52. POPEYE  1 kepiting satu basket  Dilakukan perlakuan merekayasa kepiting dengan memotong kaki jalan.  Selain itu ada sumber lain yang mengatakan dengan menyuntikkan ekstrak bayam pada tubuh kepiting.
  53. 53. Kepiting lebih besar pada bagian capit Waktu lama moulting berkisar 20 – 30 hari
  54. 54. METODE GUNTING
  55. 55.  Dilakukan perlakuan merekayasa kepiting dengan memotong capit dan kaki jalan.  Wadah dapat berupa keramba bambu yang sudah dianyam atau tutup bawah basket.  Lama moulting berkisar 15 – 25 hari
  56. 56. PENEBARAN BENIH • Menyortir kepiting yang sehat, segar dan tidak lembek • Kepiting berbobot rata- rata 60 -100 gr atau 1 Kg 10 -13 ekor • Memeriksa secara visual kelengkapan fisik kepiting
  57. 57. Pemeliharaan dan pemberian pakan • Pengontrolan dan pembersihan kepiting dari lumut yang menempel, dilakukan 3 kali sehari atau dengan melihat ada atau tidaknya lumut yang menempel. • Selama pemeliharaan pengecekan kulaitas air tetep dijaga agar salinitas air tidak terjadi fluktuasi yang tinggi sehingga daya hidup kepiting akan bertahan lebih lama. • Pemeliharaan antara 1 – 2 bulan tergantung pada tingkat molting kepiting.
  58. 58. Pemberian pakan berupa ikan segar (ikan rucah berupa ikan tembang) atau keong mas sebanyak 5-10% BB/hari dengan frekuensi pemberian 1 kali/hari pada sore hari. Sebelum pakan diberikan dicuci bersihkan dahulu kemudian dialakukan pemotongan pakan.
  59. 59. PANEN • Panen dilakukan secara selektif yaitu memilih kepiting yang telah melakukan molting kemudian diangkat dan dipisahkan. • Kepiting yang telah molting memiliki tubuh yang sangat lunak sehingga harus hati – hati dalam mengangkatnya
  60. 60.  Cara pemanenan kepiting dari keramba dengan melakukan pengecekan  Waktu pengecekan kepiting pada pagi hari pukul 6, siang pukul 12, sore pukul 6 dan malam hari pukul 12.  Kepiting yang sudah jadi soka diambil kemudian dikumpulkan dalam wadah baskom direndam dengan air tawar/ sebelum masuk frezzzer kepiting dibasahi dengan kain
  61. 61. PENJUALAN • Kepiting dimasukan dalam plastik satu persatu. • Mempersiapkan sterofoam sebagai wadah untuk pengiriman. • Dilakukan penimbangan.
  62. 62. PASAR • Exportir ( PT.Fots) • Restauran ( rumah makan sea food) Mang Engking (pondok indah,muara baru), saung udang pa martani (cibubur), haji mul cirebon
  63. 63. KESIMPULAN • Proses pemotongan kaki dan capit yang paling menentukan tingkat persentase keberhasilan panen kepiting soka nantinya dikarenakan apabila salah dan tidak berhati-hati saat menggunting kaki serta capit kepiting bibit maka akan menimbulkan dampak pendarahan pada kepiting yang sangat berpengaruh terhadap kematian bibit sebelum sampai ketahap "molting" atau pelunakan cangkang kepiting soka • Sangat disarankan bagi yang baru memulai usaha ini untuk lebih dahulu memperdalam pengetahuan dasar teknik “pemotongan” • Setelah dilakukan pemotongan agar tidak tergesa-gesa dan melempar kepiting bibit kedalam kotak agar tidak menambah kondisi "stress“ namun meletakkannya dengan perlahan- lahan
  64. 64. • 1 keramba dapat membuat 56 kepiting sedangkan dalam 1 basket dapat memuat satu kepiting diasumsikan untuk kebutuhan masyrakat dengan memakai keramba dapat lebih efisien dan terjangkau
  65. 65. • Angka kematian yang ada sebanyak 20 - 25% umumnya terjadi pada awal pemeliharaan disebabkan oleh benih kepiting pada awal penebaran tidak kuat selama perjalanan, proses adaptasi pada lingkungan air yang baru masih kurang, dan proses pemotongan capit dan kaki kepiting yang kurang baik. • Penyediaan benih masih tergantung dari alam sehingga perlu dikembangkan Teknologi Pembenihan Kepiting • Restocking benih kepiting • Konservasi mangrove dan penetapan reservaat.
  66. 66. PENGEMBANGAN USAHA • PEMBERDAYAAN MASYARAKAT mll DEMPLOT/DEMPOND & Pola Kemitraan • Penguatan jaringan pemasaran didukung pembangunan mini Cold Storage
  67. 67. TIGA ASPEK UTAMA PERLU PERBAIKAN DALAM GAPURA TEKNOLOGI KELEMBAGAN INFRASTRUKTUR PETANI/PEM BUDIDAYA
  68. 68. LOKASI PELAKSANA DEMPOND ZONASI BUDIDAYA TAMBAK KEGIATAN REVITALISASI BUDIDAYA TAMBAK PANTAI UTARA BERWAWASAN LINGKUNGAN (GAPURA UTARA) DI BPBAPL TAHUN ANGGARAN 2011 NO KABUPATEN KOMODITAS KELOMPOK KETUA ALAMAT 1. Bekasi Bandeng Mekar Bahagia Saripudin Ds. Pantai Bahagia, Kec. Muaragembong 2. Karawang Bandeng Udang Windu Udang Vanname Mina Wana Bakti Atam F Ds. Tambak Sumur Kec. Tirtajaya 3. Subang Udang Windu Tani Lestari Samsudi n Ds. Langensari Kec. Blanakan 4. Indramayu Bandeng Cemara Jaya Darus Ds. Cemara Kec. CantigiUdang Windu Cemara Jaya Wahidin Udang Vanname Buyut Tarsih Jaya Eko Darminto Ds. Lamarantarung Kec. Cantigi
  69. 69. LOKASI PELAKSANA DEMPOND ZONASI BUDIDAYA TAMBAK KEGIATAN REVITALISASI BUDIDAYA TAMBAK PANTAI UTARA BERWAWASAN LINGKUNGAN (GAPURA UTARA) DI BPBAPL TAHUN ANGGARAN 2011 NO KABUPATEN KOMODITAS KELOMPOK KETUA ALAMAT 5. Cirebon Bandeng Udang windu Windu Kencana Mahmud Ds. Malakasari, Kec. Gebang 6. Kota Cirebon Udang Vaname Budidaya Mulya Nanang Kelurahan Kesenden Lanjutan…
  70. 70. TEROBOSAN KOORDINASI PENINGKATAN KAPASITAS SDM (Aparatur & Pelaku UsahaPPTP) PENINGKATAN PELAYANAN LABKESLING PERAN LEMBAGA RISET (Pusat Riset & BPPT) dan UPT Ditjen Budidaya PERGURUAN TINGGI (IPB, STP, UNPAD DAN ITB) PERBANKAN (Kampung BNI) & SWASTA
  71. 71. Prestasi Kinerja • Penghargaan Adibakti Mina Bahari Tahun 2010 Juara 1 Lomba Kinerja UPTD Tingkat Nasional (Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan RI No. Kep.71 /Men/2010) • Penghargaan Adibakti Mina Bahari Tahun 2011 Juara 2 Lomba Kinerja Lab. Keskanling Tingkat Nasional. • Sertifikat CBIB Nomor ID-JR- CBIB-P.0232 dengan nilai “ SANGAT BAIK (Execellent)
  72. 72. KEGIATAN SOSIAL KEMASYARAKATAN 1. KEGIATAN TPA AL-AMANAH
  73. 73. 2. Fasilitasi Kegiatan Hari Besar Nasional/Islam 3. Fasilitasi Olahraga Pemuda
  74. 74. Permasalahan dan Upaya Pemecahan 1. Degradasi kualitas air dan lingkungan budidaya; serta fenomena cuaca ekstrim 2. Ketersediaan benih berkualitas (SPF/SPR) 3. Kualitas dan Kuantitas Sumberdaya Manusia 4. Adanya serangan hama penyakit ikan dan udang. 5. Masih terbatasnya sarana dan prasarana budidaya. 6. Minimnya permodalan bagi masyarakat. PERMASALAHAN
  75. 75.  Sosialisasi budidaya tambak berwawasan lingkungan : mangrovisasi, bifilter, tandonisasi, dan aplikasi probiotik  Peningkatan aklimatisasi benih dan mendorong produksi benih berkualitas (SPF/SPR)  Meningkatkan kapabilitas SDM : pelatihan, magang, kursus dll serta penguatan kelembagaan petambak (PPTP JABAR)  Peningkatan monitoring HPI dan optimalisasi peran Labkeskanling  Menjalin koordinasi dan sinergitas dengan stakeholders (horizontal & vertikal)  Menjalin aksesibilitas permodalan dengan perbankan dan lembaga keuangan lainnya ( BNI, BJB, ……….??? CSR ) PEMECAHAN MASALAH
  76. 76. TEKAD KAMI :

×